Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KI-3261 PERCOBAAN KE-6 UREASE Disusun oleh: Rani Yudi H.

10511036 Kelompok 5 Asisten Praktikum: Fatiha Khairunnisa Tanggal percobaan : Kamis, 20 Maret 2014 Tanggal pengumpulan : Kamis, 27 Maret 2014

LABORATORIUM BIOKIMIA DASAR PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2014

PERCOBAAN KE-6 UREASE

I.

Tujuan Perobaan Menentukan kadar urea dalam urine menggunakan enzim urease dengan metode alat Conway

II.

Teori Dasar Enzim urease merupakan enzim yang menguraikan urea menjadi ammonia dan karbondioksida. Peran utama urease adalah menyediakan energi internal dan eksternal bagi organisme untuk menggunakan urea atau hidroksiurea sebagai sumber nitrogen (Suhartono, 1989). Faktor yang mempengaruhi aktivitas urease adalah konsentrasi, suhu, dan pH. Aktivitas urease meningkat sebanding dengan peningkatan suhu. Ureases adalah sebuah protein yang ditemukan dalam bakteri, kapang, dan beberapa tanaman tingkat tinggi. Karakteristiknya yaitu pH optimum 7,4 suhu optimum 64 celcius dengan spesifikasi enzimatis : urea dan hidroksi urea. Beberapa tanaman memanfaatkan ureases untuk keperluan yang sama. Ureases ditemukan dalam jumlah yang besar pada jack bean, kacang kedelai dan beberapa biji tanaman lainnya. Ureases juga terdapat pada beberapa jaringan binatang dan pencernaan mikroorganisme. Ureases penting dalam sejarah enzimologi sebagai enzim pertama yang dimurnikan dan dikristalakan (Sumner, 1926). Struktur kristal dari pusat aktif dari urease berisi mungkin dua molekul air sederhana terkoordinasi dan kelompok OH bridging. Situs pengikatan substrat urease sangat cocok dibangun. Kekhasan enzim berkaitan erat dengan bentuk pusat aktif (Anonymous. 2012).

Gambar 1. Sisi Aktif Urease

III.

Data Pengamatan Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil atau data pengamatan sebagai berikut: Tabel 3.1 Data Perubahan Warna dan Volume Titrasi Larutan dalam Conway I II III IV Setelah inkubasi 1 jam, 37C Biru pekat Biru Biru pekat Biru Biru keunguan Biru Ungu Pekat Ungu Setelah Titrasi Volume Titran (mL) 2.26 (V1) 0.00 (V2) 3.78 (V3) 1.51 (V4)

Data Gambar:

Gambar 2. Conway II sebelum inkubasi

Gambar 3. Conway IV (ungu) dan Conway II (biru) setelah titrasi

Gambar Conway I (biru keunguan) dan III (ungu) setelah titrasi

IV.

Perhitungan dan Pengolahan Data Vamonia hasil kerja urease = V3 V4 = 3.78 mL 1.51 mL = 2.27 mL Vamonia di dalam urine = V1 V2 = 2.26 mL 0.00 mL = 2.26 mL Vamonia dari urea (V) = (V3 V4) (V1 V2) = 2.27 mL 2.26 mL = 0.01 mL

[HCl] x V = [H2BO3-] x 1 mL 0.01 M x 0.01 mL = [H2BO3-] x 1 mL [H2BO3-] = [urea] =


(

= 1x10-4 M
)

V.

Pembahasan Kadar urea dalam urin ditentukan berdasarkan metode titrasi menggunakan alat Conway dengan bantuan enzim urease dari kacang kedelai yang mengkatalisis hidrolisis urea menjadi amonium karbonat. Enzim urease ini terdiri dari empat domain struktural dengan logam Ni2+ sebagai kofaktor. Enzim ini tidak terdapat di dalam tubuh manusia sehingga di dalam tubuh, urea tidak dihidrolisis oleh enzim urease menjadi amonium karbonat, melainkan langsung dieksresikan oleh ginjal dan

keluar bersama urin atau feses sehingga hasil sisa metabolisme tersebut mengandung urea. Urea di dalam tubuh disintesis melalui siklus urea yang berlangsung di dalam mitokondria dan sitosol. Atom nitrogen yang ditransfer menjadi -ketoglutarat pada reaksi transaminase dikonversikan menjadi ion amonium bebas dengan deaminasi oksidatif. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim glutamat dehidrogenase. Proses yang terjadi secra umum ialah dehidrogenasi ikatan C-N kemudian diikuti oleh proses hidrolisis menghasilkan basa Schiff sebagai senyawa intermediet dalam pembentukan -ketoglutarat dan pelepasan ion amonium bebas. Ion amonium bebas dapat digunakan kembali dalam proses biosintesis senyawa nitrogen, namun jika dalam jumah yang berlebihan, akan dikonversi menjadi urea.

