Anda di halaman 1dari 26

Makalah Geodinamika

Tatanan Tektonik Jawa Bagian Timur dan Madura

Oleh : Kelompok III Tri Nurhidayah A. Noor Magfirah Maksum Madjidi Fauziah Alimuddin H22112012 H22112251 H22112252 H22112253

Program Studi Geofisika Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin Makassar 2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapan kehadirat Allah SWT.,karea dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan kepada Dosen dan teman-teman yang telah memberian dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pembaca lainnya.

Makassar, April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .. Daftar Isi ... Bab I PENDAHULUAN .. I.1 Latar Belakang . I.2 Tujuan .. BAB II KAJIAN PUSTAKA ... II.1 Tatanan Tektonik Jawa Bagian Tim ....... II.1.1 Karakter Batuan dasar (Basement)... II.1.2 Fisiografi regional.. II.2 Tatanan Tektonik Madura..... II.2.1 Cekungan Selat Madura..... II.2.2 Analisa Perbandingan Batim... BAB III PENUTUP .. III.1 Simpulan III.2 Saran .. DAFTAR PUSTAKA ..

i ii 1 1 3 4 4 7 12 16 16 18 22 22 22 23

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang


Jalur penunjaman Kapur-Paleosen yang ditunjukkan oleh singkapan batuan komplek Melange LukUlo-Karangsambung (Asikin, 1974; Hamilton, 1979; Suparka, 1988; Parkinson et al., 1998) mempunyai arah umum struktur TL-BD yang mengarah kea rah Pegunungan Meratus di ujung tenggara Kalimantan. Pulunggono dan Martodjojo (1994) mengenali tiga arah struktur utama di Pulau Jawa: Arah timurlautbaratdaya atau Pola Meratus, arah utara-selatan atau Pola Sunda, dan arah timurbarat atau Pola Jawa. Disamping tiga arah struktur utama ini, masih terdapat satu arah struktur utama lagi, yakni arah baratlaut-tenggara yang disebut Pola Sumatra (Satyana, 2007). Pola Meratus dominan di kawasan lepas pantai utara, ditunjukkan oleh tinggian-tinggian Karimunjawa, Bawean, Masalembo dan Pulau Laut (Guntoro, 1996). Di Pulau Jawa arah ini terutama ditunjukkan oleh pola struktur batuan PraTersier di daerah Luk Ulo, Kebumen Jawa Tengah. Pola Sunda yang berarah utaraselatan umum terdapat di lepas pantai utara Jawa Barat dan di daratan di bagian barat wilayah Jawa Barat. Arah ini tidak nampak di bagian timur pola Meratus. Pola Jawa yang berarah timur-barat merupakan pola yang mendominasi daratan Pulau Jawa, baik struktur sesar maupun struktur lipatannya. Di Jawa Barat pola ini diwakili oleh Sesar Baribis, serta sesar sungkup dan lipatan di dalam Zona Bogor. Di Jawa Tengah sesar sungkup dan lipatan di Zona Serayu Utara dan Serayu Selatan mempunyai arah hampir

barat-timur. Di Jawa Timur pola ini ditunjukkan oleh sesar-sesar sungkup dan lipatan di Zona Kendeng. Struktur Arah Sumatra terutama terdapat di wilayah Jawa Barat dan di Jawa Tengah bagian timur struktur ini sudah tidak nampak lagi. Struktur arah barattimur atau Arah Jawa, di cekungan Jawa Timur ternyata ada yang lebih tua dari Miosen Awal, dan disebut Arah Sakala (Sribudiyani et al., 2003). Struktur Arah Sakala yang utama adalah zona sesar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) dan merupakan struktur yang menginversi cekungan berisi Formasi Pra-Ngimbang yang berumur Paleosen sampai Eosen Awal sebagai endapan tertua. Sebagian besar batuan tertua di Jawa, yakni yang berumur Pra-Tersier sampai Paleogen dan dianggap sebagai batuandasar Pulau Jawa, tersingkap diwilayahJawabagiantimur. Mereka tersingkap di Komplek Melange Luk Ulo-Karangsambung, Kebumen (Asikin, 1974; Suparka, 1988); Nanggulan, Kulonprogo (Rahardjo et al., 1995); dan Pegunungan Jiwo, Bayat-Klaten (Sumarso dan Ismoyowati, 1975; Samodra dan Sutisna, 1997). Sedangkan untuk batuan yang lebih muda, yakni yang berumur Neogen, telah banyak penelitian dilakukan terhadapnya (Van Bemmelen, 1949; Marks, 1957; Sartono, 1964; Nahrowi et al, 1978; Pringgo-prawiro, 1983; De Genevraye dan Samuel, 1972; Soeria-Atmadja et al., 1994). Pada umumnya penelitian geologi Tersier ini menyepakati fenomena struktur atau tektonik yang berarah umum timur-barat sebagai hasil interaksi lempeng dengan zona tunjaman di selatan Jawa dan searah dengan arah memanjang Pulau Jawa.

