Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ELIMINASI URINE I.

DEFINISI Eliminasi merupakan kebutuhan dalam manusia yang esensial dan berperan dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Eliminasi dibutuhkan untuk mempertahankan homeostasis melalui pembuangan sisa-sisa metabolisme. Secara garis besar, sisa metabolisme tersebut terbagi ke dalam dua jenis yaitu sampah yang berasal dari saluran cerna yang dibuang sebagai feces (nondigestible waste) serta sampah metabolisme yang dibuang baik bersama feses ataupun melalui saluran lain seperti urine, CO2, nitrogen, dan H2O. ( fundamental of nursing hal 1679, 2001) Gangguan eliminasi urinarius adalah suatu keadan dimana seorang individu mengalami gangguan dalam pola berkemih ( fundamental of nursing hal 1079, 2001 ) TANDA DAN GEJALA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

II.

Gangguan Pencernaan Tidak Nafsu Makan Mual-mual dan Muntah Berat badan turun dan lesu Gatal-gatal Gangguan tidur Hipertensi dan Vena di leher melebar Cairan di selaput jantung dan paru-paru Otot-otot mengecil Gerakan-gerakan tak terkendali, kram Kulit kasar Sesak napas dan confusion (http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/182813-tanda-dangejala-penyakit ginjal/ ) III. PATOFISIOLOGI Ginjal 1. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai denganvertebra lumbalis ke-3. Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hepar (hati). Setiap ginjal dilapisi oleh kapsul yang kokoh dan dikelilingi oleh lapisan lemak. Produk pembuangan hasil metabolisme yang terkumpul dalam darah di filtrasi di ginjal. 2. Darah sampai ke setiap ginjal melalui arteri renalis yang merupakan percabangan dari aorta abdominalis. Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum. Setiap ginjal berisi 1 juta nefron, yang merupakan unit fungsional ginjal kemudian membentuk urine. 3. Darah masuk ke nefron melalui arteiola aferen. Sekelompok pembuluh darah ini membentuk jaringan kapiler glomerulus, yang merupakan tempat pertama filtrasi darah dan pembentukan urine. Apabila dalam urine terdapat protein yang berukuran besar (proteinuria), maka hal ini merupakan tanda adanya cedera pada glomelorus. Normalnya glomelorus memfiltrasi sekitar 125 ml filtrat/menit. 4. Sekitar 99 % filtrat direabsorsi ke dalam plasma, dengan 1 % sisanya diekskresikan sebagai urine. Dengan demikian ginjal memiliki peran dalam pengaturan cairan dan eletrolit. 5. Ginjal juga sebagai penghasil hormon penting untuk memproduksi eritrisit, pengatur tekanan darah dan mineralisasi mineral. Ginjal memproduksi eritropoietin, sebuah hormon yang terutama dilepaskan dari sel glomerolus sebagai penanda adanya hipoksia ( penurunan

