Anda di halaman 1dari 9

1 Alveolektomi 2.1.

1 Definisi Alveolektomi Alveolectomy adalah pengurangan tulang soket dengan cara mengurangi plate labial/bukal dari prosessus alveolar dengan pengambilan septum interdental dan interadikuler. Atau Tindakan bedah radikal untuk mereduksi atau mengambil procesus alveolus disertai dengan pengambilan septum interdental dan inter radikuler sehingga bisa di laksanakan aposisi mukosa. Alveolektomi termasuk bagian dari bedah preprostetik, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk persiapan pemasangan protesa. Tujuan dari bedah preprostetik ini adalah untuk mendapatkan protesa dengan retensi, stabilitas, estetik, dan fungsi yang lebih baik. Tindakan pengurangan dan perbaikan tulang alveolar yang menonjol atau tidak teratur untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan protesa dilakukan dengan prinsip mempertahankan tulang yang tersisa semaksimal mungkin. Seringkali seorang dokter gigi menemukan sejumlah masalah dalam pembuatan protesa yang nyaman walaupun kondisi tersebut dapat diperbaiki dengan prosedur bedah minor. Penonjolan tulang atau tidak teratur dapat menyebabkan protesa tidak stabil yang dapat mempengaruhi kondisi tulang dan jaringan lunak dibawahnya.

Indikasi Indikasi dilakukannya tindakan alveolektomi adalah : 1) Indikasi dari prosedur alveolektomi jarang dilakukan tetapi biasanya pada dilakukan pada kasus proyeksi anterior yang berlebih pada alveolar ridge pada maxilla atau untuk pengurangan prosesus alveolaris yang mengalami elongasi. Area yang

berlebih tersebut dapat menimbulkan masalah dalam estetik dan stabilitas gigi tiruan. Pembedahan ini paling banyak dilakukan pada maloklusi kelas II divisi I. 2) Alveolektomi juga dilakukan untuk mengeluarkan pus dari suatu abses pada gigi. 3) Alveolektomi diindikasikan juga untuk preparasi rahang untuk tujuan prostetik yaitu untuk memperkuat stabilitas dan retensi gigi tiruan. 4) Menghilangkan tuberositas untuk mendapatkan protesa yang stabil dan nyaman dipakai. 5) Untuk eksisi eksostosis. 6) Menghilangkan interseptal bonediseas. 7) Menghilangkan undercut. 8) Untuk keperluan perawatan ortodontik,bila pemakaian alat ortho tidak maksimal maka dilakukan alveolektomi. 9) penyakit periodontal yang parah yang mengakibatkan kehilangan sebagian kecil tulang alveolarnya.

2.1.4. Kontrindikasi Alveolektomi Adapun kontra indikasi dilakukannya tindakan alveolektomi adalah : 1) Pada pasien yang masih muda, karena sifat tulangnya masih sangat elastis maka proses resorbsi tulang lebih cepat dibandingkan dengan pasien tua. Hal ini harus diingat karena jangka waktu pemakaian gigi tiruan pada pasien muda lebih lama dibandingkan pasien tua. 2) Pada pasien wanita atau pria yang jarang melepaskan gigi tiruannya karena rasa malu, sehingga jaringan pendukung gigi tiruan menjadi kurang sehat, karena selalu dalam

keadaan tertekan dan jarang dibersihkan. Hal ini mengakibatkan proses resorbsi tulang dan proliferasi jaringan terhambat. 3) Jika bentuk prosesus alveolaris tidak rata tetapi tidak mengganggu adaptasi gigi tiruan baik dalam hal pemasangan, retensi maupun stabilitas. 4) Pasien dengan penyakit sistemik. 5) Periodontitis.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan alveolektomi : Dalam melakukan tindakan alveolektomi terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh seorang dokter gigi, yaitu :

