Anda di halaman 1dari 239

Saluran Transmisi

Analisis Analisis Analisis Analisis


Sistem Tenaga Sistem Tenaga Sistem Tenaga Sistem Tenaga




Darpublic Edisi Juli 2012
Sudaryatno Sudirham


i











Analisis
Sistem Tenaga


oleh
Sudaryatno Sudirham


ii



















Hak cipta pada penulis


SUDIRHAM, SUDARYATNO
Analisis Sistem Tenaga
Darpublic, Kanayakan D-30, Bandung, 40135.




iii






Pengantar
Buku ini berisi bahasan analisis sistem tenaga, yang merupakan
suatu analisis pada tingkat transmisi (tidak termasuk sistem
distribusi); pembahasan disajikan dalam lima bab. Bab pertama
berisi tinjauan umum pada sistem tenaga, mencakup ketersediaan
sumber energi sampai dengan sistem polifasa, pada pembebanan
seimbang dan tak seimbang; di sini diberikan penjelasan mengenai
perhitungan dalam per-unit serta komponen simetris yang akan
dimanfaatkan pada pembahasan di bab-bab selanjutnya. Tiga bab
berikutnya berisi bahasan mengenai piranti utama sistem tenaga,
mencakup saluran transmisi, transformator, dan mesin sinkron; di
tiga bab ini dibahas rangkaian ekivalen serta kondisi pembebanan
yang mungkin terjadi. Bab terakhir berisi bahasan mengenai
permasalahan aliran daya, dengan salah satu metoda silusi yaitu
metoda Newton-Raphson. Pada dasarnya kondisi operasional sistem
yang dibahas adalah kondisi mantap; hanya sedikit disinggung
situasi transien pada saluran transmisi dan mesin sinkron. Stabilitas
transien dan analisis keadaan hubung singkat belum dibahas dalam
buku ini.
Mudah-mudahan sajian ini bermanfaat bagi para pembaca. Saran dan
usulan para pembaca untuk perbaikan dalam publikasi selanjutnya,
sangat penulis harapkan.
Bandung, Juli 2012
Wassalam,

Penulis.


iv














Darpublic
Kanayakan D-30, Bandung, 40135


Dalam format .pdf buku ini dapat diunduh bebas di
www.buku-e.lipi.go.id dan www.ee-cafe.org

Selain Buku-e, di
www.ee-cafe.org
tersedia juga open course
dalam format .ppsx beranimasi dan .pdf



v



Daftar Isi

Kata Pengantar iii
Daftar Isi v
Bab 1: Tinjauan Pada Sistem Tenaga 1
Energi yang Tersedia. Struktur Sistem Tenaga Listrik.
Penyaluran Energi Listrik. Sumber Energi Primer.
Beban. Sistem Polifasa. Sistem Tiga-fasa Seimbang.
Sistem Tiga-fasa Tak Seimbang. Pernyataan Sistem
Tenaga.
Bab 2: Saluran Transmisi 47
Impedansi dan Admitansi. Rangkaian Ekivalen.
Perubahan Pembebanan. Perubahan Panjang Saluran.
Lossless Line. Analisis Pembebanan Saluran Transmisi.
Transien Pada Saluran Transmisi.
Bab 3: Transformator 113
Transformator Satu fasa. Transformator Pada Sistem
Tiga-fasa. Transformator Tiga Belitan. Transformator
Tiga-fasa Dibangaun Dari Transformator Satu-fasa.
Pergeseran Fasa Pada Hubungan Y-. Sistem Per-Unit
Pada Saluran Dengan Transformator. Transformator
Polifasa.
Bab 4: Mesin Sinkron 157
Mesin Sinkron Kutub Menonjol. Mesin Sinkron Rotor
Silindris. Kopling Turbin-Generator. Daya Mesin
Sinkron. Batas Operasi Mesin Sinkron. Transien Pada
Mesin Sinkron. Lebih Lanjut Tentang Mesin Sinkron
Kutub Menonjol.
vi

Bab 5: Analisis Aliran Daya 197
Analisis Aliran Daya. Persamaan Arus-Tegangan.
Persamaan Aliran Daya. Metoda Newton-Raphson.
Contoh Sistem Dua Bus. Contoh Sistem Tiga Bus.
Daftar Pustaka 225
Biodata Penulis 226
Indeks 227



Tinjauan Pada Sistem Tenaga
1

BAB 1 Tinjauan Umum Pada Sistem
Tenaga

1.1 Energi Yang Tersedia dan Energi Listrik
Energi tersedia di alam dalam berbagai bentuk, dan manusia
mengubahnya ke dalam bentuk energi listrik untuk memenuhi
kebutuhannya. Pengubahan atau konversi ini memberikan
keuntungan namun konversi tersebut juga memerlukan biaya yang
tidak kecil.
Berbagai bentuk energi yang mungkin dikonversikan ke dalam
energi listrik:
Energi radiasi (sinar matahari).
Energi panas bumi.
Energi kimia (batubara, minyak bumi).
Energi kinetik gelombang laut.
Energi kinetic arus laut.
Energi potensial air terjun.
Energi nuklir.
Bentuk energi listrik memberikan beberapa keuntungan:
Lebih mudah diatur/dikendalikan.
Dapat ditransmisikan dengan kecepatan cahaya.
Dapat dikonversikan ke bentuk energi lain dengan efisiensi
tinggi.
Bebas polusi, walaupun dalam konversinya dari bentuk
aslinya menimbulkan juga masalah polusi.
Konversi ke bentuk lain biasanya mudah dan sederhana.
Kelemahan energi listrik terutama adalah bahwa proses
penyediaannya memerlukan pendanaan cukup besar. Kita sadari
bahwa sistem tenaga listrik adalah besar baik dilihat dari ukurannya,
investasinya, jumlah energi yang dikelola, besaran fisisnya
(tegangan, arus) sampai kepada piranti-pirantinya. Oleh karena itu
pembangunan sistem biasanya dilakukan tidak selalu dari nol
melainkan mengembangakan sistem yang sudah ada; kebutuhan
energi listrik yang terus tumbuh, memaksa sistem tenaga listrik
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

2 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

selalu di-modifikasi dengan mengambil manfaat dari perkembangan
teknologi yang terjadi.
Dalam Tinjauan Sistem Tenaga Listrik ini, kita banyak menoleh ke
PLN. Energi listrik diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada
tahun 1897 (masih zaman penjajahan) dengan didirikannya
perusahaan listrik pertama yang bernama Nederlandsche Indische
Electriciteit Maatschappij (NIEM) di Batavia (sekarang Jakarta)
dengan kantor pusat di Gambir. Dua belas tahun setelah itu di
Surabaya didirikan Algemeene Indische Electriciteit Maatschappij
(ANIEM) pada tahun 1909 oleh perusahaan gas NIGM [Ensiklopedi
Blora, 2011]. Frekuensi yang digunakan pada sistem tenaga yang
dibangun adalah 50 Hz, standar Eropa.
Yang menarik dalam kaitan perkembangan kelistrikan di Indonesia
adalah bahwa pengenalan energi listrik di Indonesia tidaklah jauh
dari perkembangan kelistrikan di Amerika. Kita baca misalnya
dalam buku Charles A Gross [1] bahwa pada tahun 1890-an
perusahaan Westinghouse baru bereksperimen dengan apa yang
disebut alternating current. Persaingan berkembang antara
General Electric dan Westinghouse dalam menentukan apakah dc
atau ac yang sebaiknya digunakan oleh industri. Pada akhirnya
bentuk ac dapat diterima, antara lain oleh alasan-alasan berikut:
Transformator (ac) memberikan kemungkinan untuk
mengubah tegangan maupun arus secara mudah.
Generator ac jauh lebih sederhana dibandingkan dengan
generator dc.
Motor-motor ac juga lebih sederhana dan lebih murah dari
motor dc.
Pada sekitar 1900 masih diperdebatkan mengenai frekuensi yang
harus digunakan dalam mencatu daya ac, apakah 25, 50, 60, 125,
dan 133 Hz. Jika tidak di-standarkan akan diperlukan beaya untuk
peralatan konversi agar antar sistem dapat dihubungkan. Pada waktu
itu pembangkit hidro cenderung menggunakan 25 Hz karena turbin
air dapat dirancang untuk mencapai efisiensi yang lebih baik pada
kecepatan yang sesuai dengan pembangkitan 25 Hz. Masalah yang
timbul pada penggunaan frekuensi ini adalah terjadinya flicker pada
lampu pijar. Pada akhirnya diterimalah frekuensi 60 Hz sebagai
frekuensi standar karena pada frekuensi ini flicker tidak lagi terasa
dan turbin uap berkinerja baik pada kecepatan perputaran yang
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

3

berkaitan yaitu 3600 dan 1800 rpm. Sementara itu di Eropa
ditetapkan frekuensi 50 Hz sebagai frekuensi standar.
Pemanfaatan energi listrik yang pertama kali adalah untuk keperluan
penerangan. Lampu listrik terus dikembangkan untuk memperoleh
lumen per watt semakin tinggi. Kebutuhan energi listrik kemudian
berkembang, tidak hanya untuk memenuhi keperluan penerangan
tetapi juga keperluan akan energi untuk mengoperasikan berbagai
alat rumah tanggga, alat kantor, pabrik-pabrik, gedung-gedung,
sampai ke arena hiburan. Kebutuhan yang terus meningkat tersebut
memerlukan penyaluran energi dengan tegangan yang lebih tinggi.
Dibuatlah transformator penaik tegangan untuk mengirimkan energi
dan transformator penurun tegangan untuk disesuaikan dengan
kebutuhan pengguna.
1.2 Struktur Sistem Tenaga Listrik
An electrical power system can be defined as follows: An
electrical power system is a network of interconnected components
designed to convert nonelectrical energy continuously into the
electrical form; transport the electrical energy over potentially
great distances; transform the electrical energy into a specific
form subject to close tolerances; and convert the electrical energy
into a usable nonelectrical form. [1].
Agar dapat diimplementasikan, sistem ini harus aman, dapat
diandalkan, ekonomis, ramah lingkungan, dan secara sosial dapat
diterima. Sistem tenaga dapat dipandang terdiri dari beberapa sub-
sistem, yaitu
Pembangkitan (Generation)
Transmisi (Transmission)
Subtransmission
Distribusi: primer, sekunder
Beban
1.2.1 Pembangkitan
Piranti utama di sub-sistem pembangkitan adalah generator yang
merupakan sumber energi listrik. Istilah sumber energi di sini
agaknya kurang tepat, mengingat bahwa sesungguhnya generator
hanyalah mengubah energi non-listrik menjadi energi listrik.
Generator ini, di pusat pembangkit tenaga air misalnya,
digerakkan (diputar) oleh turbin air dan turbin sendiri digerakkan
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

4 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

oleh air terjun. Air terjunlah yang sesungguhnya sumber energi.
Namun demikian pembahasan kita hanya menyangkut sistem
tenaga listrik, sehingga peralatan-peralatan di depan generator
tidak kita bicarakan dan kita menganggap generator sebagai
sumber energi.
Pada umumnya generator merupakan mesin berputar, yang
membangkitkan daya mulai dari puluhan kW hingga lebih dari
1000 MW, dengan tegangan mulai dari 380 V sampai 25 kV. Sisi
keluaran generator merupakan sistem tiga-fasa.
1.2.2 Transmisi
Daya listrik dari pusat pembangkit disalurkan ke berbagai tempat
melalui saluran transmisi. Tegangan saluran transmisi di sistem
PLN adalah 150 kV, yang disebut Saluran Udara Tegangan Tinggi
(SUTT) dan 275 500 kV yang disebut Saluran Udara Tegangan
Ekstra Tinggi (SUTET). Di Amerika digunakan tegangan mulai
115 kV sampai 765 kV.
Sesungguhnya ada dua kemungkinan pembangunan saluran
transmisi yaitu bawah tanah (underground) dan diatas tanah
(overhead) yang kita sebut saluran udara. Saluran udaralah yang
umum digunakan. Saluran udara ini biasanya panjang sampai
ratusan kilometer. Konduktor yang digunakan adalah konduktor
telanjang (tanpa isolasi padat) sehingga ia harus didukung oleh
isolator yang terpasang pada menara. Saluran ini berhubungan
langsung dengan udara sekitarnya sehingga sangat terpengaruh
oleh kondisi alam seperti polusi dan petir.
Jaringan transmisi harus memiliki fleksibilitas untuk menyalurkan
daya besar melalui sejumlah route. Ia harus dirancang sedemikian
rupa sehingga gagalnya sejumlah kecil saluran tidak menyebabkan
kegagalan seluruh sistem. Saluran ini juga harus mampu berfungsi
sebagai penghubung yang mampu menyalurkan energi ke kedua
arah.
Piranti yang menghubungkan generator dan saluran transmisi
adalah transformator, yang berfungsi untuk mengubah tegangan
keluaran generator ke tegangan transmisi yang lebih tinggi.
1.2.3 Subtransmissi
Di Indonesia (jaringan PLN), istilah subtransmisi tidak
digunakan. Di PLN pernah digunakan saluran dengan tegangan 30
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

5

kV dan 70 kV, namun telah mulai ditinggalkan. Saluran
subtransmisi biasanya tidak panjang (kurang dari beberapa puluh
kilometer), kapasitas rendah (kurang dari 100 MVA) dan banyak
cabang untuk mencatu pusat-pusat beban.
1.2.4 Distribusi
Saluran transmisi mencatu gardu-gardu induk, di mana tegangan
diturunkan menjadi tegangan distribusi primer. Jaringan distribusi
primer mencatu pelanggan tegangan menengah 20 kV. Pernah
pula digunakan tegangan 6 dan 12 kV namun telah ditinggalkan.
Jaringan distribusi primer bisa dirancang sebagai jaringan radial
ataupun loop.
(lihat Gb.1.1) Pada
jaringan radial
daya mengalir satu
arah yaitu dari
sumber (gardu) ke
beban
(pengguna/pelang
gan). Pada
jaringan loop,
beban dapat
menerima daya
lebih dari satu
arah. Selain radial
dan loop,
dikembangkan
pula struktur
jaringan spindle.
Pada tahap terakhir, tegangan diturunkan lagi menjadi 380/220 V.
Jaringan yang melayani pengguna pada tegangan rendah ini
merupakan jaringan distribusi sekunder. Jaringan ini bisa sangat
rumit, terutama di lokasi padat pengguna.
1.2.5 Beban
Beban (pengguna/pelanggan) mengambil energi listrik dari
jaringan. Ada hal-hal yang harus dipenuhi dalam melayani beban
ini.
1. Tegangan harus konstan, tidak naik-turun.
Radial
Loop
Gb.1.1 Jaringan radial dan loop.

GI
Beban 1 Beban 2
Beban 3 Beban 4
GI
Beban 1 Beban 2
Beban 3 Beban 4
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

6 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2. Frekuensi harus konstan.
3. Bentuk gelombang tegangan sedapat mungkin sinusoidal.
Untuk menentukan apakah ketentuan ini terpenuhi atau tidak,
digunakan indeks kinerja.
1. Regulasi Tegangan: Deviasi nilai tegangan pada waktu beban
berubah dalam batas-batasnya. Biasanya diambil sekitar 5%.
2. Regulasi Frekuensi: Pada keadaan normal, variasi frekuensi
biasanya cukup kecil, Hz 1 . 0 , dan tidak terasa oleh beban.
3. Kandungan Harmonisa: (Lihat: Analisis Rangkaian Listrik Jilid-
3).
1.3 Penyaluran Energi Listrik
Kita mengenal dua cara penyaluran energi listrik yaitu penyaluran
menggunakan arus searah (selanjutnya kita sebut sistem arus searah,
disingkat sistem AS) dan menggunakan arus bolak-balik sinusoidal
(selanjutnya kita sebut sistem arus bolak-balik, disingkat sistem
ABB). Berikut ini kita akan melihat perbandingan daya maksimum
yang mampu disalurkan melalui beberapa konfigurasi saluran.
1.3.1. Daya
Perhatikan
situasi
penyaluran
daya antar
dua jaringan
seperti
diperlihatkan
pada Gb.1.2.
Hubungan
antara A dan B digambarkan hanya dengan dua garis. Namun
penyaluran daya dari A ke B biasanya dilakukan dengan sejumlah
konduktor (2, 3, 4 konduktor) dengan susunan tertentu, yang kita
sebut konfigurasi saluran.
Daya (laju aliran energi) dari A ke B adalah
vi p = (1.1)
p = daya, v = tegangan, i = arus (yang ditulis dengan huruf kecil
untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan fungsi waktu).
Gb.1.2. Penyaluran daya antara dua jaringan.

Jaringan
B
+
v

i
Jaringan
A
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

7

Untuk memperbesar aliran daya, v dan/atau i harus diperbesar.
Akan tetapi upaya memperbesar kedua besaran ini dibatasi oleh
kemampuan teknologi. Arus dibatasi oleh kemampuan hantar arus
dari konduktor, sedangkan tegangan dibatasi oleh kekuatan isolasi.
Konduktor dibuat dari material yang memiliki konduktivitas listrik
yang tinggi, memiliki kekuatan mekanis yang sesuai, serta
ekonomis. Untuk itu banyak digunakan aluminum untuk saluran
transmisi, dan tembaga untuk saluran distribusi serta bagian-
bagian tertentu sistem tenaga. Kemampuan hantar arus dari suatu
konduktor terkait erat dengan kerapatan arus dan luas
penampangnya.
A J I
max max
= (1.2)
max
I = arus maksimum,
max
J = kerapatan arus maksimum, A =
luas penampang konduktor. Kerapatan arus maksimum,
max
J ,
ditentukan oleh pembatasan temperatur maksimum konduktor agar
tidak terjadi kerusakan konduktor serta isolasinya.
1.3.2. Konfigurasi Saluran
Berikut ini kita akan memperbandingkan daya maksimum yang
mampu disalurkan melalui suatu konfigurasi saluran tertentu.[1].
Ada enam konfigurasi yang akan kita lihat yaitu sistem AS 2
kawat, sisten AS 3 kawat, sistem ABB 1 fasa 2 kawat, sistem ABB
2 fasa 3 kawat, dan sistem ABB 3 fasa 4 kawat.
Pada setiap konfigurasi, salah satu kawat di-tanah-kan, dan disebut
kawat netral; kawat yang tidak ditanahkan disebut kawat fasa.
Dalam memperbandingkan kemampuan penyaluran setiap
konfigurasi ini kita tetapkan bahwa
1. Luas penampang konduktor total, yaitu total jumlah luas
penampang kawat fasa dan kawat netral, adalah sama yaitu
A. Karena salah satu saluran adalah saluran balik (netral)
maka luas penampang konduktor yang sesungguhnya
digunakan untuk mengirim daya adalah lebih kecil dari A.
2. Kerapatan arus yang mengalir tidak melebihi batas
kerapatan arus maksimum yang di tentukan, yaitu J
0
.
Pembatasan ini diperlukan karena kita akan
memperbandingkan kemampuan penyaluran daya pada
berbagai konfigurasi. Bukan arus yang kita tetapkan
mempunyai batas maksimum karena setiap konfigurasi
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

8 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

memiliki luas penampang konduktor kirim yang berbeda.
Dengan membatasi kerapatan arus maksimum, maka setiap
konfigurasi memiliki arus maksimum yang berbeda.
3. Tegangan setiap konduktor ke ground (tegangan fasa ke
netral) tidak melebihi batas maksimum yang ditentukan
yaitu V
0
. Tegangan antara kawat fasa dan kawat netral,
berbeda antara satu konfigurasi dengan konfigurasi yang
lain. Tegangan maksimum ini kita batasi untuk melihat
berapakah daya yang dapat disalurkan pada tegangan fasa-
netral maksimum dengan kerapatan arus yang juga
maksimum.
4. Kawat netral (yang ditanahkan) merupakan saluran balik.
Konfigurasi (a): Sistem AS, 2 kawat, salah satu kawat adalah kawat
netral yang merupakan saluran balik.

Total luas konduktor adalah A, koduktor yang ditanahkan
merupakan penghantar balik. Jadi sistem ini menyalurkan daya
melalui konduktor dengan luas penampang 0,5A. Daya yang mampu
disalurkan paling tinggi adalah
0 0 0
5 . 0 ) 5 . 0 ( P V J A P
a
= = dengan
0 0 0
V AJ P = (1.3)
Selanjutnya kita menggunakan
0 0 0
V AJ P = sebagai referensi untuk
melihat kemampuan penyaluran daya pada konfigurasi yang lain;
yaitu berapa kali P
0
kemampuan penyaluran dayanya.
Konfigurasi (b): Sistem AS, 3 kawat; dua kawat merupakan saluran
kirim, satu bertegangan positif dan yang satu lagi bertegangan
negatif. Kawat ke-tiga adalah saluran balik yang ditanahkan.

Konduktor pertama bertegangan positif sedangkan konduktor kedua
bertegangan negatif, konduktor ketiga ditanahkan. Karena tegangan
berlawanan, arus di konduktor pertama dan kedua juga berlawanan
+V
0
0,5A
0,5A
n
V
0
V
0
0,5A
0,5A
n
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

9

arah. Konduktor ketiga merupakan konduktor netral sebagai
penghamtar balik sehingga di konduktor ini arus balik dari
konduktor pertama dan kedua berlawanan arah; jika pembebanan
seimbang kedua arus balik ini saling meniadakan. Hal ini
memungkinkan penampang konduktor netral dibuat kecil saja
sehingga total penampang konduktor dapat dikatakan tetap sama
dengan A. Daya maksimum yang dapat ditransmisikan adalah
0 0 0
) 5 . 0 ( 2 P V J A P
b
= = (1.4)
Dari persamaan (1.4) terlihat bahwa kemampuan menyalurkan daya
pada konfigurasi (b) ini dua kali lipat dari konfigurasi (a).
Konfigurasi (c): Sistem ABB satu fasa, dua kawat; satu kawat fasa
dan yang lain kawat netral.

Misalkan gelombang tegangan sefasa dengan arusnya,
t V v
m
= cos t I i
m
= cos (1.5)
Daya sesaat adalah
( ) t
I V
t I V vi p
m m
m m c
+ = = = 2 cos 1
2
cos
2
(1.6)
Daya ini berfluktuasi dengan frekuensi 2. Nilai rata-rata bagian
yang berada dalam tanda kurung adalah 1, sehingga daya rata-rata
(atau daya nyata) adalah
VI
I V I V
P
m m m m
= = =
2 2
2
(1.7)
dengan V dan I adalah nilai efektif (rms). Arus efektif maksimum
yang bisa disalurkan adalah
0
5 . 0 AJ I = (1.8)
(di sini kita menganggap bahwa arus bolak-balik yang menglir di
konduktor terdistribusi secara merata di seluruh penampang
walaupun kenyataannya tidak demikian karena terjadi efek kulit.
Namun anggapan ini cukup layak untuk keperluan diskusi.)
0,707V
0
0,5A
0,5A
n
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

10 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Karena kita telah menetapkan bahwa tegangan konduktor tidak lebih
dari nilai batas V
0
maka tegangan efektif maksimum adalah
0
0
707 , 0
2
V
V
V = = (1.9)
Nilai ini yang dicantumkan pada gambar konfigurasi.
Daya maksimum yang dapat ditransmisikan adalah
0 0 0
0
0
354 . 0 354 . 0
2
5 . 0 P V AJ
V
AJ IV P
c
= = = = (1.10)
Persamaan (1.10) menunjukkan bahwa kemampuan penyaluran daya
pada konfigurasi ini hanya sekitar 35% dari kemampuan sistem AS
3 kawat. Selain itu, sebagaimana ditunjukkan oleh (1.6) penyaluran
daya berfluktuasi, berarti laju penyaluran energi tidaklah konstan.
Penyaluran energi semacam ini akan memaksa turbin penggerak
generator juga memasok energi dengan laju yang berfluktuasi. Hal
demikian tentu tidak dikehendaki. Oleh karena itu konfigurasi ini
tidak digunakan untuk keluaran generator di pusat pembangkit.
Konfigurasi (d): sistem ABB satu fasa tiga kawat.

Sistem ini memiliki keuntungan seperti halnya untuk arus searah;
oleh karena itu daya maksimum yang mampu disalurkan adalah dua
kali lipat kemampuan penyaluran daya pada sistem ABB satu fasa
dua kawat (konfigurasi (c)).
0
707 , 0 2 P P P
c d
= = (1.11)
Nilai daya sesaat diperlihatkan pada Gb.1.3, bersama dengan nilai
sesaat daya pada konfigurasi (c). Perhatikan bahwa daya
berfluktuasi dengan nilai rata-rata yang positif. Walaupun daya
rata-rata bernilai positif, fluktuasi daya yang terjadi merupakan
kelemahan dari konfigurasi (d) dan (c). Penyaluran energi tidak
terjadi secara mantap; aliran energi berfluktuasi.
Konfigurasi (e): Sistem ABB, 2 fasa, 3 kawat; dua kawat fasa dan
satu kawat netral.
0,707V
0
0,5A
0,5A
n
0,707V
0
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

11




Jika tegangan dan arus di fasa x adalah
t V v
m x
= cos t I i
m x
= cos (1.12.a)
dan di fasa y berbeda 90
o
,
t V v
m y
= sin t I i
m y
= sin (1.12.b)
maka daya sesaat menjadi
( )
m m m m y y x x e
I V t t I V i v i v p = + = + =
2 2
sin cos (1.13)
Persamaan (1.13) ini cukup mengejutkan. Perhatikan bahwa daya
sesaat bernilai konstan. Daya rata-rata sama dengan daya sesaat.
m m e e
I V p P = = (l5.14)
Karena tegangan tidak boleh melebihi batas V
0
maka tegangan
maksimum adalah
0
V V
m
= (1.15.a)
Arus di kedua fasa berbeda 90
o
, sehingga penghantar netral
mengalirkan arus 2 kali arus fasa; luas penampangnya juga harus
dibuat 2 kali sehingga perbandingan luas penampang konduktor
fasa dan netral adalah 1:1: 2 . Luas penampang konduktor fasa
menjadi ( = + ) 2 2 /( 1 0,293 kali A. Arus maksimum konduktor fasa
adalah
2 ) 293 . 0 (
0
A J I
m
= (1.15.b)
Sehingga daya rata-rata adalah
0
0 0
414 . 0
2
2 ) 293 , 0 (
2
P
A J V I V
P
m m
e
= = = (1.16)
0,707V
0
0,293A 0,293A
n
0,707V
0
0,414A
x
y
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

12 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Perhatikan bahwa konduktor netral berpenampang lebih besar dari
konduktor fasa sebab ia harus mengalirkan arus 2 kali dari arus
fasa, jika sistem beroperasi dalam keadaan seimbang. Hal ini dapat
dimengerti karena arus balik dari kedua fasa berbeda 90
o
dan bukan
180
o
sehingga tidak saling meniadakan. Akan tetapi di konfigurasi
ini aliran daya tidak berfluktuasi seperti dinyatakan oleh persamaan
(1.13).
Konfigurasi (f): Sistem ABB 3 fasa, 4 kawat; tiga kawat fasa dan
satu kawat netral.

Tegangan dan arus fasa berbeda 120
o
. Dengan urutan fasa positif,
tegangan dan arus tersebut adalah:
). 120 (cos ; 0 120 (cos ; cos
). 120 (cos ); 120 (cos ; cos
o o
o o
+ = = =
+ = = =
t I i t I i t I i
t V v t V v t V v
m c m b m a
m c m b m a
(1.17)
Daya sesaat adalah
( ) ) 120 ( cos ) 120 ( cos cos
o 2 o 2 2
+ + + =
+ + =
t t t I V
i v i v i v p
m m
c c b b a a f
(1.18)
Dengan memanfaatkan relasi trigonometri
2
2 cos 1
cos
2
+
= (1.19)
persamaan (1.18) menjadi
( )
2
3

) 240 2 cos( ) 240 2 cos( 2 cos 3
2
o o
m m
m m
f
I V
t t t
I V
p
=
+ + + + =
(1.20)
Sekali lagi kita lihat di sini bahwa daya sesaat sama dengan daya
rata-rata, yaitu
VI
I V
p P
m m
f f
3
2
3
= = = (1.21)
0,707V
0
0,333A n
0,707V
0
0,707V
0
0,333A 0,333A
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

13

Tegangan dan arus efektif yang diperkenankan adalah
0
0
333 . 0 dan
2
AJ I
V
V = = (1.22)
sehingga
0 0
0
707 . 0 333 . 0
2
3
P AJ
V
P
f
= = (1.23)

Gb.1.3. Kurva daya terhadap waktu pada enam
konfigurasi saluran.
Hasil perhitungan untuk enam konfigurasi di atas, dimuatkan dalam
Tabel-1.1.
Tabel-1.1: Daya maksimum yang mampu ditransmisikan
pada enam kofigurasi
Konfigurasi Modus operasi Daya maksimum
a) Dua kawat AS 0.500P
0
b) Tiga kawat AS 1,000P
0
c) Dua kawat ABB, 1 fasa 0,354P
0
d) Tiga kawat ABB, 1fasa 0,707P
0
e) Tiga kawat ABB, 2fasa 0,414P
0
f) Empat kawat ABB, 3 fasa 0,707P
0
Bagaimana memilih konfigurasi yang akan digunakan untuk
menyalurkan energi? Misalkan kita memilih sisem ABB.
Konfigurasi c) dan d) kelihatannya terpaksa kita tolak karena
1,141P
0
1,000P
0
0,707P
0
0,500P
0
0,354P
0
Konfig. (a)
Konfig.(b)
Konfig. (e)
Konfig. (d), (f)
Konfig. (c)
t
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

14 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

terjadinya fluktuasi aliran daya pada konfigurasi ini. Di antara
konfigurasi e) dan f) kita lebih memilih f) karena konfigurasi ini
memiliki kemampuan penyaluran daya lebih tinggi.
Bagaimanakah sistem penyaluran energi dengan jumlah fasa lebih
banyak? Sistem multifasa dengan konfigurasi N fasa, N+1 kawat
akan memiliki kemampuan penyaluran daya sebesar 0,707P
0
. Jadi
sistem 3 fasa 4 kawat merupakan sistem multi fasa yang paling
sederhana ditinjau dari kemampuan penyaluran daya.
Perhitungan-perhitungan di atas ditujukan hanya untuk melihat
kemampuan penyaluran daya di setiap konfigurasi. Dalam
pembangunan saluran transmisi masih harus diperhitungkan banyak
faktor, misalnya keperluan akan isolator, menara, susut energi.
Makin banyak kita gunakan saluran fasa, makin bayak diperlukan
isolator dan perancangan menara pun harus disesuaikan.
Jika kita perhatikan Tabel-1.1 di atas, transmisi AS tiga kawat,
memiliki kemampuan penyaluran daya paling tinggi untuk total luas
penampang konduktor yang sama. Kemajuan teknologi telah
memungkinkan digunakannya sistem transmisi AS dan mengatasi
kendala yang selama ini dihadapi. Mulai dari suatu jarak transmisi
tertentu, biaya pembanguan sistem transmisi AS sudah menjadi
lebih rendah dari sistem ABB. PLN merencanakan pembangunan
transmisi AS untuk menghubungkan Sumatra dan Jawa.
1.4 Sumber Energi Primer
Sebagaimana telah disinggung, generator yang kita sebut sebagai
sumber, tidak lain adalah piranti pengubah (konversi) energi dari
energi non-listrik ke energi listrik. Dalam hal konversi elektro-
mekanik, energi non-listrik berupa energi mekanik yang diberikan
oleh turbin, dan turbin sendiri menerima energi masukan berupa
energi thermal yang diubah olehnya menjadi gerak putar untuk
memutar generator. Masukan energi thermal ke turbin berasal dari
sumber energi primer, yang dapat berupa energi thermal maupun
non-thermal.
1.4.1. Sumber Energi Primer pada Pusat Pembangkit Thermal
Batubara. Cadangan batubara Indonesia terlihat pada gambar
berikut.
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

15


Data: Pusat Informasi & Statistik Batubara dan Mineral, Ditjen GSM, DESDM. / RUKN.
Untuk pembangkitan, batubara harus diangkut dari lokasi tambang
ke pusat pembangkit. Untuk pusat pembangkit di Jawa, biaya angkut
ini tidak sedikit dan dapat terganggu bila cuaca buruk. Hasil
tambang batubara ada dua kategori yaitu batubara dengan
kandungan kalori tinggi dan kandungan kalori rendah.
Minyak Bumi. Gambar berikut menginformasikan cadangan
minyak Indonesia.

Data: Pusat Informasi Energi, DESDM. / RUKN.
Penggunaan minyak sebagai sumber energi primer untuk
pembangkitan energi listrik terus diusahakan untuk dikurangi
proporsinya karena harga yang terlalu tinggi.
Gas Alam. Cadangan gas bumi Indonesia terbaca pada gambar
berikut. Penggunaan gas alam sebagai sumber energi primer untuk
pembangkitan energi listrik diperbesar proporsinya untuk
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

16 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

menggantikan minyak. Pengangkutan gas dari sumber gas ke pusat
pembangkit dilakukan melalui pipa gas.

Data: Pusat Informasi Energi, DESDM. / RUKN.
Panas Bumi..Energi panas bumi cukup banyak tersedia di Indonesia.
Penggunaan energi ini masih perlu dikembangkan. Gambar dan
daftar berikut ini memperlihatkan distribusi lokasi sumber energi
panas bumi.

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

17



Biomassa. Sumber energi ini belum berkembang walaupun dalam
skala rumah tangga telah mulai dirintis.

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

18 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Sampah. Sampah sebagai sumber pembangkit energi listrik masih
diwacanakan terutama untuk mengatasi masalah sampah di kota
Bandung.
Energi Nuklir. Penggunaan energi nuklir di Indonesia masih dalam
tingkat wacana. Sementara itu Jerman sudah mulai meninggalkan
penggunaan energi nuklir untuk pembangkitan energi listrik.
1.4.2. Sumber Energi Primer Pusat Pembangkit Nonthermal
Tenaga Air (Hydro). Tenaga air merupakan sumber energi yang
paling murah dan kelangsungannya dapat dipercaya. Namun
pembangunannya memerlukan waktu lama dibandingkan dengan
pembangkit thermal. Dibandingkan dengan pembangkit thermal,
pembangkit tenaga air dapat di-start dengan sangat cepat; sementara
untuk men-start pembangkit thermal diperlukan waktu untuk
pemanasan. Oleh karena itu pembangkit tenaga air biasanya
digunakan sebagai pembangkit untuk memenuhi beban puncak,
sementara pembangkit thermal menanggung beban dasar.



Tinjauan Pada Sistem Tenaga

19






Tinjauan Pada Sistem Tenaga

20 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)



Angin. Di Eropa energi angin telah banyak dimanfaatkan namun di
Indonesia masih belum berkembang walaupun telah ada.

Tenaga Surya. Di Indonesia Sumber energi ini telah mulai
dimanfaatkan baik sebagai sumber tenaga listrik stand alone
maupun sebagai pusat pembangkit walaupun masih dalam skala
yang tidak besar.
Pusat Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

21





Gelombang Laut. Sumber energi ini belum termanfaatkan di
Indonesia.
Arus laut. Di Indonesia sumber energi ini masih menjadi wacana.
Listrik Tenaga Surya
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

22 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

1.5. Beban
1.5.1. Pengelompokan Beban
Tujuan dibangunnya suatu sistem tenaga adalah untuk mencatu
energi ke beban yang berupa peralatan-peralatan yang mengubah
energi listrik menjadi bentuk energi yang sesuai dengan kebutuhan
pengguna. Jenis peralatan sangat beragam, ada yang statis, ada
yang berputar, ada pula yang merupakan gabungan statis dan
berputar. Dalam pengusahaan tenaga listrik beban tidak
diklasifikasikan berdasarkan peralatan yang dicatu akan tetapi
berdasarkan sifat-sifat umum pengguna akhir. PLN melakukan
klasifikasi beban (pelanggan) sebagai berikut.
Beban Rumah Tangga. Energi di jenis beban ini digunakan
untuk mencatu peralatan rumah tangga yang sangat beragam.
Beban ini biasanya tersebar dalam area yang luas.
Beban Industri. Beban ini membutuhkan sejumlah besar energi
untuk keperluan manufaktur dan proses-proses produksi. Beban
demikian biasanya terlokalisasi pada titik-titik beban di area
tertentu.
Beban Komersial. Jenis beban ini bisa sekumpulan peralatan
kecil seperti di rumah tangga, akan tetapi memerlukan daya agak
besar untuk penerangan, pemanasan dan pendinginan. Beban ini
lebih tersebar dibandingkan dengan beban industri tetapi tidak
se-tersebar beban rumah tangga; misalnya pusat perbelanjaan,
bandara, hotel.
Beban Lain. Beban lain yang dimaksud di sini adalah beban-
beban yang terkait dengan pentarifan ataupun pelayanan tertentu.
Termasuk di dalamnya adalah beban kantor pemerintah, sosial,
dan penerangan jalan umum.
Di PLN jumlah pelanggan Rumah Tangga sangat dominan;
sementara jumlah pelanggan Industri dan pelanggan Komersial
sangat sedikit dibanding dengan jumlah pelanggan Rumah
Tangga. Namun demikian daya tersambung ke pelanggan tidaklah
proporsional dengan jumlah pelanggan. Dan sudah barang tentu
demikian juga dengan penggunaan energi per kelompok
pelanggan.
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

23

1.5.2. Model Beban
Untuk keperluan analisis, kita perlu mengombinasikan berbagai
karakteristik piranti listrik yang jumlahnya ribuan ke satu titik
beban tertentu. Melakukan kombinasi secara harfiah tentulah tidak
mungkin. Oleh karena itu kita membangun model beban; beban
dapat kita modelkan sebagai sumber tegangan, atau sumber arus,
atau impedansi.

Model sumber tegangan Model sumber arus Model impedansi
Gb.1.4. Model-model beban
Model yang kita pilih tentulah yang mewakili sifat-sifat yang
menonjol dari beban. Beban yang pasif misalnya, kita modelkan
sebagai suatu impedansi. Beban yang karakter arusnya menonjol,
kita modelkan sebagai sumber arus; hal ini misalnya digunakan
pada beban nonlinier.
1.5.3. Pengaruh Perubahan Tegangan dan Perubahan Frekuensi
Daya yang mengalir ke beban tergantung dari tegangan maupun
frekuensi. Apabila terjadi perubahan tegangan dan/atau perubahan
frekuensi, daya yang mengalir ke beban akan berubah pula.
Sesungguhnya, beban mengharapkan tegangan dan frekuensi tidak
berubah-ubah. Namun situasi operasional sering memaksa
terjadinya perubahan-perubahan besaran tersebut. Masuknya
beban besar yang tiba-tiba ke jaringan akan diikuti oleh penurunan
tegangan; keluarnya beban besar yang tiba-tiba akan menyebabkan
kenaikan tegangan. Di jaringan sistem tenaga, dipasang peralatan
untuk membatasi lama terjadinya suatu perubahan tegangan. Pada
umumnya, jika perubahan tegangan tidak besar (karena tegangan
seharusnya tidak berubah-ubah, sesuai standar) pasokan daya ke
beban dapat didekati dengan hubungan linier
f
f
Q
V
V
Q
P Q f
f
P
V
V
P
P P

+ =

+ =
0 0
; (1.24)
Beban
+

Z
E
Beban
+

+

Z
E
Beban Z
E
+

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

24 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

dengan
0
V V V = = perubahan tegangan sekitar titik referensi
V
0
,
0
f f f = = perubahan frekuensi sekitar titik referensi f
0
.
Diferensial parsial
f
Q
V
Q
f
P
V
P

, , , dapat diturunkan melalui


rangkaian dengan model beban. Mereka juga dapat diturunkan dari
data-data yang dikumpulkan dari pengukuran praktis yang
kemudian dihitung menggunakan computer.
CONTOH-1.1: Kita akan
memperbandingkan
pengaruh perubahan
tegangan dan perubahan
frekuesi pada rangkaian R-L
seri dan rangkaian R-L parallel dengan melihat
V P V Q f P V P / dan , / , / , / .
Solusi untuk rangkaian seri:
2 2 2
2
2 2 2
2
2 2 2
2 2 o
o

) (
0
0
L R
LV
j
L R
RV
L j R
L R
V
L j R
V
L j R
V
V S
seri
+

+
+
=
+
+
=

=
|
|

\
|
+

= =

I V


2 2 2
2 2 2 2
2 3 2 2 2 2 2
2 2 2
2
2 2 2 2 2 2 2
2 2
2 2 2
2
2

;
) (
2 ) (

2
;
) (
2

L R
LV
V
Q
L R
V L LV L R Q
L R
LV
Q
L R
RV
V
P
L R
L RV P
L R
RV
P
seri
seri
seri
seri seri
seri
+

+
+
=

=
+
=

+
=

L
R +
v

R
L
+
v

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

25

Solusi untuk rangkaian parallel:
L
V
V
Q
L
L V
Q
L
V
Q
R
V
V
P P
R
V
P
L
V
j
R
V
L j R
S
paralel paralel
paralel
paralel paralel
paralel
paralel

=
=

+ =
|
|

\
|

+ = =

2
;
) (

2
; 0
2
2 2
2
2 2
V V
V I V

Perhatikan: ketergantungan terhadap tegangan kedua rangkaian ini
sama, yaitu sebanding dengan tegangan. Akan tetapi
ketergantungan terhadap frekuensi sangat berbeda. Polinom
pangkat 4 dari penyebut pada /
seri
P membuat penyebut
hampir tak berubah bila terjadi perubahan hanya 10% misalnya;
Oleh karena itu /
seri
P dapat dikatakan berbanding lurus
dengan . Sebaliknya /
paralel
P bernilai nol; perubahan
frekuensi tidak mempengaruhi besarnya daya nyata.
1.6. Sistem Polifasa
Kita telah mempelajari salah satu sistem polifasa yaitu sistem tiga-
fasa. Di sub-bab ini kita akan melihat secara lebih umum, dan juga
akan melihat bagaimana perhitungan-perhitungan dilakukan baik
pada kondisi pembebanan seimbang maupun tidak seimbang.
1.6.1. Sistem Polifasa Secara Umum
Kita lihat secara umum suatu sistem polifasa. Gb.1.5. berikut ini
memperlihatkan hubungan dua jaringan secara umum yaitu
jaringan A dan B yang dihubungkan dengan (N+1) konduktor.
Salah satu konduktor adalah konduktor netral; jadi sistem ini
adalah sistem N fasa.





Tinjauan Pada Sistem Tenaga

26 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)



Gb.1.5. Dua jaringan dihubungkan dengan (N+1) konduktor.
Tegangan konduktor fasa terhadap netral adalah sebagai berikut
a a a an
V = == = = == = V V = tegangan fasa a.
b b b bn
V = == = = == = V V = tegangan fasa b.

z z z zn
V = == = = == = V V = tegangan fasa z.
Arus di setiap penghantar fasa adalah
a a a
I = == = I = arus fasa a.
b b b
I = == = I = arus fasa b.

z z z
I = == = I = arus fasa z.
n n n
I = == = I = arus penghantar netral.
Menurut hukum arus Kirchhoff
0 ....... = == = + ++ + + ++ + + ++ + + ++ + + ++ +
n z c b a
I I I I I (1.25)
Daya kompleks total (sejumlah N fasa) yang mengalir ke B adalah:
n
a
b
z
zn
V
a
I
b
I
z
I
n
I
an
V
bn
V





Jaringan
A





Jaringan
B
.
.
.
. . . .
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

27

=

= + + + =
z
a i
i z z b b a a Nf
S S I V I V I V ...... (1.26.a)
dengan
z c b a i
S
i i i
,....... , , = == =
= == =

I V
(1.26.b)
Dapat dimengerti pula bahwa
i i i i
z
a i
i Nf
I V P P P = =

=
cos , (1.27.a)
i i i i
z
a i
i Nf
I V Q Q Q = =

=
sin , (1.28.b)
Dalam kondisi pembebanan seimbang
f z b a
V V V V = = = = ...... (1.29.a)
dan, dengan mengambil fasa a sebagai referensi,

360
dan
.... . ; 2 ; ; 0
o
N
n
n c b a
=
= = = =
(1.29.b)
Dalam pembebanan seimbang ini, arus fasa dan sudut adalah:
f z b a
I I I I = = = = ...... = arus fasa (1.30.a)
= == = = == = = == = = == = = == =
z c b a
.......
= sudut faktor daya (1.30.b)
Urutan penamaan fasa abc. . . z kita sebut urutan positif. Jika
seandainya urutan penamaan ini kita balik, z . . cba maka kita
mempunyai urutan negatif.
Sementara itu tegangan fasa-fasa adalah
j j i i
j i ij
V V
z c b a j i
= == =
= == = = == =

....... , , , V V V
(1.31)
yang dalam kondisi seimbang akan menjadi
f j i
V = == = = == = V V
= tegangan fasa-netral (1.32)
dan
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

28 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

)] cos( 1 [ 2
j i f ij
V V = == =
(1.33)
Perhatikan Gb.1.6. Gambar ini memperlihatkan hubungan
tegangan fasa-netral
zn bn an
V V V ......... , , serta tegangan fasa-fasa
ab
V
dan
az
V
. Diperlihatkan pula arus fasa
a
I
yang lagging
terhadap
an
V
.

Perbandingan tegangan fasa-fasa terhadap tegangan fasa-netral
untuk N dari 2 sampai 12 (dinormalisasi terhadap V
a
) diberikan
pada Tabel -1.1.
Daya sesaat total untuk N 3 adalah
=
= =

= =
cos
) cos( ) cos( ) 2 )( 2 (
f f
z
a i
i
z
a i
i i Nf
I NV
i t t I V i v p
(1.34)
Persamaan (1.26) menunjukkan bahwa sistem ABB multifasa
memberikan transfer daya yang konstan seperti pada sistem AS.
Itulah sebabnya sistem tenaga dibangun sebagai sistem multifasa
yang beroperasi seimbang. Jika kita lanjutkan perhitungan kita
akan memperoleh relasi
ab
V
an
V
zn
V

bn
V
N
o
360
= == =

a
I
az
V
Gb.1.6 Fasor tegangan sistem N-fasa
seimbang.

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

29

=
=
=
sin
cos
f f Nf
f f Nf
f f Nf
I NV Q
I NV P
I NV S
(1.35)
Table 1.1. Rasio tegangan fasa-fasa terhadap tegangan fasa
untuk sistem 2 12 fasa, dinormalisir terhadap V
a
[1]
N: 1 2 3 4 5 6
V
ab
/V
a
2,000 1,732 1,414 1,176 1,000
V
ac
/V
a

1,732 2,000 1,902 1,732
V
ad
/V
a

1,414 1,902 2,000
V
ae
/V
a

1,176 1,732
V
af
/V
a

1,000

N: 7 8 9 10 11 12
V
ab
/V
a
0,868 0,765 0,684 0,618 0,563 0,518
V
ac
/V
a
1,564 1,414 1,286 1,176 1,081 1,000
V
ad
/V
a
1,950 1,848 1,732 1,618 1,511 1,414
V
ae
/V
a
1,950 2,000 1,970 1,902 1,819 1,732
V
af
/V
a
1,564 1,848 1,970 2,000 1,980 1,932
V
ag
/V
a
0,868 1,414 1,732 1,902 1,980 2,000
V
ah
/V
a
0,765 0,286 1,618 1,819 1,932
V
ai
/V
a
0,684 1,176 1,511 1,732
V
aj
/V
a
0,618 1,081 1,414
V
ak
/V
a
0,563 1,000
V
al
/V
a
0,518
1.6.2. Hubungan Bintang dan Hubungan Mesh
Jika jaringan B adalah jaringan pasif, ia dapat dinyatakan dengan
model impedansi. Impedansi pada sistem multifasa dapat
dihubungkan bintang ataupun mesh; rangkaian ini diperlihatkan
pada Gb.1.7.

