Anda di halaman 1dari 22

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui system kerja gas ideal
yang terjadi di alam terbuka yang dilakukan dalam skala laboratorium dan
menghitung konstanta laplace dari hasil percobaan. Gas terdiri dari molekuk-
molekul yang bergerak menurut jalan-jalan yang lurus kesegala arah dengan
kecepatan yang sangat tinggi. Volume dari molekul-molekul gas sangat kecil bila
dibandingkan dengan volume yang ditempati oleh gas tersebut. Gas ideal adalah
gas dimana PV= nRT (persamaan gas ideal) tetapi berlaku untuk seluruh tekanan
dan suhu. Persamaan ini didapat dari hokum Gay Lussac dan Boyle.
Praktikum dilakukan dengan cara memompa udara kedalam vassel
sehingga terdapat selisih zat cair pada kedua lengan manometer, kemudian
membaca perbedaan tinggi yang dicapai pada kedua lengan manometer.
Hasil yang didapat pada percobaan kali ini digunakan untuk menghitung
konstanta laplace.Dari percobaan yang dilakukan diperoleh konstanta laplace
rata-rata pada percobaan ini adalah 1,4145, deviasi standar rata-rata 0,03005, dan
keseksamaannya 99,9788%.
Kata kunci : Gas ideal, Proses adiabatik dan Konstanta Laplace.














BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah Praktikan mengetahui sistem
kerja gas ideal yang terjadi di alam terbuka yang dilakukan pada skala
laboratorium. Menghitung konstanta laplace dari hasil percobaan.

1.2 Latar Belakang
Gas merupakan unsur yang sangat vital bagi kehidupan manusia
terutama sekali gas oksigen, karena manusia hidup dengan menghirup
gas oksigen. Oksigen, Nitrogen, Helium, Hidrogen, dan Neon
merupakan gas yang stabil secara kimia dan bersiat ideal. Oleh karena
itu, Praktikum mengenai gas ideal sangat penting untuk dilaksanakan
agar para praktikan (khususnya mahasiswa-mahasiswi Teknik Kimia)
dapat mengetahui sistem kerja gas ideal di alam terbuka dan dapat
menghitung konstanta laplace.
Partikel pada gas selalu bergerak tidak beraturan ke segala arah. Itu
sebabnya gas selalu memenuhi ruang yang ditempatinya. Tekanan
timbul pada dinding ruang akibat tumbukkan yang disebabkan dari
gerakan partikel-partikel dari gas.
Gas sendiri pada akhirnya sangat banyak dimanfaatkan dalam hal-
hal lain, khususnya dalam IPTEK. Dalam industri yag kelak dihadapi
oleh seorang mahasiswa-mahasiswa Teknik Kimia. Banyak hal-hal
yang berkaitan dengan gas, oleh karena itu percobaan mengenai gas
ideal sangat bermanfaat bagi mahasiswa.





BAB II
DASAR TEORI

Konsep mengenai suatu gas ideal (ideal gas), yakni akan mempunyai sifat
sederhana yang sama dibawah sama kondisi. Diberikan sebuah massa nm dari
suatu gas didalam keadaan setimbang termal maka dapat mengukur tekanan P,
temperatur T, dan volume V, memperlihatkan bahwa :
1. Untuk sebuah massa gas yang diberikan yang dipegang pada temperatur
konstan, maka tekanan adalah berbanding terbalik dengan volume
(Hukum Boyle).
2. Untuk sebuah massa gas yang diberikan pada suatu tekanan konstan,
maka volume adalah berbandinglangsung dengan temperatur (Hukum
Charles dan Gay-Lussac).
Dari hasil tersebut diperoleh hubungan :
PV = Sebuah Konstanta ......(1)
T (untuk massa yang tetap)
Volume yang ditempati oleh suatu gas tetap pada suatu tekanan dan
temperatur yang diberikan adalah sebanding dengan massanya. Jadi konstanta
juga harus sebanding dengan massa gas. Jika dituliskan, konstanta sebagai nR,
dengan n adalah banyaknya mol gas dan R adalah sebuah konstantayang harus
ditentukan dengan eksperimen untuk tiap gas. R mempunyai nilai yang sama
untuk semua gas, yakni R = 8,314 J/mol, K = 1,986 Kal/mol.K.
R dinamakan konstanta gas universal (universal gas konstan). Maka
didapat persamaan sebagai berikut :
PV = nRT ......(2)
Didefinisikan suatu gas ideal sebagai gas yang menuruti hubungan ini
dibawah semua kondisi. Tidak ada gas yang betul-betul merupakan gas ideal,
tetapi gas ideal tersebut merupakan sebuah konsep sederhana dan berguna yang
dihubungkan dengan keadaan yang sebenarnya oleh kenyataan bahwa sifat gas nel


