Anda di halaman 1dari 24

CASE REPORT I WANITA P2A0 DENGAN RETENSIO PLASENTA, HPP, POST MANUAL PLASENTA, PRO CURETTAGE DAN MOW

Diajukan Oleh : Sita Ardilla Rinandyta, S.Ked J 500080085

PEMBIMBING : dr. Agus Dalranto, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2014

CASE REPORT I

WANITA GPA DENGAN RETENSIO PLASENTA, HPP, POST MANUAL PLASENTA, PRO CURETTAGE DAN MOW

Oleh:

Sita Ardilla Rinandyta, S.Ked J500080085

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta Pada hari......................tanggal................2014

Pembimbing :

dr. Agus Dalranto, Sp.OG


Dipresentasikan dihadapan :

(.............................................)

dr. Agus Dalranto, Sp.OG


Disahkan Ka Program Profesi :

(.............................................)

dr.

(.............................................)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD dr. Hardjono Ponorogo Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2014

BAB I TINJAUAN PUSTAKA A. Retensio Plasenta 1. Definisi Retensio plasenta adalah tertinggalnya plasenta dalam uterus setengah jam setelah anak lahir. 2. Etiologi Penyebab retensio plasenta dikelompokkan menjadi 2, sebab fungsional dan sebab anatomika. a. Sebab fungsional His yang kurang kuat (sebab umum) atau plasenta sulit lepas karena tempat melekatnya kurang menguntungkan seperti di sudut tuba atau karena bentuk plasenta membranasea. Bisa juga karena ukuran plasenta sangat kecil. b. Sebab patologi anatomi Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif kala tiga bisa disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus. Penyebab retensio plasenta secara anatomi, dapat dibagi menjadi 3, yaitu plasenta akreta, plasenta inkreta, dan plasenta perkreta. Plasenta akreta: apabila vili korialis menanamkan diri lebih dalam kedalam dinding rahim daripada biasa sampai ke batas antara endometrium dan miometrium. Plasenta inkreta: vili korialis masuk ke dalam lapisan otot rahim. Disebut sebagai plasenta inkreta bila plasenta sampai menembus miometrium, Plasenta perkreta: menembus lapisan otot dan mencapai lapisan serosa atau menembusnya. disebut plasenta perkreta bila vili korialis sampai menembus perimetrium.

Plasenta inkarserata: terjepitnya plasenta karena kanalis servikalis sudah menutup sebelum plasenta dapat dilahirkan. Plasenta yang akreta ada yang kompleta dimana seluruh permukaan

plasenta melekat dengan erat pada dinding rahim dan ada yang parsialis dimana hanya beberapa bagian saja dari plasenta yang melekat dengan erat pada dinding rahim. 3. Faktor predisposisi a. Plasenta previa b. Bekas seksio sesarea c. Pernah kuret berulang d. Multiparitas. Bila sebagian kecil sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus (rest placenta) dan dapat menimbulkan perdarahan postpartum primer atau (lebih sering) sekunder. Proses kala III didahului dengan tahap pelepasan plasenta akan ditandai oleh perdarahan pervaginam (cara pelepasan Duncan) atau sampai akhir plasenta sudah sebagian lepas tetapi tidak keluar pervaginam (cara pelepasan Scheltze), sampai akhirnya tahap ekspulsi, plasenta lahir. Pada retensio plasenta, sepanjang plasenta belum terlepas, maka tidak akan menimbulkan perdarahan. Sebagian plasenta yang sudah lepas dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak (perdarahan kala III) dan harus diantisipasi dengan melakukan placenta manual, meskipun kala uri belum lewat setengah jam. Sisa plasenta dapat diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar, atau setelah melakukan plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim dengan cara manual/digital

