Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam bidang bioproses, fermentasi merupakan proses yang mempunyai peranan penting karena fermentasi adalah kunci (proses utama) bagi produksi bahan-bahan yang berbasis biologis. Bahan-bahan yang diuhasilkan melalui fermentasi merupakan hasil-hasil metabolit sel mikroba, seperti antibiotic. Fermentasi merupakan proses yang relatif murah dan sejak lama telah dikenal secara tradisional dengan produk-produknya yang sudah biasa dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari, seperti tempe, oncom, tape, dan lain-lain. Selain hasil-hasil metabolit, fermentasi dapat pula diterapkan untuk menghasilkan biomassa sel mikroba seperti ragi. Untuk menghasilkan tiaptiap produk fermentasi dibutuhkan kondisi proses yang berbeda-beda dan jenis mikroba yang bervariasi karakteristiknya. Oleh karena itu, diperlukan keadaan lingkungan, substrat (media), serta perlakuan yang sesuai sehingga produk yang dihasilkan dapat optimal. Salah satu hasil produk fermentasi berupa metabolit primer adalah asam glutamat. Asam glutamat merupakan asam amino yang dikenal memiliki kekhasan yaitu sebagai penguat citarasa. Di pasaran asam glutamat dapat kita jumpai dalam bentuk monosodium glutamat (MSG) yang banyak digunakan sebagai bahan penyedap makanan. Hampir disetiap bahan makanan mengandung zat aditif khususnya monosodium glutamat atau mononatrium glutamat yang merupakan senyawa sintetik yang dapat menimbulkan rasa enak atau menekan rasa yang tidak diingankan dari suatu bahan makanan. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk mengetahui dan mengkaji lebih jauh mengenai asam glutamat khususnya dalam bentuk Monosodium glutamat (MSG).

1.2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu : 1. 2. 3. Apakah Monosodium Glutamat (MSG) itu? Apa saja karakteristik dari MSG? Apa bahan baku yang digunakan dalam proses produksi MSG secara fermentasi? 4. 5. 6. 7. Bagaimana proses produksi MSG dalam skala industri? Bagaimana proses purifikasi (pemurnian) dari produk (MSG)? Apa saja alat-alat pendukung industri MSG? Bagaimana pengolahan limbah industri MSG?

1.3. Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih jelas tentang Monosodium Glutamat (MSG), mencakup karakteristik, bahan baku yang digunakan, proses produksi, proses pemurnian produk, alat-alat pendukung industri serta pengolahan limbahnya, sekaligus untuk memenuhi mata kuliah Proses Industri Kimia di Program Studi Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.

1.4. Manfaat Penulisan Hasil dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang karakteristik, bahan baku yang digunakan, proses produksi, proses pemurnian produk, alat-alat pendukung industri serta pengolahan limbah dari industri MSG.

1.5. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan yaitu dengan studi pustaka. Untuk menunjang penyusunan makalah ini penulis membaca dan memahami berbagai informasi baik dari buku-buku pengetahuan, artikel, dan internet untuk dijadikan acuan serta mengambil teori-teori yang relevan dengan bahasan makalah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Proses Fermentasi Fermentasi berasal dari bahasa latin yaitu Fevere artinya mendidih. Peristiwa mendidih sebenarnya timbul dari gelembung-gelembung CO2 yang dihasilkan dari proses katabolisme karbohidrat. Fermentasi didefinisikan sebagai proses penguraian atau perubahan dari karbohidrat, protein, dan lemak oleh enzim-enzim yang diikuti oleh pembentukan gas (Adrianto,2009). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang

mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Urutan pengerjaan yang dilakukan dalam proses fermentasi yaitu penyiapan substrat, komposisi substrat harus sesuai dengan tujuan fermentasi, kemudian pemilihan mikroorganisme. Setelah itu pembibitan dan pertumbuhan mikroorganisme, yang terakhir fermentasi di dalam bioreaktor. Bioreaktor harus sesuai dengan lingkungan mikroorganisme (aerob atau anaerob), dan harus steril dari mikroorganisme lain.

