Anda di halaman 1dari 34

ASKEP ALAM PERASAAN

BAB II KONSEP DASAR TEORI A. Definisi Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiandan fungsi kehidupan seseorang. (Wahyu P. 2010). Gangguan Alam perasan adalah Kelompok gangguan dimana terjadi gangguan emosi di sertai gejala mania atau depresi ( Rachmawati N. 2002). Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang ( Stuart 2006). Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang di tandai dengan adanya alam perasaan yang meluas,meningkat,bersemangat atau mudah tersinggung.respon ini dapat di tunjukkan dengan prilaku hiperaktif, banyak bicara, tertawa berlebihan dan penyimpangan herpes.( Rachmawati N. 2002). Depresi dapat disebut melankolia adalah suatu keadaan dan berduka yang berkepanjangan atau abnormal.( Rachmawati N. 2002). Jadi alam perasaan adalah perpanjangan keadaan emosional yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang dan ditandai oleh syndroma depresif sebagian atau total dan ditandai dengan kehilangan minat terhadap aktifitas sehari-hari. B. Rentang Respon Emosional Rentang Emosi indifidu dapat berfluktuasi dari respon emosiyang dari adaptif sampai maladaptif seperti gambar di bawah ini:

Respon Adaptif Responsif Reaksi kehilangan Yang Wajar

Respon Maladaptif Supresi Reaksi Kehilangan yang memanjang Mania/ depresi

Keterangan Dari bagan di Atas: a. Respon emosi adatif meliputi: 1. Respon Emosional ( Emosional responsieveness) adalah respon emosi di pengaruhi dengan melibatkan secara aktif dunia eksternal dan internal.ini berarti individu terbuka dan sadar akan perasaan tertentu. 2. Reaksi kehilangan yang wajar ( Uncomplicated grief reaction) adalah reaksi yang wajar,yang dialami oleh setiap individu menghadapi realita dari kehilangan dan tenggelam di dalam proses

kehilangan.Reaksi yang sering tampak adalah:bersedih,berhenti kegiatan sehari-hari.berfokus pada diri sendiri,dan berlangsung tidak lama. b. Respon emosi maladatif meliputi: 1. Supresi emosi (Suppresion of emotions) adalah keadaan dimana individu menyangkal perasaannya.menjauhkan diri dari perasaannya atau menekan semua aspek perasaan terhadap lingkungan,pasien tampak menyangkal perasaan tertentu atau tidak mempengaruhi pasien oleh perasaan tersebut. 2. Reaksi berduka yang memanjang ( Delayed grief reaction )adalah penyangkalan yang menetap dan memanjang.tetapi tidak tampak reaksi emosi terhadap kehilangan.penundaan dan penolakan proses berduka dapat terjadi beberapa tahun. 3. Depresi (Melancholia) adalah respon emosi yang maladatif yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihandan berkepanjangan dan dapat digunakan untuk menujukkan berbagai fenomena : tanda,penyebab,gejala,keadaan emosional,reaksi,penyakit atau kondisi klinik secara menyeluruh. 4. Mania adalah keadaan yang ditandai oleh peningkatan,perluasan alam perasaan atau keadaan alam perasaan yang mudah tersinggung dan terangsang.mania dapat digambarkan sama dengan gejala diatas tetapi tidak seberat dengan keadaan mania atau episode mania. C. Perbedaan Mania dan Depresi Mania dan depresi merupakan fokus bahasan pada makalah ini. Kedua hal ini merupakan respon emosi yang mal adaptif berat dan dapat dikenal melalui intensitas, rembetan, terusmenerus dan pengaruhnya pada fungsi sosial dan fisik individu. Istilah depresi dipakai untuk tanda dan gejala keadaan klinik sesungguhnya. Gangguan alam perasaan menurut DSM III R. Dibagi dalam dua kategori (dikutip dari Wilson dan Kneisl,1987,hlm 428) yaitu : 1. Gangguan bipolar : a). Gangguan bipolar (campuran manik,depresi). b). Siklotimia. 2. Gangguan depresi a). Major depresi ( satu episode,berulang). b). Distimia. Pengertian tentang pembagian diagnosis ini akan membantu perawat untuk mengantisipasi keadaan kedaruratan pada diagnosis tertentu. D. Gejala Gangguan Mood Depresi Gangguan depresi ditandai perasaan sedih yang berlebihan,murung,tidak bersemangat,merasa tidak di hargai,merasa kosong dan tidak ada harapan.berpusat pada

krgagalan dan menuduh diri,dan di sertai ide dan pikiran bunuh diri.klien tidak berminat pada pemeliharaan diri dan pada aktivitas sehari-hari. Gangguan mania ditandai oleh perasaan hati yang meningkat,meluas dan mudah tersinggumg.klien tdk mengenal lelah,hyperaktif dan pada keadaan yang berat disertai panik yaitu perilaku yang tidak terkontrol. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan ( afektif,mood) yang di tandai kemurungan,kesedihan,kelesuan,kehilangan gairah hidup,tidak ada semangat dan merasa tidak berdaya,perasaan bersalah atau berdosa dan tidak berguna dan putus asa.gejala lain yang sering menyertai gangguan mood adalah: Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun Nafsu makan dan berat badan menurun Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan)di sertai mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan,misal: mimpi orang yang sudah meninggal. Agitasi atau retardasi motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik). Hilang perasaan senang,semangat,minat dan meninggalkan hobby. Kreatifetas dan produktifitas menurun. Ganggua seksual (libido menurun) Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri. Bila seseorang lebih rentan untuk menderita depresi di bandingkan orang lain,biasanya yang bersangkutan mempunyai corak kepribadian sendiri. (diri kepribadian depresif,)dengan ciri-ciri: Mereka sukar untuk merasa bahagia, mudah cemas, gelisah dan kawatir, irritable, tegang dan agitatif. Mereka yang kurang percaya diri, rendah diri mudah mengalah dan lebih senang untuk berdamai, menghindari konflik atau konfrontasi merasa gagal dalam usaha atau sekolah lamban, lemah, lesu, atau sering mengeluh sakit ini dan itu. Pengendalian dorongan dan impuls terlalu kuat menarik diri lebih suka menyisih sulit ambil keputusan, enggan bicara, pendiam dan pemalu. Suka mencela, mengeritik, menyalahkan orang lain atau menggunakan mekanisme pertahanan penyangkalan.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

a. b.

c. d.

E. Tipe Gangguan Perasaan Secara garis besar tipe gangguan dapat diklarifikasikan sbg berikut : mood episode, depressive disorder dan bipolar disorders. 1. Mood episode a. Mayor depressive episode

Untuk diagnosis kelompok ini terdapat lima atau lebih gejala-gejala yang di tampilkan selama periode dua minggu dan menampilkan perubahan fungsi dari fungsi sebelumnya paling sedikit dari gejala tersebut adalah salah satu dari dua hal berikut 1) Perasaan depresif 2) Kehilangan ketertarikan terhadap kesenangan b. Manic episode Manic episode ditandai dengan periode gangguan yang nyata dan peningkatan secara menetap, meluap-luap atau mood yang mudah terangsang selama satu minggu (atau beberapa periode saat dirumah sakit juga penting). Selama periode gangguan, tiga atau lebih gejala-gejala berikut telah menetap dan telah nampak dalam tingkat yang berarti : 1. Melambungnya harga diri. 2. Menurunnya kebutuhan untuk tidur. 3. Lebih banyak bicara dibanding biasanya. 4. Ide yang meloncat perhatian yang mudah teralih. 5. Peningkatan dalam perilaku yang bertujuan. 6. Keterlibatan yang berlibihan yang mengakibatkan cidera. c. Tipe lainnya Tipe lainnya dari episode mood meliputi mixed episode dan hypomanic episode pada mixed episode, kriterianya merupakan perpaduan antara manic episode dan mayor depressive episode. Sedangkan pada hypomanic episode secara jelas menunjukkan meningkatkan mood yang berbeda dari mood non depressive yang biasa tetapi tidak dikelompokkan sebagai episode manic. 2. Depressive disorders a. Mayor Depressive Disorder mayor dapat berupa episode berulang atau episode tunggal. b. Dysthymic Disorder dalam diagnostic and staticial manual of mental disorder kondisi kelompok ini dikenal dengan depressi neurosis. 3. Bipolar Disorders a. Bipolar disordes Klien dengan type biplar mendemonstrasukan kekuatan (strong), meluap luap (exaggregated) dan menggambarkan siklus irama mood (cyclid mood swings). b. Cyclothynic disordes

Indifidu dengan kelainan cyclothnic cenderung untuk mengalami irama mood di antara exhilaration and depresion ( kerianggan dan depresif).

