Anda di halaman 1dari 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan 1. Definisi Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancra indra manusia, dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia akni indra penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kogniti! merupakan domain ang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Notoadmodjo, 200").

2. Tingkat Pengetahuan #enurut bloom, tingkat pengetahuan kogniti! mempun ai $ tingkatan, aitu% a. &ahu (Know) ang tercakup dalam domain

"

'emampuan untuk mengingat suatu materi

ang telah dipelajari

sebelumn a. &ermasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu spesi!ik dari seluruh bahan ang dipelajari atau rangsangan ang telah diterima. b. #emahami (Comprehension) (uatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek ang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi secara benar. c. )plikasi (application) 'emampuan untuk menggunakan materi ang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarn a). d. )nalisis (analysis) (uatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen*komponen, tetapi masih dalam suatu organisasi ang masih ada kaitann a satu sama lain. e. (intesis (synthesis) (uatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian* bagian dalam suatu bentuk keseluruhan ang baru atau suatu kemampuan untuk men usun !ormulasi baru dari in!ormasi ang ada. !. +,aluasi (evaluation) 'emampuan untuk melakukan justi!ikasi atau penilaian terhadap suatu materi- objek (Notoatmodjo, 200" % ./0*./.).

3. Faktor-faktor ang !e!"engaruhi tingkat "engetahuan seseorang #enurut ( Notoatmodjo, 2003) !aktor internal dan !aktor eksternal ang mempengaruhi tingkat pengetahuan aitu % a. Pengalaman, dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun dari orang lain. Pengalaman ang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. b. &ingkat Pendidikan, dapat memba1a 1a1asan pengetahuan seseorang. (ecara umum seseorang ang berpendidikan lebih tinggi akan mempun ai pengetahuan ang lebih luas dibandingkan seseorang ang tingkat

pendidikann a rendah. c. 2mur, laman a seseorang hidup sejak dilahirkan sampai saat ini. 2mur merupakan periode terhadap pola*pola kehidupan baru dan harapan* harapan baru. (emakin bertambah umur seseorang, akan semakin ban ak pula pengetahuan ang dimiliki. d. Pekerjaan, kegiatan sehari*hari ang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhann a. e. 'e akinan, biasan a ke akinan diperoleh secara turun temurun tanpa adan a pembuktian terlebih dahulu. 'e akinan dapat mempengaruhi

pengetahuan seseorang baik itu pengetahuan ang si!atn a positi! ataupun negati!. !. 4asilitas, merupakan sumber in!ormasi ang dapat mempengaruhi

pengetahuan seseorang misaln a % radio, tele,isi, majalah, koran dan buku. g. Penghasilan, tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. 'etika penghasilan cukup besar maka dia akan mampu memberi !asilitas* !asilitas sumber in!ormasi. h. (osial buda a, kebuda aan setempat dan kebiasaan di dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

#. Pengukuran Pengetahuan 5ila seseorang mampu menja1ab mengenai materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. (ekumpulan ja1aban ang diberikan seseorang itu dinamakan pegetahuan. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan 1a1ancara atau angket ang

men atakan tentang isi materi ang ingin di ukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003). 6alam pengetahuan ibu tentang tanda*tanda baha a pada kehamilan itu sangat penting maka pengetahuan ibu harus di tambah agar ibu ban ak

.0

mengetahui hal*hal tentang tanda*tanda baha a kehamilan. (elain itu juga bidan dalam pela anann a membantu program pemerintah dalam

meningkatkan kesejahteraan ibu dan ba i maka dalam pen usunan 'ar a &ulis 7lmiah ini untuk tanda*tanda baha a kehamilan sangat di tekankan pengetahuann a pada ibu dan sudah di tulis dalam buku '7) supa a ban ak ibu ang mengetahuin a akan tetapi masih ban ak ibu ang belum memahami maksud dari tanda baha a kehamilann maka dari itu landasann a buku '7).

