Anda di halaman 1dari 16

ALIRAN ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

A. 1.

FILSAFAT PENDIDIKAN IDEALISME Realitas Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi,

bukan fisik. Termasuk dalam paham idealisme adalah spiritualisme, rasionalisme, dan supernaturalisme. Bagi penganut aliran idealisme, fungsi mental adalah apa yang tampak dalam tingkah laku. Oleh karena itu, jasmani atau badan sebagai materi merupakan alat jiwa, alat roh untuk melaksanakan tujuan, keinginan, dan dorongan jiwa manusia. Idealisme tidak menolak eksistensi dunia fisik di sekeliling kita, seperti rumah, pepohonan, binatang, matahari, bintang bintang yang muncul terlihat pada malam hari. Mereka berpandangan bahwa kenyataan kenyataan seperti itu merupakan realitas yang hanya memenuhi kebutuhan fisik. Realitas mungkin bersifat personal, dan juga mungkin bersifat impersonal. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia sebagai roh yang berasal dari ide eksternal dan sempurna. Bagi Immanuel Kant, manusia adalah bebas ditentukan. Manusia bebas, sepanjang ia sebagai spirit (jiwa), sedangkan ia terikat berarti manusia juga merupakan makhluk fisik.

2.

Pengetahuan Tentang teori pengetahuan, idealisme mengemukakan pandangannya bahwa

pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka, sifatnya maya (bayangan), yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya, pengetahuan yang benar hanya merupakan hasil akal belaka, karena akal dapat membedakan bentuk spiritual murni dari benda benda di luar penjelmaan material, demikian menurut Plato.

3.

Nilai Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut. Apa yang dikatakan baik,

benar, salah, cantik, atau tidak cantik, secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Pada hakikatnya nilai itu tetap. Nilai tidak diciptakan manusia, melainkan merupakan bagian dari alam semesta.

4.

Pendidikan Filsafat idealisme diturunkan dari filsafat idealisme metafisik, yang

menekankan pertumbuhan rohani. Kaum idealis percaya bahwa anak merupakan bagian dari alam spiritual, yang memiliki pembawaan spiritual sesuai dengan potensialitasnya. Oleh karena itu pendidikan harus mengajarkan hubungan antara anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan harus menekankan kesesuaian batin antara anak dan alam semesta. Selanjutnya menurut Horne, pendidikan merupakan proses abadi dari proses penyesuaian dan perkembangan mental maupun fisik, bebas dan sadar terhadap tuhan, dimanifestasikan dalam lingkungan intelektual, emosional, dan berkemauan. Pendidikan merupakan pertumbuhan kearah tujuan, yaitu pribadi manusia yang ideal. Seorang guru menganut paham idealisme harus membimbing atau didiskusikan, bukan sebagai prinsip prinsip eksternal kepada siswa, melainkan sebagai kemungkinan kemungkinan (batin) yang perlu dikembangkan. Sehubungan dengan teori pengetahuan, intelek atau akal memegang peran yang sangat penting dan menentukan dalam proses belajar mengajar. Mereka yakin bahwa akal manusia dapat memperoleh pengetahuan dan kebenaran sejati. Jadi, pengetahuan yang diajarkan disekolah harus bersifat intelektual. Filsafat, logika, bahasa, dan matematika akan memperoleh porsi yang besar dalam kurikulum sekolah. Inilah konsep pendidikan yang berdasarkan idealisme. Power (1982:89) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan idealisme sebagai berikut : 1) Tujuan pendidikan

Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial. 2) Kedudukan siswa Bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan

dasarnya/bakatnya. 3) Peranan Guru Berkerja sama dengan alam dalam proses pengembangan manusia terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan siswa. 4) Kurikulum Pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan rasional, dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan. 5) Metode Diutamakan metode dialektika , tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan

B.

FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME Pada dasarnya realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara

dualitis. Realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monitis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas ialah terdiri dari atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui disuatu pihak, dan dan lainnya adalah realita diluar manusia, yang dapat dijadikan sebagai objek dari pengetahuan manusia.

1.

