Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik. Salah satu yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut adalah dengan usaha budidaya (aquakultur). Usaha budidaya akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang banyak diminati oleh masyarakat, karena memiliki potensi yang cukup besar. Untuk mewujudkan adanya usaha budidaya dengan produksi yang tinggi tentunya tergantung pada beberapa faktor, salah satunya adalah faktor jenis pakan yang diberikan. Ikan Betta atau dengan sebutan populer ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai komersial, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Sebagai ikan hias yang gemar berantem, mempunyai penampilan yang menarik yaitu mempunyai sirip yang relatif panjang dengan spektrum warna yang bagus sedangkan pada ikan betta betina penampilannya kurang menarik, karena siripnya tidak panjang dan warnanya pun tidak cerah sehingga pada ikan betta, jenis kelamin jantan lebih tinggi dibanding jenis kelamin betina. Dengan dasarnya itulah diperlukan upaya memperbanyak produksi ikan Betta jantan, yang dapat dilakukan secara masal Popularitas cupang sebagai ikan hias tidak perlu di ragukan lagi. Penggemar ikan cupang bukan hanya untuk anak-anak, namun juga bapak-bapak dan para remaja. Sedikit berbeda dengan ikan hias lain, cupang di sukai bukan hanya karena kecantikannya, namun juga karena naluri berkelahinya. Debut cupang sebagai ikan aduan memang bukan berita baru. Di Negara asalnya, ikan ini terkenal sejak ratusan tahun yang lalu sebagai ikan laga. Di sana orang mengadu cupang sambil bertaruh uang. Berbeda dengan Sumatera (Barbus tetrazone) yang sekalipun agresif, namun bisa hidup berdampingan secara damai dengan sesamanya. Ikan cupang justru akan menunjukkan sifat agresifnya bila bertemu sesama jantan, sebaliknya cupang jantan akan diam atau bergerak lambat dan dekat-dekat apabila di campurkan dengan jenis ikan lain (Susanto, 1992).

1.2 Tujuan Tujuan melakukan praktikum ini yaitu untuk mengamati tingkah laku pemijahan ikan cupang jantan dan betina dan mengamati tingkah laku makan ikan cupang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Cupang (Betta splendens) Menurut Susanto (1992), adapun identifikasi dan klasifikasi dari ikan cupang(Betta splendes) adalah sebagai berikut : Filum Subfilum Class Subclass Super Ordo Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Chordata : Craeniata : Osteichthyes : Actinopterygii : Teleostei : Percomorphoidei : Anabantoidei : Anabantidae : Betta : Betta splendens

Gambar 1. Ikan Cupang Plakat (Betta splendens)

Menurut Sudrajad (1989), ciri khusus ikan cupang (Betta splendens) dapat dilihat dari beberapa bentuk tubuhnya seperti bentuk badan memanjang dan warna yang beraneka ragam yakni cokelat, hijau, merah, biru, kuning, abu-abu, putih dan sebagainya, sirip punggung lebar dan terentang hingga ke belakang dengan warna cokelat kemerah-merahan dan dihiasi garis-garis berwarna-warni, sirip ekor berbentuk agak bulat dan berwarna seperti badannya serta dihiasi strip berwarna hijau, sirip perut panjang mengumbai dihiasi aneka warna dan lehernya berdasi dengan warna yang indah, ujung siripnya sering kali dihiasi warna putih susu, sirip analnya berwarna hijau kebiru-biruan dan memanjang. Lebih lanjut dikemukakannya adalah ikan cupang betina memiliki bentuk tubuh rata - rata lebih kecil daripada ikan cupang jantan. Ikan cupang jantan memiliki panjang tubuh dapat mencapai 5 9 cm, sedangkan ikan cupang betina lebih pendek dari ukuran tersebut. Daya tarik lain dari ikan cupang adalah keindahan warna dan sirip-siripnya, terutama ikan cupang jantan. Ikan ini juga senang berkelahi terhadap sesamanya sehingga di juluki fighting fish, tetapi bersikap toleran terhadap ikan jenis lain. Toleransi ikan cupang terhadap temperatur berkisar 28o C. Pertumbuhan ikan cupang relatif cepat sehingga masa pembesarannya tidak terlalu lama (Perkasa, 2001) 2.2 Induk Ikan Cupang Ciri ikan cupang jantan matang gonad adalah munculnya bintik bintik hitam yang terdapat di sirip punggung jantan, pada tutup insangnyapun sudah ada garis vertikal warna kemerahan, terlihat sibuk dalam mempersiapkan buih buih dipermukaan sebagai sarang tempat penetasan telur. Umur cupang yang siap untuk melakukan pemijahan yaitu sekitar 6 7 bulan dengan panjang 5 6 cm. induk harus sehat, tidak cacat dan tidak berpenyakit. Sedangkan pada betina , ciri-ciri kematangan gonad dilihat dari besarnya perut betina dan Pada sisi tubuhnya terdapat 2-3 garis vertikal berwarna kelabu (Huda, 1992). Untuk induk betina bentuk badan harus terlihat sehat, di tandai dengan bentuk tubuh bagian perut yang membesar apabila di teliti akan terlihat ada telurnya, bukan membesar karena di beri makanan dan pergerakannya terlihat lambat. Mempunyai sirip ekor, anal dan panggung yang biasa tanpa ada penonjolan jari-jari siripnya (Lingga dan Susanto, 2003). Ikan cupang merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin. Dengan bantuan alat tersebut, ikan cupang dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Dengan demikian dalam pemeliharaan ikan cupang, aerasi tidak harus dipasang sehingga dapat menghemat penggunaan listrik dan sarana sistem aerasi (Susanto, 1992).
4