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor presdisposisi,perubahan perilaku,sumber stressor,mekanisme koping,sumber koping dan penilaian stressor. 1. Faktor predisposisi dan presipitasi A. Faktor predisposisi Beberapa teori di temukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan.Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan adalah: a) Faktor genetik. Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan mulai garis keturunan. b) Teori agresi berbalik pada diri sendiri. Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. c) Teori kehilangan. Menunjukkan adanya perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang di cintai d) Teori kepribadian. Mengambarkan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah mempengaruhi kepercayaan dan penilaian terhadap stressor e) Teori kognitif Mengemukakan bahwa depresi adalah masalah kognitif yang di dominasi oleh penilaian negatif terhadap diri sendiri,lingkungan dan masa depan. f) Model ketidak berdayaan yang dipelajari Mengemukakan bahwa bukan trauma yang menghasilkan depresi,tetapi keyakinan individu akan ketidakmampuanya mengontrol kehidupanya

g) Model perilaku Belajar dari pengalaman belajar di masa lalu,depresi di anggap terjadi karena kurangnya reinforcement positif selama berinteraksi dengan lingkungan h) Model biologi

Menggambarkan perubahan kimiawi di dalam tubuh yang terjadi pada keadaan depresi,termasuk defisiensi dari katekolamin,tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi cortisol. B. Faktor presipitasi ada empat faktor yang menyababkan gangguan alam perasaan : 1) Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan,termasuk kehilangan cinta seseorang,fungsi tubuh,status atau harga diri. 2) .banyaknya peran dan konflik peran mempengaruhi berkembangnya depresi terutama pada wanita 3) kejadian penting dalam kehidupan,sering kali sebagai keadaan yang mempengaruhi episode depresi dan mempunyai dampak pada individu untuk menyelesaikan masalah. 4) sumber koping termasuk status sosial ekonomi,keluarga,hubungan interpersonal dan organisasi kemasyarakatan. 2. Mekanisme Koping Mekanisme koping yang di gunakan pada reaksi berduka yang tertunda adalah penyangkalan dan supresi yang berlebihan unyuk menghindari distress hebat yang berhubungan dengan berduka. Pada depresi menggunakan mekanisme denial, represi, supresi dan disosiasi. Mania merupakan cerminan dari depresi walaupun perilajunya tidak sama namun dinamika dan mekanisme koping yang digunakan saling berhubungan. 3. Perilaku. Pasien mania sering tidak mengeluh gejala-gejala mereka. Beberapa pasien merasa terlalu senang dan gembira sehingga tidak mengeluh; pasien lainnya angitasi dan tidak senang tetapi memperhatikan perilaku yang berlebihan. Pada pasien depresi cukup banyak yang mengeluhkan depresinya, tetapi ada juga yang tidak mengeluh. 4. Sumber koping Sumber yang dapat menjadi individu yaitu keluarga,sekelompok sosial, status sosialekonimi, dan lingkungan. Kurangnya sistem pendukung tersebut dapat meningkatkan stress personal. B. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan pada gangguan alam perasaan dipahami adanya konsep yang saling berkaitan antar kecemasan,konsep diri dan bermusuhan. Berikut ini diagnosa keperawatan primer Nanda : 1. Koping individu yang tidak efektif 2. Disfungsi proses berduka 3. Distress spiritual

4. Ketidakberdayaan 5. Amuk 6. Merusak diri Contoh diagnosa keperawatan lengkap : 1. Inefektif koping individu/tidak efektif koping individu berhubungan dengan di dapatkan pasangan yang menyeleweng,yang di manifestasikan dengan keadaan euphoria,hiperaktif gangguan mengemukakan pendapat 2. Disfungsi proses berduka berhubungan dengan kematian pasangan yang dimanifestasikan dengan kesedihan dan hilangnya perhatian pada kegiatan kejadian sehari-hari 3. Distress spiritual berhubungan dengan kematian janin dalam kanduangan yang di manifestasikan dengan menyalahkan diri sendiri,pesimis akan masa depan dan slalu menyalahkan Allah.SWT C. Perencanaan A. Tujuan umum Mengajarkan kliean untuk memiliki respon emosional yang adaptif dan meningkatkan kepuasan diri yang dapat diterima oleh lingkungan untuk mencapai tujuan tersebut pengobatan yang diberikan terdiri adari 3 fase yaitu : 1. fase akut tujuan fase ini untuk menghilangkan gejala.fase ini memerlukan waktu 6-12 hari.keberhasilan fase ini ditandai dengan individu mulai berespon,bebas dari gejala ( priode remisi) dan status kesehatan kembali pada tingkat sebelum sakit. 2. Fase kesinambungan Tujuan keperawatan pada fase ini yaitu untuk mencegah timbul kembali gejala (relaps).resiko timbulnya relaps meningkat dalam waktu 4 sampai 6 bulan pertama setelah masa pemulihan. 3. Pemeliharaan Tujuan adalah mencegah terjadinya kembali episode baru dari penyakit (rekurensi). B. Tujuan keperawatan Tujuan umum atau jangka pendek mengajarkan klien untuk merespon emosional yang adiktif dan meningkatkan rasa puas serta kesenangan yang dapat diterima oleh lingkungan. C. Tujuan jangka panjang. 1. Klien dapat mengekspresikan perasaan mengingkari ketidakberdayaan,putus asa,mara dan bersalah. 2. Klien dapat menganalisa streesor kekuatan yang dapat dimilikinya. 3. Klien dapat meningkatkan kontrol,tanggung jawab dan kesadaran diri. 4. Klien dapat membina hubungan interpersonal yang sehat.

5. Klien dapat meningkatkan pengertian tentang respon mal adiktif dan mengembangkan koping yang adaktif. D. Tindakan keperawatan Pada dasarnya intervensi di fokuskan pada 1. Lingkungan Prioritas utama dalam merawat klien mania dan depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan, karena klien mania memiliki daya nilai yang rendah, hiper aktif, senang tindakan yang beresiko tinggi. Maka klien di tempatkan di lingkungan yang aman yaitu: 1. Di lantai dasar 2. Ruangan dengan prabotan sederhana 3. Kurangi rangsangan/batasi rangsangan lingkungan 4. Suasana tenang 2. Hubungan perawat dengan klien Hubungan yang saling percaya yang terapetik perlu dibina dan diperhatikan. Bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat: 1. Hanggat 2. Menerima 3. Jujur pengharapan pada klien. 4. Bicara lambat sederhana 5. Beri waktu pada klien untuk berfikir dan menjawab. 3. Afektif Kesadaran dan kontrol diri perawat pada dirinya merupakan sarat utama. Merawat klien depresi, perawat harus mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik, sikap perawat yang menerima klien dengan baik, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien. Prinsip intervensi yang afektif adalah: 1. Menerima dan menenangkan klien 2. Bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir. 3. Klien di dorong untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedikan secara verbal, sehingga akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapi. 4. Kongnitif Intervensi yang kongnitif bertujuan untuk meningkatkan kontrol diri klien terhadap tujuan dan perilakunya, meningkatkan harga diri dan memdbantu klien memodifikasi harapan yang negatif. Berikut cara untuk meribah fikiran yang negatif:

1. 2. 3. 4. 5.

Identifikasi semua ide, pikiran yang negatif Identifikasi aspek positif yang dimiliki klien (kemampuan, keberhasilan) Dorong klien menilai persepsi,logika,rasional Bantu klien mengubah persepsi yang salah/negatif ke ke positif dan tidak realitas ke realitas Sertakan klien pada aktifitas yang memperlihatkan hasil dan beri penguatan dan pujian akan keberhasilan yang dicapai klien

5. Perilaku. Intervensi perilaku bertujuan untuk mengaktifkan klien pada tujuan yang realitas yaitu dengan memberi tanggung jawab secara bertahap dalam kegiatan diruangan. Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu dibuat kegiatan yang terstruktur,tugas yang diberikan tidak sulit dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencegah rasa bosan,berikan pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan dengan baik.pada klien mania diberikan tugas yang sederhana dan cepat selesai. 6. Sosial Intervensi sosial bertujuan untuk meningkatkan berhubungan dengan sosial dengan cara o Kaji kemampuan,dukungan dan minat klien o Observasi dan kaji sumber dukungan yang ada pada klien o Bimbing klien melakukan hubungan interpersonal yang positif o Beri reinforcement positif terhadap keterampilan sosial yang efektif o Dorong klien memulai hubngan sosial yang lebih luas (perawat,klien lain ). 7. Fisiologis Intervensi fisiologis bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan klien. Bila klien tidak mampu merawat diri, bantu klien tidak mampu merawata diri,bantu klien memenuhi kebetuhan dasarnya seperti makanan,minum istirahat dan kebersihan diri. Terapi somatik diberikan pada klien yang mengalami depresi berulang dan resisten terhadap obat. 1. Evaluasi Adanya perubahan respon emosi maladaptif kearah adaptif, dimana klien dapat: 1. Menerima dan mengakui perasaannya dan perasaan orang lain 2. Memulai komunikasi 3. Mengontrol perilaku sesuai keterbatasannya 4. Menggunakan proses pemecahan masalah.