2.2. Monosodium Glutamat (MSG) Pada tahun 1908, Ikeda menemukan bahwa MSG adalah komponen aktif yang bermanfaat dari algae Laminaria japonica. Pada kisaran pH 5-8 dan biasanya digunakan pada level 0,2 - 0,5 %. Monosodium glutamat, yang

juga dikenal dengan natrium glutamat atau MSG adalah garam sodium yang terdapat di alam dengan nama non-essential amino acid glutamic acid, digunakan sebagai bahan tambahan makanan dan umumnya dipasarkan sebagai penambah atau penyedap rasa (Wikipedia,2010).

Gambar 1. Monosodium Glutamat (MSG)

Hampir di setiap bahan makanan mengandung zat aditif khususnya MSG yang dapat menimbulkan rasa enak (flavour potentiator) atau menekan rasa yang tidak diinginkan dari suatu bahan makanan (Winarno, 1988:208) Protein dapat didegradasi atau dihidrolisa melalui reaksi yang biasa terjadi pada proses pengolahan makanan dan penyimpanan. Reaksi ini mampu menghasilkan pembentukan asam glutamat bebas dan dengan mudah dapat direaksikan dengan ion natrium untuk menghasilkan MSG. Oleh karena itu MSG dapat ditemukan khususnya pada makanan yang kaya protein.

2.3. Karakteristik MSG Glu (singkatan IUPAC) Asam glutamat Asam 2-Aminopentanedioic Asam 2-Aminoglutarat Asam 1-Aminopropana-1, 3-dikarboksil Kristal C5H9NO4 Tidak ada 147,13 g/mol 247-249 C 1,538g cm-3

Alternatif Nama

Bentuk Bentuk Molekul Rasa Berat Molekul Titik Lebur Massa jenis

Struktur molekul

Kemurnian Kadar Air NaC Pengotor

Lebih dari 90% Tidak lebih dari 0,5% Tidak lebih dari 0,5% Harus tidak ada senyawa arsen, besi, dan kalsium Tabel 1. Karakteristik MSG

BAB III PEMBAHASAN


3.1. Bahan Baku Substrat (bahan baku) merupakan media pertumbuhan dan pembentukan produk yang sangat dibutuhkan mikroorganisme. Faktor utama dari suatu sistem fermentasi yaitu tersedianya sumber karbon dan nitrogen. Hal ini disebabkan karbon dan nitrogen diperlukan untuk pembentukan sel dan perkembangbiakan sel. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan MSG adalah tetes tebu (molase), dextrose, dan raw sugar. Gula-gula yang dimanfaatkan bakteri sebagai substrat adalah fermentable sugar. Fermentable sugar merupakan total gula yang dapat difermentasi oleh bakteri, yaitu sukrosa, fruktosa dan glukosa. 1. Tetes tebu (molase) Pada proses fermentasi MSG substrat yang digunakan adalah tetes tebu (molase). Substrat ini digunakan karena mudah dan murah untuk diperoleh. Molase ini merupakan hasil samping dalam industri gula tebu.

Gambar 2. Molase

2.

Sukrosa Sukrosa memiliki peran penting dalam fermentasi karena merupakan sumber karbon utama yang digunakan sebagai substrat oleh bakteri. Kandungannya 38% dan batas minimalnya 30%. Jika kurang dari 30% akan menyebabkan sumber substrat yang akan digunakan tidak sesuai sehingga pertumbuhan bakteri tidak maksimal.

3.

Fruktosa dan Glukosa Fruktosa dan glukosa juga digunakan oleh bakteri sebagai substrat dalam proses fermentasi. Kadar glukosa 6% dan fruktosa 7%.

3.2. Proses Produksi Monosodium Glutamat secara umum dapat diproduksi melalui 3 metode yaitu : 1. Hidrolisis protein seperti gluten atau protein yang terdapat pada hasil samping gula Pada metode hidrolisis, protein dihidrolisis dengan asam mineral kuat menjadi asam amino bebas, asam glutamat kemudian dipisahkan. Campuran dipurifikasi dan diubah menjadi garam monosodium (monosodium glutamat). 2. 3. Sintesis Fermentasi mikrobia Pada metode ini bakteri ditumbuhkan secara aerobik pada medium nutrisi cair yang mengandung sumber karbon (contoh, dexstrose atau sitrat), sumber nitrogen seperti ion amonium atau urea, ion mineral dan faktor pertumbuhan. Bakteri yang diseleksi untuk proses ini mempunyai kamampuan untuk mengekskresikan asam glutamat yang mereka sintesa diluar membran selnya ke medium dan dikumpulkan.