2.3 Pemijahan Ikan Cupang Umumnya ikan cupang termasuk kelompok ikan yang membuat gelembung udara pada saat ingin kawin. Untuk itu diperlukan tanaman air agar cupang dapat menempelkan gelembung udaranya. Tanaman ini dapat berupa tanaman air yang berdaun lebar seperti eceng gondok (Eihornia crassipes) dan kiambang (Pistia stratiotes). Setelah itu cupang dapat dimasukkan ke dalam bak pemijahan. Bila memang sudah siap kawin, cupang jantan akan segera menempelkan gelembung udara ke daun. Cupang betina dapat dimasukkan apabila gelembung udara sudah cukup banyak. Cupang jantan yang sedang mencari pasangan akan segera menghampiri betina. Lalu betina akan diajak untuk mendekati gelembung udara, dipeluk sehingga keduanya menempel dan tak bergerak. Beberapa saat kemudian, telur keluar dari tubuh betina dan segera dibuahi oleh induk jantan. Telur telur tersebut ditangkap oleh mulut cupang jantan, lalu ditempelkan di gelembung udara. Penempelan dilakukan dengan cara menyemburkan telur tersebut dari mulutnya (Perkasa, 2001). Pemijahan di mulai dengan wadah dan air yang sudah siap, lalu kita masukan daun ketapang. Biarkan daun ini mengapung, tujuannya untuk tempat menempelkan busa dan tempat telur ikan. Setelah itu masukan induk jantan, waktu pemasukan induk jantan kedalam wadah pemijahan sebaiknya pagi hari, karena suhu air masih dingin. Biarkan induk jantan selama 1 hari gunanya untuk induk jantan mengenal lingkungannya.Keesokan harinya, masukan toples induk betina kedalam wadah pemijahan tujuannya untuk saling mengenal dulu dan untuk memasukan toples induk betina juga sebaiknya pagi hari dan diamkan selama 1 hari. Ini berguna untuk melihat apakah induk jantan memang benar benar siap untuk memijah (Sitanggang, 2010). Menurut Lingga dan Susanto (2003), bila induk jantan memang siap memijah, maka esok hari kita akan melihat busa yang sudah di buat oleh induk jantan. Semakin banyak busa yang di buat menunjukan memang induk jantan sudah siap, ketika itu barulah kita melepas induk betina kedalam wadah. Pelepasan induk betina sebaiknya pada pagi hari, apabila kedua induk memang siap dan baik, maka keesokan hari atau paling lambat 2 hari setelah pemijahan kita akan menemukan busa yang di buat induk jantan sudah berisi telur ikan. Apabila telur ikan sudah banyak sebaiknya induk betina segera di angkat supaya induk betina tidak memakan telurnya, sedangkan induk jantan masih kita biarkan untuk mengeram dan memelihara telurnya.

