Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI PRAKTIS Peran Farmasis dalam Penanganan Resep Obat Antidiabetes

Disusun oleh : Kelompok II-C

Sutar Puspita N. Avivah

111102000077 1111102000122

Ayu Diah Gunardi 1111102000081 Nurhafiza 1111102000059

FARMASI VI-C FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) dan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein karena berkurangnya sekresi atau aktivitas insulin. Diabetes Melitus bukan merupakan salah satu penyakit menular dan prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia prevalensi penyakit ini meningkat dari tahun ke tahun sehingga Indonesia merupakan negara yang menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Hal ini disebabkan karena sekitar 8,4% penduduk di Indonesia menderita DM pada tahun 2000 dan diperkirakan terus meningkat yaitu sebanyak 21, 3 juta orang penderita diabetes melitus di Indonesia pada tahun 2030. Diabetes Melitus juga diketahui merupakan penyebab kematian tertinggi di bagian instalasi rawat inap di rumah sakit pada tahun 2005 di Indonesia yaitu sebanyak 3.316 kematian dengan case fertility rate (CFR) 7,9%. Diabetes Melitus tipe II paling banyak dialami oleh penduduk Indonesia bahkan dunia biasanya terjadi pada orang tua, remaja dan penderita obesitas. Sedangkan penderita diabetes melitus tipe 1 sedikit penderitanya karena diabetes jenis ini biasanya terjadi karena genetik atau turunan. Selain pola hidup yang baik seperti olahraga teratur, pola makan yang baik serta diet merupakan solusi utama yang harus diterapkan oleh penderita diabetes, pengobatan secara meis pun menjadi pilihan utama untuk mengatasi penyakit ini. Obat diabetes melitus yang paling banyak digunakan adalah golongan sulfonilurea dan golongan biguanid. Golongan sulfonilurea terdiri dari tolbutamid, tolazemid, asetoheksamid, klorpropamid, glibenklamid dan glipzid. Sedangkan jenis antidabetes golongan biguanid adalah metformin. 1.2 Tujuan Praktikum Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan praktek kefarmasian di apotek yang meliputi: Mengerjakan resep antidiabetes sesuai dengan alur pelayanan resep Menganalisa keabsahan dan kerasionalan resep Memberikan konseling kepada pasien dengan baik.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Diabetes Melitus Diabetes mellitus (DM) didefenisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defenisi produksi insulin oleh selsel beta Langerhans kelenjar pankreas atau disebabkan kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin. Diabetes adalah suatu penyakit dimana metabolisme glukosa tidak normal, suatu resiko komplikasi spesifik perkembangan mikrovaskular dan ditandai dengan adanya peningkatan komplikasi perkembangan makrovaskuler. Secara umum, ketiga elemen diatas telah digunakan untuk mencoba menemukan diagnosis atau penyembuhan diabetes. Pada beberapa populasi tetapi bukan semuanya, defenisi diabetes oleh distribusi glukosa adalah pendistribusian glukosa ke seluruh jaringan dimana berbeda distribusi glukosa pada setiap individual dengan atau tanpa diabetes. Selain itu distribusi glukosa juga dapat menjadi parameter untuk penyakit diabetes atau dengan kata lain, nilai defenisi diagnosis untuk diabetes didasarkan pada nilai distribusi glukosa pada tingkat populasi bukan sering atau tidaknya berolahraga. Besarnya komplikasi mikrovaskuler pada retina dan ginjal spesifik menuju ke diabetes. Selain itu terjadinya komplikasi makrovaskuler dapat menyebabkan kematian pada penderita diabetes. Hal ini ditunjukkan bahwa nilai glukosa yang tidak normal seharusnya ditemukan sebagai peningkatan cepat dari nilai glukosa, yang mana diapresiasikan dengan peningkatan resiko penyakit CVD (kardiovaskuler). 2.2 Gejala Diabetes Melitus Gejala diabetes adalah adanya rasa haus yang berlebihan, sering kencing terutama malam hari dan berat badan turun dengan cepat. Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal, penglihatan kabur, gairah seks menurun, dan luka sukar sembuh.

Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan hingga ada yang bertanya mengapa jadi ribut dengan diabetes? Mereka mengetahui adanya diabetes hanya karena pada saat check-up ditemukan kadar glukosa darahnya tinggi. Oleh karena itu dalam rangka penyuluhan kepada pasien seperti ini, kita sering mendapat hambatan karena sulit memotivasi. Memang saat ini tidak ada keluhan tetapi mereka harus menyadari bahwa kadar glukosa darah yang selalu tinggi dalam jangka panjang akan menimbulkan apa yang disebut komplikasi jangka panjang akibat keracunan glukosa. Pasien dapat terkena komplikasi pada mata hingga buta atau komplikasi lain seperti kaki busuk (gangren), komplikasi pada ginjal, jantung, dll. Beberapa faktor yang dapat menunjang timbulnya Diabetes mellitus yaitu obesitas dan keturunan, sedangkan gejala yang dapat diamati adalah polidipsia, poliuria, dan polipfagia. Gejala-gejala ini perlu mendapat tanggapan di dalam penyusunan diet penderita Diabetes mellitus. 2.3 Patofisiologi Seperti suara mesin, badan memerlukan bahan untuk mmbentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan), protein (asam amino) dan lemak (asam lemak). Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadi bahan dasar makanan. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk ke dalam pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Agar dapat berfungsi sebagai bahan bakar, makanan itu harus masuk dulu ke dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin meme peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pankreas .

2.4 Penggolngan Diabetes Melitus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui tiga bentuk Diabetes mellitus yaitu: Diabetes Melitus Tipe 1 Diabetes mellitus tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat rusaknya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Lagerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal. Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh. Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pompa, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder".

Diabetes Melitus Tipe 2 Diabetes mellitus tipe 2 (Non-Insulin-Dependent Diabetes mellitus, NIDDM) merupakan tipe diabetes mellitus yang terjadi bukan disebabkan oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen, termasuk yang mengekspresikan disfungsi sel , gangguan sekresi hormon insulin, resistansi sel terhadap insulin terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula darah oleh hati. Mutasi gen tersebut sering terjadi pada kromosom 19 yang merupakan kromosom terpadat yang ditemukan pada manusia. Pada tahap awal kelainan yang muncul adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Hiperglisemia dapat diatasi dengan obat anti diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin. Obesitas ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan diagnosis dengan jenis 2 kencing manis. Faktor lain meliputi sejarah keluarga, walaupun di dekade yang terakhir telah terus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-anak. Diabetes tipe 2 dapat terjadi tanpa ada gejala sebelum hasil diagnosis. Diabetes tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (olahraga), diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Langkah yang berikutnya, jika perlu, perawatan dengan lisan antidiabetic drugs.

2.5 Penatalaksanaan Diabetes Melitus Penyuluhan (edukasi) Edukasi merupakan bagian integral asuhan perawatan diabetes. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan dalam pengelolaan diabetes yang diberikan kepada setiap pasien diabetes. Di samping kepada pasien diabetes, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat berisiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan.