3.2.1. Mikroorganisme pada Fermentasi MSG Bahan baku untuk media tumbuh bakteri harus dipersiapkan terlebih dahulu. Bakteri tidak dapat langsung memecah

makromolekul seperti polisakarida, tetapi harus diubah dahulu menjadi bentuk yang lebih sederhana dan akhirnya menjadi monosakarida. Mikroorganisme merupakan jasad renik yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun dapat dilihat dan dipelajari dengan menggunakan mikroskop. Mikroba berperan penting dalam proses fermentasi yaitu untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Oleh karena itu, dalam pemilihan mikroba harus selektif untuk mencapai kualitas dan kuantitas yang tinggi. Untuk membuat MSG dengan cara fermentasi digunakan mikroba yang dapat mengubah substrat menjadi asam glutamat. Asam glutamat ini kemudian di proses kembali sehingga menjadi monosodium glutamat. Mikroba-mikroba yang dapat mengubah substrat menjadi asam glutamat yaitu seperti Micrococcus

glutamicus dan Aspergilus terrus. Mikroba-mikroba tersebut adalah mikroba aerob yaitu mikroba yang hidup jika ada oksigen bebas.

Mikroorganisme Suhu Operasi (0C) Waktu fermentasi (jam) Kondisi Kemurnian MSG (%)

Aspergillus terrus 25-32 48-90 Aerob -

Micrococcus glutamicus 28-30 30-40 Aerob 99

Sumber : US Patent April,11,1972,2.655.746 dan US Patent Oktober, 18,1977,054.487

Tabel 2. Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan MSG

Berdasarkan data tersebut, maka pada umumnya proses pembuatan MSG ini digunakan mikroorganisme Micrococcus

glutamicus, karena dengan menggunakan mikroba ini waktu fermentasi dapat berlangsung lebih singkat.

Gambar 3. Brevybacteria lactofermentum

Gambar 4.Corynebacterium

Gambar 5. Aspergillus terrus

3.2.2. Kondisi Proses Fermentasi Proses fermentasi memanfaatkan mikroorganisme baik untuk katalis ataupun penghasil produk. Proses ini membutuhkan beberapa perlakuan khusus, seperti pengaturan pH, suhu, lingkungan (aerob/anaerob), serta aerasi dan agitasi. Perlakuan ini dimaksudkan untuk menghasilkan kondisi proses yang optimum. Kondisi operasi proses fermentasi MSG oleh mikroba Micrococcus glutamicus dapat digambarkan dalam tabel berikut : Kondisi pH Suhu Waktu (jam) Lingkungan Hasil Pertumbuhan 7,0 18 Aerob Optical density 600 Fermentor 7,3 32 0C 30-40 Aerob Original Broth Glutamic Acid (OBGA)

Tabel 3. Pengaturan Kondisi dan Proses Fermentasi

3.2.3. Tahapan Proses Fermentasi Pembuatan MSG Pada proses fermentasi pembuatan MSG, dibagi ke dalam lima tahapan yaitu : 1. Persiapan Substrat Molase (Molasses Treatment) Tetes yang akan dipakai untuk proses akan mengalami perlakuan treatment, yaitu pembersihan tetes dari kotoran maupun unsur-unsur yang tidak dikehendaki seperti kalsium (Ca2+). Pada industri proses pengolahannya, pertama-tama molasses, beet molasses, H2SO4 dan air dicampurkan di dilution tank. Penambahan H2SO4 pada proses pencampuran ini bertujuan sebagai control pH. Nilai pH yang diinginkan untuk tetes adalah 2,9-3,0.

10

Selain itu penambahan H2SO4 juga dimaksudkan untuk mengikat ion Ca2+ yang terdapat dalam tetes. Kandungan Ca2+ pada tetes merupakan impurity (pengotor) yang harus