2.4 Perkembangan Telur Setelah telur ikan terlihat, maka dalam jangka waktu 24 jam telur akan menetas menjadi burayak. Selama 1 minggu burayak masih tidak membutuhkan makanan, karena mereka masih memiliki persedian makanan di tubuhnya dan pada hari ketiga ketika persediaan makanan sudah habis, maka peranan induk jantan sangat vital karena induk jantan yang memberikan makanan kepada burayak ini dengan cara di masukan kedalam mulutnya, lalu setelah beberapa saat induk jantan akan memuntahkan kembali burayak itu keluar. Selama 1 minggu kita harus teratur memberikan makanan berupa cuk (jentik nyamuk) kepada induk jantan, gunanya agar induk jantan mempunyai persediaan makanan untuk burayak tersebut, bisa juga di berikan pelet khusus untuk ikan cupang (Sitanggang, 2010). Menurut Huda (2011), hari ke 5 setelah burayak menetas sudah bisa di lihat perkembangannya, untuk itu harus di bantu dengan cara memberikan kuning telur yang sudah matang lalu di keringkan dan setelah kering di berikan kepada burayak dan pada hari ke 6 kita sudah bisa memberikan kutu air yang di saring kedalam wadah ini, karena beberapa burayak sudah cukup besar dan dapat memakan kutu air yang di saring. Hari ke 8 induk jantan sudah bisa di angkat dan di pisahkan kedalam toples tersendiri. Sedangkan burayak yang berumur 8 hari cukup kita beri makan kutu air yang di saring, sampai berumur 1 bulan dan apabila pertumbuhannya pesat bisa di berikan anak cuk (jentik nyamuk) dan cacing sutra secara terbatas serta apabila perkembangan kurang pesat maka makanannya harus tetap kutu air. Setelah umur 1 bulan burayak sudah dapat di pindahkan kedalam wadah yang lebih besar supaya perkembangganya lebih pesat dari segi makanan sudah bisa di kombinasi antara kutu air, cuk, cacing sutra dan pelet. Setelah burayak berumur 2 2,5 bulan, maka sudah dapat di pisahkan dan di pilah mana yang jantan dan betina. Untuk jantan harus di beri wadah tersendiri dan untuk betina masih bisa di campur sesama betina, apabila setelah di seleksi ternyata cupang betina yang dominan maka dapat kita simpulkan salah satu dari induk tersebut kurang baik kualitasnya. Sebaiknya induk betina itu tidak di pijahkan kembali. Apabila baik, maka induk jantan sudah dapat di pijahkan kembali 3 minggu setelah di angkat dari tempat pemijahan (Huda, 2011).

2.5 Pakan Induk Dan Larva Meskipun cupang dewasa mau menerima makanan kering dan mati, namun untuk memperoleh pertumbuhan maksimal dan warna yang cantik sebaiknya ikanikan cupang ini hanya di beri makanan hidup. Makanan hidup seperti cacing sutera, jentik-jentik nyamuk dan kutu air sangat di sukai oleh ikan-ikan cupang (Iskandar, 2004). Menurut Perkasa (2001), bahan pakan alami bagi cupang hias di peroleh dari alam. Bahan pakan tersebut di berikan dalam keadaan hidup tanpa melalui proses terlebih dahulu. Memperoleh pakan alami tidak sulit dan relatif murah. Sarana untuk mendapatkan pakan alami hanya dengan alat sederhana. 2.6 Manajemen Kulalitas Air Faktor penting dalam budidaya ikan cupang adalah kualitas air yang digunakan dalam budidaya. Kualitas air harus selalu terjaga kebersihannya dan terhindar dari zat-zat beracun, seperti amoniak, limbah pabrik, detergen, dan lain-lain. Ikan akan tumbuh optimal jika kualitas airnya baik. Air pada akuarium atau pada wadah pematangan gonad sebaiknya diganti setiap 3 hari, serta ikan cupang direndam selama 1 jam dengan air yang telah dicampur garam dapur dan obat khusus cupang yang banyak dijual di pasar ikan dengan dosis secukupnya. Hal tersebut untuk menjaga ikan cupang dari serangan jamur atau penyakit lainnya (Indriani dkk, 1991) Cara lain unntk menjaga kualitas air tetap baik adalah dengan cara memasukan eceng gondok dalam kolam pembesaran, yang berfungsi untuk menyerap racun di sekitar air tersebut dan sekaligus menjadi tempat berteduh bagi burayak/benih cupang. Jangan terlalu banyak memberikan eceng gondok karena eceng gondok dapat menyerap oksigen di dalam air. Eceng gondok yang terlalu banyak dapat menyebabkan kematian bagi burayak karena kekurangan kadar oksigen di dalam air (Perkasa, 2001). 2.7 Pengendalian Hama Dan Penyakit Menurut Kordi (2004), penyakit pada ikan cupang secara fisik banyak di sebabkan oleh microorganisme, cendawan, bakteri dan virus! yang di pengaruhi oleh sani tasi air, dimana tempat ikan cupang itu hidup, kurang higienis dan kurang di perhatikan, atau di sebabkan oleh faktor alam seperti perubahan iklim yang berpengaruh pada perubahan suhu air, sehingga mempengaruhi tumbuh kembangnya cendawan, bakteri,dan virus. Oleh sebab itu kualitas air untuk ikan cupang ini harus tetap dijaga. Penyakit fisik tersebut antara lain busung/sisik nanas, salak, atau