I.2 Tujuan
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu:

1. Untuk mengetahui tatanan Tektonik Jawa Bagian Timur 2. Untuk mengetahui tatanan Tektonik Madura

BAB II KAJIAN PUSTAKA II.1 Tatanan Tektonik Jawa Bagian Timur


Jawa bagian timur (mulaidaridaerahKarangsambungketimur), berdasarkan pola struktur utamanya, merupakan daerah yang unik karena wilayah ini merupakan tempat perpotongan dua struktur utama, yakni antara struktur arah Meratus yang berarah timurlut-baratdaya dan struktur arah Sakala yang berarah timur-barat (Pertamina-BPPKA, 1996; Sribudiyani et al., 2003) (Gambar1). Arah Meratus lebih berkembang di daerah lepas pantai Cekungan Jawa Timur, sedangkan arah Sakala berkembang sampai ke daratan Jawa bagian timur.

Struktur arah Meratus adalah struktur yang sejajar dengan arah jalur konvergensi Kapur Karangsambung-Meratus. Pada awal Tersier, setelah jalur

konvergensi Karangsambung-Meratus tidak aktif, jejak-jejak struktur arah Meratus ini berkembang menjadi struktur regangan dan membentuk pola struktur tinggian dan dalaman seperti, dari barat ke timur, Tinggian Karimunjawa, Dalaman Muria-Pati, Tinggian Bawean, Graben Tuban, JS-1 Ridge, dan Central Deep(Gambar2). Endapan yang mengisi dalaman ini, ke arah timur semakin tebal, yang paling tua berupa endapan klastik terestrial yang dikenal sebagai Formasi Ngimbang berumur Eosen. Distribusi endapan yang semakin tebal ke arah timur ini menunjukkan pembentukan struktur tinggian dan dalaman ini kemungkinan tidak terjadi secara bersamaan melainkan dimulai dari arah timur. Struktur arah Sakala yang berarah barat-timur saat ini dikenal sebagai zona sesar mendatar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala). Pada mulanya struktur ini merupakan struktur graben yang diisi oleh endapan paling tua dari Formasi Pra-Ngimbang yang berumur Paleosen-Eosen Awal (Phillips et al., 1991; Sribudiyani et al., 2003) (Gambar 2B).Graben ini kemudian mulai terinversi pada Miosen menjadi zona sesar mendatar RMKS. Berdasarkan sedimen pengisi cekungannya dapat disimpulkan sesar arah Meratus lebih muda dibandingkan dengan sesar arah Sakala. Selain arah Sakala, struktur arah barat-timur lainnya adalah struktur yang oleh Pulunggono dan Martodjojo (1994) disebut sebagai arah Jawa. Struktur ini pada umumnya merupakan jalur lipatan dan sesar naik akibat kompresi yang berasal dari subduksi Neogen Lempeng Indo-Australia. Jalur lipatan dan sesar naik ini terutama berkembang di Zona Kendeng yang membentuk batas sesar berupa zona overthrust antara Zona Rembang dan Zona Kendeng (Gambar3). Bidang overthrust yang nampak memotong sampai ke lapisan yang masih berkedudukan horisontal menunjukkan

pensesarannya terjadi paling akhir dibandingkan dengan pembentukan struktur yang lain (Arah Meratus dan Arah Sakala).