Edukasi dalam pengertian yang luas yang mendukung rawat kesehatan diabetes, pada tiap kontak antara diabetisi dan tim rawat kesehatan. Ini mempersulit pemisahan aspek-aspek edukasi yang terbaik sebagai faktor penyumbang efektivitas. Pengakuan bahwa 95% dari rawat kesehatan diabetes disediakan oleh diabetisi sendiri, dan keluarganya, tercermin dalam terminologi saat ini yaitu program edukasi swa-manajemen diabetes (ESMD). Dengan pengertian bahwa pengetahuan sendiri tidak cukup untuk memberdayakan orang untuk mengubah perilaku dan memperbaiki hasil akhir. Dalam laporan teknologi yang memberitahukan panduannya atas pemakaian model edukasi-pasien, NICE menyediakan suatu tinjauan, bukan sekedar meta-analisa formal, karena perbedaan rancangan, durasi, pengukuran hasil akhir dapat mengurangi resiko penyakit Diabetes mellitus tipe 2. Perencanaan Makanan Karena penting bagi pasien untuk pemeliharaan pola makan yang teratur, maka penatalaksanaan dapat dilakukan dengan perencanaan makanan. Tujuan perencanaan makanan dan dalam pengelolaan diabetes adalah sebagai berikut : o Mempertahankan kadar glukosa darah dan lipid dalam batas-batas normal o Menjamin nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan anak dan remaja, ibu hamil dan janinnya o Mencapai dan mempertahankan berat badan idaman. Latihan Jasmani Dalam pengelolaan diabetes, latihan jasmani yang teratur memegang peran penting terutama pada DM tipe 2. Manfaat latihan jasmani yang teratur pada diabetes adalah memperbaiki metabolisme atau menormalkan kadar glukosa darah dan lipid darah, meningkatkan kerja insulin, membantu menurunkan berat badan,

meningkatkan kesegaran jasmani dan rasa percaya diri, mengurangi risiko kardiovaskuler. Obat Hipoglikemik Jika pasien telah melaksanakan program makan dan latihan jasmani teratur, namun pengendalian kadar glukosa darah belum tercapai, perlu ditambahkan obat hipoglikemik baik oral maupun insulin. Obat hipoglikemik oral (OHO) dapat dijumpai dalam bentuk golongan sulfonilurea, golongan biguanida dan inhibitor glukosidase alfa. Untuk sediaan Obat Hipoglikemik Oral terbagi menjadi 3 golongan:

o Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin atau merangsang sekresi insulin di kelenjar pankreas, meliputi obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinida (meglitinida dan turunan fenilalanin). Contoh-contoh senyawa dari golongan ini adalah Gliburida/Glibenklamid, Glipizida, Glikazida, Glimepirida, Glikuidon, Repaglinide, Nateglinide. o Sensitiser insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida dan tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara efektif. Contohcontoh senyawa dari golongan ini adalah Metformin, Rosiglitazone, Troglitazone, Pioglitazone. o Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain Inhibitor -glukosidase yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial. Contoh-contoh senyawa dari golongan ini adalah Acarbose dan Miglitol.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Obat Hipoglikemik Oral: 1. Dosis selalu harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap. 2. Harus diketahui betul bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek samping obat-obat tersebut. 3. Bila diberikan bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya interaksi obat. 4. Pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemik oral, usahakanlah menggunakan obat oral golongan lain, bila gagal lagi, baru pertimbangkan untuk beralih pada insulin 5. Hipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita lanjut usia, oleh sebab itu sebaiknya obat hipoglikemik oral yang bekerja jangka panjang tidak diberikan pada penderita lanjut usia. 6. Usahakan agar harga obat terjangkau oleh penderita.

BAB III Prosedur Praktikum


Langkah Pelayanan Resep : Berikut merupakan langkah-langkah pelayanan resep oleh seorang farmasist kepada pasien di Apoteker. Penerimaan Resep Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien. Apoteker atau asisten apoteker setelah menerima Resep dari pasien hal yang pertama dilakukan adalah mengecek kelengkapan resep Mengecek kelengkapan resep : Menurut teori, resep terdiri atas lima bagian penting yaitu Invecato, Inscriptio, Praescriptio, Signatura dan Subcriptio. o Inscriptio yaitu tanggal dan tempat ditulisnya resep o Invecato yaitu tanda buka penulisan resep dengan R/ o Praescriptio atau ordinatio adalah nama obat, jumlah dan cara membuatnya. o Signatura merupakan aturan pakai dari obat yang tertulis o Subcriptio adalah Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep Setelah diperiksa semua kelengkapan resep (resep terlampir pada lampiran) kemudian dilanjutkan langkah selanjutnya dalam pelayanan resep di apoteker yaitu mencatat riwayat pengobatan pasien. Mencatat riwayat pengobatan pasien : Untuk menghindari terjadinya interaksi obat-obatan yang digunakan pasien maka apoteker diharuskan mengetahui riwayat pengobatan pasien sehingga apoteker dapat memberikan informasi penggunaan obat yang benar dan mencapai yujuan terapetik. Menganalisisa kerasionalitasan obat (Tepat indikasi, pasien, dosis, cara pemakaian) Penjelasan mengapa ada obat yang dihilangkan dan sebagainya. Setelah mendapatkan informasi mengenai obat-obatan yang digunakan pasien, riwayat penyakit pasien, umur pasien dan setelah menganalisa obat-obatan pada resep maka apoteker dapat menilai dan apabila diperlukan apoteker dapat mempertimbangkan mengenai pengusulan penggantian obat kepada dokter. Mengenai pengusulan penggantian obat kepada dokter dapat dilakukan dengan melalui via telpon atau apoteker menemui secara langsung dokter yang memberikan resep.