1. Bentuk Prosesus Alveolaris Pada pembuatan gigi tiruan dibutuhkan bentuk prosesus alveolaris yang dapat memberikan kontak serta dukungan yang maksimal. Karena itu selain menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan gigi tiruan, maka dalam melakukan alveololektomi harus diperhatikan juga bentuk prosesus alveolaris yang baik. Yaitu bentuk U yang seluas mungkin, sehingga dapat menyebarkan tekanan mastikasi pada permukaan yang cukup luas. 2. Sifat Tulang Yang Diambil Untuk mendapatkan suatu hasil terbaik maka suatu gigi tiruan harus terletak pada tulang kompakta, bukan tulang spongiosa. Karena itu pada waktu melakukan

alveolektomi dengan pembuangan tulang yang banyak harus diusahakan untuk mempertahankan korteks tulang pada saat membuang tulang medular yang lunak. Hal ini disebabkan karena tulang spongiosa lebih cepat dan lebih banyak mengalami resorbsi dibandingkan dengan tulang kompakta 3. Usia Pasien Dalam melakukan alveolektomi usia pasien juga harus dipertimbangkan, karena semakin muda pasien maka jangka waktu pemakaian gigi tiruan semakin lama. Tulang pada pasien muda lebih plastis dan lebih cenderung mengalami resorbsi dibandingkan atrofi, serta pemakaian tulang alveolar lebih lama daripada pasien tua. Jadi pembuangan tulang pada pasien muda dianjurkan lebih sedikit dan mungkin tidak perlu dilakukan trimming tulang. 4. Penambahan Free Graft Jika pada waktu pencabutan gigi atau alveolektomi dilakukan ada tulang yang secara tidak sengaja terbuang atau terlalu banyak diambil, maka harus diusahakan untuk mengembalikan pecahan tulang ini ke daerah operasi. Pecahan tulang ini disebut free graft. Replantasi free graft ini dapat mempercepat proses pembentukan tulang baru serta mengurangi resorbsi tulang. Boyne menyatakan bahwa penggunaan autogenous bone graft lebih baik daripada homogenous dan heterogenous bone graft untuk pencangkokan, dan semakin banyak sumsum tulang dan selsel endosteal pada tulang semakin baik. 5. Proses Resorbsi Tulang Pada periodontitis tingkat lanjut yang ditandai dengan resorbsi tulang interradikular, maka alveoloplasti harus ditunda sampai soket terisi oleh tulang baru.

Penundaan selama 4 - 8 minggu ini dapat menghasilkan bentuk sisa ridge yang lebih baik. Selain itu harus diingat juga bahwa pada setiap pembedahan selalu terjadi resorbsi tulang, maka harus dihindari terjadinya kerusakan tulang yang berlebih akibat suatu tindakan bedah, karena keadaan ini dapat mempengaruhi hasil perawatan.

2.1.5 Komplikasi Tindakan Alveolektomi Dalam melakukan suatu tindakan bedah tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya komplikasi, demikan pula halnya dengan alveoloplasti. Dimana komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi antara lain: rasa sakit, hematoma, pembengkakan yang berlebihan, timbulnya rasa tidak enak pasca operasi (ketidaknyamanan), proses penyembuhan yang lambat, resorbsi tulang berlebihan, serta osteomyelitis. Tetapi semua hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan prosedur operasi serta tindakan-tindakan pra dan pasca operasi yang baik.

2.1.6 Prosedur Pembedahan 1. Pembedahan Alveolektomi Primer Pembedahan dilakukan bersamaan ketika gigi dicabut , setelah pencabutan gigi sebaiknya dilakukan penekanan pada tulang alveolar soket gigi yang dicabut untuk mecegah bentuk irreguler. Caranya :
1. 2. 3.

Dibuat flap mukoperiosteal dgn tinggi flap tidak lebih dari 2/3 soket gigi. Tulang dihaluskan dan dibersihkan Jaringan lunak yang berlebih dibuang dan luka bedah dijahit

2. Pembedahan Alveolektomi pada Pasien Edentulous Pembedahan dilakukan pada puncak alveolar ridge. Dibuat envelope flap, tapi insisi dapat dibuat di sisi labial atau bukal untuk memberikan dasar yang luas untuk penutupan. Kontur tulang dicapai dengan bone file atau burs. Ridge dihaluskan agar menghindari serpihan tajam, palpasi digital diperlukan untuk mengetahui keseragaman punggungan. Setelah itu, daerah ini diirigasi dengan saline lalu flap dijahit.

3. Alveolektomi Sekunder

Linggir alveolar membutuhkan recountouring setelah beberapa lama pencabutan gigi akibat adanya bentuk irreguler. Pembedahan dapat dilakukan dengan membuat flap mukoperiosteal dan bentuk yang irreguler dihaluskan dengan bor, bone cutting forcep dan dihaluskan dengan bone file setelah bentuk irreguler halus, luka bedah dijahit. Pada secondary alveoloplasty satu rahang sebaiknya sebelum operasi dibuat surgical guidance yang berguna sebagai pedoman pembedahan. Surgical guidance biasanya terbuat dari self curing acryllic, shellac atau heat Curing acrylic.