Realisme Rasional Realisme rasional dapat di definisikan pada dua aliran, yaitu realisme klasik

dan realisme religius. Realisme klasik maupun realisme religius menyetujui bahwa bahwa dunia materi adalah nyata, dan berada diluar pikiran (ide) yang mengamatinya.

a) Realisme Klasik Realisme klasik menurut Brubacher (1950), berpandangan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki ciri rasional. Dunia dikenal melalui akal, dimulai dengan prinsip, dimana manusia dapat menjangkau kebenaran umum.

b) Realisme Religius Realisme religius dalam pandangannya tampak dualistis. Ia berpendapat bahwa terdapat dua order yang terdiri atas order natural dan order supernatural. Kedua order tersebut berpusat pada tuhan. Johan Amos Comenius merupakan pemikir pendidikan yang dapat digolongkan pada realisme religius, mengatakan bahwa semua manusia harus berusaha untuk mencapai tujuan. Beberapa prinsip mengajar yang dikemukakan oleh Comenius adalah sebagai berikut: a. Pelajaran harus didasarkan pada minat siswa. Keberhasilan dalam belajar tidak karena dipaksakan dari luar, melainkan merupakan suatu hasil perkembangan dari dalam pribadinya. b. Pada waktu permulaan belajar, guru harus menyusun pelajaran secara garis besar dari setiap mata pelajaran. c. Guru harus menyiapkan dan menyampaikan informasi tentang garis garis besar pelajaran sebelum pelajaran dimulai, atau pada waktu permulaan belajar. d. Kelas harus diisi dengan gambar gambar, peta, motto, dan sejenisnnya yang berkaitan dengan rencana pengajaran yang akan diberikan. e. Guru menyampaikan pelajaran sedemikian rupa, sehingga pelajaran merupakan suatu kesatuan. Setiap pelajaran merupakan keseimbangan dari pelajaran sebelumnya, dan untuk perkembangan pengetahuan secara terus menerus.

f. Apapun

yang

dilakukan hakikat

guru manusia.

hendaknya Kepada

membantu siswa

untuk

pengembangan

ditunjukkan

kepentingan yang praktis dari setiap sistem nilai. g. Pelajaran dalam subjek yang sama diperuntukkan bagi semua anak.

2.

Realisme Natural Ilmiah Menurut realisme natural ilmiah, pengetahuan yang sahih adalah adalah

pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris, dengan jalan observasi atau penginderaan. Teori pengetahuan yang mereka ikuti adalah teori pengetahuan empirisme. Menurut empirisme, pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan, sehingga merupakan sumber dari pengetahuan manusia. Mengenai konsep realisme natural, Brucher (1950) mengemukakan bahwa pendidikan berkaitan dengan dunia disini dan sekarang. Dunia bukan sesuatu yang eksternal, tidak abadi melainkan diatur oleh hukum alam. Jiwa (mind) merupakan produk alam dan bersifat biologis, berkembang dengan cara menyesuaikan diri dengan alam. Pendidikan menurut realisme natural haruslah ilmiah dan yang menjadi objek penelitiannya adalah kenyataan dalam alam. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, merupakan suatu strategi mengajar yang bermanfaat.

3.

Neo Realisme dan realisme Kritis Selain aliran aliran realisme diatas masih ada lagi pandangan pandangan

lain, yang termasuk realisme. Alliran aliran tersebut disebut Neo Realisme dari Frederick Breed dan Realisme Kritis dari Immanuel Kant. Menurut pandangan Breed, filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip prinsip demokrasi. Prinsip pertama demokrasi adalah hormat menghormati atas hak hak individu. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai

menerima arah tuntunan sosial dan individual. Istilah demokrasi harus disefinisikan kembali sebagi pengawasan dan kesejahteraan sosial. Henderson merupakan salah seorang filosof yang dapat digolongkan pada aliran ini. Ia berpendapat bahwa semua aliran filsafat pendidikan memiliki beberapa persamaan yaitu: a) Proses pendidikan berpusat pada tugas mengembangkan laki laki dan wanita yang hebat dan kuat. b) Tugas manusia didunia adalah memajukan keadilan dan kesejahteraan umum. c) Tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan masalah masalah pendidikan.