Penyiapan obat Setelah apoteker dan dokter mendapatkan kesepakatan obat yang akan diberikan kepada pasien , apoteker dapat menyiapkan obat-obatan yang akan diberikan kepada pasien hal yang harus dilakukan dalam penyiapan obat adalah : Menyiapan etiket Etiket yang ditulis harus jelas aturan pakai dan dosisnya agar pasien tidak bingung saat menggunakannya, jika pasien meminta boleh diberikan catatan aturan meminum obat untuk mempermudah pasien. Penyiapan obat masuk ke wadah dan beri etiket Obat yang telah disiapkan dimasukkan kedalam wadah obat dan ditempel etiket yang telah disiapkan. jangan sampai tertukar maupun terjadi kesalahan. Pemeriksaan akhir Obat diperiksa sebelum obat diberikan kepada pasien, dan meyakinkan apoteker dan asisten apoteker mengenai kebenaran obat. Hal yang harus dilakukan dalam pemeriksaan akhir : Kesesuaian obat dengan resep Baca kembali resep dan bandingkan dengan obat dan etiket yang telah disiapkan mengenai jenis obat dan aturan pakai yang diresepkan. Membuat kopi resep Kopi resep dibuat dengan tujuan untuk memuat semua keterangan yang termuat dalam resep asli. Kopi resep juga dapat difungsikan apabila pada kondisi seorang pasien ada sejumlah obat yang belum dibeli, maka apoteker harus memberikan salinan resep kepada pasie, untuk membeli obat yang belum sempat dibeli oleh pasien ketika pertama kali menebus resep. Salinan resep tidak berlaku untuk resep yang mengandung Narkotik. Penyiapan materi informasi Sebelum menyerahkan obat kepada pasien Farmasist harus menyiapkan informasi yang akan diberikan kepada pasien baik mngenai efek samping obat yang mungkin dialami pasien, cara penggunaan obat yang baik dan hal apaun yang dianggap diperlukan pasien. Farmasit dapat menggali dari pengalaman dan ilmu yang dimiliki oleh seorang farmasist maupun buku-buku penunjang yang berisikan informasi mengenai obat yang dibutuhkan.

Penyerahan obat dan pemberian konseling Penyerahan obat Penyerahan obat kepada pasien harus dilengkapi dengan aturan pakai, pemberian etiket yang sesuai, pemberian label KOCOK DAHULU untuk sediaan suspensi, DIHABISKAN untuk obat-obatan antibiotik. Untuk obat bebas terbatas yang berasal dari industri farmasi tanpa resep, diberikan dengan kemasannya, untuk obat bebas diberikan dengan aturan pakainya. Pemberian konseling Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan sediaan farmasi. Informasi harus disampaikan dengan jelas, sopan gunakan bahasa yang baik dan dapat mudah dimengerti pasien, minta pasien untuk mengulangi informasi yang diberikan untuk memastikan pasien menerima informasi yang telah diberikan farmasist.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Resep KLINIK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 79432222 Dr Andre SIP : 12345678910 iter 2x Ciputat, 24/03/2014 R/ Daonil tab XXX S 001 R/ Captensin tab LX S 4 dd 1 R/ Corsamag tab XV S 3 dd 1 R/ Ciproxin tab 500 X S 1 dd 1