B. Keha!i$an 1. Definisi #asa kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirn a janin. 8aman a hamil normal adalah 200 hari (/0 minggu atau 3 bulan " hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. 'ehamilan dibagi dalam 3 tri1ulan aitu tri1ulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, tri1ulan kedua dari bulan keempat sampai $ bulan, tri1ulan ke 3 dari bulan ke tujuh sampai 3 bulan ((ai!uddin, 200$). Periode antepartum dibagi menjadi tiga trimester, ang masing*masing terdiri dari .3 minggu atau tiga bulan menurut hitungan kalender. Pembagian 1aktu ini diambil dari ketentuan ang mempertimbangkan bah1a lama

kehamilan diperkirakan kurang lebih 200 hari, /0 minggu, .0 bulan, atau 3 bulan sejak hari pertama haid terakhir (9P9&) (:arne , 200").

..

2. Tu%uan Pe!eriksaan Keha!i$an a. #emantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang ba i. b. #eningkatkan dan mempertahankan kesehatan !isik, mental, dan social ibu dan ba i. c. #engenali secara dini adan a ketidaknormalan atau komplikasi ang

mungkin terjadi selama hamil, termasuk ri1a at pen akit secara umum, kebidanan dan pembedahan. d. #empersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun ba in a dengan trauma seminimal mungkin. e. #empersiapkan ibu agar masa ni!as berjalan normal dan pemberian asi esklusi!. !. #empersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran ba i agar tumbuh kembang secara normal ((ai!uddin, 200$).

3. Ja&'a$ Pe!eriksaan Keha!i$an 5ila kehamilan termasuk risiko tinggi perhatian dan jad1al kunjungan harus lebih ketat. namun, bila kehamilan normal jad1al asuhan cukup empat kali. 6alam bahasa program kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberi kode angka ' ang merupakan singkatan dari kunjungan, pemeriksaan

.2

antenatal ang lengkap adalah '., '2, '3, dan '/. 9al ini berarti, minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 20 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 20 ; 3$ minggu dan seban ak 2 kali kunjungan antenatal pada usia kehamilan diatas 3$ minggu. (elama melakukan kunjungan untuk asuhan antenatal, para ibu hamil akan mendapatkan serangkaian pela anan ang terkait dengan upa a

memastikan ada tidakn a kehamilan dan penelusuran berbagai kemungkinan adan a pen ulit atau gangguan kesehatan selama kehamilan ang mungkin dapat mengganggu kualitas dan luaran kehamilan. 7denti!ikasi kehamilan diperoleh melalui pengenalan perubahan anatomik dan !isiologik kehamilan seperti ang telah diuraikan sebelumn a. 5ila diperlukan, dapat dilakukan uji hormonal kehamilan dengan menggunakan berbagai metoda ang tersedia (Pra1irohardjo, 2003).

#. Kun%ungan Berka$a Pe!eriksaan Keha!i$an 'unjungan antenatal sebaikn a dilakukan secara berkala dan teratur. 5ila kehamilan normal, jumlah kunjungan cukup empat kali. 9al ini dapat memberikan peluang ang lebih besar bagi petugas kesehatan untuk

mengenali secara dini berbagai pen ulit atau gangguan kesehatan ang terjadi pada ibu hamil. 5eberapa pen akit atau pen ulit tidak segera timbul bersamaan dengan terjadin a kehamilan (misaln a, hipertensi dalam

.3

kehamilan) baru akan menampakan gejala pada usia kehamilan tertentu (misaln a, perdarahan antepartum ang disebabkan oleh plasenta pre,ia).

(elain itu, upa a memberda akan ibu hamil dan keluargan a tentang proses kehamilan dan masalahn a melalui pen uluhan atau konseling dapat berjalan e!ekti! apabila tersedia cukup 1aktu untuk melaksanakan pendidikan kesehatan ang diperlukan ((ai!uddin, 200$).

(. Tan&a Baha a Da$a! Keha!i$an 1. Definisi &anda*tanda baha a pada kehamilan adalah tanda*tanda ang terjadi pada seorang 7bu hamil ang merupakan suatu pertanda telah terjadin a suatu masalah ang serius pada 7bu atau janin ang dikandungn a. &anda*tanda baha a ini dapat terjadi pada a1al kehamilan (hamil muda) atau pada pertengahan atau pada akhir kehamilan (hamil tua) (6epkes, 2002).

