Anda di halaman 1dari 227

MATERI TARBIAH

MAKNA AS SYAHADATAIN

Pendahuluan
Kalimah syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita selalu
menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan adzan. Kalimah syahadatain sering
diucapkan oleh ummat Islam dalam berbagai situasi. Umumnya kita menghafal kalimah
syahadat dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun demikian sejauh manakah makna
kalimah syahadatain ini difahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?

Masalah tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada. Tingkah laku ummat Islam
yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup Barat yang memberi gambaran bahwa
syahadat tidak memberi kesan lainnya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara-
perkara larangan dan yang meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan dan taat
bukan kepada Islam, dan mengingkari rezki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan
kepada dirinya. Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadat
yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadat
tersebut.

Kalimah Syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa
syahadat maka rukun Islam lainnya akan runtuh begitupun dengan rukun Iman. Tegaknya
syahadat dalam kehidupan seorang individu akan mengukuhkan ibadah dan dien dalam
hidup kita. Dengan syahadat maka wujud sikap ruhaniah yang akan memberikan
motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal fikiran serta memotivasi kita untuk
melaksanakan rukun Islam lainnya.

Menegakkan Islam mesti didahului menegakkan rukun Islam terlebih dahulu, dan untuk
tegaknya rukun Islam mesti didahului tegaknya syahadat terlebih dahulu. Rasulullah Saw
mengisyaratkan bahwa, Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk berdirinya bangunan
Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok yaitu syahadatain, shalat, shaum,
zakat dan haji ke baitul haram. Dalam hadits yang lain: Shalat merupakan tiang ad dien.

Bagi masyarakat Arab di zaman Nabi Saw, mereka memahami betul makna syahadatain
ini, terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi Saw mengumpulkan pemimpin Quraisy
dari kalangan Bani Hasyim, Nabi Saw bersabda: Wahai saudara-saudara, maukah kalian
aku beri satu kalimat, dimana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh
jazirah Arab. Kemudian Abu Jahal terus menjawab: Jangankan satu kalimat, sepuluh
kalimat berikan kepadaku. Kemudian Nabi Saw bersabda: Ucapkanlah Laa ilaha illa
Allah dan Muhammadan Rasulullah. Abu Jahal pun terus menjawab: Kalau itu yang
engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab
dan bukan Arab.

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini, justru karena faham makna dan konsekuensi
dari kalimat tersebut. Dia tidak mau menerima sikap tunduk, taat dan patuh kepada Allah
Swt saja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu
Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadat

1
bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit
bagi kaum jahiliyah mengaplikasikan syahadat.

Sebenarnya bila mereka faham, loyalitas kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan
kepada diri kita. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka
yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia
sebagai muslim. Abu Jahal adalah tokoh di kalangan Jahiliyah dan ia memiliki banyak
potensi diantaranya ialah ahli hukum (Abu Amr). Setiap individu yang bersyahadat,
maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.

Kalimah syahadat mesti difahami dengan benar, kerana di dalamnya terdapat makna
yang sangat tinggi. Dengan syahadat maka kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia
ataupun di akhirat. Syahadah seba-gai kunci kehidupan dan tiang dari pada dien. Oleh
itu, marilah kita bersama memahami syahadatain ini.

A-1. AHAMMIYATU SYAHADATAIN


Sasaran
1. Memahami kepentingan syahadat dalam hidup seorang muslim.
2. Memahami syahadat sebagai pintu masuk dan intisari ajaran Islam serta menjadi
dasar perubahan total sesuatu ummat.

Sinopsis
Kepentingan syahadat (ahamiyah syahadat) perlu didedahkan kepada mad’u agar dapat
betul-betul memahami syahadat secara konsep dan aplikasinya. Kenapa syahadat penting
karena dengan bersyahadat seseorang boleh menyebutkan dirinya sebagai muslim,
syahadat sebagai pintu bagi masuknya seseorang kedalam Islam. Kefahaman seorang
muslim dapat melakukan perubahan-perubahan individu, keluarga ataupun masyarakat.
Dalam sejarah para nabi dan rasul, syahadat sebagai kalimah yang diperjuangkan dan
kalimah inilah yang menggerakkan dakwah nabi dan rasul. Akhir sekali, dengan syahadat
tentunya setiap muslim akan mendapatkan banyak pahala dan ganjaran yang besar dari
Allah Swt.

1. Ahamiyah Syahadah (kepentingan bersyahadat).


Syahadatain adalah rukun Islam yang pertama. Kepentingan syahadat ini karena syahadat
sebagai dasar bagi rukun Islam yang lain dan bagi tiang untuk rukun Iman dan Dien.
Syahadatain ini menjadi ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Oleh sebab itu,
sangat penting syahadat dalam kehidupan setiap muslim. Sebab-sebab kenapa syahadat
penting bagi kehidupan muslim adalah:
· Pintu masuknya Islam
· Intisari ajaran Islam
· Dasar-dasar perubahan menyeluruh
· Hakikat dakwah para rasul
· Keutamaan yang besar

2. Madkhal Ila Islam (pintu masuk ke dalam Islam).


· Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain

2
· Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan
syahadatain
· Syahadatain membedakan manusia kepada muslim dan kafir
· Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadat Rubbubiyah di alam arwah, tetapi
ini saja belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadat Uluhiyah dan
syahadat Risalah di dunia.
Dalil:
· Hadits: Rasulullah Saw memerintahkan Mu’az bin Jabal untuk mengajarkan dua
kalimah syahadat, sebelum pengajaran lainnya.
· Hadits: Pernyataan Rasulullah Saw tentang misi Laa ilaha illa Allah dan
kewajiban manusia untuk menerimanya.
· Q.47: 19, Pentingnya mengerti, memahami dan melaksanakan syahadatain.
Manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.
· Q.37: 35, Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha
illa Allah.
· Q.3: 18, Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah, para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu yaitu para Nabi dan orang yang beriman kepada
mereka.
· Q.7: 172, Manusia bersyahadat di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui
keesaan Allah. Ini perlu disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam.

3. Khalasha Ta’lim Islam (Intisari ajaran Islam).


· Kefahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada kefahamannya pada
syahadatain. Seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimah yang sederhana ini.
· Ada 3 hal prinsip syahadatain:
1. Pernyataan Laa ilaha illa Allah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah
kepada Allah saja. Melaksanakan minhajillah merupakan ibadah kepadaNya.
2. Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara
penghambaan itu dari Muhammad Saw. Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti
Minhajillah.
3. Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur
hubungan manusia dengan Allah dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakatnya.
Dalil:
· Q.2: 21, 51: 56, Ma’na Laa ilaha illa Allah adalah penghambaan kepada Allah.
21: 25, Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid.
· Q.33: 21, Muhammad Saw adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan. 3: 31,
aktifitas hidup hendaknya mengikuti ajaran Muhammad Saw.
· Q.6: 162, Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara
mesti ditujukan kepada mengabdi Allah Swt saja. 3: 19, 3: 85, 45: 18, 6: 153, Islam
adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah. Tidak dapat dicampur dengan syariat
lainnya.

4. Asasul Inqilab (dasar-dasar perubahan).


Syahadatain mampu manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan
hidupnya. Perubahan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau
masyrakat.

3
Ada perbedaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan
generasi sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan kefahaman terhadap makna
syahadatain secara bahasa dan pengertian, sikap konsisten terhadap syahadat tersebut
dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.
Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang
tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam
maksiat menjadi takwa dan abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya
bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.
Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu maka syahadatain pun dapat merubah
umat sekarang menjadi baik.
Dalil:
· Q.6: 122, Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat
Nabi, yang dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya
Islam yang gemilang.
· Q.33: 23, Perubahan individu contohnya terjadi pada Muz’ab bin Umair yang
sebelum mengikuti dakwah rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan
kehidupan yang glamour di kota Mekkah tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi
pemuda sederhana yang da’i, duta rasul untuk kota Madinah. Kemudian menjadi syuhada
Uhud. Saat syahidnya rasulullah membacakan ayat ini.
· Q.37: 35-37, reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimah tauhid. 85: 6-10, reaksi
musuh terhadap keimanan kaum mukminin terhadap Allah 18: 2, 8: 30, musuh
memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid.
· Hadits: Laa ilaha illa Allah, kalimat yang dibenci penguasa zalim dan kerajaan.
· Hadits: Janji Rasul bahwa kalimah tauhid akan memuliakan kaumnya.

5. Haqiqat Dakwah Rasul.


Setiap Rasul semenjak nabi Adam AS hingga nabi besar Muhammad Saw membawa misi
dakwahnya adalah syahadat.
Makna syahadat yang dibawa juga sama yaitu laa ilaha illa Allah.
Dakwah rasul senantiasa membawa umat kepada pengabdian Allah saja.
Dalil:
· Q.60: 4, Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawanya kepada
pengabdian Allah saja.
· Q.18: 110, Para nabi membawa dakwah bahwa ilah hanya satu yaitu Allah saja.

6. Fadhailul A’dhim (Keutamaan yang besar)


Banyak ganjaran-ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi
Muhammad Saw.
Ganjaran dapat berupa material ataupun moral. Misalnya kebahagiaan di dunia dan
akhirat, rezeki yang halal dan keutamaan lainnya.
Keutamaan ini selalu dikaitkan dengan aplikasi dan implikasi syahadat dalam kehidupan
sehari-hari.
Dipeliharanya kita dari segala macam kesakitan dan kesesatan di dunia dan di akhirat.
Dalil:
· Q: Allah Swt memberikan banyak keutamaan dan kelebihan bagi yang
bersyahadat.

4
· H: Allah Swt akan menghindarkan neraka bagi mereka yang menyebut kalimah
syahadat.

A-2. MADLUL SYAHADAH


Sasaran
1. Memahami kandungan kata “syahadat” dan kepentingannya.
2. Memahami pengertian iman dan hubungannya dengan syahadat.
3. Menyadari bahwa hanya dengan istiqamah dalam syahadat dapat mencapai
kebahagiaan.
Sinopsis
Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka sedia dan tidak
takut terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani menghadapi
siksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu, Bilal bin Rabah tahan
menerima himpitan batu besar di tengah hari dan sederet nama lainnya. Mereka
mempertahankan syahadatain. Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani
mempertahankan kalimah syahadat? Ini disebabkan kerana kalimah syahadat
mengandung makna yang sangat mendalam bagi mereka. Syahadah bagi mereka dan arti
yang sebenarnya mencakupi pengertian ikrar, sumpah dan janji. Mayoritas umat Islam
mengartikan syahadat sebagai ikrar saja, apabila mereka tahu bahwa syahadat juga
mengandung arti sumpah dan janji, serta tahu bahwa akibat janji dan sumpah maka
mereka akan benar-benar mengamalkan Islam dan beriman. Iman sebagai dasar dan juga
hasil dari pengertian syahadat yang betul. Iman secara sebutan oleh mulut, juga diyakini
oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman.
Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan
istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan
optimis menjalani kehidupan. Kemudian Allah Swt memberikan kebahagiaan kepada
mereka di dunia dan di akhirat.

Madlul Syahadah.
Pernyataan (ikrar), yaitu suatu statemant seorang muslim mengenai keyakinannya.
Pernyataan ini sangat kuat karena didukung oleh Allah, Malaikat dan orang-orang yang
berilmu (para nabi dan orang yang beriman). Hasil dari ikrar ini adalah kewajiban kita
untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan.
Sumpah (qasam) yaitu pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam
mengamalkan syahadat. Muslim yang menyebut asyhad berarti siap dan bertanggung-
jawab dalam tegaknya Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan
tempat orang munafik adalah neraka jahanam.
Perjanjian yang teguh (mitsaq) yaitu janji setia untuk mendengar dan taat dalam segala
keadaan terhadap semua perintah Allah yang terkandung dalam Kitabullah maupun
Sunnah Rasul.
Dalil:
· Q.3: 18, syahadat yang berarti ikrar dari Allah, Malaikat dan orang-orang yang
berilmu tentang Laa ilaha illa Allah. Q.7: 172, ikrar tentang Rububiyatullah manusia
merupakan alasan bagi ikrar tentang keesaan Allah. Q.3: 81, ikrar para nabi mengakui
kerasulan Muhammad Saw meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah Saw.

5
· Q.63: 1-2, syahadat berarti sumpah. Orang-orang munafiq berlebihan dalam
pernyataan syahadatnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. Q.4: 138-145,
beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan wala kepada orang-
orang kafir, memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum
muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam sholat dan tidak
punya pendirian. Orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti
tersebut.
· Q.5: 7, 2: 285, syahadat adalah mitsaq yang harus diterima dengan sikap sam’an
wa tha’atan didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab-kitab,
Rasul-rasul, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk. Q.2: 93, pelanggaran terhadap
mitsaq ini berakibat laknat Allah seperti yang pernah terjadi pada orang-orang Yahudi.

Iman.
Syahadah yang dinyatakan seorang muslim penuh kesadaran sebagai sumpah dan janji
setia ini merupakan ruh iman, yaitu:
Ucapan (qaul) yang senantiasa sesuai dengan isi hatinya yang suci. Perkataan maupun
kalimat yang keluar dari lidahnya yang baik serta mengandungi hikmah. Syahadah
diucapkan dengan penuh kebanggaan iman (isti’la-ul iman) berangkat dari semangat
isyhadu biannaa muslimin.
Membenarkan (tasydiq) dengan hati tanpa keraguan. Yaitu sikap keyakinan dan
penerimaan dengan tanpa rasa keberatan atau pilihan lain terhadap apa yang didatangkan
Allah.
Perbuatan (amal) yang termotivasi dari hati yang ikhlas dan kefahaman terhadap
maksud-maksud aturan Allah. Amal merupakan cerminan dari kesucian hati dan upaya
untuk mencari ridha Ilahi. Amal yang menunjukkan sikap mental dan moral Islami yang
dapat dijadikan teladan.
Ketiga perkara diatas tidak terpisahkan sama sekali. Seorang muslim yang tidak
membenarkan ajaran Allah dalam hatinya bahkan membencinya, meskipun kelihatan
mengamalkan sebahagian ajaran Islam adalah munafiq I’tiqadi yang terlaknat. Muslim
yang meyakini kebenaran ajaran Islam dan menyatakan syahadatnya dengan lisan tetapi
tidak mengamalkan dalam kehidupan adalah munafiq amali. Sifat nifaq dapat terjadi
sementara terhadap seorang muslim oleh karena berdusta, menyalahi janji atau
berkhianat.
Dalil:
· Q.49: 15, 4: 65, 33: 36, Iman adalah keyakinan tanpa keraguan, penerimaan
menyeluruh tanpa rasa keberatan, kepercayaan tanpa pilihan lain terhadap semua
keputusan Allah. Q.3: 64, sikap hidup yang merupakan cermin identitas Islam.
· Q.4: 123-125, Iman bukanlah hanya angan-angan, tetapi sesuatu yang tertanam di
dalam hati dan harus diamalkan dalam bentuk praktikal. Amal yang dikerjakan harus
merupakan amal sholeh yang dilakukan dengan ihsan dan penyerahan yang sempurna
kepada kehendak Allah. Dalam melakukan amal tersebut, seorang mukmin merasa
dikawal oleh Allah Swt.
· Q.2: 80, diantara kekeliruan ummat Islam adalah mencontoh sikap Yahudi.
Misalnya merasa bahwa neraka merupakan siksaan yang sebentar sehingga tidak apa
memasukinya. Atau mereka merasa akan masuk surga semata-mata karena imannya
sehingga tidak perlu beramal sholeh lagi.

6
· Q.2: 8, 63: 1-2, 48: 11, Ucapan lisan tanpa membenarkan dengan hati adalah
sikap nifaq I’tiqadi. Berbicara dengan mulutnya sesuatu yang tidak ada dalam hatinya.
· Hadits. Tanda-tanda munafiq ada tiga. Jika salah satu ada pada seseorang, maka
ia merupakan munafiq sebahagian. Bila keseluruhannya terdapat, maka ia munafiq yang
sesungguhnya yaitu: bila berbicara ia berdusta, bila berjanji menyalahi, dan bila diberi
amanah ia berkhianat. Ketiga tanda ini termasuk jenis munafiq amali.
· Imam Hasan Basri berkata, “Iman bukanlah angan-angan, bukan pula sekedar
hiasan, tetapi keyakinan yang hidup di dalam hati dan dibuktikan dalam amal perbuatan”.

Istiqamah.
Keimanan seseorang muslim yang mencakupi tiga unsur di atas mesti selalu dipelihara
dan dijaga dengan sikap istiqamah. Istiqamah adalah konsisten, tetap dan teguh. Tetap
pada pendirian, tidak berubah dan tahan uji. Sikap istiqamah akan melahirkan tiga hal
yang merupakan ciri orang-orang beriman sempurna, yaitu:
Syajaah (keberanian) muncul karena keyakinan sebagai hamba Allah yang selalu dibela
dan didukung Allah. Tidak takut menghadapi tantangan hidup, siap berjuang untuk
tegaknya yang haq (benar). Keberanian juga bersumber kepada keyakinan terhadap
qadha dan qadar Allah yang pasti. Tidak takut pada kematian karena kematian di jalan
Allah merupakan anugerah yang selalu dirindukannya.
Itm’inan (ketenangan) berasal dari keyakinan terhadap perlindungan Allah yang
memelihara orang-orang mukmin secara lahir dan batin. Dengan senantiasa ingat pada
Allah dan selalu berpanduan kepada petunjukNya (kitabullah dan sunnah), maka
ketenangan akan selalu hidup di dalam hatinya.
Tafaul (optimis), meyakini bahwa masa depan adalah milik orang-orang yang beriman.
Kemenangan ummat Islam dan kehancuran kaum kufar sudah pasti. Mukmin menyadari
bahwa amal perbuatan yang dilakukannya tidak akan sia-sia, melainkan pasti dibalas
Allah dengan pembalasan yang sempurna.
Dalil:
· Q.11: 112-113, istiqamah artinya tidak menyimpang atau cenderung pada
kekufuran. Q.17: 73-74, istiqamah tetap teguh, tahan dan kuat dalam menghadapi dan
melaksanakan perintah Allah. Q.42: 15, terus berjuang menyampaikan ajaran Allah
dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Hadits: Abi Amr atau Abi Amrah Sofyan bin
Abdillah, ia berkata: “aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku tentang suatu
perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seseorang kecuali kepadamu’.
Bersabdalah Rasulullah, katakanlah: aku telah beriman kepada Allah, kemudian berlaku
istiqamahlah kamu”. (Muslim).
· Q.41: 30-32, orang yang beristiqamah didukung Malaikat yang akan
menjadikannya berani, tenang dan optimis. Q.9: 52, sumber keyakinan tentang qadha dan
qadar yang menimbulkan keberanian, kecelakaan atau kemudharatan hanyalah ketentuan
Allah belaka. Q.3: 157-158, kemuliaan merupakan anugerah Allah bagi orang-orang
mukmin sehingga mereka tidak takut menyampaikan risalah kebenaran, lihat Q.33: 39.
· Q.13: 28, ketenangan dapat diperoleh dengan mengingat Allah. Q.47: 7, 3: 173,
33: 23, ketenangan yang diperoleh karena tawakkal terhadap janji perlindungan Allah
yang pasti sehingga timbul pula keberanian menghadapi musuh. Ibnu Taimiyah berkata,
“apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surga aku
terletak dihatiku. Dimanapun aku berada ia selalu bersamaku. Sesungguhnya kematianku
adalah syahid. Penjaraku adalah rasa manis, sedangkan mengusirku bagiku adalah

7
travelling. Ibnu Qayyim mengambil perkataan seorang alim “sesungguhnya kita berada
dalam kelezatan (hati) yang seandainya anak-anak raja mengetahuinya tentu mereka
ingin mengambilnya dengan pedang-pedang mereka.
· Q.3: 160, optimis bahwa dengan pertolongan Allah tak akan ada yang dapat
mengalahkan. Q.33: 22-23, contoh optimis para sahabat Rasul di perang Ahzab. Hadits,
Rasulullah yakin akan mengalahkan Rumawi dan Parsi dengan menjanjikan kepada
Saraqah bin Malik akan memberikan gelang dan mahkota Parsi dengan keislamannya.
Hal ini kemudian terbukti dengan kemenangan kaum muslimin dalam perang Qadissiyya.

Assa’adah.
Ketiga hasil istiqamah tadi akan membuat kebahagiaan bagi orang yang memilikinya.
Jadi hanya syahadat sejati dapat menimbulkan sa’adah. Hanya Islam dengan konsep
syahadat yang dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia di dunia maupun di
akhirat.
Dalil:
· Al-Qur’an banyak menyebutkan bahwa orang beriman akan mendapatkan
kebahagiaan atau hasanah di dunia ataupun di akhirat.

A-3. MAKNA ILAH


Sasaran
1. Mampu menyebut kata dasar “ilah” dan pengertiannya.
2. Mampu mendefinisikan “al Ilah” dan “al Ma’bud”.
3. Menyadari penting pengertian al Ilah dan al Ma’bud terhadap dirinya.
Sinopsis
Kalimat Laa ilaha illa Allah tidak mungkin difahami kecuali dengan memahami terlebih
dahulu ma’na ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian.
Dengan memahaminya kita mesti mengetahui motif-motif manusia mengilahkan sesuatu.
Ada empat makna utama dari aliha yaitu sakana ilahi, istijaara bihi, asy syauqu ilaihi
dan wull’a bihi. Aliha bermakna abaduhu (mengabdi/menyembahnya) kerana empat
perasaan itu demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesadaran
untuk menghambakan diri kepada ilah (sembahan) tersebut. Dalam hal ini ada tiga sikap
yang mereka berikan terhadap ilahnya yaitu kamalul mahabah, kamalut tadzalul, dan
kamalul khudu’. Al ilah dengan ma’rifat yaitu sembahan yang sejati hanyalah hak Allah
saja, tidak boleh diberikan kepada selainNya. Dalam menjadikan Allah sebagai Al Ilah
terkandung empat pengertian yaitu al marghub, al mahbub, al matbu’ dan al marhub. Al
ma’bud merupakan sesuatu yang disembah secara mutlak. Kerana Allah adalah satu-
satunya Al Ilah, tiada syarikat kepadaNya, maka Dia adalah satu-satunya yang disembah
dan diabdi oleh seluruh kekuatan yang ada pada manusia. Pengakuan Allah sebagai al
Ma’bud dibuktikan dengan penerimaan Allah sebagai pemilik segala loyalitas, pemilik
ketaatan dan pemilik hukum.

1. Aliha.
Mereka tentram kepadanya (sakana ilaihi) yaitu ketika ilah tersebut diingat-ingat
olehnya, ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang
ia merasa tenteram.
Merasa dilindungi oleh-Nya (istijaara bihi), karena ilah tersebut dianggap memiliki
kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.

8
Merasa selalu rindu kepadanya (assyauqu ilaihi), ada keinginan selalu bertemu
dengannya, baik terus-menerus atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
Merasa cinta dan cenderung kepadanya (wull’a bihi). Rasa rindu yang menguasai diri
menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu
beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.
Dalil:
· Perkataan orang Arab: “saya merasa tenteram kepadanya”, “si fulan meminta
perlindungan kepadanya”, “si fulan merasa rindu kepadanya”, “anak itu cenderung
kepada ibunya”.
· Q.10: 7-8, manusia yang mengilahkan kehidupan dunia merasa tenteram dengan
hidup dunia, Q.7: 138, bani Israel yang bodoh menghendaki adanya ilah yang dapat
menenteramkan hati mereka.
· Q.72: 6, manusia memperilah jin dengan meminta perlindungan kepadanya. Q.36:
74-75, orang-orang musyrik mengambil pertolongan dari selain Allah padahal semuanya
tidak dapat menolong kita, lihat Q.7: 197.
· Q.2: 93, 20: 91, bani Israel larut dalam kerinduan yang berlebihan terhadap ijla
(anak lembu) yang dijadikannya ilah. Q.26: 71, para penyembah berhala sangat tekun
melakukan pengabdian karena selalu rindu padanya.
· Q.29: 25, berhala-berhala adalah menyatukan bangsa yang sangat disenangi oleh
orang-orang musyrik. Q.2: 165, tandingan (andad) merupakan sembahan-sembahan
selain Allah yang dicintai oleh orang-orang musyrik sama dengan mencintai Allah karena
mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.

2. Abadahu.
Dia amat sangat mencintainya (kamalul mahabbah), sehingga semua akibat cinta siap
dilaksanakannya. Maka dia pun siap berkorban memberi loyalitas, taat dan patuh dan
sebagainya.
Dia amat sangat merendahkan diri di hadapan ilahnya (kamalut tadzulul). Sehingga
menganggap dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya
untuk pujaannya itu.
Dia amat sangat tunduk, patuh (kamalul khudu’). Sehingga akan selalu mendengar dan
taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber
dari sang ilah.
Dalil:
· Perkataan orang Arab aliha adalah abadahu. Seperti aliha rajulu ya-lahu (lelaki
itu menghambakan diri pada ilahnya).
· Q.39: 45, orang kafir yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilahnya
demikian senangnya apabila mendengar nama kecintaannya serta tidak suka apabila
nama Allah disebut. Hadits, sabda Rasulullah Saw, “Celakalah hamba dinar (wang
emas), celakalah hamba dirham (wang perak), celakalah hamba pakaian (mode). Kalau
diberi maka ia ridha, sedangkan apabila tidak diberi maka ia akan kesal. Ini disebabkan
kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.
· Q.71: 23, orang-orang kafir sangat mengharmati berhala-berhalanya
sembahannya. Q.21: 59, 68, reaksi orang musyrik yang marah karena berhala-berhalanya
dipermalukan oleh Nabi Ibrahim AS. Mereka menghukum Nabiyullah untuk membela
berhala-berhala. Ini karena rasa rendah diri dan hormat terhadap berhala-berhala tersebut.

9
· Q.36: 60, orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang
memperdaya mereka. Q.6: 137, orang-orang kafir demikian patuhnya sehingga bersedia
membunuh anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.

3. Al Ilah.
Al Marghub yaitu dzat yang senantiasa diharapkan. Karena Allah selalu memberikan
kasih sayangNya dan di tangan Nyalah segala kebaikan.
Al Mahbub, dzat yang amat sangat dicintai karena Dia yang berhak dipuja dan dipuji.
Dia telah memberikan perlindungan, rahmat dan kasih sayang yang berlimpah ruah
kepada hamba-hambanya.
Al Matbu’ yang selalu diikuti atau ditaati. Semua perintahNya siap dilaksanakan dengan
segala kemampuan sedang semua laranganNya akan selalu dijauhi. Selalu mengikuti
hidayah atau bimbinganNya dengan tanpa pertimbangan. Allah saja yang sesuai diikuti
secara mutlak, dicari dan dikejar keridhaanNya.
Al Marhub, sesuatu yang sangat ditakuti. Hanya Allah saja yang berhak ditakuti secara
syar’i. Takut terhadap kemarahanNya, takut terhadap siksaNya, dan takut terhadap hal-
hal yang akan membawa kemarahanNya. Rasa takut ini bukan membuat ia lari, tetapi
membuatnya selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Dalil:
· Q.2: 163-164, Allah adalah ilah yang esa tiada Ilah selain Dia, dengan rahmat dan
kasih sayangnya yang teramat luas.
· Q.2: 186, 40: 60, 94: 7-8, hanya Allah yang sesuai diharap karena Ia maha
memberi atau mengabulkan do’a hambaNya. Q.21: 90-91, orang-orang mukmin
menghambakan diri kepada Allah dengan harap dan cemas.
· Q.2: 165, Allah adalah kecintaan orang yang mukmin dengan kecintaan yang
amat sangat. Q.8: 2, sehingga ketika disebut nama Allah bergetar hatinya. Q.9: 24, Allah
berada diatas segala kecintaan.
· Q.51: 50, perintah Allah untuk bersegera menuju Allah karena hanya Allah saja
yang sesuai diikuti. Q.37: 99, menuju Allah untuk memperoleh bimbingan dan
hidayahNya untuk diikuti.
· Q.2: 40, 9: 13, 33: 39, hanya Allah saja yang sesuai ditakuti dengan mendekatkan
diri kepadaNya.

4. Al Ma’bud.
Pemilik kepada segala loyalitas, perwalian atau pemegang otoritas atas seluruh
makhluk termasuk dirinya. Dengan demikian loyalitas mukminan hanya diberikan
kepada Allah dengan kesadaran bahwa loyalitas yang diberikan pada selain Nya adalah
kemusyrikan.
Pemilik tunggal hak untuk ditaati oleh seluruh makhluk di alam semesta. Mukmin
meyakini bahwa ketaatan pada hakikatnya untuk Allah saja. Seorang mukmin menyadari
sepenuhnya bahwa mentaati mereka yang mendurhakai Allah adalah kedurhakaan
terhadap Allah.
Pemilik tunggal kekuasaan di alam semesta. Dialah yang menciptakan dan berhak
menentukan aturan bagi seluruh ciptaanNya. Maka hanya hukum dan undang-undangNya
saja yang adil. Orang mukmin menerima Allah sebagai pemerintah dan kerajaan tunggal
di alam semesta dan menolak kerajaan manusia.
Dalil:

10
· Q.109: 1-6, pernyataan mukmin bahwa pengabdianNya hanya untuk Allah saja
dan sekali-kali tidak akan mengabdi selainNya. Q.16: 36, Rasul diutus dengan risalah
pengabdian pada Allah saja dan menjauhi segala yang diabdi selain Allah. Q.2: 21,
perintah Allah untuk mengabdi kepadaNya saja dengan tidak mengambil selain Allah
sebagai tandingan-tandingan.
· Q.7: 196, pernyataan mukmin bahwa wali (pemimpin) nya hanya Allah saja. Q.2:
257, berwalikan kepada Allah melepaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju
cahaya Islam.
· Q.7: 54, hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah. Mukmin
hanya mengakui kerajaan Allah. Hadits, mukmin hanya akan taat pada sesuatu yang
diizinkan Allah, Rasul dan ulil amri. Mukmin tidaklah akan mentaati perintah maksiat
kepada Allah.
· Q.12: 40, hak menentukan hukum dan undang-undang hanyalah hak Allah. Q.24:
1, Allah mewajibkan manusia melaksanakan hukum-hukumNya. Q.5: 44,45,47 mereka
yang menolak aturan atau hukum Allah adalah kafir, zalim dan fasik. Ini artinya
pemerintahan Allah saja yang boleh tegak sedang pemerintahan manusia adalah batil.
Ringkasan Dalil:

A-4. AL WALA’ WAL BARRA


Sasaran
1. Memahami bahwa Laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah
adalah dasar seluruh ajaran Islam.
2. Menyedari bahwa Laa ilaha illa Allah mengandungi erti menolak
segala sembilan selain Allah dan hanya menerima Allah saja sebagai satu-
satunya sembahan.
3. Menyedari bahwa memberikan loyalitas kepada Allah dan Rasul
dengan beribadah yang ikhlas kepada Allah serta mengikut sunnah adalah
wajib.
Sinopsis
Kalimat laa ilaha illa Allah terdiri dari 3 jenis huruf (alif, lam dan ha) serta 4 kata (Laa,
ilaha, illa, Allah) tetapi mengandung pengertian yang mencakup seluruh ajaran Islam.
Keberadaan kata ini adalah Wala terhadap Allah dan Bara terhadap selain Allah. Bagi
muslim sikap ini merupakan sikap hidup yang inti dan warisan para nabi. Penyimpangan
dari sikap ini tergolong dosa besar yang tidak diampuni (syirik). Dengan sikap Wala dan
Bara seorang mu’min akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah di setiap
perbuatannya. Untuk memahami wala dan bara ini kita perlu mengkaji unsur-unsur
kalimatnya, seperti laa, ilaha, illa dan sebagainya. Kalimah Muhammad Rasulullah
merupakan bahagian kedua dari syahadatain. Didalamnya terkandung suatu pengakuan
tentang kerasulan Muhammad Saw. Ertinya di dalam rangka mengamalkan Wala dan
Bara yang terkandung di dalam Laa ilaha illa Allah maka mesti mengikuti petunjuk dan
jejak langkah Muhammad Saw. Beliau mendapatkan pengesahan Ilahi untuk
menunjukkan kebenaran dan melaksanakannya. Maka beliau merupakan teladan
pelaksanaan Wala dan Bara.

1. Laa Ilaha Illa Allah.


a. Laa (tidak ada – penolakan)

11
Kata penolakan yang mengandung pengertian menolak semua unsur yang ada di
belakang kata tersebut.
b. Ilaha (sembahan – yang ditolak)
Sembahan yaitu kata yang ditolak oleh laa tadi, yaitu segala bentuk sembahan yang bathil
(lihat A3). Dua kata ini mengandung pengertian bara (berlepas diri).
c. Illa (kecuali - peneguhan)
Kata pengecualian yang berarti meneguhkan dan menguatkan kata di belakangnya
sebagai satu-satunya yang tidak ditolak.
d. Allah (yang diteguhkan atau yang dikecualikan)
Kata yang dikecualikan oleh illa. Lafzul jalalah (Allah) sebagai yang dikecualikan.
Dalil:
· Q.16: 36, inti dakwah para Nabi adalah mengingkari sembahan selain Allah dan
hanya menerima Allah saja sebagai satu-satunya sembahan.
· Q.4: 48, 4: 116, bahaya menyimpang dari Tauhid. Syirik merupakan dosa yang
tidak diampuni.
· Q.47: 19, dosa-dosa manusia diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid.
· Q.7: 59,65,73, beberapa contoh dakwah para nabi yang memerintahkan
pengabdian kepada Allah dan menolak ilah-ilah yang lain.
· Hadits. Ikatan yang paling kuat dari pada iman adalah mencintai karena Allah dan
membenci karena Allah.
· Hadits. Barang-siapa yang mencintai karena Allah,membenci karena Allah,
memberi karena Allah dan melarang karena Allah, maka ia telah mencapai
kesempurnaan Iman.

2. Bara (pembebasan).
Merupakan hasil kalimat Laa ilaha illa yang artinya membebaskan diri daripada segala
bentuk sembahan. Pembebasan ini berarti: mengingkari, memisahkan diri, membenci,
memusuhi dan memerangi. Keempat perkara ini ditunjukkan pada segala ilah selain
Allah samada berupa sistem, konsep maupun pelaksana.
Dalil:
· Q.60: 4, contoh sikap bara yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya
terhadap kaumnya. Mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan
memusuhi.
· Q.9: 1, sikap bara berarti melepaskan diri seperti yang dilakukan oleh Rasul
terhadap orang-orang kafir dan musyrik.
· Q.47: 7, sikap bara adalah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.
· Q.58: 22, sikap bara dapat diartikan juga memerangi dan memusuhi meskipun
terhadap familinya. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya, Umar bin Khattab
membunuh bapa saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang
masih musyrik. Semua ini berlangsung di medan perang.
· Q.26: 77, Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala
sembahan kaumnya.

3. Hadam (penghancuran).
Sikap bara dengan segala akibatnya melahirkan upaya menghancurkan segala bentuk
pengabdian terhadap tandingan-tandingan maupun sekutu-sekutu selain Allah, apakah
terhadap diri, keluarga maupun masyarakat.

12
Dalil:
· Q.21: 57-58, Nabi Ibrahim berupaya menghancurkan berhala-berhala yang
membodohi masyarakatnya pada masa itu. Cara ini sesuai pada masa itu tetapi pada masa
Rasulullah, Rasul Saw menghancurkan akidah berhala dan fikrah yang menyimpang
terlebih dahulu. Setelah fathu Mekkah, kemudian 360 berhala di sekitar Ka’bah
dihancurkan oleh Rasul.

4. Al Wala (loyalitas).
Kalimat Illa Allah berarti pengukuhan terhadap wilayatulLlah (kepemimpinan Allah).
Artinya: selalu mentaati, selalu mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, dan membela,
mendukung dan menolong. Semua ini ditujukan kepada Allah dan segala yang diizinkan
Allah seperti Rasul dan orang yang beriman.
Dalil:
· Q.5: 7, 2: 285, Iman terhadap kalimat suci ini berarti bersedia mendengar dan
taat.
· Q.10: 61,62, jaminan Allah terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah karena
selalu dekat kepada Nya.
· Q.2: 165, wala kepada Allah menjadikan Allah sangat dicintai, lihat 9: 24.
· Q.61: 14, sebagai bukti dari wala adalah selalu siap mendukung atau menolong
dien Allah.

5. Al Bina (membangun).
Sikap wala beserta segala akibatnya merupakan sikap mukmin membangun hubungan
yang kuat dengan Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga berarti membangun
sistem dan aktivitas Islam yang menyeluruh pada diri, keluarga, maupun masyarakat.
Dalil:
· Q.22: 41, ciri mukmin adalah senantiasa menegakkan agama Allah.
· Q.24: 55, posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi manusia yang membangun
dienullah.
· Q.22: 78, jihad di jalan Allah dengan sebenarnya jihad adalah upaya yang tepat
membangun dienullah.

6. Ikhlas.
Keikhlasan yaitu pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap bara terhadap
selain Allah dan memberikan wala sepenuhnya kepada Allah.
Dalil:
· Q.98: 5, mukmin diperintah berlaku ikhlas dalam melakukan ibadah.
· Q.39: 11,14, sikap ikhlas adalah inti ajaran Islam dan pengertian dari Laa ilaha
illa Allah.

7. Muhammad Rasulullah.
Konsep Wala dan Bara ditentukan dalam bentuk:
Allah sebagai sumber. Allah sebagai sumber wala, dimana loyalitas mutlak hanya milik
Allah dan loyalitas lainnya mesti dengan izin Allah.
Rasul sebagai cara (kayfiyat). Pelaksanaan Wala terhadap Allah dan Bara kepada selain
Allah mengikuti cara Rasul.

13
Mukmin sebagai pelaksana. Pelaksana Wala dan Bara adalah orang mukmin yang telah
diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.
Dalam pelasaksanaan Bara, Rasulullah memisahkan manusia atas muslim dan kafir.
Hizbullah dengan Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin adalah mereka yang
mengimani Laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah sedangkan orang kafir adalah
mereka yang mengingkari salah satu dari dua kalimah syahadat atau kedua-duanya.
Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah
secara hikmah dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak, kemudian
menghalangi jalan dakwah maka mereka boleh diperangi sampai mereka mengakui
ketinggian kalimah Allah.
Hubungan kekeluargaan seperti ayah, ibu, anak tetap diakui selama bukan dalam
kemusyrikan atau maksiat terhadap Allah.
Dengan demikian pelaksanaan Wala dan Bara telah ditentukan caranya. Kita hanya
mengikut apa yang telah dicontohkan Rasulullah Saw.
Dalil:
· Q.5: 55-56, Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah wali orang yang
beriman.
· Q.4: 59, ketaatan diberikan hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dari
kalangan mukmin.
· Q.5: 56, orang-orang yang memberikan wala kepada Allah, Rasul dan orang-
orang mukmin adalah Hizbullah (golongan Allah), lihat pula 58: 22. Selain golongan ini
adalah Hizbus Syaithan.
· Q.60: 7-9, kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu.
Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan
ibunya masuk rumahnya sebelum mendapat izin dari Rasulullah, lihat pula 31: 15.

A-5. KALIMATULLAH HIYAL ULYA


Sasaran
1. Memahami bahwa dua kalimah syahadat adalah konsep Allah yang
wajib dijunjung tinggi.
2. Memahami perbedaan antara konsep tauhid dengan konsep syirik
baik dalam teori maupun praktikal.
3. Menyadari bahwa jahiliyah itu lemah dan rendah sedangkan Islam
dengan konsep syahadatain itu kuat, kukuh dan tinggi.
Sinopsis
Kalimah Allah adalah yang paling tinggi. Islam sebagai dien mempunyai konsep yang
jelas, lengkap dan dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan konsep atau sistem selain
Islam adalah buatan manusia yang tidak lengkap, tidak jelas dan bersifat berubah atau
sementara. Konsep Islam dilandasi oleh syahadatain, sedangkan selain Islam menjadikan
pemikiran jahiliyah dasarnya. Syahadah adalah kalimah yang tinggi yang dijadikan
sebagai kalimah tauhid dan kalimah taqwa. Gambaran kalimah tauhid ini di dalam Al-
Qur’an adalah kalimah toyyibah yaitu kalimah yang teguh dan kuat. Pemikiran jahiliyah
sebagai landasan dari konsep selain Islam merupakan kalimat syirik yang menjadi
saingan konsep dan sistem Islam. Konsep jahili berdasarkan semangat jahiliyah seperti
materialisme, kapitalisme, komunisme dan isme lainnya. Isme-isme ini tidak mempunyai
kekuatan sebagai kalimah khabitsah yang lemah dan tidak kuat.

14
1. Dua Kalimah Syahadah.
Dua kalimah syahadat merupakan inti dari dienul Islam. Dasar utamanya adalah wahyu
yang dalam bentuk kitab dan sunnah. Islam mengandungi ketinggian nilai yang tidak
dapat dibandingkan dengan konsep, sistem dan agama lainnya.
Pemikiran-pemikiran jahiliyah adalah inti daripada konsep dan pandangan jahiliyah.
Termasuk dalam kelompok ini adalah segala bentuk isme (faham) misalnya materialisme,
komunisme, kapitalisme, nasionalisme, humanisme, idealisme dan berbagai bentuk
ideologi samada bersifat lokal maupun bersifat internasional. Dasar utamanya adalag
ra’yu (akal) saja.
Dalil:
· Q.3: 18, pernyataan Allah tentang keesaanNya menunjukkan bahwa ini
merupakan inti dari seluruh ajaran Islam.
· Q.42: 52,55, dasar Islam adalah wahyu dan bukan ra’yu.
· Q.53: 4, perkataan Rasulullah sebagai salah satu sumber nilai Islam bukanlah
merupakan hawa nafsu melainkan juga wahyu.
· Hadits. Sabda Rasulullah kepada Abdullah bin Amru bin Ash: “Tulislah, demi
Allah yang jiwaku berada ditanganNya. Tidak keluar dari lidahku ini kecuali kebenaran”.
· Q.10: 36, 53: 23, orang-orang kafir mengikuti isme-isme yang berdasarkan dzan
dan hawa nafsu manusia.
· Q.6: 116, konsep demokrasi adalah hawa nafsu manusia.

2. Konsep Islam VS Jahiliyah.


Konsep Islam merupakan ajaran yang bersumber dari Allah yang Maha Tinggi, tanpa
dicampuri oleh pemikiran manusia. Karena Allah Maha Mengetahui maka Islam adalah
ilmu yang dalam. Karena Allah Maha Hidup maka Islam merupakan panduan hidup.
Karena Allah Maha Bijaksana maka Islam adalah hukum-hukum yang adil dan bijaksana.
Islam merupakan perwujudan sifat Allah yang membimbing dan memimpin manusia
menuju kepada kebahagiaan yang sejati.
Konsep orang kafir menjadikan selain Islam sebagai panduannya misalnya pandangan
bukan dari Allah, Rasul dan DienNya. Mereka merupakan orang yang bodoh (jahil)
terhadap kebenaran. Keingkaran mereka menunjukkan kehinaan dan kerendahan yang
tidak berarti dibandingkan dengan ketinggian Allah. Konsep hidup mereka tidak boleh
diikuti oleh manusia.
Dalil:
· Hadits. Sabda Rasulullah Saw, “Islam itu tinggi dan tiada yang melebihi
ketinggiannya”.
· Q.2: 120, petunjuk Allah yang sebenar-benarnya petunjuk. Q.10: 35, Allah
menunjuki kepada kebenaran selain Allah hanya menyesatkan. Maka Allah saja yang
sesuai untuk diikuti.
· Q.6: 115, kesempurnaan, ketepatan dan keadilan kalimah Allah. Q.54: 5,
kedalaman pengeta huan Allah. Q.86: 13, kalimah Allah sangat tegas dan bukan
permainan (56: 12).
· Q.9: 40, kalimah Allah yang tinggi sedangkan konsep orang-orang kafir itu
rendah. Q.6: 112, orang-orang kafir saling memberikan pandangan yang menipu manusia
dengan hiasan kalimat-kalimat yang indah.
· Q.28: 49-50, menolak kitabullah berarti mengikuti hawa nafsu. Lihat pula 33: 72,
30: 29. Konsep orang-orang zalim berdasarkan hawa nafsu dan kesesatan mereka.

15
3. Kalimah Taqwa VS Kesombongan Jahiliyah.
Kalimat Taqwa. Konsep Islam yang tinggi itu merupakan sumber ketaqwaan dan
kebajikan. Mengucapkan saja ibadah, apalagi mempelajari, menghayati dan
mengamalkannya. Hanya konsep inilah yang dapat membentuk pribadi taqwa dan akhlak
mulia.
Kesombongan Jahiliyah. Selain konsep Islam maka konsep itu adalah jahiliyah hanya
berupa slogan yang menunjukkan kesombongan dan kebanggaan orang-orang yang
bodoh. Tak terbukti di dalam kenyataan, hanya teori-teori kosong yang dusta.
Masyarakat yang dibentuknya menjadi masyarakat yang kufur dan bergelimang dalam
maksiat.
Dalil:
· Q.9: 108, mendasari kehidupan dengan laa ilaha illa Allah diperumpamakan
membangun dengan landasan taqwa.
· Q.2: 21, 2: 183, 2: 178, tujuan dan penghambaan Islam adalah membentuk
pribadi taqwa. Hanya dengan melaksanakan syahadatain secara murni dan hasil taqwa
dapat dicapai.
· Q.3: 133-135, contoh konsep taqwa yang disajikan oleh kitabullah. Q.39: 33,
membenarkan kitabullah jalan menuju taqwa.
· Q.48: 26, orang-orang kafir menanamkan kecintaan pada konsep mereka.
Sedangkan Allah mewajibkan pengkajian kalimat taqwa. Q.43: 51-54, penguasa sistem
jahiliyah membanggakan kekuasaan dan kekayaan mereka untuk menipu rakyat. Q.40:
26, penguasa berdalih stabilitas kekuasaannya menjelekkan pembawa kebenaran.

4. Kalimah Tauhid VS Kalimah Syirik.


Konsep Tauhid. Syahadatain dengan Islam sebagai penjelasannya merupakan konsep
yang mengesakan Allah. Manusia dibawa pada satu tujuan dan orientasi yaitu mencari
keridhaan Allah Yang Maha Esa. Konsep ini mampu menyatukan manusia dari berbagai
jenis suku dan bangsa, dari berbagai latar belakang budaya dalam satu ikatan aqidah
tauhid yang punya satu kepentingan, tegaknya kalimat Allah yang tinggi.
Konsep Syirik. Di dalam jahiliyah manusia saling memperbudak satu dengan lainnya,
atau diperbudak oleh materi. Tujuan dan orientasi mereka bermacam-macam dan
berbeda-beda. Karenanya mereka saling mengeksploitasi. Yang satu ingin menguasai
yang lain. Jiwa dan kepribadian mereka berpisah, tiada ruh yang dapat melandasi
kesatuan dan persatuan.
Dalil:
· Dengan berpegang teguh kepada tauhidullah ummat dapat bersatu. Q.21: 92,
Islam adalah ajaran Tauhid yang memiliki hanya satu ummat. Q.49: 13, konsep Islam
tentang kesatuan manusia dengan menjadikan taqwa sebagai timbangan kemuliaan dan
kehinaan manusia.
· Q.3: 64, konsep di luar Islam hanya membawa kepada kemusyrikan,
menghasilkan perbudakan antara manusia. Q.16: 75-76, kehinaan ilah-ilah kaum
musyrikin yang menjadi beban bagi penyembahnya. Q.39: 29, gambaran orang yang
berada di dalam konsep syirik dibandingkan dengan konsep tauhid. Q.59: .., kamu kira
musuh Allah itu bersatu padahal mereka bercerai berai.

16
5. Kalimah Yang Baik VS Kalimah Tak Baik.
· Konsep yang baik. Karena membawa kepada ketaqwaan dan persatuan maka
Islam merupakan konsep yang baik. Ibarat pohon yang baik, ia akan berakar dihati
manusia yang suci (fitrah), kuat dan tertunjang dalam keyakinan dan kepribadian mereka.
Kalimah yang baik melahirkan manusia yang membentuk peradaban mulia dan
bermanfaat di dunia. Bila tiba masanya pohon Islam akan menghasilkan buah yang lezat
lagi berkhasiat.
· Konsep yang buruk. Karena membawa kepada kekufuran dan kemaksiatan, maka
jahiliyah merupakan sumber masalah bagi manusia. Ia ibarat pohon yang buruk yang
telah tercabut dari akarnya, kering kerontang, mudah hancur. Tidak memberikan buah
kebaikan sama sekali bahkan menjadi sampah atau sumber penyakit.
Dalil:
· Q.14: 24-25, syahadatain sebagai kalimah yang baik diumpamakan Allah
bagaikan pohon yang baik, akarnya tertunjang ke bumi dan batangnya menjulang ke
angkasa (tertanam baik di hati manusia karena selaras dengan fitrah). Pohon itu
senantiasa memberikan buah yang baik di setiap musim karena setiap muslim dalam
berbuat baik mengharapkan ridha Allah yang kekal dan pasti. Sistem tauhid ini
menghasilkan manusia-manusia yang bermanfaat bagi dunia dan peradaban. Masyarakat
tauhid ini tumbuh bagaikan pohon pula, lihat 48: 29.
· Q.14: 26, konsep yang buruk ibarat pohon yang buruk. Tidak tertanam dalam hati
dan jiwa manusia karena bertentangan dengan fitrah. Pribadi yang dihasilkan oleh sistem
jahiliyah adalah kosong dan tidak berarti, hanya pandai bersifat lidah saja, berkata tetapi
tidak diamalkan, lihat 2: 204-205. Perumpamaan lainnya adalah kayu yang tersandar.
Kelihatannya kokoh tetapi sebenarnya rapuh. Ini contoh tentang munafiqin, lihat 63: 4.

6. Kukuh VS Rapuh.
Stabil dan kukuh merupakan sifat Islam, tidak pernah mengalami kegoncangan. Tak
lapuk dengan hujan dan angin, bahkan itu akan menumbuhkan pohon Islam. Sebagai
kebenaran ia ibarat arus sungai yang deras, selalu teguh berterusan dan menghantam batu
karang.
Tidak seimbang dan rapuh merupakan sifat dienul jahiliyah. Ia selalu mengalami pasang
surut, berubah dan berganti. Dapat lapuk ditelan masa. Sedikit saja mengalami
goncangan ia akan hancur. Sebagai kebatilan ia ibarat buih di atas arus, akan lenyap
dengan sendirinya.
Dalil:
· Q.13: 17, kekukuhan al haq dalam menghadapi tantangan bagaikan air arus yang
berjalan terus. Hadits Rasulullah mengumpamakan petunjuk yang dibawa oleh beliau
seperti hujan dan air. Tergantung kesiapan tanah (jiwa manusia) untuk menerimanya.
· Q.14: 27, konsepsi ini membawa keteguhan kepada orang-orang yang
mengikutinya. Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh dalam
kehidupan dunia maupun akhirat.
· Q.85: 6, kemenangan aqidah adalah kemenangan hakiki yang dituju orang-orang
beriman dalam perjuangan.
· Q.13: 17, kerapuhan jahiliyah bagaikan sampah, kelihatannya banyak tetapi
mengikut saja kemana pergi.

17
7. Kuat VS Lemah.
Kuat dan tewas, karena teguh dan kukuh maka sebagai konsepsi Islam tidak dapat
dikalahkan. Ditinjau dari sudut apapun Islam unggul, tidak dapat ditandingi. Peradaban
dan warisannya penuh prestij dan prestij kemanusiaan. Seluruh ajaran Islam memiliki
kekuatan dari segi hujjah maupun realitas. Dari itu ummat Islam harus kukuh dan kuat
seperti Islam. Berizzah yang tinggi karena prestasi yang dicapainya.
Lemah dan selalu kalah, karena kegoncangan dan kerapuhannya maka jahiliyah ini
sangat lemah, mudah untuk dihancurkan. Tak ada daya dan kekuatannya sama sekali.
Para pengikutnya menjadi orang-orang yang paling lemah, tanpa kepribadian, kecewa
dan pesimis. Tanpa prestasi dan prestij sehingga tak ada harganya sama sekali.
Dalil:
· Q.5: 3, orang-orang kafir putus asa untuk mengalahkan al Islam dari segi konsep
sehingga kita tak perlu takut kepada mereka.
· Q.37: 172-173, 5: 56, jaminan Allah bagi kemenangan tentaraNya yaitu yang
mengikuti sistem ini dengan sesungguhnya.
· Q.3: 137-139, fakta sejarah yang menunjukkan kekuatan kaum beriman.
· Q.29: 41, kelemahan sistem yang dibangun oleh konsep syirik seperti sarang laba-
laba. Q.3: 12, pernyataan Allah bahwa pengikut kebatilan pasti kalah dan tempat mereka
adalah neraka jahanam.
· Q.16: 26-27, gambaran tentang cara Allah menghancurkan kebatilan secara
sistematik yaitu dengan menghabiskan asasnya terlebih dahulu. Sedangkan kehinaan
mereka sangat dekat waktunya karena akan datang setelah kematian menimpa mereka.

A-6. MARAHIL TAFAUL BI SYAHADATAIN


Sasaran
1. Mengerti peranan sikap cinta dan ridha dalam penerimaan
syahadatain.
2. Memahami tiga kandungan pokok syahadatain yang menjadi
landasan keseluruhan ajaran Islam.
3. Menyadari wajibnya mencorak hati, akal dan jasad dengan
syahadatain.
Sinopsis
Dua kalimah syahadat adalah suatu kesaksian bahwa tiada yang wajib diabdi dengan
penuh cinta kecuali hanya kepada Allah saja. Kemudian kesaksian bahwa Muhammad itu
merupakan Rasul Allah. Syahadatain ini merupakan ruh yang melandasi keyakinan,
pemikiran dan perbuatan orang-orang mukmin. Untuk merealisasikannya mukmin mesti
berinteraksi dengan kandungan makna syahadatain yang didasari cinta dan ridha menjadi
sibgah kepada hati, akal dan jasad.

1. Dua Kalimah Syahadah.


Syahadatain perlu dipelajari dan diketahui karena dua kalimah ini sebagai dasar bagi
keseluruhan hidup manusia dan seluruh ajaran Islam.
Dalil:
· Q.47: 19, 37: 35, 3: 18, ungkapan Allah bahwa syahadat adalah dasar seluruh
ajaran Islam.
· Hadits, ungkapan Rasulullah mengenai bangunan Islam yang terdiri dari lima,
menyaksikan bahwa Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad Rasulullah,

18
mendirikan sholat, menunaikan zakat, shaum di bulan ramadhan dan menunaikan haji
bagi yang mampu.

2. Cinta.
Mukmin mencintai dua kalimah syahadat sehingga nilai yang menjadi kandungannya
tidak diterima sebagai beban. Cinta ini tumbuh dari kecintaan kita kepada Allah dan
Rasul yang teramat sangat serta bara terhadap sembahan selain Allah. Cinta ini
dilengkapi dengan cinta kepada Rasul yang menjadi pembimbing utama menuju
kecintaan Allah dan cinta kepada Islam sebagai syarat untuk mendapatkan kecintaan
Allah.
Dalil:
· Q.2: 165, sikap kecintaan mukmin yang teramat sangat kepada Allah.
· Hadits, sikap kecintaan mukmin terhadap Rasul, lebih dari mencintai ibu bapa
maupun anaknya.
· S.8: 2, hati mukmin bergetar ketika asma Allah disebutkan ini karena cintanya
kepada Allah.

3. Ridha.
Ridha yaitu kerelaan diri untuk menerima program Allah sepenuhnya. Ridha hanya dapat
lahir dari cinta yang sebenarnya. Ridha hanya dapat lahir dari cinta yang sebenarnya.
Fenomena ridha adalah kelezatan iman dalam dada. Ridha wujud dalam tiga bentuk yaitu
ridha kepada Allah sebagai Rabb, ridha kepada Islam dan ridha kepada Rasul.

Ridha kepada Allah sebagai Rabb. Ridha kepada Allah adalah menjadikan kehendak
dan kemauan pribadi. Rela Allah sebagai pengatur, pembimbing dan pendidik yang
senantiasa mencintai, melindungi dan menyayangi dirinya. Karena itu seluruh aktivitas
hidupnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah.
Dalil:
· Q.76: 32, arti ridha terhadap Allah adalah menjadikan kemauan Allah sebagai
kemauan kita sendiri atau tidak menghendaki apapun selain yang dikehendaki Allah
terhadap kita.
· Q2: 207, 60: 1, orang mukmin senantiasa mencari ridha Allah dalam berjihad,
meskipun mesti mengorbankan dirinya.
· Q.98: 8, mereka yang beribadah dengan ikhlas akan mendapat ridha Allah, lihat
pula 9: 100.

Ridha kepada Islam sebagai aturan hidup. Islam diyakini sebagai satu-satunya aturan
hidup bagi dirinya. Tidak ada aturan lain. Karena Islam adalah dien yang lengkap dan
sempurna, menyelesaikan semua masalah, merupakan jalan lurus dan membawanya
kepada kebahagiaan dan keselamatan hidup.
Dalil:
· Q.5: 3, Islam adalah dien yang lengkap dan sempurna, merupakan nikmat Allah
yang mengatur seluruh hidup manusia. Allah ridha dengan Islam sebagai dien bagi kita
maka kitapun harus ridha dengan Dienul Islam, maka seluruh tuntutan Islam mesti
dipenuhi dengan penuh kesadaran dan kerelaan, lihat 3: 19.

19
Ridha kepada Rasul sebagai teladan. Dalam melaksanakan Islam maka Muhammad
Saw dijadikan sebagai contoh dan ikutan. Semua langkah dan tindakan dilaksanakan
sesuai dengan bimbingan Rasulullah ini. Karena Muhammad Saw adalah manusia pilihan
yang diutus Allah, insan kamil, pendidik utama yang selalu menyayangi ummatnya.
Dalil:
· Q.9: 59, ciri sikap mukmin selalu mencari ridha Allah dan Rasulnya. Q.9: 128-
129, Rasulullah sangat sesuai untuk diridhai karena teramat sayang kepada kita.
· Q.4: 65, keimanan seseorang ditentukan oleh kerelaannya bertahkim kepada
keputusan Rasulullah tanpa keberatan dalam menerima keputusan tersebut.
· Hadits, tidak beriman salah seseorang di antaramu sehingga hawa nafsunya
mengikuti apa yang aku (Muhammad) datangkan.
· Q.33: 21, Rasulullah adalah teladan dalam setiap aspek kehidupan.

4. Sibgah.
Cinta dan keridhaan kepada Allah, Rasul dan Islam mewarnai seluruh aspek kehidupan
mukmin, menjadi sibghah dalam dirinya. Sibgah adalah iman yang merasuk sampai ke
tulang yang tidak dapat lepas, bersifat suci, murni dan tidak bercampur dengan syirik
walaupun setitik. Seorang yang hidupnya dalam sibgah Allah seluruh hidupnya
merupakan ibadah atau pengabdian kepada Allah. Untuk mengaplikasikannya sibgah
diperlukan:
· Pengenalan yang sebenarnya terhadap Allah dan interaksi denganNya dalam
bentuk penghambaan.
· Pengenalan kepada Islam serta siap menghayati dan mengamalkannya baik dalam
diri, keluarga, maupun masyarakat. Islam harus diperjuangkan sehingga tegak di bumi
Allah.
· Pengenalan kepada Rasul Saw serta sedia mengikuti bentuk hidup beliau sesuai
dengan kemampuan.
Dalil:
· Q.2: 138, Iman sejati adalah sibgah Allah yang meliputi dirinya. Sibgah Allah ini
menjadikan setiap perbuatannya ibadah kepada Allah.
· Q.6: 82, iman yang sejati tidak bercampur dengan kemusyrikan meskipun sedikit.
Orang yang memilikinya akan memperoleh rasa aman.
· Q.47: 19, 20: 14, pengenalan terhadap Laa ilaha illa Allah. 9: 128, 18: 110,
pengenalan terhadap Rasul. 3: 19,85, pengenalan terhadap Islam.

5. Sibgah Hati.
Hati yang tersibgah adalah hati yang suci, bersih dan senantiasa berhubungan dengan
Allah, siap menerima pimpinan dan bimbinganNya. Dalam hati ini terpancarlah aqidah
yang sehat dalam keyakinan dan keimanannya. Aqidah yang benar dan sehat tersebut
menjadikan muslim selalu berniat ikhlas dalam setiap langkah tindakannya. Niat adalah
dasar ibadah, sama ada diterima atau ditolak ibadah seseorang ditentukan oleh niatnya.
Dalil:
· Q.26: 89, hati yang suci bersih siap menerima keyakinan Islam. Q.23: 35, hati
mukmin gemetar bila disebut asma Allah. Q.50: 33, hati mukmin senantiasa bertaubat
dan kembali kepada Allah.
· Hadits, keterangan Rasulullah yang menyatakan taqwa ada di dalam dada (hati)
seseorang.

20
· Q.3: 84, 2: 136, 4: 136, keyakinan yang terdapat dalam dada setiap muslim
merupakan iman yang mantap.
· Hadits, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sahnya suatu amal ditentukan oleh
niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai yang ia niatkan”.

6. Sibgah Akal.
Akal tersibgah senantiasa bertafaqquh fiddien. Aktif memikirkan kejadian langit, bumi
dan segala isinya, mempelajari semua fenomena alam sebagai tanda-tanda kebesaran
Allah dibimbing oleh wahyunya.
Dari akal yang selalu menyingkap rahasia fenomena alam ini lahirlah fikrah Islam, yaitu
pemikiran atau idea yang merupakan aplikasi ajaran Islam yang bersumberkan kepada
Kitabullah dan bimbingan Rasul. Fikrah yang Islami menjadikan muslim memiliki suatu
program yang benar dalam menghadapi kehidupan. Program kehidupannya mampu
menegakkan ajaran Allah (Al Islam).
Dalil:
· Q.3: 190, 191, 30: 20-24, Firman Allah yang mengisyaratkan pentingnya berfikir
tentang tanda-tanda kekuatan Allah di alam semesta.
· Q.50: 37, pada kejadian alam semesta banyak terdapat peringatan bagi mereka
yang mau menggunakan akalnya.
· Q.67: 10, orang kafir menyesal di neraka karena tidak menggunakan akalnya
dengan maksima.
· Q.9: 120, muslim bertafaqquh fiddien sesuai bidang yang diminatinya dalam
rangka menegakkan dienullah.
· Hadits, sabda Rasul: “Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik, maka
difahamkan Nya dalam Dien”.

7. Sibgah Jasad.
Jasad yang tersibgah senantiasa dipelihara kesehatan dan kekuatannya. Jasad ini
dibangun dengan berbagai cara agar mampu mengikuti jejak hidup Rasulullah Saw.
Dapat melakukan aktifitas atau bekerja sesuai bimbingan Allah dalam kitabullah.
Menjadi wujud yang nyata dari Aqidah dan fikrahNya. Dapat melaksanakan bimbingan
dan pimpinan Allah baik untuk individu maupun masyarakat sesuai dengan
kemampuannya. Pelaksanaan ini berdasarkan niat yang ikhlas dan program yang
digariskan.
Dalil:
· Q.2: 247, syarat pemimpin dalam Al-Qur’an adalah yang memiliki ilmu yang luas
dan tubuh yang kuat.
· Q.28: 26, pilihan untuk menerima amanah jatuh kepada orang yang bertubuh kuat
dan terpercaya.
· Hadits, Rasulullah Saw memerintahkan “Ajarkanlah anak-anakmu berenang dan
memanah”.
· Hadits, Rasulullah menyatakan: “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari
mukmin yang lemah”.

A-7. SYURUT QABULU SYAHADATAIN


Sasaran

21
1. Memahami bahwa syahadat yang diucapkannya mesti dilandasi
dengan ilmu pengetahuan, keyakinan keikhlasan, membenarkan, mencintai,
menerima dan tunduk.
2. Menyedari bahwa kebodohan, ragu-ragu, syirik, dusta, benci,
ingkar dan menolak pelaksanaan adalah di antara sikap-sikap yang
menyebabkan pernyataan syahadatain ditolak.
3. Mampu mewujudkan sikap rela diatur oleh Allah, Rasul dan Islam
dalam setiap keadaan.
Sinopsis
Sebagai seorang mukmin berusaha untuk menjaga syahadat kita dari futur dan melemah.
Untuk itu kita perlu mengetahui bagaimana syahadat diterima atau ditolak. Untuk
diterimanya syahadat kita maka diperlukan beberapa persediaan misalnya ilmu, yakin,
ikhlas, shidqu, mahabbah, qabul dan amal nyata. Juga kita perlu menolak kebodohan
terhadap syahadat, keraguan, kemusyrikan, dusta, kebencian, penolakan dan tidak
beramal.

1. Ilmu Yang Menolak Kebodohan.


Seorang yang bersyahadat mesti memiliki pengetahuan tentang syahadatnya. Ia wajib
memahami arti dua kalimat ini serta bersedia menerima hasil ucapannya. Orang yang
jahil tentang makna syahadatain tidak mungkin dapat mengamalkannya.
Dalil:
· Q.47: 19, berkewajiban mempelajari laa ilaha illa Allah.
· Q.3: 18, mereka yang bersyahadat adalah Allah, Malaikat, dan orang-orang yang
berilmu (para nabi dan orang beriman).

2. Yakin Yang Menolak Keraguan.


Seorang yang bersyahadat mesti meyakini ucapannya sebagai suatu yang diimaninya
dengan sepenuh hati tanpa keraguan. Yakin membawa seseorang pada istiqamah,
manakala ragu-ragu pula menimbulkan kemunafiqan.
Dalil:
· Q.49: 15, Iman yang benar tidak bercampur dengan keraguan.
· Q.32: 24, yakin menjadikan seseorang terpimpin dalam hidayah.
· Q.2: 1-5, diantara ciri mukmin adalah tidak ragu dengan kitabullah dan yakin
terhadap hari Akhir.

3. Ikhlas Yang Menolak Kemusyrikan.


Ucapan syahadat mesti diiringi dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Ucapan syahadat
yang bercampur dengan riya atau kecenderungan tertentu tidak akan diterima Allah.
Ikhlas dalam bersyahadat merupakan dasar yang paling kukuh dalam pelaksanaan
syahadat.
Dalil:
· Q.98: 5, 39: 11, 14, syahadat merupakan ibadah, karenanya dilakukan dengan
ikhlas.
· Q.39: 65, kemusyrikan menghapus amal. 18: 110, ibadah yang tidak ikhlas, tidak
diterima.

22
4. Shidqu (benar) Yang Menolak Kejujuran.
Dalam pernyataan syahadat muslim wajib membenarkan tanpa dicampuri sedikitpun
dusta (bohong). Benar adalah landasan iman, sedangkan dusta landasan kufur. Sikap
shiddiq akan menimbulkan ketaatan dan amanah. Sedangkan dusta menimbulkan
kemaksiatan dan pengkhianatan.
Dalil:
· Q.39: 33, ciri-ciri taqwa adalah sikap shiddiq. 33: 23-24, orang yang benar akan
terbukti dalam medan jihad dan Allah membalas mereka, sedangkan orang-orang
munafiq akan mendapat siksa.
· Q.2: 8-10, ciri nifaq adalah dusta. 29: 2-3, kebenaran dan kemunafikan diuji
melalui cobaan.
· Hadits, sikap benar mengajak kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.
Sifat dusta mengajak kepada keburukan dan keburukan membawa ke neraka.
· Hadits, tinggalkanlah yang meragukanmu, sesungguhnya benar itu menenangkan
(hati) sedangkan dusta itu meragu-ragukan.

5. Mahabbah Yang Menolak Kebencian.


Dalam menyatakan syahadat ia mendasarkan pernyataannya dengan cinta. Cinta ialah
rasa suka yang melapangkan dada. Ia merupakan ruh dari ibadah, sedangkan syahadatain
merupakan ibadah yang paling utama. Dengan rasa cinta ini segala beban akan terasa
ringan, tuntutan syahadatain akan dapat dilaksanakan dengan mudah.
Dalil:
· Q.2: 165, cinta kepada Allah yang teramat sangat merupakan sifat utama orang
beriman.
· Hadits, sabda Rasulullah, “Ada tiga perkara yang apabila ketiganya terdapat
dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman”.
· Q.9: 24, mukmin mendahulukan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad dari
kecintaan terhadap yang lain.

6. Menerima Yang Jauh Dari Penolakan.


Muslim secara mutlak menerima nilai-nilai serta kandungan isi syahadatain. Tidak ada
keberatan dan tanpa rasa terpaksa sedikitpun. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali
Kitabullah dan sunnah Rasul. Ia senantiasa siap untuk mendengar, tunduk, patuh dan taat
terhadap perintah Allah dan RasulNya.
Dalil:
· Q.4: 65, Mukmin adalah mereka yang bertahkim (berhukum) kepada Rasul Allah
dalam seluruh persoalannya kemudian ia menerima secara total keputusan Rasul, tanpa
ragu-ragu dan kebenaran sedikitpun.
· Q.33: 36, 28: 68, ciri orang beriman ialah menerima ketentuan dan perintah Allah
tanpa keberatan dan pilihan lain.
· Q.24: 51, ciri mukmin ialah mendengar dan taat terhadap Allah dan Rasul dalam
seluruh masalah hidup mereka.

7. Pelaksanaan Yang Jauh Dari Sikap Statik atau Diam.


Syahadatain hanya dapat dilaksanakan apabila diwujudkan dalam amal yang nyata. Maka
muslim yang bersyahadat selalu siap melaksanakan ajaran Islam yang menjadi aplikasi

23
syahadatain. Ia menentukan agar hukum dan undang-undang Allah berlaku pada diri,
keluarga maupun masyarakatnya.
Dalil:
· Q.9: 105, perintah Allah untuk bekerja di jalanNya dengan perhitungan nilai kerja
itu disisi Allah.
· Q.16: 97, orang yang bekerja akan mendapat kehidupan yang baik dan surga
Allah.

A-8. AR RIDHA
Sasaran
1. Mad’u memahami bahwa ridha terhadap Allah berarti menerima
semua ketetentuan Allah terhadap manusia, alam semesta dan segala tuntutan
Allah terhadap diri kita..
2. Menyadari bahwa taqdir kauni dan syar’i adalah rahasia Allah
yang besar dan harus diterima dengan penuh keimanan. Sunnatullah di alam
semesta dapat dipelajari dalam rangka meningkatkan keimanan.
3. Mad’u menyadari bahwa dia mesti bersikap sesuai dengan tuntutan
Allah sebagai menjunjung syahadatain.
Sinopsis
Ridha adalah hasil dari cintanya mukmin kepada Allah. Cinta berarti menerima semua
keinginan dan tuntutan dari yang dicintainya (Allah). Tuntutan dan kehendak Allah ini
terdapat di dalam Al-Qur’an. Kehendak Allah terhadap manusia, alam semesta dan dari
diri kita. Kehendak Allah terhadap manusia yaitu diberikan ketentuan-ketentuan yang
pasti seperti qadha dan qadar. Terhadap alam, Allah menghendaki alam sebagai kajian
untuk dikaji dan mengambil manfaat darinya, juga menggambarkan kehebatan dan
kekuasaan Allah di alam. Yang Allah kehendaki dari diri manusia adalah melaksanakan
petunjukNya, menjalankan syariat dan iltizam. Dengan menerima semua ketentuan-
ketentuan yang diberikan kepada kita, alam dan yang dikehendaki dari kita, maka
individu tersebut beriman sebenarnya.

Ridha
Ridha merupakan buah dari rasa cinta seseorang mukmin terhadap Allah. Fenomena
ridha adalah menerima semua kehendak dan kemauan Allah tanpa reserve. Hal ini
terdapat dalam tiga dimensi.
Dalil:
· Q.2: 207, ridha Allah adalah harapan orang-orang mukmin dan mereka rela
berkorban untuk mendapatkannya.
· Q.76: 31, makna ridha adalah menerima ketentuan Allah atas dirinya.

A. 1. Kehendak dan Kemauan Allah Terhadap Kita (manusia).


Kehendak Allah terhadap kita yaitu kejadian yang telah berlangsung, tidak dapat
dielakkan, tidak diketahui sebelumnya (ghaib) seperti kelahiran, kematian, pernikahan
dan kehidupan dengan segala cabarannya seperti kekayaan, kemiskinan, kemenangan,
kekalahan, keimanan, kekafiran. Semua yang telah terjadi ini tidak mungkin berlangsung
kecuali dengan kehendak Allah.
Dalil:

24
· Q.4: 78, semua kejadian samada kebaikan maupun keburukan dari sisi Allah,
misalnya kematian.
· Q.35: 2, tak ada seorangpun yang dapat menghindari rahmat Allah dan
kecelakaan yang dikenakanNya pada seseorang.
· Q.11: 6, setiap makhluk di tangan Allahlah ketentuan rizkinya. Q.9: 52, semua
kejadian pada diri orang-orang mukmin adalah ketentuan Allah bagi mereka.

1. Alam Ghaib.
Kehendak Allah tersebut sebelum terjadinya merupakan sesuatu yang ghaib bagi
manusia. Tidak dapat ditangkap dengan deria. Tidak dapat diketahui dengan jalan
apapun. Ketentuan ini hanya Allah saja yang mengetahuinya, semua telah tercatat dalam
kitab yang nyata.
Dalil:
· Q.6: 59, hanya di sisi Allah pengetahuan yang ghaib. Q.31: 34, kelahiran dan
kematian adalah ketentuan yang terdapat dalam pengetahuan Allah.
· Q.11: 6, Allah mengetahui tempat-tempat aktivitas makhlukNya, semua tercatat
dalam kitab yang nyata.
· Q.6: 38, Luhul Mahfuzh tidak meninggalkan sedikitpun melainkan dicatatnya.

3. Qadha dan Qadar.


Kejadian yang pasti dan tak dapat dihindari ini disebut Qadha dan Qadar. Ia merupakan
bahagian dari rukun iman yang enam. Setiap muslim wajib mengimaninya samada
merupakan kebaikan (menguntungkan) maupun keburukan (merugikan) terhadap dirinya.
Iman ini membuat kita sadar dan tidak sombong terhadap apa-apa yang dimiliki serta
tidak kecewa terhadap apa-apa yang lepas dari kita.
Dalil:
· Hadits, pernyataan Rasulullah tentang Iman, “….. dan engkau beriman dengan
Qadar baik maupun buruk”.
· Q.57: 22, ketentuan Allah membuat kita tidak sombong dengan yang diperoleh
dan tidak kecewa dengan yang tepat dari kita.
· Hadits, Allah telah menentukan bagi manusia di dalam rahim ibunya ketentuan.
Lahir, mati, celaka, bahagia dan sebagainya.

4. Allah Tidak Ditanya Tentang Apa Yang Dikerjakannya.


Dalam bersikap terhadap Qadha dan Qadar Allah, manusia tidak berhak menyalahkan
atau menuduh Allah. Sebab sebagai yang maha pencipta dia berbuat sesuai dengan
kehendakNya tanpa seorangpun dapat memprosesNya.
Dalil:
· Q.21: 23, Allah tidak dapat ditanya tentang apa yang diperbuatNya terhadap
makhluk.
· Q.85: 16, Allah berbuat sekehendakNya tidak mengikuti peraturan siapapun
selain diriNya.
· Q.2: 284, semua kepunyaan Allah, Allah bebas memberi ampun ataupun
mengazab hambanya.
· Hadits, jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang maka diberikan cobaan.
Maka siapa yang ridha (dengan cobaan itu) baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa
yang keberatan maka baginya kemarahan Allah.

25
5. Hikmah.
Allah tidak bertindak melainkan di dalamnya terdapat suatu hikmah. Tetapi sedikit dari
manusia yang dapat memahaminya. Karena itu, terhadap kejadian yang mengenanya
mukmin berupaya mencari hikmah Allah tersebut. Ia senantiasa berbaik sangka kepada
Allah karena meyakini bahwa Allah maha pengasih lagi maha penyayang kepada hamba-
hambaNya.
Dalil:
· Q.2: 216, hikmah Allah dalam disyariatkannya berperang.
· Hadits, orang mukmin itu mengagumkan karena semua urutan mendatangkan
kebaikan baginya. Jika dia diberi kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya, jika ia
tertimpa musibah ia bersabar dan itu baik pula baginya.
· Hadits Qudsi, sesungguhnya aku tergantung sangkaan hambaKu terhadapKu. Jika
dia bersangka baik maka baik pula baginya, jika dia bersangka buruk maka buruk pula
baginya.

B. 1. Apa Yang Allah Kehendaki Terhadap Alam Semesta.


Allah mengatur, menetapkan, menentukan seluruh kejadian di alam semesta secara pasti
dan tepat. Tidak ada satu makhlukpun yang lepas dari aturan Allah ini. Setiap fenomena
yang terjadi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah dan keagunganNya.
Dalil:
· Q.25: 2, 54: 49, 87: 1-2, 15: 20, 36: 38-40, 55: 7, Allah menentukan qadar alam
seluruh ciptaan Nya dengan sangat rapih dan teratur.
2. Alam Kajian.
Ketentuan Allah tersebut bukan merupakan sesuatu yang ghaib tetapi juga tidak mudah
untuk difahami dan diketahui. Manusia akan memahaminya dengan jalan belajar dan
melakukan berbagai kajian tentang ketentuan-ketentuan Allah tersebut.
Dalil:
· Hadits, mengenai seseorang yang mendapat petunjuk Rasulullah cara bertanam
korma. Ternyata hasil tuaiannya tidak memuaskan kemudian dia datang kepada Rasul
untuk melaporkan. Jawab Rasulullah Saw, “kamu lebih tahu urusan duaniamu”
2. Undang-undang Allah Di Alam Semesta.
Semua ketentuan dan peraturan Allah yang tidak tertulis di alam semesta itu disebut
Sunnatullah. Sifatnya tetap, tidak berubah dan tidak berganti. Tetapi Allah sendiri dapat
merubahnya seperti pada mukjizat para Nabi. Kita mesti menyebutnya Sunnatullah dan
bukan hukum alam atau hukum sains tulin.
Dalil:
· Q.35: 43, 33: 62, 48: 23, sunnatullah tidak mengalami perubahan atau pergantian.
Q.21: 68-69, Nabi Ibrahim tidak hangus dimakan api bahkan selamat dengan izin Allah.
· Q.20: 77-78, Nabi Musa mampu membelah laut dengan izin Allah dan
sebagainya.
3. Mengkaji.
Sunnatullah hanya dapat difahami setelah diselidiki, dipelajari, dianalisa dan dikaji.
Sifatnya netral. Dapat dipelajari siapa saja. Tetapi orang mukmin lebih berhak untuk
memperolehnya. Itulah mengapa kitabullah banyak sekali menganjurkan mukminin
melakukan pengamatan terhadap alam semesta.
Dalil:

26
· Q.3: 190-191, 10: 5-6, 30: 20-25, 30: 8, contoh-contoh anjuran dan rangsangan
Allah untuk memperhatikan alam semesta.
· Sabda Rasulullah, “Hikmah itu kepunyaan orang mukmin, dimana saja mereka
jumpai hikmah itu, merekalah yang paling berhak atasnya”. Q.3: 137, mengamati sejarah
kehidupan manusia adalah perintah Allah.
4. Intifa.
Dengan mengkaji sunnatullah kita mengambil manfaat sebesar-besarnya dari potensi
alam untuk memperkuat barisan kaum muslimin. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat
berguna untuk menjadi sarana dakwah. Karenanya kaum muslimin wajib menggalakkan
kembali pengamatan dan pengkajian terhadap alam semesta ini.
Dalil:
· Q.57: 25, Allah menyuruh memanfaatkan kekuatan besi (teknologi) untuk
menegakkan Islam. Q.8: 60, perintah untuk mempersiapkan sarana-sarana jihad di jalan
Allah. Ini tidak dapat berlangsung tanpa pemanfaatan sains dan teknologi.
C. 1. Yang Allah Kehendaki dari Diri Kita.
Yaitu rela melaksanakan petunjuk hidup yang didalamnya ada perintah dan larangan,
halal dan haram, peringatan dan anjuran, dan sebagainya. Kesemuanya dapat kita jumpai
dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah. Setiap muslim wajib menerima undang-undang
Allah yang telah tertulis ini dengan tanpa keraguan.
Dalil:
· Q.3: 19, 3: 85, aturan hidup (dien) yang diterima disisi Allah hanyalah Islam. Ia
merupakan kumpulan kehendak Allah dari diri kita. Disinilah Allah mengatur dan
mengendalikan hambaNya. Q.42: 15, disyariatkannya dien bagi kita untuk ditegakkan
dengan tidak bercerai-cerai.
2. Alam Yang Nyata.
Perintah-perintah dan larangan-larangan Allah merupakan sesuatu yang jelas dan dapat
difahami dengan mudah. Ia berbicara tentang realitas yang ada di sekitar manusia tentang
hubungan manusia dengan penciptanya dengan alam, hakikat kehidupan, hakikat
manusia itu sendiri, dan hakikat pengabdian. Semua sangat diperlukan oleh setiap
manusia.
Dalil:
· Q.5: 15-16, Rasulullah bagaikan cahaya yang terang membawa kitab yang sangat
jelas bagi kehidupan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang yang mencari
keridhaanNya ke jalan keselamatan. Membebaskan mereka dari kegelapan (jahiliyah)
menjadi terang benderang (Islam).
· Hadits, pernyataan Rasulullah, “yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas,
dan di antara keduanya ada yang mutasyabihat”.
3. Ketentuan Syariah.
Peraturan dan petunjuk hidup Allah merupakan ketentuan syariah bagi kebahagiaan
manusia. Manusia diberi kebebasan untuk menerima atau menolaknya. Mereka yang
menerima menjadi orang beriman dan hidupnya akan bahagia. Sedangkan yang menolak
disebut orang kafir dan hidupnya akan celaka.
Dalil:
· Q.2: 256, 18: 29, Yang haq adalah yang datang dari Allah, manusia boleh
memilih iman atau kafir. Bila kafir maka ancamannya adalah neraka.
· Q.24: 1, 28: 85, kewajiban melaksanakan syariat bagi mereka yang mengaku
beriman.
4. Mereka Akan Ditanya.

27
Pengetahuan tersebut akan melahirkan amal yang kelak dipertanggung-jawabkan. Setiap
insan mesti bertanggung-jawab terhadap pelaksanaan perintah dan larangan Allah.
Mukmin menerima qadha dan qadar tetapi iapun menyadari bahwa taqdir syar’i
menghendaki adanya sikap tanggung jawab. Contohnya tatkala sakit (qadha) maka
syariat menentukan untuk berubat, tatkala ia kufur syariat menyuruhnya mencari
hidayah, ketika dalam keadaan maksiat syariat memerintahkannya bertaubat tatkala kaya
ia dimestikan bersyukur dan tatkala miskin ia diperintah untuk sabar.
Dalil:
· Q.21: 23, setiap manusia akan ditanya apakah ia melaksanakan ketentuan syariah
atai tidak.
· Q.102: 8, semua manusia akan diminta pertanggung-jawabannya di akhirat.
· Q.4: 79, 42: 30, Allah menyalahkan mereka yang tidak berikhtiar mengikuti
syariat.
· Hadits, sabda Rasulullah, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin
akan ditanya tentang tanggung jawabnya … “.
· Sabda Rasulullah Saw, “Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu”.
5. Iltizam.
Untuk terwujudnya semua ketentuan Allah maka kewajiban kita adalah senantiasa iltizam
(komitmen) baik terhadap pengetahuan maupun pelaksanaan syariah. Semua yang dapat
dilakukan secara individu wajib dilaksanakan. Sedangkan yang belum dapat dilaksanakan
kecuali telah adanya wasilah (sarana) wajib diperjuangkan.
Dalil:
· Q.33: 36, komitmen mukmin terhadap aturan Allah. Bila Allah telah menetapkan
sesuatu maka tidak boleh ada pilihan lain baginya.
· Q.4: 65, syarat iman ialah menerima keseluruhan yang berasal dari Rasulullah
dan tidak ada keberatan terhadap keputusan Rasul itu.
· Q.24: 51, sikap mukmin terhadap keputusan Allah dan Rasul adalah “mendengat
dan taat”.
· Q.5: 35, perintah bertaqwa, mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah,
serta berjihad di jalan Allah.
D. Iman.
Penerimaan dan keridhaan terhadap ketiga unsur taqdir diatas itulah yang disebut iman
yang sebenarnya. Dengan rela menerima apa yang Allah tentukan bagi dirinya dan alam
semesta, maka mukmin berupaya menegakkan tuntutan Allah pada dirinya. Sehingga
hidupnya sepenuhnya dalam bimbingan dan pimpinan Allah Swt, serta dalam keadaan
berjihad menegakkan syariah Islam.
Dalil:
· Q.49: 15, mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah
dan Rasul kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad di jalan Allah.
Ringkasan Dalil:
Ridha (2: 207, 284, 286)
Apa yang Allah kehendaki (Masyiatullah): (76: 30, 18: 24, 3: 26, 31: 29)
1. Terhadap kita – alam ghaib: (6: 59, 2: 3), merupakan qadha’ dan qadar: (h, 9: 51,
57: 22), Dia tidak ditanya apa yang diperbuat (21: 23), tidak dapat dipelajari (17: 85),
untuk diambil hikmahnya (57: 23).
2. Terhadap alam (25: 2), alam eksperimen (35: 28), merupakan sunnatullah di alam
(41: 53), untuk dikaji/dipelajari dan dijadikan sarana (3: 190), untuk dimanfaatkan (11:
61).

28
3. Dari diri kita (57: 16), alam nyata (30: 7), merupakan taqdir syar’ie (4: 65, 6:
153,42: 13), untuk dipelajari dan diamalkan (9: 105), mereka akan ditanya (21: 23, iman.
A-9.1. TAHQIYQU MAKNA SYAHADATAIN
Sasaran
1. Memahami tiga bentuk hubungan antara Allah dengan seorang mukmin: Cinta,
perniagaan dan kontrak kerja serta bercita-cita merealisasikannya di dalam kehidupan.
2. Menyadari bahwa berjihad di jalan Allah merupakan jalan hidup yang wajib
ditempuhi.
3. Menyadari kewajiban menghias diri dengan sifat-sifat mujahid yang merindukan
syahadat.
Sinopsis
Hubungan mukmin dengan Allah merupakan hubungan ubudiyah (pengabdian).
Hubungan ini didasari kepada tiga unsur yaitu cinta, perniagaan dan amal atau jihad.
Dengan transaksi ketiga unsur diatas, setiap mukmin wajib menjalani hidupnya sebagai
pejuang Islam dengan senantiasa mempersiapkan watak seorang mujahid. Dengan
syahadatain yang diyakininya, kita mesti mengamalkan syahadat di dalam kehidupan kita
seharian seperti bertaubat, mengabdikan diri kepada Allah, memuji Allah, melaksanakan
siyahah, senantiasa ruku dan sujud, menyuruh kepada makruf dan memelihara hukum
Allah.
1. Cinta.
Cinta yaitu suatu ikatan hati untuk mencintai apa saja yang dicintai Allah dan apa-apa
yang ditentukan Allah baginya. Ikatan ini membuat pribadi mukmin dengan kecintaan
dan keredaan Allah.
Dalil:
· Q.2: 165, hubungan cinta mukmin dengan Allah, teramat sangat kecintaannya
terhadap Allah.
· Q.8: 2, diantara tanda cinta senang membaca Kitabullah dan bergetar hatinya
tatkala nama Allah disebut.
· Q.39: 25, cenderung terhadap Kitabullah.
2. Perniagaan.
Pada hakikatnya semua manusia miskin dan faqir, tidak memiliki sesuatupun termasuk
dirinya sendiri. Semua yang ada hanyalah milik Allah. Tetapi dalam perjanjian ini Allah
menawarkan kepada mukmin untuk menjual apa-apa yang bukan miliknya itu kepada
Allah. Perjanjian ini merupakan perniagaan dengan keuntungan di pihak mukmin yang
sangat besar.
Dalil:
· Q.61: 10, penawaran Allah untuk berjual beli dengan Nya dengan keuntungan
bebas dari neraka.
· Q.9: 111, pernyataan Allah bahwa Allah telah membeli mukminin.
· Q.35: 29, jual beli ini tidak akan merugikan.
· Hadits, pernyataan sahabat Nabi tentang baiah mereka dengan Rasulullah, “Kami
berbaiah dengan Rasulullah untuk mendengar dan taat samada dalam keadaan lapang
maupun sempit, dalam kondisi malas maupun giat, dalam hal yang menyenangkan dan
pada keadaan merasa dirugikan.
2.1. Mukmin Sebagai Penjual.
· Mukmin sebagai penjual, yang dijualnya adalah harta (amwal) yang dimilikinya,
yaitu semua simbol yang melekat pada dirinya dan yang dianggap sebagai miliknya.
Seperti harta, kekayaan, kedudukan, kerjanya, jawatan, pengaruh dan sebagainya.

29
· Jiwa (nafs), meliputi nyawanya, tenaganya, waktu dan kesempatannya,
perasaannya dan lain-lain.
Dalil:
· Q.9: 111, mukmin sebagai penjual dengan menjual harta dan nyawa. Lihat pula
61: 11 dengan kewajiban beriman kepada Allah dan Rasul.
· Q.2: 265, yang dijual berupa harta. 3: 195, yang dijual berupa nyawa dan tenaga.
· Q.2: 207, yang dituju dengan penjualan ini adalah keridhaan Allah sebagai harta
tertinggi.
2.2. Allah Swt Sebagai Pembeli.
· Dalam hal ini Allah sebagai pembeli tunggal yang akan memberikan dua
keuntungan yang sangat besar bagi penjual tersebut, yaitu surga dengan segala
kenikmatannya, sebagai pengganti harta yang diberikan mukmin.
· Ridha Allah yang jauh lebih nikmat dari surga sebagai pengganti dari jiwa yang
diberikan mukmin.
Dalil:
· Q.9: 111, Allah sebagai pembeli dengan memberikan surga dan keridhaan Allah.
· Q.98: 8, harga berupa keridhaan lebih tinggi nilainya.
3. Amal dan Jihad.
3.1. Amal.
Hubungan ini merupakan hasil dari hubungan cinta dan jual beli yang meliputi semua
pelaksanaan perintah Allah dengan semangat ridha. Juga meliputi semua aktifitas pribadi,
keluarga, masyarakat dan bernegara. Disamping itu juga, menjauhi semua larangan-
larangan Allah dan hal-hal yang dapat membawa pada kebencianNya. Karena itu
mukmin menyediakan diri untuk hidup dibawah naungan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalil:
· Q.9: 105, kewajiban bekerja melakukan perintah Allah dan Allah sajalah yang
akan menilai amal perbuatan seseorang.
· Q.3: 195, kontrak kerja dengan Allah adalah aktivitas untuk mencari ridha Nya.
Mukmin beramal jama’i dengan saudara-saudaranya sesama mukmin samada laki-laki
maupun perempuan. Lihat pula 9: 71-72.
3.2. Jihad.
Sebagai puncak dari cintanya kepada Allah, jual beli dengan Allah serta aplikasinya ke
dalam hidup, maka mukmin memperjuangkan dienullah. Ia selalu menegakkan
kalimatullah dalam diri, keluarga maupun masyarakatnya. Ia berupaya sekuat tenaga
untuk menjadikan dirinya sebagai mujahid fi sabilillah. Dimulai dengan ucapan
syahadatnya, seluruh hidupnya merupakan jihad. Cita-citanya yang tertinggi adalah
mencapai syahadat (syahid). Mukmin menyadari bahwa tiada izzah tanpa jihad dan
bahwa syahid merupakan puncak kenikmatan hidup di dunia maupun di akhirat.
Dalil:
· Q.22: 78, Perintah Allah melaksanakan jihad dengan sebenar-benarnya jihad
sebagai aplikasi keislaman seseorang.
· Q.29: 69, manfaat jihad itu sendiri kembali kepada diri mukmin karena
sesungguhnya merupakan jual beli dengan Allah.
· Q.3: 168, 2: 152, gambaran Allah tentang kenikmatan syahid fi sabilillah.
· Hadits, sabda Rasul, “jihad merupakan puncak (dzirwatul sanamil) Islam.
· Hadits, karena cintanya Rasulullah pada syahid, beliau berkata, “Tiada
seseorangpun yang mati yang ingin kembali ke dunia (dengan merasakan kematiannya)
kecuali syahid. Ini disebabkan kelebihannya”.