Pro : Tn. Andi Umur : 45 tahun Alamat : Ciputat

tidak ada alamat pasien Paraf dokter

Riwayat pengobatan Lembar riwayat pengobatan pasien : Nama pasien : Tn. Andi Umur : 45 tahun

Jenis Kelamin : Laki laki Alamat/telp : Ciputat/ 781333

Riwayat pengobatan o Obat yang sedang digunakan :-

o Penggunaan obat herbal/ tradisinal : Rebusan bawang putih o Riwayat alergi obat :-

Kopi Resep APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 79432222 SIP : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt Nama Dokter : dr Andre Alamat Dokter : Jl. Kertamukti No.100, Ciputat Nama Pasien : Tn. Andi Umur Pasien : 45 tahun Alamat Pasien : Ciputat Tanggal ditulisnya Resep : 7 April 2014 Tanggal Pembutan : 7 April 2014 No Resep : 001

R/ Daonil tab XXX S 001 R/ Captensin tab LX S 4 dd 1 R/ Corsamag tab 500 XV S 3 dd 1 R/ Alxil Cap apotek det, ne iter

det, iter 2x

det, iter 2x

det, iter 2x

P.C.C Pro Copy Conform Yang menyalin :

(ttd/paraf) Apoteker pengelola apotek (Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt)

Etiket APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 7 April 2014 No Resep : 001 Nama Pasien : Tn. Andi 3 x sehari 2 jam setelah makan APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 24 Maret 2014 No Resep : 002 Nama Pasien : Tn. Andi 2 x sehari 2 jam setelah makan No Resep : 002 Nama Pasien : Tn. Andi 2 x sehari 1 jam setelah makan No Resep : 002 Nama Pasien : Tn. Andi 3 x sehari APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 7 April 2014

APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 24 Maret 2014

Jadwal Minum Obat Sebelum Makan Saat Makan

Setelah Makan

Daonil (2 jam) Captensin (1 jam sebelum sarapan) Captensin (2 jam setelah makan siang dan 2 jam setelah makan malam)

Corsamag 2 jam setelah sarapan dan makan siang Alxil 1 jam

Percakapan konsling 1. Percakapan Apoteker dengan Pasien (Mencari Informasi Kelengkapan Resep yang Kuran dan Rieayat Pasien) : A : Pasien dengan nama Tn. Andi ! KP : Iya saya A : Maaf sebelumya Tn. Andi dengan ibu hubungannya keluarga, teman, atau apa? KP : Suami saya A : Oke, baik, saya apoteker Puspita Tarfiza Gunardi dari Apotek Prodi Farmasi FKIK UIN, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada ibu terkait dengan Tn. Andi, apakah ibu bersedia meluangkan waktu ? KP : Iya saya bersedia A : Baik, kalau begitu apakah boleh saya tahu alamat bapak?

KP : Boleh, Ciputat Mbak. A : Apakah Tn. Andi selama ini mengalami rasa sakit di bagian perut pada saat buang air kecil? KA : Tidak A : Baik, apakah pasien saat ini sedang mengkonsumsi obat tertentu?

KA : Tidak A : Apakah Tn. Andi sedang mengkonsumsi obat herbal/tradisional akhir-

akhir in? KP : Iya, suami saya suka minum jus bawang putih yang direbus karena tekanan darah tinggi A : Baik. Apakah pasien Andi memiliki alergi terhadap obat tertentu?

KA : Tidak. A : Baik, terima kasih atas informasi dan waktunya, mohon ibu ditunggu sebentar saya akan segera menyiapkan obat untuk pasien Tn. Andi. KA : Iya, sama-sama mbak.