C. 1.

FILSAFAT PENDIDIKAN MATERIALISME Latar Belakang Pemikiran Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan

rohani, bukan spiritual, atau supernatural. Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor pandangan materialisme klasik yang disebut juga atomisme. Demokritos beserta para pengikutnya beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian bagian kecil yang tidak dapat dibagi bagi lagi (yang disebut atom atom). Atom atom merupakan bagian yang begitu kecil sehingga mata kita tidak dapat melihatnya. Atom atom itu bergerak sehingga dengan demikian membentuk realitas panca indera kita.

2.

Pendidikan Materialisme maupum positivisme, pada dasarnya tidak menyusun konsep

secara eksplisit. Pendidikan dalam hal ini adalah proses belajar, merupakan proses kondisionisasi lingkungan, misalnya dengan mengadakan percobaan terhadap anak yang pernah takut pada kucing.

Power (1982) mengemukakan beberapa implikasi pendidikan positivisme behaviorisme yang bersumber pada filsafat materialisme, sebagai berikut: 1) Tema Manusia yang baik dan efisien dihasilkan dengan proses pendidikan terkontrol secara ilmiah dan seksama. 2) Tujuan pendidikan Perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk tanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks. 3) Kurikulum Isi pendidikan mencakupi pengetahuan yang dapat dipercaya (handal), dan diorganisasi, selalu berhubungan sasaran perilaku. 4) Metode Semua pelajaran dihubungkan dengan kondisionisasi, pelajaran

berprogram dan kompetensi. 5) Kedudukan siswa Tidak ada kebebasan. Perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar. Pelajaran sudah dirancang. Siswa dipersiapkan untuk hidup. Mereka di tuntut untuk belajar. 6) Peranan guru Guru memiliki kekuasaan untuk merancang dan mengontrol proses pendidikan. Guru dapat mengukur kualitas dan karakter hasil belajar siswa.

D.

FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika Asli. Namun sebenarnya

berpangkal pada filsafat empirisme inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami.

Istilah pragmatisme berasal dari perkataan pragma artinya praktik atau aku berbuat. Maksudnya bahwa makna segala sesuatu, tergantung dari hubungan apa yang dilakukan. Istilah lainnya dan dapat diberikan pada filsafat pragmatisme adalah karena

instrumentalisme

eksperimentalisme.

Disebut

instrumentalisme

menganggap bahwa hidup ini tidak dikenal tujuan akhir, melainkan hanya tujuan antara dan sementara yang merupakan alat untuk mencapai tujuan berikutnya, termasuk dalam pendidikan tidak mengenal tujuan akhir. Dikatakan

eksprementalisme, karena filsafat ini menggunakan metode eksperimen dan berdasarkan atas pengalaman dalam menentukan kebenarannya.

1.

Realitas Realitas dan dunia yang kita amati, tidak bebas dari ide manusia dan sekaligus

tidak terikat kepadanya. Realitas merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Manusia dipandang sebagai makhluk fisik sebagai hasil evolusi biologis, sosial, dan psikologis karena manusia dalam keadaan terus menerus berkembang. Tema pokok filsafat pragmatisme adalah: a) Esensi realitas adalah perubahan b) Hakikat sosial dan biologis manusia yang esensial c) Relativitas nilai d) Penggunaan intelegensi secara kritis Watak Pragmatisme adalah humanitis dan menyetujui suatu dalil manusia adalah ukurn segala galanya (mean is the measure of all things). Tujuan dan alat pendidikan harus fleksibel dan terbuka untuk perbaikan secara terus menerus. Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan pendidikan harus rasional dan ilmiah.

2.