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

30 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)



Bintang Mesh
Gb.1.7 Hubungan bintang dan hubungan mesh.
Transformasi dari rangkaian bintang ke mesh diturunkan sebagai
berikut.
Rangkaian bintang :
Y
f
Y
an
aY
Z
V
Z
o
0
= == = = == =
V
I
(1.36)
Rangkaian mesh:
( (( ( ) )) )
) cos 1 (
2
) 1 0 1 1 0 1 (
1


= == = + ++ + = == =
+ ++ + = == = + ++ + = == =
Z
V
Z
V
Z Z Z
f
o o
f
zn an bn an
az ab
a
V V V V
V V
I
(1.37)
Jika kedua rangkaian ini harus sama maka
Y aY a
Z Z I I ) cos 1 ( 2

= == = = == =
(1.38)
CONTOH-1.2: Sumber 6 fasa seimbang dengan V 0 1000
o
=
a
V ,
urutan fasa abc, mencatu beban 6 fasa seimbang S
6f
= 900 kVA,
faktor daya = 0.8 lagging. (a) Hitunglah arus fasa; (b) Hitung
aY
I
Z
Y
Z
Y
Z
Y
Z
Y
.
.
.

a
b
c
z
a
I
a
b
c
z
Z

Z

Z

Z

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

31

tegangan fasa-fasa ac; (c) Hitung impedansi ekivalen Y, Z
Y
; (d)
Hitung impedansi ekivalen , Z

.
Solusi:
kV 0 1 V 0 1000
o o
= =
a
V
(a) A 150
1
6 / 900
6 /
6
= = =

fasa
fasa
V
S
I
(b) V 0 3 1732 120 1000 0 1000
o o o
= = =
c a ac
V V V
(c)
o 1
9 . 36 ) 8 . 0 ( cos ; 67 . 6
150
1000
= = = = =

fasa
fasa
Y
I
V
Z
o
9 . 36 67 . 6 + =
Y
Z
o o
9 . 36 67 . 6 ) 2 / 1 ( 2 ) 60 cos 1 ( 2 + = = = =
Y Y Y
Z Z Z Z
1.7. Sistem Tiga-fasa Seimbang
Sistem tiga-fasa adalah sistem multifasa yang paling sederhana.
Lihat Gb.1.8. Dengan urutan positif abc, tegangan-tegangan fasa
adalah
o o
o
o
120 240
120
0
+ = = =
= =
= =
f f c cn
f b bn
f a an
V V
V
V
V V
V V
V V
(1.39)
Tegangan fasa-fasa adalah
o
o
o
150 3
90 3
30 3
+ = =
= =
= =
f a c ca
f c b bc
f a a ab
V
V
V
V V V
V V V
V V V
(1.40)
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

32 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


Gb.1.8. Sistem tiga-fasa.
Jika jaringan B adalah jaringan pasif, ia dapat dimodelkan dengan
impedansi dan impedansi ini dapat terhubung Y atau , seperti
diperlihatkan oleh Gb.1.9.

Gb.1.9. Beban terhubung dan terhubung Y.
Dalam kondisi seimbang, arus-arus fasa pada hubungan Y adalah
0
) 240 (
) 120 (
) 0 (
o
o
o
=
=
=
= = =
n
f c
f b
f
Y
f
Y
a
a
I
I
I
Z
V
Z
I
I
I
V
I
(1.41)
a
b
c
Y
Y
Z
Y
Z
Y
Z

Z
a
b
c

Z
n
a
b
c
a
V
b
V
c
V
a
I
b
I
c
I
n
I



Jaringan
B



Jaringan
A
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

33

Gb. 1.8. memperlihatkan diagram fasor tegangan dan arus pada
sistem tiga-fasa seimbang dengan beban induktif; arus lagging
terhadap tegangan.

Transformasi hubungan Y ke diberikan oleh (1.30), yang untuk
sistem tiga-fasa
o
120 = == = .
Y Y
Z Z Z 3 ) cos 1 ( 2 = =

(1.42)
Jika diperlukan, arus pada cabang-cabang hubungan dapat
dihitung, dengan relasi

= = =
Z Z Z
ca
ca
bc
bc
ab
ab
V
I
V
I
V
I ; ;
(1.43)
Hubungan arus fasa
a
I pada Gb.1.8, yang juga disebut arus saluran
(line current)
L
I , dengan arus pada cabang adalah
bc ca c ab bc b ca ab a
I I I I I I I I I = = = ; ; (1.44)
1.8. Sistem Tiga-fasa Tak-seimbang
Dalam sistem tiga-fasa seimbang, besar tegangan adalah sama di
semua fasa dan antara fasa yang berurutan terdapat beda fasa 120
o
.
Demikian pula halnya dengan arus; keadaan ini membuat arus di
Gb.1.10. Diagram fasor sistem tiga
fasa seimbang; urutan fasa abc.
ab
V
a
V
ca
V
bc
V
c
V
b
V
c
V
a
V
b
V
c
I
a
I
b
I

Tinjauan Pada Sistem Tenaga



34 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

penghantar netral bernilai nol. Tidak demikian halnya dengan
keadaan tak-seimbang; tegangan dan arus di setiap fasa tidak sama
dan beda fasa antar tegangan fasa-netral tidak 120
o
.
1.8.1. Komponen Simetris
Tegangan di setiap fasa (fasa-netral) sistem tak-seimbang dapat
kita tuliskan sebagai
c c c b b b a a a
V V V = = = V V V ; ;
Satu kesatuan tiga fasor tak-seimbang ini, dipandang sebagai
terdiri dari tiga komponen fasor seimbang yaitu:
komponen urutan positif
komponen urutan negatif
komponen urutan nol
Komponen urutan positif adalah fasor tiga-fasa seimbang dengan
selisih sudut fasa 120
o
, dengan urutan abc. Komponen urutan
negatif adalah fasor tiga-fasa seimbang dengan selisih sudut fasa
120
o
dengan urutan cba, dan komponen urutan nol adalah fasor
tiga-fasa tanpa selisih sudut fasa. Tiga set fasor seimbang ini
digambarkan pada Gb.1.9. Perhatikanlah bahwa baik komponen
urutan positif maupun negatif, memiliki selisih sudut fasa 120
o
;
artinya kemunculan tegangan berselisih 120
o
secara berurutan,
sedangkan komponen urutan nol tidak memiliki selisih sudut fasa,
yang berarti gelombang tegangan di ketiga-fasa muncul dan
bervariasi secara bersamaan. Oleh karena itu jumlah fasor arus
urutan nol di titik penghatar netral tidaklah nol melainkan 3 kali
arus urutan nol.
Komponen urutan nol diberi tambahan indeks 0, urutan positif
diberi tambahan indeks 1, urutan negatif dengan tambahan indeks
2. Komponen-komponen ini disebut komponen simetris. Dengan
komponen simetris ini maka pernyataan tegangan semula (yang
tidak seimbang) menjadi
2 1 0
2 1 0
2 1 0
;
;
c c c c
b b b b
a a a a
V V V V
V V V V
V V V V
+ + =
+ + =
+ + =
(1.45)
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

35


Urutan nol Urutan positif Urutan negatif
Gb.1.11. Komponen seimbang dari fasor tegangantiga-fasa
tak-seimbang.
1.8.2. Operator a
Penulisan komponen urutan dilakukan dengan memanfaatkan
operator a, yang sesungguhnya adalah fasor satuan yang
berbentuk
o
120 1 = == = a (1.46)
Suatu fasor, apabila kita kalikan dengan a akan menjadi fasor lain
yang terputar ke arah positif sebesar 120
o
; dan jika kita kalikan
dengan a
2
akan terputar ke arah posistif 240
o
(operator semacam
ini telah pernah kita kenal yaitu operator
o
90 1 = j ). Kita
manfaatkan operator a ini untuk menuliskan komponen urutan
positif dan negatif. Dengan operator a ini, indeks a,b,c dapat kita
hilangkan karena arah fasor sudah dinyatakan oleh operator a,
sehingga kita dapat menuliskan
2 2 2
2
2 2 2
0
2
1 1 1 1 1
0 0 0 0
; ;
; ;
V V V V V V
V V V V V V
V V V V
a a
a a
c b a
a c b a
c b a
= = =
= = =
= = =

sehingga
2
2
1 0
2 1
2
0
2 1 0
V V V V
V V V V
V V V V
a a
a a
c
b
a
+ + =
+ + =
+ + =
(1.47)
Agar lebih jelas, perhatikan Gb.1.10 berikut ini.
2 b
V
2 a
V
2 c
V
1 c
V
1 a
V
1 b
V
0 0 0
, ,
c b a
V V V
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

36 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


Urutan nol Urutan positif Urutan negatif
Gb.1.12. Penulisan komponen urutan dengan
menggunakan operator a.
Persamaan (1.47) dapat kita tuliskan dalam bentuk matriks
menjadi
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

2
1
0
2
2

1
1
1 1 1
V
V
V
V
V
V
a a
a a
c
b
a
(1.48)
1.8.3. Mencari Komponen Simetris
Komponen simetris adalah besaran-besaran hasil olah matematik;
ia tidak diukur dalam praktek. Yang terukur adalah besaran-
besaran yang tak-seimbang yaitu
c b a
V V V , , . Komponen simetris
dapat kita cari dari (1.47.a) dengan menjumlahkan fasor-fasor dan
dengan mengingat bahwa (1 + a + a
2
) = 0, yaitu
2
2
1 0
2 1
2
0
2 1 0
V V V V
V V V V
V V V V
a a
a a
c
b
a
+ + =
+ + =
+ + =


0 2
2
1
2
0
3 ) 1 ( ) 1 ( 3 V V V V V V V = + + + + + + = + + a a a a
c b a

( )
c b a
V V V V + + =
3
1
0
(1.49.a)
Jika baris ke-dua (1.47.a) kita kalikan dengan a dan baris ke-tiga
kita kalikan dengan a
2
, kemudian kita jumlahkan, kita peroleh:
0
V
1 1 c
a V V = == =
1 1 a
V V = == =
1 1
2
b
a V V = == =
2 2 a
V V = == =
2 2 b
a V V = == =
2 2
2
c
a V V = == =
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

37

2
4
1
3
0
2 2
2
2
1
3
0
2 1 0
V V V V
V V V V
V V V V
a a a a
a a a a
c
b
a
+ + =
+ + =
+ + =

1 2
2
1 0
2 2
3 ) 1 ( 3 ) 1 ( V V V V V V V = + + + + + + = + + a a a a a a
c b a

( )
c b a
a a V V V V
2
1
3
1
+ + = (1.49.b)
Jika baris ke-dua (1.47.a) kita kalikan dengan a
2
dan baris ke-tiga
kita kalikan dengan a, kemudian kita jumlahkan, kita peroleh:
2
3
1
2
0
2
3
1
4
0
2 2
2 1 0
V V V V
V V V V
V V V V
a a a a
a a a a
c
b
a
+ + =
+ + =
+ + =

2 2 1
2
0
2 2
3 3 ) 1 ( ) 1 ( V V V V V V V = + + + + + + = + + a a a a a a
c b a

( )
c b a
a a V V V V + + =
2
1
3
1
(1.49.c)
Relasi (1.49.a,b,c) kita kumpulkan dalam satu penulisan matriks:
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
a a
a a
V
V
V
V
V
V

1
1
1 1 1
3
1
2
2
2
1
0
(1.50)
Dengan demikian kita mempunyai dua relasi antara besaran fasa
dan komponen simetrisnya yaitu (1.48) dan (1.50) yang masing-
masing dapat kita tuliskan dengan lebih kompak sebagai berikut:
abc
abc
V T V
V T V
~
] [
~
~
] [
~
1
012
012

=
=
(1.51.a)
dengan
[ ]
1
1
1 1 1
T
2
2
(
(
(

=
a a
a a dan [ ]
(
(
(

a a
a a
2
2 1
1
1
1 1 1
3
1
T (1.51.b)
Dengan cara yang sama kita dapat memperoleh relasi untuk arus
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

38 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

abc
abc
I T I
I T I
~
] [
~
~
] [
~
1
012
012

=
=
(1.51.c)
1.8.4. Relasi Transformasi
Relasi (1.51) inilah pasangan relasi untuk menghitung komponen
urutan jika diketahui besaran fasanya, dan sebaliknya menghitung
besaran fasa jika diketahui komponen urutannya; mereka kita
sebut relasi transformasi fasor tak-seimbang. Perhatikan sekali
lagi bahwa masing-masing komponen urutan membentuk fasor
seimbang; komponen simetris adalah besaran-besaran hasil olah
matematik, tidak diukur dalam praktek; yang terukur adalah
besaran-besaran yang tak-seimbang yaitu
c b a
V V V , , .
CONTOH-1.3: Diketahui 0 and , 60 1 , 60 1
o o
= = =
c b a
I I I ,
hitunglah komponen-komponen simetrisnya .
Solusi:
( ) ( )
( )
( ) ( )
o
o o 2
1
60 2
3
1
732 , 1 1
3
1

0 ) 866 , 0 5 , 0 ( ) 866 , 0 5 , 0 (
3
1

0 60 1 60 1
3
1
3
1
= + =
+ + + + =
+ + = + + =
j
j j
a a
c b a
I I I I


( ) ( )
( )
( )
o
o o 2
2
120 333 , 0 866 , 0 5 , 0
3
1

0 1 ) 866 , 0 5 , 0 (
3
1

0 180 1 60 1
3
1
3
1
= + =
+ + =
+ + = + + =
j
j
a a
c b a
I I I I

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

39

( ) ( )
( )
( )
o
o o
0
0 333 , 0 0 1
3
1

0 ) 866 , 0 5 , 0 ( ) 866 , 0 5 , 0 (
3
1

0 60 1 60 1
3
1
3
1
= + =
+ + + =
+ + = + + =
j
j j
c b a
I I I I

Perhatikan: perhitungan dalam soal ini memberikan

o
0 0
o o o
2
2
2
o o o o o
1 1
0 333 , 0
360 333 , 0 120 333 , 0 240 1
180 667 , 0 ) 60 120 (
3
2
60
3
2
120 1
= =
= = =
= + = = =
I I
I I
I I
c
c
c
a
a

sedangkan diketahui 0 =
c
I
Kita yakinkan:
0 333 , 0 333 , 0 667 , 0
0 2 1
+ + = + + =
c c c c
I I I I
1.8.3. Impedansi Urutan
Jika impedansi
C B A
Z Z Z , , merupakan impedansi-impedansi
dengan tegangan antar terminal masing-masing
' ' '
, ,
cc bb aa
V V V
maka
(
(
(

=
(
(
(

c
b
a
ABC
cc
bb
aa
Z
I
I
I
V
V
V
] [
'
'
'

atau lebih kompak

abc ABC abc
Z I V
~
] [
~
)' (
= (1.52)
)' (
~
abc
V adalah tegangan antar terminal impedansi dan
abc
I
~

adalah arus yang melalui impedansi. [ ]
ABC
Z adalah matriks 3 3,
yang elemen-elemennya merupakan impedansi total yang terdiri
dari impedansi sendiri dan impedansi bersama. Kita akan melihat
sebuah contoh saluran transmisi yang mendapat pembebanan tidak
seimbang.
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

40 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

CONTOH-1.4: Suatu saluran tiga-fasa masing masing memiliki
reaktansi sediri X
s
sedangkan antar fasa terdapat reaktansi bersama
X
m
. Resistansi konduktor diabaikan. Tentukanlah impedansi urutan.
Perhatikan bahwa X
s
adalah reaktansi sendiri dan X
m
adalah
reaktansi bersama antar konduktor.

Solusi:
c s b m a m c c cc
c m b s a m b b bb
c m b m a s a a aa
jX jX jX
jX jX jX
jX jX jX
I I I V V V
I I I V V V
I I I V V V
+ + = =
+ + = =
+ + = =
' '
' '
' '

yang dapat dituliskan dalam bentuk matriks
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

(
(
(

c
b
a
s m m
m s m
m m s
c
b
a
c
b
a
X X X
X X X
X X X
j
I
I
I
V
V
V
V
V
V

'
'
'

dan dapat dituliskan dengan lebih kompak
abc ABC abc abc
Z I V V
~
] [
~ ~
=
Karena
012
1
012 012
~
] [
~
dan ,
~
] [
~
,
~
] [
~
I T I V T V V T V = = =

abc abc abc

maka relasi diatas menjadi
012 012 012
~
] [ ] [
~
] [
~
] [ I T V T V T
ABC
Z = atau
012
1
012 012
~
] [ ] [ ] [
~ ~
I T T V V
ABC
Z

=
.

.

.

m
X
m
X
m
X
s
X
s
X
s
X
a
I
b
I
c
I
c b a
I I I + +
a
V
b
V
c
V
a
V

b
V

c
V

Tinjauan Pada Sistem Tenaga



41

Pada relasi terakhir ini terdapat faktor
[ ] [ ][ ] T T
1
ABC
Z


yang dapat kita hitung sebagai berikut:
[ ] [ ][ ]
(
(
(

+
=
(
(
(

(
(
(

+ + + +
+ + + +
+ + +
=
(
(
(

(
(
(

(
(
(

=
m s
m s
m s
m s m s m s
m s m s m s
m s m s m s
s m m
m s m
m m s
ABC
X X
X X
X X
j
a a
a a
X a aX X a X a X X
X a X a X a aX X X
X X X X X X
j
a a
a a
X X X
X X X
X X X
j
a a
a a Z
0 0
0 0
0 0 2

1
1
1 1 1

) 1 ( ) 1 (
) 1 ( ) 1 (
2 2 2

3
1
1
1 1 1

1
1
1 1 1
3
1
T T
2
2
2 2
2 2
2
2
2
2 1 -

Hasil perhitungan ini memberikan relasi berikut
012 012 012
2
1
0
012 012 012
~
] [
~

0 0
0 0
0 0

~

0 0
0 0
0 0 2
~ ~
I I
I V V
Z
Z
Z
Z
X X
X X
X X
j
m s
m s
m s
=
(
(
(

=
=
(
(
(

+
=

Jika didefinisikan:
Impedansi urutan nol ) 2 (
0 m s
X X j Z + =
Impedeansi urutan positif ) (
1 m s
X X j Z =
Impedansi urutan negatif ) (
2 m s
X X j Z =
Rangkaian ekivalen urutan dari rangkaian dalam relasi ini
digambarkan sebagai berikut:

Urutan nol Urutan positif Urutan negatif
0
Z
0
V
0
V
1
Z
1
V
1
V
2
Z
2
V
2
V
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

42 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

1.9.4. Daya Pada Sistem Tak-seimbang
Daya pada sistem tiga-fasa adalah jumlah daya setiap fasa.

+ + =
c c b b a a f
S I V I V I V
3
atau dalam bentuk matriks
[ ]

=
(
(
(
(

=
abc abcT
c
b
a
c b a f
S I V
I
I
I
V V V
~ ~

3
(1.53)
(
abcT
V
~
adalah transposisi dari
abc
V
~
)
Karena
012 012
~
] [
~
dan
~
] [
~
I T I V T V = =
abc abc
, maka relasi
diatas menjadi

=
012 012 3
~
] [ ] [
~
I T T V
T f
S (1.54)
Catatan:
T T abcT abc
] [
~ ~

~
] [
~
012 012
T V V V T V = =

= =
012 012
~
] [
~ ~
] [
~
I T I I T I
abc abc

Pada (1.54) terdapat faktor [ ] [ ]

T T
T
yang dapat kita hitung
[ ] [ ]
(
(
(

=
(
(
(

=
(
(
(

(
(
(

1 0 0
0 1 0
0 0 1
3
3 0 0
0 3 0
0 0 3
1
1
1 1 1

1
1
1 1 1
T T
2
2
2
2
a a
a a
a a
a a
T

Dengan demikian (1.54) dapat dituliskan

=
012 012 3
~ ~
3 I V
T f
S atau
( )

+ + =
2 2 1 1 0 0 3
3 I V I V I V
f
S (1.55)
CONTOH-1.5: Hitunglah daya tiga-fasa pada kondisi tidak
seimbang seperti berikut:
A
10
10
10
dan kV
0
10
10
(
(
(

=
(
(
(

=
j
ABC ABC
I V
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

43

Solusi (1):
[ ]
(
(
(

= =

10
10
10
dan 0 10 10
j
ABC ABCT
I V
Kita akan menghitung daya tiga-fasa langsung dengan
mengalikan kedua matriks kolom ini
[ ] kVA ) 100 100 ( 0 100 100
10
10
10
0 10 10
3
j j
j
S
f
= + + =
(
(
(

=
Hasil ini kita peroleh dengan mengaplikasikan langsung
formulasi daya dengan mengambil nilai-nilai tegangan dan arus
yang tidak simetris. Berikut ini kita akan menyelesaikan soal ini
melalui komponen simetris.
Solusi (2):
Tegangan urutan adalah:
[ ]
(
(
(

+
+ =
(
(
(

(
(
(

= =

0 10 10
0 10 10
0
3
1

0
10
10

1
1
1 1 1
3
1 ~
T
~
2 2
2 1
012
a
a
a a
a a
ABC
V V
Dari sini kita hitung
T 012
~
V
[ ] 10 10 10 10 0
3
1 ~
2
012
a a
T
= V
Arus urutan adalah:
[ ]
(
(
(

+
+ =
(
(
(

+
+ =
(
(
(


=
(
(
(

(
(
(

= =

10 10
10 10
0
3
1 ~
10 10
10 10
0
3
1

10 10 10
10 10 10
0
3
1

10
10
10

1
1
1 1 1
3
1 ~
T
~
012
2
2
2
2 1
012
j
j
j
j
a a j
a a j
j
a a
a a
ABC
I
I I

Tinjauan Pada Sistem Tenaga

44 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Daya tiga-fasa adalah
[ ]
[ ]
( ) kVA ) 100 100 ( 300 300
3
1

) 10 10 )( 10 10 ( ) 10 10 )( 10 10 ( 0
3
1

10 10
10 10
0
10 10 10 - 10 0
3
1
3
1
3
~
3
2
2
012 012 3
j j
j a j a
j
j a a
S
T f
= =
+ + + + =
(
(
(

+
+ =
=

I V

(catatan: 1
2
= + a a )
Komentar: Hasil perhitungan dengan perkalian langsung
tegangan dan arus tak-seimbang sama dengan hasil
perkalian melalui komponen simetris. Jika hasilnya sama,
mengapa kita harus bersusah payah mencari komponen
simetris terlebih dulu? Persoalan pada pembebanan tak-
seimbang tidak hanya menghitung daya, tetapi juga arus
dan tegangan; misalnya menghitung arus hubung singkat
yang tidak simetris, yang tetap memerlukan perhitungan
komponen simetris.
1.9. Pernyataan Sistem Tenaga
Sistem tenaga merupakan rangkaian listrik yang rumit. Disamping
banyaknya macam piranti yang ada di dalamnya, sistem ini juga
sistem multifasa (umumnya tiga-fasa), dan ia beroperasi pada
banyak tingkat tegangan. Agar analisis dapat dilakukan, maka
sistem tenaga harus dapat dinyatakan secara mudah.
1.9.1. Diagram Satu Garis
Langkah pertama dalam analisis adalah memindahkan rangkaian
sistem tenaga ke atas kertas dalam bentuk diagram rangkaian.
Diagram rangkaian untuk sistem tenaga berupa diagram satu garis
(single line diagram). Diagram ini sederhana namun menunjukkan
secara lengkap interkoneksi berbagai piranti. Walaupun hanya satu
garis, ia menggambarkan sistem multifasa. Berikut ini contoh dari
diagram satu garis.
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

45


Gb.1.11. Diagram satu garis.
Gb.1.11. memperlihatkan sebuah generator terhubung Y, dengan
titik netral yang ditanahkan melalui sebuah impedansi. Generator
ini dihubungkan ke trasformator tiga belitan melalui bus-1. Belitan
primer trafo terhubung , belitan sekunder terhubung Y dengan
titik netral ditanahkan langsung dan terhubung ke bus-2,
sedangkan belitan tertier dihubungkan masuk ke bus-3 untuk
mencatu beban.
Dari bus-2 melalui circuit breaker masuk ke saluran transmisi
melalui bus-4. Ujung saluran transmisi melalui bus-5 terhubung ke
transformator 2 belitan; transformator ini terhubung Y- dengan
titik netral primernya ditanahkan langsung. Sekunder
transformator terhubung ke bus-6 untuk mencatu beban.
Dalam diagram satu garis, impedansi-impedansi tidak
digambarkan. Untuk analisis, diagram satu garis perlu
diterjemahkan menjadi diagram rangkaian listrik model satu
fasa seperti terlihat pada Gb. 1.12.

Gb.1.12. Model satu fasa dari diagram satu garis Gb.1.11.
Transformator
Rangkaian
ekivalen
saluran
transmisi
Transformator
beban
beban
Circuit
breaker
Generator
1
3
2
4
5
6
+

Generator
Y-ditanahkan
melalui
impedansi
beban
Saluran
transmisi
Trafo
2 belitan
beban
Nomer bus
Trafo
3 belitan
Circuit
Breaker
G
Y
Z
Y


Y
1
3
2 4
5 6
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

46 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dengan model satu fasa inilah analisis dilakukan. Dalam Gb.1.12.
ini saluran transmisi dinyatakan dengan rangkaian ekivalennya,
yaitu rangkaian ekivalen , yang akan kita pelajari lebih lanjut.
1.9.2. Sistem Per-Unit
Sistem per-unit sesungguhnya merupakan cara penskalaan atau
normalisasi. Besaran-besaran sistem dalam satuan masing-masing,
tegangan dalam volt arus dalam ampere impedansi dalam ohm,
ditransformasikan ke dalam besaran tak berdimensi yaitu per-unit
(disingkat pu). Pada mulanya transformasi ke dalam per-unit
dimaksudkan untuk mempermudah perhitungan, namun dengan
perkembangan penggunaan computer maksud penyederhanaan itu
sudah kurang berarti lagi. Walaupun demikian, beberapa
keuntungan yang terkandung dalam sistem per-unit (yang akan
kita lihat kemudian) masih terasakan dan oleh karena itu kita akan
pelajari.
Nilai per-unit dari suatu besaran merupakan rasio dari besaran
tersebut dengan suatu besaran basis. Besaran basis ini berdimensi
sama dengan dimensi besaran aslinya sehingga nilai per-unit
besaran itu menjadi tidak berdimensi
s nilai basi
ngguhnya nilai sesu
unit - per Nilai =
Nilai sesungguhnya mungkin berupa bilangan kompleks, namun
nilai basis yang ditetapkan adalah bilangan nyata. Oleh karena itu
sudut fasa nilai dalam per-unit sama dengan sudut fasa
sesungguhnya.
Sebagai contoh kita ambil daya kompleks
) ( = =

VI S I V (1.56)
di mana adalah sudut fasa tegangan dan adalah sudut fasa
arus. Untuk menyatakan S dalam per-unit kita tetapkan S
basis
yang
berupa bilangan nyata, sehingga
) (
) (
=

=
pu
basis
pu
S
S
S
S (1.57)
Didefinisikan pula bahwa
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

47

basis basis basis
I V S = (1.58)
Nilai S
basis
dipilih secara bebas dan biasanya dipilih angka yang
memberi kemudahan seperti puluhan, ratusan dan ribuan. Jika
S
basis
sudah ditentukan kita harus memilih salah satu V
basis
atau
I
basis
untuk ditentukan secara bebas, tetapi tidak kedua-duanya bisa
dipilih bebas.
Jika kita hitung S
pu
dari (1.56) dan (1.57) kita peroleh

=

= =
pu pu
basis basis basis
pu
I V
I V
I V
S
S
S (1.59)
Nilai basis untuk impedansi ditentukan menggunakan relasi
basis
basis
basis
basis
basis
S
V
I
V
Z
2
= = (1.60)
Dengan Z
basis
ini relasi arus dan tegangan
I
V
I V = = atau Z Z
akan memberikan
basis basis basis
I V Z
Z
/
/ I V
= atau
pu
pu
pu
I
V
Z = (1.61)
Karena jX R Z + = maka
basis basis basis basis
Z
X
j
Z
R
Z
jX R
Z
Z
+ =
+
= atau

pu pu pu
jX R Z + = (1.62)
Jadi tidaklah perlu menentukan nilai basis untuk R dan X secara
sendiri-sendiri. Selain itu tidak pula diperlukan menentukan nilai
basis untu P dan Q secara sendiri-sendiri pula.
basis basis
S
jQ P
S
S +
= atau
pu pu pu
jQ P S + = (1.63)
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

48 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Contoh-1.6: Nyatakanlah besaran-besaran pada rangkaian satu fasa
berikut ini dalam
per-unit dengan
mengambil S
basis

= 1000 VA dan
V
basis
= 200 V.
Solusi:
V 200 VA; 1000 = =
basis basis
V S
A 5
200
1000
= = =
basis
basis
basis
V
S
I
= = = 40
5
200
basis
basis
basis
I
V
Z
Maka: pu 0 1
200
0 200
o
o
=

=
pu
V
pu 1 , 0
40
4
= =
pu
R
pu 1 , 0
40
4
= =
Cpu
X
pu 2 , 0
40
8
= =
Lpu
X
Transformasi rangkaian dalam per-unit menjadi seperti
gambar di bawah ini.
pu 45 2 1 , 0 1 , 0 1 , 0 2 , 0 1 , 0 1 , 0
o
= + = + = j j j Z
pu

pu 45 2 5
45 2 0,1
0 1
o
o
o
=

= =
pu
pu
pu
Z
V
I
pu 45 2 5 45 2 5 0 1
o o o
= = =

pu pu pu
I V S

pu 1 , 0 pu 1 , 0 j
pu 2 , 0 j
pu 0 1
o


V 0 200
o
= V
4 4 j
8 j
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

49

1.9.3. Sistem Per-Unit Dalam Sistem Tiga-fasa
Di sub-bab sebelumnya, kita lihat aplikasi sistem per-unit pada
sistem satu fasa. Untuk sistem tiga-fasa (yang kita ketahui bahwa
sistem tiga-fasa ini sangat luas dipakai dalam penyediaan energi
listrik) dikembangkan pengertian nilai basis tambahan sebagai
berikut.
3 /
3
3
3


3
basis basis
basis Ybasis
basis asis f
basis basis
basis Ybasis
basis basis ff
basis basis f
I I
I I
I I
Z Z
Z Z
V V
S S
=
=
=
=
=
=
=

(1.64)
Bagaimana implementasi dari nilai-nilai basis di atas, akan kita
lihat pada contoh berikut ini.
Contoh-1.5: Sebuah sumber tiga-fasa dengan tegangan fasa-fasa 6
kV mencatu dua beban seimbang yang tersambung parallel: beban-
A: 600 kVA, faktor daya 0,8 lagging, beban-B: 300 kVA, faktor
daya 0,6 leading. Tentukan nilai basis untuk sistem ini, hitung arus
saluran dalam per-unit dan dalam ampere, dan impedansi beban A.
Solusi:
Penentuan nilai basis adalah sembarang. Kita pilih S
3f basis
= 600
kVA dan V
ff basis
= 6 kV, sehingga
= = =
= = =
= =
= =
60
74 , 57
3464
A 74 , 57
3 / 6
200
V 3464
3
6
200
3
600
basis
basis
basis
basis
basis
basis
basis
basis
I
V
Z
V
S
I
V
kVA S

Sumber ini terbebani seimbang sehingga hanya ada urutan positif.
Besaran per fasa adalah:
Tinjauan Pada Sistem Tenaga

50 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Beban-A:

9 , 36 1
200
9 , 36 200
kVA 9 , 36 200
) (f.d. 9 , 36 ) 8 , 0 ( cos kVA; 200
3
600
o
o
o
o 1
=
+
= =
=
+ = = = =

basis
A
Apu
A
A A
S
S
S
S
lag S

6 , 0 8 , 0 9 , 36 1 9 , 36 1
0 1
9 , 36 1
; 0 1
3 / 6
3 / 6
o
o
o
o
j I
V
S
I
V
Apu
Apu
Apu
Apu
Apu
= = =

= =
= =


Beban-B:
4 , 0 3 , 0 1 , 53 5 , 0
1 , 53 5 , 0
0 1
1 , 53 5 , 0
0 1
1 , 53 5 . 0
200
1 , 53 100
kVA 1 , 53 100
) (f.d. 1 , 53 ) 6 , 0 cos( kVA; 100
3
300
o
o
o
o
o
o
o
o
o
j I
V
S
I
V V
S
S
S
S
lead S
Bpu
Bpu
Bpu
Bpu
Apu Bpu
basis
B
Bpu
B
B B
+ = =
=


= =
= =
=

= =
=
= = = =


Arus saluran:
2 , 0 1 , 1 4 , 0 3 , 0 6 , 0 8 . 0 j j j I I I
Bpu Apu pu
= + + = + =
A 3 , 10 55 , 64 55 , 11 51 , 63 74 , 57 ) 2 , 0 1 , 1 (
o
= = = j j I
Impedansi beban-A:
o
o
o
9 , 36 1
36 1
0 1
=

= =
Apu
Apu
Apu
I
V
Z
+ = = ) 36 48 ( 9 , 36 60
o
j Z
A



Saluran Transmisi
51

BAB 2 Saluran Transmisi
Saluran transmisi merupakan koridor yang harus dilalui dalam
penyaluran energi listrik. Saluran transmisi biasanya dinyatakan
menggunakan rangkaian ekivalen. Hal ini telah kita lihat secara
selintas pada pembahasan diagram satu garis, Gb.1.9. Walaupun
rangkaian ekivalen saluran transmisi cukup sederhana, ada empat
hal yang perlu kita perhatikan yaitu:
Resistansi konduktor,
Imbas tegangan di satu konduktor oleh arus yang mengalir
di konduktor yang lain,
Arus kapasitif karena adanya medan listrik antar konduktor,
Arus bocor pada isolator.
Dalam analisis sistem tenaga, arus bocor pada isolator biasanya
diabaikan karena cukup kecil dibandingkan dengan arus konduktor.
Namun masalah arus bocor menjadi sangat penting jika kita
membahas isolator karena arus bocor ini mengawali terjadinya
kerusakan pada permukaan isolator yang dapat mengakibatkan
flashover dan kegagalan sistem.
Karena saluran udara memanfaatkan udara sebagai bahan isolasi,
perlu kita lihat besaran-besaran fisis udara yang akan masuk dalam
perhitungan-perhitungan saluran transmisi, yaitu:
Permeabilitas: permeabilitas magnetik udara dianggap sama
dengan permeabilitas ruang hampa:
H/m 10 4
7
0 0

= =
r

Permitivitas: permitivitas listrik udara dianggap sama dengan
permitivitas ruang hampa:
F/m
36
10
9
0 0

= =

r

Saluran Transmisi

52 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.1. Impedansi dan Admitansi
2.1.1. Resistansi
Material yang biasa digunakan sebagai konduktor adalah tembaga
dan aluminum. Untuk saluran transmisi banyak digunakan
aluminum dan kita mengenal jenis-jenis konduktor aluminum,
seperti:
Aluminum: AAL (all aluminum coductor)
Aloy aluminum: AAAL (all aluminum alloy conductor)
Aluminum dengan penguatan kawat baja: ACSR
(aluminum conductor steel reinforced)
Data mengenai ukuran, konstruksi, resistansi [ per km], radius
[cm], GMR [cm] (Geometric Mean Radius), serta kemampuan
mengalirkan arus [A], dapat kita peroleh dari standar / spesifikasi;
untuk sementara kita tidak membahasnya.
Relasi resistansi untuk arus searah adalah

=
A
l
R
AS
(2.1)
dengan l panjang konduktor [m], A luas penampang konduktor
[m
2
], dan adalah resistivitas bahan.
C] [20 .m 10 77 , 1
C] [20 .m 10 83 , 2
o 8
o 8

=
=
Al
Al

Resistansi tergantung dari temperature,

0 1
0 2
1 2
T T
T T
T T
+
+
= (2.2)
Untuk aluminum C 228
o
0
= T ; untuk tembaga C 241
o
0
= T
Resistansi untuk arus bolak-balik lebih besar dari resistansi untuk
arus searah karena ada efek kulit yaitu kecenderungan arus bolak-
balik untuk mengalir melalui daerah pinggiran penampang
konduktor.
Saluran Transmisi

53

Selain daripada itu, kondukor saluran transmisi merupakan pilinan
konduktor sehingga panjang konduktor sesungguhnya lebih dari
panjang lateral yang kita ukur.
2.1.2. Induktansi
Arus di suatu konduktor menimbulkan medan magnit di
sekelilingnya dan juga di dalam konduktor itu sendiri walaupun
yang di dalam konduktor tidak merata di seluruh penampang.
Menurut hukum Ampere, jika arus yang mengalir pada konduktor
adalah i maka medan magnet H di sekitar konduktor diperoleh
dengan relasi

=
l
i Hdl . Di titik berjarak x di luar konduktor
relasi ini menjadi
x
i
H
x

=
2
(2.3)
Jika konduktor kita anggap sangat panjang dan l adalah satu
segmen dari padanya, maka fluksi magnet yang melingkupi
segmen ini sampai jarak D
x
dari konduktor adalah
r
D il
dx
x
il
Hldx
x
D
r
D
r
x x
ln
2 2

= =

(2.4)
dimana r adalah radius konduktor. Persamaan (2.4) ini adalah
fluksi lingkup di luar konduktor. Masih ada fluksi di dalam
konduktor yang harus diperhitungkan. Untuk mencakup fluksi di
dalam konduktor tersebut, didefinisikan suatu radius ekivalen yang
disebut Geometric Mean Radius (GMR), r, sehingga (2.4) menjadi
r
D il
x

= ln
2
(2.5)
GMR adalah suatu radius fiktif yang lebih kecil dari radius fisik
konduktor. Radius fiktif (GMR) ini kita anggap sebagai radius
konduktor manakala kita berbicara tentang fluksi magnet sekitar
konduktor. Dengan r yang lebih kecil dari r ini, kita telah
memperhitungkan adanya fluksi magnet di dalam konduktor.
Saluran Transmisi

54 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.1.2.1. Sistem Dua Konduktor

Kita perhatikan suatu saluran daya listrik yang terdiri dari dua
konduktor, satu adalah saluran kirim dan satu lagi saluran balik.
Saluran kirim dialiri arus i sedangkan saluran balik juga dialiri
arus i tetapi dengan arah yang berlawanan; hal ini digambarkan
pada Gb.2.1. Kita pandang sistem dua konduktor ini sebagai satu
segmen dari loop yang sangat panjang. Pada ujung-ujung
segmen loop ini terdapat tegangan di antara kedua konduktor,
yaitu
A A
v v dan .
Jika panjang segmen ini adalah l maka arus i
A
di saluran A
memberikan fluksi lingkup menembus bidang segmen loop ini
sebesar
A
AN A
AN
r
D l i

= ln
2
1
(2.6.a)
Arus i
A
di saluran balik N memberikan fluksi lingkup sebesar
N
AN A
AN
r
D l i

= ln
2
2
(2.6.b)
Di ruang antara A dan N, fluksi
1 AN

dan
2 AN
saling menguatkan sehingga
fluksi lingkup total menjadi
N A
AN A
A A AN
r r
D l i

= + =
2
2 1
ln
2
(2.6.c)
AN
adalah fluksi lingkup konduktor
A-N yang ditimbulkan oleh i
A
, dan
Gb.2.1. Saluran kirim A dan saluran balik N.

N
A
N
A
A
i
A
i
A
v
A
v
N konduktor :
A konduktor :
N ke A jarak :
GMR r
GMR r
D
N
A
AN

A
AN
D
N
Fluksi saling
menguatkan
Saluran Transmisi

55

merupakan fluksi sendiri yang akan memberikan induktansi
sendiri L
AA
.
2.1.2.2. Sistem Tiga Konduktor
Kita lihat sekarang sistem tiga konduktor, saluran kirim A dan B
serta saluran balik N, seperti terlihat pada Gb.2.2. Arus i
A
dan i
B

masing-masing mengalir di A dan B sedang di N mengalir arus
balik ) (
B A
i i + . Kita akan menghitung fluksi lingkup segmen
loop yang menjadi perhatian kita yaitu fluksi lingkup pada
segmen loop yang dibentuk oleh saluran A dan saluran balik N.

Dalam situasi ini arus i
A
di konduktor A dan arus balik (i
A
+i
B
) di
N memberikan fluksi lingkup sebesar

N
AN B A
A
AN A
ANB
r
D l i i
r
D l i

+
+

= ln
2
) (
ln
2
1
(2.7.a)
Sementara itu arus i
B
di konduktor B juga memberikan fluksi

B
BN B
B
AB B
ANB
r
D l i
r
D l i

= ln
2
ln
2
2
(2.7.b)
Karena arus i
B
searah dengan i
A
maka suku pertama (2.7.b)
memperlemah fluksi antara A dan B, sedangkan suku ke-dua
memperkuat fluksi antara B dan N. Fluksi lingkup antara A dan
N dengan kehadiran B menjadi
|
|

\
|

+
|
|

\
|

=
+ =
B
BN
B
AB
N
AN B
N
AN
A
AN A
ANB ANB ANB
r
D
r
D
r
D l i
r
D
r
D l i
ln ln ln
2
ln ln
2

2 1

Gb.2.2. Saluran kirim A dan B, dan
saluran balik N
A
B
N
A
B
N
A
i
B
i
B A
i i +
Saluran Transmisi

56 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

atau

|
|

\
|

=
AB N
BN AN B
N A
AN A
ANB
D r
D D l i
r r
D l i
ln
2
ln
2
2
(2.7.c)
ANB
adalah fluksi lingkup segmen loop A-N dengan kehadiran
arus di konduktor B yang jika kita bandingkan dengan (2.6.c)
terlihat bahwa suku ke-dua (2.7.c) adalah tambahan yang
disebabkan oleh adanya arus i
B
.
Kita lihat sekarang fluksi lingkup segmen loop B-N antara
konduktor B dan N. Fluksi lingkup yang ditimbulkan oleh arus
di B dan arus di N adalah

N
BN A B
B
BN B
BNA
r
D l i i
r
D l i

+
+

= ln
2
) (
ln
2
1
(2.8.a)
dan fluksi yang ditimbulkan oleh i
A
yang memperkuat fluksi
1 BNA
adalah
AB
AN A
A
AB
A
AN A
BNA
D
D l i
r
D
r
D l i
ln
2
ln ln
2
2

=
|
|

\
|

= (2.8.b)
sehingga fluksi lingkup konduktor B-N menjadi
N AB
AN BN A
N B
BN B
BNA BNA BNA
r D
D D l i
r r
D l i

= + = ln
2
ln
2
2
2 1
(2.8.c)
Kita lihat bahwa formulasi (2.8.c) mirip dengan (2.7.c); suku
pertama adalah fluksi yang ditimbulkan oleh arus i
B
sedangkan
suku kedua adalah tambahan yang disebabkan oleh arus i
A
.
2.2.1.3. Sistem Empat Konduktor
Dengan cara yang sama, kita menghitung fluksi-fluksi lingkup
pada sistem empat konduktor dengan tiga konduktor A, B, dan C
masing-masing dengan arus i
A
, i
B
, dan i
C
, dan konduktor balik N
dengan arus ) (
C B A
i i i + + seperti terlihat pada Gb.2.3.
Saluran Transmisi

57


Fluksi lingkup konduktor A-N, B-N, dan C-N adalah:
|
|

\
|

=
|
|

\
|

+
|
|

\
|

+
|
|

\
|

+ + +

=
AC N
CN AN
C
AB N
BN AN
B
N A
AN
A
C
AC
C
C
CN
C
B
AB
B
B
BN
B
N
AN
C B A
A
AN
A AN
D r
D D
i
D r
D D
i
r r
D
i
l
r
D
i
r
D
i
r
D
i
r
D
i
r
D
i i i
r
D
i
l
ln ln ln
2

ln ln
2

ln ln
2
ln ) ( ln
2
2
(2.9.a)
|
|

\
|

+ +

+

=
|
|

\
|

+
|
|

\
|

+
|
|

\
|

+ + +

=
BC N
CN BN
C
N B
BN
B
AB N
AN BN
A
C
BC
C
C
CN
C
A
AB
A
A
AN
A
N
BN
C B A
B
BN
B BN
D r
D D
i
r r
D
i
D r
D D
i
l
r
D
i
r
D
i
r
D
i
r
D
i
r
D
i i i
r
D
i
l
ln ln ln
2

ln ln
2

ln ln
2
ln ) ( ln
2
2
(2.9.b)
|
|

\
|

+

=
|
|

\
|

+
|
|

\
|

+
|
|

\
|

+ + +

=
N C
CN
C
BC N
BN CN
B
AC N
AN CN
A
B
BC
B
B
BN
B
A
AC
A
A
AN
A
N
CN
C B A
A
CN
C CN
r r
D
i
D r
D D
i
D r
D D
i
l
r
D
i
r
D
i
r
D
i
r
D
i
r
D
i i i
r
D
i
l
2
ln ln ln
2

ln ln
2

ln ln
2
ln ) ( ln
2
(2.9.c)
Gb.2.3. Sistem empat konduktor.
A
B
C
N
A
B
C
N
AN
v
BN
v
CN
v
AN
v
BN
v
CN
v
B
i
C
i
C B A
i i i + +
N C, B, A, : , ; konduktor ; dan konduktor jarak : j i i GMR r j i D
i ij
=
Saluran Transmisi

58 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Penurunan relasi (2.9) sudah barang tentu tidak terbatas hanya untuk
empat konduktor. Akan tetapi dalam pembahasan ini kita
mengaitkannya dengan keperluan kita untuk meninjau sistem tiga-
fasa. Oleh karena itu kita batasi tinjauan pada sistem empat
konduktor. Dalam bentuk matriks, (2.9) dapat kita tuliskan sebagai

(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
N C
CN
BC N
BN CN
AC N
AN CN
BC N
CN BN
N B
BN
AB N
AN BN
AC N
CN AN
AB N
BN AN
N A
AN
CN
BN
AN
i
i
i
r r
D
D r
D D
D r
D D
D r
D D
r r
D
D r
D D
D r
D D
D r
D D
r r
D
l
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2

2
2
2

(2.10)
Turunan terhadap waktu dari fluksi lingkup memberikan tegangan
imbas
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(

dt
di
dt
di
dt
di
r r
D
D r
D D
D r
D D
D r
D D
r r
D
D r
D D
D r
D D
D r
D D
r r
D
v
v
v
l
C
B
A
N C
CN
BC N
BN CN
AC N
AN CN
BC N
CN BN
N B
BN
AB N
AN BN
AC N
CN AN
AB N
BN AN
N A
AN
C C
B B
A A

ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
1
2
2
2
(2.11)
Jika tegangan dan arus adalah sinusoidal, persamaan matriks di atas
dapat kita tuliskan dalam fasor
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
N C
CN
BC N
BN CN
AC N
AN CN
BC N
CN BN
N B
BN
AB N
AN BN
AC N
CN AN
AB N
BN AN
N A
AN
C C
B B
A A
r r
D
D r
D D
D r
D D
D r
D D
r r
D
D r
D D
D r
D D
D r
D D
r r
D
j
l
I
I
I
V
V
V

ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
ln
2
1
2
2
2
(2.12)
Persamaan ini menunjukkan tegangan imbas pada setiap konduktor,
sepanjang segmen l (jika faktor l pindah ke ruas kanan).
Saluran Transmisi

59

2.1.3. Impedansi
Resistansi dan tegangan imbas (baik oleh fluksinya sendiri
maupun oleh fluksi yang timbul karena arus di konduktor lain)
pada setiap konduktor membentuk impedansi di setiap konduktor.
Dalam memperhitungkan resistansi, kita amati hal berikut:
Semua arus fasa melalui masing-masing konduktor fasa,
sedangkan arus balik melalui konduktor netral secara bersama-
sama. Oleh karena itu impedansi sendiri suatu fasa akan
mengandung resistansi konduktor fasa dan resistansi konduktor
netral, sedangkan impedansi bersama akan mengandung resistansi
konduktor netral saja. Persamaan (2.12) dapat kita tuliskan
menjadi:
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
CC CB CA
BC BB BA
AC AB AA
C C
B B
A A
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
l
I
I
I
V
V
V

1
(2.13.a)
dengan Z
XX
adalah impedansi sendiri konduktor X dan Z
XY
adalah
impedansi konduktor X karena adanya imbas dari konduktor Y;
impedansi ini adalah per satuan panjang. (Perhatikan adanya
faktor 1/l di ruas kiri (2.13.a))

AC N
BN CN
N CB
AC N
AN CN
N CA
N C
CN
N C CC
BC N
CN BN
N BC
AB N
AN BN
N BA
N B
BN
N B BB
AC N
CN AN
N AC
AB N
BN AN
N AB
N A
AN
N A AA
D r
D D
j R Z
D r
D D
j R Z
r r
D
j R R Z
D r
D D
j R Z
D r
D D
j R Z
r r
D
j R R Z
D r
D D
j R Z
D r
D D
j R Z
r r
D
j R R Z

+ =

+ =

+ + =

+ =

+ =

+ + =

+ =

+ =

+ + =
ln
2

ln
2
; ln
2
ln
2

ln
2
; ln
2
ln
2

ln
2
; ln
2
2
2
2

(2.13.b)
Saluran Transmisi

60 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Walaupun matriks impedansi pada (2.13.a) terlihat simetris namun
tidak diagonal. Matrik impedansi urutan akan berbentuk diagonal
jika konfigurasi konduktor memiliki kesimetrisan seperti pada
konfigurasi atau dibuat simetris melalui transposisi, seperti yang
akan kita lihat berikut ini.
2.1.3.1. Konfigurasi (Segitiga Sama-Sisi)
Konfigurasi ini adalah konfigurasi segitiga sama-sisi di mana
konduktor fasa berposisi di puncak-puncak segitiga.
D D D D
AC BC AB
= = =
Konduktor netral berposisi di titik berat segitiga, sehingga
3 / D D D D
CN BN AN
= = =
Gb.2.4. memperlihatkan konfigurasi ini.