atau kuret dan pemberian uterotonika. Anemia yang ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi transfusi darah sesuai dengan keperluannya. 4. Pencegahan Untuk mencegah retensio plasenta dapat disuntikkan methergin i.v atau 10 U pitosin i.m. waktu bayi baru lahir. 5. Penanganan Penanganan pada semua retensio plasenta diusahakan pelepasan plasenta secara manual. Kalau plasenta dengan pengeluaran manual tidak lengkap dapat disusul dengan upaya kuretase. Pada plasenta akreta kompleta tidak dapat dilepaskan secara manual dan memerlukan histerektomi. B. Hemmoragic Post Partum 1. Definisi Hemorrhagic Post Partum (HPP) atau perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya 500 ml atau lebih darah setelah kala tiga persalinan pervaginam atau kehilangan darah lebih dari 1000 ml pada seksio sesaria. 2. Klasifikasi Menurut waktu terjadinya, perdarahan post partum dibagi menjadi: a. Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage) Yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir (Mochtar, 1998). Perdarahan postpartum ini biasanya disebabkan oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, hematoma, retensio plasenta, ruptura uteri, dan inversio uteri. b. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) Yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke-5 sampai hari ke-15 postpartum. Perdarahan ini paling sering disebabkan involusi abnormal tempat melekatnya plasenta, namun dapat pula disebabkan oleh retensi sebagian plasenta, dan juga dari

luka bekas sectio cesaria. Biasanya, bagian plasenta yang tertinggal mengalami nekrosis tanpa deposit fibrin dan pada akhirnya akan membentuk polip plasenta. Apabila serpihan polip terlepas dari miometrium, perdarahan hebat dapat terjadi . 3. Etiologi a. Atonia uteri b. Tissue Penyebab perdarahan postpartum dari faktor tissue (jaringan) adalah: Retensio plasenta Sisa plasenta (placenta restan). Sisa plasenta yang tertinggal merupakan penyebab 20-25 % dari kasus perdarahan postpartum. Penemuan secara dini, hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan

kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah 6-10 hari pulang ke rumah dan subinvolusi uterus (Saifuddin et al, 2009). c. Trauma d. Thrombin 4. Diagnosis Gejala dan Tanda Uterus tidak berkontraksi dan lembek. Perdarahan segera setelah anak lahir (Perdarahan Pasca Persalinan Primer atau P3) Penyulit -Syok - Bekuan darah pada serviks atau posisi telentang akan menghambat aliran darah ke luar Diagnosis Kerja Atonia uteri

-Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir (P3) - Uterus berkontraksi dan keras - Plasenta lengkap - Plasenta belum lahir setelah 30 menit - Perdarahan segera (P3) - Uterus berkontraksi dan keras

- Pucat - Lemah - Menggigil

Robekan jalan lahir

-Tali pusat putus akibat traksi berlebihan - Inversio uteri akibat tarikan - Perdarahan lanjutan

Retensio plasenta

-Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap - Perdarahan segera (P3) -Uterus tidak teraba - Lumen vagina terisi massa - Tampak tali pusat (bila plasenta belum lahir) -Subinvolusi uterus - Nyeri tekan perut bawah dan pada uterus - Perdarahan (sekunder atau P2S) - Lokhia mukopurulen dan berbau (bila disertai infeksi)

Uterus berkontraksi tapi tinggi fundus tidak berkurang

Tertinggalnya sebagian plasenta

- Neurogenik syok - Pucat dan limbung

Inversio uteri

- Anemia - Demam

Endometritis atau sisa fragmen plasenta (terinfeksi atau tidak)