30
· Hadits, “Barangsiapa yang memohon syahid kepada Allah dengan sebenar-
benarnya permohonan, maka Allah akan menyampaikannya pada derajat syuhada
meskipun ia wafat diatas tempat tidurnya”.
4. Mujahid.
Dengan pelaksanaan cinta, perniagaan dan amal/jihad di atas, sikap mukmin wajib
menjalani hidupnya sebagai pejuang Islam dengan senantiasa mempersiapkan watak
seorang mujahid yaitu:
· Senantiasa bertaubat, memohon ampunan dari dosa dan menghindarkan diri dari
sebab-sebab kemaksiatan.
· Senantiasa mengabdikan diri kepada Allah samada dalam keadaan lapang maupun
sempit dengan pengabdian yang ikhlas.
· Senantiasa memuji, menyanjung dan mengagungkan Allah dalam berbagai
kesempatan.
· Senantiasa melakukan syahadat dengan antara lain: mencari ilmu yang memberi
kemanfaatan bagi Islam dan kaum muslimin, bertafakkur tentang alam dan realita ummat
dan melawat atau berjalan dalam rangka dakwah.
· Senantiasa ruku’ yaitu menghinakan diri dengan tidak sombong terhadap
kehendak dan kemauan Allah.
· Menyuruh kepada yang ma’ruf (kebaikan).
· Mencegah dari yang munkar (keburukan) dan yang dibenci Allah.
· Selalu memelihara hukum Allah, yaitu pelaksanaan kitabullah pada dirinya dan
memperjuangkan agar terlaksana di masyarakatnya.
Dalil:
· Q.9: 112, sifat-sifat mujahid yang mestinya ada pada setiap mukmin: bertaubat,
beribadah, memuji, bersiyahah, ruku’, sujud, amar ma’ruf, nahi munkar dan memelihara
hukum-hukum Allah.
Ringkasan Dalil:
Hubungan Mukmin dengan Allah:
· Cinta (2: 165, 8: 2)
· Perniagaan (61: 10). Mukmin sebagai penjual (57: 12, 2: 265, 9: 111). Allah
sebagai pembeli (9: 111). Yang dijual oleh mukmin adalah harta dan jiwa, harganya
surga dan keridhaanNya.
· Kerja (9: 105), wujud di dalam bentuk jihad (61: 11, 49: 15, 29: 69, 22: 78)
kehidupan mukmin dari syahadat sehingga syahid (7: 172, 5: 7, 3: 52, 33: 23). Sifat-sifat
mukmin mujahid (9: 112) selalu bertaubat, beribadat, siahah, ruku’, sujud, amar makruf
nahi munkar dan memelihara hukum-hukum Allah.
A-9.2. TAHQIYQU SYAHADATAIN
Sasaran
1. Memahami bahwa hati yang suci dan akal yang cerdas merupakan sumber
pelaksanaan ajaran Islam.
2. Memahami cara-cara untuk mencapai akidah yang benar dan fikrah Islami serta
pemeliharaannya.
3. Memahami hubungan dakwah dan harakah dengan pemeliharaan pelaksanaan
syahadat.
Sinopsis
Syahadah merupakan taqrir atau ucapan tauhidullah. Hasil dari bersyahadat adalah Allah
sebagai tujuan hidup, Islam sebagai manhaj hidup dan Rasul sebagai qudwah dalam
kehidupan. Syahadah bersumberkan kepada hati yang bersih dan akal yang cerdas.

31
Dengan hati yang bersih kita dapat mengharapkan rahmat kepada Allah, takut kepada
siksaan Allah dan mencintai Allah. Dengan sifat ini muncullah aqidah yang salimah.
Berasaskan aqidah salimah ini menghasilkan niat yang ikhlas.
Akal yang cerdas mempunyai ciri-ciri mentadaburkan Al-Qur’an, memikirkan alam
semesta dan ingat mati. Ini adalah ciri akal yang cerdas sehingga memunculkan fikrah
Islami. Berasaskan fikrah Islami menghasilkan minhaj yang shohih. Dengan bersyahadat
dan hasil yang diperoleh dari syahadat ini secara keseluruhannya akan mewujudkan
harakah jihad, dakwah dan tarbiyah.
1. Syahadah.
Syahadatain adalah pernyataan, perjanjian dan sumpah seorang muslim terhadap keesaan
Allah. Dengan tauhidullah itu muslim mengakui hak-hak Allah dalam menentukan tiga
hal pokok yaitu:
· Satu-satunya tujuan seluruh aktivitas kehidupan adalah Allah.
· Satu-satunya konsep untuk mencapai tujuan hidup tersebut adalah Al Islam.
· Satu-satunya teladan dalam pelaksanaan Al-Islam adalah Rasulullah.
· Untuk melaksanakan tiga prinsip ini diperlukan wasilah yaitu qalbun salim dan
aklu dzakiy.
Dalil:
· Q.6: 162, tujuan hidup muslim adalah Allah, lihat 50: 50, keharusan muslim
bersegera ke Allah atau meraih ridha Allah.
· Q.3: 85, 3: 19, dien (peraturan Allah) yang diterima disisi Allah hanyalah Islam.
6: 153, mengikuti Al Islam tidak boleh dengan mencampur-adukkannya dengan konsep
lain.
· Q.33: 21, pernyataan Allah bahwa Rasulullah Muhammad Saw merupakan satu-
satunya teladan.
· Q.3: 31, meninguti Rasulullah merupakan aplikasi cinta kepada Allah.
· Hadits, sabda Nabi, “Tidak beriman seorang dari kamu sebelum hawa nafsunya
mengikuti apa yang aku bawa”.
1.1. Qalbun Salim.
Qalbun salim yaitu hati yang senantiasa bersih dari noda-noda syirik juga tidak
terpengaruh hawa nafsu, syahwat dan penyakit-penyakit hati. Hendaknya tidak terkesan
di hati kecintaan terhadap dunia dan perhiasannya yang melalaikan syariat Allah. Jalan
yang ditempuh muslim untuk mencapai qalbun salim ini adalah:
· Mencintai Allah dengan sebenar-benarnya kecintaan. Kecintaan ini menjadi dasar
seluruh aktivitas hidupnya.
· Selalu mengharap kasih sayang Allah karena meyakini bahwa segala kebaikan
hanya berada di tangan Allah. Maka qalbun salim terbebas dari harapan dan
ketergantungan pada selain Allah.
· Takut terhadap siksaan Allah yaitu perasaan muslim yang sangat khawatir
terlepas dari minhaj Allah, karena menyakini bahwa ancaman dan siksaan Allah lebih
dahsyat dari ancaman manusia. Muslim lebih takut terhadap siksa Allah daripada
menerima kelezatan dunia.
· Dengan tiga sikap diatas, muslim dapat mencapai aqidah yang sehat, kukuh dan
kuat. Sanggup bertahan dalam berbagai kondisi. Aqidah ini akan menumbuhkan niat
yang ikhlas dalam setiap aktivitas hidupnya.
Dalil:

32
· Q.26: 89, qalbun salim adalah sarana yang paling bermanfaat ketika menghadap
Allah di hari pembalasan. Ia disebut juga qalbun munib (hati yang senantiasa bertaubat),
lihat 50: 33.
· Q.2: 165, 8: 2, lihat pembahasan cinta dalam bahan sebelumnya.
· Q.39: 38, jika Allah saja segala kebaikan. 33: 21 orang yang dapat meneladani
Rasul adalah orang yang mengharap rahmat Allah.
· Q.10: 15, 6: 15-16, pernyataan takut seorang muslim jika menyimpang dari
minhaj Allah.
· Q.33: 39, takut seorang muslim hanya kepada Allah saja menjadikannya berani
menyampaikan kebenaran.
· Q.33: 12, sikap munafik sangat penakut dan penuh kecurigaan terhadap Allah
dalam peperangan, bandingkan dengan sikap mukmin dalam 33: 22.
· Q.39: 1-14, niat yang ikhlas disebabkan adanya cinta, harap dan takut hanya
kepada Allah.
1.2. Aklu Dzakiy.
· Yaitu akal yang mampu membedakan yang haq dengan yang batil, memahami
kebaikan Islam dan keburukan jahiliyah. Akal ini siap menerima segala informasi yang
diperlukan untuk berkhidmat kepada jalan Allah. Tidak tersurat di dalam otak muslim
untuk berkiblat kepada konsep bathil dan jahiliyah (di luar Islam). Dalam mencapai
kondisi akal yang demikian, maka muslim menempuh jalan tadabur Qur’an, tafakur alam
dan mengingat kematian.
· Tadabur Al-Qur’an, yaitu mempelajari, mengkaji dan menghayati ayat-ayat
Kitabullah dengan maksud memahami dan melaksanakan minhajillah serta mengambil
sepuas-puasnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian ia
mendapatkan panduan hidup yang membimbingnya mencapai kebahagiaan.
· Tafakur alam yaitu mengamati, membahas dan menyelidiki Sunnatullah di alam
semesta dengan tujuan mengambil manfaat dengan menemukan berbagai sarana yang
diperlukan ummat Islam.
· Mengingat kematian yaitu selalu mengingatkan dirinya terhadap saat
bertanggung-jawab di hadapan Allah. Dengan demikian ia senantiasa berupaya
memanfaatkan seluruh masa hidupnya yang terbatas untuk berkhidmat pada jalan Allah.
· Dengan tiga aktivitas di atas tanpa meninggalkan satupun daripadanya, muslim
memiliki fikrah dan ideologi yang penuh berkah. Pada gilirannya ia akan mampu
menemukan konsep yang benar (minhaj yang shohih) dalam setiap gerak kehidupannya.
Dalil:
· Hadits Rasulullah Saw, “Dien itu aqal, tidak ada dien bagi yang tidak berakal”.
· Q.39: 18, ulil albab (orang yang mempunyai fikiran siap menampung segala
informasi dan hanya menjadikan perkataan Allah (Al-Qur’an sebagai panduan hidupnya).
· Hadits sabda Rasulullah, “Hikmah itu milik orang yang mukmin dimana saja ia
jumpai, maka ia yang paling berhak atasnya”.
· Q.38: 29, 47: 24, Al-Qur’an mesti ditadaburkan oleh setiap muslim agar menjadi
ulil albab.
· Q.29: 49, Kitabullah merupakan ayat-ayat yang nyata di dalam hati orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan.
· Q.3: 191, ulil albab memikirkan kejadian dan fenomena alam semesta untuk
mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan Islam.
· Q.41: 53, Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaanNya untuk diamati oleh
mereka yang memiliki fikiran.

33
· Hadits, sabda Rasulullah, “Perbanyaklah oleh kamu mengingat pemutus segala
kelezatan (kematian)”.
· Q.3: 192-194, ulil albab selalu membayangkan kematian di hadapan matanya
sehingga ia senantiasa berlindung dari siksa neraka dan azab Allah.
· Q.5: 48, mukmin menjadikan kitabullah sebagai konsep hidupnya dengan tidak
mengikuti hawa nafsu dalam pelaksanaan kitabullah.
2. Amal Islami.
Dengan adanya niat yang ikhlas dari qalbun salim dan minhaj yang benar dari akal yang
cerdas, muslim dapat bekerja untuk Islam, yaitu aktivitas membangun dienullah dalam
realitas kehidupan manusia. Sesuai kondisi ummat Islam dewasa ini, medan amal islami
adalah:
Dalil:
· Q.9: 105, perintah Allah agar beramal dengan mengikuti minhaj Allah. 18: 110,
dengan adanya ikhlas hendaknya beramal soleh.
· Q.63: 10-11, 4: 78, beramal soleh dan berinfak jangan ditunda-tunda.
· Q.103: 1-3, semua manusia merugi kecuali yang beriman dan beramal soleh.
· Hadits, sabda Rasulullah, “Bersegeralah kepada amal dimana kalian tidak
menunggu-nunggu kecuali tujuh hal: 1. Kemiskinan yang melalaikan, 2. Kekayaan yang
menjadikan melampaui batas, 3. Sakit yang merusak, 4. Masa tua yang melumpuhkan
segala tenaga, 5. Kematian yang menghabiskan segala-galanya, 6. Atau dajjal yang
paling buruk ditunggu-tunggu, 7. Hari kiamat dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih
pahit”.
2.1. Dakwah dan Tarbiyah.
Dakwah dan tarbiyah yaitu mengajak manusia untuk memahami Islam serta mendidik
mereka untuk mengamalkan kehidupan yang Islami.
Dalil:
· Q.41: 33, 16: 125, keutamaan dakwah (menyeru manusia) ke jalan Allah.
2.2. Harakah dan Jihad.
Yaitu mengajak mereka yang telah di tarbiyah untuk berjuang dengan segenap
kemampuannya menegakkan konsep Islam dengan semangat Jihad.
Dalil:
· Q.29: 6, manfaat jihad kembali kepada diri sendiri.
· Q.47: 31, hidup mukmin harus berjihad dan bersabar.
· Q.9: 120, setiap amal jihad ada balasannya disisi Allah.
Ringkasan Dalil:
· Syahadah merupakan pernyataan Tauhidullah:
· Allah sebagai tujuan hidup, Islam sebagai manhaj hidup dan rasul merupakan
qudwah di dalam kehidupan.
· Syahadah bersumberkan:
· Hati yang bersih (26: 87-89, 50: 33), mengharapkan rahmat Allah (10: 58, 33: 21,
18: 110), takut pada siksaan Allah (3: 192, 25: 65, 76, 76: 10), pecinta Allah (2: 165, 5:
54), berasaskan aqidah yang salimah (sejahtera), menghasilkan niat yang ikhlas.
· Keseluruhannya melahirkan harakah dan jihad, dakwah dan tarbiyah.
A-10. SIBGOH WAL INQILAB
Sasaran
1. Memahami bahwa syahadatain harus merubah diri sendiri baik dalam keyakinan,
pemikiran, perasaan maupun tingkah laku.

34
2. Mengerti rangkuman menyeluruh dari syahadatain sebagai titik tolak program
pembinaan.
3. Menyadari bahwa nilai pribadi seorang muslim terletak pada syaksyiyah
islamiyahnya.
Sinopsis
Syahadatain yang terdiri dari syahadat laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah
mesti diucapkan, diyakini dan diamalkan dengan baik. Ucapan laa ilaha illa Allah
menjadikan pengabdian hanya kepada Allah saja. Sikap kita kepada syahadat uluhiyah ini
adalah ikhlas menerima dan mengamalkan. Sedangkan Muhammad Rasulullah dijadikan
sebagai contoh yang hasanah dan dijadikan sebagai ikutan kita.
Syahadatain mesti didasari kepada mahabbah (cinta) yang kemudian menghasilkan ridha
kepada setiap yang disuruhnya. Dari cinta dan ridha ini muncul iman yang kemudian
akan mewarnai diri kita dan sekaligus merubah diri kita dari segi iktiqadi, fikri, syu’uri
dan suluki sehingga muncul pribadi muslim yang mempunyai nilai.
1. Syahadatain.
Dua kalimah syahadat merupakan keyakinan yang tertanam di lubuk hati setiap muslim.
Tidak sekadar keluar dari mulut saja tetapi menuntut bukti dalam amal perbuatan ia
terdiri dari dua bahagian yaitu pengakuan bahwa tiada ilah selain Allah dan pengakuan
bahwa Muhammad Rasulullah.
Dalil:
· Q.4: 123, Iman bukan merupakan angan-angan tetapi menuntut perbuatan yang
mencerminkan nilai-nilai iman tersebut.
· Q.61: 2-3, Allah membenci orang yang beriman hanya dengan mulutnya saja.
· Q.17: 109, orang mukmin sejati memiliki interaksi yang kuat dengan kitabullah
sehingga mengamalkan Islam.
· Q.3: 113, diantara ahli kitab yang sungguh-sungguh mukmin selalu membaca
kitabullah, beramar ma’ruf dan nahi munkar, serta bersegera dalam kebaikan.
1.1. Pengakuan bahwa tiada ilah selain Allah.
Merupakan bahagian pertama syahadatain yang maknanya tiada yang boleh, sesuai atau
wajib disembah kecuali hanya Allah. Penyembahan yang benar terhadap Allah
melahirkan sikap ikhlas.
Dalil:
· Q.21: 25, pengertian laa ilaha illa Allah adalah tiada yang diabdi selain Allah,
lihat pula 2: 22-23, 16: 36, pengertian laa ilaha illa Allah menuntut adanya penghambaan
secara menyeluruh kepada Allah dan pengingkaran kepada Thagut.
1.2. Pengakuan bahwa Muhammad Rasulullah.
Bahagian kedua dari syahadatain adalah menerima secara ikhlas dan senang hati
Muhammad Saw sebagai utusan Allah. Dengan penerimaan ini muncul kesediaan
menjadikan Rasulullah sebagai uswah.
Dalil:
· Q.33: 21, 3: 31, Rasulullah Saw adalah teladan sekaligus uswah dalam kehidupan
muslim.
· Q.4: 80, 4: 64, seorang Rasul diutus untuk ditaati, maka penyelewengan terhadap
perintah Rasul adalah kemunafikan. Lihat 24: 63, 8: 24, kewajiban mukmin memenuhi
seruan Allah dan Rasul dan tidak mentaati Rasul membuat tertutupnya hati.
2. Cinta.
Merupakan dasar kesediaan seorang mukmin dalam mengamalkan kandungan
syahadatain.

35
Dalil:
· Q.2: 165, 8: 2, cinta sebagai landasan penerimaan syahadatain. Lihat pula
hasiyyah sebelum ini.
3. Ridha.
Merupakan hasil logik cinta mukmin kepada Allah dan Rasul.
Dalil:
· Q.76: 32, ridha sebagai realisasi cinta, lihat pada hasiyah A-6.
4. Iman.
Syahadat muslim merupakan realisasi imannya kepada Allah. Kelezatannya dapat dicapai
dengan adanya cinta dan ridha kepada Allah, Rasul dan Islam.
Dalil:
· Q.61: 10-11, syahadatain adalah realitas iman kepada Allah dan Rasul. 5: 7, 2:
285, perjanjian syahadat berhubungan dengan keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab-
kitab, Rasul-rasul, Hari akhir dan Qadha qadar.
5. Sibgah.
Dengan keimanan yang benar maka perilaku dan kehidupan mukmin diwarnai oleh
Allah. Fenomena nya adalah berubahnya seluruh aktivitas hidupnya menjadi ibadah
kepada Allah Swt.
Dalil:
· Q.2: 138, sibgah merupakan keimanan kepada Allah yang sesungguhnya. Seluruh
perilaku mukmin diwarnai oleh syahadatain dan merupakan pengabdian kepada Allah.
6. Perubahan Menyeluruh.
· Syahadat yang telah masuk ke dalam diri mukmin dan mewarnai hidupnya pasti
melahirkan perubahan yang menyeluruh yang mencakupi perubahan keyakinan,
perubahan pemikiran, perubahan perasaan dan perubahan tingkah laku.
· Perubahan keyakinan. Sebelum syahadatnya mungkin dia berkeyakinan bahwa
loyalitas dan ketaatan dapat diberikan kepada tanah air, bangsa, masyarakat, seni, ilmu
dan sebagainya, disamping mengabdi kepada Allah. Tetapi setelah bersyahadat ia
melepaskan semua itu dan hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang diabdi,
ditaati dan diminta pertolongan.
· Perubahan pemikiran. Sebelum meyakini syahadatnya mungkin ia berfikir boleh
menerima syariat, aturan hidup dan perundang-undangan bersumber kepada adat istiadat
datuk atau nenek moyang, pemikiran jahiliyah dari ilmuwan dan filosof, hawa nafsu
penguasa dan sebagainya. Setelah memahami akibat dari syahadatain maka ia hanya
mengikuti pola fikir Islam yang bersumber dari Allah dan RasulNya, kemudian hasil
ijtihad orang-orang mukmin yang sesuai dengan bimbingan Allah dan Rasul.
· Perubahan perasaan. Sebelum memahami syahadatain ini mungkin perasaannya
yang berupa cinta, takut, benci, marah, sedih atau senang ditentukan oleh situasi dan
kondisi yang menimpa dirinya atau keadaan di sekelilingnya. Misalnya ia senang dengan
mendapatkan keuntungan dari hasil usahanya, mendapat baju yang paling trendy,
mendapat profesi yang menguntungkan. Sedih karena hilangnya kekayaan, merasa hina
karena kemiskinan dan sebagainya. Maka setelah menghayati makna syahadatain tiada
yang menyenangkan dan menyedihkan melainkan semua terkait dengan kepentingan
Allah dan RasulNya. Maka ia sedih bila ada yang masuk kedalam kekufuran, sedih bila
ada muslim yang disakitas, sedih memikirkan nasib kaum muslimin sebagai ummat
Muhammad. Kemudian dia merasa senang dengan kemajuan dakwah, kebangkitan
ummat dan sebagainya.

36
· Perubahan tingkah laku. Sebelum mengerti kandungan syahadatain mungkin
tingkah laku seseorang mengikuti hawa nafsunya, menuruti bagaimana kondisi
lingkungan. Berpakaian, bersikap, bergaul, mengisi waktu dengan kebiasaan-kebiasaan
jahiliyah yang tidak ada tuntunannya dari Islam. Tetapi setelah mengerti syahadatain ini
ia berubah. Tingkah lakunya mencerminkan akhlak Islam, pergaulannya mengikuti
syariah, waktunya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat samada bagi dirinya maupun
orang lain.
Dalil:
· Perubahan menyeluruh terjadi pada pribadi Ummar bin Khattab RA, Mus’ab bin
Umair, Saad bin Abi Waqqash dan para sahabat lainnya, ini merupakan bukti bahwa
syahadatain membawa perubahan pada diri yang mengucapkannya.
· Contoh ini terjadi pada tingkah laku Mus’ab bin Umair yang sebelum Islam
merupakan seseorang pemuda yang sangat dikenal ketampanannya di kota Mekkah.
Setelah Islam ia menjadi mujahid dakwah, ketika wafatnya ia hanya punya sehelai kain
burdah untuk menutupi jasadnya yang syahid. Bila kepalanya ditutup kakinya terbuka
dan bila kakinya ditutup maka kepalanya terbuka.
7. Kepribadian Yang Islami.
Dengan adanya perubahan pada empat hal diatas maka muslim memiliki kepribadian
yang Islami. Pribadi ini mendasarkan keyakinan, bentuk berfikir, emosi, sikap,
pandangan, tingkah laku, pergaulan dan masalah apa saja dengan dasar Islam.
Dalil:
· Q.68: 4, akhlak pribadi yang Islami terdapat pada diri Rasulullah.
· Hadits, akhlak Rasul adalah akhlak Al-Qur’an.
8. Bernilai (disisi Allah).
Tatkala seorang muslim telah memiliki kepribadian Islami dengan utuh, maka ia akan
memiliki nilai disisi Allah. Pribadi-pribadi ini dalam jumlah yang banyak bergabung
menjadi ummat. Bila ummat Islam telah memiliki banyak pribadi seperti ini ia akan
diperhitungkan oleh lawan-lawannya. Ummat seperti ini mampu membawa amanat
menegakkan khilafah Islamiyah.
Dalil:
· Q.24: 55, janji Allah akan tegaknya khilafah.
· Q.33: 72, amanah memikul dien dibebankan pada manusia tetapi hanya manusia
yang pandai dan tidak zalim dapat menerimanya.
Ringkasan Dalil:
Syahadatain:
· Laa ilaha illa Allah artinya “Tiada yang diabdikan selain Allah”, intinya ikhlas.
· Muhammadurasulullah artinya “Menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan”,
intinya ittiba’ (mengikuti).
· Wajib cinta (mahabbah) ridha, iman, membentuk sibghah (2: 138), menimbulkan
perubahan total (2: 207-208): dalam keyakinan (6: 19), dalam cara berfikir (50: 37, 67:
10), dalam perasaan/selera (24: 26, 5: 100), dalam tingkah laku (25: 63).
· Seluruhnya itu membentuk kepribadian Islam (3: 64), yang bernilai disisi Allah
(5: 27, 49: 13).

MA’RIFATULLAH
Pendahuluan

37
Mungkin ada di kalangan kita yang bertanya kenapa pada saat ini kita masih perlu
berbicara tentang Allah padahal kita sudah sering mendengar dan menyebut namaNya
dan kita tahu bahwa Allah itu Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup untuk kita?
Saudaraku, jangan sekali kita merasa sudah cukup dengan pemahaman dan pengenalan
kita terhadap Allah karena semakin kita memahami dan mengenaliNya kita merasa
semakin hampir denganNya. Kita juga mau agar terhindar dari pemahaman-pemahaman
yang keliru terhadap Allah dan terhindar juga dari sikap-sikap yang salah dari kita
terhadap Allah.
Ketika kita membicarakan tentang makrifatullah, bermakna kita berbicara tentang Rabb,
Malik dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai
Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Manakala Ilah pula mengandung arti yang
dicintai, yang ditakuti dan juga sebagai sumber pengharapan. Kita boleh lihat hal ini di
dalam surat An-Naas: 1-3.
Dengan demikian maka jelaslah bahwa usaha kita untuk lebih jauh memahami dan
mengenal Allah adalah merupakan bahagian terpenting di dalam hidup ini.
Bagaimanakah jalan atau metod yang harus kita lalui untuk mengenal Allah Swt dan
apakah halangan-halangan yang senantiasa menghantui manusia dari pada mengenal dan
berdampingan denganNya? Mungkin boleh kita merujuk kepada satu riwayat yang
bermaksud: “Kenalilah dirimu nescaya engkau akan mengenali Tuhanmu”. Dari
pengenalan diri sendiri, maka ia akan membawa kepada pengenalan (makrifah) yang
menciptakan diri yaitu Allah. Ini adalah karena pada hakikatnya makrifah kepada Allah
adalah sebenar-benar makrifah kepada Allah adalah sebenar-benar makrifah dan
merupakan asas segala kehidupan rohani.
Setelah makrifah kepada Allah, akan membawa kita kepada makrifah kepada Nabi dan
Rasul, makrifah kepada alam nyata dan alam ghaib dan makrifah kepada alam akhirat.
Keyakinan terhadap Allah Swt menjadi mantap apabila kita mempunyai dalil-dalil dan
bukti yang jelas tentang kewujudan Allah lantas melahirkan pengesaan dalam
mentauhidkan Allah secara mutlak. Pengabdian diri kita hanya semata-mata kepada
Allah saja. Ini memberi arti kita menolak dan berusaha menghindarkan diri dari bahaya-
bahaya disebabkan oleh syirik kepadaNya.
Kita harus berusaha menempatkan kehidupan kita dibawah bayangan tauhid dengan cara
kita memahami ruang perbahasan dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan
sesuai dengan manhaj salafussoleh. Kita juga harus memahami empat bentuk tauhidullah
yang menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun sunnah yaitu tauhid asma
wa sifat, tauhid rububiah, tauhid mulkiyah dan tauhid uluhiyah. Dengan pemahaman ini
kita akan termotivasi untuk melaksanakan sikap-sikap yang menjadi tuntutan utama dari
setiap empat tauhid tersebut.
Kehidupan paling tenang adalah kehidupan yang bersandar terus kecintaannya kepada
Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu kita harus mampu membedakan di antara cinta
kepada Allah dengan cinta kepada selainNya serta menjadikan cinta kepada Allah
mengatasi segala-galanya. Apa yang menjadi tuntutan kepada kita ialah kita menyadari
pentingnya melandasi seluruh aktivitas hidup dengan kecintaan kepada Allah, Rasul dan
perjuangan secara minhaji.
Di dalam memahami dan mengenal Allah ini, kita seharusnya memahami bahwasanya
Allah adalah merupakan sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Ilmu-ilmu yang Allah
berikan itu adalah menerusi dua jalan yang membentuk dua fungsi yaitu sebagai
pedoman hidup dan juga sebagai sarana hidup. Kitab juga sepatutnya menyadari

38
kepentingan kedua bentuk ilmu Allah dalam pengabdian kepada Allah untuk mencapai
tahap taqwa yang lebih cemerlang.
B-1. AHAMMIAH MAKRIFATULLAH
Sasaran
. Memahami pentingnya makrifatullah dalam kehidupan manusia.
. Memahami bahwa makrifatullah dapat menjadikannya mencapai hasil dari
penambahan iman dan taqwa.
Sinopsis
Makrifatullah atau mengenal Allah adalah subyek utama yang mesti disempurnakan oleh
seorang muslim. Para mad’u yang diajak untuk terlibat sama di dalam dakwah mestilah
dipastikan betul mereka memiliki kefahaman dan pengenalan yang sahih terhadap Allah
Swt. Mesti terpacak kukuh di dalam hati sanubari bahwa Allah adalah sebagai “Rabb”
kepada sekalian alam. Keyakinan ini tentu sekali bersandarkan kepada berbagai dalil dan
bukti yang kukuh. Dari keyakinan ini, akan membuahkan peningkatan iman dan taqwa.
Personalitas merdeka dan bebas adalah yang lahir dari pengenalan yang mantap terhadap
Allah. Juga akan lahir ketenangan, keberkatan dan kehidupan yang baik sebagai
manifestasi dari mengenali Allah. Di akhirat akan dikurniakan pula dengan balasan
syurga Allah. Semua ini adalah bergaris penamat di keridhaan Allah Swt.
1. Kepentingan Ilmu Makrifatullah.
Riwayat ada menyatakan bahwa perkara pertama yang mesti dilaksanakan dalam agama
adalah mengenal Allah (awwaluddin makrifatullah). Bermula dengan mengenal Allah,
maka kita akan mengenali diri kita sendiri. Siapakah kita, dimanakah kedudukan kita
berbanding mahluk-mahluk yang lain, apakah sama misi hidup kita dengan binatang-
binatang yang ada di bumi ini, apakah tanggung jawab kita dan kemanakah kesudahan
hidup kita. Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali betul-
betul Allah sebagai Rabb dan Ilah. Yang Mencipta, Yang Menghi-dupkan, Yang
Mematikan dan seterusnya.
Dalil:
· Q.47: 19, ayat ini mengarahkan kepada kita dengan bahasa (ketahuilah olehmu)
bahwasanya tidak ada ilah selain Allah dan minta ampunlah untuk dosamu dan untuk
mukminin dan mukminat. Apabila Al-Qur’an menggunakan sibghah amar (perintah),
maka ia menjadi wajib menyambut perintah tersebut. Dalam konteks ini mengetahui atau
mengenali Allah (makrifatullah) adalah wajib.
· Q.3: 18, Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia, dan telah
mengakui pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu sedang Allah berdiri dengan
keadilan. Tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
· Q.22: 72-73, Allah telah menjanjikan kepada mereka yang mengingkari ayat-ayat
Allah samada ayat qauliyah atau kauniyah dengan api neraka. Janji ini Allah turunkan di
dalam surat Al-Hajj ayat 72-73: Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang
terang kamu dapati pada muka-muka orang kafir kemarahan. Hampir-hampir mereka
menendang orang-orang yang membacakan kepada mereka ayat-ayat kami. Katakanlah
kepada mereka: Hendaklah aku khabarkan kepada kamu dengan yang lebih buruk
daripada itu, yaitulah neraka yang telah dijanjikan oleh Allah kepada mereka yang kufur
dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Wahai manusia, dibawakan satu permisalan
maka hendaklah kamu dengar ! Sesungguhnya orang-orang (berhala-berhala) yang
engkau sembah selain Allah tidak akan mampu mencipta seekor nyamuk sekalipun
seluruh mereka berkumpul untuk tujuan itu. Dan jika mereka dihinggapi oleh seekor
lalat, mereka tidak mampu untuk menyelamatkan diri. Lemahlah orang yang menuntut

39
dan orang yang dituntut (sembah). Oleh yang demikian makrifatullah menerusi ayat-
ayatNya adalah suatu kepentingan utama perlu dilaksanakan agar terselamat dari api
neraka.
· Q.39: 67, mereka tidak mentaqdirkan Allah dengan ukuran yang sebenarnya
sedangkan keseluruhan bumi berada di dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan
langit-langit dilipatkan dengan kananNya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa
yang mereka sekutukan. Orang-orang kafir tidak mentaqdirkan Allah dengan taqdir yang
sebenarnya karena mereka tidak betul-betul makrifatullah. Ayat ini menarik kita agar
tidak salah taqdir terhadap hakikat ketuhanan Allah yang sebenarnya. Oleh itu
memerlukan makrifatullah yang sahih dan tepat.
2. Tema Perbicaraan Makrifatullah – Allah Rabbul Alamin.
Ketika kita membicarakan tentang makrifatullah, bermakna kita berbicara tentang Rabb,
Malik dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai
Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Manakala ilah pula mengandungi arti yang
dicintai, yang ditakuti dan juga sebagai sumber pengharapan. Kita boleh lihat hal ini di
dalam surat An-Naas: 1-3. Inilah tema di dalam makrifatullah. Jika kita menguasai dan
menghayati keseluruhan tema ini, bermakna kita telah mampu menghayati makna
ketuhanan yang sebenarnya.
Dalil:
· Q.13: 16, “Katakanlah, siapakah Rabb segala langit dan bumi? Katakanlah Allah.
Katakanlah, adakah kamu mengambil wali selain daripada Nya yang tiada manfaat
kepada dirinya dan tidak pula dapat memberikan mudarat? Katakanlah, adakah
bersamaan orang yang buta dengan orang yang melihat? Bahkan adakah bersamaan gelap
dan nur (cahaya)? Bahkan adakah mereka mengadakan bagi Allah sekutu-sekutu yang
menjadikan sebagaimana Allah menjadikan, lalu serupa mahluk atas mereka?
Katakanlah, Allah. Allah yang menciptakan tiap tiap sesuatu dan Dia Esa lagi Maha
Kuasa”.
· Q.6: 12, “Katakanlah, baqi siapakah apa apa yang di langit dan bumi?
Katakanlah, bagi Allah. Dia telah menetapkan ke atas diriNya akan memberikan rahmat.
Demi sesungguhnya Dia akan menghimpunkan kamu pada Hari Kiamat, yang tidak ada
keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan diri mereka, maka mereka tidak
beriman”.
· Q.6: 19, “Katakanlah, apakah saksi yang paling besar? Katakanlah, Allah lah
saksi diantara aku dan kamu. Diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini untuk aku
memberikan amaran kepada engkau dan sesiapa yang sampai kepadanya Al-Qur’an.
Adakah engkau menyaksikan bahwa bersama Allah ada tuhan-tuhan yang lain?
Katakanlah, aku tidak menyaksikan demikian. Katakanlah, hanya Dialah tuhan yang satu
dan aku bersih dari apa yang kamu sekutukan”.
· Q.27: 59, “Katakanlah, segala puji-pujian itu adalah hanya untuk Allah dan salam
sejahtera ke atas hamba-hambanya yang dipilih. Adakah Allah yang paling baik ataukah
apa yang mereka sekutukan”.
· Q.24: 35, “Allah memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi”.
· Q.2: 255, “Allah. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Dia hidup dan berdiri
menguasai seluruh isi bumi dan langit”.
3. Didukung Dengan Dalil Yang Kuat (Q.75: 14-15).
Makrifatullah yang sahih dan tepat itu mestilah bersandarkan dalil-dalil dan bukti-bukti
kuat yang telah siap disediakan oleh Allah untuk manusia dalam berbagai bentuk agar
manusia berfikir dan membuat penilaian. Oleh karena itu banyak fenomena alam yang

40
disentuh oleh Al-Qur’an diakhirkan dengan persoalan tidakkah kamu berfikir, tidakkah
kamu mendengar dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu boleh mendudukkan kita
pada satu pandangan yang konkrit betapa semua alam cakrawala ini adalah dibawah
milik dan pentadbiran Allah Swt.
Dalil:
· Naqli, Q.6: 19. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasul sebagai bahan
peringatan untuk manusia.
· Aqli, Q.3: 190, Kejadian langit, bumi dan pertukaran siang malam menjadi bukti
bagi orang yang berfikir.
· Fitri, Q.7: 172, Pertanyaan Allah kepada anak adam di alam fitrah, bukan Aku
tuhanmu? Lalu diakuri.
4. Dapat Menghasilkan: peningkatan iman dan taqwa.
Apabila kita betul-betul mengenal Allah menerusi dalil-dalil yang kuat dan kukuh,
hubungan kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila kita hampir dengan Allah,
Allah lebih lagi hampir kepada kita. Setiap ayat Allah semada dalam bentuk qauliyah
maupun kauniyah tetap akan menjadi bahan berfikir kepada kita dan penambah keimanan
serta ketakwaan. Dari sini akan menatijahkan personalitas hamba yang merdeka, tenang,
penuh keberkatan dan kehidupan yang baik. Tentunya tempat abadi baginya adalah surga
yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang telah diridhaiNya.
5. Kemerdekaan.
Dalil:
· Q.6: 82, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanannya
dengan kezaliman, untuk merekalah keamanan sedang mereka itu mendapat petunjuk”.
6. Ketenangan.
Dalil:
· Q.13: 28, “Orang-orang yang beriman dan tenteram hatinya dengan mengingati
Allah. Ingat lah bahwa dengan mengingat Allah itu, tenteramlah segala hati”.
7. Barakah.
Dalil:
· Q.7: 96, “Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya
Kami tumpahkan kepada mereka keberkatan dari langit dan bumi tetapi mereka itu
mendustakan sebab itu Kami siksa mereka dengan sebab usahanya itu”.
8. Kehidupan Yang Baik.
Dalil:
· Q.16: 97, “Sesiapa yang melakukan kebaikan baik lelaki maupun perempuan
sedang dia beriman niscaya Kami siapkan dia dengan kehidupan yang baik”.
9. Syurga.
Dalil:
· Q.10: 25-26, Mereka yang melakukan kebaikan akan mendapat kebaikan dan
tambahan dari Allah dan merek akan menjadi penduduk tetap surga Allah.
10. Mardhotillah.
Dalil:
· Q.98: 8, “Balasan untuk mereka di sisi tuhannya ialah surga Adne yang mengalir
sungai dibawahnya sedang mereka kekal selama-lama di dalamnya. Allah ridha kepada
mereka dan mereka ridha kepada Allah. Surga itu untuk orang-orang yang takut kepada
Allah”.
B-2. AT-THARIQ ILA MAKRIFATILLAH
Sasaran

41
1. Memahami bahwa jalan mengenal Allah adalah melalui ayat-ayatNya.
2. Memahami pendekatan Islam dan non Islam terhadap ayat-ayat Allah.
3. Mengikuti sifat mukminin dalam pengenalan terhadap Allah dan menjauhi sikap
orang-orang kafir.
Sinopsis
Apabila kita ingin mencapai sesuatu sasaran, pastinya kita mesti tahu apakah dan
bagaimanakah jalan yang akan menyampaikan kita kepada sasaran itu. Begitu juga
dengan sasaran untuk mengenal Allah bukan sembarangan cara boleh digunakan karena
jalan yang tidak betul akan membawa kepada pengenalan yang salah. Jalan menuju
kepada makrifatullah adalah menerusi ayat-ayat yang terang dan jelas sebagai satu
pernyataan dari Allah (ayat qauliyah). Ayat ini adalah pernyataan-pernyataan pengenalan
yang difirmankan oleh Allah sendiri di dalam Al-Qur’an. Selain itu, ada juga ayat-ayat
kauniyah yang menjadi bahan berfikir manusia terhadap kejadian alam yang begitu unik
ini. Dari dua jalan ini Islam mengajak manusia menggunakan akan dan juga naql untuk
menuju makrifatullah. Kedua-dua metod ini akan melahirkan keyakinan, langsung
mencetuskan pembenaran (tasdiq) dalam hati kecil manusia yang akhirnya membuahkan
keimanan yang mantap terhadap Allah Swt.
Selain metod ini, ada juga manusia yang menggunakan metod duga-dugaan dan hawa
nafsu untuk mengenal Allah. Paling pasti adalah mereka tidak akan bertemu sasarannya
yang sebenar malah dia boleh dipermainkan oleh syaitan seperti yang berlaku kepada
penganut hindu, budha dan lain-lain lagi yang menggambarkan tuhan ini mengikut apa
yang mereka khayalkan. Metod ini akan berakhir dengan kekufuran.
1. Jalan Menuju Pengenalan Terhadap Allah Swt.
Allah Swt tidak menampilkan kewujudan Zatnya Yang Maha Hebat di hadapan mahluk-
mahluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama mahluk bahkan
selagi kita boleh nampak dengan mata kepala kita, maka itu bukanlah tuhan. Allah juga
menganjurkan kepada manusia menerusi Nabi Saw supaya berfikirlah pada mahluk-
mahluk Allah tetapi jangan sekali anda berfikir tentang zat Allah. Mahluk-mahluk yang
menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak
ayat Al-Qur’an agar menjadi bahan berfikir tentang kebesaran Allah.
2. Ayat Qauliyah.
Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah Swt di dalam Al-
Qur’an. Ayat-ayat ini boleh menyentuh pelbagai aspek termasuklah jalan-jalan kepada
makrifatullah.
Dalil:
· Q.95: 1-5, Allah mengajak kita berfikir tentang kejadian mahluknya termasuk
buah-buahan, bukit-bukit bahkan diri manusia itu sendiri sehingga akhirnya manusia
dapat menyimpulkan satu keyakinan bahwa penciptanya adalah Allah.
3. Ayat Kauniyah.
Ayat Kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh
Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang
ada di dalam alam ini. Oleh karena alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah
dengan segala sistem dan peraturanNya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan
keagungan Penciptanya.
Dalil:
· Q.41: 53, Allah menjelaskan bahwa Dia akan tunjukkan ayat-ayat kauniyahNya
di ufuq dan juga pada diri manusia sendiri sehingga menjadi terang dan jelas akan
kekuasaan Allah.

42
· Q.3: 190, Pada kejadian langit dan bumi serta pertukaran siang dan malam juga
adalah ayat kauniyah kepada kekuasaan Allah bagi sesiapa yang berakal.
4. Metod Islam Dengan Naqli dan Akal.
Islam menghargai nilai akal yang dimiliki manusia karena dengan sarana akal ini
manusia mampu berfikir dan memilih antara yang benar atau salah. Walau
bagaimanapun, dengan akal semata-mata tanpa panduan dari Pencipta akal pencapai
pemikiran cukup terbatas. Apa lagi jika dicampurkan dengan anasir hawa nafsu dan zhan.
Gabungan antara kemampuan akan dan panduan dari Penciptanya akan menghasilkan
pengenalan yang tepat dan mantap terhadap Allah Swt menjadi satu kesalahan apabila
manusia tidak menggunakan akalnya untuk berfikir.
Dalil:
· Q.10: 100-101, Tiadalah seseorang itu beriman melainkan dengan izin Allah. Dia
menjadikan siksaan atas orang-orang yang tidak berfikir. Katakanlah, perhatikanlah apa-
apa yang dilangit dan di bumi. Tetapi tidak bermanfaat keterangan dan peringatan bagi
kaum yang tidak beriman.
· Q.65: 10, Ancaman Allah dengan siksaan bagi mereka yang berakal tapi tidak
berfikir.
· Q.67: 10, Penyesalan yang pasti bagi mereka yang tidak berfikir.
5. Tasdiq (membenarkan).
Hasil dari berfikir dan menelitas secara terus menurut pedoman-pedoman yang
sewajarnya, akan mencetuskan rasa kebenaran, kehebatan dan keagungan Allah. Boleh
jadi ia berbetulan dengan firman Allah 53: 11 (Tiadalah hatinya mendustakan
(mengingkari) apa-apa yang dilihatnya). Hati mula membenarkan dan akur kepada
kebujaksanaan Tuhan.
Dalil:
· Q.3: 191, Orang-orang yang mengingat Allah setiap ketika akan terungkap pada
lisannya ucapan Maha Suci Engkau ya Allah.
· Q.50: 37, Yang demikian itu menjadi peringatan bagi orang yang mempunyai hati
atau mendengarkan sedang hatinya hadir.
6. Menghasilkan Iman.
Metod pengenalan kepada Allah yang dibawa oleh Islam ini cukup efektif secara
berurutan sehingga akhirnya menghasilkan keimanan sejati kepada Allah azzawajalla.
7. Metod Selain Islam.
Pemikiran berkenaan theologi dan ketuhanan banyak juga dibawa oleh pemikir-pemikir
dari serata dunia tetapi tidak berlandaskan kepada metod yang sebenarnya.
Kebanyakannya berlandaskan duga-dugaan, sangka-sangkaan dan hawa nafsu. Pastinya
metod cacamerba ini tidak akan sampai kepada natijah yang sebenar karena bayang-
bayang khayalan tetap menghantui pemikiran mereka. Ada tuhan angin, tuhan api, tuhan
air yang berasingan dengan rupa-rupa yang berbeda seperti yang digambarkan oleh
Hindu, Budha dan seumpamanya.
8. Dugaan dan Hawa Nafsu.
Dua unsur utama dalam metod mengenal tuhan yang tidak berlandaskan disiplin yang
sebenar adalah sangka-sangkaan dan juga hawa nafsu. Campur tangan dua unsur ini
sangat tidak mungkin untuk mencapai natijah yang tepat dan sahih.
Dalil:
· Q.2: 55, Kaum nabi Musa mengambil anak lembu sebagai tuhan dan cabar untuk
tidak beriman dengan Musa kecuali setelah melihat Allah secara terang, lalu mereka
disambar oleh halilintar.

43
· Q.10: 36, Kebanyakan mereka tidak mengikut kecuali duga-dugaan semata-mata.
Sesungguh nya dugaan itu tidak cukup untuk mendapat kebenaran sedikitpun.
· Q.6: 115, Telah tamatlah kalimah Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.
9. Ragu-Ragu.
Apabila jalan yang dilalui tidak jelas dan tidak tepat, maka hasil yang didapati juga
sangat tidak meyakinkan. Mungkin ada hasil yang didapati, tetapi bukan hasil yang
sebenarnya. Bagaimanakah kita ingin mengenal Allah tetapi kaedah pengenalan yang kita
gunakan tidak menurut neraca dan panduan yang telah ditetapkan oleh Allah.
Kadangkala sayyidina Umar tersenyum sendirian mengenangkan kebodohannya
menyembah patung yang dibuatnya sendiri dari gandum sewaktu jahiliyah, apabila terasa
lapar dimakannya pujaan itu.
Dalil:
· Q.22: 55, Orang-orang kafir senantiasa dalam keraguan.
· Q.24: 50, Apakah ada dalam hati mereka penyakit, atau mereka masih ragu-ragu
atau takut.
10. Berakibat Kufur.
Semua metod pengenalan yang tidak berasaskan cara yang dianjurkan oleh Islam yaitu
menerusi aqli dan naqli akan menemui jalan serabut yaitu kekufuran terhadap Allah Swt.
B-3. MAWANI’ MAKRIFATULLAH
Sasaran
1. Mengerti sifat-sifat pribadi yang menjadi penghalang dari mengenal Allah.
2. Menyadari bahwa sifat-sifat itu dapat membawanya kepada kekufuran karena itu
ia berusaha menjauhi sifat-sifat itu.
3. Menumbuhkan motivasi untuk mewujudkan sifat-sifat yang memudahkan
mengenal Allah.
Sinopsis
Walaupun ayat-ayat Allah sama ada ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah adalah terbuka
kepada siapa saja yang ingin membaca dan menelitinya, namun terdapat berbagai
halangan yang akan berhenti di hadapan kita yang didukung oleh iblis dan hawa nafsu
bagi memastikan anak cucu adam terus berada di dalam kesesatan dan jauh dari petunjuk
Allah Swt. Halangan-halangan ini muncul dalam bentuk sifat-sifat pribadi yang
kontradik berpunca dari syahwat seperti nifaq, takabbur, zalim, dusta dan sifat-sifat yang
berpunca dari salah faham atau syubhat seperti jahil, ragu-ragu, menyimpang. Kesemua
ini menatijahkan kekufuran terhadap Allah Swt.
Sifat yang berasal dari penyakit syahwat.
1. Fasiq.
Yaitu orang-orang yang melanggar janji Allah, memutuskan apa yang diperintahkan oleh
Allah menghubungkannya dan mereka melakukan bencana di atas muka bumi.
Dalil:
· Q.2: 26-27, Sesungguhnya Allah tidak malu menjadikan nyamuk untuk menjadi
perumpamaan atau benda yang lebih hina daripadanya. Adapun orang-orang yang
beriman mengetahui bahwa yang demikian itu suatu kebenaran dari Tuhan tetapi orang-
orang yang kafir berkata: Apakah maksud Allah dengan perumpamaan ini?
· Q.59: 19, Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah
menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang
fasiq.
2. Sombong.

44
Adalah orang yang hatinya ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah dan mereka
tidak beriman dengan Allah.
Dalil:
· Q.16: 22, Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhirat, hati mereka
ingkar dan mereka itu orang-orang yang sombong.
· Q.40: 35, Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan yang
sampai kepada mereka. Amat besarlah kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang
yang beriman (terhadap mereka). Demikianlah Allah mengecap/menutup tiap-tiap hati
orang yang sombong lagi ganas.
· Q.40: 56, Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan.
· Q.7: 12, Allah telah menghalau Iblis dari syurga karena bersikap sombong dan
tidak mau tunduk kepada arahan Allah.
3. Zalim.
Dalil:
· Q.32: 22, Siapakah yang terlebih zalim daripada orang yang mengada-adakan
dusta terhadap Allah sedang dia diseru kepada Islam? Allah tidak memberikan petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.
· Q.32: 22, Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang diberikan
peringatan dengan ayat-ayat tuhannya kemudian dia berpaling daripadanya …
4. Dusta.
Dalil:
· Q.2: 10, Dalam hati mereka ada penyakit (syak wasangka) lalu ditambah Allah
penyakit itu dan untuk mereka itu siksa yang pedih karena mereka berdusta.
· Q.77: 9-19, Kecelakaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah.
5. Banyak Dosa.
Dalil:
· Q.83: 14, Berkarat hati mereka karena dosa yang mereka lakukan.
Semua sifat-sifat yang disebutkan di atas tadi akan berakhir dengan kemurkaan dari
Allah Swt. Walau bagaimanapun sifat-sifat ini boleh dirawati dan diobati dengan usaha
yang penuh mujahadah. Manakala kelompok kedua adalah sifat-sifat yang berasal dari
penyakit syubhat yang ada pada personalitas seseorang.
6. Jahil.
Dalil:
· Q.39: 65, Orang-orang yang tidak mengambil ikhtibar dari wahyu.
7. Ragu-Ragu.
Dalil:
· Q.22: 55, Orang-orang kafir senantiasa di dalam keraguan.
8. Menyimpang.
Dalil:
· Q.5: 13, Oleh karena mereka melanggar perjanjian, Allah kutuk mereka dan
menjadikan hati mereka keras sehingga mereka mengubah kalimat Allah.
9. Lalai.
Dalil:
· Q.7: 179, Mereka memiliki hati, mata dan telinga tetapi semuanya tidak
difungsikan dan mereka menjadi seumpama binatang lalu disediakan kepada mereka
jahannam.
B-4. ADILLAH ALA WUJUDILLAH
Sasaran

45
1. Mengenal betapa pentingnya menyadari kewujudan Allah di dalam kehidupan.
2. Mengerti dalil-dalil yang diaplikasikan untuk menyadari kewujudan Allah.
3. Bermotivasi untuk mentauhidkan Allah karena menyadari kebesaran Allah.
Sinopsis
Kewujudan Allah Swt adalah sesuatu yang cukup terang sehingga setengah pihak yang
ekstrem berpendapat kewujudan Allah tidak perlu kepada dalil lantaran terlalu jalas.
Walau bagaimanapun dalil-dalil yang membuktikan kewujudan Allah ini boleh kita lihat
dari berbagai aspek, antaranya dari aspek fitrah, aspek panca indera, dari aspek
logik/aqal, dari aspek nash/naql dan juga dari aspek sejarah. Bila kita membicarakan
dalil-dalil kewujudan Allah, kita tidak bermaksud perbincangan-perbincangan falsafi
yang merumitkan tetapi bagaimana dalil-dalil itu dapat difahami dengan mudah dan
menunjangkan keyakinan terhadap Allah Swt.
1. Dalil Fitrah.
Adalah dalil yang lahir dari fitrah asal manusia itu sendiri. Hal ini banyak dirakamkan di
dalam Al-Qur’an, bagaimanapun manusia umumnya mengakui kewujudan Allah.
Dalil:
· Q.7: 172, Allah bertanya: Bukankah Aku Tuhan kamu? Sahutnya: Ya, Kami
menjadi saksi.
· Q.29: 61, Demi kalau engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang
menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, niscaya mereka
menjawab: Allah.
· Q.43: 9, Demi jika engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan
langit dan bumi, niscaya mereka menjawab: yang menciptakan semuanya adalah (Allah)
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
· Q.75: 14-15, Bahkan manusia jadi saksi atas dirinya sendiri meskipun ia
menerangkan beberapa keuzuran.
2. Dalil Indera.
· Adalah dalil-dalil yang dapat dinikmati, dilihat, dirasai atau disentuhi oleh indera.
Dalil:
· Q.54: 1, Telah hampir saat kiamat dan bulan pun terbelah.
· Q.17: 1, Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari
dari Masjidil Haram.
· Q.8: 9, Sesungguhnya Aku menolong kamu dengan seribu malaikat yang
beriringan.
· Q.3: 125, Ya, jika kamu sabar dan taqwa dan datang orang-orang kafir itu
bersegera kepadamu tuhanmu menolongmu dengan lima ribu malaikat.
3. Dalil Aqli.
Adalah dalil-dalil yang berasaskan akal.
Dalil:
· Q.41: 53, Nanti akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda
kekuasaan) Kami di ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri.
· Q.27: 88, Engkau lihat gunung-gunung, engkau kira ia tetap padahal ia lari
seperti larinya awan.
· Q.87: 1-4, Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi yang menciptakan
semua alam lalu menyempurnakan kejadiannya, dan yang menentukan dan memberi
petunjuk dan yang menumbuhkan padang rumput (tanam-tanaman).
4. Dalil Naqli.
Adalah dalil-dalil yang bersandarkan kepada nash-nash.

46
Dalil:
· Q.4: 82, Tidakkah mereka mentadabbur Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu dari
sisi Allah niscaya mereka mendapati banyak perselisihan di dalamnya.
· Q.17: 88, Katakanlah, demi jika berhimpun manusia dan jin hendak memperbuat
seumpama Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak dapat memperbuat seumpamanya.
· Q.15: 9, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami
memeliharanya.
5. Dalil Sejarah.
Adalah dalil-dalil kekuasaan dan keagungan Allah yang diambil dari peristiwa-peristiwa
yang telah berlaku di atas muka bumi.
Dalil:
· Q.3: 137, Sesungguhnya telah lalu beberapa peraturan (Allah) sebelum kamu,
maka berjalan lah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibatnya orang-
orang yang mendustakan agama.
· Q.7: 176, Demikianlah umpamanya kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.
Sebab itu kisahkanlah kisah itu, mudah-mudahan mereka berfikir.
· Q.12: 111, Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu ada ibrah (pengajaran)
bagi orang-orang yang berakal.
· Q.11: 120, Setiap riwayat kami kisahkan kepadamu di antara perkhabaran para
rasul supaya Kami tenteramkan hatimu dengannya.
6. Mengagungkan Allah dan Mentauhidkan Allah.
Dari semua dalil-dalil yang dapat dilihat di atas itu adalah berfungsi menguatkan
pandangan kita betapa keagungan Allah Swt begitu luar biasa dan menundukkan kita
sendiri di hadapan keagungan ini. Langsung mencetuskan tauhidullah yang luar biasa.
Dalil:
· Q.21: 92, Sesungguhnya ini, ummat kamu (hai mukminin) ummat yang satu dan
Aku tuhanmu, sebab itu sembahlah Aku.
B-5.1. TAUHIDULLAH
Sasaran
1. Memahami konsep tauhid rububiyah mulkiyah dan uluhiyah serta aplikasinya
dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menyadari wujudnya kerajaan Allah di alam semesta.
3. Menyadari wajibnya menolak kepemimpinan, hukum dan autoritas selain Allah
dan menjadikan Allah saja sebagai pemimpin, pembuat hukum dan tujuan hidup.
Sinopsis
Mentauhidkan Allah Swt adalah inti kepada akidah Islam. Di dalam konsep tauhid ini
kita mengesakan Allah dari segi rububiyah, mulkiyah dan juga uluhiyahnya. Dari segi
rububiyahnya, kita mengesakan Allah sebagai Pencipta yang telah mencipta segala
sesuatu dari sekecil-kecil sehingga sebesarnya. Allahlah yang mengurniakan rizki dan
Allah lah sebagai Raja yang menguasai seluruh alam ini. Pengesaan ini diaplikasikan
dalam setiap gerak kerja seharian. Bukan sekedar Rububiyah, malah Mulkiyah Allah itu
adalah milik mutlak Allah Swt yang perlu kita esakan. Mulkiyah Allah ini bermakna
Allahlah sebagai wali yang sah sebagaimana yang tersebut di dalam firmanNya: “Allah
Wali kepada orang-orang yang beriman”. Allahlah sebagai Penguasa (Hakim) dan Allah
juga Pemerintah (Amir). Dengan tauhid mulkiyah ini sepatutnya kita menyadari
kewujudan kerajaan Allah diatas muka bumi ini. Dengan itu sewajibnya kita menolak
kepemimpinan, hukum dan autoritas selain Allah dan menjadikan Allah saja sebagai
pemimpin, pembuat hukum dan tujuan hidup.

47
1. Rububiyatullah.
Sifat Rububiyah adalah sifat sebagai pencipta, pemilik dan pengatur susunan peraturan.
Sifat ini diakui oleh semua manusia secara fitrahnya.
Dalil:
· Q.1: 2, Allah Swt telah menyatakan pujian hanya bagi dirinya dan menyifatkan
DiriNya sebagai Rabb Alamin. “Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara
dan mentadbirkan sekalian alam”.
· Q.7: 54, Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa lalu. Ia bersemayam diatas Arasy, Ia melindungi malam dengan
siang yang mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang menciptakan)
matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintahNya.
Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian mahluk) dan urusan
pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.
1.1. Sebagai Pencipta.
Pencipta ( Al-Khaliq) segala sesuatu adalah salah satu dari sifat Rabb.
Dalil:
· Q.25: 2, Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi, dan yang tidak
mempunyai anak, serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahanNya, dan
Dia lah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan mahluk-mahluk itu
dengan ketentuan takdir yang sempurna.
1.2. Pemberi Rezki.
Pemberi Rizki (Ar-Raaziq) juga merupakan sifat Rububiyah Allah. Dengan sifat ini
muslim meyakini bahwa rizki semuanya ketentuan dari Allah. Dengan ini menjadikan
pergantungan kita dengan Allah adalah mutlak bukan lagi kepada mahluk yang memiliki
segala sifat kelemahan.
Dalil:
· Q.51: 57-58, Aku tidak sekali-kali menghendaki sembarang rizki pemberian dari
mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu.
Sesungguhnya Allah Dia lah saja Yang Memberi Rizki (kepada sekalian mahlukNya, dan
Dia lah saja) Yang Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kuat
Kukuh kekuasaanNya.
1.3. Pemilik.
Allah Swt Pencipta sekalian mahluk, Dia jugalah yang memilikinya. Hatta diri kita juga
dimiliki oleh Allah.
Dalil:
· Q.2: 284, Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan
Allah. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan menghitung dan menyatakannya kepada kamu.
Kemudian Ia mengampunkan bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan menyiksa sesiapa
yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peranturanNya). Dan (ingatlah), Allah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
1.4. Raja.
· Allah adalah raja mutlak kepada segala mahluk. Sifat ini hanya berhak pada sisi
Allah saja. Kehebatan ini seharusnya menjadikan kita senantiasa tunduk kepada titah
perintahNya sekali pun berlawanan dengan tuntutan diri dan nafsu sendiri.
Dalil:
· Q.1: 4, Malik (raja) kepada hari pembalasan.
· Q.114: 2, Raja manusia.

48
2. Mulkiyatullah.
Mentauhidkan Allah dalam mulkiyahnya bermakna kita mengesakan Allah terhadap
pemilikan, pemerintahan dan penguasaanNya terhadap alam ini. Dialah Pemimpin,
Pembuat hukum dan Pemerintah kepada alam ini. Hanya landasan kepemimpinan yang
dituntut oleh Allah saja yang menjadi ikutan kita. Hanya hukuman yang diturunkan oleh
Allah saja menjadi pakaian kita dan hanya perintah dari Allah saja menjadi junjungan
kita.
Dalil:
· Q.3: 26, Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa
pemerintahan, Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada siapa yang Engkau
kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari siapa yang Engkau
kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan
Engkaulah yang menghina siapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkaulah
saja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
2.1. Pemimpin (wali).
Wali adalah sebahagian dari sifat-sifat mulkiyatullah. Ia membawa arti sifat penguasaan
yaitu sebagai pelindung, penolong dan pemelihara.
Dalil:
· Q.7: 196, Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan kitab
(Al-Qur’an), dan Dia lah jua yang menolong dan memelihara orang-orang yang berbuat
kebaikan.
2.2. Pembuat Hukum.
Hakiman atau pembuat hukum juga adalah sebahagian dari sifat mulkiyatullah. Ia mesti
diikhtiraf oleh manusia dan tunduk hanya kepada hukum-hukum yang telah diturunkan
olehNya saja karena hak mencipta hukum itu hanya terhadap kepada Allah semata-mata.
Dalil:
· Q.12: 40, Apa yang kamu sembah, yang lain dari Allah, hanyalah nama-nama
yang kamu menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah
menurunkan sembarang bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang
menentukan amal ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.
2.3. Pemerintah.
Aamiran atau pemerintah satu lagi sifat mulkiyatullah yang perlu diketahui oleh setiap
muslim. Allah memiliki Arasy dan memerintah seluruh mahluk ciptaannya ini dengan
ketentuan daripadanya. Dia yang menciptakan dan Dia yang mengarahkan menurut apa
yang dikehendakiNya.
Dalil:
· Q.7: 54, Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa lalu. Ia bersemayam di atas Arasy. Ia melindungi malam dengan
siang yang mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang menciptakan)
matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintahNya.
Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian mahluk) dan urusan
pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.
3. Yang Dituju.
Apabila kita mengikhtiraf dan mengakui keesaan Allah dengan segala bentuk rububiyah
dan mulkiyahnya, maka seluruh hidup kita adalah tertumpu kepada kehendak dan tujuan

49
kita dijadikan olehNya. Maka Allahlah menjadi matlamat hidup kita seluruhnya, selari
dengan mahluk-mahluk lain yang sepenuhnya tunduk kepada kehendak Allah.
Dalil:
· Q.6: 162, Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan
matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.
4. Ilah Yang Diabdikan.
Pengikhtirafan ini juga membawa manusia tunduk mengabdikan diri semata-mata kepada
Allah Swt.
Dalil:
· Q.114: 3, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia.
· Q.109: 1-6, Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai orang-orang kafir. Aku tidak
akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak mau menyembah (Allah)
yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Dan kamu pula
tidak mau beribadat secara aku beribadat. Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku”.
B-5.2. TAUHIDUL IBADAH
Sasaran
1. Menyadari bahwa ikhlas dalam ibadah hanya semata-mata kepada Allah.
2. Menyadari bahwa dalam beribadah segala thagut dikufuri, dijauhi dan tidak
syirik.
3. Menyadari tauhid dalam ibadah adalah berasaskan keimanan yang hakiki.
Sinopsis
Pengabdian diri manusia boleh berlaku kepada siapa saja berasaskan kefahaman dan
keyakinan seseorang. Bagi muslim, pengabdian tidak sekali-kali boleh berlaku melainkan
hanya kepada Allah penuh ikhlas. Keikhlasan dalam beribadah ini dapat dicapai menerusi
dua perkara yang saling berkait antara satu sama lain. Pertama dengan mengkufuri segala
thagut, menjauhkan diri dari thagut dan tidak pula berlaku syirik kepada Allah. Dalam
masa yang sama mestilah tertahqiq juga keimanan kepada Allah langsung mengabdikan
diri hanya kepada Allah semata-mata. Apabila tauhidullah tercapai dengan sempurna
maka disitulah tercapainya tauhidul ibadah karena asas tauhidul ibadah adalah
tauhidullah yang mantap.
Tauhidullah - Ikhlas.
Mentauhidkan Allah secara ikhlas dalam segala pengertian rububiyah, mulkiyah dan
uluhiyahnya menjadi kan kita seorang yang betul-betul beriman kepada Allah secara
sahih.
Dalil:
· Q.112: 1-3, Katakanlah Muhammad, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat
pergantungan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
· Q.38: 83, Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas diantara mereka.
1. Mengingkari Thagut.
Unsur pertama di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penolakan yaitu
tercetus dalam hati rasa keingkaran terhadap thagut. Hati tidak dapat menerima kehadiran
thagut lantaran iman kepada Allah.
Dalil:
· Q.2: 256, Sesiapa yang mengkufuri thagut dan beriman kepada Allah,
sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang teguh.
· Q.4: 60, Mereka hendak meminta hukum kepada thagut sedang mereka disuruh
kufur terhadap thagut. Syaitan menghendaki supaya dia dapat menyesatkan mereka
dengan kesesatan yang jauh.

50
1.1. Menjauhi Thagut.
Bukan sekedar perasaan dalaman saja mengingkari thagut bahkan secara lahiriahnya juga
berusaha sedaya mungkin menepati tuntutan tersebut dalam apa juga hal.
Dalil:
· Q.16: 36, Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thagut.
· Q.39: 16-18, Orang-orang yang menjauhi dari menyembah thagut dan kembali
kepada Allah untuk mereka itu kabar gembira. Maka berilah kabar gembira kepada
hamba-hambaKu.
1.2. Tidak Adanya Syirik.
Apabila kita telah melengkapi ciri-ciri ini, dimana hati kita menolak thagut dan amal
perbuatan kita juga tidak selari dengan jalan thagut bahkan menyisih diri darinya maka
pergantungan kita hanyalah semata-mata kepada Allah azzawajalla. Kita tidak lagi
mensyirik kan Allah dengan sesuatu yang lain.
Dalil:
· Q.39: 3, Ingatlah, (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala
ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik
yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung dan penolong (sambil
berkata): “Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka
mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya”, sesungguhnya Allah akan
menghukum di antara mereka (dengan orang orang yang tidak melakukan syirik) tentang
apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah
petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi
senantiasa kufur (dengan melakukan syirik).
· Q.39: 11, Katakanlah lagi (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku
diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat
kepadaNya”.
· Q.39: 14, Katakanlah lagi: “Allah jualah yang aku sembah dengan mengikhlaskan
amalan agamaku kepadaNya”.
2. Iman Terhadap Allah.
Unsur kedua di dalam mentauhidkan Allah secara ikhlas adalah unsur penerimaan yaitu
unsur menerima keimanan kepada Allah sepenuh hati. Keimanan yang jitu tidak akan
menempati dihati jika unsur pembersihan dari karat-karat keyakinan kepada thagut tidak
dibasmikan.
Dalil:
· Q.2: 256, Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah
nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu sesiapa yang tidak percayakan
thagut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.
2.1. Mengabdikan Diri Hanya Kepada Allah.
Bukti kepada penerimaan hati terhadap keimanan kepada Allah tidak akan dapat dilihat
kecuali dengan pengabdian diri yang sepenuhnya kepada Allah Swt. Tidak tunduk atau
taat melainkan apa yang bersesuaian dengan tuntutan keimanan kepada Allah Swt.
Dalil:
· Q.16: 36, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap
ummat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu
menyembah Allah dan jauhilah Thagut”. Maka di antara mereka (yang menerima seruan
Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah dan ada pula yang berhak

51
ditimpa kesesatan. Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana
buruknya kesudahan ummat-ummat yang mendustakan Rasul-Rasulnya.
2.2. Mengesakan Allah dalam Beribadah.
Dalam ibadah-ibadah yang dilakukan senantiasa mengesakan Allah. Tidak mencampur-
aduk kan dengan perihal-perihal lain yang boleh membawa arti syirik, riya’ dan
sebagainya seperti beribadah supaya dipuji orang dan seterusnya.
Dalil:
· Q.98: 5, Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah
dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid dan supaya
mereka mendiri kan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah agama
yang benar.
B-5.3. AKHTAR SYIRIK
Sasaran
1. Dapat mengenali jenis-jenis thagut sehingga dapat menjauhkan diri darinya.
2. Dapat mengenali bahaya-bahaya akibat dari syirik serta janji-janji dari Allah
terhadap mereka yang syirik.
Sinopsis
Pengenalan kepada bentuk-bentuk thagut akan dapat menghindarkan diri dari bahayanya
karena fenomena syirik berkait rapat antara satu sama lain. Jahil terhadap thagut-thagut
ini membuka kemungkinan yang cukup besar kepada semua orang untuk menjadi syirik
kepada Allah. Dalam keadaan tahupun ramai manusia boleh menjadi syirik, apalagi jahil.
Fenomena ini perlu sekali disadari karena hakikat syirik ini amat besar bahaya kepada
manusia baik kesannya sewaktu di dunia maupun pada hari pembalasan yang sebenar.
1. Definisi Thagut.
Segala sesuatu yang diabdikan selain Allah dan dia ridha diibadahi.
Dalil:
· Q.96: 6-8, Ingatlah, Sesungguhnya jenis manusia tetap melampaui batas (yang
sepatutnya atau yang sewajibnya). Dengan sebab ia melihat dirinya sudah cukup apa
yang dihajatinya. (Ingat lah) sesungguhnya kepada Tuhanmu lah tempat kembali (untuk
menerima balasan).
· Q.79: 17, (Lalu diperintahkan kepadanya): “Pergilah kepada Fir’aun,
sesungguhnya ia telah melampaui batas (dalam kekufuran dan kezalimannya)”.
1.1. Syaitan.
Syaitan adalah musuh manusia. Ia mempunyai jalan-jalan menuju jiwa setiap mahluk dan
memberikan kesan yang besar kecuali mereka yang dilindungi oleh Allah. Jalan-jalan
yang dimiliki itu adalah ruang-ruang kelemahan yang ada pada manusia itu sendiri dalam
bentuk keinginan dan juga syahwat (hissi) maupun maknawi yaitu jalan yang tidak dapat
dirasakan.
Dalil:
· Q.36: 60, “Bukankah Aku telah perintahkan kamu wahai anak-anak Adam,
supaya kamu jangan menyembah syaitan? Sesungguhnya ia musuh yang nyata terhadap
kamu”.
1.2. Pemerintah Zalim.
Antara bentuk thagut juga adalah penguasa-penguasa yang zalim tidak merujuk kepada
hukum-hukum dan panduan daripada Allah di dalam pemerintahannya.
Dalil:
· Q.5: 44, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, yang mengandungi
petunjuk dan cahaya yang menerangi, dengan Kitab itu nabi-nabi yang menyerah diri

52
(kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi, dan (dengannya juga)
ulama mereka dan pendeta-pendetanya (menjalankan hukum Allah), sebab mereka
diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari Kitab Allah (Taurat) itu,
dan mereka pula adalah menjadi penjaga dan pengawasnya (dari sembarang perubahan).
Oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu takut kepadaKu
(dengan menjaga diri dari melakukan maksiat dan patuh akan perintahKu), dan janganlah
kamu menjual (membelakangkan) ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit (karena
mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan dunia), dan sesiapa yang tidak
menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (karena mengingkarinya),
maka mereka itulah orang-orang kafir.
· Q.5: 45, Dan Kami telah tetapkan atas mereka di dalam kitab Taurat itu, bahwa
jiwa dibalas dengan jiwa, dan mata dibalas dengan mata, dan hidung dibalas dengan
hidung, dan telinga dibalas dengan telinga, dan gigi dibalas dengan gigi, dan luka-luka
hendaklah dibalas (seimbang). Tetapi sesiapa yang melepaskan hak membalasnya, maka
menjadilah ia penebus dosa baginya, dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa
yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
· Q.5: 47, Dan hendaklah Ahli Kitab Injil menghukum dengan apa yang telah
diturunkan oleh Allah di dalamnya, dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang
telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
1.3. Hukum Jahiliyah.
Diantara bentuk thagut juga adalah hukum-hukum yang melampaui batas yang telah
ditetapkan oleh Allah Swt.
Dalil:
· Q.4: 60, Tidakkah engkau (heran) melihat (wahai Muhammad) orang-orang
(munafik) yang mendakwa bahwa mereka telah beriman kepada Al-Qur’an yang telah
diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-Kitab) yang telah diturunkan duhulu
daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada Thagut, padahal mereka telah
diperintahkan supaya kufur ingkar kepada Thagut itu. Dan Syaitan pula senantiasa
hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
· Q.5: 50, Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum
jahiliyah? Padahal kepada orang-orang yang penuh keyakinan – tidak ada sesiapa yang
boleh membuat hukum yang lebih daripada Allah.
1.4. Dukun dan Tukang Sihir.
Amalan-amalan sihir adalah amalan yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an karena
pergantungan di dalam amalan sihir adalah kepada selain Allah seumpama hantu raya,
polong, ilmu hitam dan sebagainya. Amalan sihir ini dipelopori oleh Iblis laknatullah. Ia
merupakan sebahagian bentuk thagut.
Dalil:
· Q.72: 6, Dan bahwa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang
dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada
ketua-ketua golongan jin, karena dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin
bertambah sombong dan jahat,
· Q.2: 102, Mereka (membelakangkan Kitab Allah) dan mengikut ajaran-ajaran
sihir yang dibacakan oleh puak-puak Syaitan dalam masa pemerintahan Nabi Sulaiman,
padahal Nabi Sulaiman tidak mengamalkan sihir yang menyebabkan kekufuran itu, akan
tetapi puak-puak Syaitan itulah yang kafir (dengan amalan sihirnya), karena merekalah
yang mengajarkan manusia ilmu sihir dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat:
Harut dan Marut, di negeri Babil (Babylon), sedang mereka berdua tidak mengajar

53
seseorangpun melainkan setelah mereka menasihatinya dengan berkata: “Sesungguhnya
kami ini hanyalah cobaan (untuk menguji imanmu), oleh itu janganlah engkau menjadi
kafir (dengan mempelajarinya)”. Dalam pada itu ada juga orang-orang mempelajari dari
mereka berdua ilmu sihir yang boleh menceraikan antara seorang suami dengan isterinya,
padahal mereka tidak akan dapat sama sekali memberi mudarat (atau membahayakan)
dengan sihir itu seseorangpun melainkan dengan izin Allah. Dan sebenarnya mereka
mempelajari perkara yang hanya membahayakan mereka dan tidak memberi manfaat
kepada mereka. Dan demi sesungguhnya mereka (kaum Yahudi itu) telahpun mengetahui
bahwa sesiapa yang memilih ilmu sihir itu tidaklah lagi mendapat bahagian yang baik di
akhirat. Demi sesungguhnya amat buruknya apa yang mereka pilih untuk diri mereka,
kalaulah mereka mengetahui.
1.5. Berhala.
Disebut di dalam Al-Qur’an sebagai “awthaanan” atau “ashnaman” yaitu setiap sesuatu
yang mati tidak memiliki ruh samada dalam bentuk ketulan kayu maupun batu-batu yang
dibentuk.
Dalil:
· Q.4: 117, Apa yang mereka sembah yang lain dari Allah itu, hanyalah berhala-
berhala (mahluk mahluk yang lemah), dan mereka (dengan yang demikian) tidak
menyembah melainkan Syaitan yang durhaka.
· Q.14: 35-36, Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa dengan berkata: “Wahai
Tuhanku! Jadikanlah negeri Mekkah ini negeri yang aman, dan jauhkanlah daku dan
anak-anakku dari perbuatan menyembah berhala. Wahai Tuhanku, berhala-berhala itu
telah menyebabkan sesat banyak diantara manusia. Oleh itu, siapa yang menurutku
(dalam Islam yang menjadi peganganku) maka ia adalah dari golonganku; dan siapa yang
mendurhaka kepadaku (dengan menyalahi agamaku), maka sesungguhnya engkau Maha
Pengampun, lagi Maha Mengasihi (kiranya ia insaf dan bertaubat).
2. Bahaya Syirik.
Risalah Rasulullah Saw adalah supaya manusia menyambah Allah dan menjauhkan
taghut. Kedua prinsip ini adalah tetap dari dahulu hingga sekarang karena ia merupakan
perkara asasi dalam kehidupan manusia sebagai hamba Allah. Sembarangan perlanggaran
terhadap prinsip ini mempunyai amaran-amaran dan peringatan yang keras dari Allah
Swt.
2.1. Kezaliman yang besar.
Allah Swt telah memberikan peringatan kepada manusia bahwa apa yang mereka
kerjakan daripada amalan-amalan syirik, itu merupakan perbuatan zalim yang besar tidak
ada keampunan daripada Allah Swt. Oleh itu insan perlu menjauni bahaya syirik ini
untuk mendapatkan keridhaanNya.
Dalil:
· Q.31: 13, Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia
memberi nasihat kepadanya: “Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau
mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu
adalah satu kezaliman yang besar”.
2.2. Tidak Mendapat Keampunan.
Manusia bersifat pelupa senantiasa dibukakan pintu keampunan oleh Allah yang bersifat
Maha Pengampun dan Maha Pemurah. Tetapi di dalam masalah syirik ini, Allah tidak
memberikan pengampunan kepada sesiapa yang mensyirikkan Allah.
Dalil:

54
· Q.4: 48, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syirik
mempersekutukanNya (dengan sesuatu apajua), dan akan mengampunkan dosa yang lain
dari itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya). Dan sesiapa
yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah
melakukan dosa yang besar.
· Q.4: 116, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang
mempersekutukan Nya dengan sesuatu (apajua), dan akan mengampunkan yang lain
daripada kesalahan (syirik) itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya (menurut peraturan
hukum-hukumNya), dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu (apajua),
maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh.
2.3. Dosa Yang Besar.
Amalan syirik adalah tergolong di dalam dosa-dosa besar yang telah ditegaskan dengan
jelas oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Saw.
Dalil:
· Q.4: 48, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syirik
mempersekutukanNya (dengan sesuatu apajua) dan akan mengampunkan dosa yang lain
dari itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya). Dan sesiapa
yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah
melakukan dosa yang besar.
2.4. Kesesatan Yang Jauh.
Apabila manusia mensyirikkan Allah dengan sesuatu yang lain, maka manusia itu telah
berada jauh dari petunjuk yang sebenar dan suasana itu adalah kesesatan yang amat jauh.
Bila berterusan dalam suasana itu semakin jauh mereka diseret oleh syaitan dan semakin
gelas mereka dari panduan yang sebenar.
Dalil:
· Q.4: 60, Tidakkah engkau (harian) melihat (wahai Muhammad) orang-orang
(munafik) yang mendakwa bahwa mereka telah beriman kepada Al-Qur’an yang telah
diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang telah diturunkan dahulu
daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada Thagut, padahal mereka telah
diperintahkan supaya kufur ingkar kepada Thagut itu. Dan Syaitan pula senantiasa
hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
· Q.4: 116, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang
mempersekutui Nya dengan sesuatu (apajua), dan akan mengampunkan yang lain
daripada kesalahan (syirik) itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya (menurut peraturan
hukum-hukumNya), dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu (apajua),
maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh.
2.5. Diharamkan Syurga.
Allah Swt telah berjanji bahwa sesiapa yang mempersekutukanNya dengan sesuatu yang
lain maka diharamkan untuknya syurga Allah.
Dalil:
· Q.5: 72, Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:
“Bahwasanya Allah ialah Al Masih Ibni Maryam”. Padahal Al Masih sendiri berkata:
“Wahai Bani Israil ! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu, bahwasanya sesiapa
yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, maka sesungguhnya Allah
haramkan kepadanya Syurga dan tempat kembalinya ialah neraka, dan tiadalah seorang
penolongpun bagi orang-orang yang berlaku zalim”.
2.6. Masuk Neraka.

55
Bukan saja diharamkan syurga bagi mereka yang mempersekutukan Allah, bahkan
pastinya mereka ditempatkan oleh Allah di dalam neraka jahanam.
Dalil:
· Q.5: 72, Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:
“Bahwasanya Allah ialah Al Masih Ibni Maryam”. Padahal Al Masih sendiri berkata:
“Wahai Bani Israil ! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu, bahwasanya sesiapa
yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, maka sesungguhnya Allah
haramkan kepadanya Syurga dan tempat kembalinya ialah neraka, dan tiadalah seorang
penolongpun bagi orang-orang yang berlaku zalim”.
2.7. Dihapuskan Amal.
Mereka yang mempersekutukan Allah berada di dalam kerugian karena hitungan amal-
amal kebaikan yang mereka kerjakan selama ini akan terhapus dengan karena mereka
mensyirikkan Allah.
Dalil:
· Q.39: 65, Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad)
dan kepada Nabi-nabi yang terdahulu daripadamu: “Demi sesungguhnya, jika engkau
(dan pengikut-pengikutmu) mempersekutukan (sesuatu yang lain dengan Allah) tentulah
akan gugur amalmu dan engkau akan tetap menjadi dari orang-orang yang rugi”.
· Q.6: 88, Yang demikian itu ialah petunjuk Allah, yang dengannya Ia memimpin
sesiapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, dan kalau mereka sekutukan (Allah
dengan sesuatu yang lain) niscaya gugurlah dari mereka, apa yang mereka telah lakukan
(dari amal-amal yang baik).
B-6. AL HAYAT FI ZILALI TAUHID
Sasaran
1. Memahami ruang pembahasan dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan
sesuai dengan manhaj salafus soleh.
2. Memahami empat bentuk tauhidullah yang menjadi misi ajaran Islam di dalam
Al-Qur’an maupun sunnah asma wa sifat, rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.
3. Memahami dan termotivasi untuk melaksanakan sikap yang menjadi tuntutan
utama dari setiap empat tauhid tersebut.
Sinopsis
Kehidupan di bawah bayangan tauhid merupakan kehidupan yang dilalui oleh generasi
pertama dibawah bimbingan Rasulullah Saw. Untuk kita memastikan generasi ini
mempunyai kekuatan bermodelkan pimpinan Rasulullah, maka perkara pertama mestilah
dipastikan persoalan tauhid ini cukup jelas dan serasi dengan manhaj yang dipakai oleh
salafus soleh. Jelas tentang zat Allah, sifat-sifatNya, Asma’Nya dan juga Af’alNya. Dari
kejelasan ini membentuk tauhid yang jelas terhadap Allah dari segi asma dan sifat,
rububiyah, mulukiyah dan juga uluhiyah Allah. Kesemua ini dirangkumkan di dalam
kata syahadat Laa ilaha illa Allah. Dari sini terbentuk hubungan yang murni dan penuh
kecintaan dengan Allah, Allah sebagai Rabb yang dijadikan pergantungan, Allah sebagai
raja yang ditaati sepenuhnya dan akhirnya sebagai Ilah yang diabdikan diri kepadanya.
Dalam konsep-konsep seperti inilah terbentuknya kehidupan yang baik seperti yang
digarapkan oleh Rasulullah Saw.
1. Allah.
Perbahasan tentang ketuhanan Allah Swt terbahagi kepada beberapa bahagian
diantaranya ialah zat, sifat, asma’ dan af’al Allah. Disamping itu bagaimana hubungan
antara hamba dengan Tuhannya.
1.1. Zat.

56
Zat Allah Swt adalah lebih besar dari apa yang dapat ditanggapi oleh pemikiran manusia
karena akal dan pemikiran manusia amat terhad dan terbatas. Banyak contoh yang
manusia dapat memanfaatkan sesuatu tetapi tidak tahu bagaimanakah hakikat sesuatu
bahkan mengetahuinya tidak membawa apa-apa faedah itu seperti hakikat aliran elektrik
dan magnet. Cukup hanya kita mengetahui ciri-ciri khususnya yang boleh memberikan
manfaat kepada kita. Kalau kita perbahaskan sesuatu yang tidak kita ketahui, kalam dan
ungkapan kita boleh membawa fitnah kepada diri kita sendiri. Oleh itu Rasulullah Saw
menegah daripada kita berfikir tentang zat Allah.
Dalil:
· Q.42: 11, Dia lah yang menciptakan langit dan bumi, Ia menjadikan bagi kamu
pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan dari jenis binatang-binatang
ternak pasangan-pasangan (bagi binatang-binatang itu), dengan jalan yang demikian
dikembangkan Nya (zuriat keturunan) kamu semua. Tiada sesuatupun yang sebanding
dengan (ZatNya, sifat-sifatNya dan pentadbiranNya) dan Dia lah Yang Maha
Mendengar, lagi Maha Melihat.
· Q.6: 103, Ia tidak dapat dilihat dan diliputi oleh penglihatan mata, sedang Ia
dapat melihat (dan mengetahui hakikat) segala penglihatan (mata), dan Dia lah Yang
Maha Halus (melayan hamba-hambaNya dengan belas kasihan), lagi Maha Mendalam
pengetahuanNya.
1.2. Sifat.
Apabila kita memerhati mahluk-mahluk yang ada di sekeliling kita termasuk diri kita
sendiri, kita dapati ia merupakan ciptaan yang begitu unik dengan susunan dan sistem-
sistem yang berjalan dengan teratur, ikatan antara satu sama lain begitu efektif dan
sebagainya itu semua akan membawa kepada kita isyarat bahwa Pencipta dan Pentadbir
alam ini pastinya dengan yakin memiliki seluruh sifat-sifat kekurangan. Al-Qur’an
menyebut sesetengah sifat yang wajib bagi Allah yang menyempurnakan uluhiyahnya.
Dalil:
· Q.7: 180, Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka
serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah
orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya.
Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.
· Q.17: 110, Katakanlah (wahai Muhammad): “Serulah nama “Allah” atau nama
“Ar Rahman”, yang mana saja kamu serukan (dari kedua-dua itu adalah baik belaka),
karena Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia”. Dan janganlah
engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau
perlahankannya, dan gunakanlah saja satu cara yang sederhana antara itu.
1.3. Asma.
Allah Swt telah memperkenalkan dirinya kepada mahluk-mahluknya dengan beberapa
nama dan sifat yang layak dengan Keagungan dan KehebatanNya. Sebaik-baiknya
seorang mukmin itu menghafalnya karena padanya ada keberkatan, baik untuk diingati
dan membesarkan kedudukanNya.
Dalil:
· Hadits, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA katanya, sabda Rasulullah Saw: Bagi
Allah itu sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu, tidaklah seseorang itu
menghafalnya melainkan masuk syurga. Allah itu witir sukakan yang witir.
· Q.7: 180, Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka
serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah

57
orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya.
Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.
1.4. Af’al.
Allah Swt berkuasa melakukan apa yang Dia kehendaki dan tidak ada sesiapapun yang
berhak bertanya dan persoalkan apa yang Allah kehendaki bahkan perbuatan manusia
yang akan dipersoalkan oleh Allah. Jika Allah menghendaki kebaikan maka tidak siapa
yang boleh menghalang dan begitu juga jika Allah menghendaki kemudaratan tidak ada
siapa yang boleh menghalangnya.
Dalil:
· Q.85: 16, Yang berkuasa melakukan segala yang dikehendakinya.
· Q.21: 23, Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah
yang akan ditanya kelak.
2. Macam-Macam Tauhid.
Perbahasan tentang Allah Swt adalah perbahasan untuk mentauhidkan Allah pada asma,
sifat, af’al, rububiyah dan uluhiyahNya.
2.1. Asma dan Sifat.
Mengesakan hanya kepada Allah yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan
mutlak. Tidak ada sembarang kekurangan dan kecacatan pada Allah.
Dalil:
· Q.1: 1, Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
2.2. Rububiyah.
Kalimah Rabb itu membawa beberapa makna antaranya ialah Tuan, Pemilik sesuatu,
yang Mengadakan sesuatu, yang Mengurus sesuatu, yang Mendidik yang lain, yang
Menjamin kepentingan manusia. Kesemua pengertian ini tidak dimiliki secara hakikat
dan sempurnanya melainkan Allah Swt. Adapun yang lain itu adalah marbub dan
mahluk.
Dalil:
· Q.1: 2, Segala puji tertentu pagi Allah, Tuhan yang memelihara dan
mentadbirkan sekalian alam.
· Q.114: 1, Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada (Allah)
pemelihara sekalian manusia”.
· Q.7: 54, Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, lalu Ia bersemayam diatas Arasy. Ia melindungi malam dengan
siang yang mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang menciptakan)
matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintahNya.
Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian mahluk) dan urusan
pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.
2.3. Mulkiyah.
Tauhid mulkiyah adalah mengesakan hanya kepada Allah yang memiliki kuasa
pemerintahan yang sebenarnya di langit dan di bumi dan atas setiap segala sesuatu.
Dalil:
· Q.3: 26, Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa
pemerintahan. Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang
Engkau kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan sesiapa yang Engkau kehendaki
dan Engkaulah yang menghina sesiapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan
Engkaulah saja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-
tiap sesuatu.

58
· Q.3: 189, Dan bagi Allah jualah kuasa pemerintah langit dan bumi dan Allah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
· Q.62: 2, Dia lah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (Arab)
yang Ummiyyin, seorang Rasul (Nabi Muhammad Saw) dari bangsa mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah
dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta
mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam
mengenai hukum-hukum syarak). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi
Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata.
2.4. Uluhiyah.
Kalimah Ilah berarti yang disembah samada secara haq maupun batil. Maka tauhid
uluhiyah membawa arti memberikan hak penyembahan dan pengabdian diri semata-mata
kepada Allah Swt. Ibadah kepada Allah ini berasaskan kasih sayang sepenuhnya kepada
Allah dan ketundukan mutlak hanya kepada Allah.
Dalil:
· Q.1: 5, Engkaulah saja (Ya Allah) Yang Kami sembah dan kepada Engkaulah
saja kami memohon pertolongan.
· Q.114: 3, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia.
3. Terangkum Dalam Kalimat Laa Ilaha illa Allah.
Keempat-empat tauhid tersebut (asma wa sifat, rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah)
adalah merupakan inti kepada tuntutan yang terkandung di dalam syahadat Laa ilaha illa
Allah. Dengan tauhid ini, maka terbentuk hubungan yang khusus di antara manusia
dengan Allah Swt.
3.1. Allah sebagai Kecintaan.
Hubungan orang-orang yang beriman dengan Allah adalah hubungan kecintaan karena
Allah memiliki sifat penyayang dan pengasih yang sempurna. Allah memiliki segala
kesempurnaan maka paling layaklah Allah dicintai dan dikasihi.
Dalil:
· Q.2: 165, (Walaupun demikian), ada juga diantara manusia yang mengambil
selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja
dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah, sedang orang-orang yang
beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan
kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak,
bahwa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan
bahwa sesungguhnya Allah Maha berat azab siksaNya, (niscaya mereka tidak melakukan
kezaliman itu).
· Q.8: 2, Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya)
ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka
bertambah iman dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.
3.2. Rabb yang Dimaksudkan.
Allah menjadikan manusia adalah supaya manusia mengabdikan dirinya kepada Allah.
Oleh karena itu seluruh hidup adalah untuk Allah. Allah menjadi matlamat dan
pengharapan kita.
Dalil:
· Q.6: 162, Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.
3.3. Raja yang Ditaati.

59
Mukmin yang memahami tuntutan Laa ilaha illa Allah dan mencapai tauhid ini
senantiasa merasakan bahwa Allah adalah penguasa hakiki yang wajib ditaati
sepenuhnya.
Dalil:
· Q.4: 59, Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah
kamu kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri (orang-orang yang berkuasa) dari
kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisih) dalam suatu perkara,
maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Qur’an) dan
(Sunnah) RasulNya, jika kamu benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Yang
demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.
3.4. Ilah yang Diabdi.
Mukmin yang memahami tuntutan tauhid ini juga meyakini bahwasanya tidak ada lagi
dalam alam ini suatu ilah yang lain selain Allah karena Dialah yang memiliki seluruh
kesempurnaan dan kehebatan.
Dalil:
· Q.51: 56, Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu.
4. Tercapai Kehidupan Yang Baik.
Bersandarkan tauhid kepada Allah dalam semua aspek-aspek yang telah disebutkan di
atas maka seorang mukmin itu berada di atas landasan yang benar dan sebenar serasi
dengan tuntutan aturan semula jadi alam yang telah ditentukan oleh Allah. Hidupnya
membawa kebaikan kepada alam sejagat dan mahluk-mahluk yang lain bahkan Allah
sendiri menjanjikan balasan kepada mereka dengan kehidupan yang baik dan ganjaran
yang tinggi.
Dalil:
· Q.16: 97, Sesiapa yang beramal soleh dari lelaki atau perempuan sedang ia
beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang
baik, dan sesungguhnya kami akan membalas mereka dengan memberikan pahala yang
lebih baik dari apa yang mereka telah kerjakan.
B-7. MAANI LAA ILAHA ILLA ALLAH
Sasaran
1. Memahami pengertian Laa ilaha illa Allah secara benar, jelas dan menyeluruh.
2. Tertanamnya keyakinan yang kuat terhadap Allah sehingga terlepas dari
ketergantungan kepada selainNya.
3. Termotivasi untuk mewujudkan akhlak yang sesuai dengan pemahaman ini.
Sinopsis
Dalam ucapan syahadat yang kita ungkapkan terkandung beberapa pasal yang sering
dibincangkan. Antaranya ialah kalimah (Laa) yang menafikan langsung ketuhanan dan
ciri-ciri ketuhanan segala sesuatu yang wujud di atas alam ini dalam apa juga rupa
melainkan ketuhanan Allah Swt dengan segala kesempurnaannya. Penafian yang
melibatkan segala sifat-sifat ini adalah sebagai membersihkan tapak kesempurnaannya.
Penafian yang melibatkan segala sifat-sifat ini adalah sebagai membersihkan tapak
akidah dari segala syubhat ketuhanan selain dari Allah. Tujuannya ialah menta’kidkan
bahwa segala-gala arti dan hakikat ketuhanan itu hanyalah ada pada Allah. Dari sini
binaan akidah menjadi jelas kepada mukmin.
1. Tiada Ilah selain Allah.