BAB IV PENUTUP A. Ksimpulan Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang ( Stuart 2006). Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan (euphoria) dan gerak yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk mayor depresi atau dalam bentuk lain seperti mania sebagai gangguan tipe bipolar. Depresi terdapat klasifikasi dan tingkatan nya. Tanda dan gejala yang timbul pada depresi bisa bermacam-macam karena tiap individu itu unik. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya depresi. Bisa karena faktor prepitasi maupun faktor prediposisi. Asuhan keperawatan yang dibeikan pada pasien berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pasien dengan gangguan alam perasaan menunjukkan pribadi yang unik. B. Saran Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penangan masalah keperawatan khusunya klien dengan Gangguan Alam Perasaan harus memiliki pengetahuan yang luas dan tindakan yang dilakukan harus rasional sesuai gejala penyakit dan asuhan keperawatan hendaknya diberikan secara komprehensif, biopsikososial cultural dan spiritual. Kesehatan jiwa dapat didapatkan dengan jalan ada kesinkronan antara pasien, keluarga dan tenaga medis dalam upaya proses penyembuhan. Jika salah satu dari komponen tersebut, maka akan menghambat proses penyembuhan. DAFTAR PUSTAKA Wahyu. P. 2010. Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Keperawatan Jiwa. Jakarta : FIK-UI Keliat B.A. 2005. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC Marilynn E Doenges. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran: EGC Gibbson Towsend , M C, 1995. Kumpulan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Buku Kedokteran Purwaningsih w. Dkk, 2010. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bantul Yogyakarta: Nuha Medika.

ASKEP GANGGUAN ALAM PERASAAN

I.PENGERTIAN Alam perasaan(mood) adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh

kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam perasaan adalah gangguan emosional yang disertai gejala mania atau depresi. II.RENTANG RESPONS EMOSIONAL Respon adaptif ----------------------------Respon maladaptif ***** _ _____________ ________________ _______________ ________________ ____ Responsif Reaksi kehilangan yang wajar Supresi Reaksi kehilangan yang memanjang Mania/Depresi Responsif adalah respons emosional individu yang terbuka dan sadar akan perasaannya.Pada rentang ini individu dapat berpartisipasi dengan dunia eksternal dan internal. Reaksi kehilangan yang wajar merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh individu yang mengalami kehilangan.Pada rentang ini individu menghadapi realita dari kehilangan dan mengalami proses kehilangan,misalnya bersedih, berfokus pada diri sendiri,berhenti melakukan kegiatan sehari-hari. Reaksi kehilangan tersebut tidak berlangsung lama. Supresi merupakan tahap awal respons emosional yang maladaptif,individu menyangkal,menekan atau menginternalisasi semua aspek perasaannya terhadap lingkungan. Reaksi berduka yang memanjang merupakan penyangkalan yang menetap dan memanjang,tetapi tidak tampak reaksi emosional terhadap kehilangan. Reaksi berduka yang memanjang ini dapat terjadi beberapa tahun. Mania/Depresi merupakan respons emosional yang berat dan dapat dikenal melalui intensitas dan pengaruhnya terhadap fisik individu dan fungsi sosial. Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan adanya alam perasaan yang meningkat,meluas atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang.Kondisi ini dapat diiringi dengan perilaku berupa peningkatan kegiatan,banyak bicara,ide-ide yang meloncat,senda gurau,tertawa berlebihan, penyimpangan seksual. Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Perbedaan antara grieving dan dying Berduka (grieving) meupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Sekarat (dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian,yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. III.FAKTOR PREDISPOSISI & PRESIPITASI III.1.Faktor Predisposisi III.1.1.Faktor genetik,mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan.Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozygote daripada dizygote. III.1.2.Teori agresi berbalik pada diri sendiri mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.Freud mengatakan bahwa kehilangan obyek/orang,ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan yang menyalahkan diri sendiri. III.1.3.Teori kehilangan.Berhubungan dengan faktor perkembangan;misalnya kehilangan orang tua pada masa anak,perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat dicintai.Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan. III.1.4.Teori kepribadian mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan

seseorang mengalami depresi atau mania. III.1.5.Teori kognitif mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian negatif terhadap diri sendiri,lingkungan dan masa depan. III.1.6.Model belajar ketidakberdayaan mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri,lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah. Kemudian individu timbul keyakinan akan ketidakmampuannya mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif. III.1.7.Model perilaku mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian (reinforcement) positif selama berinteraksi dengan lingkungan. III.1.8.Model biologis mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan kimiawi,yaitu defisiensi katekolamin,tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol. III.2. Faktor Presipitasi Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi: Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang,termasuk kehilangan cinta, seseorang,dan kehilangan harga diri. Faktor sosial budaya meliputi kehilangan peran,perceraian,kehilangan pekerjaan. IV.PERILAKU DAN MEKANISME KOPING Perilaku yang berhubungan dengan mania bervariasi. Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikofisiologikal yang tinggi,dapat dilihat pada tabel 1. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi, dapat dilihat pada tabel 2. Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi,hal ini untuk menghindari tekanan yang hebat.Depresi,yaitu perasaan berduka yang belum terselesaikan,mekanisme koping yang digunakan adalah represi,supresi,denial dan disosiasi.Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan. Tabel 1;Perilaku yang berhubungan dengan Mania Afektif Kognitif Fisik Tingkah laku a).Gembira yang berlebihan b).Harga diri meningkat c).Tidak tahan kritik a).Ambisi b).Mudah terpengaruh c).Mudah beralih perhatian d).Waham kebesaran e).Ilusi f).Flight of ideas g).Gangguan penglihatan a).Dehidrasi

b).Nutrisi yg tidak adekuat c).Berkurangnya kebutuhan tidur/ istirahat d).Berat badan menurun a).Agresif b).Hiperaktif c).Aktivitas motorik meningkat d).Kurang bertanggung jawab e).Royal f).Iritatable/suka berdebat g).Perawatan diri kurang h).Tingkah laku seksual yang berlebihan i).Bicara bertele-tele. Tabel 2;Perilaku yang berhubungan dengan depresi Afektif Kognitif Fisik Tingkah laku #Sedih,cemas,apatis, murung, #.Kebencian,kekesalan marah, #.Perasaan ditolak, perasaan bersalah, #Merasa tdk berdaya, putus asa, #.Merasa sendirian, #.Merasa rendah diri, #.Merasa tak berharga #Ambivalensi,bingung, ragu-ragu, #Tidak mampu konsentrasi, #Hilang perhatian dan motivasi, #Menyalahkan diri sendiri, #Pikiran merusak diri, #Rasa tidak menentu, #Pesimis #Sakit perut,anoreksia, mual,muntah, #Gangguan pencernaan, konstipasi, #Lemah,lesu,nyeri,kepala, pusing, #Insomnia,nyeri dada, overakting, #Perubahan berat badan, gangguan selera makan, #Gangguan menstruasi, impoten, #Tidak berespon terhadap seksual. #Agresif,agitasi,tidak

toleran, #Gangguan tingkat aktivitas #Kemunduran psikomotor, #Menarik diri, isolasi sosial, #Iritabel(mudah marah, menangis, tersinggung), #Berkesan menyedihkan, #Kurang spontan, #Gangguan kebersihan V.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MANIA DAN DEPRESI V.1.Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor predisposisi,presipitasi,dan perubahan perilaku serta mekanisme koping yang digunakan klien(lihat point III & IV). V.2.Masalah Keperawatan Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respons emosional (gangguan alam perasaan ) antara lain: Berduka disfungsional Ketidakberdayaan Peningkatan mobilitas fisik Gangguan pola tidur Risiko terhadap cedera Perubahan nutrisi Defisit perawatan diri Ansietas V.3.Perencanaan Tujuan Umum:Mengajarkan klien untuk berespons emosional yang adptif dan meningkatkan rasa puas serta kesenangan yang dapat diterima oleh lingkungan. Tindakan keperawatan: Lingkungan Prioritas utama dalam merawat klien mania dan depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan.Karena klien mania memiliki daya nilai yang rendah,hiperaktif,senang tindakan yang berisiko tinggi,maka klien harus ditempatkan dilingkungan yang aman,yaitu dilantai dasar,perabotan yang dasar,kurangi rangsang dan suasana yang tenang.Sedangkan merawat klien depresi lebih ditujukan pada potensial bunuh diri,karena klien merasa tidak berdaya,tidak berharga dan keputusasaan. Hubungan perawat klien Hubungan saling percaya yang terapeutik perlu dibina dan dipertahankan.Bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat hangat,menerima,diam aktif,jujur dan empati.Bicara lambat,sederhana dan beri waktu pada klien untuk berpikir dan menjawab. Berbeda bila bekerja dengan klien mania,perawat harus membuat batasan yang konstruktif,hal ini perlu untuk mengontrol perilaku klien.Kontrol dari lingkungan (perawat,dokter,klien) yang konsisten akan mempercepat kesadaran klien untuk