akan mendekati abstraksi sifat gas ideal jika kerapatan gas adalah cukup rendah
(Halliday, 1985).
Persamaan keadaan yang paling sederhana dan paling awal dikenal adalah
persamaan keadaan gas ideal yang berupa rumus Boyle-Gay Lussac, yang hanya
berlaku jikalau interaksi tarik-menarik Van Der Walls antar molekul gas
diabaikan dan jikalau molekul-molekul gas dianggap sebagai titik-titik yang tidak
bervolume ( Dauglas C Giancoli, 2001).
Persamaan keadaan untuk gas yang sesungguhnya yaitu gas sejati,
menurut Van Der Walls dapat diperoleh dengan memodifikasi, yakni dengan
mengkoreksi persamaan gas ideal dengan memperhitungkan volume total
molekul-molekul gas dan memperhitungkan pengaruh gaya tarik-menarik Van
Der Walls antar molekul. Seandainya total molekul atau volume molekul adalah
b, maka volume gas yang tanpa mengikuti volume gas adalah V-b. Selanjutnya
adalah tarik-menarik antar molekulakan menghambat gerak molekul sehingga
mengurangi gaya tumbukkan yang berarti juga mengurangi gaya tekan sehingga
tekanan olehnya tidak sebesar seandainya molekul-molekul tidak saling tarik-
menarik. Pengurangan tekanan itu sebanding dengan kecepatan molekul yang
menumbuk ataupun ditumbuk, yakni sebanding dengan kuadrat kecepatan
molekul, yang untuk sebanyak molekul tertentu, berarti berbanding terbalik
dengan kuadrat volumenya. Dengan demikian, tekanannya seandainya tiada gaya
tarik-menarik antar molekul akan sebesar P+a/V
2
, sehingga rumus Boyle-Gay
Lussac harus dimodifikasi menjadi :
(P+a/V
2
)(V-b) = RT ......(6.3)
(Soedojo, 1994).
Dari segi pandangan mikroskopik didefinisikan suatu gas ideal dengan
menaikkan hukum-hukum mekanika klasik secara statistik kepada atom-atom gas.
1. Suatu gas terdiri dari partikel-partikel yang dinamakan molekul-molekul.
Maka tiap molekul akan terdiri dari sebuah atau sekelompok atom.
2. Molekul-molekul bergerak secara serampangan dan menuruti hukum-
hukum gerak Newton. Molekul-molekul bergerak di dalam ke segala
arah dengan berbagai laju.


3. Jumlah seluruh molekul adalah besar arah dan laju gerak dari setiap
molekul dapat berubah secara tiba-tiba karena tumbukkan dengan
dinding atau molekul lain.
4. Volume molekul-molekul adalah pecahan kecilyang dapat diabaikan dari
volume yang ditempati oleh gas tersebut. Walaupun jumlah molekul
sangat banyak, namun molekul-molekul tersebut sangat kecil sekali.
5. Tidak ada gaya-gaya yang cukup besar (apprecable forces) yang bereaksi
pada molekul-molekul, kecuali selama tumbukkan.
6. Tumbukkan-tumbukkan adalah elastik dan tumbukan-tumbukan terjadi di
dalam waktu yang sangat singkat. Tumbukkan antar molekul diantara
molekul-molekul, dan antara molekul dan dinding wadah akan
mempertahankan kekekalan momentum.
Digambarkan molekul dalam suatu gas ideal sebagai bola-bola elastik
yang keras, yakni dianggap bahwa tidak ada gaya-gaya diantara molekul-molekul
tersebut kecuali selama tumbukkan dan molekul tidak dideformasi oleh
tumbukkan. Dalil U dari satu gas ideal adalah :
U = 3/2 NKT = 3/2 nRT ......(6.2)
Ramalan teori kinetik ini mengatakan bahwa tenaga dakhil dari suatu gas
ideal adalah sebanding dengan temperatur kelvin dan hanya bergantung pada
temperatur dan tidak tergantung dari tekanan dan volume.
Hubungan antara tekanan dan volume pada persamaan Boyle adalah
merupakan fungsi hiperbola, karena tiap garis lengkung hiperbola bersangkutan
dengan suatu suhu tertentu, maka garis itu dinamakan garis isothermal, yaitu garis
yang menghubungkan tempat kedudukan titik dengan suhu yang sama (Halliday,
1985).
Garis isobar yaitu garis yang menghubungkan tempat kedudukan titik-titik
dengan tekanan yang sama. Garis isokhorik yaitu garis yang menghubungkan
tempat kedudukan titik-titik dengan volume yang sama (Abdullah, 1984).
S
0
T adalah entropi suatu bahan dalam gas ideal pada tekanan 1 atm, relatif
terhadap entropi bahan itu bila dalam wujud padat tertata sempurna pada
0
K.
Manfaat S
0
T adalah pada penentuan entropi reaksi buku dan ini diperoleh dengan


menambahkan S
0
untuk hasil-hasil reaksi dan reaktan-reaktan, sesudah masing-
masing dikalikan dengan pengali stoikhoimetrik bersangkutan (Robert, 1990).































BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Fungsi Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
1. Pompa udara
Digunakan untuk memompa udara ke dalam vessel.
2. Manometer
Digunakan untuk mengukur selisih zat cair hasil pemompaan.
3. Vessel/Tabung tekanan
Digunakan sebagai tabung tempat udara.

Tabel 3.1 Deskripsi alat
1. Vessel 2. Manometer


3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah adalah :
1. Zat cair
Sebagai bahan untuk mengisi manometer.

3.3 Prosedur Percobaan
Manometer diisi dengan zat cair, manometer dijepit di sisi vessel (tabung
tekanan) dan dihubungkan salah satu lengan manometer ke saluran
keluaran pada katup tekanan. Katup pembuka udara ditutup. Udara
dipompa ke dalam vessel hingga selisih zat cair pada kedua lengan
manometer kurang lebih 17-20 cm, lalu hentikan pompa. Menunggu


beberapa saat hingga tercapai tekanan mantap, kemudian baca perbedaan
tinggi h pada kedua lengan manometer. Mengulangi percobaan 4,5,6
sampai delapan kali.






























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 6.2 Data Hasil Percobaan Gas Ideal
No h
1
H
2
h
1
- h
2

1 15,8 1,8 1,12
2 13,4 1,2 1,09
3 9 0,6 1,07
4 15,6 3,2 1,25
5 15 3,7 1,32
6 14,8 2,9 1,24
7 16 8,2 2,01
8 15 1,4 1,10
9 16 1,6 1,11
10 15,2 2,8 1,22
4.2 Perhitungan dan Analisis Data
- Perhitungan untuk nilai
Pengamatan 1
Diketahui : h
1
= 15,8 cm
h
2
= 1,8 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
12 , 1
8 , 1 8 , 15
8 , 15
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 2
Diketahui : h
1
= 13,4 cm
h
2
= 1,2 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :


09 , 1
2 , 1 4 , 13
4 , 13
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 3
Diketahui : h
1
= 9 cm
h
2
= 0,6 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
07 , 1
6 , 0 9
9
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 4
Diketahui : h
1
= 15,6 cm
h
2
= 3,2 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
25 , 1
2 , 3 6 , 15
6 , 15
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 5
Diketahui : h
1
= 15 cm
h
2
= 3,7 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
32 , 1
7 , 3 15
15
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 6
Diketahui : h
1
= 14,8 cm
h
2
= 2,9 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
24 , 1
9 , 2 8 , 14
8 , 14
2 1
1
=

=
h h
h



Pengamatan 7
Diketahui : h
1
= 16 cm
h
2
= 8,2 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
01 , 2
2 , 8 16
16
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 8
Diketahui : h
1
= 15 cm
h
2
= 1,4 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
10 , 1
4 , 1 15
15
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 9
Diketahui : h
1
= 16 cm
h
2
= 1,6 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
11 , 1
6 , 1 16
16
2 1
1
=

=
h h
h

Pengamatan 10
Diketahui : h
1
= 15,2 cm
h
2
= 2,8 cm
Ditanya : =?
Penyelesaian :
22 , 1
8 , 2 2 , 15
2 , 15
2 1
1
=

=
h h
h

- Perhitungan untuk nilai A



Pengamatan 1
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 15,8 cm
h
2
= 1,8 cm
(h
1 -
h
2
) = 14 cm
= 1,12
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
12 , 1
14
05 , 0
8 , 15 14
05 , 0 8 , 1
+

=
= 4,446 x 10
-3

Pengamatan 2
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 13,4 cm
h
2
= 1,2 cm
(h
1 -
h
2
) = 12,2cm
= 1,09
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
09 , 1
2 , 12
05 , 0
4 , 13 2 , 12
05 , 0 2 , 1
+

=
= 4,858 x 10
-3
Pengamatan 3
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 9 cm
h
2
= 0,6 cm