60
Menafikan seluruh ketuhanan pada yang lain selain Allah. Menafikan kesempurnaan
mereka dan menafikan hak pengabdian selain dari Allah. Mengitsbatkan keesaan dan
kesempurnaan semata-mata.
2. Tiada Khalik selain Allah.
Dalil:
· Q.25: 2, Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi dan yang tidak
mempunyai anak, serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahanNya, dan
Dia lah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan mahluk-mahluk itu
dengan ketentuan takdir yang sempurna.
3. Tiada Pemberi Rizki selain Allah.
Dalil:
· Q.51: 57-58, Aku tidak sekali-kali menghendaki sembarang rizki pemberian dari
mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu.
Sesungguhnya Allah Dia lah saja Yang Memberi Rizki (kepada sekalian mahlukNya, dan
Dia lah saja) Yang Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kuat
Kukuh kekuasaanNya.
4. Tiada Pemilik selain Allah.
Dalil:
· Q.4: 131-132, Dan bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di
bumi, dan demi sesungguhnya, Kami telah perintahkan orang-orang yang diberi Kitab
dahulu daripada kamu, dan juga (perintahkan) kamu, yaitu hendaklah bertakwa kepada
Allah, dan jika kamu kufur ingkar, maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah jualah yang
memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan (ingatlah) adalah Allah
Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. Dan bagi Allah jualah apa yang ada di langit dan yang
ada di bumi, dan cukuplah Allah sebagai Pengawal (yang mentadbirkan dan menguasai
segala-galanya).
5. Tiada Raja/Tiada Kerajaan selain untuk Allah.
Dalil:
· Q.62: 1, Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi senantiasa mengucap
tasbih kepada Allah Yang Menguasai (sekalian alam), Yang Maha Suci, Yang Maha
Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
· Q.36: 83, Oleh itu akuilah kesucian Allah (dengan mengucap subhaanallah),
Tuhan yang memiliki dan menguasai tiap-tiap sesuatu, dan kepadaNyalah kamu semua
dikembalikan.
· Q.67: 1, Maha Berkat (serta Maha Tinggilah kelebihan) Tuhan yang menguasai
pemerintahan (dunia dan akhirat), dan memanglah Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
· Q.3: 189, Dan bagi Allah jualah kuasa pemerintah langit dan bumi, dan Allah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
6. Tiada Pembuat Hukum selain Allah.
Dalil:
· Q.12: 40, Apa yang kamu sembah, yang selain dari Allah, hanyalah nama-nama
yang kamu menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah
menurunkan sembarang bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang
menentukan amal ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.
· Q.6: 114, (Katakanlah wahai Muhammad): “Patutkah aku (terpedaya dengan
kata-kata dusta syaitan-syaitan itu sehingga aku) hendak mencari hakim selain dari Allah,

61
padahal Dia lah yang menurunkan kepada kamu kitab Al-Qur’an yang jelas nyata
kandungannya satu-persatu (tentang yang benar dan yang salah)?”. Dan orang-orang
yang Kami berikan kitab, mengetahui bahwa Al-Qur’an itu adalah diturunkan dari
Tuhanmu dengan sebenar-benarnya. Oleh itu, janganlah sekali-kali engkau menjadi
(salah seorang) dari golongan yang ragu-ragu.
· Q.33: 36, Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu
perkara (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai
urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka
sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata.
· Q.28: 68, Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya, dan
Dia lah juga yang memilih (satu-satu dari mahlukNya untuk sesuatu tugas atau
keutamaan dan kemuliaan), tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi sesiapapun memilih
(selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaanNya dari apa
yang mereka sekutukan denganNya.
· Q.45: 18, Kesudahannya Kami jadikan engkau (wahai Muhammad dan utuskan
engkau) menjalankan satu Syariat (yang cukup lengkap) dari hukum-hukum agama,
maka turutlah Syariat itu, dan janganlah engkau menurut hawa nafsu orang-orang yang
tidak mengetahui (perkara yang benar).
· Q.42: 20, Sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) mendapat faedah
di akhirat, Kami akan memberinya mendapat tambahan pada faedah yang
dikehendakinya, dan sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) kebaikan di
dunia semata-mata, Kami beri kepadanya dari kebaikan dunia itu (sekedar yang Kami
tentukan), dan ia tidak akan beroleh sesuatu bahagianpun di akhirat kelak.
· Q.6: 137, Dan demikianlah juga (jahatnya) ketua-ketua yang orang-orang
musyrik itu jadikan sekutu bagi Allah, menghasut kebanyakan dari mereka dengan kata-
kata indah yang memperlihatkan eloknya perbuatan membunuh anak-anak mereka, untuk
membinasakan mereka, dan untuk mengelirukan mereka mengenai agama mereka. Dan
kalau Allah kehendaki, niscaya mereka tidak melakukannya. Oleh itu biarkanlah mereka
dan apa yang mereka ada-adakan itu.
7. Tiada Pemerintah selain Allah.
Dalil:
· Q.7: 54, Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa lalu. Ia bersemayam di atas Arasy, Ia melindungi malam dengan
siang yang mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang menciptakan)
matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintahNya.
Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian mahluk) dan urusan
pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.
8. Tiada Pemimpin selain Allah.
Dalil:
· Q.2: 257, Allah pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang yang
beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan
orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah thagut yang mengeluarkan
mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka
kekal di dalamnya.
9. Tiada Yang Dicintai selain Allah.
Dalil:

62
· Q.2: 165, (Walaupun demikian), dan juga diantara manusia yang mengambil
selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja
dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah, sedang orang-orang yang
beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan
kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak,
bahwa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan
bahwa sesungguhnya Allah Maha berat azab siksaNya, (niscaya mereka tidak melakukan
kezaliman itu).
10. Tiada Yang Ditakuti selain Allah.
Dalil:
· Q.2: 40, Wahai Bani Israil. Kenangkanlah kamu akan segala nikmat yang telah
Kuberikan kepada kamu, dan sempurnakanlah perjanjian (kamu) denganKu, supaya Aku
sempurnakan perjanjianKu dengan kamu, dan kepada Akulah saja hendaklah kamu
merasa gerun takut (bukan kepada sesuatu yang lain).
· Q.9: 18, Hanyasanya yang layak memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid
Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta
mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah,
(dengan adanya sifat-sifat yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari
golongan yang mendapat petunjuk.
11. Tiada Yang Diharapkan selain Allah.
Dalil:
· Q.94: 8, Dan kepada Tuhanmu saja hendaklah engkau memohon (apa yang
engkau gemar dan ingini).
· Q.18: 110, (Ingatkanlah peristiwa) ketika serombongan orang-orang muda pergi
ke gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami. Kurniakanlah kami rahmat dari sisiMu,
dan berilah kemudahan-kemudahan serta pimpinan kepada kami untuk keselamatan
agama kami”.
12. Tiada Yang Memberi Manfaat atau Mudhorat selain Allah.
Dalil:
· Q.6: 17, Dan jika Allah mengenakan (menimpakan) engkau dengan bahaya
bencana, maka tidak ada sesiapapun yang dapat menghapuskannya melainkan Dia
sendiri, dan jika Ia mengenakan (melimpahkan) engkau dengan kebaikan, maka Ia adalah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
· Hadits.
13. Tiada Yang Menghidupkan atau Mematikan selain Allah.
Dalil:
· Q.2: 258, Tidakkah engkau (pelik) memikirkan (wahai Muhammad) tentang
orang yang berhujah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai
Tuhannya, karena Allah memberikan orang itu kuasa pemerintahan? Ketika Nabi
Ibrahim berkata: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan”. Ia
menjawab: “Aku juga boleh menghidupkan dan mematikan”. Nabi Ibrahim berkata lagi:
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, oleh itu terbitkanlah dia dari
barat?”. Maka tercenganglah orang kafir itu (lalu diam membisu). Dan (ingatlah), Allah
tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.
14. Tiada Yang Mengabulkan Permohonan selain Allah.
Dalil:
· Q.2: 186, Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka
(beritahu kepada mereka), sesungguhnya Aku (Allah) senantiasa hampir (kepada

63
mereka). Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.
Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan
hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.
· Q.40: 60, Dan Tuhan kamu berfirman: “Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku
perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takabur
dari pada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka jahannam dalam keadaan
hina.
15. Tiada Yang Melindungi selain Allah.
Dalil:
· Q.16: 98, Oleh itu apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka hendaklah engkau
terlebih dahulu memohon perlindungan kepada Allah dari hasutan Syaitan yang kena
rejam.
· Q.72: 6, Dan bahwa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang
dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada
ketua-ketua golongan jin, karena dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin
bertambah sombong dan jahat.
16. Tiada Yang Wakil selain Allah.
Dalil:
· Q.3: 159, Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah
(kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka
(sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati,
tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan
yang mereka lakukan terhadap mu), dan mohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu,
kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermusyawarat untuk membuat
sesuatu) maka bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang
yang bertawakal kepadaNya.
· Q.9: 52, Katakanlah: “(Sebenarnya) tidak ada yang kamu tunggu-tunggu untuk
kami melainkan salah satu dari dua perkara yang sebaik-baiknya (yaitu kemenangan atau
mati syahid), dan kami menunggu-nunggu pula untuk kamu bahwa Allah akan
menimpakan kamu dengan azab dari sisiNya, atau dengan perantaraan tangan kami. Oleh
itu tunggulah, sesungguhnya kami juga menunggu-nunggu bersama-sama kamu”.
17. Tiada Daya dan Kekuatan selain Allah.
Dalil:
· Q.6: 17, Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hambaNya (dengan tadbir dan
takdir) dan Dialah Yang Maha Bijaksana serta Amat Mendalam PengetahuanNya.
18. Tiada Yang Agung selain Allah.
19. Tiada Yang Dimohonkan Pertolongannya selain Allah.
Dalil:
· Q.1: 5, Engkaulah saja (ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah saja
kami memohon pertolongan.
B-8.1. MAHABBATULLAH
Sasaran
1. Mengerti perbedaan cinta kepada Allah dengan cinta kepada selainNya serta
menjadikan cinta kepada Allah diatas segala-galanya.
2. Menyadari pentingnya melandasi seluruh aktivitas hidup dengan kecintaan
kepada Allah, Rasul dan perjuangan.

64
3. Merasakan kecintaan Allah pada orang-orang mukmin dan wajibnya mencintai
sesuatu secara minhaji.
Sinopsis
1. Hakikat Cinta.
1.1. Cinta Yang Syarie Dasarnya Iman.
Cinta seorang mukmin itu lahir dari ketulusan imannya kepada Allah Swt, bukan semata-
mata memenuhi runtunan nafsu dan iblis karena iblis membawa manusia kepada
kehancuran sedang Allah mengajak manusia kepada Syurga dan jalan yang lurus.
Dalil:
· Q.3: 15, Katakanlah (wahai Muhammad): “Maukah supaya aku kabarkan kepad
kamu akan yang lebih baik daripada semuanya itu? Yaitu bagi orang-orang yang
bertakwa disediakan disisi Tuhan mereka beberapa Syurga, yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Disediakan juga pasangan-pasangan/isteri-isteri
yang suci bersih, serta (beroleh pula) keridhaan dari Allah”. Dan (ingatlah), Allah
senantiasa Melihat akan hamba-hambaNya.
· Q.52: 21, Dan orang-orang yang beriman yang diturut oleh zuriat keturunannya
dengan keadaan beriman, Kami hubungkan (himpunkan) zuriat keturunannya itu dengan
mereka (di dalam Syurga), dan Kami (dengan itu) tidak mengurangi sedikitpun dari
pahala amal-amal mereka, tiap-tiap seorang manusia terikat dengan amal yang
dikerjakannya.
· Q.3: 170, (Dan juga) mereka bersuka cita dengan kurniaan Allah (balasan mati
syahid) yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mereka bergembira dengan berita
baik mengenai (saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang), yang
masih tinggal di belakang, yang belum (mati dan belum) sampai kepada mereka, (yaitu)
bahwa tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap
mereka, dan mereka pula tidak akan berduka cita.
1.2. Cinta Yang Tidak Syarie Dasarnya Syahwat.
Tanpa sandaran kepada iman dan kecintaan kepada Allah, manusia akan melakukan
sesuatu berdasarkan tuntutan nafsu semata-mata. Oleh itu cinta tanpa iman adalah
memenuhi tuntutan syahwat semata-mata. Ini bukanlah ciri-ciri peribadatan mukmin
yang yakinkan pembalasan Hari Akhirat.
Dalil:
· Q.3: 14, Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia, kesukaan kepada
benda-benda yang diingini nafsu, yaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak, harta
benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak, kuda peliharaan yang
bertanda lagi terlatih, dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman.
Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada
tempat kembali yang sebaik-baiknya (yaitu Syurga).
· Q.80: 34-37, Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya, dan ibu serta bapaknya,
dan isterinya serta anak-anaknya, karena tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu ada
perkara-perkara yang cukup untuk menjadikannya sibuk dengan hal dirinya saja.
· Q.43: 67, Pada hari itu sahabat-sahabat karib setengahnya akan menjadi musuh
kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan
takwa (iman dan amal soleh).
2. Ciri-Ciri Cinta.
2.1. Selalu Teringat-ingat.
Antara alamat cinta sebenar ialah seseorang itu senantiasa mengingati orang yang
dicintainya. Apa juga yang dilakukan mesti dipikirkan apakah manfaat kepada yang

65
dicintai, apakah pandangan yang dicintai dan seterusnya sehingga apa pendirian yang
hendak diambil, mesti mengambil kira orang yang dicintai.
Dalil:
· Q.8: 2, Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya)
ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka
bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.
2.2. Mengkagumi.
Mencintai sesuatu adalah karena ada aspek-aspek yang dikagumi pada orang yang
dicintai. Sama ada karena pemurah atau cantik atau penyayang atau sebagainya.
Begitulah dalam hubungan cinta dengan Allah, kita senantiasa mengkagumi kehebatan
yang Allah miliki.
Dalil:
· Q.1: 1, Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
2.3. Ridha/Rela.
Ciri cinta juga ialah hati kecil kita meridhai kepada orang yang dicintai.
Dalil:
· Q.9: 61, Dan diantara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang
menyakitas Nabi sambil mereka berkata: “Bahwa dia (Nabi Muhammad) orang yang
suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)”. Katakanlah: “Dia
mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya
kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di
antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakitas Rasulullah itu, bagi mereka azab siksa
yang tidak terperi sakitnya.
2.4. Siap Berkorban.
Dalil:
· Q.2: 207, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah semata-mata dan Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.
2.5. Takut.
Dalil:
· Q.21: 90, Maka Kami perkenankan doanya, dan Kami kurniakan kepadanya
(anaknya) Yahya dan Kami perelokkan keadaan isterinya yang mandul (untuk
melahirkan anak) baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada Rasul-rasul itu ialah
karena) sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan
dan senantiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka
pula senantiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.
2.6. Mengharap.
Dalil:
· Q.21: 90, Maka Kami perkenankan doanya dan Kami kurniakan kepadanya
(anaknya) Yahya dan Kami perelokkan keadaan isterinya yang mandul (untuk
melahirkan anak) baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada Rasul-rasul itu ialah
karena) sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan
dan senantiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta gerun takut, dan mereka
pula senantiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.
2.7. Mentaati.
Dalil:
· Q.4: 80, Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat
kepada Allah dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka (janganlah engkau berduka cita

66
wahai Muhammad), karena Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pengawal (yang
memelihara mereka dari melakukan kesalahan).
3. Hal ini Didapati Pada Manusia Dalam Mencintai Allah atau Mencintai Selain
Allah.
B-8.2. MARATIBUL MAHABBAH
Sinopsis
1. Hubungan hati - hanya dengan benda-benda - utk memanfaatkan
2. Rasa simpati - pada masa umumnya - utk
didakwahi
3. Curahan hati - untuk kaum muslimin umumnya - utk
persaudaraan Islam
4. Rasa rindu - dgn mukminin (keluarga/jamaah) - utk saling
kasih berkasih/cinta
5. Mesra - dgn Rasulullah dan Islam - utk diikuti
6. Tatayyum (cinta menghamba) - hanya dengan Allah - utk
menyembah/mengabdi diri
B-8.3. LAWAZIM AL-MAHABBAH
Sinopsis
1. Peringkat Cinta
2. Mencintai siapa-siapa yang dicintai kekasih
3. Mencintai apa saja yang dicintai kekasih
4. Menghasilkan wala’
5. Membenci siapa saja yang dibenci kekasih
6. Membenci apa saja yang dibenci kekasih
B-9. MA’iYYATULLAH
Sasaran
1. Menyadari adanya pengawasan dan kesertaan Allah dalam seluruh aktivitas
hidupnya.
2. Termotivasi untuk meningkatkan iman dan amal soleh karena mengharapkan
dukungan Allah.
3. Menyadari bahwa perjuangan tidak akan mencapai kejayaan tanpa dukungan
Allah.
Sinopsis
1. Kesertaan Allah Umum (mutlak) Baik Kepada Mukminin Maupun Kafir.
Kita meyakini bahwa Allah Swt senantiasa melihat dan tahu segala perkara yang terang
maupun yang tersembunyi. Kesertaan Allah secara umum ini meliputi semua mahluk
baik yang beriman maupun yang kafir.
Dalil:
· Q.57: 4, Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
kemudian Ia bersemayam di atas Arasy. Ia mengetahui apa yang masuk ke bumi serta apa
yang keluar dari padanya, dan apa yang diturunkan dari langir serta apa yang naik
padanya. Dan Ia tetap bersama-sama kamu dimana saja kamu berada, dan Allah Maha
Melihat akan apa yang kamu kerjakan.
· Q.58: 7, Tidakkah engkau memikirkan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui
segala yang ada di langit dan yang ada di bumi? Tiada berlaku bisikan antara tiga orang
melainkan Dialah yang keempatnya dan tiada (berlaku antara) lima orang melainkan
Dialah yang keenamnya, dan tiada yang kurang dari bilangan itu dan tiada yang lebih
ramai, melainkan Ia ada bersama-sama mereka dimana saja mereka berada. Kemudian Ia

67
akan memberitahu kepada mereka pada hari kiamat apa yang mereka telah kerjakan.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
· Q.58: 11, Wahai orang-orang yang beriman. Apabila diminta kepada kamu
memberi lapang dari tempat duduk kamu (untuk orang lain) maka lapangkanlah seboleh-
bolehnya supaya Allah melapangkan (segala halnya) untuk kamu. Dan apabila diminta
kamu bangun maka bangunlah, supaya Allah meninggikan derajat orang-orang yang
beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agama (dari
kalangan kamu) beberapa derajat. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam
PengetahuanNya tentang apa yang kamu lakukan.
2. Mukmin.
1.6. Pengawasan Allah.
Dalil:
· Q.50: 16-18, Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami
sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih
dekat kepada nya daripada urat lehernya. Semasa dua malaikat (yang mengawal dan
menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya, yang satu duduk
disebelah kanannya, dan yang satu lagi disebelah kirinya. Tidak ada sembarang perkataan
yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada disisinya
malaikat pengawas yang senantiasa sedia (menerima dan menulisnya).
· Q.89: 14, Sesungguhnya Tuhanmu tetap mengawas dan membalas (terutama
balasan akhirat).
· Q.2: 284, Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan
Allah. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan menghitung dan menyatakannya kepada kamu.
Kemudian Ia mengampunkan bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan menyiksa sesiapa
yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya). Dan (ingatlah), Allah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
1.7. Kebaikan Allah.
Dalil:
· Q.28: 77, Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah
kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan
bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia, dan berbuat baiklah (kepada hamba-
hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya
yang melimpah-limpah), dan janganlah engkau melakukan kerusakan dimuka bumi,
sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan.
· Q.31: 20, Dan datanglah seorang lelaki dari hujung bandar itu dengan berlari,
(lalu menyampai kan berita) dengan berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya pegawai-
pegawai Fir’aun sedang mengadakan pakatan terhadapmu, mereka hendak
membunuhmu, oleh itu pergilah dari sini, sesungguhnya aku adalah pemberi nasihat
secara ikhlas kepadamu”.
3. Kesertaan Allah Khusus (bersyarat).
Dalil:
· Q.26: 62, Nabi Musa menjawab: “Tidak ! Jangan fikir (akan berlaku yang
demikian). Sesungguhnya aku senantiasa disertai oleh Tuhanku (dengan pemeliharaan
dan pertolongan Nya), Ia akan menunjuk jalan kepadaku”.
· Q.9: 40, Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya
Allah telahpun menolongnya, yaitu ketika kaum kafir (di Mekah) mengeluarkannya (dari
negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung

68
di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berduka cita,
sesungguhnya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram
kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentara (malaikat) yang
kamu tidak melihatnya. Dan Allah menjadikan (syirik) orang-orang kafir terkebawah
(kalah dengan sehina-hinanya), dan kalimah Allah (Islam) ialah yang tertinggi (selama-
lamanya), karena Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

3.1. Iman.
Dalil:
· Q.16: 128, Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambaNya (Muhammad)
pada malam hari dari Masjid Al-Haraam (di Makkah) ke Masjid Al Aqsa (di Palestin),
yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda
(kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.
3.2. Amal Soleh.
Dalil:
· Q.47: 7, Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (agama) Allah
niscaya Allah membela kamu (untuk mencapai kemenangan) dan meneguhkan tapak
pendirian kamu.
· Q.8: 10, Dan Allah tidak menjadikan (bantuan malaikat) itu melainkan sebagai
berita gembira dan supaya hati kamu tenang tenteram dengannya. Dan kemenangan itu
pula hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
3.3. Dukungan Allah.
Dalil:
· Q.8: 9, (Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan kamu, lalu Ia
perkenankan permohonan kamu (dengan firmanNya): “Sesungguhnya Aku akan
membantu kamu dengan seribu (bala tentara) dari malaikat yang datang berturut-turut.
· Q.3: 125, Bahkan (mencukupi. Dalam pada itu) jika kamu bersabar dan bertakwa,
dan mereka (musuh) datang menyerang kamu dengan serta merta, niscaya Allah
membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang bertanda masing-masing.
· Q.3: 168, Merekalah juga yang mengatakan tentang hal saudara-saudaranya (yang
telah terbunuh di medan perang Uhud), sedang mereka sendiri tidak turut berperang:
“Kalaulah mereka taatkan kami (turut menarik diri) tentulah mereka tidak terbunuh”.
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika demikian, hindarkanlah maut dari diri kamu, jika
betul kamu orang-orang yang benar”.
3.4. Mencapai Kejayaan.
Dalil:
· Q.3: 185, Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahwasanya pada hari
kiamat sajalah akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke syurga maka sesungguhnya ia telah berjaya. Dan (ingatlah
bahwa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat
kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.
4. Kafir.
4.1. Mengingkari Nikmat Allah.
Dalil:
· Q.16: 83, Mereka mengetahui nikmat Allah (yang melimpah-limpah itu),
kemudian mereka tergamak mengingkarinya dan kebanyakan mereka pula ialah orang-
orang yang kufur ingkar.

69
4.2. Lalai.
Dalil:
· Q.7: 179, Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin
dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat
Allah) dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan
Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan
nasihat), mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka
itulah orang-orang yang lalai.
· Q.18: 28, (Yaitu) mereka yang diambil nyawanya oleh malaikat dalam keadaan
mereka menganiaya diri sendiri (dengan kekufurannya). Lalu mereka tunduk menyerah
(ketika melihat azab sambil berkata): “Kami tiada melakukan sesuatu kejahatan”.
(Malaikat menjawab): “Bahkan (kamu ada melakukannya), sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui akan apa yang kamu telah kerjakan”.
4.3. Akibatnya Bermaksiat Kepada Allah.
B-10. AL-IHSAN
Sasaran
1. Memahami komitmen moral, operasional dan kualitas operasional dalam Islam.
2. Termotivasi untuk berniat dan beramal secara ihsan berdasarkan keyakinan
adanya kesertaan Allah dan pengawasannya.
3. Menyadari nilai kasih sayang, pahala dan pertolongan Allah yang dituju oleh
setiap muslim dalam berjihad.
Sinopsis
1. Pengawasan Allah.
Dalil:
· Q.50: 16-18, Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami
sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih
dekat kepadanya daripada urat lehernya. Semasa dua malaikat (yang mengawal dan
menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya, yang satu duduk
di sebelah kanan nya, dan yang satu lagi disebelah kirinya. Tidak ada sembarang
perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada
disisinya malaikat pengawas yang senantiasa sedia (menerima dan menulisnya).
· Q.80: 14, Yang tinggi derajatnya lagi suci (dari segala gangguan).
· Q.2: 284, Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan
Allah. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan menghitung dan menyatakannya kepada kamu.
Kemudian Ia mengampunkan bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan menyiksa sesiapa
yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya). Dan (ingatlah), Allah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
2. Kebaikan Allah.
Dalil:
· Q.28: 77, Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah
kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan
bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia dan berbuat baiklah (kepada hamba-
hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya
yang melimpah-limpah) dan janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi,
sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan.
· Q.1: 3, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.

70
· Q.2: 29, Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi,
kemudian Ia menuju dengan kehendakNya kearah (bahan-bahan) langit, lalu
dijadikannya tujuh langit dengan sempurna dan Ia Maha Mengetahui akan tiap-tiap
sesuatu.
· Q.31: 20, Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah memudahkan untuk
kegunaan kamu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan telah melimpahkan
kepada kami nikmat-nikmatNya yang zahir dan yang bathin. Dalam pada itu ada diantara
manusia orang yang membantah mengenai (sifat-sifat) Allah dengan tidak berdasarkan
sembarang pengetahuan atau sembarang petunjuk dan tidak juga berdasarkan nama-nama
Kitab Allah yang menerangi kebenaran.
3. Niat Yang Ihsan.
Dalil:
· Q.2: 207, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah semata-mata dan Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.
4. Niat Yang Ikhlas.
Dalil:
· Q.98: 5, Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah
dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid dan supaya
mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan demikian itulah agama yang
benar.
5. Pekerjaan Yang Tertib dan Penyelesaian Yang Baik.
6. Amal Yang Ihsan.
7. Kecintaan Dari Allah.
Dalil:
· Q.2: 195, Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) karena (menegakkan)
agama Allah, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya
kebinasaan (dengan bersikap bakhil), dan baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha
dan) perbuatan kamu, karena sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha
memperbaiki amalannya.
· Q.3: 134, Yaitu orang-orang yang mendermakan hartanya pada masa senang dan
susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan orang-orang yang memaafkan
kesalahan orang. Dan (ingatlah) Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-
perkara yang baik.
· Q.3: 148, Oleh itu, Allah memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan
nama yang harum) dan pahala akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat Surga yang tidak ada
bandingannya). Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat
kebaikan.
8. Pahala Dari Allah.
Dalil:
· Q.3: 148, Oleh itu Allah memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan
nama yang harum) dan pahala akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat Surga yang tidak ada
bandingannya). Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat
kebaikan.
· Q.16: 97, Sesiapa yang beramal soleh dari lelaki atau perempuan sedang ia
beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang
baik, dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang
lebih dari apa yang mereka telah kerjakan.
9. Pertolongan Allah.

71
Dalil:
· Q.16: 128, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa, dan orang-
orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
· Q.29: 69, Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena
memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-
jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan), dan
sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang yang
berusaha memperbaiki amalannya.
B-11. ILMU ALLAH
Sasaran
1. Memahami bahwa Allah adalah sumber ilmu dan pengetahuan.
2. Menyadari bahwa Allah memberikan ilmu tersebut melalui dua jalan yang
membentuk dua fungsi: pedoman hidup dan juga sarana hidup.
3. Menyadari kepentingan kedua bentuk ilmu Allah dalam pengabdian kepada Allah
untuk mencapai takwa.
Sinopsis
Allah Swt telah mencipta dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem
yang menyeluruh. Antara satu sama lain ada perkaitan dan manfaatnya yang tersendiri.
Allah yang menjadikan semua isi alam ini dan Dialah Yang Maha Mengetahui segala
perkara dari sekecil-kecil sehinggalah ke sebesar-besarnya. Oleh itu Allah menjadi
sumber ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya. Allah mengajar manusia dengan ilmu-
ilmunya menerusi secara formal yaitu wahyu dan tidak formal yaitu menerusi ilham.
Secara formal menerusi wahyu diturunkan kepada Rasul secara ayat qauliyah yang
menjadi panduan dan manhaj kepada kehidupan manusia. Itu merupakan kebenaran yang
mutlak dari Allah untuk manusia. Manakala secara tidak formal dilakukan menerusi
ilham secara langsung menerusi tafakkur, tadabbur dan penelitian terhadap alam. Ini
adalah dalam rangka bagaimana manusia mempergunakan sarana alam untuk kemudahan
kehidupan mereka. Ia merupakan kebenaran dari pengalaman-pengalaman yang dilalui
oleh manusia. Kedua-dua cara ini penting bagi manusia dalam rangka mengabdikan diri
kepada Allah dan bertakwa.
1. Allah.
1.1. Yang Maha Pencipta.
Dalil:
· Q.25: 2, Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi, dan yang tidak
mempunyai anak serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahanNya, dan
Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan mahluk-mahluk itu
dengan ketentuan takdir yang sempurna.
2.2. Yang Maha Bijaksana.
Dalil:
· Q.67: 14, Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian mahluk itu mengetahui
(segala-galanya)? Sedang Ia Maha Halus urusan pentadbiranNya lagi Maha Mendalam
Pengetahuan Nya.
2. Jalan Formal.
2.1. Dengan Wahyu.
· Secara resminya ilmu Allah kepada mahluk adalah menerusi wahyu kepada para
Rasul alaihissalam.
Dalil:

72
· Q.3: 38, Ketika itu Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhannya, katanya: “Wahai
Tuhanku. Kuniakanlah kepadaku dari sisiMu zuriat keturunan yang baik, sesungguhnya
Engkau senantiasa Mendengar (menerima) doa permohonan”.
2.2. Memerlukan Rasul.
Penurunan wahyu ini bukanlah kepada sembarang orang, bahkan kepada mereka yang
dipilih oleh Allah untuk melaksanakan tujuan demikian. Para Rasul adalah mereka yang
terpilih untuk menerima wahyu-wahyu yang telah diturunkan itu.
Dalil:
· Q.42: 53, Yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada di
langit dan yang ada di bumi. Ingatlah ! Kepada Allah jualah kembali segala urusan.
2.3. Ayat Qauliyah.
Wahyu yang diturunkan itu merupakan kitab langsung dari Allah berkenaan sesuatu
perkara yang kita namakan dia sebagai ayat qauliyah.
Dalil:
· Q.55: 1-2, (Tuhan) Yang Maha Pemurah serta melimpah-limpah rahmatNya.
Dialah yang telah mengajarkan Al-Qur’an.
· Q.96: 1, Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
(sekalian mahluk).
2.4. Berfungsi sebagai Pedoman Hidup.
Ilmu-ilmu dari wahyu ini berfungsi sebagai pedoman hidup kepad manusia atau
manhajul hayat.
Dalil:
· Q.3: 19, Sesungguhnya agama (yang benar dan diridhai) di sisi Allah ialah Islam.
Dan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih
(mengenai agama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada
mereka pengetahuan yang sah tentang kebenarannya, perselisihan itu pula) semata-mata
karena hasad dengki yang ada dalam kalangan mereka. Dan (ingatlah), sesiapa yang
kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah amat segera
hitungan hisabNya.
· Q.3: 85, Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan
diterima daripadanya dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi.
2.5. Kebenarannya Mutlak.
Dalil:
· Q.2: 147, Kebenaran (yang datangnya kepadamu dan disembunyikan oleh kaum
Yahudi dan Nasrani) itu (wahai Muhammad) adalah datangnya dari Tuhanmu, oleh itu
jangan sekali-kali engkau termasuk dalam golongan orang-orang yang ragu-ragu.
· Q.41: 53, Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di
merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini) dan pada diri mereka sendiri,
sehingga ternyata jelas kepada mereka bahwa Al-Qur’an adalah benar. Belumkah
ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahwa
Tuhanmu mengetahui dan menyaksikan tiap-tiap sesuatu?
3. Jalan Non Formal.
3.1. Dengan Ilham.
Dalil:
· Q.90: 5, Patutkah manusia yang demikian keadaannya (terpedaya dengan
kekuasaan yang ada padanya dan) menyangka bahwa tidak ada sesiapapun yang dapat
mengatasi kekuasaannya (dan menyeksakannya)?
3.2. Langsung.

73
Dalil:
· Q.2: 31, Dan ia telah mengajarkan Nabi Adam akan segala nama benda-benda
dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman:
“Terangkanlah kepadaKu nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan yang
benar”.
· Q.55: 4, Dialah yang telah membolehkan manusia (bertutur) memberi dan
menerima kenyataan.
3.3. Ayat Kauniyah.
Dalil:
· Q.3: 190, Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran
malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan dan keluasan rahmat Allah)
bagi orang-orang yang berakal.
· Q.41: 53, Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di
merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini) dan pada diri mereka sendiri,
sehingga ternyata jelas kepada mereka bahwa Al-Qur’an adalah benar. Belumkah
ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahwa
Tuhanmu mengetahui dan menyaksikan tiap-tiap sesuatu?
3.4. Berfungsi sebagai Sarana Hidup.
Dalil:
· Q.11: 61, Dan kepada kaum Tsamud, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Soleh.
Ia berkata: “Wahai kaumku ! Sembahlah kamu akan Allah. Sebenarnya tiada Tuhan bagi
kamu selain daripadaNya. Dialah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi, serta
menghendaki kamu memakmurkannya. Oleh itu mintalah ampun kepada Allah dari
perbuatan syirik, kemudian kembalilah kepadaNya dengan taat dan tauhid.
Sesungguhnya Tuhanku senantiasa dekat, lagi senantiasa memperkenankan permohonan
hambaNya”.
3.5. Kebenaran Eksperimen.
Dalil:
· Q.10: 36, Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan
saja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan
sesuatu dari kebenaran (iktiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang
mereka lakukan.
3.6. Untuk Manusia agar Beribadah.
Dalil:
· Q.51: 56, Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu.

MA’RIFATUR RASUL
Pendahuluan
Mengenal Rasul adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mengamalkan Islam
secara sempurna. Tanpa Rasul maka kita tidak dapat melaksanakan Islam dengan baik.
Kehadiran Rasul memberikan panduan dan bimbingan kepada kita bagaimana cara
mengamalkan Islam. Dengan demikian Rasul adalah penting bagi muslim sebagai metod
atau tariqali untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Mengenal Rasul tidak saja dalam bentuk fisikal atau penampilannya tetapi segala aspek
syar’i berupa sunnah yang didedahkan Nabi kepada kita samada tingkah laku, perkataan
ataupun sikap. Pengenalan kepada Rasul dapat dilihat melalui sirah nabi yang

74
menggambarkan kehidupan Nabi serta latar belakangnya seperti nasab. Kemudian
melalui sunnah dan dakwah Nabi pun dapat memberikan penjelasan siapa Nabi
sebenarnya.
Paket Ma’rifatur Rasul ini membincangkan bagaimana mengenal Rasul, apa saja yang
perlu dikenal dari Rasul dan bagaimana pula kita mengamalkan Islam melalui petunjuk
Rasul. Yang penting dari paket ini adalah kita mengetahui, memahami dan dapat
mengamalkan Sunnah Nabi dan menjalankan Ibadah dengan baik.
Dengan mengenal Rasul diharapkan kita dapat mencintai Rasul dan mengikutinya,
perkara ini sebagai cara bagaimana kita taat dan mencintai Allah Swt. Oleh itu mengenal
Rasul tidak saja dari segi jasad, nasab dan latar belakangnya, tetapi bagaimana beliau
beribadah dan beramal soleh. Setengah masyarakat mengetahui dan mengamalkan
sunnah Nabi dari segi ibadah saja bahkan dari segi penampilan saja. Sangat jarang
muslim yang mengambil contoh kehidupan Nabi secara keseluruhannya sebagai contoh,
misalnya peranan Nabi dari segi politik, pemimpin, peniaga dan juga Nabi sebagai
suami, ayah dan ahli di masyarakat. Semua peranan Nabi ini perlu dicontoh dan diikuti
sehingga kita dapat mengamalkan Islam secara sempurna dan menyeluruh. Walaupun
demikian, ummat Islam masih menjadikan Nabi sebagai Rasul adalah dari segi lafazh
atau kebiasaan ummat Islam bersalawat ke atas Nabi. Bagaimanapun ummat Islam yang
sholat akan selalu bersalawat ke atas Nabi dan selalu menyebutnya.
Pengenalan kepada Rasul juga pengenalan kepada Allah dan Islam. Memahami Rasul
secara komprehensif adalah cara yang tepat dalam mengenal Islam yang juga
komprehensif. Rasul dikenal sebagai pribadi teladan dan ikutan yang unggul dan lelaki
terpilih di antara manusia yang sangat layak dijadikan model bagi setiap muslim. Berarti
Nabi adalah ikutan bagi setiap tingkah laku, perkataan dan sikap yang disunnahkannya.
Mencintai Nabi sebagai hasil dari mengenal Rasul tidak saja dalam menyebut namanya
setelah sholat, mengadakan acara barzanji, merayakan hari Maulid Nabi dan bentuk
acara-acara lainnya. Kemudian mereka tidak mengamalkan sunnah ataupun tingkah laku
asas yang dimilikinya seperti sidiq, tabligh, amanah dan fatanah. Keadaan demikian
sangat merugi bagi setiap muslim. Atau sebahagian sangat taasub dengan pakaian Nabi,
sorban, songkok dan sebagainya, sebahagian lagi sekedar mengutip hadits Nabu untuk
ceramahnya tetapi tidak diamalkan, bahkan ada yang menolak beberapa sunnah atau
tingkah laku Nabi. Keadaan demikian, berlaku di tengah masyarakat awam sebagai
akibat dari tidak fahamnya mereka kepada Rasul secara benar dan utuh.
Bagi ummat Islam yang terlibat dengan dakwah Islam, ramai yang tidak merujuk kepada
metod atau minhaj Nabi dalam berdakwah sehingga tidak mendapatkan hasil yang
optima. Kegagalan dakwah senantiasa dihadapi oleh para da’i, ketidak berkesanan
dakwah dan kurang hasil atau bekas dakwah sebagai bahagian penilaian dakwah. Dengan
mengenal Rasul, kita dapat menyimpulkan bahwa dakwah yang dibawa oleh Rasul
adalah dakwah yang berkesan dan sudah menghasilkan perubahan-perubahan masyarakat
ke arah yang positif. Bahkan Rasul telah membuktikan bahwa Islam menyebar ke seluruh
dunia dan Islam dipegang oleh berbagai suku atau bangsa di dunia ini. Kemudian
kegagalan pada saat ini disebabkan karena tidak merujuk kembali bagaimana kejayaan
dan kegemilangan yang telah dicapai Nabi dulu.
Metod Rabbani yang dibawa oleh Rasul perlu dipahami dan diamalkan dengan baik.
Obyektif ini dicapai apabila kita mengenal Rasul. Paket ini mencoba untuk
membentangkan apa saja keperluan kita mengenal Rasul, supaya kita mempunyai
motivasi dan sadar tentang keperluan kita memahami Rasul. Kemudian definisi Rasul,

75
peranan Rasul, sifat-sifat Rasul, tugas Rasul ciri-ciri risalah Muhammad, kewajiban kita
terhadap Rasul, dan akhirnya hasil yang kita dapati dengan mengikuti risalah Rasul.
C-1. HAJATUL INSAN ILA RASUL
Sasaran
6. Memahami bahwa fitrah manusia memerlukan keyakinan tentang kewujudan
Pencipta, beribadah kepadaNya dan memiliki kehidupan yang teratur.
7. Memahami bahwa petunjuk Rasul adalah satu-satunya jalan untuk mencapai
Iman.
Sinopsis
Setiap manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan fitrah, dimana manusia bersih, suci dan
mempunyai kecenderungan yang baik dan ke arah positif yaitu ke arah Islam. Fitrah
manusia diantaranya adalah mengakui kewujudan Allah sebagai pencipta, keinginan
untuk beribadah dan menghendaki kehidupan yang teratur. Fitrah demikian perlu
diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui petunjuk Al-Qur’an (Firman-
firman dan panduan dari Allah Swt) dan panduan sunnah (sabda Nabi dan perbuatannya).
Semua panduan ini memerlukan petunjuk dari Rasul khususnya dalam mengenal pencipta
dan sebagai panduan kehidupan manusia. Dengan cara mengikuti panduan Rasul kita
akan mendapati ibadah yang sohih.
1. Al Insan.
· Al Insan (manusia) adalah ciptaan Allah Swt yang diberikan banyak kelebihan
dan keutamaan dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya.
· Di antara kelebihan manusia adalah fitrah. Agama Allah yang dijadikanNya
kepada manusia sesuai dengan fitrahnya.
Dalil:
· Q.30: 30, Manusia diciptakan sesuai dengan fitrahnya.
2. Fitrah.
· Fitrah yang ada pada manusia dapat menilai baik buruk tingkah laku masyarakat
ataupun dirinya. Ini disebabkan karena fitrah dimiliki oleh manusia semenjak ia lahir,
samada dilahirkan oleh ibu bapa kafir ataupun jahiliyah. Kecenderungan yang baik
senantiasa membawa manusia ke arah Islam seperti pengakuannya kepada Allah sebagai
pencipta (Rab). Perubahan fungsi dan peranan fitrah ini terjadi karena pengaruh
persekitaran termasuk pengaruh ibu bapa ataupun lingkungan sosial. Yang menjadikan
manusia berubah dari fitrah kepada nasrani, yahudi dan majusi juga disebabkan oleh
pengaruh ibu bapanya.
· Fitrah dapat dijadikan sebagai saksi bagi segala perbuatannya. Fitrah manusia
sudah dibekali oleh Allah Swt dengan nilai-nilai semula jadi yang dapat menilai suatu
tingkah laku. Beberapa fitrah manusia adalah keinginan manusia untuk mengabdi kepada
Khaliq, mengakui keberadaan Allah Swt sebagai Khaliq dan keinginan manusia untuk
hidup teratur.
Dalil:
· Q.30: 30, Hadits: “Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya, kemudian ibu bapanya
yang menjadikan anak yahudi, majusi dan nasrani”.
· Q.75: 14, manusia menjadi saksi ke atas dirinya sendiri.
· Q.27: 14, hati mereka meyakini walaupun mengingkari.
3. Wujudul Khaliq.
Kewujudan pencipta merupakan sesuatu yang tak dapat diingkari. Manusia pada dasarnya
mengakui perkara ini. Allah sebagai pencipta (Rab) di dalam Al-Qur’an diakui oleh
orang kafir sekalipun. Perjanjian manusia ketika di dalam rahim ibunya juga menyatakan

76
bahwa “alastu birobbikum, qalu bala syahidna”. Manusia menerima Allah sebagai Rab.
Begitupun ketika Qurays ditanya berkaitan dengan pencipta langit, bulan, bintang dan
sebagainya, maka dijawab Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah sebagai Rab diakui
dan diiktiraf oleh manusia tetapi tidak semuanya yang mengakui Allah sebagai Ilah.
Dalil:
· Q.23: 83-90, apabila ditanya kepada orang kafir jahiliyah siapakah yang
mempunyai bumi dan orang yang diatasnya, siapakah yang mempunyai tujuh langit?
maka jawabannya adalah Allah.
· Q.7: 172, apakah aku Rab kamu, mereka berkata ya kami menyaksikannya.
4. Ibadatul Khaliq.
Manusia secara umum mendapat arahan dari Allah Swt untuk mengabdi kepadaNya.
Pengabdian kepada Allah adalah sebagai hasil dan akibat dari pengakuan kita kepada
Allah sebagai pencipta. Mengakui Pencipta berarti mengakui apa yang disampaikanNya,
menerima arahanNya, menjalankan Undang-undangNya dan sebagainya. Usaha-usaha ini
adalah bahagian dari bentuk pengabdian kita kepada Allah Swt.
Dalil:
· Q.2: 21, Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan
orang-orang yang sebelum kamu.
5. Hayatul Munadhomah.
Petunjuk dari Allah adalah untuk memandu manusia ke arah yang baik. Semua arahan
dan bimbingan dari Allah Swt adalah baik bagi manusia yang diciptakanNya karena
sesuai dengan fitrah manusia. Allah sebagai pencipta tahu mengenai ciptaannya secara
pasti sehingga Allah dapat memberikan panduan yang juga tepat bagi manusia. Tanpa
petunjuk berarti hidup manusia menjadi tidak teratur dan tanpa arah tujuan, ia mengikuti
hawa nafsunya saja yang tidak jelas kemana pergi. Mereka akan tersesat di jalan yang
tidak benar.
Dalil:
· Q.28: 50, mengikuti panduan Allah menjadi hidup teratur, manakala tidak
mengikuti Allah berarti mengikuti hawa nafsu dan menjadi sesat (tidak teratur hidupnya).
6. Hidayatur Rasul.
Jika kita hendak mengikuti perintah Allah maka kita mesti mengikuti perintah Rasul.
Apabila kita ingin mengasihi Allah maka kita perlu petunjuk Rasul. Kaedah ini adalah
kaedah yang Rabbani dibawa oleh Islam. Oleh karena itu syahadatain pun terdiri dari
pengakuan kepada dua yaitu Allah dan RasulNya. Mengikuti petunjuk Rasul berarti kita
mengikuti jalan agama Allah yang mempunyai langit dan apa-apa yang dibumi.
Dalil:
· Q.3: 31, jika mencintai Allah maka ikuti Rasul.
· Q.43: 53, mengembalikan semua urusan kepada Allah.
· Q.36: 1-2, Al-Qur’an yang berhikmah.
7. Ma’rifatul Khaliq.
Petunjuk Rasul digunakan untuk mengenal Allah. Mengenal Allah juga dapat dilakukan
dengan cara memperhatikan dan memikirkan alam sebagai penciptaanNya. Melihat
gunung-gunung, hewan dan sebagainya merupakan cara untuk mengenal Allah secara
ayat Kauniyah.
Dalil:
· Q.31: 10, Allah menciptakan langit, gunung, hewan dan sebagainya.
· Q.43: 53, mengembalikan semua urusan kepada Allah.
· Q.36: 1-2, Al-Qur’an yang berhikmah.

77
8. Minhajul Hayah.
· Petunjuk Rasul juga digunakan untuk mengamalkan Islam yang benar dan yang
diridhai oleh Allah Swt. Rasul sebagai ikutan dan teladan yang baik untuk diikuti dalam
mengamalkan Islam secara benar.
· Panduan hidup melalui Islam mesti diamalkan mengikuti teladan kita kepada
Rasul.
Dalil:
· Q.33: 21, Rasul sebagai teladan yang baik.
· Q.3: 19, Islam sebagai dien yang Allah ridhai.
· Q.3: 85, orang yang merugi apabila tidak mengamalkan Islam.
9. Ibadatul Shohih.
Ibadah sohih adalah ibadah yang menyembah Allah dengan panduan mengikuti Rasul.
Rasul sebagai penerima wahyu dari Allah perlu diikuti dan sebagai keperluan bagi kita
untuk menjadikannya sebagai model dan petunjuk dalam menjalankan ibadah yang
benar.
Rasul sebagai manusia yang mendapat lesen dari Allah Swt untuk mengembangkan dan
menyebarkan nilai-nilai Islam secara sah dan tepat. Allah telah menyebutkan pada
banyak ayat yang menyatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diberi tugas untuk
menyampaikannya kepada manusia.
Dalil:
· Q.21: 25, Rasul diberi wahyu yang menyebutkan bahwa tiada tuhan selain Allah
oleh itu sembahlah Allah.
Ringkasan Dalil:
· Insan - fitrah (75: 14, 27: 14)
· Kewujudan Pencipta (23: 83-90)
· Mengabdi pada sang Pencipta (2: 21)
· Hidup yang teratur (28: 50)
· Petunjuk Rasul (36: 1-2, 42: 53, 3: 31)
· Mengenal Pencipta yang Haq (31: 10, 3: 191)
· Panduan hidup (3: 19,85, 33: 21)
· Beribadah yang benar (21: 25)
C-2. TA’RIFUR RASUL
Sasaran
1. Memahami definisi Rasul dan dapat menjelaskan fungsinya secara umum.
2. Mengenal tanda-tanda kerasulan dan dapat menyebutkan contoh-contohnya secara
tepat dan mengimaninya.
Sinopsis
Rasul adalah seorang lelaki yang terpilih dan yang diutus oleh Allah dengan risalah
kepada manusia. Definisi rasul ini menggambarkan kepada kita bagaimana manusia
sebagai Rasul yang terbaik diantara manusia lainnya. Sehingga apa yang dibawa,
dibincangkan dan dilakukan adalah sesuatu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan
manusia lainnya. Rasul sebagai pembawa risalah yang Allah berikan kepadanya dan juga
Rasul sebagai contoh dan teladan bagi aplikasi Islam di dalam kehidupan seharian. Untuk
lebih jelasnya bagaimana mengenal Rasul yang menjalankan peranan pembawa risalah
dan sebagai model, maka kita perlu mengenal apakah ciri-ciri dari Rasul tersebut. Ciri-
ciri Rasul adalah mempunyai sifat-sifat yang asas, mempunyai mukjizat, sebagai
pembawa berita gembira, ada berita kenabian dan memiliki ciri kenabian, juga nampak
hasil perbuatannya.

78
1. Ar Rasul.
· Rasul adalah lelaki yang dipilih dan diutus Allah dengan risalah Islam kepada
manusia. Rasul adalah manusia pilihan yang kehidupannya semenjak kecil termasuk ibu
bapanya sudah dipersiapkan untuk menghasilkan ciri-ciri kerasulannya yang terpilih dan
mulia. Mengenal rasul mesti mengetahui apakah peranan dan fungsi rasul yang
dibawanya. Terdapat dua peranan rasul yaitu membawa risalah dan sebagai model.
· Rasul sebagai manusia biasa yang diberikan amanah untuk menyampaikan risalah
kepada manusia.
Dalil:
· Q.18: 110, Rasul sebagai manusia biasa seperti kamu.
· Q.6: 9, Rasul dalam bentuk Rajul bukan Malaikat.
· Q.33: 40, Muhammad Saw sebagai Rasul Allah.
2. Hamilu Risalah.
· Rasul membawa risalah kepada manusia, banyak disampaikan di dalam ayat Al-
Qur’an. Tugas menyampaikan wahyu dan risalah ini adalah tugas dan amanah wajib bagi
setiap Rasul. Apa saja yang Rasul terima dari Allah maka disampaikan wahyu tadi
kepada manusia.
· Rasul dan orang yang menyampaikan risalah Islam tidak akan takut dengan
segala bentuk ancaman karena ia yakin bahwa yang dibawa dan disampaikannya adalah
milik Allah yang memiliki alam semesta dan seisinya. Dengan demikian apabila kita
menyampaikan pesan sang pencipta maka pencipta (Allah) akan melindungi dan
menolongnya.
Dalil:
· Q.5: 67, Rasul menyampaikan apa-apa yang diterimanya dari Allah.
· Q.33: 39, orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka tidak takut kepada
siapapun kecuali hanya kepada Allah saja.
3. Qudwatu fi Tatbiqu Risalah.
Dalam menjalankan dan mengamalkan Islam, tidak akan mungkin seorang manusia dapat
memahami langsung apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an kecuali apabila dapat
petunjuk dan contoh dari Nabi. Muhammad dan para rasul lainnya mempunyai peranan
dalam menjembatani pesan-pesan Allah agar dapat diaplikasikan kepada manusia. Nabi
Ibrahim AS sebagai contoh dalam mengelakkan diri dari menyembah sembahan berhala.
Walaupun demikian sebagai ummat Muhammad yang wajib diikuti hanya kepada Nabi
Muhammad sebagai penutup para nabi dan yang sesuai dengan pendekatan bagi manusia
sekarang.
Dalil:
· Q.33: 21, Muhammad (Rasul) sebagai qudwah yang baik.
· Q.60: 4, Ibrahim AS sebagai ikutan dalam melaksanakan Aqidah.
4. Alamtu Risalah.
Agar memahami peranan Rasul lebih mendalam maka kita perlu mengetahui apakah ciri-
ciri Rasul sebenarnya. Rasul yang membawa peranan dan amanah yang cukup berat
dalam menjalankan tugasnya mempunyai beberapa keistimewaan yang dijelaskan dalam
ciri-ciri Rasul itu sendiri, sifat asa, mukjizat, basyirat, nubuwah dan tsamarat.
5. Sifatul Asasiyah.
Sifat asas Rasul adalah akhlak mulia yang terdiri dari sidiq, tabligh, amanah dan fatanah.
Sifat asas dan utama ini mesti dipunyai oleh setiap rasul dan orang yang beriman. Tanpa
sifat ini maka seorang mukmin kurang mengikuti Islam yang sebenarnya bahkan dapat
menggugurkan keislamannya. Misalnya sifat dasar sidiq, Rasulullah menekankan bahwa

79
kejujuran sebagai akhlak yang utama, tanpa shidiq maka akan gugur keislamannya.
Dengan kejujuran yang dimiliki walaupun ia berbuat dosa seperti merogol atau mencuri,
masih dapat dimaafkan apabila ia masih mempunyai sifat shidiq. Dengan sifat asas ini
maka manusia dijamin hidupnya di dunia dan di akhirat akan bahagia. Sifat asas juga
bersifat universal ini sangat strategik bagi setiap mukmin dalam menjalankan Islam dan
memelihara dirinya dari segala cabaran.
Dalil:
· Q.68: 4, Rasul mempunyai akhlak yang mulia.
6. Mukjizat.
· Banyak mukjizat yang dibawa oleh para Rasul. Setiap Rasul membawa mukjizat
yang diberi Allah berbeda-beda seperti nabi Ibrahim yang tidak terbakar, nabi Musa yang
membelah lautan, nabi Sulaiman dapat bercakap dengan segala makhluk, nabi Daud yang
mempunyai kekuasaan dan lainnya. Nabi Muhammad sendiri banyak mukjizat yang
Allah Swt berikan misalnya membelah bulan ketika dicabar oleh orang kafir, Al-Qur’an
makluman awal terhadap segala peristiwa yang berlaku dan sebagainya.
· Dengan mukjizat ini maka manusia semakin yakin dengan apa yang diberikan
oleh para Rasul kepada manusia.
Dalil:
· Q.54: 1, Rasul membelah bulan.
· Q.15: 9, Al-Qur’an yang dipelihara oleh Allah.
7. Al Mubasyarat.
Ciri kerasulan adalah sudah dimaklumkan oleh manusia-manusia sebelumnya mengenai
kedatangannya. Nabi Muhammad Saw sudah dimaklumkan ketika zaman Nabi Isa AS,
bahwa akan datang seorang Rasul yang bernama Ahmad (terpuji).
Dalil:
· Q.61: 6, berita gembira yang memaklumkan kedatangan nabi Muhammad Saw.
8. An Nubuwah.
Ciri-ciri rasul lainnya adalah adanya berita kenabian seperti membawa perintah dari
Allah untuk manusia keseluruhan seperti perintah haji (pada zaman Nabi Ibrahim) dan
perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an (pada zaman Nabi Muhammad).
Dalil:
· Q.22: 26-27, Nabi Ibrahim disuruh oleh Allah untuk memberitahukan kepada
manusia agar berhaji.
· Q.6: 19, Al-Qur’an adalah wahyu kepada rasul dan sebagai berita kenabiannya.
· Q.25: 30, Rasul mengajak ummatnya kepada Al-Qur’an tetapi mereka
meninggalkannya.
9. Attsamarat.
· Kader Nabi yaitu para sahabat adalah bukti nyata yang menjadikan perubahan-
perubahan di jazirah Arab dan seluruh dunia.
Dalil:
· Q.48: 29, hasil tarbiyah dan dakwah Rasul adalah kader-kader yang tangguh.
Ringkasan Dalil:
· Rasul adalah lelaki yang dipilih dan diutus Allah dengan risalah Islam
kepada manusia (5: 67, 33: 39)
· Teladan dalam melaksanakan risalah (33: 21, 56, 60: 4)
· Tanda-tanda kerasulan:
· Sifat (68: 4)
· Mukjizat (54: 1, 15: 9)

80
· Berita kedatangan (61: 6)
· Berita kenabian (25: 30, 22: 26-27)
· Hasil-hasil perbuatan (48: 29)
C-3. MAKANATUR RASUL
Sasaran
1. Memahami kedudukan Rasulullah Saw sebagai hamba Allah dan Rasul pembawa
risalah terakhir.
2. Termotivasi untuk membaca dan mengkaji sunnah atau hadits Nabi serta
mempelajari perjalanan hidup dan dakwah Nabi.
3. Menyadari bahwa memahami fiqhus sirah dan fiqhud dakwah adalah kewajiban
setiap muslim.
Sinopsis
Muhammad Rasulullah Saw adalah sebagai hamba di antara hamba-hamba Allah lainnya.
Sebagai hamba maka Rasul mempunyai ciri yang juga sama dengan manusia lainnya
seperti beliau sebagai manusia, mempunyai nasab dan jasadnya. Sebagai hamba ini
menunjukkan bahwa Nabi adalah manusia biasa yang Allah berikan kemuliaan berupa
wahyu dari Allah. Untuk mengetahui Nabi sebagai hamba dapat kita ketahui secara pasti
dari perjalanan sirah Nabi, khususnya di dalam fiqh sirah. Selain itu Nabi Muhammad
Saw juga sebagai rasul diantara para rasul. Sebagai rasul, Nabi bersifat menyampaikan
risalah, menjalankan amanah dari Allah, dan sebagai pemimpin ummat. Perjalanan Nabi
sebagai Rasul dalam menyampaikan dakwah dan misi dapat dilihat dari dakwah-dakwah
Nabi seperti di dalam fiqh dakwah. Selain itu Nabi Muhammad Saw juga membawa
sunnah yang dijadikan sebagai fiqhul Ahkam. Kedudukan Rasul dapat digambarkan di
dalam sirah nabi, sunnahnya dan dakwahnya sehingga dari kedudukan ini banyak yang
kita ambil sebagai fiqh sirah, fiqh ahkam dan fiqh dakwah.
1. Abid min Ibadillah.
· Rasul Muhammad Saw adalah sebagai hamba dan manusia biasa yang juga
makan, minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan segala aktivitas manusia
dikerjakan dan ditunaikan dengan baik. Rasul melaksanakan keperluan dan keperluan
sebagaimana manusia lainnya melaksanakan keperluannya. Dari keadaan ini dapat
disimpulkan bahwa Rasul sebagai manusia dan kitapun sebagai manusia sehingga apa
yang dikerjakan oleh Nabi juga dapat dilaksanakan oleh kita secara baik. Tidak ada
alasan untuk tidak mengerjakan perintah Rasul karena Allah telah mengutus Rasul dari
kalangan manusia juga.
· Yang membedakan rasul dengan manusia yang lain ialah Rasul mendapat wahyu
yaitu menyuruh kita mengilahkan Allah saja.
Dalil:
· Q.18: 110, Rasul adalah manusia biasa seumpamamu.
· Q.17: 1, Rasul disebut oleh Allah sebagai hambanya.
1.2. Insan.
· Rasul sebagai manusia digambarkan makan, ke pasar dan sebagainya. Perilaku ini
menggambarkan suatu aktivitas sehari-hari manusia. Apabila Rasul sebagai manusia
maka dakwah mudah dilaksanakan dan mudah diterima, tidak ada alasan bagi manusia
untuk menolaknya. Apabila malaikat sebagai Nabi maka banyak alasan untuk tidak
melaksanakan perintah Allah. Kaum Yahudi senantiasa menyoal kehadiran Rasul yang
berasal dari manusia. Sebetulnya mereka mengada-adakan soalan yang didasari
kekufurannya kepada Allah.

81
· Rasul sebagai manusia juga dijelaskan dengan peranan Rasul sebagai suami dan
bapa dari anak-anaknya. Dengan peranan ini menjadikan manusia lebih sempurna dan
dapat mengikutinya dengan baik setiap amalan dan arahannya.
Dalil:
· Q.25: 7, Rasul sebagai manusia yang juga makan, berjalan ke pasar.
· Q.13: 38, Rasul mempunyai isteri, anak.
1.2. Nasab.
Rasul berasal dari kaum Qurasy. Bapanya yang bernama Abdullah dan ibunya bernama
Aminah. Beliau mempunyai keluarga dan keturunan yang jelas. Begitupun tentang
sejarah kelahiran dan asal usulnya. Sejarah yang menjelaskan bagaimana nabi dibesarkan
sehingga menjadi Rasul juga banyak terdapat di berbagai buku sirah Nabi.
Dalil:
· Hadits dan Sirah Nabi.
1.3. Jism.
Jism nabi Muhammad Saw digambarkan banyak oleh hadits seperti rambutnya yang rapi
dan selalu disikat kemas, badannya yang kuat, tingginya sederhana dan sebagainya. Dari
gambaran jasad ini Nabi adalah manusia yang juga sebagai manusia biasa lainnya.
Dalil:
· Hadits dan Sirah Nabi.
1.4. Sirah Nabawiyah.
Penggambaran Nabi sebagai hamba Allah terdapat di dalam sirah nabawiyah.
Penggambaran ini dijadikan sebagai pengajaran, menerangkan sesuatu dan juga dapat
sebagai petunjuk bagi kita yang membacanya. Dari sirah nabawiyah dapat disimpulkan
bahwa Nabi sebagai hamba Allah dan menjalankan aktiviti-aktivitinya sebagai manusia
biasa.
Dalil:
· Q.12: 111, Kisah di dalam sirah dijadikan sebagai pelajaran.
2. Rasul minal Mursalin.
Muhammad Saw selain sebagai hamba biasa juga sebagai Rasul yang mempunyai
keutamaan dan ciri-ciri kerasulan. Muhammad seperti Rasul lainnya juga mempunyai
mukjizat dan tugas-tugas mulia. Walau bagaimanapun Rasul juga seperti manusia yang
akan meninggal pada saatnya.
Dalil:
· Q.3: 144, Muhammad itu sebagai Rasul yang sesungguhnya telah terdahulu
beberapa Rasul sebelumnya.
2.1. Tabligh Risalah.
Peranan Rasul yang utama adalah menyampaikan risalah Tuhan karena inilai yang
membedakannya dengan manusia biasa. Rasul membawa manusia untuk mengabdi
kepada Ilah yang satu yaitu Allah Swt. Menyampaikan misi Islam dan memberikan
contoh adalah aktivitas utama para Rasul.
Dalil:
· Q.72: 28, Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalat Tuhannya.
· Q.33: 39, Rasul yang menyampaikan risalah Agama Allah.
2.2. Adaul Amanah.
Rasul telah menunaikan amanahnya sebagai rasul yaitu menyampaikan risalah kepada
manusia. Menunaikan amanah dan tugas menyampaikan misi ini merupakan peranan
Rasul. Bukti bahwa Rasul telah menunaikan amanah ini adalah pengikut-pengikutnya
yang setia dan menyebarkan dakwah kepada manusia.

82
Dalil:
· Q.72: 28, Rasul telah menyampaikan risalat Tuhannya.
· Q.5: 67, Rasul diperintahkan untuk menyampaikan apa-apa yang diterimanya dari
Allah.
2.3. Imamatul Ummat.
Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul juga sebagai Imam yang bertanggung jawab ke atas
ummatnya. Pada hari kiamat Nabi berperanan sebagai Ummat. Hal ini menunjukkan
bahwa Nabi juga bertanggung jawab terhadap apa-apa yang sudah disampaikan kepada
ummatnya. Ketika di hari penghitungan di hari kiamat Nabi mempertanggung-jawabkan
ummatnya.
Dalil:
· Q.4: 41, Nabi Muhammad sebagai saksi bagi ummatnya.
· Q.17: 71, setiap manusia dengan imamnya di hari kiamat.
2.4. Dakwah Nabawiyah.
Al-Qur’an dan juga Sirah banyak menjelaskan dakwah nabi. Dari kedua ini muncul fiqh
dakwah yang berseuai dengan realitas, tuntutan, keadaan dan respons tempatan. Misalnya
Allah menceritakan perjalanan hijrah Nabi bersama Abu Bakar yang berada di gua Tsur,
didapati banyak ular dan berbagai hewan yang berbahaya, kemudian nabi berkata
janganlah takut sesungguhnya Allah bersama kami. Ayat yang menggambarkan dakwah
ini menjadi fiqh dakwah bagi para da’i saat ini khususnya memotivasikan kita agar
senantiasa berdakwah walaupun menghadapi banyak cabaran dan rintangan.
Dalil:
· Q.9: 40, Rasul menasehati Abu Bakar, janganlah berduka cita sesungguhnya
Allah bersama kami.
3. Sunnah.
Dari segi bahasa Sunnah berarti jalan. Maksud Sunnah Nabi adalah segala sesuatu yang
disebutkan, diakurkan dan diamalkan. Sunnah Nabi bernilai syar’i dan perlu untuk
mengikutinya. Sunnah yang demikian dijadikan sebagai teladan dan ikutan. Sesuatu di
luar itu boleh dilaksanakan boleh juga tidak, ia merupakan sesuatu yang tidak wajib
seperti Nabi biasa menunggang unta, memakai pakaian budaya Arab, perang dengan
pedang dan sebagainya. Perkara ini adalah wasailul hayah yang boleh berubah dan tidak
mesti mengikutinya. Yang perlu diikuti dan bernilai sunnah adalah yang bersifat
minhajul hayah. Sunnah ini dijadikan sebagai fiqh ahkam untuk rujukan beramal atau
mengambil keputusan.
Dalil:
· Hadits dan Sirah Nabi.
3.1. Fiqhul Ahkam.
Bagi muslim dalam menjalankan hidup dan dakwah tentunya menghadapi banyak
cabaran selain dari bagaimana mesti menjalani hidup ini dengan sempurna. Peranan
hukum atau aturan sebagai panduan membawa kita ke arah yang sempurna sangatlah
diperlukan. Rasul dijadikan sebagai tempat ketaatan dan ikutan, dan juga sebagai rujukan
hukum. Fiqh ahkam yang digunakan sebagai dalil juga memerlukan pandangan sunnah.
Dalil:
· Q.4: 64, 65, Rasul sebagai rujukan hukum dalam mengurus perselisihan.
Ringkasan Dalil:
· Hamba diantara hamba-hamba Allah (18: 110, 17: 1).
· Seorang Rasul diantara para rasul (26: 3, 3: 144).

83
· Keadaannya sebagai manusia (25: 7, 13: 38), nasabnya (hadits) dan jasadnya
(hadits).
· Penyampai misi (72: 28).
· Penuai amanah (5: 3, 33: 39, 5: 67).
· Pemimpin ummat (4: 41, 17: 71).
· Sirah/perjalanan hidup nabi – fiqhus sirah (12: 112).
C-4. SIFATUR RASUL
Sasaran
1. Memahami sifat-sifat dasar yang mesti dimiliki setiap Rasul dan dapat
menunjukkan contoh setiap sifat tersebut pada pribadi Nabi Saw.
2. Memahami keagungan akhlak Nabi Muhammad Saw sebagai pribadi qur’ani dan
hasil tarbiyah rabbaniyah.
3. Menyadari bahwa Nabi Saw adalah uswatun hasanah bagi ummatnya.
Sinopsis
Mengenal Rasul perlu mengenal sifat-sifatnya. Bahagian tingkah laku, personalitas, dan
penampilan diwarnai oleh sifat seseorang. Begitupun Nabi Muhammad Saw dapat
digambarkan melalui sifat-sifatnya. Mengetahui sifat-sifat ini diharapkan kita menyadari
siapa sebenarnya Rasul dan kemudian kita dapat mengikutinya. Sifat Nabi seperti
manusia biasa yang sempurna dapat diikuti oleh kita, karena tingkah laku atau
perbuatannya seperti yang dilaksanakan manusia maka kitapun mesti dapat
mengikutinya. Kemudian kita semakin percaya kepada apa-apa yang dibicarakan atau
disampaikan Rasul adalah yang benar karena sifat beliau yang ‘ismah (terpelihara dari
kesalahan), selain itu beliau adalah orang yang cerdas berarti apa yang dibawanya adalah
hasil dari pada pemikiran dan analisa yang mendalam, tepat dan baik. Sifat amanah
adalah juga sifat asas yang setiap manusia mesti menyenangi berkawan dengan mereka
yang amanah, kita sebagai muslim perlu mengikuti sifat ini dengan sempurna begitupun
dengan sifat lainnya seperti tabligh dan iltizam. Sifat-sifat ini menggambarkan akhlak
mulia yang diwarnai oleh akhlak Al-Qur’an dan sangatlah sesuai dijadikan sebagai
contoh yang baik bagi kita.
1. Basyariyah (manusia).
Rasul sebagai manusia biasa seperti kita semua. Perbedaannya adalah Allah memberikan
wahyu untuk disampaikan kepada orang lain. Kenapa Allah Swt perlu menegaskan
bahwa Rasul itu manusia biasa. Dengan penegasan ini maka dapat disimpulkan bahwa
Rasul dari golongan kita juga, dari manusia yang seperti kita juga misalnya makan,
minum, tidur, beristeri, bekerja, belajar, penat, dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya.
Perbedaannya hanyalah terletak kepada amanah yang Allah berikan kepada Rasul yaitu
wahyu. Meyakini betul bahwa Rasul seperti kita maka tidak ada alasan bagi kita untuk
menolak perintah Rasul, tidak ada alasan tidak mampu, tidak boleh dan sebagainya. Juga
tidak boleh beri alasan anak, isteri, sibuk bekerja dan sebagainya karena Rasul juga
mempunyai tanggung jawab demikian juga terhadap anak, isteri dan sebagainya.
Dalil:
· Q.14: 11, Rasul sebagai manusia biasa.
2. ‘Ismah (terpelihara dari kesalahan).
Manusia biasa yang tidak mendapatkan wahyu mungkin melakukan kesilapan dan
kesalahan. Tetapi bagi para Rasul yang diberi amanah untuk menyampaikan dakwah
mesti terpelihara dari kesalahan karena yang disampaikan adalah sesuatu yang berasal
dari Allah Swt. Allah Swt perlu memelihara aturan dan firmanNya dari kesalahan.

84
Dengan sifat Rasul demikian yaitu dijaga oleh Allah Swt maka apa yang dikeluarkan
Nabi adalah benar dan kita perlu meyakininya.
Dalil:
· Q.5: 67, Allah memelihara Rasul dari kejahatan manusia.
· Q.66: 1, Allah pengampun lagi penyayang.
3. Sidq (benar).
Rasul-rasul dan Muhammad Saw mempunyai sifat sidiq yang membawa kebenaran.
Orang yang membawa kebenaran tentunya ia sendiri bersifat sidiq sehingga apa yang
disampaikan dapat diterima. Oleh itu, dengan sifat ini ramai masyarakat jahiliyah
menerima Islam. Sifat sidq berarti mengikuti Islam sebagai sumber kebenaran. Tidak
mengikuti Islam berarti mengikuti hawa nafsunya sehingga menjauhkan diri dari
kebenaran.
Dalil:
· Q.39: 33, Muhammad Saw membawa kebenaran.
· Q.53: 3-4, Tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya.
4. Fatanah (cerdas).
Kecerdasan Rasulullah dapat dilihat bagaimana Rasul menyusun dakwah dan strategi-
strategi seperti berperang, berdakwah ke tempat lain dan sebagainya. Diantara kecerdasan
Rasul adalah mempunyai pandangan bahwa Islam akan menaklukkan Mekah dan
menaklukkan Khaibar. Rasul menggambarkan pada saat tersebut ummat Islam masuk ke
Masjidul Haram dengan aman sentosa, serta bercukur dan menggunting rambut kepala
tanpa sedikitpun. Kecerdasan Rasul dalam memperkirakan kekuatan Ummat Islam dan
kelemahan pihak lawan juga dibuktikan di dalam peperangan lainnya.
Dalil:
· Hadits.
· Q.48: 27, pandangan Nabi terhadap kemenangan Islam.
5. Amanah.
Sifat lainnya adalah Amanah. Amanah secara umum berarti bertanggung jawab terhadap
apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan,
memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang disepakatinya. Sifat
demikian dimiliki oleh para Rasul dan kita mesti mengikutinya. Sifat ini sangatlah
diperlukan di dalam kehidupan kita tidak hanya dalam segi ibadah khusus tetapi secara
umum seperti bekerja, belajar dan berhubungan dengan orang lain. Bos di tempat kita
bekerja akan menyenangi kita yang mempunyai sifat amanah ini bahkan dengan sifat ini
kita akan berjaya dan berprestasi.
Dalil:
· Q.4: 58, Allah menyuruhmu supaya menunaikan amanah.
6. Tabligh (menyampaikan).
Salah satu rahasia kenapa Islam tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok tempat dan
bagaimana pula dengan cepatnya perubahan-perubahan di tengah masyarakat. Kenapa
jumlah bilangan pengikut Islam semakin hari semakin ramai dan semakin banyak yang
menyokong nya. Jawabannya adalah sifat tabligh dimiliki oleh Rasul dan pengikutnya.
Setiap muslim merasakan bahwa dakwah atau menyampaikan Islam sebagai suatu
kewajiban yang perlu dilaksanakan dimana saja dan bila masa saja. Artinya dalam
keadaan bagaimanapun, ummat Islam senantiasa menyampaikan risalah ini kepada siapa
saja yang menerimanya.
Dalil:
· Q.5: 67, Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadanya.

85
7. Iltizam (komitmen).
Rasulullah Saw beserta Rasulnya sangatlah dikenal dengan komitmennya dengan Islam
dan apa yang dibawanya. Beliau tahan dan tidak merasa takut sedikitpun menghadapi
cabaran dan tantangan dari pihak jahiliyah. Rasul selalu komitmen dan dapat menghadapi
cabaran dengan baik. Sifat iltizam ini perlu dipupuk pada diri kita karena dengan sifat
inilah, nilai-nilai Islam pada diri kita menjadi terpelihara dengan baik. Tanpa iltizam
maka godaan syaitan dan gangguan kafir menjadi terasa pada kita dan perubahan berlaku
bahkan menjadi futur dan sesat. Naudzubillah. Kemenangan bersama-sama dengan sifat
iltizam ini.
Dalil:
· Q.17: 74, kalau sekiranya tiadalah kami tetapkan komitmen engkau,
sesungguhnya hampir engkau condong sedikit kepada mereka itu.
· Q.68: 1-8, menggambarkan bagaimana Muhammad Saw disebut gila karena ia
tetap komitmen dengan Islam, tahan dari cabaran kesesatan dan tidak mengikuti orang
yang mendustakan agama Allah.
8. Khuluqin Azim (akhlak yang mulia).
Sifat-sifat yang dimiliki oleh para rasul menggambarkan akhlak yang mulia. Akhlak
mulia berarti akhlak yang tinggi kemudian untuk mencapainya perlu proses dan latihan.
Tidak semua manusia boleh mencapai akhlak ini kecuali mereka yang mengikuti tarbiyah
islamiyah. Akhlak mulia yang dimiliki seseorang maka akan disenangi oleh masyarakat
disekitarnya, mereka menerima dan menyambut individu yang berakhlak mulia. Sunnah
dakwah melihatkan bahwa kebencian pihak Jahiliyah karena aqidah yang dibawa ummat
Islam bukan karena akhlaknya. Mereka menerima akhlak Islam karena tidak
merugikannya bahkan menguntungkannya.
Dalil:
· Q.68: 4, Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) mempunyai akhlak yang mulia.
9. Akhlak Qur’an.
Akhlak mulia adalah juga akhlak Al-Qur’an. Berarti akhlak Rasul adalah amalan dan
tingkah laku yang sesuai dengan Al-Qur’an atau yang diarahkan oleh Al-Qur’an. Jadi
untuk mendapati akhlak mulia seperti yang dimiliki Rasul maka mesti mengamalkan Al-
Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Al-Qur’an berjalan adalah akhlak Rasul.
Dalil:
· Hadits, bertanya kepada Aisyah RA, “Bagaimanakah akhlak Rasulullah?
Jawabannya adalah khuluquhu Al-Qur’an”.
10. Uswatun Hasanah (teladan yang baik).
Pada diri Rasul Muhammad Saw terdapat contoh yang baik yaitu akhlak yang mulia yang
digambarkan oleh Allah Swt. Sebagai contoh yang nyata bagaimana menjadi muslim
yang berakhlak mulia dan bagaimana Al-Qur’an tertanam dalam diri kita maka ikutilah
Nabi Muhammad Saw. Mereka yang mengikuti nabi ini adalah mereka yang
mengharapkan rahmat Allah dan hari yang kemudian, serta ia banyak mengingat Allah.
Dalil:
· Q.33: 21, Sesungguhnya pada Rasul Allah (Muhammad) ada ikutan yang baik
bagimu.
Ringkasan Dalil:
· Sifat-sifat Rasul:
· Manusia sempurna (14: 11, 25: 8).
· Terpelihara dari kesalahan (5: 67, 80: 1, 66: 1).
· Benar (39: 33, 53: 3-4).

86
· Cerdas (Hadits, 48: 27).
· Amanah (4: 58, 69: 44-46).
· Menyampaikan (5: 67, 81: 24, 80: 1-2).
· Komitmen yang sempurna (17: 73, 68: 6).
· Akhlak yang agung (68: 4), yaitu akhlak Qur’an – Hadits.
· Sebagai suri teladan (33: 21).
C-5. WADHIFATUR RASUL
Sasaran
1. Memahami tugas Rasulullah sebagai pembawa risalah dakwah dan penegak
dienullah.
2. Dapat menyebutkan bentuk-bentuk keteladanan Rasulullah dalam melaksanakan
misinya.
3. Termotivasi untuk meneruskan jejak risalah dalam menegakkan dienullah.
Sinopsis
Tugas Rasul dapat dibagi kepada dua yaitu menyampaikan risalah dan menegakkan
dienullah. Kedua tugas ini adalah intisari dari perintah Allah Swt dan amalan dakwah
Nabi Muhammad Saw. Risalatud dakwah yang dibawa oleh Nabi adalah
memperkenalkan masyarakat Jahiliyah kepada penciptanya, perkara ini tidaklah begitu
sukar karena setiap manusia mempunyai fitrah untuk menerima khaliq. Setelah itu
menjadikan mereka sebagai muslim. Sebagai muslim, perlu untuk mengetahui bagaimana
cara beribadah dan mengikuti Islam. Tugas Rasul diantaranya adalah menjelaskan cara
pengabdian kepada Allah, menjelaskan Islam sebagai panduan hidup. Usaha
menyampaikan risalah secara berkesan dengan melaksanakan tarbiyah Islamiyah yaitu
dengan menekankan kepada arahan dan nasihat.
Tugas kedua adalah menegakkan dienullah. Tugas ini tidak semua muslim memahaminya
atau tidak mengetahui bagaimana untuk merealisasikannya. Rasul sebagai pembawa
risalah adalah suatu pengetahuan umum bagi kita tetapi tidak demikian dengan peranan
untuk menegakkan agama Allah. Beberapa aktivitas untuk menegakkan dien Allah ini
adalah menegakkan khilafah, membangun rijal, minhajud dakwah dan merealisasikan
risalah.
1. Wazifatur Rasul (tugas Rasul).
Allah Swt memerintahkan Rasul untuk menyampaikan wahyu dan sebagai hasil dari
penyebaran wahyu ini adalah terbentuknya dienullah. Oleh karena itu tugas utama
menyampaikan dakwah ini juga perlu diiringi dengan menegakkan dien Allah. Kedua
tugas ini saling berkaitan oleh sebab itu, kita perlu memahaminya secara mendalam agar
dapat menjalankan dakwah dengan baik. Menyampaikan risalah adalah pekerjaan Nabi
yang utama dan kitapun sudah mengikuti tugas ini sebagai kewajiban dari seorang
muslim. Namun demikian, tidak ramai muslim mengetahui dan bagaimana menyusun
dakwah hingga tegaknya dien Allah.
Dalil:
· Q.5: 67, Rasul diperintahkan untuk menyampaikan dakwah.
· Q.42: 13-15, Allah memberikan wasiat kepada para Rasul untuk menegakkan
dien.
2. Risalatud Dakwah (menyampaikan dakwah).
Tugas Rasul yang diperintahkan langsung oleh Allah Swt dan merupakan ciri-ciri dari
kerasulan adalah menyampaikan dakwah kepada manusia. Dalam menyampaikan
dakwah, Allah Swt di dalam firmannya banyak yang menggugah hati manusia dengan
mengingatkan mereka kepada ciptaan Allah yang maha agung, samada memperlihatkan

87
alam semesta, hewan ataupun tumbuh-tumbuhan. Setelah itu bagaimana cara beribadah.
Usaha perubahan ini dilakukan oleh Rasul secara berkesan melalui tarbiyah Islamiyah.
Dalil:
· Q.5: 67, Rasul diperintahkan untuk menyampaikan dakwah.
· Q.33: 39, Nabi menyampaikan risalah agama Allah.
2.1. Makrifatul Khaliq (mengenal pencipta).
· Mengenal Allah adalah suatu yang mudah bagi fitrah manusia. Mengenal Khaliq
melalui mahluk yaitu alam semesta dan manusia, seperti kejadian alam, proses
pembentukan manusia, pergantian …
· Mengikut kepada firmanNya bahwa setiap mukmin akan diberi kedudukan
sebagai khalifah dimuka bumi ke atas mahluk lainnya. Namun demikian dari segi
kenyataan tidak semuanya orang Islam mendapatkan kedudukan khalifah. Mereka yang
mendapatkan peranan khalifah adalah mereka yang berusaha untuk berdakwah dan
menegakkan dien Allah saja.
Dalil:
· Q.24: 55, Allah akan mengangkat kamu menjadi khalifah sebagaimana orang
sebelum kamu, Allah akan menetapkan agama Islam yang diridhainya untuk mereka, dan
akan mengganti ketakutan mereka dengan keamanan.
· Q.48: 27, pandangan Nabi yang dibenarkan Allah dalam meramalkan
kemenangan Islam.
2.2. Binau Rijal (membangun Rijal).
Menegakkan dien tidak mungkin dikerjakan sendirian saja. Usaha ini perlu dilakukan
secara berjamaah. Mereka yang bersamapun perlu memiliki kekuatan, kefahaman yang
jelas, aqidah yang bersih dan memegang minhaj yang betul. Kebersamaan dari kader-
kader diperolehi melalui pembangunan rijal. Tarbiyah adalah usaha untuk membangun
rijal yang dipersiapkan sebagai tonggak dakwah. Cara bagaimana bina rijal ini kita
merujuk kembali bagaimana Rasul melaksanakan pembinaan kepada para sahabat.
Dalil:
· Q.3: 104, bentuklah dari sebahagianmu orang untuk melakukan amar ma’ruf dan
nahi munkar.
2.3. Minhajud Dakwah (panduan dakwah).
· Al-Qur’an dan Sunnah adalah minhaj dakwah yang penuh dengan petunjuk-
petunjuk bagaimana menjalankan dakwah. Banyak contoh-contoh misalnya kita disuruh
berdakwah lembut, ramah, tidak boleh keras, dengan pengajaran yang baik, nasehat,
memaafkan dan mengampunkan mereka.
· Minhaj Dakwah dalam menegakkan dien juga membincangkan bagaimana
dakwah melalui pendekatan ekonomi, budaya, sosial dan politik. Selain itu Rasul juga
menggambarkan dakwah mengikuti potensi masing-masing seperti di zaman sekarang
sebagai consultant, accountant, engineer dan sebagainya.
Dalil:
· Q.3: 159, pendekatan dakwah yang lembut dan ramah dapat mengelakkan mad’u
dari bercerai berai. Elakkan berbuat jahat, berhati kasar dalam pendekatan dakwah.
2.4. Tathbiqur Risalah (aplikasi risalah).
Aplikasi dari penerimaan risalah Islam adalah mengamalkan Islam secara keseluruhannya
dalam kehidupan seharian. Tegaknya dien tidak akan wujud apabila mereka yang
menerima sekedar tahu dan kemudian tidak mengamalkan. Tegaknya dien akan tercapai
apabila setiap individu mengaplikasikannya dalam hidup. Setelah mereka tahu, kemudian

88
diamalkan ke dalam dirinya dan didakwahkan kepada orang lain merupakan usaha yang
dapat mempercepat tegaknya dien di muka bumi ini.
Dalil:
· Q.2: 208, Orang beriman disuruh masuk (mengamalkan) Islam secara
keseluruhan.
· Q.6: 162, katakanlah sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan
matiku, semuanya bagi Allah, tuhan semesta alam.
Ringkasan Dalil:
· Umum:
· Menyampaikan (5: 67, 33: 39).
· Memperkenalkan Al Khaliq (7: 175).
· Menjelaskan cara pengabdian (hadits).
· Menjelaskan pedoman hidup (hadits).
· Mendidik para sahabat dengan arahan dan nasihat.
· Khusus:
· Menegakkan dienullah (42: 13-15).
· Menegakkan khilafah (24: 55, 48: 27).
· Membina kader (3: 104).
· Membuat konsep dakwah (3: 159).
· Melaksanakan panduan hidup (2: 208, 6: 162).
C-6. KHASOISU RISALAH MUHAMMAD Saw
Sasaran
1. Memahami keistimewaan misi risalah Rasulullah dan perbedaannya dengan
risalah Rasul-rasul sebelumnya.
2. Mampu menunjukkan dan menjelaskan inti dari risalah Muhammad Saw.
3. Menyadari peranan sebagai penerus risalah jihad sehingga termotivasi untuk
berdakwah di jalan Allah.
Sinopsis
Nabi Muhammad Saw mempunyai ciri-ciri yang khusus dibandingkan dengan para rasul
lainnya. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai nabi penutup, penghapus risalah
sebelumnya, membenarkan nabi sebelumnya, menyempurnakan risalah, diperuntukkan
bagi manusia seluruh alam dan sebagai rahmat bagi alam semesta. Ciri-ciri ini dimiliki
oleh Nabi Muhammad Saw dan tidak dimiliki oleh para Rasul sebelumnya. Nabi
Muhammad sebagai penutup berarti tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad Saw, ia
pun menghapuskan risalah sebelumnya yang berarti risalah sebelumnya tidak lagi
digunakan setelah datangnya Nabi Muhammad Saw, beliaupun membenarkan Nabi
sebelumnya dan adanya Nabi Muhammad tidak untuk kaumnya saja tetapi bagi seluruh
manusia dan bagi semesta alam.
Rasulullah tampil sebagai pembawa risalah Islam yang mencakupi huda dan dienul Haq.
Selain itu hadirnya Rasulullah Saw di tengah kita adalah sebagai saksi, pembawa berita
gembira dan peringatan, menyeru ke jalan Allah dan sebagai pelita yang menerangi.
1. Khatama Al Anbiya (Nabi penutup).
Allah Swt telah menurunkan Nabi sebanyak 124.000 dan Rasul sebanyak 313 orang.
Namun demikian di dalam Al-Qur’an yang disebutkan hanya sebanyak 25 orang saja.
Perhatikan Al-Qur’an surat 40: 78, 4: 163-164, 6: 84-86. Seperti juga ada diungkapkan
bahwa setelah Rasul Musa AS ada sebanyak 36 pelanjut Risalahnya. Sedangkan penutup
bagi semua Rasul dan Nabi itu adalah Nabi Muhammad Saw.
Dalil:

89
· Q.33: 40, Muhammad itu bukan bapa salah seorang diantara lelaki kamu tetapi
dia adalah Rasul Allah dan kesudahan dari Rasul-Rasul Allah.
2. Nasikhu Ar Risalah (penghapus risalah).
· Risalah terdahulu hanya untuk kaum tertentu saja, sehingga hanya sesuai untuk
kaum tersebut. Selain itu risalah terdahulu mengikuti keadaan dan situasi serta keperluan
semasa waktu itu sehingga hanya sesuai pada saat tersebut saja.
· Risalah Nabi Muhammad sebagai pelengkap dari risalah sebelumnya dan
sekaligus memansukhkan risalah sebelumnya. Risalah Nabi Muhammad Saw sesuai dan
dapat digunakan oleh semua manusia dan dapat diamalkan hingga hari kiamat.
· Risalah terdahulu yang dibawa oleh ratusan Nabi dan Rasul mempunyai
pendekatan dakwah yang sesuai dengan pendekatan kaumnya misalnya pendekatan
dakwah Nabi Daud dengan kekuatan fisikal, Nabi Sulaiman pandai bercakap dengan
hewan, pohon, jin dan mempunyai kekuatan memindahkan kerajaan dan sebagainya,
Nabi Ibrahim berdakwah dengan memotong semua kepala berhala, Nabi Isa AS tidak
berkahwin dan banyak contoh lainnya. Disimpulkan bahwa pendekatan-pendekatan
dakwah dan risalah yang dibawa oleh Nabi sebelumnya tidaklah sesuai lagi bagi zaman
sekarang.
Dalil:
· Hadits.
· Q.33: 40, sebagai penutup nabi. Q.61: 8, membenarkan para nabi sebelumnya.
· Q.34: 28, ditujukan untuk seluruh manusia.
· Q.21: 107, menjadi rahmat bagi alam semesta.
3. Musoddiqu Al Anbiya (membenarkan para nabi).
Banyak tantangan dan cabaran yang mencoba menghapuskan agama Allah, namun
demikian Allah Swt senantiasa menjaga dan memeliharanya dari serangan kaum kafir.
Diantaranya dengan memenangkan Islam atas agama lainnya atau dengan menurunkan
para Rasul dan Nabi untuk kembali menegakkan kesilapan atau kejahiliyahan ummat.
Nabi Muhammad Saw sebagai nabi akhir melengkapi risalah sebelumnya dan dijadikan
sebagai rujukan utama bagi ummat Islam.
Dalil:
· Q.61: 8-9, Mereka hendak memadamkan risalah Allah tetapi Allah Swt pelihara
dan menyempurnakannya. Kemudian Allah Swt mengutus Rasul-Nya dengan
memberikan petunjuk dan agama yang benar, supaya Dia memenangkan agama Allah itu
atas sekalian agama.
4. Mukammilu Ar Risalah (penyempurna risalah).
Selain membenarkan Rasul dan Nabi sebelumnya yang membawa risalah Islam.
Kehadiran nabi Muhammad Saw juga diperuntukkan menyempurnakan risalah
sebelumnya. Risalah sebelumnya cenderung diperuntukkan bagi suatu kaum tertentu saja
dan bagi saat tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad Saw yang diutus untuk semua
manusia (tidak untuk kaumnya saja) dan berlaku hingga kiamat.
5. Kaafatalinnaas (untuk seluruh manusia).
Rasul Muhammad Saw berbeda dengan para Rasul dan Nabi sebelumnya dimana Nabi
Muhammad Saw diutus bagi kepentingan ummat manusia secara keseluruhan dengan
tidak mengira suku, bangsa, warna kulit, bahasa dan sebagainya. Sehingga dapat dilihat
perkembangan Islam pada masa ini dimana muslim tersebar di seluruh pelosok dunia.
Dalil:

90
· Q.34: 28, Kami tiada mengutus engkau ya Muhammad melainkan kepada
sekalian ummat manusia untuk memberi khabar gembira dan peringatan tetapi
kebanyakan manusia tiada mengetahui.
6. Rahmatul Alamin (rahmat bagi alam semesta).
· Kehadiran Nabi Muhammad Saw dimuka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi
seluruh alam yang tidak saja manusia tetapi juga alam, hewan, pokok dan sebagainya.
Manusiapun dengan kehadiran Nabi Muhammad mendapatkan rahmat dan kebaikan.
Manusia kafir dan jahiliyahpun mendapatkan rahmat dari kedatangan Islam. Dengan
demikian Islam dan Nabi Muhammad tidak hanya untuk ummat Islam tetapi kebaikannya
juga dirasakan oleh manusia lainnya. Islam adalah membawa agama fitrah yang sesuai
dengan penciptaan manusia, jadi apabila Islam disampaikan maka akan dirasakan sesuai
oleh manusia.
· Alam, hewan dan pokokpun dilindungi dan dipelihara dengan kedatangan Islam.
Umat Islam sebagai khalifah di muka bumi melaksanakan pemeliharaan dan penjagaan
alam dengan demikian kestabilan terwujud dan alam serta isinya menjadi damai.
Dalil:
· Q.21: 107, kami tiada mengutus engkau (ya Muhammad), melainkan menjadi
rahmat untuk semesta alam.
7. Risalatul Islam.
· Risalah Nabi Muhammad Saw adalah risalah Islam, yang dibawanya adalah
sesuatu yang benar. Hal ini tercermin dari akhlak, kepribadian dan sifat-sifat Nabi yang
mulia.
· Inti dari risalah Nabi Muhammad Saw adalah huda (petunjuk) dan dien yang
benar. Risalah membawa huda karena Islam itu sendiri sebagai panduan bagi manusia.
Dalil:
· Q.48: 28, Dia yang mengutus rasulNya dengan membawa petunjuk dan agama
yang haq (benar), supaya agama itu mengalahkan semua agama. Dan Allah cukup
menjadi saksi.
8. Ad Dakwah.
· Rasul menggunakan Islam sebagai petunjuk dan juga Allah menangkan Islam
sebagai dienul Haq ke atas agama-agama lainnya. Usaha ini tidak akan tercapai apabila
tidak dilaksanakan dakwah.
· Rasul dalam menjalankan dakwahnya mempunyai peranan sebagai saksi atas
ummatnya, memberi penyampaian nilai-nilai Islam yang bersifat kabar gembira ataupun
kabar peringatan.
· Allah Swt sekali lagi menegaskan bahwa Rasul berdakwah dengan menyeru
manusia agar kembali kepada Allah dan kemudian Rasul sebagai pelita yang menerangi.
· Peranan Nabi yang digambarkan di dalam surat 33: 45-46 adalah sebagai da’i.
Beliau berdakwah dengan mengajak manusia dan bersifat sebagai pelita yang senantiasa
dijadikan rujukan bagi manusia.
Dalil:
· Q.33: 45-46, Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutus engkau sebagai saksi atas
ummat dan untuk memberi kabar gembira dan kabar takut. Dan untuk menyeru
(manusia) kepada Allah dengan izinNya, dan menjadi pelita yang menerangi.
Ringkasan Dalil:
· Muhammad
· Penutup para Nabi (33: 40)

91
· Penghapus risalah sebelumnya
(Hadits)
· Membenarkan para Nabi sebelumnya (61: 8)
· Penyempurna risalah sebelumnya ditujukan untuk seluruh manusia
(34: 28)
· Ditujukan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (21:
107)
· Risalah Muhammad adalah risalah Islam: intinya petunjuk/Al-Qur’an dan dien
yang benar/Al Islam
· Wajib berdakwah:
· Menjadi saksi (33: 45)
· Memberi berita gembira (33: 45)
· Memberi peringatan (33: 45)
· Menyeru ke jalan Allah (33: 46)
· Cahaya yang menerangi (33: 46)
C-7. WAJIBAT NAHWA RASUL
Sasaran
1. Memahami persaksian Muhammad adalah Rasulullah dan termotivasi untuk
mengaplikasikannya.
2. Mampu menjelaskan kewajiban pribadi mu’min terhadap Rasulullah sebagai
pengaruh persaksiannya.
3. Menyadari peranannya sebagai kader dakwah penerus risalah Rasulullah Saw.
Sinopsis
Muslim yang menyebut bahwa Muhammad adalah Rasulullah di dalam syahadatnya
maka berarti individu tersebut akan membenarkan apa yang dikabarkannya, mentaati
semua perintahnya, menjauhi apa yang dilarangnya, dan tidak dikatakan beribadah
kecuali dengan mengikuti syariatnya. Penerimaan dan ketaatan serta ibadah kepadaNya
melalui petunjuk Rasul adalah hasil dari persaksian ke atas Nabi yang kemudian dari sini
muncul kewajiban-kewajiban yang perlu dijalankan.
Kewajiban kami (muslim) kepada Rasul adalah mengimaninya, mencintai,
mengagungkan, membelanya, mencintai para pencintanya, menghidupkan sunnahnya,
memperbanyak shalawat, mengikutinya dan mewarisi risalahnya. Dengan kewajiban ini
setiap muslim akan senantiasa menjaga dirinya berada didalam saf Islam. Kewajiban ini
sebagai janji dan komitmen dari persaksian kita kepada Nabi bahwa Muhammad Saw
adalah Rasulullah.
1. Muhammad Rasulullah.
· Muhammad Saw adalah nabi dan rasul terakhir yang dijadikan sebagai Nabi dan
Rasul penutup. Beliau sebagai model terbaik dan melengkapi nabi dan rasul sebelumnya.
Risalah yang dibawanya sangatlah bersesuaian dengan keadaan saat ini dan
diperuntukkan bagi semua manusia.
· Berbagai kelebihan dan keutamaan pada diri Nabi sangatlah banyak, sehingga
kita perlu menyimpulkan bahwa beliaulah yang paling sesuai untuk diikuti. Kemudian
bagaimanakah kewajiban kita kepadanya?
Dalil:
· Q.33: 40, Muhammad Saw sebagai Nabi penutup.
· Q.34: 28, diperuntukkan kepada semua manusia.
2. Membenarkan apa yang dikabarkannya.