Jika kita anggap resistansi konduktor fasa sama besar yaitu R
dan GMR-nya pun sama yaitu r , maka jika kita masukkan
besaran-besaran ini ke (2.13.b) kita peroleh persamaan (2.14) di
bawah ini. Perhatikan impedansi sendiri Z
XX
yang akan kita sebut
Z
s
dan impedansi bersama Z
XY
yang akan kita sebut Z
m
dalam
persamaan yang diperoleh ini.
D
D
D
3 / D
Gb.2.4 Konfigurasi (equilateral).

Saluran Transmisi

61

N
N CB
N
N CA
N
CN
N CC
N
N BC
N
N BA
N
BN
N BB
N
N AC
N
N AB
N
N AA
r
D
j R Z
r
D
j R Z
r r
D
j R R Z
r
D
j R Z
r
D
j R Z
r r
D
j R R Z
r
D
j R Z
r
D
j R Z
r r
D
j R R Z

+ =

+ =

+ + =

+ =

+ =

+ + =

+ =

+ =

+ + =
3
ln
2

3
ln
2
;
3
ln
2
3
ln
2

3
ln
2
;
3
ln
2
3
ln
2

3
ln
2
;
3
ln
2
2
2
2
(2.14)
Pada (2.14) ini terlihat bahwa
m CA BC AB
Z Z Z Z = = = dan
s CC BB AA
Z Z Z Z = = =
sehingga (2.13.a) dapat dituliskan:
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
s m m
m s m
m m s
C C
B B
A A
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
l
I
I
I
V
V
V

1
(2.15.a)
dengan
/m
3
ln
2
/m
3
ln
2
2

+ =

+ + =
N
N s
N
N s
r
D
j R Z
r r
D
j R R Z
(2.15.b)
jika R dan R
N
dinyatakan dalam /m, dan dalam H/m. D, r ,
dan
N
r dinyatakan dengan satuan yang sama (biasanya dalam
meter disesuaikan dengan D yang juga diukur dalam meter).
Impedansi urutan dapat kita peroleh dengan cara seperti yang
kita pelajari di bab sebelumnya, yaitu
Saluran Transmisi

62 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

[ ] [ ] [ ][ ]
(
(
(

+
=
(
(
(

(
(
(

+ + + +
+ + + +
+ + +
=
(
(
(

(
(
(

(
(
(

=
=

m s
m s
m s
m s m s m s
m s m s m s
m s m s m s
s m m
m s m
m m s
ABC
Z Z
Z Z
Z Z
a a
a a
Z a aZ Z a Z a Z Z
Z a Z a Z a aZ Z Z
Z Z Z Z Z Z
a a
a a
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
a a
a a
Z Z
0 0
0 0
0 0 2

1
1
1 1 1

) 1 ( ) 1 (
) 1 ( ) 1 (
2 2 2

3
1

1
1
1 1 1

1
1
1 1 1
3
1

T T
2
2
2 2
2 2
2
2
2
2
1
012
(2.16.a)
Dengan memasukkan (2.15.b) ke (2.16.a) kita peroleh
/km ln
2
/km
) ( 27
ln
2
3 2
2 1
3
4
0

+ = = =

+ + = + =
r
D
j R Z Z Z Z
r r
D
j R R Z Z Z
m s
N
N m s
(2.16.b)
CONTOH-2.1: Penyulang tegangan menengah tiga-fasa, 20 kV, 50
Hz, panjang 20 km. Konduktor penyulang berpenampang 95 mm
2

dan memiliki radius efektif 6 mm. Resistivitas konduktor adalah
0,0286 .mm
2
/m dan penyulang dibangun dalam konfigurasi
dengan jarak antar konduktor 1 m. Hitunglah impedansi sendiri dan
impedansi bersama serta impedansi urutan positif, dengan
mengabaikan kapasitansi.
Solusi:
Resistansi konduktor:
/m 00031 , 0
95
0286 , 0
= =

=
A
l
R
A

Dengan konfigurasi , impedansi sendiri dan impedansi bersama
fasa A dihitung menggunakan formulasi (2.14) dengan panjang
saluran l = 20 km = 20000 m:
Saluran Transmisi

63


ABl ACl
ABl
AAl
Z Z
, j ,
j Z
, j ,
j
Z
=
= + =

|
|

\
|


+ =
= + =

|
|
|

\
|


+
+
=

96 , 39 68 , 7 05 5 02 6
20000
006 , 0 3
1
ln
2
10 4 100
00031 , 0
86 , 46 61 , 17 85 12 04 12
20000
006 , 0 006 , 0 3
1
ln
2
10 4 100
00031 , 0 00031 , 0
o
2 7
o
2 7

Impedansi urutan positif dihitung dengan relasi (2.16.b)
35 , 52 86 , 9 8 , 7 02 , 6
05 , 5 02 , 6 85 , 12 04 , 12
1
= + =
+ =
= =
j
j j
Z Z Z Z Z
ABl AAl m s

CONTOH-2.2: Beban 5000 kW dengan faktor daya 0,8 dicatu
melalui penyulang tegangan menengah tiga-fasa, 20 kV, 50 Hz,
sepanjang 20 km dengan konfigurasi seperti yang diberikan pada
Contoh-2.1. Dengan mengabaikan kapasitansi antar konduktor,
hitunglah tegangan di ujung kirim apabila tegangan di ujung terima
(beban) ditetapkan 20 kV dengan cara: a) menggunakan besaran-
besaran fasa; b) menggunakan besaran urutan.
Solusi:
a) Karena kapasitansi diabaikan, maka perbedaan tegangan
antara ujung kirim dan ujung terima hanya disebabkan oleh
impedansi saluran. Dengan pembebanan seimbang,
perhitungan dilakukan menggunakan model satu-fasa. Kita
amati fasa A. Impedansi sendiri total dan impedansi
bersama total fasa A telah dihitung pada contoh-2.1:
= + = =
= + =
96 , 39 68 , 7 05 5 02 6
86 , 46 61 , 17 85 12 04 12
o
o
, j , Z Z
, j , Z
ACl ABl
AAl

Saluran Transmisi

64 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dengan menggunakan tegangan fasa-netral ujung terima fasa A
sebagai referensi, maka tegangan fasa-netral ujung terima fasa A,
B, dan C adalah
kV 240 55 , 11
kV 120 55 , 11
kV 0 55 , 11 0
3
20
o
o
o o
=
=
= =
rC
rB
rA
V
V
V

Arus fasa A, B, dan C adalah
A 87 , 276 4 , 180
A 87 , 156 4 , 180
A 87 , 36 4 , 180 A 4 , 180
8 , 0 55 , 11
3 / 5000
o
o
o
=
=
= =

=
C
B
A A
I
I
I I

Tegangan jatuh di fasa A adalah:
84 , 474 04 , 1714
43 , 1187 90 , 773 93 , 1263 39 , 641 34 , 551 33 , 3129
87 , 276 4 , 180 96 , 39 86 , 7
87 , 156 4 , 180 96 , 39 86 , 7 87 , 36 4 , 180 86 , 46 61 , 17
o o
o o o o
j
j j j
Z Z Z
C AC B AB A AA A A
+ =
+ + =
+
+ =
+ + =

I I I V

Tegangan fasa-netral di ujung kirim:
kV 2 2 , 13 48 , 0 71 , 1 55 , 11
o
= + + = + =

j
A A rA sA
V V V

Tegangan fasa-fasa di ujung kirim:
kV 8 , 22 3 2 , 13 = =
sff
V
b). Pada pembebanan seimbang, besaran urutan yang ada
hanyalah urutan positif. Impedansi urutan positif telah dihitung
pada contoh-2.1.
= + = 35 , 52 86 , 9 8 , 7 02 , 6
o
1
j Z

Tegangan jatuh di fasa A adalah:
Saluran Transmisi

65

V 48 , 0 71 , 1 48 , 15 59 , 1778
87 , 36 4 , 180 35 , 52 86 , 9
o
o o
1
j
Z
A A A
+ = =
= =

I V

Tegangan fasa-netral di ujung kirim
kV 2 2 , 13 48 , 0 71 , 1 55 , 11
o
= + + = + =

j
A A rA sA
V V V

Tegangan fasa-fasa di ujung kirim:
kV 8 , 22 3 2 , 13 = =
sff
V
2.1.3.2. Transposisi
Suatu upaya untuk membuat konfigurasi menjadi simetris adalah
melakukan transposisi, yaitu mempertukarkan posisi konduktor
sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan transmisi
mempunyai konfigurasi simetris ataupun hampir simetris.
Panjang total saluran, d, dibagi dalam tiga seksi dan posisi
konduktor fasa dipertukarkan secara berurutan, seperti
diperlihatkan secara skematis oleh Gb.2.5.

3
2
1
D D
D D
D D
CN
BN
AN
=
=
=

1
3
2
D D
D D
D D
CN
BN
AN
=
=
=

2
1
3
D D
D D
D D
CN
BN
AN
=
=
=

Gb.2.5. Transposisi.
Kita misalkan ketiga konduktor fasa pada Gb.2.5 memiliki
resistansi per satuan panjang sama besar dan demikian juga jari-
jari serta GMR-nya;
R R R R
C B A
= = = , r r r r
C B A
= = = , dan r r r r
C B A
= = = .
Saluran Transmisi

66 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Kita dapat mencari formulasi impedansi fasa dan impedansi
urutan dengan melihat seksi per seksi. Jika panjang keseluruhan
saluran adalah d, maka untuk konduktor A:
seksi pertama:
|
|

\
|

+ =

+ =
|
|

\
|

+ + =
N AC
N AC
N AB
N AB
N
N AA
r D
D D
j R Z
r D
D D
j R
d
Z
r r
D
j R R
d
Z
3 1 2 1
2
1
ln
2 3
1
; ln
2 3
; ln
2 3
(2.17.a)
seksi ke-dua:
|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

+ + =
N AC
N AC
N AB
N AB
N
N AA
r D
D D
j R Z
r D
D D
j R
d
Z
r r
D
j R R
d
Z
1 2 3 2
2
2
ln
2 3
1
; ln
2 3
; ln
2 3

(2.17.b)
seksi ke-tiga
|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

+ + =
N AC
N AC
N AB
N AB
N A
N AA
r D
D D
j R Z
r D
D D
j R
d
Z
r r
D
j R R
d
Z
2 3 1 3
2
3
ln
2 3
1
; ln
2 3
; ln
2 3
(2.17.c)
Impedansi per satuan panjang konduktor A menjadi:
3 / 1
2 3
3 / 1
1 2
3 / 1
3 1
3 / 1
1 3
3 / 1
3 2
3 / 1
2 1
3 / 1
2
3
3 / 1
2
2
3 / 1
2
1
ln
2
ln
2
ln
2
|
|

\
|

|
|

\
|

|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

|
|

\
|

|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

|
|

\
|

|
|

\
|

+ + =
N AC N AC N AC
N AC
N AB N AB N AB
N AB
N N N
N AA
r D
D D
r D
D D
r D
D D
j R Z
r D
D D
r D
D D
r D
D D
j R Z
r r
D
r r
D
r r
D
j R R Z
(2.18)
Saluran Transmisi

67

Jika didefinisikan:
3
3 2 1
D D D D
h
= dan
3
AC BC AB f
D D D D = (2.19)
maka formulasi (2.18) menjadi
|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

+ + =
N f
h
N AC
N f
h
N AB
N
h
N AA
r D
D
j R Z
r D
D
j R Z
r r
D
j R R Z
2 2
2
ln
2
; ln
2
; ln
2
(2.20)
Fasa B dan C memiliki formula yang mirip dengan fasa A.
Relasi lengkap untuk ketiga fasa adalah:
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
s m m
m s m
m m s
C C
B B
A A
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
l
I
I
I
V
V
V

1
(2.21.a)
dengan
/m ln
2
/m ln
2
2
2

|
|

\
|

+ =

|
|

\
|

+ + =
N f
h
N m
N
h
N s
r D
D
j R Z
r r
D
j R R Z
(2.21.b)
Impedansi urutan
[ ] [ ] [ ][ ] T T
1
012 ABC
Z Z

=
dan dengan (2.21.b) kita peroleh:
r
D
j R Z Z Z Z
r r D
D
j R R Z Z Z
f
m s
N
f
h
N m s

+ = = =

+ + = + =
ln
2
) (
ln
2
3 2
2 1
3 2
6
0
(2.22)
Saluran Transmisi

68 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

CONTOH-2.3: Hitunglah impedansi urutan positif pada frekuensi
50 Hz dari suatu saluran transmisi dengan transposisi yang
mempunyai konfigurasi sebagai berikut:

Solusi: (perhatikan bahwa R dinyatakan dalam /km; juga harus
dinyatakan sebagai H/km = 1000 H/m)
Untuk menggunakan relasi (2.22), kita hitung lebih dulu D
f
dengan
menggunakan relasi (2.19):
m 29 , 5 8 4 4
3
= =
f
D

Jadi:
/km 3896 , 0 088 , 0
01073 , 0
29 , 5
ln
2
1000 10 4 50 2
088 , 0
7
1
+ =


+ =

j
j Z

2.1.4. Admitansi
Kita pandang satu konduktor lurus dengan panjang tak hingga
dan mengandung muatan dengan kerapatan per satuan panjang.
Pada konfigurasi sederhana ini, penerapan hukum Gauss untuk
menghitung displacement D menjadi sederhana.
l Dds
S
=


dengan S adalah luas dinding silinder sepanjang l dengan sumbu
yang berimpit pada konduktor. Bidang equipotensial di sekitar
konduktor akan berbentuk silindris. Kuat medan listrik di suatu
titik berjarak x dari konduktor adalah:
x l x
l D
E
x

=
2 2

Untuk udara, F/m 10
36
1
9
0

= =
A 900 : arus Kapasitas
cm 073 , 1
cm 350 , 1
km / 088 . 0
r r r r
r r r r
R R R
C B A
C B A
C B A
= = = =
= = = =
= = =
m 2 , 4
A
C
m 2 , 4
m 4 , 8
B
Saluran Transmisi

69

Kuat medan listrik ini menyebabkan terjadinya perbedaan
potensial antara dua titik di luar konduktor, seperti digambarkan
pada Gb.2.6.

Gb.2.6. Dua titik di luar konduktor.
A
B
x
x
x
x
AB
x
x
dx
x
Edx v
B
A
B
A
ln
2 2

= =

(2.23)
AB
v adalah penurunan potensial dari A ke B yang bernilai positif
jika x
B
> x
A
. Jika adalah muatan negatif maka
AB
v adalah
kenaikan potensial.
2.1.4.1. Beda Potensial Dua Konduktor Tak Bermuatan
Kita lihat sekarang satu konduktor k dengan jari-jari r
k
dan
bermuatan
k
. Dua konduktor lain yang tidak bermuatan, i dan j,
berjarak D
ik
dan D
jk
dari konduktor k seperti terlihat pada Gb.2.7.

Gb.2.7. Satu konduktor bermuatan dan dua konduktor
tak bermuatan.
Potensial konduktor i yang diakibatkan oleh adanya muatan di
konduktor k adalah beda potensial antara titik di permukaan
konduktor k dan posisi konduktor i. Sedangkan beda potensial
antara konduktor k dan j adalah beda potensial antara permukaan
konduktor k dan posisi konduktor j. Beda potensial antara
konduktor i dan j adalah selisih antara keduanya.
ij
ik k
jk
k
ik k
ki kj ij
D
D
rk
D
r
D
v v v
k
k k
ln
2

ln ln
2

=
|
|

\
|

= =


(2.24)
i j
ik
D
jk
D
k k
r k , ,
A
B
A
x
B
x
Saluran Transmisi

70 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.1.4.2. Beda Potensial Tiga Konduktor Bermuatan
Tiga konduktor bermuatan A, B, C diperlihatkan pada Gb.2.8.
Setiap muatan di setiap konduktor akan menyebabkan beda
potensial di dua konduktor yang lain.

Gb.2.8. Tiga konduktor bermuatan.
C B A
BC BC BC BC
v v v v

+ + =
AB
AC A
BC
D
D
v
A
ln
2

;
B
BC B
BC
r
D
v
B
ln
2

;
BC
C C
BC
D
r
v
c
ln
2


Jadi
|
|

\
|
+ +

=
BC
C
C
B
BC
B
AB
AC
A BC
D
r
r
D
D
D
v ln ln ln
2
1
(2.25)
2.1.4.3. Beda Potensial Empat Konduktor Bermuatan
Empat konduktor bermuatan terlihat pada Gb.2.9:

Gb. 2.9. Sistem empat konduktor.
Kita akan meninjau sistem empat konduktor seperti terlihat pada
gambar di atas dengan ketentuan konservasi muatan, yaitu
0 = + + +
A A A A
(2.26)
A A
r , , A
B B
r , , B
C C
r , , C
N N
r , , N
AB
D
BC
D
A A
r , , A
B B
r , , B
C C
r , , C
AC
D
Saluran Transmisi

71

0 ln ln ln ln
2
1
ln ln ln ln
2
1
ln ln ln ln
2
1
ln ln ln ln
2
1
=
|
|

\
|
+ + +

=
|
|

\
|
+ + +

=
|
|

\
|
+ + +

=
|
|

\
|
+ + +

=
NN
NN
N
CN
CN
C
BN
BN
B
AN
AN
A NN
CN
N
N
C
CN
C
BC
BN
B
AC
AN
A CN
BN
N
N
BC
CN
C
B
BN
B
AB
AN
A BN
AN
N
N
AC
CN
C
AB
BN
B
A
AN
A AN
D
D
D
D
D
D
D
D
v
D
r
r
D
D
D
D
D
v
D
r
D
D
r
D
D
D
v
D
r
D
D
D
D
r
D
v
(2.27)
Jika kita terapkan relasi konservasi muatan yaitu
0 = + + +
n c b a
atau ( )
c b a n
+ + =
maka
N
akan ter-eliminasi dari persamaan (2.27).
|
|

\
|
+ +

=
|
|

\
|
+ +

=
|
|

\
|
+ +

=
N C
CN
C
N BC
BN CN
B
N AC
AN CN
A CN
N BC
CN BN
C
N B
BN
B
N AB
BN AN
A BN
N AC
CN AN
C
N AB
BN AN
B
N A
AN
A AN
r r
D
r D
D D
r D
D D
v
r D
D D
r r
D
r D
D D
v
r D
D D
r D
D D
r r
D
v
2
2
2
ln ln ln
2
1
ln ln ln
2
1
ln ln ln
2
1
(2.28.a)
yang dalam bentuk matriks kita tuliskan:
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(




=
(
(
(

C
B
A
n c
CN
n BCB
BN CN
n AC
AN CN
n BC
CN BN
n b
BN
n AB
AN BN
n AC
CN AN
n AB
BN AN
n a
AN
C
B
A
r r
D
r D
D D
r D
D D
r D
D D
r r
D
r D
D D
r D
D D
r D
D D
r r
D
v
v
v

ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
ln
2
1
2
2
2
(2.28.b)
atau secara singkat
Saluran Transmisi

72 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

C
A
A
CC CB CA
BC BB AB
AC AB AA
C
B
A
f f f
f f f
f f f
v
v
v
(2.28.c)
atau lebih ringkas
[ ]
ABC ABC ABC
F v
~

~
= (2.28.d)
dengan C B A j i
r D
D D
f
n ij
jn in
ij
, , , ; ln
2
1
=

= (2.28.e)
Untuk tegangan sinusoidal keadaan mantap, (2.28.c) dapat kita
tuliskan:
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

C
B
A
CC CB CA
BC BB BA
AC AB AA
C
B
A
f f f
f f f
f f f

V
V
V
(2.29.a)
atau
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(


C
B
A
CC CB CA
BC BB BA
AC AB AA
C
B
A
f f f
f f f
f f f
V
V
V

1
(2.29.b)
Atau
[ ] [ ]
ABC ABC ABC ABC ABC
V C V F
~

~
~ -1
= = (2.29.c)
Kita ingat relasi kapasitor CV Q = . Dari (2.29.c) kita turunkan
[ ] [ ] F/m
-1
ABC ABC
F C = (2.30)
dan kita peroleh admitansi
[ ] [ ] /m =
ABC ABC
j C Y (2.31)
Saluran Transmisi

73

Namun kita tidak menghitung [Y
ABC
] dengan menggunakan
(2.31) melainkan dari (2.30) dengan menghitung [ ]
ABC
F dan
sini menghitung [ ]
012
F sehingga diperoleh [ ]
012
C dan [ ]
012
Y .
[ ]
(
(
(

=
CC CB CA
BC BB BA
AC AB AA
ABC
f f f
f f f
f f f
F (2.32)
nilai urutannya adalah
[ ] [ ] [ ][ ] T F T F
1
012 ABC

= (2.33)
dan akan kita peroleh
[ ] [ ]
1
012 012

= F C sehingga [ ] [ ]
012 012
C Y = j (2.35)
2.1.4.4. Konfigurasi
Pada konfigurasi ,
D D D D
AC BC AB
= = =
;
3 / D D D D
CN BN AN
= = =

[ ]
(
(
(

=
(
(
(
(
(
(
(
(




=
s m m
m s m
m m s
n n n
n n n
n n n
ABC
f f f
f f f
f f f
rr
D
r
D
r
D
r
D
rr
D
r
D
r
D
r
D
rr
D
F
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
3
ln
2
1
2
2
2
(2.35)
[ ] [ ] [ ]
(
(
(

+
=
(
(
(

=

m s
m s
m s
s m m
m s m
m m s
f f
f f
f f
f f f
f f f
f f f
F
0 0
0 0
0 0 2
T T
1
012
(2.36)
r
D
f f F F
r r
D
f f F
m s
n
m s
ln
2
1

) ( 27
ln
2
1
2
2 1
3
4
0

= = =

= + =
(2.37)
Saluran Transmisi

74 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Kapasitansi
) / ln(
2 1
] ) ( 27 / ln[
2 1
2
1
1
3 4
0
0
r D
C
F
C
r r D
F
C
N

= = =

= =
(2.38)
Admitansi
) / ln(
2
] ) ( 27 / ln[
2
2 1 1
3 4
0 0
r D
j Y C j Y
r r D
j C j Y
N

= = =

= =
(2.39)
2.1.4.5. Transposisi
Kita telah melihat bahwa jika transposisi dilakukan, maka
impedansi urutan dapat berbentuk matriks diagonal. Hal yang
sama akan terjadi pada admitansi. Dengan transposisi matriks
[F
ABC
] berbentuk
[ ]
(
(
(

=
s m m
m s m
m m s
ABC
f f f
f f f
f f f
F
(2.40)
Pada tahap ini kita perlu mengingat kembali bahwa walaupun
dalam analisis rangkaian listrik besaran resistansi, induktansi,
impedansi, serta admitansi difahami sebagai konstanta
proporsiaonalitas rangkaian linier, namun sesungguhnya mereka
adalah besaran-besaran dimensional. Mereka merupakan besaran
yang tergantung dari ukuran yang dimilikinya serta sifat-sifat
fisis material yang membentuknya. Oleh karena itu, selama
dimensinya sama, pengolahan aritmatika dapat dilakukan.
Dalam kasus transposisi saluran transmisi, sebagaimana
ditunjukkan oleh matriks [F
ABC
] di atas, konduktor-konduktor
memiliki nilai sama jika dilihat dalam selang saluran yang
ditransposisikan yaitu yang terdiri dari tiga seksi. Dengan
Saluran Transmisi

75

demikian maka admitansi dapat kita peroleh dengan mengambil
nilai rata-rata dari admitansi per seksi.
( )
j i f f
j i f f
f f f f
m if
s ij
ij ij ij ij
=
= =
+ + =
jika
jika dengan
3
1
3 - seksi 2 - seksi 1 - seksi
(2.41)
Kita memperoleh
3
1 3 3 2 2 1
3 3
2
3
2
2
2
1
ln
6
1
ln
6
1
N AC BC AB
m
N
s
r D D D
D D D D D D
f
r r
D D D
f

=
(2.42)
Dengan definisi:
3
3 2 1
D D D D
h
=

3
AC BC AB f
D D D D =

kita peroleh
N f
h
m
N
h
s
r D
D
f
rr
D
f
2 2
ln
2
1
ln
2
1

=
(2.43)
sehingga
r
D
f f F F
r r D
D
f f F
f
m s
n
f
h
m s
ln
2
1

) (
ln
2
1
2
2 1
3 2
6
0

= = =

= + =
(2.44)
Kapasitansi adalah
F/m
) / ln(
2 1
F/m
] ) ( / ln[
2 1
2
1
1
3 2 6
0
0
r D
C
F
C
r r D D
F
C
f
N f h

= = =

= =
(2.45)
Saluran Transmisi

76 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Admitansi adalah
S/m
) / ln(
2
S/m
) / ln(
2
2 1
3 2 6
0 0
r D
j Y Y
rr D D
j C j Y
f
N
f h

= =

= =
(2.46)
CONTOH-2.4: Hitunglah admitansi urutan positif pada frekuensi
50 Hz dari suatu saluran transmisi dengan transposisi yang
mempunyai konfigurasi seperti berikut:

Solusi:
Dengan menggunakan relasi (2.46), di mana D
f
sudah dihitung
pada Contoh-2.3. Dengan
F/m 10 ) 36 / 1 (
9
=

maka:
S/km 923 , 2 S/m 10 923 , 2
) 01350 , 0 / 29 , 5 ln(
10 ) 36 / 1 ( 2 50 2
) / ln(
2
9
9
1
= =

=

j j
j
r D
j Y
f

2.2. Rangkaian Ekivalen
Di sub-bab sebelumnya kita telah memperoleh formulasi impedansi
dan admitansi per satuan panjang dari saluran transmisi. Selain itu
kita telah melihat bahwa dengan transposisi saluran transmisi dibuat
menjadi simetris dan memberikan matriks besaran urutan yang
diagonal.
Dengan menggunakan model satu-fasa, kita akan melihat bagaimana
perubahan tegangan dan arus sepanjang saluran. Setelah itu kita
akan melihat rangkaian ekivalen yang diperlukan dalam analisis.
A 900 : arus Kapasitas
cm 073 , 1
cm 350 , 1
km / 088 . 0
r r r r
r r r r
R R R
C B A
C B A
C B A
= = = =
= = = =
= = =
m 2 , 4
A
C
m 2 , 4
m 4 , 8
B
Saluran Transmisi

77

Rangkaian ekivalen ini diperlukan karena saluran transmisi
terhubung dengan peralatan lain, transformator misalnya.
2.2.1. Persamaan Saluran Transmisi
Impedansi dan admitansi suatu saluran transmisi terdistribusi
sepanjang saluran yang ratusan kilometer panjangnya. Karena
impedansi dan admitansi terdistribusi sepanjang saluran maka dalam
penyaluran daya akan terjadi perbedaan tegangan dan arus antara
setiap posisi yang berbeda. Kita lihat model satu fasa saluran
transmisi seperti pada Gb.2.10.

Gb.2.10 Model satu-fasa saluran transmisi.
Saluran transmisi ini bertegangan
s
V di ujung kirim dan
r
V di
ujung terima. Kita tinjau satu posisi berjarak x dari ujung terima
dan kita perhatikan satu segmen kecil x ke-arah ujung kirim.
Pada segmen kecil ini terjadi hal-hal berikut:
Di posisi x terdapat tegangan
x
V .
Di posisi (x + x) terdapat tegangan
x x +
V karena terjadi
tegangan jatuh
x x
x Z I V = (Z adalah impedansi per satuan
panjang).
Arus
x
I mengalir dari x menuju ujung terima.
Arus
x x
x Y V I = mengalir di segmen x (Y adalah
admitansi per satuan panjang).
Arus
x x +
I mengalir menuju titik (x + x) dari arah ujung
kirim.
s
V
r
V
x
V
x s +
V
x s +
I
x
I
x
x Z I
x
x Y V
x
x
r
I
Saluran Transmisi

78 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

x
x x x
x x x x
x
x x x
x x x x
Y
x
x Y
Z
x
x Z
V
I I
V I I
I
V V
I V V
=

=
=

=
+
+
+
+
atau
atau

Jika x mendekati nol, maka
x
x
x
x
Y
dx
d
Z
dx
d
V
I
I
V
= = dan (2.47)
Jika (2.47) kita turunkan sekali lagi terhadap x kita peroleh
dx
d
Y
dx
d
dx
d
Z
dx
d
x x x x
V I I V
= =
2
2
2
2
dan (2.48)
Substitusi (2.47) ke (2.48) memberikan
x
x
x
x
ZY
dx
d
ZY
dx
d
I
I
V
V
= =
2
2
2
2
dan (2.49)
2.2.2. Konstanta Propagasi
Persamaan (2.49) ini telah menjadi sebuah persamaan di mana
ruas kiri dan kanan berisi peubah yang sama sehingga solusi dapat
dicari. Untuk mencari solusi tersebut didefinisikan
ZY ZY = = atau
2
(2.50)
disebut konstanta propagasi. Karena Z memiliki satuan /m
dan Y memiliki satuan S/m, maka memiliki satuan per meter.
Selain itu karena Z dan Y merupakan bilangan kompleks maka
juga merupakan bilangan kompleks yang dapat dituliskan sebagai
+ = j (2.51)
disebut konstanta redaman, yang akan mengubah amplitudo
tegangan dari satu posisi ke posisi yang lain.
disebut konstanta fasa, yang akan mengubah sudut fasa tegangan
dari satu posisi ke posisi yang lain.
Saluran Transmisi

79

2.2.3. Impedansi Karakteristik
Dengan menggunakan pengertian konstanta propagasi maka
persamaan tegangan dan arus, (2.49) dapat dituliskan menjadi
x
x
x
x
dx
d
dx
d
I
I
V
V
2
2
2
2
2
2
dan = = (2.52.a)
atau
0 dan 0
2
2
2
2
2
2
= =
x
x
x
x
dx
d
dx
d
I
I
V
V
(2.52.b)
Solusi persamaan (2.52.b) adalah :
dan
2 1 2 1
x
i
x
i x
x
v
x
v x
e k e k e k e k

+ = + = I V (2.52.c)
Kita lihat lebih dulu persamaan pertama (2.52.c) yaitu
x
v
x
v x
e k e k

+ =
1 1
V (2.53.a)
Turunan (2.53.a) terhadap x memberikan
x
v
x
v
x
e k e k
dx
d

=
2 1

V
(2.53.b)
sedangkan persamaan pertama (2.47) memberikan

x
x
Z
dx
d
I
V
=
sehingga (2.53.b) dan (2.47) memberikan
x
x
v
x
v
Z e k e k I =

2 1
(2.53.c)
Konstanta propagasi didefinisikan pada (2.50) yaitu
ZY =
Kita masukkan ke (2.53c) dan kita peroleh
( )
x
x
v
x
v
Z e k e k ZY I =

2 1

atau
Saluran Transmisi

80 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

x x
x
v
x
v
Y
Z
ZY
Z
e k e k I I = =

2 1
(2.53.d)
Perhatikan bahwa ruas paling kiri (2.53.d) adalah ruas kanan
persamaan (2.53a), yaitu tegangan. Hal ini berarti bahwa ruas
paling kanan juga berdimensi tegangan. Oleh karena itu
Y
Z
di
ruas paling kanan (2.53.c) haruslah berdimensi impedansi;
impedansi ini disebut impedansi karakteristik, Z
c
.
Y
Z
Z
c
= (2.54)
Perhatikan bahwa kita sedang meninjau satu segmen kecil dari suatu
saluran transmisi yaitu sepanjang x; dan kita memperoleh suatu
besaran impedansi yaitu impedansi karakteristik, Z
c
. Kita dapat
menduga bahwa impedansi ini terasakan/terdapat di setiap segmen
saluran transmisi dan oleh karena itu dia menjadi karakteristik suatu
saluran transmisi.
Dengan pengertian impedansi karakteristik ini maka (2.53.d) kita
tulis menjadi
x c
x
v
x
v
Z e k e k I =

2 1
(2.55)
Kita lihat sekarang situasi di ujung terima, dimana x = 0. Persamaan
pertama (2.53.c) memberikan tegangan di setiap poisi x, yaitu
x
v
x
v x
e k e k

+ =
1 1
V
Dengan memberikan x = 0 pada (2.53.c) ini kita dapatkan tegangan
di ujung terima

2 1 r v v
k k V = + (2.56.a)
sedangkan pada x = 0 persamaan (2.55) memberikan arus di ujung
terima yaitu
r c v v
Z k k I =
2 1
(2.56.b)
Dari (2.56.a) dan (2.56.b) kita peroleh
Saluran Transmisi

81

2

2
2 1
r c r
v
r r c
v
Z
k
Z
k
I V V I
=
+
= (2.56.c)
Dengan (2.56.c) ini maka persamaan tegangan di setiap posisi x,
yaitu persamaan pertama (2.52.c) menjadi
) sinh( ) cosh(
2 2

2 2


2 1
x Z x
e e
Z
e e
e
Z
e
Z
e k e k
r c r
x x
r c
x x
r
x r c r x r r c
x
v
x
v x
+ =

+
+
=

+
+
=
+ =



I V
I V
I V V I
V
(2.57)
Inilah persamaan tegangan di setiap posisi x apabila tegangan dan
arus di ujung terima adalah
r
V dan
r
I .
Selanjutnya persamaan arus di setiap posisi x yaitu persamaa ke-dua
(2.52.c) dapat kita olah dengan cara yang sama.
x
c
x
i
x
i
x
x
i
x
i
x x
i
x
i x
Z
e k e k
Y e k e k
dx
d
e k e k
V
V
I
I
1


2 1
2 1 2 1
=
= = + =


(2.58.a)
Untuk x = 0,
r
c
i i r i i
Z
k k k k V I
1

2 1 2 1
= = +
sehingga diperoleh
2
/

2
/
2 1
c r r
i
c r r
i
Z
k
Z
k
V I V I
=
+
= (2.58.b)
Dengan (2.58.b) ini kita peroleh
) cosh( ) sinh(
2 2

2
/

2
/
x x
Z
e e e e
Z
e
Z
e
Z
r
c
r
x x
r
x x
c
r
x c r r x c r r
x
+ =
+
+

+
+
=


I
V
I
V
V I V I
I
(2.58.c)
Saluran Transmisi

82 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Jadi untuk saluran transmisi kita peroleh sepasang persamaan
) cosh( ) sinh(
) sinh( ) cosh(
x x
Z
x Z x
r
c
r
x
r c r x
+ =
+ =
I
V
I
I V V
(2.59)
Persamaan (2.59) ini memberikan nilai tegangan di setiap posisi x
pada saluran transmisi apabila tegangan dan arus di ujung terima
diketahui. Dengan bantuan komputer tidaklah terlalu sulit untuk
melakukan perhitungan untuk setiap nilai x. Parameter yang terlibat
dalam perhitungan adalah konstanta propagasi dan impedansi
karakteristik Z
c
. Konstanta propagasi mempunyai satuan per meter
yang ditunjukkan oleh persamaan (2.50); impedansi karakteristik
mempunyai satuan ohm (bukan ohm per meter) yang ditunjukkan
oleh (2.54).
2.2.4. Rangkaian Ekivalen
Jika panjang saluran adalah d, tegangan dan arus di ujung kirim
adalah
s s
I V dan maka dari (2.59) kita peroleh

) cosh( ) sinh(
) sinh( ) cosh(
d d
Z
d Z d
r
c
r
s
r c r s
+ =
+ =
I
V
I
I V V
(2.60)
Rangkaian ekivalen diperlukan dalam analisis jika saluran
transmisi terhubung dengan piranti lain. Kita akan meninjau suatu
rangkaian ekivalen yang disebut rangkaian ekivalen seperti
terlihat pada Gb.2.11.

Gb.2.11. Rangkaian ekivalen
s
V
r
V
s
I
r
I
t
Z
2
t
Y
2
t
Y
Saluran Transmisi

83

Pada rangkaian ekivalen ini, impedansi dan admitansi yang
terdistribusi sepanjang saluran dimodelkan sebagai impedansi dan
admitansi tergumpal. Aplikasi hukum Kirchhoff pada rangkaian
ini memberikan:
r t r
t t
r
t
r t r s
Z
Y Z Y
Z I V V I V V +
|
|

\
|
+ =
|
|

\
|
+ + =
2
1
2
(2.61.a)
r
t t
r
t t t
r t r
t t t
r
t
r
s
t
r
t
r s
Y Z Y Y Z
Z
Y Z Y Y
Y Y
I V
I V V I
V V I I
|

\
|
+ + |

\
|
+ =
(

+ |

\
|
+ + + =
+ + =
2
1
2 2
2
2
1
2 2

2 2
(2.61.b)
Kita ringkaskan (2.61.a dan b) menjadi :
r
t t
r
t t t
s
r t r
t t
s
Y Z Y Y Z
Z
Y Z
I V I
I V V
|

\
|
+ + |

\
|
+ =
+ |

\
|
+ =
2
1
2 2
2
2
1
(2.62)
Jika kita perbandingkan persamaan ini dengan persamaan
tegangan dan arus pada (2.60) yaitu
) cosh( ) sinh(
) sinh( ) cosh(
d d
Z
d Z d
r
c
r
s
r c r s
+ =
+ =
I
V
I
I V V

kita dapatkan
) sinh(
1
2 2
2
) sinh(
) cosh(
2
1
d
Z
Y Y Z
d Z Z
d
Y Z
c
t t t
c t
t t
=
|
|

\
|
+
=
= +
(2.63)
Substitusi persamaan pertama (2.63) ke persamaan ke-tiga (2.63)
memberikan
Saluran Transmisi

84 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

( )
|

\
|
=
+

=
+
+
=
+ +

=
+

=






2
tanh
1
) (
) (

) (
) ( ) (

2 / ) 2 (
2 / ) (
1 ) cosh(
) sinh(
2
2 / 2 /
2 / 2 /
2 2 / 2 /
2 / 2 / 2 / 2 /
d
Z
e e Z
e e
e e Z
e e e e
e e Z
e e
d Z
d Y
c
d d
c
d d
d d
c
d d d d
d d
c
d d
c
t

Jadi dalam rangkaian ekivalen
) sinh( d Z Z
c t
= dan
|

\
|
=
2
tanh
1
2
d
Z
Y
c
t
(2.64)
dengan d = jarak antara ujung-terima dan ujung-kirim, Z
c
=
impedansi karakteristik.
Rangkaian ekivalen diturunkan dari model satu-fasa rangkaian
tiga-fasa seimbang. Untuk rangkaian tiga-fasa tak-seimbang,
fasor-fasor tak seimbang kita uraikan menjadi komponen-
komponen simetris. Masing-masing komponen simetris
merupakan fasa-fasa seimbang sehingga masing-masing
komponen dapat di analisis menggunakan rangkaian ekivalen satu-
fasa. Dengan kata lain masing-masing komponen memiliki
rangkaian ekivalen, yaitu rangkaian ekivalen urutan positif, urutan
negatif, dan urutan nol, seperti terlihat pada Gb.2.12.
Besaran rangkaian ekivalen adalah:
Konstanta propagasi urutan:
2 2 2 1 1 1 0 0 0
; ; Y Z Y Z Y Z = = = (2.65)
Impedansi karakteristik urutan:
2 2
1 1 1
0 0 0
/ 2
/
/
Y Z Z
Y Z Z
Y Z Z
c
c
c
=
=
=
(2.66)
Impedansi urutan:
Saluran Transmisi

85

d Z Z
d Z Z
d Z Z
c
c
c
2 2 2
1 1 1
0 0 0
sinh
sinh
sinh
=
=
=
(2.67)
Admitansi urutan:
2
tanh
1
2
2
tanh
1
2

2
tanh
1
2
2
2
2
1
1
1
0
0
0
d
Z
Y
d
Z
Y
d
Z
Y
c
c
c

=
(2.68)

Rangkaian Urutan Nol

Rangkaian Urutan Positif

Rangkaian Urutan Negatif
Gb.2.12. Rangkaian ekivalen urutan.
2 s
V
2 r
V
2 s
I
2 r
I
2 t
Z
2
2 t
Y
2
2 t
Y
1 s
V
1 r
V
1 s
I
1 r
I
1 t
Z
2
1 t
Y
2
1 t
Y
0 s
V
0 r
V
0 s
I
0 r
I
0 t
Z
2
0 t
Y
2
0 t
Y
Saluran Transmisi

86 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

CONTOH-2.5: Dari saluran transmisi 50 Hz dengan transposisi
yang mempunyai konfigurasi seperti pada Contoh-2.3, tentukan
(a) impedansi karakteristik;
(b) konstanta propagasi;
(c) rangkaian ekivalen .

Solusi:
Impedansi dan admitansi per satuan panjang saluran ini telah
dihitung pada dua contoh sebelumnya.
/km 3896 , 0 088 , 0
1
+ = j Z S/km 923 , 2
1
= j Y
a) Impedansi karakteristik adalah:
=
+
=

+
= =

6,4 - 67 , 369
923 , 2
3896 , 0 088 , 0
10
10 923 , 2
3896 , 0 088 , 0
o 3
6
j
j
j
j
Y
Z
Z
c

b) Konstanta propagasi
km per 10 ) 074 , 1 1198 , 0 (
) 10 923 , 2 )( 3896 , 0 088 , 0 (
3
6

+ =
+ = =
j
j j ZY

c) Untuk jarak antara ujung kirim dan ujung terima 100 km,
elemen-elemen rangkaian ekivalen adalah
= + =
+ =
=

77.3 39.87 89 , 38 77 , 8
] 10 ) 074 , 1 1198 , 0 sinh[( ) 4 , 6 67 , 369 (
) sinh(
o
1 o
j
j
d Z Z
c t

A 900 : arus Kapasitas
cm 073 , 1
cm 350 , 1
km / 088 . 0
r r r r
r r r r
R R R
C B A
C B A
C B A
= = = =
= = = =
= = =
m 2 , 4
A
C
m 2 , 4
m 4 , 8
B
Saluran Transmisi

87

mS 1463 , 0 10 1463 , 0 10 14 , 3
2
100 10 ) 074 , 1 1207 , 0 (
tanh
4 , 6 67 , 369
1


2
tanh
1
2
3 8
3
o
j j
j
d
Z
Y
c
t
+ =
|
|

\
|
+

=
|

\
|
=



16.2.5. Rangkaian Ekivalen Pendekatan
Apabila kita melakukan perhitungan dengan menggunakan
computer, pendekatan ini sebenarnya tidak diperlukan. Namun
untuk saluran pendek, perhitungan secara manual kadang-kadang
diperlukan sehingga diperlukan besaran pendekatan. Pada saluran
yang pendek, 1 << d . Dalam situasi ini kita dapat membuat
pendekatan sebagai berikut
2 2
/
1
2
1
2
tanh
1
2
) ( sinh
Yd
d
ZY
Y Z
d
Z
d
Z
Y
Zd d ZY
Y
Z
d Z d Z Z
c c
t
c c t
= =

= = =
(2.69)
Rangkaian ekivalen yang dibuat dengan menggunakan nilai-nilai
pendekatan ini disebut juga rangkaian ekivalen nominal.
CONTOH-2.6: Tentukan rangkaian ekivan pendekatan untuk
saluran pada Contoh-2.5.
Solusi:
Dengan menggunakan relasi (2.69) elemen rangkaian ekivalen
pendekatan adalah:
mS 1461 , 0 100
2
10 923 , 2
100
2 2
96 , 38 8 , 8 100
6
1
1
j
j Y Y
j Z Z
t
t
=

= =

+ = =


s
V
r
V
s
I
r
I
89 , 38 77 . 8 j +
1463 , 0 j
1463 , 0 j
Saluran Transmisi

88 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.2.6. Saluran Pendek
Kinerja saluran transmisi dinyatakan oleh persamaan (2.60)
yaitu
) cosh( ) sinh(
) sinh( ) cosh(
d d
Z
d Z d
r
c
r
s
r c r s
+ =
+ =
I
V
I
I V V

Pada saluran yang pendek, 1 << d . Dalam situasi ini kita dapat
membuat pendekatan 1 ) cosh( dan ) sinh( d d d . Dengan
pendekatan ini persamaan kinerja saluran transmisi pendek dapat
ditulis dengan lebih sederhana:

r r
c
s
r c r s
Z
d
d Z
I V I
I V V
+

=
+ =

) (
(2.70.a)
Sementara itu
Y
Y Z
ZY
Z
Z ZY
Y
Z
Z
c
c
= =

= =
/
dan (2.70.b)
sehingga (2.24.a) menjadi
r r s
r r s
Yd
Zd
I V I
I V V
+ =
+ =
) (
) (
(2.70.c)
Persamaan (2.24.c)
ini memberikan
diagram rangkaian
ekivalen seperti
terlihat pada
Gb.2.13. di samping
ini, yang kita sebut
rangkaian ekivalen
pendekatan untuk
saluran pendek.
Gb.2.13. Diagram rangkaian ekivalen
pendekatan.
s
V
r
V
s
I
r
I
Zd
Yd
Saluran Transmisi

89

Rangkaian ekivalen pendekatan hanya kita pakai apabila kita
perlukan. Dalam analisis selanjutnya kita akan menggunakan
rangkaian ekivalen yang sebenarnya.
2.2.7. Konstanta ABCD
Kinerja saluran transmisi dinyatakan oleh persamaan (2.60)
yaitu
) cosh( ) sinh(
) sinh( ) cosh(
d d
Z
d Z d
r
c
r
s
r c r s
+ =
+ =
I
V
I
I V V

Persamaan ini dapat ditulis dengan dengan menggunakan
konstanta A, B, C, D seperti berikut:

r r s
r r s
I D V C I
I B V A V


+ =
+ =
(2.71.a)
dengan

A D B C
B A
= = =

=
= =
d
Z
Z
d
d Z d
c
c
c
cosh ;
1 sinh
sinh ; cosh
2
(2.71.b)
Konstanta-konstanta ini dapat pula diturunkan dari rangkaian
ekivalen yang telah kita peroleh pada persamaan (2.60) yaitu
r
t t
r
t t t
s
t r
t t
s
Y Z Y Y Z
Z
Y Z
I V I
I V V
|
|

\
|
+ +
|
|

\
|
+ =
+
|
|

\
|
+ =
2
1
2 2
2
2
1

yang jika kita perbandingkan dengan (2.71.a) kita dapatkan
A D C
B A
=
|
|

\
|
+ =
|
|

\
|
+ =
=
|
|

\
|
+ =
2
1
2 2
2

2
1
t t t t t
t
t t
Y Z Y Y Z
Z
Y Z
(2.71.c)
Saluran Transmisi

90 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Konstanta-konstanta A, B, C, D, adalah bilangan-bilangan
kompleks karena Z
t
maupun Y
t
adalah bilangan kompleks yang
nilainya ditentukan oleh ukuran, konfigurasi, dan panjang
saluran. Kita lihat lagi saluran pada Contoh-7.1. untuk memberi
gambaran tentang nilai konstanta-konstanta ini.
CONTOH-2.7: Dari saluran transmisi 50 Hz dengan transposisi
yang mempunyai konfigurasi seperti pada Contoh-2.3, sedangkan
panjang saluran 100 km, tentukan konstanta A, B, C, D saluran
transmisi ini.