Gambar 4. Proses pelepasan ion amonia bebas melalui senyawa intermedet Schiff-base

Siklus urea dimulai dari coupling NH3 dengan HCO3- membentuk carbamoyl posfat yang merupakan senyawa dengan potensial yang tinggi. Gugus carbamoyl ini berlangsung di mitokondria kemudian ditransfer ke ornitin membentuk sitrulin. Sitrulin yang terbentuk dibawa ke sitoplasma dan berkondensasi dengan aspartat membentuk argininosuksinat yang akan mengalami cleavage membentuk fumarat dan arginin. Arginin yang dihasilkan mengalami hidrolisis membentuk urea dan ornithin. Ornithin yang dihasilkan akan ditransport balik menuju mitokondria untuk proses ulang siklus.

Gambar 5. Siklus urea di dalam tubuh

Pada percobaan ini digunakan beberapa reagen dengan fungsinya masing-masing. Ekstrak urease sebagai penghasil enzim urease yang nantinya berfungsi untuk membantu proses reaksi. Urine merupakan prekursor yang dianalisis, sebagai penghasil urea yang dihitung kadarnya. Indikator tashiro berfungsi sebagai penanda reaksi berlangsung, indikator tashiro ini akan mengalami perubahan warna. Pada kondisi ideal, awalnya berwarna biru setelah bereaksi dengan urea menjadi berwarna hijau dan setelah dititrasi menjadi biru lagi. Larutan K2CO3 jenuh sebagai penghasil karbonat yang nantinya akan bereaksi dengan urea membentuk amonium karbonat. Selain itu dengan adanya alkali akan membebaskan urea. Larutan asam borat (H3BO3) berfungsi untuk menangkap urea. Larutan HCl berfungsi sebagai larutan titran (pentitar). Gliserin-NaOH yang mengandung fenolftalein dioleskan pada bagianbagian yang nantinya akan bertemu (merapat) antara alat Conway dengan tutupnya. Fungsinya agar alat Conway tertutup rapat sehingga tidak ada ammonia yang keluar

atau bocor. Gas amonia bersifat basa namun tidak begitu kuat sehingga perlu ditambah NaOH agar sifat kebasaan menjadi lebih kuat dan apabila terjadi kebocoran, dapat dideteksi dengan munculnya perubahan warna menjadi pink akibat adanya indikator penoftalein Urease yang digunakan dalam proses katalisis, dicampurkan terlebih dahulu dengan EDTA dan buffer posfat sebelum direaksikan dengan substratnya (urea). Penambahan EDTA dilakukan sebagai pembentuk kelat agar logam nikel pada sisi aktif enzim tidak bereaksi dengan ligan. Sementara buffer posfat digunakan agar enzim dapat bekerja pada pH yang optimum sebab salah satu parameter yang mempengaruhi kinerja enzim ialah pH. Semua alat Conway dimasukkan ke dalam inkubator suhu 37C sebagai suhu optimum bagi enzim untuk bereaksi. Hasil yang diperoleh dari percobaan yaitu pada Conway I setelah dilakukan inkubasi campuran berwarna biru. Setelah dititrasi sampai pada volume titran 2.26 mL campuran berubah warna menjadi biru keunguan. Pada Conway II, campuran berwarna biru. Conway II ini berfungsi ebagai faktor koreksinya Conway I. Pada Conway I campuran berisi urin sedangkan pada Conway II tidak berisi urin sehingga tidak ada sumber ureanya. Sedangkan pada Conway III setelah inkubasi didapatkan warna biru. Setelah dititrasi dengan HCl warna campuran berubah menjadi ungu

pekat, dengan volume titran 3.78 mL. Pada Conway IV warna campuran setelah inkubasi biru dan setelah dititrasi berwarna. Volume HCl yang diperlukan sampai campuran berubah warna adalah 1.51 mL. Enzim urease ditambahkan pada Conway III dan IV. Pada percobaan ini Conway IV menjadi faktor koreksi bagi Conway III, karena pada Conway III berisi urin yang menghasilkan amonia sedangkan pada Conway IV tidak terdapat urin sebagai sumber ammonia. Dari semua data di atas dan perhitungan didapatkan kadar urea dalam urin yang dianalisis adalah 0.15 mg/mL urin. Sedangkan standar kadar urea dalam urin adalah 19.0 mg/dL 44 mg/dL. Perbedaan hasil kandungan urea dalam urin hasil percobaan dengan standar dapat disebabkan berbagai macam faktor. Faktor-faktor kesalahan yang mungkin terjadi adalah urin terlalu encer sehingga urea yang terukur kecil. Alat Conway bocor sehingga ada ure yang keluar dan tidak terdeteksi. Waktu inkubasi setiap Conway yang tidak sama (berbeda sedikit). Peralatan yang digunakan kurang bersih.

VI.

Kesimpulan Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan dari hasil percobaan didapatkan kadar urea dalam urine sebanyak 0.15 mg/mL urin.

VII.

Daftar Pustaka Anonymous. 2012. http://www.demochem.de/D-Urease-e.htm Stryer, Lubert. 2010. Biochemistry. 6th edition. W.H Freeman and Company. New York. Hal 560 Suhartono, M. T. 1989. Enzim dan Bioteknologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Antar Universitas

Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Sumner, J.B. 1926. Urease. http://www.britannica.com/eb/article-

9074458/urease#74436.hook