Anda di halaman 1dari 12

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II KESETIMBANGAN FASA SELASA, 7 APRIL 2014

Disusun oleh : Fika Rakhmalinda (1112016200003) Fikri Sholiha (1112016200028) Naryanto (11120162000018)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

1|kimia fisika II

ABSTRAK Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B. Satu fasa membutuhkan dua derajat kebebasan untuk menggambarkan sistem secara sempurna, dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan, satu derajat kebebasan. Jadi, dapat digambarkan diagram fasa dalam satu bidang. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Berdasarkan data hasil praktikum didapat volume asam asetat glasial yang dibutuhkan pada kloroform 3 ml adalah sebanyak 9,8 ml, pada kloroform 5 ml adalah sebanyak 10,65 ml, dan pada kloroform 7 ml volume asam asetat glasial yang dibutuhkan adalah sebanyak 12,15 ml. Jadi semakin banyak volume kloroform, maka semakin banyak pula volume asam asetat glasial yang dibutuhkan untuk membentuk satu fasa. PENDAHULUAN Kata fase berasal dari bahasa Yunani yang bearati pemunculan. Fase adalah keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, bukan hanya dalam komposisi kimianya, melainkan juga dalam keadaan fisiknya. (Kata-kata ini adalah kata-kata Gibbs) (Atkins, 204:1989). Berdasarkan hukum fasa Gibbs, jumlah terkecil variabel bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan sebagai : F=CP+2 dimana, F = jumlah derajat kebebasan C = jumlah komponen P = jumlah fasa Dalam ungkapan di atas, kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekaanan dan komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan
2|kimia fisika II

tekanan tetap dapat dinyatakan sebagai : F=3P Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa, maka F = 2, berarti untuk menyatakan keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, maka F = 1, berarti hanya satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan diagram fasa untuk system tersebut. Oleh karena sistem tiga kompoen pada suhu dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga samasisi yang disebut diagram terner (Atastina Sri Basuki, 15-16: 2003). Keseimbangan fasa dan proses kelarutan dapat digambarkan dalam Diagram Terner yang terdiri dari tiga komponen yaitu: minyak, surfaktan dan larutan garam. Sebagai contoh, diagram terner yang sederhana terdiri dari sistem tiga komponen (pseudoternary diagram) (Edward Tobing, 1: 2001). Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang mampu menurunkan tegangan antar muka (IFT) minyak-air ketingkat yang lebih rendah. Sedangkan campuran surfaktan-air-minyak dapat membentuk emulsi fasa bawah (larut dalam air), emulsi fasa tengah (disebut mikroemulsi, larut dalam fasa minyak dan air) dan emulsi fasa atas (larut dalam minyak) (Edward Tobing, 1: 2001). Satu fasa membutuhkan dua derajat kebebasan untuk menggambarkan sistem secara sempurna, dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan, satu derajat kebebasan. Jadi, dapat digambarkan diagram fasa dalam satu bidang. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga (Dogra, 2009: 473). Air dan asam asetat dapat bercampur seluruhnya, demikian juga dengan kloroform dan asam asetat. Air dan kloroform hanya dapat campur sebagian (Atkins, 218:1989).

BAHAN DAN METODE a. Alat dan bahan 1. Buret 2. Labu Erlenmeyer 3. Klem + statif
3|kimia fisika II

4. Gelas ukur 5. Piknometer 6. Neraca ohauss 7. Spatula 8. Pipet tetes 9. Gelas kimia 10. Kloroform 11. Asam asetat glasial 12. Akuades

b. Metode Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode titrasi Pengukuran massa jenis 1. Mengukur berat kosong piknometer 2. Masukkan air ke dalam piknometer sampai penuh kemudian menimbangnya 3. Mengulangi langkah kedua dengan mengganti air dengan kloroform dan asam asetat glasial. Sistem tiga komponen 1. Menyediakan buret yang bersih dan kering lalu mengisinya dengan asam asetat glasial 2. Menyediakan labu Erlenmeyer sebanyak 3 buah, masing-masing diisi dengan 3 ml, 5 ml, dan 7 ml kloroform. Kerjakan satu persatu mengingat kloroform mudah menguap dan toksik. 3. Menambahkan masing-masing 5 ml akuades ke dalam labu Erlenmeyer yang telah diisi dengan kloroform, mengocok sebentar, campuran akan membentuk dua lapisan. 4. Menitrasi dengan asam asetat glasial sampai kedua lapisan membentuk satu fasa. Mencatat volume asam asetat glasial yang ditambahkan. Titrasi dilakukan sebanyak dua kali. 5. Mengulangi untuk labu Erlenmeyer kedua dan seterusnya. 6. Membuat diagram fasa terner.
4|kimia fisika II

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran massa jenis Diketahui: Massa piknometer kosong = 22,1 gram Massa piknometer + air = 46,01 gram Massa piknometer + kloroform = 56,75 gram Massa piknometer + asam asetat glasial = 47,2 gram Massa air = 23,91 gram Massa kloroform = 34,65 gram Massa asam asetat glasial = 25,1 gram = air = kloroform = asam asetat glasial = = 0,96 g/ml = 1,39 g/ml = 1,00 g/ml

Sistem tiga komponen

Titrasi pertama Labu 1 (3 ml kloroform + 5 ml Air) n= na nb nc ntotal Xa Xb = = =

