Anda di halaman 1dari 6

CEKUNGAN PRA-TERSIER DI INDONESIA

Peninjauan Geologi Beberapa cekungan mesozoic yang kesemuanya terletak di wilayah Indonesia Timur antara lain yang terbagi atas: 1. Cekungan di perisai sahul 2. Bagian Utama Irian 3. Busur banda terbentuk dikarenakan rifting sejak zaman Dinosaurus dulu ..Jadi kalo sejak Paleocene and younger mereka udah relative stabil in the forms of passive margins maka memang cocok untuk secondary exploration target ,ini karena top sealsnya bagus dan padat. Itulah mangkanya cebakan / trap yang terbentuk kebanyakan bukan bersifat struktural karena masa2 tektonik intensif udah berlalu sebelum sedimen si passive margin terendapkan.

Penjelasan Cekungan Wilayah Timur Indonesia

I.

Cekungan di Perisai Sahul

Cekungan di Perisai Sahul (di atas Kerak Benua Australia). Stratigrafi Cekungan ini ditandai adanya Ketidakselarasan antara Cekungan Pre-Rift (Paleozoikum), Syn-Rift (Jura Awal), Passive margin (Jura Akhir-Kapur Akhir) dan Continent-arc Collision related Foreland Basins dan Strike-Slip related Basins

II.

Bagian utama Irian Jaya Merupakan Pinggiran Benua Australia yang sejak Trias bergerak ke utara dan ini

sebenarnya merupakan Passive margin, dengan lempeng Samudra di depannya membentuk subduksi terhadap lempeng Pasific. Pada saat jalur subduksi yang terus menerus mengkomsumsi Lempeng Samudra Australia bertumbukan dengan kerak benua Australia pada Awal Tersier. mengakibatkan Lempeng Samudra Pasific tertekukkan ke atas dan menghasilkan Obduksi, sedang lapisan-lapisan Paleozoic-Mesozoic serta lapisan Tersier terlipat kuat membentuk sesar naik dan sungkup ke arah selatan yang sering disebut dengan Papua Foldthrust Belt, Sementara Foreland-basins terbentuk didepan Paparan

Australia,Hinterland basin dibelakang Pegunungan lipatan tersebut. Lapisan sedimen yang

terlipat ketat karena pertumbukanCollision ini disebut Suture. Masalah di sini makin dipersulit dengan adanya sesar geser di jalur Pegunungan tersebut.

1. Cekungan Salawati Cekungan ini berhubungan dengan Sesar Geser Sorong,yang membentuk asimetri, ada dugaan bahwa Cekungan Salawati ini merupakan bahagian terpotong dari Cekungan Banggai. Cekungan Selawati yang terletak di bagian barat kepala burung Irian Jaya atau di daerah Dobberai (Vogelkop) Peninsula, terbentuk pada kala Miosen Atas atau sekitar 10 juta tahun yl. Akibat adanya oblique subduction antara Lempeng Australia dengan Lempeng Pasific. Sebelum itu daerah ini merupakan suatu paparan karbonat yang diberi nama Paparan Ayamaru yang merupakan bagian dari kerak benua Australia.

Sejarah sedimentasi Cekungan salawati

Sejarah sedimentasi yang teramati dimulai dari umur 35-32,5 juta tahun (Oligosen Bawah) dengan terbentuknya endapan karbonat New Guinea Limestone (NGL) di lingkungan Neritik Dalam-Tengah (20 60 meter) dan proses pengendapannya berlangsung dalam fasa trangresi separti yang terlihat dari hubungan antara eustatik dengan paleobatometri. Kemudian mulai dari umur 32,5-30 juta tahun (Oligosen Bawah-Atas) pengendapan endapan karbonat NGL masih terus berlangsung dalam fasa regresi (yang diperlihatkan dengan adanya sea level drop dan pendangkalan paleobatimetri) dan kemudian kelompok batugamping ini terangkat ke permukaan pada umur 30 juta tahun yang mana pengangkatan (uplift) ini diperlihatkan dengan bertambah kecilnya laju penurunan tektonik (tectonic subsidence). Terjadinya pengangkatan (uplift), ini ada hubungannya dengan terjadinya oblique collision antara Lempeng Australia dengan Sepic Arc . Dengan demikian akibat dari tumbukan ini selain mengakibatkan oengangkatan (Visser dan Hermes, 1982 ; Froidevaux, 1977 ; Brash 1991) juga mengakibatkan terjadinya sea Level drop (Lunt dan Djaafar , 1991). Proses tumbukan ini terus berlangsung hingga umur 15 juta tahun dan muali dari 30 juta tahun hingga 15 juta tahun (Oligosen Bawah./Atas-Miosen Tengah bagian bawah) seluruh Kelompok Batugamping New Guinea tersingkap di permukaan dan tererosei. Selama masa ini muka air laut purba naik kembali. Mulai dari umur 15-10 juta tahun (Miosen Tangah bagian bawah-Miosen Atas bagian bawah ) terbentuk Formasi Kais tipe terumbu (Robinson & Soedirdja, 1986) di lingkungan

