Anda di halaman 1dari 6

PENGGABUNGAN USAHA, LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI, INVESTASI PERUSAHAAN ASOSIASI

Pendahuluan Penggabungan usaha dikenal juga dengan istilah merger dan akuisisi.

Penggabungan usaha adalah hal yang lazim dilakukan oleh pelaku bisnis saat ini, sepanjang hal tersebut tidak menyalahi perundang-undangan yang ada seperti undang-undang perseroan terbatas undang-undang anti monopoli dan lain lain. Wacana yang terkait dengan merger dan akuisisi tidak akan habis habisnya dibicarakan, baik oleh para praktisi atau akademisi pada masa lalu, maupun masa kini sampai pada masa yang akan datang. Tidak terkecuali oleh para praktisi dan akademis akuntansi keuangan di Indonesia. Apalagi dalam beberapa tahun kedepan, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) berencana melakukan adobsi penuh (full adobtion ) atas Internaional financial Reporting Standart. Saat ini, akuntasi penggabungan usaha (IFRS No3.) tidak dapat dilihat sebagai akuntansi yang cukup dibahas secara terpisah, tetapi harus dilihat dengan perspektif standarstandar akuntansi keuangan lain, seperti standar akuntansi aktiva berwujud (IAS No.16) dan goodwil, penurunan nilai aktiva (IAS No.36) dan pajak penghasilan (IAS No.12). Shingga, dalam melakukan adopsi terhadap IFRS, perlu diperhatikan standar-standar akuntansi keuangan lain yang terkait dengannya. A. Definis dan Terminologi Penggabungan Usaha Penggabungan usaha didefinisikan berbeda oleh praktisi hukum dan akuntansi. Istilah hukum yang kerap ditemukan adalah istilah sitilah sebagaimana diatur dalam peraturan pemerinta RI No.27 tahun 1998 yaitu, penggabungan , peleburan dan penggambil alihan. Definisi dari ketiga istilah tersebut juga berbeda dengan apa yang di tetapkan oleh praktisi akuntansi. Penggabungan usaha adalah perbuatan hukum yang dilakukan satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada dan selanjutnya perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar. Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan dua perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara membentuk suatu perseroan baru dan masing-masing perseroan yang meleburkan diri menjadi bubar. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambil alih baik seluruh atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK )No.22 tentangPenggabungan Usaha ya0ng dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia pada paragaf 8 mendefiniskanPenggabungan Usaha (Business Combination) adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena suatu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain. Dalam PSAk No 22 tidak dikenal istilah peleburan, dan dapat disimpulkan peleburan dapat digolongkan ke dalam penggabungan usaha. Sementara istilah penggambil alihan, dalam PSAK No.22 paragraf 8 dikenal denan akuisisi yang di definisikan suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan yaitu pengakuisisi memperoleh kendalai atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang di akuisis dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban atau mengeluarkan saham Internasional financial Reporting Standart (IFRS) No.3 Business Combination Paragraf 4 memberikan definis yang lebi specifik dengan menjelaskan penggabungan usaha sebagai berikut: A business combinations is the bringing together of separate entities or business in to one reporting entity. The result of nearly all business combination is that one entity, the acquirer, obtains control of one or more other business, the acquiree. If an entity obtaines control of one or more other entities that are not busineses, the bringing together of those busineses is not a business combination. IFRS No.3 menjelaskan bahwa penggabungan usaha adalah penggabungan entitasentitas dan bisnis bisnis terpisah kedalam suatu entitas pelapor dan hampir semua penggabungan usaha bertujuan agar suatu entitas (pengakuisisi) dapat mengendalikan entitas lain (perusahaan yang di akuisisi) . Dengan demikian, penggabungan usaha dapat menyebabkan suatu hubungan induk dan anak perusahaan atau pembelian aktiva bersih yang menghasilkan goowil. B. JENIS-JENIS PENGGABUNGAN USAHA PSAK No 22 paragraf 10-15 menjelaskas ada tiga jenis penggabungan usaha. Tiga jenis penggabungan tersebut adalah akuisisi, riverse acquisition dan penyatuan kepemilikan yang di jelaskan tersebut. a. Akusisi Suatu penggabungan usaha di definisikan sebagai suatu akuisisi apa bila sala satu erusahaan yang berkabung memperoleh lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain atau walaupun perusahaan tersebut tidak memperoleh hak suara lebih dari 50% , perisahaan pengakuisisi dapat diidentidikasi apabila salah satu perusahaan yang bergabung memiliki kekuasaan lebih