92
Nabi Muhammad Saw adalah Rasul yang membawa kebenaran. Setiap yang disampaikan
nya adalah benar dan berasal dari Allah Swt. Beliau mengajak kita untuk beriman dan
taat kepada Allah dan RasulNya. Usaha pertama sebelum kita beriman, kita mesti
menerima dan membenarkan apa yang akan kita yakini. Selama kita tidak menerima
maka selama itu kita tidak dapat membenarkan risalah Nabi dan juga tidak akan kita
beriman kepadaNya. Orang yang membenarkan risalahNya adalah orang yang bertaqwa.
Dalil:
· Hadits.
· Q.39: 33, orang yang membawa kebenaran (Muhammad Saw) dan orang-orang
yang membenarkannya adalah mereka itu orang yang taqwa.
3. Membenarkan apa yang dikabarkannya.
Orang yang beriman adalah tentara yang siap dan sedia mendapat arahan dan perintah
dari atasan. Atasan kita adalah Allah Swt dan Nabi Saw. Dialah yang berhak sebagai
atasan kita karena dialah pencipta, pemberi rezki, pengatur dan pemilik kita. Sedangkan
Nabi adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Allah sebagai pembimbing kita. Sikap
kita yang terbaik adalah dengar dan taat perintahNya. Karena setiap perintah itu adalah
untuk kebaikan kita juga.
Dalil:
· Q.24: 51, sesungguhnya perkataan orang beriman apabila dipanggil kepada Allah
dan Rasul Nya, supaya dihukum antara mereka, bahwa mereka berkata: kami dengar dan
kami taat. Mereka itulah orang yang menang.
· Q.5: 7, kami dengar, kami taat dan takutlah kamu kepada Allah.
4. Membenarkan apa yang dikabarkannya.
Muhammad Saw sebagai rasul yang mendapat lesen dari Allah Swt untuk menyampaikan
wahyuNya, maka kita mesti mengiktiraf keadaan belian dan menjadikan diri Nabi
sebagai bahagian di dalam kehidupan kita. Beliau berhak mengatur kehidupan kita
karena ini untuk kebaikan kita sendiri. Oleh karena itu, apabila beliau melarang sesuatu
maka ikuti larangan nya. Inilah jalan terbaik.
Dalil:
· Q.59: 7, ….. apa-apa yang diberikan rasul kepadamu, hendaklah kamu ambil dan
apa-apa yang dilarangnya, hendaklah kamu hentikan dan takutlah kepada Allah.
5. Membenarkan apa yang dikabarkannya.
Mentaati Allah mesti melalui ketaatan kepada Rasul. Yang ditaati adalah syariat yang
dibawanya sama ada yang disampaikan di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah Nabi. Kita
tidak akan dapat beribadah kecuali mengikuti Rasul dan syariatNya.
Dalil:
· Hadits.
· Q.4: 80, barang siapa mentaati rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.
6. Membenarkan apa yang dikabarkannya.
6.1. Mengimani.
· Kewajiban kita terhadap Nabi adalah mengimaninya. Dengan cara ini kita akan
terhindar dari api neraka dan azab yang pedih.
Dalil:
· Hadits.
· Q.61: 10-11, suatu perniagaan yang akan melepaskan kita dari azab yang pedih
adalah beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjuang di jalan Allah dan RasulNya.
6.2. Mencintai.
Dalil:

93
· Hadits.
6.3. Mengagungkan.
Dalil:
· Q.48: 7
6.4. Membelanya.
Dalil:
· Q.9: 40, 61: 14
6.5. Mencintai para pencintanya.
Dalil:
· Q.48: 29
6.6. Menghidupkan sunnahnya.
Dalil:
· Hadits.
· Q.3: 130
6.7. Memperbanyak sholawat.
Dalil:
· Q.33: 56
6.8. Mengikutinya.
Dalil:
· Q.3: 31
6.9. Mewarisi risalahnya.
Dalil:
· Q.48: 28
Ringkasan Dalil:
· Muhammad Rasulullah membenarkan apa yang dikabarkannya
(Hadits, 39: 33)
· Mentaati semua perintahnya (24: 51, 5: 7,
4: 115)
· Menjauhi apa yang dilarangnya (59: 7)
· Tidak dikatakan beribadah kecuali dengan mengikuti syariatnya
(Hadits, 4: 80)
· Kewajiban terhadap Rasulullah mengimani (Hadits, 61:
11)
· Mencintai (Hadits)
· Mengagungkan (48: 7)
· Membelanya (9: 40, 61: 14)
· Mencintai para pencintanya (48: 29)
· Menghidupkan sunnahnya (Hadits, 3: 130)
· Memperbanyak sholawat (33: 56)
· Mengikutinya (3: 31)
· Mewarisi risalahnya (48: 28)
C-8. NATAIJU ITTIBA’U RASUL
Sasaran
Sinopsis
Ringkasan Dalil:

MA’RIFATUL ISLAM

94
D.1. MAKNA ISLAM
Sasaran Pembelajaran:
· Memahami dasar-dasar yang membentuk istilah Islam serta mampu membedakan
dari dasar-dasar konsep hidup yang lain.
· Memahami bahwa Islam adalah tunduk kepada wahyu yang diturunkan kepada
para nabi sebagai aturan yang merupakan jalan lurus menuju keselamatan kehidupan
dunia dan akhirat.
· Menyadari bahwa Islam adalh pedoman hidup dari Allah yang tinggi dan tiada
kerendahan di dalamnya.

Sinopsis:
Islam secara etimologis memiliki makna:
· menundukkan wajah (QS. 4: 125)
· berserah diri (QS. 3: 83)
· suci, bersih (QS. 26: 89)
· selamat, sejahtera (QS. 6: 54)
· perdamaian (QS 47: 35)
Dengan pengertian secara etimologis ini dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki sifat
yang dibawanya yaitu berserah diri dan wujud perdamaian. Manakala kalimat Islam
didalam Al Qur’an disebut disebut sebagai diin (QS. 3: 19, 85) yang berarti suatu
manhaj. Sistem dan aturan hidup yang menyeluruh dan lengkap. Dengan demikian,
kalimat Islam adalah ketundukkan, wahyu ilahi (QS. 53: 4, 21: 7), diin keselamatan
dunia-akhirat. Kesimpulan dari makna-makna tersebut: Islam adalah panduan hidup yang
lengkap bagi manusia, dengan berserah diri dan tunduk maka ia akan mendapatkan
kebahagiaan dan kedamaian dunia dan akhirat. Akhirnya, Rasulullah bersabda bahwa
Islam itu tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya. Islam itu tinggi dan akan
dimenangkan ke atas semua agama, kepercayaan dan ideologi (QS. 48: 28, 9: 33).
Ringkasan dalil:
Makna Etimologis Islam
· menundukkan wajah (QS. 4: 125)
· berserah diri (QS. 3: 83)
· suci, bersih (QS. 26: 89)
· selamat, sejahtera (QS. 6: 54)
· perdamaian (QS 47: 35)
Kalimat Islam sebagai Diin (QS. 3: 19, 85)
· tunduk
· wahyu ilahi (QS. 53: 4, 21: 7)
· diin para nabi dan rasul (QS. 2: 136, 3: 84)
· hukum-hukum Allah (QS. 5: 48-50)
· jalan yang lurus (QS. 6: 153)
· keselamatan dunia akhirat (QS. 16: 97, 2: 200, 28: 77)
Islam tinggi dan tak ada kerendahan di dalamnya.
D.2. ISLAM WA SUNNATULLAH
Sasaran:
· Memahami dan menyadari fithrah alam semesta yang mengikuti sunnatullah:
Islam adalah asas alam semesta.
· Memahami bahwa syari’at Muhammad Saw adalah sunnatullah yang sesuai
dengan sifat alam semesta tersebut.

95
· Menyadari bahwa menerima Islam adalah kembali kepada fithrah, sedangkan
menolak Islam berarti menolak fithrah manusia dan alam semesta.
Sinopsis:
Allah swt sebagai khaliq memiliki kewajiban dan hak mutlak untuk menentukan aturan
bagi kepentingan dan kebaikan manusia serta makhluq lainnya. Aturan yang Allah
tentukan berupa Islam dan mendatangkan rasul sebagi uswah dan teladan yang
diperuntukkan bagi manusia. Mereka yang mengikuti aturan tersebut disebut adalah
Muslim dan yang tidak mengikutinya disebut kafir.
Allah swt selain menciptakan manusia juga menciptakan alam semesta dan seisinya.
Ketertiban, keteraturan dan keselamatan perjalanan kehidupan alam ini berlaku dengan
sunnah kauniyah yang Allah berikan kepadanya. Seluruh alam semesta tunduk, bersujud,
bertahmid dan berislam kepadaNya. Alam semesta tak ada yang kafir, mereka semuanya
muslim dan berserah diri kepada Allah dengan mengikuti segala aturannya.
Islam merupakan sunnatullah dan ditetapkan kepada alam dan manusia. Sunnatullah
kepada alam bersifat mutlak, langgeng dan kontinyu yang merupakan taqdir kauni dalam
tunduk kepada Allah. Sedangkan sunnatullah kepada manusia berupa hidayah yang Allah
berikan. Hidayah inipun bergantung kepada kehendak dan ikhtiar manusia serta
merupakan taqdir syar’i. Kemudian sikap manusia terbagi menjadi dua: menerimanya
(muslim) dan menolaknya (kafir).
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:
· Allah pencipta (QS. 59: 23) yang menciptakan alam (QS. 25: 2) dan menentukan
aturan (QS. 25: 2, 54: 59, 15: 20).
· Seluruh alam semesta sujud, tasbih, tahmid (QS. 13: 15, 22: 18, 6: 50, 59: 1, 64:
1, 24: 41, 17: 44)
· Al Khaliq menurunkan taqdir syar’i (QS. 6: 153, 45: 18).
· Islam sebagai Diin (3: 19, 85)
· Rasul sebagai contoh pelaksanaan diin kepada manusia (QS. 33: 21)
· Ada yang menerima (disebut muslim) sesuai dengan alam semesta, ada yang
menolak (disebut kafir) subversif di alam semesta.
· Akam semesta memiliki sifat tunduk kepada Allah secara mutlak
D.3.1. SYUMULIYATUL ISLAM
Sasaran:
· Memahami sifat-sifat dasar Islam sebagai diin yang sempurna, penuh nikmat,
diridhai dan sesuai dengan fithrah.
· Memahami sifat interaksi yang tepat dengan sifat-sifat Islam tersebut.
· Menyadari Islam sebagai suatu kekuatan lahir batin.
Sinopsis:
Islam memiliki sifat-sifat dasar yaitu kesempurnaan, penuh nikmat, diridhai dan sesuai
dengan fithrah.
Sebagai agama, sifat-sifat ini dapat dipertanggungjawabkan dan menjadikan pengikutnya
dan penganutnya tenang, selamat dan bahagia.
Muslim menjadi selamat karena Islam diciptakan sebagai diin yang sempurna.
Ketenangan yang dirasakan seorang Muslim karena Allah memberikan segenap rasa
nikmat kepada penganut Islam, lalu kepada mereka yang mengamalkan Islam karena
sesuai dengan fithrahnya.
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:

96
Sifat-sifat Islam:
· Diinul Kamil (QS. 3: 5), aqidah tetap (QS. 2: 133, 21: 7), syari’at tetap dan
fleksibel (QS. 2: 286, 5: 3).
· Diinul Ni’mat (QS. 3: 5), akal(QS. 31: 20), fithrah (QS. 30: 30), tradisi (QS. 49:
7) sehingga Islam merupakan kebutuhan.
· Diinur Ridha (QS. 3: 5) dalam memeluk (QS. 49: 15) dan komitmen (QS. 48: 50)
sehingga diterima Allah dengan penuh keridhaan dan diridhai (QS. 89: 27-28).
· Diinul Fithrah (QS. 30: 30) berjalan sesuai fithrah: menjaga (QS. 24: 30, 33: 59),
memelihara(QS. 24: 32), mengembangkan dan mengarahkan (QS. 4: 1-2).
· Diin yang kuat dan tak terkalahkan
D.3.2. SYUMULIYATUL ISLAM
Sasaran:
· Memahami gambaran menyeluruh dari Islam sebagai asas bina, maupun
muayyidat dengan hubungan-hubungannya.
· Dapat menyebutkan contoh-contoh penyelesaian masalah aktual secara Islami
dalam bidang kehidupan bermasyarakat.
· Menyadari bahwa Islam merupakan sistem hidup yang lengkap dan sempurna
sehingga termotivasi untuk memasukinya.
Sinopsis:
Islam merupakan agama yang syumul (sempurna) berarti lengkap, menyeluruh dan
mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Kesempurnaan Islam
ini ditandai dengan syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj
(mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat).
Islam sebagai syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa) dibuktikan dengan ciri risalah nabi
Muhammad Saw sebagai kesatuan risalah dan nabi pentutup. Islam yang dibawa nabi
Muhammad Saw dilaksanakan sepanjang masa hingga hari kiamat.
Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek
lengkap yang terdapat dalam Islam itu sendir, misalnya jihad dan da’wah (sebagai
penyokong Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai asas
Islam). Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai agama.
Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia
dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan. Pencipta alam ini hanya Allah saja. Karena
berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan
kepadaNya.
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:
Syumuliatul islam (QS. 2: 208).
Syumuliyatuz zamaan (QS. 2: 208):
· risalah yang satu (QS. 29: 90, 34: 28, 21: 107)
· penutup para nabi (QS. 33: 42)
Syumuliyatul minhaj:
· asas aqidah (syahadatain dan rukun iman)
· bangunan Islam: ibadah, rukun islam (sholat, shiyam, zakat haji), akhlaq
· penyokong/penguat: jihad (QS. 29: 6,69, 47: 31)atau amar ma’ruf nahi munkar
(QS. 3: 104, 7: 99, 9: 112) dan da’wah (QS. 16: 125, 41: 33)
Syumuliyatul makan (QS. 22: 40)
· kesatuan pencipta (QS. 2: 163-164)
· kesatuan alam (QS. 2: 29, 67: 15)

97
D.3.3. SYUMULIYATUL ISLAM
Sasaran:
· Memahami gambaran menyeluruh dari Islam sebagai asas bina, maupun
muayyidat dengan hubungan-hubungannya.
· Dapat menyebutkan contoh-contoh penyelesaian masalah aktual secara Islami
dalam bidang kehidupan bermasyarakat.
· Menyadari bahwa Islam merupakan sistem hidup yang lengkap dan sempurna
sehingga termotivasi untuk memasukinya.
Sinopsis:
Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaannya adalah Islam
mencakup seluruh peraturan dan segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam
sangat sesuai dijadikan sebagai pedoman hidup. Di antara kelengkapan Islam yang
digambarkan dalam Al Qur’an adalah mencakup konsep keyakinan (QS. 2: 255), moral
(QS. 7: 99), tingkah laku (QS. 2: 138), perasaan (QS. 30: 30), pendidikan (QS. 2: 151, 3:
162, 62: 2), sosial (QS. 24: 7), politik (QS. 3: 85-86, 12: 40), ekonomi (QS. 9: 60, 103,
59: 7), militer (QS. 8: 60, 9: 5-8), hukum/perundang-undangan (QS. 4: 65).
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:
Islam sebagai pedoman hidup:
· konsep keyakinan (QS. 2: 255)
· moral (QS. 7: 99)
· tingkah laku (QS. 2: 138)
· perasaan (QS. 30: 30)
· pendidikan (QS. 2: 151, 3: 162, 62: 2)
· sosial (QS. 24: 7)
· politik (QS. 3: 85-86, 12: 40)
· ekonomi (QS. 9: 60, 103, 59: 7)
· militer (QS. 8: 60, 9: 5-8)
· hukum/perundang-undangan (QS. 4: 65)

D.4.1. ISLAM AKHLAQUN


Sasaran:
· Memahami Islam sebagai sistem akhlaq dan mampu membedakan dengan sistem
moral lainnya.
· Mampu meninggalkan akhlaq tercela dari kehidupannya.
· Berusaha mengaplikasikan akhlaqul karimah sebagai cermin keimanannya kepada
Allah dan RasulNya.
Sinopsis:
Islam memiliki sistem akhlaq yang mampu membedakan dengan sistem moral lainnya
buatan manusia. Sebab akhlaq Islam berpedoman kepada Al Qur’an, yang mengajarkan
hubungan Allah sebagai khaliq kepada manusia sebagai makhluq. Akhlaq adalah tingkah
laku makhluq yang diridhai oleh Khaliq. Hubungan manusia kepada Allah adalah akhlaq.
Bentuk-bentuk hubungan akhlaq adalah: akhlaq kepada Allah (QS. 2: 186), akhlaq
kepada diri sendiri (QS. 2: 44), akhlaq kepada sesama manusia (QS. 2: 83, 31: 17-19),
akhlaq kepada alam sekitar (QS. 11: 61, 7: 56). Inti dari ajaran akhlaq adalah melepaskan
diri dari perbuatan tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan mulia.
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:

98
Bentuk-bentuk akhlaq:
· Akhlaq kepada Allah (QS. 2: 186)
· Akhlaq kepada diri sendiri (QS. 2: 44)
· Akhlaq kepada sesama manusia (QS. 2: 83, 31: 17-19)
· Akhlaq kepada alam sekitar (QS. 11: 61, 7: 56)
D.4.2. ISLAM FIKRATAN
Sasaran:
· Memahami Islam sebagai fikrah yang sesuai dengan fithrah dan bashirah
manusia.
· Menyadari bahwa hanya islamlah yang dapat memberikan jawaban yang benar
tentang ketuhanan, kenabian, peribadatan, alam semesta, manusia dan hakikat kehidupan.
· Termotivasi untuk menerapkan ‘amal islami berlandaskan fikrah islamiyah di
tengah masyarakat.
Sinopsis:
Manusia yang diciptakan Allah terbagai menjadi muslim dan kafir. Realitas ini
menunjukkan bahwa terdapat manusia yang membawa kebenaran dan ada yang
membawa kebatilan. Perbenturan akan selalu berlku di antara keduanya karena landasan
yang digunakan untuk berfikir dan bertindak adalah berbeda. Islam adalah sumber fikrah
dan kepadanya seorang Muslim merujukkan kerangka fikirnya. Di lain pihak, kaum
kuffar merujuk kepada hawa nafsunya. Islam yang haq, jelas, tetap dan sempurna tak
akan dapat ditandingi oleh kebatilan.
Muslim yang beriman menjadikan bashirah sebagai sumber fikrahnya, sedangkan kuffar
menjadikan hawa nafsu sebagai sumber fikrahnya. Manusia, baik ia seorang muslim
ataupun kafir, memahami sesuatu yang ada disekitarnya berlandaskan keyakinannya. Hal
sedemikian juga jga berkeneaan dalam memahami Allah, risalah, ibadah, alam semesta,
manusia dan kehidupan.
Muslim yang beriman dalam memandang segala sesuatu selalu mendayagunakan
bashirahnya sehingga selalu muncul tashawur yang sahih, yang berimplikasi kepada
munculnya fikrah yang islami. Hal ini yang mengantarkan terwujudnya amal-amal
islami. Sebaliknya, pihak kuffar mendasari fikrahnya dari hawa nafsu yang bersifat
berubah-ubah dan temporal untuk memenuhi kebutuhan materialisme dan hedonisme
saja, sehingga memunculkan tashawur yang salah/rusak. Hal ini yang menghasilkan
fikrah jahiliyah dan amal jahili.
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:
· Dua bentuk sumber fikrah: kekufuran dengan hawa nafsu dan imen dengan
bashirah. Semua dalam rangka memahamai 6 hakikat besar: Allah, risalah ibadah, alam
semesta, manusia dan kehidupan.
· Kekufuran membentuk tashawur yang salah: memunculkan pemikiran jahiliyah,
dalam ideologi jahiliyah, diaplikasiakan dalam tingkah laku dan dinamika jahiliyah.
· Keimanan membentuk tashawur yang benar: memunculkan pemikiran islami,
dalam fikrah islamiyah, diaplikasiakan dalam amal Islami dan harakah islamiyah.
D.5. ISLAM DIINUL HAQ
Sasaran:
· Memahami pengertian ad diin dan mampu menjelaskan kesalahpahaman
masyarakat atas pengertian ad diin.
· Membuktikan berdasarkan dalil aqli dan dalil naqli bahwa: Islam adalah diinul
haq dan selainnya pastilah diinul baathil.

99
· Menyadari bahwa Islam sebagai diinul haq adalah petunjuk yang lurus
danmembawa keridhaan Allah. Di lain pihak, selain Islam adalah sumber keahiliyahan
yang membawa kepada kesesatan dan kemurkaan Allah.
Sinopsis:
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:
· Allah yang Maha Pencipta (QS.10: 4, 61: 9, 67: 3)
· Allah yang Maha Mengetahui (QS. 61: 14, 36: 79)
· Allah yang Maha Bijaksana (QS.59: 24, 61: 1, 62: 1)
· Allah adalah Al Haq (QS.10: 32, 22: 62)
· Diinullah adalah Diinul Haq (QS. 9: 33, 48: 28, 61: 9)
· Islam (QS. 3: 19, 85) membawa kepada petunjuk (QS. 6: 153, 1: 5-6)
· Selain Allah adalah makhluq (QS. 22: 73, 16: 17) yang sangat bodoh (QS. 3: 73)
yang berorientai kepada zhan (QS. 10: 36, 6: 116)
· Selain Allah adalah bathil (QS. 10: 32, 22: 62), berarti (membuat) selain diinullah
merupakan diinul baathil yaitu kejahiliyahan (QS. 5: 50, 39: 64) yang menyeru kepada
kesesatan (QS. 1: 7, 2: 120, 6: 153).
D.6. TABIATUD DIINUL ISLAM
Sasaran:
· Memahami sifat-sifat diinul Islam yang menjadi ciri khas penampilannya
sepanjang sejarah.
· Dapat memberikan dalil naqli dan dalil aqli bagi setiap sifat tersebut serta
menyebutkan contoh-contohnya.
· Menyadari peranannya dalam perjuangan Islam dengan upaya menampilkan ciri-
ciri tersebut pada dirinya, keluarga maupun masyarakat.
Sinopsis:
Hasiyah:
Al Ikhlas wa Al Fithrah - mukhlis wa hanif.
Al Qayyimu wa Al Minhaj - qayyimun minhajiyun
Al Ahkamu wa Al Akhlaq - husnu al khuluq wa al hakim
An Nazhafat wa Thaharah - nazhiifun thahuurun
Al ‘Ilmu wa Al ‘Amal - ‘aliimun ‘amiilun
Al ‘Ilmu wa Al Fikr - ‘aliimun mufakkirun
Al ‘Amal wa Al Amal - ‘amilun mutafailun
Al Quwwatu wa Al Mas’uliyah - qawiyun amiin
Al ‘Izzah wa Ar Rahmah - ‘aziizun rahiimun
Ad Daulah wa Al ‘Ibaadah - siyasiyun ‘abid
As Saifu wa Mashaf - mujahidun rabbani
Al Harakah wa Al Minhaj - harakiyun minhajiyun
Keseluruhannya merupakan pribadi Islami
Ringkasan Dalil:
Karakteristik Diin Al Islam:
· Diin yang bersih dari syirik dan sesuai dengan fitrah; membentuk pribadi mukhlis
dan hanif (QS. 39: 2,11,14, 7: 172, 30: 30).
· Diin yang penuh dengan tatanan nilai dan konsep; membentuk pribadi yang
bermutu dan bermanhaj (QS. 36: 1-2, 43: 4).
· Diin akhlaq/moral dan hukum; membentuk pribadi yang berakhlaq dan bijaksana
(QS. 4: 36, 105).

100
· Diin kebersihan dan kesucian; membentuk pribadi yang bersih dan suci (QS. 9:
108).
· Diin ilmu dan amal; membentuk pribadi yang berilmu dan aktif bekerja (QS. 47:
19, 2: 44)
· Diin ilmu dan pemikiran; membentuk pribadi yang berilmu dan pemikir (QS. 9:
122).
· Diin kerja dan harapan; membentuk pekerja yang optimis (QS. 9: 105, 46: 19, 4:
123-124).
· Diin yang kuat dan bertanggung jawab; membentuk pribadi yang teguh dan dapat
dipercaya (QS. 28: 26).
· Diin yang bermartabat dan penyayang; membentuk pribadi yang berprestise dan
santun (QS. 9: 128, 49: 10).
· Diin daulah dan ‘ibadah; membentuk politikus yang ‘abid (QS. 73: 20).
· Diin pedang dan Al Qur’an; membentuk pribadi mujahid yang robbani (QS. 9:
111, 3: 79).
· Diin harakah dan minhaj; membentuk pribadi mutaharrik yang minhaji (QS. 9:
38-39, 16: 125, 12: 108).
· Keseluruhannya merupakan pribadi islami. (QS. 3: 110)
D.7. AL ‘AMAL AL ISLAMI
Sasaran:
· Memahami bahwa interaksinya dengan Islam wajib membentuk keyakinan,
pemikiran, perasaan dan akhlaq yang Islami.
· Memahami bahwa amal islami hanya terbentuk dar kondisi yang islami melalui
tarbiyah dan da’wah serta harokah dan jihad.
· Menyadari bahwa nilai ‘amal islami merupakan ibadah yang akan membentuk
ketaqwaan dan memperoleh tamkin dari Allah yang ditunjukkan dengan bukti dalam
bentuk kepercayaan dan amanah.
Sinopsis:
Bertaamul dengan Islam akan membentuk: keyakinan (i’tiqadi), fikrah, perasaan
(syu’uriy) dan akhlaq yang akan mewujudkan kondisi yang islami (maudhu’ islamiy) dan
kemudian membentuk sikap yang islami (mauqifu islamiy). Sikap yang islami berarti
memiliki kecenderungan yang positif terhadap nilai-nilai Islam sehingga dapat
menimbulkan amal islami yang berbentuk tarbiyah dan da’wah serta harokah dan jihad.
Semua amal ini adalah ibadah kepada Allah dan ditujukan hanya kepada Allah saja
sehingga mengapai derajat taqwa. Amal islami mendapat pembuktian dari Allah yang
berbentuk kepercayaan (tsiqah), pertolongan dan amanah. Kesemuanya ini diperlukan
dalam rangka memperoleh eksistensi.
Hasiyah:
Ringkasan Dalil:
· Bertaamul dengan Islam akan membentuk: keyakinan (i’tiqadi), fikrah, perasaan
(syu’uriy) dan akhlaq yang akan mewujudkan kondisi yang islami (maudhu’ islamiy)
(QS. 59: 9) dan kemudian membentuk sikap yang islami (mauqifu islamiy) (QS. 59: 10,
3: 146-147).
· Amal islami berbentuk tarbiyah dan da’wah (QS. 41: 33) serta harokah dan jihad
(QS. 4: 71, 76, 8: 45-46). Semua amal ini merupakan ibadah kepada Allah saja (QS. 16:
36) untuk mengapai derajat taqwa (QS. 2: 21, 8: 29). Amal islami mendapat pembuktian
dari Allah (QS. 11: 17) yang berbentuk kepercayaan (tsiqah) (QS. 21: 105), pertolongan
(QS. 47: 7) dan amanah (QS. 4: 58).

101
· Kesemuanya ini diperlukan dalam rangka memperoleh eksistensi (QS. 24: 55).

MA’RIFATUL INSAN
E.1. TA’RIFATUL INSAN
Sasaran:
· Memahami pengertian manusia sebagai makhluq yang terdiri dari ruh dan jasad
yangdimuliakan oleh Allah dengan tugas ‘ibadah dan kedudukan sebagai khilafah di
muka bumi.
· Memahami potensi dan kelebihan manusia dari pada makhluq lainnya pada hati,
akal dan jasadnya.
Sinopsis:
Manusia adalah makhluq Allah yang terdiri dari ruh dan jasad yang dilengkapi dengan
potensi dan kelebihan dibandingkan makhluq lainnya, yaitu hati, akal dan jasadnya.
Dengan hati manusia dapat ber’azam, denga akal dapat berilmu dan dengan jasad
manusia dapat beramal. Kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan oleh Allah
untuk menjalankan amanah yaitu ‘ibadah dan khilafah di muka bumi. Peranan dan tugas
yang diamalkan ini akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Hasiyah:
· Manusia (insan)
Dalil: tanah (QS. 32: 7-8, 15: 28), ruh (QS. 32: 9, 15: 29)
· Hati (qalb)
Dalil: manusia membentuk kemauan/keputusan berdasarkan keyakinan (QS 17: 36),
kehendak (QS. 18: 29). Kebebasan memilih (QS. 90: 10)
· Akal
Dalil: mampu membentuk pengetahuan (QS. 17: 36, 67: 10)
· Jasad
Dalil: untuk beramal (QS. 9: 105)
· Amanah
Dalil: manusia diberi amanah untuk menjalankan ibadah (QS. 83: 72) & fungsi
kekhilafahan (QS. 2: 31).
· Balasan
Dalil: manusia menerima balasan pahala (QS. 84: 25, 16: 97, 95: 8)
E.2. HAKIKATUL INSAN
Sasaran:
· Memahami kedudukan manusia sebagai makhluq yang lemah dan bagaimana
dengan kelemahan itu dapat digapai kemuliaan.
· Memahami tugas yang dibebankan kepada manusia, pilihan yang benar dalam
tugas tersebut dan tanggung jawab bagi pelaksanaannya atau pengingkarannya.
Sinopsis:
Hakikat manusia - menurut Allah selaku Khaliq - adalah sebagai makhluq, dimuliakan,
diberikan beban, bebas memilih dan bertanggung jawab. Manusia sebagai makhluq
bersifat fitrah: lemah, bodoh dan faqir.
Manusia diberikan kemuliaan karena mamiliki ruh, keistimewaan dan ditundukkannya
alam baginya. Manusia juga dibebankan Allah swt untuk beribadah dan menjalankan
peranan sebagai khalifah di bumi yang mengatur alam dan seisinya.
Manusia pada hakikatnya diberikan kesempatan memilih antara beriman atau kafir, tidak
seperti makhluq lainnya yang hanya ada satu pilihan saja yaitu hanya berislam. Manusia

102
bertanggung jawab atas pelaksanaan bebanan yang diberikan baginya berupa: surga bagi
yang beramal islami atau neraka bagi yang tidak beramal islami.
Hasiyah:
Hakikat manusia:
· Yang diciptakan.
Dalil: berada dalam fitrah (QS. 30: 30), bodoh (QS. 33: 72), lemah (QS. 4: 28) dan fakir
(QS. 35: 15).
· Yang dimuliakan
Dalil: ditiupkan ruh (QS. 32: 9), memiliki keistimewaan (QS. 17: 70), ditundukkannya
alam baginya (QS. 45: 12, 2: 29, 67: 15).
· Yang menanggung beban
Dalil: ibadah (QS. 51: 56), khilafah (QS. 2: 30, 11: 62).
· Yang bebas memilih
Dalil: bebas memilih iman atau kufur (QS. 90: 10, 76: 3, 64: 2, 18: 29).
· Yang mendapat balasan
Dalil: bertanggung jawab (QS. 17: 36, 53: 38-41, 102: 8), berakibat syurga (QS. 32: 19,
2: 25, 22: 14) atau neraka (QS. 32: 20, 2: 24).
E.3. TOKOH INSAN
Sasaran:
· Memahami bahwa potensi pendengaran, penglihatan dan hati (akal) akan dimintai
pertanggungjawaban dalam melaksanakan ibadah.
· Memahami bahwa melaksanakan tugas ibadah akan mempertahankan posisi
kekhilafahannya.
· Memahami dan menyadari bahwa khianat/tidak melaksanakan tugas ibadah akan
berakibat kepada diri sendiri
Sinopsis:
Potensi manusia yang terdiri dari pendengaran, penglihatan dan hati (akal) merupakan
instrumen yang diberikan oleh Allah untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab
yang dibebankanNya. Sebab dengan semuanya itu manusia dapat memperoleh kelebihan-
kelebihan sehingga dapat menjalankan amanah: beribadah dan manjalankan fungsi
kekhilafahan. Dengan kekhilafahan ini, manusia mendayagunakan potensinya tersebut
untuk membimbing alam. Bagi mereka yang khianat terhadap segenap potensi yang
diberikanNya tersebut, ia akan mendapat kerugian dan Allah swt memberi julukan
kepada mereka: bagaikan hewan ternak, seperti anjing, seperti monyet, seperti babi,
seperti kayu, seperti batu, seperti laba-laba dan seperti keledai.
Hasiyah:
· Potensi manusia
Dalil: pendengaran, penglihatan dan hati (akal)
· Mas’uliyah
Manusia dengan segenap potensi dan kelebihan-kelebihan harus bertanggung jawab dan
menyadari perannya. Tugas/amanah yang dibebankan sebagai refleksi atas potensi dan
kelebihan-kelebihan yang telah diterimanya itu adalah beribadah, tetapi tidak semua
manusia bersedia menerima amanah ini dan sebagian menolaknya.
Dalil: dengan ketiga potensi dan kelebihan-kelebihan lainnya manusia mendapat tugas
beribadah (QS. 2: 21, 51: 56)
· Khilafah
Bagi yang menyadari potensi-potensi yang telah diberikan dan beribadah kepada Allah
(berislam) maka status khilafah disandangnya. Khilafah bukan berarti pemilik asal, tetapi

103
ia hanya bertindak selaku pemelihara alam yang Allah telah ciptakan. Maka
mendayagunakan alam dan menjalankan fungsi kekhilafahan harus selaras dengan
kehendak Sang Pemilik Alam dan tidak menentangNya.
Dalil:
· menjadikan kewajiban, bersikap amanah, memperoleh kedudukan khilafah (QS.
24: 55, 48: 29)
· makna khilafah bukan berarti pemilik asal, tetapi hanya pemelihara (QS. 35: 13,
40: 24-25, 53)
· mendayagunakan alam dan menjalankan fungsi kekhilafahan harus selaras dengan
kehendak Sang Pemilik Alam (QS. 76: 30, 26: 68)
· tidak menentang terhadap aturanNya (QS. 100: 6-11)
· Lalai
Mereka yang lalai tidak menyadari potensi yang telah diberikan kepadanya dan tidak
bertanggung jawab, akan mendapatkan kerugianyang amat besar, bahkan dianggap setara
dengan makhluq yang lebih rendah derajatnya; tidak bernilai di sisi Allah swt.
· Dalil: lalai dari kewajiban, bersikap khianat berarti
· bagaikan hewan ternak (QS. 7: 179, 45: 2, 25: 43-44)
· seperti anjing (QS. 7: 176)
· seperti monyet (QS. 5: 60)
· seperti babi (QS. 63: 4)
· seperti kayu (QS. 2: 74)
· seperti batu (QS. 29: 41)
· seperti laba-laba (QS. 62: 5)
· seperti keledai
E.4. NAFSUL INSAN
Sasaran:
· Memahami kedudukan ruh dan hawa nafsu yang mempengaruhi jiwa manusia
hingga menimbulkan kondisi-kondisi kejiwaan.
· Memahami bahwa dzikir, akal atau syahwat dapat menimbulkan tiga nafsu jiwa:
muthmainnah, lawwaamah dan amarah.
· Termotivasi untuk meningkatkan keimanan dan ruhul jihad sehingga menggapai
nafsu muthmainnah.
Sinopsis:
Nafsu manusia senantiaa berubah-ubah bergantung kepada sejauh mana kekuatan ruh
saling tarik dengan hawa nafsu. Pertempuran selalu berlaku bagi keduanya. Manusia
yang ruh (islam)nya dapat menekan hawa nasunya dengan dzikrullah, maka ia memiliki
nafsul muthma’innah.
Hasiyah:
Nafsu manusia
Dalil: nafsu manusia (QS. 91: 7-10)
Ruh di atas hawa nafsu
Dalil: ruh menguasai hawa nafsu (QS. 29: 45)
berorientasi dzikr (QS. 3: 191, 13: 28)
jiwa yang tenang (QS. 89: 27-30)
Ruh tarik menarik dengan hawa nafsu
Dalil: ruh senantiasa tarik menarik dengan hawa nafsu (QS. 4: 137, 143)
berorientasi akal/akal-akalan (QS. 2: 9)
jiwa yang selalu menyesali dirinya (QS. 75: 2)

104
Ruh di bawah pengaruh hawa nafsu
Dalil: ruh dibawah pengaruh dan dikuasai hawa nafsu (QS. 25: 43, 45: 23)
berorientasi syahwat (QS. 3: 14)
jiwa yang selalu menyuruh kepada kejahatan (QS. 12: 53)
E.5. SIFATUL INSAN
Sasaran:
· Memahami dua jalan yang diberikan Allah kepada manusia melalui jiwanya.
· Memahami bahwa untuk meningkatkan kualitas taqwa ia harus beribadah dengan
senantiasa mensucikan jiwa.
· Termotivasi untuk meninggalkan sifat buruk yang membawa kepada maksiat.
Sinopsis:
Jiwa manusia diberi dua jalan pilihan: taqwa dan fujur. Manusia bertaqwa adalah
manusia yang selalu membersihkan dirinya (tazkiatun nafs) sehingga muncul pada diri
mereka sifat syukur, shabar, penyantun, penyayang, bijaksana, taubat, lemah lembut,
jujur dan dapat dipercaya, lalu berakhir kepada kejayaan. Manusia yang menempuh jalan
fujur, dominan dalam memperturutkan syahwatnya, cenderung bersifat tergesa-gesa,
berkeluh kesah, gelisah, dusta, bakhil, kufur, berbantah-bantahan, zalim, jahil, merugi
dan bermuara kepada kefatalan.
Hasiyah:
· Nafsul insan
Dalil: jiwa manusia diberi dua jalan pilihan (QS. 90: 10, 91: 8, 76: 3, 64: 2, 18: 29)
· Taqwa
Dalil: tazkiatun nafz (QS. 91: 8, 87: 14-15, 62: 4) akan memperoleh kejayaan (QS. 87:
14-15)
· Fujur
Dalil:
· mengotori jiwa (QS. 91: 10)
· memperturut ketergesa-gesaan (QS. 17: 11, 21: 37)
· berkeluh kesah (QS. 70: 19)
· gelisah (QS. 70: 20)
· dusta (QS. 17: 100)
· bakhil (QS. 14: 34)
· kufur (QS. 14: 13)
· susah payah (QS. 90: 4)
· berdebat (QS. 18: 54)
· berbantah-bantahan
· zalim
· jahil
· merugi
· bermuara kepada kefatalan
E.6. HAKIKATUL IBADAH
Sasaran:
· Memahami hakikat beribadah kepada Allah.
· Memahami makna dan tujuan ibadah sebagai tujuan kehidupan manusia.
· Termotivasi untuk menjadikan selurh aspek kehidupannya untuk diabdikan
kepada Allah.
Sinopsis:

105
Hakikat beribadah kepada Allah adalah meng-ilah-kan Allah dan mengingkari thaghut;
ini adalah tugas bagi kehidupan manusia. Motivasi beribadah adalah mensyukuri atas
seluruh nikmat yang telah diberikanNya kepada kita dan merasakan keagungan Allah swt
melalui ciptaanNya di alam semesta.
Ibadah yang dilakukan bertujuan menghinakan diri, kecintaan dan ketundukan. Ibadah
dilakukan dengan penuh harap dan rasa takut.
Hasiyah:
· Sumber pelaksanaan ibadah
Dalil: merasakan banyaknya nikmat Allah swt (QS. 16: 18, 55: 13, 18, 21, 23, 25, 28, 30,
32, 34, 31: 20, 14: 7) dan merasakan keagungan Allah swt (QS. 7: 54, 67: 1)
· Ibadah
Dalil: Ibadah bertujuan merendahkan diri (QS. 7: 55), kecintaan (QS. 2: 165),
ketundukan (QS. 4: 125)
· Takut dan harap
Dalil: Ibadah dilakukan dengan takut (QS. 7: 55-56, 9: 13, 33: 39, 2: 41) & harap (QS.
21: 90, 94: 8)
E.7. SYUMULIYATUL IBADAH
Sasaran:
· Memahami integralitas ibadah dalam Islam.
· Dapat menyebutkan bentuk-bentuk ibadah tersebut secara garis besar dalam
berbagai lapangan kehidupan.
· Termotivasi menjadikan seluruh gerak hidupnya sebagai pengabdian kepada
Allah.
Sinopsis:
Ibadah dalam Islam bersifat integral dan komprehensif, karena memiliki beberapa aspek
yang merangkum berbagai persoalan kehidupan.
Ibadah dalam Islam mencakup seluruh permasalahan diin, seperti masalah yang wajib,
mandub, mubah, dsb.
Ibadah dalam Islam mencakup seluruh permasalahan kehidupan seperti ‘amal shalih,
membangun bumi, menegakkan diin.
Ibadah dalam Islam juga mencakup selurh keadaan manusia yang berkaitan dengan hati,
akal dan anggota tubuh.
E.8. QABULUL IBADAH
Sasaran:
· Memahami syarat-syarat dikabulkannya ibadah.
· Dapat melaksanakan syarat-syarat tersebut.
· Termotivasi untuk senantiasa mengikuti minhaj.
Sinopsis:
Agar dikabukan/diterima Allah swt., ibadah harus memenuhi beberapa persyaratan.
Ibadah terbagi menjadi dua bagian: ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah ghairu mahdhah
(non ritual). Ibadah mahdhah adalah ibadah khusus dengan syarat: niat yang benar,
disyari’atkan, dengan berpedoman pada cara tertentu. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah
memiliki ciri-ciri: niat ikhlash, tergolong aktivitas amal shalih, wajib mengikuti pedoman
(As Sunnah) tetapi dalam segi cara perlu berlandaskan pula kepada situasi dan keadaan..
Hasiyah:
I. Ibadah
A. Ibadah mahdhah
Dalil: syarat-syaratnya adalah

106
1. niat yang benar (QS. 98: 5, 39: 11, 14)
2. disyariatkan (QS. 59: 7)
3. mengikuti cara (As Sunnah)
4. wajib ittiba’ dalam konsep maupun caranya (QS. 7: 157)
B. Ibadah ghairu mahdhah
Dalil: syarat-syaratnya adalah
1. niat yang benar (QS. 98: 5, 39: 11, 14)
2. termasuk ‘amal shalih (QS. 103: 3, 95: 8)
3. wajib ittiba’ dalam konsep (QS. 3: 31)
E.9. NATAIJUL IBADAH
Sasaran:
· Memahami makna ibadah salimah.
· Memahami unsur-unsur yang dihasilkan dan wajib diwujudkan dalam beribadah
secara benar.
· Memahami hubungan antara ibadah salimah dengan taqwa.
Sinopsis:
Nataijul ibadah (buah/hasil dari ibadah) adalah taqwa. Bagaimana cara agar ibadah-
ibadah yang kita lakukan berbuah taqwa? Prinsip-prinsip yang harus diwujudkan: iman
kepada Allah, berislam, bertindak ihsan, tawakal atas segala urusan, cinta kepada Allah
dan rasulNya, menumbuhkan harap atas ibadah yang dilakukannya, ibadah diiringi rasa
taku kepadaNya, mengiringi ikhtiar dengan do’a, ibadah dilakukan dengan khusyu’.
Ibadah dengan melaksanakan prinsip-prinsip sedemikian insya Allah mendapatkan hasil
taqwa.
Dalil: ibadah salimah dapat menghantarkan kepada buah taqwa apabila pencapaiannya
melalui
iman (QS. 4: 136)
islam (QS. 2: 112)
ihsan (QS. 16: 97, 2: 195)
tawakal (QS. 11: 88)
cinta (QS. 2: 165)
berharap (QS. 2: 218, 18: 110)
taat (QS. 76: 7)
berdo’a (QS. 25: 77)
khusyu’ (QS. 2: 45-46)

E.10. NATAIJUT TAQWA


Sasaran:
Memahami makna taqwa dan jalan untuk mencapainya.
Memahami keutamaan yang diperoleh di dunia dan di akhirat bagi orang yang bertaqwa.
Termotivasi untuk menggapai derajat taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan
menajuhi laranganNya.
Sinopsis:
Ibadah menghasilkan taqwa. Sedangkan taqwa akan menghasilkan kebaikan di dunia di
antaranya adalah ‘izzah, furqan, keberkahan, jalan keluar, rizqi, kemudahan. Hasil
kebaikan di akhirat bagi orang bertaqwa meliputi dihapuskannya kesalahan, diberi
ampunan dan pahala yang besar.
Hasiyah:
Furqan

107
Dengan taqwa, Allah swt akan memberikan kepada kita furqan yaitu kemampuan
membedakan dan memisahkan antara yang haq dengan yang batil, mana yang perlu
diikuti dan mana yang tidak.
Dalil: furqan (QS. 98: 29)
Barakah
Bagi orang yang beriman dan bertaqwa, Allah swt akan melimpahkan barakah, yaitu
kehidupan yang memiliki faedah bagi makhluq disekelilingnya sehingga menjadikan
hidup tenang dan tenteram.
Dalil: barakah (QS. 7: 96)
Makhraja
Jalan keluar (makhraja) adalah juga sesuatu yang dilimpahkan Allah swt kepada orang
yang beriman dan bertaqwa. Setiap kesulitan hidup yang dijumpainya dapat teratasi
dengan hadirnya petunjuk jalan keluar dari Allah swt. Kemudahan ini hanya diperoleh
bagi mereka yang bertaqwa, bersungguh-sungguh dan bertawakkal.
Dalil: makhraja (QS. 65: 2)
Rizqi
Rizqi yang halal akan dirasakan nikmat sebagai balasan bagi mereka yang bertaqwa. Bila
sedikit akan bershabar atau jika banyak malah bersyukur, sehingga kesemuanya bukanlah
fitnah yang menyulitkan.
Dalil: rizqi (QS. 65: 3)
Kemudahan
Kemudahan akan ditampakkan sebagai balasan bagi mereka yang bertaqwa. Dengan
bertaqwa kepada Allah swt, bisa saja diturunkan secara langsung ataupun dihadirkan
dalam bentuk ketenangan jiwa dan kedamaian berislam, sehingga kesemuanya dirasakan
bukanlah sebagai masalah.
Dalil: kemudahan (QS. 65: 9)
Kebaikan di dunia
Kebaikan dan kenikmatan di dunia bagi orang yang bertaqwa adalah barakah, jalan
keluar, rizqi dan kemudahan.
Dalil: kebaikan di dunia (QS. 2: 200)
Kebaikan di akhirat
Kebaikan dan kenikmatan di akhirat bagi orang yang bertaqwa adalah dihapuskannya
kesalahan yang dikerjakan, diampuni dosanya dan ganjaran pahala yang besar.
Dalil: kebaikan di akhirat , ampunan dan pahala yang besar (QS. 6: 65)
E.11. TAWAZUN
Sasaran:
Memahami bahwa peranan fitrah manusia dalam memelihara pribadi sangat ditentukan
oleh sikap tawazun yang diatur dalam Islam.
Menyadari perlunya pemenuhan konsumsi ruh, akal dan jasad secara seimbang sesuai
bimbingan Allah.
Termotivasi untuk meningkatkan keimanan, pengetahuan dan kesehatan dengan aktif di
dunia da’wah serta dunia ilmu pengetahuan dan dunia usaha yang islami.
Sinopsis:
Manusia diciptakan Allah dalam keadaan fitrah yang bersifat hanif kepada Islam. Salah
satu sifat fitrah itu adalah menjaga keseimbangan antara ruh, akal dan jasad.
Keperluan jasad adalah makan, istirahat dan olah raga. Memenuhi keperluan jasad berarti
menyeimbangkan konsumsi jasad agar tidak sakit. Keperluan akal adalah ilmu.

108
Memenuhi keperluan akal berarti menuntut ilmu agar tidak bodoh dan merugi.
Sedangkan keperluan ruh adalah dzikrullah.
Ketiganya harus dikelola sescara seimbang agar mendapatkan kenikmatan lahir dan
batin.
Hasiyah:
Fitrah hanif
Allah swt menciptakan manusia secara fitrah dan diberikan kecenderungan yang hanif
kepada sesuatu yang baik, sehingga dapat menilai mana yang baik dan man yang buruk
khususnya kepada nilai-nilai yang universal. Fitrah sedemikian ini perlu dijaga dan
jangan sampai tertutup kepada maksiat dan dosa sehingga firahnya tak lagi berfungsi
dengan baik dalam menilai.
Dalil: manusia fitrah (QS. 30: 30, 7: 712, 75: 14) lurus (QS. 30: 30)
Tawazun
Allah swt menciptakan alam tanpa ada satupun yang tidak seimbang (tidak proporsional).
Keseimbangan manusia adalah proporsionalnya konsumsi dan fungsi ruh, akal dan jasad.
Dalil: seimbang (QS. 55: 7, 9)
Jasad
Manusia diperintahkan mengkonsumsi makanan yang baik yang dibutuhkan jasad dan
menjauhi makanan yang haram dan merusak jasad. Arahan ini adalah agar jasad dapat
difungsikan dengan optimal bagi ibadah.
Dalil: gizi tubuh, makanan dan kesehatan (QS. 2: 168)
Akal
Allah swt menyuruh kita untuk mendayagunakan akal fikiran untuk:
merespon ilham dari peristiwa alam
mendekatkan diri kepada Allah
Dalil: akal, gizi akal, ilmu (QS. 96: 1, 55: 1-4)
Ruh
Ketenteraman dan kedamaian ruh adalah hasil dari mengkonsumsi gizi ruh: dzikrullah.
Dalil: ruh, gizi ruh, dzikrullah (QS. 73: 1-20, 13: 28, 3: 191)
Nikmat
Terpenuhinya konsumsi ketiga hal tersebut bagi manusia menakibatkan hadirnya
kenikmatan zhahir dan batin
Dalil: dengan terpenuhinya konsumis ketiganya akan didapat nikmat zhahir dan batin
(QS. 31: 20).
E.12. RISALATUL INSAN
Sasaran:
Memahami bahwa tugas khilafah adalah imarah dan ri’ayah dengan ber-amar ma’ruf
nahi munkar; mampu menyebutkan bagaimana menumbuhkannya.
Memahami unsur-unsur yang dipelihara dalam tugas-tugas kekhilafahan sehingga
mampu menyebutkan contoh-contoh perbandingannya dengan konsep jahiliyah.
Mampu menyebutkan syarat-syarat umum untuk mencapai fungsi khilafah.
Sinopsis:
Manusia diciptakan Allah swt untuk beribadah kepadaNya sehingga dari ibadah itu
muncul ketaqwaan. Dengan taqwa, seorang mu’min memperoleh izzah bagi peranan
khilafah alam dan manusia.
Tugas khalifah di muka bumi adalah membangun (al imarah) dan memelihara (ar
ri’aayah) - dengan cara amar ma’ruf nahi munkar - atas 5 hal: diin, nafs, akal, maal dan
nasl.

109
Syarat untuk menggapai fungsi kekhilafahan: kekuatan aqidah, kekuatan akhlaq,
kekuatan jama’ah, kekuatan ilmu, kekuatan maal dan kekuatan jihad.
E.13. BINAUL IZZAH
Sasaran:
Memahami bahwa menegakkan fungsi khilafah harus dengan mewujudkan kekuatan
aqidah, kekuatan akhlaq, kekuatan jama’ah, kekuatan ilmu, kekuatan maal dan kekuatan
jihad.
Memahami cara penumbuhan dan pemeliharaan setiap bagian dari kekuatan itu secara
benar dan terarah.
Termotivasi untuk begabung dengan jama’ah Islam dalam rangka merealisasikan
terwujudnya kekuatan ini.
Sinopsis:
Membangun prestise (binaa-ul ‘izzah) perlu dilakukan dengan cara menjelaskan dan
membangkitkan perkara-perkara yang ada pada manusia, individu muslim dan ummat
islam.
Sebagai manusia, kita harus memiliki kelebihan yang dapat dibanggakan; kebanggaan
yang meninggikan derajat manusia dibandingkan makhluq lainnya, seperti: kemuliaan
dari Allah, diutamakan oleh Allah, diberikan amanah oleh Allah.
Sebagai individu muslim, aqidah adalah kebanggaannya dan ibadah dengan hasil taqwa
adalah penampilannya sehingga Allah swt memberikan status mulia disisiNya.
Sebagai ummat islam, izzah jama’ah akan diperoleh bila ummat islam memiliki iman,
shidq, , tsiqah, wala’, tha’at, iltizam, barakah dan quwwah. Sikap izzah akan melahirkan
independensi, kreatif, percaya diri dan agresif dalm mengembangkan diri.
Allah menghendaki agar kita tak boleh lemah dan berduka, sebab kita adalah orang-
orang yang berprestise jika kita beriman.
Dalil:
‘Izzah adalah milik Allah, rasulNya dan orang mu’min (QS. 63: 8, 3: 139)

MA’RIFATUL QUR’AN
Pendahuluan
AI-Quran adalah kalamullah. la telah diturunkan oleh Allah s.w.t kepada nabi Muhmmad
s.a.w sebagaimana Idtab Taurat, Injil .dan Zabur diturunkan kepada nabi-nabi sebelum
baginda s.a.w. AI-Quran merupakan rujukan asal kepada risalah islam. Sesiapa yang
tidak rnerujuk kepada al-Quran bermakna dia jauh dari panduan dan rujukan Islam. AI-
Quran merupakan kitab petunjuk dan pembawa rahmat kepada sekelian alarn. Segala
panduan terhadap aturan hidup dan kehidupan antara manusia dengan Tuhan, alam,
masyarakat dan diri sendiri termuat di dalam AI-Quran. Sesiapa yang mendekati sumber
hidayah ini insya Allah akan tersentuh dengan petunjuknya dan sesiapa yang tidak
mendekatinya wal’iyaazubillah .... akan jauh dari hidayahnya.
AI-Quran yang merupakan kalamullah itu adalah mukjizat yang cukup hebat, tetap dan
kekal walaupun melalui peredaran zaman. Mukjizat yang mencabar jin dan juga manusia.
Mukjizat yang menjadikan semua pendukung kesesatan dan ekstremes nafsu terduduk
membisu. Allah telah rnenjadikan al-Quran sebagai basahan hati kepada mereka yang
mempunyai penglihatan dan makrifat. Mukjizat al-Quran ini tidak menjadi usang
lantaran penolakan berterusan oleh golongan yang tidak beriman dan juga peredaran
masa. Mukjizat ini tetap dijaga oleh Allah seperti yang dijanjikan olehnya di dalam al-

110
Quran (15: 9) Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan az-Zikra (al-Quran) dan Kami
yang akan menjaganya.
Allah s.w.t telah menyebut di dalam al-Quran ini dengan berbagai sebutan terhadap
kiitabNya. Ada yang disebut sebagai Hudan (petunjuk) kerana ia betul-betul membawa
petunjuk kepada manusia , Rahmatan (rahmat) kerana sesiapa yang mengikuti
petunjuknya akan mendapat rahmat, Nur (cahaya) kerana ia menyinarkan jalan hidup
manusia, Syifa’ dan lain-lain lagi yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh nama. Setiap
nama itu adalah menunjukkan kepada ciri- ciri yang dimiliki oleh al-Quran itu sendiri.
Al-Quran adalah kiitab yang lengkap sebagai pedoman hidup manusia dalarn segenap
aspek. la adalah kiitab yang menerangkan hukum-hukum syariat dari segi halal-hararn
dan sebagainya yang berkaitan dengan kehidupan manusia. la juga membawa kisah-kisah
dan berita-berita pengajaran sebagai bahan berfikir terhadap peristiwa-peristiwa yang
berlaku di dalam sejarah seperti ashabul kahfi, tentera bergajah, kaum ‘Aad, Thsamud,
Firaun dan lain- lain. AI-Quran juga merupakan panduan seluruh manusia beriman
tentang jihad, skop dan pelaksanaannya. AI-Quran memainkan fungsi utama di dalam
mendidik dan mentarbiah jiwa- jiwa manusia menjadi hamba yang sebenar-benarnya.
Sehubungan dengan itu, kita perlu mengetahui betapa penting mengambil faedah
daripada al- Quran ini, syarat-syaratnya dan bagaimanakah cara berinteraksi yang betul
dengan al-Quran irii. Semoga dengan panduan-panduan ringkas ini kita dapat menjadi
orang yang paling baik hubungannya dengan al-Quran dan dapat melaksanakan kesan al-
Quran terhadap kehidupan jiwa dan fizikal kita dalam rangka kita beribadah terhadap
Allah s.w.t.
F. 1. TAKRIFUL QURAN
Sasaran
a.Memahami definisi AI Qur’an dan dapat menunjukkan kelebihan-kelebihannya
berdasarkan definisi tersebut.
b.Termotivasi untuk sentiasa membaca AI Qur’an dalarn rangka beribadah kepada Allah
AI-Quran adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi
Muhammad s.a.w yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan membacanya
merupakan ibadah
Hasiyah
Apabila disebut nama al-Quran, ia mengandungi beberapa hakikat yang berikut:
1. Kalamullah
Syarah
a Kalam adalah wasilah untuk menerangkan sesuatu di dalam diri dengan ilmu
pengetahuan, nasihat atau berbagai kehendak Ialu memahamkan perkara itu kepada orang
lain. Tentu sekali Allah bersifat dengan sifat kalam. Tersebut di dalam al-Ouran bahwa
Allah berbicara dengan Nabi Musa dan al-Quran sendirl telah menerangkan bahwa al-
Quran itu adalah kalam Allah. Maka kalam yang didengar dari Allah itu sudah pasti
menjadi salah satu sifat dan juga keadaan yang ada pada Allah.
* Kitab-ktab yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Nabi a.s adalah menjadi di
antara fenomena bahwa Allah s.w.t bersifat dengan sifat Kalam. Allah s.w.t telah
berbicara dengan setengah nabinya seperd Musa dan Muhammad pada malam mi’raj dan
Allah akan berbicara dengan banyak lagi hambanya pada hari kiamat.
Adapun hakikat kalam itu sebagai sifat Allah , kita tidak mengetahui bagaimanakah
keadaannya. Yang kita percaya bahwa Dia tidak sebagaimana kalam makhluk dari segi
lafaz yang keluar dari celah kedua bibir dan juga lidah yang dikawal oleh paru-paru,
kerongkong dan juga gigi. ‘tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia.

111
Allah bercakap kepada siapa yang dikehendaikinya dari kalangan hambanya, malaikat
maupun yang lainnya.
Dalil
a (53: 4): Allah s.w.t telah menceritakan kepada kita bahwa al-Quran itu tidak lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan kepada Nab Muhammad s.a.w.
2. Mukjizat
Syarah
* AI-Quran yang merupakan kalamullah itu adalah mukjiizat yang cukup hebat, tetap dan
kekal walaupun melalui peredaran zaman. Mukjizat ini diakui oleh para cendikiawan
dahulu dan juga sekarang. Sampai saat ini pun al-Quran masih menjadi sumber rujukan
utama kepada para pengkaji baik dalam ilmu sosial, sains, bahasa dan lain-lainnya. Tidak
pernah ada satu kitabpun sebelum ini yang membawa penyataan-penyataan yang boleh
dijadikan bahan kajian beratus tahun. Dalam bidang bahasa, pakar-pakar bahasa Arab
dari zaman dahulu hingga sekarang tetap menjadikan al-Quran sobagai rujukan. Begitu
juga dalam bidang astronomi, kaji bumi, ilmu perbidanan dan sebagainya.
Mukjizat al-Quran juga mencabar jin dan juga manusia. Mencabar dari segi membuat
sesuatu yang seumpama al-Quran ataupun mencabar dari segi kemampuan mencipta
sesuatu seperti cabaran supaya manusia berkumpul untuk menciptakan seekor Ialat,
dijawab oleh al-Quran bahwa mereka semuanya tidak akan mampu.
Mukjizat yang menjadikan semua pendukung kesesatan dan ekstremes nafsu terduduk
membisu kerana hakikat yang dinyatakan oleh al-Quran itu adalah benar dan hakikat
semuanya yang tidak akan mampu sama sekali pendukung hawa dan kesesatan untuk
berhujjah di hadapan al-Quran.
* Allah telah menjadikan al-Quran sebagai basahan hati kepada rnereka yang mempunyai
penglihatan dan makrifat. Mukmin akan merasa tenang dan hampir diri dengan
kebenaran apa bila mendampingi al-Quran kerana hakikat diri manusia yang lemah
diceritakan oleh AlIah dan hakikat pergantungan sebenar manusia adalah kepada yang
benar-benar berkuasa. Tidak ada kuasa lain yang mengatasi kudrat dan kemampuannya.
Oleh itu isi al-Quran membawa keceriaan kepada mukmin dan takutkan kepada azab
neraka.
* Mukjizat al-Quran ini tidak menjadi usang lantaran penolakan berterusan oleh
golongan yang tidak beriman dan juga peredaran masa . Ini kerana apa yang dikandung
oleh al-Quran adalah merupakan thawabit dalam sistem pemerintahan dan kejadian alam
seluruhnya. Manusia yang dangkal pemikrannyanya berusaha menolak al-Quran kerana
merasakan al- Qu.ran itu bertentangan dengan kehendak dan keinginan nafsunya.
Sememangnya tuntutan nafsu ini adalah kontradiktif dengan tuntutan asal manusia
dijadikan. Oleh itu mereka tidak akan mampu menolak thawabit yang telah diciptakan
oleh Allah s.w.t. -
* Mukjizat ini tetap dijaga oleh Allah seperti yang dijanjikan olehnya di dalam al-Quran
(15: 9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan az-Zilwa (al-Quran) dan Kamilah
yang akan menjaganya.
Dalil
* (2: 23) Allah mencabar manusia, jika mereka meragukan al-Quran yang Allah turunkan
coba buatkan satu surah yang lain seumpamanya dengan membawa saksi-saksi selain dari
Allah jika mereka adalah pihak yang benar!
* (11: 14) jika mereka tidak memperkenankan permintaan kamu, maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan pengetahuan Allah dan bahwa tidak ada
tuhan selain Dia. Adakah kamu orang-orang muslimin patuh mengikutinya!

112
(17: 88) Sekali lagi Allah mencabar bahwa jika manusa dan jin berhimpun untuk
mengadakan sesuatu seumpama al-Quran, nescaya mereka tidak akan mampu berbuat
demilkian.
3. Diturunkan kepada hati Nabi Muhammad s.a.w
Syarah
* Allah s.w.t telah menurunkan al-Quran ini secara langsung kepada Nabi Muhammad
s.a.w melalui utusannya jibril a.s. Kisah penerimaan wahyu pertama oleh Baginda di Gua
Hira’ mengisyaratkan betapa beratnya urusan itu diterima sehingga beberapa kali dipeluk
oleh jibril dan Baginda menggigil kesejukan. Proses penurunan itu ditangani langsung
oleh jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. Setiap ayat yang diturunkan dihafal oleh
baginda sehingga sempurna sebuah al-Quran.
Dalil
.c (26: 192-195) Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan oleh Tuhan semesta alam.
Diturunkan oleh ruh yang suci (Jibril). Kedalam hati engkau (Ya Muhammad) supaya
engkau memberi peringatan. Dengan Bahasa Arab yang terang.
4. Di sampaikan secara mutawatir sehingga terpelihara asolahnya Syarah
• AI-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah s.a.w adalah sebagai petunjuk kepada
manusia. Oleh itu apabila wahyu itu sampai kepada Rasulullah, baginda terus
menyampaikan kepada para sahabat terutama golongan huffaz yang bertugas menghafal
wahyu-wahyu dan ditulis oleh para sahabat yang ditugaskan khusus yang sentiasa
ternanti-nanti sesuatu yang baru.
• AI-Quran yang diturunkan itu ditulis dengan arahan dari Nabi s.a.w di atas pelepah-
pelepah tamar, tulang-tulang, kulit-kulit binatang dan sebagainya mengikut tertib
penurunannya. Di kalangan sahabat ada yang membuat salinan khusus untuk simpanan
sendiri dari Rasulullah s.a.w. Pada zaman Abu Bakar, Zaid bin Thabit telah
dipertanggungjawabkan mengumpul al-Quran ke dalam satu mashaf setelah
bermusyawarh dengan Umar. Pada zaman Uthman, mashaf pertama telah ditulis
berdasarkan naskhah yang tersimpan pada Hafsah binti Umar yang telah dikumpulkan
oleh Abu Bakar. Zaid bin Harithah, Abdullah bin Az-Zubair, Said bin AI-’Ash dan
Abdul Rahman bin AI-Harith telah ditugaskan untuk melaksanakan tugas itu dengan
meraikan apa-apa perbezaan yang ada. Uthman menyimpan satu naskah, manakala yang
lain dihantar ketempat-tempat lain. Sehingga ke hari ini mushaf ini dikenal sebagai
mushaf utsmani.
5. Membacanya adalah ibadat
Syarah
Membaca al-Quran adalah nembaca kalamullah yang mengandung berbagai jenis
petunjuk dari Allah s.w.t untuk kepentingan manusia. Oleh itu membaca al-Quran adalah
ibadah yang dituntut kepada manusia melakukannya. Apabila kita membaca al-Ouran,
Allah menjanjikan ganjaran yang cukup besar dan kelebihan-kelebihan yang tiada
tandingannya.
Dalil
(35: 29-30) Orang-orang yang membaca al-Quran, bersolat dan bernafkah harta, Allah
akan menyempurnakan pahala mereka dan menambahi kepada mereka dengan karunia-
Nya.
Hadith riwayat Aisyah, baginda bersabda: Orang yang membaca al-Quran sedangkan dia
seorang yang lancar, maka dia akan bersama dengan malaikat safarah yang menghitung
amalan kebaikan lagi yang berbuat kebajikan. Manakala sesiapa yang membaca al-Quran

113
dalam keadaan tergagap-gagap dan sukar, maka dia akan memperoleh dua ganjaran. -
riwayat Bukhan dan Mushin.
Haditli riwayat Abu Musa al-Asya’ari: Orang mukmin yang men-ibaca al-Quran
umpama citron (sejenis limau). Baunya harwn dan rasanya lazat. Orang mukmin yang
tidak membaca al-Quran umpama buah kurma. la tidak mempunyai bau tetapi rasanya
sedap dan manis. Orang munafiq yang membaca al-Quran umpama buah raihanah,
baunya sedap tetapi rasanya pahit. Orang munafiq yang tidak membaca al-Quran
umpama petola, ia tidak mempunyai bau dan rasanya pahit. - riwayat Bukhari dan
Muslim
* Hadith riwayat Abu Umamah al-Bahili: Bacalah al-Quran, sesungguhnya ia akan
datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada tuannya. - riwayat Muslim
Ringkasan Dalil
* AI Qur’an adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada
Muhammad Saw yang disampaikan kepada kita secara rnutawatir dan membacanya
merupakan ibadah
*AI Qur’an: kalam Allah (53: 4), mukjizat (2: 23, 11: 14, 17: 18, hadits), diturunkan
kepada hati Muhammad Saw (26: 192-195), disampalkan secara mutawatir sehingga
terpelihara asholahnya (hadits), membacanya adalah ibadah (hachts).
F.2. ASMAUL QURAN
Sasaran
a.Memahami kandungan nilai-nilai AI Qur’an yang terdapat dalam nama-namanya dan
termotivasi untuk memiliki nilai-nilai tersebut dalam dirinya.
b.Memahami kedudukan AI Qur’an serta termotivasi dan mampu memfungsikannya
dengan benar.
Sinopsis
Allah s.w.t telah menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad s.a.w sebagai pedoman
dan rujukan kepada hidup manusia. Di dalam al-Quran ini Allah s.w.t telah menyebut
‘al-Quran itu sendiri dengan berbagai nama. Setiap nama-narna itu memberikan
taSawwur terhadap sifat dan peranan yang dimiliki oleh al-Quran itu sendiri sesuai
dengan is! kandung yang dimilikinya. Dengan memahami nama-nama inii , akan
menghapuskan sangka-sangkaan bahwa al-Quran itu hanya sebagal Kitab biasa
seumpama kitab-kitab lain. Sedangkan al-Quran memiliki kemuliaan yang dipelihara
oleh Allah dan memiliki fungsi yang begitu besar dalam mengatur tatacara hidup
manusia.
Hasiyah
Nama-nama lain bag! al-Quran yang disebut sendirl oleh Allah s.w.t melebihi jumlah
sepuluh nama:
1. AI-Kitab
Syarah
* Perkataan (Kitab) di dalam Bahasa Arab dengan baris tanwin diakhirnya (kitabun)
memberikan makna umum yaitu sebuah kitab yang tidak tertentu (nakirah). Apabila di
tambah dengan alif dan laam dihadapannya menjadi (al-Kitab) ia telah berubah menjadi
suatu yang khusus (tertentu). Dalam hubungan inii, nama lain bagi al-Ouran itu disebut
oleh Allah adalah AI-Kitab.
Dalil
* (2: 2): Aiif Laam Miim. Itulah AI-Kitab. Tidak ada keraguan padanya.
2. Petunjuk
Syarah

114
Allah s.w.t telah menyebutkan bahwa al-Quran itu adalah petunjuk (Huda). Dalam satu
Allah rnenyebut ia sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa dan satu ayat yang
lain ia sebagai petunjuk untuk manusia seluruhnya. Apabila disebut oleh Allah sebagal
petunjuk, maka ia merupakan sumber rujukan dan jarum kompas untuk kehidupan
manusia. Tanpa kitab ini manusia akan terpesong dari arah sebenar mereka ditujukan.
Oleh itu al-Quran adalah petunjuk yang mesti gunakan.
Dalil
(2: 2): Alif Laam Miim. ltulah AI-Kitab. tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi
orang- orang yang muttaqin.
(2: 185): Bulan Ramdhan yang diturunkan padanya al-Quran sebagai petunjuk kepada
manusia .....
3. Rahmat
Syarah
* Allah menamakan al-Quran dengan rahmat adalah kerana dengan al-Quran ini akan
melahirkan iman, hikmat, mencari kebaikan dan cenderung kepada kebaikan bagi sesiapa
yang beriman dan berpegang kepada al-Ouran.
Dalil
* (17: 82): Kami turunkan daripada al-Qu-ran itu apa yang sebagai Syifa’ (penyembuh)
dan rahmat kepada orang-orang yang beriman.
4. Ruh
Syarah
Allah s.w.t telah menamakan wahyu yang diturunkan kepada rasulnya s.a.w sebagal ruh.
Sifat ruh adalah menghidupkan sesuatu seperti jasad manusia tanpa ruh akan mati, busuk
dan tidak berguna. Bahkan dipandang jijik seperti binatang yang mati ditepi jalan. Dalam
hubungan ini, menurut Ulama, al-Quran mampu menghidupkan hati-hati yang mati
sehingga hampir dengan Penciptanya.
Dalil
* (42: 52) Demikianlah Kami mewahyukan kepada engkau suatu ruh (al-Quran yang
menghidupkan hati) dari perintah Kami
(40: 15) Dia rnenurunkan ruh (al-Quran) dengan perintahnya kepada siapa yang
dikehendakinya di antara hamba-hambanya supaya Dia memberikan peringatan dengan
Hari pertemuan (Khiamat)
5. Obat
Syarah
Allah s.w.t telah menyifatkan bahwa al-Quran yang diturunkan kepada umat manusia
melalui Nabinya Muhanimad s.a.w sebagai penyembuh atau obat. Tentu sekali bila
disebut ubat, kaitan langsungnya adalah dengan penyakit. Dalam tafsir Ibnu Kathir
menyatakan al-Quran adalah penyembuh kepada penyakit-penyakit yang terdapat dalam
hati-hati manusia seumpama syirik, sombong, bongkak, keraguan dan sebagainya.
Dalil
(10: 57): Wahai manusia, telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhan mu dan
menyembuh apa yang ada di dalam (dada) hati, lagi petunjuk dan rahmat bagi orang-
orang yang beriman.
Kebenaran
Syarah
Al-Haq adalah kebenaran. AI-Quran dinamakan dengan al-Haq kerana dari awal hingga
akhir isi kandung al-Quran adalah kebenaran semuanya. Kebenaran dari Allah yang
menciptakan manusia dan mengatur sistem untuk manusia hidup di maya pada ini.

115
Bukannya kebenaran mengikut neraca dan pertimbangan nafsu manusia kerana
pandangan dan nafsu manusia terlalu dangkal dan terhad dalam menentukan keadilan dan
kebenaran hakiki. Oleh itu neraca dan pertimbangan dari al-Quran adalah yang sebenar-
benar patut diikuti dan dijadikan prioritas dalam mengukur dan mempertimbangkan
sesuatu.
Dalil
* (2: 147): Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah engkau termasuk
orang- orang yang bimbang.
7. Penerangan Syarah
AI-Quran adalah kitab yang membawa penerangan dan penjelasan kepada manusia
apakah yang baik dan apakah yang buruk untuk diri mereka. Apakah yang hak dan
apakah yang batil, apakah yang sebenar dan apakah yang palsu, jalan manakah yang
selamat dan jalan manakah yang menyesatkan. Semuanya dibawa oleh al-Quran kepada
manusia. rnenjelaskan kesemua perkara-perkara berikut. Selain itu al-Quran juga
menerangkan kisah-kisah umat terdahulu yang pernah mengingkari perintah Allah Ialu
ditimpakan dengan berbagai azab yang tidak terduga. Semua penerangan ini wajib
ditadaburi oleh manusia untuk menyelamat arah tuju dan matlamat hidup mereka dan
mereka mati dalam penuh kemuliaan.
Dalil
(3: 138): (Quran) irti adalah keterangan untuk manusia, jadi petunjuk dan pengajaran
bagi orang-orang yang bertaqwa.
8. Pengajaran
Syarah
AI-Qu-ran Yang diturunkan oleh Allah adalah untuk kegunaan dan keperluan manusia
kerana manusia sentiasa memerlukan kepada peringatan dan pengajaran yang sebenar
yang boleh membawa mereka kembali kepada tujuan sebenar mereka dijadikan. Tanpa
bahan-bahan pengajaran dan peringatan, manusia akan leka dan Ialai dari tugas yang
sebenar kerana mereka sentiasla diekori oleh syaitan laknatullh untuk melarikan mereka
dari jalan Allah.
Dalil
(3: 138): (Quran) ini adalah keterangan untuk manusia, jadi petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertaqwa.
(54: 17): Sesungguhnya telah Kami mudahkan Quran (bagi manusia) untuk jadi
pengajaran. Adakah orang-orang yang mengambil pengajaran (daripadanya?)
(54: 22): Sesungguhnya telah Kami mudahkan Quran (bagi manusia) untuk pengajaran.
Adakah orang-orang yang mengambil pengajaran (daripadanya? )
9. Pemberi peringatan
Syarah
Allah s.w.t menyifatkan al-Quran sebagai az-Zikra (peringatan) kerana sebetulnya al-
Quran itu senanitiasa memberikan peringatan kepada manusia kerana sifat yang tidak
lekang dari manusia adalah lupa. Lupa dalam dalam berbagai hal, baik dalam hubungan
dengan Allah, hubungan sesama manusia maupun lupa terhadap tuntutan-tuntutan yang
sepatutnya ditunaikan terhadap dirinya sendiri. Oleh itu kita yang beriman dengan al-
Quran dituntut untuk sentiasa mendampingi al-Quran. Selain sebagai ibadah al-Quran itu
sentiasa memperingatkan kita dengan asal tanggungjawab kita. Kalau di dalam harakah,
seorang akh amil itu dituntut untuk menghabiskan perdampingannya dengan al-Quran
satu juzuk setiap hari secara tilawah.
1

116
Dalil
* (15: 9): Sesungguhnya Kami telah turunkan az-Zikra (peringatan) dan sesungguhnya
Kamii yang memeliharanya.
10. Berita Gembira
Syarah
Di dalam al-Quran sering memberikan khabar gembira kepada mereka yang beriman
dengan Allah dan menjalani hidup mereka menurut kehendak dan jalan yang telah
diaturkan oleh Al- Quran. Khabar-khabar ini menyentuh kesudahan yang baik dan
balasan yang rnengembirakan kepada sesiapa yang rnenurut jalan al-Quran. Dihadiahkan
dengan syurga, dikawin dengan bidadari, direzkikan dengan kemewahan hidup yang
tidak pernah tergambar oleh lintasan pengindraan kita sendiri. Terlalu banyak janji-janji
gembira yang pasti dari Allah untuk mereka yang beriman ini. Oleh itu Allah sebutkan
juga al-Quran sebagai (busyra).
Dalil
(16: 89): Dan Kami turunkan kepada Engkau Kitab (Quran) untuk menerangkan tiap-tiap
sesuatu dan rnenjadi petunjuk dan rahmat serta khabar gembira bagi orang-orang Islam.
Fungsi AI Qur’an:
1 1. Kitab berita dan khabar
Syarah
• Dari awal surahnya lagi al-Quran telah membawa berita umat-umat terdahulu dan
khabar- khabar akan datang yang berkaitan dengan alam kubur, alam akffirat serta
penibalasan yang akan chterima oleh nianusia. AI-Quran membawa klsah-~ Habil dan
Qabil, klsah Nabi Nuh, isteri, anak dan kaumnya, Idsah taufan, Idsah loqman, Idsah Nabi
Ibratlim, Idsah a~u Rassi, klsah ashabul kahfi, ~ orang yang d=tikan Allah seratus tahun,
~ kaum tharnud dan Nabi saleh, Idsah kaum luth, 1~ firaun, ldsah zwqarnain, ldsah
yakjuj dan makjuj, kisah perempuan Aziz, ~ anak-anak perempuan Nabi Syuaib, ~ Nabi
Musa, Kisah ashabul Fiil, Kisah Abu Lahab dan lain-lain.
• Banyak khabar-khabar yang dibawa oleh al-Quran menyentuh perkara-perkara yang
akan datang , antaranya ialah persoalan maut, ajal bagi setiap peribadi atau urnat,
kebangldtan hari mahsyar, yaumul wa’iid, yaumul taghaabun, thaomatul kubra,
kengerian hari Idainat dan sebagainya. Berita-berita irii guna memperingat dan
mendorong manusia kembali kepada Allah dan merasai kehebatannya.
DaW
* (78: 1-2): Tentang apakah yang mereka bertanya-tanya. Tentang berita yang besar
(3: 138): (Quran) irii adalah keterangan untuk manusia, jadi petur@uk dan pengajaran
bagi orang-orang yang bertaqwa.
(54: 17): Sesungguhnya telah Kanii mudahkan Quran (bagi manusia) untuk jadi
pengajaran. Adakah orang-orang yang menganibil pengajaran (daripadanya?)
(54: 22): Sesungguhnya telah Karrii mudahkan Quran (bagi nianusia) untuk pengajaran.
Adakah crang-orang yang mengambil pengajaran (danpadanya?)
9. Peniberi peringatan Syarah
Allah s.w.t rnenyifatkan al-Quran sebagai az-Zikra (peringatan) kerana sebetuinya al-
Quran itu sei-itiasa men-iberikan peringatan kepada manusia kerana sifal yaiig lidak
lekang dari fnanusia adalah lupa. Lupa dalain dalam berbagal hal, baik dalam hubungan
dengan A&-,h, hubungan sesaina manusia maupun lupa terhadap tmtutan-tuntutan yang
sepatutnya ditunaikan terhadap dirinya sendiri. Oleh itu Idta yang berii@ dengan al-
Quran dituntut untuk sentiasa mendampingi al-Quran. Selain sebagai ibadah al-Quran itu
sentiasa memperingatkan 1<ita dengan asal tanggungjawab Idta. Kalau di dalain harakah,

117
seorang akh an-W itu dituntut untuk menghabiskan perdainpingannya dengan al-Quran
satu juzuk setlap hari secara tilawah.
1
Dahl
0 (1 5: g): Sesungguhnya Kan-ii telah turunkan az-Zilwa (peringatan) dan sesung~ya
Karffi y@ang memeliharanya.
10. Berita Genibira Syarah
Di dalarn al-Quran sering memberikan khabar gembira kepada mereka yang be~ dengan
Allah dan menjalwii 1-iidup rnereka menurut kehendak dan Aan yang telah diaturkan
oleh Al- Quran. Khabar-khabar ini menyentuh kesudahan yang baik dan balasan yang
mengenibirakan kepada sesiapa yang menurut jalan al-Quran. Dihadiahkan dengan
syurga, dik,ahwin dengan bidadari, direz~ dengan kemewahan Mdup yang tidak pemah
tergambar oleh lintasan pen@il&an Idta sendiri. Terlalu banyak janji-janji gernbira yang
pasti dari ~ untuk rnereka yang beriman ini. Oleh itu Allah sebutkan juga al-Quran
sebagai (busyra).
DaW (16: 89): DanKarrA turunkan kepada E: ngkau Yitab (Quran) untuk menerangkan
tiap-tiap
sesuatu dan menjadi petunjuk dan rahmat serta khabar gembira bagi orang-orang Islam.
Fungsi AI Qur’wi:
1 1. Idtab berita dan khabar
Syarah
• Dari awal surahnya lagi al-Quran telah membawa berita umat-umat terdahulu dan
khabar- khabar akan datang yang berkaitan dengan alarn kubur, alam akhirat serta
pembalasan yang akan ditenma oleh manusia. AI-Quran membawa k~-~ Habil dan Qabil,
Insah Nabi Nuh, isteri, anak dan kaumnya, Idsah taufan, Idsah loqman, 1<isah Nabi
Ibrahim, Idsah
~u Rassi, Idsah ashabul kahfi, ~ orang yang dunatikan Allah seratus tahun, ~ kaurn
tharnud dan Nabi saleh, Idsah kaum luth, Idsah firaun, Idsah zulqarnain, Idsah yakjuj dan
makluj, Idsah perempuan Aziz, ~ anak-anak perempuan Nabi Syuaib, ~ Nabi Musa,
Ydsah ashabul Fiil, Kisah Abu Lahab dan lain-lain.
• Banyak khabar-khabar yang dibawa oleh al-Quran menyentuh perkara-perkara yang
akan datang , antaranya ialah persoalan maut, aM bagi setiap peribadi atau urnat,
kebangldtan hari mahsyar, yaumul wa’iid, yauniul tag”un, thaoniatul kubra, kengerian
hari ldamat dan sebagainya. Berita-berita irji guna mernperingal dan mendorong manusia
kembali kepada Allah dan merasai kehebatannya.
DaW
* (78: 1-2): Tentang apakah yang mereka bertanya-tanya. Tentang berita yang best
Times Institute
~
Pakej Tarbiah Tullab 2
12. ldtab hukurn syariah Syarah
* AI-Quran adalah latab yang menibawa hukuin-hukurn syanat dalam bentuk undang-
undang dan juga perlernbagaan, taklif, tanggungjawab peribadi, perkara-perkara yang
d~amkan, had usm &-ikM, keharusan perluasan dan makanan yang haial, hukum
menepati janii dan swnpali, menunaikan nazar, dosa-dosa be.,Rar, Qisas, hukuman
terhadap orang kafir, llukuman penibunuhan, hukum hudud, hukwn pengampunan,
menyembunyikan penyaksian dan sebagainya.
Dalfi

118
- (5..49,50): Engkau berhukumiah di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan
oleh AUah dari janganlah engkau menurut hawa nafsu mereka dan waspadalah terhadap
mereka supaya mereka tldak nienyesatkan engkau dari sebahagian apa yang telah
diturunkan ~ kepada engkau. Jika mereka berpaling, ketahuilah bahwa ~ hanya
menghendale supaya mereka ditimpa sw-saaa kerana sebahagian dosa mereka sendiri.
Sesungguhnya kebanyakan ~usia orang-orang yang fasiq. Adakah hukurn jahiliah yang
mere@a tuntut? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada (hukum) ~ baqi kaum
yang yaldn?
13. Idtab jihad Syarah
Satu bal Yang amat clitekankan oleh al-Ouran ialah persoalan jfiiad. D! dalam hal irli al-
Ouran membawa banyak ayat yang menyer-u agar Idta berj@d, menegah dari melampaui
batas, batas-batas jihad, kecenderongan kepada perdamaian, konsep peperangan dalam
Islam, pujian terhadap jihad, kemuliaan bagi mujahidin, cemuhan terhadap mereka yang
tertinggal dan medan jihad, lan dan jihad, sisteni jihad dan aturannya, solat dalam
peperangan, peprangan dalam bulan haram, baiah, hal-hal orwig tawanan dan
sebagainya.
Dahl
(29: 69) Dan rnereka yang berjihad di jalan Kanii, Q)asti) Karffi akan tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Karni. Dan sesungguhnya ~ bersama-sama mereka yang melak~
kebaikan.
14. Idtab tarbiyah
Syarah
* Peranan bww juga yang dirna~ oleh al-Quran ialah sebagai Idtab yang menclidik jiwa-
jiwa manusia rnenjadi personalitas yang mempunyai kemuliaan diri, kendiri, bebas dari
sebarang perhan-ibaan sesama makliluk, bermasyarakat , beradab dan tahu nilai-niw
rnurrii sebagai manusia yang berperarian sebgai khaira ununah.
Dalil
0 (3: 79)Tidakberhakrnanusia,bahwadiberikan~kepadanya.Ydtab, hukwn-hukwn dan
kenabian kernudian ia mengatakan kepada manusia: Hendaklah kainu rnenjadi hambaku
selcun ~. Tetapi (hendaklah ia mengatakan): Hendaklah kamu menjadi Wama yang
beramal kerana kainu mengajarkan Ydtab dan kainu membacanya.
15. pedoman hidup
Syarah
AI-Quran menceritakan bahwa manusia adalah jahil. Untuk menampung kejahilan itu
selungga meniadi harnba selati kepada ~, maka ~ utuskan kepada setlap umat itu rasul
yang membawa pengajaran-pengajaran dan juga penngatan. Begitu juga kepada ummat
Idta, diutuskan Nabi Muhanunad s.a.w bersama isi risalahnya yang terkandung di dalam
al-Quran. AI-Quran memandu numusia kelaian yang dikehendald oleh ~ s..w.t dalarn
segala aspeknya terrnasuk kepercayaan, hala tuju, pengabdian, syariat dan sebagainya.
‘hdak ada panduan hidup yang lebih komplek dari apa yang dibawakan oleh AI-Qura.n.
Dahl
Times institute
8
Pakcj Tarbiah Tullab 2
* (28: 50): Kalau mereka tidak memperkenankan (perrnintaa=u) itu, maka ketahuilah
bahwa mereka semata-~ menurut hawa nafsu ~ja. Siapakah yang terlebih sesat dari orang
yang mengikuti hawa nafsunya twipa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak
menunjukla kaum yang zahm.