Gambar2: Penampang seismik baratlaut-tenggara yang menunjukkan jejak-jejak struktur Arah Meratus yang berkembang menjadi struktur regangan dan membentuk pola struktur tinggian dan dalaman (Prasetyadi, 2007; sumber: Pertamina-Beicip, 1985; Ditjen Migas).

Gambar 3: Penampang seismik utara-selatan yang menunjukkan zona overthrust sebagai batas antara Zona Rembang dan Zona Kendeng (Prasetyadi, 2007; Sumber: Data seismik dari PND-Ditjen Migas).

II.1.1 Karakter Batuan dasar (Basement)


Berdasarkan penanggalan UPb SHRIMP dari butiran-butiran mineral zircon yang dipisahkan dari batuan-batuan sedimen, vulkanik dan intrusive di Jawa Timur, Smyth et al. (2005) berhasil mendapatkan informasi penting tentang karakter batuan dasar Jawa Bagian Timur. Sampel-sampel zircon memberikan suatu kisaran umur mulai dari Kenozoikum sampai Archean (Pra-Kambrium). Zircon berumur Kenozoikum dijumpai dalam batuan-batuan sedimen, vulkanik dan intrusive Jawa Timur yang menunjukkan umur aktif vulkanik dan pengendapan sedimennya. Sapel zircon yang menunjukkan umur Kapur terbatas di bagian utara dan barat Jawa Timur yang kemungkinan mirip dengan batuan dasar di Karangsambung di daerah Rembang High yang berdekatan dengan Tinggian Meratus (Gambar 4). Beberapa sampel hanya mengandung umur Kenozoikum dan Kapur. Sampel yang mengandung zircon Kapur umumnya tidak mengandung zircon Archean. Sumbersumber untuk zircon Kapur kemungkinan besar adalah batuan continental Sundaland. Sementara itu sejumlah sampel berasal dari Pegunungan Selatan mengandung zircon berumur Kmbrium sampai Archean (Pra-Kambrium). Terdapatnya umur Archean menunjukkan batuan magmatiknya menerobos batuan dasar asal-Gondwana di bawah

Jawa Timur. Kisaran-kisaran Umur yang mencirikan zircon Pegunungan Selatan sangat mirip dengan yang dijumpai di Perth Basin, Australia Barat. Kemiripan in menunjukkan zircon dalam sampel Pegunungan Selatan memiliki Provenan (asalsumber) Dari Australia Barat. Dengan demikian dapat diinterpretasikan terdapatnya afinitasfragmen kontinen Gondwna yang berasal dari Australia barat sebagai batuan dasar Pegunungan Selatan Jawa Timur. Hal ini didukung juga oleh fenomena terpisahnya sejumlah fragmen kontine dari tepi benua Australia selama Mesozoikum sebelum pemisahan India dengan Gondwana. Suatau fragmen kontinen Australia telah hadir di Jaa Timur pada zaman Kapur, dan tumbukannya dengan tepi tenggara Sundaland kemungkinan besar terjadi sebelum awal Kenozoikum karena kenyataannya batuan berumur Eosen Tengah menumpang di atasnya.

Gambar 4:Distribusisampelpenanggalan zircon (Smyth et al., 2005)

Gambar 5: (A) Anomaligayaberat, dan (B) KarakterbatuandasarJawabagiantimur (Smyth et al., 2005).

Empat wilayah batuan dasar dikenali oleh Smyth et al. (2005): Rembang High, Southern Mountain, Kendeng Zone, danWestern Block (Gambar 5).

Rembang High : Terletak di bagian Jawa Timur dan merupakan daerah yang terangkat selama Kenozoikum dan memiliki endapan sedimen yang tipis dibandingkan dengan daerah cekungan di selatannya. Litologi batuan dasarnya dari pemboran dilaporkan terdiri dari batuan metamorf, batuanbek, mirip dengan yang terdapat di Jalur Pegunungan Meratus dan di interpretasikan sebagai komplek sakrasi Kapur.

Southern Mountain : Bukti dari penanggalan zircon menunjukkan terdapatnya kerak kontien di bawah busur vulkanik (OAF) Pegunungan Selatab dengan anomaly gaya berat Bouguer positif yang tinggi, dan terdapatnya zircon PraKambrium.