dihilangkan karena dapat mengganggu proses Kristalisasi MSG. H2SO4 yang berikatan dengan Ca2+ akan membentuk CaSO4 (gypsum) yang disebut sludge. Kondisi proses ini diatur pada suhu 550C dengan pH bahan 2,9-3,0 dan kekentalan 26-26,50Be. Kekentalan ini dikontrol dengan penambahan atau pengurangan jumlah air dengan penambahan tetes atau sebaliknya. Jika terlalu kental maka perlu penambahan air. Setelah melalui dilution tank, campuran tetes tersebut dialirkan ke dalam tangki settling. Proses settling ini berlangsung dalam 3 buah tangki yang bekerja secara kontinyu dan setiap tangki dilengkapi dengan pengaduk. Setelah itu dilanjutkan dengan proses aging, bertujuan untuk mengoptimalkan reaksi pengikatan Ca2+ oleh H2SO4. Setelah itu dibentuk sludge pada in line mixer, pada proses ini ditambahkan aronvis yang telah dilarutkan dengan air. Aronvis merupakan bahan flokulan untuk membentuk flok CaSO4 agar terkumpul menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga proses pemisahan dapat berlangsung lebih sempurna. Sludge dipisahkan dengan campuran tetes. Sludge akan mengendap sedangkan campuran tetes berada di atas sludge. Campuran tetes yang telah terpisah dari sludge disebut cairan overflow. Sisa-sisa flok dari cairan overflow dipisahkan dengan separator. Cairan yang telah bersih dari sisa flok disebut HSP (hasil separator) dan mengandung impurity (kotoran) < 1% dan siap digunakan untuk proses fermentasi. Tetes feeding (molasses) terlebih dahulu dilewatkan pada heat exchanger untuk proses

11

sterilisasi. Proses ini terjadi pada suhu 1200C selama 10 hingga 20 menit dan siap difermentasi dalam tabung yang juga disterilisasi.

2.

Pembiakan Mikroba Pada tahap ini dilakukan pembibitan atau pembiakan bakteri asam glutamat. Tahapan proses yang dilakukan antara lain : Persiapan peralatan Inokulasi bakteri pada media agar padat Inokulasi bakteri pada media agar cair

3.

Pertumbuhan Mikroba Proses pertumbuhan mikroba dilakukan di tangki seeding. Di tangki ini bakteri dikembangbiakkan dengan baik sekaligus penyesuaian bakteri dengan keadaan sebenarnya di fermentor. Proses yang pertama kali dilakukan adalah sterilisasi tangki fermentor yang disebut dengan sterilisasi kosong. Kemudian tetes feeding (molasses) dan bahan lainnya

dimasukkan ke dalam tangki. Kemudian dilakukan sterilisasi media pada suhu 1200C, setelah itu dilakukan cooling atau pendinginan sampai mencapai suhu 320C. Proses cooling dilakukan dengan menggunakan Chiller pada suhu < 200C. Setelah suhu cooling tercapai, dilakukan inokulasi bakteri asam glutamat yang berada dalam media cair sampai terjadi proses pertumbuhan bakteri. Setelah bakteri itu tumbuh (koloni bakteri) kemudian bakteri tersebut diambil untuk digunakan sebagai agen biologi pada proses fermentasi pembuatan MSG.

12

4.

Proses Fermentasi Pada proses fermentasi pembuatan MSG ini fermentor harus disterilisasi terlebih dahulu. Pada tahap ini tidak diperlukan sterilisasi media, karena media telah dilewatkan pada heat exchanger terlebih dahulu sebelum masuk ke fermentor. Setelah media masuk, inokulum dari tangki seeding dimasukkan ke dalam fermentor dan dilakukan penambahan NH3 sebagai control pH agar pH tetap netral. Pada tahap ini juga dilakukan aerasi, yaitu dengan mengalirkan oksigen ke dalam fermentor. Hal ini disebabkan bakteri asam glutamat yang digunakan bersifat aerob. Proses fermentasi ini berlangsung selama kurang lebih 30 jam pada suhu 32 0C dan pH 7,3. Hasil yang diperoleh dari proses fermentasi adalah cairan Original Broth Glutamic Acid (OBGA) atau asam glutamat. Reaksi yang terjadi pada proses fermentasi ini yaitu : Micrococcus glutamicus C6H12O6 + NH3 + 3/2 O2 C5H9NO4 + CO2 + 3H2O

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses fermentasi asam glutamat adalah proses pendinginan yang digunakan, jumlah oksigen terlarut, ukuran dan kontrol pH dengan menggunakan amoniak.

5.

Pembuatan Monosodium Glutamat (MSG) Pengambilan glutamat Setelah fermentasi selesai kurang lebih 30-40 jam cairan hasil fermentasi yaitu asam glutamat dipekatkan untuk mengurangi kadar airnya. Kemudian ditambahkan HCl untuk mencapai titik isoelektrik pada pH 3,2.