119
16. Idtab ilmu pengetahuan
Syarah
a Di dalam al-Quran terdapat banyak niaidumat yang menyentuh berbagal aspek ilrnu
pengetahuan baik dalam bidang ilmu yang ldta ketahw ~upun yang idak ldta ketahw.
Dahl
* (96: 1-5): Bacalahdengannamatuhanmuyangmenjadikan,Yangrnenjadikanmanusiadari
segumpal darah. Bacalah sedang Tuha=u yang Maha Mulia. Yang mengajar dengan al-
Qalam. Yang mengajar manusia apa yang lidak perriah diketahui.
Ringkasan Dahl
& nan-ia-nwna AI Qur’an: AI Kitab (2: 2). petunjuk (2: 2, 2: 185) rahmat (3: 138),
cahaya
ruh (42: 52), obat (10: 57), kebenaran (2: 147), penerangan (3: 138), pelajaran (3:
138,,54: 17, 22), pengingat (1 5: 9), berita gembira (1 6: 89)
* Fungsi AI (@ur’an: ldtab berita dan khabar (78: 1-2), ldtab hukum syariah (5: 49,50),
ldtab jihad (29: 89), ldtab tarblyah (3: 79), pedonian ffidup (28: 50), ldtab ilmu
pengetahuan (96: 1-5)
F.3. MUKTADO IMAN BIL OURAN
Sasaran
a.Meniaharrii kewajiban muslim terhadap AI Qur’an dan termotivasi untuk
menunaikannya. b.Berupaya rnenghidupkan suasana Qur’an dalam setiap keadaan
dengan mentaatinya di
setiap keadaan
e.Tennotivasi untuk berdakwah kepada AI Qur’an dan mempe@uangkannya di muka
bun-ii
Sinopsis
Dinyatakan bahwa al-mian itu bukaniah cita-cita atau angan-angan tetapi ia adalah apa
yang terpacak di hati dan dibenarkan oleh amalan. Oleh itu apabila Idta mengak-u ber~
kepada al-Quran, ~ di sana terdapat beberapa tuntutan terhadap keimanan tersebut.
Antara tuntutan tersebut ialah supaya Idta berhubung erat dengan al-Quran yaitu dengan
cara mempelajari al-Quran, mengajarkannya kepada orang lain dan sentiasa
menibacanya. Lebih dari itu ialah dengan mentadabbur dan memaharsii ayat-ayatnya.
Kemudian melak~an apa-apa tuntutan yang terkandung di da~ya. Seterusnya ldta
menghafal dan memelihara pula ayat-ayat tersebut.
Antara tuntutan juga ialah lata mentarbiah dan menclidik diri IGta dengan panduan-
panduan yang telah digari~ oleh al-Quran seria Idta hendaldah berusaha agar dapat
menghidupkan .suasana dengan warna-warna al-Quran dalam setlap keadaan. Dengan itu
lata mes~ rnenerima, tunduk dan patuh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalam al-
Quran.
Seterusnya Idta dituntut agar menyebarluaskan pengajaran-pengajaran al-Quran dengan
mendakwalu dwi menyeru orang lain agar sama-swna mernaharrii dan melaksanakan isi
kandungwi al-Quran di atas muka burffi irii.
Hasiyah
1. Berhubung erat dengannya: dengan niempelajari dan mengajarkannya: rnenibacanya
Syarah
Pakej Tarbiah Tullab 2
olt
#I^

120
Sebagai sumber rujukan dan pedoman 1-lidup, k-ita dituntut uiituk sentiasa
mendainpiiigi al- Quan kerana ch dalamnya penuh dengan mutLara-mutLara berharga
yang memandu Mdup Idta dalarn segenap lapangan. Bagairnanakah cara mendarnpingi
al-Quran itu? Caranya ialah dengan sentasa mempelajari pengalaran-pengajaran yang
terkandung di dalwmya yang terdiri dari hukum-hakain, prinsip-prinsip Iiidup dan
sebagainya. Setelah dipelajari, Icita mes~ mengembangkan ilinu yang clipelajan itu
kepada orang lain. Ini adalah tuntutan! Kita juga perlu mendainpingi al-C?wan dengan
cara selalu membaca ayat-ayatnya yang terkandung di’da~ya.
Dabl
(2: 12 I): Orang-orang yang Karni datangkan kepada mereka al-Ydtab, mereka
mentilawahkannya dengan sebenar-benar tilawah, mereka itwah orang yang beriman
denganya. Sesiapa yang kufur dengannya mereka i~ orang-orang yang ragi.
* (35: 29): Sesungguhnya orang-orang yang mentilawahkan Idtab Allah (al-Quran) dan
mendirikan solat, mena&ahkan dari apa yang telah Kanii rez~ kepada mereka wma
sen,lbunyi mau terang, mereka mengharapkan satu perriiagaan yang tidak akan rugi swna
sekali.
* Hadiffi nwayat Uthman ibn Affan: Sebaik-baik kainu adalah mereka yang mempelajari
al Quran dan mengajarkannya (kepada orang lain). -riwayat Bukhari
2. Memahanii dan mentadabbur isinya
Syarah
Kita dituntut oleh Allah untuk rnentadabbur dan memahann ayat-ayat yang telah
ditu=kannya kepada leta rnenerusi junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Tuntutan ini
adalah berrno~ pengajaran yang sernestinya charnbil dan diamalkan oleh Idta dari i~dung
al-Quran itu sendin. Tanpa memahann, leta tidak akan dapat mencapai mauamat unluk
berpedornankan kepada ajaran al-Quran.
Dalil
• (47: 24): Apakah rnereka tidak mentadabburi al-Quran ataukah di atas hati-hati mereka
ada penutup-penutupnya.
• (4: 82): Apakah rnereka tidak mentadabbur al-Quran . Seldranya ia bukan dari sisi
tentu sekali rnereka akan dapati banyak pereanggahan ch dala=ya.
• (38: 29): Yitab yang Kinii turunkan kepada engkau diberkati untuk mereka
rnentadabbur ayat-ayatnya dan untuk diambil pengajaran oleh mereka yang berakal.
3.Meh~akamya
Syarah
* Nil& kepada kehnanan dan kepereayaan Idta kepada sesuatu adalah apa yang telah Idta
laksanakan dan Inta amalkan hash dari keyaknm itu. Seldranya dakwaan semata-mata
belum terbukti keyaldnan tersebut. Dalam hubungan irii, Idta dituntut untuk
mewcsanakan apa saja yang dituntut oleh al-Quran berdasarkan kaedah-kaedah uluin
syarak.
DaM
* (17: 106): Quran (irii) Kanii turunkan beransur-ansur supaya engkau bacakan kepada
manusia dengan perlahan-lahan dan Kanii humnkan ia sedildt den-ii sedildt.
4. Menghafal dan meme~anya
Syarah
Kita diperintah oleh Rasuluflah s.a.w agar rnemellhara dan menjaga al-Quran. Kita
menjaga al-Qu,ran bukan sekadar menjaga fizikal kertas-kertas yang tertulis di atasnya
ayat-ayat itu. 1Cita menjaganya samada dengan selalu menibaca dan mentadabbur ayat-

121
ayatnya agar ldta tidak terpesong dan tertinggal jauh dari ajarannya, atau dengan
rnenghaw ayat-ayal tersebut atau kedua-duanya sekali.
Dabl
Hadith riwayat Abu Musa al-Asy’ari, sabda baginda s.a.w: jagalah al-Quran. Dendm
Tuhan yang diri Muhammad di dalam genggaman-Nya, al-Quran lebih liar dari unta
yang diikat.- riwayat Bukhari dan Muslim.
Pakcj Tarbiah Tullab 2
P^
5. Mentarbiah diri dengan al-Quran Syarah
Kita dituntut mentarbiah diri ldta agar selari derigan ajaran al-Quran kerana al-Quran
sebagai mulgizat daripada Allah diturunkan untuk mendudukkan manusia pada posisinya
yang sebenar cli dalam hubungannya dengan ~ dan juga alam semesta. Manusia adalah
haniba Allah dan mesti tunduk kepada kehendak Allah dan segala awannya. Manusia
tidak boleh menjadi haniba kepada ~ yang lain termasuk hawa nafsu dan ~ya.
Ketundukan ini sentiasa saling bertarik tali dengan pengaruh-pengaruh lain swna ada
nafsu, syaitan, perseldtaran, biah sekeliling dan sebagainya. Oleh itu ldta dituntut
menjadikan al-Quran suniber tarbiah sebenar dirt Idta dalam bertarik tall dengan pengw-
uh-pengwuh lain.
Dalfi * (3: 79): ... tetapi (hendaklah ia mengatakan): Hendaklah kcunu menjadi u~ yang
ber~
kerana kamu rnengajarkan Kitab dan kamu membacanya.
* (2: 15 I): Sebagairnana Karffi telah mengut~ seorang rasul kepada kepadatnu, yaitu
&U-@th seorang daripadxnu yang membacakan ayat-ayat Kanii kepadainu,
membersihkan kainu (dari kelakuan yang tidak balk) dan mengajar Kitab dan hikmah
kepada mu dan iagi mengajarkan apa-apa yang belum kamu ketahui
6. Menerima dan tmduk kepada huk= hakamnya Syarah
Hubungan Idta dengan al-Quran beras~ kepada seiauhmana hubungan Idta dengan ~
dengan segala kebesarannya. Apabila Idta yaldn bahwa Allah yang me~ segala- galanya
dan men~ serta menyusun atur segala sistem peijalanan alam ini, tentu hati keeil Idta
terus tunduk kepadanya. Dengan irii Idta menerima segala arahan dan hukum hakam
yang dibawakan cli dalam latabnya itu dengan penuh tawadhu’ dan keyakman bahwa
segalanya adalah selan dengan slstem semulajadi alam im. Bahkan pene=aan dan
ketundukan leta terhadap hukwn-hakam Allah adalah tuntutan asasi kepada seorang
Muslim.
Dahl:
• (33: 36): Tidak ada bagi lelald mukniin dan perempuan muknkwh (hak) untuk meniilih
dalain urusan mereka, bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan urusan itu.
Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat
dengan kesesatan yang nyata.
• (4: 65): ‘Adak derrii tuhanmu, mereka tidak juga beriman (kepada engkau) sehingga
mereka mengangkat engkau menjadi hakirn untuk mengurus perselisu= antara mereka
kemudian mereka ‘aada memperolelu keberatan dalam hatinya menerima keputusan
engkau dan mereka terirna sebenar-benar terima.
• (5: 44), (5: 45).(5: 47): ~ s.w.t telah menyifajm mereka yang tidak berhukunikan
dengan hukum-hukum yang telah diturunkan ~ sebagai kafir, zalim dan juga fasiq.
• (5: 50): Apakah hukum ja~ yang mereka cari? Siapakah yang lebih baik dciri Allah
hukumya bagi kaum yang yaldn?
7. Menyeru orang kepadanya

122
Syarah
Konsep hidup seorang muslim adalah bermasyarakat dan inginkan kebalkan melata dan
dirasai oleh semua orang. ‘hdak ada konsep ananiah atau individualistik di dalam
masyarakat Islam. Oleh itu apa-apa kebaikan yang cliterima dan dipeli@jan me~
disebarkan keseluruh masyarakat. Bahkan diseru dan diajak niereka agar memahanii dan
menghayati konsep-konsep keadilan yang telah cliten~ ~ ch dalam latabnya. Kebaikan-
kebaikan me~ dikongsi bersama dalam masyarakat.
Dahl
(16: 125): Senl-xh (nianusia) ke jalan (agarna) Tuhanmu dengan bijaksana dan
pengajaran yang baik dan be@idallah dengan mereka dengan (cara) yang terbaik.
Pakej Tarbiah Tullab 2
8. Menegakkannya di mukabumi
Syarah
Sebagaimana Allah menuntut kaum-kaum terdahulu mendirikan agama, maka begitu
jugalah dituntut kepada Idta umat Muhammad s.a.w. agar mendirikan agama di muka
bun-ii ird. Tuntutan ini tidak pernah padam selama ada Quran di muka bunii ini.
Dalil
(42: 13): Dia agai.i.ia big! kariiu, scbaqairnatia telait diwiisiiitjk@itiNy,-1 k,epada Nuh,
dan yang kami watiyukan ke-padamu daii Karrii wasia[kaii kepad@t Ibralfiiii, Musa dan
lsa ialtu: Hendaklah kamu dirikan agama dan janganiah kamu berpecah-belah dalain
agama.
Ringkasan Dalil
Tuntutan iman terhadap AI Qur’an
*Berhubungan erat dengannya, dengan mempelajari dan mengajarkannya: membacanya
(2: 121. 35: 29, hadits), memahanii dan mentadaburkan isinya (47: 24, 4: 82, 38: 29),
melaks~an (1 7: 106), menghafal dan memehharanya (hadits) 1
* Mentarbiyah diri dengan AI Qur’an *Menerimadantundukkepadahukurn-
hukumnya(33: 36,4: 65,5: 44,45,47,50) .
a Menyeru orang kepadanya (1 6: 125)
* Menegakkannya di muka burni (42: 13)
F.4. AKHTAR NISYANUL QURAN
Sasaran
a.Memahanii sebab-sebab yang dapat melupakan seseorang dari ldtabunah b.Menyedari
bahaya yang akan terjadi disebabkan lupa kepada AI Qur’an c.Berupaya untuk sentiasa
mengingat AI Qur’an di setiap keadaan
Sinopsis
AI-Quran yang diturunkan oleh ~ s.w.t adalah petunjuk dan pedoman untuk manusia.
Oleh kerana ia memilild riilai-nilai pedoman, petunjuk dan kemuliaan pada zatnya maka
ia mestlah clipehhara dan clijaga dengan bwk. ndak boleh seseorang melupakan al-Quran
apalagi menibelakang atau me=ggalkan langsung al-Quran. Banyak alabat yang akan
rnenimpa sesiapa yang melakukan demildan di antaranya ialah tersesat dalam kesasatan
yang nyata, hidup dalam suasana penuh kesemnpitan, buta matahati, keras hati,
kezaliman dan kehinaan, bersahabat dengan syetani, kel;asikwi dati kerriullafikati.
Hnnpunan dan alabat-alabat itu menyebabkan manusia berada dalam kesusahan di dunia
dan juga diakhirat.
Hasiyah
1. Lupa kepada AI Qur’an
Syarah

123
AI-Quran adalah kalamullah. la suci dan mulia dan ia tidak akan duduk hanya pada
tempat yang suci dan mulia juga. Apabila manusia berpaling dari mengmgati Allah atau
melakukan maksiat kepada ~, Allah akan meialaikan haU mereka dan mengingati kalam-
Nya yang suci itu. Kelupaan terhadap al-Quran irii adalah aldbat dari tingkah laku dan
amalan manusia sendiri.
Dalil
(18: 28): Sabarkaniah hatimu serta brang—orang yang menyenibah tuhannya pada pagi
dan petang sedang mereka menghendakld keridhaan Allah. Dan janganlah engkau
palingkan
Pakej Tarbiah Tullab 2
~
im
pemandangan daripada mereka kerana menghendah perlnasan ludup di dunia. janganiah
engkau turut orang yang telah Kann lakiikan hatinya dari mengingati Kan-ii dan
mengikut hawa nafsunya dan adalah perbuatannya itu melarnpaw batas.
Di antara beberapa bahaya melupakana al-Quran adalah seperti berikut:
2. Sesat yang nyata Syarah
Petunjuk yang diturunkan oleh ~ s.w.t menerusi Rasul~ s.a.w adalah petunjuk yang jelas
kebenarannya. Dinyatakan satu persatu oleh AUah s.w.t haldkat-haldkat kebenaran id
dengan bukti-bukti yang begitu jelas sebingga tidak ada lagi alasan kenapa merka boleh
berpaling setelah mereka melaliirkan pengakuan keknanan , selain dari keingkaran
mereka yang nyata terhadap haidkat yang begitu jelas terbukt! di hadapannya. Itulah
dise,but sobagai kcsesalan yang nyata.
Dalil
(4: 60): Tidakkah engkau mengetahul orang-orang yang mendakwa bahwa mereka
berirnan kepada (Ouran) yang diturunkan kepa.da engkau dan (1<itab-ldta]R) yang
diturunkan sebelum engkau, mereka hendak rriinta berhukurn kepada taghut (berhala),
sedang rnereka disuruh supaya kmfur terhadap taghut. Syetan menghendald supaya ia
menyesatk-an mereka dengan kesesatan yang jauh.
(4: 115): Sesiapa yang menentang rasul, sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut
bukan jalan orang-orang mukmin, nescaya Kan-ii angkat dia menjadi pemimpin apa yang
clipimpin=ya dan Karni masukkan dia ke dalam neraka jahannam. Itulah sejahat-jahat
tempat kembali.
3. Sempit dada
Syarah
Sunnatullah bahwa jalan hidayah kepadanya adalah ~ yang luas dan tenang kerana !a
langsung bersandar kepada kekuatan yang hakild dan Dia yang meniihk segala-galanya.
Apabila ldta bersandar kepada selain Allah (makhluk) maka ldta bersandar kepada
sesuatu yang lemah dan tidak meniihk . Kita akan merasa sempitan lantaran yang tidak
merriilil<i tidak niampu memenulu kehendak dan keinginan lata.
Dalil
(6: 125): Maka sesiapa yang Allah kehendald menunjuldnya, nescaya dilapangkan
dadanya kepada Islam. Sesiapa yang Allah kehendaid Dia sesat Allah jadikan dadanya
sempit seolah-olah dia dinaikkan ke langit. Deniildanlah Allah menjadikan azabnya
kepada mereka yang tidak beriman.
4.Keliidupan yang serba sulit
Syarah

124
* ~ s.w.t telah berj@ji bahwa sesiapa yang berpaling dari mengikuti ajaran yang telah
dibawa oleh Nabi s.a.w akan menerima padah dalam keliidupannya kerana selain
petunjuk AUah adalah kekurangan dalam segala sudut bahkan bertenibmg antara
kepentingan- kepentingan berbagai pihak.
Dahl
* (20: 124): Sesiapa yang berpaling dari peringatan Ku (Quran) maka untuknya
pengffidupan yang sempit, kemudian Kan-d Iiimpunkan dia pada hari Idainat dalam
keadaan buta.
5. Matahati yang buta
Syarah
& Petunjuk al-Quran adalah Basturah baqi perjalanan liidup manusia. Sesiapa yang
me=ggalkan petunjuk inn atau melupakannya niaka mata hatmya tidak akan niampu
inelihat kebenaran AUah walau matanya dapat melihat.
DalU
* (22: 46): Tidakkah mereka berjalan di muka buns! supaya mereka mempunyal akal
(untuk) meniil&kan, atau telinga (untuk) mendengarkan. Sesungguhnya rnereka
bukanlah buta mata, tetapi buta hati yang dalam dada.
Pakej Tarbiah Tullah 2
0
0-@
I#,-
6. Hati menjadi keras
Syarah
Hati yang jauh dan petunjuk Allah menlacli keras dan sukar untuk menerima kebenaran
sehinggakan disifatkan oleh Allah pada seseengah tempat lebih keras dari batu.
Dalfi
(57: 16): Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beds=, bahwa tunduk hati
mereka untuk mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkannya (Quran) dan bahwa
mereka tiada seperti orang-orang alibi ldtab sebelum mereka, maka telah panjang niasa
antara mereka dan antara nabinya, Ialu menjadi ka-Rar (keras) hati mereka dan
kebanyakan mereka fasiq.
7. Zalim dan hina
Syarah
Apabila lata lari dan kea~ yang tunjukkan oleh ~ maka tempat sebawmya untuk leta
adalah kezaliman kerana Idta telah meletakkan sesuatu bukan pada posisi yang
selayakaya menurut neraca asli yang dikehendald oleh Allah. Pergantungan Idta pula
kepada ~uk bukan kepada Allah. Di sinilah lahirnya kehinaan.
DaW
• (3: 112): Mereka itu ditimpa kehinaan di mana mereka berada kecuali dengan tali dari
Allah dan tali (perdamaian) dari manusia, dan mereka itu kembali dengan mendapat
kemurkaan dari Allah serta ditimpa keniisidnan. Deniildan itu, kerana mereka kafir akan
ayat-ayat ~ dan menibunuh nabi-nabi tanpa kebenaran. Dengan itu sebab mereka itu
derhaka dan melampaui batas.
• (32: 22): Siapakah yang lebih zalim dari orang-orang yang diberikan peringatan dengan
ayat-ayat tuhannya, kemuclian clia berpaling danpadanya? Sesungguhnya Karm
menyiksa orang-orang yang berdosa.
8. Bersahabat dengan syaitan
Syarah

125
Syaitan sentiasa mengintai-intai peluang untuk menyesatkan manusia mewui apa jua cara
yang mungldn boleh dilaksanakan.. Sesiapa yang rneninggalkan atau melupakan al-
Quran maka ~ berj@li akan menguas~ syaitan kepadanya Ialu sy&tan menjach
sahabatnya.
Dalil
• (43: 36): Sesiapa yang membuat-buat buta (melihat) peringalan Rahman (Quran), Kwd
ku~an syaitan kepadanya, lalu syaitan itu menjadi temannya.
• (25: 29): Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Quran) setelah
sainpai kepadaku. Adalah syaitan itu amat kliianat kepada manusia.
9. Lupa terhadap diri sendiri
Syarah
* Hubungan ~ dengan haniba-hanibanya begitu berhambatan. Apabila hamba dekat
dengan-Nya maka Allah lebih dekat lagi tetapi apabila hmiba melupakan Allah maka
Allah akan melupakan hambanya bahkan menladikan mereka lupa akan dm mereka
sendin.
Dalil
* (59: 19): janganiahkamusepertiorang-orangyangmelupakanAllah,Wu~menjadikan
mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itwah orang-orang yang fasiq.
1 0. Fasiq
Syarah
* Fasiq adalah orang yang keluar dari batasan-batasan yang telah ditentukan oleh ~ s.w.t.
Apabila Idta melupakan al-Quran, atau meninggalkannya bagaimana boleh Idta
mempastikan berada di dalam lingkungan batasan ~ s.w.t. sedang semuanya itu disebut
dan peringatkan di dalarn IdtabNya yaitu al-Quran.
Dalil
0 (2: 26-27): .... Adapun orang-orang yang kafir, mereka berkata apakah maksud Allah
de.ngan perwnpamaan ini? Disesatkan Allah dengan perumpamaan itu kebanyakan orang
Pakej Tarbiah Tullab 2
9
dan ditunjuinya kebanyakan orang yang lain, tetapi llah tidak rnenyesatkan dengan dia
kecuali orang-orang yang fasiq. last orang-orang yang melanggar janji-janj! ~ setelah
teguhnya dan mereka itu memutuskan (silaturahim) yang disuruh Allah
memperhubungkannya, lagi mereka berbuat bencana di muka bunu. Mereka itulah orang-
orang yang Merugi.
(13: 19-20): Adakah orang yang mengetahui bahwa Quran yang diturunkan kepada
ongkau dari tuhanmu, adalah suatu kebenaran serupa dengan orang-orang buta (tidak
mengetahul)? Hanya orang-orang yang berakal, menerima pengajaran. laitu orang-orang
yang menepati janji Allah dan mereka tidak memungldri janji.
1 1. Nifaq
Syarah
0 Nifaq adalah sifat yang berbahaya kepada masyarakat dan juga kepada diri sendin. Ini
kerana orang rainal tidak dapat menegenali mereka dengan baik kerana pada zahirnya
rnereka seperti orang lain juga. Tetapi Allah Maha Mengetahiii apa yang ada di dalam
hati- hati mereka. Keadaan ini juga berlaku di zaman Rasulullah s.a.w di mana terdapat
12 narna yang dirahsiakan oleh Rasuluilah ke dalam sunpanan Huzaifah. Bagaimanapun
BAgmda menceritakan sifat atau eiri-ciri infaq dan merninta Idta menjauhinya.
Dabl

126
• (4: 61-63): Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah karnu kepada apa yang
diturunkan Allah dan kepada rasul, maka engkau lihat orang-orang munafik berpaling
dari engkau sebenar-benar berpaling. Bagaimakah jika mereka ditimpa cubaan kerana ~a
tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepada engkau, sambil bersumpah
dengan ~: Kariii tidak menghendald selain semata-mata kebaikan dan perdainaian.
Mereka itulah orang-orang yang Allah mengetahili apa-apa yang dalam hati mereka, dan
ajarlah mereka dan katakarilah kepada mereka perkataan yang fasih (terang) tentang
dirinya.
• (24: 49-50): jika mereka itu akan mendapat haknya, mereka datang kepada rasul serta
patuh kepadanya. Apakah ada penyalat dalam hati mereka atau masih ragu-ragu atau
takut, bahwa Allah dan rasW-Nya akan ariiaya kepada mereka? bahkan mereka itu
sendiri yang ariiaya.
12. Menimbulkan syaqawah di duma dan di aklurat: Kesemua sifat-sifat tadi me~ulkan
kesusahan kepada keliidupan sarnada di dunia yang ada sekarang ini mau pun
kel-,lidupan di aktdrat nanti.
Ringkasan Dalil
• Lupa kepada AI Qur’an (1 8: 28)
• Sesat yang nyata (4: 60, 115)
• Sempit dada (6: 125)
• Kehidupan yang serba sulit (20: 124)
• Matahati yang buta (22: 46)
*Hati menjadi keras (57: 16)
• Zalim dan hina (3: 112, 32: 22)
• Bersahabat dengan syaithan (43: 36, 25: 29)
• Lupa terhadap diri sendiri (59: 1 9)
*Fasiq (2: 26-27, 13: 19-20)
*Nifaq (4: 61-63, 24: 49-50)
* Meniinbulkan syaqawah di duriia dan di akhirat
F.S. SYURUT AL INUFA BIL OURAN
Sasaran
a.Memahami kepentingan intifa dengan AI Qur’an
b. Memahard syarat-syarat intifa terhadap AI Qur’an
c.Dapat inelaksanakan syarat-syarat tersebut dengan sebaik-baiknya kedka berinteraksi
dengan AI Qur’an
Sinopsis
Dalam rajah ini menyimpulkan beberapa panduan bagaimana untuk memaksimalkan
faedal\h yang dapat kita ambil dari Al-Qur’an. Baik dari peradaban, cara menerima,
memahami objektif asasi, menurut yang dilakukan oleh para sahabat.
Hasiyah
Bersikap sopan terhadapnya: niatnya baik, hati dan jasadnya bersih, mengjhususkan jiwa
untuk sibuk dengannya, mengkhususkan berfikir dengan Al-Qur’an.
Kesopnan dengan Al-Qur’an hendknya dijaga ketika menggunakan Al-Qur’an.
Kesopanan ini …. Menyediakan niat hati yang baik dan bersih, jasadnya juga hendaklah
dalam keadaan suci bersih atau dengan wudhu dan hendaknya pikiran bertumpu hanya
kepada Al-Qur’an saja tanpa gangguan dari yang lain.
Dali
(7: 204)

127
3. Berorientasi kepada tujuan yang ~ (dari AI @Qur’an) sebagai petunjuk clan ~
pen.ibentuk keperibadian Islam, pemirnpin manusia, pernbentuk masyi: irakat Islam
4. Mengikuti cara interaksi sahabat dengan AI Qur’an: memandang secara menyelurul
masuknya AI Qur’an tanpa pertimbangan-pertimbangan masa Ialu. Pereaya secara mutlal
merasakan bahwa ayat diarahkan kepada dirinya.
5. Menganibil manafaat
Ringkasan DalU
Syarat berinteraksi dengan AI Qur’an
*Bersikap sopan terhadapnya: riiatnya baik, hati dan jasadnya bersih, mengkhususkan jiw
untuk hanyan sibuk dengannya, mengkhususkan berfil& dengan Al Qur’an
Bagus dalam talaqqqi: dengan hati yang khusyu, dengan mengagungkan, dengan kesiapa
melaksanakaan
*Berorientasi kepada tujuan yang asasi (dari AI Qur’an) sebagai petunjuk dari Allal
penibentuk kepenbachan Islam, penumpin manusia, pembentuk masyarakat Islam
• Menglkuti cara interaksi sahabat dengan AI Qur’an: memandang secara menyelurd
masuknya AI Qur’an tanpa perdnibangan-perw-nbangan masa Ialu. Percaya secara mutial
merasakan bahwa ayat cliarahkan kepada d=ya.
• Mengambil manafaat ...

GHAZWUL FIKRI
PENDAHULUAN
Bahan ghazwul fikri sebagai panah dari peluru-peluru yang disampaikan kepada mad’u
kita agar mereka menyadari bahaya ghazwui fikri yang menggunakan segala macam cara
dan bentuk yang berada di sekitar kita untuk mengancam aqidah dan amal shaleh kita.
Penyedaran melalui bahan ghazwul fikri ini diberikan dengan banyak contoh, bukti,
realitas yang berlaku di sekitar kita dan pendedahan tentang mangsa-mangsa ghazwui
fikri ini. Setelah pendedahan ini diharapkan muncul penyadaran sehingga mempunyai
benteng diri dan perbaiki diri ke arah yang positif.

Umnat Islam secara umumnya banyak yang tidak menyedari akan bahaya ghazwul fikri.
Fenomena ini dibuktikan dengan banyaknyar musliin secara sadar ataupun tidak
mengikuti pemikiran, tingkah laku dan gaya hidup orang kafir (Barat). Ketidaksadaran
muslim terhadap balhaya ini menjadikan muslim tidak mempunyai identitas dan
kepercayaan diri yang kuat sebagai muslim. Bahkan kebanggaan dengan tingkah laku
jahiliyah yang diamalkan sebagai suatu budaya dan prestij tersendiri.

Pihak kafir setelah mengalam kekalahan yang berterusan terhadap Islam selama perang
Salib mencari alternatif untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tidak pernah ridha
dan tidak pernah berhenti menyerang umat Islam hingga muslim mengikuti millah
mereka. Strategi altematif menghancurkan Islam yang dipilihnya adalah ghazwul fikri.
Ghazwul fikri adalah serangan pemikiran, budaya, mental dan konsep yang berterusan
dan dilakukan secara sistematik, beraturan, terancana yang dirintis oleh pihak kafir
terhadap muslim sehingga muncul perubahan keperibadian pada umat Islam, gaya hidup
dan tingkah laku.
Ghazwul fikri ini bertujuan untuk rnerusakkan akhlak, menghancurkan pemikiran,
melarutkan keperibadian dan rnenjadikan muslim.riddah. Usaha ini sudah dilaksanakan
semenjak sebelum kejatuhan khilafah Islaniiyah yang kemudian menghasilkan jatuhnya

128
khilafah Islamiyah. Usaha memutuskan hubungan di antara negeri Islam di bawah
khilafah islamiyah senantiasa dilakukan sehingga muncull nasionalime, kekauman dan
kebangsaan. Memisahkan agama dari negara, orientalisme, penyebaran Kristen dan
pembebasan wanita merupakan aktivitas ghazwul fikri yang sekarang sudah
menunjukkan hasilnya. Umat Islam sekarang sebagai mangsa ghazwul fikri telah berubah
wajah menjadi wajah Barat atau jahiliyah walaupun status agama mereka masih Islam.
Musush Islam adalah pelaku ghazwul fikri yang terdiri dari Yahudi, Nasrani, Majusi,
Musrikin, Munafikin, Atheis dan orang kafir secara umumnya. Mereka biasa disebut
dengan musytakbirin (orang yang sombong dan melempaui batas). Cara yang digunakan
mereka untuk menyerang Islam adalah peneragan, pendidikan, pengajaran, buku
cetakan , klub, sukan, yayasan, pertubuhan, hiburan, film, musik dan sebagainya
sehingga memungkinkan umat islam lupa kepada identitas diri mereka dan murtad yang
kemudian menjadikan kehidupannya sebagai kehidupan jahiliyah.
Kehidupan jahiliyah merupakan kehidupan yang jauh dari berkah Allah, kehidupan in
akan merugikan kita di dunia dan akhirat. Kehidupan jahiliyah berarti kehidupan di
dalam kegelapan tanpa panduan agama dan petunjuk yang jelas. Kejahiliyahan
disebabkan oleh bersangka buruk kepada Allah, merasa diri cukup dan tidak perlu
pertolongan Allah, tidak memerlukan hidayah dari Allah dan sombong. Produk jahiliyah
diantaranya adalah prasangka jahiliyah, hukum jahiliyah, pengabdian jahiliyah,
kebanggan jahiliyah, tingkah laku jahiliyah, perhiasan jahiliyah, dan kehidupan jahiliyah
secara umumnya. Jahiiyah merupakan system, konsep dan amalan kehidupan yang
berada di dalam kegelapan nur islam. Masyarakat islam telah banyak terpengaruh dengan
kehidupan ini sebagai hasil dari ghazwul fikri.
Untuk mengembalikan kepercayaan umat islam kepada agamanya merupakan suatu cara
yang sulit dilakukan kecuali diperlukan dakawah dan jihad yang dipelopori oleh harakah
dan jamaah islamiyah. Kesulitan ini disebabkan karena tingkah laku dan gaya hidup ini
sudah menyatu dengan diri muslim, misalnya perhiasan jahiliyah pada wanita yang
mengguna lipstik, pakaian mengikuti mode, juga kebiasaan tertentu seperti musik dan
hiburan sudah merupakan bagian kehidupan kita yang mestinya aktivitas ini perlu
dihindarkan dan diajuhkan dari kehidupan muslim. Kesulitan lainnya karena umat islam
telah megidap penyakit cinta dunia dan takut mati. Keadaan ini diperlukan kesadaran
terhadap bahaya ghazwul fikri, dengan bahan ini semoga diperoleh kesadaran terhadap
bahaya ini.
Sasaran
· Memahami pengertian ghazwul fikiri dan bahaya yang, mengancam kaum
muslim daripadanya.
· Memahami bentuk-bentuk upaya umat jahiiiyah dalam memperdaya kaum
muslimin
Sinopsis
Setelah Kekalahan pihak kafir khususnya nasrani dari umat Islam melalui perang fisik
dan senjata (pada perang salib dan perang lainnya), maka mereka berfikir mencari jalan
lain yang dapat menghancurkan umat islam. Ghazwul fikri sebagai alternatif yang
dipilihnya sebagai pengganti perang fisik dengan perang pemikiran. Ghazwul fikri adalah
serangan ke atas pemikiran secara bertubi-tubi yang tersusun secara rapi, dan terencana
yang dilakukan oleh umat yang kuat terhadap umat yang lemah untuk merubah
kepribadianya sehingga menjadi pengiktu umat yang kuat tersebut.
Umat jahiliyah khususnya Yaudi dan nasrani senantiasa memerangi umat islam. Perang
yang dilaksanakan dalam toga bentuk yaitu politik, militer dan ekonomi. Ghazwul fikri

129
adalah perang ke arah pemikiran yang akan menghasilkan berbagi kerusakan dikalangan
umat islam. Aktivitas ghazwul fikri adalah merusak akhlak, menghancur fikrah,
melarutkan pribadi dan menjatuhkan aqidah/riddah.
Aktivitas ghazwul fikri demikian akan menghasilkan umat yang rusak akhlaknya,
pemikirannya kotor, kepribadian yang buruk dan keluar dari Islam. Keadaan demikian
menunjukkan wala kepada orang akfir.
1. Umat Jahiliyah
Syarah
Jahiliyah mierupakan konsep kehidupan suatu umat yang menetang kekuasaan Allah
Swt. Konsep kehidupan jahiliyah ini juga merupakan hukum, peraturan dan bentuk
pengabdian. Kehidupan jahiliyah yang dilambangkan oleh Islam yaitu di zaman Nabi
Muhammad Saw yang kemudian sudah diganti dengan nur Islam, namun demikian
kejahiliyahan yang sudah dikubur oleh nabi kita kemudian bangkit lagi dan sekarang
berkeliaran untuk menghacurkan dan mengajak senantisia mngikuti gaya hidup dan
amalannya.
Dalil
5: 50; Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hokum-hukum jahiliyah?
Padahal kepada orang-orang yang penuh keyakinan – tidak ada yang boleh membuat
hokum selain Allah.
* 39: 64; Katakanlah (wahai Muhammad) kepada oraiigoarng-orang musyrik: “Sesudah
jelas dalil-dalil keesaan Allah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah
atau memuja yang lain dari Allah, hai orang-orang yang jahil.”
2. Politik
Syarah
Politik jahiliyah merupakan media dan sekaligus cara musuh Islam menjatuhkan dan
mengalahkan islam walaupun di Negeri Islam sendiri. Bukti ini dapat dilihat di depan
mata kita dimana hampir semua negara islam dikuasai politiknya oleh politik jahiliyah
yaitu demokrasi ala Barat atau demokrasi yang diciptakan untuk memelihara kepentingan
para penjajah sehingga hampir setiap muslim dengan politik demokrasi ini dijajah dan
dikuasai oleh musuh Islam khususnya musuh dari luar negara yang dijalankan oleh
pengekor tempatan. Mereka sanantiasa membuat makar untuk menghancurkan Islam,
walau bagaimanapun makar Allah yang baik dan pasti menang.
Dalil
· 6: 123., Dan demikianlah Kami adakan dalam tlap-tiap negeri orang-orang besar
yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya di negeri itu, padahal tiadalah mereka
memperdayakan selain dari dirinya sendiri (karena merekalahi yang akan meneriina
akibatnya yang buruk), sedang mereka tidak menyadarinya.
· 6: 137; Dan demikianlah juga (jahatnya) ketua-ketua yang orang-orang musyrik
itu jadikan sekutu bagi Allah, menghasut kebanyakan mereka dengan kata-kata indah
yang memperlihatkan eloknya perbuatan membunuh anak-anak mereka, untuk
membinasakan mereka, dan untuk mengelincirkan mereka mengenai agama meraka. Dan
kalau Allah kehendaki, niscaya mereka tidak melakukannya. Oleh sebab itu biarkanlah
mereka dan apa yang merekan ada-adakan itu.
3. Militer
Syarah
Militer yang dibentuk untuk menyokong jahiliyah merupakan kekuatan utama di setiap
negara di dunia ini, tetapi yang disayangkan hampir setiap militer negara Islam di bawah
“bimbingan” pihak musuh islam bahkan segala fasilitas, senjata, training dan keperluan

130
militer lainnya disediakain oleh pihak musuh islam. Negara Islam tidak menyadari
mengenal keadaan bahwa mereka adalah betul-betul musuh kita. Sifat militer jahiliayh
tidak mengiktitas nilai islam misalnya dari segi aturan perang, cara berperang dan tujuan
berperang. Mereka boleh melaksanakan jenayah atas nama perang misalnya membunuh
wanita, kanak-kanak dan orang tua, memboikot makanan, melarang obat-obatan,
membunuh siapa saja secara kejam dan sebagaina. Walaupun mereka sembunyikan cara
demikian tetapi bukti tampak jelas kejahatan mereka. Sifat tentara dibawah pengawasan
mereka juga menunjukkan keganasan akhlak dan kerusakan mental dan jiwa.
Dalil
2: 217; Mereka
9: 36; Sesungguhnya
4: 102; Dan apabila
4. Ekonomi
Syarah
Islam juga menyediakan banyak aturan berkaitan dengan ekonomi namun demikian
pihak kafir senantiasa memaksa kehendak ekonomi mereka kepada negara islam
sehingga di hampir semua negara islam berlaku amalan ekonomi jahiliyah misalnya
system perdagangan bebas yang dirancang oleh pihak barat untuk senantiasa mengawal
dan mengendalikan ekonomi negara islam. Apapun kehendak mereka dapat dicapai
dengan tekanan ekonomi misalnya melalui pertukaran uang, pembayaran hutang,
penguasaan ekonomi tempatan dan oleh pihak luar dan mengikat dengan perjanjian-
perjanjian seperti bantuan dan sebagainya. Yang cukup disayangkan kita menyadari
bahwa system jahiliyah yang diciptakan adalah un tuk kepentingan mereka juga bukanlah
untuk kepentingan, kita akan dijadikn mangsa hingga masa yang mereka kehendaki.
Keadaan kemerosotan ekonomi sekarang ini adalah salah satu dari keadaan yang mereka
buat dan kemudian mereka yang menyelesaikannya.
Dalil
9: 34; Wahai
5. Ghazwul Fikri
Syarah
Musuh Islam senantiasa tidak pernah diam untk menghancurkan islam dan memdamkan
cahaya Islam dengan berbagai cara yang mereka buat. Tetapi karena Islam ini milik
Allah, maka islam tidak akan pernah hilang bahkan Allah akan menyempurnakannya.
Ghazwul fikri dengan upaya memadamkan nur Islam ini nampaknya mulai menunjukkan
hasilnya di dalam diri umat Islam, dimana sebagian muslim telah mengamalkan gaya
hidup orang kafir. Diantara upaya mereka untuk memadamkan cahaya Isalam adalah:
Dalil
61: 8; Mereka senantiasa berusaha hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, sedang Allah tetap menyempurnakan cahayaNya , sekalipun orang-orang kafir
tidak menyukainya.
9: 32; Sujud
6. Merusak Akhlak
Syarah
Sujud kepada Allah pencipta dengan taat, menciantai dan mengikuti perintahNya
merupakan kewajiaban muslim. Akhlak sujud adalah akhlak muslim yang senantiasa
diamalkan di dalam kehidupan kita selama 24 jam dengan symbol shalat. Namun
demikian ghazwul fikri senantiasa membawa kita untuk tidak sujud bahkan melawan
perintah Allah dengan mengerjakan yang haram dan meninggalkan yang halal.

131
Kerusakan akhlak merupakan usaha mereka misalnya melalui musik, film. Tanpa
disadari kita menerima dan mengikuti mereka setelah terbiasa mendengarkan musik dan
menonton film mereka. Merusak akhlak merpuakan strategi efektif yang mereka lakukan
kepada remaja dengan menampilkan berbagai hiburan dan keseronokan atau kebebasan
yang disenangi sebagain remaja.
Dalil
15: 29; Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya, serta Aku tiupkan padanya roh
dari (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya.
7. Menghancurkan Fikrah
Syarah
Ciri munafik adalah mereka secara status sebagai muslim tetapi pemikiran dan akhlak
tidak lagi menunjukkan islam bahkan hati mereka mengingkari Allah. Menghancurkan
fikrah dengan mengajak muslim berhukum kepada taghut dan menjadikan syetan sebagai
ikutan muslim dikehendaki mempunyai fikroh untuk menjadikan Islam sebagai dien,
beriman kepada kitabNya tetapi musuh islam menghendaki muslim berwala kepada
taghut dan menjauhkan islam. Menghacurkan pemikiran yang dilaksanakan oleh ghazwul
fikri juga diarahkan kepada ilmu, teori, konsep, wawasan, pandangan dan sebagainya.
Dalil
4: 60; Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad) orang-orang (munafik)
yang mendakwa bahwa mereka telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan
kepadamu dan kepada (kitab-kitab) yang telah diturunkan dahulu daripadamu? Mereka
suka hendak berhakim kepada taghut, padahal mereka telah diperintah supaya kufur
ingkar kepada taghut itu. Dan syetan pula senantiasa hendak menyesatkan mereka dengan
kesesatan yang amat jauh.
8. Melarutkan keribadian
Syarah
Larutnya keperibadian Muslin sehingga menjadi kafir bukanlah hal yang mustahil. Usaha
ghazwul fikri dan kejayaan ini telah dibuktikan di dalam banyak kes murtad atau muslim
menjadi kafir. Bilangan murtad ini tidak begitu banyak tetapi yang mayoritas adalah
kufur dari islam dengan tidak mengerjakan perintah Allah tetapi mereka masih sebagai
musliin. Walau bagaimanapun sifat yang demikian akan membawa muslim menjadi kafir
yang sesungguhnya secara penampilan dan juga status.
Dalil
· 68: 6; Siapakah orangnya yang gila diantara kamu semua?
· 4: 89; Mereka suka kalau kamu pula menjadi kafir sebagaimana mereka telah
menjadi kafir, maka (dengan yang demikian) menjadilah kamu sama seperti mereka.
Oleh itu janganlah kamu mengambil (seorang pun) di antara merejka menjadi teman
rapat kamu, sehingga mereka berhijrah pada jalan Allah (untuk menegakkan Islam).
Kemudian kalau mereka sengaja berpaling ingkar, maka tawanlah mereka dan bunuhlah
mereka di mana saja kamu menemuinya; dan jangan sekali-kaii kamu mengambil
(seorang pun) dinatara mereka menjadi penolong.
9. Menumbangkan Akidah/riddah
Menjadikan muslim hilang aqidah sehingga riddah dari islam telah dilakukan oleh ahli
kitab pada zaman dulu yang kemudian diwarisi dan diteruskan oleh pengikutnya di
zaman sekarang ini muncul ghazwul fikri. Sasaran ini dicapai dengan berbagai cara yang
menipu dan menggellincirkan. Terkadang kita tidak rnenyadari bahwa mereka membawa
kita ke jalan yang sesat. Cara yang halus dan menipu ini cenderung menjadikan sesuatu
yang haram jadi halal atau sebaliknya, sesuatu yang buruk menjadi baik dan sebaliknya

132
sehingga kita dikuasai oleh syetan dan secara otomatis aqidah menghilang secara
bertahap dan pasti.
Dalil
· 2: 109; Banyak
· 3: 149; Hai orang-orang yang beriman jika mentaati orang-orang kafir itu,
niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu
orang-orang yang rugi.
10. Memberikan wala kepada orang kafir
Syarah
Kejayaan ghazwul fikri dengan merusakan akhlak, maneghancurkan fikrah, melarutkan
keperibadian dan riddah adalah muslim yang memberikan wala kepada orang kafir
dengan segala bentuk dari yang nampak atau tidak. Wala kepada kafir juga dapat berupa
kepatuhan mengikuti cadangan mereka dan nasehatnya, wala juga berarti
menujadikannya sebagai rujukan dan panduan, wala juga bermakna kita bergantung
kepada pihak kafir dan segala praktek lainnya, Islam sangatlah melarang kita
berhubungan rapat dengan pihak kafir apalagi dalam hubungan tolong menolong yang
dapat merugikan kita seperti hubungan ekonomi. Malaysia sebagai satu contoh yang
mungkin baik adalah tidak menghendaki bantuan dari luar (IMF) untuk memperbaiki
ekonomi negara. Berhubungan dengan Yahudi maka mereka akan mencari untung dari
kita dan kita akan ditewaskannya. Perkara ini sudah disebutkan di dalam Al-Quran agar
kita tidak begitu saja menjadikan yahudi dan nasrani sebagai penolong dan kawan kita.
Dalil
· 5: 51; Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani sebagai teman rapat, karena setengah mereka menjadi teman akrab
kepada sebagian yang lain; dan sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain.
Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang zalim.
Riiigkasan Dalil
· Ghazwul fikri adalalh serangan bertubi-tubi yaiig tersusun secara kemas, teratur
dan terancana yang dilakukan oleh umat yang kuat terhadap umat yang lemah untuk
merubah keperibadiannya sehingga menjadi pengikut ummat yang kuat tersebut.
· Umat jahiliyah, 5: 50, 39: 64
· Perang dalam tiga bentuk: politik (6: 123, 6: 137), militer (2: 217, 9: 36, 4: 102),
ekononii; 9: 34.
· Ghazwul fikri (61: 8; 9: 32): merusak akhlak (1 5: 29); menghancurkan fikrah (4:
60), menjatuhkan aqidah/riddah (2: 109, 3: 149).
· Larutnya keperibadian muslim (68: 6; 4: 89); memberikan wala kepada orang
kafir (5: 5 1).
G2. MARAHIL GHAZWUL FIKRI
Sasaran
· Memahami tahap-tahiap Ghazwul fikri sepanjang sejarah umat.
· Memahami kaitan kondoisi umat yang ada sekarang sehubungan dengan rencana
ghazwul fikri tersebut.
Sinopsis
Sejarah menunjukkan bahwah khalifah islamiyah pernah berjaya dahulu dan telah
menguasai dunia, kemudian semangat umat islam semakin berkurang beriringan dengan
merosotnya peranan khilafah sebagai hasil pihak musush melancarkan gazwul fikri.

133
Marhalah ghazwul fikri terdiri dari tiga fasa yaitu fase sebelum jatuhnya khilafah, semasa
jatuhnya khilafah dan setelah jatuhnya khilafah. Fase sebelum jatuhnya khilafah dengan
berbagai aktivitas misalnya orientalis, kristenisasi, dan memutuskan hubungan negeri-
negeri dengan khilafah. Manakala pada fase jatuhnya khilafah aktivitas ghazwul fkri
adalah memisahkan agama dengan negara, menyebarkan fitnah nasionalisme,
menjatuhkan khilafah dan terakhir adalah fase sesudah jatuhnya khilafah musuh islam
melakukan beberapa serangan misalnya perubahan di dalam politik, masyarakat dan
akhlak.
Diantara pelaku ghazwul fikri ini adalah orientalist, misionarist, atheis, kaumiyah dan
barat. Kerusakan yang didapati diawali dengan sekuler di bidang pengajaran, penerangan,
perundang-undangan, menegakkan nasionalisme dan pembebasan wanita.
1. Fase sebelum jatuhnya khilafah
Syarah
Khilafah islamiyah merupakan kerajaan islam di dunia yang mencakupi negara-negara
islam. Khilafah islamiyah selama berabad-abad telah menguasai dunia dan menjadi
ustaziatu alam. Pihak kafir dengan kekuatan barat (kristian) dan kekuatan Timur (Majusi)
di bawah kekuasaan islam dan islam telah menyebar keseluruh dunia termasuk ke negeri
cina. Kejayaan ini kemudian hancur secara bertahap yang kemudian berakhir pada tahun
1924 di bawah khilafah usmaniyah. Kejayaan ini hancur disebabkan pihak luar yang
menyerang melalui ghazwul fikri sehingga kekuatan dalam melemah dan kemudian jatuh
dan hilang dari permukaan bumi. Cara yang mereka lakukan untuk menghacurkan islam
adalah ghazwul fikri sebagai alternatif dari kekalahan mereka melalui ghazwul
askari/fisik (perang senjata). Di antara usaha ini adalah secara sistematik dan dirancang
dengan baik meraka belajar islam, ketimuran dan kemudian mereka dikenal dengan
orientalist. Orientalist ini senantiasa menjelekkan islam dengan menggunakan islam
sebagai dalil. Selain itu usaha kristenisasi digalakkan sehingga mereka yang sudah tidak
percaya islam akan berpindah agama, orang islam yang miskin, orang islam yang lemah
ilmu dan akidah dan sebagainya. Usaha yang cukup berhasil dilakukan oleh pihak musuh
pada fase sebelum kejatuhan khilafah islamiyah adalah memutuskan negeri-negeri
dengan khilafah, sehingga ashobiyah yang ditimbulkan menjadi isu utama pertembungan
di antara negara-negara islam. Dari pertembungan ini semakin lemah khilafah islamiyah
dan kemudian satu persatu negara islam di bawah khilafh islamiyah telah keluar dari
kekehilafahan dan membentuk negara masing-masing. Penjajahan oleh pihak kafir pun
dimulai beriringan dengan kejatuhan khilafh islamiyah. Sejarah membuktikan hampir
semua negara islam dijajah oleh pihak kafir.
2. Fase semasa jatuhnya khilafah
Pada saat jatuhnya khilafah islamiyah diperlancar dengan cara rnenyebarkan faham
nasionalisme kepada setiap negara islam. Kekauman, kesukuan, kebangsaan dimunculkan
secara hebat sehinggan muncul kepentingan-kepentingan yang bersifat ashobiyah. Usaha
menghilangkan peranan khilafah islamiyah diperlancar dengan memisahkan agama dan
kerajaan. Kepercayaan semakin berkurang terhadap peranan khilafah dan juga peranan
khilafah tidak lagi kuat bahkan pemberontakan pun mulai terjadi sebagai warna
perjajalan sejarah khilafh islamiyah. Sejarah khilafah islamiyah di sertau juga adanya
pertembungan yang menghasilkan berbagai puak dan memisahkan diri dari khilafah
islam dan banyak nama-nama yang muncul sebagai saingan saingan khilafah islamiyah
yang sedang berjalan, namun demikian keadaan yang tidak terkendali berlaku pada saat
menjelang jatuhnya khilafah islamiyah. Keadaan menjelang jatuhnya khilafah islamiyah
secara keseluruhan adalah muncul nasionalisme negara di setiap negara islam, munculnya

134
perpisahan dari agama dari kerajaan, terjadinya huruhara di beberapa tempat dan yang
tidak kalah pentingnya adalah usahan pihak kafir yang memperlancar kejatuhan khilafah
islamiyah ini.
3. Fasa setelah jatuhnya khilafah
Syarah
Pihak musuh islam tidak berhenti usahanya setelah jatuhnya khilafah islamiyah tetapi ia
tetap memperlancar dan menggiatkan usahanya untuk menjauhkan umat islam dari
agamanya. Usaha-usaha ini beriringan dengan penjajahan-penjajahna terhadap negara
islam. Di antara usaha mereka adalah adalah menjadikan urusan dunia sebagai sesuatu
yang berasingan dengan urusan akhirat. Beberapa aktivitas adalah bertujuan untuk
menjadikan sekuler di bidang pengajaran, penerangan, perundang-undangan. Selain itu
mereka berushan menegakkan nasionalisme dan melakukan pembebasan wanita. Usaha
ini masih sangat dirasakan hingga saat ini, contoh Turki yang mengamalkan nasionalisme
di bawah Kamal Attaturk. tetap disokong oleh pengikutnya hingga saat inii dan mereka
setia dan bersedia mati-matian mempertahnkan sekuler dan faham nasionalisme
walaupun terbukti tidak dapat membawa bangsa Turki ke depan bahkan masih selalu
tertinggal. Pembebasan wanita merupakan ancaman yang sangat besar terhadap
kehidupan keluarga, masyarakat dan negara bahkan melaui pembebasan wanita semakin
menjatuhkan kualitas umat islam misalnya munculnya kerusakan akhlak dan kehancuran
masyarakat. Cara-cara yang dilakukan oleh pihak musuh islam tidaklah kentara tetapi
mereka senantiasa membawanya dengan hiasan yang menarik hati dan dapat merangsang
mereka mengikutinya. Keadaan yang juga menjadikan kehancuran islam dan semakin
tidak percaya terhadap kehebatan islam adalah dengan menggantikan nilai islam di dalam
pelaksanaan undang-undang, pendidikan dan kehiduapan dengan ditukar oleh nilai
jahiliyah dari Barat.
Ringkasan Dalil
Marhalah ghazwul fikri
· Fasa sebelum jatuhnya khilafah: orientalisme , kristenisasi, memutuskan
hubungan negeri-niegeri dengan khilafah.
· Fasa jatuhnya khilafah: iMemisahkan agama dengan negara, menyebarkan faham
nasionalisme, menjatuhkan khilafah.
· Fase sesudah jatuhnya khilafah; sekuler di bidang pengajaran, penerangan,
perundang-undangan, menegakkan nasionalisme, pembebasan wanita.
G3. WASAIL GHAZWUL FIKRI
Sasaran
· Memahami srana-sarana yang digunakan para musuh Islam dalam rangka
ghazwul fikri dan mampu menyebutkan contoh-contohnya.
· Memahami peranan para penguasa mujrimin dalam menjayakan program ghazwul
fikri terhadap umat islam.
· Menyadari dan mewaspadai bahaya ghazwul fikri terhadap fikroh, keluarga dan
lingkungan
QADHAYA DA’WAH/UMMAH
PENDAHULUAN
Setelah mad’u ditalaqqikan materi ghazwul fikri yang berasal dari luar dalam pengertian
musuh-musuh Islam secara umum, kemudian dijelaskan dengan hizbusyeitan —yang
merupakan musuh eksternal yang mungkin juga internal— dalam bentuk tandzim hizb
yang akan berhadapan dengan hizbullah. Kedua bahan ini cukup memadai untuk

135
meyadarkan bagaimana musuh-musuh Allah mengajak kita menjauhi Islam. Tetapi selain
serangan eksternal, kejatuhan umat Islam juga disebabkan oleh faktor-faktor internal
seperti qadhaya ummat dan da’wah. Bahan ini ditalaqqikan agar mendapatkan
pemahaman dan penjelasan yang menyeluruh tentang musuh-musuh ekternal dan
keadaan internal. Kesadaran yang muncul dari bahan-bahan ini akan membawa mad’u
kepada motivasi dan keinginan-keinginan untuk berda’wah, berjihad dan menjalankan
da’wah serta tarbiyah. Usaha-usaha ini yang kemudian akan membentuk mad’u dari
syakhsiyah Islamiyah (dicapai melalui bahan A – F) menjadi syakhsiyah da’iyah.
Masalah ummat Islam secara internal hari ini memang cukup memprihatinkan dimana
secara umum di negara-negara Islam banyak muslim yang aqidahnya sudah di kotori oleh
kepercayaan yang bukan Islam, tarbiyah tidak berjalan seperti yang dikehendaki samada
secara formal ataupun informal, tsaqafah (pengetahuan) di kalangan ummat Islam
dirasakan kurang. Da’wah tidak berjalan sementara yang berjalanpun kurang memberi
kesan membentuk generasi rabbani. Tandzim yang di bawa oleh Islam kurang kemas dan
tidak professional sehingga dapat menjatuhkan imej (persepsi) Islam secara keseluruhan.
Akhlak umat Islam secara keseluruhan ramai yang di pengaruhi oleh tingkah laku dan
budaya barat jahiliyah. Itulah keadaan adalah secara umum. Hanya sebagian kecil umat
Islam yang mempunyai komitmen dengan Islam dan da’wah serta dapat memelihara
keimanannya dengan baik. Jalan keluar menghadapi masalah ini adalah perlu segera
melaksanakan da’wah harakah yang bersifat integral dan mempunyai cirri-ciri
rabbaniyah, minhajiyah dan seimbang.
Setelah membincangkan muslim yang terkena penyakit, kemudian melihat bagaimana
da’wah Islam yang dijalankan yang juga diliputi pelbagai kelemahan dan kekurangan.
Secara umum da’wah yang kita jalankan oleh umat Islam secara sendirian tidak melalui
jama’ah yang kemudian akan menghasilkan sesuatu yang kurang berkesan. Da’i ataupun
ustadz dan ulama yang berda’wah secara sendirian akan mengalami kepenatan dari segala
perjalan da’wahnya. Secara ringkasnya penyakit infiradiyah ini disebabkan oleh keadaan
ma’nawi dan aktivitas. Keadaan ini perlu diobati dengan da’wah yang menumpukkan
pada amal jama’i. Beberapa cadangan yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini
adalah perlu kesadaran yang bersumber dari pengetahuan, berorientasi Islami, berjiwa
rendah hati, menyeluruh, moden, manhaji, dan perubahan secara total.
Kemudian mad’u di jelaskan pula dengan bagaimana keadaan umat Islam. Pada dasarnya
keadaan muslim, da’wah dan umat Islam sama saja yaitu dalam keadaan sakit tetapi sakit
yang dialaminya agak berbeda sehingga dari segi penyelesaiannya juga agak berbeda.
Qadhaya ummat (masalah umat) dibagi dalam beberapa persoalan diantaranya ialah
persoalan yang senantiasa wujud pada diri umat dan persoalan kontemporer yang muncul
mengikut suasana dan keadaan lokal. Persoalan yang senantiasa muncul adalah masalah
kejiwaan manusia itu sendiri misalnya kecenderungan, watak, syahwat, dan insting.
Sedangkan persoalan kontemporer disebabkan oleh pengaruh penjajahan yang masih
membekas, penyakit akibat penjajahan, dan kekuatan yang menentang.
Masalah ummat yang kita hadapi saat ini sangatlah berat dan tidak akan mungkin
dihadapai dengan sendirian atau da’wah yang tidak tertata. Masalah yang berat ini
bagaikan penyakit kronis yang susah di sembuhkan dan bahkan berbagai jalan keluar
belum lagi dapat diatasi. Sakit yang diderita ummat Islam dan kejatuhan yang bertubi-
tubi menjadikan ummat Islam setelah da’wah berjalan secara marhalah dan pasti menuju
kejayaan.
Bagaimanapun masalah ummat dan da’wah ada jalan keluarnya dan jelas obatnya hanya
bagaimana kita sebagai da’i dan aktivis yang sudah berazam dan komitmen dengan Islam

136
dan da’wah ini bisa berbuat dan beramal secara sungguh-sungguh maksimal dan manhaji.
Islam tidak akan pernah hilang dan penyakit bukan terletak pada Islam tetapi lebih
terletak kepada umat yang membawa Islam. Islam sebagai dien yang haq dan diridhai
Allah Swt telah terbukti kebenarannya tetapi ummat yang menganutnya tidaklah tahan
dan mampu menghadapi tentangan dan tantangan dalam mempertahankan aqidah dan
akhlak Islam.
I. AHWAL MUSLIMIN

Sasaran
I. Memahami faktor-faktor kelemahan kaum muslimin dewasa ini dan berupaya
untuk memperbaikinya
II. Memahami peranan tarbiyah dan harakah dalam mengantisipasi kelemahan-
kelemahan tersebut
III. Menyadari bahwa jalan satu-satunya untuk memperbaiki kondisi umat adalah
menjadikan dirinya layak bergabung dalam hizbullah.
Sinopsis
Keadaan ummat Islam sekarang ini memang hina dan berada dibawah tangan-tangan
kekuasaan musuh Islam. Ummat Islam sebagai umat yang baik dan mulia ternyata tidak
nampak kemuliannya ditengah manusia lain, bahkan nampak semakin terpuruk sebagaai
buah kejahiliyahan yang semakin merajalela saat ini. Kondisi kaum muslimin hari ini
mempunyai kelemahan-kelemahan diantaranya adalah aqidah, tarbiyah, tsaqafah,
da’wah, pengorganisasian/tanzim, akhlak. Keadaan ini berlaku disebahagian muslim
tersebut nampak tidak mengamalkan ibadah wajib seperti shalat, berpakaian muslimah,
zakat dan berpuasa. Keadaan demikian harus diperbaiki dengan menyediakan da’wah
harakiyah yang integral dan bersifat rabbaniyah, minhajiyah, marhaliyah dan aulawiyah
serta sesuai dengan realitas dan seimbang.
Kelemahan kaum muslimin
Syarah
I. Berbagai kelemahan muslim pada saat ini yang merupakan kelemahan utama dan
prinsip adalah kelemahan aqidah dikalangan muslim. Aqidah muslim pada sebagian
muslim telah tercemar dengan berbagai kepercayaan yang merusak aqidah sebenarnya.
Kepercayaan kepada nenek moyang dengan mengamalkan amalan kepercayaan tradisi
jahiliyah yang diwarnai oleh animisme dan dinamisme. Sebagian kepercayaan tersebut
dipengaruhi oleh Hindu. Aqidah Islam juga di cemari oleh faham tareqat yang sesat dan
kepercayaan syiah yang bertentangan dengan aqidah ahlus sunah wal jamaah. Aqidah
yang di bawa oleh umat Islam tidak lagi tertanam secara baik di dada kaum muslimin,
mereka mencampuri dengan kepercayaan kebendaan, keduniaan dan sebagainya yang
menjelaskan aqidahnya kepada Allah Swt.
II. Tarbiyah dikalangan ummat Islam masih sangat sedikit. Secara formal melalui
sekolah-sekolah yang hanya beberapa jam saja. Sedangkan sekolah Islam sedikit.
Keadaan ini masih kurang bila dibandingkan dengan kebutuhan saat ini. Sekolah Islam
pun tidak semuanya dapat menyajikan Islam dan tarbiyah yang baik sehingga dapat
merubah pribadi pelajar dan gurunya. Perlaksanaan tarbiyah secara informal juga belum
banyak dilaksanakan dengan cukup memuaskan.
III. Tsaqafah Islamiyah dikalangan muslim juga kurang seiring dengan kurang
efektifnya peranan tarbiyah dan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh umat Islam.
Tsaqafah ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan wawasan ynag bersifat Islam atau
umum. Kemampuan ini belum banyak dimiliki oleh muslim. Sebahagian menguasai

137
tsaqafah Islam tetapi dalam masalah umum kurang menguasai (misalnya politik,
ekonomi, kemasyarakan), begitupun sebaliknya kurang di dapati muslim yang
mempunyai pemnguasaan bidang umum dan memiliki tsaqafah Islamiyah. Muslim yang
mempunyai ilmu dan tsaqafah tidaklah banyak, dan masih kecil prosentasenya
dibandingkan dengan jumlah muslim dan kebutuhan yang ada. Sebagian muslim yang
mempunyai tsaqafah ini kurang sesuai dengan pemahaman aqidah Islamiyah, kurang
merujuk kepada minhaj yang asal yaitu Al Qur’an dan sunnah. Masih banyak merujuk
kepada nilai Barat yang bertentangan dengan Islam. Juga ada tsaqafah yang di suburkan
oleh kepercayaan jahiliyah seperti ashabiyah, nasionalisme, sekuler, kapitalisme dan
komunisme.
IV. Da’wah Islam pun nampaknya terkena gangguan. Banyak yang hidup segan dan
mati tak mau. Da’wah sebagian ummat yang berjalan pun mungkin perlu dipertanyakan
ghayah (sasaran akhir) yang akan dituju dan cara (langkah) yang dilakukannya. Hasil
da’wah sekarang ini belum dapat di banggakan bahkan keadaan sekarang ini
menunjukkan bahwa da’wah tidak berjalan karena tidak nampak bertambahnya pengikut
atau pengikut yang ada pun semakin berkurangan. Da’wah Islam tidak berkesan karena
sebahagian sudah hilang tujuan akhir yang sebenarnya kerana sudah terpengaruh oleh
berbagai pendekatan yang kurang Islamiyah. Da’wah kurang berkesan disebabakan
menjadikan da’wah sebagai organisasi kekauman atau kumpulan elite atau pun
perkumpulan yang tidak berdasarkan kepada nilai-nilai Islam. Da’wah yang tidak
berjalan adalah satu masalah sendiri yang sedang berjalanpun perlu dilihat bagaimana
keadaan yang sebenarnya adakah sesuai dengan minhaj atau tidak. Mereka yang tidak
berda’wah juga merupakan masalah besar kerana mereka dijadikan sebagai mangsa yang
sangat senang di makan oleh pihak musuh.
V. Tanzim atau organisasi yang di kendalikan oleh Islam perlu dipertanyakan
sejauuh mana mereka mengamalkan Islam dalam dalam tanzimnya. Tanzim dapat dibagi-
bagi kepada tanzim berupa jamaah yang komitmen pesertanya melalui bai’ah, organisasi
Islam yang terbuka dengan menjalankan beberapa keperluan dan aktivitas Islam secara
terbuka, atau organisasi Islam yang berwarna syarikat, pertubuhan, NGO dan yang
lainnya. Bagaimanapun tanzin ini perlu dilihat semula kerana keadaan ini mungkin juga
sama dengan keadaan umat Islam yang sedang sakit. Apabila pengendali sedang sakit
maka ada kemungkianan yang di bawanya pun menjadi sakit.
VI. Akhlak sebagai cermin muslim sudah di cemari oleh berbagai akhlak jahiliyah
yang dilandasi oleh budaya dan gaya hidup masyarakat jahiliyah. Banyak didapati
muslim yang secara statusnya masih sebagai muslim tetapi tidak mencerminkan lagi
akhlak Islam yang susah di bezakan dengan mereka yang bukan muslim. Akhlak remaja
sangat kentara merupakan wujud yang salah. Akhlak muslim tidak mewarnai diri muslim
secara keseluruhan. Muslim lupa kepada akhlak sebenar yang mesti dimiliki. Keadaan
demikian tidaklah mustahil mengingat ghazwul fikri yang sangat kuat dan hizbusyetan
menguasai dunia saat ini.
I. Perbaikan dengan mewujudkan da’wah harakiah syaamilah
Syarah
Realitas yang ada sekarang ini memerlukan suatu harakah inkaz(gerakan penyelamatan)
untuk merubah keadaan umat Islam menjadi lebih baik dan terlepas dari segala penyakit
yang membawa kita kepada kematian. Da’wah dan harakah yang mempunyai harapan
kejayaan mesti mempunyai beberapa cirri-ciri yang dipenuhi diantaranya adalah
raabaniyah, minhajiyah, marhaliyah dan ulawiyah serta sesuai dengan reality dan
seimbang.

138
II. Raabaniyah di dalam Al Qur’an mempunyai cirri pribadi yang senantiasa
mengajarkan Islam dan juga mempelajari nilai Islam. Selain itu cirri rabbani adalah
mereka yang tidak merasa duka cita, hina dan lemah di dalam menjalankan da’wah
IslamHarakah dan da’wah Islam yang rabani mesti mempunyai ahli dan system yang
demikian . Ahlinya tidak diam begitu saja tetapi ia bergerak dan
senantiasa,berda’wah,dalam menjalankan da’wahnya mereka tidak putus asa tetapi
berterusan dan selalu berjalan dengan komitmen yang kuat dan kukuh.
III. Da’wah Islam mesti mengikuti minhaj yang benar dengan kesedaran yang jelas
dan bersih.. Minhaj dengan basirah ini tentunya merujuk kepada Al qur’an dan sunah
serta merujuk kepada sirah nabawiyah. Kemudian dari panduan ini kita
mempertimbangkan keadaan tempatan seperti situasi, kondisi, keadaan, peristiwa dan
sikap yang muncul sehingga muncul fiqhud da’wah yang dapat dijalankan di tempat
tertentu. Minhaj yang jelas akan membawa ke jalan yang jelas dan juga akan membawa
kita kepada tujuan yang benar sehingga Allah meridhainya.
IV. Da’wah dan harakiyah mesti mengikuti marhalah sesuai dengan marhalah
kesediaan, penerimaan, pengetahuan, kemampuan dan penguasaan mad’u atau aktivis
harakah tersebut. Dengan marhalah ini maka da’wah dapat berjalan dengan baik dan
berkesan. Ahli yang membawa da’wah akan mengalami ketenangan tanpa paksaan dan
sesuai dengan kemampuan atau marhalah yang ada pada dirinya. Marhalah ini diperlukan
di dalam da’wah dan harakah karena nabi Saw mengamalkan dan menyebarkan da’wah
mengikuti dan memperhatikan marhalah ini. Misalnya da’wah pada marhalah tabligh
yang mengajak kepada manusia secara umum, kemudian diteruskan kepada da’wah
secara taklim dengan suasana pengajaran, kemudian diteruskan kpada da’wah marhalah
takwin yang lebih kepada latihan dan pembntukan, kemudian ditingkatkan kepada
marhalah tanzim dan tanfiz.
V. Da’wah dan harakah juga memperhatikan keutamaan dari kerja-kerja yang akan
dilakukan. Perlu memfokus kepada suatu isu dan aktivitas yang dapat memberikan
sumbangn kepada ummat Islam sehingga da’wah dapat tampil ditengah masyarakat
dengan kehadiran yang dialu-alukan. Misalnya keutamaan tarbiyah adalah suatu
keutamaan bagi mana-mana da’wah dan harakah karena tanpa tarbiyah ini tidak akan
dapat meneruskan da’wah. Tarbiyah akan menciptakan kader dan generasi penerus
da’wah itu sendiri. Keutamaan lainnya yang menjadikan keutamaan adalah melihat isu
semasa dan mencari jalan keluar yang dapat mengembangkan pengaruh ditengah
masyarakat misalnya tampil da’wah dalam mengatasi kemiskinan, pengangguran,
khidmat perubatan dan pendidikan yang membawa kearah kejayaan.
VI. Da’wah yang sesuai dengan reality ini merupakan sunnah dan minhaj da’wah
Islamiyah. Da’wah mesti membumi dimana ia berpijak jangan melangit sehingga tidak
dapat diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari mad’u. Keadaan yang
mempertimbangkan reality ini secara berkesan di contohkan oleh nabi di dalam
berda’wah di Mekah ataupun Madinah. Jahiliyah dimasa itu yang sangat kuat
memungkinkan untuk menghancurkan Islam secar cepat tetapi da’wah Nabi secra
bertahap dan pasti memulainya dengan sir dan kemudian cepat mempersiapkan keadaan
di Madinah. Da’wah secara kotroversial adalah pendekatan yang dibawa oleh Nabi
sebagai pendekatan hasil pembacaannya diatas relitas yang ada di persekitaran. Banyak
lagi contoh lainnya yang dijadikan pelajaran oleh umat Islam saat ini.
VII. Da’wah yang seimbang bermaksud da’wah yang memperhatikan semua keperluan
al akh dan Islam secara keseluruhan dan memenuhinya secara seimbang. Aktivis juga
menghendaki keperluan pribadi dan keluarganya terpenuhi maka da’wah perlu

139
memberikan peluang kepada aktivis ini memelihara dan menjaga keperluannya. Pelajar
memerlukan waktu belajar dan mesti mendapatkan markah yang tinggi, ia pun perlu
bertemu dengan ibu bapak di kampumg. Keperluan di dalam menjalankan da’wah seperti
keperluan ruhiyah, aqliyah dan amaliyah. Keseimbangan ini sesuai dengan prinsip
keseimbangan yang Allah terapkan kepada mahlukNya. Dengan seimbang ini maka
setiap aktivis merasakan senang dan bahagia.
Dalil
VIII. 3: 79;…. Hendaklah kamu menjadi rabbani yang kamu mengajarkan kitab dan
kamu membacanya.
IX. 3: 146; Beberapa banyaknya nabi yang berperang bersama orang rabbani. Mereka
itas tidak pengecut, kerana bahaya yang menimpa mereka pada jalan Allah dan tiada
Irmah dan tiada pula tunduk dan Allah mengasihi orang-orang yang sbar.
X. 12: 108; Katakanlah: Inilah jalanku, aku seru kepada Allah, aku atas keterangan
yang jelas (minhaj yang jelas) dan orang yang mengikuti aku. Mahasuci Allah dan
bukanlah aku termasuk orang-orang yang mempersekutukannya.
Ringkasan
XI. Kondisi kaum muslimin hari ini dilihat dari kelemahan-kelemahan kaum
muslimin yaitu: aqidah,tarbiyah,tsaqafah, da’wah, pengorganisasian akhlak
harusdiperbaiki dengan: da’wah harakyah yang integral: bersifat rabaniyah, minhajiyah,
marhaliyah, ulawiyah
XII. Sesuai dengan reality, seimbang.
12.AMRUD UMMAH FI DA’WAH
Sasaran
XIII. Memahami penyakit-penyakit umat dalam beramal jama’i yang bersumber dari
memperturutkan sikap infiradi
XIV. Memahami akibat-akibat yang ditimbulkan dari penyakit-penyakit tersebut.
XV. Memahami bahwa ilaj untuk mengatasi masalh tersebut adalah beramal jamai
yang sehat dan berupaya untuk mengaplikasikan dengan membuang sikap infiradi
Sinopsis
Keadaan umat di dalam da’wah Islamiyah menunjukan sesuatu yang kurang
menggembirakan. Perkara ini dibuktikan dengan banyaknya umat yang mengalami
kekosongan jiwa dan kehilangan pegangan hidup sehingga menampilkan da’wah yang
dibawanya ssesuatu yang tidak efektif. Pengenalan kepada penyakit yang menjangkit
umat di dalm dida’wah bermaksud agar dapat menyedarkan kita kepada keadaan yang
sebenarnya dan memerlukan kita untuk memakan ubat walaupun pahit dan tidak sedap
agar da’wah dapat berjalan dengan baik. Penyakit ummat di dalam berda’wahsecara
dasarnya disebabkan oleh penyakit peribadi da’i yaitu da’wah bersendirian (infiradiyah).
Infiradiyah ini dibahagikan kepada maknawiyah(mental) seperti keadaan emosi, da’wah
yang berorientasi kepada tokoh, da’i merasa hebat dan banyak pengagum, mempunyai
kecenderungan merendahkan orang lain. Infiradi juga dilihat dari segi aktivitas,
diantaranya penyakit yang munkinmenjangkit aktivitas ini adalah da’wah yang asal-
asalan dan tidak beraturan, da’wah dilakukan secata parsial tidak menyeluruh, da’wah
yang sebahagian, tradisional dan tambal sulam.
Keadaan pribadi aktivis da’wah prlu diubati dengan menjalankan amal jama’i. Amal
jama’i ini menumbuhkan kesedaran yang bersumber dari pengetahuan, berorientasi yang
Islami, peribadi yang rendah hati, bersifat adil adil, berfikiran dan berwawasan yang
menyeluruh, menggunakan pendekatan dan wasail yang modern, mempunyai konsep dan
berorientasi kepada minhaj untuk merubah secara total.

140
XVI. Penyakit ummat
Syarah
A. Penyakit ummat di dalam berda’wah setelah diagnosis di dapati banyak yang
berda’wah secara bersendirian tidak berjamaah dan bersama-sama. Senang dan seronok
da’wah bersendiri yang di jalankan oleh sebagaian dai dan usztad hanyalah bersifat
sementara. Mereka akan menyedaari setelah da’wah yang dilaksanakan dengan ikhlas ini
tidak membawa banyak hasil, diantaranya adalah da’wah yang dilaksanakan dengan
ikhlas ini tidak membawa banyak hasil, diantaranya adalah da’wah amal jamai dan
tarbiyah nuqbawiyah. Da’wah tablig adalah da’wah yang sering dilakukan ustadz seperti
da’wah di surau, masjid, perairan dan ceramah-ceramah umum. Wujud infiradiyah ini
sebagai masalah utama di kalangan dai yang berda’wah.
2.Infiradiyah
Syarah
B. Infiradiyah yaitu bersendirian. Selain tidak akan munculnyada’wah yang besar
dengan menyelesaikan da’wah yang besar, da’wah dengan gaya bersendirian ini akan
memunculkan suasana perpecahan di kalangan ummat khususnya diantara dai yang
membawa fikrah berbeza dan pendekatan berlainan. Da’wah Nabi Saw mengajarkan
kepada kita agar bersama-sama. Sunnahnya bersama-sama ini adalah sesuai dengan
keadaan alam dan manusia yang diciptakan Allah. Mahlik pun dalam menjalankan
aktivitasnya selalu bersama-sama. Mereka tidak akan pernah lepas dari kebersamaan.
Sunnatullah yang mengajarkan demikian mestilah menjalankan da’wah secara bersama.
Selain permasalahan da’wah infiradiyah ini disebabkan oleh maknawinya juga oleh
aktivitas yang diamalkan
3.Secara maknawiyah
Syarah
C. Peribadi dai yang infiradiyah cenderung mempunyai sifat yang emosional dan
tidak bertanggung jawab, mereka cenderung berda’wah mengikuti emosi dan kurang
dapat menerima keadaan sebenarnya sehingga da’wah yang tidak berdasarkan rancangan
dan tanggung jawab yang benar akan mewarnai da’wah infiradiyah.
D. Peribadi infiradi cenderung bekerja sendiri dan mereka mempunyai
kecenderungan untuk dikenal oleh masyarakat. Dengan pendekatan ketokohan dan
kehebatan yang dimilikinya untuk dimilikinya mereka merasa puas dan cukup untuk
mengamalkan da’wah tablig yang di sokong oleh banyak pengikut umum.
Mengkultuskan dai yang infiradi sulit ditengah mengingat keadaan ini didasari oleh
emosi dan perasaan yang kemudian wujud kharisma secara pribadi. Keadaan ini bukan
wujud kerana amal atau program tetapi lebih peribadi yang membawa da’wah.
XVII. Perasaan diri hebat juga keadaan maknawiyah dai yang cenderung infiradiyah.
Kehebatan ini disebabkan kerana kerjanya sendiri dan tidak ada yang mencuba
menasehati apabibila mengalami kesalahan dan tidak ada yang menegurnya. Hebat
dengan ukuran banyak njemputan dkawak dan banyak orang yang mendengarkan
ceramahnya adalah standard yang berorientasikan kepada duniawi dan lebih kepada
pengaruh jahiliyah. Standard ini juga yang dugunakan oleh iblis ketika enggan tunduk
kepada Nabi Adam AS.
XVIII. Meremehkan orang lain juga suatu akibat dari perasaan hebat dan merasa dirinya
baik dan pandai.Keadaan ini yang memungkinkan peribadi dai menjadikan meremehkan
orang lain dan merendahkan kemampuan yang ada di antara dai. Dialah seorang yang
hebat dan yang lain kurang apabila dibandingkan dengan kepakaran menyampaikan
da’wah.

141
XIX. Secara amaliyah
Syarah
XX. Dai yang infiradi cenderung da’wah yang dilakukannya secara sembarangan tidak
mengikuti cara dan tidak mengikuti msistem kecuali system yang dibuatnya sndiri dan
juga bergantung kepada peribadi. Bahaya infiradi dalam berda’wah adalah da’wah yang
tidak jelas kemana akan di bawadan kemana orientasi serta natiujah yang dicapai.
Da’wah secara infiradi yang penting berda’wah dan masyarakat senang kemudian
memanggilnya kembali pada saat berikutnya.
XXI. Da’wah secara parsial yaitu da’wah sebahagian dan tidak sempurna yang juga
merupakan akibat dari da’wah infiradiyah. Kemampuannya terbatas kerana tidak
bersama-sama sehingga da’wah hanya disampaikan yang sesuai kemampuannya
sedangkan da’wah itu sendiri bersifat luas dan integral yang tidak mungkin dikerjakan
secara bersendirian. Kelemahan peribadi kerana infiradi ini memungkinkan peribadi dai
menjadi letih kerana kerja sendiri.
XXII. Pendekatan yang tradisioanal biasanya dibawa oleh dai infiradi. Alasan yang
perlu dikemukakan kerana dai tradisional yang meluli pendekatan kitab kuning biasanya
tidak mengenal da’wah beramal jamai. Ilmu yang diperolehnya adalah bagaimana ilmu
itu di kembangkan kepada orang lain. Mereka kurang memahami bagaimana da’wah
secara bersama. Da’wah tradisional biasnya berorientasikan kepada buku dan kemudian
disyarahkan tanpa melihat keadaan sekitar atau isu-isu semasa.
XXIII. Da’wah tambal sulam adalah da’wah yang melakukan pendekatan tidak sempurna
dan tidak mempunyai minhaj sehingga da’wah ini hanya berorientasikan kepada
perminyaan mad’u dan mengikuti kemauan pelanggan. Selian itu da’wah tambal sulam
ini berjalan mengikuti persoalan semasa yang di buat oleh orang lain, sedangkan
kesibukan da’wah kita ini menjadikan kita lupa kemana daakwah kita yang sebenarnya
dan bagaimana da’wah berjalan.
5.ubat(ilaj)
Syarah
XXIV. Ubat keatas penyakit da’wah infiradi ini adalah da’wah dengan cara beramal
jamai. Beramal jamai memerlukan indivivu tersebut mempunyai kesadaran yang
bersumber kepada pengetahuan ; berorientasikan kepada Islamiyah bukan jahiliyah
infiradiyah; mesti menjadi peribadi yang rendah hati sebagai bekal neramal
jamai;bersikap adil kerana nantinya akan bekerja sma dan merasakan kesusahan dan
kebahagiaan bersama; da’wah yang perlu dibawa mesti menyeluruh tidak sebagian dan
membagikan tugasa ini secara bersama untuk mencapai tujuan bersama; pendekatan yang
moden tidak tradisional yaitu dengan menggunakan berbagai fasilitas dan wasilah seperti
komputer atau pendekatan yang menarik; da’wah yang di bawa mempunyai konsep yang
canggih dalam menjawab permasalahan ummat masa kini dan minhaj yang berorientasi
kepada perubahan dan pembentukan ummat.
6.Amal jamai
Syarah
XXV. Amal jamai ini merupakan sunnahnya mahluk hidup terhadap perlaksanaan
aktivitas kehidupan untuk meneruskan kehidupannya secara sempurna sebagai mahluk.
Tanpa amal jamai, maka masalah tidak akan diselesaikan dan da’wah semakin terbantut.
Keadaan yang membawa kepada da’wah amal jamai mesti menjalnkan prinsip-prinsip
Islam dengan dai atau ahli yang mempunyai berbagai kesamaan aqidah, fikrah dan amal.
Sunatullah beramal jamai ini dapat dilihat bagaimana semut beramal jamai, burung-
burung yang hidup bersamaa, pookok dan juga lam semesta dengan usrah bumi, bulan,

142
mars, matahari dan beberapa planet lainnya seperti Pluto senantiasa berjamaah dan
beramal jamai dengan pusingan yang saling berkaitan dan taawum diantaranya. Dalam
keadaan ini matahari sebagai masul yang bertanggung jawab dan planet ynag menjadi
pusat bagi planet di sekitarnya.
Ringkasan
XXVI. Penyakit ummat pangkalnya adaah: infiradiyah: 1. Secara maknawiyah(mentl):
emosional, berorientasi tookoh, merasa hebat, merendahkan orang lain. 2. Secara aktivi:
asal-asalan, parsial, sebahagian-sebahagian, tradisional, tambal sulam.
XXVII. Diobati oleh amal jamai dengan: kesedaran yang bersumber dari
pengetahuan, brorientasi Islami, rendah hati, adil, menyeluruh. Modern, konsep dan
minhaji merubah secara total.
Sasaran
XXVIII. Memahami permasalahan umat Islam yang dihadapi seorang dai dan dapat
menyebutkan penyebab
XXIX. Memahami bahwa tarkiz dari penyelesaian permasalahan tersebut adalah
membentuk syakhsiyah Islamiyah dan umat Islam
XXX. Menyedari peranan sikap komitmen terhadap akhlak dan tsaqafah Islamiyah
dalam membentuk syakhsiyah Islamiyah mutakamilah
Sinopsis
Setelah perbincangan masalah umat di dalam da’wah yang memfokuskan infiradi sebagai
bahagian penting dan isu utama di dalam keadaan da’wah saat ini. Persoalan da’wah
yang berlaku secara umumnya da[at dibahagikan kepada persoalan yang senantiasa ada
pada manusia dan mungkin berterusan ada kerana perkara ini tidak mengkin terlepas dari
keadaan da’wah secara umumnya. Beberapa keadaan ini adalah di sebabkan kerana
kejiwaan manusia dengan kecenderungannya, watak, syahwat dan instink.
Sedangkan persoalan berikutnya adalah berkaitan dengan persoalan semasa yang juga
bergantung kepada keadaan tempatan negara Islam tersebut berada seperti persoalan yang
di sebabkan oleh sisa-sisa masa penyelewengan seperti: dengan raja/penguasa dictator,
adanya kebaikan yang berpenyakit, peninggalan para penyeru ke neraka jahanam, bekas
penjajah yang meninggalkan hokum sampai ditinggalkannya sholat. Perkara-perkara
diatas menyebabkan kaum muslimin jahil terhadap Islam. Persoalan lainnya adalah
penyakit-penyakit hasil penjajahan seperti: wujudnya berbagai lembaga kekufuran, akibat
penjajahan yang akhirnya keterbelakangan iptek, masyarakat Islam yang cara berfikirnya
salah, kejiwaan ummat yang salah seperti rendah diri. Keadaan ini menyebabkan adanya
dominasi musuh-musuh terhadap ummat. Kemudian persoalan lainnya yang wujud
adalah terdapatnya kekuatan yang menantang seperti: musuh yang menyusn aktivitinya
dengan perencanaannya, dengan penyusunannya dan dengan sarananya yang canggih.
Mereka melkukan perang jahiliyah yang tersusun dengan rapi.Akibatnya ummat Islam
seperti buih(hadist) yang ringan timbangannya dan mengikut arus.
Jalan keluar dari masalah yang dihadapi ummat demikian adalah mesti betul-betul
bersedia dan berda’wah secara serius. Beberapa jalan keluarnya adalah muslim mesti
memiliki ilmu pengetahuan, melaksanakan pembinaan/tarbiyah dan juga jihad.
Penumpuan jihad hendaknya membangun syakhsiyah Islamiyah.
1.Persoalan ummah
Syarah
XXXI. Persoalan ummah disebabkan kerana da’wah yang tidak berjalan atau kurang
berkesan. Da’wah dan jihad ini adalah sebagai penyokong dan atap bagi akhlak dan
ibadah yang akan di bangun secara baik sehingga rumah Islam ini dapat di bangun secara

143
baik Tanpa da’wah maka permasalahan akan bermunculan secara bertahap dan kemudian
memuncak keatas diri ummat Islam. Masalah ummat kerana da’wah tidak berkesan tidak
di sebabkan oleh permasalah pembawa da’wah itu sendiri yang senantiasa ada mengiringi
da’wah dan persoalan yang di sebabkan oleh keadaan semasa sebagai respon dan kesan
keadaan sebelumnya dan keadaan akan dating.
XXXII. Persoalan yang senantiasa ada
Syarah
XXXIII. Persoalan yang selalu muncul adalah persoalan mengnai manusia,
persoalan ini selalu ada selama manusia ini tetap hidup dan bersama da’wah. Dari zaman
Nabi Adam hingga sekarang, keadaan manusia adalah isu permasalahan utama yang tidak
pernah habis dan tak kunjung padam.Masalah yang perlu dihadapi adalah bagaimana kita
menghadapi keadaan manusia ini dengan baik dan dapat mengatasi pernasalahan sebagai
sarana meningkatkan keupayaan dan ketahan diri. Beberapa persoalan manusia ini adalah
masalah kejiwaan manusia yang unik dan mudah berubah mengikuti keadaan dan
suasana, kecenderungan peribadi ke arah tertentu, masalah watak yang beragam,
pengaruh syahwat dan keadaan instink manusia.
XXXIV. Persoalan kontemporer
Syarah
XXXV. Keadaan semasa yang merupakan masalah yang ada pada reality saat ini
berdasarkan kepada persoalan-persoalan sebelumnya seperti akibat dari sisa masa
penyelewengan, penyakit dari penjajah dan adanya kekuatan yang menantang. Dari
permasalahn ini akan mewarnai bagaimana keadaan dan masalah ummat sekarng ini.
Pertimbangn kepada isu semasa ini merupakan suatu yang penting bagi menjalankan
da’wah yang benar dan baik di tengah kancah perjuangan yang banyak dipengaruhi
banyak factor.
4. Sisa masa penyelewengan
Syarah
I. Sebahagian dari negara dan masyarakat Islam barulah lepas dari keadaan yang
dikuasai oleh dictator yang kejam dan raja yang tidak menjalankan Islam, juga berbagai
keadaan yang muncul sebelum seperti pengaruh aliran sesat atau da’wah yang membawa
kehancuran seperti da’wah yang berorientasikan kepada jihad senjata, da’wah
sebelumnya yang membawa kesan dan imej yang negatif, dan kekuasaan yang
menjadikan muslim tidak mengerjakan amalan Islam termasuk sholat.
II. Persoalan manusia yang selalu menyertai da’wah ini dan persoalan semasa akan
menjadikan ummat bodoh kepada Islam.
5.Penyakit akibat penjajahan
Syarah
I. Penyakit yang juga diambil kira sebagai sebab munculnya suatu kekalahan dan
kehancuran Islam adalah berbagai lembaga-lembaga kekufuran seperti mahkamah,
hokum jahiliyah, system pentadbiran dan juga berbagai aturan yang dilembagakan seperti
industrial court; penjajah juga meninggalkan keterbelakangan ilmu pengetahuan dan
tehnologi yang sengaja diciptakan oleh penjajah sehingga menjadikan umat semakin
bodoh; penjajah juga menjadikan ummatsalah berfikir atau mempunyai pemikiran yang
tidak betul dan kejiwaan yang menyertainya tidak normal seperti rasa rendah diri dan
tidak percaya diri.
II. Keadaan ini menjadikan ummat Islam di dominasi oleh musuh-musuh Islam.
6.Kekuatan yang menentang
Syarah

144
I. Kekuatan-kekuatan yang menentang terhadap da’wah Islam sangat banyak di
dalam masyarakat sekuler saat ini. Kepentingan-kepentingan sekuler merasa tidak terjaga
apabila Islam berjaya.Keinginan hawa nafsu mereka tidak akan tersalurkan dengan
tegaknya da’wah Islam sehingga mereka berusaha mati-matian menentang kekuatan
Islam dan memadamkan da’wah Islam. Kekuatanyang menentang ini dirancang dengan
perencanaannya dan sarana yang bak.Mereka melakukan perang jahiliyah yang disusun
rapi.
II. Akibat kekuatan ini adalah ummat Islam seperti buih yang ringan timbangannya
dan mengikuti arus.
7.Jalan keluar
Syarah
I. Jalankeluar dari permasalahan ini adalah masyarakat muslim mesti berilmu
sehingga dengan ilmu ini tidak akan terpengaruh sesat dan umat Islam mempunyai
benteng yang kuat.Ilmu yang benar tsaqafah yang luas perlu dipelihara dan diamalkan
dengan menjalankan tarbiyah atau pembinaan. Kemudian jihad menjadi penegak dan
pemeliharaan masalah walaupun demikian jihad yang dimaksudkan adalah lebih kepada
da’wah untuk membangun syaksiyah Islamiyah.
Ringkasan dalil
II. Persoalan da’wah: 1. Persoalan yang senantiasa ada: kejaiwaan manusia dengan
kecenderungan, watak, syahwat dan instink. 2. Persoaalan semasa: A.sisa-sisa mesa
penyelewengan dengan: Raja/penguasa dictator, kebaikan yang berpenyakit, para
penyeru ke neraka jahanam, ditinggalkannya hukumsampai ditinggalkannya sholat. Dua
perkara diatas menyebabkan kaum muslimin jahil terhadap Islam. B. penyakit penyakit
hasil penjajahan: berbagai lembaga kekufuran, keterbelakangan iptek, cara berfikir yang
salah, kejiwaan yang salah. Hal ini menyebabkan adanya dominasi musuhh-musuh
terhadap ummat. C. Kekuatan yang menantang: dengan perencanaannya, dengan
penyusunannya dan dengan sarananya. Mereka melakukan perang jahiyah yang tersusun
rapi.
III. Akibat ummat Islam seperti buih(yang ringan timbangannya dan mengikuti arus.
IV. Jalan keluarnya adalah ilmu pengetahuan, pembinaan/tarbiyah: dan jihad.
Penumpuan jihad hendaknya membangun syakhsiyah Islamiyah.

AL HAQ WAL BATHIL


PENDAHULUAN
Bahan ghazwul fikri, hizbu syetan dan juga qadhoya ummat adalah penyedaran kepada
musuh-musuh Islam yang sntiasa mengajak manusia ke jalan yang benar. Bahan alhaq
wal bathil ini berusa untuk menyedarkan bahwa musuh Islam itu sebetulnya berasal dari
pihak kebatilan dan pertembungan dengan Islam dengan Islam merupakan keadaan yang
akan selalu dihadapi. Mereka selain Islam akan bersama menyerang dan menghancurkan
Islam. Bahan al haq wal bathil ini mencoba juga memberikan beberapa jalan keluar ke
atas permasalahan ummat dengan memunculkannya hizbullah. Penyederan bahwa
pertembungan adalah antara haq dan bathil disampaikan melalui bahan sirak bayna haq
wal bathil dan quwatul haq. Setelah itu sikap yang perlu di persiapkan dalam menghadapi
pertembungan ini adalah furqan dan istiqamah. Akhirnya bagaimanapun sikap bertahan
akan dilanjutkan kepada usaha menghadapi dan menyelesaikan masalah yaitu dengan
menghadirkan hizbullah sebagai alternatif jawaban. Bagaimanapun keadaannya peranan
hizbullah mesti di hidupkan.