Kendeng Zone : Sifat batuan dasar zona ini tidak dapat dipastikan karena tebalny sekuen sedimen yang menutupinya. Zona Kendeng dikenal karena anomaly Bouger negatifnya yang menonjol dan menunjukkan batuan dasarnya sangat dalam, mengandung sedimen dengan tebal8 km sampai 11 km (de Genevraye & Samuel, 1972, Untung & Sato, 1978). Batuan dasarnya diperkirakan memiliki sifat transisional antara tipe komplek kresi (Rembang High) dan continental (Southern Mountain).

Western Block: Daerah ini dibatasi oleh Sesar Progo-Muria yang berarah TL-BD yang menandai berakhirnya secara mendadak anomaly gaya berat negaif Kendeng Depocenter dan Rembang High. Batuan dasar disebelah barat struktur ini, di Jawa Tengah, merupakan komplek kresi Melange Luk-Ulo

Karangsambung. Meskipun Smyth et al. (2005) mengenali 4 zonabatuandasar di atas, namun hasil analisis proven batuan kuarsa Eosen daerah-daerah Karangsambung, Nanggulan, Bayat, dan Cekungan Jawa Timur menunjukkan bahwa batu pasir Eosen Karangsambung yang sangat berbeda dengan batu pasir Eosen dari ketiga daerah lainnya sehingga di interpretasikan tatanan tektonik dan karakter batuan dasar daerah Nanggulan, Bayat, dan Cekungan Jawa Timur memiliki kemiripan sebagai basement continental (Prasetyadi, 2007) (Gambar 6).

Gambar6:HasilanalisisprovenanbatupasirEosendaridaerahKarangsambung, Nanggulan, Bayat, danCekunganJawaTimur (Prasetyadi, 2007).

II.1.2 Fisiografi regional a. Jawa Tengah Secara fisiografis, daerah Jawa Tengah oleh van Bemmelen, (1949) dibagi menjadi 6 zona fisografis, yaitu : Dataran Alluvial Jawa Utara, Gunungapi Kuarter, Antiklinorium Bogor Seraya Utara Kendeng. Depresi Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan, dan Pegunungan Selatan Jawa ( Gambar 2.1) Dataran Aluvial Jawa Utara, mempunyai lebar maksimum 40 km kearah selatan. Semakin ke arah timur, lebarnya menyempit hingga 20 km

Di Jawa Tengah relatif lebih sempit dibanding dengan dataran Alluvial Jawa Barat bagian Utara. Dataran alluvial di Jawa Tengah membentang dari Timur Cirebon sampai ke Pekalongan. Kemudian dimulai lagi dari sekitar Kendal sampai Semarang dan dari Semarang dataran alluvial ini melebar sampai di daerah sekitar Gunung Muria. Gunung api kuarter di jawa tengah antara lain : gunung slamet, G. Dieng, G. Sundoro, G. Sumbing, G. Unggaran, G.Merapi, G.Merbabu, dan G.Muria Zona Serayu Utara memiliki lebar 30-50 km. Di selatan Tegal, zona ini tertutupi oleh produk gunung api kwarter dari gunung Slamet. Di bagian tengah ditutupi oleh produk vulkanik kwarter G. Ragojembangan, G.Ungaran, dan G.Dieng. zona ini menerus ke Jawa Barat menjadi Zona Bogor dengan batas keduanya terletak di sekitar Prupuk, Bumiayu hingga Ajibarang, persis di sebelah barat G.Slamet, sedangkan ke arah timur membentuk zona kendeng. Zona Antiklinorium Bogor terletak di Selatan Dataran Alluvial Jakarta berupa Antiklinorium dari lapisan Neogen yang terlipat kuat dan terintrusi. Zona Kendeng meliputi daerah yang terbatas antara Gunung Unggaran hingga daerah sekitar Purwodadi dengan singkapan batuan tertua berumur OligosenMiosen Bawah yang di wakili oleh Formasi Pelang. Zona Depresi Jawa Tengah menempati bagian tengah hinggah selatan. Sebagian merupakan dataran pantai dengan lebar 10-25 km. Morfologi pantai ini cukup kontras dengan pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur yang relatif lebih terjal.