Neritik Dalam-Tengah (!0-35 meter) dan Formasi Klasafet serta Formasi Klasaman bagian di lingkungan Neritik Tengah (35-60 meter), Selama ini muka air laut menurun, kedalaman paleobatimetri bertambah dan laju penurunan tektonik meningkat dan penigkatan in berhubungan dengan terjadinyaoblique subduction antara Lempeng Australia dengan Lempeng Pasifik. Dari umur 10-2,5 juta tahun (Miosen Atas bagian bawah-Pliosen) pertumbuhan Formasi Kais tipe terumbu (Robinson dan Soedirdja, 1986) di sumur PY001 dan pembentukan Formasi Klasafet berakhir yaitu masing-masing pada umur 8,9 juta tahun (Miosen Atas) dan 7,6 juta tahun ( Miosen Atas) dan di gantikan dengan terbentuknya Formasi Klasaman yang tebal. Selama masa ini muka air laut purba naik umur 5 juta tahun dan menurun kembali hingga umur 2,5, juta tahun dengan kedalaman paleobatimetri yang relatif bertambah besar dan terjadinya peningkatan laju penurunan tektonik. Dari adanya peningkatan laju penurunan tektonik disimpulkan bahwa awal pembentukan Cekungan Salawati dan juga aktivitas Sesar Sorong dimulai dari umur 10 juta tahun hingga 2,5 juta tahun, selama berlangsungnya proses :oblique subduction antara Lempeng Australia dengan Lempeng Pasifik. . Selama masa ini muka air laut purba meningkat kembali, kedalaman paleobatimetri berkurang dan laju penurunan tektonik juga berkurang. Hal ini menandakan bahwa aktivitas Sesar Sorong masih terus berlangsung yang mana akibat dari aktivitas tersebut menimbulkan pengangkatan dan penrunan separti yang terlihat di TBH09. Aktivitas Sesar Sorong ini diduga ada hubungannya dengan terjadinya oblique collision nantara Lempeng Australia dengan bagian dari Sunda trench dan Banda Forearc yang berlangsung hingga sekarang.

2. Cekungan Bintuni Cekungan Bintuni merupakan bagian dari Kepala Burung, Papua Barat. Pemanfaatan data bawah permukaan berupa data seismik 2D dan data sumur digunakan untuk menafsirkan geometri cekungan dan struktur pengontrol cekungan. Mekanisme pembentukan Cekungan Bintuni dianalisis berdasarkan penafsiran penampang seismik 2D, peta struktur waktu, peta isokron dan rekonstruksi penampang (palinspatik). Cekungan Bintuni dibatasi oleh struktur-struktur geologi utama yang mempengaruhi sejarah tektonik Kepala Burung. Zona Sesar Sorong dan Tinggian Kemum berada di bagian utara daerah penelitian, bagian timur dibatasi oleh Jalur Lipatan Anjakan Lengguru. Bagian selatan dibatasi oleh Sesar Tarera-Aiduna. Bagian barat dibatasi oleh Antiklin Onin-Kumawa. Penafsiran dari 232 penampang seismik 2D dilakukan dengan menggunakan prinsip seismik stratigrafi. Berdasarkan interpretasi seismik, data sumur serta stratigrafi regional, dapat