Solusi:
dan Z
c
telah dihitung pada Contoh-2.5:
= 6,4 - 67 , 369
o
c
Z
km per 10 ) 074 , 1 1198 , 0 (
3
+ = j
Menggunakan formulasi (2.71.b), nilai konstanta A, B, C,
D, adalah

o
o
2
o
o
0,07 0,9943 cosh
90,02 0,0003
1 sinh
77,30 39,87 sinh
0,07 0,9943 cosh
= = =
= =

=
= =
= =
A D
B C
B
A
d
Z
Z
d
d Z
d
c
c
c

Dengan menggunakan konstanta A,B,C,D, ini, kita akan
mecermati kinerja saluran.
CONTOH-2.8: Jika saluran transmisi pada Contoh-2.7 mencatu
beban sebesar 250 MVA dengan faktor daya 0.9 lagging pada
tegangan 270 kV. Hitunglah tegangan di ujung kirim, arus di ujung
kirim, tegangan jatuh di saluran, daya di ujung kirim, faktor daya di
ujung kirim, dan susut daya di saluran.
A 900 : arus Kapasitas
cm 073 , 1
cm 350 , 1
km / 088 . 0
r r r r
r r r r
R R R
C B A
C B A
C B A
= = = =
= = = =
= = =
m 2 , 4
A
C
m 2 , 4
m 4 , 8
B
Saluran Transmisi

91

Solusi:
Dengan model satu-fasa, tegangan beban 270 kV digunakan
sebagai referensi. Tegangan fasa-netral adalah
kV 0 88 , 55 1
3
270
o
= =
r
V
Karena faktor daya 0,9 lagging maka arus beban:
kA 25,8 - 0.53
3 9 , 0 270
250
o
=

=
r
I
Tegangan fasa-netral di ujung kirim:
kV 5.7 169.1 16.7 13.3 0.2 155
77,30 39,87 0,07 0,9943
o
o o
= + + + =
+ =
j j
r r s
I V V

Arus di ujung kirim:
kV 21,2 - 0.51
0.23 0.48 0.05 10 -2
o
-5
=
+ + = + = j j
r r s
I D V C I

Tegangan jatuh di saluran adalah
kV 53,7 21 16,9 12,4
0 88 , 155 7 , 5 1 , 169
o
o o
= + =
= =
j
r s
V V V

atau 12% 100
1 , 169
21
dari tegangan di ujung kirim.
Daya kompleks ujung kirim
MVA 27 260 2 , 21 51 , 0 7 , 5 1 , 169 3 3
o
= = =

s s s
S I V
Faktor daya ujung kirim 0.89 ) 27 cos(
o
=
Daya nyata ujung kirim MW 232 89 , 0 260 = =
s
P
Daya nyata ujung terima MW 225 9 . 0 250 = =
r
P
Susut yang terjadi di saluran adalah
3.1% % 100 =

=
s
r s
saluran
P
P P
P .
Saluran Transmisi

92 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.3. Perubahan Pembebanan
Dalam Contoh-2.8 di atas, pembebanan 250 MVA dengan faktor
daya 0,9 menyebabkan tegangan jatuh 12% dan susut daya 3,1%
sementara faktor daya di ujung kirim 0,89. Berikut ini kita akan
melihat situasi jika terjadi perubahan pembebanan
CONTOH-2.9: Dengan panjang tetap 100 km, saluran transmisi
pada Contoh-2.8 dibebani 200, 250, 300 MVA dengan faktor daya
tetap 0.9 lagging. Hitunglah tegangan jatuh di saluran, daya di ujung
kirim, faktor daya di ujung kirim, dan susut daya di saluran.
Solusi:
Perhitungan dilakukan dengan cara yang sama seperti pada
Contoh-2.8. Hasil perhitungan dimuatkan dalam tabel berikut.
Beban [MVA]
200 250 300
Panjang 100 km 100 km 100 km
r
V [kV]
155,880
o
155,880
o
155,880
o

r
I [kA]
0.43-25.8
o
0.53-25.8
o
0.64-25.8
o
s
V [kV]
166.24.7
o
169.15.7
o
172.16.7
o
s
I [kA]
0.40-20
o
0.51-21.2
o
0.62-22
o
V [kV]
16.754.3
o
2153.7
o
25.253.3
o
V [%] 10 12 15
S
s
[MVA] 203 260 320
f.d. 0.9 0.89 0.88
Susut [%] 2.5 3.1 3.75
Saluran Transmisi

93

2.4. Perubahan Panjang Saluran
Perubahan panjang saluran akan mengubah konstanta saluran. Kita
lihat contoh berikut.
CONTOH-2.10: Dengan beban tetap 250 MVA dan faktor daya 0,9
lagging, hitunglah tegangan jatuh di saluran, daya di ujung kirim,
faktor daya di ujung kirim, dan susut daya di saluran untuk panjang
saluran 100, 150, 200 km
Solusi:
Perhitungan dilakukan dengan cara yang sama seperti pada
Contoh-2.8. Hasil perhitungan dimuatkan dalam tabel berikut.

Panjang Saluran
100 150 200
Beban 250 MVA 250 MVA 250 MVA
A
0.99430.07
o
0.98720,17
o
0.97730.3
o
B []

39.86777.3
o
59.658 77.3
o
79.2877.4
o
C [mS]

0.291790.02
o
0.4366 90.06
o
0.580290.1
o
D

0.99430.07
o
0.98720.17
o
0.97730.3
o

r
V [kV]
155.880
o
155.880
o
155.880
o

r
I [kA]
0.53-25.8
o
0.53-25.8
o
0.53-25.8
o

s
V [kV]
169.15.7
o
175.68.3
o
181.910.8
o
s
I [kA]
0.51-21.2
o
0.50-18.7
o
0.49-16
o
V [kV]
2153.7
o
3154.9
o
4156.1
o
V [%] 12 18 22
S
s
[MVA] 260 264 267
f.d. 0.89 0.89 0.89
Susut [%] 3.1 4.5 5.8

Saluran Transmisi

94 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.5. Lossless Line
Konstanta ABCD saluran transmisi diberikan oleh (2.71.b) yaitu
A D B C
B A
= = =

=
= =
d
Z
Z
d
d Z d
c
c
c
cosh ;
1 sinh
sinh ; cosh
2

Untuk d tertentu, konstanta A dan D ditentukan oleh konstanta
propagasi yang didefinisikan pada (2.50)
ZY ZY = = atau
2

dimana Z impedansi seri per satuan panjang, dan Y admitansi per
satuan panjang. Konstanta propagasi ini merupakan besaran
kompleks yang dapat dituliskan sebagai
+ = j
disebut konstanta redaman, sedangkan disebut konstanta fasa.
Konstanta redaman muncul dari impedansi seri
s s s
jX R Z + = .
Jika resistansi seri R
s
= 0, konstanta redaman juga 0.
= + = j j 0 (2.72)
Keadaan ideal ini, dimana R
s
atau bernilai nol menjadikan saluran
transmisi lossless, tidak menyerap daya atau tidak terjadi susut
energi di saluran transmisi. Dalam situasi ini, konstanta A dan D
adalah
cos
2
cosh =
+
= = =
j j
e e
d D A (2.73)
Konstanta B menjadi
=

= =

sin
2
sinh j Z
e e
Z d Z
c
j j
c c
B (2.74)
Kondisi ideal ini akan kita gunakan dalam membahas surge
impedance loading di sub-bab 2.6.6.

Saluran Transmisi

95

2.6. Analisis Pembebanan Saluran Transmisi
Kenaikan tegangan jatuh serta kenaikan susut daya seiring dengan
peningkatan pembebanan sudah dapat kita duga. Pada pembebanan
yang kita hitung pada Contoh-2.8 sebesar 250 MVA, tegangan jatuh
sudah mencapai 12% dan susut daya sudah 3,1%. Padahal jika kita
mengingat kapasitas arus konduktor yang 900 A dan seandainya
saluran kita bebani sesuai dengan kemampuan arus konduktornya,
daya yang bisa diterima di ujung kirim adalah
MVA 420 3 9 , 0 270
3fasa
= =
r
S
Jika pembebanan sebesar ini kita paksakan, maka tegangan jatuh di
saluran akan mencapai 20% dan susut mencapai 5,2%.
2.6.1. Pembebanan Thermal
Sebagian energy yang melalui saluran transmisi terkonversi
menjadi panas di saluran sebanding dengan kuadrat arus.
saluran fasa saluran
R I P =
2
3
Batas thermal menentukan seberapa besar arus yang
diperkenankan mengalir pada konduktor agar tidak terjadi
pemanasan yang berlebihan di saluran. Kenaikan temperatur
konduktor akan menyebabkan pemuaian; jika temperature
meningkat maka andongan akan bertambah .
Dari relasi daya tiga-fasa 3
3
VI S
fasa
= kita dapat menghitung
berapa daya yang dapat dipasok melalui suatu saluran transmisi.
Saluran transmisi dengan tegangan fasa-fasa 150 kV misalnya,
setiap 10 amper arus berarti penyaluran daya sebesar
MVA 5 , 2 3 150 = ; pada transmisi 500 kV berarti penyaluran
daya 85 MVA setiap 10 ampere arus. Namun bukan daya ini saja
yang menjadi batas dalam menghitung pembebanan suatu saluran
transmisi. Beberapa hal akan kita lihat berikut ini.
Saluran Transmisi

96 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.6.2. Tegangan dan Arus di Ujung Kirim
Kita misalkan:
konstanta saluran: = A A dan = B B ,
tegangan ujung terima
o
0 =
r r
V V (sebagai referensi)
arus beban lagging
o
=
r r
I I ,
maka tegangan di ujung kirim adalah
) ( ) 0 ( + + = + =
r r r r s
BI AV I B V A V (2.75.a)
Sudut A dan B adalah konstanta yang ditentukan hanya
oleh parameter saluran, yang bernilai konstan selama saluran tidak
berubah. Oleh karena itu jika faktor daya beban dipertahankan
pada nilai tertentu ( konstan) fasor tegangan di ujung kirim
ditentukan hanya oleh arus beban I
r
. Gb.2.14. memperlihatkan
peristiwa tersebut.

Gb.2.14. Perubahan
r
I menjadi
r
I menyebabkan perubahan
s
V menjadi
s
V .
Jika kita misalkan =
c c
Z Z , maka persamaan ke-dua
(2.71.a) menjadi:
) ( ) 2 0 (

2
2
+ =
+ =
r
c
r
r r
c
s
AI
Z
BV
Z
I A V
B
I
(2.75.b)
Impedansi karakteristik Z
c
juga merupakan besaran konstan untuk
satu saluran transmisi tertentu. Jika faktor daya beban
dipertahankan konstan, beda susut fasa antara arus di ujung terima
dan di ujung kirim hanya ditentukan oleh parameter saluran.
r
V
r
I
r
V A
r
I B
s
V

Re
Im

r
I
s
V
Saluran Transmisi

97

2.6.3. Tegangan Jatuh Pada Saluran
Peningkatan arus I
r
berarti peningkatan pembebanan. Selain batas
thermal sebagaimana telah dikemukakan di atas, ada pembatasan
lain yang akan kita lihat berikut ini.
Jika adalah sudut antara
r s
V V dan maka dari relasi tegangan
r r s
I B V A V + = kita peroleh arus beban
) ( ) (

=
=
B
AV
B
V
r s
r s
r
B
V A
B
V
I
(2.76)
Daya per fasa di ujung terima adalah
) ( ) (
2
r 1fasa
=
=

B
AV
B
V V
S
r s r
r r
I V
(2.77)
Jika kita menghendaki tegangan jatuh tidak melebihi nilai tertentu,
kita dapat menetapkan tegangan di ujung terima dan di ujung
kirim. Jika hal ini dilakukan maka
s r
V V dan
2
r
V pada persamaan
daya (2.77) akan bernilai konstan. Persamaan ini akan
menunjukkan bahwa hanya sudut yang akan bervariasi apabila
terjadi perubahan permintaan daya di ujung terima. Sudut ini, ,
disebut sudut daya.
Diagram fasor perubahan sudut daya diperlihatkan pada Gb. 2.15.

Gb.2.15. Perubahan sudut .
r
V
r
I
r
V A
r
I B
s
V

Re
Im

Saluran Transmisi

98 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.6.4. Diagram Lingkaran
Daya tiga-fasa di ujung terima diperoleh dari (2.77) yaitu
) (
3
) (
3
2
3fasa
=
B
AV
B
V V
S
r s r
r
(2.78)
Jika V
r
dan V
s
dipertahankan konstan, hanya sudut yang dapat
bervariasi mengikuti perubahan daya. Karakteristik perubahan
daya akan mengikuti bentuk kurva lingkaran.
Kita amati bahwa sudut jauh lebih kecil dari sudut . Oleh
karena itu sudut fasa suku ke-dua (2.78) akan berada di sekitar
nilai . Selain itu jika tegangan jatuh di saluran tidak lebih dari
10%, nilai V
r
Vs

di suku pertama tidak pula jauh berbeda dengan
nilai
2
r
V di suku ke-dua. Pengamatan ini kita perlukan karena kita
akan menggambarkan diagram lingkaran tanpa skala, yang
diperlihatkan pada Gb.2.16.

Gb.2.16. Diagram lingkaran.
O
M
M
N


N
N
M

Re
Im
Saluran Transmisi

99

Penjelasan dari Gb.2.16 adalah sebagai berikut:
1. Pada bidang kompleks kita gambarkan fasor
) (
3
2

B
AV
r
yaitu OM kemudian kita gambar
) (
3
2

B
AV
r
yaitu M O .
2. Pada fasor M O kita tambahkan fasor ) (
3

B
V V
s r

yaitu fasor N M .
3. Sudut antara N M dengan sumbu mendatar adalah ) ( .
4. Pada perubahan sudut fasor N M akan bergerak
mengikuti lingkaran yang berpusat di M berjari-jari N M .
5. Sudut sendiri adalah sudut antara fasor N M dengan garis
M M yaitu garis sejajar fasor OM seandainya = 0.
6. Daya nyata maksimum terjadi jika 0 ) ( = yaitu pada
waktu N M menjadi N M
7. Daya reaktif maksimum terjadi jika
o
90 ) ( = .
2.6.5. Batas Stabilitas Keadaan Mantap
Dalam meninjau daya maksimum ini, kita akan
menyederhanakan relasi (2.77) dengan melihat saluran transmisi
pada tegangan pengenalnya yang kita sebut V, misalnya
transmisi 70 kV atau 150 kV, dan tidak membedakan V
r
atau V
s
.
Dengan pengertian ini maka (2.77) menjadi:
) (
3
) (
3
2 2
1fasa
=
B
AV
B
V
S
r
(2.79.a)
Daya tiga-fasa menjadi
) ( ) (
2 2
3fasa
=
B
AV
B
V
S
r
(2.79.b)
Pada nilai = 0, kita tetap mendapatkan daya kompleks, bukan
daya nyata. Daya nyata kita peroleh dengan mengambil bagian
nyata dari relasi daya ini, dan daya reaktif adalah bagian
imajinernya.
Saluran Transmisi

100 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


) cos( ) cos(
) ( ) ( Re
Re
2 2
2 2
3fasa 3fasa
=
(
(

=
=
B
AV
B
V
B
AV
B
V
S P
r r
(2.80.a)
dan daya reaktif Q adalah
) sin( ) sin(
) ( ) ( Im
Im
2 2
2 2
3fasa 3fasa
=
(
(

=
=
B
AV
B
V
B
AV
B
V
S Q
r r
(2.80.b)
Daya nyata pada relasi (2.80.a) akan mencapai nilai maksimum
pada waktu 0 ) ( = atau = . Daya nyata maksimum ini
merupakan daya maksimum yang bisa dicapai dalam tinjauan
keadaan mantap (steady state); besarnya adalah
[ ] ) cos( 1
2
mantap maks 3fasa
= A
B
V
P
r
(2.81)
Pada waktu = , yaitu pada waktu daya nyata mencapai nilai
maksimum mantap, daya reaktif adalah
) sin(
2
mantap maks 3fasa
=
B
AV
Q
r
(2.82)
Dan daya kompleks maksimum dalam keadaan mantap adalah
) cos( 2 1
2
2
2 2
mantap maks fasa 3
+ =
+ =
A A
B
V
Q P S
(2.83)
Ini merupakan daya kompleks tiga-fasa maksimum yang bisa
dibebankan pada suatu saluran transmisi. Jika konduktor yang
digunakan dalam saluran ini mempunyai kapasitas arus sebesar
I
c
, maka berdasarkan kapasitas arus ini daya yang bisa
dibebankan pada saluran transmisi adalah
Saluran Transmisi

101

3
saluran fasa 3 c
VI S = (2.84)
dan daya kompleks maksimum dalam keadaan mantap menjadi
batas pembebanan saluran transmisi dan menjadi batas stabilitas
keadaan mantap
saluran fasa 3 mantap maks 3fasa
S S <
CONTOH-2.11: Tinjaulah batas pembebanan saluran transmisi
pada Contoh-2.8. di mana saluran transmisi mencatu beban sebesar
100 MW dengan faktor daya 0.9 lagging pada tegangan 270 kV.

Sistem ini kita anggap memiliki tegangan penunjuk 275 kV.
Beban beroperasi pada 270 kV dan tegangan di ujung kirim telah
dihitung pada sebelumnya sebesar 279 kV. Konstanta A dan B
telah dihitung yaitu
o o
77,30 39,87 dan 0,07 0,9943 = = B A
Daya maksimum yang dapat dibebankan pada saluran ini menurut
(2.83) adalah
MVA 417
) 07 , 0 30 , 77 (cos( 09943 , 0 2 9943 , 0 1
87 , 39
275

) cos( 2 1
2
2
mantap maks 3fasa
=
+ =
+ = A A
B
V
S

Dengan kapasitas arus sebesar 900 A, maka pembebanan saluran
MVA 428 3 9 , 0 275 3
saluran fasa 3
= = =
c
VI S

saluran fasa 3 mantap maks 3fasa
S S <
Jadi 417 MVA merupakan batas pembebanan maksimum.
A 900 : arus Kapasitas
cm 073 , 1
cm 350 , 1
km / 088 . 0
r r r r
r r r r
R R R
C B A
C B A
C B A
= = = =
= = = =
= = =
m 2 , 4
A
C
m 2 , 4
m 4 , 8
B
Saluran Transmisi

102 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.6.6. Surge Impedance Loading (SIL)
SIL kita tinjau untuk suatu lossless line. Dalam kondisi ini
cos cosh = d dan = sin sinh j d
Jika selain lossless saluran, transmisi ini dibebani dengan beban
sebesar impedansi karakteristik Z
c
(beban dimodelkan sebagai satu
impedansi) sehingga tegangan di ujung terima (beban) menjadi
r c r
Z I V = atau
c
r
r
Z
V
I = (2.85)
maka tegangan di ujung kirim menjadi
( )
) (
) sin( ) cos(
) sin( ) cos(
) sinh( ) cosh(
d
d j d
d
Z
jZ d
d Z d
r
r
c
r
c r
r c r s
=
+ =
+ =
+ =
V
V
V
V
I V V
(2.86)
Persamaan (2.86) ini menunjukkan bahwa besar tegangan di ujung
kirim sama dengan besar tegangan di ujung terima, r s V V = ,
berapapun panjang saluran transmisi. Panjang saluran transmisi d
hanya menentukan perbedaan sudut fasa. Dengan kata lain, jika d
tertentu maka tegangan di seluruh posisi pada saluran transmisi
sama besar; persamaan (2.86) dapat kita tulis
x
r s
= V V (2.87)

Dalam kondisi ini daya yang tersalur ke beban disebut surge
impedance loading (SIL).
Gb.2.17. Saluran transmisi lossless, beban = Z
c
.
x
r
V
d
) (x V
Tegangan sepanjang
saluran
0
Saluran Transmisi

103

c c
r
Z
V
Z
V
SIL
2 2
3 == = (2.88)
dengan V adalah tegangan penunjuk saluran transmisi, misalnya
150 kV, 270 kV. Perhatikan bahwa dalam perhitungan ini beban
dimodelkan sebagai impedansi karakteristik, yaitu
Y Z Z
c
/ =
dengan Z dan Y adalah besaran per satuan panjang; dan Z tetap
mengandung resistansi, jX R Z + = .
Pembebanan sesungguhnya bisa lebih besar atau lebih kecil dari
SIL. Jika tegangan di ujung terima, V
r
, dipertahankan pada suatu
nilai tertentu, pembebanan yang lebih besar dari SIL
mengharuskan tegangan di ujung kirim lebih besar dari tegangan
ujung terima,
r s
V V > . Jika pembebanan lebih kecil dari SIL,
tegangan di ujung kirim lebih kecil dari tegangan di unjung terima
maka
r s
V V >

CONTOH-2.12: Dari saluran transmisi 50 Hz, 275kV, dengan
panjang saluran 100 km seperti pada Contoh-2.8, tentukan SIL.
Bandingkanlah dengan contoh-2.8 dimana saluran dibebani 250
MVA.

A 900 : arus Kapasitas
cm 073 , 1
cm 350 , 1
km / 088 . 0
r r r r
r r r r
R R R
C B A
C B A
C B A
= = = =
= = = =
= = =
m 2 , 4
A
C
m 2 , 4
m 4 , 8
B
Gb.2.18. Pembebanan >SIL atau < SIL.
SIL
x
r
V
d
) (x V
SIL >
SIL <
Saluran Transmisi

104 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Solusi:
Z
c
telah dihitung pada sebelumnya, yaitu
= 6,4 - 67 , 369
o
c
Z
MVA 205
67 , 369
275
2 2
= = =
c
Z
V
SIL
Jika saluran dibebani lebih besar dari SIL, maka tegangan di
ujung kirim akan lebih besar dari 275 kV. Hal ini terlihat pada
contoh-2.8, dimana pada pembebanan 250 MVA, tegangan
ujung kirim adalah
o
7 , 5 1 , 169 =
s
V yang berarti tegangan fasa-
fasa adalah
kV 293 3 1 , 169 = =
s
V
lebih besar dari tegangan penunjuk 275 kV.
2.7. Transien Pada Saluran Transmisi
2.7.1. Isolasi Saluran Transmisi
Udara adalah isolasi utama pada saluran udara. Namun konduktor
saluran transmisi harus ditopang oleh menara untuk mencapai
ketinggian tertentu terhadap permukaan tanah. Untuk mendukung
konduktor ini, diperlukan isolator yang memisahkan konduktor
dari menara.
Untuk memilih isolator, ada tiga hal utama yang perlu
dipertimbangkan, yaitu:
Tegangan kerja sistem itu sendiri.
Tegangan surja yang mungkin timbul oleh sambaran petir.
Tegangan surja yang timbul pada waktu penutupan/pembukaan
circuit breaker.
Tegangan yang paling menentukan adalah tegangan surja karena
kalau isolator mampu menahan tegangan uji surja tertentu,
biasanya ia juga mampu menahan tegangan kerja sistem. Untuk uji
surja, bentuk gelombang tegangan uji didefinisikan. Bentuk
Saluran Transmisi

105

gelombang surja dinyatakan sebagai T
1
T
2
dimana keduanya
dinyatakan dalam mikrodetik (s). Jika tegangan puncaknya
adalah V
0
maka T
1
adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai
puncak sedangkan T
2
adalah waktu untuk turun mencapai 0,5V
0
.
Bentuk gelombang surja, secara matematis dinyatakan
menggunakan fungsi eksponensial ganda
[ ]
1 2
/ /
1
) (

=
t t
e e V t v
(2.89.a)
dengan
) 443 , 1 / (
0 1
1
1
1 2
2
2
2 1
2 , 0
5
; 443 , 1
) 2 ln(
T T
e V V
T
T
T
T
=
= = = =
(2.89.b)
Pengujian isolator dilakukan pada suatu kondisi yang ditentukan,
dengan bentuk gelombang uji yang terdefinisi secara baik.
Beberapa pengertian perlu kita fahami, yaitu:
Critical Flashover Voltage (CFO): adalah tegangan maksimum
dimana probabilitas terjadinya flashover adalah 0,50.
Withstand Voltage: Tegangan maksimum 3 standar deviasi
dibawah CFO.
Basic (lightning) Impulse Insulation Level (BIL): Tegangan
puncak dimana kemungkinan terjadinya flashover adalah 0,01
pada surja uji 1,2/50 s.
Basic (switching) Surge Impulse Insulation Level (BSL):
Tegangan puncak dimana kemungkinan terjadinya flashover
adalah 0,01 pada surja uji 250/2500 s.
2.7.2. Surja Petir
Petir (lightning) sangat berbahaya bagi saluran transmisi.
Indonesia terkenal sebagai daerah yang kaya akan petir. Arus petir
yang pernah teramati di Jawa ini berkisar dari 7 sampai 130 A
dengan rata-rata 30 kA, tapi di daerah Sumatra bisa sampai di atas
200 kA.
Saluran transmisi dilengkapi dengan kawat tanah yang dipasang di
puncak menara dan berfungsi sebagai pelindung kawat fasa
Saluran Transmisi

106 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

terhadap sambaran petir. Berdasar pengalaman, kawat-kawat fasa
yang berada dalam sektor 60
o
di bawah kawat tanah ini aman
terhadap sambaran petir langsung. Walaupun kawat fasa
terlindungi, sambaran petir langsung ke kawat tanah dapat terjadi.
Pada sambaran ini akan mengalir arus sangat tinggi ke tanah
melalui badan menara. Aliran arus yang sangat tinggi ini dapat
mengakibatkan kenaikan tegangan (beberapa saat) yang melebihi
tegangan flshover isolator. Terjadilah apa yang disebut backflash
yaitu tembus udara antara kawat tanah dengan konduktor fasa.
Sekali hal ini terjadi, flashover ini akan dipertahamkan oleh
tegangan sistem; ia akan dapat dihilangkan dengan cara
mematikan sistem. Hal yang sama juga bisa terjadi jika kawat fasa
terkena sambaran langsung. Tegangan dan arus tinggi pada saluran
transmisi juga bisa terjadi jika ada sambaran petir tidak jauh dari
saluran; peristiwa ini disebut sambaran tak langsung.
Salah satu upaya yang paling sederhana untuk menghindari
kerusakan akibat sambaran petir adalah pemasangan rod gap. Rod
gap berupa suatu sela udara yang dibangun antara kawat fasa dan
menara dengan perantaraan dua batang logam. Sela udara dibuat
sedemikian rupa sehingga ia akan tembus bila terjadi kenaikan
tegangan yang tidak diinginkan. Kelemahan alat sederhana ini
adalah bahwa tembus yang terjadi tidak dapat hilang dengan
sendirinya; di samping itu terjadi pula kerusakan pada batang
logam.
Gangguan petir terhadap saluran transmisi bisa berupa sambaran
langsung seperti disinggung di atas, ataupun sambaran tidak
langsung. Sambaran tidak langsung akan menimbulkan tegangan
imbas pada saluran transmisi. Lonjakan tegangan di saluran
transmisi, baik oleh sambaran langsung maupun sambaran tak
langsung, yang berlangsung hanya beberapa saat, akan merambat
sepanjang saluran transmisi. Lonjakan tegangan ini merupakan
peristiwa transien.
2.7.3. Transien Pada Saluran Transmisi
Dalam pelajaran analisis rangkaian listrik kita telah mempelajari
gejala transien. Penutupan saklar S pada rangkaian RLC Gb.2.19.
memberikan persamaan orde dua pada
+
0 t sebagai berikut
Saluran Transmisi

107

in
v v
dt
di
L Ri = + +
Persamaan ini diperoleh dengan pandangan bahwa begitu saklar
ditutup, seluruh tegangan
v
in
terterapkan pada
seluruh rangkaian RLC
dan hukum Kirchhoff
dapat kita terapkan pada
rangkaian ini. Pandangan
ini tidak dapat kita
aplikasikan begitu saja
pada saluran transmisi.
Panjang saluran transmisi adalah ratusan kilometer. Jika kita
menutup circuit breaker di ujung kirim, tegangan tidak serta merta
terasakan di ujung terima; artinya tegangan masuk di ujung kirim
tidak segera mencakup seluruh rangkaian. Tegangan di ujung
kirim harus merambat dan memerlukan waktu untuk sampai ke
ujung terima, walaupun waktu yang diperlukan itu sangat pendek.
Oleh karena itu kita harus hati-hati menerapkan hukum Kirchhoff.
Kita akan melihat kasus
tegangan durasi terbatas
yang muncul pada t = 0 di
ujung kirim, sementara
saluran transmisi tidak
memiliki simpanan energi
sebelum t = 0. Tegangan
dengan durasi terbatas ini
ditunjukkan pada Gb.2.20.
Tegangan ini merupakan
fungsi waktu dan muncul pada t = 0 di ujung kirim; persamaannya
adalah
) ( ) ( t u t v v
in in
=
Di posisi lain di saluran transmisi, misalkan pada posisi x dari
ujung kirim, tegangan ini belum muncul; ia akan muncul beberapa
waktu kemudian, misalnya baru terasa pada t = T
x
. Jadi terdapat
pergeseran waktu kemunculan tegangan ini di posisi x. Tegangan
Gb.2.19. Rangkaian RLC seri.

+
in
v
i
v v
C
=
dt di L v
L
/ =
iR v
R
= S

Gb.2.20. Tegangan dengan durasi


terbatas diterapkan di ujung kirim.
t
v
) ( ) ( t u t v v
in
=
0
Saluran Transmisi

108 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

di posisi x ini ditunjukkan pada Gb.2.21 dengan persamaan yang
dapat kita tuliskan sebagai
) ( ) (
x x x
T t u t v v = (2.90)
Sesungguhnya bentuk gelombang tegangan di posisi x tidak sama
dengan bentuk tegangan di ujung kirim (x = 0) karena ada faktor
redaman di saluran transmisi. Namun untuk analisis gejala transien
ini, kita menganggap
saluran transmisi sebagai
lossless line). Dengan
anggapan ini maka kita
boleh menganggap pula
bentuk gelombang tidak
berubah sepanjang
saluran.
Dengan demikian kita
mengerti bahwa bentuk
gelombang yang merambat di saluran transmisi, yang disebut
gelombang berjalan (travelling wave), tidak hanya merupakan
fungsi t tetapi juga merupakan fungsi x. Bentuk gelombang ini
dapat kita tuliskan sebagai
) ( ) ( ) , (
x
t t u t v t x v = (2.91)
Kita tinjau satu segmen saluran transmisi sepanjang x yang
kecil, seperti ditunjukkan oleh Gb.2.22.

Gb.2.22. Situasi di satu segmen kecil saluran transmisi, x.
Perhatikan bahwa kita menghitung jarak x dari ujung kiri (ujung
kirim), bukan dari ujung kanan (ujung terima) karena kita sedang
) , ( t x v
) , ( ) , ( t x v t x v
) , ( ) , ( t x i t x i
) , ( t x i
x
x
xL
xC
Gb.2.21. Tegangan di posisi x.
t
v
) ( ) (
x x
T t u t v v =
0
x
T
Saluran Transmisi

109

membicarakan gelombang yang merambat dari ujung kirim, atau
lebih tepatnya dari ujung sumber masuknya gelombang tegangan.
Pada segmen kecil terdapat induktansi seri xL dan kapasitansi
xC dengan L dan C adalah induktansi dan kapasitansi per satuan
panjang, sedangkan resistansi diabaikan karena kita menganggap
saluran transmisi adalah lossless. Pada segmen kecil inilah kita
dapat menerapkan hukum Kirchhoff.
t
v
xC t x i
t
i
xL t x v

= ) , ( dan ) , ( (2.92)
Jika x cukup kecil maka kita dapatkan formulasi diferensial
t
v
C
x
t x i
t
i
L
x
t x v

) , (

) , (
(2.93)
Persamaan (2.93) kita tuliskan sebagai
) , ( ) , (
) , ( ) , (
t x v
t
C t x i
x
t x i
t
L t x v
x

(2.94)
Perhatikan persamaan pertama (2.94). Ruas kiri adalah turunan
parsial terhadap x dari ) , ( t x v , ruas kanan adalah turunan parsial
terhadap t dari ) , ( t x i . Transformasi Laplace ruas kiri
memberikan ) , ( s x
x
V

sedangkan transformasi Laplace ruas


kanan adalah { } ) 0 , ( ) , ( x i s x s L I dengan ) 0 , (x i adalah nilai awal
dari i; jika tidak ada simpanan energi awal pada saluran transmisi
maka nilai awal i adalah nol sehingga transformasi Laplace ruas
kanan menjadi ) , ( s x sLI . Argumen yang sama berlaku untuk
persamaan kedua dari (2.94). Dengan demikian maka transformasi
Laplace dari (2.94) adalah

) , ( ) , (
) , ( ) , (
s x sC s x
x
s x sL s x
x
V I
I V
=

(2.95)
Diferensiasi terhadap x persamaan (2.95) memberikan
Saluran Transmisi

110 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

) , ( ) , (
) , ( ) , (
2
2
2
2
s x
x
sC s x
x
s x
x
sL s x
x
V I
I V

(2.96)
Ruas kanan persamaan (2.96) ini memiliki nilai seperti
ditunjukkan oleh (2.95); jika kita substitusikan, akan kita peroleh
) , ( ) , (
) , ( ) , (
2
2
2
2
2
2
s x LC s s x
x
s x LC s s x
x
I I
V V
=

(2.97)
Pada persamaan (2.97) ini turunan kedua suatu fungsi sama
bentuknya dengan fungsi itu sendiri. Fungsi yang demikian adalah
fungsi eksponensial. Kita duga bentuk fungsi itu adalah
px
e s V s x ) ( ) , ( = V dan
qx
e s I s x ) ( ) , ( = I ; jika fungsi dugaan ini
kita masukkan ke (2.97) kita peroleh
0 ) ( ) (
0 ) ( ) (
2 2
2 2
=
=
qx qx
px px
e s LCI s e s I q
e s LCV s e s V p
(2.98)
Dari sini kita peroleh
LC s q LC s q
LC s p LC s p
= =
= =
0
0
2 2
2 2
(2.99)
Kita masukkan hasil ini ke fungsi dugaan, kita peroleh
x LC s
x LC s
e s I s x
e s V s x

=
=
) ( ) , (
) ( ) , (
I
V
(2.100)
Untuk menafsirkan persamaan di kawasan s ini, kita lakukan
transformasi balik guna melihat bentuk persamaannya di kawasan
t. Kita gunakan salah satu sifat transformasi Laplace yaitu
pergeseran di kawasan t,
L[ ] ) ( ) ( a t u a t f = ) (s e
as
F

(2.101)
Kita terapkan sifat ini pada (2.100), dan kita peroleh
Saluran Transmisi

111

) ( ) ( ) , (
) ( ) ( ) , (
x LC t u x LC t i t x i
x LC t u x LC t v t x v
=
=
(2.102.a)
Kita lihat persamaan pertama (2.102.a) dengan mengambil tanda
minus
) ( ) ( ) , ( x LC t u x LC t v t x v = (2.102.b)
Faktor ) ( x LC t u menunjukkan pergeseran waktu tibanya
gelombang di posisi x sedangkan bentuk gelombang itu sendiri
adalah
) ( ) , ( x LC t v t x v = (2.102.c)
Untuk suatu nilai konstan A t x v = ) , ( , ruas kanan juga harus
konstan. Jika t bertambah besar harus diimbangi dengan x yang
bertambah besar pula. Artinya jika waktu makin bertambah posisi
A makin menjauh dari ujung kirim; gelombang ini bergerak ke-
kanan yang disebut gelombang maju. Kita simpulkan pula bahwa
jika kita mengambil tanda plus, gelombang ini akan bergerak ke
kiri dan disebut gelombang mundur. Penafsiran yang sama berlaku
pula untuk persamaan kedua (2.102.a). Jika gelombang maju kita
beri indeks atas + dan gelombang mundur kita beri indeks atas
, maka bentuk persamaan (2.102.a) menjadi

) ( ) ( ) ( ) ( ) , (
) ( ) ( ) ( ) ( ) , (
x LC t u x LC t i x LC t u x LC t i t x i
x LC t u x LC t v x LC t u x LC t v t x v
+ + + =
+ + + =
+
+
(2.103)
Pada persamaan (2.102.c) , ) ( ) , ( x LC t v t x v = , x LC haruslah
berdimensi waktu, t. Karena x adalah jarak, maka LC / 1 haruslah
berdimensi jarak/waktu; dan inilah kecepatan perambatan
gelombang maju maupun gelombang mundur.
Persamaan (2.103) ini adalah persamaan di kawasan waktu.
Persamaan di kawasan s telah kita peroleh yang kita tulis ulang
menjadi
x LC s x LC s
x LC s x LC s
e s I e s I s x
e s V e s V s x
+ +
+ +
+ =
+ =
) ( ) ( ) , (
) ( ) ( ) , (
I
V
(2.104)
Saluran Transmisi

112 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2.7.4. Pernyataan I(x,s) dalam Tegangan
Pemahaman gejala transien akan lebih mudah difahami jika kita
melakukan analisis pada gelombang tegangan. Oleh karena itu kita
akan menyatakan arus pada persamaan (2.104) dalam tegangan.
Hal ini dapat kita lakukan melalui persamaan
) , ( ) , (
) , ( ) , (
s x sC s x
x
s x sL s x
x
V I
I V
=


Apabila ) , ( s x V dari persamaan pertama ini dimasukkan ke
persamaan pertama (2.104) kita dapatkan
x LC s x LC s
x LC s x LC s
e s V LC s e s V LC s
e s V e s V
x
s x
x
+ +
+ +
+ =
)
`

) ( ) (
) ( ) ( ) , ( V
(2.105.a)
Dengan (2.105.a) ini, persamaan pertama (2.104) menjadi
x LC s x LC s
e s V LC s e s V LC s
s x sL s x
x
+ +
+ =
=

) ( ) (
) , ( ) , ( I V
(2.105.b)
dan dari sini diperoleh
x LC s x LC s
x LC s x LC s
e s V
L
C
e s V
L
C
e s V
sL
LC s
e s V
sL
LC s
s x
+ +
+ +
=

=
) ( ) (
) ( ) ( ) , ( I
(2.105.c)
Dalam persamaan (2.105.c) ini, ruas kiri adalah pernyataan arus di
kawasan s sedangkan di ruas kanan merupakan L C / kali
pernyataan tegangan yang juga di kawasan s. Kita dapat berharap
bahwa L C / adalah admitansi atau C L L C / / / 1 = adalah
impedansi yang juga merupakan pernyataan impedansi di kawasan
s. Kita lihat hal ini sebagai berikut.
Saluran Transmisi

113

Pada lossless line impedansi seri adalah
L
jX Z = karena R = 0.
Impedansi ini adalah besaran kompleks dan bukan merupakan
fungsi waktu sehingga tidak dapat melakukan transformasi
Laplace. Namun kita mengetahui bahwa peubah s dalam analisis
di kawasan s adalah peubah kompleks. Kita dapat mendefinisikan
pernyataan impedansi di kawasan s yaitu sL = Z dengan s adalah
operator Laplace. Dengan argument yang sama, pernyatan
admitansi
C
jX Y = di kawasan s adalah sC = Y . Dengan
pengertian impedansi karakteristik yang sudah kita kenal,
impedansi karekteristik di kawasan s adalah
C
L
sC
sL
c
= = =
Y
Z
Z (2.106)
Dengan (2.106) ini maka arus pada (2.105.c) menjadi
c
x LC s
c
x LC s
e s V e s V
s x
Z Z
I
+ +
=
) ( ) (
) , ( (2.107)
Dengan (2.107) ini maka persamaan tegangan dan arus
c
x LC s
c
x LC s
x LC s x LC s
e s V e s V
s x
e s V e s V s x
Z Z
I
V
+ +
+ +
=
+ =
) ( ) (
) , (
) ( ) ( ) , (
(2.108)
Persamaan (2.108) inilah persamaan gelombang berjalan di
saluran transmisi dengan arus yang juga dinyatakan dalam
tegangan.
2.7.5. Situasi di Ujung Saluran
Kita lihat sekarang situasi di ujung saluran (ujung terima). Di
posisi ini, x = d. Jadi persamaan tegangan dan arus (2.108)
menjadi
c
d LC s
c
d LC s
d LC s d LC s
e s V e s V
s d
e s V e s V s d
Z Z
I
V
+ +
+ +
=
+ =
) ( ) (
) , (
) ( ) ( ) , (
(2.109)
Saluran Transmisi

114 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Rasio antara tegangan dan arus di ujung terima adalah impedansi
di ujung terima. Kita bagi persamaan pertama pada (2.109) dengan
persamaan yang kedua untuk mendapatkan impedansi di ujung
terima Z
r
.
d LC s d LC s
d LC s d LC s
c
c
d LC s
c
d LC s
d LC s d LC s
r
e s V e s V
e s V e s V
e s V e s V
e s V e s V
s d
s d
+ +
+ +
+ +
+ +

+
=

+
= =
) ( ) (
) ( ) (

) ( ) (
) ( ) (
) , (
) , (
Z
Z Z
I
V
Z
(2.110.a)
atau
)
`

+ =
)
`


+ +
+ +
x LC s x LC s
c
x LC s x LC s
r
e s V e s V
e s V e s V
) ( ) (
) ( ) (
Z
Z
(2.110.b)
atau
x LC s
r c
x LC s
c r
e s V e s V
+ +
+ = ) ( ) ( ) ( ) ( Z Z Z Z (2.110.c)
sehingga
x LC s
r c
c r x LC s
e s V e s V
+ +
+

= ) (
) (
) (
) (
Z Z
Z Z
(2.110.d)
Persamaan (2.23.d) memperlihatkan bahwa di ujung saluran
terdapat gelombang mundur yang merambat balik menuju ujung
kirim. Inilah gelombang pantulan yang terjadi di ujung saluran.
Besar gelombang pantulan ini adalah suatu faktor k
r
dikalikan
besar gelombang maju. Faktor k
r
itu adalah
) (
) (
r c
c r
r
k
Z Z
Z Z
+

=
(2.110.e)
Saluran Transmisi

115

2.7.6. Superposisi Gelombang Maju Dan Gelombang Pantulan
Dalam perjalanannya menuju ujung kirim, gelombang pantulan
akan ter-superposisi dengan gelombang maju yang masih akan
datang dari ujung kirim. Jadi persamaan pertama (2.18) yang
memberikan persamaan tegangan sebagai fungsi x di kawasan s
menjadi
x LC s
r c
c r x LC s
x LC s x LC s
e s V e s V
e s V e s V s x
+ +
+ +
+

+ =
+ =
) (
) (
) (
) (
) ( ) ( ) , (
Z Z
Z Z
V
(2.111)
Persamaan (2.111) ini menunjukkan bahwa gelombang tegangan
di setiap posisi saluran transmisi merupakan superposisi dari
gelombang maju dan gelombang pantulan. Besar gelombang
pantulan sama dengan besar gelombang maju dengan faktor skala
k
) (
) (
r c
c r
r
k
Z Z
Z Z
+

=

yang disebut koefisien pantulan.
Koefisien pantulan ini bisa bernilai nol, positif, atau negatif. Jika k
= 0, yaitu jika
c r
Z Z = , tidak terjadi pantulan di ujung saluran;
hanya ada gelombang maju. Seandainya gelombang maju ini
adalah gelombang sinusoidal, yaitu gelombang yang ter-injeksi ke
saluran transmisi pada waktu penutupan circuit breaker di ujung
kirim, maka hanya gelombang inilah yang ada di semua posisi
pada saluran transmisi. Hal ini berarti bahwa tegangan di semua
posisi sama besar; inilah situasi yang kita ulas pada surge
impedance loading di sub-bab-2.6.6
2.7.7 Pantulan di Ujung Kirim
Gelombng patulan di ujung terima, setibanya di ujung kirim akan
dipantulkan oleh ujung kirim karena ada perbedaan impedansi
karakteristirk saluran dengan impedansi sumber. Gelombang yang
dipantulkan di ujung kirim akanmerambat ke ujung terima dan
sesampai di ujung terima akan dipantulkan lagi menuju ujung
Saluran Transmisi

116 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

kirim. Di saluran akan terjadi superposisi gelombang gelombang
pantul ini. Koefisien pantulan di ujung kirim adalah

) (
) (
s c
c s
s
k
Z Z
Z Z
+

=
(2.112)
Z
s
adalah impedansi ujung kirim.














Transformator
117

BAB 3 Transformator
3.1. Transformator Satu-fasa
Transformator banyak digunakan dalam teknik elektro. Dalam
sistem komunikasi, transformator digunakan pada rentang frekuensi
audio sampai frekuensi radio dan video, untuk berbagai keperluan.
Kita mengenal misalnya input transformers, interstage transformers,
output transformers pada rangkaian radio dan televisi.
Transformator juga dimanfaatkan dalam sistem komunikasi untuk
penyesuaian impedansi agar tercapai transfer daya maksimum.
Dalam penyaluran daya listrik banyak digunakan transformator
berkapasitas besar dan juga bertegangan tinggi. Dengan
transformator tegangan tinggi ini penyaluran daya listrik dapat
dilakukan dalam jarak jauh dan susut daya pada jaringan dapat
ditekan. Di jaringan distribusi listrik banyak digunakan
transformator penurun tegangan, dari tegangan menengah 20 kV
menjadi 380 V untuk distribusi ke rumah-rumah dan kantor-kantor
pada tegangan 220 V. Transformator daya tersebut pada umumnya
merupakan transformator tiga-fasa. Dalam pembahasan ini kita akan
melihat transformator satu-fasa lebih dulu.
Kita telah mempelajari transformator ideal pada waktu membahas
rangkaian listrik. Berikut ini kita akan melihat transformator tidak
ideal sebagai piranti pemroses daya. Akan tetapi kita hanya akan
membahas hal-hal yang fundamental saja, karena transformator akan
dipelajari secara lebih mendalam pada pelajaran mengenai mesin-
mesin listrik.
Mempelajari perilaku transformator juga merupakan langkah awal
untuk mempelajari konversi energi elektromekanik. Walaupun
konversi energi elektromekanik membahas konversi energi antara
sistem mekanik dan sistem listrik, sedangkan transformator
merupakan piranti konversi energi listrik ke listrik, akan tetapi
kopling antar sistem dalam kedua hal tersebut pada dasarnya sama
yaitu kopling magnetik
Transformator

118 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

3.1.1. Teori Operasi Transformator
3.1.1.1. Transformator Dua Belitan Tak Berbeban.
Diagram transformator
dua belitan tak
berbeban diperlihatkan
pada Gb.3.1. Belitan
pertama kita sebut
belitan primer dan yang
ke-dua kita sebut
belitan sekunder.
Jika fluksi di rangkaian
magnetiknya adalah t
maks
= sin , maka fluksi ini akan
menginduksikan tegangan di belitan primer sebesar
t N
dt
d
N e
maks
=

= cos
1 1 1
(3.1)
atau dalam bentuk fasor :
efektif nilai ; 0
2
0
1
o 1 o
1 1
=

= = E
N
E
maks
E
(3.2)
Karena = 2 f maka:
maks maks
N f
N f
E =

=
1
1
1
44 . 4
2
2
(3.3)
Di belitan sekunder, fluksi tersebut menginduksikan tegangan
sebesar
maks
N f E =
2 2
44 . 4
(3.4)
Dari (3.3) dan (3.4) kita peroleh:
masi transfor rasio
2
1
2
1
= = a
N
N
E
E
(3.5)
s
V
+


N
2
N
1
Gb.3.1. Transformator dua belitan.


+



1
E
2
E
f
I
Transformator

119

Perhatikan bahwa
1
E

sefasa dengan
2
E karena dibangkitkan
oleh fluksi yang sama. Karena
1
E

mendahului dengan sudut 90
o

maka
2
E

juga mendahului dengan sudut 90
o
. Jika rasio
transformasi a = 1, dan resistansi belitan primer adalah R
1
,
diagram fasor tegangan dan arus adalah seperti ditunjukkan oleh
Gb.3.2.a. Arus
1
I adalah arus magnetisasi, yang dapat dipandang
sebagai terdiri dari dua komponen yaitu

I

(90
o
dibelakang
1
E )
yang menimbulkan dan
c
I (sefasa dengan
1
E ) guna mengatasi
rugi inti. Resistansi belitan R
1
dalam diagram fasor ini muncul
sebagai tegangan jatuh
1
R
f
I .