5. Manajemen Perdarahan Post Partum Tujuan utama pertolongan pada pasien dengan perdarahan postpartum adalah menemukan dan menghentikan penyebab dari perdarahan secepat mungkin. Terapi pada pasien dengan perdarahan postpartum mempunyai dua bagian pokok (Wiknjosastro et al, 2005; Wiknjosastro et al, 2007) a. Resusitasi dan manajemen yang baik terhadap perdarahan Pasien dengan perdarahan postpartum memerlukan penggantian cairan dan pemeliharaan volume sirkulasi darah ke organorgan penting. Pantau terus perdarahan, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien. Pastikan dua kateter intravena ukuran besar untuk

memudahkan pemberian cairan dan darah secara bersamaan apabila diperlukan resusitasi cairan cepat. b. Manajemen penyebab perdarahan postpartum Tentukan penyebab perdarahan postpartum : Atonia uteri Pada kasus perdarahan postpartum yang disebabkan atonia uteri, penanganannya tergantung pada banyaknya perdarahan dan derajat atonia uteri, dibagi dalam tiga tahap: 1) Tahap I Perdarahan yang tidak begitu banyak dapat diatasi dengan cara pemberian uterotonika, mengurut rahim (massage), dan memasang gurita. Berikut ini adalah beberapa jenis uterotonika dan cara pemberiannya:

Tabel Jenis Uterotonika dan Cara Penggunaannya Jenis dan Cara Dosis cara pemberian awal dan IV: 20 unit IM atau IV Oral atau rektal 0,2 400 mg Oksitosin Ergometrin Misoprostol

dalam 1 l larutan (lambat): garam fisiologis mg dengan cepat IM: 10 unit tetesan

Dosis lanjutan

IV:

20

unit -Ulangi 0,2 mg 400 mg 2-4 jam dosis

dalam 1 l larutan IM setelah 15 setelah garam fisiologis menit dengan tetes/menit 40 Bila masih awal

diperlukan, beri IM/IV setiap 24 jam

Dosis maksimal per hari Indikasi

Tidak lebih dari Total 1 mg atau Total 1200 mg 3 l larutan 5 dosis atau 3 dosis

dengan oksitosin Pemberian IV Preeklampsia, Nyeri kontraksi

kontra atau secara cepat atu vitium hati-hati (Saifuddin et al, 2009). 2) Tahap II bolus

kordis, Asma

hipertensi

Bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak, selanjutnya berikan infus dan transfusi darah dan dapat dilakukan: Perasat (maneuver ) Zangemeister Perasat (maneuver) Fritch

3) Tahap III

Kompresi bimanual Kompresi aorta Tamponade uterovaginal Jepitan arteri uterina dengan cara Henkel

Bila semua upaya di atas tidak menolong juga, maka usaha terakhir adalah menghilangkan sumber perdarahan, dapat ditempuh dua cara, yaitu dengan meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi (Wiknjosastro et al, 2007).

Sisa plasenta (placenta restan) Berikan antibiotika karena perdarahan juga merupakan gejala metritis. Antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan dengan 3x1 g oral dikombinasi dengan metronidazol 1 g suposituria dilanjutkan 3x500 mg oral. Dengan dipayungi antibiotika tersebut, lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan AVM atau dilatase dan kuretase (Saifuddin et al, 2009). Penemuan ultrasonografi adanya masa uterus yang echogenic mendukung diagnosa retensio sisa plasenta. Hal ini bisa digunakan jika perdarahan beberapa jam setelah persalinan ataupun pada late postpartum hemorraghe. Apabila didapatkan cavum uteri kosong tidak perlu dilakukan dilatasi dan curettage (Saifuddin et al, 2009). Apabila kadar Hb < 8 gr %, berikan transfusi darah. Bila kadar Hb 8 gr %, berikan sulfat ferosus 600 mg/hari selama 10 hari (Cunningham, 2005; Saifuddin et al, 2009)..

10

Trauma jalan lahir Perlukaan jalan lahir sebagai penyebab pedarahan apabila uterus sudah berkontraksi dengan baik tapi perdarahan terus berlanjut. Lakukan eksplorasi jalan lahir untuk mencari perlukaan jalan lahir dengan penerangan yang cukup. Lakukan reparasi penjahitan setelah diketahui sumber perdarahan, pastikan

penjahitan dimulai diatas puncak luka dan berakhir dibawah dasar luka. Lakukan evaluasi perdarahan setelah penjahitan selesai. Hematom jalan lahir bagian bawah biasanya terjadi apabila terjadi laserasi pembuluh darah dibawah mukosa, penetalaksanaannya bisa dilakukan incise dan drainase. Apabila hematom sangat besar curigai sumber hematom karena pecahnya arteri, cari dan lakukan ligasi untuk menghentikan perdarahan (Wiknjosastro et al, 2005).