(h
1 -
h
2
) = 8,4 cm
= 1,07
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
07 , 1
4 , 8
05 , 0
9 4 , 8
05 , 0 6 , 0
+

=
= 6,790 x 10
-3
Pengamatan 4
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 15,6 cm
h
2
= 3,2 cm
(h
1 -
h
2
) = 12,4 cm
= 1,25
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
12 , 1
4 , 12
05 , 0
6 , 15 4 , 12
05 , 0 2 , 3
+

=
= 6,07 x 10
-3
Pengamatan 5
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 15 cm
h
2
= 3,7 cm
(h
1 -
h
2
) = 11,3 cm
= 1,32
Ditanya : A =?
Penyelesaian :


( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
32 , 1
3 , 11
05 , 0
15 3 , 11
05 , 0 7 , 3
+

=
= 5,97 x 10
-3
Pengamatan 6
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 14,8 cm
h
2
= 2,9 cm
(h
1 -
h
2
) = 11,9 cm
= 1,24
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
12 , 1
9 , 11
05 , 0
8 , 14 9 , 11
05 , 0 9 , 2
+

=
= 6,22 x 10
-3
Pengamatan 7
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 16 cm
h
2
= 8,2 cm
(h
1 -
h
2
) = 7,2 cm
= 2,01
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
01 , 2
2 , 7
05 , 0
16 2 , 7
05 , 0 2 , 8
+

=
= 13,54 x 10
-3



Pengamatan 8
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 15 cm
h
2
= 1,4 cm
(h
1 -
h
2
) = 13,6 cm
= 1,10
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
12 , 1
6 , 13
05 , 0
15 6 , 13
05 , 0 10 , 1
+

=
= 4,41 x 10
-3

Pengamatan 9
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 16 cm
h
2
= 1,6 cm
(h
1 -
h
2
) = 14,4 cm
= 1,11
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
11 , 1
4 , 14
05 , 0
16 4 , 14
05 , 0 6 , 1
+

=
= 4,23 x 10
-3
Pengamatan 10
Diketahui : Ah
1
= Ah
2
= 0,05 cm
h
1
= 15,2 cm


h
2
= 2,8 cm
(h
1 -
h
2
) = 12,4 cm
= 1,22
Ditanya : A =?
Penyelesaian :
( ) ( )

2 1
2
1 2 1
1 2
.
h h
h
h h h
h h

A
+

A
= A
22 , 1
2 , 12
05 , 0
2 , 15 4 , 12
05 , 0 8 , 2
+

=
= 5,819 x 10
-3
Tabel Data Hasil Perhitungan dan A
Percobaan
(h
1
-h
2
)
cm
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
14
12,2
8,4
12,4
11,3
11,9
7,2
13,6
14.4
12,4
1,12
1,09
1,07
1,25
1,32
1,24
2,01
1,10
1,11
1,22
6,31 x 10
-4

5,35 x 10
-4

6,06 x 10
-4

6,34 x 10
-4

6,93 x 10
-4

5,72 x 10
-4

4,09 x 10
-4

5,2 x 10
-4

6,32 x 10
-4

7,77 x 10
-4


Teori Ralat
Pengukuran
(i)
Nilai terukur
(xi) cm
Deviasi
( ) x xi cm
Kuadrat deviasi
( )
2
x xi
1
2
3
1,12
1,09
1,07
-0,133
-0,163
-0,183
17689 10
-6

26569 10
-6

33489 10
-6



4
5
6
7
8
9
10
1,25
1,32
1,24
2,01
1,10
1,11
1,22
-0,003
0,067
-0,013
0,757
-0,153
-0,143
-0,033
9 10
-6

4489 10
-6

169 10
-6

573049 10
-6

23409 10
-6

20449 10
-6

1089 10
-6
Exi = 12,53
E( ) x xi = 0
E( )
2
x xi =700410
10
-6

- Jumlah Pengukuran
k = 10 kali
12,53
1
10
1
=
=
=
x
k
i


- Nilai Terbaik

= xi
k
x
.
1

53 , 12 .
10
1
= = 1,253

Deviasi standar
i
-
1.
i
- = -0,133
2.
i
- = -0,163
3.
i
- = -0,183
4.
i
- = -0,003
5.
i
- = 0,067
6.
i
- = -0,013
7.
i
- = 0,757
8.
i
- = -0,153


9.
i
- = -0,143
10.
i
- = -0,033
Kuadarat Deviasi (
i
- )
2
1. (
i
- )
2
= 17689 10
-6