2.1.7 Teknik-teknik Alveolektomi Starshak (1971) mengemukakan 5 macam teknik alveolektomi, yaitu : teknik Alveolar Kompresi, teknik Simpel alveolektomi, teknik KortikoLabial Alveoloplasti, teknik Dean

Alveoloplasti, dan teknik Obwegeser Alveoloplasti.

1. Teknik Alveolar Kompresi Merupakan teknik alveoloplasti yang paling mudah dan paling cepat. Pada teknik ini dilakukan penekanan cortical plate bagian luar dan dalam di antara jarijari. Teknik ini paling efektif diterapkan pada pasien muda, dan harus dilakukan setelah semua tindakan ekstraksi, terutama pada gigi yang bukoversi. Tujuan dilakukannya tindakan ini adalah untuk mengurangi lebar soket dan menghilangkan tulang-tulang yang dapat menjadi undercut.

2. Teknik Simpel Alveoloplasti Teknik ini dapat digunakan jika dibutuhkan pengurangan cortical margin labial atau bukal, dan kadang-kadang juga alveolar margin lingual atau palatal. Biasanya digunakan flep

tipe envelope, tetapi kadangkala digunakan juga flep trapesoid dengan satu atau beberapa insisi. Pada teknik ini pembukaan flep hanya sebatas proyeksi tulang, karena pembukaan yang berlebihan pada bagian apikal dapat menyebabkan komplikasikomplikasi yang tidak diinginkan.

3. Teknik Kortiko-Labial Alveoloplasti Teknik ini merupakan teknik alveoloplasti yang paling tua dan paling populer, di mana dilakukan pengurangan cortical plate bagian labial. Teknik ini telah dipraktekkan secara radikal selama bertahun-tahun, dengan hanya meninggalkan sedikit alveolar ridge yang sempit. Dalam tindakan bedah preprostodontik teknik inilah yang paling sering digunakan, karena pada teknik ini pembuangan tulang yang dilakukan hanya sedikit, serta prosedur bedahnya yang sangat sederhana.

4. Teknik Dean Alveoloplasti O.T. Dean menyumbangkan suatu teknik alveoloplasti yang sangat baik dalam mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat mengadaptasi gigi tiruan dengan baik. Thoma menggambarkan pembuangan tulang interrradicular (di antara akar) tidak dengan istilah intraseptal (di dalam septum), tetapi dengan istilah intercortical (di antara cortical plate). Sedangkan ahli-ahli lain menggunakan istilah teknik crush. Teknik Dean ini didasari oleh prinsip-prinsip biologis sebagai berikut : 1) mengurangi alveolar margin labial dan bukal yang prominen, 2) tidak mengganggu perlekatan otot, 3) tidak merusak periosteum,

4) melindungi cortical plate sehingga dapat digunakan sebagai onlay bone graft yang hidup dengan suplai darah yang baik, 5) mempertahankan tulang kortikal sehingga dapat memperkecil resorbsi tulang setelah operasi. McKay memodifikasi teknik Dean ini dengan memecahkan cortical plate ke arah labial sebelum menekannya kembali ke palatal. Modifikasi ini menjamin onlay tulang dapat bergerak bebas dan terlepas dari tekanan.

5.Teknik Obwegeser Alveoloplasti Pada kasus protrusi premaksilaris yang ekstrim, teknik Dean tidak akan menghasilkan ridge anterior berbentuk U seperti yang diinginkan, tetapi menghasilkan ridge berbentuk V. Untuk menghindari bentuk ridge seperti ini, Obwegeser membuat fraktur pada cortical plate labial dan palatal. Keuntungan teknik ini adalah dapat membentuk kedua permukaan palatal dan labial prosesus alveolaris anterior, dan sangat tepat untuk kasus protrusi premaksilaris yang ekstrim.

Operasi dengan teknik ini harus didahului dengan proses pembuatan model gips, kemudian splint atau gigi tiruan disusun pada model kerja gips tersebut. Dengan dilakukannya proses ini, maka prosedur operasi yang dilakukan di kamar praktek dokter gigi atau di ruang operasi dapat dilakukan dengan lebih akurat.