145
Pertembungan diantara muslim dengan kafir dan musuh-musuhnya adalah disebabkan
kerana pertembungan al haq dan bathil. Permusuhan al bathil sehingga ia dengan sengaja
memerangi Islam smnjak dulu hingga sekarang dan sampai hari kiamat merupakan bukti
bahwa mereka tidak akan senang melihat Islam kecuali apabila pengikut Islam
bertingkah laku kafir atau menjadi murtad. Keadaan ini keadaan yang paling diminati
dan di senanginya. Tercapai Sasaran menyesatkan manusia dan membuat kerusakan ini
selepas berhadapan dengan hizbullah yang merupakan kekuatan yang sebenarnya.
Pertembungan diantara al haq dan al bathil adalah peperangan diaantara hizbullah dan
hizbusyetan. Allah yang menciptakan manusia dan alam ini mempunyai ilmu yang luas
mengenai ciptaan sehingga kebenaran Allah ini menjadi suatu dien Allah yang juga
akhirnya sebagai dien yang benar . Ansorullah adalah sikap mukmin kepada pemmpinya
yang kemudian sebagai tentera Allah dan bergabung ke dalam hizbullah. Kemenangan
akan diperoleh hizbullah dengan kejayan dunia akhirat.
Di lain pihak pula mush dapat membentuk pengikut kebatilan yang tidak jelas bagaimana
pandangan nya terhadap mahluk (manusia dan alam) yang berdasarkan andaian atau
sangkaan saja. Mereka juga membentuk pendukung kebatilan yang kemudian menjadi
junudul bathil dan akhirnya menjadi hizbu syetan. Dengan demikian pertembungan
antara hizbu syetan dan hizbullah di pentas dunia dan khususnya di dunia da’wah mulai
bermain.
Allah SWt sebagai khalik mempunyai kekuatan yang di gambarkan di dalam
kaul(perkataan) dan kauni (alam). Kebenaran Allah Swt yang terdapat di dalam kaun
ataupun yang terdapat di dalam kaul(Al Qur’an), apabila diterima oleh manusia maka
berarti mereka adalah muslim sedangkan keengkarannya sebagai kafir. Allah akan
mempertembngkan kebenaran haq dan bathil dan memenangkan Islam keatas
kejahiliyaan. Furqan yang didasari oleh pertembungan haq dan bathil membezakan dua
kekuatan yaitu Allah Swt sebagai kekuatan kebenaran sedangkan thagut adalah musuh
yang nyata. Allah Swt telah menyebutkan bahwa mengikuti Allah berarti mengikuti
kebenaran dan membawa kita kepada jannah sedangkan sebaliknya apabila mengikuti
taghut maka akan membawa kita ke dalam neraka. Sikap mukmin menghadapi masalah
pertembungan ini mesti berada di dalam ikatan tali yang kukuh yaitu dengan menjadikan
Allah sebagai wala dan kemudian meninggalkan thagut.
Istiqamah adalah komitmen dan konsisten kita kepada Islam berdasarkan prinsip kerana
Allah dan Islam, yang kemudian dilaksanakan berdasarkan cara Islam dengan mengikuti
minhaj Allah bersamaNya dan bertujuan kepada Islam dan kepada Allah. Kebalikan dari
istiqamah yang mempunyai kesertaan Allah dan Islam pada semua proses maka ghairu
istiqamah adalah berdasarkan kepada sesuatu yang bukan Allah dan bukan Islam. Furqan
adalah pembeda dari haq dan bathil ini Kejayaan Islam apabila berhasil membedakan
kedua pengaruh yang saling bertentangan (haq dan batil). Muslim yang furqan akan
meninggalkan kebatilan dengan cara menolaknya dan kemudian menerima Islam.
Pertembungan haq dan batil hanya akan dimenangkan oleh hizbullah. Tanpa hizbullah
adalah kehancuran. Dengan hizbulah maka akan muncul kemenagngan dan kejayaan.
Beberapa cirri hizbullah adalah akhlak-akhlak asasiyah dan akhlak harakiah. Kedua
akhlak ini perlu dipenuhi agar dapat menjadi hizbullah dan kemudian Allah Swt akan
memenangkan diennya.
JL. SIRAK BAYNA HAQ WAL BATHIL
Sasaran
I. Memahami bahwa kehidupan ini senantiasa pertembungan di antara yang haq
dengan yang bathik

146
II. Memahami bahwa penegak kebenaran yang bergabung dalam hizbullah akan
berhadapan dengan para penegak kebatik\lan yang bergabung dalam hizbu syaiton
III. Menyakini bahwa hizbullah mesti memperoleh kemenangan dari Allah sedangkan
hizbusyaiton pasti akan kalah.
Sinopsis
Allah sebagai yang maha pencipta, maka ia juga maha mengtahui akan ciptaanNya.
Dengan demikian maka Allah Swt maha bijaksana. Dengan bijaksana ini maka Allah
merupakan al haq. Dien yang Allah miliki adalah dien Allah yang merupakan dien haq.
Dien haq yang dipertuntukan kepada manusia memerlukan pengikut dan pendukung
sebagai bukti dan contoh bagaiamana manusia memerlukan keselamatan dan kedamaian
Islam. Para pendukung Islam ini disebut sebagai jundullah yang mereka ini bergabung ke
dalam hizbullah dan mereka pasti menang jaya.
Selain Allah adalah mahluk yang diciptakan dimana mereka sangat bodoh karena
aktivitas, pemikiran dan sifatnya berorientasikan kepada zon dan dugaan. Sedangkan
analisa selain Allah ini adalah batil yang dipelopori oleh malik dan thaghut. Dengan
demikian dien inipun bisa di sebut dengan dien malik. Mereka pun mempunyai pengikut
dan pendukung yang kuat yang di sebut dengan penolong syetan. Mereka sebagai ansorul
batil, yang kesediaan dan kesiapan menjalankan perintah taghut merupakan tentera-
tentera iblis yang kemudian bergabung di dalam hizbus syaiton. Akhirnya mereka pasti
akan kalah dan merugi
Hasyah
I. Allah yang maha pencipta
Syarah
A. Allah Swt adalah khalik yang sebenarnya. Dialah yang menciptakan segala
sesuatu. Dia memiliki kekuasaan mengatasi segala mahluq. Dengan demikian Allah Swt
Maha Berkuasa Mencipta, mengatur dan mentadbir seluruh Alam. Kekuatan yang
sebenarnya adalah di sisi Allah. Tidak ada yang silap, lemah dan kekurangan pada Allah.
Dia maha sempurna.
Dalil
B. 10: 4; KepadaNyalahkembali kamu semua, sebagai janji Allah yang benar.
Sesungguhnya Dialah yang memulakan kejadian mahluk, kemudian ia
mengembalikan(hidup semula sesudah matinya), untuk membalas orang-orang yang
beriman dan beramal sholeh dengan adil; dan orang-orang kafir pula, disediakan bagi
mereka minuman dari air panas yang menggelegak, dan azab yang tidak terperi sakitnya,
disebabkan mereka ingkar dan berlaku kufur.
C. 67: 3 ; Dia lah yang mengaturkan kejadian tujuh petala langit yang berlapis-lapis;
engkau tidak dapat melihat pada ciptaan Allah yang maha pemurah itu di seberang
keadaan yang tidak seimbang dan tidak munasabah; (jika engkau ragu-ragu ) maka
ulangilah pandangan –(mu)- dapatkah engkau melihat sebarang kecacatan?
D. 59: 24; Dia lah Allah, Yang menciptakan sekalian mahluk; Yang mengadakan
(dari tiada kepada ada); Yang membentuk rupa (mahluk-mahluk Nya menurut yang di
kehendakiNya); Bagi Nyalah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya;
bertasbih kepadaNya segala yang ada dilangit dan di bumi; dan Dia lah yang tiada
banding Nya, lagi Maha Bijaksana.
2.Maha mengetahui
Syarah
II. Imu Allah meliputi segala-galanya. Dengan ilmunya. Dengan ilmunya Allah Swt
berkuasa mencipta, menghidupkan, melangsungkan kehidupan berbagai

147
mahluk,mematikan dan seterusnya menghidupkan kembali serta memperhitungkan. Allah
mengetahui yang tersembunyi dan yang nyata. Allah maha mengetahui keadaan
hambanya.
Dalil
III. 67: 14; Tidaklah Allah menciptakan sekalian mahluk itu mengetahui (segala-
galanya)? Sedang ia maha halus urusan pentadbiran Nya, lagi maha mendalam
pengetahuanNya!
IV. 36: 79;; Katakanlah: “Ia akan di hidupkan oleh yang menciptakan nya kali yang
pertama.Dia maha mengetahui tentang segala mahluk.”
3.Maha bijaksana
Syarah
V. Allah yang menciptakan , maka Dia maha bijaksana dalam mnentukan apakah
yang paling sesuai untuk mahluknya. Allah menyediakan segala keperluan mahluknya.
Dengan melihat dalam diri kita , nampak jelas kebijaksanaan Allah. Dia mencipta kita
dengan sebaik-baik. Dia mengurniakan aqal sehingga kita boleh berfikir. Mata…melihat,
alam yang indah berwarna-warni pula..telinga …mendegar. ….Melihat kepada alam
sekeliling kita, Allah menciptakan pokok membekal oksigen. Kita sedut setiap saat …
masya Allah. Demikian pula dengan kebijaksanaan Allah Swt maka Dia menurunkan
untuk mahluk system … yang dengan nya setiap mahluk hidup dan berjalan dengan
teratur. Maka untuk manusia juga ada system dari Allah.
Dalil
VI. 59: 24; Dia lah Allah, Yang menciptakan sekalian mahluq; yang mengadakan(dari
tiada kepada ada); yang membentuk rupa(mahluk-mahluk nya menurut yang di
kehendaki Nya); bagiNyalah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-muliaNya;
bertasbih segala yang ada di langit dan di bumi; dan Dialah yang tiada banding Nya, lagi
maha bijaksana.
VII. 61: 1; Segala yang ada dilangit dan di bumi, tetap mengucap tasbih kepada
Allah ; Dan Dialah yang maha kuasa dan maha bijaksana.
VIII. 62.1; Segala yang ada dilangit dan di bumi, tetap mengucap tasbih kepada Allah
yang menguasai(sekalian alam), Yang Maha suci, Yang maha kuasa, lagi maha
bijaksana.
4.Allah adalah al Haq
Syarah
IX. Allah menamakan diriNya sebagai al Haq. Allah adalah r\Rabb yang sebenarnya.
Dialah yag paling mengetahui, paling bijaksana maka selayaknyalah Dia menentukan
mana yang haq dan mana yang batil
Dalil
X. 10: 32; Maka yang demikian (siafatNya dan kekuasaanNya) ialah Allah, Tuhan
kamu yang sebenar-benarnya; sesudah nyatanya sesuatu yang betul dan benar,maka
tidakkah yang lain daripada itu salah? Oleh itu, bagaimana kamu dapat di pesongkan dari
kebenaran?
XI. 22: 62; Bersifatnya Allah dengan kekuasaan dan luas ilmu pengetahuan itu kerana
bahwasanya Allah, Dialah saja tuhan yang sebenar-benarnya, dan bahwa segala yang
mereka sembah selain dari Allah itulah yang nyata palsunya. Dan (ingatlah)
sesungguhnya Allah jualah yang maha tinggi keadaanNya. Lagi maha besar
(KekuasaanNya)
5. Dien Allah dien yang Haq
Syarah

148
XII. Maka Allah Swt mengutus rasulNya Saw untuk menyampaikan kepada ummat
manusia kebijaksananNya untuk menerima petunjuk Rasul dan seterusnya menjlankan
system Allah, dien Allah, Nizam Rabbani. Sebenarnya menerima dan melaksanakandien
Allah ini adlah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Dengan tertegak dien Allah,
Kehidupan manusia di dunia akan aman, sejahtera, dan akhirnya setelah mati dan
menemui Allah Swt di akherat juga dalam sejahtera.
Dalil
XIII. 48: 28; (Allah yang menyatakan itu) Dia lah yang telah mengutus
RasulNya(Muhammad, Saw) dengan membawa hidayah petunjuk dan agama yang
benar(agama Islam), supaya Dia menjadi saksi (tentang kebenaran apa yang di bawa oleh
RasulNya itu).S
XIV. 9: 33; Dialah yang telah mengutus RasulNya (Muhammad) dengan membawa
petunjuk dan agama yang benar (agama Islam), untuk di menangkan dan ditingikan atas
segala agama yang lain, walaupun orang-orang musrik tidak menyukainya.
XV. 61: 9; Dialah yang telah mengutus RasulNya (Muhammad Saw) dengan
membaww hidayah dan petunjuk agama yang benar(agama Islam), supaya ia
memenangkan dan meninggikan atas segala agama yang lain, Walaupun orang-orang
musrik tidak menyukainya.
6.Memerlukan pendukung
Syarah
XVI. Penegakkan mana-mana system dikalangan manusia, ada pendukung, pembela
dan penolong-penolong. Sistem akan tertegak bermula dengan keyakinan manusia,
kemudian memnagunkan dalam konsep dan hati nurani dan akhirnya menegakkan dalam
syaksiyah peribadi. Golongan yang menerima dien ini adalah muslim, yang patuh dan
melaksanakan semua tabpa soal. Seterusnya muslim tadi meningkatkan amalan dan
kesungguhan sehingga menjadi mu’min sejati … dan menuju kesempurnaan menjadi
mutaqqin. Sejarah rasul terdahulu seperti nabi Isa as. Diungkap oleh Allah di dalam Al
Qur’an mengisahkan ansorullah yang menebarkan da’wah di kalangan Bani Israil ketika
itu. Pembantu Rasul di dalam menegak dan melaksanakan dien Allah Swt.
Dalil
XVII. 61: 1; Wahai orang-orang yang beriman! Jadikanlah diri kamu pembela-pembela
(agama) Allah sebagaiman (keadaan penyokong-penyokong) Nabi Isa ibni Maryam
(ketika ia) berkata kepada penyokong-penyokong itu: “ Siapakah penolong-penolong ku
(dalam perjalananku)kepada Allah (dengan menegakkan agamaNya)?” Mereka
menjawab: ”Kamilah pembela-pembela (agama)Allah!” (Setelah Nabi Isa tidak berada
diantara mereka ) maka sepuak dari kaum Bani Israil beriman, dan sepuak lagi (tetap)
kafir. Lalu kami berikan pertolongan kepada orang-orang yang menag.
XVIII. 47: 7; Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (agama) Allah
niscaya Allah membela ( untuk mencapai kebenaran)dan meneguhkan tapak pendirian
kamu.
7.Jundullah
Syarah
XIX. Ketika mana dien ini tertegak, disana akan ada musuh Allah dari kalangan
syaithan, dan kuncu-kuncu yang menyerang samada melalui ghazwu fikri, maupun
ghazmuasykari, atau ghazwu iqtisodi. Sirah Rasulullah Saw menceritakan bagaiman
baginda telah di serang, assabigunal awwalun di siksa dan di serang, daulah Islam
dimadinah juga di serang. Serangan bertubi-tubi … ghazwah bertemu ghazwah…
Khilafah Islam juga di serang … dari umawiyyah, Abbasiyyah hingga akhirnya

149
tumbang… pada 1924. Maka siapakah yang akan mempertahankan dien ini dari serangan
tersebut .. tentunya jundullah. Tentera Allah yang berdiri tegak, dilatih, ditarbiyah,
disusun, ditandzim, sehingga menjadi suatu saf yang tersusun rapi menjalankan agama
ini. Jundi yang berda’wah dan jundi yang berperang. Jundi yang lebih mementingkan
Allah, Rasul dan Islam, melebihi dirinya, keluarganya dan anak istrinya. Jundullah yang
mengejar mardhotillah, dan mengajak syurga Allah dan kemampuannya seluas langit dan
bumi. Berjilid-jilid sejarah telah menulis… darah syuhada’jundullah… ya Allah
matikanlah hati ini atas syahid dijalan Allah…
Dalil
XX. 48: 4; (Tuhan yang menbuka jkemengan itu) Dialah yang merunkan semangat
tenang-tentram ke dalam hati orang-orang yang beriman(semasa mereka meradang
terhadap angkara musuh) supaya mereka bertambah iman dan yakin beserta dengan iman
dan keyakinan mereka yang sedia ada; padahal Allah menguasai tentera langit dan bumi
(untuk menolong mereka); dan Allah adalah maha mengetahui, lagi maha bijaksana.
XXI. 48: 7; Dan Allah menguasai tentera langit dan bumi (untuk menyiksa orang-orang
yang durhaka); dan Allah adalah maha kuasa, lagi maha bijaksana.
XXII. 37: 171-173; Dan demi sesungguhnya! Telah ada semenjak dahulu lagi, ketetapan
kami, bagi hamba-hamba kami yang diutus menjadi Rasul – Bahwa sesungguhnyalah
mereka orang-orang yang di berikan pertolongan mencapai kemenagngan. Dan
bahwasanya tentera Kami {pengikut-pengikut Rasul), merekalah orang-orang yang
mengalahkan (golongan yang menentang kebenaran).
XXIII. 58: 21; Allah telah menetapkan: “ Sesunnguhnya Aku dan Rasul-rasulKu tetap
mengalahkan(golongan yang menentang )”. Sesungguhnya Allah maha kuat , lagi maha
kuasa.
XXIV. Hadts;
8.Hizbullah
Syarah
XXV. Tanzim adalah keperluan dalam bekerja secara satu pasukan. Tanpa tandzim
suatu pasukan akan huru hara. Terlalu banyak arahan, terlalu banyak kecelaruan akan
melemahkan saf.Oleh itu jundullah mestilah disiplinkan hidup mereka untuk focus
kepada perjuangan dan amal. Mereka memerlukan tarbiyah yagn khusus untuk
menyatukan aqidah, akhlak dan hati sebelum mereka dapat disatukan dalam saf yang
berhadapan dengan musuh. Kekuatan Islam adalah dengan kekuatan penyusunan setian
jundi dengan kepatuhan yang total kepada Allah dan Rasul. Jundullah bersatu di bawah
panji-panji Hizbullah. Dan inilah gabungan kekuatan al Haq- kekuatan yang sebenar-
benarnya. Satu pasukan yang beriman, mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan
tidak takut sesiapapun kecuali Allah Swt.
Dalil
XXVI. 5: 55-56; Sesungguhnya penoong kamu adalah Allah, dan Rasulnya serta orang-
orang yang beriman, yang mendirikan sembhyang dan menunaikan zakat, sedangkan
mereka rukuk(tunduk menjunjung perintah Allah). Dan sesiapa yang menjadikan Allah
dan RasulNya serta orang-orang yang beriman itu penolongnya (maka berjayalah dia),
kerana sesungguhnya golongan (yang berpegang kepada agama Allah) itulah yang teap
menang.
XXVII. 58: 22; Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari Akhirat, tergamak berkasih-mesra dengan orang-orang yang menentang
(perintah) Allah dan RasulNya; Sekalipun orang-orang yang menentang mereka itu ialah
bapa-bapa mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun

150
keluarga mereka. Mereka (yang setia) itu, Allah telah menetapkan iman dalam hati
mereka, dan telah menguatkan mereka dengan semangat pertolongan daripadaNya; dan
Dia akan memasukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa
sungai, mereka tetap kekal di dalamnya. Allah reda akan mereka dan mereka reda (serta
bersyukr)akan nikmat pemberianNya. Merekalah penyokng-penyokong (agama) Allah.
Ketahuialah! Sesungguhnya penyokong-penyokong (agama) Allah itu ialah orng-orang
yang berjaya.
9. Mereka pasti menang dan jaya
Syarah
XXVIII. Siapakah yang dapat mengatasi kekuatan al Haq… Mustahil…. Kekuatan
orang mu’minyang iklash berjihad di jalan AllahSwt merupakan kekuatan yang luar
biasa. Kekuatan ini telah bergabung dan terpadu sehingga ia merupakan kekuatan yang
lahir dari kekuatan aqidah, ukuwwah dan wehdah.Gabungan inilah mendapat pertolongan
dari tentera langit dan bumi dari tentera Allah. Hizbullah yang melengkapi sysrat pasti
mendapat pertolongan Allah. Hizbullah pasti menang. Kemenangan inilah yang
ditunggu-tunggu orang mu’min…(al husnayain) 9: 52 menang atau syahid
Dalil
XXIX. 30: 47; Dan demi sesungguhnya, Kami telah mengutuskan sebelummu (wahai
Muhammad) Rasul-rasul kepada kaum masing-masing , lalu mereka membawa kepada
kaumnya keterangan-keterangan yang jelasnyata; kemudian Kami menyeksa orang-orang
yang berlaku salah(menginkarinya);dan sememangnya adalah menjadi tanggung jawab
Kami menolong orang-orang yang beriman.
XXX. 5: 56; Dan sesiapa yang menjadikan Allah dan rasulNya serta orang–orang yang
beriman itu penolongnya (maka bejayalah dia), kerana sesungguhnya golongan(yang
berpegang kepada agama) Allah, itulah yag tetap menang.
10. Selain Allah adalah mahluk yang diciptakan
Syarah
XXXI. Selain Allah Swt adalah mahluk yang di ciptakan. Apakah kekuatan yang ada
pada mahluq. Banyak ayat-ayat Allah yang menceritakan haqiqat mahluq yang
sebenarnya lemah. Apalagi yang disembah selain Allah itu semuanya lemah belaka.
Semua kumpulan atau kelompok yang bergabung untuk menentang Allah itu, tidak
memiliki kekuatan apapun. Mereka asalnya lemah dan bergabung diatas kelemahanjua.
Kita perlu menyakinkan bahwa mahluq itu benar-benar lemah… Mahluq tak boleh
mencipta wlaupun seekor lalat. Mahluq hanya menggunakan ciptaan Allah. Gabunglah
mana-mana saintis yang paling pakarpun, niscaya tidak akan mampu mencipta sebiji
atompun ,,, apalagi nak cipta lalat… impossible. Hanya Allah , pencipta sebenar… dari
tiada kepada Ada. “ Kun fa yakun”..
Dalil
XXXII. 16: 17; Kalau sudah demikian, adakah Allah menciptakan semuanya itu
sama seperti mahluq-mahluq yang tidak menciptakan sesuatu? Maka patutkah kamu lalai
sehingga kamu tidak mau beringat serta memikirkannnya?
XXXIII. 22: 73; Wahai umat manusia, inilah diberikan satu missal perbandingan,
maka dengarlah mengenainya dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya mereka yang kamu
seru dan sembah, yang lain dari Allah itu, tidak akan sekali-kali akan dapat mencipta
seekor lalat walaupun mereka berhimpun beramai-ramai untuk membuatnya; dan jika
lalat itu mengambil sesuatu dari mereka, merka tidak dapat mengambilnya balik dari
padanya. (kedua-duanya lemah belaka ), lemah yang meminta (dari mendapat hajatnya),
dan lemah yang diminta (daripada menunaikannya)

151
11. Yang sangat bodoh
Syarah
XXXIV. Sifat kebodohan adalh berkait langsung dengan kelemahan. Oleh itu
system yang direka oleh manusia pastinya tak boleh menandingi system Allah. Dien
manusia mana mungkin menandingi Dien Allah itu, ketinggian itu tiada bandingan nya .
Ramai yang mnecuba-cuba membuat system sendiri terbukti akhirnya membawa kepada
kehancuran, kegagalan, putus asa, peperangan dan kebinasaan. Hidup manusia menjadi
porak poranda.
Dalil
XXXV. 33: 73; (Dengan kesanggupan manusia memikul amanah itu maka)
akibatnya Allah akan menyiksa orang-orang lelaki yang munafik serta orang-orang
perempuan yang munafik, dan orag-orang lelaki yang musyrik serta orang-orang
perempuan yang musyrik; dan juga Allah akan menerima taubat orng-orang lelaki yang
briman serta orang-orang perempuan yang beriman. Dan memangnya Allah maha
pengampun, lagi maha mengasihi.
12. Berorientasi pada zon, dugaan, analisa
Syarah
XXXVI. Satu factor penting dari kebinsaan itu adalah manusia membina system
mereka diatas dasar dzon.. ragu-ragu.. tidak pasti. Sedangkan Allah Swt mendirikan
system berdasarkan kebenaran, ilmu dan hikmah. Dasar dari sangkaan dan analisis yang
lemah di gunakan lalu terbinalah system yang akhirnya merosokkan segala-galanya. Dari
kezaliman politik, keruntuhan moral, kejatuhan ekonomi, kehancuran system social
semuanya didasaarkan dari berbagai hipotesis, tesis, teori, paradigma dan berbagai
anggapan yang sangat lemah…. Kadangkala diistilahkan saintifik.. moden… maju…
tidak ortodoks… tidak fundamentalis dsb.. Hakikatnya Allah menyebutkan bahwa dasar
mereka hanya dugaan dan sangkaan.
Dalil
XXXVII. 10: 36; Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu
sangkaan saja. (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapt memenuhi kehendak
menentukan sesuatu dari kebenaran(iktiqad). Sesungguhnya Allah maha mengtahui akan
apa yang mereka lakkan.
XXXVIII. 6: 116; Dan jika engkau menurut orang kebanyakan dimuka bumi, niscaya
mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah; tiadalah yang mereka turut melainkan
sangaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.
13.Selain Allh adlah bathil
Syarah
XXXIX. Oleh karena itu sahlah bahwa selain dari Allah, biarpun yang namanya
bathil…Bathil tanpa berilmu, sesat dan bahkan menyesatkan. Tidak ada selepas dari yang
haq itu kecuali al bathil. Yang tidak memiliki apa-apa kekuatan . Namun begitu mereka
berusaha mempertahankan yang batil itu. Al Bathil akan ditegakkan dan akan
dipertahankan karena faedah-faedah tertentu, untuk kepentingan hawa nafsu tertentu. Al
Bathil akan bertahan. Al Batil dan kuncu-kuncunya akan ada sepanjang zaman. Mereka
adalah palsu dan menegakkan kepalsuan. Menipu dan menyesatkan itu adalah kerja al
batil.
Dalil
XL. 10: 32; Laka yang demikian (sifatNya dan kekuasaanNya) ialah Allah, Tuahan
kamu yang sbenar-benarnya; sesudah nyatanya sesuatu yang betul dan benar, maka

152
tidaklah yang lain daripada itu salah dan karut saja? Oleh itu bagaimana kamu dapat di
pesongkan dari kebenran?
XLI. 22: 62; Bersifatnya Allah dari kekuasaan dan luas ilmu pengetahuan itu karena
Allah, Dialah saja tuhan yang sebenar-benarnya, dan bahwa yang mereka sembah selain
dari Allah itulah yang nyata palsunya. Dan (ingatlah) sesungguhnya Allah jualah saja
yang maha tinggi keadaan nya, lagi maha besar (kkekuasaanNya)
14. Dienul malik
Syarah
XLII. Selain Islam adalah dien yang batil. Sistem hidup yang lain ditegakkan uuntuk
mengatur dan mengurus kehidupan manusua, samada individu ataupun berjamaah
(bermasyrakat). Mereka mengamalkan suatu yang bertentangan dengan kehendak Allah
Berdasarkan haw nafsu dan keragua-raguan (dzon) deen ini tertegak. Allah tidak
menerima dien seperti ini. Oleh itu dien yang batil ini mestilah di kenali oleh para daie
supaya ia tidak tertipu atau tergelincir.
Dalil
XLIII. 12: 76; Maka Yusuf mulailah memerikasa barang-barang mereka sebelum
memerikasa tempat saudara kandungnya ( Bunyamin) kemudian ia menghilangkan benda
yang hilang itu dari tempat simpanan barang saudara kandungnya. Demikianlah kami
jayakan rancangan untuk (menyampaikan hajat) Yusuf. Tiadklah ia dapat mengambil
saudara kandungnya menurut undang-undang raja Dienul Malik, kecuali jika dikehendaki
Allah. (Dengan ilmu pengetahuan), Kami tinggikan pangkat kedudukan sesiapa yang
Kami kehendaki, Dan tiap-tiap orang yang berilmu pengetahuan, adalagi diatasnya yang
lebih mengtahui,
XLIV. 42: 26; Dan ia memperkenankan doa permohonan orang-orang beriman serta
beramal sholeh, dan Ia menambahi mereka dari limpah kurniaNya (selain dari yang
mereka pohonkan). Dan (sebaliknya)orang-orang kafir, disediakan bagi mereka azab
siksa yang seberat-beratnya.
15. Penolong syetan di sebut anshorul batil
Syarah
XLV. Pendukung Dien batil ini juga ramai sekali. Mereka adalah penolong syaithan.
Kebatilan di sokng oleh musyrikin, kafirin, munafikin, yahudi dan nasoro. Banyak sekali
kisah mereka dari zaman Nabi Adam as dan seluruh rasul kemudian menghadapi semua
pendukung syaithan ini. Mereka juga beramal jamai dalam membangunkan dan
mempertahankan dien batil ini. Berbagai nama di berikan untuk menghiasi dien ini dan
dipertahankan oleh pendukungnya. Di dunia mereka bersama dan di hari qiamat mereka
juga menyesal bersama… Pendukung system batil ini gembira jika orang mukmin kalah,
gagal dan tewas. Mereka mau menguburkan Islam dan Dien Allah Swt. Dalam perang
Badr,Uhud, Khandaq mereka telah berusaha… dan hingga kini mereka tidak berhenti
lagi untuk menentang al Islam.
Dalil
XLVI. 4: 141; (Mereka yang munafi itu ialah) orang-oarang yang senatiasa menunggu-
nuggu (berlakunya sesuatu) kepada kamu; maka kalau kamu mendapat kemengan dari
Allah (dalam sesuatu peperangan), berkatalah mereka (kepada kamu): “ Bukankah kami
turut brjuang bersama-sama kamu? (oleh itu kami juga berhak menerima bahagian dari
harta rampasan perang)”. Dan jika orang-orang kafir pula mendapat bahagian(yang
menguntungkan dalam peperangan), berkatalah mereka (kepada orang-orang kafir itu):
Bukankah kami turut membantu kamu dan mempertahan kan kamu dari(serang balas)
dari orang-orang beriman (dengan mendedahkan rahsia perpaduannya)?”. Maka Allah

153
akan menghakimi diantara kamu semua pada hari kiamat; dan Allah tidak sekali-kali
akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk membinasakan orang-orang yang
beriman.
16. Tentera-tentera iblis
Syarah
XLVII. Mereka menjadi tentara yang setia dan bersungguh-sunguh
mempertahankan Dien syaithan… Senantiasa mendengar arahan darisyaithan dan
kuncunya. Sedangkan syaithan menyeru dan mengajak mereka ke neraka. Perjalanan
mereaka di hiasi dan di taburi dengan nikmat dan ganjaran dekat, mereka dipengaruhi
untuk tetap dengan kesengan dunia. Ini memanglah kepakaran syaithan.. Dia mengajak
merak dari semua arah..
Dalil
XLVIII. 26: 94-95; “ Lalu mereka di humbankan ke dalam neraka dengan tertiarap,
jatuh bangun berulang-ulang, -mereka dan orang-orang yang sesat bersama,”Termasuk
juga bala tentara iblis semuanya.
17. Hizbu syaithan
Syarah
XLIX. Pasukan syaithan ini bergabung untuk menentang hizbullah. Ia membentuk satu
team..hizbus syaithan. Dia menggunakan berbagai taktik, Cuma Allah mengatkan bahwa
tipu daya dantrick mereka adalah lemah belaka. Hizbus syaiton dzohir dengan macam-
macam nama dan organisasi srta parti. Walau apapun nama mereka namun pada haqiqat
mereka adalah satu, untk menentang dien yang haq dan meruntuhkannya.
Dalil
L. 7: 27; Wahai anak-anak Adam! Jangan lah kamu diperdayakan oleh syaithan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapa kamu dari syurga, sambil ia
melucutkan pakian mereka berdua untuk memperlihatkan kepada meraka: aurat mereka
(yang sebelum itu tertutup).
LI. Sesungguhnya syaitan melihat dan kaumnya melihat kamu dengan keadaan yang
kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syetan-syetan
itu teman rapat bagi orang-orang yang tidak beriman.
LII. 58: 19; Syaitan telah menguasai dan mempengaruhi mereka, sehingga membuat
mereka lupa mengingati (ajaran dan amaran) Allah; mereka itulah puak syaithan.
Ketahuialah! Bahwa puak syetan itu sebenarnya orang-orang yang merugi.
18. Mereka pasti kalah dan merugi
Syarah
LIII. Hizbus syaithan sebenarnya bergabung diatas landasan yang rapuh dan lemah.
Kekuatan jundullah akan pasti mengatasi dien syetan ini. Diakhirat lebih-lebih lagi besar
penyesalan mereka. Allah menceritakan bagaimana diakhirat mereka saling berbantah-
bantah, tuduh menuduh, cela mencela, karena menyesali penggabungan mereka. Rugilah
mereka serugi-ruginya.
Dalil
LIV. 54: 45; Kumpulan mereka yang bersatu itu akan tetap dikalahkan, dan mereka
pula akan berpaling lari.
LV. 3: 12; Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang kafir itu: ”Kamu akan
dikalahkan (di dunia ini) dan akan di himpunkan (pada hari kiamat) ke dalam neraka
jahanam, dan itulah seburk-buruk tempat yang disediakan”.
Ringkasan Dalil

154
LVI. Allah yang maha pencipta (10: 4; 67: 3; 59: 24;) maha mengtahui (67: 14; 36:
79;), maha bijaksana(59: 24; 61: 1; 62: 1) Allah adalah al Haq (10: 32; 22: 62;), dien
Allah dien yang haq (48: 28; 9: 33; 61: 9)
LVII. Memerlukan para pendukung(61: 4; 47: 7;) para pendukung di sebut
jundullah(48: 4; 7;37: 171-173;; 58: 21, hadits), bergabung di dalam hizbullah (5: 55-56;
58: 22), mereka pasti menang dan jaya(30: 47;5: 56)
LVIII. Selain Allah adalah mahluk yang di ciptakan(16: 17; 22: 73) yang sangat bodoh
(33: 73), berorientasi pada zon, dugaan,analisa(10: 36; 6: 116), Selain Allah adalah
batil(10: 32; 22: 62) membuat selain dienullah/dienul malik (12: 76; 42: 26) para
pendukungnya adalah pendukung syetan di sebut anshorul bathil (4: 141) di sebut juga
tentara-tentara iblis(26: 94-05), bergabung dalam hizbus syaithan(7: 27; 58: 19)
LIX. Mereka pasti kalah dan merugi (54: 45; 3: 12).
J2.QUWATU HAQ
Sasaran
LX. Memahami dukunagan dan kekuatan Allah sebagai yang maha benar dan maha
kuat untk para pengikut al Haq
LXI. Menyadari pentingnya mencapai kekuatan kauniyah dan qaliyah dalam
pertembungan di antar yang haq dan batil
LXII. Menyadari bahwa hanya dengan menegakkan Islam dalam diri dan masyarakat.
Sinopsis
Allah adalah sumber kebenaran dan Dialah yang maha kuat. Ada dua kekuatan: Allah
Swt yang pertama dialamdan yang kedua di dalam perkataanNya. Kekuatan Allah di
alam merupakan kekuatan kauniyah. Kekuatan ini berlaku bagi semua alam dan manusia
samada kafir/ ashabul batil maupun mukmin ashabul haq. Kekuatan Allah dialam
megena kepada semua mahlukNya tidak terkecuali seperti rezki yang di berikan,
kehidupan berupa air, oksigen, hujan , panas dan sebagainya. Manakala kekuatan Allah
di dalam perkataan Nya merupakan kekuatan firman-firman Allah yang hanya terdapat
pada orang-orang mukmin/ashabul haq.
Antara ashabul haq dan ashabul batil selalu bertentangan karena ada perbedaan antara
haq dan batil. Pertembungan ini pasti akan menjadikan Islam sebagai pemenang karena
bagaimanapun Allah yang mempunyai Islam sedangkan kita sebagai pendukung dan
penolong saja. Lagi pula kebatilan pada hakikatnya di bawa oleh cipataan Allah juga
sehingga semua ketentuan berada pada kehendak Allah Swt. Allah berfirman ketika yang
haq dating yang batil pasti lenyap dan kemudian Islam dimenangkan atas semua Dien.
LXIII. Allah adalah sumber kebenaran
Syarah
LXIV. Disana tidak ada sumber kebenaran selain Allah Swt. Keyakinan inilah sember
penting kekuatan mu’min. Kekuatan yang lahir dari kebenarn bukannya kebatilan.
Dalil
LXV. 2: 147; Kebenaran(yang datangnya kepadamu dan di sembunyikan oleh kaum
yahudi dan nasrani)itu (wahai Muhammad), adalah datangnya dari Tuhanmu; oleh karena
itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
LXVI. 10: 32; Maka yang demikian (sifatNya dan kekuasaanNya) ialah Allah, Tuhan
kamu yang sebenar-benarnya; sesudah nyatanya sesuatu yang betul dan benar, maka
tidakkah yang lain daripada itu salah dan karut saja? Oleh itu, bagaimana kamu dapat
dipesongkan dari kebenran?
LXVII. 22: 62; BersifatNya Allah dari kekuasaan dan luas ilmu pengetahuan itu
karena bahwa sanya Allah, Dialah saja tuhan yang sbenar-benarnya. Dan bahwa yang

155
mereka sembah selian dari Allah itulah yang nyata palsunya. Dan (ingatlah)
sesungguhnya Allah jualah yang maha tinggi keadaanNya, lagi maha besar
(kekuasanNya)
LXVIII. Dia yang maha kuat
Syarah
A. Allah maha kuat. KekuatanNya dapat diambil dari kekuatan quliyah (yaitu Al
Qur’an) dan kekuatan kauniyah (yaitu alam kebendaan). Di dala al Qur’an terdapat
petunjuk llahi dalam semua bidang kehidupan. Al Qur’an mentarbiyah ummat sehingga
lahirlah muslim mu’min yang kuat. Ia juga mentarbiyah masyrakat untuk membangun
dalam semua aspek kehidupan. Al qur’an yang di talaqqi, ditadabbur,ditadarrus, ditafsir
dan dilaksanakan dikalangan ummat pasti menjadi sumber kekuatan ummat. Sebab ini
juga musuh Islam berusaha agar ummat ini meninggalkan al Qur’an. ‘Selama al Qur’an
iini ada di tangan ummat Islam, kamu tidak akan dapat mengalahkan ummat Islam’. Kita
mesti mentarbiyah ummat untuk kembali menghayati al Qur’an.
Dalil
B. 58: 21; Allah telah menetapkan: “Sesungguhnya Aku dan Rasul-rasulKu tetap
mengalahkan (golongan yang menentang)”. Sesungguhnya Allah maha kuat, lagi maha
kuasa.
C. 51: 58; Sesungguhnya Allah dialah saja yang memberi rezeki (kepada sekalian
mahlukNya, dan Dialah saja) Yang mempunyai kekuasaan yang tidak terhingga, lagi
maha kuat kukuh kekuasaan Nya.
D. 40: 3; Yang mengampunkan dosa, dan yang menerima taubat; Yang berat
azabNya; yang melimpah-limpah kurniaNya; tiada tuhan melainkan Dia; kepadaNyalah
taempat kembali.
LXIX. Di alam
Syarah
LXX. Allah tidak menciptakan Islam secara sesia.Setiap ciptaan Allah membuktikan
kekuatan Allah Swt. Kekuatan alam ini dapat dimanfaatkan oleh manusia Sebahagian
kekuatan ini dapat dilatih dan dibangunkan. Sekiranya manusia hanya bergantung kepada
kekuatan kebendaan dan melupakan sumber kekuatan kedua, maka ia tidak sempurna
bahkan boleh menjadi kufur.
Dalil
LXXI. 30: 8; Patutkah mereka merasa cukup dengan mengetahui yang demikian saja,
dan tidak memikirkan dalam hati mereka, (supaya mereka dapat mengetahui), bahwa
Allah tidak mencipatakn langit dan bumi serta semua yang ada diantara keduanya itu
melainkan dengan ada gunanya yang sebenar, dan dengan ada masa penghujungnya
tertentu,(juga kembali menemui penciptanya)? Dan sebenarnya banyak diantara
manusia , orang-orang yang sungguh-sungguh ingkar akan pertemuan dengan TuhanNya.
LXXII. 6: 73; Dan Dialah yang mencipatakan langit dan bumi dengan (tujuan)
yang benar, dan (Dialah juga) pada masa (hendak menjadikan sesuatu) berfirman:
“Jadilah”, lalu terjadilah ia. FirmanNya itu adalah benar. Dan bagiNyalah kuasa
pemerintahan pada hari di tiupkan sankakala. Ia yang mengetahi segala yang ghaib dan
yang nyat, Dan Dialah yang maha bijaksana, lagi maha mendalam pengetahuanNya.
LXXIII. 44: 38/39; Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan yang
segala ada diantara keduanya, secara maian-main; Tidaklah Kami menciptalan keduanya
(serta segala yang ada diantara keduanya) melaainkan dengan menzahirkan perkara-
perkara yang benar; akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat itu().

156
LXXIV. 23: 115; “ Maka adakah patut kamu menyaka bahwa kami hanya
menciptakan kamu(dari tiada kepada ada) saja dengan tiada sembarang hikmat pada
ciptaan itu? dan kamu (menyangka pula)
LXXV. tidak akan di kembalikan kepada Kami?”
LXXVI. Di dalam perkataan
Syarah
LXXVII. Al qur’an adalah kalam Allah Swt yang mengandung kalam lengkap, jika
dipatuhi dan dilaksanakan maka akan menjadi lengkap dan sempurnalah keidupan
manusia. Ia adalah kebenaran yang jelas. Orang mukmin mengambil panduan ini
sehingga jadilah mereka ummat pilihan. Apabila arahan-arahan Al Qur’an dilaksanakan
dalam kehidupan, ia mengubah manusia, keluarga, masyarakat dan negara.Orang kafir
dan hizbus syaithan tidak dapat mengammbil faedah dari pada ayat Karen kesombongan
mereka.
Dalil
LXXVIII. 2: 147; Kebenaran (yang datangnya kepada mu dan di sembunyikan oleh
kaum Yahudi dan Nasrani) itu (wahai Muhammad), adalah datangnya dari Tuhanmu;
oleh itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang –orang yang ragu-ragu.
LXXIX. 6: 115; Dan telah sempurnalah kalimah Tuhanmu (Al qur’an meliputi
hokum-hukum dan janji-janjiNya) dengan benar dan adil; tiada sesiapa dari sesuatupun
yang dapat merubah dari kalimah-kalimahNya; Dan Dia lah yang sentiasa mendengar,
lagi senantiasa mengetahui.
LXXX. 10: 36; Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan suatu
sangkaan saja,(padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak
menentukan sesuatu dari kebenaran(iktiqad). Sesungguhnya Allah maha mengetahui
akan apa yang mereka lakukan.
LXXXI. Antara ashabul haq dan ashabul bathil
Syarah
LXXXII. Oleh itu pertembungan antara yang haq dan batil pasti berlaku dan
kemenangan dipihak al haq. Allah mengumpamakan seperti hujan yang turun, al haq
memberikan faedah yang banyak, sedangkan al bathil seperti buih yang akhirnya akan
lenyap.
LXXXIII. Dalil21: 18; Bahkan kami senantiasa mengarahkan yang benar menentang
yang salah, lalu ia menghancurkannya, maka dengan serta-merta hilang lenyaplah
dia.Dan (tetaplah) kecelakaan akan menimpa kamu disebabkan apa yang kamu
sifatkan(terhadap kami).
LXXXIV. 21: 35; Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan kami menguji kamu dengan
kesusahan dan kesenangan sebagai cobaan; dan kepada Kamilah kamu sekalian akan
dikembalikan.
LXXXV. 13: 17; Ia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu membanjiri tanah-tanah
lembah(dengan airnya)menurut kadar yang di tetapkan untuk faedah mahlukNya,
kemudian banjir itu membawa buih-buih yang terapung-apung. Dandari benda-benda
yang di bakar di dalam api untuk di jadikan barang perhiasan atau perkakas yang
diperlukan, juga timbul buih seperti itu. Demikian lah Allah memberi missal tentang
perkarayang benar dan yang salah. Adapun buih itu maka akan hilang lenyaplah ia
hanyut terbuang, manakala benda-benda yang berfaedah kepada manusia maka ia tetap
tinggal di bumi. Demikianlah Allah menerangkan missal-misal perbandingan.
LXXXVI. Haq dating yang batil pasti lenyap
Syarah

157
LXXXVII. Apabila kebenaran ditegakkan dengan sebenar-benarnya, kebatilan tidak
akan tinggal bersama. Seperti kegelapan, apabila dating cahaya menerangi, maka tiadalah
lagi kegelapan. PPendukung kebenaran akan menegakkan al haq dan menghapuskan
kebatilan. Apabila Rasulullah Saw menyeru, mentarbiyyah, mentaqwin dan
membangunkan Islam kepada masyarakat jahiliyah di Mekkah, Kita melihat seorang
demi seorang berpindah ke agama Islam. Kabilah demi kabilah memihak kepada Islam…
akhirnya Bandar demi Bandar dan negar demi negara…. Demikian al haq menerangi
jahiliyyah, sehingga apabila Islam menguasai maka, jahiliyyah pasti akan lenyap.
Dalil
LXXXVIII. 17: 81; Dan katakanlah: “Telah dating kebenaran(Islam), dan hilang
lenyaplah perkara yang salah (kufur dan syirik); sesungguhnya yang salah itu
sememangnya satu perkara yang lenyap”.
LXXXIX. 8: 8; Supaya Allah menegakkan yang benar itu dan menghapuskan yang
salah (kafir musyrik) yang berdosa itu tidak menyukainya.
7.Dimenangkan atas semua Dien
Syarah
XC. Inilah tujuan Islam diturunkan Allah Swt, sebagai huda, dan Dien yang Haq
untuk di menangkan oleh Allah, mengatasi seluruh system/dien yang lain. Islam adalah
dien kemenangan. Islam memiliki segala potensi untuk berada diats. Islamlah yang
paling tinggi dan tiadalah yang mengatasinya. Inilah keyakinan para mu’min, dan untuk
inilah Islam mentarbiyah ummat. Ummat Islam yang berdiri diatas al haq adlah
pendukung kemenangan. Walupun kita maklumi bahwa kemengan Islam ini bukanlah
kemenangan secara otomatik, bahkan sirah menceritakan bahwa penegakkan al Islam
menuntut darah syuhada dan air mata.
Dalil
XCI. 48: 28; (Allah yang menyatakan itu) Dialah yang mengutus RasulNya
(Muhammad Saw) dengan membawa hidayah petunjuk dan agama yang benar (agama
Islam), supaya Dia memenangkan dan meninggikan atas segala bawaan yang lain; dan
cukuplah Allah menjadi saksi(tentang kebenaran apa yang di bawa oleh Rasul Nya itu)
XCII. 9: 33;Dialah yang telah mengutus RasulNya (Muhammad) dengan membawa
petunjuk dan agama yang benar (agama Islam), untuk di menangkan dan ditinggikan atas
segala agama yang lain, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
XCIII. 61: 9; Dia lah yang telah mengutus Rasul Nya (Muhammad Saw) dengan
membawa hidayah dan petunjuk yang benar (agama Islam), supaya ia memenangkannya
dan meninggikannya atas segala agama yang lain, walaupun orang musyrik tidak
menyukainya.
Ringkasan Dalil
XCIV. Allah adalah sumber kebenaran(2: 147; 10: 32; 22: 62); Dia yang maha kuat (58:
21; 51: 58; 40: 3)
XCV. Ada dua kekuatan: 1. Dialam(30: 8; 6: 73;; 44: 38/39; 23: 115); kekuatan
kauniyah, berlaku bagi semua manusia baik kafi/ashabul bathil maupun mukmin/ashabul
haq. 2. Di dalam perkataan: kekuatan firman-firman Allah (2: 147; 6: 115; 10: 36) hanya
bagi orang mukmin/ashabul haq.
XCVI. Antara ashabul haq dan ashabul bathil selau bertentangan karena ada perbedaan
antara haq dan batil (21: 18,35; 13: 17). Ketika yang haq dating yang batil pasti lenyap
(17: 81; 8: 8), agar di menagkan atas semua dien(48: 28; 9: 33; 61: 9).
J3.FURQAN
Sasaran

158
XCVII. Memahami makna furqan samada lafaz maupun ma’nawinya dan cara
untuk mencapainya
XCVIII. Memahami hubungan sikap furqan dalam pertembungan haq dan bathil
sehingga ia mempunyai prinsip hidup yang benar dan jelas
XCIX. Menyadari bahwa hanya dengan bersikap furqan ia akan mencapai furqan dan
kebahagiaan.
Sinopsis
Sikap furqan atau pembeda (antara yang haq dengan yang batil) di wakili oleh Allah
sebagai haq dan taghut sebagai wakil kebatilan. Pemimpin al haq adalah Allah (yang
benar), Allah Swt sebagai al haq akan membawa kepada cahaya yang memberikan
bimbingan kepada manusia dengan mendatang kan Islam sebagai dien sehingga
selesailah segala permasalahan yang ada, kemudian di bawanya mereka di dalam syurga.
Manakala pemimpin kebatilan adalah taghut. Taghut sebagai wakil dan pembawa
kebatilan selalu berada di dalam kegelapan.Warna gelap yang mewarnai kebatilan akan
membawa kejahiliyaan yang merupakan sumber masalah ummat dan perintis munculnya
masalah. Keadaan ini akan membawa manusia sampai ke neraka.
Sikap furqan yang harus kita pegang dalam menghadapi pertembungan ini adalah
membedakan secara benar mana yang haq dan yang batil kemudian berpegangan secara
teguh kepada tali Allah yang sangat kukuh/urwatu wutsqa Prinsip yang perlu dipenuhi di
dalam menjalankan urwatul wutsqa adalah aktivitas dan sikap yang berdasarkan
lillah(karena Allah), ma’allah(beserta Allah), ilalah(menuju ridha Allah)
1.Furqan
Syarah
C. Furqan adalah pembeda haq dan batil. Al qur’an sendiri berperanan sebagai
furqan karena salah satu nama Al Qur’an adalah furqan. Al Qur’an sebagai al haq berarti
lanngsung memberikan pemahaman bahwa di luar atau yang bertentangan dengan nilai-
nilai Al Qur’an adalah kebatilan yang perlu di ingkari dan di tolah. Al Qur’an sebagai
furqan karena di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk yang membawa manusia ke jalan
yang benar dan membedakan nya dengan kebatilan. Orang yang mengamalkan furqan
biasanya adlah orang yang bertakwa kepada Allah Swt akan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahan, serta mengampunkan (dosa-dosa) kita.
CI. Furqan sebagai pembeda haq dan batil ini merupakan pertarungan dia antara
Allah dengan taghut yang secara implikasinya berlaku diantara orang beriman dengan
orang kafir.
Dalil
CII. 25: 1; Maha berkat Tuhan yang menurunkan Al-Furqan kepada hambaNya
(Muhammad), untuk menjadi peringatan dan amaran bagi seluruh penduduk alam.
CIII. 2: 185; (Masa yang di wajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan ramadhan yang
padanya di turunkan Al Qur’an, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia , dan menjadi
keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbedaan antara
yang benar dan yang salah. Oleh itu, sesiapa dari antara kamu yang menyaksikan anak
bulan ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia berpuasa bulan itu ; dan
sesiapa yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka , kemudian wajiblah ia
berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu sebanyak hari-hari yang lain.(Dengan
ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan ia tidak
menghendaki kamu menaggung kesukaran. Dan supaya kamu cukupkan bilangan puasa
(sebulan ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat
petunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.

159
CIV. 8: 29; Wahai orang-orang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya ia
mengadakan bagi kamu (petunjuk) yang membedakan antara yang benar dengan yang
salah, dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu, serta mengamunkan (dosa-dosa)
kamu. Dan Allah (sememangnya) mempunyai limpah kurnia yang besar.
2.Allah sebagai pembawa al Haq
Syarah
CV. Allah Swt sebagai haq karena dialah yang menciptakan manusia dan alam. Dia
wajar mengetahui akan ciptaanNya sehingga ilmu yang dimilikiNya merupakan bukti
kebenaran yang di bawaNya.
CVI. Dengan kebenaran maka wujudlah cahaya yang menyinari kegelapan dan
mendapatkan penjelasan bagaimana semestinya kita hidup dan berjalan dengan baik
dalam mencapai kejayaan.Muhammad Saw dan kitab yang diturunkan Allah Swt sebagai
cara untuk lebih menjelaskan haq yang sebenarnya.
CVII. Islam sebagai pembimbing, karena cahaya yang di bawanya. Oleh itu dilarang
mencampur cahaya dan kegelapan. Dilarang kita mencampur adukkan haq ini dengan
kebatilan. Haq tetaplah haq dan laksanakan haq semampunya sedangkan batil adalah
tetap batil yang merupakan kesesatan.Mencampuradukkan berarti kita tidak furqan tetapi
larut dalam situasi.
CVIII. Islam yang berisikan kebenaran akan menjadi penyelesai masalah ummat
Sehingga ummat lepas dari penjara dunia untuk mengajak menusia kejalan yang benar
sehingga di bawanya manusia ke akhirat masuk syurga.
Dalil
CIX. 2: 256; Tidak ada paksaan dalam agama (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu,
sesiapa yang tidak percayakan taghut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan(tali agama) yang teguh yang tidak
akan putus. Dan (ingatlah), Allah maha mendengar , lagi maha mengetahui.
CX. 2: 257; Allah pelindung (yang mengawal dan menolong)orang-orang yang
beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan
orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah taghut yang mengeluarkan mereka
dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka mereka kekal di
dalamnya.
CXI. 18: 1; Segala terpuji tertentu bagi Allah yang telah menurunkan kepada
hambaNya (Muhammad), kitab suci Al Qur’an, dan tidak menjadikan padanya sesuatu
yang bengkok (terpesong):
CXII. 2: 42; Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang
salah,dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semua mengetahuinya.
CXIII. Taghut sebagai pembawa kebatilan
Syarah
CXIV. Dilain pihak pula taghut sebagai wakil dari kebatialan senantiasa mengeluarkan
kegelapan yang menjadikan pengikutnya tidak tahu kemana akan pergi dan kemana
kesudahannya. Keadaan kegelapan ini mungkin menjadikan muslim tersesat di dalam
kejahiliyaan atau kebodohan yang didalamnya berpunca segala kebodohan ummat.
CXV. Jahiliyah dengan kehidupan merupakan contoh nyata amalan yang bukan Islam,
dimana mereka tidak mempunyai pegangan dan tidak jelas akan kemana sehingga
perjalanan di dalam gelap boleh menyesatkannya.
CXVI. Jahiliyah dengan keadaan yang demikian maka wajar dari dalamnya muncul
permasalahan yang akan menghancurkan ummat Islam dan dunia seisinya.
CXVII. Akhirnya mereka akan di bawa ke neraka.

160
Dalil
2: 256; Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah nyta
kebenaran(Islam) dari keseatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan taghut,
dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah maha
mendengar, lagi maha mengetahui.
18: 56; Dan tidak Kami mengutus Rasul-rasul, melainkan sebagai pemberi kabar gembira
dan sebagai pemberi amaran; dan orang-orang kafir membantah dengan alas an yang
salah untuk menghapuskan kebenaran dengan bantahan itu; dan mereka jadikan ayat-
ayatku, dan amaran yang di berikan kepada mereaka sebagai ejekan-ejekan.
31: 20; Dan tidak kami mengutus Rasul-rasul, melainkan sebagai pemberi berita gembira
dan pemberi amaran; dan orang-orang kafir membantah dengan alas an yang salah untuk
menghapuskan kebenaran dengan bantahan itu; dan mereka jadikan ayat-ayat ku, dan
amaran yang diberikan kepada mereka sebagai ejekan-ejekan.
2: 257; Allah pelindung(yang mengawal dan yang menolong) orang-orang yang beriman.
Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang
kafir, penolong –penolong mereka ialah taghut yang mengeliarkan mereka dari cahaya
(iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.
CXVIII. Urwatul wutsqa
Syarah
A. Sikap kita menghadapi keadaan pertembungan haq dengan batil adalah mesti
membuat hubungan yang kuat pada tali yang kuat dan kukuh(urwatul wutsqa). Pegangan
ini berdasarkan pada kejelasannya terhadap al haq dan al batil. Tanpa mengtahui hag
bagaimana pula individu akan berpegang dan kepada siapa pula mesti berpegang. Selain
itu di ketahui mesti bagaimana kita mengenal jahiliyah sehingga kita perlu berjaga-jaga
terhadap kebatilan. Kebatilan ini akan membawa kesesatan urwatu wutsqa dapat di
jalankan dengan cara beriman kepada Allah dan mengingkari taghut . Iman Allah dan
engkar taghut mesti di tanamkan di dalam hati agar kita berdiri dan berjalan dengan
stabil tanpa goncangan.
Dalil
B. 2: 256; Tiadak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah
nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur), Oleh itu sesiapa tidak percayakan taghut,
dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah maha
mendengar , lagi maha mengetahui.
5.Prinsip urwatul wutsqa
Syarah
C. Melaksanakan urwatu wutsqa ini, kita perlu mempunyai prinsip pelaksanaaannya.
Diantara prinsip ini adalah kita menjadikan aktivitas ini berdasarkan Allah dan
pelaksanaannya kepada Allah. Lil Islam berarti kita mendasari aktivitas dengan ikhlas.
Cara bersama Allah berarti kita menjadikan hidup dan mati untuk Allah dan Islam.
Sedangkan tujuan kepada Allah (ilallah) adalahmencari keridhaanNya.
Dalil
D. 98: 5; Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyambah Allah
dengan mengikhlashkan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid; dan supaya
mereaka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah agama
yang benar.

161
E. 6: 162; Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan ibadah ku, hidupku dan
matiku , hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan meentadbirkan sekalian
alam.
F. 16: 128; Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa, dan orang-
orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
G. 2: 207; Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah semata-mata; dan Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.
Ringkasan Dalil
CXIX. Furqan: pembeda ( antara yang haq dengan yang bathil) (25: 1; 2: 185; 8: 29) 1.
Pemimpinnya Allah (2: 257)-al haq/yang benar (18: 1; 2: 42;), membawa kepada
cahaya(2: 257), kebenaran (2: 256), al Islam, penyelesaian masalah sampai dengan ke
syurga. 2. Pemimpinnya taghut(2: 256), al bathil(18: 56; 31: 20), membawa kepada
kegelapan (2: 257) sampai ke neraka, kesalahan, system jahiliyah, sumber segala
permasalahan, neraka.
CXX. Untuk furqan harus berpegang teguh kepada tali Allah yang sangat kukuh/urwatu
wutsqa (2: 256) prinsipnya: lillah/karena Allah (98: 5; 6: 162), ma’allah (beserta Allah)
(16: 128), ilallah. Menuju ridha Allah (2: 207).
J4. ISTIQAMAH
Sasaran
CXXI. Memahami makna istiqamah dalam kebenaran samada secara lafaz maupun
syar’iyah
CXXII. Mengerti cara-cara mengaplikasikan istiqamah dalam mabda, minhaj
maupun Ghayah
CXXIII. Dapat menunjukan sikap-sikap yng tidak istiqamah di dalam
memperjuangkan dienullah.
Sinopsis
Istiqamah merupakan komitmen dan konsisten kita kepada Allah. Segala aktivitas dan
tingkah laku kita di rujuk kepada Allah. Aktivitas yang tidak dirujuk kepdaa Allah atau
yang tidak konsisten maka disebut tidak istiqamah. Beberapa cirri istiqamah yang perlu
di laksanakan oleh muslim adalah menjadikan dasar aktivitinya kepada mabda atau
prinsip hidupnya karena Allah, yaitu karena Islam. Karena secara konsep kehidupan ini
karena Dia (lillah) maka kita mesti hidup beserta Allah, yaitu dengan mengikuti minhaj
Allah(al Islam) kemudian istiqamah juga di iringi dengan tujuan hidup yaitu dengan
menuju kepada Allah atau menuju kepada Islam. Keadaan yang demikian di sebut
istiqamah.
Bagi mereka yang tidak Islam atau kafir, mabda/prinsip hidup karena untuk bukan Islam
(miasalnya untuk isme-isme jahiliyah)maka hasilnya juga untuk selain Allah. Dalam
konsep (manhaj) yang di bawanya itu, mereka hidup tanpa Islam atau bukan dengan
Islam, dengan demikian ia hidup beserta syetan. Dari segi tujuan hidup pula mereka
menuju kepada selian Islam atau kepada selain Allah.Keadaan demikian di sebut tidak
istiqamah yang diamalkan oleh pihak kafir.
Sedangkan pihak muharrifin atau munafik bersifat mundzabdzab Yang berarti kadang
istiqamah kadang tidak istiqamah, sekali sekala iman kadang kufur dengan maksiyatnya
sehinga mereka ini sama saja dengan kafir yaitu tidak istiqamah terhadap Islam.Kaum
munafik pun akanmengalami azab dan siksaan yang pedih sebagai balasan amalan yang
tidak istiqamah.
1.Istiqamah
Syarah

162
CXXIV. Senantiasa muslim berada di atas al haq dan tetap istiqamah. Ini
merupakan kekuatan untuk membentengi serangan dari al batil yang tidak pernah penat.
Iblis telah membuat komitmen kepda Allah bahwa ia akan berusaha dengan kuncu-
kuncunya dan gengnya untuk terus menyesatkan anak Adam sehingga hari kiamat. Oleh
itu istiqamahlah senjata kita. Seorang mu’min dari awal titik bertolaknya berdiri diatas
prinsip bahwa” aku memperjuangkan Islam ini adlah karena Allah”… bukan karena yang
lain. Kalau tidak demikian kita tidak akan bertahan. Banyak sangat tarikan dan godaaan
untuk seorang mu’min itu terpesong, tertipu, terbelit atau akhirnya di telah oleh
jahiliyah.Mereka pun tak kurang umpan dan taktik untuk memerangkap orang mu’min.
Noktah bidayah… Starting point mestilah benar-benar lillah.. yang didasrkan dari
prinsip-prinsip yang datangnya hanya dari Allah Swt dan Rasul. Komitmen adalah lil
Islam.. Brjuang untuk menegakkan Islam. Minhaj mestilah dari Islam. Minhaj. System
cara,uslub, pendekatan semuanya bersumber dari Allah Swt. Minhaj yang diturunkan
Allah adalah lengkap dan sempurna. Seorang mu’min akan tetap istiqamah dengan
mengambil sumber kehidupannya daripada Allah. Oleh itu hanya Islam lah yang
mewarnai, mensibgroh kehidupan dan kematiannya. (5: 48) Dan matlamat akhir adlah
jelas dan terang yaitu mendapatkan mardhotillah di dunia dan akhirat. Menegakkan Islam
serta memenangkan Islam.
Dalil
CXXV. 6: 161; Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan ibadahku,
hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah tuhan yang memelihara dan mentadbirkan
sekalian alam.
CXXVI. 2: 193; Dan perangilah mereka sehingga tidak adalagi fitnah,
dan(sehingga) menjadilah agama itu semata-mata karena Allah. Kemudian jika mereka
berhenti maka tidaklah ada permusuhan lagi melainkan terhadap orang-orang zalim.
CXXVII. 8: 39; Dan perangilah mereka sehingga tidak adalagi fitnah, dan(sehingga)
menjadilah agama itu seluruhnya(bebas) bagi Allah semata-mata. Kemudian jika mereka
berhenti (dari kekufurannya dan gangguannya, niscaya mereka di berikan balasan yang
baik) karena sesungguhnya Allah maha melihat akan apa yang mereka kerjakan.
CXXVIII. 42: 15; Oleh karena yang demikian itu, maka serulah(mereka-wahai
Muhammad-kepada beragama dengan betul), serta tetap teguhlah engkau menjalankan
sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah engkau menurut kehendak
hawa nafsu mereka; sebaliknya katakanlah: ”Aku beriman kepada segala kitab yang
diturunkan oleh Allah, dan aku di perintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah
jualah tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu.
Tidaklah patut ada sebarang pertengkaran antara kami dengan kamu(karena kebenaran
telah jelas nyata). Allah akan menghimpunkan kita bersama (pada hari kiamat), dan
kepadaNyalah tempat kembali semuanya(untuk dihakimi dan di beri balasan)”.
CXXIX. 41: 30-32; Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya
dengan berkata: ”Tuahan kami ialah Allahh”,kemudian mereka tetap teguh diatas jalan
yang betul,akan turunlah malaikat dari mereka dari semasa-ke semasa (dengan memberi
ilham0: ”Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap
kamu) dan janganlah kamu berduka-cita, dan terimalah berita gembira bahwa kamu akan
beroleh syurga yang telah di janjikan kepada kamu.”Kami lah penoong-penolong kamu
dalam kehidupan dunia dan pada hari akhirat; dan kamu akan beroleh- pada hari akhirat
-apa yang di ingini oleh hawa nafsu kamu, serta kamu akan beroleh -pada hari itu – apa
yang kamu cita-citakan mendapatnya.”(pemberian-pemberian yang serba mewah itu)
sebagai sambutan dari Allah yang maha pengampun lagi maha mengasihani!”

163
CXXX. 11: 112; Oleh itu, hendaklah engkau (wahai Muhammad) senantiasa tetap
teguh diatas jalan yang betul sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan hendaklah
orang-orang yang rujuk kembali kepada kebenaran mengikuti mu berbuat demikian ; dan
janganlah kamu melampaui batas hokum-hukum Allah; Sesungguhnya Allah maha
melihat akan apa yang kamu kerjakan.
CXXXI. Hadits.
2.Ghairu istiqamah
Syarah
CXXXII. Disebaliknya golongan yang tidak istiqamah dari awalnya lagi bertolak
dari niat yang tidak bersih. Yaitu mereka melakukan suatu amaldi atas tujuan selain
Allah. Apakah toghut, kebendaan ataupun hawa nafsu yang menjadi tujuan mereka,
haqiqatnya mereka melakukan sesuatu bukan untuk Islam dan bukan karena Allah. Tentu
saja mereka bersumberkan minhaj hidup jahiliyah yang di namakan dengan apa saja
nama atau sumber. Teori-teori, hipotesis, ‘dzon’ dan falsafah seperti
komunisma,materialisma,sosialisma serta tokoh-tokoh pemikir jahiliyah adalah sumber
mereka. Minhaj hidup mereka di cedok dari sumber-sumber yang tidak haq, lalu
hancurlah system kehidupan mereka . Apakah yang menjadi sasaran akhir dari kehidupan
mereka… tentu saja kerugian yang sebenarnya. Rugi di hari bertemu dengan Allah Swt,
menyesal dan saling berbantah-bantahan. Di dunia mereka bermati-matian untuk
mempertahankan tertegaknya toghut dan sistemnya. Mereka menjadi pendukung setia
toghut sehinggalah mereka mati karenanya… nauzubillah. Amal baik mereka di dunia
menjadi habuk yang berterbangan dan faedahnya adalah “maya” atau seperti
fatamorgana.
CXXXIII. Pada daie tidak harus tertipu dan gelap mata dengan apa yang dilihat dari
kebaikan mereaka. Kita mesti istiqamah diatas Islam.
Dalil
CXXXIV. 18: 103; Katakanlah (wahai Muhammad): “ Mahukah Kami kabarkan
kepada kamu akan orang orang-orang yang merugi amal-amal perbuatannya?
CXXXV. 24: 39; Dan orang-orang kafir pula, amal-amal mereka adalah umpama
riak sinaran panas di tanah rata yng di sangkanya air oleh orang yang dahaga ,(lalu ia
menuju kearahnya) dan ia tetap mendapati hokum Allah di sisi amalnya, lalu Allah
menyempurnakan hitungan amalnya (serta membalasnya); dan (ingatlah) Allah amat
segera hitungan hisabNya.
3.Mudzabdzab
Syarah
CXXXVI. Golongan yang tiada pendirian di jelaskan dalan al Qur’an dengan istilah
mudzabdzab. Ini golongan orang munafik dan AllahSwt menkategorikan mereka sebagai
kufur.. serta memenetapkan status mereka paling bawah dalam api neraka.. nauzubillag.
Mereka juga tidak istiqamah…. Tidak tetap diatas iman dan Islam. Allah Swt telah
menjelaskan hakekat ini dalam Al Qur’an … bahkan ada serah yang dinamakan untuk
mereka. Tidak istiqamah ini adalah sifat yang merbahaya oleh itu tarbiyah Islammiayah
mesti berterusan. Jangan menyangka bila telah menjadi syeh besar tak perlu
tarbiyah,tazkiyah,tazkirah…. Semuanya perlukan mutabaah. Setiap kita perlukan nasihat
dan tarbiyah berterusan. Tarbiyah terlalu penting untuk di abaikan.
CXXXVII. Dalil4: 137; Sesunggguhnya orang-orang yang beriman, kemudian mereka
kafir, kemudian mereka beriman semula, kemudian mereka kafir lagi, kemudian mereka
bertambah lagidengan kekufuran, Allah sekali-sekali taidak akan memberi ampun kepada
mereka, dan tidak akan memberi pentunjuk hidayah ke jalan yang benar.

164
CXXXVIII. 4: 143; Mereka berkeadaan “muzabzab” (tidak mempunyai pendirian yang
tetap) antara (iman dan kufur )itu; Mereka tiadak berpihak terus kepada golongangan
(kafir) dan tidak pula berpihak kepada golongan (yang beriman)
CXXXIX. 4: 150; Sesunggguhnya orang-orang yang kufur ingkar kepada Allah dan
RasulNya,dan (orang-orang yang) hendak membeda-bedakan iman mereka diantara
Allah dan RasulNya, dan (orang-orang yang) berkata: ”Kami beriman kepada setengah
Rasu-rasul itu dan kufur kepada setengah yang lain”, serta hendak bertujuan mengambil
jalan lain antara iman dan kufur itu:
Ringkasan Dalil
CXL. Islam/mukmin: mabda/prinsip hidupnya: semata karena Allah, ialah karena selain
Allah. Dalam konsep, karena dia lillah maka ia beserta Allah,yaitu dengan minhaj Allah
Al Islam. Dari segi tujuan hidup maka ia menuju Allah (6: 162),,atau menuju Islam
(hadits, 2: 193; 8: 39) yang disebut istiqamah (42: 15; 41: 30-32; a, 11: 112)
CXLI. Diluar Islam /kafir. Mabda/prinsipnya karena untuk nomn Islam (isme-ismse
jahiliyah) maka hasilnya untuk selain Allah. Dalam konsep M(Manhaj) karena dia tanpa
Islam atau bukan karena Islam maka ia beserta syetan. Dari segi tujuan hidup karena
selain menuju Islam maka menuju selain Allah (18: 103; 24: 39) yang di sebut kufur.
CXLII.Muharrifin/munafik: mudzabdzab, tidak istiqamah(4: 137, 143, 150,b,c)
J5.HIZBULLAH
Sasaran
CXLIII. Memahami makna hizbullah dan perbedaan nya dengan hizbusyaithan
CXLIV. Mampu menyebutkan akhlak asasiyah dan harikiah dan hizbullah.
CXLV.Termotivasi untuk mengaplikasikan akhlak tersebut dalam dirinya.
Sinopsis
Persediaaan utama menghadapi al batil adalah dengan memiliki hizbullah. Hizbullah di
bentuk dan di bina dengan dua azas yaitu akhlak Islamiyah dan akhlak harakiah. Akhlaq
Islamiyah membina persediaan dalaman yang mantap melalui, mahabatillah-cinta Allah,
Berkasih saying sesama mu’min, bertegas dengan kafir, berjihada dan menghilangkan
takut kepad manusia, membersihkan wala semata-mata untuk Allah dan Rasul. Setelah di
bina persedian asas ini , mu’min di perkkohkan dengan akhlak harakiah sebagai binaan
untuyk menguatkan mu’min terjun ke medan pertembungan dien al batil. Antara lain
persediaan al thabat.. menghancurkan sifat taraddud(sifat tak pasti), zikrullah sebagai
penghapus sifat lalai-ghaflah. Taat allah dan Rasul – untuk menghancurkan ma’siyyat.
Membina sifat tanazu’ supaya melahirkan kesatuan. Sifat sabar menghapuskan, Siafat
tidak berkaluh kesah untuk melahirkan tawadhu, menghapuskan riya supaya tetap ikhlas,
tidak menghalang dari jalan Allah tetapi terus menerus menolong di jalan Allah.
Akhlak asasiyah
A. Mencintai Allah
Syarah
1. Al Qur’an berulang kali menyebut isu kecintaan ini sebagai suatu dasar dalam
kehidupan manusia. Samada mencintai Allah ataupun mencintai selain Allah. Asas
kecintaan adalah dorongan yang kuat dalam diri manusia. Kecintaan kepada Allah bukan
bermaksud meninggalkan yang lain. Akan tetapi ia seperti mata air yang menjadikan para
mu’min mencintai semua yang Allah kasihi dan menjadikan mu’min sungguh-sungguh
dalam beramal. Cinta Allah dan Rasul mesti diletakkan pada perioti pertama… bukan
kedua.
Dalil

165
2. 5: 54; Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa diantara kamu berpaling tadah
dari agamanya(jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang ia
kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orangg kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia yang diberiaknNya
kepada sesiapa yang di kehendakiNya ; karena Allah maha luas limpahan kurniaNya, lagi
meliputi pengetahuanNya.
3. 2: 165; (Walaupun demikian), ada juga dari manusia yang mengambil selain
Allah(untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan
mentaatinya) sebagai mana mereka mencintai Allah; sedangkan orang-orang yang
beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan
kezaliman (syirik) itu mengeteahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat, bahwa
sesunggunya dan kekuasaanitu semuanya tertentu bagi Allah , dan bahwa sesungguhnya
Allah maha berat azab dan siksaNya,(Niscaya mereka tidak melakukan kezliman itu)
4. 8: 2; Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya)
ialah mereka yang apabila di sebut nama Allah(dan sifat-sifatNya) gemeterlah hati
mereka; dan apabila di bacakan kepad mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka
bertambah iman , dan kepada tuhan mereka jualah mereka berserah.
B. Bersikap lemah-lembut kepada mukminin
Syarah
CXLVI. Ini adalah sikap yang menjadi buah dari cinta Allah dan keimanan kepada
Allah. Allah memerintahkan mu’min mencintai ikhwahnya sesama mu’min, buah dari
ukhuwah fillah. Asas ukhuwwah menjadikan mu’min merasai kemuliaan dan
mengharmati saudaranya. Ia juga memahami akan kelemahan manusia dan bersikap
lemah-lembut serta pemaaf. Dlam konteks tarbiyah bukan tidak menegur atau menasihat,
bahkan ada pendekataan khusus yang diajari oleh Rasulullah Saw. Kalau kita berkasar
tentunya orang lari dari kita.
Dalil
1. 5: 54; Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa diantara kamu berpaling tadah
dari agamanya(jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang ia
kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orangg kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia yang diberiaknNya
kepada sesiapa yang di kehendakiNya ; karena Allah maha luas limpahan kurniaNya, lagi
meliputi pengetahuanNya.
CXLVII. 48: 29; Nabi Muhammad (Saw) ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang
bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang (memusuhi
Islam) , dan sebaiknya bersikap berkasih saying serta belas kasihan sesama sendiri (umat
Islam). Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud, dengan mengharapkan
limpah kurnia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredaanNya. Tanda
yang menunjukkan mereka (sebagai orang-orang yang sholeh) terdapat muka mereka –
dari kesan sujud (dan ibadat mereka yang ikhlas). Demikian sifat mereka yang tersebut
dalam kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam kitab injil pula ialah(bahwa mereka
diibaratkan) sebagai pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak
dan tunasnya itu menyuburkannya, sehingga ia menjadi kuat,lalu ia tegap berdiri diatas
(pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengagumkan orang-orang yang

166
menanamnya. (Allah menjadikan Nabi Muhammad, Sawdan pengikut-pengikutnya
kembang biak serta kuat gagah sedemikian itu) karena Ia hendak menjadikan orang-
orang kafir mereana dengan perasaan marah dan hasad dengki- dengan kembang biaknya
umat Islam itu. (Dan selain itu) Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan
beramal sholeh dari mereka, keampunan dan pahala yang besar.
3.Bersikap keras terhadap kafirin
Syarah
CXLVIII. Ketegasan mu’min penting bila berhadapan dengan kafir. Mereka adalh
musuh yang nyata. Permusuhan yang berlaku hasil dari pertentangan aqidah,
pertentangan dien dan pertentangan matlamat. Tugas mu’min adalah berda’wah dan
menegakkan al haq sedangkan mereka di sebaliknya.Sikap pendirian teguh mu’min
penting ketika berhadapan dengan kafir dan kekufuran. Kiya tidak boleh kompromi
dalam perkara dasar Islam. Surah Al kafirun menegaskan… lakum deenukum…
Dalil
1. 5: 54; Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa diantara kamu berpaling tadah
dari agamanya(jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang ia
kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orangg kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia yang diberiaknNya
kepada sesiapa yang di kehendakiNya ; karena Allah maha luas limpahan kurniaNya, lagi
meliputi pengetahuanNya.
CXLIX. 48: 28-29; (Allah yang menyatakan itu ) Dialah yang telah mengutus
RasulNya (Muhammad Saw) dengan membawa hidayah petunjuk dan agama yang
benar(agama Islam), supaya Dia memenangkan dan meninggikan atas segala bawaan
agama yang lain; dan cukuplah Allah menjadi saksi (tentang kebenaran apa yang di bawa
RasulNya itu).Nabi Muhammad (Saw) ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama
dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang (memusuhi Islam) ,
dan sebaiknya bersikap berkasih saying serta belas kasihan sesama sendiri (umat Islam).
Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud, dengan mengharapkan limpah
kurnia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredaanNya. Tanda yang
menunjukkan mereka (sebagai orang-orang yang sholeh) terdapat muka mereka –dari
kesan sujud (dan ibadat mereka yang ikhlas). Demikian sifat mereka yang tersebut dalam
kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam kitab injil pula ialah(bahwa mereka diibaratkan)
sebagai pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya
itu menyuburkannya, sehingga ia menjadi kuat,lalu ia tegap berdiri diatas (pangkal)
batangnya dengan keadaan yang mengagumkan orang-orang yang menanamnya. (Allah
menjadikan Nabi Muhammad, Sawdan pengikut-pengikutnya kembang biak serta kuat
gagah sedemikian itu) karena Ia hendak menjadikan orang-orang kafir mereana dengan
perasaan marah dan hasad dengki- dengan kembang biaknya umat Islam itu. (Dan selain
itu) Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dari mereka,
keampunan dan pahala yang besar.
CL. 66: 9; Wahaia Nabi ! Berjihadlah(menentang) orang-orang kafir dan orang-orang
munafik, serta bertindak keras terhadap mereka . Dan (sebenarnya) tempat mereka adalah
neraka jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali.
A. Berjihad di jalan Allah
Syarah

167
CLI. Inilah jawban kepada masalah yang di hadapi umat. Mu’min mestilah di dorong
untuk terjun ke meadn buka duduk diam dan berpeluk tubuh. Setelah memahami dan
menyakini fikrah Islamiah, sewajarnya akhlak mu’min adalah ia perlu bangkit dan
menyebar ridsalah. Kiranya ada yang cuba menghalanginya ia tiadk patah semangat dan
berputus asa. Jihad adalah jalan keluar. Ia terus menerus bersugguh-sungguh di atas jihad
dan pengorbanan. Man mungkin tertegak Islam, dan dsampai Islam kepada kita tanpa
darah dan air mata. Sejarah ummat Islam kaya dengan warna darah syuhada’ dan Allah
Swt sendiri telah memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada syuhada. Jihad
dengan segala macam persediaan, strategi dan taktik, mengikut marhalah dan
perancangan harakiah kerja-kerja jihad dilaksanakan oleh jundullah.
Dalil
1. 5: 54; Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa diantara kamu berpaling tadah
dari agamanya(jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang ia
kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orangg kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia yang diberiaknNya
kepada sesiapa yang di kehendakiNya ; karena Allah maha luas limpahan kurniaNya, lagi
meliputi pengetahuanNya.
CLII. 9: 23-24; Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menjadikan bapa-
bapa kamu dan saudara-saudara kamu sebagai orang-orang yang di dampingi jika mereka
memilih kufur dengan meninggalkan iman; maka merekalah orang-orang yang zalim,
katakanlah (Wahai Muhammad); “Jika bapa-bapa kamu, dan kaum keluarga kamu, dan
harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan
rumah-rumah tempat tinggal kamu sukai,-(jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara
yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk
agamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab
siksaNya); karena Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang y ang fasik
(durhaka).
CLIII. 47: 31; Dan demi sesungguhnya! Kami tetap menguji kamu (wahai orang-orang
yang mengaku beriman) sehingga ternyata pengetahuan Kami tentang adanya orang-
orang yang sabar (dalam menjalankan perintah Kami); dan (sehingga) Kami dapat
mengesahkan (benar/atau tidaknya) berita-berita tentang keadaan kamu.
A. Tidak takut celaan orang yang suka mencela
Syarah
CLIV. Manusia memang senang memberi komen. Mereka akan mengatakan sesuatu
kepada kita. Tetapi apakah kata-kata manusia semuanya nak di dengar dan diambil kira
oleh jundullah??? Kalau nak dengar semua komen tak jadilah kerja kita. Kita melatih
terus paara duat untuk terus beramal dan melaksanakan perancangankerja dengan terus-
menerus. Tidak harus cepat secara psikologi merasa lemah dengan ghazwu fikri mereka.
Kamu tak kan berjaya, kamu buat kacau, kamu menyusahkan emak bapa, kamu tak
sesuai,kamu bukan ustaz, kamu tak layak,kamu tak ada tauliyah, kamu student belajar
dulu, anak istri nak makan apa kalau macam iini, takkan nak tinggalkan kemajuan,
sekarang era IT bukan zaman jahiliyah, kenapa tak rujuk barat saja..,, takkan Qur’an saja,
mana dalil yang anta cakap, anatatak jelas lagi fikrah, anta tak asolah,anta tak itu,anata
tak ini… dan macam-macam ….lagi.
Dalil

168
CLV. 5: 54; Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa diantara kamu berpaling tadah
dari agamanya(jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang ia
kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orangg kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia yang diberiaknNya
kepada sesiapa yang di kehendakiNya ; karena Allah maha luas limpahan kurniaNya, lagi
meliputi pengetahuanNya.
CLVI. 86: 6; Ia di ciptakan dari air(mani) yang memancut (ke dalam rahim)
CLVII.83: 35-36; Sambil mereka berehat di atas pelamin-pelamin (yang berhias), sserta
melihat (hal yang berlaku kepada musuhnya). (Untuk menambahkan kegembiraan
mereka, mereka di Tanya): ”Bukankah orang-orang yang kaafir itu telah di balas akan
apa yang telah mereka kerjakan dahulu?”
Dalil
CLVIII. 5: 55, 56; Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, dan RasulNya,
serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, dan menunaikan zakat,
sedang mereka rukuk(tunduk menjunjung perintah Allah). Dan sesiapa yang menjadikan
Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman itu penolongnya (maka berjayalah
dia) , karaena sesungguhnya golongan (yang berpegang kepada agama) Allah, itulah
yang tetap menang.
CLIX. 58: 22; Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari Akhirat, tergamak berkasih-mesra dengan orang-orang yang menentang (perintah)
Allah dan RasulNya; Sekalipun orang-orang yang menentang mereka itu ialah bapa-bapa
mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka.
Mereka (yang setia) itu, Allah telah menetapkan iman dalam hati mereka, dan telah
menguatkan mereka dengan semangat pertolongan daripadaNya; dan Dia akan
memasukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai,
mereka tetap kekal di dalamnya. Allah reda akan mereka dan mereka reda (serta
bersyukur)akan nikmat pemberianNya. Merekalah penyokng-penyokong (agama) Allah.
Ketahuialah! Sesungguhnya penyokong-penyokong (agama) Allah itu ialah orang-orang
yang berjaya.
Akhlaq harakiayah:
7.Tsabaat
Syarah
CLX. Menghadapi jihad dan pertembungan sangat memenatkan dan meletihkan. Kalau
kereta yang berjalan terus-menerus dan akhirnya akan terpaksa berhenti. Untuk terus
tetap bagaimana?. Ini perlu tarbiyah berterusan. Hati-hati (qulub) ini mesti terus di isi
dengan keimanan yang kental, fikrah dan taSawwur tetap diperingatkan mengenai
kepentingan amal dan jihad. Hubungan teru-menerus dengan Allah Swt adalah senjata
paling kuat ketika berhadapan dengan suasana gawat medan jihad dan peperangan.
Zikrullah dan merasai pertolongan Allah menjadikan mu’min thabat dan tidak akan
berundur menghadapi suasana medan. Bahkan di medan ghazwu fikri ini pun kita kena
terus thabat…
Dalil
CLXI. 8: 45-47; Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan
sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya, dan
sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan). Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah

169
kamu berbantah-bantahan; kalau tidak niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang
kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati);
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang keluar dari negrinya dengan berlagak sombong dan menunjuk-
nunjuk (kekuatan mereka) kepada orang ramai (karena hendak meminta di puji), serta
mereka pula menghalang manusia dari jalan Allah dan (ingatlah) Allah maha meliputi
pengetahuanNya akan apa yang mereka kerjakan.
8.Zikrullah
Syarah
CLXII.Ketenangan hati, mut’mainal qulub adalah satu puncak dari kejaaan mukmin.
Dalam ketenangan qulublah maka manusia akan mendapat satu nikmat besar. Orang
kalau kaya , rumah besar, sesmua cukup tapi kalau hati tidak tenang…. Hilang
kenikmatannya. Allah mengajar kita bahwa ketenangan itu hanya dating dengan
mengingatiNya,Zikrullah. Memang telah ada banyak uraian dan penjelasan mengenai
zikrullah dari Al Qur’an dan as sunnah. Solah sendiri merupakan zikrullah yang di
fardukan 5 hari sekali. Zikr yang ma’thur dari rasulullah pula menjadi amalan dan
benteng mu’min. Zikrullah juga dalam maksud mengingati seluruhnya yang di wahyukan
Allah melalui tilawah, tadarus dan tadabbur ayat dan tafakkur alam ciptaan Allah. Ingat
Allah, bahkan sebagai ghayah kita yaitu tepat kembali kita agar menjadi bekal untuk
terus berjihad.
Dalil
CLXIII. 8: 45-47
CLXIV. 13: 28; “(yaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tentram hati
mereka dengan zikrullah”. Ketahuilah dengan “zikrullah” itu, tenang tentramlah hati
manusia.
9.Tidak lalai
Syarah
CLXV.Senantiasa bersedia dan bersiap menghadapi segala kemungkinan juga sifat
jundullah. Persediaan adalah mengikut keperluan dan berdasarkan waqie. Serangan
dating dalam berbagai bentuk maka perlulah bersedia. Menunggu apa saja arahan dari
qiadah dan bersedia taat. Kelalaian mungkin menyebabkan musuh msauk melalui pintu
yang kita jaga. Dalam madan tullab misalnya, musuh menggunakan media untuk
menyerang dengan hebat. Maka kita perlu sedar.
Dalil
CLXVI. 2: 203; Dan sebutlah kamu akan Allah (dengan takbir semasa
mengerjakan haji ) dalam beberapa hari yang tertentu dalam bilangannya. Kemudian
sesiapa yang segera (meninggalkan mina) pada hari yang kedua, maka ia tidaklah
berdosa dan sesiapa yang melambatkan (meninggalkan mina) maka ia juga tidaklah
berdosa; (keteiadaan dosa itu ialah) bagi orang yang bertakwa dan hendaklah kamu
bertaqwa kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan di himpunkan
kepadaNya.
10. Taat kepada Allah
Syarah
CLXVII. Dengan amal-amal sholeh yang kita kerjakan akan menutup ruang untuk
bermaksiyat kepada Allah. Amal sholeh membersihkan hidup mu’min. Amal taat ini
menguatkan iman dan membentuk akhlaq mu’min yang kuat. Bidang alam taat kepadaa
Allah adalah seluas Islam. Ia memberi ruang da’wah dan ruang berinteraksi dengan
keluarga dan masyarakat. Dalam menunaikan taat, ia melaksanakan amal harakiyah.

170
Mu’min menjadi missal amali bagi apa yang ia da’wahkan. Amal taat inilah buah-buah
iman yang benar kepada Allah. Taat kepada Allah Swt adalah taat yang mutlaq…
Dalil
CLXVIII. 8: 45-47; Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu
dengan sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya, dan
sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan). Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah
kamu berbantah-bantahan; kalau tidak niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang
kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati);
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang keluar dari negrinya dengan berlagak sombong dan menunjuk-
nunjuk (kekuatan mereka) kepada orang ramai (karena hendak meminta di puji), serta
mereka pula menghalang manusia dari jalan Allah dan (ingatlah) Allah maha meliputi
pengetahuanNya akan apa yang mereka kerjakan.
CLXIX. 4: 80; Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah
taat kepada Allah; dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka( janganlah engkau berduka
cita wahai Muhammad), karena Kami tidak mengtusmu untuk menjadi pengawal (yang
memelihara mereka dari melakukan kesalahan).
11. Tidak bermaksiat
Syarah
CLXX.Ma’siyat banyak merusakkan kehidupan manusia. Ia membawa manusia semakin
jauh dari hidayah Allah, dan jauh dari kebenarn. Ia menjadi penghalang dari para
malaikat dan pertolngan dari Allah. Maksiyat menghitamkan hati dan memberikan
gambaran yang negatif terhadap para duat. Hendaklah di tarbiyah dengan berterusan agar
jahiliyah ini dapat di kikis sepenuhnya dari hati kita. Dalam sirah pernah Rasulullah Saw
menegur Abu Zar yang mengatakan kepada Bilal satu ungkapan dari Jahiliyah.
Dalil
CLXXI. 53: 26; (Golongan yang musyrik mengharapkan pertolongan benda-benda
yang mereka sembah itu) padahal berapa baynak malaikat dilangit, syafaat mereka tidak
dapat mendatangkan sebarang faedah, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi sesiapa
yang di kehendakiNya dan di rhedhaiNya.
12. Tidak saling berbantah-bantahan
Syarah
CLXXII. Perbedaan pendapat dan pandangan manusia memang biasa. Bahkan
sahabat yang besar seperti Abu Bake dan Umar pun berbeda pendapat. Tetapi yang salah
ialah berlebih-lebih dalam mempertahankan pendapat. Ia merasai pandangannya lah yang
paling benar.. orang lain semua salah. Sehingga akhirnya timbullah perasaan tidak puas
hati dan di lahirkan dalam manifestasi berbantah-bantahan. Ini akan membawa per
selisihan hati yang membawa kepada berpecah-belah dan hilanglah wehdah, .. kesatuan.
Oleh itu mentarbiyah jundullah untuk tidak berselisih, bersyra dan kemudian taat kepada
keputusan.
Dalil
CLXXIII. 8: 45-47;
CLXXIV. 6: 153; Dan bahwa sesungguhnya inila jalan Ku (agama Islam) yang betul
lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut jalan-jalan (yang
lain dari Islam), karena jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan
Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kepada kamu, supaya kamu
bertaqwa.

171
CLXXV. 30: 31-32; Hendaklah kamu (wahai Muhammad dan pengikut-
pengikutmu) senantiasa rujuk kembali kepada Allah (dengan mengerjakan amal-amal
bakti) serta bertaqwalah kamu kepadaNya; dan kerjakanlah sembahyang dengan betul
sempurna; dan janganlah kamu menjadi dari manaa-mana golongan orang musrik-yaitu
orang-orang yang menjadikan fahaman agama mereka berselisihan mengikut
kecenderungan masing-masing serta mereka pula menjadi berpuak-puak; tiap-tiap puak
bergembira dengan apa yang ada padanya (dari fahaman dan amalan yang terpesong itu).
13.Bersatu
Syarah
CLXXVI. Tanpa wehdah, kekuatan kita hilang dan musuh senang untuk
mengalahkan kita. Habislah kita. Kesatuan jundullah beasaskan suatu sang kukuh yaitu
Allah yang satu, kitab yang satu dan dien yang satu. Kesatuan berdasrkan iman dan
ukhuwah. Semua mempunyai ghayahyang satu, bagaimana kita boleh berpecah kembali.
Kesatuan mesti terus menerus di jaga dan dipelihara terutama ketika kita diserang musuh.
Dalil
CLXXVII. 3: 103; dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah(agama
Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu
ketika kamu bermusuh-musuhan(semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan
diantara hati kamu ( sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka
menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu
dahulu telah berada ditepi jurang neraka (di sebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah
Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat
petunjuk hidayahNya.
14. Sabar
Syarah
CLXXVIII. Akhlak yang perlu juga di sediakan bagi jundullah yang menyertai
hizbulah adalah sabar. Akhlak ini merupakan benteng dan sekaligus senjata bagi kita
yang berda’wah. Dengan kesabaran semua permasalahan dan ujian yang ada di hadapan
serta segala cabaran da’wah dan kehidupan dapat dihadapi dan di atasi dengan baik.
Suasana jiwa yang di warnai oleh sabar ini dapat menentramkan jiwa dan mendamaikan
hati. Suasana yang selalu menyertai segala tentangan dan tantangan da’wah. Kesabaran
akan membawa kita kepada kejayaan. Banyak perintah yang Allah sebutkan agar kita
saling menasehati dengan kesabaran setelah kita menasehati al haq kepada orang lain,
juga hadits yang menyuruh kita bersabar sehingga dengan sabar ini kita mendapatkan
kemenangan dan kebahagiaan. Musibah yang akan menimpa kita pun perlu di hadapi
dengan sabar, seperti musibah kelaparan, kematian,kemiskinan dan sebagainya.
Kesabaran di alam da’wah merupakan akhlak penting yang perlu di sediakan pada diri
kita dalam menghadapi cemooh,fitnah dan hasutan.
Dalil
CLXXIX. 98: 45-47; Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan yang hati mereka
(sangat) ragu-ragu.Oleh karena itu mereka senantiasa bingung dan teragak-agak dalam
keraguannya. Dan kalaulah mereka mau keluar (untuk trut berperang0, tentulah mereka
menyediakan persiapan untuknya; tetapi Allah tidak suka pemergian bersama orang-
orang yang tinggal”. Kalaulah mereka keluar bersama kamu ,(dengan tujuan)hendak
menimbulkan fitnah (kekacauan) dalam kalangan kamu; ssedang diantara kamu ada
orang yang suka mendengar hasutan mereka. Dan (ingatlah) Allah maha itu maha
mengetahui orang-orang yang zalim.