hydrops, menceret atau berak putih disebkan oleh virus salmonella sp., valvet/fin rot, yang disebabkan oleh bakteri oodium pillularis, serta borok/ luka yang terinfeksi yang di sebabkan oleh kutu ikanargullus indicus dan lernea cyprinacea. Penyakit pada ikan cupang non fisik tidak disebabkan oleh microorganisme, tapi disebabkan oleh kurang hati-hati dalam perawatan ikan cupang yang menyebabkan mental dan fisik ikan cupang menjadi sakit, dan cacat dan dapat berakibat menurunnya kesehatan ikan cupang tersebut, sirip kurang mengembang, kurang gairah, tidak nafsu makan,bacul (hilang keberanian/ mental) menggigit sirip sendiri, jelas terlihat tidak sehat(Kordi, 2004) Bila terserang white spot,cendawan/jamur gejala awalnya adalah berenang ikan cupang seperti tersentak-sentak atau menabrakan badannya ke media dinding aquarium /wadah, bila tidak cepat di tanggulangi badan ikan cupang akan cepat di tumbuhi bintik-bintik putih lebih kecil dari telur ikan. Hal ini bila sudah parah, bila tidak cepat di tanggulangi dapat menyebabkan ikan cupang malasberaktifitas,sirip tidak mengembang, dan menghilangkan nafsu makan dari ikan tersebut. Penanggulangan nya dapat dengan diberikan anti white spot, blitz-icth/fish mate yang mengandung bahan aktif metil biru (methiline blue) dan dimetil amino triphenyl methanol, super icth , blitz icth/obat biru/ anti white spot dilarutkan dengan air dan di campur garam ikan dengan dosis di sesuaikan dengan stadium penyakitnya. Dengan merendam ikan cupang yang sakit kedalam larutan tersebut diatas selama kurang lebih 5 jam, kemudian angkat dan rendam kembali kedalam larutan yang sama.

BAB III METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Tingkah Laku Ikan ini dilaksanakan pada tanggal 17 mei 2013 sampai dengan tanggal 22 mei 2013 dengan mengamati pola tingkah laku pemijahan dan cara makan ikan cupang setiap hari, bertempat dilaboratorium Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. 3.2 Alat dan Bahan Akuarium Stoples Air Daun talas Selang kecil Pakan Induk ikan cupang (Betta spendlens) jantan dan betina

3.3 Parameter yang diamati Tingkah laku makan Tingkah laku pemijahan Jumlah telur dan larva yang menetas SR (Survival Rate)

3.3 Cara Kerja Induk jantan yang siap memijah dimasukkan ke dalam akuarium Induk betina ditempatkan dalam stoples kaca pada akuarium yang sama Setelah sarang busa siap, induk betina dikeluarkan dari stoples kaca agar dapat memulai pemijahan. Induk betina dikeluarkan setelah semua telur menempel pada sarang Ikan jantan menjaga telur samapai menetas Setelah telur menetas induk ikan jantan dipindahkan Larva ikan diberi makan Infusoria, kutu air (yang diayak) atau artemia.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Tabel 1. Hasil Pengamatan Tgl Shift Pagi Jam 08.00-09.30 09.30-11.00 11.00-13.00 Siang 17 Mei 2013 13.00-14.30 14.30-16.00 16.00-18.00 Malam 18.00-19.30 19.30-21.00 21.00-23.00 Pagi 08.00-09.30 09.30-11.00 11.00-13.00 18 Mei 2013 Siang 13.00-14.30 14.30-16.00 16.00-18.00 Malam 18.00-19.30
10

Hasil Pengamatan Ikan cupang jantan bersifat agresif mendekati toples. Tingkah laku ikan cupang masih sama pada saat pukul 08.00-09.30. ikan jantan cupang terus mengitari toples dan mendekati betina. Membuka operculum.

Ikan jantan mulai diam/pasif. Nafsu makan mulai berkurang. Gelembung sudah memenuhi daun.