2. )asa$ah Da$a! Keha!i$an a. 9iperemesis gra,idarum (mual*muntah) saat hamil dapat diatasi dengan berobat jalan, serta pemberian obat penenang dan anti*muntah. &etapi sebagian kecil 1anita hamil tidak dapat mengatasi mual*muntah ang berkelanjutan sehingga mengganggu kehidupan sehari*hari dan

menimbulkan kekurangan cairan dan terganggun a keseimbangan

./

erektrolit. 5eberapa !aktor predisposisi dan !aktor lain

ang telah

ditemukan oleh beberapa sebagai berikut% 4aktor predisposisi, alergi, 4aktor psikologik, 4aktor adaptasi dan hormonal (Pra1irohartjo, 2003). b. 'etuban Pecah 6ini ('P6) dide!inisikan sebagai pecahn a ketuban sebelum 1aktun a melahirkan. 9al ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum 1aktun a melahirkan. 'P6 preterm adalah 'P6 sebelum usia kehamilan 3" minggu. 'P6 ang memanjang adalah 'P6 ang terjadi lebih dari .2 jam sebelum 1aktun a melahirkan. Pen ebabn a menjelang usia kehamilan cukup bulan kelemahan !okal terjadi pada selaput janin diatas ser,iks internal ang memicu robekan dilokasi ini. 5eberapa proses patologis (termasuk perdarahan dan in!eksi) dapat men ebabkan terjadin a 'P6. &anda ang terjadi adalah keluarn a cairan ketuban merembes melalui ,agina. )roma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes (Pra1irohartjo, 2003). c. 'eguguran atau abortus adalah keluarn a hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang dari 20 minggu. 'eguguran dapat disebabkan oleh !aktor lingkungan endometrium, aitu endometrium ang belum siap menerima implantasi hasil konsepsi atau gi<i ibu kurang karena anemiaatau terlalu pendek jarak kehamilan. Pen ebab lain terjadin a keguguran adalah gangguan pembuluh darah

.=

plaasenta akibat ibu

ang menderita diabetes mellitus atau hipertensi.

'eguguran pada umur kehamilan tua dan tidak segera dikeluarkan dapat mengakibatkan maserasi. 6ampak dari keguguran mengancam adalah perdarahan, n eri perut dan tidak ada pembukaan ser,iks (#anuaba, 2002). d. 'ehamilan ektopik terganggu ialah kehamilan dimana setelah !ertilisasi, implantasi terjadi di luar endometrium ka,um uteri. 9ampir 30 > kehamilan ektopik terjadi di tuba uterine. 'ehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptura apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misaln a % tuba) dan peristi1a ini disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu ((ai!uddin, 200$). e. #ola hidatidosa adalah kehamilan dimana setelah !ertilisasi hasil konsepsi tidak perkembang menjadi embrio tetapi terjadi proli!erasi dari ,ili koriales disertai dengan degenerasi hidropik. 2terus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi ang normal, tidak dijumpai adan a janin, ka,um uteri han a terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur. Pada permulaann a gejala tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa, aitu mual, muntah, pusing, dan lain*lain, han a saja derajat keluhann a sering lebih hebat. (i!at perdarahann a bisa interminen, sedikit*sedikit atau sekaligus ban ak sehingga men ebabkan

.$

s ok atau kematian. 'arena perdarahan ini umumn a pasien mola hidatidosa masuk dalam keadaan anemia (Pra1irohardjo, 2003). !. Plasenta pre,ia ialah plasenta ang berimplantasi pada segmen ba1ah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. )ngka kejadian plasenta pre,ia adalah 0,/ ; 0,$ > dari keseluruhan persalinan. 6engan penatalaksanaan dan pera1atan ang baik, mortalitas perinatal adalah =0 per .000 kelahiran hidup. ?ejala perdarahan a1al plasenta pre,ia, pada umumn a han a berupa perdarahan bercak atau ringan dan umumn a berhenti secara spontan ((ai!uddin, 200$). g. (olutio plasenta ialah terlepasn a plasenta dari tempat implantasin a ang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. 6e!inisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas =00 gram. Proses sulosio plasenta dimulai dengan terjadin a perdarahan dalam desidua basalis ang men ebabkan hematoma retroplasenter.