Pegunungan Selatan Jawa memanjang di sepanjang pantai selatan Jawa membentuk morfologi pantai yang terjal. Namun di Jawa Tengah, zona ini terputus oleh Depresi Jawa Tengah

Pegunungan Serayu Selatan terletak di antara zona Depresi Jawa Tengah yang membentuk Kubah dan punggungan. Di bagian Barat dari pegunungan Serayu Selatan yang berarah barat-timur dicirikan oleh bentuk antiklinorium yang berakhir di timur pada suatu singkapan batuan tertua terbesar di pulau Jawa, yaitu daerah Luk Ulo, Kebumen.

b. Jawa Timur Secara fisiogafi, menurut van Bemmelen (1949) Jawa Timur dapat dibagi menjadi 7 zona, (dari selatan ke utara) yaitu : Zona pegunungan selatan Zona busur vulkanik kuarter Zona pusat depresi Jawa Zona Kendeng Zona Depresi Randublatung Zona Rembang dan Madura Dataran alluvial Utara Jawa Pegunungan selatan Jawa merupakan pegunungan kapur dengan gejala karet dan dibeberapa tempat bagian bawah dari formasi kapur ini didasari oleh endapan vulkanik andesit tua seperti dapat dilihat di Batur Angung (Formasi Nglanggran) dan di Merawan. Pegunungan Selatan Jawa memanjang arah Barat-Timur yang dimulai dari bagian Timur Teluk Tjiletuh di Jawa Barat sampai ke bagian Barat Segara Anakan. Dari

Segara Anakan sampai ke Parangtritis, Zona Selatan (Pegunungan Selatan) mengalami penenggelaman dengan sisa-sisa dibeberapa tempat yang masih berada di beberapa di atas permukaan air laut yaitu di Pulau Nusakambangan dan Karangbolong. Pada bagian yang mengalami penenggelaman ini untuk Jawa Tengah terisi oleh endapan-endapan yang berasal dari pengunungan Serayu Selatan.Di bagian Jawa Timur, pegunungan ini dimulai dari parangtritis sampai ke Blambangan. Nusa Barung adalah bagian pegunungan Selatan yang berada diatas permukaan laut, sedangkan di Utara Nusa Barung yaitu dari Pasisiran sampai ke Puger pegunungan Selatan tertutup oleh endapan yang berasal dari Komplek Ijang. Untuk daerah Jawa Timur zona pusat depresi jawa di duduki oleh deretan kompleks vulkan seperti kompleks Lamongan, Kompleks Tengger-Semere, Komplek Ijang dan Komplek Ijen. Kalau dilihat secara keseluruhan maka deretan vulkan ini mengarah Barat-Timur dengan posisi agak ke Selatan apabila dibandingkan dengan deretan di bagian Baratnya (Jawa Tengah). Pada batas Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat vulkan yang mengarah Utara Selatan yaitu vulkan Merapi dan Merbabu. Vulkan-vulkan ini tumbuh pada pertemuan sesaran antar Zone Ngawi-Kendeng Rodge dengan sesaran perbatasan Jawa Tengah dan jawa timur. Zona Kendeng memanjang dari Gunung Ungaran di bagian barat menuju ke arah timur sampai ke Sungai Brantas. Panjang zona ini diperkirakan 250 km, lebar di bagian barat 40 km dan mungkin menyempit di bagian timur kurang lebih 20 km (Genevraye & Samuel, 1972).