3.1.1.2. Fluksi Bocor
Fluksi di belitan
primer
transformator
dibangkitkan oleh
arus yang mengalir
di belitan primer.
Dalam kenyataan,
tidak semua fluksi
magnit yang
dibangkitkan
tersebut akan
melingkupi baik belitan primer maupun sekunder. Selisih antara
fluksi yang dibangkitkan oleh belitan primer dengan fluksi
bersama (yaitu fluksi yang melingkupi kedua belitan) disebut
fluksi bocor. Fluksi bocor ini hanya melingkupi belitan primer saja
1
V
Gb.3.2. Diagram fasor transformator tak berbeban

a). tak ada fluksi bocor


b). ada fluksi bocor

l
f
I
f
I

I
I
2 1
E E =
2 1
E E =
1
R
f
I
1
R
f
I
l f
X jI
c
I
c
I
1
V


Gb.3.3. Transformator tak berbeban.
Fluksi bocor belitan primer.

l1


s
V
f
I
2
E
Transformator

120 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

dan tidak seluruhnya berada dalam inti transformator tetapi juga
melalui udara. (Lihat Gb.3.3). Oleh karena itu reluktansi yang
dihadapi oleh fluksi bocor ini praktis adalah reluktansi udara.
Dengan demikian fluksi bocor tidak mengalami gejala histerisis
sehingga fluksi ini sefasa dengan arus magnetisasi. Hal ini
ditunjukkan dalam diagram fasor Gb.16.2.b.
Fluksi bocor, secara tersendiri akan membangkitkan tegangan
induksi di belitan primer (seperti halnya menginduksikan
1
E ).
Tegangan induksi ini 90
o
mendahului
l1
(seperti halnya
1
E 90
o

mendahului ) dan dapat dinyatakan sebagai suatu tegangan jatuh
ekivalen,
1 l
E , di rangkaian primer dan dinyatakan sebagai
1 1
X jI
f l
= E (3.6)
dengan X
1
disebut reaktansi bocor rangkaian primer. Hubungan
tegangan dan arus di rangkaian primer menjadi
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
X j R R
l
I I E E I E V + + = + + = (3.7)
Diagram fasor dengan memperhitungkan adanya fluksi bocor ini
adalah Gb.3.2.b.
3.1.1.3. Transformator Berbeban.
Rangkaian
transformator
berbeban resistif,
R
B
, diperlihatkan
oleh Gb.3.4.
Tegangan induksi
2
E (yang telah
timbul dalam
keadaan tranformator tidak berbeban) akan menjadi sumber di
rangkaian sekunder dan memberikan arus sekunder
2
I . Arus
2
I
ini membangkitkan fluksi yang berlawanan arah dengan fluksi
bersama dan sebagian akan bocor (kita sebut fluksi bocor
sekunder).
Gb.3.4. Transformator berbeban.



l1


1
I
2
I

l2
R
B
s
V
2
V
Transformator

121

Fluksi bocor ini,
l2
, sefasa dengan
2
I dan menginduksikan
tegangan
2 l
E di belitan sekunder yang 90
o
mendahului
l2
.
Seperti halnya untuk belitan primer, tegangan
2 l
E ini diganti
dengan suatu besaran ekivalen yaitu tegangan jatuh ekivalen pada
reaktansi bocor sekunder X
2
di rangkaian sekunder. Jika resistansi
belitan sekunder adalah R
2
, maka untuk rangkaian sekunder kita
peroleh hubungan
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
X j R R
l
I I V E I V E + + = + + = (3.8)
dengan
2
V adalah tegangan pada beban R
B
.
Sesuai dengan hukum Lenz, arus sekunder membangkitkan fluksi
yang melawan fluksi bersama. Oleh karena itu fluksi bersama akan
cenderung mengecil. Hal ini akan menyebabkan tegangan induksi
di belitan primer juga cenderung mengecil. Akan tetapi karena
belitan primer terhubung ke sumber yang tegangannya tak
berubah, maka arus primer akan naik. Jadi arus primer yang dalam
keadaan transformator tidak berbeban hanyalah arus magnetisasi
f
I , bertambah menjadi
1
I setelah transformator berbeban.
Pertambahan arus ini haruslah sedemikian rupa sehingga fluksi
bersama dipertahankan dan
1
E juga tetap seperti semula.
Dengan demikian maka persamaan rangkaian primer (3.7) tetap
terpenuhi.
Pertambahan arus primer dari
f
I

menjadi
1
I

adalah untuk
mengimbangi fluksi lawan yang dibangkitkan oleh
2
I sehingga
dipertahankan. Jadi haruslah
( ) ( ) 0
2 2 1 1
= I I I N N
f
(3.9)
Pertambahan arus primer ) (
1 f
I I disebut arus penyeimbang
yang akan mempertahankan . Makin besar arus sekunder, makin
besar pula arus penyeimbang yang diperlukan yang berarti makin
besar pula arus primer. Dengan cara inilah terjadinya transfer daya
dari primer ke sekunder. Dari (3.9) kita peroleh arus magnetisasi
( )
a N
N
f
2
1 2
1
2
1
I
I I I I = = (3.10)
Transformator

122 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

3.1.2. Diagram Fasor Transformator
Dengan persamaan (3.7) dan (3.8) kita dapat menggambarkan
secara lengkap diagram fasor dari suatu transformator.
Penggambaran kita mulai dari belitan sekunder dengan langkah-
langkah:
Gambarkan
2
V dan
2
I . Untuk beban resistif,
2
I sefasa dengan
2
V . Selain itu kita dapat gambarkan a /
2 2
I I = yaitu besarnya
arus sekunder jika dilihat dari sisi primer.
Dari
2
V dan
2
I kita dapat menggambarkan
2
E

sesuai dengan
persamaan (3.8) yaitu
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
X j R R
l
I I V E I V E + + = + + =
Sampai di sini kita telah menggambarkan diagram fasor rangkaian
sekunder.
Untuk rangkaian primer, karena
1
E sefasa dengan
2
E maka
1
E dapat kita gambarkan yang besarnya
2 1
E E a = .
Untuk menggambarkan arus magnetisasi
f
I kita gambarkan
lebih dulu yang tertinggal 90
o
dari
1
E . Kemudian kita
gambarkan
f
I yang mendahului dengan sudut histerisis .
Selanjutnya arus belitan primer adalah
'
2 1
I I I + =
f
.
Diagram fasor untuk rangkaian primer dapat kita lengkapi
sesuai dengan persamaan (3.7), yaitu
X j R R
l 1 1 1 1 1 1 1 1 1
I I E E I E V + + = + + =
Dengan demikian lengkaplah diagram fasor transformator
berbeban. Gb.3.5. adalah contoh diagram fasor yang dimaksud,
yang dibuat dengan mengambil rasio transformasi N
1
/N
2
= a > 1
Transformator

123


CONTOH-3.1 : Belitan primer suatu transformator yang dibuat
untuk tegangan 220 V(rms) mempunyai jumlah lilitan 160. Belitan
ini dilengkapi dengan titik tengah (center tap). a). Berapa persenkah
besar fluksi maksimum akan berkurang jika tegangan yang kita
terapkan pada belitan primer adalah 110 V(rms)? b). Berapa
persenkah pengurangan tersebut jika kita menerapkan tegangan 55
V (rms) pada setengah belitan primer? c). Berapa persenkah
pengurangan tersebut jika kita menerapkan tegangan 110 V (rms)
pada setengah belitan primer? d). Jika jumlah lilitan di belitan
sekunder adalah 40, bagaimanakah tegangan sekunder dalam kasus-
kasus tersebut di atas?
Solusi :
a). Dengan mengabaikan resistansi belitan, fluksi maksimum
m

adalah

=
160
2 220 2 2
1
1
1
1
N
V
N
E
m

Jika tegangan 110 V diterapkan pada belitan primer, maka

=
160
2 110 2
1
1
N
V
m

Penurunan fluksi m aksimum adalah 50 %,
m
=
m
/ 2.
b). Jika tegangan 55 V diterapkan pada setengah belitan primer,


=
160
2 110
80
2 55
) 2 / 1 (
2
1
1
N
V
m



Gb.3.5. Diagram fasor lengkap,
transformator berbeban resistif . a > 1
f
I
1
V
1 1
X jI
1 1
R I
1
E
2 2
X jI
2
E
2 2
R I
2
V
2
I
'
2
I
1
I
Transformator

124 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Penurunan fluksi maksimum adalah 50 %,
m
=
m
/ 2.
c). Jika tegangan 110 V diterapkan pada setengah belitan maka


=
160
2 220
80
2 110
) 2 / 1 (
2
1
1
N
V
m

Tidak terjadi penurunan fluksi maksimum,
m
=
m
.
d). Dengan N
1
/N
2
= 160/40 = 4 maka jika tegangan primer 220 V,
tegangan sekunder adalah 55 V. Jika tegangan primer 110 V,
tegangan sekundernya 229.5 V. Jika tegangan 55 V diterapkan
pada setengah belitan primer, tegangan sekunder adalah 27.5 V.
Jika tegangan 110 V diterapkan pada setengah belitan primer,
tegangan sekunder adalah 55 V.
CONTOH-3.2 : Sebuah transformator satu-fasa mempunyai belitan
primer dengan 400 lilitan dan belitan sekunder 1000 lilitan. Luas
penampang inti efektif adalah 60 cm
2
. Jika belitan primer
dihubungkan ke sumber 500 V (rms) yang frekuensinya 50 Hz,
tentukanlah kerapatan fluksi maksimum dalam inti serta tegangan di
belitan sekunder.
Solusi :
Dengan mengabaikan resistansi belitan dan reaktansi bocor, maka
2
1
1
weber/m 94 . 0
006 . 0
00563 . 0
: maksimum fluksi Kerapatan
weber 00563 . 0
50 2 400
2 500
500
2
= =
=

= =

=
m
m
m
B
N
V

Tegangan belitan sekunder adalah V 1250 500
400
1000
2
= = V
CONTOH-3.3 : Dari sebuah transformator satu-fasa diinginkan
suatu perbandingan tegangan primer / sekunder dalam keadaan tidak
berbeban 6000/250 V. Jika frekuensi kerja adalah 50 Hz dan fluksi
dalam inti transformator dibatasi sekitar 0.06 weber, tentukan
jumlah lilitan primer dan sekunder.
Transformator

125

Solusi :
Pembatasan fluksi di sini adalah fluksi maksimum. Dengan
mengabaikan resistansi belitan dan reaktansi bocor,
75 . 18 450
6000
250
450
06 . 0 50 2
2 6000
6000
2
2
1
1
1
= =
=

= =

=
N
N
N
V
m

Pembulatan jumlah lilitan harus dilakukan. Dengan melakukan
pembulatan ke atas, batas fluksi maksimum
m
tidak akan
terlampaui. Jadi dapat kita tetapkan
lilitan 480 20
250
6000
lilitan 20
1 2
= = = N N
3.1.3. Rangkaian Ekivalen Transformator
Transformator adalah piranti listrik. Dalam analisis, piranti-piranti
listrik biasanya dimodelkan dengan suatu rangkaian listrik
ekivalen yang sesuai. Secara umum, rangkaian ekivalen hanyalah
penafsiran secara rangkaian listrik dari suatu persamaan
matematik yang menggambarkan perilaku suatu piranti. Untuk
transformator, ada tiga persamaan yang menggambarkan
perilakunya, yaitu persamaan (3.7), (3.8), dan (3.10), yang kita
tulis lagi sebagai satu set persamaan (3.11).
a N
N
X j R X j R
f
2
2
1
2 '
2
'
2 1
2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1
dengan

; ;
I
I I
I I I
I I V E I I E V
= =
+ =
+ + = + + =
(3.11)
Dengan hubungan E
1
= aE
2
dan I
2
= I
2
/a maka persamaan ke-
dua dari (3.11) dapat ditulis sebagai
; ; dengan
) ( ) (

2
2
2 2
2
2 2 2
2 2 2 2 2 2
2
2 2
2
2 2 1
2 2 2 2 2
1
X a X R a R aV V
X j R X a j R a a
X ja R a
a
= = =
+ + = + + =
+ + =
I I V I I V E
I I V
E
(3.12)
Transformator

126 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dengan (3.12) maka (3.11) menjadi
2 1
2 2 2 2 2 1
1 1 1 1 1 1
;
;
I I I
I I V E
I I E V
+ =
+ + =
+ + =
f
X j R a
X j R
(3.13)
'
2
I , R
2
, dan X
2
adalah arus, resistansi, dan reaktansi sekunder
yang dilihat oleh sisi primer. Dari persamaan (3.13) dibangunlah
rangkaian ekivalen transformator seperti Gb.3.6. di bawah ini.

Gb.3.6. Rangkaian ekivalen diturunkan dari persamaan (3.13).

Arus magnetisasi dapat dipandang sebagai terdiri dari dua
komponen, yaitu I
c
dan I

. I
c
sefasa dengan E
1
sedangkan I

90
o

dibelakang E
1
. Dengan demikian maka impedansi Z pada
rangkaian ekivalen Gb.3.6. dapat dinyatakan sebagai hubungan
paralel antara suatu resistansi R
c
dan impedansi induktif jX


sehingga rangkaian ekivalen transformator secara lebih detil
menjadi seperti Gb.3.7.

Gb.3.7. Rangkaian ekivalen transformator lebih detil.

Rangkaian Ekivalen Yang Disederhanakan. Pada transformator
yang digunakan pada tegangan bolak-balik yang konstan dengan
frekuensi yang konstan pula (seperti misalnya transformator pada
sistem tenaga listrik), besarnya arus magnetisasi hanya sekitar 2
sampai 5 persen dari arus beban penuh transformator. Keadaan ini
bisa dicapai karena inti transformator dibangun dari material
R
2


B
jX
2 R
1
jX
1
jX
c
R
c
2 2
V V a =
1
I
'
2
I
f
I

I
1
E
1
V
c
I
Z
R
2


B
jX
2 R
1
jX
1
E
1
1
I
'
2
I
2
'
2
V V a = f
I
1
V
Transformator

127

dengan permeabilitas magnetik yang tinggi. Oleh karena itu, jika I
f

diabaikan terhadap I
1
kesalahan yang terjadi dapat dianggap cukup
kecil. Pengabaian ini akan membuat rangkaian ekivalen menjadi
lebih sederhana seperti terlihat pada Gb.3.8.

3.1.4. Impedansi Masukan Transformator
Resistansi beban B adalah R
B
= V
2
/I
2
. Dilihat dari sisi primer
resistansi tersebut menjadi
B B
R a
I
V
a
a I
aV
I
V
R
2
2
2 2
2
2
2
2
/
= = =

= (3.14)
Dengan melihat rangkaian ekivalen yang disederhanakan
Gb.16.10, impedansi masukan adalah
e B e in
jX R a R Z + + = =
2
1
1
I
V
(3.15)
3.1.5. Penentuan Parameter Transformator
Dari rangkaian ekivalen lengkap Gb.3.7. terlihat ada enam
parameter transformator yang harus ditentukan, R
1
, X
1
, R
2
, X
2
,
R
c
, dan X

. Resistansi belitan primer dan sekunder dapat diukur


langsung menggunakan metoda jembatan. Untuk menentukan
empat parameter yang lain kita memerlukan metoda khusus seperti
diuraikan berikut ini.
'
2
I
Gb.3.8. Rangkaian ekivalen transformator
disederhanakan dan diagram fasornya.



B
jX
e
=j(X
1
+ X
2
)
R
e
= R
1
+R
2
'
2 1
I I =
1
V 2
V
1
V
2
V
e
X j
'
2
I
Transformator

128 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

3.1.5.1. Uji Tak Berbeban ( Uji Beban Nol )
Uji beban nol ini biasanya dilakukan pada sisi tegangan rendah
karena catu tegangan rendah maupun alat-alat ukur tegangan
rendah lebih mudah diperoleh. Sisi tegangan rendah menjadi sisi
masukan yang dihubungkan ke sumber tegangan sedangkan sisi
tegangan tinggi terbuka. Pada belitan tegangan rendah dilakukan
pengukuran tegangan masukan V
r
, arus masukan I
r
, dan daya
(aktif) masukan P
r
. Karena sisi primer terbuka, I
r
adalah arus
magnetisasi yang cukup kecil sehingga kita dapat melakukan dua
pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah mengabaikan
tegangan jatuh di reaktansi bocor sehingga V
r
sama dengan
tegangan induksi E
r
. Pendekatan yang kedua adalah mengabaikan
kehilangan daya di resistansi belitan sehingga P
r
menunjukkan
kehilangan daya pada R
cr
(R
c
dilihat dari sisi tegangan rendah)
saja.

= =

= =
= =

=
= = =

sin
;
cos

sin ; cos
sin
cos ; : masukan kompleks Daya
2
2
r
r
r
r
r
r
r
cr
r
cr
r r r cr
r
r r
r r
r
r
r
r r r
I
V
I
V
X
I
V
I
V
R
I I I I
S
P S
I V
P
S
P
I V S
(3.16)
3.1.5.2. Uji Hubung Singkat
Uji hubung singkat dilakukan di sisi tegangan tinggi dengan si`si
tegangan rendah dihubung-singkat. Sisi tegangan tinggi menjadi
sisi masukan yang dihubungkan dengan sumber tegangan.
Tegangan masukan harus cukup rendah agar arus di sisi tegangan
rendah masih dalam batas nominalnya. Pengukuran di belitan
tegangan tinggi dilakukan seperti halnya pada uji beban nol, yaitu
tegangan masukan V
t
, arus masukan I
t
, dan daya (aktif) masukan
P
t
. Tegangan masukan yang dibuat kecil mengakibatkan rugi-rugi
inti menjadi kecil sehingga kita dapat membuat pendekatan
dengan mengabaikan rugi-rugi inti. Dengan demikian kita dapat
menggunakan rangkaian ekivalen yang disederhanakan Gb.3.9.
Daya P
t
dapat dianggap sebagai daya untuk mengatasi rugi-rugi
Transformator

129

tembaga saja, yaitu rugi-rugi pada resistansi ekivalen yang dilihat
dari sisi tegangan tinggi R
et
.
2 2
2
2

;
et et e
t
t
et et t t
t
t
et et t t
R Z X
I
V
Z Z I V
I
P
R R I P
= = =
= =
(3.17)
Dalam perhitungan ini kita memperoleh nilai R
et
= R
1
+ R
2
. Nilai
resistansi masing-masing belitan dapat diperoleh dengan
pengukuran terpisah sebagaimana telah disebutkan di atas.
Untuk reaktansi, kita memperoleh nilai X
et
= X
1
+ X
2
. Kita tidak
dapat memperoleh informasi untuk menentukan reaktansi masing-
masing belitan. Jika sekiranya nilai reaktansi masing-masing
belitan diperlukan kita dapat mengambil asumsi bahwa X
1
= X
2
.
Kondisi ini sesungguhnya benar adanya jika transformator
dirancang dengan baik.
CONTOH-3.5 : Pada sebuah transformator 25 KVA, 2400/240 volt,
50 Hz, dilakukan uji beban nol dan uji hubung singkat.
Uji beban nol pada sisi tegangan rendah memberikan hasil
V
r
= 240 volt, I
r
= 1.6 amper, P
r
= 114 watt
Uji hubung singkat yang dilakukan dengan menghubung-singkat
belitan tegangan rendah memberikan hasil pengukuran di sisi
tegangan tinggi
V
t
= 55 volt, I
t
= 10.4 amper, P
t
= 360 watt
a). Tentukanlah parameter transformator dilihat dari sisi tegangan
tinggi. b). Hitung rugi-rugi inti dan rugi-rugi tembaga pada beban
penuh.
Solusi :
a). Uji beban nol dilakukan di sisi tegangan rendah. Jadi nilai R
c

dan X

yang akan diperoleh dari hasil uji ini adalah dilihat dari
tegangan rendah, kita sebut R
cr
dan X
r
.
=

= = =

= =
=


= =

= =

158
95 . 0 6 . 1
240
; 500
3 . 0 6 . 1
240
cos
240
95 . 0
6 . 1 240
114 ) 6 . 1 240 (
sin ; 3 . 0
6 . 1 240
114
cos
2 2
I
V
X
I I
V
R
VI
P
r
c
cr

Transformator

130 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Jika dilihat dari sisi tegangan tinggi :
= =
= |

\
|
= =

k 8 . 15
k 50 500
240
2400
2
2
2
r t
cr ct
X a X
R a R

Resistansi ekivalen dan reaktansi bocor ekivalen diperoleh dari uji
hubung singkat. Uji hubung singkat yang dilakukan di sisi
tegangan tinggi ini memberikan
= = = = = =
= = =
1 . 4 33 . 3 29 . 5 29 . 5
4 . 10
55
; 33 . 3
(10.4)
360
2 2
2 2
et
t
t
et
t
t
et
X
I
V
Z
I
P
R

b). Pada pembebanan penuh fluksi bersama dalam inti
transformator hampir sama dengan fluksi dalam keadaan beban
nol. Jadi rugi-rugi inti pada pembebanan penuh adalah 114 Watt.
Rugi-rugi tembaga tergantung dari besar arus. Besar arus primer
pada beban penuh adalah sama dengan arus sisi tegangan tinggi
pada percobaan hubung singkat, yaitu
W 360 33 . 3 ) 4 . 10 ( A 4 . 10
2400
25000
2 2
1
1
1
= = = = = =
et cu
R I P
V
S
I
Karena pada uji hubung singkat arus sisi tegangan tinggi dibuat
sama dengan arus beban penuh, maka rugi-rugi tembaga adalah

penunjukan wattmeter pada uji hubung singkat.
3.1.6. Efisiensi dan Regulasi Tegangan
Efisiensi suatu piranti didefinisikan sebagai
[watt] masukan daya
[watt] keluaran daya
= (3.18)
Karena daya keluaran sama dengan daya masukan dikurangi rugi-
rugi daya, maka efisiensi dapat dinyatakan sebagai
Transformator

131

[watt] masukan daya
[watt] daya rugi - rugi
1 = (3.19)
Formulasi (3.19) ini lebih sering digunakan. Untuk transformator
rugi-rugi daya dapat segera diperoleh melalui uji beban nol dan uji
hubung singkat, yaitu jumlah rugi inti dan rugi tembaga.
Regulasi tegangan transformator didefinisikan sebagai perubahan
besarnya tegangan sekunder bila arus berubah dari beban penuh ke
beban nol dengan tegangan primer dijaga tetap. Jadi
2
2 1
2
2 1
2
2 1
penuh beban 2
penuh beban 2 nol beban 2
/

Tegangan Regulasi
V
V V
V
V V
V
V V

=
a
a a
V
V V
(3.25)
Dengan memperhatikan diagram fasor Gb.16.9. maka (3.25)
menjadi
2
2 2 2
) (
Tegangan Regulasi
V
V I V

+ +
=
e e
jX R
(3.26)
CONTOH-3.6 : Transformator pada Contoh-16.5. mencatu beban
25 KVA pada faktor daya 0.8. a). Hitunglah efisiensinya. b).
Hitunglah regulasi tegangannya.
Solusi :
a).
% 97.6 atau 976 . 0
20
474 . 0
1 : Efisiensi
KW 20 8 . 0 25000 : keluaran Daya
KW 0.474 W 474 360 114 : daya rugi Total
o
= =
= =
= = + =
+
P
P
cu c

b). Mengambil V
2
sebagai referensi : V
2
= 10240 = 24000
o
V.
% 2.2 atau 022 . 0
2400
2400 ) 1 . 4 33 . 3 ( 8 . 36 4 . 10 0 2400
Tegangan Reg.
8 . 36 4 . 10 8 . 0 cos 10 / ) 240 / 25000 ( /
o o
o 1
2 2
+ +
=
= = =

j
a I I

Transformator

132 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

3.1.7. Konstruksi Transformator
Dalam pembahasan transformator, kita melihat transformator
dengan satu inti dua belitan. Belitan primer digulung pada salah
satu kaki inti dan belitan sekunder digulung pada kaki inti yang
lain. Dalam kenyataan tidaklah demikian. Untuk mengurang fluksi
bocor, belitan primer dan sekunder masing-masing dibagi menjadi
dua bagian dan digulung di setiap kaki inti. Belitan primer dan
sekunder digulung secara konsentris dengan belitan sekunder
berada di dalam belitan primer. Dengan cara ini fluksi bocor dapat
ditekan sampai hanya beberapa persen dari fluksi bersama.
Pembagian belitan seperti ini masih mungkin dilanjutkan untuk
lebih menekan fluksi bocor, dengan beaya yang sudah barang
tentu lebih tinggi.

Gb.3.9. Dua tipe konstruksi transformator.
N
T
: jumlah lilitan tegangan tinggi; N
R
: jumlah lilitan tegangan
rendah.
Dua tipe konstruksi yang biasa digunakan pada transformator satu-
fasa adalah core type (tipe inti) dan shell type (tipe sel). Gb.3.9.a.
memperlihatkan konstruksi tipe inti dengan belitan primer dan
sekunder yang terbagi dua. Belitan tegangan rendah digulung
dekat dengan inti yang kemudian dilingkupi oleh belitan tegangan
tinggi. Konstruksi ini sesuai untuk tegangan tinggi karena masalah
isolasi lebih mudah ditangani. Gb.3.9.b. memperlihatkan
konstruksi tipe sel. Konstruksi ini sesuai untuk transformator daya
dengan arus besar. Inti pada konstruksi ini memberikan
perlindungan mekanis lebih baik pada belitan.
N
R
/ 4
N
T
/ 2
N
R
/ 2
N
T
/ 2
N
R
/ 4
N
T
/ 2
N
R
/ 2 N
R
/ 2
N
T
/ 2
a). tipe inti.
a). tipe sel.
Transformator

133

3.2. Transformator Pada Sistem Tiga-fasa
Pada sistem tiga-fasa, penaikan dan penurunan tegangan dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu :
(a) menggunakan tiga unit transformator satu-fasa,
(b) menggunakan satu unit transformator tiga-fasa.
Transformator tiga-fasa mempunyai inti dengan tiga kaki dan setiap
kaki mendukung belitan primer dan sekunder. Untuk penyaluaran
daya yang sama, penggunaan satu unit transformator tiga-fasa akan
lebih ringan, lebih murah dan lebih efisien dibandingkan dengan tiga
unit transformator satu-fasa. Akan tetapi penggunaan tiga unit
transformator satu-fasa juga mempunyai beberapa kelebihan
dibandingkan dengan satu unit transformator tiga-fasa. Misalnya
beaya awal yang lebih rendah, jika untuk sementara beban dapat
dilayani dengan dua unit saja dan unit ketiga ditambahkan jika
penambahan beban telah terjadi. Terjadinya kerusakan pada salah
satu unit tidak mengharuskan pemutusan seluruh penyaluran daya.
Pemilihan cara mana yang lebih baik, tergantung dari berbagai
pertimbangan keadaan-khusus. Pada dasarnya kedua cara adalah
sama. Berikut ini kita akan melihat hubungan primer-sekunder
transformator, dengan melihat pelayanan sistem tiga-fasa melalui
tiga unit transformator satu-fasa.
3.2.1. Hubungan
Pada waktu menghubungkan tiga transformator satu-fasa untuk
melayani sistem tiga-fasa, hubungan sekunder harus diperhatikan
agar sistem tetap seimbang. Diagram hubungan ini diperlihatkan
pada Gb.3.10. Fasa primer disebut dengan fasa U-V-W sedangkan
fasa sekunder disebut fasa X-Y-Z. Fasor tegangan fasa primer kita
sebut V
UO
, V
VO
, V
WO
dengan nilai V
FP
, dan tegangan fasa
sekunder kita sebut V
XO
, V
YO
, V
ZO
dengan nilai V
FS
. Nilai
tegangan saluran (tegangan fasa-fasa) primer dan sekunder kita
sebut V
LP
dan V
LS
. Nilai arus saluran primer dan sekunder masing-
masing kita sebut I
LP
dan I
LS
sedang nilai arus fasanya I
FP
dan I
FS
.
Rasio tegangan fasa primer terhadap sekunder a V V
FS FP
= / .
Dengan mengabaikan rugi-rugi untuk hubungan - kita peroleh :
Transformator

134 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


a
I
I
I
I
a
V
V
V
V
FS
FP
LS
LP
FP
FP
LS
LP
1
3
3
; = = = = (3.27)


Gb.3.10. Hubungan -.
3.2.2. Hubungan -Y
Hubungan ini diperlihatkan pada Gb.3.11. Tegangan fasa-fasa
pimer sama dengan tegangan fasa primer, sedangkan tegangan
fasa-fasa sekunder sama dengan 3 kali tegangan fasa sekunder
dengan perbedaan sudut fasa 30
o
. Dengan mengabaikan rugi-rugi
kita peroleh
a I
I
I
I
a
V
V
V
V
FS
FP
LS
LP
FS
FP
LS
LP
3 3
3
3
= =
= =
(3.28)
Fasor tegangan fasa-fasa sekunder mendahului primer 30
o
.
V
UV


= V
UO
V
XY


= V
XO
U

V

X

Y

V
UO
V
XO
V
VO
V
YO
V
WO
V
ZO
Transformator

135



Gb.3.11. Hubungan -Y

3.2.3. Hubungan Y-Y
Hubungan ini diperlihatkan pada Gb.3.12. Tegangan fasa-fasa
pimer sama dengan 3 kali tegangan fasa primer dengan
perbedaan sudut fasa 30
o
, tegangan fasa-fasa sekunder sama
dengan 3 kali tegangan fasa sekunder dengan perbedaan sudut
fasa 30
o
. Perbandingan tegangan fasa-fasa primer dan sekunder
adalah
a I
I
I
I
a
V
V
V
V
FS
FP
LS
LP
FS
FP
LS
LP
1
3
3
= =
= =
(3.29)
Antara fasor tegangan fasa-fasa primer dan sekunder tidak terdapat
perbedaan sudut fasa.
V
UV


= V
UO
V
XY

V
XO
V
YO
V
ZO
U

V

X

Y

V
UO
V
XO
V
VO
V
YO
V
WO
V
ZO
Transformator

136 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)



Gb.3.12. Hubungan Y-Y

3.2.4. Hubungan Y-
Hubungan ini terlihat pada Gb.3.13. Tegangan fasa-fasa pimer
sama dengan 3 kali tegangan fasa primer dengan perbedaan sudut
fasa 30
o
, sedangkan tegangan fasa-fasa sekunder sama dengan
tegangan fasa sekunder. Dengan mengabaiakan rugi-rugi diperoleh
3
1
3
3
3
a
V
I
I
I
a
V
V
V
V
FS
FP
LS
LP
FS
FP
LS
LP
= =
= =
(3.30)
Fasor tegangan fasa-fasa primer mendahului sekunder 30
o
.
V
UV

V
XY
V
XO
V
YO
V
ZO
V
UO

V
VO

V
WO

U

V

X

Y

V
UO
V
XO
V
VO
V
YO
V
WO
V
ZO
Transformator

137



Gb.3.13. Hubungan Y-

CONTOH-3.7 : Sebuah transformator penurun tegangan 3 fasa,
tegangan primernya dihubungkan pada sumber 6600 V dan
mengambil arus 10 A. Jika rasio transformasi adalah 12, hitunglah
tegangan saluran sekunder, arus saluran sekunder dan daya keluaran
untuk hubungan-hubungan berikut : (a) - ; (b) Y-Y ; (c) -Y ;
(d) Y- .
Solusi :
a). Untuk hubungan - :
A. 120 10 12 3
3
3 3
; V 550
12
6600
= = = = =
= = = = =
LP
FP FS LS
LP FP
FS LS
I
a aI I I
a
V
a
V
V V

b). Untuk hubungan Y-Y :
A. 120 10 12
; V 550
12
6600 3
3
3 3
= = = = ==
= = = = =
LP FP FS LS
LP FP
FS LS
aI aI I I
a
V
a
V
V V

V
UV

V
XY
= V
XO
V
YO
V
ZO
V
UO

V
VO

V
WO

U

V

X

Y

V
UO
V
XO
V
VO
V
YO
V
WO
V
ZO
Transformator

138 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

c). Untuk hubungan -Y :
A. 3 , 69
3
10
12
3
; V 953 3
12
6600
3 3 3
= = = = =
= = = = =
LP
FP FS LS
LP FP
FS LS
I
a aI I I
a
V
a
V
V V

d) Untuk hubungan Y- :
. A 208 3 10 12 3 3 3
; V 318
3
6600
12
1
3
1
= = = = =
= = = = =
LP FP FS LS
LP FP
FS LS
aI aI I I
V
a a
V
V V

Dengan mengabaikan rugi-rugi daya keluaran sama dengan
daya masukan.
kVA. 3 , 114 3 10 6 , 6 3 = = = =
LP LP masukan keluaran
I V S S
3.3. Transformator Tiga Belitan
3.3.1. Transformator Ideal Tiga Belitan
Hubungan belitan primer, sekunder, dan tertier tansformator satu-
fasa tiga belitan terlihat pada Gb.3.14. Konvensi titik kita gunakan
di sini.

Gb.3.14. Hubungan belitan transformator tiga belitan.
Indeks 1, 2, 3 menunjukkan primer, sekunder, tertier.
3 2 1
, , V V V : tegangan.
3 2 1
, , I I I : arus, digambarkan masuk pada ujung belitan
yang bertanda titik.
3 2 1
, , N N N : jumlah lilitan.
1
V
1
I
2
I
3
I
2
V
3
V
+

+

+

1
N
2
N
3
N
Transformator

139

Untuk keperluan analisis ini kita menganggap resistansi belitan
transformator nol, sehingga hubungan tegangan, arus dan jumlah
lilitan adalah:
3
1
3
1
3
2
3
2
2
1
2
1
; ;
N
N
N
N
N
N
= = =
V
V
V
V
V
V
(3.31)
Kita juga menganggap tidak terjadi fluksi bocor dan permeabilitas
magnetik inti inti yang sempurna, sehingga
0
3 3 2 2 1 1
= + + I I I N N N (3.32)
Contoh-3.8: Sebuah transformator tiga belitan (Gb.3.14), memiliki
jumlah lilitan 2000 , 500 , 1000
3 2 1
= = = N N N .Belitan primer
terhubung ke sumber tegangan ideal, V 0 1000
o
1
= V . Belitan
sekunder terhubung ke resistor 20 . Belitan tertier terhubung ke
induktor dengan reaktansi 100 . Hitung arus dan daya di belitan
primer,
1
I dan S
1
.
Solusi:
Arus di belitan primer dapat dihitung setelah arus di belitan
sekunder dan tertier diperoleh; arus-arus ini adalah arus beban.
V 0 2000 0 1000
1000
2000

V 0 500 0 1000
1000
500

o o
1
1
3
3
o o
1
1
2
2
= = =
= = =
V V
V V
N
N
N
N

Dengan referensi arah arus seperti tergambar pada Gb.16.1, kita
dapatkan
A 20 0 90 20
90 100
0 2000

A 0 25 0 25
0 20
0 500

o
o
o
3
3
3
o
o
o
2
2
2
j
Z
j
Z
= =

= =
+ = =

= =
V
I
V
I

Arus di belitan primer dihitung dengan menggunakan formulasi
(3.32) adalah
Transformator

140 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

A 6 , 72 9 , 41 40 5 , 12
1000
) 20 ( 2000 25 500
0
o
1
3 3 2 2
1
3 3 2 2 1 1
= =
+
=

=
= + +
j
j
N
N N
N N N
I I
I
I I I

Daya kompleks yang masuk di belitan adalah
kVA 6 , 72 9 , 41 6 , 72 9 , 41 0 1000
o o o
1 1 1
= + = =

I V S
Karena kita menganggap transformator ideal, tidak ada rugi-rugi
daya pada transformator, daya masuk di belitan primer harus
sama dengan jumlah daya keluar dari belitan sekunder dan
tertier. Kita jakinkan hal itu sebagai berikut
kVA 41,9 VA 41900 40000 12500
VA 40000 90 20 0 2000 ) (
VA 12500 25 0 500 ) (
3 2
o o
3 3 3
o
2 2 2
= = + = +
= + = =
= = =

j S S
j S
S
I V
I V

Ternyata benar
1 3 2
S S S = +
3.3.2. Transformator Nyata Tiga Belitan
Dalam kenyataan belitan-belitan transformator mengandung
impedansi; impedansi belitan primer, sekunder, tertier, dapat kita
nyatakan sebagai
1 1 1
jX R Z + = ,
2 2 2
jX R Z + = , dan
3 3 3
jX R Z + = . Selain itu terdapat rugi-rugi inti yang dalam
rangkaian dinyatakan dengan cabang parallel R

dan X

. Jika
elemen-elemen ini tidak kita abaikan dan kita nyatakan juga dalam
per-unit, maka rangkaian pada Gb.3.14. akan berbentuk seperti
Gb.3.15.
Transformator

141


Contoh-3.9: [1] Hitunglah
1
I pada contoh-3.8 jika diketahui pula
= =
= = =
= = =


pu 03 , 0
pu 01 , 0
3 2 1
3 2 1
X R
X X X
R R R

Solusi:
Dengan = =

X R , jika kita melihat ke belitan primer, kita
dapatkan
o
3 3 2 2
3 3 2 2
1 1 1
92 , 71 245 , 1 184 , 1 38654 , 0
) 31 , 1 02 , 4 (
) 28 , 1 01 , 0 ( ) 03 , 0 01 , 4 (
03 , 0 01 , 0
) 25 , 1 ( ) 4 (
) 25 , 1 ( ) 4 (
= + =
+
+ +
+ + =
+ + + + +
+ + + +
+ + =
j
j
j j
j
j jX R jX R
j jX R jX R
jX R Z
pu

Maka pu 71,92 803 , 0
71,92 1,245
0 1
o
o
o
1
1
1
=

= =
Z
pu
V
I
Perbedaan segera dapat kita lihat dengan hasil perhitungan
traformator ideal yang memberikan pu 6 , 72 838 , 0
o
1
= I .
Perbedaan ini adalah sekitar 4%. Perbedaan arus 4% ini, jika kita
tinjau dari sisi daya dimana

= I V S berarti pula ada perbedaan


daya sekitar 4%. Ditinjau dari kacamata bisnis, hal ini cukup
besar.
1
I
1
o
0 1
25 , 1 j
4

+

2
3
2
I
3
I
1 1
X R
2 2
X R
3 3
X R

X R
Gb.3.15. Rangkaian transformator nyata satu-fasa
tiga belitan.
Transformator

142 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

3.4 Transformator Tiga-fasa Dibangun dari Tiga
Transformator Satu-fasa
Untuk memperoleh transformator tiga-fasa tiga belitan kita dapat
menggunakan tiga buah transformator satu-fasa tiga belitan.
Masing-masing transformator satu-fasa tersebut sudah barang tentu
memiliki tiga belitan, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Jadi
dengan tiga buah transformator satu-fasa kita mempunyai 3 belitan
primer, 3 sekunder, dan 3 tersier. Masing-masing kelompok belitan
tersebut secara sendiri-sendiri dapat dihubungkan Y atau . Pada
diagram satu garis Gb.1.11. di bab-14, transformator tiga-fasa tiga
belitan yang terhubung ke generator, mempunyai sisi primer
terhubung , sisi sekunder yang terhubung Y menuju CB kemudian
ke saluran transmisi, dan sisi tertier yang terhubung mencatu
beban. Gb.3.16. memperlihatkan penggalan diagram satu garis
tersebut.

Gb.3.16. Penggalan diagram satu garis Gb.1.11 untuk
memperlihatkan hubungan transformator tiga-fasa tiga belitan.
3.4.1. Tinjauan Pada Sisi Primer Terhubung Y, dengan Netral
Ditanahkan Melalui Impedansi
Kita akan melihat belitan primer terlebih dulu, dengan
menganggap belitan sekunder dan belitan tertier terbuka. Pada
Gb.3.16. belitan ini terhubung . Namun dalam pembahasan
transformator ini kita akan melihat sisi primer yang terhubung Y
lebih dulu dengan titik netral yang dihubungkan ke tanah melalui
sebuah impedansi. Karena sisi sekunder dan tersier terbuka, maka
setiap transformator satu-fasa yang tersedia (untuk dibangun
menjadi transformator tiga-fasa) mempunyai diagram rangkaian
seperti pada Gb.3.17.
Generator
beban
Saluran transmisi
G
Y


1
2
3
CB
Transformator

143


Gb.3.17. Sisi primer transformator satu-fasa tiga belitan dengan
sisi sekunder dan tersier terbuka.
Dari terminal primer terlihat impedansi, yang kita sebut impedansi
fasa primer Z
f1
, sebesar

+ + = + = Z jX R Z Z Z
f 1 1 1 1
(3.33)
dengan

=
jX R
jX R
Z (3.34)
Impedansi Z
f1
inilah kita hubungkan Y membentuk sisi primer
transformator tiga-fasa. Dalam membentuk hubungan Y ini, di
titik netral kita sambungkan satu impedansi Z
n1
untuk
pentanahan. Dengan demikian kita memperoleh rangkaian tiga-
fasa abc seperti terliht pada Gb.3.18.

Gb.3.18. Hubungan Y sisi primer transformator tiga-fasa
tiga belitan.
Relasi tegangan-arus pada hubungan Y ini adalah
a
c
1 b
V
1 c
V
1 a
V
b
1 f
Z
1 f
Z
1 f
Z
1 n
Z
n
1
I
1
+
2
3
1
V
1 1
X R

X R
Transformator

144 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

(
(
(

(
(
(

+
+
+
=
(
(
(

1
1
1
1 1 1 1
1 1 1 1
1 1 1 1
1
1
1

) (
) (
) (
c
b
a
n f n n
n n f n
n n n f
c
b
a
Z Z Z Z
Z Z Z Z
Z Z Z Z
I
I
I
V
V
V
(3.35)
Matriks impedansi kita transformasikan ke impedansi urutan,
[ ] [ ] [ ] [ ] T T
012

1
1
1
abc
Z Z

=
kita peroleh
[ ]
(
(
(

+
=
) 0 0
0 0
0 0 ) 3 (
1
1
1 1
f
f
n f
primer
Z
Z
Z Z
Z
012
(3.36.a)
Catatan: indeks 012 yang menunjukkan impedansi urutan, ditulis
dengan huruf tebal untuk membedakan dengan indeks 1
yang menunjuk pada belitan primer.
3.4.2. Tinjauan Pada Sisi Sekunder dan Tersier Terhubung Y,
dengan Netral Ditanahkan Melalui Impedansi
Persamaan (3.36.a) adalah impedansi urutan dilihat dari sisi
primer. Jika kita memperlakukan sisi sekunder dan tersier sama
seperti sisi primer, yaitu membuatnya terhubung Y dengan
impedansi pada titik netralnya, kita akan mendapatkan rangkaian
belitan sekunder dan tersier seperti terlihat pada Gb.3.19. Pada
gambar ini Z
f2
dan Z
f3
adalah impedansi fasa sekunder dan
impedansi fasa tersier.

Sekunder Tersier
Gb.3.19. Hubungan Y sisi sekunder dan tersier.
a
c
cs
V
2 a
V
b
2 f
Z
2 f
Z
2 f
Z
2 n
Z
n
2 b
V
a
c
3 b
V
3 c
V
3 a
V
b
3 f
Z
3 f
Z
3 f
Z
3 n
Z
n
Transformator

145

Dengan cara yang sama seperti mencari impedansi urutan pada
sisi primer, kita peroleh impedansi urutan di sisi sekunder dan
tertier yaitu
[ ]
(
(
(

+
=
2
2
2 2
0 0
0 0
0 0 3
f
f
n f
sekunder
Z
Z
Z Z
Z
012
(3.36.b)
dan
[ ]
(
(
(

+
=
3
3
3 3
0 0
0 0
0 0 3
f
f
n f
tersier
Z
Z
Z Z
Z
012
(3.36.c)
Persamaan (3.36.a), (3.36.b), dan (3.36.c) memberi jalan untuk
menggambarkan rangkaian impedansi urutan taransformator.
Kita kumpulkan impedansi urutan sebagai berikut:
3 3 3 2 2 2 1 1 1
3 ; 3 ; 3
n f n f n f
Z Z Z Z Z Z Z Z Z + = + = + =
0 0 0
(3.37.a)
; ;
3 3 2 2 1 1 f f f
Z Z Z Z Z Z = = =
1 1 1
(3.37.b)
; ;
3 3 2 2 1 1 f f f
Z Z Z Z Z Z = = =
2 2 2
(3.37.c)
dan seperti (3.33)

+ = + = + = Z Z Z Z Z Z Z Z Z
f f f 3 3 2 2 1 1
; ; (3.37.d)
Persamaan pertama (3.37.a) dan (3.37.d) memberikan rangkaian
urutan nol seperti pada Gb.3.20. Terminal 1, 2, 3 adalah terminal
primer, sekunder, dan tersier.

Gb.3.20. Rangkaian urutan nol transformator tiga
belitan.
Persamaan pertama (3.37.b) dan (3.37.d) memberikan rangkaian
urutan positif seperti pada Gb.3.21.
3
2
Z 2
2
3
n
Z
3
Z
3
3
n
Z
1
1
3
n
Z

Z
1
Z
Transformator

146 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


Gb.3.21. Rangkaian urutan positif transformator tiga belitan.
Persamaan pertama (3.37.c) dan (3.37.d) memberikan rangkaian
urutan negatif seperti pada Gb.3.22.

Gb.3.22. Rangkaian urutan negatif transformator tiga belitan.
3.4.3. Tinjauan Pada Transformator Tiga-fasa Tiga Belitan
Terhubung Y Dengan Ketiga Titik Netral Ditanahkan Langsung
Jika titik netral ditanahkan secara langsung (solidly grounded),
baik di sisi primer maupun sekunder dan tersier, maka
0
3 2 1
= = =
n n n
N Z Z . Rangkaian urutan pada Gb.16.22 yang
berubah hanyalah rangkaian urutan nol; rangkaian urutan positif
dan negatif tidak berubah. Rangkaian urutan nol menjadi sama
dengan rangkaian urutan yang lain.
3.4.4. Tinjauan Pada Transformator Tiga-fasa Tiga Belitan
Terhubung Y, dengan Ketiga Titik Netral Tidak Ditanahkan.
Jika titik netral tidak di tanahkan maka = = =
3 2 1 n n n
N Z Z .
Rangkaian urutan pada Gb.16.22 yang berubah juga hanya
rangkaian urutan nol; rangkaian urutan positif dan negatif tidak
berubah. Rangkaian urutan nol menjadi terbuka baik di sisi
primer, sekuder, maupun tersier.
3
2
Z 2
3
Z
1 1
Z

Z
3
2
Z 2
3
Z
1 1
Z

Z
Transformator

147

3.4.5. Tinjauan Pada Transformator Tiga-fasa Tiga Belitan
dengan Ketiga Sisi Terhubung
Hubungan dapat kita cari ekivalennya dalam hubungan Y. Jika
ini kita lakukan maka kita mendapatkan transformator terhubung
Y dengan netral tidak ditanahkan. Rangkaian urutan nol menjadi
terbuka. Jadi belitan yang terhubung memiliki rangkaian urutan
nol yang terbuka (kita menganggap impedansi di ketiga belitan
identik).
3.4.6. Tinjauan Pada Transformator Tiga-fasa Tiga Belitan
dengan Sisi Primer, Sekunder, dan Tersier Memiliki Hubungan
Berbeda.
Contoh dari situasi ini adalah situasi yang diperlihatkan pada
diagram satu garis Gb.15.9. Dalam gambar ini sisi pimer
terhubung , sisi sekunder terhubung Y dengan netral ditanahkan
langsung, dan sisi tersier terhubung . Rangkaian urutan nol sisi
primer dan tersier terbuka, sedangkan rangkaian urutan nol
sekunder tidak mengandung
2
3
n
Z
Demikianlah kita dapat membangun rangkaian urutan dari
transformator tiga-fasa tiga belitan, dengan belitan terhubung Y
maupun . Namun ada sedikit catatan untuk belitan yang
terhubung : hubungan ini adalah hubungan yang membentuk
loop tertutup; jika ketiga belitan yang membentuk ini tidak
benar-benar idektik, ada kemungkinan terjadi arus sirkulasi di
belitan ini.
Contoh-3.10: [1] Tiga transformator 1 fasa identik pada contoh-3.9
dipakai untuk membangun transformator 3 fasa dengan hubungan-
hubungan belitan sebagai berikut:
Belitan-1: dihubungkan Y, titik netral ditanahkan melalui
impedansi 04 , 0 j Z
n
=
Belitan-2: dihubungkan Y, titik netral ditanahkan langsung.
Belitan-3: dihubungkan
Gambarkanlah rangkaian urutan.
Solusi:
Resistansi dan reaktansi dalam per-unit belitan trafo adalah:
Transformator

148 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

= =
= = =
= = =


pu 03 , 0
pu 01 , 0
3 2 1
3 2 1
X R
X X X
R R R

Rangkaian urutan nol adalah (Gb.3.20)

Dengan memasukkan nilai-nilai yang diketahui, rangkaian
urutan nol menjadi

Rangkaian urutan positif adalah (Gb.3.21)

Dengan memasukkan nilai-nilai yang diketahui, rangkaian
urutan positif menjadi

Rangkaian urutan negatif sama dengan rangkaian urutan positif.
1
03 , 0 01 , 0 j +
3
2
03 , 0 01 , 0 j +
03 , 0 01 , 0 j +
3
2
Z 2
3
Z
1 1
Z

Z
1
12 , 0 j
03 , 0 01 , 0 j +
3
2
03 , 0 01 , 0 j +
03 , 0 01 , 0 j +
3
2
Z 2
2
3
n
Z
3
Z
3
3
n
Z
1
1
3
n
Z

Z
1
Z
Transformator

149

3.4. Pergeseran Fasa Pada Hubungan Y-, Transformator
Tiga-fasa Dua Belitan
Pada hubungan sisi primer-sekunder Y-Y ataupun -, diagram
fasor tegangan fasa-netral di kedua sisi transformator tidak berbeda
fasa. Akan tetapi pada hubungan Y- atau -Y terjadi pergeseran
fasa. Untuk melihat pergeseran fasa ini, kita tinjau transformator
tiga-fasa dua belitan seperti terlihat pada Gb.3.23. Pada gambar ini
terlihat
2 1
sefasa
ab a
V V ,
2 1
sefasa
bc b
V V ,
2 1
sefasa
ca c
V V .
Tegangan fasa-netral di sisi primer yang terhubung Y sefasa dengan
tegangan fasa-fasa di sisi sekunder yang terhubung . Kalau kita
buat rangkaian ekivalen Y dari , hal tersebtu berarti tegangan fas-
netral di sisi sekunder berbeda fasa 30
o
dengan tegangan fasa-netral
di sisi primer.