Gangguan pembekuan darah Jika manual eksplorasi telah menyingkirkan adanya rupture uteri, sisa plasenta dan perlukaan jalan lahir disertai kontraksi uterus yang baik maka kecurigaan penyebab perdarahan adalah gangguan pembekuan darah. Lanjutkan dengan pemberian produk darah pengganti ( trombosit, fibrinogen) (Wiknjosastro et al, 2007).

Terapi pembedahan yang dapat dilakukan dalam kasus perdarahan

post partum adalah sebagai berikut (Wiknjosastro et al, 2005): Laparatomi Pemilihan jenis irisan vertikal ataupun horizontal (Pfannenstiel) adalah tergantung operator. Begitu masuk bersihkan darah bebas untuk memudahkan mengeksploras uterus dan jaringan sekitarnya untuk mencari tempat rupture uteri ataupun hematom. Reparasi tergantung tebal tipisnya rupture. Pastikan reparasi benar benar menghentikan perdarahan dan tidak ada perdarahan dalam karena hanya akan

11

menyebabkan perdarahan keluar lewat vagina. Pemasangan drainase apabila perlu. Apabila setelah pembedahan ditemukan uterus intact dan tidak ada perlukaan ataupun rupture lakukan kompresi bimanual disertai pemberian uterotonica. Ligasi arteri Ligasi arteri uterine Prosedur sederhana dan efektif menghentikan perdarahan yang berasal dari uterus karena uteri ini mensuplai 90% darah yang mengalir ke uterus. Tidak ada gangguan aliran menstruasi dan kesuburan. Ligasi arteri ovarii Mudah dilakukan tapi kurang sebanding dengan hasil yang diberikan Ligasi arteri iliaca interna Efektif mengurangi perdarahan yang bersumber dari semua traktus genetalia dengan mengurangi tekanan darah dan circulasi darah sekitar pelvis. Apabila tidak berhasil menghentikan perdarahan, pilihan berikutnya adalah histerektomi. Histerektomi Merupakan tindakan kuratif dalam menghentikan

perdarahan yang berasal dari uterus. Total histerektomi dianggap lebih baik dalam kasus ini walaupun subtotal histerektomi lebih mudah dilakukan, hal ini disebabkan subtotal histerektomi tidak begitu efektif menghentikan perdarahan apabila berasal dari segmen bawah rahim, servix, fornix vagina.

C. Manual Plasenta Manual plasenta adalah upaya melepaskan plasenta dengan cara manual yaitu dengan memasukkan tangan dan menyisiri serta melepaskan plasenta yang lengket di dinding rahim dengan cara manual. Prosedur ini

12

relatif sederhana. Penolong harus mengenakan sarung tangan steril hingga ke siku, antiseptik di tuangkan atas tangan bersarung dan memasukkan tangannya melalui vagina dan masuk ke ostium uteri. Sedangkan tangan yang lain berada di atas fundus untuk menjaga rahim. Sebelum mengerjakan manual plasenta, penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan umum penderita diperbaiki sebaik mungkin, atau diinfus NaCl atau Ringer Laktat. Anestesi diperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Anestesi ini berguna untuk mengatasi rasa nyeri. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu tangannya (tangan kiri) meregang tali pusat, tangan yang lain (tangan kanan) dengan jari-jari dikuncupkan membentuk kerucut.