Zona Randublatung merupakan daerah lembah dan bagian tengah memanjang barat timur dan memisahkan Zona Kendeng dan Zona Rembang. Zona Rembang di bagian Utara dibatasi oleh Paparan Laut Jawa Utara ke arah selatan berhubungan dengan Depresi Randublatung yang dibatasi oleh Sesar Kujung, ke arah barat berhubungan dengan Depresi Semarang Pati dan ke arah timur berhubungan dengan bagian utara Pulau Madura. Di Jawa Timur Bagian Utara tidak diduduki oleh dataran alluvial melainkan oleh perbukitan yang memanjang dari Barat Purwodadi sampai ke Utara Gresik (Antiklinorium Rembang). Antiklinorium ini berlanjut ke Madura, yang terpisahkan oleh Selat Madura. Di Jawa Timur Dataran Alluvial yang relatif agak luas terdapat segitiga Jombang - Wonokromo Bangil dan diantaranya Bojonegoro Surabaya berbentuk memanjang. II.2 Tatanan Tektonik Madura II.2.1 Cekungan Selat Madura Cekungan laut Selat Madura bagian selatan secara administratif terletak di Provinsi Jawa Timur dan secara geografis cekungan ini terletak pada posisi 11401025BT -11401358BT , 8018LS 80328LS (gambar 1). Di sebelah barat cekungan ini berbatasan dengan daratan Jawa Timur (Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan) yang dibatasi oleh garis pantai Surabaya di utara, pantai Sidoarjo sampai kawasan pantai Pasuruan di selatan. Pada kawasan pantaipantai ini bermuara Kali Surabaya, Kali Porong, dan Sungai Brantas. Di sebelah Selatan,

cekungan ini berbatasan juga dengan daratan Jawa Timur (Kabupaten Probolinggo), dibatasi oleh kawasan garis pantai Pasuruan di barat, pantai Probolinggo, sampai pantai Besuki di timur, dimana pada kawasan pantai ini dicirikan oleh kehadiran tinggian Gunung Argopuro di Kecamatan Besuki. Di sebelah Timur cekungan ini berbatasan dengan Laut Bali yang dicirikan oleh perubahan kontras kedalaman yaitu mulai dari -150 m. Adapun batas bagian utara cekungan ini adalah kawasan pantai selatan pulau Madura yang termasuk ke dalam Kebupaten Sampang dan Pamekasan. Informasi tentang kedalaman laut (batimetri) yang merupakan rekonstruksi data batimetri hasil survey geologi kelautan yang dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan ESDM tahun 1995 yang diterbitkan sebagai Peta Dinamika Wilayah Pesisir Jawa Timur, Indonesia. Kedalaman laut dari barat ke timur yang dimulai dari delta muara Kali Porong (0 m) sampai mencapai sekitar -150 m yaitu pada batas barat Laut Bali, dengan poros kedalaman memanjang barat-timur dan agak meliak-liuk. Sehingga secara keseluruhan teramati bentuk geometris cekungan laut Selat Madura bagian selatan ini adalah setengah cawan lonjong yang membuka ke arah timur yaitu ke cekungan Laut Bali. Pada cekungan ini terisi berbagai material batuan lepas (sedimen) yang umumnya berasal dari daratan Jawa Timur dan Madura. Berdasarkan peta sebaran sedimen permukaan dasar laut di cekungan ini, memperlihatkan bahwa sedimen lempung dan lumpur menempati sebagian besar laut ini, dan lanau sampai lanau pasiran umumnya menempati sebagian kecil dan hanya pada wilayah pesisir. Kecuali lanau dan lanau pasiran di perairan Gresik sampai Surabaya yang membentuk pola

sebaran yang menunjukkan sumber sedimen berasal dari selat Gresik-Madura dan Laut Jawa. Pada sudut pandang lainnya terdapat informasi batimetri yang berasal dari sumber data peta Indonesia Hydrographic Chart tahun 1951 (Edition 1 AMS, First Printing, 959, Prepared by the Army Map Service (NSVLB), Corps of Eng. U.S. Army Washington DC). Pola kontur batimetri pada peta tahun 1951 juga membentuk cekungan setengah cawan lonjong, namun terdapat perbedaan garis kontur batimetri yang lebih dangkal pada posisi yang sama dengan kontur batimetri tahun 1995 dan lebih meliak-liuk khususnya mulai kedalaman -20 m.