2. Percakapan Apoteker dengan Dokter (Konfirmasi Peresepan dan Obat): A : Assalamualaikum, saya apoteker Puspita Tarfiza Gunardi dari Apotek Prodi Farmasi FKIK UIN, saya ingin menanyakan beberapa oabat dengan Dokter terkait dengan resep yang Dokter berikan kepada pasien yang bernama Tn. Andi berusia 45 tahun, apakah dokter ada waktu? D : Waalaikumussalam, iya silahkan! A : Terimakasih. Saya ingin menginformasikan mengenai obat yang dokter resepkan bahwa obat Daonil memiliki interaksi obat yang dapat menyebabkan hipoglikemi berat dengan pemberian Kaptopril dan Ciprofloxacin, jadi apakah boleh Kaptopropil dan Ciprofloxacin diganti dengan yang lain Dokter? D : Oh begitu. Saya tidak mau mengganti Kaptopropil dengan yang lain, tetapi Ciprofloxacin silahkan untuk diganti dengan golongan sefalosporin. Apakah tidak bisa dimodifikasi dalam penggunaannya? A : Bisa Dokter. Baik kalo gitu saya modifikasi penggunaan Daonil dengan Kaptopril yaitu Daonil diminum satu jam sebelum makan dan Kaptopril satu jam setelah makan, dan untuk antibiotik saya ganti dengan Cefadroxil. D : Oke, saya setuju. A : Baik, terimakasih Dokter atas waktunya. Assalamualaikum. D : Iya sama-sama. Waalaikumussalam.

3. Percakapan Apoteker dan Pasien (Penyerahan Obat) : A : Tn. Andi (45 tahun) !! KA : Ya A : Assalamualaikum bu, ini obatnya sudah selesai, ada 4 obat, pertama obat Daonil. Ini obat diabetes penggunaannya diminum satu kali sehari dua jam setelah makan pagi. Kedua Captensin, ini obat hipertensi, penggunaannya diminum tiga kali sehari pada waktu satu jam sbelum makan, dan dua jam setelah makan siang dan makan malam, ketiga Corsamag, ini obat magh, penggunannya dua jam setelah makan dan yang terakhir alxil, ini antibiotik penggunannya diminum satu jam setelah makan dan dihabiskan. A : Maaf sebelumnya bu, saya khawatir ada informasi yang terlewatkan yang seharusnya saya sampaikan. Apakah Ibu dapat mengulangi informasi yang saya berikan tadi?

KA : Iya baiklaah (Dapat diulang dengan baik dan sesuai) A : Ya benar, terimakasih ibu. Apa ada yang ingin ibu tanyakan lagi? KA : Oh tidak, sudah jelas A : Baiklah, ini jadwal minum obat agar ibu tidak lupa dan ini struknya bisa ibu bayar di kasir. Semoga lekas sembuh ya bu suaminya, janga lupa selalu meminta kesembuhan kepada Allah SWT. Teimakasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarukatuh. KA : Ya, waalaikumussalam. Sebelum Makan Saat Makan Setelah Makan

Daonil 2 jam Captensin 1 jam sebelum sarapan Captensin 2 jam setelah makan siang dan 2 jam setelah makan malam Corsamag 2 jam setelah sarapan dan makan siang Alxil 1 jam

Perhitungan Harga Jual Obat HJA (Harga Jual Apotek) = HNA (Harga Netto Apotek) + Laba Apotek 30% + PPN 10 % Harga Resep = HJA + Biaya pelayanan resep 1. Daonil Harga daonil 5 mg x 100 = Rp 367.611 Harga per tablet = Rp 3.676,11,- dibulatkan menjadi Rp 3.700,Tablet yang dibutuhkan 30 tablet = 30 tablet x 3.700 = Rp 111.000,Harga resep = Rp 111.000,- + Rp 33.300,- + Rp 11.100,- + Rp 500,= Rp 155.900,2. Captensin Harga captensin 25 mg x 50 = Rp 28.500 Harga per tablet = Rp 570