oksigen) eritrosit. Setelah dilepaskan dari ginjal, fungsi eritropoesis ( produksi dan pematangan eritrosit ) dengan merubah sel induk tertentu menjadi eritoblast. Klien yang mengalami perubahan kronis tidak dapat memproduksi hormon ini sehingga klien tersebut rentan terseranganemia. 6. Renin adalah hormon lain yang diproduksi oleh ginjal berfungsi untuk mengatur aliran darah pada saat terjadi iskemik ginjal ( penurunan suplai darah ). Fungsi renin adalah sebagai enzim untuk mengubahangiotensinogen ( substansi yang disentesa oleh hati ) menjadiangiotensin I. Kemudian angiotensi I bersikulasi dalam pulmonal ( paru-paru ), angiotensin I diubah menjadi angiotensin II dan angeotensin III. Angeotensin II menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan menstimulasi pelepasan aldosteron dari korteks adrenal. 7. Aldesteron menyebabkan retensi air sehingga meningkatkan volume darah. Angiotensin III mengeluarkan efek yang sama namun dengan derajat yang lebih ringan. Efek gabungan dari keduanya adalah terjadinya peningkatan tekanan darah arteri dan aliran darah ginjal. 8. Ginjal juga berfungsi sebagai pengatur kalsium dan fosfat. Ginjal bertanggungjawab untuk memproduksi substansi mengaktifkan vitamin D. Klien dengan gangguan fungsi ginjal tidak membuat metabolik vitamin D menjadi aktif sehingga klien rentan pada kondisi demineralisasi tulang karena adanya gangguan pada proses absorbsi kalsium. Ureter 1. Ureter membentang pada posisi retroperitonium untuk memasuki kandung kemih di dalam rongga panggul ( pelvis ) pada sambunganuretrovesikalis. Dinding ureter dibentuk dari tiga lapisan jaringan. Lapisan dalam, merupakan membran mukosa yang berlanjut sampai lapisan pelvis renalis dan kandung kemih. Lapisan tengah merupakan serabut polos yang mentranspor urine melalui ureter dengan gerakan peristaltis yang distimulasi oleh distensi urine di kandung kemih. Lapisan luar adalah jaringan penyambung fibrosa yang menyokong ureter. 2. Gerakan peristaltis menyebabkan urine masuk kedalam kandung kemih dalam bentuk semburan. Ureter masuk dalam dinding posterior kandung kemih dengan posisi miring. Pengaturan ini berfungsi mencegah refluks urine dari kandung kemih ke dalam ureter selama proses berkemih ( mikturisi ) dengan menekan ureter pada sambungan uretrovesikalis ( sambungan ureter dengan kandung kemih ). Kandung Kemih 1. Merupakan suatu organ cekung yang dapat berdistensi dan tersusun atas jaringan otot serta merupakan wadah tempat urine dan ekskresi. Vesica urinaria dapat menampungan sekitar 600 ml walaupun pengeluaran urine normal 300 ml. Trigonum ( suatu daerah segetiga yang halus pada permukaan bagian dalam vesica urinaria ) merupakan dasar dari kandung kemih. 2. Sfingter uretra interna tersusun atas otot polos yang berbentuk seperti cincin berfungsi sebagai pencegah urine keluar dari kandung kemih dan berada di bawah kontrol volunter ( parasimpatis : disadari ). Uretra 1. Urine keluar dari vesica urinaria melalui uretra dan keluar dari tubuh melalui meatus uretra. Uretra pada wanita memiliki panjang 4 6,5 cm.Sfingter uretra eksterna yang terletak sekitar setengah bagian bawah uretra memungkinkan aliran volunter urine. 2. Panjang uretra yang pendek pada wanita menjadi faktor predisposisi mengalami infeksi. Bakteri dapat dengan mudah masuk ke uretra dari daerah perineum. Uretra pada ria merupakan saluran perkemihan dan jalan keluar sel serta sekresi dari organ reproduksi dengan panjang 20 cm. (fundamental of nursing hal 1679 1681, 2001)

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pielogram Intravena Memvisoalisasi duktus dan pelvis renalis serta memperlihatkan ureter, kandung kemih dan uretra. Prosedur ini tidak bersifat invasif. Klien perlu menerima injeksi pewarna radiopaq secara intra vena. 2. Computerized Axial Tomography Merupakan prosedur sinar X terkomputerisasi yang digunakan untuk memperoleh gambaran terperinci mengenai struktur bidang tertentu dalam tubuh. Scaner temografik adalah sebuah mesin besar yang berisi komputer khusus serta sistem pendeteksi sinar X yang berfungsi secara simultan untuk memfoto struktur internal berupa potongan lintang transfersal yang tipis. 3. Ultra Sonografi Merupakan alat diagnostik yang noninvasif yang berharga dalam mengkaji gangguan perkemihan. Alat ini menggunakan gelombang suara yang tidak dapat didengar, berfrekuensi tinggi, yang memantul dari struktur jaringan. 4. Prosedur Invasif a. Sistoscopy Sistocopy terlihat seperti kateter urine. Walaupun tidak fleksibel tapi ukurannya lebih besar sistoscpy diinsersi melalui uretra klien. Instrumen ini memiliki selubung plastik atau karet. Sebuah obturator yang membuat skop tetap kaku selama insersi. Sebuah teleskop untuk melihat kantung kemih dan uretra, dan sebuah saluran untuk menginsersi kateter atau isntrumen bedah khusus. b. Biopsi Ginjal Menentukan sifat, luas, dan progronosis ginjal. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil irisan jaringan korteks ginjal untuk diperiksa dengan tekhnik mikroskopik yang canggih. Prosedur ini dapat dilakukan dengan metode perkutan (tertutup) atau pembedahan (terbuka). c. Angiography (arteriogram) Merupakan prosedur radiografi invasif yang mengefaluasi sistem arteri ginjal. Digunakan untuk memeriksa arteri ginjal utama atau cabangnya untuk mendeteksi adanya penyempitan atau okulasi dan untuk mengefaluasi adanya massa (cnth: neoplasma atau kista) 5. Sitoure Terogram Pengosongan (volding cystoureterogram) Pengisian kandung kemih dengan zat kontras melalui kateter. Diambil foto saluran kemih bagian bawah sebelum, selama dan sesudah mengosongkan kandung kemih. Kegunaannya untuk mencari adanya kelainan uretra (misal, stenosis) dan untuk menentukan apakah terdapat refleks fesikoreta. 6. Arteriogram Ginjal Memasukan kateter melalui arteri femonilis dan aorta abdominis sampai melalui arteria renalis. Zat kontras disuntikan pada tempat ini, dan akan mengalir dalam arteri renalis dan kedalam cabang-cabangnya. Indikasi : a. Melihat stenosis renalis yang menyebabkan kasus hiperrtensi b. Mendapatkan gambaran pembuluh darah suatuneoplasma c. Mendapatkan gambaran dan suplai dan pengaliran darah ke daerah korteks, untuk pengetahuan pielonefritis kronik. d. Menetapkan struktur suplai darah ginjal dari donor sebelum melakukan tranplantasi ginjal. 7. Pemeriksaan Urine Hal yang dikaji adalah warna,kejernihan, dan bau urine. Untuk melihat kejanggalan dilakukan pemeriksaan protein, glukosa, dll. 8. Tes Darah