Berkaitan dengan terjadinya pergeseran fasa pada hubungan Y-
ataupun -Y, penamaan fasa pada suatu transformator diberi
ketentuan sebagai berikut:
Penamaan fasa baik pada hubugan Y- ataupun -Y haruslah
sedemikian rupa sehngga urutasn positif di sisi tegangan
tinggnya mendahului 30
o
dari pasangan di tegangan rendahnya.
Ketentuan ini untuk urutan negatif berarti kebalikannya, yaitu
bahwa tegangan urutan negatif tegangan di sisi tegangan tinggi
tertinggal 30
o
dari tegangan di sisi tegangan rendahnya.
Pergeseran fasa ini tidak berpengaruh pada urutan nol.
a
c
1 b
V
1 c
V
1 a
V
b
n
a
c
b
2 ab
V
2 bc
V
2 ca
V
Gb.3.23. Hubungan Y- transformator tiga-fasa.

Transformator

150 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

3.5. Sistem Per-Unit Pada Saluran Dengan Transformator
Adanya transformator dalam sistem tenaga membuat sistem tenaga
terbagi-bagi dalam banyak segmen yang masing-masing segmen
memiliki tegangan kerja sendiri-sendiri. Dengan memanfaatkan
sistem per-unit, maka representasi suatu sistem tenaga menjadi lebih
sederhana dan perhitungan-perhitungan menjadi lebih mudah
dilakukan. Dalam uraian berikut ini kita memusatkan perhatian pada
sistem tiga-fasa.
Penetuan besaran basis untuk penggunaan sistem per-unit adalah
sebagai berikut:
a) Tetapkan daya 3 fasa basis, kita sebut
basis f
S
3
. Penetapan
daya basis ini biasanya mengambil angka-angka yang mudah,
seperti 1, 10, 100, 1000. Karena untuk analisis sistem tiga-fasa
kita menggunakan model satu-fasa maka harus kita hitung daya
basis untuk satu-fasa, yaitu:
3
3

basis f
basis f
S
S =
b) Tetapkan tegangan basis di bus tertentu sebagai referensi, yaitu
tegangan nominal. Tegangan nominal adalah nilai tegangan
yang dirancang untuk sistem bekerja pada pembebanan
seimbang. Tegangan nominal fasa-fasa, V
ff
di Indonesia
misalnya 20 kV, 150 kV, 500 kV. Karena kita melakukan
analisis menggunakan model rangkaian satu-fasa maka kita
tetapkan tegangan basis fasa-netral di bus ini yaitu
3 /
basis ff basis fn
V V = .
c) Dalam menentukan besaran-besaran basis, kita menganggap
semua saluran dan transformator adalah ideal. Dengan demikian
maka bus-bus yang terhubung langsung oleh saluran
transmisitanpa melalui transformator akan memiliki tegangan
basis yang sama.
Tegangan basis bus-bus yang dihubungkan oleh saluran
transmisi melewati suatu transformator berbanding lurus
dengan perbandingan jumlah lilitan di kedua sisi transformator.
Dengan demikian maka nilai per-unit tegangan di kedua sisi
transformator tidak lagi tergantung dari tegangan transformator.
Transformator

151

d) Arus basis di setiap bagian sistem adalah daya basis di bagian
tersebut dibagi dengan tegangan basisnya.
basis fn
basis f
basis
V
S
I


=
e) Impedansi basis di tiap bagian sistem adalah tegangan basis
dibagi arus basis


basis f
basis fn
basis
I
V
Z =
Walaupun demikian, relasi ini dapat kita uraikan sebagai berikut:
( )
basis f
basis ff
basis f
basis ff
basis f
basis ff
basis f
basis fn
basis fn basis f
basis fn
basis f
basis fn
basis
S
V
S
V
S
V
S
V
V S
V
I
V
Z
3
2


2


2


2





3
3 /

/
= = =
= = =

Relasi terakhir ini yang biasa digunakan menentukan impedansi
basis, yaitu
basis f
basis ff
basis
S
V
Z
3
2

=
f) Besaran dalam per-unit adalah besaran sesungguhnya dibagi
dengan besaran basis. Dengan besaran dalam per-unit kita
gambarkan diagram rangkaian model satu-fasa.
Contoh-3.11: [1] Gambarkan rangkaian model satu-fasa dalam per-
unit dari sistem tiga-fasa yang diagram satu garisnya diberikan
berikut ini. Gunakan daya basis tiga-fasa di bus-2
MVA 100
3
=
basis f
S
dan tegangan basis fasa-fasa
kV 345 =
basis ff
V
Transformator

152 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


Solusi:
a) Kita harus membuat rangkaian ekivalen model 1 fasa dalam
per-unit. Oleh karena itu besaran-besaran harus dinyatakan
sebagai besaran fasa-netral. Daya basis 3 fasa telah
ditentukan untuk bus-2 dengan memilih angka yang mudah
yaitu
MVA 100
3
=
basis f
S
Dengan penetapan daya basis 3 fasa ini maka daya basis per fasa
adalah
MVA 33,3
3
100

= =
basis fn
S
Daya basis per fasa ini berlaku untuk semua bus.
Tegangan nominal sistem ini adalah 345 kV fasa-fasa. Tegangan
basis fasa-netral adalah
kV 199
3
345
3
nominal

= = =
ff
basis fn
V
V
Rangkaian ekivalen model satu-fasa yang harus kita bangun harus
menggunakan basis ini, artinya semua besaran akan dilihat dari
sisi tegangan tinggi, termasuk impedansi-impedansi di sisi
tegangan rendah transformator. Rangkaian ekivalen saluran
transmisinya adalah rangkaian ekivalen dengan ujung di bus 2
terhubunhg ke transformator T
1
dan ujung di bus-3 terhubung ke
transformator T
2
. Rangkaian ekivalen sistem ini akan berbentuk
seperti berikut:
Transformator T
1
1 trafo 3 fasa, 120 MVA
35 kV , 350 kV Y
Z=(1+j8%) pada ratingnya
Y
1
2 3 4
Y
Transformator T
2
3 trafo 1 fasa, 30 MVA
200 kV / 20 kV
Z=(1+j7%) pada ratingnya
Z = 12,8 + j64

Y/2 = j280 mS
Transformator

153


1, 2, 3, 4: nomer bus
1 T
Z : impedansi trafo T
1
;
2 T
Z : impedansi trafo T
2

Z
s
; impedansi seri saluran transmisi;
2
Y
: admitansi saluran transmisi
Kita lihat situasi di setiap bus sebagai berikut:
Bus-2. Daya basis di bus ini adalah MVA 33,3 =
basis fn
S dan
tegangan basis kV 199
2 . .
= =
basis fn bus basis fn
V V
Arus basis bus-2: kA 167 , 0
199
3 , 33


2 . .
= = =
basis fn
basis f
bus basis f
V
S
I
Impedansi basis: = = = 1190
167 , 0
199


2 . .
basis f
basis fn
bus basis
I
V
Z
Bus-3. Daya basis di bus ini juga MVA 33,3 =
fbasis
S Bus ini
terhubung ke bus-2 tanpa melalui transformator. Oleh karena itu
tegangan basis bus ini sama dengan tegangan basis bus-2, yaitu
kV 199
.3 .
=
bus basis fn
V
Arus basis bus-3: kA 167 , 0
199
3 , 33


3 . .
= = =
basis fn
basis f
bus basis f
V
S
I
Impedansi basis bus-3: = = = 1190
167 , 0
199


3 . .
basis f
basis fn
bus basis
I
V
Z
Bus-1. Daya basis di bus ini sama dengan daya basis yang telah
ditetapkan yaitu MVA 33,3 =
basis fn
S . Bus ini terhubung pada
transformator Y- dengan perbadingan tegangan fasa-fasa 350 kV
1 T
Z
2 T
Z
s
Z
2
Y
2
Y
1 2 3 4
Transformator

154 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

: 35 kV atau tegangan fasa-netral kV 3 / 350 : kV 3 / 35 .
Tegangan basis di bus-1 dapat kita hitung yaitu
kV 19,9 199
3 / 350
3 / 35

2 . .
2 .
1 .
1 . .
= = =
bus basis fn
bus fn
bus fn
bus basis fn
V
V
V
V

Arus basis di bus-1: kA 674 , 1
9 , 19
3 , 33


1 . .
= = =
basis fn
basis f
bus basis f
V
S
I
Impedansi basis: = = = 9 , 11
674 , 1
9 , 19


1 .
basis f
basis fn
bus basis
I
V
Z
Bus-4. Basis daya di bus ini sama dengan basis daya yang telah
ditetapkan yaitu MVA 33,3 =
fbasis
S . Bus ini bertegangan fasa-
fasa 20 kV yaitu tegangan sisi sekunder trafo yang terhubung .
Ini berarti tegangan fasanetral adalah kV 3 / 20 , walaupun tak
terlihat titik netral. Sisi primer transformator terhubung Y dengan
tegangan fasa-fasa 350 kV atau tegangan fasa-netral
kV 200 3 / 350 = . Tegangan basis di bus-4 ini adalah
kV 11,5 199
200
3 / 20
3 . .
3 .
4 .
4 . .
= = =
bus basis fn
bus fn
bus fn
bus basis fn
V
V
V
V
Arus basis bus-4: kA 889 , 2
5 , 11
3 , 33


4 . .b
= = =
basis fn
basis f
us basis f
V
S
I
Impedansi basis: = = =

97 , 3
889 , 2
5 , 11
basis

4
f
basis f
bus basis
I
V
Z
Untuk melihat dengan lebih jelas, hasil perhitungan di atas kita
kumpulkan dalam satu tabel seperti di bawah ini.
Transformator

155


Bus
S
basis

MVA
V
basis

kV
I
basis

kA
Z
basis


1 33,3 19,9 1,674 11,9
2 33,3 199 0,167 1190
3 33,3 199 0,167 1190
4 33,3 11,5 2,889 3,97
b) Saluran Transmisi. Impedansi dan admitansi saluran dalam
per-unit dihitung dengan menggunakan impedansi dan
admitansi basis di bus-2 atau bus-3
pu 333 , 0
1190 / 1
10 0280 , 0
2
pu 0538 , 0 0108 , 0
1190
64 8 , 12
3
pu
pu
j
j
Y
j
j
Z
Z
Z
basis sal
basis
sal
sal
=

=
+ =
+
= =


c) Impedansi transformator.
Nilai dalam per-unit impedansi transformator yang
diberikan adalah:
T
1
: ratingnya) pada ( pu 08 , 0 01 , 0
pu 1
j Z
T
+ =
T
2
: ratingnya) pada ( pu 07 , 0 01 , 0
pu 2
j Z
T
+ =
Impedansi ini dinyatakan dalam per-unit dengan basis rating
masing-masing transformator.
Transformator T
1
. Transformator T
1
adalah sebuah
transformator tiga-fasa, dua belitan. Rating daya T
1
adalah 120
MVA, dengan tegangan nominal (sisi tegangan tinggi) 345 kV
(fasa-fasa). Hal ini berarti bahwa basis yang di gunakan untuk
menghitung Z
T1pu
adalah Z
basis rating
yaitu
=
3
2


rating f
rating ff
rating basis
S
V
Z
Transformator

156 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dengan basis inilah impedansi per-unit yang telah diberikan, yaitu
pu 08 , 0 01 , 0
1
j Z
T
+ = . Impedansi ini harus kita ubah
menggunakan basis sistem yaitu MVA 100
3
=
basis f
S dan
tegangan nominal 345 kV dan Z
basis
di bus-2 (tempat
dihubungkannya T
1
) yang telah dihitung sebesar 1190 .
Perubahan nilai impedansi dari basis rating ke basis sistem kita
lakukan sebagai berikut:
( )
( )
pu 0,0667) 0,0083 (
1190
120 / 345
) 08 , 0 01 , 0 (
1190
/
) 08 , 0 01 , 0 (
) 08 , 0 01 , 0 (
2
3
2

istem

sistem basis 1
j
j
S V
j
Z
Z j
Z
rating f
rating ff
s basis
rating basis
T
+ =
+ =
+ =
+
=

Transformator T
2
. Transformator T
2
adalah transformator 3
fasa yang dibangun dari 3 tansformator 1 fasa dua belitan.
Rating daya trafo ini adalah 30 MVA dengan tegangan rating
200 kV. Sisi primer dihubungkan Y agar sesuai dengan tegangan
sistem di sisi tegangan tinggi (345 kV), dan sisi sekunder
dihubungkan dengan tegangan sekunder 20 kV. Impedansi
yang diberikan adalah
ratingnya) pada ( pu 07 , 0 01 , 0
2
j Z
T
+ =
Impedansi ini harus kita ubah dengan menggunakan basis
sistem.
( )
pu 0,0784) 0,0112 (
1190
30 / 200 ) 07 , 0 01 , 0 (
2
sistem basis 2
j
j
Z
T
+ =
+
=

Dengan hasil perhitungan ini, rangkaian ekivalen satu-fasa
menjadi sebagai berikut:
Transformator

157


3.6. Transformator Polifasa
Dari transformator satu-fasa dapat pula dibangun transformator
polifasa. Berikut ini kita lihat contoh transformator enam fasa yang
dibangun dari enam transformator satu-fasa. Setiap transformator
satu-fasa ini mempunyai rating masing-masing.
Contoh-3.12: [1] Enam buah transformator satu-fasa dua belitan
yang identik dihubungkan sebagai berikut:
- dua-dua belitan primer di hubungkan paralel,
- kemudian tiga set paralel tersebut dihubungkan membentuk
sisi primer transformator 3 fasa yang terhubung Y.
- enam belitan sekunder dari enam transformator dihubungkan
membentuk sisi sekunder transformator 6 fasa.
Rating setiap transformator adalah 13,8 kV / 138 kV, 15 MVA, X
= 7% (pada ratingnya). Tegangan nominal fasa-netral dari sistem
adalah 13,2 kV pada bus tegangan rendah yang terhubung Y.
Dengan menggunakan daya 3 fasa basis MVA 100
6 3
= =
f f
S S .
(a) Hitung semua besaran basis di kedua sisi transformator.
(b) Jika sisi primer terhubung pada sumber seimbang dengan
tegangan fasa-netral kV 2 , 13 =
an
V hitunglah tegangan fasa
dan tegangan urutan di kedua sisi transfomator.
(c) Gambarkan rangkaian urutan positif dengan X dalam per-unit.
Solusi:
Tranformator yang terbentuk terhubung Y- yang skema hubungan
serta diagram fasor tegangannya terlihat pada gambar berikut.
0,0784 0,0112 j + 0,0667 0,0083 j +
0538 , 0 0108 , 0 j +
333 , 0 j
1 2 3 4
333 , 0 j
Transformator

158 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


(a)

Besaran-besaran basis:
Bus tegangan rendah
MVA 3 , 33
3
100

= =
basis f
S
kV 2 , 13 =
basis fn
V
A 52 , 2
2 , 13
3 , 33

basis

= = =
basis fn
f
basis f
V
S
I

= = = 23 , 5
52 , 2
2 , 13

basis

basis f
fn
basis
I
V
Z


Bus tegangan tinggi
MVA 7 , 16
6
100

= =
basis f
S
Jika sisi tegangan V
an
=13,2 kV:
kV 132
8 , 13
138
2 , 13 =
|
|

\
|
=
AN
V
kV 132 =
basis fn
V
A 126 , 0
132
7 , 16

basis

= = =
basis fn
f
basis f
V
S
I
= = = 1045
126 , 0
132

basis

basis f
fn
basis
I
V
Z

a
b
c
B
C
D
F
E
A
a
b
c
A
B
C
D
F
E
Transformator

159

(b)
Dengan sumber 13,2 kV:
Bus tegangan rendah
Tegangan fasa-netral:
kV 2 , 13 = = =
cn bn an
V V V
Dalam per-unit:
pu 1,0
2 , 13
2 , 13
= =
an
V
Tegangan urutan:
0
2 0
= =V V
kV 2 , 13 ) 3 (
3
1
1
= =
an
V V
Dalam per-unit:
pu 0 , 1
2 , 13
2 , 13
1
= = V

Bus tegangan tinggi
Tegangan fasa-netral:
kV 132 = =
= = =
FN DN
CN BN AN
V V
V V V

Dalam per-unit:
pu 1,0
132
132
= =
AN
V

Tegangan urutan:
0
5 4 3 2 0
= = = = = V V V V V
kV 132 ) 6 (
6
1
1
= =
AN
V V
Dalam per-unit:
pu 0 , 1
132
132
1
= = V
c) Rangkaian urutan positif.
Rangkaian urutan positif dari transformator ini hanya berupa satu
impedansi yang mengubungkan bus di sisi primer dan sisi
sekunder. Kita dapat melihat trafo ini dari sisi tegangan rendah
ataupun sisi tegangan tinggi.
Dari sisi tegangan rendah:
Reaktansi dalam per-unit trafo) rating (pada pu 07 , 0 % 7 = = X .
Rating trafo adalah 15 MVA, 13,8 kV sehingga impedansi basis
menurut rating trafo adalah
15
8 , 13
2
2

= =
rating
rating
rating basis
S
V
Z
Transformator

160 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dalam membangun sisi tegangan rendah, dua belitan primer trafo
satu-fasa diparalelkan menjadi salah satu-fasa hubungan Y,
sehingga reaktansi menjadi setengahnya, yaitu
= = = 444 , 0
15
8 , 13
07 , 0
2
1
07 , 0
2
1
2
rating basis
Z X
Impedansi basis sistem sudah dihitung sebesar 5,23 . Impedansi
basis ini memberikan reaktansi dalam per-unit:
pu 0850 , 0
23 , 5
0444 , 0
= = X . Rangkaian urutan positif menjadi :

Dari sisi tegangan tinggi:
= = 8 , 88
15
138
07 , 0
2
X
Dalam per-unit: pu 0,0850
1045
8 , 88
= = X . Rangkaian urutan positif
menjadi :






pu 0850 , 0
pu 0850 , 0
Mesin Sinkron
161

BAB 4 Mesin Sinkron
Kita telah melihat bahwa pada transformator terjadi alih energi dari
sisi primer ke sisi sekunder. Energi di ke-dua sisi transformator
tersebut sama bentuknya (yaitu energi listrik) akan tetapi mereka
mempunyai peubah sinyal (yaitu tegangan dan arus) yang berbeda
besarnya. Kita katakan bahwa transformator merupakan piranti
konversi energi dari energi listrik ke energi listrik.
Kita perhatikan pula bahwa peubah-peubah sinyal di sisi sekunder
transformator muncul karena fluksi di inti transformator merupakan
fungsi waktu. Fluksi fungsi waktu ini dibangkitkan oleh arus di sisi
primer, yang juga merupakan fungsi waktu. Fluksi fungsi waktu
dapat pula dibangkitkan dengan cara lain misalnya secara mekanis;
cara inilah yang dilaksanakan pada piranti konversi energi dari
energi mekanis ke energi listrik atau disebut konversi energi
elektromekanik. Konversi energi elektromekanik ini tidak hanya dari
mekanis ke listrik tetapi juga dari listrik ke mekanis, dan dilandasi
oleh dua hukum dasar yang kita kenal yaitu hukum Faraday dan
hukum Ampere. Secara matematis kedua hukum ini dinyatakan
dalam dua persamaan berikut

dt
d
N
dt
d
e

=

= dan ) ( = f i B K F
B

Persamaan pertama menunjukkan bagaimana tegangan dibangkitkan
dan persamaan ke-dua menunjukkan bagaimana gaya mekanis
ditimbulkan.
Berikut ini kita akan mempelajari mesin konversi energi yang sangat
luas digunakan di pusat-pusat pembangkit listrik, yang disebut
generator sinkron. Ada dua macam konstruksi yang akan kita lihat
yaitu konstruksi kutub menonjol dan konstruksi rotor silindris.
4.1. Mesin Sinkron Kutub Menonjol
Skema konstruksi mesin ini adalah seperti terlihat pada Gb.4.1.a.
Mesin ini terdiri dari bagian stator yang mendukung belitan-belitan
a
1
a
11
sampai c
2
c
22
pada alur-alurnya, dan bagian rotor yang berputar
yang mendukung kutub-kutub magnit. Belitan pada stator tempat
Mesin Sinkron

162 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

kita memperoleh energi disebut belitan jangkar. Belitan pada rotor
yang dialiri arus eksitasi untuk menimbullkan medan magnit disebut
belitan eksitasi. Pada gambar ini ada empat kutub magnit. Satu
siklus kutub S-U pada rotor memiliki kisar sudut (yang kita sebut
sudut magnetis atau sudut listrik) 360
o
. Kisar sudut 360
o
ini
melingkupi tiga belitan di stator dengan posisi yang bergeser 120
o

antara satu dengan lainnya. Misalnya belitan a
1
a
11
dan belitan b
1
b
11

berbeda posisi 120
o
, belitan b
1
b
11
dan c
1
c
11
berbeda posisi 120
o
, dan
mereka bertiga berada di bawah satu kisaran kutub S-U. Tiga belitan
yang lain, yaitu a
2
a
22
, b
2
b
22
, dan c
2
c
22
berada dibawah satu kisaran
kutub S-U yang lain dan mereka juga saling berbeda posisi 120
o
.

konstruksi kutub menonjol belitan fluksi magnetik
Gb.4.1. Mesin sinkron kutub menonjol
Karena mesin yang tergambar ini merupakan mesin empat kutub
(dua pasang kutub) maka satu perioda siklus mekanik (perputaran
rotor) sama dengan dua perioda siklus magnetik. Jadi hubungan
antara sudut kisaran mekanik dan sudut kisaran magnetik adalah
] [ 2 ] [ derajat derajat
mekanik magnetik
=
atau secara umum
] [
2
] [ derajat
p
derajat
mekanik magnetik
= (4.1)
dengan p adalah jumlah kutub.
a
1
a
11
S
U
S
U
a
2
a
1
b
1
a
11
c
1
b
2
c
2
b
11
c
22
a
22
b
22
c
11


180
o
mekanis = 360
o
a) b)
c)
Mesin Sinkron

163

Kecepatan sudut mekanik adalah
mekanik
mekanik
mekanik
f
dt
d
2 =

= (4.2)
Frekuensi mekanik f
mekanik
adalah jumlah siklus mekanik per detik
yang tidak lain adalah kecepatan perputaran rotor per detik.
Biasanya kecepatan perputaran rotor dinyatakan dengan jumlah
rotasi per menit (rpm). Jadi jika kecepatan perputaran rotor adalah n
rpm, maka jumlah siklus per detik adalah
60
n
atau
60
n
f
mekanis
=
siklus per detik.
Kecepatan sudut magnetik adalah
magnetik
magnetik
magnetik
f
dt
d
2 =

= (4.3)
Dengan hubungan (4.1) maka (4.3) menjadi
120

2
60
2
2
2
2 2
n p n p
f
p p
mekanik mekanik magnetik
= = = =
yang berarti
120
n p
f
magnetik
= siklus per detik (4.4)
Perubahan fluksi magnetik akan membangkitkan tegangan induksi
di setiap belitan. Karena fluksi magnetik mempunyai frekuensi
Hz
120
n p
f
magnetik
= maka tegangan pada belitanpun akan
mempunyai frekuensi
Hz
120
n p
f
tegangan
= (4.5)
Dengan (4.5) ini jelaslah bahwa untuk memperoleh frekuensi
tertentu, kecepatan perputaran rotor harus sesuai dengan jumlah
kutub. Jika diinginkan f = 50 Hz misalnya, untuk p = 2 maka n =
3000 rpm; jika p = 4 maka n = 1500 rpm; jika p = 6 maka n = 1000
rpm, dan seterusnya. Konstruksi mesin dengan kutub menonjol
seperti pada Gb.17.1. sesuai untuk mesin putaran rendah tetapi tidak
sesuai untuk mesin putaran tinggi karena kendala-kendala mekanis.
Mesin Sinkron

164 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Untuk mesin putaran tinggi digunakan rotor dengan konstruksi
silindris.
Dengan pergeseran posisi belitan 120
o
magnetik untuk setiap pasang
kutub, maka kita mendapatkan tegangan sistem tiga-fasa untuk
setiap pasang kutub, yaitu e
a1
pada belitan a
1
a
11
, e
b1
pada b
1
b
11
, dan
e
c1
pada c
1
c
11
. Demikian pula kita memperoleh tegangan e
a2
, e
b2

dan e
c2
pada belitan-belitan di bawah pasangan kutub yang lain. Jadi
setiap pasang kutub akan membangkitkan tegangan sistem tiga-fasa
pada belitan-belitan yang berada dibawah pengaruhnya. Tegangan
yang sefasa, misalnya e
a1
dan e
a2
, dapat dijumlahkan untuk
memperoleh tegangan yang lebih tinggi atau diparalelkan untuk
memperoleh arus yang lebih besar.
Tegangan yang
terbangkit di belitan
pada umumnya
diinginkan berbentuk
gelombang sinus
t A v = cos , dengan
pergeseran 120
o
untuk
belitan fasa-fasa yang
lain. Tegangan
sebagai fungsi waktu
ini pada transformator
dapat langsung
diperoleh di belitan
sekunder karena
fluksinya merupakan
fungsi waktu. Pada
mesin sinkron, fluksi dibangkitkan oleh belitan eksitasi di rotor
yang dialiri arus searah sehingga fluksi tidak merupakan fungsi
waktu. Akan tetapi fluksi yang ditangkap oleh belitan stator harus
merupakan fungsi waktu agar persamaan (4.1) dapat diterapkan
untuk memperoleh tegangan. Fluksi sebagai fungsi waktu diperoleh
melalui putaran rotor. Jika adalah fluksi yang dibangkitkan di
rotor dan memasuki celah udara antara rotor dan stator dengan nilai
konstan maka, dengan mengabaikan efek pinggir, laju pertambahan
fluksi yang ditangkap oleh belitan stator adalah
magnetik
magnetik
s
dt
d
dt
d
=

(4.6)
Gb.4.2. Perhitungan fluksi.

180
o
mekanis = 360
o
magnetik

s
a
1
a
11


Mesin Sinkron

165

Karena
120

2 2
n p
f
magnetik magnetik
= = , maka
60


n p
dt
d
s
=

(4.7)
Dari (4.4) kita peroleh tegangan pada belitan, yaitu
60


n p
N
dt
d
N v
s
=

= (4.8)
Jika bernilai konstan, tidaklah berarti (4.8) memberikan suatu
tegangan konstan karena bernilai konstan positif untuk setengah
perioda dan bernilai konstan negatif untuk setengah perioda
berikutnya. Maka (4.8) memberikan tegangan bolak-balik yang
tidak sinus. Untuk memperoleh tegangan berbentuk sinus, harus
berbentuk sinus juga. Akan tetapi ia tidak dibuat sebagai fungsi
sinus terhadap waktu, akan tetapi sebagai fungsi sinus posisi, yaitu
terhadap
maknetik
. Jadi jika

maknetik m
= cos (4.9)
maka laju pertambahan fluksi yang dilingkupi belitan adalah
( )
magnetik m mmagnetik magnetik m
magnetik
magnetik m magnetik m
s
n p
dt
d
dt
d
dt
d
dt
d
|

\
|
= =

= =

sin
120

2 sin
sin cos
(4.10)
sehingga tegangan belitan
t N N f
n p
N
dt
d
N e
m magnetik m
magnetik m
s
= =
=

=
sin sin 2
sin
60


(4.11)
Persamaan (4.11) memberikan nilai sesaat dari dari tegangan yang
dibangkitkan di belitan stator. Nilai maksimum dari tegangan ini
adalah
Volt
m m
N E = (4.12)
dan nilai efektifnya adalah
Volt 44 , 4

2
2
2

2
m
m
m m
rms
N f
N
f N E
E
=

=

= =
(4.13)
Dalam menurunkan formulasi tegangan di atas, kita menggunakan
perhitungan fluksi yang merupakan penyederhanaan dari konstruksi
mesin a. Di sini ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan yaitu:
Mesin Sinkron

166 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

1. Belitan terdiri dari hanya satu gulungan, misalnya belitan a
1
a
11
,
yang ditempatkan di sepasang alur stator, walaupun gulungan
itu terdiri dari N lilitan. Belitan semacam ini kita sebut belitan
terpusat.
2. Lebar belitan, yaitu kisar sudut antara sisi belitan a
1
dan a
11

adalah 180
o
magnetik. Lebar belitan semacam ini kita sebut
kisar penuh.
Dalam praktek lilitan setiap fasa tidak terpusat di satu belitan,
melainkan terdistribusi di beberapa belitan yang menempati
beberapa pasang alur stator. Belitan semacam ini kita sebut belitan
terdistribusi, yang dapat menempati stator sampai 1/3 kisaran penuh
(60
o
magnetik). Selain dari pada itu, gulungan yang menempati
sepasang alur secara sengaja dibuat tidak mempunyi lebar satu
kisaran penuh; jadi lebarnya tidak 180
o
akan tetapi hanya 80%
sampai 85% dari kisaran penuh. Pemanfaatan belitan terdistribusi
dan lebar belitan tidak satu kisar penuh dimaksudkan untuk
menekan pengaruh harmonisa yang mungkin ada di kerapatan
fluksi. Sudah barang tentu hal ini akan sedikit mengurangi
komponen fundamental dan pengurangan ini dinyatakan dengan
suatu faktor K
w
yang kita sebut faktor belitan. Biasanya K
w

mempunyai nilai antara 0,85 sampai 0,95. Dengan adanya faktor
belitan ini formulasi tegangan (4.13) menjadi
Volt 44 , 4
m w rms
K N f E = (4.14)
Berikut ini beberapa contoh perhitungan tegangan jangkar. Untuk
sementara pembahasan mesin sinkron kutub menonjol kita hentikan
di sini. Kita akan melihat mesin jenis ini lagi setelah pembahasan
mesin sinkron rotor silindris.
CONTOH-4.1: Sebuah generator sinkron tiga-fasa, 4 kutub, belitan
jangkar terhubung Y, mempunyai 12 alur pada statornya dan setiap
alur berisi 10 konduktor. Fluksi kutub terdistribusi secara sinus
dengan nilai maksimumnya 0,03 Wb. Kecepatan perputaran rotor
1500 rpm. Carilah frekuensi tegangan jangkar dan nilai rms
tegangan jangkar fasa-netral dan fasa-fasa.
Solusi :
Frekuensi tegangan jangkar adalah
Hz 50
120
1500 4
120

=

= =
n p
f
Mesin Sinkron

167

Jumlah alur per kutub adalah 3
4
12
= yang berarti setiap pasang
kutub terdapat 3 belitan yang membangun sistem tegangan tiga-
fasa. Jadi setiap fasa terdiri dari 1 belitan yang berisi 10 lilitan.
Nilai rms tegangan jangkar per fasa per pasang kutub adalah
V 6 , 66 03 , 0 10 50 44 , 4 44 , 4 = = =
m ak
N f E
Karena ada dua pasang kutub maka tegangan per fasa adalah : 2
66,6 = 133 V.
Tegangan fasa-fasa adalah 133 3 = 230 V.
CONTOH-4.2: Soal seperti pada Contoh-4.1. tetapi jumlah alur
pada stator ditingkatkan menjadi 24 alur. Ketentuan yang lain tetap.
Solusi :
Frekuensi tegangan jangkar tidak tergantung jumlah alur. oleh
karena itu frekuensi tetap 50 Hz.
Jumlah alur per kutub adalah 6
4
24
= yang berarti setiap pasang
kutub terdapat 6 belitan yang membangun sistem tegangan tiga-
fasa. Jadi setiap fasa pada satu pasang kutub terdiri dari 2 belitan
yang masing-masing berisi 10 lilitan. Nilai rms tegangan jangkar
untuk setiap belitan adalah
V 6 , 66 03 , 0 10 50 44 , 4 V 44 , 4
1
= = =
m a
N f E .
Karena dua belitan tersebut berada pada alur yang berbeda, maka
terdapat beda fasa antara tegangan imbas di keduanya.
Perbedaan sudut mekanis antara dua alur yang berurutan adalah
o
o
15
24
360
= mekanik. Karena mesin mengandung 4 kutub atau 2
pasang kutub, maka 1
o
mekanik setara dengan 2
o
listrik. Jadi
selisih sudut fasa antara tegangan di dua belitan adalah 30
o

listrik sehingga tegangan rms per fasa per pasang kutub adalah
jumlah fasor tegangan di dua belitan yang berselisih fasa 30
o

tersebut.
3 , 33 8 , 124 ) 30 sin 30 (cos 6 , 66 6 , 66
o o
j j
ak
+ = + + = E
Karena ada 2 pasang kutub maka
V 258 ) 3 , 33 ( ) 8 , 124 ( 2
2 2
= + =
a
E
Mesin Sinkron

168 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Tegangan fasa-fasa adalah 258 3 = 447 V
CONTOH-4.3: Soal seperti pada Contoh-4.1. tetapi jumlah alur
pada stator ditingkatkan menjadi 144 alur, jumlah kutub dibuat 16 (8
pasang), kecepatan perputaran diturunkan menjadi 375 rpm.
Ketentuan yang lain tetap.
Solusi :
Frekuensi tegangan jangkar : Hz 50
120
375 16
=

= f
Jumlah alur per kutub 9
16
144
= yang berarti terdapat 9 belitan
per pasang kutub yang membangun sistem tiga-fasa. Jadi tiap
fasa terdapat 3 belitan. Tegangan di tiap belitan adalah
V 6 , 66 03 , 0 10 50 44 , 4
1
= =
a
E ; sama dengan tegangan per
belitan pada contoh sebelumnya karena frekuensi, jumlah lilitan,
dan fluksi maksimum tidak berubah.
Perbedaan sudut mekanis antara dua alur yang berturutan adalah
o
o
5 , 2
144
360
= mekanik. Karena mesin memiliki 16 kutub (8
pasang) maka 1
o
mekanik ekivalen dengan 8
o
listrik, sehingga
beda fasa tegangan pada belitan-belitan adalah
o
20 8 5 , 2 = listrik. Tegangan per fasa per pasang kutub adalah
jumlah fasor dari tegangan belitan yang masing-masing
berselisih fasa 20
o
.
( )
6 , 65 2 , 180
) 40 sin 20 (sin 40 cos 20 cos 1 6 , 66
40 6 , 66 20 6 , 66 6 , 66
o o o o
o o
j
j
ak
+ =
+ + + + =
+ + = E

Karena ada 8 pasang kutub maka tegangan fasa adalah
V 1534 8 , 191 8 ) 6 , 65 ( ) 2 , 180 ( 8
2 2
= = + =
a
E
Tegangan fasa-fasa adalah 1534 3 = 2657 V
Mesin Sinkron

169

4.2. Mesin Sinkron Rotor Silindris
Sebagaimana telah
disinggung di atas,
mesin kutub menonjol
sesuai untuk perputaran
rendah. Untuk
perputaran tinggi
digunakan mesin rotor
silindris yang skemanya
diperlihatkan ada
Gb.4.3. Rotor mesin ini
berbentuk silinder
dengan alur-alur untuk
menempatkan belitan
eksitasi. Dengan
konstruksi ini, reluktansi magnetik jauh lebih merata dibandingkan
dengan mesin kutub menonjol. Di samping itu kendala mekanis
untuk perputaran tinggi lebih mudah diatasi dibanding dengan mesin
kutub menonjol. Belitan eksitasi pada gambar ini dialiri arus searah
sehingga rotor membentuk sepasang kutub magnet U-S seperti
terlihat pada gambar. Pada stator digambarkan tiga belitan terpusat
aa
1
, bb
1
dan cc
1
masing-masing dengan lebar kisaran penuh agar
tidak terlalu rumit, walaupun dalam kenyataan pada umumnya
dijumpai belitan-belitan terdistribusi dengan lebar lebih kecil dari
kisaran penuh.
Karena reluktansi magnetik praktis konstan untuk berbagai posisi
rotor (pada waktu rotor berputar) maka situasi yang kita hadapi
mirip dengan tansformator. Perbedaannya adalah bahwa pada
transformator kita mempunyai fluksi mantap, sedangkan pada mesin
sinkron fluksi tergantung dari arus eksitasi di belitan rotor. Kurva
magnetisasi dari mesin ini dapat kita peroleh melalui uji beban nol.
Pada uji beban nol, mesin diputar pada perputaran sinkron (3000
rpm) dan belitan jangkar terbuka. Kita mengukur tegangan keluaran
pada belitan jangkar sebagai fungsi arus eksitasi (disebut juga arus
medan) pada belitan eksitasi di rotor. Kurva tegangan keluaran
sebagai fungsi arus eksitasi seperti terlihat pada Gb.17.4 disebut
karakteristik beban nol. Bagian yang berbentuk garis lurus pada
kurva itu disebut karakteristik celah udara dan kurva inilah (dengan
Gb.4.3. Mesin sinkron rotor silindris.
a

b

a
1
c
1
b
1
c

U

S

Mesin Sinkron

170 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

ekstra-polasinya) yang akan kita gunakan untuk melakukan analisis
mesin sinkron.
Karakterik
lain yang
penting adalah
karakteritik
hubung singkat
yang dapat kita
peroleh dari uji
hubung
singkat. Dalam
uji hubung
singkat ini
mesin diputar
pada kecepatan
perputaran
sinkron dan
terminal
belitan jangkar
dihubung
singkat (belitan
jangkar
terhubung Y).
Kita mengukur arus fasa sebagai fungsi dari arus eksitasi. Kurva
yang akan kita peroleh akan terlihat seperti pada Gb.4.4. Kurva ini
berbentuk garis lurus karena untuk mendapatkan arus beban penuh
pada percobaan ini, arus eksitasi yang diperlukan tidak besar
sehingga rangkaian magnetiknya jauh dari keadaan jenuh. Fluksi
magnetik yang dibutuhkan hanya sebatas yang diperlukan untuk
membangkitkan tegangan untuk mengatasi tegangan jatuh di
impedansi belitan jangkar.
Perhatikanlah bahwa karakteristik beban-nol dan hubung singkat
memberikan tegangan maupun arus jangkar sebagai fungsi arus
medan. Sesungguhnya arus medan berperan memberikan mmf
(lilitan ampere) untuk menghasilkan fluksi dan fluksi inilah yang
mengimbaskan tegangan pada belitan jangkar. Jadi dengan
karakteristik ini kita dapat menyatakan pembangkit fluksi tidak
dengan mmf akan tetapi dengan arus medan ekivalennya dan hal
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
9000
10000
11000
12000
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
Arus medan [A]
T
e
g
a
n
g
a
n

F
a
s
a
-
N
e
t
r
a
l

[
V
]
Gb.4.4. Karakteristik beban-nol dan hubung singkat.
Karakteristik celah udara (linier).
beban-nol
V=V(I
f
)|
I =0

hubung singkat
I = I

(I
f
) |
V=0
celah udara
V=kI
f
0
0
A
r
u
s

f
a
s
a

[
A
]
Mesin Sinkron

171

inilah yang akan kita lakukan dalam menggambarkan diagram fasor
yang akan kita pelajari beikut ini.
4.2.1. Diagram Fasor dan Reaktansi Sinkron
Kita ingat bahwa pada transformator besaran-besaran tegangan,
arus, dan fluksi, semuanya merupakan besaran-besaran yang
berubah secara sinusoidal terhadap waktu dengan frekuensi yang
sama sehingga tidak terjadi kesulitan menyatakannya sebagai
fasor. Pada mesin sinkron, hanya tegangan dan arus yang
merupakan fungsi sinus terhadap waktu; fluksi rotor, walaupun ia
merupakan fungsi sinus tetapi tidak terhadap waktu tetapi terhadap
posisi sehingga tak dapat ditentukan frekuensinya. Menurut
konsep fasor, kita dapat menyatakan besaran-besaran ke dalam
fasor jika besaran-besaran tersebut berbentuk sinus dan
berfrekuensi sama. Oleh karena itu kita harus mencari cara yang
dapat membuat fluksi rotor dinyatakan sebagai fasor. Hal ini
mungkin dilakukan jika kita tidak melihat fluksi rotor sebagai
dirinya sendiri melainkan melihatnya dari sisi belitan jangkar.
Walaupun fluksi rotor hanya merupakan fungsi posisi, tetapi ia
dibawa berputar oleh rotor dan oleh karena itu belitan jangkar
melihatnya sebagai fluksi yang berubah terhadap waktu. Justru
karena itulah terjadi tegangan imbas pada belitan jangkar sesuai
dengan hukum Faraday. Dan sudah barang tentu frekuensi
tegangan imbas di belitan jangkar sama dengan frekuensi fluksi
yang dilihat oleh belitan jangkar.
Kita misalkan generator dibebani dengan beban induktif sehingga
arus jangkar tertinggal dari tegangan jangkar.

Gb.4.5. Posisi rotor pada saat e
maks
dan i
maks
.
U

S

sumbu
e
maks
sumbu magnet

(a)

a

a
1
a

a
1
U

S

sumbu
i
maks
sumbu magnet

(b)


Mesin Sinkron

172 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Gb.4.5.a. menunjukkan posisi rotor pada saat imbas tegangan di
aa
1
maksimum. Hal ini dapat kita mengerti karena pada saat itu
kerapatan fluksi magnetik di hadapan sisi belitan a dan a
1
adalah
maksimum. Perhatikanlah bahwa pada saat itu fluksi magnetik
yang dilingkupi oleh belitan aa
1
adalah minimum. Sementara itu
arus di belitan aa
1
belum maksimum karena beban induktif. Pada
saat arus mencapai nilai maksimum posisi rotor telah berubah
seperti terlihat pada Gb.4.5.b.
Karena pada mesin dua kutub sudut mekanis sama dengan sudut
magnetis, maka beda fasa antara tegangan dan arus jangkar sama
dengan pegeseran rotasi rotor, yaitu . Arus jangkar memberikan
mmf jangkar yang membangkitkan medan magnetik lawan yang
akan memperlemah fluksi rotor. Karena adanya reaksi jangkar ini
maka arus eksitasi haruslah sedemikian rupa sehingga tegangan
keluaran mesin dipertahankan.
Catatan : Pada mesin rotor silindris mmf jangkar mengalami
reluktansi magnetik yang sama dengan yang dialami oleh mmf
rotor. Hal ini berbeda dengan mesin kutub menonjol yang akan
membuat analisis mesin kutub menonjol memerlukan cara
khusus sehingga kita menunda pembahasannya.
Diagram fasor (Gb.4.6) kita gambarkan dengan ketentuan berikut
1. Diagram fasor dibuat per fasa dengan pembebanan induktif.
2. Tegangan terminal
a
V dan arus jangkar
a
I adalah
nominal.
3. Tegangan imbas digambarkan sebagai tegangan naik; jadi
tegangan imbas tertinggal 90
o
dari fluksi yang
membangkitkannya.
4. Belitan jangkar mempunyai reaktansi bocor X
l
dan resistansi
R
a
.
5. Mmf (fluksi) dinyatakan dalam arus ekivalen.
Dengan mengambil tegangan terminal jangkar V
a
sebagai
referensi, arus jangkar I
a
tertinggal dengan sudut dari V
a
(beban
induktif). Tegangan imbas pada jangkar adalah
( )
l a a a a
jX R + + = I V E (4.15)
Mesin Sinkron

173

Tegangan imbas
a
E ini harus dibangkitkan oleh fluksi celah udara
yang dinyatakan dengan arus ekivalen
fa
I yang 90
o
mendahului
a
E . Arus jangkar
a
I memberikan fluksi lawan dari jangkar yang
dinyatakan dengan arus ekivalen
a
I . Jadi fluksi dalam celah udara
merupakan jumlah dari fluksi rotor
f
yang dinyatakan dengan arus
ekivalen
f
I dan fluksi jangkar. Jadi
a f fa
+ = I I I atau
a fa f
= I I I (4.16)
Dengan perkataan lain arus eksitasi rotor
f
I haruslah cukup untuk
membangkitkan fluksi celah udara guna membangkitkan
a
E dan
mengatasi fluksi lawan jangkar agar tegangan terbangkit
a
E dapat
dipertahankan. Perhatikan Gb.4.6:
f
I membangkitkan tegangan
f
E yang 90
o
di belakang
f
I dan lebih besar dari
a
E .