mengontrol perilakunya. Afektif Kesadaran dan kontrol diri perawat pada dirinya merupakan syarat utama.Merawat klien depresi,perawat harus mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik.Sikap perawat yang menerima klien,hangat,sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.Prinsip intervensi afektif adalah menerima dan menenangkan klien bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir.Klien didorong untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedihkan secara verbal,hal ini akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapi. Kognitif Intervensi kognitif bertujuan untuk meningkatkan control diri klien pada tujuan dan perilaku,meningkatkan harga diri dan membantu klien memodifikasi harapan yang negatif. Cara mengubah pikiran yang negatif: 1.Identifikasi semua ide,pikiran yang negatif. 2.Identifikasi aspek positif yang dimiliki klien (kemampuan,keberhasilan). 3.Dorong klien menilai kembali persepsi,logika,rasional. 4.Bantu klien mengubah persepsi yang salah/negatif ke persepsi positif,dari tidak realistis ke realistis. 5.Sertakan klien pada aktifitas yang memperlihatkan hasil.Beri penguatan dan pujian akan keberhasilan. Perilaku Intervensi perilaku bertujuan untuk mengaktifkan klien pada tujuan realistic,yaitu dengan memberi tanggung jawab secara bertahap dalam kegiatan di ruangan.Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu dibuat kegiatan yang terstruktur. Beri penguatan pada kegiatan yang berhasil Sosial Tujuan intervensi sosial adalah meningkatkan hubungan sosial,dengan cara: 1.Kaji kemampuan,dukungan dan minat klien. 2.Observasi dan kaji sumber dukungan yang ada pada klien. 3.Bimbing klien melakukan hubungan interpersonal,dengan role model,role play. 4.Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif. 5.Dorong klien untuk memulai hubungan sosial yang lebih luas (dengan perawat, klien). Fisiologis Intervensi fisiologis bertujuan untuk meningkatkan status kesehatanklien. Kebutuhan dasar seperti makan,minum,istirahat,kebersihan dan penampilan diri perlu mendapat perhatian perawat. #Kewaspadaan Perawat# Dalam memberi asuhan keperawatan kepada klien dengan gangguan alam perasaan yang berat,perawat harus memberikan prioritas yang paling utama terhadap potensial bunuh diri. Perawatan dirumah sakit diperlukan bila ada resiko bunuh diri,yaitu gejala meningkat secara cepat dan support sistem tidak ada atau kurang.Asuhan keperawatan pada keadaan ini untuk melindungi dan menjamin agar klien tidak mencelakakan diri sendiri.Percobaan bunuh diri biasanya terjadi pada saat klien keluar dari fase depresi,klien mempunyai energi dan kesempatan untuk bunuh diri.Klien dalam keadaan mania akut juga dapat mengancam kehidupannya. Sebagai contoh,pada lampiran 1 & 2 akan diuraikan rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa yang etiologinya Ketidakberdayaan dan Peningkatan mobilitas fisik.

VI. EVALUASI 1. Apakah semua sumber pencetus stress dan persepsi klien dapat digali? 2. Apakah masalah klien mengenai konsep diri,rasa marah dan hubungan interpersonal dapat digali? 1. Apakah perubahan pola tingkah laku klien dan respons tersebut tampak? 2. Apakah riwayat individu klien dan keluarganya sebelum fase depresi/mania dapat dievaluasi sepenuhnya? 1. Apakah perlu dilakukan tindakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya bunuh diri? 2. Apakah masyarakat lingkungan juga merupakan sumber koping? 3. Apakah tindakan keperawatan telah mencakup semua aspek dunia klien? 4. Apakah reaksi perubahan klien dapat diidentifikasi dan dilalui dengan baik oleh klien? 5. Apakah perawat mampu untuk mawas diri terhadap perasaan pribadi,konflik,dan mampu untuk menghadapi benturan emosi yang timbul dalam hubungan dengan klien? 6. Apakah pengalaman klien akan meningkatkan kepuasan dan kesenangan klien terhadap dunia pribadinya? Lampiran 1 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KETIDAKBERDAYAAN Ketidakberdayaan merupakan persepsi individu bahwa segala tindakannya tidak akan mendapatkan hasil atau suatu keadaan dimana individu kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu atau kegiatan yang baru dirasakan. Karena ketidakberdayaan dapat menyebabkan gangguan harga diri maka diagnosa keperawatan dapat dirumuskan :Gangguan harga diri:Harga diri rendah berhubungan dengan Ketidakberdayaan. 1. PENGKAJIAN Data-data yang biasa ditampilkan pada pasien dengan ketidakberdayaan adalah: Mengatakan secara verbal ketidakmampuan mengendalikan atau mempengaruhi situasi. Mengatakan tidak dapat menghasilkan sesuatu Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat kesempatan diberikan Segan mengekspresikan perasaan yang sebenarnya Apastis,pasif Ekspresi muka murung Bicara dan gerakan lambat Nafsu makan tidak ada atau berlebihan Tidur berlebihan Menghindari orang lain. 2. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Tujuan Umum: Pasien dapat melakukan cara pengambilan keputusan yang efektif untuk mengendalikan situasi kehidupannya dengan demikian menurunkan perasaan rendah diri. TUJUAN KHUSUS TINDAKAN 1.Pasien dapat membina hubungan terapeutik dengan perawat.

2.Pasien dapat mengenali dan mengekspresikan emosinya. 3.Pasien dapat memodifikasi pola kognitif yang negatif. 1.1.Lakukan pendekatan yang hangat,menerima pasien apa adanya dan bersifat empati 1.2.Mawas diri dan cepat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya:rasa marah,frustasi dan simpati) 1.3.Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif 1.4.Beri waktu untuk pasien berespons. 2.1.Tunjukkan respons emosional dan menerima pasien 2.2.Gunakan teknik komunikasi terapeutik terbuka,eksplorasi, klarifikasi. 2.3.Bantu pasien untuk mengekspresikan perasaannya 2.4.Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupannya yang tidak berada dalam kemampuannya untuk mengontrol. Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan-perasaannya yang berhubungan dengan ketidakmampuan. 3.1.Diskusikan tentang masalah yang dihadapi pasien tanpa memintanya untuk menyimpulkan. 3.2.Identifikasi pemikiran yang negatif dan bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau substitusi. 3.3.Bantu pasien untuk meningkatkan pemikiran yang positif. 3.4.Evaluasi ketepatan persepsi,logika dan kesimpulan yang dibuat pasien. 3.5.Identifikasi persepsi pasien yang tidak tepat,penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional. 3.6.Kurangi penilaian pasien yang negatif terhadap dirinya. 4.Pasien dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatannya sendiri. 5.Pasien dapat termotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistik. 3.7.Bantu pasien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi. 4.1.Libatkan pasien dalam menetapkan tujuan-tujuan perawatannya yang ingin dicapai. 4.2.Motivasi pasien untuk membuat jadwal aktifitas perawatan dirinya 4.3.Berikan pasien privasi sesuai kebutuhan yang ditentukan 4.4.Berikan reinforcement positif untuk keputusan ya ng dibuat 4.5.Beri pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilan yang bagus.