= 0,035 mol = 0,26 mol = 0,16 mol

= 0,035 + 0,26 + 0,16 = 0,437 mol = = 100% = 8,009 % 100% = 59,496 %

5|kimia fisika II

Xc na nb nc ntotal Xa Xb Xc na nb nc ntotal

100% = 36, 613 %

Labu 2 (5 ml kloroform + 5 ml air) = = = = 0,058 mol = 0,266 mol = 0,177 mol

= 0,058 + 0,266 + 0,177 = 0,501 mol = = = 100% = 11,57 % 100% = 53,09 % 100% = 35,329 %

Labu 3 (7 ml kloroform + 5 ml air) = = = =0,081 mol = 0,266 mol = 0,203 mol

= 0,081 + 0,266 + 0,203 = 0,55 mol = = = = 11,435 % = 53,64 % = 37,92 %

Xa Rata-rata Xb Rata-rata Xc Rata-rata Titrasi kedua

6|kimia fisika II

na nb nc ntotal Xa Xb Xc

Labu 1 (3 ml kloroform + 5 ml Air) = = = 0,035 mol = 0,26 mol = 0,15 mol

= 0,035 + 0,26 + 0,15 = 0,454 mol = = = 100% = 7,7 % 100% = 48,1% 100% = 33,03 %

Labu 2 (5 ml kloroform + 5 ml Air) na nb = = = 0,058 mol = 0,26 mol = 0,17 mol

ntotal Xa Xb Xc na nb

nc

= 0,058 + 0,26 + 0,17 = 0,489 mol = = = 100% = 11,86 % 100% = 53,137 % 100% = 34,76 %

Labu 3 (7 ml kloroform + 5 ml Air) = = = 0,082 mol = 0,26 mol


7|kimia fisika II

nc ntotal Xa Xb Xc

= 0,205 mol

= 0,082 + 0,26 + 0,205= 0,547 mol = = = 100% = 14,99 % 100% = 47,53 % 100% = 37,47 % = = = =11,35 % = 49,589 % = 35,063 % Xa = fraksi mol kloroform Xb = fraksi mol air Xc = fraksi mol asam asetat glasial

Xa Rata-rata Xb Rata-rata Xc Rata-rata

Ket: na = mol kloroform nb = mol air nc = mol asam asettat glasial

8|kimia fisika II

DIAGRAM FASE TERNER (I)

25 37,92%

75

53,64% 50 50

75

25

A 11,435% 25 50 75

9|kimia fisika II

DIAGRAM FASE TERNER (II)

25

75

35,063%

50

50 49,589%

75

25

A 11,35% 25 50 75

F=3P =32 =1

F = derajat kebebasan P = jumlah fasa

10 | k i m i a f i s i k a I I

PEMBAHASAN Praktikum kali ini mengenai kesetimbangan fasa. Di mana dalam praktikum ini melakukan titrasi terhadap kloroform (bersifat nonpolar) yang ditambahkan dengan air (bersifat polar), lalu dititras dengan larutan asam asetat glasial (bersifat semipolar). Dalam praktikum ini dilakukan beberapa perbandingan yaitu dengan cara membedakan volume kloroform yang dititrasi. Yang pertama kloroform 3 ml + air 5 ml, yang ke dua 5 ml kloroform + air 5 ml, dan yang terakhir 7 ml kloroform + air 5 ml. Hal ini dilakukan untuk mengamati besarnya pengaruh kloroform terhadap banyaknya volume asam asetat glasial yang dibutuhkan untuk membentuk satu fasa antara air dan kloroform, karena ketika kloroform dan air dicampurkan terbentuk dua fasa. Terbentuknya dua fasa ini disebabkan karena adanya

perbedaan kepolaran yakni kloroform bersifat nonpolar sedangkan air bersifat polar. Selain itu karena massa jenis CHCl3 = 1,41 g/mL sedangkan air sebesar 0,96 g/mL, maka pada percobaan ini diperoleh lapisan kloroform berada dilapisan bawah sedangkan air di lapisan atas karena kloroform > air. Dalam praktikum ini, titrasi dilakukan dua kali. Hal ini bertujuan untuk memastikan volume asam asetat glasial yang dibutuhkan untuk membentuk satu fasa antara air dan kloroform, lalu volume asam asetat glasial dirata-ratakan. Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B (Atastina Sri Basuki, 16: 2003). KESIMPULAN 1. Perbedaan fasa yang terjadi antara air dan kloroform terajdi karena perbedaan kepolaran antara keduanya. Air bersifat polar sedangkan kloroform bersifat nonpolar 2. Asam asetat glasial dalam praktikum ini berfungsi sebagai penyatu fasa dari air dan kloroform, hal ini dikarenakan sifatnya yang semipolar.

11 | k i m i a f i s i k a I I

3. Semakin banyak volume kloroform maka semakin banyak pula volume asam asetat glasial yang dibutuhkan 4. Semakin banyak volume kloroform, maka semakin sulit pula untuk menyatukan fasanya dengan air.

DAFTAR PUSTAKA Atkins. 1989. Kimia Fisika Edisi Keempat Jilid I. Jakarta: Erlangga. Dogra, S.K. 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta: UI-PRESS Basuki, Atastina Sri dan Setijo Bismo. Buku Panduan Praktikum Kimia Fisika. http://staff.ui.ac.id. 2003. Diakses pada 11 April 2014. Pukul 20.09 WIB. Tobing, Edward. Kelakuan Fasa Campuran antara Reservoar-Injeksi-Surfaktan untuk Implementasi Enchanced Water Flooding. http://www.iatmi.or.id. 2001. Diakses pada 11 April 2014. Pukul 20.36 WIB.

12 | k i m i a f i s i k a I I