Gambar 1. Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut

Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. Jika pada waktu melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring), ini dapat diatasi dengan mengembangkan secara perlahanlahan jari tangan yang membentuk kerucut tadi. Sementara itu, tangan kiri diletakkan di atas fundus uteri dari luar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke bawah. Setelah tangan yang di dalam sampai

13

ke plasenta, telusurilah permukaan fetalnya ke arah pinggir plasenta. Pada perdarahan kala tiga, biasanya telah ada bagian pinggir plasenta yang terlepas. Gambar 2. Ujung jari menelusuri tali pusat, tangan kiri diletakkan di atas fundus

Melalui celah tersebut, selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di dalam antara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu. Dengan gerakan tangan seperti mengikis air, plasenta dapat dilepaskan seluruhnya (kalau mungkin), sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri supaya jangan ikut terdorong ke atas. Dengan demikian, kejadian robekan uterus (perforasi) dapat dihindarkan. Gambar 3. Mengeluarkan plasenta

14

Setelah plasenta berhasil dikeluarkan, lakukan eksplorasi untuk mengetahui kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang tersisa. Pada waktu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. Setelah plasenta keluar, gunakan kedua tangan untuk memeriksanya, segera berikan uterotonik (oksitosin) satu ampul intramuskular, dan lakukan masase uterus. Lakukan inspeksi dengan spekulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada vagina atau serviks dan apabila ditemukan segera di jahit. Jika setelah plasenta dikeluarkan masih terjadi perdarahan karena atonia uteri maka dilakukan kompresi bimanual sambil mengambil tindakan lain untuk menghetikan perdarahan dan memperbaiki keadaan ibu bila perlu. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.

D. Kuretase Kuretase adalah tindakan untuk melepaskan jaringan yang melekat pada dinding rahim (kavum uteri), dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrumen berupa sendok kuret ke dalam dinding rahim. Sendok kuret akan melepaskan jaringan tersebut dengan teknik pengerokan secara sistematik. Indikasi atau hal-hal yang menyebabkan kuret harus dilakukan adalah pada abortus septik (abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ke peredaran darah), mola hidatidosa (kehamilan abnormal, biasa

15

disebut hamil anggur), serta adanya sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim pasca persalinan. Bila tidak diatasi, sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim dapat mengakibatkan infeksi pasca persalinan. Yang paling sering terjadi adalah endometritis yaitu infeksi pada endometrium atau dinding rahim, yang kondisinya setelah plasenta terlepas memang lebih peka dari biasanya. Gejala infeksi antara lain demam, nyeri samar-samar pada perut bagian bawah dan vagina berbau tidak enak.

16

BAB II PRESENTASI KASUS A. Identitas Pasien Nama Umur : Ny.S : 34 Tahun

Pekerjaan : Ibu rumah tangga Alamat Suami : Tempuran, Sawo, Ponorogo : Tn. S

No Register : xxxxxx Agama Suku : Islam : Jawa

Masuk RS : 24 Maret 2014

B. Riwayat Penyakit 1. Keluhan Utama Belum melahirkan ari-ari setelah 30 menit bayi lahir. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan rujukan bidan ke RSUD DR. Hardjono pada tanggal 24 Maret 2014 pukul 22.00 untuk penanganan retensio plasenta dengan P2A0. HPMT HPL UK 3. Riwayat KB Pasien belum pernah KB. 4. Riwayat Menstruasi Menarche usia 13 tahun. Siklus 28 hari. Setiap bulan menstruasi sekitar 7 hari. : 24 Juni 2013 : 31 Maret 2014 : 38 minggu

17

5. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Hipertensi (-) Riwayat DM (-) Riwayat asma (-) Riwayat alergi obat (-).

6. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Hipertensi (-) Riwayat DM (-) Riwayat asma (-) Riwayat alergi obat (-). 7. Status Perkawinan Menikah 1 kali Selama 16 tahun. Usia pertama kali menikah 18 tahun.

8. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu Hamil ke-1 lahir tahun 1999 lahir spontan ditolong bidan, lahir bayi perempuan dengan berat 3000 gr, hidup. Hamil ke-2 lahir tahun 2014 lahir spontan ditolong bidan, lahir bayi laki-laki dengan berat 2600 gr, hidup.

C. Pemeriksaan Fisik a. Status Generalis Keadaan Umum: Lemah, pucat Kesadaran Vital Sign TD N R S : Compos Mentis : : 110/70 mmHg : 100 x/menit : 20 x/menit : 36C

18

Kepala Leher

: Conjungtiva anemis (+/+), Sklera ikterik (-/-) : Peningkatan Jugular Vena Pressure (-/-) Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-/-)

Thorax

: Pulmo : Inspeksi Palpasi : simetris, permukaan rata : retraksi (-/-), ketinggalan gerak (-/-), fremitus (N/N) Perkusi Auskultasi : redup (-/-) : suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-) ronkhi (-/-) Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis tidak teraba : batas jantung normal, tidak membesar : bunyi jantung 1-2 reguler, bising (-)

Abdomen Ekstremitas

: status obstetri : edema - , akral hangat -

b. Status Obstetri Inspeksi Palpasi Auskultasi VT : Dinding perut sejajar dinding dada. : Supel, nyeri tekan (-), teraba uterus. TFU setinggi pusat : taa : v/v pembukaan 3 cm teraba plasenta

D. Pemeriksaan Laboratorium WBC: 13,0 Hb: 7,1 E. Diagnosis P2A0 dengan retensio plasenta, HPP, post manual plasenta, pro curettage dan MOW

19

F. Penatalaksanaan Infus RL, drip oksitosin 5 U. Pasang DC Oksigen 2 liter/menit Injeksi antibiotik cefotaxim 2x1 Manual plasenta Injeksi Methergin Pro curetage + MOW

G. Observasi Dilakukan manual placenta berhasil pada jam 22.30 Kesan masih ada sisa plasenta yang tertinggal Tanggal 25 Maret 2014 Keadaan Pasien KU: Lemah, Kesadaran: CM TD: 120/80 mmHg N: 92 x/menit S: 360 C RR: 24x/menit K/L:CA (+/+), SI(-/-) Tho: dbn Abd: TFU: 2 jari bawah pusat V/V: stolsel + bercak darah segar 26 Maret 2014 KU: Lemah Kesadaran: CM TD: 120/90 mmHg Infus RL Inj Cefo 2x1 gr Transfusi WB 2 Planning Infus RL Inj Cefo 2x1 gr Transfusi WB 2 kolf Pro Curretage + MOW

H. Follow Up

20

N: 88 x/menit S: 360 C RR: 24x/menit K/L:CA (+/+), SI(-/-) Tho: dbn Abd: TFU: 2 jari bawah pusat V/V: stolsel + bercak darah segar KU: Baik Kesadaran: CM TD: 120/80 mmHg N: 80 x/menit S: 360 C RR: 24x/menit K/L:CA (-/-), SI(-/-) Tho: dbn Abd: TFU: 2 jari bawah pusat V/V: stolsel + bercak darah segar