13

Netralisasi atau refining : dilakukan pencampuran dengan NaOH Tahap reaksi asam glutamat dengan NaOH sehingga terbentuk Monosodium Glutamat Liquor.

Kristalisasi asam glutamat Decolorisasi atau penjernihan warna menggunakan karbon aktif. Kristalisasi Monosodium Glutamat, menghasilkan kristal monosodium glutamat yang mengandung liquor. Pengeringan kristal Monosodium Glutamat dengan

menggunakan rotary dryer sehingga diperoleh serbuk Kristal monosodium glutamat yang mempunyai kemurnian tinggi (kurang lebih 99,7%).

Gambar 6. Flowsheet Pembuatan Asam Glutamat

14

3.3. Proses Pemurnian (Purifikasi) 3.3.1. Kristalisasi dan Netralisasi Kristalisasi merupakan metode yang terpenting dalam purifikasi senyawa-senyawa yang mempunyai berat molekul rendah (Mc Cabe, et al. 1994). Kristal murni asam glutamat yang berasal dari proses pemurnian asam glutamat digunakan sebagai dasar pembuatan MSG. Asam glutamat yang dipakai harus mempunyai kemurnian lebih dari 99% sehingga bisa didapatkan MSG yang berkualitas baik. Kristal murni asam glutamat dilarutkan dalam air sambil dinetralkan dengan NaOH atau dengan Na2CO3 pada pH 6,67,0. Asam glutamat akan bereaksi dengan Na dan membentuk larutan MSG. Larutan ini mempunyai derajat kekentalan 26 - 280Be. Pada suhu 300C dengan konsentrasi MSG sebesar 55 gram larutan (Winarno, 1990). Penambahan arang aktif digunakan untuk menjernihkan cairan MSG yang berwarna kuning jernih dan juga menyerap kotoran lainnya. Kemudian didiamkan selama satu jam lebih untuk menyempurnakan proses penyerapan warna serta bahan asing lainnya yang berlangsung dalam keadaan netral. Cairan yang berisi arang aktif dan MSG kemudian disaring dengan menggunakan vacuum filter yang kemudian menghasilkan filter serta cake berisi arang aktif dan bahan lainnya. Bila kekeruhan dan warna filter tersebut telah sesuai dengan yang diinginkan maka cairan ini dapat dikristalkan (Said, 1991). Larutan MSG yang telah memiliki kekentalan 260Be diuapkan pada kondisi vakum bertekanan 64 cmHg atau setara dengan titik didih 69 gram MSG pelarutan. Pemberian NaOH akan menyebabkan terbentuknya kristal MSG karena larutan dalam keadaan jenuh. Inti kristal yang terbentuk, secara perlahan-lahan akan diikuti dengan pemekatan larutan sehingga menghasilkan kristal yang lebih besar. Proses kristalisasi berlangsung selama 14 jam (Said, 1991).

15

Secara umum diagram alir proses fermentasi pembuatan MSG dapat disimpulkan sebagai berikut :
Penyiapan Substrat/Media

Pembibitan Bakteri

Fase 1 Pembiakan Bakteri dalam Tangki Seeding

Fase 2 Fermentasi di dalam Fermentor

Asam Glutamat

MSG

Proses Pemurnian

16

3.3.2. Pengeringan dan Pengayakan Kristal MSG yang dihasilkan dari proses kristalisasi kemudian dipisahkan dengan metode sentrifugasi dari cairannya. Filtrat hasil penyaringan dikembalikan pada proses pemurnian, dan kristal MSG yang dihasilkan setelah disaring kemudian dikeringkan dengan udara panas dalam lorong pengeringan, setelah itu diayak dengan ayakan bertingkat sehingga diperoleh 3 ukuran yaitu LLC (Long Large Crystal), LC (Long Crystal), dan RC (Regular Crystal), sedangkan FC (Fine Crystal) yang merupakan kristal kecil dikembalikan ke dalam proses sebagai umpan. Hasil MSG yang telah diayak dalam bentuk kering kemudian dikemas dan disimpan sementara dalam gudang sebelum digunakan untuk tujuan lainnya (Said, 1991).