Gb.4.6. Diagram fasor mesin sinkron rotor silindris.
Hubungan antara nilai
a
E dan
fa
I diperoleh dari karakteristik
celah udara, sedangkan antara nilai
a
I dan
a
I diperoleh dari
karakteristik hubung singkat. Dari karakteristik tersebut, seperti
terlihat pada Gb.17.4., dapat dinyatakan dalam bentuk hubungan
fa v a
I k E = dan
a i a
I k I

= atau
a fa f
= I I I



f
E
a
E
l a
X jI
a a
R I
a
V
a
I
a
I
a
I
fa
I
Mesin Sinkron

174 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

v a fa
k E I / = dan
i a a
k I I / =

(4.17)
dengan k
v
dan k
i
adalah konstanta yang diperoleh dari kemiringan
kurva Gb.17.4. Dari (4.7) dan Gb.17.6. kita peroleh
=
+ + = =

i
a
v
a
i
a
v
a
a fa f
k
I
k
E
j
k
I
k
E

) 180 ( ) 90 (
o o
I I I
(4.18)
Dari (4.18) kita peroleh
f
E yaitu
a
i
v
a a
i
v
a
i
a
v
a
v f v aa
k
k
j I
k
k
j E
k
I
k
E
j jk jk
I E
I E
+ = + =
|
|

\
|
= =

(4.19)
Suku kedua (4.19) dapat kita tulis sebagai
a a
jX I

dengan
i
v
a
k
k
X =

(4.20)

yang disebut reaktansi reaksi jangkar karena suku ini timbul akibat
adanya reaksi jangkar. Selanjutnya (4.19) dapat ditulis
( )
( )
a a a a
a a l a a a a a a f
jX R
jX jX R jX
+ + =
+ + + = + =

I V
I I V I E E

(4.21)
dengan
a l a
X X X

+ = yang disebut reaktansi sinkron.
Diagram fasor Gb.4.6. kita gambarkan sekali lagi menjadi Gb.4.7.
untuk memperlihatkan peran reaktansi reaksi jangkar dan reaktansi
sinkron.
Perhatikanlah bahwa pengertian reaktansi sinkron kita turunkan
dengan memanfaatkan karakteristik celah udara, yaitu karakteristik
linier dengan menganggap rangkaian magnetik tidak jenuh. Oleh
karena itu reaktansi tersebut biasa disebut reaktansi sinkron tak
jenuh.
Mesin Sinkron

175


4.2.2. Rangkaian Ekivalen Mesin Sinkron Rotor Silindris
Sumber tegangan cukup memadai untuk menggambarkan
rangkaian ekivalen mesin sinkron rotor silindris. Kumparan-
kumparan jangkar, tempat dibangkitkannya tegangan,
mengandung resistansi dan reaktansi. Selain itu, antar kumparan
juga terjadi kopling magnetic karena letak mereka yang saling
berdekatan pada posisi yang simetris. Kita anggap bahwa ketiga
kumparan jangkar adalah identik, masing-masing dengan
resistansi R
a
dan reaktansi X
a
. Antar ketiga kumparan terjadi
reaktansi bersama X
m
. Jika tegangan terbangkit di kumparan
jangkar adalah
c b a
E E E dan , , dan tegangan fasa-netral di
terminal mesin adalah
cn bn an
V V V dan , , , maka dapat
digambarkan rangkaian ekivalen seperti pada Gb.4.8.
Pada Gb.4.8. ini
c b a
I I I dan , , adalah arus fasa a, b, dan c yang
keluar dari terminal mesin dan ketiganya kembali melalui
penghantar netral melalui impedansi Z
n
. Aplikasi hokum Kirchhoff
pada rangkaian ini memberikan persamaan



Gb.4.7. Diagram fasor mesin sinkron rotor silindris;
reaktansi reaksi jangkar (X
a
) dan reaktansi sinkron (X
a
).
a fa f
= I I I
aa
E
a a
X j

I
a a
X jI
l a
X jI
a
E
a a
R I
a
V
a
I
a
I
a
I
fa
I
Mesin Sinkron

176 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)



an c m n b m n a n a a
an c b m c b a n a a a a
jX Z jX Z Z jX R
jX Z jX R
V I I I
V I I I I I I E
+ + + + + + + =
+ + + + + + + =
) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (

(4.20.a)
bn c m n a m n b n a a b
jX Z jX Z Z jX R V I I I E + + + + + + + = ) ( ) ( ) (
(4.20.b)
cn b m n a m n c n a a c
jX Z jX Z Z jX R V I I I E + + + + + + + = ) ( ) ( ) (
(4.20.c)

Jika kita tuliskan
m n m
n a a s
jX Z Z
Z jX R Z
+ =
+ + =
(4.21)
Maka persamaan 4.20.a,b,c menjadi
cn b m a m c s c
bn c m a m b s b
an c m b m a s a
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
V I I I E
V I I I E
V I I I E
+ + + =
+ + + =
+ + + =
(4.22)
Dalam bentuk matriks, persamaan (4.22) adalah
(
(
(

+
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

an
an
an
c
b
a
s m m
m s m
m m s
c
b
a
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
V
V
V
I
I
I
E
E
E
(4.23.a)
c
I
a
b
c
bn
V
a a
jX R
n
a
I
b
I
c b a
I I I + +
m
jX
m
jX
m
jX
an
V
cn
V
N

+
+
n
Z



c
E
a
E
b
E
a a
jX R
a a
jX R
Gb.4.8. Rangkaian ekivalen mesin sinkron

Mesin Sinkron

177

atau secara lebih ringkas
[ ]
abc abc abc abc
Z V I E
~ ~ ~
+ = (4.23.b)
Kita ingat bahwa
[ ]
012
~

~
I T I =
abc
dan [ ]
012
~

~
V T V =
abc

dan kita masukkan ke (4.23.b) serta kita kalikan kedua ruas
(4.23.b) dengan [ ]
1
T maka kita peroleh

[ ] [ ] [ ][ ] [ ] [ ]
[ ]
012 012 012
012
1
012
1 1
~ ~

~ ~ ~
V I
V T T I T T E T
+ =
+ =

Z
Z
abc abc
(4.24.a)
Kita hitung ruas kiri (9.24.a)
[ ]
(
(
(

=
(
(
(

=
(
(
(

(
(
(

0
0
0
3
0
3
1

1
1
1 1 1
3
1 ~
2
2
2 1
f f
f
f
f
abc
a
a
a a
a a E E
E
E
E
E T ( 4.24.b)
[ ]
012
Z pada (4.24.a) adalah
[ ] [ ] [ ][ ]
(
(
(

+
= =

m s
m s
m s
abc
Z Z
Z Z
Z Z
Z Z
0 0
0 0
0 0 2

1
012
T T
(4.24.c)
dengan Z
s
dan Z
m
diberikan oleh (4.21). Elemen-elemen matriks
(4.24.c) menjadi
n m a a
m n n a a m s
Z X X j R
X j Z Z jX R Z Z Z
3 ) 2 (
2 2 2
00
+ + + =
+ + + + = + =
(4.25.a)
) (
11
m a a
m n n a a m s
X X j R
jX Z Z jX R Z Z Z
+ =
+ + = =
4.25.b)
) (
22
m a a
m n n a a m s
X X j R
jX Z Z jX R Z Z Z
+ =
+ + = =
(4.25.c)
sehingga (4.24.c) menjadi
Mesin Sinkron

178 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

[ ]
(
(
(

=
22
11
00
012
0 0
0 0
0 0
Z
Z
Z
Z (4.25.d)
Dengan (4.25.b) dan (4.25.d) maka (4.23.a) menjadi
(
(
(

+
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

2
1
0
2
1
0
22
11
00

0 0
0 0
0 0
0
0
V
V
V
I
I
I
E
Z
Z
Z
(4.26.a)
Persamaan (4.26.a) ini memberi jalan untuk menggambarkan
rangkaian urutan dari mesin sinkron. Dengan mengingat bahwa Z
n

bukanlah komponen mesin, didefinisikan impedansi urutan mesin
sebagai
22 2 11 1 00 0
; ; 3 Z Z Z Z Z Z Z
n
= = = (4.26.b)
Berdasarkan (4.26.a) dan (4.26.b) kita gambarkan rangkaian
urutan seperti terlihat pada Gb.4.9.

0
Z
n
Z 3
0
V
0
I
+

Rangkaian urutan nol.


1
V
1
I
+

1
Z
E

Rangkaian urutan Positif
Rangkaian urutan negatif.
Gb.4.9. Rangkaian urutan mesin sinkron.
2
V
2
I
+

2
Z
Mesin Sinkron

179

Penurunan rangkaian urutan di atas cukup sederhana dengan hasil
yang sederhana pula dan kita akan menggunakannya dalam
analisis. Namun sesungguhnya beberapa hal tidak kita
pertimbangkan dalam penurunan tersebut. Misalnya keberadaan
damper winding tidak kita singgung; dan demikian juga tegangan
terbangkit di kumparan jangkar kita anggap ditimbulkan oleh arus
eksitasi yang konstan padahal dalam kenyataannya tidak
demikian; rangkaian magnetic mesin juga kita anggap memiliki
karakteristik linier walaupun kenyataannya nonlinier. Hal-hal yang
kita abaikan ini diperhitungkan oleh pembuat mesin.
4.2. Kopling Turbin-Generator
Generatos sinkron diputar oleh turbin. Turbin memberikan daya
mekanis. Jika generator tidak bebeban, torka mekanis yang
dikeluarkan oleh turbin hanya digunakan untuk mengatasi gesekan
dengan udara dari bagian-bagian yang berputar dan gesekan poros
dengan bantalan. Gesekan ini memberikan torka yang melawan
torka dari turbin; torka lawan akibat gesekan ini biasanya kecil
dibandingkan dengan torka lawan dari generator, dan biasanya
diabaikan. Torka lawan dari generator terjadi jika generator diberi
beban. Arus yang mengalir di kumparan jangkar sebagai akibat
pembebanan, menimbulkan medan magnet yang berinteraksi dengan
medan magnet dari rotor. Interaksi ini menimbulkan torka lawan
terhadap torka turbin. Jika torka turbin kita sebut T
m
(torka mekanis)
dan torka lawan dari generator kita sebut T
e
(torka listrik) maka kita
mendapat persamaan
dt
d
J T T
rm
e m

= (4.27)
dengan J adalah inersia seluruh massa yang berputar, dan
rm

adalah kecepatan perputaran rotor (kecepatan putar mekanis).
Persamaan (4.27) ini sudah barang tentu merupakan persamaan
umum yaitu jika memang
rm
berubah terhadap waktu; hal
demikian terjadi pada peristiwa transien. Untuk sementara kita tidak
melihat kondisi transien, tetapi hanya kondisi mantap. Oleh karena
itu 0 / = dt d
rm
sehingga (4.27) menjadi
0 =
e m
T T atau
e m
T T = (4.28)
Mesin Sinkron

180 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dalam kondisi mantap, kecepatan perputaran mekanis rotor,
rm
,
sama dengan kecepatan perputar sinkron,
s rm
= . Jika
persamaan (4.28) kita kalikan dengan
rm
maka kita peroleh
e m
s e rm e rm m
P P
T T T
=
= =

atau (4.29)
Persamaan (4.29) menunjukkan bahwa dengan mengabaikan rugi-
rugi gesekan dengan udara dan bantalan poros, seluruh daya
mekanik diubah menjadi daya listrik.
4.4. Daya Mesin Sinkron
Dalam model satu-fasa, tegangan terbangkit di kumparan jangkar
per fasa adalah
f
E , tegangan di terminal generator adalah V .
Adanya impedansi belitan jangkar membuat
f
E dan V berbeda fasa.
Jika kita ambil tegangan terminal generator sebagai referensi dan
beda sudut fasa antara tegangan terminal dan tegangan terbangkit
adalah , maka
= =
f f
E V E V dan 0
o
(4.30)
dan disebut sudut daya (power angle)
Impedansi belitan jangkar tiap fasa adalah
a a
jX R Z + = (4.31.a)
Karena X
a
>> R
a
maka
d a
jX jX Z = (4.31.b)
X
d
adalah reaktansi jangkar yang disebut direct axis reactance.
Mesin Sinkron

181

Kita menganggap generator sinkron terbebani seimbang. Oleh
karena itu rangkaian ekivalen yang kita perlukan hanyalah rangkaian
urutan positif. Jika beban generator sinkron kita modelkan sebagai
sumber tegangan, kita memperoleh rangkaian ekivalen generator
sinkron dengan bebannya seperti terlihat pada Gb.4.10.

Dengan (4.12.b) daya per fasa yang keluar dari terminal generator
adalah

|
|

\
|
= =
d
f
f
jX
S
V E
V I V (4.32.a)
Dengan memasukkan (4.30) maka (4.32.a) menjadi
f f
d d
f
d
f
d d
f
d
f
f
jQ P
X
V
X
VE
j
X
VE
X
V
X
VE
X
V E
V S
+ =
|
|

\
|
+ =
=
|
|

\
|

2
o
2
o
o
o
o
cos sin
90 ) 90 (
90
0
0
(4.32.b)
dengan
= sin
d
f
f
X
VE
P dan
|
|

\
|
=
d d
f
f
X
V
X
VE
Q
2
cos (4.33)
P
f
adalah daya nyata dan Q
f
adalah daya reaktif (per fasa).
Kita telah melihat pada (4.10) bahwa dengan mengabaikan rugi
daya pada gesekan, seluruh daya mekanik dari turbin dikonversi
menjadi daya listrik. Turbin hanya memberikan daya nyata, namun
generator mengubahnya menjadi daya nyata dan daya reaktif. Hal
V
I
+
d
jX
f
E

+
Gb.4.10. Rangkaian ekivalen model satu-
fasa generator sinkron dengan beban
seimbang.
Mesin Sinkron

182 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

ini berarti bahwa jika kita menambah daya turbin dengan menambah
uap pada turbin uap atau menambah debit air pada turbin air, daya
yang bertambah adalah daya nyata, P. Jika
d f
X V E ,
,
tidak
berubah maka peningkatan P berarti bertambahnya sudut daya .
Pertambahan daya nyata ini ada batasnya, yaitu pada saat 1 sin = ,
dan inilah daya nyata maksimum yang bisa diberikan oleh generator,
yang disebut batas stabilitas keadaan mantap. Apabila kita teruskan
menambah daya turbin dengan menambah uap lagi, mesin akan
keluar dari perputaran sinkron. Oleh karena itu generator sinkron
dioperasikan pada nilai yang cukup rendah dari daya maksimumnya,
sekitar 20%.
Kelebihan pasokan daya nyata mekanis tidak hanya terjadi jika kita
menambah daya turbin. Kelebihan tersebut juga terjadi jika dalam
operasi normal tiba-tiba beban hilang sebagian (beban keluar dari
jaringan). Dalam hal demikian sudut meningkat untuk sementara,
perputaran bertambah, sampai governor secara otomatis mengatur
masukan uap untuk mengembalikan perputaran turbin ke perputaran
semula, dan kondisi operasi kembali normal.
Jika kita perhatikan persamaan untuk Q
f
pada (4.33), peningkatan
yang meningkatkan P
f
, justru menurunkan Q
f
. Daya reaktif Q
f
bisa
meningkat jika E
f
meningkat yaitu dengan menambah arus eksitasi.
Dengan kata lain penambahan Q
f
dilakukan dengan menambah
arus eksitasi. Sebagaimana telah kita pelajari, daya ini mengalir dari
sumber ke beban dalam setengah perioda dan mengalir dari beban
ke sumber dalam setengah perioda berikutnya. Nilai rata-ratanya
adalah nol; daya reaktif tidak memberikan transfer energi. Kita lihat
contoh persoalan berikut.
CONTOH-4.4: [1] Beban seimbang generator sinkron memiliki
faktor daya 0,8 lagging. Reaktansi ratingnya) (pada pu 7 , 0 =
d
X .

a). Hitung , P
f
, Q
f
, E
f
, dan , dan gambarkan fasor diagramnya.
V
I
+
pu 7 , 0 =
d
jX
f
E

+
Mesin Sinkron

183

b). Daya turbin penggerak generator ditambah sebesar 20% dengan
menambahkan pasokan uap. Hitung P, Q, E
f
, dan , pada keadaan
ini, dan gambarkan diagram fasornya bersama dengan diagram fasor
keadaan sebelumnya (soal a).
c) Kembalikan pasokan daya turbin pada kondisi a. Sekarang naikkan
arus eksitasi sehingga E
f
meningkat sebesar 20%. Hitung P, Q, E
f
,
dan , pada keadaan baru ini, dan gambarkan diagram fasornya
bersama dengan diagram fasor keadaan sebelumnya (soal a).
Solusi:
a). Kita tetapkan referensi
o
0 1 = V
o 1
9 , 36 ) 8 , 0 ( cos = =


6 , 0 8 , 0 9 , 36 1
o
j = = I
o
5 , 21 53 , 1 56 , 0 42 , 1 1 ) 6 , 0 8 , 0 ( 7 , 0 = + = + = = j j j jX
d f
I E
53 , 1 =
f
E
o
5 , 21 =
8 , 0 ) 5 , 21 sin(
7 , 0
53 , 1 1
sin
o
=

= =
d
f
f
X
VE
P
6 , 0
7 , 0
1
) 5 , 21 cos(
7 , 0
53 , 1 1
cos
2
o
2
1
=

= =
d d
f
f
X
V
X
VE
Q
Diagram fasornya terlihat pada gambar berikut.

b). Daya turbin penggerak generator ditambah sebesar 20% dengan
menambahkan pasokan uap. Hitung P, Q, E
f
, dan , pada
keadaan ini, dan gambarkan diagram fasornya bersama dengan
diagram fasor keadaan sebelumnya (soal a).
Tetap gunakan referensi
o
0 1 = V

V
f
E
I
d
jX
I

Mesin Sinkron

184 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

96 , 0 8 , 0 2 , 1 2 , 1 = = = P P (meningkat 20% dari P pada soal a).
53 , 1 = =
f f
E E (tidak berubah, eksitasi tidak ditambah).
o 1 1
1 , 26
1 53 , 1
7 , 0 96 , 0
sin sin =
|
|

\
|

=
|
|

\
|

=

V E
X P
f
d
(meningkat 21%).
11%) (menurun 535 , 0
7 , 0
1
) 1 , 26 cos(
7 , 0
1 53 , 1
cos
2
o
2
=

=
d d
f
X
V
X
V E
Q

Diagram fasor adalah seperti gambar berikut
.
c) Kembalikan pasokan daya turbin pada kondisi a. Sekarang
naikkan arus eksitasi sehingga E
f
meningkat sebesar 20%. Hitung
P, Q, E
f
, dan , pada keadaan baru ini, dan gambarkan diagram
fasornya bersama dengan diagram fasor keadaan sebelumnya
(soal a).
Tetap gunakan referensi
o
0 1 = V .
8 , 0 = = P P (tidak berubah)
84 , 1 53 , 1 2 , 1 2 , 1 = = =
f f
E E (naik 20%)
o 1 1
8 , 17
1 84 , 1
7 , 0 8 , 0
sin sin =
|
|

\
|

=
|
|

\
|


=

V E
X P
f
d
(menurun 17%)
44%) (meningkat 07 , 1
7 , 0
1
) 8 , 17 cos(
7 , 0
1 84 , 1
cos
2
o
2
=

=

=
d d
f
X
V
X
V E
Q

V
f
E
I
d
jX
1
I

f
E

1
I
I
d
jX
Mesin Sinkron

185

Diagram fasor terlihat di bawah ini.

4.5. Batas Operasi Mesin Sinkron
Menambah daya nyata ada batasnya karena menambah daya nyata
berarti memperbesar arus jangkar yang berarti menaikkan
temperatur kumparan jangkar. Demikian juga halnya dengan daya
reaktif. Meningkatkan E
f
, untuk menambah daya reaktif, ada
batasnya karena meningkatkan E
f
berarti menambah arus eksitasi.
Kita lihat lebih dulu upaya menambah daya reaktif dengan
menambah arus eksitasi. Makin tinggi arus eksitasi berarti kenaikan
temperatur pada belitan eksitasi. Kenaikan temperatur ini harus
dibatasi agar tidak merusak belitan eksitasi dengan menetapkan nilai
maksimum arus eksitasi, I
fmaks
. Arus maksimum ini akan
memberikan tegangan terbangkit maksimum, E
f maks
. Dengan E
f maks
maka daya per fasa generator adalah:
|
|

\
|
+ =
d d
fmaks
d
fmaks
E
f
X
V
X
VE
j
X
VE
S
fmaks
2
cos sin (4.34)
yaitu batas daya yang terkait dengan pembatasan E
f
. Jika daya ini
kita plot pada bidang P-Q, maka kurva
fmaks
E
f
S akan berbentuk
lingkaran dengan jari-jari
d
maks f
E
X
VE
r

=
dan pusat di
|
|

\
|
=

d
X
V
2
, 0 O
seperti terrlihat pada Gb.4.11.

V
f
E
I
d
jX
1
I

f
E
Mesin Sinkron

186 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


Akan tetapi tidak seluruh lingkaran merupakan tempat kedudukan
fmaks
E
f
S karena ada nilai maksimum daya nyata yaitu batas
stabilitas keadaan mantap yang terjadi pada nilai
o
90 atau 1 sin = = . Pada
o
90 = P mencapai nilai maksimum
dan Q = 0; keadaan ini ditunjukkan oleh posisi titik p. Pada
o
0 = ,
P = 0 dan Q mencapai nilai maksimum; keadaan ini ditunjukkan
oleh posisi titik q. Inilah batas operasi generator sinkron yang terkait
dengan pembatasan arus eksitasi.
Sekarang kita lihat upaya menambah daya nyata. Penambahan daya
nyata, dengasn menambah pasokan uap misalnya, akan menambah
arus jangkar; arus jangkar juga harus dibatasi. Kumparan jangkar
mengandung resistansi. Arus yang dikeluarkan oleh generator harus
melalui resistansi ini dan menimbulkan panas di kumparan jangkar.
Upaya pendinginan harus dilakukan agar panas yang timbul di
kumparan jangkar tidak melewati batas yang bisa merusakkan
isolasi. Perlu kita ingat bahwa suhu jangkar tidaklah merata, akan
tetapi ada bagian-bagian tertentu yang lebih tinggi suhunya dari
bagian lain. Suhu di titik terpanas inilah yang harus diperhatikan
untuk menetapkan batas suhu dalam operasi. Bagaimanapun usaha
pendinginan dilakukan, tetap ada batas teratas nilai arus yang harus
P
Q
d
X
V
2

E
r
fmaks
E
f
S
O'
p
q
Gb.4.11. Kurva
fmaks
E
f
S pada bidang P-Q.
Mesin Sinkron

187

ditetapkan yang tak boleh dilampaui. Batas atas yang ditetapkan
untuk arus itu disebut rated current,
rated
I .
Selain ditetapkan batas atas nilai arus jangkar, ditetapkan juga batas
atas nilai tegangan yang juga tak boleh dilampaui, yang disebut
rated voltage, V
ff rated
. Batas arus dan batas tegangan memberikan
batas nilai daya tiga-fasa |S
3f rated
|.
3
3
=
rated f rated ff rated f
I V S (4.35.a)
Daya keluaran mesin pada waktu operasi haruslah
rated f f
S S
3 3
atau daya per fasa
3
3 rated f
f
S
S (4.35.b)
Dari rangkaian ekivalen Gb.4.10, batas daya per fasa adalah
rated rated rated f
rated
d
rated
rated rated rated f
I V S
X
V
S
=
= =

cos

2

I V
(4.36)
Faktor daya juga memiliki nilai batas yang terkait dengan batas
tegangan terbangkit yang ditetapkan, E
f maks
.
Kurva batas daya per fasa
rated f
S

juga berbentuk lingkaran dengan
pusat di O(0,0)
jari-jari
d rated r
X V r /
2
= .
Gb.4.12. memperlihatkan kurva
rated f
S

bersama dengan kurva
fmaks
E
f
S .
Mesin Sinkron

188 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)


Titik potong antara kurva
rated f
S

dan kurva
fmaks
E
f
S , yaitu titik a
pada Gb.4.12, harus berarti bahwa titik tersebut menunjukkan batas
daya yang terkait dengan
rated rated
I V , , mupun terkait dengan E
f
maks
; dan garis Oa membuat sudut faktor daya
rated
dengan sumbu P.
Apabila kita turunkan sampai bernilai nol, maka kurva
rated f
S


mencapai titik b, dan 1 cos = ; daya reaktif nol. Titik b inilah
menunjukkan nilai maksimum daya nyata yang dapat diberikan oleh
mesin dan bukan p karena daya nyata di b lebih rendah dari daya
nyata di p.
Apabila kita naikkan sampai 90
o
maka kurva
rated f
S

mencapai
titik c, dan 0 cos = ; daya nyata nol. Akan tetapi titik c tidak
menjadi batas nilai daya reaktif maksimum, karena ada pembatasan
lain yang lebih redah yang ditunjukkan oleh titik q yaitu batas daya
reakti oleh adanya pembatasan E
fmaks.

Berikut ini kita lihat contoh mencari nilai E
f maks
pada kedua kondisi
limit tersebut.
P
Q
d
X
V
2

fmaks
E
f
S
O'
rated f
S

rated

O
a
b
c
p
q
Gb.4.12. Kurva
fmaks
E
f
S dan
rated f
S

.

Mesin Sinkron

189

CONTOH-4.5. [1] Sebuah generator memiliki X
d
= 1,2 pu. Hitung
E
f
yang diperlukan, agar faktor daya menjadi (a) maksimum, f.d.=1,
(b) minimum, f.d. = 0 (lagging),
Solusi: Kita ambil
referensi fasor
o
0 1 = V pada
rangkaian ekivalen
di samping ini.
a) Agar faktor daya = 1:
0 1 0 1
o
j + = = I
o
2 , 50 56 , 1 1 1 2 , 1 = + = + = j jX
d f
V I E
56 , 1 =
f
E
b) Agar faktor daya = 0:
1 0 90 1
o
j = = I
o
0 20 , 2 1 ) 1 ( 2 , 1 = + = + = j j jX
d f
V I E
20 , 2 =
f
E
Contoh-4.5 menunjukkan bahwa pada faktor daya lagging mulai
dari 1 sampai 0, E
f
yang diperlukan cukup tinggi. Tingginya E
f

berarti tingginya arus eksitasi. Sedangkan makin tinggi arus eksitasi
berarti kenaikan temperature belitan eksitasi.yang makin tinggi pula.
Kenaikan temperatur ini harus dibatasi agar tidak merusak belitan
eksitasi dengan menetapkan nilai maksimum arus eksitasi, I
f maks
.
Arus maksimum ini akan memberikan tegangan terbangkit
maksimum, E
f maks
. Batas yang ditentukan ini tidaklah perlu sampai
mencapai kondisi dimana faktor daya nol (E
f
=2,20 pada contoh di
atas) karena tak ada manfaatnya membuat generator yang
dioperasikan untuk tidak memberikan daya nyata.
Tugas generator adalah mencatu daya ke beban. Beban memiliki
impedansi dan faktor dayanya sendiri. Jika generator harus menuruti
permintaan beban, maka jika faktor daya beban terlalu rendah,
V
I
+
d
jX
f
E

+
Mesin Sinkron

190 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

generator akan menderita karena harus beroperasi pada faktor daya
yang terlalu rendah tersebut. Oleh karena itu harus ada persyaratan
faktor daya di beban; persyaratan itu misalnya faktor daya beban
paling rendah 0,85 lagging.
Kita amati sekarang bagian kurva
rated f
S

yang berada di bawah
sumbu P. Bagian kurva ini adalah tempat kedudukan
rated f
S


dengan faktor daya leading, Q negatif. Makin negatif daya reaktif,
makin kecil arus eksitasi karena batas E
maks
kecil, namun makin
besar sudut daya makin besar. Contoh berikut ini akan
memberikan gambaran lebih jelas.
CONTOH-4.6: [1] Pada rangkaian ekivalen contoh-4.5, tentukan E
f

agar faktor daya menjadi 0,553.
Solusi:
Pada faktor daya 0,553,
o 1
4 , 56 ) 553 , 0 ( cos = =



o
4 , 56 1 = I
o
90 664 , 0 1 4 , 56 1 2 , 1 = + = + = j jX
d f
V I E
664 , 0 =
f
E
o
90 =
Untuk pembebanan dengan faktor daya leading eksitasi yang
diperlukan cukup rendah. Namun makin rendah E
maks
, sudut makin
besar dan mencapai 90
o
pada faktor daya 0,553. Inilah nilai yang
tak dikehendaki karena generator berada pada titik batas stabilitas
mantapnya; sedikit saja terjadi kenaikan , generator akan keluar
dari perputaran sinkron. Oleh karena itu diperlukan suatu nilai
maksimum
maks
untuk membatasi operasi. Penetapan nilai
maks

dapat dilakukan dengan menetapkan daya nyata minimum yang
tetap harus masih ada jika terjadi pembebanan kapasitif; misalkan
P
minimal
= 10% P
rated
atau 9 , 0 sin =
maks
sehingga
o 1
2 , 64 9 , 0 sin = =

maks
. Pada suatu
maks
yang ditetapkan, nilai
P dan Q diberikan melalui relasi (4.14) yaitu
Mesin Sinkron

191

maks
d
f
X
VE
P = sin dan
|
|

\
|
=
d
maks
d
f
X
V
X
VE
Q
2
cos (4.37)
Dari daya nyata diperoleh relasi
maks d
f
P
X
VE

=
sin

jika ini kita pakai untuk menyatakan Q kita peroleh:
d maks d
maks
maks
X
V P
X
V P
Q
2 2
tan
cos
sin

=
|
|

\
|

= (4.38)
Persamaan (4.38) membentuk kurva garis lurus di bidang P-Q.
Garis ini memotong sumbu Q di
d
X
V
2
dan memotong sumbu P di
d
maks
X
V tan
2
. Gb.4.13. menunjukkan posisi garis lurus tersebut,
bersama dengan kurva
frated
S dan
maks
E
f
S ; garis lurus itu
berpotongan dengan kurva
frated
S di titk d.

P
Q
d
X
V
2

fmaks
E
f
S
O'
rated f
S

rated

O
a
b
c
d
q
p
d
maks
X
V tan
2
Gb.4.13. Batas-batas operasi generator sinkron.
Mesin Sinkron

192 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dengan demikian maka batas-batas operasi generator sinkron, baik
karena pembatasan arus eksitasi maupun pembatasan arus jangkar
dan tegangan terminal, adalah kurva qabdO pada Gb.4.13. Bagian
kurva qa adalah batas operasi karena pembatasan arus eksitasi pada
pembebanan induktif, kurva ab adalah batas operasi karena
pembatasan arus dan tegangan jangkar pada pembebanan induktif,
kurva bd adalah batas operasi karena pembatasan oleh arus jangkar
dan tegangan jangkar pada pembebanan kapasitif., garis dO adalah
batas operasi karena pembatasan
maks
. Di dalam batas-batas kurva
inilah generator sinkron boleh beroperasi. Bagian kurva di sebelah
kiri sumbu Q tidak diperlukan dan dihapus.
Sesungguhnya batas operasi generator tidak hanya oleh pembatasan
di rangkaian eksitasi dan rangkaian jangkar saja, tetapi juga
pembatasan di rangkaian magnetik stator. Medan magnet bolak-
balik di inti stator menimbulkan rugi-rugi inti seperti halnya pada
transformator. Pengaruh ini tidak tergambarkan pada Gb.4.13. Perlu
kita sadari pula bahwa kerapatan fluksi magnetik tidaklah merata.
Pada gigi-gigi alur jangkar terdapat kerapatan medan magnetik
yang tinggi dan di sini bisa terjadi kenaikan temperatur yang tinggi
yang sudah pasti akan mempengaruhi kenaikan temperatur di
kumparan jangkar. Di ujung-ujung stator arah fluksi magnet tegak
lurus dengan laminasi jangkar dan kenaikan temperatur di daerah ini
juga tinggi. Pembatasan di rangkaian magnetic sudah barang tentu
akan memodifikasi bentuk kurva yang telah tergambarkan di
Gb.4.13. Untuk sementara perihal rangkaian magnetik ini tidak kita
bahas.
4.6. Transien Pada Mesin Sinkron
Peristiwa transien terjadi jika ada pembebanan tiba-tiba pada mesin
sinkron. Salah satu contoh yang akan kita uraikan di sini adalah
terjadinya hubung singkat tiga-fasa pada terminal generator; hubung
singkat tiga-fasa merupakan pembebanan seimbang. Oleh karena itu
kita dapat
menyatakan
rangkaian ekivalen
model satu-fasa
untuk situasi ini,
seperti terlihat pada
Gb.4.14.
hs
I
d a
jX R +
f
E

+
Gb.4.14. Rangkaian ekivalen model satu-
fasa, gangguan hubung singkat tiga-fasa.

Mesin Sinkron

193

Peristiwa transien di sini adalah peristiwa transien pada rangkaian
orde-2, seperti yang kita pelajari pada Analisis Rangkaian Listrik.
Sinyal masukan adalah sinyal sinus. Hasil analisis di kawasan waktu
akan memberikan arus hubung singkat yang berbentuk
) 1 )( sin(

) (
/
+ =
t
hs hs
e t i t i (4.39.a)

ditentukan oleh saat terjadinya hubung singkat atau masuknya saklar
pada rangkaian Gb.4.14. Sudah barang tentu nilainya sangat tidak
menentu dan ini membuat alur variasi arus hubung singkat tidak
simetris terhadap sumbu waktu, seperti terlihat pada Gb.4.15.
Gb.4.15. Arus hubung singkat tak simetris terhadap
sumbu waktu.
hs
i
t
Gb.4.16. Arus hubung singkat simetris terhadap
sumbu waktu.

hs
i

hs
i
t
Mesin Sinkron

194 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Untuk keperluan analisis sistem tenaga, dianggap nol dan
persamaan arus transien yang diperhitungkan berbentuk
) 1 )( sin(

) (
/
+ =
t
hs hs
e t i t i (4.39.b)
Kurva arus hubung singkat akan simetris terhadap sumbu waktu
seperti terlihat pada Gb.4.16, dan disebut arus hubung singkat
simetris.
Penurunan nilai arus hubung singkat ditentukan oleh konstanta
waktu , yang besarnya tergantung dari proporsi R
a
dan X
d
. Namun
bentuk gelombang arus ini hampir sinusoidal dan kita dapat
mendekati nilai arus efektifnya dengan membagi nilai puncak
dengan 2 . Nilai efektif ini dapat kita plot sebagai nilai efektif
yang merupakan fungsi waktu seperti terlihat pada Gb.4.17.
Kurva 2 / ) (

) ( t i t I
hs hs
= dapat didekati dengan suatu nilai
konstan dalam selang-selang waktu tertentu.

Gb.4.17. Kurva arus hubung singkat efektif.
I t t : 0
1
disebut arus hubung singkat subtransien
I t t t :
2 1
disebut arus hubung singkat transien
I t t :
2
disebut arus hubung singkat mantap.
Analisis sistem tenaga dilakukan di kawasan fasor, bukan di
kawasan waktu. Oleh karena itu pernyataan arus hubung singkat
harus dilakukan dalam bentuk
d
f
d a
f
hs
X
E
jX R
E
I
+
= (4.40)
Perubahan I
hs
terhadap waktu, di kawasan fasor dapat dinyatakan
dengan memilih salah satu apakah tegangan sumber E
f
konstan dan
2
) (

) (
t i
t I
hs
hs
=
t
pendekatan
I
I
I
1
t 2
t
0
Mesin Sinkron

195

X
d
yang berubah terhadap waktu, atau X
d
konstan dan E
f
yang
berubah terhadap waktu. Kita memilih E
f
tetap dan X
d
berubah
terhadap waktu. Dengan demikian maka dalam selang
I
E
X t t
f
d

= : 0
1
disebut reaktansi subtransien
I
E
X t t t
f
d

= :
2 1
disebut reaktansi transien
I
E
X t t
f
d
= :
2
disebut reaktansi mantap.
Impedansi urutan positif menjadi
d a
X j R Z

+ =

1
;
d a
X j R Z

+ =

1
;
d a
jX R Z + =
1

Nilai-nilai
d
X
dan
d
X
diberikan oleh pembuat generator.
Mana yang akan kita gunakan tergantung dari persoalan yang kita
hadapi. Untuk menghitung arus hubung singkat misalnya, kita akan
memilih menggunakan reaktansi subtransien,
d
X
.
4.7. Mesin Sinkron Kutub Menonjol
Rangkaian ekivalen satu-fasa mesin sinkron rotor silindris kita
gambarkan sekali
lagi pada Gb.4.18.
X
d
adalah direct
axis reactance yang
memberikan beda
tegangan sebesar
IX
d
antara tegangan
terbangkit dan
tegangan terminal
generator; arus I adalah arus jangkar yang menimbulkan medan
magnet berputar yang melawan medan magnet rotor. Medan magnet
lawan dari stator ini berbeda fasa secara mekanis dengan magnet
rotor. Hal demikian tidak menjadi masalah pada mesin sinkron rotor
silindris karena lebar celah udara antara rotor dan stator sama di
V
I
+
d
jX
f
E

+
Gb.4.18. Rangkaian ekivalen model satu-
fasa generator sinkron rotor silindris.

Mesin Sinkron

196 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

seluruh keliling rotor. Tidak demikian halnya dengan mesin kutub
menonjol; celah udara di depan sepatu kutub lebih sempit
disbanding dengan celah udara yang terletak di antara dua sepatu
kutub. Lihat Gb.4.19.

Rotor silindris Kutub menonjol
Gb.4.19. Mesin rotor silindris dan kutub menonjol.
Sumbu fluksi magnet rotor adalah sumbu d (direct axis); sumbu
yang tegak lurus pada d dan tertinggal 90
o
adalah sumbu q
(quadrature axis). Fluksi lawan jangkar dapat dianggap terdiri dari
dua komponen yaitu komponen sejajar sumbu d dan komponen
sejajar sumbu q. Masing-masing komponen ini dinyatakan dengan
tegangan jatuh ekivalen pada jangkar sebesar
q q d d
X I X I dan ,
dengan I
d
dan I
q
adalah direct axis current dan quadrature axis
current, sedangkan X
d
dan X
q
adalah direct axis reactance dan
quadrature axis reactance. Jika tegangan terbangkit di kumparan
fasa adalah
f
E dan tegangan di terminal generator adalah V maka
dengan mengabaikan resistansi belitan jangkar,
V I I E + + =
q q d d f
X j X j (4.41)
Gb.4.19 menggambarkan mesin sinkron dua kutub, sehingga sudut
mekanis sama dengan sudut listrik. Pada umumnya generator
dibangun dengan lebih dari dua kutub; oleh karena itu kita gunakan
sudut listrik yang memiliki relasi tertentu dengan sudut mekanis.
Jika V kita ambil sebagai referensi dengan sudut fasa nol, maka
d
q
a

a
1
U

S

sumbu fluksi
lawan jangkar

sumbu fluksi
rotor


d
q
a

a
1
U

S

sumbu fluksi
lawan jangkar

sumbu fluksi
rotor


Mesin Sinkron

197

= = = = =
q q d d f f
I I E I V I I E I V , 90 , , , 0
o o

Untuk jelasnya kita gambarkan diagram fasor seperti pada Gb.4.20.
Perhatikan bahwa beda fasa antara tegangan terbangkit dan tegangan
terminal adalah ; tegangan jatuh direct axis sefasa dengan tegangan
terbangkit; tegangan jatuh quadrature axis berbeda fasa 90
o
dengan
tegangan terbangkit.

Kita perhatikan pula bahwa pada tegangan terminal yang ditetapkan
(dalam operasi), sudut tergantung dari daya beban dan faktor daya
beban (tergantung dari I dan dalam diagram fasor). Nilai X
d
dan
X
q
dapat diberikan oleh pembuat generator, maka menjadi
pertanyaan berpakah daya maksimum yang dapat diberikan oleh
generator.
Daya per fasa adalah
( )
( )
( )
( )
( )
f f
q d d q
d q
d q
d q
d q
d q f
jQ P
I I jV I I V
j I j I V
j jI j I V
jI I V
S
+ =
+ + =
+ + =
+ =
+ =
+ =
+ = =


) sin cos ( ) sin cos (
) sin cos ( ) sin (cos
) sin (cos ) sin (cos

90
) 90 ( (
o
o
I I V
I I V I V
(4.42)
Gb.4.20. Diagram fasor mesin kutub menonjol.
V
I

f
E

d d
X jI
q
I
d
I
q q
X jI
q
X jI
) (
q d d
X X I
q q
X I
Mesin Sinkron

198 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Dari Gb.4.20 kita peroleh
q
q
q q
d
f
d
d d f
X
V
I
V
X I
X
V E
I
V
X I E

= =

=

=
sin
sin
cos
cos
(4.43)
sehingga kita peroleh daya nyata
( ) + =

|
|

\
|
+ =
+ =
|
|

\
|

=
+ =
2 sin
2
sin
cos sin sin
cos sin sin cos sin
sin
cos
cos
sin

) sin cos (
2
2 2
2 2
q d
q d d
f
d q d
f
d d
f
q
d
f
q
d q f
X X
X X
V
X
VE
X
V
X
V
X
VE
X
V
X
VE
X
V
X
V E
X
V
V
I I V P
(4.44)
Jika kita bandingkan persamaan (4.44) ini dengan peramaan (4.33)
untuk mesin rotor silindris, yaitu
= sin
d
f
f
X
VE
P

terlihat bahwa daya maksimum mesin kutub menonjol lebih tinggi
dan terjadi pada sudut yang lebih rendah. Lagipula pada E
f
= 0
(kehilangan eksitasi) mesin kutub menonjol masih bisa memberikan
daya. Persamaan (4.44) akan menjadi (4.33) bila X
d
= X
q
.
Untuk daya reaktif mesin kutub menonjol, (4.42) memberikan
Mesin Sinkron

199

q d
q d
q d
q d
d
f
q d q d d
f
q d d
f
q d d
f
q d
f
q d f
X X
X X V
X X
X X V
X
VE
X
V
X
V
X X
V
X
VE
X
V
X
V
X
VE
X
V
X
V
X
VE
X
V
X
V E
V I I V Q
) (
2 cos
2
) (
cos
cos sin 1 1
2
2 cos
cos
cos
2
2 cos
sin
2
2 cos
cos
sin cos
cos
sin
sin
cos
cos
) sin cos (
2 2
2 2 2 2 2
2
2
2
2
2 2 2 2
+

|
|
|

\
|

+ =

|
|

\
|
+

+ =
|

\
|

+ |

\
|
+

=
|
|

\
|



= =
(4.45)
Jika kita bandingkan relasi ini dengan relasi daya reaktif untuk
mesin sinkron rotor silindris yang diberikan oleh persamaan (4.33)
yaitu:
|
|

\
|
=
d d
f
f
X
V
X
VE
Q
2
cos

terlihat bahwa (4.33) dapat diperoleh dari (4.45) jika X
d
= X
q
.


Mesin Sinkron

200 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)









Analisis Aliran Daya
201

BAB 5 Analisis Aliran Daya
Dalam analisis rangkaian listrik pada umumnya, suatu sumber
dinyatakan sebagai sumber tegangan ideal atau sumber arus ideal,
dan beban dinyatakan sebagai impedansi. Sumber tegangan ideal
memberikan daya ke rangkaian pada tegangan tertentu, berapapun
besar arus yang dibutuhkan oleh rangkaian; sumber arus ideal
memberikan daya pada rangkaian pada arus tertentu, berapapun
tegangan yang diperlukan oleh rangkaian. Oleh karena itu apabila
rangkaian merupakan rangkaian linier, terdapat hubungan linier
antara tegangan, arus dan impedansi; dan dalam analisis, misalnya
dengan menggunakan metoda tegangan simpul, kita memperoleh
persamaan linier.
Dalam sistem tenaga, kita melihat situasi yang berbeda. Sumber,
merupakan sumber daya yang hanya boleh beroperasi pada batas
daya dan tegangan tertentu. Sementara itu beban dinyatakan sebagai
besar daya yang diminta/diperlukan, pada tegangan yang juga
ditentukan. Suatu permintaan daya hanya dapat dilayani selama
pembebanan tidak melampaui batas daya yang mampu disediakan
oleh sumber. Kita mengetahui bahwa walaupun rangkaian tetap
rangkaian linier, relasi daya antara sumber dan beban tidaklah linier.
Oleh karena itu jika kita menurunkan persamaan rangkaian, dengan
daya sebagai parameter, persamaan rangkaian yang kita peroleh
merupakan persamaan nonlinier. Dalam memecahkan persamaan
nonlinier ini kita memerlukan cara khusus.
5.1. Analisis Aliran Daya
Dalam analisis aliran daya, kita mengambil ketentuan-ketentuan
sebagai berikut:
a). Sistem dalam keadaan seimbang; dengan demikian kita dapat
melakukan perhitungan dengan menggunakan model satu-fasa.
b). Semua besaran dinyatakan dalam per-unit; dengan demikian
berbagai tingkat tegangan dalam sistem sebagai akibat
digunakannya transformator, tidaklah menjadi persoalan.
Analisis Aliran Daya

202 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Bus-bus dalam rangkaian sistem tenaga merupakan simpul-simpul
rangkaian yang biasa kita kenal dalam analisis rangkaian listrik.
Bus-bus ini dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis:
i) Bus-generator (generator bus), adalah bus dimana generator
dihubungkan melalui transformator. Daya yang masuk dari
generator ke bus-generator ke-i (bus nomer i) adalah
Gi Gi Gi
jQ P S + = (5.1)
Dari bus ke-i ini mengalir daya ke dua jurusan; yang pertama
adalah aliran daya langsung ke beban yang terhubung ke bus
ini dan yang kedua adalah aliran daya menuju saluran
transmisi. Daya yang langsung menuju beban adalah

Bi Bi Bi
jQ P S + = (5.2)
dan daya yang menuju saluran transmisi menjadi
Bi Gi i i i
S S jQ P S = + = (5.3)
ii) Bus yang tidak terhubung ke generator tetapi terhubung hanya
ke beban disebut bus-beban (load bus). Dari bus-beban ke-j
(nomor bus j) mengalir daya menuju ke beban sebesar S
Bj
atau
kita katakan daya mengalir menuju saluran transmisi sebesar

Bj j
S S = (5.4)
iii) Jika kita hanya memperhatikan daya sumber dan daya beban,
teorema Tellegen tidak akan terpenuhi karena masih ada daya
keluar dari rangkaian yang tidak diketahui yaitu daya yang
diserap oleh saluran dan transformator. Oleh karena itu, untuk
keperluan analisis, jika tegangan semua bus-beban diketahui,
baik melalui dugaan maupun ditetapkan, tegangan bus-
generator juga harus dapat ditetapkan kecuali satu di antaranya
yang dibiarkan mengambang; bus mengambang ini disebut
slack bus. Slack bus seolah berfungsi sebagai simpul sumber
tegangan bebas dalam analisis rangkaian listrik yang biasa kita
kenal. Dengan cara ini maka teorema Tellegen akan bisa
dipenuhi.
Analisis Aliran Daya

203

5.2. Persamaan Arus-Tegangan
Karena relasi linier hanya ada pada tegangan dan arus, tidak pada
daya, maka persamaan aliran daya harus diturunkan melalui
persamaan arus dan tegangan terlebih dulu. Selain itu, karena kita
menggunakan sistem per-unit, impedansi transformator dapat
disatukan dengan impedansi generator sehingga transformator tak
digambarkan lagi dalam diagram satu garis untuk analisis ini.
Sistem Dengan Dua Bus. Kita tinjau bus-1 (bus-generator nomer-1)
yang terhubung melalui saluran transmisi ke bus-2 (bus-generator
nomer-2). Diagram satu garis dan model satu-fasa terlihat pada
Gb.5.1.

Gb.5.1. Model satu-fasa. Diagram dan rangkaian ekivalen.

ekivalen rangkaian pada ansmisi saluran tr paralel admitansi :


ekivalen rangkaian dalam bus antar seri impedansi :
2. - bus dan 1 - bus dari (langsung) beban arus : ,
2 - bus dan 1 - bus dari ansmisi saluran tr ke arus : ,
netral - fasa tegangan : ,
generator fasa per daya : ,
12
2 1
2 1
1 1
2 1
p
B B
G G
y
z
S S
I I
I I
V V

Arus yang keluar dari bus-1 ke saluran transmisi adalah
2 12 1 12 2 1 12 1 1
) ( ) ( V V V V V I y y y y y
p p
+ = + = (5.5.a)
dengan
12 12
/ 1 z y = adalah admitansi transfer antara bus-1 dan bus-2.
diagram rangkaian
rangkaian ekivalen
1 G
S 2 G
S
2 B
S
1
I
2
I
p
y
p
y
s
z
1 - bus
2 - bus
1 B
S
1 G
S
2 G
S
1
V
2
V
1
I
2
I
1 B
I
2 B
I

1 - bus 2 - bus
saluran transmisi
Analisis Aliran Daya

204 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Admitansi total yang dilihat oleh bus-1 didefinisikan sebagai
12 11
y y Y
p
+ = (5.5.c)
Dengan pengertian ini maka relasi (5.5.a) dapat ditulis
2 12 1 11 1
V V I y Y = (5.6.a)
Dengan pengertian yang sama, kita peroleh relasi untuk bus-2
sebagai
1 12 2 22 2
V V I y Y = (5.6.b)
Dengan demikian kita memperoleh persamaan untuk sistem dengan
dua bus (dengan mengubah urutan penulisan pada (5.6.b))
1 22 1 12 2
2 12 1 11 1
V V I
V V I
y Y
y Y
+ =
=
(5.7)
Sistem Dengan Tiga Bus. Untuk sistem dengan tiga bus, relasi (5.7)
dikembangkan menjadi
3 33 23 2 12 3
3 23 1 22 1 12 2
3 13 2 12 1 11 1
V V V I
V V V I
V V V I
Y y y
y Y y
y y Y
+ =
+ =
=
(5.8.a)
Secara formal, penulisan persamaan (5.8.a) adalah
3 33 23 2 12 3
3 23 1 22 1 12 2
3 13 2 12 1 11 1
V V V I
V V V I
V V V I
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
+ + =
+ + =
+ + =
(5.8.b)
dengan
ij ij
y Y = . Persamaan (5.8.b) dapat kita tuliskan dalam
bentuk matriks sebagai
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

3
2
1
33 23 13
23 22 12
13 12 11
3
2
1

V
V
V
I
I
I
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
(5.9)
Sistem Dengan n Bus. Persamaan untuk sistem dengan tiga bus
(5.9) dikembangkan untuk sistem dengan n bus menjadi
Analisis Aliran Daya

205


(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(

=
(
(
(
(
(
(

n nn n n n
n
n
n
n
Y Y Y Y
Y Y Y Y
Y Y Y Y
Y Y Y Y
V
V
V
V
I
I
I
I
.