9ematoma dapat menjadi semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga amniokhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebalikn a apabila amniokhorion tidak terlepas, perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembun i) ((ai!uddin, 200$). h. @uptura uteri ialah keadaan robekan pada rahim di mana telah terjadi hubungan langsung antara rongga peritoneum ,iserale dan kantong

."

ketuban keduan a ikut rupture dengan demikian janin sebagian atau seluruh tubuhn a telah keluar oleh kontraksi terakhir rahim dan berada dalam ka,um peritonei atau rongga abdomen. Pada keadaan ang

demikian janin belum masuk kedalam rongga peritoneum (Pra1irohardjo, 200$). i. Preeklamsi aitu pen akit hipertensi akut pada 1anita hamil ang tidak disertai dengan kejang*kejang. 6ampak akibat preeklamsi diantaran a% terjadi eklamsi, hipertensi ang menetap pada ibu, kurang lebih 20>

men ebabkan kematian perinatal.

3. Tan&a-tan&a *aha a &a$a! keha!i$an a. +e&e!a "a&a !uka atau %ari 9ampir separuh dari ibu*ibu akan mengalami bengkak ang normal pada kaki ang biasan a muncul pada sore hari dan biasan a hilang

setelah beristirahat atau meletakkan kaki lebih tinggi. 5engkak bisa menunjukkan adan a masalah serius jika muncul pada muka dan tangan tidak hilang setelah beristirahat dan diikuti dengan keluhan !isik ang lain. 9al ini bisa merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau preeklamsia. (istem kerja ginjal ang tidak optimal pada 1anita hamil

mempengaruhi sistem kerja tubuh sehingga menghasilkan kelebihan cairan. 7ni dapat terlihat setelah kelahiran, ketika pergelangan kaki ang

.0

bengkak secara temporer semakin parah. 7ni dikarenakan jaringan tambahan ang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan tidak lagi dibutuhkan dan akan dibuang setelah sebelumn a diproses oleh ginjal menjadi urin. Aleh karena ginjal belum mampu bekerja secara optimal, kelebihan cairan ang menempuk

dihasilkan disekitar pembuluh darah hingga ginjal mampu memprosesn a lebih lanjut. &erkadang bengkak membuat kulit di kaki di bagian ba1ah meregang, terlihat mengkilat, tegang dan sangat tidak n aman. Pera1atan diri untuk ibu hamil ang mengalami kram kaki% .) 5erbaringlah dengan kaki lebih tinggi dari badan sesering mungkin, ini tidak han a membuat ibu hamil beristirahat lebih n aman, tetapi juga meningkatkan aliran energi pada saluran ginjal. 2) 9indari pemakaian jenis sepatu tertentu pada akhir kehamilan, terutama ang terbuat dari kulit akan melar dan longgar saat ibu hamil ingin memakain a saat melahirkan. 3) Bika bengkak terjadi pada tangan dan jari, pastikan untuk melepaskan cincin sebelum terlalu sempit. Bika ibu hamil lupa dan tetap memakain a cincin itu perlu dipotong agar tidak terjadi pen umbatan. /) Bika ibu hamil menderita kram jangan menambahkan garam pada makanan karena dapat meningkatkan risiko terjadin a penumpukan

.3

cairan. 'etika kram terjadi ulurkan sejauh mungkin untuk mencegah kontraksi otot. *. Per&arahan !e$a$ui ,agina "a&a keha!i$an Barang sekali merupakan hal ang normal. Pada saat ang dini dalam masa kehamilan, para ibu mungkin akan melihat adan a perdarahan sedikit atau bintik darah sekitar 1aktu pertama kali haid mereka berhenti. Perdarahan ini adalah perdarahan implementasi (penanaman) dan hal itu adalah normal. Cara mendeteksin a seorang bidan harus meminta ibu untuk menjelaskan si!at*si!at perdarahann a, kapan mulai terjadi !lek, berapa ban ak darah ang sudah hilang, apa 1arna darah tersebut, adakah

gumpalan darah beku dan lain*lain. Pada 1aktu*1aktu lain dalam masa kehamilan, perdarahan ringan mungkin bisa merupakan suatu pertanda dari cer,iD ang rapuh. Perdarahan jenis ini bisa merupakan hal ang normal atau bisa juga sebagai pertanda adan a in!eksi. Cara pengumpulan datan a lakukan pemeriksaan tekanan darah, suhu, den ut, serta tonus jantung ba i. Pada a1al kehamilan, perdarahan ang tidak pernah boleh dianggap normal adalah perdarahan ang merah, berat dan men akitkan. Perdarahan seperti ini bisa menjadi pertanda telah terjadi abortus kehamilan, atau kehamilan ektopik. &ugas bidan adalah melakukan pemeriksaan luar, raba