II.2.2 Analisa Perbandingan Batimetri (Tahun 1951 dan 1995) Perbandingan dua batimetri cekungan laut selat Madura bagian selatan (1951 dan 1995) dilakukan dengan menumpang-tindihkan (computerized overlying) pola sebaran garis kontur batimetri pada posisi geografis yang sama, sehingga didapatkan perpotongan-perpotongan ortogonal garis-garis kontur dengan nilai kedalaman yang berbeda atau hasil akhirnya dapat disebut sebagai Peta Komposit. Dari peta komposit ini terlihat adanya perpotongan antara garis kontur tahun 1995 dengan kedalaman yang lebih dalam daripada yang tahun 1951 maka dapat diartikan bahwa pada titik potong tersebut terjadi pendalaman, dan sebaliknya dapat diartikan telah terjadi pendangkalan. Adapun tujuan analisa perbandingan ini adalah untuk mendapatkan pengertian yang lebih komprehensif mengenai pola sebaran sedimentasi melalui parameter vertikal kecepatan sedimentasi atau kecepatan pendangkalan.

Berdasarkan pola sebaran kecepatan sedimentasi maka dapat dengan mudah secara kwalitatif memprediksi arah-arah sedimentasi dan lokasi-lokasi yang lebih dahulu mendangkal atau sebaliknya. Hal itu menunjukkan sebaran titik-titik perpotongan garis kontur batimetri yang kesemuanya ternyata teramati sebagai proses pendalaman, kecuali pada satu titik yaitu di delta muara Kali Porong dengan pendangkalan mencapai 5 m untuk periode waktu dari tahun 1951 sampai 1995 atau berkecepatan pendangkalan 11,4 cm pertahun. Proses pendalaman pada periode waktu tersebut teramati semakin cepat ke arah poros cekungan. Di sepanjang keliling perairan pantai berkecepatan pendalaman = 5 m sampai 10 m dalam periode 44 tahun atau = 11,4cm/tahun sampai = 22,8cm/tahun. Kemudian agak menjauh dari pantai kecepatan pendalamannya meningkat menjadi 20m/44tahun atau = 45,6 cm/tahun bahkan di perairan lepas pantai Sampang Madura ada yang mencapai 30m/44tahun atau = 68,4cm/tahun. Pola sebaran kecepatan pendalaman tersebut di atas ternyata telah memberikan gambaran atau interpretasi lain yaitu sangat mungkin terjadinya penurunan tektonik lokal (local subsidence) dengan pusat penurunan terletak di poros cekungan selat. Penurunan ini secara jelas menunjukkan kecepatan yang lebih tinggi daripada kecepatan sedimentasinya. Oleh karena itu nilai-nilai kecepatan pendalaman di atas dapat dikatakan sebagai kecepatan minimal penurunan dasar cekungan. Hal ini dikarenakan masih terdapatnya komponen kecepatan sedimentasi (yang dapat dihitung dari interpretasi rekaman seismik refleksi beresolusi tinggi). Adapun penyebab terjadinya local subsidence ini sangat dimungkinkan berhubungan dengan pola struktur tektonik selat dan pulau Madura, yaitu dicirikan oleh pola antiklinorium yang

berarah sumbu barat-timur. Sehingga dapat diinterpretasikan sebagai daerah kompresi utara-selatan. Gaya utama dari selatan dikarenakan desakan tegak lurus ke utara oleh lempeng Samudera Hindia yang menumbuk Pulau Jawa, tetapi kesemuanya itu tidaklah besar perannya dibandingkan dengan control tektonik local. Sementara faktor-faktor oseanografis tersebut mempunyai variasi perubahan intensitasnya dalam periode waktu yang kontrol utamanya adalah eustatic sea level change yang mempunyai periode variasi tinggi muka laut berskala ribuan tahun. Sebagai ilustrasi dari banyak peneliti terdahulu telah sangat diketahui secara umum dalam dunia paleoklimatologi bahwa tahapan Glasial Maksimum Terakhir (Last Glacial Maximum) dimana muka air laut adalah 120 m di seluruh dunia terjadi pada sekitar 18.000 tahun yang lalu. Maka dapat dihitung kecepatan naiknya muka air laut (= kecepatan pendalaman) sebagai 120m/18.000 tahun atau 0,67cm/tahun; jadi sangatlah lambat bila dibandingkan dengan periode yang hanya 44 tahun untuk mencapai pendalaman 20m atau bahkan 30 m. Perubahan tinggi muka laut dapat disebabkan oleh dua hal yaitu yang disebabkan oleh perubahan volume es di kedua kutub bumi (eustatic sea level change: berperiode waktu ribuan tahun) dan yang disebabkan oleh aktifitas tektonik (tectonic sea level change: berperiode waktu ribuan sampai ratusan juta tahun); atau dapat pula disebabkan oleh keduanya sekaligus, dan ini yang sering dijumpai di seluruh muka bumi. Pengangkatan atau penurunan tektonik suatu kawasan juga akan mengontrol perubahan tinggi muka laut. Aktifitas tektonik yang lebih luas (regional) umumnya lebih lambat kecepatannya daripada yang lokal. Cekungan laut selat Madura bagian selatan ini secara dimensi areal tektonik dapat digolongkan sebagai lokal. Apabila