172
CLXXX. 3: 146; Dan berapa banyak Nabi-nabi (dahulu) dengan berperang di sertai
oleh ramai orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah
semangat akan apa yang telah menimpa mereka pada jalan (agama) Allah dan mereka
juga tidak lemah tenga dan tidak pula mau tunduk (kepada musuh). Dan (ingatlah), Allah
senantiasa mengasihi orang-orang yang sabar.
15.Tidak berkeluh kesah,tidak sombong
Syarah
CLXXXI. Orang yang beriman dan berda’wah tidak ada dalam dirinya kamus
berkeluh kesah. Mereka tidak ada masa untuk berkeluh kesah, masanya suntuk
menghadaapi da’wah dan menjalankan aktiviti-aktivitas berda’wah. Akhlak yang juga
perlu di lengkapi ini merupakan bahagian bagaimana kita dapat memotivasi diri. Dengan
keluh kesah maka kita menjadikan diri sendiri tidak bermotivasi, kurang semangat dan
tidak mempunyai harapan. Keadaan yang demikian biasanya, di ciptakan leh diri
individu itu sendiri.Akhlak tidak sombong juga perlu menghiasi para jundullah dan Da’i
Allah. Dengan akhlak ini, ia mudah menerima pandangan dan perbaikan diri dan da’wah
untuk menyongsong kejayaan di masa depan. Tidak sombong juga merupakan akhlak
para ibadurrahman. Motivasi untuk meningkatkan gerak langkah menuju kecita-cita.
Manakala tidak sombong akan menjadikan kita mudah diterima mad’u, disenangi oleh
orang dan juga mudah untuk melaksanakan kebaikan yang di nasehatkan kepadanya.
Dalil
CLXXXII. 8: 45-47; Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu
dengan sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya, dan
sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan). Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah
kamu berbantah-bantahan; kalau tidak niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang
kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati);
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang keluar dari negrinya dengan berlagak sombong dan menunjuk-
nunjuk (kekuatan mereka) kepada orang ramai (karena hendak meminta di puji), serta
mereka pula menghalang manusia dari jalan Allah dan (ingatlah) Allah maha meliputi
pengetahuanNya akan apa yang mereka kerjakan.
16.Tawadhu
Syarah
CLXXXIII. Akhlak tawadhu ini hampir sama ruhnya dengan tidak sombong. Mukmin
senantiasa berjalan dengan tawadhu, ia tidak sombong dan senantiasa merendahkan hati
dari hadapan orang lain. Ia bukan rendah diri karena rendah diri bukan merupakan akhlak
Islam walaupun ini banyak berlaku di kalangan Islam sebagai hasil dari penjajahan.
Rendah hati itu berkata tidak tinggi, tidak membanggakan diri dan juga tidak
merendahkan orang lain. Bahkan Allah Swt menyuruh kita untuk merendahkan diri
kepada pengikutnya dan tentunya juga kepada manusia secara umumnya.
Dalil
CLXXXIV. 26: 215; Dan hendaklah engkau merendah diri kepada pengikut-
pengikutmu dari orang-orang yang beriman.
17.Tidak Riya
Syarah
CLXXXV. Riya adalah penyakit ahati yang tersembunyi yang sangat berbahaya.
Dengan riya ini kekuatan menjadi berkurang dan Allah melepaskan diri dari kita, karena
perbuatan maksiat (ria) tersebut. Contoh di dalam Al Qur’an menceritakan kegagalan

173
dari mereka yang riya karena mereka sombong, menunjuk-nunjuk kehebatannya di depan
orang ramai…. Perbuatan yang diiringi dengan riya menjadikan amalan tersebut tidak di
nilai oleh Allah Swt. Riya ini sukar dikenal pasti karena berhampiran dengan ikhlas,
perbedaan diantara keduanya sangatlah tipis. Susahnya memisahkan daan terkadang
muncul silap niat pada diri kita di dalaam melaksanakan aktivitas ini perlu mengiringi
aktivitas ini dengan memperbanyak istigfar. Dengan tidak riya maka jundullah akan
selalu di dukung oleh Allah Swt.
Dalil
CLXXXVI. 8: 45-47; Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu
dengan sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya, dan
sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan). Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah
kamu berbantah-bantahan; kalau tidak niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang
kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati);
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang keluar dari negrinya dengan berlagak sombong dan menunjuk-
nunjuk (kekuatan mereka) kepada orang ramai (karena hendak meminta di puji), serta
mereka pula menghalang manusia dari jalan Allah dan (ingatlah) Allah maha meliputi
pengetahuanNya akan apa yang mereka kerjakan.
CLXXXVII. 41: 35-36; Dan sifat terpuji ini tidak dapat di terima dan diamalkan
melainkan oleh orang-orang yang bersifat sabar, dan juga tidak dapat diterima dan
diamalkan oleh orang-orang yang bersikap sabar, dan tidak juga dapat di terima dan
diamalkan melainkan oleh orang yang mempunyai bahagian yang besar dari kebahagiaan
dunia dan akhirat. Dan jika engkau di hasut oleh sesuatu hasutan dari syaithan, maka
hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia lah yang
maha mendengar , lagi maha mengtahui. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah
malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari dan
janganlah pula sujud kepada bulan, dan sebaliknya hendaklah kamu sujud kepada Allah
yang menciptakannya, kalau betulah kamu beribadat kepada Allah.
18.Ikhlas
Syarah
CLXXXVIII. Ikhlas lawan dari riya, Allah Swt menyuruh kita untuk beribadah secara
ikhlas yaitu beribadah karena Allah saja. Aktivitas di dalam Islam mesti di dasari dengan
niat ikhlas. Ikhlas dapat memberikan sokongan yang kuat kepada amal yang dilaksankan
karena Allah lindungi dan membantu kita. Dengan ikhlas maka Da’i akan siap menerima
semua cabaran yang mungkin di temuinya, samada dari luar ataupun dari dalam. Ikhlas
pun dapat menyediakan diri kita menerima segala bentuk keputusan yang akan di
diterima kita samada kejayaan atau kegagalan. Ikhlas pula akan mudah terbukanya
hidayah bagi yang membawa da’wah atau yang menerima da’wah itu sendiri. Ikhlas pula
akan mudah terbukanya hidayah bagi yang membawa da’wah atau yang menerima
da’wah itu sendiri. Ikhlas juga mensucikan diri dan juga dengan membuka diri serta
menjadikan tujuan kepada Allah saja, akan menjadikan da’wah berjaya.
Dalil
CLXXXIX. 39: 11; Katakanlah lagi (Wahai Muhammad): “ Sesungguhnya aku
diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat
kepadaNya;
CXC. 39: 14; Katakanlah lagi: “ Allah jualah yang aku sembah dengan mengikhlaskan
amalan agamaku kepadaNya.

174
19.Tidak menghalangi dari jalan Allah
Syarah
CXCI. Peribadi jundullah yang memiliki akhlak asasiyah dan akhlak harakiyah ini juga
mempunyai akhlak yang tidak menghalangi dari jalan Allah. Mereka senantiasa taat dan
tidak berbantah-bantahan. Mereka jundullah menjadikan zikir dan kesabaran sebagai
benteng yang kuat. Akhlak demikian tentunya tidak akan menghalangi dari jalan Allah.
Dalil
CXCII.8: 45-47; Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan
sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya, dan
sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan). Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah
kamu berbantah-bantahan; kalau tidak niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang
kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati);
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang keluar dari negrinya dengan berlagak sombong dan menunjuk-
nunjuk (kekuatan mereka) kepada orang ramai (karena hendak meminta di puji), serta
mereka pula menghalang manusia dari jalan Allah dan (ingatlah) Allah maha meliputi
pengetahuanNya akan apa yang mereka kerjakan
Ringkasan Dalil
CXCIII. Akhlak asasiyah: mencintai Allah (5: 54; 2: 165; 8: 2); bersikap lemah
lembut kepada mukminin(5: 54; 48: 29), bersikap tegas terhadap kafirin (5: 54; 48: 28-
29),66: 9), berjihad dijalan Allah(5: 54; 9: 23-24; 47: 31;), tidak takut terhadap celaan
orang yang suka mencela (5: 54; 86: 6; 83: 35-37); walanya untuk Allah Rasul dan orang
mukmin (5: 55, 56; 58: 22)
CXCIV. Akhlak harakiyah: tsabaat, tidak ragu-ragu (8: 45-47), Zikrullah(8: 45-47;
13: 28); tidak lalai(2: 203); taat kepada Allah dan RasulNya (8: 45-47; 4: 80), tidak
bermaksiyat (53: 26), tidak saling berbantah-bantahan(8: 45-47; 6: 153; 30: 31-32),
bersatu (3: 103), sabar (98: 45-47, 3: 146), tidak berkeluh kesah, tidak sombong (8: 45-
47), tawadhu(26: 215), tidak riya(8: 45-47; 41: 35-36); Ikhlas (39: 11,14), tidak
menghalangi dari jalan Allah (8: 45-47), membantu jalan Allah.

Batasssssssssssssssssss
TAKWINUL UMMAH
Pendahuluan
Setelah memahami banyak permasalahan yang ada di dalam diri kita, pada peribadi
muslim, ummat dan da’wah secara keseluruhan, kemudian di perkuat dengan berbagai
serangan dari musuh-musuh Islam maka jawaban atau penyelesaian dari permasalahan ini
adlah perlu usaha membentuk ummat (takwinul ummah). Takwinul ummah melalui
tarbiyah, da’wah dan jihad adalah cara yang di contohkan oleh Rasulullah Saw. Namun
demikian usaha mulaia ini sebagai penyelesaian terhadap masalah kurang di amalkan
oleh ummat Islam, dimana sebagian ummat Islam telah meniggalkan amal tarbiyah,
da’wah dan jihad. Ummat Islam sekarang ini banyak yang terbius dengan keadaan dunia
syaksiyah Islamiyah sehingga menjejaskan da’wah yang di bawanya. Ada juga mereka
yang serius berjamah tetapi tidak beramal jamai di dalam konteks berjamaah. Usaha
tarbiyah dan da’wah yang diamalkan oleh sebagian aktivis da’wah dan ustaz tidak
membuahkan hasil yang membahagiakan.Dengan keadaan yang sedemikian maka di

175
perlukan usaha yang berterusan dengan kesadaran Islam, pemahaman minhaj da’wah,
mengamalkan sunnah da’wah Nabi dan semangat yang tinggi sebagai pendorongnya
Pakej takwinul ummah selain memberiakn wawasan keatas bentuk penyelesaian
permasalahan ummat, juga di tujukan untuk memberikan motivasi kepada mad’u untuk
berda’wah dan megetahui bagaimana berda’wah.Takwin ummat di mulai dengan takwin
syaksiyah Islamiyah dengan ciri iman, Islam dan takwa. Ciri ini merupakan syarat utama
seorang muslim yang Allah ridhai. Terbentuknya muslim dengan cirri demikian maka di
harapkan peribadi muslim dapat mengatasi masalahnya dan bersifat proaktif untuk
mengembangkan da’wah.Peribadi muslim tidak akan lengkap apabila tidak diikat pula
dengan berjamaah.
Perubahan-perubahan pada diri ummat akan tercapai apabila peribadi muslim terbentuk
dengan pembentukan yang baik melalui tarbiyah kemudian mereka berda’wah dan
berjihad. Perubahan ummat melalui marhalah da’wah dan di warnai dengan minhaj yang
benar akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Pembentukan peribadi yang dapat
melakukan perubahan melalui aplikasi syahadat di dalam kehidupan, membentuk
kesatuan ummat dan mengikuti model Rasulullah Saw dalam segala aspek.
Para Rasul/nabi dan juga Nabi Muhammad juga menegakkan kalimat laa ilaha illallah.
Dengan kalimah ini muncul berbagai perubahan-perubahan di dlam masyarakat dan
peribadi. Perubahan dari masyarakat jahiliyyah kepada masyarakat Islamiyah adalaha
suatu bukti kejayaan dan kesan kalimat syahadat ini. Para sahabat nabi dengan mengenal
kalimat syahadat ini langsung merubah dirinya dan juga merubah masyarakatnya. Hal
demikian disebabkan karena mereka memahami syahadat dengan benar dan baik.
Kalimah syahada sebagai inti dari perubahandan dengan kalimah ini pula di wujudkan
suatu perubahan yang menyeluruh di dalam masyarakat.Peribadi muslim dan ummat
mesti di warnai syahadat ini. Pembentukan peribadi muslim, jamaah dan ummah mesti
menumpukkan kepada pemahaman syahadat dan aplikasinya.
Takwinul ummah merupakan gerakan penyelamatan keatas keadaan ummat saat ini
sehingga muncul sebahagian ummat yang menyeru masyarakat kepada kebaikan ,
menyeru kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar. Apabila sebahagian ummat
melakukan da’wah demikian maka akan terbentuk ummat yang baik dan akhirnya
muncul kemenangan.
Pakej takwinul ummah selain menjelaskan bahan-bahan mengenai bagaimana
membentuk ummat juga menjelaskan perubahan yang akan di capai, bagaimana
mengikatkan hati, sebab-sebab perpecahan dan obatnya kemudian diakhiri dengan
ukhuwah Islamiyah.
Perubaha-perubahan yang di kehendaki berlaku dikalangan ummat saat ini berkaitan
dengan aqidah, ruhaniah, fikrah, suluk,tsaqafah, ijtima’, siyasi dan iktisodi. Dengan
perubahan ini muncullah ummat yang menjalankan Islam secara kafaah (menyeluruh)
dan kemudian tegak Islam. Syakhsiyah Islamiyah , syakhsiyah daiyah yang kemudian
diikat dengan jamaah melalui ikatan hati dan ukhuwah Islamiyah.
Takliful qulub sebagai dasar jamaah dan da’wah perlu di benruk dengan rasa cinta,
ketaatan dan diaplikasikan kedalam da’wah dan jihad. Ukhuwah Islamiyah merupakan
kekuatan ummat setelah kekuatan aqidah. Ukhuwah diantara aktivis perlu di tingkatkan
dengan usaha mengenali kepribadian dan pemikiran yang lain sehingga muncul tafahum
sebagai jalan memperlancar hubungan sesama muslim. Dari tafahum muncul taawun dan
akhirnya terbentuk tauhidul ummah.
K1.TAKWINUL UMAH (2 bahan)
Sasaran

176
CXCV. Memahami kepentingan takwin syaksiyah Islamiyah dan takwinul al ruhul
jamaah Islamiyah dalam pembentukan ummat.
CXCVI. Dapat memberikan gambaran yang jelas conto Rasulullah dan para
sahabatnya dalam melakukan takwinul umat
CXCVII. Memahami bahwa denan tercapainya takwinul umah yang berjaya, kaum
muslimin dapat di selamatkan dari permutadan
Sinopsis
Takwin ummat (membentuk ummat) mengikut kepad cara Nabi Muhammad Saw adalah
dengan membentuk aqidah dengan iman yang lurus. Iman seseorang akan membawanya
kepada ibadah dan amal sholeh sehingga akan menghasilkan iman yang sebenar-
benarnya. Islamisasi kehidupan sebagai hasil dari pembentukan peribadi muslim adalah
muslim yang menjadikan seluruh kehidupan Islam dan mewarnai kehidupannya dengan
nilai Islam.
Ciri lainnya yang diperlukan oleh ummat adalah membentuk semangat berjamaah.
Semangat berjamaah perlu ditumbuhkan dengan berpegang teguh kepada tali Allah, tidak
berpecah belah/bersatu padu; kesatuan hati, dan melakukan ukhuwah Islamiyah. Peribadi
Islam yang terbentuk akan di kuatkan dengan semangat berjamaah shingga muncul
ummat yang kuat dan kemudian dapat memunculkan suatu gerakan penyelamatan.
Kedua pembentukan tersebut merupakan langkah penyelamatan yang dilakukan oleh
orang yang mendapat hidayah untuk membentuk ummah Islam yang menyeru kebaikan,
meemerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Ummat Islam yang
melakukan aktivitas da’wah ini akan mencapai kejayaan.
Hasiyah
CXCVIII. Takwin ummat
CXCIX. Syarah
CC. Allah Swt telah menyuruh kita untuk melakukan pembentukan atau pembinaan
terhadap ummat sehingga tercapai peribadi da’i yang mempunyai cirri amal ma’ruf dan
nahi munkar.Beberapa hadots dan ayat pun menyebutkan bahwa pembentukkan ummat
ini tidak dilakukan oleh semua ummat tetapi sebahagian saja atau sekumpulan kecil dari
umat yang sadar dan kemudian berda’wah membentuk manusia yang berkualitas
sehingga mencapai kadar sebagai umat yang terbaik (khairu ummah). Secara reality dan
juga melihat kepada sejarah nabi bahwa manusia yang dapat menerima da’wah Islam
adalah tidaklah semuanya, dipastikan ada yang menentang dan ada yang sebagai pengikut
pasif dan ada yang telibat penuh sebagai kader yang aktif. Keadaan ini menggambarkan
bahwa hidayah Allah Swt mempunyai peranan penting terhadap dorongan seseorang
terhadap Islam dan juga kehendak membentuk ummat atau berda’wah.
Dalil
CCI. 3: 104; Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berda’wah)
kepada kebajikan (mengembangkan iaslam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang
baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang
bersifat demikian adalah orang-orang yang berjaya.
CCII. Takwin kepribadian Islam
Syarah
A. Beberapa cirri-ciri yang di gambarkan di dalam surah 3: 102 mengenai peribadi
muslim adalah mereka yang beriman, bertakwa dan menjadikan segala kehidupannya
Islam.
B. Iman yang lurus berarti peribadi yang mempunyai pemahaman aqidah yang
bersih dan benar. Individu dengan iman yang suci dan bersih dari segala kemusrikan

177
akan mewarnai segala amal dan tingkah lakunya sehingga boleh mendapatkan ridha dari
Allah Swt. Iman merupakan bahan azas bagi terbentuknya peribadi muslim. Iman yang
kurang kepada Allah,Rasul dan kitab…. Maka akan mengalami kecelaruan peribadi dan
tingkah laku sehingga muncul peribadi yang buruk. Sahabat Nabi sebagai contoh
pembentukan iman yang berjaya.Begitu juga contoh yang di bawa oleh Nabi dan Rasul
dalam memberikan contoh peribadi muslim sentiasa merujuk kepada imannya.
C. Dengan beriman maka peribadi muslim akan menjalankan ibadah dan amal soleh
yang diperintahkan Allah apakah amalan wajib ataupun sunnah. Setiap amalan dan
ibadah ini akan menghasilkan taqwa.Taqwa sebagai hasil dari ibadah. Taqwa yang
sebenar-benarnya merupakan cirri peribadi muslim. Darjah taqwa merupakan kemuliaan
yang Allah berikan dantaqwa ini sebagai bekal kehidupan kita di dunia dan juga yang
akan di bawa ke akhirat.
D. Keimanan dan ketaqwaaan seorang muslim akan mewarnai semua kehidupannya
dan juga akan membentuk segala aktivitas dengan celupan Islam.Allah menyuruh kita
untuk menjadikan hidup kita Islam samada Berdiri ,duduk atau berbaring juga di suruh
untuk hidup dan mati dai dalam Islam Bahkan Allah Swt menyuruh kita agar jangan mati
kecuali di dalam keadaan Islam. Islam mengajak manusia untuk mangamalkan semua
ajarannya samada dari bangun tidur hingga tidur kembali adalah bahagian kehidupan
yang mesti diisi dengan Islam.Islamisasi kehidupan sebagai suatu keharusan manusia
agar mendapatkan ridha dari Allah Swt.
Dalil
CCIII. 5: 54; wahai orang-orang yang beriman ! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah
dari agamanya (jadi murtad), makaa Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia
kasihkan mereka dan mereka juga hasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah lembut
terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan orang yang mencela.Yang demikian itu adalah limpah kurnia Allah yang di
berikanNya, lagi meliputi pengetahuanNya.
CCIV. 49: 15; Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah
orang-orang yang percaya kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka(terus percaya
dengan)tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka
pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar(pengakuan imanNya).
CCV. 3: 102; Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah
dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
Islam.
CCVI. 2: 208; Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu kedalam agama
Islam(dengan mematuhi) segala hokum-hukumnya; dan janganlah kamu mnurut jejak
langkah syeta; sesungguhnya syaithan itu musuh bagi kamu yang terang lagi nyata.
3.Takwin ruhul jamaah Islamiyah
Syarah
CCVII.Setelah peribadi muslim terbentuk maka peribadi ini perlu diikat dengan tali agar
kuat dan dapat di gunakan untuk berbagai tujuan dan aktivitas. Tali ini adalah jamaah,
sehingga dengan jamah dapat membuat kerja sama dan sama-sama kerja sehingga
mewujudkan saling membantu dan ukhuwah Islamiyah. Da’wah tidak akan mungkin
berjaya tanpa diikat dengan jamaah. Setiap individu yang bekerja di dalam da’wah akan
rugi dan tidak berjaya apabila tidak dilakukannya dengan berjamaah. Ciri lainnya di
dalam jamaah adalah peribadi yang berpegang teguh dengan tali Allah, tidak berpecah
belah dan menjalankan ukhuwah Islamiyah.

178
CCVIII. Berpegang dengan tali Allah merupakan prinsip di dalam Islam. Ikatan
jamaah Islamiyah di laksanakan dengan mengikat keatas tali aqidah Islamiyah. Persatuan
dan kesatuan Islam yang berdasarkan aqidah ini akan menyatukan semua muslim di
dunia sehingga mudah tertegaknya khilafah di muka bumi. Dengan ikatan aqidah ini juga
akan mewujudkan suatu kejayaan muslim yang mungkin memiliki perbedaan dari segi
furu, pemikiran dan uslub. Persatuan kita keatas yang asas dan prinsip dan menerima
perbedaan yang bukan prinsip sebagai suatu khasanah Islam dan penggabungan ke
pelbagaian potensi ummat.
CCIX. Ummat yang bersatu dengan membentuk model jamaah adalah tidak ada
perpecahandan pertembungan, mereka bersatu padu di dalam aqidah yang mewarnai
bentuk kerja sama yang tolong menolong keatas kelemahan dan kelebihan masing-
masing. Perbedaan sebagai sarana taawun yang akan menguatkan jamaah Islam. Tidak
berpecah belah tetapi bersatu padu dengan kesatuan hati aktivis Islam merupakan cirri
utama jamaah Islam.
CCX. Untuk memperlancar dan memperbagus jamaah Islam ini maka jamaah perlu di
warnai dengan suasana ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan Islam selain kewajiban dan
hidayah dari Allah SWt juga suatu nikmat yang membahagiakan kita. Denganukhuwah
Islamiyah mka keperluan fitrah manusia dan juga keperluan asas manusia dapat di
terpenuhi. Manusia pada dasaarnya menyenagi untuk berkumpul dan selalu berkumpul
tetapi berkumpulnya manusia tidak membawa kepad kebaikan. Berkumpul di dalam
Islam akan membawa kepada kebahagiaan.
Dalil
CCXI. 3: 195; Maka Tuhan mereka perkenankan doa mereka perkenankan do’a mereka
(dengan firmanNya): ”Sesungguhnya Aku tidak akan sia-siakan amalan orang-orang
yang beramal dari kalangan kamu, sama ada lelaki atau perempuan, (karena) setengah
kamu (adalah keturunan) dari stengah yang lain; maka orang-orang yang berhijrah
(karena menyelamatkan agamanya), dan yang diusir keluar dari tempat tinggalnya, dan
juga yang di sakitas (dengan berbagai-bagai gangguan) karena menjalankan agamaKu,
dan yang berperang (untuk mempertahankan Islam), dan yang terbunuh (gugur syahid
dalam perang sabil)- sesungguhnya Aku akan hapuskan kesalahan-kesalan mereka, dan
sesungguhnya Aku akan masukkan mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya
beberapa sungai, sebagai pahala dari sisi-Allah.Dan di sisi Allah jualah pahala yang
sebaik-baiknya (bagi mereka yang beramal sholeh)”.
CCXII.9: 71; Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, setengahnya
menjadi penolong bagi setengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan, dan
melarang daripada berbuat kejahatan; dan mereka mendirikan sembahyang dan memberi
zakat,serta taat kepada Allah dan RasulNya.Mereka itu akan di beri rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah maha kuasa, algi maha bijaksana.
CCXIII. 3: 103; dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah(agama
Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu
ketika kamu bermusuh-musuhan(semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan
diantara hati kamu ( sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka
menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu
dahulu telah berada ditepi jurang neraka (di sebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah
Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat
petunjuk hidayahNya. 3: 103; dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali
Allah(agama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah
kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan(semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah

179
menyatukan diantara hati kamu ( sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam),
maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan
kamu dahulu telah berada ditepi jurang neraka (di sebabkan nikmat Islam juga).
Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu
mendapat petunjuk hidayahNya.
CCXIV. 30: 31-32; Hendaklah kamu (wahai Muhammad dan pengikut-
pengikutmu) senantiasa rujuk kembali kepada Allah (dengan mengerjakan amal-amal
bakti) serta bertaqwalah kamu kepadaNya; dan kerjakanlah sembahyang dengan betul
sempurna; dan janganlah kamu menjadi dari manaa-mana golongan orang musrik-yaitu
orang-orang yang menjadikan fahaman agama mereka berselisihan mengikut
kecenderungan masing-masing serta mereka pula menjadi berpuak-puak; tiap-tiap puak
bergembira dengan apa yang ada padanya (dari fahaman dan amalan yang terpesong itu).
CCXV. 8: 63 Dan (Dia lah) yang menyatu-padukan diantara hati mereka (yang
beriman itu). Kalaulah engkau belanjakan segala (harta benda) yang ada di bumi, niscaya
engkau tidak dapat juga menyatu-padukan diantara hati mereka, akan tetapi Allah telah
menyatu padukan diantar (hati) mereka. Sesungguhnya Ia maha kuasa , lagi maha
bijaksana.
CCXVI. 49: 10; Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara ,
maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang berteliingkah) itu; dan bertaqwalah
kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.
4.Gerakan penyelamatan
syarah
CCXVII. Takwin syaksiyah Islamiyah dan takwin ruhul jamaah merupakan langkah
penyelamatan terhadap kejayaan ummat saat ini dan juga akan memperkuat kekuatan
Islam. Keadaan ummat yang telah terbentuk dengan tarbiyah Islamiyah sehingga wujud
peribadi Islam dan peribadi dai di dalam jamaah ini berperanan sangat besar di dalam
menghadapi musuh-musuh Islam samada menghadapi serangan dari ghazwul fikri atau
hizbus syaitan.Peribadi yang terbina ini merupakan peribadi yang mendapatkan hidayah
dari Allah Swt. Peribadi Islam dan kekuatan jamaaah senantiasa juga melakukan da’wah,
pembinaan dan pembentukan keatas umat Islam yang sadar dengan da’wah dan Islam.
5.Kejayaan
CCXVIII. Kejayaan yang akan di capai ummat Islam adalah mereka yang
melaksanakan pembentukan ummat dan melakukan amar makruf nahi munkar.
Dalil
CCXIX. 3: 104; Dan hendaklah ada diantara kamu satu puak yang menyeru
(berda’wah) kepada kebajikan(mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala
perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang alah (buruk dan keji). Dan
mereka yang bersifat demikian inilah orang yang berjaya.
Ringkasan:
CCXX. Takwain ummat (3: 104); iman yang lurus (5: 54; 49: 15); taqwa yang
sebenar-benarnya(3: 102); Islamisasi kehidupan (2: 201); ini semua keperibadian Islam.
CCXXI. Ciri lainnya adalah berpegang teguh dengan tali Allah (3: 103); Ikhlas
berpecah belah/bersatu padu (30: 31-32); kesatuan hati(8: 63); ukhuwah islmamiyah(49:
10). Ini di sebut dengan takwin ruhul jamaah Islamiyah (3: 195; 9: 71)
CCXXII. Keduanya merupakan langkah penyelamatan yang dilakukan orang yang
mendapat hidayah untuk membentuk umat Islam yang menyeru kebaikan,
memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Ketiganya merupakan
factor kejayaan(3: 104).

180
K2. TAKWIN SYAKHSIYAH ISLAMIYAH
Sasaran:
CCXXIII. Memahami bahwa dalam takwin syaksiyah Islamiyah diperlukan iman
yang lurus, takwa yang sebenar-benarnya dan mengIslamkan kehidupan
CCXXIV. Dapat menunjukan contoh dari sikap iman dan taqwa.Dapat
menggambarkan perubahan umat yang di capai dengan minhaj yang benar beserta
contoh-contohnya pada setiap marhalah.
Sinopsis
Takwin kepribadian Islam mengikut kepad bagaimana Nabi Muhammad Saw melakukan
da’wah ialah dengan membentuk iman. Iman yang di bentuk ini mempuyai cirri-ciri
yaitu iman yang dinamika,yakin,menyerah,mendekat dan taat; tidak keberatan,dan tidak
ada pilihan lain.
Iman yang sedemikian akan memunculkan taqwa. Taqwa bagi muslim merupakan
landasan hidup, sebagai ukuran/timbangan, taqwa sebagai bekal kehidupan dan
pakaian.Dengan taqwa ini seorang peribadi akan menjadikan seluruh kehidupannya
sebagai muslim. Inilah cirri dari kepribadian muslim yang sempurna.
Hasiyah
1.Takwin kepribadian Islam
Syarah
CCXXV. Membentuk kepribadian ini mesti mengasaskan pada keimanan. Iman
sebagai factor utama di alam membiana dan menjadikan diri peribadi sbagai muslim
yang sejati. Nabi Muhammad Saw mendatangi manusia dengan membawa iman dan
menyampaikan keimanan. Kalimat yang di bacakan pertama adalah kalimah syahadatain.
Kalimah ini mengajak manusia untuk menjadikan Allah sebagai ilah dan Muhammad
sebagai rasul. Keimanan yang akan di wujudkan adalah iman kepada Allah dan
RasulNya. Perubahan kepribadian menjadi Islam akan berlaku sehingga para sahabat
mempunyai berbagai cirri keimanan yang dapat membawa kejayaan Islam. Abu zar Al
gifari yang baru menerima kalimah iman terus beda’wah di masyarakat umum , para
sahabat lainnya yang telah menerima kalimah iman ini juga merubah dirinya menjadi
peribadi muslim.
Dalil
CCXXVI. 3: 102-104; Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepad
Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-sekali kamu kamu mati melainkan
dalam keadaan Islam. Dan hendaklah ada diantara kamu satu puak yang menyeru
(berda’wah) kepada kebajikan(mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala
perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang alah (buruk dan keji). Dan
mereka yang bersifat demikian inilah orang yang berjaya.
2.iman
Syarah
CCXXVII. Pembentukan imaniyah keatas peribadi manusia dan juga
pembangunaniman keatas diri muslim merupakan suatu jalan yang di contohkan kepad
kita oleh nabi untuk menjadikan peribadi muslim dan diridhai oleh Allah Swt.
Pendekatan imaniah biasanya dilakukan dengan memberikan firman-firman Allah dan
dalil nabi yang dapat menjadikan hujjah dan media turunnya hidayah dari Allah ke atas
hati yang mendengarnya. Dengan iman akan mucul beberapa cirri-ciri sepserti iman yang
dinamik, keyakinan yang kuat, menyerah diri kepada Allah, mendengar dan taat dan
tidak keberatan melaksanakan apapun arahan.

181
CCXXVIII. Dinamika iman atau iman yang hidup merupakan hasil dari keimanan
yang benar. Dengan keimanan ini akan wujud sifat lemah-lembut terhadap orang-orang
yang beriman dan berlaku tegas terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan
bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap celaan orang
yang mencela. Keimanan ini akan menambhkan wala kepada allah dan Rasul selain cirri-
ciri iabadah dan sholatnya.
CCXXIX. Yakin terhadap Allah dan RasulNya juga mebentuk kepercayaan kepada
jihad dan tadhiyah yang akan kita sumbangkan ke jalan Allah Swt. Iman kepda Allah dan
RasulNya secara benar akan menghasilkan keyakinan yang menjadikan kita serius untuk
berjihad, tidak ragu-ragu dan penuh keyakinan dalam beramal dan berkorban bagi
kepentingan Islam.
CCXXX. Menyerahkan diri kepada Allah Swt sebagai hasil iman kepada Allah.
Mengerjakan peritahnya,arahan,aturan dan nilai dari Allah Swt merupakan tanda pasrah,
tunduk dan menyerahkan diri kepadaNya. Bentuk menyerahkan diri kepada Islam ini
adalah siap megorbankan diri dan harta bagi kepentingan Islam, dan juga bersedia
menjalankan semua suruhan dan meninggalkan semua larangannya.
CCXXXI. Mendengar dan taat juga sikap orang yang beriman. Orang beriman
sebagai jundi senantiasa mendapatkan perintah dari Allah dalam bentuk arahan dan
kewajiban. Misalnya di dalam berpusa,jihad,sholat dan sebagainya dirahkan kepad orang
yang beriman apabila mendapatkan perintah akan menjawab: ”Kami dengar dan kami
taat, kemudian (kami pohonkan ) keampunanMu wahai Tuhan kami dan kepadaMu
jualah kami kembali”.
CCXXXII. Tidak keberatan menjalankan semua perintah merupakan cirri orng yang
beriman. Orang yang beriman rela menjalankan semua perintah dan tidak merasa beban
apabila menjalankan semua aktivitas Islam yang di gariskan di dalam Islam.
CCXXXIII. Bagi orang beriman tidak ada pilihan lain kecuali mengembalikan dirinya
kepada Islam dan juga tidak menjadikan alternatif lain selain Islam. Islam sebagai satu-
satunya panduan hidup dan Allah sebagai tempat pengabdian sedangkan rasul sebagai
tempat menjadikan uswah.
Dalil
CCXXXIV. 5: 54; wahai orang-orang yang beriman ! Sesiapa di antara kamu
berpaling tadah dari agamanya (jadi murtad), makaa Allah akan mendatangkan suatu
kaum yang Ia kasihkan mereka dan mereka juga hasihkan Dia; mereka pula bersifat
lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap
orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan
mereka tidak takut pada celaan orang yang mencela.Yang demikian itu adalah limpah
kurnia Allah yang di berikanNya, lagi meliputi pengetahuanNya.
CCXXXV. 49: 15; sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benar beriman hanyalah
orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasulnya, kemudian (mereka terus percaya
dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka
pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar(pengakuan imannya).
CCXXXVI. 2: 4; Dan juga kepada orang-orang yang beriman kepada kitab “Al
Qur’an” yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad), dan kitab-kitab yang
diturunkan dahulu daripadamu , serta mereka mereka yakin akan (adanya) hari akhirat
(dengan sepenuhnya).
CCXXXVII. 4: 65; Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan
beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang
timbul di antara mereka, kemudian mereka tidakpun merasa di hati mereka sesuatu

182
keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu
dengan sepenuhnya.
CCXXXVIII. 2: 285; Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya
dari Tuhannya,dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan
malaikat-malaikatNya, dan kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya.(Mereka berkata): ”Kami
tidak membedakan antara seorang dengan yang lain Rasul-rasulnya”. Mereka berkata
lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan
kepadaMu jualah tempat kembali”.
CCXXXIX. 5: 7; Dan kenanglah nikmat Allah (yang telah di kurniakanNya) kepada
kamu serta ingatlah perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu
berkata: ”kami dengar dan kami taat (akan perintah-perintah Allah dan RasulNya)” Dan
bertaqwalah kamu kepada Allah,karena sesungguhnya Allah maha mengetahui akan
segala (isi hati) yang ada di dalam dada.
CCXL.24: 51; Sesungguhnya perkataan yang di ucapkan oleh orang-orang yang beriman
ketika mereka di ajak kepada Kitab Allah dan Sunah RasulNya, supaya menjadi hakim
memutuskan sesuatu diantara mereka, hanyalah mereka berkata: ”Kami dengar dan kami
taat”: dan mereka itulah orang-orang yang beroleh kejayaan.
CCXLI. 4: 65; Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan
beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang
timbul di antara mereka, kemudian mereka tidakpun merasa di hati mereka sesuatu
keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu
dengan sepenuhnya.
CCXLII. 33: 36; Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan-Apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu
perkara –(tidak harus mereka)mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai
urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hokum Allah dan RasulNya maka
sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata.
3.Taqwa
syarah
CCXLIII. Iman yang benar dan membuahakan hasil berupa cirri-ciri keimanan yang
wujud di dalam tingkah laku seperti keyakinan, menyerah diri dan taat. Iman juga akan
wujud di dalam ibadah dan amal soleh yang kemudian akan mewujudkan taqwa. Taqwa
yang sebenar-benarnya adalah iadman setiap mukmin yang beribadah dan beramal.
Dengan taqwa maka akan menjadikan hidup mulia di sisi Allah dan akan mendapatkan
kebahagian di dunia dan di akhirat.
CCXLIV. Taqwa sebagai landasan hidup manusia. Dengan taqwa di dada dan di
setiap amal kita maka akan mewujudkan peribadi muslim. Taqwa adalah hasil ibadah dan
dengan ibadah menjadikan diri kita bertaqwa. Taqwa atau takut bermakna diri kita
senantiasa takut kepada Allah apabiala tidak mengerjakan perintah Allah dalam
kehidupan. Takut kepada Allah apabila tidak meninggalkan laranganNya. Dengan takut
maka setiap langkah kehidupan kita di jaga, dikawal dan dikendalikan oleh Islam. Taqwa
sebagai landasan dalam kehidupan kita.
CCXLV. Ibadah manusia yang di terima adalah ibadahnya orang yang bertaqwa.
Ibadah yang di dasarkan dengan taqwa juga tidak mendapatkan baladsan yang sempurna
dari Allah Swt. Taqwa merupakan ukuran/timbangan amal dan ibadah seseorang. Perkara
iini dapat di jelaskan dengan cerita Habil dan Qabil.
CCXLVI. Sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dibandingkan dengan bekal lainnya
seperti makan,minum,pakaian ,tempat tinggal maka bekal tawa lebih diutamakan

183
lagi.Semua bekal selain tawa dapat habis dan mungkin tidak dapat di dapati.Dengan
taqwa setiap mukmin dapat memenuhi keperluannya dengan baik. Orang bertaqwa
apabila tidak ada makan dan minum ia tetap bertahan an selalu menghadapi masalahnya
dengan tenang. Menerima taqdir dan kenyataan yang berlaku di dalam kehidupan kita
adlalah hasil taqwa.
CCXLVII. Allah juga menjadikan taqwa sebagai pakaian. Pakaian bermakna sesuatu
yang di pakai dan di gunakan. Maka taqwa juga bermaqna pakaian yang dilihat orang
lain dan yang menjadikan cirri dan wujud penampilan kita yang sebenarnya. Pakaian
taqwa sebagai sesuatu yang nampak dan senantiasa hadir di bersama kita, merupakan
penampilan pertama yang dilihat orang.Pakaian taqwa bukan pakaian yang bermakna
secara fisikal tetapi pakaian maknawi yang ibaratkan sebagai pakaian.
CCXLVIII. 3: 102; Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepad Allah
dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-sekali kamu kamu mati melainkan dalam
keadaan Islam.
CCXLIX. 5: 27; Dan bacakanlah (wahai Muhammad) kepad mereka kisah
(mengenai) dua orang anak Adam (Habil dan Qabil) yang berlaku dengan
sebenarnya,yaitu ketika mereka berdua mempersembahkan satu persembahan korban
(untuk mendampingkan diri kepada Allah). Lalu di terima korban salah satu diantaranya
(Habil), dan tidak diterima (korban) dari yang lain (Qabil), Berkata(Qabil):
”Sesungguhnya aku akan membunuhmu!”.(Habil) menjawab: ”Hanyasanya Allah
menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa;
CCL. 22: 37; Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan
sampai kepada Allah , tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlash yang
berdasarkan taqwa dari kamu. Demikianlah ia memudahkan binatang-binatang itu bagi
kamu supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat nikmat petunjukNya. Dan
sampaikanlah berita gembira (dengan balasan yang sebaik-baiknya) kepada orang-orang
yang berusaha supaya baik amalnya.
CCLI. 49: 13 Wahai umat manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari
lrlaki dan peremouan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku
puak, supaya kamu berkenal-kenalan(dan beramah mesra antara yang satu dengan yang
lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya
diantara kamu,(bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah maha
mengetahi , lagi maha mendalam pengetahuanNya (akan keandaan dan amalan kamu).
CCLII. 2: 97; Katakanlah (wahai Muhammad): ” Sesiapa memusuhi Jibril maka sebabnya
ialah karena Jibril itu menurunkan Al Qur’an ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang
mengesahkan kebenaran kitab-kitab yang ada di hadapannya (yang diturunkan
sebelumnya), serta menjadi petunjuk dan memberi kabar gembira bagi orang-orang yang
beriman”.
CCLIII. 7: 26; Wahai anak-anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan
kepada kamu(bahan-bahan untuk) pakaian menutup aurat kamu dan pakaian perhiasan;
dan pakaian yang berupa taqwa itulah yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah
dari tanda-tanda (limpah kurnia) Allah (dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya)
supaya mereka mengenangNya dan bersyukur.

4.Islamisasi kehidupan
Syarah
CCLIV. peribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan
menjadikan keseluruhan hidup sebagai muslim. Warna keIslaman pada diri muslim

184
dengan megamalkan sgala aspek dan bidang kehidupan merupakan perintah Allah agar
kita masuk kedalam Islam secara keseluruhan dan tidak setengah-setengah.
Dalil
CCLV.2: 208; wahai orang-orang yang beriman! Masukalah kamu ke dalam agama
Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya; dan janganlah kamu menurut jejak
langkah syetan; sesungguhnya syetan musuh bagi kamu yang terang nyata.
CCLVI. Wujud peribadi Islam yang sempurna.
Syarah
CCLVII. Sasaran dari pembentukan peribadi Islam dengan pendekatan iman adlah
mendekatkan peribadi Islam yang sempurna di segala aspek kehidupan. Peribadi Islam
yang sempurna bermaksud mengamalkan segala perintah dan meninggalkan segala
larangan dengan suasana takut kepada Allah Swt.
Ringkasan:
CCLVIII. Takwin kepribadian Islam: iman yaitu dinamika iman(5: 54; 49: 15);
yakin(2: 4; 49: 15); menyerah(4: 65),mendengar dan taat (2: 285; 5: 7; 24: 51); tidak
keberatan(4: 65); tidak ada pilihan lain(33: 36).
CCLIX. Taqwa yang sebenar-benarnya(3: 102): landasan hidup (5: 27); 22: 37);
sebagai ukuran/timbangan(49: 13,hadits); bekal tawa (2: 97); sebagai pakaian (7: 26)
CCLX.Islamisasi kehidupan (2: 208) sehingga wujud peribadi Islam yang sempurna.
K3.I’TISOM BI HABIBILLAH
Sasaran
CCLXI. Memahami bahwa dua kalimat syahadat merupakan tonggak yang kokoh
dalam melakukan pembentukan umat
CCLXII. Memahami bahwa dalam melakukan perubahan umat harus ada unsure-
unsur kesatuan yang membentuk kesatuan ibadah
CCLXIII. Memahami bahwa dalam pembentukan umat diperlukan satu bentuk
keteladanan dan reality dalam bentuk pribadi dan masyarakat.
Sinopsis
Meningkatkan diri kita kepada tali Allah adalah menjadikan diri kita beraqidah yang
benar. Ikhtisam bihabibillah ini sebagai satu dasar pembentukan ummat yang satu.
Mengikat diri kita kepada tali Allah melaui Laa ilaha illa-lLah dan Muhammad
Rasulullah.
Laa ilaha illa-lLah adaalah dasar tauhidullah yang bermakna kesatuan niat, kesatuan
akhlaq, kesatuan fikrah, kesatuan kalimat/bahasa, kesatuan ummat, kesatuan gerak.
Keseluruhan ini merupakan kesatuan pengabdian.
Manakala Muhammad Rasulullah adalah menjadikan rislah ini satu (tauhid risalah) yaitu
risalah Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad Saw, akhirnya wujud kesatuan uswah
kepada Nabi Muhammad Saw.
Hasiyah
A. Tali Allah
Syarah
1. Berpegang kepada tali Allah bermaksud memegang kepada aqidah Islam. Aqidah
Islam yang benar mendasarkan kepada kalimah syahadatain yaitu Laa ilaha illa-lLah dan
Muhammad rasulullah.Tali Allah atau aqidah Islamiyah yang di pegang oleh ummat
manusia telah membuktikan kejayaannya. Dengan berpegang kepada tali Allah, kita akan
menjadikan Allah sebagai tauhidul ibadah dan menjadikan Muhammad Saw sebagai
tauhid uswah. Dengan demikian berpegang kepada tali Allah akan wujud kesatuan yang

185
tidak menjadikan kita berpecah belah dan senantiasa menjalinkan hubungan ukhuwah
Islamiyah.
Dalil
CCLXIV. 3: 103; dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah(agama
Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu
ketika kamu bermusuh-musuhan(semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan
diantara hati kamu ( sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka
menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu
dahulu telah berada ditepi jurang neraka (di sebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah
Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat
petunjuk hidayahNya. 3: 103; dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali
Allah(agama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah
kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan(semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah
menyatukan diantara hati kamu ( sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam),
maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan
kamu dahulu telah berada ditepi jurang neraka (di sebabkan nikmat Islam juga).
Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu
mendapat petunjuk hidayahNya.
A. Laa ilaha illa-lLah
Syarah
CCLXV. Peribadi sahabat-sahabat nabi yang terkena dengan da’wah nabi yaitu
da’wah mengajak keimanan dengan seruan Laa ilaha illa-lLah maka akan menghasilkan
peribadi-peribadi yang unggul Tarbiyah Islamiyah yang mendekatkan manusia kepada
Allah akan menjadikan kita beriman kepada satu Allah, merujuk kepada satu rujukan,
beramal dengan satu komando, beribadah dengan satu tuntutan dan akhirnya juga akan
membentuk satu ummat.
CCLXVI. Laa ilaha illa-lLah adalah dasar tauhidullah yang bermakna kepada
kesatuan niat, kesatuan akhlak ,kesatuan fikrah, kesatuan kalimah/bahasa, kesatuan
ummat dan kesatuan gerak.
CCLXVII. Dengan menjadikan Allah sebagai ilah sembahan,abdian,ikutan,yang
dicenderungi, yang dijadikan panduan dan yang di rujuk maka kesatuan niat dari setiap
individu akan rujuk. Niat satu akan menghasilkan amal dan pelaksanaan yang juga satu.
Niat ikhlas adalah pemersatu setiap amala kita.
CCLXVIII. Aqidah mesti satu karena inilah yang di jadikan buhul persatuan. Tanpa
aqidah yang satu ukhuwah dan persatuan tidak akan wujud. Aqidah yang mengandungi
prinsip Islam dan dasar-dasar yang perlu diamalkan oleh muslim mestilah satu dan tidak
berbeda. Perbedaan aqidah akan membedakan kita di dalam Islam.
CCLXIX. Kesatuan fikrah yang dipentingkan disini adalah fikrah-fikrah asas dan
prinsip. Manakala fikrah yang bersifat operassioanal dan yang dipengaruhi oleh uslub
mungkin akan berbeda tetapi kita perlu memahami bagi keperluan taawun dan amal
jama’i. Fikrah yang dilandasi aqidah yang bersih biasanya akan mewujudkan fikrah yang
sehat dan bersih. Melalui fikrah yang sehat ini akan menyehatkan fikrah ummat dan
masyarakat.
CCLXX. Satu sebutan, satu kalimah dan satu bahasa. Tauhidul kalimah juga berarti
satu matlamat, satu misi dan visi. Kesatuan kalimah di perlukan bagi munculnya
kesatuan ummat dan harakah.
CCLXXI. Ummat yang satu kemudian muncul dengan kesatuan-kesatuan di atas.
Ummat yang bersatu dengan dasar kesatuan niat, aqidah ,fikrah dan kalimah. Ummat

186
satu berdasarkan kesatuan aqidah bukan berdasarkan masalah cabang/furu. Dengan fikrah
demikian kesatuan ummat di dunia ini akan dapat tercapai dan boleh mencapai kejayaan
di masa hadapan. Ummat tidak akan bersatu apabila kita tidak menjadikan asas aqidah
sebagai alat pemersatu.
CCLXXII. Kesatuan harakah wujud dari kesatuan ummat. Ummat dengan berbagai
harakah yang mempunyai beberapa kaidah dan minhaj mungkin bersatu dengan isu
aqidah dan kesamaan matlamat yaitu menegakkan Islam. Harakah mungkin muncul di
dalam Islam secara berbagai tetapi bagaimanapun Islam akan menumpukkan kepda
aqidah. Harakah yang berdasarkan aqidah Islam akan mudah di satukan sebagai kekuatan
ummat.
Dalil
CCLXXIII. 98: 5; Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah
Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan
supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah
agama yang benar.
CCLXXIV. 39: 11,14; Katakanlah lagi (Wahai Muhammad): “ Sesungguhnya aku
diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat
kepadaNya; Katakanlah lagi: “ Allah jualah yang aku sembah dengan mengikhlaskan
amalan agamaku kepadaNya.
CCLXXV. 2: 163; Dan Tuhan kamu ialah Tuhan yang maha esa ; Tiada Tuhan (yang
berhak di sembh) selain dari Allah , yang maha pemurah lagi maha mengasihani.
CCLXXVI. 112: 1; Katakanlah (wahai Muhammad): ”(Tuhanku) ialah Allah yang
maha esa”.
CCLXXVII. 6: 153; Dan bahwa sesungguhnya inilah jalanKu (agama Islam) yang betul
lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-
jalan (yang lain dari Islam), karena jalan-jalan (yang lain itu) mencerai beraikan kamu
dari jalan Allah, Dengan yang emikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu
bertaqwa.
CCLXXVIII. 2: 142; Orang-orang yang bodoh (yang kurang akal pertimbangannya)
akan berkata: “Apa sebabnya yang menjadikan orang-orang Islam berpaling dari kiblat
yang mereka mengadapnya selama iini?” Katakanlah (Wahai Muhammad): ”Timur dan
barat adalah kepunyaan Allah-(maka kepihak mana saja kita di arahkan Allah
mengadapnya, wajiblah kita memaatuhiNya); Allah yang memberikan petunjuk
hidayahNya kepada sesiapa yang di kehendakiNya kejalan yang lurus”.
CCLXXIX. 21: 90; Maka Kami perkenankan doanya, dan Kami kurniakan kepadanya
(anaknya) Yahya, dan Kami perelokkan istrinya yang mandul, (untuk melahirkan anak)
baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada rasul-rasul itu ialah karena)
sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan, Dan
senantiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harapan serta gerun takut; dan mereka
senantiasa pula senantiasa khusuk(dan taat) kepada Kami.
CCLXXX. 22: 78; Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sbenar-
benarnya Dialah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan agamanya); dan Ia
tidak menjadikan kamu menaggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara
agama, agama bapa kamu Ibrohim. Ia menamakan kamu: ”orang-orang Islam” semenjak
dahulu dan di dalam Al Qur’an ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang
menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-
orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang
salah). Oleh itu, dirikanlah sembahyang, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah

187
kamu kepada Allah! Dialah pelindung kamu. Maka (Allah yang demikian sifatNya)
Dialah saja sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pemberi pertolongan.
CCLXXXI. 3: 32; Katakanlah (wahai Muhammad): ” Taatlah kamu kepada Allah dan
RasulNya. Oleh itu, jika kamu berpaling (mendurhaka), maka sesungguhnya Allah tidak
suka kepada orang-orang yang kafir.
A. Kesatuan pengabdian
Syarah
CCLXXXII. Dengan memahami aqidah yang betul, khususnya memahami makna Laa
ilaha illa-lLah akan membentuk kesatuan pengabdian. Kita sama mengabdi kepada Allah.
Hanya kepada Allah saja kita merujuk dan mengabdikan segala urusan, maka Allah akan
menyatukan hati manusia. Apabila kita tidak mengembalikan urusan ini kepada Allah
tetapi kepada yang lainnya misalnya wala kepada keduniaan, pekerjaan, keluarga dan
sebagainya maka akan menjejaskan persatuan ini. Apabila senantiasa mengembalukan
kepada Allah maka Allah Swt akan menyatukan hati kita dan juga akan menyatukan
pengabdian kita.
CCLXXXIII. Aqidah yang sehat yang dianut oleh setiap muslim membuahkan kesatuan
pada setiap fikrah, amal dan harakahnya. Aqidah yang di jadikan rujukan dapat
menyatukan ummat. Dengan aqidah pula maka kita akan mengabdi kepada Allah yang
satu dan kepada bentuk pengabdian yang sama.
Dalil
CCLXXXIV. 39: 64-65; Katakanlah (wahai Muhammad, kepada orang-orang musyrik
itu: ” Sesudah jelas dalil-dalil keesaan Allah yang demikian), patutkah kamu
menyuruhku menyembah atau memuja yang lain dari Allah, hai orang-orang yang jahil?”
Dan sesungguhnya telah di wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada nabi-
nabi yang terdahulu daripadamu: ”Demi sesungguhnya! Jika engkau (dan pengikut-
pengikutmu) mempersekutukan (sesuatu yang lain dengan Allah) tentulah akan gugur
amalmu, dan engkau akan tetap menjadi dari orang-orang yang rugi.
4.. Muhammad Rasulullah
Syarah
CCLXXXV. Muhammada rasulullah sebagai uswah. Bagaimana kita beribadah
menyembah Allah maka Muhammad rasulullah sebagai model dan contohnya.
Mentafsirkan perintah Allah hanya melalui Nabi, tanpa nabi maka tidak akan
mendapatkan tafsir yang sebenarnya. Bagaimana berimanpun mesti mengikuti bagaimana
Muhammad rasulullah beriman dan kita mengikuti cara-cara yang ditunjukkannya. Al
Qur’an yang berjalan adalah Muhammad rasulullah, sehingga tidak ada jalan lain
sehingga kita mengikatkan diri kepada Allah atau mencintaiNya mesti juga mengikat diri
kepada Muhammad rasulullah.
CCLXXXVI. Muhammad rasulullah sebagai pembawa risalah yang satu yaitu Islam.
Tauhid risalah yang dibawa nabi adalah juga pemersatu manusia beragama semenjak
Nabi Adam AS. Tauhid risalah yang dibawa oleh Muhammad rasulullah adalah tali
pemersatu dikalangan harakah. Islam dengan minhaj yang dibawa Muhammad rasulullah
perlu di jadikan contoh.
Dalil
CCLXXXVII. 2: 143; Dan demikianlah (sebagaiman Kami telah memimpin kamu ke
jalan yang lurus), Kami jadikan kamu (wahai Muhammad) satu umat yang pilihan lagi
adil, supaya kamu layak menjadi orang yang memberi keterangan kepada umat manusia
(tentang yang benar dan yang salah) dan Rasulullah (Muhammad) pula akan menjadi
orang yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu. (Sebenarnya kiblat kamu ialah

188
ka’bah) dan tiadalah Kami jadikan kiblat yang engkau mengadapnya dahulu itu (wahai
Muhammad), meliankan untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kami tentang
siapakah yang benar-benar mengikut Rasul serta membenarkannya dan siapa pula yang
berpaling tadah (berbalik kepada kekufurannya) dan sesungguhnya)(soal peralihan arah
kiblat) itu adlah amat berat (untuk di terima )kecuali kepada orang-orang yang telah di
berikan Allahpetunjuk hidayah dan Allah tidak akan menghilangkan (bukti) iman kamu.
Sesungguhnya Allah amat melimpah belas kasihan dan rahmatNya kepada orang-orang
(yang beriman)
CCLXXXVIII. 33: 45-47; Wahai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai
saksi (terhadap umatmu), dan pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang
beriman) serta memberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar). Dan juga sebagai
penyeru (umat manusia seluruhnya) kepada Allah dengan taufiq yang di beriNya; dan
sebagai lampu yang menerangi. Dan (dengan itu) sampaikanlah berita yang
menggembirakan kepada orang-orang yang beriman , bahwa sesungguhnya mereka akan
beroleh limpah kurnia yang besar dari Allah.
CCLXXXIX. 34: 28; Dan tiadalah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan
untuk umat manusia seluruhnya, sebagai Rasul pembawa berita gembira (kepada orang-
orang yang beriman), dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar); akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu).
CCXC.21: 107; Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad), melainkan
untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Kesatuan uswah
Syarah
CCXCI. Muhammad rasulullah membawa suatu minhaj yang sifatnya wajib dan di
sunnahkan dilaksanakan oleh kita manusia, tetapi ada juga yang dilaksanakan atau
melekat pada dirinya sesuatu yang bersifat wasail atau fasilitas. Uswah kepada nabi lebih
kepada minhaj bukan kepada wasail. Bagaimana nabi menggunakan unta/kuda, alat
persenjataan yang digunakan nabi dan sebagainya adalah wasail yang tidak perlu diikuti,
tetapi bagaimana sembahyang dan sebagainya perlu dan wajib diikuti. Allah menurunkan
minhaj bukan wasail. Wasail hanya di suruh Allah untuk kita fikirkan dan cari
pengembangannya dengan menggunakan alam semesta dan ciptaan Allah. Sedangkan
minhaj hayah yang dijadikan panduan iini perlu dan wajib diikuti kalau tidak diikuti akan
mencapai kesesatan dan kerugian.
Dalil
CCXCII. 33: 21; Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu
contoh ikutan yang baik,yaitu bagi orang yang senantiasa mengharapkan (keridhaan )
Allahdan (balasan baik) hari akhirat, serta ia pula menyebut dan mengingati Allah
banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)
Ringkasan:
CCXCIII. Tali Allah: Laa ilaha illa-lLah adalah dasar tauhidullah yang bermakna
kesatuan niat (98: 5; 39: 11,14;); kesatuan akhlak (2: 163; 112: 1); kesatuan fikrah(6:
153); kesatuan kalimat/bahasa(2: 142); kesatuan ummat(21: 90; 22: 78); kesatuan gerk
(3: 32), keseluruhanya merupakan kesatuan pengabdian (39: 64-65)
CCXCIV. Muhammad rasulullah (2: 143; 33: 45-47); tauhid risalah (934: 28; 21:
107); kesatuan uswah (33: 21).
K4. AL INQILAB AL ISLAMI
Sasaran

189
CCXCV. Memahami bahwa inti dari perubahan menyeluruh yang hendak di
wujudkan Islam adalah dua kalimat syahadat.
CCXCVI. Dapat menyebutkan perubahan-perubahan yang ditumbuhkan oleh
syahadatain beserta marhalah-marhalahnya.
CCXCVII. Memahami bahwa keseluruhan Islam hanya akan dapat diwujudkan
melaui konsep perubahan diatas.
Sinopsis
Laa ilaha illalLah Muhammadurrasulullah membawa makna kepada inqilab Islami.
Contoh dan bukti ini dapat dilihat dari perjalanan nabi Muhammad Saw. Sahabat nabi
yang telah menerima syahadatain akan merubah dirinya menjadi Islam dan bahkan
merubah cara atau gaya kehidupannya secara keseluruhan mengikuti Islam. Perubahan
ini di sebut dengan inqilab Islam. Inqilab Islam yaitu perubahan total yang dilaksanakan
dalam berbagai bidang misalnya bidang aqidah,ruh/kejiwaan, fikrah/pemikiran,
syuur/perasaan/selera,tingkah laku, tsaqafah/pengetahuan, masyarakat.
Semua perubahan ini akan membawa pada perubahan yang menyeluruh kedalam gerakan
untuk menuju kepada Islam yang kaafah.
Hasiyah
CCXCVIII. Laa ilaha illallah
Syarah
A. Laa ilaha illallah Muhamadurrasulullah sebagai dasar perubahan peribadi dan
ummat. Kalimat ini mempunyai makana yang revolusioner yaitu perubahan yang
menyeluruh dan mendasar. Walaupun demikian perubahan yang di kehendaki Islam
adalah perubahan yang bertahap dan mengikuti fitrah Islam dan fitrah manusia yang
dilengkapi dengan kesadaran Islam yang sempurna. Kalimah syahadat sebagai kalimat
perubahan dapat dibuktikan oleh banyak sahabat nabi yang baru menerima Islam melaui
syahadat terus berubah dan mempunyai azam untuk dan mengamalkan Islam. Laa ilaha
illalLaah Muhammadurrasulullah telah terbukti memiliki makna yang sangat besar
sehingga nabi Muhammad Saw memberikan tumpuan kepada kepentingan syahadat di
dalam dasar Islam, sebagai pintu gerbang, syahadat akan membawa kebahagiaan dunia
dan akhirat, syahadat akan menjauhkan diri dari neraaka dan keutamaan lainnya.
Kepentingan syahadat yang besar ini sangat sesuai dengan arti dan makna syahadat yang
juga besar. Hanya kepada Allah saja kita menjadikan ilah dan hanya kepada Muhammad
sebagai model.Pengertian ilah dan rasul yang kemudian diteruskan dengan pengakuan
kepada kalimah Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah menjadikan perubahan-
perubahan peribadi. Dari syahadat Laa ilaha illallah ini di dapati banyak aplikasi dan
implikasi kedalam kehidupan yaitu perubahan total dan mengikuti Islam secara
keseluruhan.
Dalil
B. Rujuk kepada bahan-bahan A (Makna syahadatain)
CCXCIX. Inqilab Islami
Syarah
A. Dengan syahadat atau pengamalan Laa ilaha illallah Muhammadurrasululah akan
bermakna inqilab Islami. Inqilab Islami yaitu perubaha secara total di dalam berbagai
bidang misalnya bidang aqidah, ruh/kejiwaan, fikrah/pemikiran, syuur/perasaan/selera,
tingkah laku, tsaqafah/pengetahuan, masyarakat,politik dan ekonomi.
B. Perubahan yang menyeluruh dan total adalah buah dari syahadat dengan
memahami secara benar Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah. Kafir qurais dan
pemuka-pemuka jahiliyah mengenal pasti arti implikasi Laa ilaha illallah

190
Muhammadurrasulullah, sehingga mereka boleh membuat ramalan-ramalan keatas
pengikut dan pembawa kalimat Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah. Mereka
meramalkan bahwa Islam akan menguasai dunia , Islam dimusuhi oleh para raja dan
sebagainya.
C. Kalimah Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah yang dipahami oleh muslim
menjadi ruh dan inspirasi menggerakkan amal dan ibadah. Dengan syahadat pula kita
dapat merubah peribadi-peribadi ke segala aspek kehidupan. Islam yang membawa
panduan kehidupan secara keseluruhan akan mudah di simpulkan di dalam kalimah Laa
ilaha illallah Muhammadurrasulullah. Dengan faham dan amalkan kalimah syahadat akan
didapati perubahan-perubahan pada individu.
Dalil
CCC. Siroh nabawiyah
CCCI. Islam yang kaafah
Syarah
CCCII.Perubahan Islam melalui pemahaman dan amalan syahadat akan membawa
manusia kedalam perubahan yang menyeluruh di dalam seluruh kehidupan. Inqilab Islam
akan membawa pada perubahan menyeluruh dalam gerakan menuju pada Islam yang
kaafah. Islam kaafah seperti yang di kehendaki oleh Allah Swt. Memasuki Islam secara
menyeluruh berarti siap berhadapan dengan langkah syetan. Langkah syetan yang
sistematik dengan hizbnya senantiasa membawa kepada kejahiliyaan dan menjauhkan
diri dari Islam kaafah. Islam kaafah berarti menerima semua aturan Islam dan
mengamalkan Islam ke dalam kehidupannya.
Dalil
CCCIII. 2: 208; wahai orang-orang yang beriman! Masukalah kamu ke dalam
agama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya; dan janganlah kamu menurut
jejak langkah syetan; sesungguhnya syetan musuh bagi kamu yang terang nyata.
Ringkasan
A. Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah membawa makna inqilab Islami yaitu
perubaha secara total di dalam berbagai bidang misalnya bidang aqidah, ruh/kejiwaan,
fikrah/pemikiran, syuur/perasaan/selera, tingkah laku, tsaqafah/pengetahuan,
masyarakat.Semuanya membawa pada perubahan menyeluruh dalam gerakan menuju
pada Islam yang kaafah(2: 208).

K5. TAKLIFUL QULUB


Sasaran
B. Memahami bahwa ta’liful qulub beserta factor-fakror pendukungnya yang
mengokohkan kondisi umat
C. Memahami bahwa ikatan hati dalam jalan Allah akan melahirkan kenikmatan dari
Allah
D. Dapat menyebutkan contoh-contoh kelekatan hati dikalangan salafus sholeh
teritama dalam jihad fi sabilillah.
Sinopsis
Ummat Islam perlu diikat dengan aqidah. Ikatan aqidah akan berjaya apabila ikatan
keatas hati ummat. Aqidah yang bertengger keatas hati yang bersih dan salim. Kesatuan
hati ini bermakna bertemu dengan landasan cinta, berjumpa dalam rangka taat, asaling
bersatu untuk da’wah dan saling berjanji untuk jihad.
Semua cirri ikatan hati ini adalah cirri untuk mengukukuhkan ikatan hati. Dengan ikatan
hati ini maka senantiasa berada dalam harapan, selalu di berikan cinta, di berikan

191
bimbingan jalan-jalan keselamatan, dipenuhi cahaya, dilapangkan dada, di bangkitkan
dengan makrifatullah, dan di wafatkan dalam keadaaan syahid. Pemberian ini semuanya
merupakan kurnia Allah.
Bahan takliful qulub ini merupakan bahan yang diambil dari inti sari do’a rabithah yang
di susun oleh imam syahid Hasan Al Banna.
Hasiyah
CCCIV. Kesatuan Hati
Syarah
A. Takliful qulub berarti kesatuan hati. Peribadi-peribadi muslim menjadikan
kesatuan hati sebagai kekuatan ukhuwah dan kekuatan Islam. Da’wah dan jamaah bersatu
berdasarkan peribadi-peribadi yang hatinya bersatu. Kesatuan hati manusia adalah urusan
Allah karena hanya dengan autoritas dan kehendakNya saja hati manusia bersatu.
B. Da’wah Islam yang dibawa oleh para aktivis dan da’i di ikat dengan kesatuan
hati. Aktivis da’wah di dalam menjalankan da’wahnya mesti menjadikan pertemuannya
berdasarkan dengan landasan cinta. Mereka berjumpa dalam rangka taat kepada Allah,
saling bersatu untuk menjalankan da’wah dan saling berjanji untuk menjalankan jihad.
C. Ikatan hati tidak mungkin tercapai apabila tidak diiringi dengan amal dan da’wah.
Beramal, berda’wah dan jihad adalah media untuk bersatunya hati. Fizikal dan jasad
boleh bersatu tetapi tidak menjamin kekuatan apabila tidak di kaitkan dengan ikatan hati.
D. Cinta kepada Allah adalah dasar ikatan karena sama-sama mencintai Allah maka
Allah Swt akan meyatukan hati manusia. Kesamaan mencintai Allah berarti kita bersedia
menerima Islam berarti pula kesatuan hati akan mudah terpaut menjadi satu. Tanpa cinta
maka tidak ada tempat bermuara yang kemudian akan meyulitkan ikatan dan kesatuan.
E. Setelah mencintai dan sama-sama cinta maka kita bersma di dalam taat. Taat
kepada Allah Swt sebagai kunci wujudnya ikatan hati yang di kehendaki. Allah Swt
berfirman bahwa setelah islah maka taat kepada Allah adalah cara yang sesuai untuk
menggerakkan hidayahikhwana(persaudaraan) sampai kepada kita.
F. Da’wah dan jihad adalah implikasi cinta kepda Allah. Dengan da’wah dan jihad ,
ikatan hati semakin di perkuat karena bentuk tafahum, taawun dan takaful akan di capai
dan lebih di rasakan bagi semua aktivis. Tanpa da’wah dan jihad akan susah berlakunya
persatuan. Tidak ada media pemersatu sehingga akan menghasilkan pertembungan di
kalangan sendiri.
Dalil
1. 2: 165;(Walaupun demikian), ada juga dari manusia yang mengambil selain
Allah(untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan
mentaatinya) sebagai mana mereka mencintai Allah; sedangkan orang-orang yang
beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan
kezaliman (syirik) itu mengeteahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat, bahwa
sesunggunya dan kekuasaanitu semuanya tertentu bagi Allah , dan bahwa sesungguhnya
Allah maha berat azab dan siksaNya,(Niscaya mereka tidak melakukan kezliman itu)
CCCV.
CCCVI. 3: 32; Katakanlah(wahai Muhammad) “Taatlah kamu kepada Allah dan
RasulNya.Oleh itu,jika kamu berpaling (mendurhaka), maka sesungguhnya Allah tidak
suka kepada orang-orang yang kafir.
CCCVII. 41: 33; Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
menyeru kepada(mengesakan dan mematuhi perintah) Allah , serta ia sendiri yang
mengerjakan amal sholeh ,sambil berkata: ”Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang
Islam (yang berserah bulat-bulat kepad Allah)!”

192
CCCVIII. hadits
CCCIX. 5: 7; Dan kenanglah nikmat Allah (yang telah di kurniakanNya) kepada
kamu serta ingatlah perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu
berkata: ”kami dengar dan kami taat (akan perintah-perintah Allah dan RasulNya)” Dan
bertaqwalah kamu kepada Allah,karena sesungguhnya Allah maha mengetahui akan
segala (isi hati) yang ada di dalam dada.
CCCX.29: 2,6,69; Patutkan manusia menyangka bahwa mereka akan di biarkan dengan
hanya berkata: “kami beriman” , sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)?
Dan sesiapa yang berjuang (menegakkan Islam) maka sesungguhnya dia hanyalah
berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri; sesungguhnya Allah maha kaya (tidak
berhajatkan sesuatupun) daripada sekalian mahluk.Dan orang-orang yang berusaha
dengan sungguh-sungguh karena hendak memenuhi kehendak agama kami,
sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan kami (yang menjadikan
mereka gembira dan beroleh keridhaan) ; dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan )
Allah adalah beserta orang-orang yang berusaha membaiki amalanya.
CCCXI. Mengukuhkan ikatan hati
Syarah
CCCXII. Ikatan hati yang dilandasi cinta dan taat kemudian di implikasikan kepada
da’wah dan jihad akan menghasilkan ikatan hati yang kukuh. Sehingga, ikatan yang
kukuh ini akan membuahkan hasil berupa harapan-harapan.
CCCXIII. Harapan-harapan yang kita kehendaki dari ikatan hati di dalam da’wah
dan jihad ini adalah agar selalu di berikan cinta , di berikan bimbingan jalan-jalan
keselmatan, dipenuhi oleh cahaya, di lapangkan dada, di bangkitkan dengan
makrifatullah dan kemudian diakhiri dengan harapan di wafatkan dalam keadaan syahid.
Dalil
1. 5: 54; 5: 54; Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa diantara kamu berpaling
tadah dari agamanya(jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang ia
kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orangg kafir,
mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut
pada celaan yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia yang diberiaknNya
kepada sesiapa yang di kehendakiNya ; karena Allah maha luas limpahan kurniaNya, lagi
meliputi pengetahuanNya.
CCCXIV. 5: 16; Dengan Al qur’an itu Allah menunjukkan jalan-jalan keselamatan
serta kesejahteraan kepada sesiapa yang mengikut keridhaanya,dan dengannya Tuhan
keluarkan mereka dari gelap gulita kifur kepada cahaya iman yang terang benderang ,
dengan izinnya dan dengannya juga Tuhan menunjukkan mereka kejalan yang lurus.
CCCXV. 29: 69; dan orng-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena
hendak memenuhi kehendak agama kami ,sesungguhnya kami akan memimpin mereka
ke jalanjalan kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan dan
sesungguhnya pertolongan dan bantuan Allah adaalh beserta orang-orang yang berusaha
membaiki amalannya.
CCCXVI. 2: 257; Allah pelindung yang mengawal dan menolong orang-orang yang
beriman.ia mengeluarkan mereka dari kegelapan kufur kepada cahaya iman dan orang-
orang kafir penoong-penolong mereka adalah taghut yang mengeluarkan mereka dari
cahaya iman kepada kegelapan kufur mereka ituklah ahli neraka mereka kekal di dalam
nya.

193
CCCXVII. 24: 35-37; Allah yang menerangi langit dan bumi . bandingkan nur
hidayah petunjuk Allah kitab suci Al Qur’an adalah sebgai sebuah misykaat yang berisi
sebuah lampu almpu itu dalam geluk kaca qandil ,geluk kaca itu pula jernih terang
laksana bintangyang bersianar cemerlang; lampu itu dinyalakan dari pokok yang banyak
manfaatnya ,yaitu pokok zaitun yangbukansaja di sinari matahaarihampir-hampir minyak
itu –dengan sendiri-memancarkan cahaya bersinar karena jernihnya walaupun ia tidak
disentuh api ; sinaran nur hidayah yang demikian adalah bandingannya adlah sinaran
yang berganda-ganda: cahaya berlapis cahaya.. Allah memimpin siapa yang di
kehendakinya (menurut undang-undang dan peraturanya kepada nur hidayahnya itu
CCCXVIII. 6: 125; Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memeberi hidayah
petunjuk kepdanya niscaya ia melapangkan dadanya(membuka hatinya) untuk menerima
Islam; dan sesiapa yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, niscaya ia menjadikan
dadanya sesak sempitsesempit-sempitnya, seolah-olah ia sedang mendaki naik
kelangit(dengan susah payahnya) demikianlah Allha menimpakan azab kepda orang-
orang yang tidak beriman.
CCCXIX. 6: 122; Dan adkah orang yang mati (hatinya dengan kufur), kemudian
kami hidupkan dia semula (dengan hidayah petunjuk), dan Kami jadikan baginya cahaya
(iman) yang menerangi (sehingga dapatlah ia membedakan antara yang benar dengan
yang salah,dan dapatlah)ia berjalan dengan seluruh cahaya itu dalam masyarakat
manusia,(adakah orang yang demikian keadaannya) sama seperti yang tinggaltetap di
dalam gelap gelita (kufur),yang tidak dapat keluar sama sekalidaripadanya?
CCCXX. 42: 52-53;Dan demikianlah kami wahyukan kepada Muhammad Al
Qur’an sebagai ruh yang menghidupkan hati perintah kami ; engkau tidak pernah
mengetahui apakah iman itu ;akan tetapi kami jadikan AlQur’an cahaya yang
menerangi ,kami beri petunjuk dengan sesiapa yang kami kehendaki di antara hamba-
hamba kami .dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah memberi petunjuk
dengan Al Qur’an itu ke jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai
segala yang ada di langit dan di bumi.Ingatlah! kepada Allah jualah kembali segala
urusan.
CCCXXI. 3: 154; Kemudian sesudah (kamu mengalami kejadian) yang
mendukacitakan itu, Allah menurunkan kepada kamu perasaan aman tentram, yaitu rasa
mengantuk yang meliputi segolongan dari kamu(yang teguh imannya lagi
ikhlash),sedang segolongan yang lain yang hanya mementingkan diri sendiri, menyangka
terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar,seperti sangkaan orang –orang
jahiliyah. Mereka berkata: Adakah bagi kita sesuatu bahagian dari pertolongan
kemenagan yang di janjikan itu?” Katakalah(wahai Muhammad): ”sesungguhnya
(perkara (yang telah di janjikan) itu semuanya tertentu bagi Allah,(Dialah saja yang
berkuasa melakukannya menurut peraturan yang di tetapkanNYa)”.Mereka sembunyikan
dalam hati mereka apa yang mereka tidak nyatakan kepadamu.mereka berkata(sesama
sendiri)”kalaulah ada sebahagian sedikit dari kita pertolongan kemenagan yang di
janjikan itu, tentulah(orang-orang )kita tidak terbunuh di tempat ini?: ”katakanlah (wahai
Muhammad)”kalau kamu berada di rumahkamu sekalipun niscaya keluarlahjuga orng –
orang yang telah di taqdirkan(oleh Allah)akan terbunuh itu ke tempat mati masing –
masing”.dan(yang berlaku di medan perang uhud itu) di jadikan oeleh Allah apa yang
ada dalam dada kamu ,dan untuk membersihkan apa yang ada di dalam hati kamu. Dan
(ingatlah), Allah senantiasa mengetahui akan segala(isi hati) yang ada di dalam dada.
CCCXXII. 3: 169-170; Dan janganlha sekali-kali enkau engkau menyangka orang-
orang yang terbunuh (yang gugur syahid) pada jalan Allah itu mati,(mereka tidak mati)

194
bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa)di sisi Tuhan mereka dengan mendapat
rezeki;(Dan juga) mereka bersuka cita dengan kurnia Allah(Sbalasan mati syahid) yang
telah di limpahkan kepda mereka , dan mereka gembira dengan berita baik mengenai
(saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang ), yang masih tinggal di
belakang, yang belum (mati dan belum) sampai kepada mereka,(yaitu) bahwa tidak ada
kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka
pula tidak akan berduka cita
CCCXXIII. Keseluruhanya merupakan kurnia dari Allah.
Syarah
I. Keseluruhan harapan ini hayna Allah saja yang dapat mengabulkannya. Kurnia
Allah berupa cinta, di berinya jalan keselamatan, cahaya Islam dan mati syahid adalah
balasan bagi yang berda’wah dan berjihad. Tidak berjihad, kita tidak mendapatkan mati
syahid, tidak berda’wah maka kita tidak dapat mengukur sejauh manakah peranan
musuh-musuh Islam. Harapan dan balasan apapunjuga hanya didapati oleh muslim yang
bersatu hatinya dan berda’wah.
Ringkasan:
II. Kesatuan hati: bertemu dengan landasan cinta (2: 165); berjumpa dalam rangka
taat (3: 32); saling bersatu untuk da’wah (41: 33); saling berjanji untuk berjihad (hadits;
5: 7; 29: 2;,6,69).
III. Semuanya ini untuk mengukuhkan ikata hati sehingga senantiasa dalam harapan:
selalu di berikan cinta (5: 54; hadits); di berikan bimbingan jalan-jalan keselamatan (5:
16; 29: 69); di penuhi cahaya (2: 257; 24: 35-37); di lapangkan dada (6: 125); di
bangkitkan dengan makrifatullah (6: 122; 42: 52-53); di wafatkan dalam keadaan syahid
(3: 154; 3: 169-170). Keseluruhannya merupakan kurnia dari Allah.
K.6 ASABABU TAFRIQAH WA ‘ILAJUHA
Sasaran:
I. Memahami sebab utama yang dapat menimbulkan perpecahan di kalangan umat
dan akibat-akibatnya
II. Dapat menyebutkan contoh-contoh bentuk perpecahan umat di masa lalu ataupun
mas kini.
III. Memahami dan menyadari sebab utama cara untuk menyatukan umat dan
terdorong untuk merealisasikan.
Sinopsis
Kita selain memahami bagaimana cara dan usaha untuk membentuk umat juga di
perlukan pemahaman apa sebab munculnya perpecahan dikalangan ummat. Sebab-sebab
perpecahan tersebut dapat di gambarkan dalam proses perpecahan yang di mulai oleh
melanggar perjanjian, kemudian mendapatka laknat dari Allah, kesal hatinya,
mempermainkan minhaj, melupakan konsepsi, berkhianat; tumbuh kebencian satu
dengan yang lain dan saling bermusuhan sehingga terjadi perpecahan.
Proses ilajnya (perubahan) adalah dengan cara menepatiperjanjian sehingga memperoleh
rahmah (kasih saying) Allah, komitmen dengan minhajnya, senantiasa ingat minhaj,
sikap amanah, menumbuhkan saling kasih saying dan terjalin berkelindan ( mendarah
daging) dan akhirnya timbullah kesatuan.
Hasyah
I. Sebab-sebab perpecahan dan ilajnya
Syarah
A. Kelemahan yang paling besar yang senantiasa menjejaskan kekuatan Islam adalah
perpecahan di kalangan umat. Perpecahan ini benyak sebab selain factor dalaman (dari

195
kaum munafik, sebahagian kaum fasik) juga factor luaran seperti kafir dari musyrikin
dan ahli kitab. Musuh-musuh Islam adlah mereka yang menentang Islam sama ada dari
dalaman atau dari luaran Islam. Musuh-musuh Islam secara hakikatnya mereka di
ciptakan oleh Allah mengikut fitrah dan mengikut sunatullah yang Allah telah tentukan,
namun demikian musuh Islam telah melanggar janji dengan tidak mengakui fitrah yang
ada pada dirinya dan juga tidak mengamalkan janjinya kepada Allah ketika menyatakan
Allah sebagai Rab di masa manusia di dalam rahim ibunya.
B. Perpecahan di sebabkan juga oleh karena orng-orang fasik yaitu orang-orang
yang merombak (mencabuli) perjanjian Allah sesudah di perteguhkanya, dan
memutuskan perkara yang di suruh Allah supaya di perhubungkan, dan mereka pula
membuat kerusakan dan bencana di muka bumi.
Dalil
II. 22: 26-27; yaitu orang yang melanggar janji Allah (perintahNya) setelah tegunya
dan mereka itu memutuskan silaturrahmi yang di suruh Allah memperhubungkannya,
lagi mereka berbuat bencana di muka bumi. Mereka itulah orang yang merugi..
III. Proses dan sebab terjadinya tafriqah
Syarah
IV. Proses dan sebab terjadinya tafriqah diawali oleh individu yang melanggar
perjanjian dengan Allah. Keengkaran dan kerusakan yang dilakukan sebagai bentuk
penolakan kepada hokum dan nilai-nilai Allah adalah satu bentuk melanggar perjanjian
dengan Allah. Manusia secara umumnya pun dapat di sebut melanggar janji dengan
Allah karena tidak mengikuti fitrah dan kecenderungan dirinya sebagai manusia yang
Allah ciptakan.Selain itu bagi muslim yang sudah berjanji mengucapkan syahadat dengan
sikap menjadikan Allah sebagai ilah dan juga menjadikan Muhammad sebagai rasul
tetapi kemudian tidak menepatinya misalnya tidak mengikuti arahan, tidak mengerjakan
ibadah, tidak beramal sholeh maka ini sebagai tanda munculnya pelanggaran. Muslim
mestinya menepati janji untuk menjadikan Allah sebagai ilah satu-satunya dan tidak
menjadikan ilah lain seperti hawa nafsu dan dunia sebagai tuhan sembahan dan ikutan.
Begitu juga perjanjian terhadap menjadikan Muhammad sebagai Rasul dan uswah mesti
diamalkan dengan meninggalkan segala uswah lain selain nabi. Pelanggaran ini juga
bentuk tidak menepati janji syahadatnya.
V. Melanggar perjanjian akan mendapat laknat Allah Swt, Sehingga Allah Swt tidak
memberikan berkah dan rahmah. Manusia yang dilaknati Allah berarti mendapatkan
kemurkaan Allah di mana hidup kita menjadi susah, tidak tenang dan tidak bahagia.
VI. Tidak dapat rahmah dan juga tidak dapat berkah akan menjadikan keras hatinya,
ia mudah saja menjadi marah, gelisah, susah dan tidak tenang. Keadaan jiwa yang
demikian mungkin akan menyebabkan hati rusak dan bahkan akan mengalami ganguan
jiwa.
VII. Manusia yang mendapatkan laknat Allah kemudian hatinya menjadi keras dan
mengakibatkan tingkah lakunya mengikuti hawa nafsu akan jatuh kepada sikap
mempermainkan minhaj Islam, Islam di permainkan karena kecenderungan itu
berdasarkan hawa nafsu yang tidak mempunyai prinsip dan kedudukan yang jelas. Islam
di laksanakan sebahagian dan di tinggalkan sebahagian, begitupun dengan bentuk
pemikiran yang mungugut Allah dan Islam dalam berbagai pandangan dan cara
berfikirnya.
VIII. Mereka yang melanggar janji ini akan sampai kepada melupakan minhaj dan
konsep Islam yang mungkin di ketahuinya atau yang sudah di fahaminya. Melupakan

196
konsep secara sengaja atau mungkin tidak sengaja sebagai akibat maksiyat yang tumbuh
di dalam dirinya akan menjejaskan ingatan dan kecenderungan nya yang positif.
IX. Akhirnya mereka berkhianat dan melakukan tindakan dan tingkah laku yang
menentang Islam dan tingkah laku yang menyesatkan. Allah Swt berfirman mengenai
bahaya gangguan syetan yang mempengaruhi manusia sehingga menjadi sesat jalan.
Khianat adalah orang yang tidak menunaikan amanah yang Allah berikan atau yang
manusia berikan. Keadaan khianat menunjukkan peribadi yang tidak bertanggung jawab,
sehingga khianat ini akan di musuhi oleh banyak orang dan juga di murkai oleh
AllahSwt.
X. Dengan sifat khianat ini tumbuh sifat kebencian satu dengan yang lain dan saling
bermusuhan. Peribadi yang tidak bertanggung jawab danyang khianat kepada manusia
dan Allah akan membuktikan kerusakan yang dilakukannya. Manusia akan saling benci
dan permusuhan akan berlaku. Tindakan dan tingkah laku berdasarkan kemauan sendiri
dengan tidak mengambil kepentingan masyarakat atau orang lain.
XI. Akhirnya terjadi perpecahan dikalangan manusia.
Dalil
XII. 2: 26-27;Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perbandingan apa saja ,
(seperti) nyamuk hingga ke suatu yang lebih daripadanya (karena perbuatan itu ada
hikmahnya), ysitu kalau yang orang-orang beriman maka mereka akan mengetahui
bahwa perbandingan itu benar dari Tuhan meeka; dan kalau orang-orang kafir pula maka
mereka akan berkata “Apakah maksud Allah membuat perbandingan ini?”(jawabnya):
Tuhan akan menjadikan banyak orang sesat dengan sebab perbandingan itu ,dan akan
menjadikan orang mendapat petunjuk dengan sebabnya; dan Tuhan tidak akan
menjadikan sesat dengan sebab perbandingan itu melainkan orang-orang yang fasik;
(yaitu) orang-orang yang merombak (mencabuli ) perjanjian Allah sesudah di
perteguhkannya, dan memutuskan perkara yang di suruh Allah supaya di perhubungkan,
dan mereka pula membuat kerusakan dan bencana di muka bumi. Mereka itulah orang-
orang yang rugi .
XIII. 5;13; Maka dengan sebab mereka mencabuli perjanjian setia mereka, Kami
laknatkan mereka, dan kami jadkan hati mereka keras membatu(tidak mau menerima
kebenaran). Mereka senantiasa mengubah kalimah-kalimah (yang ada di dalam kitab
taurat dengan memutarnya)dari tempat-tempatnya(dan maksudnya) yang sebenar, dan
mereka melupakan(meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka
mereka dengannya .Dan engkau(wahai muhammad) senantiasa dapat melihat perbuatan
khianat yang merek yang mereka lakukan, kecuali seikit dari mereka (yang tidak belaku
khianat). Oleh itu, maafkanlah mereka(jika mereka bersedia bertaubat) dan janganlah di
hiraukan, karena sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berusaha supaya
baik amalannya.
XIV. proses ilaj
Syarah
I. Karena sebab perpecahan adalah tidak menepati janji maka cara penyelesaian atau
ubatnya adalah menepati janji. Proses ilajnya di awali dengan menepati perjanjian.
Perjanjian sebagai manusia muslim dan beriman yang juga perjanjian sebagai manusia
dalam mengikuti fitrah dan pengakuan kepada Allah sebagai Rab. Dengan janji yang di
tepati kepada Allah, juga akan menepati janji kepada manusia dalam hubungannya
sesama manusia.
II. Usaha menepati janji ini kepada Allah Swt akan memperoleh rahmah (kasih
saying) Allah. Allah mencintai manusia yang sportif dan jujur karena mengakui keadaan

197
dirinya dan komitmen kepda yang sudah di sepakati sehingga mengamalkanya. Rasa
berterima kasih dan bersyukur kepada Allah juga merupakan sikap orang yang menerima
keberadaan Allah dan manusia yang menepati janji. Mereka tentunya mendapatkan kasih
sayang sebagai balasan atas komitmen dan usaha untuk menepati janji.
III. Muslim yang senantiasa menepati janji dan mendapatkan rahmah dari Allah akan
menjadikan hatinya halus, tidak kasar, tidak keras dan tidak rusuh. Manusia yang
mendapatkan rahmah dari Allah akanmenjadikan dirinya tenang ,halus, baik,budi bhasa,
tidak pemarah dan tenang. Hasil rahmah yang menenangkan hati ini akan menjadikan
individu memberikan komitmen dengan minhajnya.
IV. Komitmen dengan minhaj Islam adaalh cirri mereka yang menepati janji terhadap
manusia atau Allah Swt akan selalu mengikuti minhaj yang dijadikan panduan dan yang
di terimanya.
V. Dengan demikian mereka pun senantiasa merujuk kepada aturan ,
bimbingan,arahan dan kesepakatan yang di buat oleh kita bersama manusia ataupun
kepada Allah yang sebelum kita di lahirkan berjanji kepada Allah.
VI. Sikap amanah akan muncul pada peribadi yang menepati janji. Dengan amanah
inni , manusia yang berhubungan dengannyadan membuat perjanjian dengannya akan
merasakan kepuasan. Sedangkan amanah kepada tanggung jawab yang Allah berikan
kepada manusia untuk menjadi khalifah akan dapat dilaksanakan dengan cara yang baik.
Peranan yang membangun (al imarah) dan peranan memelihara (ar ri’ayah) ini dapat
dilaksanakan oleh mereka yang amanah.
VII. Amanah akan menumbuhkan saling kasih sayang dan berjalin berkelindan
(mendarah daging) yang kemudian timbullah kesatuan.
Ringkasan:
VIII. Sebab-sebab perpecahan dan ilajnya: proses sebab terjadinya oleh melanggar
perjanjian(2: 26-27); mendapat taat kepada Allah (5: 13); kesal hatinya; mempermainkan
minhaj, melupakan kosepsi; berkhianat; tumbuh kebencian satu dengan yang lain dan
saling bermusuhan sehingga terjadi perpecahan.
IX. Proses ilajnya adalah menepati perjanjian sehingga memperoleh rahmah (kasih
sayang) Allah; komitmen dengan minhajnya, senantiasa ingat minhaj; sikap amanah;
menumbuhkan saling kasih sayang dan berjalin berkelindan (mendarah daging) dan
timbulah kesatuan.
K.7 UKHUWAH ISLAMIYAH
Sasaran
X. Memahami hakikat dari ukhuwah Islamiyah dan dapat menyebutkan cara
mengaplikasikan dalam kehidupan umat.
XI. Memahami langkah-langkah perwujudan ukhuwah yang diperlukan untuk
membentuk uamat yang bersatu dalam satu barisan
XII. Termotivasi mewujudkan ukhuwah Islamiayah dan terdorong untuk
mengalikasikan sehingga terbentuk satu barisan.
Sinopsis
Ukhuwah Islamiyah diawali dengan hubungan secara peribadi dan juga secara berjamaah
(bersama-sama). Secara peribadi mislnya berjumpa di masjid, seklah, kampus atau
hubungan ayng dilakukan secara fardiyah sedangkan hubungan berjamaah biasanya
melalui program ammah. Dari hubungan ini maka muncul taaruf yang diawali dengan
mengenal fizikal, kemudian melaui perjalanan masa juga akan mengenali pemikiran dan
kejiwaan nya. Taaruf pemikiran dan nafsiyah (personality, emosi dan kejiwaan)

198
sangatlah penting bagi wujudnya persaudaraan muslim sehingga akan memperlancar
perjalanan amal jamai.
Dari taaruf ini muncul saling memahami (tafahum) yaitu dengan cara menyatukan hati,
menyatukan pemikiran dan juga menyatukan amal. Tafahum lancar maka tawun pun
dapat diamalkan secara baik. Taawun secara hati (saling mendoakan), secara pemikiran
(berbincang dan menasehati), Dan secara amal (Bantu membantu).
Berikutnya takaful muncul setelah taawun. Dengan takaful hati saling menyatu, saling
menyayangi. Akhirnya muncul kesatuan barisan dan juga kesatuan ummat.
Hasiyah
1. Ukhuwah Islamiyah
Syarah
a) Ukhuwah Islamiyah atau persadaraan Islam merupakan ikatan yang akan
mewujudkan kekuatan Islam. Aqidah yang sudah tertanam di hati aktivis da’wah tetapi
tidak diikat dengan ukhuwah maka akan melemahkan kerja da’wah dan matlamat tidak
akan tercapai. Persatuan atau jamah tanpa menjadikan ukhuwah sebagai ikatan maka
akan menjatuhkan harakah itu sendiri. Dengan ukhuwah pula kesatuan kerja, amal dan
aktivitas akan berlaku. Selain itu juga kesatuanberfikir dan kesatuan di dalam hati akan
menambah mantap kekuatan Islam.
b) Setiap orang yang beriman adalah bersaudara, sedangkan perselisihan yang
muncul diantaranya adalah sesuatu yang wajar. Sahabat nabi yang mempunyai kualitas
aqidah yang tinggi dan sangat dekat dengan RasulullahSaw pun masih di dpati
perselisihan. Perselisihan diantara manusia adlah sunnah dan bisa , hanya sja bagaimana
sekarang ini kita menghadapi hubungan sesama manusia dan perselisihan ini dengan
sikap saling memperbaiki dan mengembalikan diri kita kepada Allah Swt meleui ketaatan
sehingga Allah akan turunkan rahmah kepada kita.
c) Persaudaraan di dalam Islam adlah sesuatu yang wajib dan perlu diamalkan
sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juaga diakhirat. Namun demikian
,ukhuwah Islamiyah ini banyak seka dukanya.proses dan pelaksanaan ukhuwah Islamiyah
ini di cabar oleh banyak perkara yang bersifat dalaman diri atau luaran diri.Hawa nafsu
dan keadaan persekitaran juga mempengaruhi akidah ini.
Dalil
XIII. 49: 10; Orang-orang mukmin itu bersaudara , sebab itu perdamaikanlah antara
dua orang bersaudara mu dan takutlah kepada Allah mudah-mudahan kamu mendapat
rahmah
XIV. 8: 1; Mereka itu menanyakan kepada engkau tentang harta rampasan perang.
Katakanlah: Harta rampasan perang itu adalah untuk Allah dan Rasul. Sebab itu takutlah
kepada Allah dan perbaikilah urusan dintaramu dan ikutlah Allah dan Rasulnya, jika
kamu orang beriman.
2.Hubungan peribadi dan secara berjamaah (bersama-sama)
Syarah
XV. Sebagai manusia tentunya kita berhubungan dan bergaul dengan manusia. Tiada
manusia yang tidak bergaul dengan manusia, hubungan ini merupakan keperluan dan
tuntutan sebagai manusia hidup yang senantiasa saling membantu dan berinteraksi.
XVI. Hubungan sesama manusia dapat terlaksana melalui cara peribadi atau secara
bersama-sama . Hubungan ini dapat dilaksanakan dimana saja, seperti di tempat
bekerja ,di sekolah dan di masyarakat seperti di surau/masjid. Setiap hubungan manusia
ini bagi seorang dai akan di jadikannya sebagai pintu untuk menjalankan da’wah.