20

dan rasakan kelembutan abdominal bagian ba1ah, lakukan pemeriksaan inspekulo (jika memungkinkan). Pada usia kehamilan selanjutn a, perdarahan abnormal adalah merah, ban ak dan kadang*kadang 1alaupun tidak selalu, bertalian dengan rasa n eri. Perdarahan jenis ini bisa menjadi pertanda adan a plasenta pre,ia atau plasenta abruption. Pada kasus plasenta pre,ia jangan sekali*kali melakukan pemeriksaan dalam. -. Sakit Ke"a$a ang .e*at (akit kepala selama kehamilan adalah umum dan seringkali merupakan ketidakn aman ang normal dalam kehamilan. (akit kepala ang menunjukkan suatu masalah ang serius adalah sakit kepala ang hebat ang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. 'adang*kadang dengan sakit kepala ang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bah1a penglihatann a menjadi kabur atau berba angan. (akit kepala ang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari preeklamsia. (akit kepala sering dirasakan pada a1al kehamilan dan umumn a disebabkan oleh peregangan pembuluh darah diotak akibat hormon kehamilan, khusun a hormon progesteron. Bika ibu hamil merasa lelah, pusing atau tertekan atau pandangan mata bermasalah, sakit kepala akan lebih sering terjadi atau makin parah, jika sebelumn a menderita migrain kondisi ini dapat semakin bermasalah selama 3 sampai / bulan pertama kehamilan.

2.

&. N eri A*&o!en ang .e*at N eri abdomen ang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah tidak normal. N eri abdomen ang mungkin menunjukkan masalah ang mengancam keselamatan ji1a adalah ang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. 9al ini bisa berarti apendisitis, kehamilan ektopik, aborsi, pen akit radang pel,iks, persalinan preterm, gastritis, pen akit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi plasenta, in!eksi saluran kemih atau in!eksi lain ((ai!uddin, 200$).

e. Ba i Kurang Bergerak 7bu mulai merasakan gerakan ba in a selama bulan ke*= atau ke*$, beberapa ibu dapat merasakan gerakan ba in a lebih a1al. Bika ba i tidur, gerakann a akan melemah. 5a i harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. ?erakan ba i akan lebih mudah terasa jika berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik. )pabila ibu tidak merasakan gerakan ba i seperti biasa, hal ini merupakan suatu risiko tanda baha a. 5a i kurang bergerak seperti biasa dapat dikarenakan oleh akti,itas ibu ang terlalu berlebihan, keadaan psikologis ibu maupun

kecelakaan sehingga akti,itas ba i di dalam rahim tidak seperti biasan a (Pra1irohartjo, 2003).

22

f. De!a! 7bu menderita demam dengan suhu tubuh E30FC dalam kehamilan merupakan suatu masalah. 6emam tinggi dapat merupakan gejala adan a in!eksi dalam kehamilan. Penanganan demam antara lain dengan istirahat baring, minum ban ak dan mengompres untuk menurunkan suhu ((ai!uddin, 200$). 6emam dapat disebabkan oleh in!eksi dalam kehamilan aitu

masukn a mikroorganisme pathogen ke dalam tubuh 1anita hamil ang kemudian men ebabkan timbuln a tanda atau gejala*gejala

pen akit. Pada in!eksi berat dapat terjadi demam dan gangguan !ungsi organ ,ital. 7n!eksi dapat terjadi selama kehamilan, persalinan dan masa ni!as (Pusdiknakes, 2003).