3.4. Pendukung Produksi 3.4.1. Bahan Pendukung Bahan pendukung yang digunakan dalam proses produksi MSG diantaranya : H2SO4 NH3 HCl HCl merupakan bentuk hydrogen klorida dalam air. Biasa digunakan dalam pengolahan makanan seperti can syrup dan sodium glutamat untuk menciptakan suasana asam saat proses isolasi asam glutamat. NaOH Pada proses pembuatan MSG, NaOH (bersifat basa) digunakan dalam proses netralisasi untuk bereaksi dengan asam glutamat (bersifat asam) menghasilkan MSG. Sehingga akan diperoleh pH 6,8-7,2, dimana merupakan standart keamanan MSG untuk dikonsumsi.

17

Defoamer (CC 222) H3PO4,Urea, MgSO4 Penisilin Aronvis Karbon Aktif Media Fermentasi Mineral Vitamin Kebutuhan akan oksigen Metabolisme cepat Rheology Anti buih

3.4.2. Alat Pendukung Inkubator

Gambar 7. Inkubator

Inkubator ini digunakan pada proses inokulasi bakteri dalam media padat dan media cair.

18

Heat Exchanger

Gambar 8. Heat Exchanger

Heat Exchanger ini digunakan untuk proses sterilisasi tetes feeding atau molasses skala industri

Vacuum Filter

Gambar 9. Vacuum Filter

Vacuum filter ini digunakan pada saat proses kristalisasi diinginkan. yang menghasilkan filter dan cake yang

19

Chiller

Gambar 10. Chiller

Chiller ini digunakan untuk proses cooling atau pendinginan pada proses pertumbuhan mikroba dalam skala industri.

Tangki Settling

Gambar 11. Tangki Settling

Tangki settling ini bekerja secara kontinyu dan setiap tangki dilengkapi dengan pengaduk. Tangki ini digunakan pada saat proses persiapan substrat molase.

20

3.5. Pengolahan Limbah Sebelum dibuang ke sungai, air limbah dari pabrik MSG dikenakan proses pengolahan limbah. Limbah cair dari unit MSG dan daur ulang dimasukkan ke bak ekualisasi agar homogeny. Kemudian dipompa ke bak koagulasi. Di bak koagulasi ditambahkan soda cair 20% untuk menaikan pH menjadi 7 7,5 dan ditambahkan PAC (poly aluminium chloride) agar terjadi pengendapan. Dari bak koagulasi mengalir masuk ke bak pengendap I. Lumpur yang mengendap dipompakan ke bak penampung kemudian dipompa ke bak saringan I. Dari bak penyaring masuk ke bak anaerob dan terjadi proses biologi anaerob dilanjutkan dengan proses biologis di bak aerob yang diaerasi. Dari bak aerob limbah cair masuk ke bak pengendap II. Lumpur yang mengendap dipompa ke bak pengering lumpur dan sebagian dipompa kembali ke bak aerob untuk disirkulasi lumpur aktif jika berkurang. Dari bak pengendap II masuk ke bak penyaring II kemudian dialirkan masuk ke bak penampung hasil akhir yang selanjutnya dibuang ke saluran ke luar lingkungan.

21

BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan Pembuatan MSG dapat dilakukan dengan proses fermentasi menggunakan bakteri Micrococcus glutamicus. Substrat yang

digunakan adalah molasses karena substrat tersebut dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Kondisi operasi pada proses fermentasi berlangsung dalam keadaan pH netral, suhu optimal kurang lebih 350C dan berlangsung pada lingkungan aerob. Lamanya proses fermentasi dimulai dengan proses pembibitan sampai fermentasi adalah 48-58 jam. Pada proses fermentasi mula-mula dihasilkan asam glutamat, asam glutamat ini kemudian ditambah dengan NaOH sehingga membentuk monosodium glutamat (MSG). MSG ini kemudian dimurnikan dan dikristalisasi sehingga menghasilkan serbuk Kristal yang siap dipasarkan.

4.2. Saran dan Kritik Di dalam industri bioproses khususnya fermentasi, dalam prosesnya harus benar-benar dilakukan pengaturan kondisi operasi yang tepat dan pemilihan mikroba yang sesuai dengan substrat yang akan di fermentasi. Pengaturan ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang diinginkan dengan jumlah yang optimal dan berkualitas. Oleh karena itu bagi industry-industri di bidang bioproses harus sangat memperhatikan segala sesuatu yang dapat menunjang keberhasilan produk, salah satunya dengan pengaturan kondisi operasi setiap proses yang dilakukan.

22