dari 50% hak suara , mengatur kebijakan keuangan dan operasi berdasarskan anggaran dasar dan perjanjian, mengangkat dan memberhentikan direksi dan komisaris serta memperoleh haak suara mayoritas dalam rapat dirkesi pada perusahaan lain. Indikasi perusahaan pengakuisisi lain yang perlu diperhatikan adalah nilai wajar aktiva perusahaan pengakuisisi lenih besar dari pada perusahaan lainnya jika penggabungan usaha yang dilakukan dengan cara pertukaraan saham berhak suara dengan kas, maka perusahaan yang membayar tunai adalah perusahaan pengakuisisi. Hal yang lain tidak kala pentingnya adalah dominasi managment. Perusahaan yang managemennya mendominasi mangement perusahaan baru dianggap sebagai perusahaan pengakuisisi. b.Reverse Acquisition Penggabungan usaha terkadang dilakukan dengan pertukaran saham yang berhak suara perusahaan-perusahaan yang akan melakukan penggabungan atau bisa juga disebut reverse acquisition. Dalam hal ini perusahaan yang pemegang saham yang memperoleh kendali dapat diindikasikan sebagai pengakuisisi dan perusahaan lain dianggap sebagai perusahaan yang diakuisisi c. Penyatuan Kepemilikan Ada kalahnya sangat sulit mengindentifikasi perusahaan pengakuisisi dan perusahaan yang diakuisisi, karena tidak terdapat pihak yang dominan dalam penggabungan usaha tersebut. Pemegang saham dan direksi juga sama sama bergabung dan membagi resiko dan manfaat secara bersama-sama dengan kondisi dimana mayoritas saham berhak suara perusahaan yang bergabung dipertukarkan, besarnya nilai wajar perusahaan-perusahaan yang bergabung tidak berbedah secara signifikan dan pemegang saham masing masing perusahaan yang bergabung relatif sama degan sebelum bergabung. C. EFEKTIF BERLAKUNYA PENGGABUNGAN USAHA Kapankah suatu penggabungan usaha berlaku efektif ? ada beberapa ketentuan yang dapat digunakan untuk mengetahui kapan suatu penggabungan usaha berlaku efektif . Ketentuan tersebut di bagi menjadi dua kelompok, yaitu menurut hukun dan menurut akuntansi. Ketentuan yang diharuskan oleh standar akuntasi keuangan bisa berbeda dengan ketentuan yang diatur oleh perundang-undangan, karena ilmu akuntasi selalu mengutamakan subtansi dari pada syarat formal atau dikenal dengan asasubstance over form. Menurut PSAK No.22 paragraf, suatu akuisisi berlaku efektif pada saat kendali atas aktiva dan operasi suatu perusahaan yang di akuisisi secara efektif dialihkan kepada perusahaan pengakuisisi dan saat penerapan metode pembelian dimulai. PSAK No 22 ini memberikan penjelasan atas ketentuan saat kapan suatu akuisisi berlaku efektif namun, tidak

memberikan penjelasan atas ketentuan saat kapan suatu penyatuan kepentingan (uniti of interest) berlaku efektif. Ada pandangan yang menyatakan bahwa suatu penyatuan kepentingan berlaku efektif pada saat pembagian resiko dan manfaat diberlakukan . D. METODE PENCATATAN Penggunaan metode yang tepat dalam pencatatan penggabungan usaha telah menjadi wacana sejak tahun 1970-an Hal tersebut tidak saja ditemukan di Amirika Serikat sebagai pelopor perkembangan ilmu akuntasi keuangan tetapi juga di negara-negara Eropa Baratdan Asia. Perubahan IAS menjadi IFS No.3 juga tidak luput dari wacana seputar pemilihan metode pencatatan yang tepat. Penggabungan usaha dalam praktek bisnis dapat dilakukan dengan dua cara, penerbitan saham baru dan pembelian aktifa perusahaan yang diakuisisi. Dari kedua cara ini lahirlah dua metode pencatatan yang dikenal yaitu, Metode penyatuan kepemilikan (pooling of Interest ) dan metode pembelian (purchase ). Kedua metode ini merupakan pilihan yang dapat digunakan dengan memperhatikan syarat syarat yang telah ditentukan oleh PSAK No 22. a. Metode Penyatuan Kepemilikan Aseumsi yang mendasari metode penyatuan kepemilikan ini adalah diamana kepemilkan oleh pemegang saham dua perseroan disatukan dan tidak mengalami perubahan hingga terbentuknya entitas baru. Jika penyatuan kepemilikan dilakukan, maka otomatis salah satu entitas yang bergabung harus bubar secara hukum, atau kedua entitas bubar dan dibentuk entitas b. Metode Pembelian Suatu penggabungan usaha dikatakan suatu akuisisi apabilah terdapat perusahaan pengakuisisi dan perusahaan yang diakuisisi. Suatu akuisisi harus dibukukan sebesar sebesar biaya perolehan yaitu jumlah kas atau setara kas yang dibayar atau nilai wajar aktiva lain yang diberikan oleh perusahaan pengakuisisi sebagai imbalan atas perolehan kendali atas aktiva neto perusahaan lain ditambahkan biaya lain yang secara langsung dapat di atribusikan pada akuisisi tersebut . E. GOODWIL Goodwil adalah selsisi antara baiaya perolehan dengan bagian perusahaan pengakuisisi atasnialai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi pada tanggal transaksi pertukaran. Goodwil yang timbul bisa postif bisa negatif perlakuan akuntasi atas goodwil diatur oleh PSAK No.22 yang diadopsi dari IAS No 22.