D. Karakteristik I*u 'arakteristik adalah ciri*ciri khusus ang memiliki si!at khas ang sesuai dengan per1atakan tertentu, si!at*si!at keji1aan, akhlak atau budi pekerti ang membedakan seseorang dari tabiat atau 1atak ('amus 5ahasa 7ndonesia, 2002). 1. Usia 2sia adalah usia indi,idu ang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun (9urlock, 2002). 2sia ibu di kedua ujung masa reproduksi, usia ibu mempengaruhi hasil akhir kehamilan (Cunningham, 200=). 2sia

23

indi,idu ang dihitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. (emakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan berkerja (Nursalam, 200.). (emakin tua seseorang maka akan semakin matang dan bijaksana. #enurut 6epkes @7 (2002), ibu dianjurkan untuk hamil pada usia 20 * 3= tahun, karena ibu telah siap hamil secara jasmani dan keji1aan. 2sia di ba1ah 20 tahun dan di atas 3= tahun merupakan usia berisiko untuk hamil dan melahirkan, bah1a setiap tahun, .3 juta ba i dilahirkan oleh 1anita ang berusia G 20 tahun, dan 30 > kelahiran ini terjadi negara

berkembang. Para 1anita ini memiliki risiko kematian maternal akibat kehamilan dan kelahiran dua sampai lima kali lebih tinggi bila dibandingkan 1anita ang lebih tua. @isiko paling besar terdapat pada ibu berusia H ./ tahun. Penelitian di 5angladesh menunjukkan bah1a risiko kematian maternal lima kali lebih tinggi pada ibu berusia .0 ; ./ tahun dari pada ibu berusia 20;2/ tahun, sedangkan penelitian ang dilakukan di Nigeria men ebutkan bah1a 1anita usia .= tahun memiliki risiko kematian maternal " kali lebih besar dibandingkan dengan 1anita ang berusia 20 ; 2/ tahun. 'omplikasi ang sering timbul pada kehamilan di usia muda adalah anemia, partus prematur, partus macet (College (t 8ukas, 2011). 'ehamilan di atas usia 3= tahun men ebabkan 1anita terpapar pada komplikasi medik dan obstetrik, seperti risiko terjadin a hipertensi kehamilan,

2/

diabetes, pen akit kardio,askuler, pen akit ginjal dan gangguan !ungsi paru. 'ejadian perdarahan pada usia kehamilan lanjut meningkat pada 1anita ang hamil di usia E 3= tahun, dengan peningkatan insidensi perdarahan akibat solusio plasenta dan plasenta pre,ia. Persalinan dengan seksio sesaria pada kehamilan di usia lebih dari 3= tahun juga meningkat, hal ini terjadi akibat ban ak !aktor, seperti hipertensi kehamilan, diabetes, persalinan prematur dan pen ebab kelainan pada plasenta (College (t 8ukas, 2011). Penelitian ang dilakukan di )merika (erikat men atakan bah1a

kematian maternal akan meningkat / kali lipat pada ibu ang hamil pada usia 3= ; 33 tahun bila dibanding 1anita ang hamil pada usia 20 ; 2/ tahun. 2sia kehamilan ang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 ; 30 tahun. 2. Pen&i&ikan &ugas dari pendidikan adalah memberikan atau meningkatkan pengetahuan, menimbulkan si!at positi!, serta memberikan atau meningkatkan kemampuan mas arakat mas arakat atau indi,idu tentang aspek*aspek ang bersangkutan, sehingga dicapai suatu mas arakat pendidikan !ormal dan non*!ormal. (istem pendidikan ang berkembang ang mnjenjang

diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan melalui pola tertentu (Notoatmodjo, 2003). Pendidikan diinterpretasikan dengan makna untuk mempertahankan indi,idu dengan kebutuhan ang senantiasa bertambah dan merupakan suatu

2=

harapan untuk dapat mengembangkan diri agar berhasil serta untuk memperluas, mengintensi!kan ilmu pengetahuan dan memahami elemen ang ada disekitarn a. Pendidikan juga mencakup segala perubahan ang terjadi sebagai akibat dari partisipasi indi,idu dalam pengalaman dan belajar (Notoatmodjo, 200"). Badi tingkat pengetahuan seseorang terhadap suatu objek sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Peningkatan bagi perempuan merupakan keharusan ang tidak dapat dielakan demi mencapai kesetaraan dan keadilan gender. )nalisis gender dalam pembangunan pendidikan tingkat nasional menemukan adan a kesenjangan gender dalam pelaksanaan pendidikan terutama di tingkat (#' dan pergeruan tinggi, namun lebih seimbang pada tingkat (6, (#P, dan (#2. 'ecendrungann a adalah semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin meningkat kesenjangan gendern a (Iid astuti, 2003). #enurut jurnal Rural Tanzanian women's awareness of danger signs of obstetric complications, Penelitian di &an<ania dan di tempat lain menunjukkan bah1a tingkat pendidikan ang lebih tinggi terkait dengan

kematian ibu ang lebih rendah, pendidikan perempuan adalah penting untuk memahami pesan*pesan kesehatan dan untuk dapat membuat keputusan tentang kesehatan dan pera1atan. #emperkenalkan in!ormasi ang tepat