Pengetahuan Pragmatisme yakin bahwa akal manusia aktif dan selalu ingin meneliti, tidak

pasif dan tidak begitu saja menerima pandangan tertentu sebelum dibuktikan kebenaran secara empiris. Pikiran (rasio) tidak bertentangan dan tidak terpisah dari dunia. Pengetahuan sebagai transaksi antara manusia dengan lingkungannya, dan kebenaran merupakan bagian dari pengetahuan. Pengalaman senantiasa berubah, maka akal tidak memerlukan pengetahuan yang tetap dan abadi. Apa yang dikatakan nyata adalah apa yang dapat dialami dalam pengalaman. Inti dari pengalaman adalah berupa masalah masalah yang dihadapi oleh individu atau sekelompok individu. Pragmatisme mengajarkan bahwa tujuan semua berfikir adalah kemajuan hidup. Dibalik semua gambaran terdapat tujuan tertentu untuk memajukan dan memperkaya kehidupan, walaupun kita tidak menyadarinya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang berguna. Menurut James, suatu ide itu benar apabila memiliki konsekuensi yang menyenangkan. Menurut Dewey dan Peirce, suatu ide itu benar apabila berakibat memberi kepuasan jika di uji secara objektif dan ilmiah. Secara khusus pragmatisme mengemukakan bahwa ide yang benar tergantung pada konsekuensi konsekuensi yang di observasi secara objektif, dan ide tersebut operasional.

3.

Nilai Pragmatisme mengemukakan pandangan tentang nilai, bahwa nilai itu relatif.

Kaidah kaidah moral dan etik tidak tetap, melainkan selalu berubah, seperti perubahan kebudayaan masyarakat, dan lingkungannya.

4.

Pendidikan a) Konsep pendidikan Tidak dapat disangkal lagi bahwa pragmatisme telah memberikan suatu

sumbangan yang sangat besar terhadap teori pendidikan.

John Dewey mengemukakan perlunya atau pentingnya pendidikan, karena berdasarkan tiga pokok pemikiran, yaitu: 1) Pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup 2) Pendidikan sebagai pertumbuhan, dan 3) Pendidikan sebagai fungsi sosial

b) Tujuan pendidikan Beberapa karakteristik tujuan pendidikan yang harus diperhatikan adalah: 1) Tujuan pendidikan hendaknya ditentukan dari kegiatan yang didasarkan atas kebutuhan intrinsik anak didik. 2) Tujuan pendidikan harus mampu memunculkan suatu metode yang dapat memprsatukan aktivitas pengajaran yang sedang berlangsung. 3) Tujuan pendidikan adalah spesifik dan langsung. Pendidikan harus tetap menjaga untuk tidak mengatakan yang berkaitan dengan tujuan umum dengan tujuan akhir.

c) Proses Pendidikan Dalam proses belajar mengajar ada beberapa saran bagi guru yang harus diperhatikan, terutama dalam menghadapi siswa dalam kelas, yaitu: 1) Guru tidak boleh memaksakan suatu ide atau pekerjaan yang tidak sesuyai dengan minat dan kemampuan siswa 2) Guru hendaknya menciptakan suatu situasi yang menyebabkan siswa akan merasakan adanya suatu masalah yang ia hadapi, sehingga timbul minat untuk memecahkan suatu masalah tersebut. 3) Untuk membangkitkan minat anak, hendaklah guru mengenal kemampuan serta minat masing masing siswa. 4) Guru harus dapat menciptakan situasiyang menimbulkan kerja sama dalam belajar, antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, begitu pula antara guru dengan guru.

10

Power (1982) mengemukakan implikasi implikasi filsafat pendidikan pragmatisme terhadap pelaksanaan pendidikan sebagai berikut: 1) Tujuan Pendidikan Memberi pengalaman untuk penemuan hal hal baru dalam hidup sosial pribadi 2) Kedudukan Siswa Suatu organisme yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh 3) Kurikulum Berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa kesekolah dapat menentukan kurikulum.

Menghilangkan perbedaan antara pendidikan liberal dengan pendidikan praktis atau pendidikan jabatan. 4) Metode Metode aktif, yaitu learning by doing (belajar sambil bekerja). 5) Peran guru Mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa

mengganggu minat dan kebutuhannya.

E.

FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME Filsafat eksistensialisme itu unik yakni memfokus pada pengalaman

pengalaman individu. Filsafat filsafat lain berhubungan dengan pengembangan sistem pemikiran untuk mengidentifikasi dan memahami apa yang umum pada semua relitas, keberadaan manusia, dan nilai. Di sisi lain, eksistensialisme memberi individu suatu jalan berfikir mengenai kehidupan, apa maknanya bagi saya, apa yang benar untuk saya. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektivitas pengalaman manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Eksistensialisme atheistik memiliki pemikiran bahwa pendirian tersebut (theistik) merendahkan kondisi manusia. Dikatakan bahwa kita harus mempunyai

11

suatu fantasi agar dapat tinggal dalam kehidupan tanggung jawab moral. Pendirian semacam itu membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berhubungan dengan kebebasan pilihan sempurna yang dimiliki kita semua.

1.

Realitas Menurut eksistensialisme, ada dua jenis filsafat tradisional, yaitu tentang

filsafat spekulatif dan skeptis. Filsapat spekulatif menjelaskan tentang hal hal yang fundamental tentang pengalaman, dengan berpangkal dengan realitas yang lebih dalam secara inheren telah ada dalam diri individu. Jadi pengalaman tidak banyak berpengaruh dalam diri individu. Filsapat skeptik berpandangan bahwa semua pengalaman manusia adalah palsu, tidak ada sesuatu pun yang dapat kita kenal dari realitas. Mereka menganggap bahwa konsep metafisika adalah sementara.

2.

Pengetahuan Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat

fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda benda dan peristiwa peristiwa sebagaimana benda benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia.

3.

Nilai Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam

tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan.

4.

Pendidikan Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia, sedangkan

pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.

12

a. Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.

b. Kurikulum Kaum eksistensialis menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaan personal yang disebut Greene kebangkitan yang luas. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberi para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan - pertanyaan, melaksanakan pencarian pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan kesimpulan mereka sendiri.

c. Proses belajar mengajar Menurut Kneller (1971) konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat di duplikasikan tentang dialog. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya, dan merupakan suatu percakapan antara aku dan Engkau (Tuhan) sedangkan lawan dari dialog adalah paksaan, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain sebagai objek.

d. Peranan guru Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide ide lain, kemudian membimbing siswa untuk memilih alternatif alternatif, sehingga siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak kebenaran tidak

13

terjadi pada manusiamelainkan dipilih oleh manusia. Selain itu siswa harus jadi faktor dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Siswa harus belajar keras seperti gurunya. Power (1982) mengemukakan beberapa implikasi filsafatpendidikan

eksistensialisme sebagai berikut: 1) Tujuan pendidikan Memberi bekal pengalaman yang luas dan komperehensif dalam semua bentuk kehidupan 2) Status siswa Makhluk rasional denga pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya. Suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pribadi. 3) Kurikulum Yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan memiliki aturan aturan. 4) Peranan guru Melindungi dan memelihara kebebasan akademik, dimana mungkin guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid. 5) Metode Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik.

F. 1.

FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME Latar Belakang Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat

yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918.

14

2.

Strategi Progresif Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini

mungkin tidak benar dimasa mendatang. Peran guru dalam suatu kelas yang berorientasi secara progresif adalah berfungsi sebagai seorang pembimbingatau orang yang menjadi sumber, yang pada intinya memiliki tanggung jawabuntuk memfasilitasi pembelajaran siswa.

3.

Pendidikan Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus berpusat

pada anak bukannya memfokus pada guru atau bidang muatan.

a.

Perhatian terhadap anak

Proses belajar terpusat kepada anak, namun hal ini tidak berati bahwa anak akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai.

b. Tujuan pendidikan Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus menerus. Yang dimaksud alat alat adalah keterampilan pemecahan masalahyang dapat digunakan oleh individu atau sekelompok individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku dan disiplin diri. Dimana kebudayaan sangat dibutuhkan dan sangat berfungsi dalam masyarakat.

c. Pandangan tentang belajar Kaum progresiv menolak pandangan bahwa belajar secara esensial merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu substansi abstrak yang di isikan oleh guru kedalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk

15

mengatur pengalaman, untuk menangani situasi baru secar terus menerus, dimana perubahan hidup merupakan tantangan dihadapan manusia.

d. Kurikulum dan peranan guru Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Peranan guru adalah membimbing siswa siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek.

16