diidentifikasi delapan horison yang mencerminkan sikuen pengendapan (megasikuen). Pola struktur yang ada di daerah penelitian berarah baratlaut-tenggara, utara-selatan dan barattimur. Fase ekstensional dengan arah tarikan baratdaya-timurlaut terjadi pada Perm-Oligosen Awal. Pada fase tersebut, Bintuni merupakan bagian dari passive margin. Fase kompresional terjadi pada Oligosen Awal sampai Resen ditandai oleh bidang ketidakselarasan Oligosen Awal. Pada Oligosen Awal-Pliosen Awal, Cekunganforeland Bintuni terbentuk karena adanya aktivitas Sesar-sesar Naik Arguni tipe thin skinned berarah utara-selatan yang merupakan bagian dari Jalur Lipatan Anjakan Lengguru. Pada Miosen terbentuk sesar-sesar mendatar berarah barat-timur yang memotong sesar-sesar naik dan perlipatan berarah baratlaut-tengggara. Pada Cekungan ini terbukti batuan Pra- Tersier menghasilkan Gas, bukan merupakan bessement, Gas ditemukan pada batuan umur Jura. Stratigrafi PraTersier. Cekungan ini diduga terbentuk karena sesar geser yang menghasilkan

Transpressional struktur sesar sungkup dari Jakur Lengguru pada penampang berbentuk asimetri. Cekungan-cekungan yang terbentuk karena pengaruh Sesar Geser Sorong (Sorong Fault Zone), berbentukHalf Graben, Cekungan Banggai merupakan belahan dari cekungan Salawati yang telah ditransport beberapa ribu Km, ke arah Barat pada zaman Tersier. Urutan Pre-Rift, Syn-Rift dan Passive-margin, serta terakhir Driftdapat dikenali pada kedua cekungan ini. Transpressional pada akhir Tersier telah menghasilkan ribuan meter sedimen klastik yang berpotensi untuk minyak dan Gasbumi

III.

Busur Banda

1. Cekungan Seram Cekungan di atas ini berada pada Fragmen Kerak Benua Australia, hal ini nampak pada urutan stratigrafinya, telah mengalami Rifting Transtension dan transpression yang menghasilkan lipatan dan sesar sungkup dalam jalur kompleks sesar geser mengiri (Left lateral strike slip zone). Antara Sesar Sorong di utara dan Sesae Tarera-Aiduna di selatan, pada akhir Pliosen. Aktifitas tektonik terakhir membentuk Young elongate perched thrust foreland basins Wahai Basin dan Bula Basin berumur Pliosen-Pleistosen yang menutupi urutan lapisan-lapisan Mesozoikum.

2. Cekungan Tanimbar Daerah percekungan ini meliputi kepulauan Kai dan Tanimbar di bagian timur Busur Banda, Cekungan ini hasil interaksi tektonik tumbukan dari busur-busur Banda dan tektonik regangan (extensional tectonics) dari palung Aru dan terletak pada Pinggiran Pasif Benua Australia-Paparan Arafuru. Urutan Cekungan Pre-Rift di zaman Paleozoikum, Syn-Rift zaman Jura dan Passive Margin di zaman Kapur serta Drift pada zaman Tersier dapat dikenali di sini. Aktifitas tektonik disini yang terakhir menghasilkan cekungan yang melandai ke arah timur dan dibatasi oleh jalur sesar sungkup lipatan Dalam cekungan ini potensi untuk minyak dan gasbumi sangat kecil. (foldthrust belt) di sebelah barat. 3. Cekungan Timur Percekungan Timor merupakan kelanjutan dari Busur Banda, memperlihatkan kesesuaian dengan Cekungan Tanimbar, namun lebih kompleks karena disini kerak benua Australia dengan ujung passive marginnya bertumbukan secara frontal dengan jalur subduksi Busur Banda. Urutan Stratigrafi Australia juga dapat dikenali disini dan nampak dalam sesar sungkup yang sangat kompleks. Kecil sekali diketemukan minyak dan gasbumi disini.

4. Cekungan Nusa Tenggara Sulit untuk dapat mengatakan adanya cekungan sedimen di daerah ini, kecuali pada laut dalam di belakang maupun dimuka kepulauan mulai dari Bali sampai Sumba. Busur kepulauan ini merupakan jalur Magmatisme dengan kecil kemungkinan didapatkannya minyak dan gasbumi.

TUGAS STRATIGRAFI INDONESIA CEKUNGAN PRA-TERSIER DI INDONESIA

DISUSUN OLEH: Margareth Junitaully 270110100063 Kelas B

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013