Hal yang di kaji BUN,bersih kreatinin, nitrogen non protein, sistoskopi, intravenus, pyelogram. (fundamental of nursing hal 1700 - 1704,2001) V. a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) MASALAH KEPERAWATAN Urgensi adalah merasakan kebutuhan untuk segera berkemih Disuria adalah merasa nyeri atau sulit berkemih Frekuensi adalah berkemih dengan sering Keraguan poliuria adalah sulit memulai berkemih Oliguria adalah haluaran urine menurun dibandingkan cairan yang masuk Nokturia adalah berkemih berlebihan atau sering pada malam hari Dribling adalah kebocoran/rembesan urine walaupun ada kontrol terhadap pengeluaran urine Hematuria adalah terdapat darah dalam urine Retensi adalah akumulasi urine di dalam kandung kemih disertai ketidakmampuan kandung kemih untuk benar-benar mengosongkan urine Residu urine adalah volume urine yang tersisa setelah berkemih ( fundamental of nursing hal 1690, 2001) VI. DIAGNOSA KEPERAWATAN Nyeri berhubungan dengan : Inflamasi uretra Obstruksi pada uretra Deficit perawatan diri ; toileting yang berhubungan dengan : Kerusakan kognitif Keterbatasan mobilitas Kerusakan integritas kulit atau resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan : Inkontinensia urine Perubahan eliminasi urine yang berhubungan dengan : Kerusakan sensorik-motorik Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan : Perasaan yang dirasakan akibat difersi urinarius Perasaan yang dirasakan akibat diferensia Resiko infeksi yang berhubungan dengan : Personal higine yang buruk Insersi kateter uretra Inkontinensia fungsional yang berhubungan dengan : Terapi diuretic Keterbatasan mobilitas Inkontensia refleks yang berhubungan dengan : Kerusakan neurologis Penggunaan anestesi untuk pembedahan Inkontinensia stress yang berhubungan dengan : Peningkatan tekanan intra abdomen Kelemahan otot panggul Inkontinensia urgency yang berhubungan dengan : Iritasi mukosa kandung kemih Penurunan daya tampung atau kapasitas kandung kemih Inkontinensia total yang berhubungan dengan :

Adanya fistula Kerusakan neurologis Retensi urine yang berhubungan dengan : Obstruksi leher kandung kemih Terhambatnya lengkung refleks ( fundamental of nursing hal 1704, 2001) VII. INTERVENSI Contoh intervensi diagnose keperawatan untuk retensi urine No. Diagnose Tujuan Criteria Intervensi Rasional Keperawatan Hasil 1. Retensi urine Pola Kandung Minta klien Melatih berkemih kemih tidak untuk mengosongkan klien akan distensi berusaha kandung akan setelah berkemih kemih secara kembali berkemih pada waktu teratur dapat seperti klien akan yang mengurangi semula menyangkal terjadwal terjadinya dalam 2 adanya rasa yang teratur. pengeluaran hari penuh pada Instruksikan air kemih setelah kandung klien untuk dalam bentuk kateter kemihnya melakukan tetesan. diangkat. setelah latihan dasar Latihan dasar berkemih. panggul panggul ( Klien akan (kegle kegel ) mencapai exercise) membantu pengosongan diluar waktu memeperkuat urine total berkemihnya. otot-otot dalam 24 Minta klien panggul pada jam setelah melakukan saat syaraf kateter latihan ini panggul utuh diangkat. setiap kali (AHACPR, berkemih 1992 ). Minta klien Metode crege menggunakan memebantu konpresi menstimulasi kandung mikturisi dan kemih ( mengosongkan metode kandung crede) selama kemih. berkemih. ( fundamental of nursing hal 1705, 2001 )