PSAK No 22. menghasruskan amortisasi goodwil yang diakui tidak boleh lebih dari 20 tahun sedangkan IFRS No 3 Menggatikan IAS N0 22 melarang amortisasi goodwil. Alokasi goodwil setelah penggabungan usaha dilakukan dengan mengacu pada IAS No.36 perbedaan lain IFRS No 3 dengan PSAK adalah perlakuka terhadap realisasi dan alokasi goodwil negatif a. Goodwil Postif Goodwil postif adalah selisi positif antara biaya perolehan yang harus dibayar perusahaan pengakuisisi dengan nilai wajar aktifa dan kewajiban perusahaan yang diakuisisi yang mencerminkan manfaat ekonomi yang diperoleh perusahaan pengakusisi pada masa yang akan datang timbul sebagai akibat adanya ekspektasi arus kas bersih yang lebih besar jika dibandingkan dengan nilai wajar aktiva , yang mungkin timbul sebagai hasil sinergi atau sebagai hasil suatu aktiva. Goodwil postif diakui sebai\gai aktifa lain-lain dan dicatat sebagai suatu pos pada neraca. b. Goodwil Negatif Goodwil negatif timbul apabila baiaya perolehan yang harus dibayar pengakusisi lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai wajar aktiva dan kewajiban perusahaanyang diakuisisi. Goodwil negatif akan mengurangi nilai wajar aktifa non-moneter secara proposional sebesar selisi lebih renda tersebut. c. Alokasi Goodwil PSAK No 22 mengharuskan dilakukan amortisasi atas goodwil untuk periode yang tidak melebihi 5 tahun, kecuali terdapat dasar yang tepat untuk menentukan periode amortisasi yang lebih panjang. Namun periode yang lebih panajang dimaksud, tidak boleh melebihi dari 20 tahun . ketentuan ini berlaku hingga kini sebab PSAK No 22 belum di revisi Dan mai diberlakukan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia F. LAPORANAN KONSOLIDASI Dipandang dari segi hukum perusahaan induk dan perusahaan anak memang berdiri sendiri. Akan tetapi dipandang dari segi ekonomi perusahaan anak hanyalah perpanjangan tangan dari perusahaan induk karena kebijakan akan ditentukan oleh perusahaan induk. Oleh karena itu dari segi ekonomi kedua perusahaan tersebut sebenarnya merupakan satu kesatuan ekonomi. Agar perusahaan induk dan perusahaan anak dapat mencerminkan suatu kesatuan ekonomi maka kedua perusahaan tersebut harus menyususn satu laporan keuangan yang mencakup dan mencerminkan perusahaan induk dan perusahaan anak. Laporan keuangan seperti ini disebut laporan keuangan konsolidasi (consolidasion finance statemennt ). Laporan Konsolidasi Pada Saat Pembelian

Laporan Konsolidasi Pada saat Pembelian hanya terdiri atas neraca konsolidasi saja . Penyusunsan neraca konsolidasi pada saat pembelian tergantung pada: Besarnya pemilikan modal saham anak perusahaan anak oleh perusahaan induk Dalam hal ini ada dua kemungkina, yaitu : a. Perusahaan Induk memiliki modal perusahaan anak b. Perusahaan induk hanya memiliki sebagian dari modal saham perusahaan anak Besarnya harga perolehan dibandingkan dengan nilai bukunya Dalam hal ini terdapat 3 kemungkinan, yaitu : a. Harga perolehan sama dengan nilai buku b. Harga perolehan diatas nilai buku c. Harga perolehan di bawa nilai buku