'eibuan )man di sekolah dasar untuk anak perempuan sebelum mereka

2$

menjadi hamil lebih lanjut dapat meningkatkan pemahaman perempuan dari pesan kesehatan termasuk kesadaran tanda baha a komplikasi obstetrik (+thiop, 20.0). 3. Peker%aan 'emampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang ang lain, meskipun pendidikan dan pengalamann a sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas ang sama. Perbedaann a ini

disebabkan karena kapasitas orang tersebut berbeda. 'apasitasn a di pengaruhi oleh berbagai !aktor, antara lain % gi<i dan kesehatan ibu, genetik, dan lingkungan. (elanjutn a kapasitas ini mempengaruhi atau menentukan kemampuan seseorang. 'emampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan disamping kapasitasn a juga dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, kesehatan, kebugaran, gi<i, jenis kelamin, dan ukuran*ukuran tubuh (Notoatmodjo, 200"). 7bu ang bekerja lebih ban ak memiliki in!ormasi mengenai

kehamilann a karena itu lebih sering berinteraksi dengan orang lain. (edangkan ibu ang tidak bekerja lebih sedikit mengetahui in!ormasi tentang kehamilann a karena kurangn a sosialisasi dengan orang lain sehingga in!ormasi ang diperlukan selama kehamilan kurang (Notoatmodjo, 2003). #enurut jurnal Factors influencing the use of antenatal care in rural West umatra! "ndonesia# 6engan berpenghasilan rendah memiliki pengaruh

2"

lebih besar terhadap dukun ba i lebih memilih, dengan tren ang berla1anan untuk lebih memilih bidan. Peningkatan perhatian perlu diberikan kepada perempuan, melainkan juga sangat penting untuk menggali persepsi perempuan tentang la anan kesehatan ang mereka terima (Porter, 20..). #. Paritas Paritas adalah jumlah berapa kali ibu termasuk ang melahirkan anak hidup

ang meninggal. Paritas menentukan kesehatan organ*organ

reproduksi 1anita pada primi tua maupun primi muda baha an a hampir sama pada primi muda berhubungan dengan belum matangn a organ*organ reproduksi, dimana perkembangan dinding rahimn a belum sempurna, sedangkan pada primi tua berkaitan dengan menurunn a !ungsi*!ungsi organ reproduksin a. (eorang ang belum pernah melahirkan ba i ang viable

(dapat hidup) disebut multipara. #ultipara adalah seorang 1anita ang pernah melahirkan ba i ang viable untuk beberapa kali (9ani!a, 200$). 6ikatakan umpaman a terdapat kecendrungan kesehatan ibu ang berparitas rendah

lebih baik daripada ang berparitas tinggi terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan pen akit*pen akit tertentu (Notoatmodjo, 200"). #enurut jurnal Factors influencing the use of antenatal care in rural West umatra! "ndonesia Ianita dengan dua atau lebih anak ang menerima pera1atan kehamilan adalah 20*/0> lebih rendah dibandingkan dengan 1anita dengan satu anak juga menemukan bah1a perempuan dengan tiga

20

anak atau lebih diman!aatkan )NC kurang. 6emikian pula, 6okter juga melaporkan bah1a 1anita ang telah melahirkan satu anak harus hadir lebih )NC daripada 1anita dengan enam atau lebih anak*anak. Namun, paritas tinggi juga ditemukan secara signi!ikan lebih tinggi pada 1anita ang tidak menghadiri )NC ataupun pengetahuann a sendiri (Porter, 20..). #enurut jurnal Factors influencing the use of antenatal care in rural West 1anita umatra! "ndonesia Paritas merupakan !aktor itu menerima kurang dari empat kali ang mempengaruhi kunjungan )NC

direkomendasikan selama kehamilan dan itu ang mengakibatkan kurangn a pengetahuan dan in!ormasi mengenai tanda*tanda baha a pada kehamilan (Porter, 20..).