Tablet yang dibutuhkan 60 tablet = 60 tablet x 570 = Rp 34.200,Harga resep = Rp 34.200,- + Rp 10.260,- + Rp 3.420,- + Rp 500,= Rp 48.380,3. Corsamag Harga corsamag 10 x 10 = Rp 24.200,Harga per tablet = Rp 24,2,Tablet yang dibutuhkan 15 tablet = 15 tablet x 24,2 = Rp 363 Harga resep = Rp 363,- + Rp 108,9,- + Rp 36,3,- + Rp 500,= Rp 1.008,2,- (dibulatkan menjadi Rp 1.100,-) 4. Alxil Harga alxil 500 mg x 3 x 10 = Rp 247.500 Harga per tablet = Rp 8.250 Tablet yang dibutuhkan 10 tablet = 10 tablet x 8.250 = Rp 82.500,Total seluruh obat = Rp 155.900,- + Rp 48.380,- + Rp 1.100,- + Rp 82.500,= Rp 287.880,-

4.2 Pembahasan

Resep adalah penulisan tertulis dari seorang dokter kepada APA untuk menyiapkan dan/ atau membuat, meracik, serta menyerahkan obat kepada manusia. Yang berhak menulis resep adalah dokter, dokter gigi, dan dokter hewan. Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap. Jika resep tidak tidak jelas atau tidak lengkap, epoteker harus menanyakannya kepada dokter penulis resep tersebut. Resep yang lengkap memuat halhal sebagai berikut: 1. Nama, alamat, dan nomor izin praktik dokter, dokter gigi, atau dokter heawan. 2. Tanggal penulisan resep. 3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep (invacatio) 4. Nama setiap obat dan komposisinya (praescriptio/ordonatio) 5. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signature) 6. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (subscription) 7. Jenis hewan serta nama dan alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan Tanda seru dan/ atau paraf dokter untuk resep yang melebihi dosis maksimalnya

Menurut Permenkes RI, pada saat pelayanan resep, seorang apoteker diharuskan melakukan skrining resep meliputi : 1. Persyaratan administratif, seperti nama dokter, SIP dan alamat dokter, tanggal penulisan resep, tanda tangan/paraf dokter penulis resep, nama pasien, alamat pasien, umur pasien, jenis kelamin pasien, dan berat badan pasien, nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian yang jelas, informasi lainnya. 2. Kesesuaian farmasetik bentuk sediaan, dosis, potensi stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. 3. Pertimbangan klinis, adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah dan lain-lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

Dalam rangka memenuhi syarat 1, maka dalam praktikum farmasi praktis ini dilakukan analisis atau pemeriksaan kelengkapan resep selengkap mungkin untuk mengetahui apakah resep yang kita terima sudah memenuhi syarat administratif dalam pelayanan resep. Berdasarkan hasil analisa resep asli yang dilakukan, resep yang

didapatkan telah memenuhi persyaratan administratif. Hal ini dapat dibuktikan dari kelengkapan komponen resep yang ada. 1. Diagnosis; diagnosis yang tepat 2. Dosis; pemberian dosis harus mempertimbangkan kondisi pasien 3. Indikasi; indikasi sesuai diagnosis 4. Pasien; mempertimbangkan kondisi individu 5. Obat; tepat kelas terapi, terbukti manfaat dan keamanan, serta paling mudah digunakan. Pada saat penyerahan obat dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dan resep disertai dengan konseling pasien (KP). Konseling pasien adalah proses dimana farmasis mendengarkan permaslahan pasien terkait dengan terapi obatnya dan menawarkan edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan pasien. Konseling ini sangat diperlukan untuk mengurangi kesalahan dlaam pengobatan pasien dan meoingkatkan kepatuhan pasien dalam menggunkan obat sehingga didapat terapi yang optimal dan biaya pengobatan yang rendah. Konseling dapat dilakukan pada saat penerimaan resep maupun saat penyerahan obat. Konseling yang dilakukan saat penerimaan resep, biasanya diajukan beberapa pertanyaan untuk megetahui riwayat pngobatan atau riwayat penyakit pasien. Sedangkan konseling pada saat penyerahan obat dilakukan untuk memberikan informasi mengenai obat yang diterima pasien. Pada saat konseling penyerahan obat, dilakukan pemastian terhadap pemahaman pasien tentang cara pemakaian obat dan informasi dilakukan dengan meminta pasien mengulang kembali apa yang telah disampaikan tetapi permintaannya tidak secara langsug, melainkan dengan . Dalam konseling dengan pasien tepatnya pada saat berhadapan dengan pasien dimulai dengan mengucapkan salam dan memperkenalkan diri sesuai dengan kebudayaan kita kebudayaan Indonesia.