4.6.Motivasi pasien untuk mempertahankan penampilan/kegiatan tersebut. 5.1.Bantu pasien untuk menetapkan tujuan-tujuan yang realistik. Fokuskan kegiatan pada saat ini bukan pada kegiatan masa lalu 5.2.Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya. 5.3.Identifikasi cara-cara yang dapat dicapai oleh pasien.Dorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut dan berikan penguatan positif untuk berpartisipasi dan pencapaiannya. 5.4.Motivasi keluarga untuk berperan aktif dalam membantu pasien menurunkan perasaan tidak berdaya. Lampiran 2 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENINGKATAN MOBILITAS FISIK Peningkatan mobilitas fisik yang sering juga disebut dengan hiperaktif merupakan suatu gangguan alam perasaan. 1. PENGKAJIAN Perilaku yang sering timbul pada pasien ini adalah: o Aktivitas motorik yang meningkat o Ekspresi wajah riang yang berlebihan o Banyak bicara dan pembicaraan mudah beralih dari satu topik ke topik lain (flight of ideas) o Kurang bertanggung jawab o Mudah tersinggung dan terangsang o Tingkah laku mengancam bahaya o Tidak tahan kritik o Tidak takut bahaya. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Bila saudara menganalisa data-data yang dijumpai pada pasien dengan peningkatan mobilitas fisik,maka diagnosa yang dapat dirumuskan adalah : Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan peningkatan mobilitas fisik. 3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Tujuan Umum: Pasien tidak akan mengalami cedera fisik selama dirawat. TUJUAN KHUSUS TINDAKAN 1.Pasien dapat membina hubungan saling percaya 1.1.Kenalkan diri pada pasien 1.2.Tanggapi pembicaraan pasien dengan sabar dan tidak menyangkal. 1.3.Bicara dengan tegas,jelas dan simpati. 1.4.Bersikap hangat dan bersahabat. 1.5.Temani pasien saat agitasi muncul dan hiperaktivitasnya meningkat. 2.Pasien dapat mengendalikan aktivitas

motorik. 3.Pasien dapat mengungkapkan perasaannya. 4.Pasien dapat menentukan cara penyelesaian masalah (koping) yang konstruktif. 5.Pasien mendapat dukungan keluarga. 2.1.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat menurunkan aktivitas motorik. 2.2.Diskusikan dengan pasien manfaat pemberian obat 2.3.Ciptakan ruangan yang tenang dan tidak banyak rangsangan, seperti musik yang lembut,penataan ruangan tidak banyak peralatan. 2.4.Beri kegiatan yang dapat diselesaikan oleh pasien,misalnya mandi,makan,dll 2.5.Beri reinforcement positif bila pekerjaan/kegiatan tersebut dapat diselesaikan 2.6.Bersama pasien membuat jadwal kegiatan/aktivitas fisik untuk menyalurkan energinya,seperti menyapu, mengepel, olahraga. 2.7.Beri reinforcement positif bila pasien dapat melakukan kegiatannya tersebut. 2.8.Tetapkan batasan yang konstruktif terhadap tingkah laku yang negatif 2.9.Lakukan pendekatan yang konsisten oleh seluruh anggota tim kesehatan 2.10.Pertahankan komunikasi terbuka dan membagi persepsi diantara anggota tim kesehatan 2.11.Kuatkan perilaku pengendalian diri dan perilaku positif lainnya. 3.1.Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang menyakitkan 3.2.Beri kesempatan kepada pasien untuk mengutarakan keinginannya,perasaan dan pikiran dengan menggunakan tekhnik komunikasi fokusing 3.3.Berikan respons empati dan menerima pasien 3.4.Bantu pasien menurunkan tingkat ansietas. 4.1.Identifikasi bersama pasien cara yang biasa digunakan untuk mengatasi perasaan kesal,marah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. 4.2.Diskusikan manfaat dari cara yang telah digunakan. 4.3.Diskusikan tentang alternatif cara untuk mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan. 4.4.Beri motivasi pasien agar memilih cara penyelesaian masalah yang tepat serta diskusikan konsekwensi dari cara yang dipilih. 4.5.Anjurkan pasien untuk mencoba cara tersebut. 5.1.Diskusikan dengan keluarga tentang keadaan pasien.

5.2.Bantu keluarga untuk memberikan asuhan yang tepat. 5.3.Bantu keluarga untuk merencanakan kegiatan yang sesuai dengan keadaan pasien. DAFTAR PUSTAKA Stuart,Gail W.(2006).Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 5).Jakarta;EGC. Alimul Hidayat,A.Azis.(2006).Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia:Aplikasi Konsep edika.

GANGGUAN ALAM PERASAAN


GANGGUAN ALAM PERASAAN A. DEFINISI Gangguan mood (alam perasaan), juga dikenal sebagai gangguan afektif, adalah perubahan pervasive emosi individu, yang ditandai dengan depresi atau mania. Gangguan mood merupakan disfungsi neurobiology yang menimbulkan perubahan respons emosional. Individu diliputi kesedihan jangka panjang dan drastic, agitasi atau elusi, disertai keraguan terhadap diri sendiri, rasa bersalah, dan marah, yang mengubah aktivitas hidupnya, terutama aktivitas yang melibatkan harga diri, pekerjaan, dan hubungan. (Sheila L. Videbeck, 2008 : 387) Alam perasaan (mood) adalah perpanjangan keadaan emosional yang memepengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Alam perasaan ini meliputi emosi seseorang yang kuat dan menyebar dan mempunyai arti yang sama dengan afek, keadaan perasaan dan emosi. (Stuart, Gail W, 2006 : 206) Gangguan afektif adalah gangguan dengan gejala utama adanya perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kea rah depresi dengan atau tanpa ansietas yang menyertainya, atau kea rah elasi (suasana perasaan meningkat). (Arief Mansjoer dkk, 2001 : 200) Afek ialah nada perasaan, menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan, kekecewaan, kasih sayang), yang menyertai suasana pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik, lagi pula biasanya berlangsung tidak lama (misalnya : ketakutan, kecemasan, depresi atau kegembiraan). Kadang-kadang istilah afek dan emosi itu dipakai secara bergantian. (Willy F. Maramis, 2005 : 107)

B. ETIOLOGI 1. Predisposis a. Teori Biologis

1) Genetik Penelitian genetik melibatkan transmisi depresi unipolar pada kerabat tingkat pertama, yang memiliki resiko dua kali lipat pada populasi umum (DSM-IV-TR,2000). Kembar monozigot yang dibesarkan secara terpisah memiliki insiden komorditas 54% lebih besar dan kembar dizigot memiliki insiden 24% lebih besar. Hal ini memperlihatkan faktor keturunan lebih penting dari pada lingkungan tempat individu tersebut dibesarkan (Kelsoe, 2000 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 389). Faktor genetik dianggap memenuhi transmisi gangguan afektif melalui riwayat keluarga dan keturunan (Stuart, Gail W, 2006 : 207). Dari sejumlah penyelidikan yang telah dilakukan ditemukan bahwa terdapat dukungan keterlibatan hereditas dalam penyakit depresi.(Townsed, mary C, 1998 : 181). 2) Biokimia Model biologis menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang terjadi selama masa depresi, termasuk defisiensi katekolamin, disfungsi endokrin, hipersekresi kortisol, disregulasi neurotransmitter, dan variasi periodic dalam irama biologis (Stuart, Gail W, 2006 : 208). Neurokimia mempengaruhi focus neurotransmiter (pembawa pesan kimiawi) pada serotonin dan norepinefrin sebagai amina biogenic yang utama yang terlibat dalam gangguan mood. Serotonin (5-HT) memiliki banyak peran dalam perilaku: mood, aktivitas, keagresifan dan iritabilitas, kognisi, nyeri, bioritme, dan proses neuroendokrin (yakni hormone pertumbuhan, kadar kortisol, dan kadar prolaktin abnormal pada keadaan depresi). Deficit serotonin, prekursornya triptofan, atau metabolic serotonin (5HIAA) yang ditemukan dalam darah atau cairan serebrospinal yang terjadi pada individu yang depresi (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Pemindai tomografi emisi positron memperlihatkan penurunan metabolisme pada korteks prefrontal, yang dapat meningkatkan depresi (Tecott, 2000, dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Kadar norepinefrin dapat berkurang pada depresi dan meningkat pada mania (Keltner et al., 1997 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Katekolamin ini memberi energy ke tubuh untuk bergerak selama stress dan memhambat kindling. Kindling merupakan proses aktivitas kejang di area otak tertentu yang awalnya distimulasi dengan mencapai ambang efek kumulatif stress, jumlah impuls listrik yang rendah, atau zat-zat kimia seperti kokain, yang mensensitisasi sel saraf dan jaras. Jaras yang sangat tersensitisasi ini berespons dengan tidak lagi memerlukan stimulus untuk menginduksi aktivitas kejang, yang kini terjadi secara spontan. Teori mengatakan kindling dapat menyebabkan siklus gangguan mood dan adiksi (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Antikonvulsan menghambat kindling; hal ini dapat menjelaskan keefektifan antikonvulsan dalam terapi gangguan bipolar (Tecott, 2000 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Ketidakteraturan asetilkolin dan dopamine juga diteliti dalam hubungannya dengan gangguan mood. Mood, tidur, fungsi neuroendokrin, dan pola elektroensefalografik diubah oleh obat-obat kelinergik. Oleh karena itu, asetilkolin tampak terlibat dalam depresi dan mania. Masalah neurotransmitter mungkin tidak sesederhana kurangnya produksi atau deplesi akibat penggunaan yang berlebihan selama stress (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Perubahan sensivitas dan jumlah reseptor dievaluasi untuk mengetahui perannya dalam gangguan mood (Tecott, 2000 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 390).