dikaitkan dengan kemungkinan dijadikannya cekungan laut selat Madura bagian selatan sebagai tempat penempatan akhir luapan lumpur Porong, maka informasi di atas jelas menunjukkan dukungan yang lebih kondusif bagi kriteria laut selat Madura sebagai cekungan penempatan akhir lumpur Porong.

BAB III PENUTUP


Kesimpulan : 1. Jawa bagian timur (mulai dari daerah Karangsambung ke timur ) , berdasarkan pola struktur utamanya, merupakan daerah yang unik karena wilayah ini merupakan tempat perpotongan dua struktur utama, yakni antara struktur arah Meratus yang berarah timurlaut-baratdaya dan struktur arah Sakala yang berarah timur-barat. Struktur arah Meratus adalah struktur yang sejajar dengan arah jalur konvergensi Kapur Karangsambung-Meratus. Pada awal Tersier, setelah jalur konvergensi Karangsambung-Meratus tidak aktif, jejak-jejak struktur arah Meratus ini berkembang menjadi struktur regangan dan membentuk pola struktur tinggian dan dalaman seperti, dari barat ke timur, Tinggian Karimunjawa, Dalaman Muria-Pati, Tinggian Bawean, Graben Tuban, JS-1 Ridge, dan Central Deep, sedangkan Struktur arah Sakala yang berarah barat-timur saat ini dikenal sebagai zona sesar mendatar RMKS (RembangMadura-Kangean-Sakala). Pada mulanya struktur ini merupakan struktur graben yang diisi oleh endapan paling tua dari Formasi Pra-Ngimbang yang berumur Paleosen-Eosen Awal. 2. Pulau Madura memiliki Pola sebaran kecepatan pendalaman ternyata telah memberikan gambaran atau interpretasi lain yaitu sangat mungkin terjadinya penurunan tektonik lokal (local subsidence) dengan pusat penurunan terletak di poros cekungan selat. Adapun penyebab terjadinya local subsidence ini

sangat dimungkinkan berhubungan dengan pola struktur tektonik selat dan pulau Madura, yaitu dicirikan oleh pola antiklinorium yang berarah sumbu barat-timur. Pada cekungan selat Madura terisi berbagai material batuan lepas (sedimen) yang umumnya berasal dari daratan Jawa Timur dan Madura. memperlihatkan bahwa sedimen lempung dan lumpur menempati sebagian besar laut ini, dan lanau sampai lanau pasiran umumnya menempati sebagian kecil dan hanya pada wilayah pesisir.

DAFTAR PUSTAKA AwangH.Satyana and CipiArmandita, 2004, Deepwater Plays of Java Indonesia, Regional Evaluation on Opportunities and Risks, Indonesian Petroleum Association , Proceeding Deepwater and Frontier Exploration in Asia and Australasia Symposium. AwangH.Satyana, 2005, Oligo-Mioscene Carbonates of Java, Indonesia. Tectonic-Volcanic Setting and Petroleum Implication. Indonesia Petroleum Association, Proceeding Ann.Conv. 30th. Budiyani, Sri., at al., 2003, The Collision of The East Java Microplate and Its Implication for Hydrocarbon occurrences in the East Java Basin, Indonesian Petroleum Association, Proceeding Ann.Conv.29th. Helen Smyth et al., 2005, East Java: Cenozoic Basins, Volcanoes and Ancient Basement, Indonesia Petroleum Association, Proceeding Ann.Conv. 30 th Soneart, Koyhar. 2010. Geologi Pulau Jawa. Makalah. Universitas Jendral Sudirman. Purbalingga