kolf

27 Maret 2014

Infus RL Inj Cefo 2x1 gr

21

BAB III PEMBAHASAN

Pasien datang dengan diagnosis retensio plasenta karena plasenta belum lahir setelah setengah jam kelahiran bayi. Retensio plasenta pada pasien ini ditegakan karena : 1. Plasenta belum lahir setelah setengah jam bayi lahir 2. His yang tidak adekuat pada kala uri Pasien datang pada tanggal 24 Maret 2014 pukul 22.00 WIB rujukan dari bidan dengan retensio plasenta karena plasenta masih belum lahir setelah 30 menit bayi lahir. Di bidan luar pasien melahirkan secara spontan. Ketika masuk RS, pasien mengatakan bahwa ia belum mengeluarkan ariari setelah 30 menit bayi lahir. Pasien juga mengatakan banyak mengeluarkan darah. Ketika dilakukan pemeriksaan di RS, didapatkan tinggi fundus uteri setinggi pusat dan portio pembukaan 3cm. Persalinan pada pasien ini dilakukan oleh bidan luar. Karena plasenta belum dapat dilahirkan setelah 30 menit bayi lahir, pasien dirujuk ke RSUD dr. Hardjono Ponorogo. Untuk penanganan retensio plasenta dengan kelainan fungsional yaitu his yang tidak adekuat, diberikan drip oksitosin 5 U dalam RL dan dilakukan manual plasenta. Manual plasenta dilakukan untuk mengeluarkan plasentanya dan berhasil dilahirkan pada pukul 11.30. Setelah dilakukan eksplorasi, didapatkan kesan masih terdapat sisa plasenta yang tertinggal sehingga akan dilakukan tindakan kuretase untuk membersihkan sisa-sisa plasenta. Sesaat setelah plasenta keluar, pasien mengalami perdarahan >500 cc yang mengindikasikan bahwa pasien mengalami perdarahan post partum (Hemmoragic Post Partum). Dari hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap, didapatkan hasil kadar Hb sebesar 7,1 g/dl sedangkan rentang nilai normalnya adalah 11,016,0 g/dl. Menurut WHO, seorang wanita hamil baru disebut menderita anemia bila kadar Hb < 11 g %, dan bila kadar Hb < 6 gr %, disebut anemia berat atau anemia gravis. Pasien ini juga mengalami penurunan hematokrit. Pada

22

pemeriksaan laboratorium darah lengkap didapatkan hasil kadar hematokrit sebesar 19,9% sedangkan rentang nilai normalnya adalah 37%-54%. Morrison dkk (1993) dalam Cunningham (2005) merekomendasikan transfusi apabila hematokrit kurang dari 24% volume atau apabila hemoglobin kurang dari 8 g/dl akibat perdarahan. Oleh karena itu, pada pasien ini perlu dilakukan transfusi darah. Menurut Cunningham (2005), darah lengkap (whole blood/WB) merupakan terapi ideal untuk hipovolemia akibat perdarahan akut yang massif, karena darah lengkap berguna untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan volume plasma dalam waktu bersamaan, misalnya pada perdarahan aktif dengan kehilangan darah lebih dari 25-30% volume darah total (Sudoyo et al, 2007). Darah lengkap ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit, dan plasma. Darah lengkap mengganti banyak faktor pembekuan, terutama fibrinogen, dan kandungan plasmanya mengatasi hipovolemia akibat perdarahan (Cunningham, 2005). Dosis dan cara pemberian tergantung keadaan klinis pasien. Pada orang dewasa, 1 unit darah lengkap akan meningkatkan Hb sekitar 2 g/dl atau hematokrit 3-4%. Menurut Sudoyo et al (2007), pemberian darah lengkap sebaiknya melalui filter darah dengan kecepatan tetesan tergantung keadaan klinis pasien, namun setiap unitnya sebaiknya diberikan dalam waktu 4 jam (Sudoyo et al, 2007).

23

DAFTAR PUSTAKA Cunningham, F.G. 2005. Obstetri Williams Vol.1. Edisi 21. Jakarta : EGC. Pp : 704-18. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Edisi 2. Jakarta: EGC. Pp. 298306. Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan:kehamilan dengan penyakit ginjal. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Saifuddin, Abdul Bari., Adriaansz, George., Wiknjosastro, Gulardi Hanifa., Djoko Waspodo. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Edisi 1 cetakan ke-5. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.Pp. 173-82 Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., Simadibrata, Marcellus., Siti Setiati. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV Jilid II. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pp 675. Wiknjosastro, Hanifa; Saifuddin, A. Bari dan Trijatmo Rachimhadhi. 2005. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pp. 188-97. Wiknjosastro, Hanifa; Saifuddin, A. Bari dan Trijatmo Rachimhadhi. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pp. 653-62.

24