199
XVII. Persaudaraan Islam akan menjadikan hubunagn di antara manusia ini sebagai
media untuk bertaaruf.Peluang bertaaruf dengan berhubungan sesama manusia secara
peribadi biasanya lebih berkesan di bandingkan dengan cara jamai
Dalil
XVIII. Sirah nabawiyah
1. Melaksanakan taaruf
Syarah
XIX. Huabungan sesama manusia akan menjadikan kita mengenal individu lainnya.
Perkenalan pertama biasanya berhubungan dengan fizikal seperti tubuh, badan , muka,
gaya pakaian, gaya berjalan, tingkah laku yang nampak, rumah , pendidikan, pekerjaan
dan sebagainya. Melaksanakan taaruf di awali secara fizikalini kemudian di lanjutkan
mengenal secara pemikiran dan kejiwaan.
XX. Mengenal pemikiran biasanya dilakukan dengan perbincangan , perbentangan ,
analisa isu semasa, memberikan pandngan ,latar belakang pendidikan, kecenderungan
berfikir, cara menaggapi sesuatu dan minat kepada tokoh pemikir tertentu.
XXI. Mengenal kejiwaan bermaksud mengenal kepribadian, emosi dan tingkah laku.
Mengenal sifat dan watak merupakan bahagian mengenal kejiwaan ini. Tanpa mengenal
ini maka ukhuwah Islamiyah akan mudah terjejas dan di ganggu dengan tidak mengenal
kejiwaan ini. Setiap manusia adalha unik dan setiap manusia mempunyai cirri-ciri khas
tertentu yang membedakn dengan orang lain. Manusia dengan perbedaan latar
belakang ,perbedaan pendidikan, perbedaan ibu bapa, perbedaan gaya asuh, dan
perbedaan-perbedaan lainnya akan membedakan kejiwaan seseorang.
Dalil
XXII. 49: 13;Wahai umat manusia sesungguhnya Kami tela menciptakan kamu dari
lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku
puak , supaya kamu berkenal-kenalan(dan beramah mesrasatu dengan yang lain).
Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya
diantara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsa). Sesungguhnya Allah maha
mengetahui,lagi maha mendalam pengetahuanNya(akan keadaan dan amalan kamu)
1. Saling memahami
Syarah
XXIII. Setelah taaruf ini akan mewujudkan suatu keadaan saling memahami. Saling
memahami (tafahum) adalah kunci ukuwah Islamiyah.tanpa tafahum maka ukhuwah
tidak aakan berjalan.Proses taaruf boleh di jadualkan tetapi tafahum ini mesti berjalan
seperti berjalannya ukhuwah itu sendiri.Dengan ukhuwah yang di warnai oleh tafahum
menjadikan suasana yang baik dan tenang. Masing-masing individu memahami kekuatan
dan kelemahan dan menerima keadaan masing-masing sehingga akan memunculkan
taawun dan persaudaraan. Ukhuwah tidak akan berjalan apabila seseorang senantiasa
ingin di pahamitetapi tidak berusha memahami orang lain. Ukhuwah berjalan dengan
baik apabila muncul saling memahami dan saling menerima masing-masing . Mengenal
kawan kita sensitive maka kita faham bagaimana berhubungan dengan dia, begitu juga
kita mengenal bahwa teman kita cakapnya keras maka kita faham mengenainya dan tidak
perlu marah pula.
XXIV. Saling memahami terhadap setiap keadaan sahabat ini dilakukan dengan cara
menyatukan hati menyatukan pemikiran dan menyatukan amal. Menyatukan hati sebagai
langkah yang pertama karena hati adalah asa persatuan. Allah saja yang akan
menyatukan hati manusia , kuasa ini tidak pada manusia. Hati yang bersatu maka akan
memudahkan persatuan lainnya. Keterikatan juga perlu diteruskan kepada pemikiran dan

200
amal. Dengan tafahum ini maka muncul keterikatan hati,keterikatan pemikiran
sesamanya dan keterikatan amal.
Dalil
I. 8: 60;Dan sediakanlah untuk menentang mereka(musuh yang menceroboh) segala
jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dandari pasukan –pasukanberkuda yang
lengkap sedia, untuk menggerunkan dengan persediaan itu musuh Allah dan musuh kamu
serta musuh-musuh yang lain dari mereka yang kamu tidak mengetahui nya; sedang
Allah menetahuinya.Dan apa saja yang kamu belanjakan pada jalan Allah akan di
sempurnakan balasannya kepada kamu,dan kamu tidak akan dianiaya.
5.Taawun
Syarah
II. taawun muncul setelah terlaksananya tafahum ssama kita . Taawun dapat
dilaksanakan secara hati(saling mendoakan);secara pemikiran(berbincang dan
menasehati); secara amal(Bantu membantu). Saling membantu di dalam kebaikan adalah
kebahagiaan tersendiri. Manusia tidak akan dapat hidup sendiri sehingga ia mesti hidup
bersama-sama .Kebersamaan akan mempunyai nilai apabila kita adakan saling
membantu.
Dalil
III. 5: 2;…. Dan hendaklah kamu bertolong tolonganuntuk membuat kebajikan dan
bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan
percerobohan.Dan bertaqwalah kepada Allah ,karena sesungguhnya Allah maha berat
azab dan siksaNya(bagi sesiapa yang melanggar perintahnya)
6.Takaful
Syarah
I. Takaful muncul setelah taawun. Dengan takaful ini maka hati akan saling
menyayangi. Takaful berarti merasakan senasib sepenaggungan . Rasa sedih dan susah
sahabat kita dapat kita rasakan dan kita serta merta membantunya. Takaful sebagai
tingkat ukhuwah yang tinggi. Takaful terlaksana setelah proses sebelumnya
berlangsung.Proses takaful sangat bergantung kepada pelaku-pelaku ukhuwah Islamiyah
ini. Hadits nabi dan berbagai cerita hubungan para sahabat adalah menggambarkan
bagaimana pelaksanaan takaful ini. Sahabat nabi yang merasa kehausan di masa perang
kemudian mendengar sahabat lainnya merintih meminta minum maka ia berikan air
kepada sahabatnya walaupun ia memerlukan. Contoh mementingkan sahabatnya terlebih
dahulu (itsar) adalah cirri ukhuwah.
Dalil
II. Hadits; Tidak akan beriman seseorang diantaramu apabila kamu tidak mencintai
saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.
7.Akhirnya muncul kesatuan barisan dan juga kesatuan ummat
Syarah
III. Ukhuwah Islamiyah di mulai melalui hubungan manusia sebagai aktivitas fitrah
manusia dan di warnai dengan huznuzon pada masa tafahum, dan di sertai salmtusoddrdi
masa taawun. Setelah terbentuknya masa kesatuan di dalam berfikir, amal dan hati maka
takaful akan menghantarkan kita kepada kesatuan barisan dan juga kesatuan ummat.
Umat yang satu barisan dan ummat yang satu dimana satu dari segi fikrah dan matlamat
tetapi berbeda dalam kejiwaan akan menjadikan suatu kekuatan Islam. Perbedan
menjadikan media amal jamai dan menambah dinamik hubungan sesama manusia.
Ringkasan:
IV. Ukhuwah Islamiyah: hubungan peribadi dan secara berjamaah (bersama-sama)

201
V. Melaksanakan taaruf (49: 13);secara fizikal, pemikiran dan kejiwaan
VI. Saling memahami dan menyatukan hati (8: 60); menyatukan pemikiran ;
meyatukan amal
VII. Taawun (5: 2) secara hati (saling mendoakan); secara pemikiran (berbincang dan
menasehati); secara amal (Bantu membantu)
VIII. Takaful muncul setelah taawun. Dengan takaful hati saling menyatu, saling
menyayangi.
IX. Akhirnya muncul kesatuan barisan dan juga kesatuan ummat.
L.1. AHAMMIYYAH TARBIYAH
Sasaran:
· Memahami pentingnya tarbiyah dalam membentuk khairu ummah dan akibat-
akibat yang ditimbulkan karena tidak adanya tarbiyah.
· Mengetahui dan memahami marhalah yang ditempuh Rasulullah Saw dalam
menjalankan tarbiyah.
· Menyadari bahwa terbentuknya tarbiyah yang benar dapat memberikan
kebahagiaan yang besar dalam kehidupan ummat.
Ringkasan:
Tarbiyah Islamiyah yang dibawa oleh Rosul dan Islam adalah untuk memperbaiki
manusia. Keadaan jahiliyah yang dikenal dengan ummat jahiliyah di zaman Rosul
mempunyai ciri-ciri bodoh, hina, lemah, miskin, dan berpecah-belah. Keadaan ini boleh
berlaku pada saat ini dan juga mungkin terdapat di kalangan muslim sendiri.
Kejahiliyahan ini membawa kita kepada kesesatan yang nyata. Allah Swt melalui
RasulNya memberikan tarbiyah dan Islam adalah tarbiyah kepada manusia.
Al Qur’an menjelaskan berbagai marhalah dan metode tarbiyah. Tarbiyah
memiliki tiga marhalah yaitu tilawah, tazkiyah, mengajarkan dan mempelajari kitab dan
hikmah. Di antara pentingnya kita mengikuti tarbiyah adalah karena Al Qur’an dan
hadits menyuruh kita untuk belajar, berilmu, dan mengikuti pendidikan seumur hidup
dan juga karena banyaknya keuntungan yang diperoleh dari tarbiyah ini. Beberapa
keuntungan tarbiyah yang kita rasakan adalah mendapat petunjuk dari Allah Swt untuk
memperoleh pengetahuan, harga diri (prestise), kekuatan, dan persatuan. Keseluruhannya
akan membentuk khairu ummah.
Hasiyah
1. Ummat Jahiliyah
Syarah
· Ummat jahiliyah adalah ummat yang ada di zaman sebelum nabi Muhammad
Saw. Walaupun demikian ciri-ciri jahiliyah ini juga didapati pada masyarakat saat ini.
Keadaan masyarakat jahiliyah adalah keadaan yang menggambarkan kerusakan dan
kebodohan. Mereka secara pendidikan, teknologi, dan kemahiran termasuk tinggi tetapi
peradaban, budaya, serta tingkah laku yang tercermin pada budaya, seperti binatang.
Memperturutkan hawa nafsu adalah ciri kehidupan jahiliyah dan inilah yang
menjadikannya sama dengan binatang, serta kehidupan seksual yang dimotivasi oleh
faham hedonisme dan sebagainya.
· Masyarakat jahiliyah mempunyai berbagai ciri, diantara ciri-cirinya adalah
bodoh. Mereka bodoh karena tidak menerima hidayah. Abu Jahal (Bapak Kebodohan)
yang diberi gelar oleh ummat Islam bukan karena dia bodoh ilmu, tetapi bodoh hidayah,
sedangkan ia diberi gelar oleh kaumnya dengan julukan abu hakam (Bapak Pengadil).
Tingkah laku yang mencerminkan kebodohan tidak menyadari bahwa tingkah lakunya
menghancurkan dirinya. Pribadi jahiliyah tidak menyadari hakikat hidupnya, ia melihat

202
kebaikan padahal merupakan keburukan dan sebaliknya. Keadaaan jahiliyah akan
menghancurkan peradaban dan kebudayaan.
· Ummat jahiliyah dengan kebodohannya akan menjadikan dirinya hina. Kehinaan
yang menimpa dirinya adalah karena ia sendiri yang menjadikan dirinya hina. Hina tidak
terhormat karena kebanggaan yang diciptakannya melekat di status, di kereta, di rumah,
di jawatan, dan sebagainya. Kehormatan yang bersifat materi ini sementara dan
kebanggaan jahiliyah akan menjauhkan ia menuju ke derajat yang lebih rendah.
Kehinaan terjadi apabila mereka tidak menghargai dirinya sebagai manusia yang mulia.
Tindakan bodoh akan menjadikannya hina, walaupun tindakan tersebut dihiasi dengan
berbagai kebanggaan, tetapi pada hakikatnya menipu.
· Lemah sebagai akibat kejahiliahan. Kelemahan karena masa dihabiskan untuk
hawa nafsu dan kepakaran digunakan untuk sementara dan kerusakan. Kelemahan ini
terjadi karena individu jahiliyah tidak dapat menghargai dirinya sehingga ia tidak boleh
mengaktualkan potensinya. Tidak adanya iman atau jahiliyah menjadikan dirinya tidak
ada dukungan dan tidak mempunyai energi.
· Berpecah belah adalah ciri umat jahiliyah dimana pegangan mereka tidak jelas
dan pegangan tersebut hanyalah hawa nafsu. Hawa nafsu tidak mempunyai kekuatan, ia
senantiasa bergerak mengikuti angin dan hawa nafsu pun tidak ada muara sehingga hawa
nafsu senantiasa berubah dan tidak mempunyai arah. Pegangan hawa nafsu akan
menjadikan kita tidak mempunyai panduan yang jelas bahkan akan menyesatkan.
Perpecahan muncul karena tidak ada yang dapat dipegang, kesepakatan atau perjanjian
akan mudah berubah sesuai dengan ciri hawa nafsunya.
Dalil
· 39: 64 ; Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang musyrik itu setelah
jelas dalil-dalil Allah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah atau
memuja selain daripada Allah, hai orang-orang yang jahil?”
· 25: 63 ; Dan hamba-hamba Ar Rahman (yang diridhaiNya), ialah mereka yang
berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
· 33: 72 ; Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi,
dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat dholim dan amat bodoh.
· 95: 4-5 ; Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-
baiknya. Kemudian Kami kembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).
· 4: 28 ; Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia
dijadikannya lemah.
· 35: 14 ; Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan
kalau kamu mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.
Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat
memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.
· 3: 103 ; Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan
janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara, dan kamu telah berada di
tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah
menerangkan kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
2. Berada di dalam kesesatan yang nyata

203
Syarah
· Allah Swt menyebutkan bahwa mereka sebelum kedatangan Rosul dalam kondisi
jahiliyah (kesesatan yang nyata). Kesesatan ini mempunyai berbagai ciri dan akibat yang
jelas. Kesesatan berarti dipengaruhi oleh syetan dan menjadikan syetan sebagai kawan
serta bertingkah laku yang berlawanan dengan nilai Islam. Kesesatan juga berarti
mengamalkan sesuatu yang dilarang. Akibat kejahiliyahan itulah sehingga mereka berada
dalam kesesatan yang nyata.
Dalil
· 62: 2 ; Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
3. Allah Swt melalui rasulnya memberikan tarbiyah
Syarah
· Turunnya Islam dengan kedatangan rasul adalah cara untuk mengatasi dan
menyelesaikan masalah masyarakat jahiliyah. Allah Swt menurunkan ayatNya dan
diterima rasul yang kemudian disampaikan kepada manusia melalui tarbiyah yang
merupakan gerakan penyelamatan atas kerusakan yang disebabkan oleh masyarakat
jahiliyah di masa itu. Namun demikian peranan tarbiyah di saat itu masih sangat
diutamakan mengingat keadaan jahiliyah terdapat kesamaan.
Dalil
· 2: 151 ; Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al
Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
· 3: 164 ; Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka
sendiri, yang membacakan di antara mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa)
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya
sebelum (kedatangan rasul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
· 62: 2 ; Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
4. Tarbiyah
Syarah
· Nabi Muhammad Saw memperbaiki ummat jahiliyah dengan melaksanakan
tarbiyah. Tarbiyah memuat ayat-ayat Allah sehingga dengan tarbiyah ini akan
menghasilkan masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai ilah. Tarbiyah yang
dilakukan rasul adalah tarbiyah Qur’aniyah, yaitu tarbiyah dengan melakukan
pendekatan Qur’an. Tarbiyah Imaniyah juga tumpuan utama tarbiyah rasul.
· Beberapa cara rasul Saw melakukan tarbiyah adalah dengan cara tilawah,
tazkiyah, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah (minhaj).
Dalil
· 96: 1 ; Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
· 2: 121 ; Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka
membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan
barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

204
· 91: 7-10 ; Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.
· 92: 17-21 ; Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.
Dan menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada
seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia
memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
· 3.79 ; Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab,
hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia,”Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan enyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al
Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
· 2: 269 ; Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al
Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan baeangsiapa yang
dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
5. Kenikmatan yang besar
Syarah
· Individu dan masyarakat yang mengikuti tarbiyah dirinya akan dibimbing,
dibangun, dan dipelihara oleh nilai-nilai Islam yang mulia. Dirinya akan jauh dari
kejahiliyahan. Bebas dari jahiliyah maka ia akan mengikatkan dirinya kepada Allah Swt
sehingga ikatan ini akan meninggikan status dari derajatnya di sisi Allah. Kehidupan
mereka akan selamat di dunia dan juga di akhirat.
· Hasil tarbiyah adalah kenikmatan yang besar yaitu berupa pengetahuan, harga
diri, kekuatan, dan persatuan. Dengan ilmu yang benar yang kita dapati melalui tarbiyah
boleh menjadikan kita manusia yang berilmu dan sadar atas tingkah laku yang kita
lakukan. Mempunyai ‘izzah Islam berarti mengembalikan dirinya hanya kepada Allah,
bukan kepada benda-benda yang tidak bernilai. Dengan ‘izzah ini juga terdapat kekuatan
Islam karena semangat yang ditumbuhkan melalui tarbiyah dapat membangkitkan
suasana kecintaan dan perjuangan. Akhirnya melalui tarbiyah kita dapat disatukan
dengan fikrah dan amal.
· Banyak kenikmatan yang diperoleh melalui tarbiyah, selain tarbiyah ini adalah
sunnah nabi ataupun arahan dari Allah, maka tarbiyah ini mengandung banyak manfaat
bagi diri, keluarga, masyarakat dan juga bangsa. Dengan tarbiyah pribadi manusia
menjadi jauh dari kebodohan yang kemudian ia dapat menaikkan harga dirinya kepada
derajat mulia dan iapun boleh mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
· Tanpa tarbiyah maka syetan senantiasa mengganggu dan menjadikan kita sesat.
Tanpa tarbiyah kita akan mudah sesat dan kita akan dijauhkan dari Islam. Dengan
tarbiyah maka tawasau bil haq dan bish shobr akan berjalan sehingga dengan tarbiyah
akan tercegah kemungkinan syetan membawa kita kepada kesesatan.
· Suatu kerugian apabila kita meninggalkan tarbiyah. Tanpa tarbiyah kita tidak
mendapat kejayaan. Hadirnya tarbiyah untuk menyelamatkan ummat jahiliyah adalah
suatu hal yang beriringan dengan turunnya Islam.
· Tarbiyah yang tidak dapat membentuk kenikmatan ini bukan tarbiyahnya yang
tidak benar, tarbiyah sebagai wasilah rabbaniyah yang benar dan perlu diamalkan tetapi

205
kemungkinan manusia yang membawanya ke arah yang benar atau tidak mengikuti
minhaj sehingga tarbiyah tidak berkesan.
Dalil
· 93: 7 ; Dan dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan
petunjuk.
· 49: 17 ;Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keimanan
mereka. Katakanlah,”Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan
keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang memberikan nikmat kepadamu dengan
menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
· 96: 5 ; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
· 93: 8 ; Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
memberikan kecukupan.
· 21: 90 ; Maka Kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya
Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik
dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-
orang yang khusyu’ kepada Kami.
Khairu Ummah
Syarah
· Ummat jahiliyah berubah menjadi ummat Islam. Ummat Islam yang berdakwah
dan senantiasa peduli dengan keadaan sosial, ummat, dan agamanya, maka ia disebut
ummat yang baik. Ummat yang baik adalah ummat yang menjalankan amar ma’ruf dan
nahyi munkar.
Dalil
· 3: 104 ; Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Mereka itulah orang yang beruntung.
Ringkasan
· Ummat jahiliyah (39: 64; 25: 63) ciri-cirinya adalah bodoh (33: 72), hina (95: 4-
5); lemah (4: 28); miskin (35: 14); berpecah belah (3: 103).
· Berada dalam kesesatan yang nyata (62: 2)
· Allah Swt melalui RasulNya memberikan tarbiyah (2: 151; 3: 164; 62: 2)
· Tarbiyah memiliki 3 marhalah, yaitu tilawah (96: 1; 2: 121, hadits), tazkiyah (91:
7-10; 92: 17-21); mengalimkan tentang al kitab (3: 79)dan al hikmah (2: 269, hadits)
· Hasilnya adalah kenikmatan yang besar yaitu petunjuk (93: 7; 49: 17) seperti
pengetahuan (96: 5), harga diri (63: 8), kekuatan (hadits), kekayaan (93: 8), persatuan
(21: 90). Kesemuanya membentuk kkairu ummah (3: 104).
L.1. AHAMMIYYAH TARBIYAH
Sasaran:
· Memahami pentingnya tarbiyah dalam membentuk khairu ummah dan akibat-
akibat yang ditimbulkan karena tidak adanya tarbiyah.
· Mengetahui dan memahami marhalah yang ditempuh Rasulullah Saw dalam
menjalankan tarbiyah.
· Menyadari bahwa terbentuknya tarbiyah yang benar dapat memberikan
kebahagiaan yang besar dalam kehidupan ummat.
Ringkasan:
Tarbiyah Islamiyah yang dibawa oleh Rosul dan Islam adalah untuk memperbaiki
manusia. Keadaan jahiliyah yang dikenal dengan ummat jahiliyah di zaman Rosul

206
mempunyai ciri-ciri bodoh, hina, lemah, miskin, dan berpecah-belah. Keadaan ini boleh
berlaku pada saat ini dan juga mungkin terdapat di kalangan muslim sendiri.
Kejahiliyahan ini membawa kita kepada kesesatan yang nyata. Allah Swt melalui
RasulNya memberikan tarbiyah dan Islam adalah tarbiyah kepada manusia.
Al Qur’an menjelaskan berbagai marhalah dan metode tarbiyah. Tarbiyah
memiliki tiga marhalah yaitu tilawah, tazkiyah, mengajarkan dan mempelajari kitab dan
hikmah. Di antara pentingnya kita mengikuti tarbiyah adalah karena Al Qur’an dan
hadits menyuruh kita untuk belajar, berilmu, dan mengikuti pendidikan seumur hidup
dan juga karena banyaknya keuntungan yang diperoleh dari tarbiyah ini. Beberapa
keuntungan tarbiyah yang kita rasakan adalah mendapat petunjuk dari Allah Swt untuk
memperoleh pengetahuan, harga diri (prestise), kekuatan, dan persatuan. Keseluruhannya
akan membentuk khairu ummah.
Hasiyah
6. Ummat Jahiliyah
Syarah
· Ummat jahiliyah adalah ummat yang ada di zaman sebelum nabi Muhammad
Saw. Walaupun demikian ciri-ciri jahiliyah ini juga didapati pada masyarakat saat ini.
Keadaan masyarakat jahiliyah adalah keadaan yang menggambarkan kerusakan dan
kebodohan. Mereka secara pendidikan, teknologi, dan kemahiran termasuk tinggi tetapi
peradaban, budaya, serta tingkah laku yang tercermin pada budaya, seperti binatang.
Memperturutkan hawa nafsu adalah ciri kehidupan jahiliyah dan inilah yang
menjadikannya sama dengan binatang, serta kehidupan seksual yang dimotivasi oleh
faham hedonisme dan sebagainya.
· Masyarakat jahiliyah mempunyai berbagai ciri, diantara ciri-cirinya adalah
bodoh. Mereka bodoh karena tidak menerima hidayah. Abu Jahal (Bapak Kebodohan)
yang diberi gelar oleh ummat Islam bukan karena dia bodoh ilmu, tetapi bodoh hidayah,
sedangkan ia diberi gelar oleh kaumnya dengan julukan abu hakam (Bapak Pengadil).
Tingkah laku yang mencerminkan kebodohan tidak menyadari bahwa tingkah lakunya
menghancurkan dirinya. Pribadi jahiliyah tidak menyadari hakikat hidupnya, ia melihat
kebaikan padahal merupakan keburukan dan sebaliknya. Keadaaan jahiliyah akan
menghancurkan peradaban dan kebudayaan.
· Ummat jahiliyah dengan kebodohannya akan menjadikan dirinya hina. Kehinaan
yang menimpa dirinya adalah karena ia sendiri yang menjadikan dirinya hina. Hina tidak
terhormat karena kebanggaan yang diciptakannya melekat di status, di kereta, di rumah,
di jawatan, dan sebagainya. Kehormatan yang bersifat materi ini sementara dan
kebanggaan jahiliyah akan menjauhkan ia menuju ke derajat yang lebih rendah.
Kehinaan terjadi apabila mereka tidak menghargai dirinya sebagai manusia yang mulia.
Tindakan bodoh akan menjadikannya hina, walaupun tindakan tersebut dihiasi dengan
berbagai kebanggaan, tetapi pada hakikatnya menipu.
· Lemah sebagai akibat kejahiliahan. Kelemahan karena masa dihabiskan untuk
hawa nafsu dan kepakaran digunakan untuk sementara dan kerusakan. Kelemahan ini
terjadi karena individu jahiliyah tidak dapat menghargai dirinya sehingga ia tidak boleh
mengaktualkan potensinya. Tidak adanya iman atau jahiliyah menjadikan dirinya tidak
ada dukungan dan tidak mempunyai energi.
· Berpecah belah adalah ciri umat jahiliyah dimana pegangan mereka tidak jelas
dan pegangan tersebut hanyalah hawa nafsu. Hawa nafsu tidak mempunyai kekuatan, ia
senantiasa bergerak mengikuti angin dan hawa nafsu pun tidak ada muara sehingga hawa
nafsu senantiasa berubah dan tidak mempunyai arah. Pegangan hawa nafsu akan

207
menjadikan kita tidak mempunyai panduan yang jelas bahkan akan menyesatkan.
Perpecahan muncul karena tidak ada yang dapat dipegang, kesepakatan atau perjanjian
akan mudah berubah sesuai dengan ciri hawa nafsunya.
Dalil
· 39: 64 ; Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang musyrik itu setelah
jelas dalil-dalil Allah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah atau
memuja selain daripada Allah, hai orang-orang yang jahil?”
· 25: 63 ; Dan hamba-hamba Ar Rahman (yang diridhaiNya), ialah mereka yang
berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
· 33: 72 ; Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi,
dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat dholim dan amat bodoh.
· 95: 4-5 ; Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-
baiknya. Kemudian Kami kembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).
· 4: 28 ; Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia
dijadikannya lemah.
· 35: 14 ; Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan
kalau kamu mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.
Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat
memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.
· 3: 103 ; Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan
janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara, dan kamu telah berada di
tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah
menerangkan kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
7. Berada di dalam kesesatan yang nyata
Syarah
· Allah Swt menyebutkan bahwa mereka sebelum kedatangan Rosul dalam kondisi
jahiliyah (kesesatan yang nyata). Kesesatan ini mempunyai berbagai ciri dan akibat yang
jelas. Kesesatan berarti dipengaruhi oleh syetan dan menjadikan syetan sebagai kawan
serta bertingkah laku yang berlawanan dengan nilai Islam. Kesesatan juga berarti
mengamalkan sesuatu yang dilarang. Akibat kejahiliyahan itulah sehingga mereka berada
dalam kesesatan yang nyata.
Dalil
· 62: 2 ; Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
8. Allah Swt melalui rasulnya memberikan tarbiyah
Syarah
· Turunnya Islam dengan kedatangan rasul adalah cara untuk mengatasi dan
menyelesaikan masalah masyarakat jahiliyah. Allah Swt menurunkan ayatNya dan
diterima rasul yang kemudian disampaikan kepada manusia melalui tarbiyah yang
merupakan gerakan penyelamatan atas kerusakan yang disebabkan oleh masyarakat

208
jahiliyah di masa itu. Namun demikian peranan tarbiyah di saat itu masih sangat
diutamakan mengingat keadaan jahiliyah terdapat kesamaan.
Dalil
· 2: 151 ; Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al
Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
· 3: 164 ; Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka
sendiri, yang membacakan di antara mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa)
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya
sebelum (kedatangan rasul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
· 62: 2 ; Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
9. Tarbiyah
Syarah
· Nabi Muhammad Saw memperbaiki ummat jahiliyah dengan melaksanakan
tarbiyah. Tarbiyah memuat ayat-ayat Allah sehingga dengan tarbiyah ini akan
menghasilkan masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai ilah. Tarbiyah yang
dilakukan rasul adalah tarbiyah Qur’aniyah, yaitu tarbiyah dengan melakukan
pendekatan Qur’an. Tarbiyah Imaniyah juga tumpuan utama tarbiyah rasul.
· Beberapa cara rasul Saw melakukan tarbiyah adalah dengan cara tilawah,
tazkiyah, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah (minhaj).
Dalil
· 96: 1 ; Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
· 2: 121 ; Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka
membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan
barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
· 91: 7-10 ; Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.
· 92: 17-21 ; Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.
Dan menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada
seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia
memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
· 3.79 ; Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab,
hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia,”Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan enyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al
Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
· 2: 269 ; Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al
Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan baeangsiapa yang
dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

209
10. Kenikmatan yang besar
Syarah
· Individu dan masyarakat yang mengikuti tarbiyah dirinya akan dibimbing,
dibangun, dan dipelihara oleh nilai-nilai Islam yang mulia. Dirinya akan jauh dari
kejahiliyahan. Bebas dari jahiliyah maka ia akan mengikatkan dirinya kepada Allah Swt
sehingga ikatan ini akan meninggikan status dari derajatnya di sisi Allah. Kehidupan
mereka akan selamat di dunia dan juga di akhirat.
· Hasil tarbiyah adalah kenikmatan yang besar yaitu berupa pengetahuan, harga
diri, kekuatan, dan persatuan. Dengan ilmu yang benar yang kita dapati melalui tarbiyah
boleh menjadikan kita manusia yang berilmu dan sadar atas tingkah laku yang kita
lakukan. Mempunyai ‘izzah Islam berarti mengembalikan dirinya hanya kepada Allah,
bukan kepada benda-benda yang tidak bernilai. Dengan ‘izzah ini juga terdapat kekuatan
Islam karena semangat yang ditumbuhkan melalui tarbiyah dapat membangkitkan
suasana kecintaan dan perjuangan. Akhirnya melalui tarbiyah kita dapat disatukan
dengan fikrah dan amal.
· Banyak kenikmatan yang diperoleh melalui tarbiyah, selain tarbiyah ini adalah
sunnah nabi ataupun arahan dari Allah, maka tarbiyah ini mengandung banyak manfaat
bagi diri, keluarga, masyarakat dan juga bangsa. Dengan tarbiyah pribadi manusia
menjadi jauh dari kebodohan yang kemudian ia dapat menaikkan harga dirinya kepada
derajat mulia dan iapun boleh mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
· Tanpa tarbiyah maka syetan senantiasa mengganggu dan menjadikan kita sesat.
Tanpa tarbiyah kita akan mudah sesat dan kita akan dijauhkan dari Islam. Dengan
tarbiyah maka tawasau bil haq dan bish shobr akan berjalan sehingga dengan tarbiyah
akan tercegah kemungkinan syetan membawa kita kepada kesesatan.
· Suatu kerugian apabila kita meninggalkan tarbiyah. Tanpa tarbiyah kita tidak
mendapat kejayaan. Hadirnya tarbiyah untuk menyelamatkan ummat jahiliyah adalah
suatu hal yang beriringan dengan turunnya Islam.
· Tarbiyah yang tidak dapat membentuk kenikmatan ini bukan tarbiyahnya yang
tidak benar, tarbiyah sebagai wasilah rabbaniyah yang benar dan perlu diamalkan tetapi
kemungkinan manusia yang membawanya ke arah yang benar atau tidak mengikuti
minhaj sehingga tarbiyah tidak berkesan.
Dalil
· 93: 7 ; Dan dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan
petunjuk.
· 49: 17 ;Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keimanan
mereka. Katakanlah,”Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan
keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang memberikan nikmat kepadamu dengan
menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
· 96: 5 ; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
· 93: 8 ; Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
memberikan kecukupan.
· 21: 90 ; Maka Kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya
Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik
dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-
orang yang khusyu’ kepada Kami.
Khairu Ummah
Syarah

210
· Ummat jahiliyah berubah menjadi ummat Islam. Ummat Islam yang berdakwah
dan senantiasa peduli dengan keadaan sosial, ummat, dan agamanya, maka ia disebut
ummat yang baik. Ummat yang baik adalah ummat yang menjalankan amar ma’ruf dan
nahyi munkar.
Dalil
· 3: 104 ; Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Mereka itulah orang yang beruntung.
Ringkasan
· Ummat jahiliyah (39: 64; 25: 63) ciri-cirinya adalah bodoh (33: 72), hina (95: 4-
5); lemah (4: 28); miskin (35: 14); berpecah belah (3: 103).
· Berada dalam kesesatan yang nyata (62: 2)
· Allah Swt melalui RasulNya memberikan tarbiyah (2: 151; 3: 164; 62: 2)
· Tarbiyah memiliki 3 marhalah, yaitu tilawah (96: 1; 2: 121, hadits), tazkiyah (91:
7-10; 92: 17-21); mengalimkan tentang al kitab (3: 79)dan al hikmah (2: 269, hadits)
· Hasilnya adalah kenikmatan yang besar yaitu petunjuk (93: 7; 49: 17) seperti
pengetahuan (96: 5), harga diri (63: 8), kekuatan (hadits), kekayaan (93: 8), persatuan
(21: 90). Kesemuanya membentuk kkairu ummah (3: 104).
M.5. ANASHIRUD DAKWAH
Sasaran:
· Memahami wajibnya tandzim dalam dakwah yang terstruktur.
· Memahami unsur-unsur utama dalam tandzim dakwah dalam rangka
meralisasikan sasaran Islam.
Ringkasan:
Anasir dakwah (unsur-unsur dakwah) ini diambil dari surat 12: 108. Dengan ayat ini
kemudian ditafsirkan oleh ulama dakwah melalui tafsir dakwahnya sehingga ayat surat
ini menggambarkan bagaimana minhajdakwah yang disebutkan oleh Allah Swt di dalam
surat Yusuf tersebut..
Terdapat beberapa unsur dakwah: Qul misalnya yang mengawali surat ini
bermakna katakanlah, tetapi juga dalam kaitannya dengan dakwah merupakan
syar’iyyatud dakwah, karena ini merupakan firman Allah dan terdapat di dalam Al
Qur’an sehingga fungsinya adalah sebagai syar’iyah atau cara/minhaj dakwah. Kemudian
Allah menyebutkan hadzihi sabili (inilah jalanku) berarti juga sebagai risalatud dakwah
(menyampaikan dakwah), hal ini menunjukkan bagaimana pentingnya jalan dakwah.
Ad’u (menyeru manusia) adalah perintah dakwah yang bersifat terus-menerus
karena ayat ini bermakna fiil mudhari yang berarti kata kerja yang berlaku hari ini, esok,
dan masa depan, oleh karena itu dakwah dapat dikatakan sebagai harakatul mustamirah
(gerakan yang terus-menerus). Ilallah (kepada Allah) memberi makna ghayatu shahihah
(inilah tujuan yang benar), karena hanya kepada Allah saja tujuan dakwah ini bukan
berdakwah mengajak kepada kumpulan dan pribadi tetapi kepada Islam.
‘Ala bashirah (keterangan atau bukti yang jelas) berarti juga dakwah berjalan
berdasarkan minhajul wadhihah. Ana (saya disini Nabi Saw) adalah sebagai pemimpin
yang ikhlas (qiyadatul mukhlishah). Wamanittaba’ani (orang yang mengikutinya) sebagai
jundiyah muthi’ah (tentara yang patuh dan taat). Kemudian sunnatullah menunjukkan
tajarrud dan wama ana minal musyrikin adalah tauhid yang berarti menghindarkan diri
dari kemusyrikan.
Dapat disimpulkan bahwa dakwah harus mengikuti syariat di dalam
menyampaikan dakwahnya. Dakwah harus bersifat sesuatu program yang terus-menerus

211
tidak pernah cuti dan berhenti dengan tujuan yang benar dan berdasarkan minhaj yang
jelas. Dakwah harus dibawa oleh pengikut yang taat dengan ciri-ciri tajarruddan
mentauhidkan Allah.
Hasiyah
1. Anashir dakwah
Syarah
· Terdapat beberapa anasir atau komponen dakwah yang disebutkan di dalam surat
12: 108. Anasir ini menggambarkan minhaj dakwah. Panduan dakwah dapat diambil dari
ayat ini misalnya perlunya pemimpin yang ikhlas dan pengikut yang taat, tujuan dan
minhaj yang jelas, adanya aktivitas dan pesan, kemudian pelaku dakwah harus beriman
bersikap tajarrud. Beberapa anasir dapat dilihat di bawah ini.
2. Qul-syar’iyyatud dakwah
Syarah
· Qul atau katakanlah berarti suatu perintah syara yang langsung berasal dari Allah
dan RasulNya. Perintah atau arahan yang disebutkan setelah perkataan qul ini berarti
sesuatu yang perlu diperhatikan dan mempunyai kepentingan bagi kita. Dalam surat 12:
108 menjelaskan bagaimana dakwah yang perlu dilalui yaitu harus memenuhi beberapa
anasir misalnya ada pemimpin, pengikut, tujuan, minhaj, dan sikap.
3. Hadzihi sabili-risalatud dakwah
Syarah
· Inilah jalanku didalam surat tersebut merupakan pesan dakwah. Dakwah yang
dilakukan Nabi adalah jalan yang perlu juga dilalui oleh setiap muslim. Dakwah itu
sendiri merupakan pesan yang perlu kita tunaikan. Namun demikian, jalan dakwah yang
dikehendaki Islam adalah dakwah yang lengkap dan mempunyai beberapa anasir.
4. Ad’u-harakatul mustamirah
Syarah
· Ad’u artinya aku menyeru. Di dalam ayat ini yang perlu diperhatikan adalah
kalimat ad’u adalah kalimat mudhari’ berarti kalimat yang berlaku saat ini dan akan
terjadi seterusnya di masa depan. Dengan pengertian ini maka mufasir dakwah
menyebutkan bahwa sifat dakwah adalah aktivitas atau gerakan yang terus-menerus,
tiada henti walau bagaimanapun keadaannya baik dalam keadaan susah ataupun senang.
Dakwah yang senantiasa berjalan adalah sunnahnya dakwah Islam, siapa yang mengikuti
jalan ini harus menjadikan kehidupannya adalah kehidupan dakwah. Oleh karena itu
dakwah berjalan maka tidak akan mungkin muncul pemandulan atau tidak ada pengikut.
Kekurangan pengikut dan mandulnya potensi dakwah disebabkan karena dakwah tidak
berjalan. Walaupun dakwah berjalan sedikit maka dapat dipastikan memperoleh hasil.
5. Ilallah-ghayatu shahihah
Syarah
· Dakwah yang ilallah adalah dakwah yang mempunyai tujuan kepada Allah, hal
ini merupakan tujuan yang benar. Apabila tujuan dakwah bukan kepada Allah maka
dakwah tidak bertujuan baik, ia akan menyimpang. Dakwah yang bertujuan tidak baik ini
misalnya adalah dakwah yang mengajak kepada kumpulan (jamaah) atau dakwah yang
membawa kepada pribadi (syakhshiyah). Jamaah atau syakhshiyah da’i adalah wasilah
atau pintu untuk berdakwah tetapi nilai yang disampaikan adalah nilai Islam. Selain itu
dakwah ilallah adalah dakwah yang mengajak mad’u dekat dengan Al Qur’andan sunnah
sehingga mereka mencintai dan membelanya.
6. ‘Ala bashirah-minhajul wadhihah
Syarah

212
· Dakwah yang dijalankan juga harus berdasarkan keterangan yang jelas dengan
petunjuk yang benar dan panduan yang lengkap. Al Qur’an dan Sunnah merupakan
bagian dari rujukan dan utama dalam dakwah. Bashirah adalah yang berasal dari Islam
maka dengan demikian dakwah juga harus berdasarkan minhajul wadhihah (panduan
yang jelas). Beberapa contoh minhaj yang wadhih di dalam dakwah adalah dakwah harus
dengan hikmah, hasanah, dan marhamah, dakwah mengikuti anasir seperti jama’ah,
pemimpin, dan pengikut. Dakwah harus mengikuti marhalah, dakwah memiliki tujuan
dan berbagai wasilah yang dapat diterima oleh mad’u dan sebagainya.
7. Ana-qiyadatul mukhlishah
Syarah
· Saru anasir penting di dalam dakwah yang tidak boleh dilupakan adalah adanya
pemimpin. Pemimpin ini berarti orang yang membawa jamaah beserta pengikutnya. Ciri
utama yang perlu dimillki oleh qiyadah adalah ikhlas (qiyadah mukhlishah). Dengan
keikhlasan ini, qiyadah dapat membawa jamaah dengan baik walaupun banyak cobaan,
tantangan, fitnah dari dalam maupun dari luar. Dengan ikhlas qiyadah dapat menerima
kenyataan yang berlaku serta dapat menghadapi masalah dengan baik. Qiyadah yang
tidak ikhlas akan membawa pengikutnya kepada kepentingan pribadi dan
memperturutkan hawa nafsunya saja. Pemimpin yang demikian banyak terjadi pada
beberapa contoh di dalam gerakan Islam atau bukan, dimana gerakan menjadi
terabantukan.
8. Wamanittaba’ani
Syarah
· Adanya qiyadah harus diikuti dengan adanya jundiyah (pengikut). Apabila
qiyadah mukhlishah maka jundiyah harus muthi’ah. Pengikut yang tidak taat, maka akan
menghentikan proses dakwah dan akan menghancurkan dakwah itu sendiri. Pengikut
yang tidak taat tidak akan dapat diarahkan untuk mengerjakan program gerakan.
Kehadiran, keterlibatan, dan partisipasi yang kurang ke dakwah adalah ciri dari tidak
taatnya jundi kepada qiyadah. Program yang baik, sasaran yang menarik, dan wasilah
yang canggih tidak akan tercapai apabila pengikut tidak taat. Keberadaan pengikut di
dalam dakwah sangatlah diperlukan bagi perkembangan dakwah itu sendiri, tetapi yang
lebih penting lagi adalah pengikut yang setia.
9. Subhanallah-tajarrud
Syarah
· Maha suci Allah adalah sikap tajarrud pengikut ataupun pemimpin dakwah.
Pelaku dakwah harus senantiasa mensucikan Allah dengan perbuatan, pemikiran dan
akhlaknya. Dengan membebaskan diri dari kejahiliyahan, kekotoran, kemusyrikan, dan
kebatilan akan membawa kita kepada kejayaan dakwah. Mensucikan Allah maka akan
mendukung dan membela kita.
10. Wama ana minal musyrikin
Syarah
· Sikap berikutnya dari pelaku dakwah adalah tidaklah dirinya menjadi orang yang
musyrik. Pelaku dakwah harus melakukan tauhid saja. Bentuk tauhid diantaranya adalah
meninggalkan segala bentuk pengabdian selain kepada Allah dan juga menghindari
segala tingkah laku bukan Islam. Tauhid dari segi uluhiyah ini mempunyai kesan yang
tinggi kepada semua aspek kehidupan kita. Dengan tauhid juga maka akan mewarnai
pemikiran, akhlak, dan ruhani dengan Islam.
Dalil

213
12: 108 ; Katakanlah (wahai Muhammad) ini jalanku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak kamu kepada (agama) Allah dengan hujjah yang nyata. Mha suci
Allahsan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik
M.6. KHASOISUD DA’WAH
Sasaran:
· Memahami bahwa dakwah Islam memililki karakter yang khas dan istimewa dan
mampu menyebutkan contoh-contohnya.
· Menyadari kewajiban untuk mengaplikasikan berbagai ciri dalam aktivitas
dakwahnya.
· Menyadari bahwa semua ciri dakwah Islam hanya dapat diwujudkan melalui
hizbullah.
Ringkasan:
Dakwah Islam memiliki beberapa karakter yang menggambarkan bagaimana
Islam sebenarnya. Dakwah Islam adalah dakwah yang juga mempunyai karakter dan
sifat-sifat Islam itu sendiri. Dengan memahami karakter ini maka kita mendapatkan suatu
pemahaman yang jelas tentang dakwah. Kesadaran akan dakwah pun muncul sehingga
kita dapat mengembangkan dan memelihara dakwah ke masyarakat.
Di antara ciri-ciri dakwah adalah Rabbaniyah, Islamiyah qabla jam’iyah,
syamilah ghairu juz’iyah, mu’ashirah ghairu taqlidiyah, mahaliyah wa ‘almiyah,
‘ilmiyah, bashirah Islamiyah, mana’ah Islamiyah, inqilabiyah ghairu tarqi’iyah.
Dengan ciri-ciri dakwah ini, akan dapat menjelaskan bagaimana sebaiknya
dakwah dan jamaah Islamiyah. Penggambaran ciri dakwah ini juga akan membentuk
suatu fikrah dan kesadaran bagaimana dakwah yang baik, benar, dan perlu diikuti.
Persaingan antara dakwah dan jamaah Islamiyah serta berbagai persoalan yang berkaitan
dengan jamaah dapat dijawab dengan materi khasoisud da’wah. Kesan yang diperoleh
dari materi ini disebabkan karena beberapa ciri-ciri yang dibedah disini adalah
kekerungan-kekurangan yang dimiliki oleh beberapa jamaah dan kelebihan yang dimiliki
jamaah IM.
Hasiyah
1. Khashoisud da’wah
Syarah
· Khashoisud da’wah adalah ciri-ciri dakwah atau jamaah. Berbagai ciri-ciri ini ada
yang berkaitan dengan program, sasaran, sifat, aktivitas, dan proses perjalanan dakwah.
Penggambaran ciri dakwah ini hanyalah sebagian saja tetapi semuanya merupakan bagian
dari sifat dan ciri Islam itu sendiri. Ciri dakwah yang disampaikan disini adalah sebagian
saja karena luasnya ciri dakwah Islam yang dimiliki. Ciri dakwah Islam sesuai dengan
ciri Islam itu sendiri. Penjabaran ciri-ciri di bawah ini hanyalah berkaitan dengan hal-hal
yang penting saja atau yang dapat dijadikan sasaran.
2. Rabbaniyah
Syarah
· Dakwah yang rabbani adalah dakwah yang merabb (berorientasi kepada tuhan).
Rabbani berarti segala aktivitas dakwah Islam harus merujuk kepada Allah sebagai rabb.
Minhaj dan ghayah harus dikembalikan kepada Allah Swt. Beberapa petunjuk yang dapat
dijelaskan disini adalah ciri dakwah rabbani berarti mereka yang terlibat dalam dakwah
harus melakukan tadarus dan ta’lim. Pelaku dakwah rabbani harus memiliki sifat yang
tidak lemah, tidak bersedih hati, tidak wahn tetapi berani dan siap berhadapan dengan
siapapun. Dakwah rabbani juga menjunjung tinggi syura yang merujuk kepada Allah
(sumber), Rasul (cara), dan ulil amri (nizam).

214
· Dakwah rabbani juga mengambil aqidah dan tauhid sebagai sesuatu yang utama,
warna akhlak Islamiyah, ukhuwah Islamiyah, dan jihad juga merupakan ciri dakwah
rabbani. Dakwah rabbani juga bertumpu kepada tarbiyah takwiniyah dalam membentuk
kader dan kemudian menerjunkan kader kedalam masyarakat melalui ketokohan,
kepakaran, dan keikutsertaan.
Dalil
· 3: 79 ;
· 3: 146 ;
3. Islamiyah qabla jam’iyah
Syarah
· Islam mengajak dan menyeru perasatuan bukan perpecahan. Diantara penyebab
perpecahan adalah ta’asub dengan jamaah atau kumpulan. Allah Swt berfirman agar
melarang kita berpecah belah dan berbangga-bangga dengan kumpulan, tetapi Allah Swt
menyuruh kita bersatu di dalam Islam melalui aqidah Islamiyah dan I’tisham bihablillah.
· Islamiyah qabla jamiyah bukan menafikan peranan jamaah atau tidak
memerlukan jamaah atau kumpulan. Pernyataan ini adalah usaha meluruskan dan untuk
menduhulukan Islam dari jamaah sehingga mengenal Islam dan sadar Islam adalah
prioritas utama yang kemudian dapat menerima peranan jamaah setelah kesadaran Islam.
Hal ini akan membentuk sikap kepada pribadi untuk menerima semua golongan atau mau
berdakwah kepada semua golongan sehingga memudahkan munculnya dakwah
ustadziyatul ‘alam.
· Pembedahan jamaah diberikan setelah kesadaran mad’u kepada Islam sehingga
penerimaan jamaah dilakukan dengan cara yang baik. Sikap kepada jamaah sebagai
wasilah dan bukan satu-satunya tujuan walaupun jamaah digunakan untuk membawa
dakwah kita.
· Pendekatan Islamiyah juga berarti juga kita memberikan bagaimana semestinya
kita seorang muslim dengan dakwah Islamiyah akan terbentuk syakhshiyah Islamiyah.
Siapakah yang menjalankan dakwah ini? Jawabannya adalah jamaah. Memberikan fikrah
mengenai ciri-ciri dakwah Islam adalah usaha untuk mengajak manusia ke dalam jamaah
setelah mereka memerlukan atau memahami kepentingannya.
Dalil
· 30: 31-32 ;
· 49: 13 ;
· 3: 103 ;
4. Syamilah ghairu juz’iyyah
Syarah
· Dakwah Islam adalah sesuai dengan nilai Islam sehingga dakwah Islam harus
bersifat syamilah (sempurna). Dakwah tidak boleh juz’iyyah (parsial). Syamilah dari segi
program, aktivitas, tujuan, dan minhaj. Dakwah yang syamilah juga mencakup bidang
tarbiyah, dakwah dan sosial, budaya, politik, ekonomi dan pertahanan dan keamanan.
Aspek ini harus dibicarakan oleh dakwah. Tanpa membahas masalah ini atau hanya
membahas masalah dakwah saja maka dakwah bersifat juziyah.
· Dakwah syamilah juga menekankan peranan dan aktivitas dakwah yang
membahas masyarakat dan keahlian, dakwah juga bertumpu kepada jihad dan tegaknya
syariat. Dakwah syamilah berperan di dalam membangun masyarakat melalui potensi
dirinya.
· Pemahaman terhadap dakwah syamilah ini akan membuka pemikiran aktivis
perlunya dakwah dan agar Islam dapat diterima masyarakat. Diterimanya aktivis oleh

215
masyarakat tentunya mempunyai beberapa ciri misalnya karena tokoh, status,
kemampuan, kepakaran, dan lain sebagainya. Untuk memcapai ciri ini maka dari
sekarang jamaah dan dakwah sudah memikirkan dan bergerak dengan berbagai bidang.
Dalil:
· 2: 208 ;
· 6: 161-162 ;
5. Mu’ashirah ghairu taqlidiyah
Syarah
· Dakwah bersifat mu’asirah (kontemporer) dan tidak taqlidiyah (kuno).
Pendekatan dakwah secara minhaj harus mengikuti asholahnya yaitu Al Qur’an dan
Sunnah walaupun ada yang menyebutkan bahwa pendekatan ini adalah kuno. Tetapi
secara uslub seperti wasilah dan strategi harus canggih dan mengikuti perkembangan
semasa.
· Pendekatan mu’asirah berarti mengambil situasi dan kondisi, peristiwa, sikap,
keperluan dan kemudian dikaitkan dengan sasaran. Pendekatan mu’sirah di dalam
dakwah misalnya dakwah dengan internet, power point dan sebagainya.
· Dakwah mu’asirah juga menggunakan pendekatan semasa seperti partai, pemilu
dan sebagainya. Peperangan juga dilakukan dengan senjata yang canggih bukan dengan
panah atau pisau, begitu kendaraan tidak dengan kuda atau unta.
· Pendekatan taqlidiyah adalah pendekatan kuno yang tidak memperhatikan
perkembangan zaman dan merujuk secara buta kepada sesuatu yang kuno dan mungkin
tidak lagi sesuai dengan keadaan sekarang. Sikap taqlid juga muncul karena kurangnya
pengetahuan sehingga mengikuti sesuatu tanpa pemahaman yang jelas, atau
melaksanakan sesuatu tanpa ilmu.
6. Mahaliyah wa ‘alamiyah
Syarah
· Dakwah Islam sesuai dengan nilai Islam yang universal. Islam adalah agama
untuk semua manusia dan juga rahmat bagi seluruh alam. Kahadiran Islam adalah
mendunia dan juga untuk kebahagiaan makhluk, khususnya manusia. Dakwah yang
global dan dunia adalah ciri dakwah Islam, oleh karena itu dakwah dan jamaah juga
harus bertaraf internasional. Ummat Islam ada di segala penjuru dunia maka dakwah dan
jamaah pun harus ada di penjuru tersebut. Tandzim dan jamaah di setiap negeri haruslah
berkaitan juga dengan tandzim yang ada di luar dn menyatu di dalam kekuatan dakwah
Islam.
· Walaupun dakwah adalah bersifat internasional tetapi operasional kita adalah
mahaliyah (tempat). Tempat dimana kita berada, berdiri, dan menginjakkan kaki itulah
sebagai tempat dakwah kita, tetapi secara fikrah dan hubungan harus bertaraf
internasional. Dengan demikian ta’awun dan kesatuan ummat akan terwujud.
· Jamaah dan dakwah sepakat bahwa ini lebih kepada qatr atau negeri misalnya
jamaah atau dakwah yang sebatas Malaysia dan tidak berhubungan secara struktur
dengan dakwah dan jamaah di luar. Padahal suatu kenyataan yang kita hadapi bahwa
musuh Islam bersifat Internasional, mereka pun bersatu untuk melawan kita dan
menghancurkan secara berjamaah dari berbagai arah di dunia. Keadaan demikian juga
menuntut kita untuk melakukan dakwah secara internasional, selain untuk menghadapi
musuh juga untuk menegakkan syari’ah.
· Tuntutan dunia ke arah globalisasi juga akan membawa dakwah Islam dilakukan
secara mendunia dan global, terbuka serta universal.
Dalil:

216
· 34: 28 ;
· 21: 107 ;
7. ‘Ilmiyah
Syarah
· Dakwah yang islami adalah dakwah yang berjalan melalui pendekatan ilmiyah,
sehingga muncul kesadaran Islam. Pendekatan kuliah, ceramah, perbincangan, latihan
adalah sebagian usaha pendekatan dakwah secara ilmiyah. Tanpa pendekatan ilmiyah,
maka dakwah akan diikuti oleh mereka yang taqlid, bodoh, tidak sadar dan ikut-ikutan
sehingga akan membahayakan jamaah itu sendiri. Allah Swt melalui firmannya di dalam
Al Qur’an atau Muhammad Saw melalui sabdanya di dalam hadits selalu menekankan
ilmu dan cara pendekatan Qur’an dan Hadits dengan cara ilmiyah yaitu usaha
menyadarkan Islam bukan memaksa dan juga bukan memberikan tekanan. Masalah
tekanan dan paksaan adalah sesuatu yang dilarang oleh Islam. Pendekatan ilmiyah ini
mengajak manusia berfikir dan mengerjakan amalan Islam secara bertahap mengikuti
pemahaman dan kesadaran. Cara demikian akan menghasilkan suatu cara yang sangat
efektif dalam membentuk kesadaran Islam.
Dalil:
· 17: 36 ;
· 2: 256 ;
8. Bashirah Islamiyah
Syarah
· Keterangan yang nyata dengan bukti yang jelas dan benar adalah sifat Islam.
Dakwah harus mendasarkan minhaj dan programnya kepada Islam. Dalil-dalil, rujukan,
dan panduan dari Islam adalah ciri dakwah Islam, bukan minhaj yang berasal dari luar
Islam.
· Keadaan yang dapat menipu adalah keadaan orang putih yang sudah maju dan
mengeluarkan banyak produknya misalnya masalah manajemen. Hal ini dapat
mempengaruhi kita memakai teori-teori itu tanpa dipilih atau dilihat menurut Islam.
Manajemen Barat berbeda dengan manajemen Islam. Penerapan manajemen Barat ke
dalam dakwah dan jamaah Islamiyah adalah suatu yang keliru atau akan menghancurkan
dakwah itu sendiri. Hal ini adalah suatu bukti dari dakwah yang tidak berdasarkan
bashirah Islamiyah.
· Masalah yang berkaitan dengan dugaan atau pengalaman yang terbatas juga akan
menghambat sikap kepada bashirah Islamiyah. Oleh karena itu perlu rujukan yang kuat
kepada Islam, sehingga Islam mewarnai gerak dakwah kita.
9. Mana’ah Islamiyah
Syarah
· Dakwah Islam harus mempunyai ciri-ciri mana’ah (kebal/benteng) Islam. Untuk
mencapai ini maka dakwah berorientasi kepada pencapaian penguasaan teori (istiab
nadhori), penguasaan moral (istiab ma’nawi) dan penguasaan amal (istiab amal).
· Penguasaan teori ini dicapai apabila pribadi yang didakwahi diberi bekal dengan
pengenalan kepada prinsip Islam (ma’rifatul mabda’) seperti rukun Islam, rukun iman,
dan prinsip lainnya. Selain itu juga mad’u perlu diberi pengenalan kepada fikrah
(ma’rifatul fikrah) dan pengenalan minhaj (ma’rifatul minhaj). Ketiga pengenalan ini
dilakukan agar mencapai penguasaan teori. Biasanya bahan-bahan tamhidiyah I (level
UK) diusahakan untuk mencapai sasaran ini.
· Penguasaan moral dicapai dengan cara menumbuhkan melalui latihan, amalan,
dan aplikasi yaitu kehendak yang kuat (al wafa tsabit). Sasaran ini dicapai dengan

217
mengamalkan konsep yang sudah difahami dalam bentuk amal, biasanya dalam bentuk
latihan, tugas, dan program bersama yang dilakukan.
· Sedangkan penguasaan amal dicapai dengan gerakan yang terus-menerus
(harakah mustamirah) dan semangat pengorbanan (ruhul bazl). Tadzrib, tamrinat dan
sebagainya adalah cara dakwah mencapai penguasaan amal ini.
10. Inqilabiyah ghairu tarqi’iyyah
Syarah
· Perubahan yang dikehendaki oleh dakwah adalah perubahan yang bertahap di
dalam proses yang dikehendaki untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Perubahan
tidak mendadak dan asal jadi saja tetapi lebih kepada perubahan yang bertahap
(inqilabiyah) mengikuti kemampuan, kefahaman, dan level mad’u.
· Dengan perubahan yang demikian maka dapat menghasilkan pribadi yang furqan
sehingga muncul pribadi yang kuat.
M.3. MARHALAH, AMAL, DAN AHDAF DAKWAH
Sasaran:
· Memahami bahwa dakwah ada marhalah yang wajib ditempuh.
· Memahami bentuk setiap marhalah dakwah dan tujuan yang hendak dicapai.
· Menyadari bahwa untuk merealisasikan tujuan-tujuan Islam ia harus mengikuti
setiap marhalah dakwah.
Ringkasan:
Marhalah dakwah terdiri dari tabligh, ta’lim, takwin, dan tanfidz. Pada setiap
tahapan ini terdapat amalud dakwah (aktivitas dakwah) dan ahdafud dakwah (tujuan
dakwah). Pada marhalah tabligh (penyampaian umum) dan ta’lim (pengajaran) aktivitas
dakwahnya adalah merubah dari kebodohan kepada ma’’ifah (pengenalan) manakala
tujuannya adalah menyampaikan ilmu dan memperbaiki ilmu. Marhalah takwin
mempunyai aktivitas merubah ma’rifah kepada fikrah dan merubah fikrah kepada
harakah sedangkan tujuan adalah memperbaiki fikrah dan melatih amal. Pada marhalah
tandzim, aktivitas dakwahnya adalah merubah harakah kepada hasil sedangkan tujuannya
adalah menyatukan shaf, mengkoordinasikan amal dan pengawasan kegiatan. Pada
marhalah tanfidz aktivitas dakwah adalah merubah hasil kepada tujuan (mardhatillah)
menakala tujuannya adalah mobilisasi amal.
Hasiyah:
1. Marhalah tabligh dan ta’lim
Syarah
· Amal dakwah pada marhalah tabligh dan ta’lim adalah merubah jahalah kepada
ma’rifah. Marhalah ini adalah marhalah yang terbuka dengan penyampaian terbuka dan
bahan yang sifatnya umum. Mereka yang hadir dalam marhalah ini adalah mereka yang
berada pada level umum. Contoh tabligh adalah aktivitas dakwah di masjid (ceramah,
khutbah, tazkirah), di kampus (seminar, kuliah, daurah) sedangkan ta’lim marhalah
setelah tabligh. Mereka yang berminat dengan dakwah dan Islam diajak kepada marhalah
ta’lim. Bentuk usrah umum dapat dikatakan marhalah ta’lim dimana kita mendapatkan
ilmu melalui pengajaran yang dijadwal dan terlaksana secara tertib. Usaha-usaha dakwah
tabligh dan ta’lim ini dengan sifat yang umum, peserta umum, dan tujuan umum, maka
aktivitas ini bersifat merubah ketidaktahuan kepada pengetahuan (ma’rifah). Di dalam
menjalankan amal dakwah demikian banyak aktivitas yang dilakukan seperti media,
brosur, kaset, video, games, training, rihlah, dan sebagainya.
· Seiring dengan amal dakwah yang dilakukan di marhalah ini maka tujuan dan
dakwahnya adalah memberi ilmu dan memperbaiki ilmu. Bagi peserta yang tidak

218
mempunyai ilmu maka dengan keikutsertaannya di dalam marhalah tabligh dan ta’lim ini
akan menambah ilmu sedangkan bagi yang sudah berilmu akan mendapatkan perbaikan
ilmunya atau menambah ilmu. Pembedahan, perbincangan, dan pembahasan adalah
bagian dari aktivitas marhalah ini sehingga mencapai kebutuhan akal atau kognitif
individu seperti ilmu.
2. Marhalah Takwin
Syarah
· Pribadi yang sudah menyadari pentingnya ilmu dan peranannya pengajaran yang
terus menerus dan tertib serta telah bersedianya untuk mendapatkan ilmu dan amal bagi
peningkatan potensi diri maka mereka ditingkatkan kepada marhalah takwin.
· Marhalah takwin ini mempunyai amal dakwah seperti merubah ma’rifah kepada
fikrah dan merubah fikrah kepada harakah. Aktivitas ini dimulai dengan merubah
ma’rifah yang telah dicapai pada marhalah sebelumnya kepada fikrah. Ma’rifah hanya
mengenal saja tetapi belum mempunyai kesadaran dan pemahaman yang baik. Kesadaran
dan pemahaman yang dapat membentuk amalnya adalah fikrah. Banyak muslim yang
mempunyai ilmu tetapi tidak ada fikrah sehingga amal dan usahanya tidak jelasdan tidak
teratur, begitupun dengan sikap dan tingkah lakunya terkadang menyimpang, ia pun
mudah terpengaruh oleh ghazwul fikri sehingga muncul beberapa pribadi yang tidak
komitmen dan tidak konsisten. Usaha merubah ma’rifah kepada fikrah dilakukan dengan
membedah realitas yang berlaku dan merujuk kepada nilai Islam dari Al Qur’an dan As
Sunnah. Perbincangan dilakukan sehingga muncul kesadaran dan pemahaman.
· Aktivitas berikutnya adalah merubah fikrah kepada harakah. Fikrah tidak cukup
dimiliki seseorang apabila tidak diamalkan dan diwujudkan dalam harakah. Fikrah harus
dibuktikan di dalam amalnya. Merubah fikrah kepada harakah adalah melatih peserta ke
dalam amal dan gerakan, selain diberi peluang kepada peserta untuk beramal juga diberi
latihan-latihan yang dapat merasakan realitas dan keadaan fikrah yang sebenarnya.
Misalnya kita hanya memahami bahwa dakwah itu wajib dan bagi yang berdakwah itu
dibantu oleh Allah, hanya dengan dakwah yang dapat menegakkan Islam. Fikrah
demikian perlu dirasakan dengan amal di dalam harakah. Latihan yang diberikan dan
juga peluang yang diberikan dan juga peluang yang disediakan akan membawa peserta
kepada harakah.
· Pada marhalah ini memiliki tujuan dakwah, yaitu memperbaiki fikrah dan
memperbaiki amal. Pribadi pada marhalah sebelumnya yang mendapatkan ilmu atau
pribadi yang mengikuti marhalah takwin ini akan diusahakan agar mereka dapat
memperbaiki fikrah dan amalnya. Perbaikan dilakukan dilakukan didalam marhalah ini
dengan kaidah-kaidah yang telah dicontohkan Nabi seperti pelaksanaan tarbiyah para
sahabat di rumah Arqam bin Abi Arqam.
3. Marhalah Tandzim
Syarah
· Setelah proses marhalah takwin maka proses berikutnya adalah marhalah
tandzim. Marhalah tandzim mempunyai amal dakwah lain yaitu merubah harakah kepada
hasil. Tandzim dapat juga diartikan kepada jama’ah. Mereka yang sudah memiliki ciri-
ciri islamiyah dan ciri pribadi da’iyah perlu disatukan kedalam tandzim (jama’ah).
Dengan usaha ini maka akan mendapatkan hasil. Kerja secara infiradhi tidak akan
membuahkan hasil yang berkesan. Usaha sendiri hanya terbatas kepada suatu hasil
tertentu yang sesuai dengan kemampuannya, tetapi dakwah secara berjama’ah melalui
tandzim ini akan menghasilkan banyak hasil. Usaha ini dilakukan dengan amal jama’i

219
sehingga apapun tujuan dapat dicapai dengan izin Allah. Tujuan yang besar seperti
menegakkan Islam tidak akan dicapai apabila tidak dilakukan secara berjama’ah.
· Tujuan dakwah pada marhalah tandzim ini adalah menyatukan shaf,
mengkoordinasikan kerja dan melakukan pengawasan aktivitas dakwah. Peranan tandzim
adalah menyatukan segala potensi yang dimiliki kemudian diarahkan kepada amal secara
berjamaah dan dilaksanakan pengawasan amal tadi. Dengan demikian aktivitas dakwah
akan berjalan dengan lancar menuju hasil yang berkesan kepada pribadi, keluarga, dan
masyarakat.
4. Marhalah tanfidz
Syarah
· Amal yang dilakukan pada marhalah ini adalah merubah hasil yang dicapai
didalam marhalah tandzim kepada tujuan yang dikehendaki (mencapai ridha Allah).
Tujuan jangka panjang adalah menegakkan syariat di muka bumi sehingga membumikan
syariat ini merupakan bagian utama cita-cita setiap muslim. Tujuan hanya dpat dicapai
dengan melakukan usaha dakwah secara jama’i didalam jama’ah. Tujuan jangka pendek
dakwah biasanya sangat bergantung kepada keadaan, tempat, suasana, situasi, peristiwa
yang melatarbelakangi dan pertimbangan-pertimbangan semasa. Semua tujuan ini
diwarnai dengan usaha untuk mencapai mardhatillah. Bentuk tanfidz dapat juga diartikan
setiap amal yang kita hasilkan secara bersama-sama dan mengikuti sasaran yang
dikehendaki, seperti terlaksananya daurah, menjadikan mad’u sebagai anggota jama’ah
melaksanakan ibadah dan dakwah.
· Tanfidz akan diarahkan untuk bergerak dan beramal sehingga pada marhalah
tanfidz ini ahdaf dakwah adalah menggerakkan amal yang sudah dilakukan sebelumnya.
Banyak contoh seperti aktif di dalam menghidupkan platform, wajihah amal, dan wajihah
umum. Menampilkan pribadi al akh ke dalam masyarakat sehingga mewujudkan fikrah
Islam di tengah masyarakat. Menggerakkan al akh ke dalam amal yang dirasakan oleh
masyarakat umum misalnya melakukan khidmat sosial. Tampilnya pribadi al akh sebagai
contoh di TV atau media, dan juga memasukkan al akh ke berbagai partai dan
pertumbuhan yang dapat mengembangkan dakwah Islam nantinya. Pelaksanaan tanfidz
ini mungkin juga dilakukan dengan demonstrasi, turun ke jalan, dan sebagainya. Banyak
cara lainnya di dalam marhalah tanfidz ini seperti usaha membentuk fikrah di dalam
masyarakat melalui media dan aktivitas menegakkan syariat melalui politik dan lainnya.
Tanfidz yang dilakukan oleh al akh dapat dilaksanakan dari aktivitas yang sederhana
hingga kepada aktivitas yang besar didalam menegakkan syariat Islam.
Dalil:
· 5: 67 ; Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamudari Tuhanmu.
Dan tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan
amanatnya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
· 2: 151 ; Mereka (Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allahdan (dalam
peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya
pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya
apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian
manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai
karunia atas alam semesta.
· 3: 79 ; Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al
Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia,” Hendaklah kamu
menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):

220
”Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al
Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
· 3: 104 ; Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar:
merekalah orang-orang yang beruntung.
· 61: 4 ; Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya
dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh.
· 9: 105 ; Dan katakanlah: ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

M.7. RABBANIYATUD DA’WAH


Sasaran:
· Memahami unsur-unsur rabbaniyah dakwah dan mampu menyebutkan contoh-
contoh realisasinya.
· Memahami peranan rabbaniyah dakwah dalam meninggikan kalimatullah melalui
jamaah yang solid.
· Termotivasi untuk senantiasa terlibat dalam lingkaran dakwah yang rabbani
Ringkasan
Rabbaniyatud dakwah adalah dakwah yang merujuk kepada Rabb (Allah Swt).
Beberapa ciri dakwah robbani adalah rabbani dari segi risalah (pesan yang dibawa), rijal
(pelaku dakwah), dan jamaah (tandzim). Rabbaniyatur risalah adalah dakwah dengan
pesan yang dibawa semuanya berdasarkan Islam yang bertujuan untuk meninggikan
kalimatullah. Diantara penekanan di dalam rabbaniyatur risalah adalah rabbaniyatul
mabda’, rabbaniyatul minhaj, rabbaniyatul khuthuwat, rabbaniyatul ghayah, rabbaniyatul
thariqah.
Risalah atau message yang disampaikan akan baik apabila pesan tersebut juga
mempunyai ciri yang robbani. Dengan demikian juga diperlukan rabbaniyatur rijal.
Beberapa ciri-ciri rabbaniyatur rijal adalah pribadi yang mengajarkan kitab, mempelajari
kitab, tidak merasa lemah semangat, tidak lemah tenaga dan mau tunduk.
Melengkapi penyampaian risalah oleh pribadi da’i adalah dengan jamaah. Tanpa
jamaah maka rijal tidak dapat berperan secara efektif dan juga pesan tidak sampai kepada
mad’u. Beberapa ciri jamaah yang robbani adalah rabbaniyatul qiyadah, rabbaniyatul
jundiyah, dan rabbaniyatul ukhuwah. Dengan jamaah yang demikian akan memunculkan
jamaah yang kuat (jamaah matinah).
Hasiyah
1. Rabbaniyatud dakwah
Syarah
· Dakwah dijalankan hingga mendapatkan hasil harus memenuhi persyaratan
rabbani. Dakwah Islam yang rabbani adalah dakwah yang dibawa oleh Nabi Saw.
Maksud dakwah rabbani adalah dakwah yang tujuan, aktivitas, program, dan minhaj
mengikuti arahan Al Qur’an dan Sunnah. Dakwah rabbani membawa Islam itu sendiri
sebagai warna dakwah dan tujuan dakwah. Beberapa ciri dakwah yang rabbani adalah
risalah yang disampaikan harus mengikuti Islam, kemudian jamaah yang mengendalikan
dakwah harus mengikuti kaidah-kaidah Islam.
2. Rabbaniyatur risalah

221
Syarah
· Rabbaniyatur risalah terdiri dari tiga bagian yaitu rabbani dari segi mabda’,
minhaj, dan ghayah.
· Rabbaniyatul mabda’ (prinsip) ini juga merupakan rabbaniyatul mashdar
(sumber). Prinsip-prinsip Islam yang disampaikan di dalam dakwah adalah sumber
rujukan dan panduan. Aqidah Islamiyah adalah prinsip di dalam Islam, begitu pun
syahadatain dan keimanan. Prinsip ini dijadikan sumber rujukan bertingkah laku dan
bergerak. Dakwah yang rabbani perlu sekali mempertimbangkan masalah prinsip yang
asas disampaikan kepada manusia.
· Selain masalah risalah yang berisi prinsip dan kemudian dijadikan sumber, dan
juga di dalam minhaj yang digunakan oleh dakwah harus bersifat rabbani. Rabbaniyatul
minhaj dijadikan sebagai khuthuwat sehingga dapat disebut sebagai rabbaiyatul
khuthuwat. Minhaj mengatur langkah dan gerak dakwah, dengan minhaj pula langkah
dakwah dapat terarah dan mencapai sesuatu yang jelas dan dikehendaki oleh harakah.
Dengan ghayah yang rabbani maka dapat dijadikan rabbaniyatut thariqah. Ghayah
rabbani adalah ilallah, mencari ridha Allah, dan kemudian menegakkan syariat. Tidak
ada tujuan lain selain Allah, kecuali mereka yang tidak jelas tujuan yang akan
dicapainya. Ghayah kepada hawa nafsu adalah kejahiliyahan yang sesat.
· Risalah yang rabbani ini bertujuan li I’la likalimatillah, meninggikan kalimat
Allah bertujuan menyeru dan menjelaskan risalah yang Allah miliki kepada manusia.
Melalui ghayah yang rabbani, minhaj dan mabda’ Islam ini akan mewujudkan kalimat
Allah di muka bumi.
3. Rabbaniyatur rijal
Syarah
· Beberapa ciri rabbaniyatur rijal adalah mengajarkan kitab, mempelajari kitab, dan
tidak merasa lemah semangat, tidak lemah tenaga, dan tidak mau menyerah begitu saja.
Risalah yang disampaikan tidak akan mungkin diterima dan diamalkan dengan baik
apabila rijal yang membawa pesan tersebut tidak menggambarkan ciri-ciri rabbani.
Pelaku dakwah yang tidak mempelajari kitab dan tidak mengejarkan kitab tidaklah
mungkin dapat dijadikan uswah dan juga tidaklah mungkin dapat mengembangkan
dakwah. Keberhasilan dakwah dapat dipengaruhi oleh ciri pribadi rijal pembawa dakwah
ini. Pesan yang disampaikan haruslah bernilai dan berkesan. Kalam yang terkesan
tentunya keluar dari rijal yang senantiasa mempelajari kitab dan mendalaminya.
· Ciri rijal yang membawa dakwah adalah tidak merasa lemah semangat, tidak
lemah tenaga, dan tidak mau menyerah. Di dalam operasional dakwah, pribadi dakwah
harus mempunyai ketabahan, kesabaran, dan ketahanan. Tanpa ciri ini maka sulit bagi
pribadi tersebut menjalankan dakwah dengan baik. Dakwah ini penuh dengan tantangan
dan cobaan yang menghendaki pelaku dakwah siap menerima dan menghadapi segala
ujian dan cobaan dengan tenang dan dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan
baik. Dakwah yang berhasil menghendaki pribadi dakwah yang tidak sedih, tidak
mengalah, dan tidak berduka cita.
Dalil
· 3: 79 ;
· 3: 146 ;
4. Rabbaniyatul jamaah
Syarah
· Rabbaniyatud dakwah selain dilengkapi dengan rabbaniyatur risalah dan
rabbaniyatur rijal juga dilengkapi dengan rabbaniyatul jamaah. Rabbaniyatul jamaah

222
mempunyai beberapa komponen yaitu qiyadah, jundiyah, dan ukhuwah. Jamaah yang
rabbani harus memiliki qiyadah yang mukhlishoh, jundiyah muthi’ah, dan diikat dengan
ukhuwah Islamiyah.
· Rabbaniyatul qiyadah bermaksud qiyadah yang mempunyai ciri-ciri Al Qur’an
dan Sunnah. Qiyadah muslimah memiliki ciri-ciri amanah, jujur, sidiq, dan tabligh. Ciri
rabbani yang ada pada qiyadah juga termasuk moral dan fisik seperti tidak lemah
semangat, tidak lemah fisik, tidak bersedih dan tidak penakut. Ciri-ciri yang dikehendaki
Islam kepada muslim dan qiyadah didapati pada qiyadah rabbaniyah.
· Beriringan dengan qiyadah yang rabbaniyah maka dakwah akan dapat
dilaksanakan secara berkesan apabila diikuti dengan jundiyah yang rabbani. Rabbaniyatul
jundiyah adalah jundi yang taat menerima arahan, memiliki akhlak Islam dan
berkepribadian menarik. Jundiyah selain dapat beramal jama’i dengan sesamanya juga
dapat berhubungan qiyadahnya dalam mencapai sasaran. Tashawur Islam dan jamaah
serta dakwah dimiliki oleh jundi rabbani. Kemampuan jundiyah dan kesadaran Islamiyah
yang ada pada diri jundiyah sangat membantu tegaknya dakwah rabbani. Pengikut setia
merupakan aset dakwah utama di dalam menegakkan dakwah Islam.
· Hubungan yang terjadi di dalam jamaah adalah hubungan dengan suasana
ukhuwah Islamiyah. Rabbaniyatul ukhuwah berarti ukhuwah yang berorientasikan
kepada keislaman dengan ukhuwah maka akan muncul kelancaran program dan aktivitas
dakwah. Ukhuwah Islamiyah di kalangan pelaku dakwah dapat membantu segala macam
permasalahan dan mempercepat proses dakwah.
· Jamaah matinah akan terwujud apabila di dalam jamaah tersebut mempunyai
komponen rabbaniyatul qiyadah, jundiyah dan ukhuwah. Salah satu diantara komponen
tersebut hilang, maka jamaah akan lemah dan tidak mempunyai kekuatan sehingga
mudah dikalahkan musuh. Rabbaniyatul jamaah menghasilkan kekuatan jamaah juga
ditentukan oleh rabbaniyatur rijal.
M.8. KAYFA YATAKAYYAFU BIL ISLAM
Sasaran:
· Memahami bahwa berharakah Islamiyah hanya dapat dicapai dengan terwujudnya
kondisi yang Islami.
· Memahami barometer yang digunakan untuk mengukur kesiapan pribadi dan
jamaah untuk berdakwah.
· Memahami bahwa melaksanakan minhaj taqyim dapat mengantarkan pribadi dan
jamaah meraih posisi dari Allah.
Ringkasan
Bagaimana untuk menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa watakayyafu bil Islam)
dilakukan dengan mempertimbangkan aqidah, ukhuwah, dan uddah (persiapan). Untuk
memunculkan potensi dan kekuatan pribadi maka diperlukan komponen aqidah dan
diikat dengan ukhuwah. Pribadi yang beraqidah dengan ittikad, perasaan, fikiran, dan
tingkah laku akan membentuk kepribadian Islam yang akhirnya menghasilkan kekuatan
pribadi. Kekuatan-kekuatan pribadi ini tidak akan berhasil atau tidak akan bermanfaat
bila tidak diikat dengan ikatan dan persatuan diantara mereka yang beraqidah. Ukhuwah
yang dimulai dengan ta’aruf dan diteruskan dengan tafahum yang akhirnya menghasilkan
takaful akan mewujudkan amal jama’i sehingga muncul kekuatan jamaah. Kekuatan
pribadi yang diikat dengan kekuatan jamaah akan menghasilkan kekuatan jiwa.
Kekuatan jiwa saja tidaklah lengkap untuk individu yang ingin membiasakan
dirinya dengan Islam apabila tidak diiringi dengan kekuatan harta (amwal). Persiapan
dilakukan diantaranya adalah dengan mengeluarkan zakat, infaq, sadaqah, dan sunduq.

223
Harta yang diperoleh melalui saluran ini akan menghasilkan kekuatan persiapan yaitu
kekuatan harta.
Secara kuantitas diperoleh banyak pribadi dan didukung dengan berbagai
persiapan (al udadu) seperti maal maka individu tersebut dapat digerakkan kepada
bagaimana bergerak bersama Islam. Amalan dan ibadah kepada Allah saja merupakan
usaha kita di dalam bergerak bersama Islam. Ibadah adalah bentuk realisasi iman kepada
Allah sehingga muncul pribadi-pribadi yang sidiq.
Sidiq akan muncul di dalam hati, lisan, dan amal. Dengan sidiq hati maka akan
muncul kekuatan indifak, sidik lisan akan menghasilkan kekuatan kesan, sidik amal akan
mewujudkan kekuatan hasil. Akhirnya Allah Swt memberikan kepercayaan dengan
memberikan kedudukan (makanah) atau pengikhtirafan.
Hasiyah
1. Kayfa yatakayyafu bil Islam
Syarah
· Materi bagaimana menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa watakayyafu bil
Islam) ini diilhami dari kisah pemuda Kahfi yang dituliskan di dalam surat Al Kahfi: 9-
26. Ulama menafsirkan bahwa pemuda Kahfi ini adalah pemuda-pemuda yang beriman
dan sesama mereka melakukan ukhuwah Islamiyah sehingga mereka bersama senasib dan
sepenanggungan memperjuangkan keimanan dari tantangan raja dzalim pada masa itu.
Syakhshiyah Islamiyahdan amal jama’i akanmenghasilkan kekuatan jiwa. Di dalam kisah
disebutkan juga persediaan uang perak yang ada pada mereka walaupun uang perak
tersebut tidak lagi diterima. Persiapan keuangan dan persiapan jiwa akan mewujudkan
bagaimana mereka bergerak. Di dalam ayat 18, juga diceritakan bagaimana mereka
digerakkan ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri, mereka beribadah kepada Allah.
Kemudian mereka ditangkap oleh raja setelah terbangun yang akhirnya raja meyakini apa
yang dicakapkan atau diceritakan oleh pemuda Kahfi tersebut berkaitan dengan dirinya.
Terakhir sekali, pemuda Kahfi mendapatkan pengharmatan atau makanah dari raja.
1. Al Aqidah
Syarah
· Aqidah yang benar harus mencakup itikad yang baik, syu’ur yang Islam, fikrah
yang bersih, dan suluk yang agung. Aqidah dengan wujud iman kepada Allah dan Rasul
di dalam pernyataannya kepada syahadatain juga diiringi dengan keimanannya kepada
malaikat, kitab, hari kiamat, dan taqdir. Aqidah yang mantap akan mewarnai bagaimana
kepribadiannya. Kepribadian seorang individu terdiri dari ittikad, syu’ur, fikrah, dan
suluk. Pribadi yang muslim memiliki ciri-ciri Islam di dalam setiap komponen dirinya.
· Syakhshiyatul Islamiyah akan terwujud dengan aqidah yang benar dan bersih.
Bersih dari kemusyrikan dan benar mengikuti Islam. Pribadi Islam mewarnai kehidupan
diri seorang muslim apakah di rumah ataupun di luar rumah. Keadaan demikian
merupakan suatu tuntunan aqidah yang dimiliki seseorang.
· Aqidah yang tertanam di dalam hati dan dada muslim akan menghasilkan
kekuatan pribadi (quwwatul fard). Pribadi tanpa aqidah akan lemah dan tidak
mempunyai potensi, ia akan merusak dan menghancurkan dirinya sendiri. Aqidah akan
menjadikan pribadi kuat karena landasan yang kuat dan tempat bergantung yang kuat
yaitu hanya kepada Allah saja. Dengan demikian suatu kekuatan akan terwujud dengan
pemahaman dan keyakinan yang bersih.
Dalil
· 9: 40 ;
· 26: 61-62 ;

224
· 6: 161-162 ;
· 8: 60 ;
1. Al Ukhuwah
Syarah
· Aqidah yang bersih dan menghasilkan kekuatan pribadi tidak akan berhasil atau
berkesan apabila tidak diikat dengan persaudaraan Islam. Persaudaraan Islam adalah
suatu nikmat dan hidayah yang Allah berikan kepada manusia. Dengan persaudaraan ini
menambah nikmatnya iman dan Islam yang ada pada diri kita. Dengan ukhuwah maka
hidup menjadi tenang dan bahagia. Segala permasalahan dan keadaan yang menyusahkan
akan diatasi dengan suasana ukhuwah Islamiyah ini. Kepentingan ukhuwah Islamiyah di
atas segala urusan telah dibuktikan oleh para sahabat Nabi Saw.
· Hubungan Islam dengan persaudaraan Islam dengan saling berkenalan (ta’aruf),
setelah itu akan menghasilkan saling memahami (tafahum). Mengenal jasad, pemikiran,
dan kepribadian saudara kita yang meningkatkan pemahaman kita kepadanya sehingga
pemahaman yang terbentuk dari ta’aruf ini akan menghasilkan suatu hubungan saling
tolong menolong (ta’awun). Keadaan ini yang kemudian yang memudahkan proses amal
jama’i dan proses dakwah Islamiyah. Ta’awun dalam bentuk saling mendoakan dan
saling membantu akan menghasilkan merasa senasib dan sepenanggungan (takaful).
· Amal Jama’i terwujud setelah terbentuknya ukhuwah Islamiyah. Kerja sama dan
sama-sama kerja merupakan suasana yang terwujud diantara pribadi yang mengamalkan
ukhuwah Islamiyah di dalam arena dakwah.
· Quwwatul jama’ah (kekuatan jamaah) sebagai hasil dari terjadinya amal jama’i di
kalangan pribadi da’i akan membentuk jamaah yang handal, diperhitungkan dan tahan
dari segala fitnah dan cobaan.
Dalil
· 49: 10 ;
· 9: 1 ;
· 49: 13 ;
· 5: 2 ;
· 90: 17 ;
· 103: 3 ;
· 37: 99-100 ;
· 11: 80 ;
· 11: 91 ;
1. Quwwatul anfus
Syarah
· Pribadi yang tertanam aqidah di dalam dadanya kemudian berkumpul bersama-
sama diikat dengan tali persaudaraan Islam sehingga akan mengembangkan potensi diri
dan kepribadian. Kekuatan jiwa dan potensi bagi individu terwujud setelah mereka
bersama-sama melakukan ta’awun dan amal jama’i. Pribadi yang kuat sekalipun apabila
tidak bersama-sama maka ia akan lemah dan tidak berpotensi. Keadaan pribadi demikian
juga berlaku apabila pribadi yang kurang beriman diikat dengan tali ukhuwah Islamiyah
maka tidak akan muncul kekuatan pribadi. Bagaikan sapu lidi yang tidak banyak manfaat
apabila tidak diikat dengan tali yang kuat dan kokoh.
· Keadaan kekuatan jiwa akan menjadikan kekuatan secara al a’dad (jumlah).
Jumlah pribadi yang banyak dan mereka kuat akan menghasilkan kekuatan jiwa.
Dalil
· 49: 15 ;

225
· 9: 111 ;
· 8: 60 ;
1. Al ‘Uddah
Syarah
· Bagaimana kita dapat berinteraksi dengan Islam tidaklah cukup hanya dengan
aqidah dan ukhuwah. Banyak aktivis Islam dan keperluan untuk berinteraksinya
memerlukan uang dan fasilitas. Uang fasilitas, kendaraan, dan materiil lainnya
mempunyai peranan yang penting di dalam menyokong kelancaaran dakwah. Tanpa
peranan maal ini maka tidak akan lancar perjalanan dakwah dan jamaah. Allah Swt
menyebutkan di dalam banyak ayat berkaitan dengan perlunya berjihad dan berdakwah
dengan mengorbankan harta dan jiwa. Kekuatan maal merupakan tuntutan dakwah dan
gerakan. Bagaimana kita akan berislam apabila kita mempunyai uang dan fasilitas. Oleh
karena itu persiapan keuangan sangatlah dipentingkan didalam amal dakwah.
· Beberapa usaha menyediakan maal ini didalam Islam melalui zakat, infak,
shodaqah, sunduq, dan maal.Zakat merupakan kewajiban seorang muslim yang telah
mampu, sedangkan infak juga kewajiban seorang muslim tetapi tidak ditentukan berapa
jumlahnya, sedangkan shodaqah terserah kepada kita, manakala maal diperoleh secara
usaha atau bisnis individu-individu yang bergerak di dalam perserikatan Islam. Apabila
dikumpulkan semua kewajiban dan usaha pengumpulan uang ini maka tidak akan
kekurangan dana sokongan bagi kepentingan dakwah Islam.
· Quwwatul ‘iddah (kekuatan persiapan) merupakan akibat dari tersedianya harta
dan materiil yang diperlukan olehdakwah melalui penyaluran uang berdasarkan
kewajiban atau kerelaan.
· Akhirnya kekuatan keuangan (quwwatul amwal) sebagai penyokong dakwah
dapat memberikan sokongan yang kuat kepada dakwah.
Dalil
· 9: 46 ;
· 8: 3 ;
· 61: 11 ;
· 9: 111 ;
1. Kaifa yataharraku ma’al Islam
Syarah
· Bagaimana pula kita akan bergerak bersama Islam. Keperluan dan persyaratan
seperti aqidah, ukhuwah, dan persiapan telah terpenuhi maka diperlukan usaha untuk
menggerakkan yang ada ini ke dalam bentuk amal dan ibadah Islam.
· Al Ibadatullah wahdah (ibadah kepada Allah saja) adalah suatu tuntunan Islam
dan Allah kepada kita yang meyakini dan mengimani Allah dan RosulNya. Iman perlu
dibuktikan dengan ibadah. Segala potensi manusia baru bernilai apabila mereka
beribadah kepada Allah. Tanpa ibadah maka potensi yang dimilikinya akan menghilang
dan hancur. Kekuatan pun akan luntur sehingga mudah diinjak oleh musuh Islam sebagai
akibat dari hilangnya ibadah karena memperturutkan hawa nafsu.
· Ibadah itu sendiri sebagai wujud dan bukti realisasi iman (tahqiyqul iman). Iman
perlu dibuktikan di dalam perbuatan, perbuatan itu sendiri adalah ibadah.
Dalil
· 9: 119 ;
· 9: 120 ;
1. As Sidiq
Syarah

226
· Iman yang terwujud di dalam ibadah akan menghasilkan sifat sidik bagi
pemegang dan penganutnya. Pemegang iman akan bersifat sidik dari segi al qalb
sehingga menghasilkan kekuatan pendobrak (quwwatul indifa’), kemudian sidik di dalam
lisan akan menghasilkan kekuatan kesan/pengaruh (taktsir) dan juga sidik di dalam amal
akan menghasilkan kekuatan hasil (quwwatul intaj).
Dalil
· Lihat bahan sidik fi dakwah
· 49: 15 ;
1. Tasdiq (membenarkan)
Syarah
· Apabila kita mempunyai sifat sidik maka Allah Swt pun akan membenarkan dan
memberikan kepercayaan kepada kita. Bentuk kepercayaan yang Allah berikan adalah
diangkatnya kita menjadi orang yang bertakwa, dibantunya dari kesusahan, diberi rizqi,
hidayah, berkah, dan rahmat. Selain itu bentuk kepercayaan yang Allah berikan adalah
kita mendapatkan kepercayaan sebagai khalifah dan mendapatkan kedudukan yang mulia
disisiNya.
Dalil
· 33: 23 ;
· 22: 39 ;
1. Al Makanah
Syarah
· Kepercayaan dan kedudukan yang Allah berikan sebagai khalifah adalah wujud
Allah Swt memberikan makanah (kedudukan) yang mulia. Diantara kedudukan ini
adalah diberinya kekuasaan untuk memerintah di bumi dan kemudian peranan khalifah
berjalan.
Dalil
22: 41 ;

227