Anda di halaman 1dari 5

PEMBUATAN CuSO4 DARI KAWAT TEMBAGA

Mashfufatul Ilmah (1112016200027) Eka Yuli Kartika, Eka Noviana Nindi Astuti, Nina Afria Damayanti

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

ABSTRACT Senyawa CuSO4 memiliki banyak sekali manfaat diantaranya, anti lumut pada kolam renang dan memberikan warna biru pada air, pengawet kayu, penyepuhan dan zat aditif dalam radiator. Dari manfaat dan kegunaan senyawa CuSO4, maka dirasa pelu adanya pengetahuan tentang proses pembuatan CuSO4, dari barang-barang yang mudah dan bahkan limbah darisesuatu yang sudah tidak digunakan, salah satunya yaitu kabel yang mengandung kawat tembaga didalamnya, dapat dimanfaatkan ntuk pembuatan CuSO4. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami proses pembuatan CuSO4, dari kawat tembaga yang didapatkan dari dalam kabel. Melalui proses elektolisis air aki (H2SO4),yang dielektrolisis dengan menggunkan elektroda Cu, akan didapatkan larutan CuSO4 yang berwarna biru. Pada percobaan dengan prinsipelektrolisisini katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi kawat Cu yang dibentuk spiral, dan dipasang pada kutub negatif power suplay. Sedangkan anoda tempat tejadinya reaksi oksidasi Cu yang tidak spiral atau dibiarkan lurus dipasang pada kutub negatif power suplay. Dan akan terjadi proses pelepasan dan penerimaan elektron selama elekrolisis berlangsung, hingga larutan berwarna biru. INTRODUCTION Hubungan antara jumlah energi listrik yang dikonsumsi dan perubahan kimia yang dihasilkna dalam elektrolisis merupakan salah satu persoalan penting yang dicarkan jawabannya oleh Michael Faraday (1791-1867). Hukum Faraday pertama tentang elektrolisis

jurnalkimia anorganik II

menyatakan bahwa: jumlah perubahan kimia yang dihasilkan sebanding dengan besarnya muatan listrik yang melewati suatu sel elektrolisis. Hukum kedua tentang elektrolisis menyatakan bahwa: sejumlah tertentu arus listrik menghasilkan jumlah ekivalen yang sama dari benda apa saja dalam suatu elektrolisis. Satu ekivalen zat berhubungan dengan satu mol elektron dalam satu-setengah reaksi (Petrucci, 33: 1987). Elektrolisis ialah proses dimana energi listrik digunakan untuk mendorong agar reksi redoks yang nonspontan bisa terjadi. Hubungan kualitatif antara arus yang dipasok dan produk yang terbentuk dirumuskan oleh Faraday. Elektrolisis merupakan cara utama untk memproduksi logam aktif serta nonlogam aktif dan banyak lagi bahan kimia yang penting di industri (Raymond). Berlawanan dengan reaksi redoks spontan, yang menghasilkan perubahan energi kimia menjadi energi listrik. Elektrlisis ialah proses yang menggunkan energi listrik agar reaksi kimia nonspontan apat terjadi. Sel elektrolit ialah alat untuk melakukan elektrolisis. Asas yang sama yang mendasari elektrolisis dan proses yang berlangsung dalam sel galvani (Raymond: 2004). Tembaga banyak digunakan pada berbagai barang elektronik, misalnya kabel, kumparan, dan lain-lain. Logam tembaga pada barang-barang tersebut mengandung kadar tembaga yang cukup tinggi. Sehingga, biasanya bekas tembaga dari barang-barang tersebut diolah kembali menjadi logam tembaga baru untuk digunakan pada barang elektronik lagi. Hal itu memunculkan ide pengolahan limbah tembaga untuk diolah menjadi bentuk yang lain dalam rangka peningkatan nilai guna (fitrony, 121: 2013). Tembaga adalah logam merah-muda, yang lunak, dapat ditempa,dan liat. Ia melebur pada 1038oC. Karena potensial elektrode standarnya positif, (+0.34 V untuk pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanay oksigen ia dapat larut sedikit. Ada dua deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga (I) diturunkan daritembaga (I )Oksida Cu2O yang merah, dan mengandung ion tembaga(I), Cu+. Seyawa-senyawa ini tak berwarna, kebanyakan garam tembaga(I) tak larut dalam air, perilakunya mirip perilaku senyawa perak(I). Mereka mudah dioksidasikan menjadi senyawa tembaga(II), yang dapat diturunkan dari senyawa tembaga(II) Oksida, CuO hitam (Svehla, 229-230: 1979). MATERIAL AND METHODS Alat dan bahan