Ketidakseimbangan elektrolit tampak memainkan peranan dalam penyakit depresif. Suatu kesalahan hasil metabolisme dalam perubahan natrium dan kalium di dalam neuron (Gibbons, 1990 dalam Townsed, mary C, 1998 : 181). Teori biokimia yang lainnya menyangkut biogenik amin norepinefrin, dopamine, dan serotonin. Tingkatan zat-zat kimia ini mengalami defisiensi dalam individu dengan penyakit depresif (Janowsky et al, 1988 dalam Townsed, mary C, 1998 ; 182). 3) Neuroendokrin Fluktuasi hormonal sedang diteliti dalam hubungannya dengan depresi. Gangguan mood dialami juga pada individu dengan gangguan endokrin, antara lain gangguan tiroid, adrenal, paratiroid, dan hipofisis. Perubahan hormone pascapartum menyebabkan depresi yang serius. Sindrom pramenstruasi mencakup gejala-gejala depresi disertai gejala fisik berupa retensi air dan pembengkakan payudara (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Aksis hipotalamus, hipofisis dan adrenokortikal yaitu kadar kortisol meningkat pada banyak individu yang depresi. Pada pemeriksaan supresi deksametason (dexamethasone suppression test, DST), suatu dosis deksametason menekan kadar kortisol akhir sore pada individu yang tidak mengalami depresi, tetapi tidak menekan kadar kortisol pada banyak individu yang depresi (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Akan tetapi pemeriksaan ini tidak digunakan sebagai patokan untuk depresi karena hasilnya dapat dipengaruhi oleh obat-obatan dan penyakit serta hasilnya abnormal hanya pada sekitar 50% individu yang depresi (Hyman & Nestler, 1993 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Aksis hipotalamus, hipofisis, dan tiroid yaitu produksi oleh hipotalamus factor pelepas tiroid menstimulasi hipofisis anterior untuk melepaskan hormone penstimulasi tiroid, yang member sinyal kepada kelenjar tiroid untuk bekerja. Kurang lebih seperempat individu depresi mengalami penurunan respons hormone penstimulasi tiroid terhadap suatu dosis factor pelepas tiroid (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Baik kondisi hipotiroid maupun hipertiroid berhubungan dengan gangguan mood (Charney & Weissman, 1988; Hyman & Nestler, 1993 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 390)

b. Teori Psikososial 1) Teori Psikodinamik Freud (1917) mengajukan hipotesis bahwa depresi bermula dari kemarahan yang tidak terkendali akibat pengabaian pada masa bayi karena ibu meninggal, terpisah secara emosional, atau kealpaan yang lain. Kehilangan objek yang dicintai ini menimbulkan rasa yang tidak aman, kehampaan, kesedihan, dan kemarahan. Kehilangan ini terjadi pada tahap oral perkembangan, ketika bayi yang penuh ketergantungan belum memiliki konsepsi tentang individuasi dari orang tua. Saat menjadi dewasa, individu yang berduka kembali ke tahap oral dan mengintroyeksikan kemarahan mereka tentang pengabaian atau konflik yang tidak selesai pada objek yang hilang menjadi kemarahan terhadap diri mereka sendiri. Introyeksi adalah suatu mekanisme pertahanan yang tidak disadari ketika individu menginternalisasikan sudut pandang dan nilai-nilai objek yang dicintai, dengan mengintegrasikan sudut pandang dan nilai-nilai tersebut ke dalam identitas dan sistem keyakinannya sendiri. Ego dikuasai oleh superego yang berorientasi pada hukuman. Hal ini mengakibatkan rigiditas (kekakuan), disertai tujuan yang berorientasi pada peraturan yang tidak realistis dan tidak dapat dicapai, yang menetapkan tahap kegagalan (Sheila L. Videbeck, 2008 : 392).

2) Psikoanalisa Teori ini melibatkan suatu ketidakpuasan dalam hubungan awal ibu-bayi sebagai suatu predisposisi untuk penyakit depresif (Klein, 1934 dalam Townsed, mary C, 1998 : 182). Kebutuhan bayi tidak terpenuhi, suatu kondisi yang digambarkan sebagai suatu kehilangan. Respons berduka belum terpecahkan, dan kemarahan dan permusuhan ditujukan kepada diri sendiri. Ego tetap lemah, sementara superego meluas menjadi menghukum (Townsed, mary C, 1998 : 182). 3) Kognitif Teori Aaron back tentang penyebab depresi berkaitan dengan pikiran negatif komprehensif individu yang depresi. Mereka memandang diri sendiri, dunia, dan masa depan mereka dalam bentuk kegagalan yang menyimpang, dengan secara berulang menginterprestasikan pengalaman sebagai hal yang sulit dan membebani serta menginterprestasikan diri mereka sendiri sebagai orang yang tidak konsekuen dan tidak kompoten (Sheila L. Videbeck, 2008 : 390). Model kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri sendiri, dunia, dan masa depan diri sendiri (Stuart, Gail W, 2006 : 208). Ahli teori-teori ini yakin bahwa penyakit depresif terjadi sebagai suatu hasil dari kelainan kognitif (Beck et al, 1979 dalam Townsed, mary C, 1998 : 182). Kelainan proses pikir membantu perkembangan evaluasi diri individu. Persepsi merupakan ketidakadekuatan dan ketidakberhargaan. Pandangan untuk masa depan merupakan suatu kepesimisan keputusasaan (Townsed, mary C, 1998 : 182). 4) Teori pembelajaran Teori ini mengemukakan bahwa penyakit depresif dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa ada kurang control atau situasi-situasi kehidupannya. Ini dianggap bahwa keyakinan ini muncul dari pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan kegagalan (baik yang dirasakan atau yang nyata). Setelah sejumlah kegagalan , individu merasa tidak berdaya untuk berhasil dalam usaha-usaha yang keras dan oleh karena itu berhenti mencoba. Pembelajaran ketidakberdayaan ini digambarkan sebagai suatu presisposisi untuk penyakit depresif (Seligman, 1973 dalam Townsed, mary C, 1998 : 182). 5) Teori kehilangan objek Teori kehilangan objek merujuk kepada perpisahan traumatic individu dengan benda yang sangat berarti (Stuart, Gail W, 2006 : 207). Teori ini menyatakan bahwa penyakit depresif terjadi jika pribadi tersebut terpisah dari atau ditolak olh orang terdekat selama 6 bulan pertama kehidupan. Proses iaktan diputuskan dan anak menarik diri dari orang lain dan lingkungan (Bowlby, 1973 dalam Townsed, mary C, 1998 : 182). 6) Teori Sosial / Lingkungan Lingkungan seperti hubungan keluarga yang ambivalen, abusive, mengandung penolakan atau ketergantungan yang tinggi dapat meningkatkan gangguan mood (DSM-IV-TR, 2000 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 393).

Kehilangan hubungan atau peran hidup yang penting dapat menyebabkan depresi. Isolasi sosial dan keuangan yang sangat terbatas dikaitkan dengan depresi yang dialami warga negara berusia lanjut (Boys & Nihart, 1998 dalam Sheila L. Videbeck, 2008 : 393). 2 Presipitasi Ada empat sumber utama stressor yang dapat mencetuskan gangguan alam perasaan : a. Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan, atau harga diri. Karena elemen aktual dan simbolisis terdapat pada konsep kehilangan, persepsi pasien merupakan hal yang sangat penting. b. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu episode depresi dan mempengaruhi masalah-masalah individu saat ini dan kemampuan menyelesaikan masalah. c. Ketegangan peran memengaruhi perkembangan depresi, terutama pada wanita. d. Perubahan fisiologis yang diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik (seperti infeksi, neoplasma, ketidakseimbangan metabolik) dapat mencetuskan gangguan alam perasaan. Bermacam-macam obat anthipertensi dan penyalahgunaan zat adiktif adalah faktor pencetus yang lazim. Kebanyakan penyakit kronik yang melemahkan tubuh juga sering disertai dengan depresi. Depresi yang dialami oleh lansia biasanya bersifat kompleks karena untuk meneggakan diagnosisnya sering melibatkan evaluasi kerusakan otak organik dan depresi klinis. (Stuart, Gail W, 2006 : 210)

C. KLASIFIKASI GANGGUAN MOOD 2 Gangguan Depresi Mayor (Episode Tunggal atau Berulang) Depresi mayor merupakan suatu kelainan alam perasaan melibatkan depresi atau hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas-aktivitas yang biasa dan pada waktu yang lampau. Ini adalah tanda kelainan dalam fungsi sosial dan pekerjaan selama sedikitnya dua minggu. a. Dengan gambaran psikotik Kerusakan meguji realita, seperti kehadiran halusinasi atau delusi jelas. b. Tipe melankolik Gejala-gejala berlebihan, adanya kehilangan minat dalam semua aktivitas. Depresi memburuk secara teratur pada pagi hari. Riwayat episode depresif mayor sebelumnya secara tetap berespons baik terhadap terapi antidepresan somatik.

c. Pola musiman Telah ada (setidaknya) tiga tahun pola awitan kelainan depresif selama periode tahun antara permulaan Oktober dan akhir November dan berakhir antara pertengahan Februari dan pertengahan April. Remisi yang penuh terjadi diantara periode-periode ini. d. Distimia ialah suatu kelainan alam perasaan dengan karakteristik yang mirip, jika sedikit lebih ringan, hal ini dianggap berasal dari depresi mayor. Tidak ada halusinasi atau delusi. (Townsed, mary C, 1998 : 179-180) Untuk episode depresi, dari ketiga tingkatan keparahan tersebut diperlukan sekurang-kurangnya dua minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasanya beratnya dan berlangsung cepat.