2. (
i
- )
2
= 26569 10
-6

3. (
i
- )
2
= 33489 10
-6
4. (
i
- )
2
= 9 10
-6

5. (
i
- )
2
= 4489 10
-6

6. (
i
- )
2
= 169 10
-6

7. (
i
- )
2
= 573049 10
-6

8. (
i
- )
2
= 23409 10
-6

9. (
i
- )
2
= 20449 10
-6

10.(
i
- )
2
= 1089 10
-6

Deviasi standar rata-rata x S
( )
00879 , 0
90
10 700401
1
6
2
_
=

|
.
|

\
|

=

k k
x xi
x S
- Nilai x sebenarnya
x s x x =
= 1,253 0,00879
= 1,26179
- Keseksamaan
% % 100
|
|
.
|

\
|
=
x
x s

%
253 , 1
00879 , 0
% 100 |
.
|

\
|
=
= 100% - 0,70152%
= 99,295%



4.2 Pembahasan
Dalam percobaan ini, keadaan setimbang jika tekanan (P), volume
(V), serta temperaturnya (T) mempunyai harga tertentu. Tekanan
setimbang dapat diperoleh bila harga antar nilai volume dan temperatur
telah ditetapkan. Bila ditentukan sembarangan, maka harga volume
pada kesetimbangan kurang tepat. Jadi, volume dan temperatur dapat
dikatakan peubah bebas.
Dalam melakukan praktikum, untuk menentukan nilai h
1
dan h
2
,
praktikan harus menunggu beberapa saat hingga tercapai tekanan
mantap agar kesetimbangan gas dalam vessel tercapai. Udara dalam
vessel tidak langsung mencapai tekanan mantap pada saat pemompaan
dihentikan karena tekanan udara di dalam vessel harus menyesuaikan
keadaan tekanan.
Hal-hal yang mempengaruhi nilai tekanan mantap pada percobaan
ini adalah :
1. Cara menekan katup gas
Semakin cepat menekan katup, maka gas dalam vessel lebih mudah
mencapai tekanan mantap, sebaliknya jika waktu menekan katup
lebih lama, maka gas dalam vessel lebih banyak keluar sehingga
untuk mencapai tekanan mantap sulit dilakukan.
2. Waktu menunggu tekanan mantap
Perlu diperhitungkan waktu untuk zat cair yang ada dalam
manometer untuk mencapai tekanan mantap, semakin lama waktu
yang diperlukan, maka zat cair yang berada dalam manometerakan
terus bergerak untuk mencapai tekanan mantap. Jika waktu yang
diperlukan terlalu lama, maka kemungkinan tekanan udara dalam
vessel menalami perubahan ke keadaan semula sebelum adanya
tambahan gaya yang bekerja.
Pada percobaan ini, konstanta laplace () rata-rata pada percobaan
adalah 1,253, sedangkan deviasi standar rata-rata sebesar 0,00879 dan
keseksamaannya adalah 99,295%.


Terjadi perbedaan antara konstanta laplace () percobaan dengan
teori. Konstanta laplace untuk gas diatomik berkisar mencapai 1,4 dan
dari harga hasil percobaan sebesar 1,253. Hasil yang diperoleh dapat
ditolerir karena selisihnya sekitar 0,01.
Namun perbedaan hasil percobaan dan teori ini mungkin
dikarenakan :
1. Praktikan terlalu cepat atau terlalu lama dalam memompa udara ke
dalam vessel.
2. Praktikan kurang teliti dalam pengambilan data h
1
dan h
2
, sehingga
data kurang akurat.























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Katup dan pembuka udara mempengaruhi hasil dari percobaan.
2. Tidak ada gas ideal dalam kehidupan, tetapi gas ideal hanya
merupakan konsep sederhana.
3. Faktor yang mempengaruhi penentuan konstanta laplace adalah
temperatur, tekanan, dan waktu.
4. Konstanta laplace rata-rata pada percobaan ini adalah 1,253 ,
deviasi standar rata-rata 0,00879, dan keseksamaannya
99,295%.
5.2 Saran
1. Praktikan harus lebih teliti dalam membaca skala manometer,
agar didapat data hasil yang lebih akurat.
2. Asisten percobaan agar lebih memperhatikan praktikum pada
saat melakukan percobaan.












DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Dauglas C. 2001. Fisika Jilid 1(terjemahan). Erlangga : Jakarta.
Halliday, David dan Robert Resnick, 1985, Fisika Jilid I, Erlangga, Jakarta.
Soedojo, Peter, 1994, Fisika Dasar, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Rerd, Robert C, dkk., 1990, Sifat Gas dan Zat Cair, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Rengreng, Abdullah., 1984, Asas-Asas Ilmu Alam Universitas, Badan Kerjasama
Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur, Ujung Pandang.