jurnalkimia anorganik II

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas kimia (1 buah), power suplay (1 buah), ampelas, gelas ukur, pipet tetes, kabel penghubung, elektroda Cu dan kawat Cu yang dibentuk spiral, air aki. Metode Percobaan ini dilakukan dengan merangkai alat elektrolisis dimana Cu spiral dipasang pada kutup negatif dan elektroda Cu pada kutup positif power suplay yang disambungkan dengan kabel penghubung. Mengisi gelas kimia dengan air aki sebanyak 200 mL. Mengamati perubahan yang terjadi dan menghentikan proses elektrolisis stelah larutan berwarna biru. RESULTS AND DISCUSSION Pembuatan CuSO4 pada percobaan ini dilakukan dengan cara elektrolisis, electron (listrik) memasuki larutan melalui kutub negatif (katode). Spesi tertentu dalam larutan menyerap electron dari katode dan mengalami reduksi. Sementara itu, spesi ion melepas electron di anode dan mengalam oksidasi. Jadi, sama seperti pada sel volta, reaksi di katode adalah reduksi, sedangkan reaksi di anode adalah oksidasi. Akan tetapi, muatan elektrodenya berbeda. Pada sel volta, katode bermuatan positif, sedangkan anode bermuatan negative. Pada sel elektrolisis katode bermuatan negative sedangkan anode bermuatan positif. Pada percobaan ini tembaga yang dibentuk spiral dipasangkan pada kutub negatif dari power suplay yang menunjukkan tembaga bentukspiral mengalami reaksi reduksi (katoda), sedangkan pada elektroda tembaga yang berbentuk lurus dipasang pada kutub positif power suplay yang menunjukkan terjadi reaksi oksidasi (anoda). Elektrolisis larutan H2SO4 (air aki) dengan katode dan anode Cu, (katoda Cu yang berbentuk spiral, anoda Cu pendek) . Pada elektrolisis larutan H2SO4 dengan elektrode Cu terbentuk endapan Cu di katode dan anodenya (Cu) larut. Hasil-hasil itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam larutan H2SO4 terdapat ion Cu2+, ion SO42- molekul air serta logam tembaga (elektrode). Berbeda dengan elektrode grafit yang inert (sukar beraksi), tembaga dapat mengalami oksidasi di anode. Kemungkinan reaksi yang terjadi di katode adalah reduksi ion Cu2+ atau reduksi air. Berdasarkan tabel potensial elektrode baku (Petrucci, 15: 1987) Cu2+ + 2e 2H2O + 2e Cu 2OH- + H2 E = +0.34 V E = 0.83 V

jurnalkimia anorganik II

Oleh karena potensial reduksi Cu2+ lebih besar maka reduksi ion Cu2+ lebih mudah berlangsung tetapi air tetap mereduksi sehingga pada katoda reaksi yang terjadi adalah reduksi Cu2+ dan H2O. Sementara itu, kemungkinan reaksi yang terjadi di anode adalah oksidasi ion SO42- ,oksidasi air atau akosidasi Cu. 2H2O Cu 4H+ + O2 + 4e Cu2+ + 2e E = -1.23 V E = -0.34 V E = +0.17 V

SO2-(g) + 2H2O SO42-(aq) + 4H+ + 4e

Oleh karena potensial okdidasi SO42- paling besar maka oksidasi SO42- lebi mudah berlangsung, sehingga reaksi keseluruhandari katoda menghasilkan Cu dan dari anoda menghasikan SO42-. Dari reasksi inilah terbentuk larutan CuSO4 yang berwarna biru muda. Proses elektrolisis membutuhkan waktu yang tidak singkat, untuk memperoleh warna biru yang sempurna, adanya endapan pada kawat tembaga yang spiral dan mulai menepisnya tembaga yang lurus menunjukkan adanya pelepasan elektron pada anoda, dan berambahnya endapan menunjukkan adanya enambahan atau penerimaan elektron yang dilepaskan oleh anoda. Semakin besarvoltase yang digunakan maka semakin cepat pula reaksi yang terjadi, pada percobaan ini voltase yang digunakan sebesar 6V. CONCLUSION Elektrolisis ialah proses dimana energi listrik digunakan untuk mendorong agar reksi redoks yang nonspontan bisa terjadi. Electron (listrik) memasuki larutan melalui kutub negatif (katode). Spesi tertentu dalam larutan menyerap electron dari katode dan mengalami reduksi. Sementara itu, spesi ion melepas electron di anode dan mengalam oksidasi. Kemungkinan reaksi yang terjadi di katode adalah reduksi ion Cu2+, karena potensial reduksi Cu2+ lebih besar maka reduksi ion Cu2+. kemungkinan reaksi yang terjadi di anode adalah oksidasi ion SO42-, karena potensial okdidasi SO42- paling besar maka oksidasi SO42- lebi mudah
berlangsung, sehingga reaksi keseluruhandari katoda menghasilkan Cu dan dari anoda menghasikan SO42-.

REFERENCE Petrucci, Ralp H. 1987. Kimia Dasar Prinsip Dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

jurnalkimia anorganik II

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Svehla, G. 1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro Edisi Kelima. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka. Fitrony, dkk. 2013. Pembuatan Kristal Tembaga Sulfat Pentahidrat (CuSO4.5H2O) dari Tembaga Bekas Kumparan. JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) . Surabaya.

jurnalkimia anorganik II