Termasuk: a. Episode depresi ringan 1) Sekurang-kurangnya harus ada gejala utama 2 dari 3 gejala utama 2)Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya 3) Tidak boleh ada gejala berat diantaranya 4) Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu 5) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya

b Episode depresi sedang 1) Sekurang-kurangnya harus ada gejala utama 2 dari 3 gejala utama 2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya 3) Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu 4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga

c Episode depresi berat tanpa gejal psikotik 1) 3 gejala utama harus ada 2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat. 3) Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu melaporkan banyak gejalanya secara terperinci.

4) Biasanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, tetapi bila gejala amat berat dan muncul sangat cepat bisa kurang dari 2 minggu. 5) Sangat tidak mungkin pasien mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

d Episode depresi berat dengan gejala psikotik 1) Gejala seperti depresi berat tersebut di atas 2) Disertai waham, halusinasi, atau stupor depresi. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau halusinasi olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau anjing yang membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju kepada stupor. (Arief Mansjoer dkk, 2001 : 201-202)

3 Gangguan Bipolar Kelainan bipolar dikarakteristikkan dengan perpindahan suasana hati dari depresi yang dalam sampai euphoria hebat (mania), dengan periode menghalangi alam perasaan normal (Townsed, mary C, 1998 : 180). Gangguan ini memiliki episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu. Pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania) dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Khas biasanya ada penyembuhan sempurna antara episode. Episode manic biasanya mulai tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang berusia lanjut. Kedua macam episode ini seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lain. (Arief Mansjoer dkk, 2001 : 201)

4 Episode Manik Pada kelompok ini terdapat afek yang meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat keparahan. Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal (yang pertama), termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik tunggal.

Termasuk :

a. Hipomania 1) Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania, afek yang meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas menetap selama sekurang-kurangnya beberapa hari berturut-turut, pada suatu derajat intensitas dan bertahan melebihi siklotimia, serta tidak ada halusinasi atau waham. 2) Menimbulkan pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial.

b. Mania tanpa gejala psokitik 1) Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu dan cukup berat sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas social yang biasa dilakukan. 2) Perubahan afek harus disertai energi yang bertambah, sehingga terjadi aktivitas berlebihan, percepatan dan kecepatan bicara, kebutuhan tidur kurang, ide-ide perihal kebesaran, dan terlalu optimistik.

c. Mania dengan gejal psikotik 1) Gambaran klinis lebih berat daripada mania tanpa gejala psikotik. 2) Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran (delusion of persecution). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut. (Arief Mansjoer dkk, 2001 : 201)

D. RENTANG RESPON RENTANG RESPON EMOSIONAL Respons adaptif Respons maladaptif

(Stuart, Gail W, 2006 : 207)

E. MEKANISME KOPING Reaksi berduka yang tertunda mencerminkan penggunaan mekanisme pertahanan penyangkalan dan supresi yang berlebihan dalam upaya menghindari distress hebat yang berhubungan dengan berduka. Depresi adalah suatu perasaan berduka abortif, yang menggunakan metode represi, supresi, penyangkalan, dan disosiasi. Ada yang mempercayai bahwa mania merupakan cerminan dari depresi dan walaupun perilakunya tidak sama, dinamika dan mekanisme kopingnya berhubungan (Stuart, Gail W, 2006 : 211-212).

F. TANDA & GEJALA (DEPRESI) 1. Afek depresi 2. Kehilangan minat dan kegembiraan, serta 3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas. 4. Konsentrasi dan perhatian berkurang 5. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang 6. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna 7. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistik 8. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri 9. Tidur terganggu 10. Nafsu makan berkurang. (Arief Mansjoer dkk, 2001 : 201-202)

G. TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ISI AKTIVITAS EVALUASI Menggambarkan perilaku yang mempengaruhi interaksi social.

Membahas komponen kinerja social yang relevan dengan situasi pasien. Menganalisis bagaimana pasien dapat menggabungkan keterampilan spesifik tersebut.

Mendorong pasien untuk menguji keterampilan baru dalam situasi yang lain. Membahas secara umum keterampilan baru untuk aspek-aspek lain dari fungsi dan kehidupan pasien Intruksikan pasien tentang korektif.

Tunjukkan model keterampilan interpersonal yang efektif untuk pasien. Gunakan bermain peran dan praktik yang terarah untuk memberikan kesempatan kepada pasien mengujicobakan perilaku baru.

Berikan pekerjaan rumah kepada pasien untuk melakukannya di lingkungan alamiah. Berikan umpan balik, dukungan, dan pujian untuk keterampilan social baru yang dapat dilakukannya. Pasien mengidentifikasi perilaku yang bermasalah dan perilaku yang lebih fasilitatif. Pasien menggambarkan keterampilan spesifik. Pasien menunjukkan keterampilan awal dalam perilaku social yang baru.

Pasien membahas kemampuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Pasien mampu mengintegrasikan perilaku social yang baru dalam berinteraksi dengan orang lain.

H. DATA FOKUS 1. Afek seseorang yang depresi adalah satu dari hal kesedihan, patah hati, ketidakberdayaan, dan keputusasaan. Pandangannya suram dan pesimistik. Terjadi perasaan tidak bermakna. 2. Pikiran lambat dan sulit berkonsentrasi. Ide-ide obsesif dan perenungan pikiran-pikiran negative merupakan hal yang umum. Pada depresi berat (depresi mayor atau kelainan bipolar, murung) ciri-ciri psikotik seperti halusinasi dan delusi menjadi jelas merefleksikan kesalahan interprestasi terhadap lingkungan. 3. Secara fisik, ada tanda kelemahan dan kelelahan, sangat sedikitt energy untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Individu dapat mengekspresikan minat yang berlebihan melebihi fungsi jasmaniah, nampaknya mengalami sensivitas yang tinggi untuk sensai-sensasi motorik. Dalam berespon terhadap perlambatan tubuh umum, pencernaan seringkali terganggu, terjadi konstipasi umum, dan retensi urin mungkin terjadi. Terjadi kelainan tidur umum,baik imsomnia maupun hipersomnia. Pada tingkat yang berat (disritmia), individu cenderung merasa kondisi mereka yang terbaik pada dini hari, kemudian terus menerus memburuk bersama dengan berlalunya hari. 4. Kelambatan aktivitas motorik umum disertai dengan depresi (retardasi psikomotor). Tingkat energy habis, pergerakan lesu, dan pelaksanaan aktivitas sehari-hari sangat sulit. Regresi umum terjadi, ditandai dengan menarik diri dan mundur ke posisi janin. Beberapa orang yang mengalami depresi berat dapat memanifestasikan aktivitas motorik melalui gejala agitasi. Gejala-gejala ini konstan, cepat, pergerakan yang tidak bertujuan, di luar jangkauan lingkungan. 5. Pernyataan secara verbal dibatasi. Saat seorang depresi berbicara, isinya dapat berkenaan dengan perenungan menyesali kehidupannya sendiri atau, pada pasien-pasien psikotik, suatu refleksi pikiran-pikiran delusi mereka. 6. Partisipasi social berkurang. Pasien depresi memiliki suatu kecenderungan terhadap egosentrisme dan narsisme suatu focus pada diri sendiri yang kuat. Hal ini mengecilkan hati orang lain untuk melanjutkan hubungan dengan individu, yang meningkatkan harga dirinya dan kecenderungan untuk isolasi. (Townsed, mary C, 1998 : 183-184) I. DIAGNOSA KEPERAWATAN (Townsed, mary C, 1998)

1. Resiko tinggi terhadap kekerasan yang diarahkan pada diri. 2. Berduka disfungsional. 3. Isolasi Sosial/kerusakan interaksi social.