Pada praktikum kali ini, kita melakukan anlisis resep diabetes. Dimana pada resep obat yang diresepkan yaitu Daonil, Captensin, Corsamag, dan Ciprofloxacin. Pada resep tersebut

ada terjdi interaksi obat yaitu antara Daonil, Captensin, dan Ciprofloxacin yang mana dapat meningktkan kerja atau aktivitas dari Daonil, yang mana Daonil dengan zat aktif Glibenklamid merupakan obat diabetes golongan sulfonilurea generasi ke dua yang potensi hipoglikemiknya lebih besar, sehingga interaksi yang terjadi dapat mengakibatkan terjadinya hipoglikemi. Oleh karena itu, dilakukan modifikasi penggunaan obatnya atau mengganti obat ersebut dengan yang lain. Kami melakukan modifikasi penggunaan obat Captensin dengan Daonil yaitu Daonil diminum 2 jam setelah makan pagi atau sarapan sedangkan Captensin diminum 1 jam sebelum makan pagi dan pemakian selanjutnya diminum 2 jam setelah makan siang dan makan malam. Dan untuk Ciprofloxacin diganti dengan antibiotik lain yaitu golongan sefalosporin, yang digunakan yaitu sefadroksil. Pada resep tersbut, Dokter juga menuliskan iter yang mana di dalam resep tersebut ada antibiotiknya, seharusnya Dokter menuliskan ne iter pada antibiotik, karena antibiotik tidak dapat di lakukan pengulangan. Jika harus ada pengulangan maka harus dengan resep yang baru, karena jika diberikan iter dalam resep tersebut akan terjadi penggunaan terus menrus oleh pasien yang dapat mengakibatkan efek yang tidak diinginkan seperti gangguan gastro intestinal, dan lainnya. Oleh karena itu, seorang Apoteker harus lebih hati-hati dalam melihat dan menganalisis obat dari resep yang diberikan, jika ada kejanggalan maka seorang Apoteker harus konfirmasi dan kompromi dengan Dokter yang telah memeberikan resep terebut.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan 1. Nama pasien 2. Umur pasien 3. Penyakit 4. Obat yang diberikan 5. Harga obat total 4.2 Saran Pada saat penyerahan resep, setelah menjelaskan cara pemakaian obat kita selaku Apoteker harus menanyakan kembali dan meminta pasien untuk mengulang penjelasan yang telah kita sampaikan selaku pemberi informasi, untuk mengetahui bahwa pasien sudah mengerti cara pemakaian obat yang telah dijelaskan. : Bapak Andi : tahun : Hipertensi dan diabetes : Daonil : Rp 287.880,-

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Depkes RI. Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner : Fokus Sindrom Koroner Akut. 2006

Mogensen, Carl Eric. 2007. Pharmacotherapy of Diabetes : New Development, Imroving Lifeand Prognosis in Diabetic Patiens Springer

Waspadji, S. 2002. Pedoman Diet Diabetes Melitus. FKUI. Jakarta Tjokroprawiro A (1978). The Dietetic Regimen for Indonesian Pasiens with Diabetes Mellitus. Dalam Disertasi untuk memperoleh Doktor dalam Ilmu Kedokteran dari Universitas Airlangga, Surabaya. Airlangga University Press