.
. . . . .
.
.
.
.
3
2
1
3 2 1
3 33 23 13
2 23 22 12
1 13 12 11
3
2
1
(5.10.a)
Persamaan (5.10.a) ini dapat kita tulis dengan ringkas:
bus bus bus
Y V I
~
] [
~
= (5.10.b)
5.3. Persamaan Aliran Daya
Untuk menurunkan persamaan aliran daya kita perhatikan arus yang
mengalir ke saluran transmisi (tidak termasuk arus ke beban
langsung). Untuk bus ke-i dalam sistim dengan n bus, kita dapatkan

=
=
n
j
j ij i
Y
1
V I (5.11)
j j j ij ij ij
V Y Y n i j = = = V ; ; ... , ... 2, , 1
Dengan (5.11) ini kita dapat menghitung daya dari bus-i yang
menuju saluran transmisi, yaitu
( )
i i
n
j
j j ij ij i i
n
j
j ij i i i i
jQ P V Y V
Y S
+ = =
= =

=
=


) (
1
1
V V I V
(5.12)
|
|
|

\
|
=
|
|
|

\
|
=

=
=
n
j
j ij i j ij i i
n
j
j ij i j ij i i
V Y V Q
V Y V P
1
1
) sin(
dan ) cos(
(5.13)
Analisis Aliran Daya

206 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Perhatikan bahwa S
i
adalah daya yang mengalir ke saluran
transmisi. Hubungan dengan daya generator bisa diperoleh melalui
relasi (5.3) yaitu
Bi Gi i i i
S S jQ P S = + =
sehingga
|
|
|

\
|
=
|
|
|

\
|
=

=
=
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
Y V V Q Q
Y V V P P
1
1
) sin(
dan ) cos(
(5.14)
Persamaan (5.14) adalah dua persamaan yang kita peroleh untuk
setiap bus-i. Dalam persamaan ini terdapat enam besaran peubah
yang terkait dengan bus yang bersangkutan, yaitu
i i Bi Bi Gi Gi
V Q P Q P dan , , , , , (5.15)
Besaran yang lain adalah peubah di luar bus-i.
Jika bus-i adalah bus-generator, maka sebagian besaran yang terdapat
pada persamaan (5.14) merupakan besaran yang diketahui atau
ditentukan:
- P
Bi
dan Q
Bi
adalah daya beban yang diketahui.
- P
Gi
merupakan besaran yang diketahui karena daya nyata ini
bisa ditentukan dengan mengatur masukan uap di turbin
misalnya.
- V
i
juga tertentu besarnya karena bisa di atur melalui arus
eksitasi.
- Q
Gi
walaupun tidak diketahui namun, akan tertentu besarnya
jika tegangan dan sudut fasa di bus yang lain diketahui.
- dengan demikian hanya tinggal satu peubah yang harus
dihitung yaitu
i
.
Jika bus-i adalah bus-beban, tak ada generator terhubung ke sini; P
Gi

dan Q
Gi
bernilai nol, dan
Bi i Bi i
Q Q P P = = dan keduanya
diketahui (tanda minus pda P
Bi
dan Q
Bi
diberikan karena daya
Analisis Aliran Daya

207

dianggap mengalir ke saluran). Dengan demikian untuk bus-beban
hanya ada dua besaran peubah yang harus dihitung yaitu V
i
dan
i
.
Jadi di setiap bus pada dasarnya hanya ada dua atau satu peubah
yang harus dicari, yaitu V
i
dan
i
di bus-beban dan
i
saja di bus-
generator. Dalam satu jaringan transmisi yang terdiri dari total n
bus, dengan n
G
bus-generator dan satu slack-bus, terdapat besaran
yang harus dihitung sebanyak
G
n n = ) 1 ( 2 dihitung harus besaran (5.16)
Kebanyakan bus dalam sistem tenaga adalah bus-beban; hanya
sebagian kecil dari total jumlah bus merupakan bus-generator.
5.4. Proses Pencarian Solusi
Solusi suatu persamaan aliran daya adalah mencari profil tegangan
di semua bus dalam suatu sistem tenaga. Karena persamaan daya
merupakan persamaan non-linier, maka solusi dilakukan dengan
cara iterasi. Proses pencarian solusi adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan data teknis dari jaringan, tentukan elemen-
elemen dari matriks [Y
bus
].
2. Pada bus-beban tentukan P
B
dan Q
B
.
3. Pada bus-generator tentukan nilai tegangan bus V dan P
G
.
4. Buat slack-bus (bus nomer-1) bertegangan
o
1
0 1 = V .
5. Asumsikan profil tegangan dan sudut fasanya, V dan , bus
yang lain.
6. Masukkan data [Y
bus
] dan profil tegangan yang diasumsikan
ke persamaan (5.14) untuk mencari P
i
dan Q
i
. Setiap kali
iterasi dilakukan, bandingkan hasil perhitungannya dengan
besaran yang ditetapkan sesuai langkah-2 dan langkah-3 atau
hasil perhitungan sebelumnya.
7. Selisih yang diperoleh pada langkah-6, digunakan sebagai
dasar untuk melakukan koreksi pada langkah iterasi
berikutnya sedemikian rupa sehingga selisih tersebut menjadi
semakin kecil.
8. Ulangi langkah-langkah iterasi sampai selisih yang didapat
mencapai nilai kecil yang dapat diterima. Profil tegangan pada
situasi terakhir ini menjadi solusi yang dicari.
Analisis Aliran Daya

208 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

5.4. Metoda Newton-Raphson
5.4.1. Formula Iterasi Persamaan Rekursi
Dalam buku Vincent del Toro, [2], formula iterasi diturunkan
melalui penguraian fungsi nonlinier menjadi deret Taylor dan
mengabaikan suku-suku dengan orde tinggi. Di sini kita akan
menurunkannya melalui pengamatan grafis.
Persamaan dengan Peubah Tunggal. Kita misalkan sebuah
persamaan nonlinier dengan peubah tunggal
0 ) ( = x p (5.17)
dan kita akan mencari solusinya dengan cara iterasi. Ruas kiri
persamaan ini dapat kita pandang sebagai sebuah fungsi, dan kita
misalkan fungsi ini adalah kontinyu dalam domain yang ditinjau.
Kita dapat menggambarkan kurva fungsi ini di bidang px; nilai x
sebagai solusi adalah titik potong kurva dengan sumbu-x, yaitu
sol
x , seperti terlihat pada Gb.5.2 di bawah ini. Indeks atas
digunakan untuk menunjukkan langkah iterasi; misalnya x
0
adalah
iterasai ke-0 yaitu dugaan awal,

x
1
adalah iterasi ke-1, dan
seterusnya.

Gb.5.2. Proses iterasi untuk persamaan 0 ) ( = x p .
Kita tentukan dugaan awal solusi persamaan, yaitu x
0
. Jika kita
masukkan solusi dugaan ini ke dalam persamaannya, kita
memperoleh ) (
0
x p . Antara ) (
0
x p ini dengan nilai yang
p
x
sol
x
0
dx
dp
0
x
1
x
) (x p
) (
0
x p
0
x
1
x
2
x
) (
1
x p
) (
2
x p
Analisis Aliran Daya

209

ditentukan pada persamaan (5.17) yaitu 0, terdapat selisih sebesar
) ( 0 ) (
0 0
x p x p = ; perhatikan bahwa selisih ini bernilai negatif.
Oleh karena itu kita melakukan dugaan solusi baru yaitu x
1
yang
mendekati x
sol
; dugaan baru ini kita masukkan ke persamaan, dan
akan memberikan ) (
1
x p . Jika ) (
1
x p belum juga bernilai nol
sebagaimana diminta, kita coba lagi nilai x
2
, dan demikian
seterusnya sampai kita memperoleh suatu nilai x yang memberikan
0 ) ( = x p atau sangat dekat dengan 0.
Menetukan x
1

secara efektif dilakukan sebagai berikut. Setelah
dugaan solusi x
0
memberikan p(x
0
), kita buat garis singgung pada
kurva di titik p(x
0
) yaitu
0
/ dx dp ; garis singgung ini akan
memotong sumbu-x di x
1
yang berposisi tergeser sebesar
0
x dari
posisi x
0
. Karena
0 0
0
/ ) ( / x x p dx dp = maka
0
0
0
) / (
) (
dx dp
x p
x

=
dan karena ) (
0
x p bernilai negatif maka kita dapat menentukan x
1

yaitu
0
0
0 0 0 1
) / (
) (
dx dy
x p
x x x x

+ = + =
x
1
akan memberikan ) (
1
x p yang memungkinkan kita menghitung
1
1 1
) / ( / ) ( dx dp x p x = yang akan memberikan x
2
; dan demikian
seterusnya sampai kita mendapatkan
n
x yang akan memberikan
0 ) (
n
x p .
Secara umum formulasi dari proses iterasi ini dapat kita turunkan
sebagai berikut:
Jika x
k
adalah nilai x untuk iterasi ke-k maka
1
1
1
) / (
) (


+ =
k
k
k k
dx dp
x p
x x (5.18)
Persamaan (5.18) inilah persamaan rekursi atau formula iterasi.
Analisis Aliran Daya

210 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Uraian di atas adalah untuk persamaan (5.17) dimana ruas kanan
bernilai nol. Kita tinjau sekarang persamaan dengan ruas kanan
tidak bernilai nol, yang kita tuliskan sebagai
P x p = ) ( (5.19)
dengan P adalah tetapan. Ruas kiri (5.19) kita pandang sebagai
fungsi x dengan kurva seperti pada Gb.5.2; akan tetapi solusi x
sol
yang dicari adalah nilai x pada titik potong antara p(x) dengan
garis P sejajar sumbu-x . Situasi ini digambarkan pada Gb.5.3.

Gb.5.3. Proses iterasi untuk persamaan P x p = ) ( .
Untuk persamaan (5.19) ini
0
x adalah

) / (
0
0
0
dx dp
p P
x
x
+
= (5.20)
Kita coba untuk memahami persamaan terakhir ini.
) (
0 0
x p P p
x
= adalah perbedaan antara nilai fungsi yang
seharusnya, yaitu P, dengan nilai fungsi jika dugaan awal peubah
x
0
kita terapkan; perbedaan ini bernilai negatif. Perbedaan ini
harus dikoreksi dengan mengoreksi dugaan awal sebesar x
0

sehingga nilai peubah berubah dari x
0
menjadi
0 0 1
x x x + = ;
koreksi inilah koreksi terhadap dugaan awal. Setelah koreksi awal
ini, perbedaan nilai fungsi terhadap nilai seharusnya adalah
) (
1 1
x p P p = yang lebih kecil dari
0
p yang berarti nilai
fungsi mendekati P. Koreksi peubah kita lakukan lagi untuk lebih
mendekat lagi ke P; langkah koreksi ini merupakan iterasi
pertama. Pada iterasi pertama ini kita akan memperoleh
p
x
0
x
) (
0
x p
sol
x
0
/ dx dp
1
x
0
x
2
x
1
x
P
) (x p
) ( ) (
1 0
x p x p
) (
1
x p
Analisis Aliran Daya

211

perbedaan ) (
2 2
x p P p
x
= yang mungkin masih harus di koreksi
lagi pada itersi ke-dua. Demikian seterusnya sampai kita peroleh
0 )) ( (
n
x p P . Dalam perjalanan menuju P tersebut alur yang
kita lewati adalah kurva p(x). Secara umum, pada iterasi ke-k kita
akan mempunyai persamaan yang memberikan perbedaan nilai
fungsi dengan nilai seharusnya, yaitu
k
k
k
x dx dp p = ) / ( (5.21)
Dengan pemahaman ini kita lanjutkan pengamatan pada
persamaan dengan dua peubah.
Persamaan Dengan Dua Peubah. Sepasang persamaan dengan
dua peubah kita tuliskan sebagai

Q y x q
P y x p
=
=
) , (
) , (
(5.22)
dengan P dan Q adalah tetapan. Kita harus melakukan iterasi
untuk dua peubah x dan y. Dugaan solusi awal memberikan
persamaan yang merupakan pengembangan dari (15.21) yaitu
0
0
0
0
0 0 0
0
0
0
0
0 0 0
) / ( ) / ( ) , (
) / ( ) / ( ) , (
y y q x x q y x q P q
y y p x x p y x p P p
+ = =
+ = =
(5.23)
yang dapat kita tuliskan dalam bentuk matriks
0
0
0 0 0
/ /
/ /
(

=
(



=
(

y
x
J
y
x
y p x p
y p x p
q
p
(5.24)
Matriks 22 turunan parsial terhadap x dan y disebut jacobian dan
dinyatakan dengan J. Apabila p
0
dan q
0
tidak bernilai nol maka
( )
0
0
1
0
(

=
(


q
p
J
y
x
(5.25)
Inilah persamaan untuk menentukan besar koreksi. Dengan (5.25)
ini dapat dihitung x
0
dan y
0
sehingga dapat diperoleh x
1
dan y
1

untuk iterasi selanjutnya.
Analisis Aliran Daya

212 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

0 1
(

+
+
=
(

y y
x x
y
x
(5.26)
Pada langkah ke-k kita mempunyai identitas dan persamaan-
persamaan sebagai berikut:
( )
k
k
k k
k
k
k
k k k
q
p
J
y
x
y p
x p
J
y
x
J
q
p
y p P
x p P
q
p
(

=
(



=
(

=
(

1
4). ;
/
/
). 3
; 2). ;
) (
) (
). 1
(5.27)
Persamaan pertama (5.27) yang berupa identitas akan menentukan
perlu tidaknya dilakukan koreksi (iterasi) lagi terhadap hasil
perhitungan sebelumnya; oleh karena itu persamaan ini disebut
corrective force. Identitas ini menjadi ruas kiri persamaan ke-dua,
yang terkait dengan koreksi peubah yang harus dilakukan melalui
jacobian J
k
yang nilainya diberikan oleh persamaan ke-tiga. Besar
koreksi yang harus dilakukan diberikan oleh persamaan ke-empat.
Setelah koreksi dilakukan, kita kembali pada persamaan pertama
untuk melihat perlu tidaknya iterasi dilanjutkan lagi.
5.4.2. Aplikasi Pada Analisis Aliran Daya
Berapa banyak peubah yang harus ditentukan dalam satu jaringan
transmisi diberikaan oleh (5.16). Namun dalam menuliskan
persamaan aliran daya, kita memperlakukan semua bus sebagai
bus-beban, agar penulisan lebih terstruktur; ini berarti bahwa
semua bus megandung dua peubah yaitu tegangan dan sudut
fasanya, walupun ada peubah yang sudah ditetapkan di beberapa
bus-generator.
Karena slack-bus ditetapkan sebagai bus nomer-1, dengan
tegangan pu 0 1
o
, maka kita bekerja mulai dari bus-2, dan nilai
peubah yang harus dicari agar persamaan aliran daya terpenuhi
adalah tegangan serta sudut fasa di setiap bus yaitu (V
2
, V
3
, V
i
,...,
V
n
) dan (
2
,
3
, .,
i
,
n
). Pengembangan dari (5.28) untuk
jaringan transmisi dengan n bus adalah sebagai berikut:
Analisis Aliran Daya

213

k
nk k n n
nk k
nk k n n
nk k
nk k
n
n
k
V q Q
V q Q
V p P
V p P
V p P
q
q
p
p
p
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
) ,......., (
) ,......., (
) ,......., (
) ,......., (
) ,......., (
~
. ) 1
2
2 2 2
2
2 3 3
2 2 2
2
3
2
M
M
M
M
u
(5.28.a)
k k k
x J u =
~
). 2 (5.28.b)
k
n
n
n
n n n
n n
n
n n
n
n n n
n n
n n
k
q q
V
q
V
q
V
q
q q
V
q
V
q
V
q
p p
V
p
V
p
V
p
p p
V
p
V
p
V
p
p p
V
p
V
p
V
p
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
2
2 3 2
2
2
2 2
3
2
2
2
2 3 2
3
2
3 3
3
3
2
3
2
2
2 2
3
2
2
2
). 3
L L
M
L L
L L
M
L L
L L
J
(5.28.c)
( )
k
k
k
n
n
k
V
V
V
u J x
~ ~
). 4
1
2
3
2
=
(
(
(
(
(
(
(
(
(



M
M
(5.28.d)
Kiranya perlu kita fahami arti dari persamaan-persamaan (5.28)
sebelum kita melangkah lebih lanjut.
k
u
~
adalah vektor yang berisi perbedaan nilai daya di setiap
bus terhadap nilai daya yang ditetapkan untuk setiap bus yang
Analisis Aliran Daya

214 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

bersangkutan pada iterasi ke-k, baik daya nyata maupun daya
reaktif.
k
x
~
adalah vektor yang berisi koreksi peubah di setiap bus,
yaitu tegangan dan sudut fasanya, yang diperoleh pada iterasi
ke-k untuk melakukan iterasi selanjutnya. Pada waktu
menetapkan dugaan awal misalnya, diperoleh
0 ~
x untuk
melakukan koreksi pada iterasi ke-1; pada itersai ke-1
diperoleh
1 ~
x untuk melakukan koreksi pada iterasi ke-2; dan
seterusnya.
Matriks jacobian adalah matriks yang berisi laju perubahan
daya, baik daya nyata maupun reaktif, terhadap perubahan
tegangan maupun sudut fasa di setiap bus. Perhatikan bahwa
daya merupakan fungsi semua peubah di setiap bus. Oleh
karena itu perbedaan nilai daya di setiap bus dengan daya yang
ditetapkan pada bus yang bersangkutan pada iterasi ke-k,
merupakan hasil kali matriks jacobian pada iterasi ke-k dengan
vektor koreksi tegangan maupun sudut fasa pada iterasi ke-k.
Jika matriks jacobian tidak bernilai nol, yang berarti bahwa
dalam peninjauan secara grafis (pada persamaan dengan
peubah tunggal misalnya), garis singgung pada kurva tidak
sejajar dengan sumbu-x, besaran koreksi dapat dihitung dengan
relasi (5.28.d), ( )
k
k
k
u J x
~ ~

1
=

. Inversi matriks jacobian
dalam relasi ini, akan kita fahami dengan meninjau sistem
dengan dua bus seperti dalam contoh berikut.
5.4.3. CONTOH Sistem Dua Bus
Untuk melihat aplikasi dalam perhitungan kita akan melihat sistem
dua bus seperti pada gambar berikut. Contoh ini diambil dari buku
referensi [3], sedangkan perhitungan-perhitungan dilakukan secara
manual dengan menggunakan excel. Cara ini akan membuat kita
memahami langkah demi langkah proses perhitungan; hasil
perhitungan yang kita lakukan ini sedikit berbeda dengan apa yang
tercantum dalam buku referensi. Diagram rangkaian untuk contoh
ini terlihat pada halaman berikut, dimana saluran transmisi
digambarkan sebagai rangkaian ekivale .
Analisis Aliran Daya

215


Bus-1 adalah bus-generator tanpa beban langsung. Bus-2 adalah
bus-beban.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data
jaringan; kemudian data jaringan ini kita nyatakan dalam per unit
dengan memilih suatu nilai basis tertentu. Data jaringan adalah:
S 75,65 0,011865
011495 , 0 002942 , 0
S 10 27 , 0
S 011765 , 0 002941 , 0
96 , 75 012127 , 0 96 , 75 4621 , 82 / 1
96 , 75 4621 , 82 80 20
o
12 22 11
3
o o
12
o
12
=
= + = =
=
=
= =
= + =

j y y y y
j y
j
y
j z
p
p

Besaran-besaran dinyatakan dalam per-unit setelah ditetapkan nilai
basis.
S 001890 , 0 529 / 1 ; 529 230 / 100
kV 230 ; MVA 100
2
= = = =
= =
basis basis
basis basis
Y Z
V S

o
22 11 22 11
o
21 12
21 12
12 21 12
65 , 75 ; 2766 , 6
04 , 104 180 96 , 75
4151 , 6 00189 , 0 / 012127 , 0
= = = =
= + = =
= = =
= =
Y Y
Y Y
y Y Y

Peubah dan daya yang ditetapkan di bus adalah:
dihitung) (harus dan
beban) - (bus ; 1 ; 1 : 2 -
) ( 0 ; 1 : 1 -
2 2
2 2
o
1 1

= =
= =
V
Q P Bus
bus slack V Bus

pu 0 1
o
1
= V
1 - bus
2 - bus 1 1
,Q P
80 20
12
j z + =
S 10 27 , 0
3
=
p
y p
y
pu 1 1

2
j
S
B
+
=
pu
2 2 2
= V V
Analisis Aliran Daya

216 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Matriks Y-bus. Dari perhitungan di atas kita peroleh matriks Y
bus

sebagai berikut
[ ]
(
(



=
(

=
o o
o o
22 21
12 11
64 , 75 2766 , 6 04 , 104 4151 , 6
04 , 104 4151 , 6 64 , 75 2766 , 6
Y Y
Y Y
bus
Y
(5.29)
Persamaan Aliran Daya dan Jacobian. Secara umum, persamaan
aliran daya di bus-i adalah

) sin(
) cos(
1
2
1
2
j ij j
n
j
ij i i
j ij j
n
j
ij i i
V Y V q
V Y V p
=
=

=
=

Untuk bus-2 persamaan ini menjadi
)] sin( ) sin( [
)] sin( ) sin( [
] cos( ) cos( [
)] cos( ) cos( [
22 2 22 1 21 2 1 21 2
2 22 2 2 22 1 21 2 1 21 2 2
22 2 22 1 21 2 1 21 2
2 22 2 2 22 1 21 2 1 21 2 2
+ =
+ =
+ =
+ =
V Y V Y V
V Y V Y V q
V Y V Y V
V Y V Y V p
(5.30)
Daya nyata maupun reaktif untuk bus-2, dituliskan dengan huruf
kecil karena ia masih akan berubah menuju nilai yang ditetapkan
yaitu P
2
dan Q
2
.
Nilai yang sudah tetap, yaitu 0 , 1
1 1
= = V di slack bus, dan
elemen-elemen matriks Y
bus
, dapat kita masukkan ke dalam
persamaan daya untuk mendapatkan persamaan yang lebih
sederhana. Namun karena kita akan menggunakan excel, kita
biarkan persamaan aliran daya ini seperti apa adanya agar mudah
ditelusuri dalam spreadsheet.
Karena kita hanya menghadapi dua persamaan daya, yaitu
persamaan p dan q dengan dua peubah yaitu V
2
dan
2
, maka
matriks jacobian akan berukuran 22.
(



=
2 2 2 2
2 2 2 2
/ /
/ /
V q q
V p p
J
(5.31.a)
dengan elemen-elemen:
Analisis Aliran Daya

217

)] sin( 2 ) sin(
) cos(
] cos( 2 ) cos(
) sin(
22 2 22 1 21 2 1 21
2
2
1 21 2 1 21 2
2
2
22 2 22 1 21 2 1 21
2
2
1 21 2 1 21 2
2
2
+ =

+ =

V Y V Y
V
q
V Y V
q
V Y V Y
V
p
V Y V
p
(5.31.b)
Dugaan Awal dan Iterasi. Kita buat dugaan awal yaitu nilai awal
daya di bus-2. Seberapa dekat nilai dugaan yang kita buat ini ke
nilai yang ditetapkan, akan menentukan seberapa cepat kita
sampai ke iterasi terakhir. Kita coba dugaan awal
(

=
(
(

1
0
~
0
2
0
2
0
V
x (5.32)
Kita masukkan dugaan awal ini ke persamaan aliran daya (5.30)
untuk mendapatkan nilai
0
2
0
2
dan q p . Darisini kita peroleh
corrective force:
(
(



==
(

=
0
2
0
2
0
2
2 0
1
1
~
q
p
q
p
u (5.33)
Corrective force menentukan besar koreksi
( ) ( )
(
(



= =
(
(




0
2
0
2
0
1 0
0
1
0
2
0
2
0
1
1
~ ~
q
p
V
J u J x (5.34)
Formulasi (5.29) sampai dengan (5.34) kita gunakan dalam
perhitungan menggunakan excel. Semua besaran akan berubah
setiap kali iterasi, kecuali besaran yang sudah ditetapkan, P
2
, Q
2
,
dan elemen matriks Y
bus
.
Hasil Perhitungan. Dalam perhitungan ini, sudut fasa tegangan
dinyatakan dalam radian. Perhitungan jacobian inversi pada
secara umum dilakukan dengan eliminasi Gauss-Jordan. Berikut
ini ditulis lagi data Y
bus
, persamaan aliran daya, kemudian
diberikan hasil perhitungan dalam tabel. Elemen matriks jacobian
dan inversinya langsung dicantumkan dalam tabel.
[ ]
(
(



=
(

=
o o
o o
22 21
12 11
64 , 75 2766 , 6 04 , 104 4151 , 6
04 , 104 4151 , 6 64 , 75 2766 , 6
Y Y
Y Y
bus
Y

Analisis Aliran Daya

218 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

) sin( ) ( ) sin(
) cos( ) ( ) cos(
22
2
2 22 1 21 2 1 21 2 2
22
2
2 22 1 21 2 1 21 2 2
+ =
+ =
V Y V Y V q
V Y V Y V p



P
2
-1
(tetapan)

Q
2
-1

2
0
(dugaan
awal)
-0.1169
(iterasi
ke-1) V
2
1 0.8250

p
2
5.29E-06
(substitusi ke
persamaan)
-0.8149
(substitusi ke
persamaan)
q
2
-0.14283 -0.8109
u
~


p
2
-1.0000
0 ~
u
-0.1851
1 ~
u
q
2
-0.8572 -0.1891
J
k
6.2235 1.5559 4.9496 0.2959
-1.5559 5.9379 -1.8739 4.0337
(J
1
)
k
0.1508 -0.0395 0.1966 -0.0144
0.0395 0.1581 0.0913 0.2412
x
~

2
-0.1169
0 ~
x
-0.0337
1 ~
x
v
2
-0.1750 -0.0625


P
2
-1
(tetapan)
Q
2
-1

2
-0.1506
(iterasi
ke-2)
-0.1552
(iterasi
ke-3) V
2
0.7625 0.7535

p
2
-0.9803
(substitusi ke
persamaan)
-0.9996
(substitusi ke
persamaan)
q
2
-0.9784 -0.9996
u
~


p
2
-0.0197
2 ~
u
-0.0004
3 ~
u
q
2
-0.0216 -0.0004
J
k
4.5137 -0.0993 4.4518 -0.1543
-1.8849 3.3532 -1.8830 3.2551
(J
1
)
k
0.2243 0.0066 0.2292 0.0109
0.1261 0.3020 0.1326 0.3135
x
~

2
-0.0046
2 ~
x
-0.0001
3 ~
x
v
2
-0.0090 -0.0002
Analisis Aliran Daya

219



P
2
-1
(tetapan)
Q
2
-1

2
-0.1553
(iterasi
ke-4)
Iterasi ke-5 tidak
dilakukan.

4
2
p
dan
4
2
q
sudah
dianggap sama
dengan P
2
dan Q
2

yang ditetapkan








V
2
0.7533

p
2
-0.99999983
(substitusi ke
persamaan)
q
2
-0.99999981
u
~


p
2
-2.0000
4 ~
u
q
2
-2.0000
J
k
4.4505 -0.1554
-1.8829 3.2531
(J
1
)
k
0.2293 0.0110
0.1327 0.3137
x
~

2
-0.4806
4 ~
x
v
2
-0.8930

P
1
1.1229



Q
1
1.2677


Sampai iterasi ke-3, nilai 1 dan 1
3
2
3
2
q p . Pada iterasi ke-4
nilai tersebut sudah dapat dikatakan sama dengan nilai P
2
dan Q
2

yang ditetapkan. Oleh karena itu iterasi ke-5 tidak perlu dilakukan
lagi.
Profil Tegangan Sistem dan Daya Pada Bus-Generator. Pada
Iterasi terakhir kita perloeh profil tegangan sistem dua bus ini
sebagai berikut
o
2 2
o
1 1
-8.90 rad 1553 , 0 ; pu 7533 , 0
0 pu; 1
= = =
= =
V
V

dengan diagram fasor:
Pada kondisi ini, daya yang dialirkan ke
saluran transmisi dari bus-1 dan bus-2 adalah
beban) - (bus pu 1 ; pu 1
generator) - (bus pu 1,27 ; pu 12 , 1
2 2
1 1
= =
= =
Q P
Q P

Dalam contoh ini tegangan jatuh di saluran cukup besar, dan susut
daya di saluran, yang diperlihatkan oleh selisih P
1
dan P
2
cukup
besar pula yaitu pu 12 , 0 1 12 , 1 = =
sal
P 12%. (P
1
dan Q
1
pada
iterasi ke-4 dicantumkan dalam tabel pada dua baris terakhir).
2
V
1
V
Analisis Aliran Daya

220 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

5.6.4 CONTOH Sistem Tiga Bus
Contoh ini juga diambil dari buku referensi [3]. Seperti pada contoh
sebelumnya, perhitungan-perhitungan di sini dilakukan secara
manual dengan menggunakan excel.
Diagram rangkaian beserta data jaringan yang diketahui diberikan
berikut ini.

S 00189 , 0 529 / 1 , 529 100 / 230
V 230 MVA, 100
2
= = = =
= =
basis basis
basis basis
Y Z
V S

kV 15 MVA, 300
1
= G
kV 15 MVA, 250
3
= G
Saluran transmisi dianggap sebagai lossless line.
Admitansi saluran per fasa sudah dihitung dalam per unit:
o
32 32
o
31 31
o
32 31 33
o
23 23
o
21 21
o
23 12 22
o
13 13
o
12 12
o
13 12 11
90 12 ; 90 15 ; 90 27
90 12 ; 90 10 ; 90 22
90 15 ; 90 10 ; 90 25
= = = = = + =
= = = = = + =
= = = = = + =
y Y y Y y y Y
y Y y Y y y Y
y Y y Y y y Y

Matriks Y
bus
. Dari perhitungan di atas kita dapatkan matriks
sebagai berikut:
(
(
(
(




=
(
(
(

=
o o o
o o o
o o o
33 32 31
23 22 21
13 12 11
90 27 90 12 90 15
90 12 90 22 90 10
90 15 90 10 90 25
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
bus
Y
(5.35)
pu 0 1
o
1
= V
1 - bus
2 - bus
pu 10
12
j y =
pu 15
13
j y =
0 . 2
1 . 1
3
3
=
=
P
V
1 B
S
pu 2
1
=
B
S
pu 12
23
j y =
3 - bus
1 G
S
3 G
S
3
G
1
G
pu 2 j
pu 5 , 2
pu 2 , 1 j
0,8 2,5 2 2 , 1 5 . 2
2
j j j S
B
= + =
Analisis Aliran Daya

221

Peubah-Peubah Dan Pembebanan Pada Bus.
Bus-1: slack bus,
o
1 1
0 1 = = V . Daya di bus
1 1
dan Q P ini
tergantung dari profil tegangan di semua bus; jadi
1 1
dan Q P
merupakan peubah tak bebas.
Bus-2: bus-beban. Beban di bus ini dinyatakan dengan resistor
yang menyerap daya nyata pu 5 , 2 =
R
P , terhubung seri dengan
ystem r yang menyerap daya reaktif pu 2 , 1 j Q
L
= . Sebuah
kapasitor dihubungkan ke bus-2 dan menyerap daya reaktif
sebesar 2 j Q
C
= . Total beban yang tersambung ke bus-2
menjadi 8 , 0 5 , 2
2
j S
B
= . Beban di bus-2 yang mengalir ke
saluran transmisi menjadi 8 , 0 dan 5 , 2
2 2
j Q P = = . Peubah di
bus ini adalah tegangan dan sudut fasanya,
2 2
dan V .
Bus-3: bus-generator. Daya nyata dari generator di diberikan
melalui pengaturan masukan uap (di turbin) sebesar pu 0 , 2
3
= P
sedangkan tegangan diatur melalui arus eksitasi sebesar
pu 1 , 1
3
= V ; oleh karena itu peubah di bus ini tinggallah sudut
fasa tegangan
3
.
Jadi peubah yang ada pada ystem ini adalah
3 2 2
dan , , V .
Persamaan Aliran Daya. Bentuk umum persamaan aliran daya
adalah
|
|
|

\
|
=
|
|
|

\
|
=

=
=
n
j
j ij i j ij i i
n
j
j ij i j ij i i
V Y V q
V Y V p
1
1
) sin(
) cos(

Karena bus-1 adalah slack bus maka kita akan bekerja pada bus-2
dan bus-3. Di bus-2, daya yang harus dicapai pada akhir iterasi
adalah 8 , 0 dan 5 , 2
2 2
= = Q P . Sedangkan di bus-3 daya nyata
yang harus dicapai adalah 0 , 2
2
= P . Jadi dalam ystem ini
diberikan tiga tetapan daya, dengan tiga peubah. Oleh karena itu
persamaan aliran daya terdiri dari tiga persamaan yaitu untuk p
2
,
p
3
, dan q
2
.
Analisis Aliran Daya

222 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

)] sin( ) (
) sin( ) sin(
)] cos( ) (
) cos( ) cos(
)] cos( ) (
) cos( ) cos(
22
2
2 22
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2 2
33
2
3 33
2 32 3 2 32 3 1 31 3 1 31 3 3
22
2
2 22
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2 2
+
+ =
+
+ =
+
+ =
V Y
V Y V V Y V q
V Y
V Y V V Y V p
V Y
V Y V V Y V p
(5.36)
Jacobian. Persamaan aliran daya terdiri dari tiga persamaan
seperti ditunjukkan oleh (5.36) dengan tiga peubah yaitu
3 2 2
dan , , V . Matriks jacobian akan berukuran 33, yaitu
2 2 3 2 2 2
2 3 3 3 2 3
2 2 3 2 2 2
/ / /
/ / /
/ / /
V q q q
V p p p
V p p p
J



= (5.37.a)
Elemen-elemen matriks ini adalah
) sin( 2
) sin( ) sin(
) cos(
) cos( ) cos(
) cos(
) sin( ) sin(
) sin(
)] cos( 2
) cos( ) cos(
) sin(
) sin( ) sin(
22 2 22
3 23 2 3 23 1 21 2 1 21
2
2
3 23 2 3 23 2
3
2
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2
2
2
2 32 3 32 3
2
3
2 32 3 2 32 3 1 31 3 1 31 3
3
3
2 32 3 2 32 3
2
3
22 2 22
3 23 2 3 23 1 21 2 1 21
2
2
3 23 2 3 23 2
3
2
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2
2
2
+
+ =

+ =

+ =

+ =

+
+ =

+ =

V Y
V Y V Y
V
q
V Y V
q
V Y V V Y V
q
Y V
V
p
V Y V V Y V
p
V Y V
p
V Y
V Y V Y
V
p
V Y V
p
V Y V V Y V
p
(5.37.b)
Analisis Aliran Daya

223

Dugaan Awal dan Iterasi. Kita coba dugaan awal
(
(
(

=
(
(
(
(


0
0
1
~
0
3
0
2
0
2
0
V
x (5.38)
Kita masukkan dugaan awal ini ke persamaan aliran daya untuk
mendapatkan corrective force:
(
(
(
(


=
(
(
(
(

=
(
(
(


0
2
0
3
0
2
0
2 2
0
3 3
0
2 2
2
3
2
0
8 , 0
2
5 , 2
~
q
p
p
q Q
p P
p P
q
p
p
u (5.39)
Besar koreksi
( ) ( )
(
(
(
(


= =

0
2
0
3
0
2
0
1 0
0
1 0
8 , 0
2
5 , 2
~ ~
q
p
p
J u J x
(5.40)
Hasil Perhitungan. Dalam perhitungan ini, sudut fasa tegangan
dinyatakan dalam radian. Perhitungan jacobian inversi pada
dilakukan dengan eliminasi Gauss-Jordan. Berikut ini ditulis lagi
data Y
bus
, persamaan aliran daya, formulsi jacobian, kemudian
diberikan hasil perhitungan dalam tabel. Elemen matriks jacobian
dan inversinya langsung dicantumkan dalam tabel.
(
(
(
(




=
(
(
(

=
o o o
o o o
o o o
33 32 31
23 22 21
13 12 11
90 27 90 12 90 15
90 12 90 22 90 10
90 15 90 10 90 25
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
bus
Y

)] sin( ) (
) sin( ) sin(
)] cos( ) (
) cos( ) cos(
)] cos( ) (
) cos( ) cos(
22
2
2 22
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2 2
33
2
3 33
2 32 3 2 32 3 1 31 3 1 31 3 3
22
2
2 22
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2 2
+
+ =
+
+ =
+
+ =
V Y
V Y V V Y V q
V Y
V Y V V Y V p
V Y
V Y V V Y V p

Analisis Aliran Daya

224 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

2 2 3 2 2 2
2 3 3 3 2 3
2 2 3 2 2 2
/ / /
/ / /
/ / /
V q q q
V p p p
V p p p
J



=


P
2
-2.5
(tetapan)

P
3
2

Q
2
0.8

1
0

V
1
1

2
0
(dugaan awal)
-0.0929
(iterasi ke-1) V
2
1 1.0962

3
0 0.0260

V
3
1.1 (tetapan)

p,q
p
2
0.0000
(substitusi ke
persamaan aliran
daya)
-2.7349
(substitusi ke
persamaan aliran
daya)
p
3
3E-15 2.2399
q
2
-1.2000 1.1530

u
~

p
2
-2.5
0 ~
u
0.2349
1 ~
u
p
3
2 -0.2399
q
2
2.0000 -0.3530
J
k

23.2000 -13.2000 0.0000 25.2812 -14.3669 -2.4950
-13.2000 29.7000 0.0000 -14.3669 30.8614 1.5668
0.0000 0.0000 20.8000 -2.7349 1.7175 25.1673
(J
-1
)
k

0.0577 0.0256 0.0000 0.0542 0.0250 0.0038
0.0256 0.0451 0.0000 0.0250 0.0441 -0.0003
0.0000 0.0000 0.0481 0.0042 -0.0003 0.0402

x
~

2
-0.0929
0 ~
x
0.0054
1 ~
x

3
0.0260 -0.0046
V
2
0.0962 -0.0131
Analisis Aliran Daya

225


P
2
-2.5
(tetapan)
P
3
2
Q
2
0.8

1
0
V
1
1

2
-0.0876
(iterasi ke-2)
-0.0874
(iterasi ke-3)
V
2
1.0830 1.0828

3
0.0214 0.0217
V
3

(tetapan)

p,q
p
2
-2.5023 (substitusi ke
persamaan aliran
daya)
-2.5000 (substitusi ke
persamaan aliran
daya)
p
3
1.9963 1.9998
q
2
0.8049 0.8000

u
~

p
2
0.0023
2 ~
u
0.0000
3 ~
u
p
3
0.0037 0.0002
q
2
-0.0049 0.0000
J
k

24.9999 -14.2111 -2.3105
Proses iterasi dihentikan;
nilai p
2
, p
3
, dan q
2
sudah
dapat dianggap sama dengan
nilai tetapan yang diberikan
yaitu
P
2
= 2,5 P
3
= 2 Q
2
= 0,8



-14.2111 30.7073 1.4359
-2.5023 1.5551 24.5698
(J
-1
)
k

0.0546 0.0251 0.0037
0.0251 0.0442 -0.0002
0.0040 -0.0002 0.0411
x
~

2
0.0002
2 ~
x

3
0.0002
V
2
-0.0002
P
1
0.5876
Q
1
-2.2832
Q
3
1.9653
P
12
-0.9448
Q
12
0.7870
P
13
0.3573
Q
13
1.4961
P
31
-0.3573
Q
31
-1.6539
P
32
-1.5552
Q
32
-0.3115
P
21
-0.9448
Q
21
0.9382
P
23
-1.5552
Q
23
-0.1382
Analisis Aliran Daya

226 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Profil Tegangan Sistem. Pada iterasi terakhir kita perloeh profil
tegangan sistem tiga bus ini yaitu
o
3 3
o
2 2
o
1 1
24 , 1 rad 0214 , 0 pu 1 , 1
0 , 5 rad 0876 , 0 pu 08 , 1
0 pu; 1
= = =
= = =
= =
V
V
V

Diagram fasor tegangan di tiga bus tersebut kurang lebih adalah:

Aliran Daya Antar Bus. Kita akan melihat bagaimana aliran daya
antar bus di saluran transmisi. Aliran daya ini kita hitung
menggunakan relasi
( )
) sin( ) sin(
) cos( ) cos(
) (
1
2
1
2
j ij j ij i ij i ij ij
j ij j ij i ij i ij ij
j ij i i ij i j i ij i ij i ij
V Y V V Y Q
V Y V V Y P
Y Y Y S
=
=
= = =

V V V V V V V I V

yang tidak lain adalah bentuk awal dari persamaan aliran daya
sebelum cara penulisannya diubah untuk memperoleh bentuk
pernyataan yang lebih terstruktur. Hasil perhitungan tercantum
dalam bagian tabel yang diberi batas garis tebal. Dari bagian tabel
tersebut kita peroleh daya kompleks antar bus dan daya kompleks
di setiap bus.
Bus-1:
pu 2,283 0,588
pu 1,496 0,357
pu 0,787 0,945
1
13
12
j S
j S
j S
+ =
+ =
+ =

Bus-3:
pu 1,965 1,912
pu 0.311 555 , 1
pu 1,654 0,357
3
32
31
j j S
j S
j S
=
=
=

3
V
1
V
2
V
Analisis Aliran Daya

227

Bus-2:
pu 0,800 2,500
pu 138 , 0 555 , 1
pu 0.938 945 , 0
2
23
21
j S
j S
j S
+ =
=
+ =

Antara bus-1 dan bus-3 aliran daya hanya terjadi dari bus-3 ke
bus-1; daya di bus-3 1,654 0,357
31
j S = sedangkan daya di
bus-1 1,496 0,357
13
j S + = . Daya nyata yang dikirim oleh bus-3
tepat sama dengan daya nyata yang diterima bus-1; hal ini terjadi
karena saluran transmisi merupakan lossless line. Perbedaan antara
daya reaktif yang dikirim bus-3 dan yang diterima bus-1 adalah
daya reaktif yang terserap di saluran yaitu sebesar pu 158 , 0 j .
Aliran daya di bus-2 dari arah bus-1 adalah
0.938 945 , 0
21
j S + = sedang dari arah bus-3
138 , 0 555 , 1
23
j S = dengan jumlah yang sesuai yang
ditetapkan yaitu 0.800 2.500
2
j S + = . Penyerapan daya reaktif
di saluran antara bus-1 dan bus-2 adalah pu 151 , 0 j sedangkan
antara bus-3 dan bus-2 pu 499 , 0 j .
Bus-Generator. Kita perhatikan sekarang dua bus-generator pada
sistem ini yaitu bus-1 dan bus-3. Seperti kita pelajari di bab
sebelumnya, mesin sinkron memiliki batas-batas maksimum dan
minimum dalam mencatu daya reaktif agar tidak over-excited
ataupun under-excited. Oleh karena itu pada setiap langkah
iterasi perlu dicermati apakah batas-batas tersebut tidak
dilampaui. Jika pada suatu tahap iterasi batas tersebut dicapai,
maka batas tersebut dijadikan besaran tetapan untuk dipakai
dalam melakukan iterasi selanjutnya.
Persamaan aliran daya di bus generator adalah (5.14)
|
|
|

\
|
=
|
|
|

\
|
=

=
=
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
Y V V Q Q
Y V V P P
1
1
) sin(
dan ) cos(

Analisis Aliran Daya

228 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

atau
i Bi Gi i Bi Gi
Q Q Q P P P = = dan
Dengan demikian maka
pu 3 , 58 684 , 2 283 , 2 412 , 1
pu 283 , 2 0 283 , 2
pu 412 , 1 2 588 , 0
o
1
1 1 1
1 1 1
= + =
= + = + =
= + = + =
j S
Q Q Q
P P P
G
B G
B G

dan
pu 8 , 45 742 , 2
pu 965 , 1 0 965 , 1
pu 912 , 1 0 912 , 1
o
3
3 3 3
3 3 3
=
= + = + =
= + = + =
G
B G
B G
S
Q Q Q
P P P

Karena daya basis adalah 100 MVA, maka
MVA 2742 dan MVA 2684
3 1
= =
G G
S S
Ternyata S
G1
masih dalam batas kapasitas G
1
yaitu 300 MVA;
akan tetapi S
G3
melebihi kapasitas generator G
3
yang 250 MVA.
Kita dapat menurunkan pasokan daya nyata oleh G
3
; pasokan daya
ini ditetapkan pu 2
3
=
G
P pada awal iterasi. Jika tetapan ini kita
kurangi dengan diimbangi tambahan daya nyata dari G
1
agar
kebutuhan daya di seluruh sistem terpenuhi, maka hasil iterasi
ulang dari awal (tidak disajikan dalam tabel) memberikan:
profil tegangan
o
3 3
o
2 2
o
1 1
21 , 0 rad 0035 , 0 pu 1 , 1
60 , 5 rad 0977 , 0 pu 083 , 1
0 pu; 1
= = =
= = =
= =
V
V
V

daya di setiap bus
pu 1.9491 1.5022
pu 0.8000 2.5000
pu 2.2772 0.9978
3
2
1
j S
j S
j S
=
+ =
+ =

daya generator:
pu 52,38 2,461 1,9491 1,5022
pu 25 , 66 2,488 2,2772 1,0022
3
o
1
= =
= =
j S
j S
G
G


229

Daftar Pustaka

1. Charles A. Gross : Power System Analysis, John Willey &
Son, 1986.
2. Turan Gnen: Electric Power Transmission System
Engineering, John Willey & Son, 1988.
3. Vincent Del Toro, Electric Power Systems, Prentice-Hall
International, Inc., 1992.
4. Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik, Penerbit
ITB 2002.
5. Rencana Umum Kelistrikan Nasional, 2005.
6. Sudaryatno Sudirham, Fungsi dan Grafik, Diferensial dan
Integral, Darpublic, Bandung, , 2011.
7. Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listik Jilid 1,
Darpublic, Bandung, , 2012.
8. Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listik Jilid 2,
Darpublic, Bandung, , 2012.
9. Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik Jilid 3,
Darpublic, Bandung, , 2012.


230 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)





Biodata Penulis
Nama: Sudaryatno Sudirham
Lahir: 26 Juli 1943, di Blora.
Istri: Ning Utari
Anak: Arga Aridarma, Aria Ajidarma.
Pendidikan & Pekerjaan:
1971 : Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung.
1982 : DEA, lENSEIHT, INPT, Perancis.
1985 : Doktor, lENSEIHT, INPT, Perancis.
19722008 : Dosen Teknik Elektro, ITB.
Training & Pengalaman lain:
1974 : TERC, UNSW, Australia; 1975 1978 : Berca Indonesia PT,
Jakarta; 1979 : Electricit de France, Perancis; 1981 : Cour dEte,
Grenoble, Perancis; 1991 : Tokyo Intitute of Technology, Tokyo,
Jepang; 2005 : Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand;
2005 2009 : Tenaga Ahli, Dewan Komisaris PT PLN (Persero);
2006 2011 : Komisaris PT EU ITB.


231

Indeks
a
ABCD, konstanta 85
admitansi 48, 64
air, tenaga 17
aliran daya 199, 203, 210,
214
angin 17
arus laut 17
b
batas operasi 183
batubara 14
beban 5, 17, 18
beban, model 18
bintang, hubungan 25
biomassa 17
bus beban 200, 205
bus-generator 200, 205, 225
d
daya 6, 37, 199
daya mesin sinkron 178
diagram lingkaran 94
diagram satu garis 40
distribusi 5
e
efisiensi 128
energi 1, 6
energi primer 14
f
fluksi bocor 117
g
gas alam 15
gelombang laut 17
i
impedansi 48, 55
impedansi karakteristik 75
impedansi urutan 34
induktansi 49
iterasi 206, 215, 220
j
jacobian 209, 214, 220
k
komponen simetris 29, 31
konfigurai saluran 7
konfigurasi 56, 69
kutub menonjol 159, 193
l
lossless line 90
m
mesh, hubungan 25
mesin sinkron 159
minyak bumi 15
n
Newton-Raphson 206
nuklir 17
o
operator a 30
p
panas bumi 16
pembangkitan 3
pergeseran fasa 147
permeabilitas 47
permitivitas 47
per-unit 41, 44, 148
polifasa 21
propagasi, konstanta 74
r
rangkaian ekivalen 72, 123
rangkaian ekivalen 78
reaktansi sinkron 169
regulasi tegangan 128
resistansi 48
rotor silindris 167, 173


232 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

s
sampah 17
slack bus 200, 205
stabilitas, mantap 95
struktur 3
subtransmisi 4
surge impedance loading 98
surja 101
surya, tenaga 17
t
tiga-fasa 26, 29
transformator 115, 116, 118,
120, 123, 125, 130, 131
transformator polifasa 155
transformator tiga belitan
136, 138, 140, 144
transien 100, 102, 190
transmisi 4, 47, 73
transposisi 61, 70
turbin 177
u
uji beban nol 126
uji hubung singkat 126
urutan negatif 29
urutan nol 29
urutan positif 29
y
Y
bus
203, 205, 214