J. RENCANA KEPERAWATAN (Townsed, mary C, 1998)

1. Resiko tinggi terhadap kekerasan yang diarahkan pada diri. a. Tujuan/Sasaran 1) Jangka pendek : pasien akan mencari staf saat dorongan untuk membahayakan diri sendiri selama shiff. 2) Jangka panjang : pasien tidak membahaya diri sendiri selama di rumah sakit b. Kriteria Evaluasi 1) Pasien menyatakan secara verbal tidak adanya pikiran-pikiran bunuh diri. 2) Pasien berjanji tidak ada tindakan-tindakan merusak diri. 3) Pasien mampu menyatakan secara verbal nama-nama sumber di luar rumah sakit yang darinya ia dapat meminta pertolongan jika perasaan ingin bunuh diri terjadi. c. Intervensi dan Rasional 1) Tanyakan pasien secara langsung pernakah anda berpikir untuk membunuh diri anda sendiri? Apakah anda memiliki cara untuk melakukan rencana ini ? Risiko bunuh diri akan sangat meninngkat jika pasien telah mengembangkan suatu perencanaan dan khususnya jika ada cara-cara bagi pasien untuk melaksanakan perencanaan tersebut. 2) Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien. Singkirkan semua benda-benda yang memiliki potensi untuk membahaya pasien (benda-benda tajam, tali pengikat, ikat pinggang, dasi, benda-benda yang terbuat dari gelas). Keamanan pasien merupakan prioritas keperawatan. 3) Jamin janji pasien bahwa ia akan mencari staf jika pikiran bunuh diri muncul. Pasien-pasien bunuh diri seringkali ambivalen tentang perasaan mereka. Mendiskusikan perasaan dengan individu yang dipercaya dapat memberikan bantuan sebelum pasien mengalami suatu situasi krisis. 4) Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan marahnya dalam batas yang sesuai. Berikan metode melepaskan rasa bermusuhan secara aman. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber-sumber marah yang sebenarnya dan mempengaruhi keterampilan koping yang adaptif yang akan digunakan setelah di luar rumah sakit.

Perilaku deprasi dan bunuh diri dapat digambarkan sebagai kemarahan yang ditunjukkan pada diri sendiri. Jika kemarahan ini dapat dinyatakan secara verbal dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam, pasien akan mampu untuk menyelesaikan perasaan ini, tanpa menghiraukan ketidaknyamanan yang ada. 5) Identifikasi sumber-sumber di masyarakat yang dapat digunakan oleh pasien sebagai system pendukung dan yang darinya dapat meminta pertolongan jika mengalami kembali perasaan ingin bunuh diri. Dengan memiliki perencanaan yang nyata untuk mencari bantuan selama krisis dapat mengurangi atau mencegah perilaku merusak diri. 6) Meluangkan waktu bersama dengan klien. Hal ini memberikan suatu perasaan aman dan nyaman, sembari juga menyampaikan pesan,saya ingin meluangkan waktu saya bersama dengan anda karena saya piker anda adalah seorang pribadi yang bermakna

2. Berduka disfungsional a. Tujuan/Sasaran 1) Sasaran jangka pendek : pasien akan mengekspresikan kemarahan terhadap konsep kehilangan dalam 1 minggu. 2) Sasaran jangka panjang : pasien akan mampu menyatakan secara verbal perilaku-perilaku yang berhubungan dengan tahap-tahap berduka yang normal. Pasien akan mampu mengakui posisinya sendiri dalam proses berduka sehingga ia maju dengan langkahnya sendiri terhadap pemecahan masalah. b. Kriteria Evaluasi 1) Pasien mampu untuk menyatakan secara verbal tahap-tahap proses berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan dengan tiap tahap. 2) Pasien mampu mengidentifikasi posisinya sendiri dalam proses berduka dan mengekspresikan perasaanperasaannya yang berhubungan dengan konsep kehilangan secara jujur. 3) Pasien tidak terlau lama mengekspresikan emosi-emosi dan perilaku-perilaku yang berlebih-lebihan yang berhubungan dengan disfungsi berduka dan mampu melaksanankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. c. Intervensi dan Rasional 1) Tentukan pada tahap berduka mana pasien teriksasi. Identifikasi perilaku-perilaku yang berhubungan dengan tahap ini. Pengkajian data dasar yang akurat adalah penting untuk perencanaan keprewatan yang efektif bagi pasien yang berduka. 2) Kembangkan hubungan saling percaya dengan klien. Perlihatkan emapati dan perhatian. Jujur tepati semua janji. Rasa percaya merupakan dasar untuk hubungan terapeutik. 3) Perlihatkan sikap menerima dan membolehkan pasien mengkespresikan perasaannya secara terbuka.

Sikap menerima menunjukkan kepada pasien bahwa anda yakin ia merupakan seorang pribadi yang bermakna. Rasa percaya meningkat. 4) Dorong pasien untuk mengekspresikan rasa marah. Jangan menjadi defensive, jika permulaan ekspresi kemarahan dipindahkan kepada perawat atau terapis. Bantu klien utnuk mengeksplorasi perasaan marah sehingga pasien dapat mengungkapkan secara langsung kepada objek atau orang/pribadi yang dimaksud. Pengungkapan secara verbal perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam dapat membantu pasien sampai kepeada hubungan dengan persoalan-persoalan yang belum terpecahkan. 5) Bantu pasien untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam melalui berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas motorik besar (misal berjalan cepat, jogging, latihan-latihan fisik, bola voli, memukul karung pasir, sepeda latihan). Latihan fisik memberikan suatu metode yang aman dan efektif untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam. 6) Ajarkan tentang tahap-tahap berduka yang normal dan oerilaku yang berhubungan dengan setiap tahap. Bantu pasien utnuk mengerti bahwa perasaan seperti rasa bersalah dan marah terhadap konsep kehilangan adalah perasaan yang wajar dan dapat diterima selama proses berduka. Pengetahuan tentang perasaan-perasaan wajar yang berhubungan dengan berduka yang normal dapat menolong, mengurangi beberapa perasaan bersalah menyebabkan timbulnya respon-respon ini. 7) Dorong pasien untuk meninjau hubungan dengan konsep kehilangan. Dengan dukungan sensivitas, menunjukkan realita situasi dalam area-area dimana kesalahan presentasi diekspresikan. Pasien harus menghentikan persepsi idealisnya dan mampu meneriam baik aspek positif maupun negative dari konsep kehilangan sebelum proses berduka selesai seluruhnya. 8) Bantu pasien dalam pemecahan masalahnya sebagai usaha untuk menentukan metode-metode koping yang lebih adaptif terhadap pengalaman kehilangan. Berikan umpan balik positif untuk diidentifikasi strategi-strategi dan membuat keputusan-keputusan. Umpan balik positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.

3 Isolasi Sosial/kerusakan interaksi social aTujuan/Sasaran 1) Sasaran jangka pendek : pasien akan mengembangkan hubungan saling percaya dengan staf dalam 3-5 hari. 2) Sasaran jangka panjang : pasien akan dengan sukarela meluangkan waktu bersama dengan pasien lain dan staf dalam aktivita-aktivitas kelompok di bangsal. a. Kriteria Evaluasi 1) Pasien mendemonstrasikan keinginan dan hasrat untuk bersosialisasi dengan orang lain.

2) Pasien secara sukarela menghadiri aktivitas-aktivitas kelompok. 3) Pasien mendekati orang lain dengan cara yang tepat untuk interaksi satu per satu. b. Intervensi dan Rasional 1) Biarkan pasien untuk mengambil sebanyak mungkin tanggung jawab untuk praktik-praktik keperawatan dirinya sendiri. Memberikan klien pilihan-pilihan dalam meningkatkan perasaan yang terkontrol pada orang lain. 2) Bantu pasien untuk menetapkan tujuan-tujuan yang relistis. Tujuan yang tidak realistis menyebabkan pasien gagal dan menguatkan perasaan ketidakberdayaan. 3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrol. Kondisi emosi pasien mempengaruhi kemampuan dalam menyelesaikan masalah. Bantuan dibutuhkan untuk merasakan keuntungan-keuntungan dan kosekuensi alternative yang secara akurat. 4) Bantu pasien untuk mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang tidak berada dalam kemampuannya mengontrol. Dorongan untuk menyatakan secara verbal perasaan-perasaannya yang berhubungan dengan ketidakmampuan. Untuk menghadapi isu-isu yang belum terpecahkan dan menerima apa yang tidak dapat diubah. 5) Identifikasi cara-cara yang dapat dicapai oleh klien. Dorong untuk berpertisipasi dalam aktivitas ini, dan berikan penguatan positif untuk partisipasi dan pencapaiannya. Penguatan positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.