Ikan betina dikeluarkan dari toples untuk dipijahkan. Namun tingkah laku yang ditunjukan ikan jantan setelah betina dikeluarkan, ikan jantan langsung menyerang betina sehingga sirip ekornya rusak. Ikan betina dimasukan kembali ke dalam toples.

19.30-21.00 21.00-23.00 Pagi 08.00-09.30 09.30-11.00 11.00-13.00 Siang 19 Mei 2013 13.00-14.30 14.30-16.00 16.00-18.00 Malam 18.00-19.30 19.30-21.00 21.00-23.00 Pagi 08.00-09.30 09.30-11.00 11.00-13.00 Siang 13.00-14.30 14.30-16.00 20 Mei 2013 16.00-18.00 Ikan jantan dan betina kembali disatukan. Tingkah laku berbeda yang tampak dari ikan jantan setelah disatukan, ikan jantan menunjukan tingkah laku menarik perhatian betina dengan berenang mengitari betina dan menggerakan sirip ekornya dan kemudian ikan jantan mencoba mengajak betina untuk berenang Tingkah laku yang ditunjukan masih sama seperti hari kemarin. tingkah laku yang ditunjukan ikan jantan setelah dipisahkan kembali dari ikan betina, jantan kembali membuat gelembung dan berenang mengitari ikan betina.

11

disekitar gelembung yang telah dibuat oleh ikan jantan. Malam 18.00-19.30 19.30-21.00 21.00-23.00 Ikan betina mulai tertarik oleh ajakan ikan jantan dengan menunjukan tingkah laku berenang bersamaan dengan jantan. Ikan jantan dan betina mulai melakukan reproduksi dibawah daun talas yang terdapat gelembung. Proses reproduksi dilakukan dengan tingkah laku yang terlihat seperti posisi ikan jantan dan betina yang menyatu dan membentuk huruf U. Kemudian terjadi proses kopulasi dimana ikan betina mengeluarkan telur dan ikan jantan mengeluarkan sperma. Ikan jantan dan betina mengutip telur yang jatuh dan dimaukan kedalam gelembung bersama. Proses ini berlangsung selama 2 jam. Setelah itu ikan betina dipasahkan dan masukan kembali kedalam toples. Pagi 08.00-09.30 09.30-11.00 11.00-13.00 21 Mei 2013 Siang 13.00-14.30 Ikan jantan melakukan penjagaan telur dengan menunjukan tingkah laku seperti berenang disekitar gelembung yang berisi telur dan jika ada telur yang terjatuh maka ikan jantan akan meletakkannya kembali ke gelembung. Proses ini dilakukan sampai telur-telur menetas.

Malam 19.30-21.00

12

21.00-23.00 Pagi 08.00-09.30 09.30-11.00 11.00-13.00 Siang 22 Mei 2013 13.00-14.30 14.30-16.00 16.00-18.00 Malam 18.00-19.30 19.30-21.00 21.00-23.00 NB. Setelah 3 hari penjagaan yang dilakukan oleh ikan jantan telur tidak menetas. 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa sejak pertama induk betina dan jantan di masukan ke dalam wadah akuarium induk betina di masukan ke dalam toples ) hal ini bertujuan untuk melakukan perjodohan selama 5 hari. Pada hari pertama saat ikan cupang dimasukkan kedalam akuarium tingkah laku induk ikan cupang jantan yaitu mengembangkan operculum dan siripnya serta menggesek - gesekkan tubuhnya pada toples yang terdapat induk betina. Pergerakan jantan dan betina sangat agresif, kibasan sirip jantan dan betina dikibaskan dengan cepat, Sesekali jantan mendekati betina, Saat jantan mendekati betina, jantan mengikuti pergerakan betina. Ikan jantan cupang terus mengitari toples dan mendekati betina sambil membuka operculum. Pada hari kedua ikan jantan dan betina masih menunjukkan tingkah laku yang sama, mulai membuat sarang untuk menempatkan telurnya berupa gelembung udara yang dilekatkan dibawah daun talas. Ikan betina dikeluarkan dari toples untuk dipijahkan. Namun tingkah laku yang ditunjukan ikan jantan setelah betina Tingkah laku yang ditunjukan masih sama seperti hari kemarin, dimana ikan jantan masih menjaga telurtelurnya.

13

dikeluarkan, ikan jantan langsung menyerang betina sehingga sirip ekornya rusak dan betina dimasukkan kembali ke dalam toples. Pada hari ketiga ketika ikan betina dilepaskan, ikan jantan menghindari kejaran ikan betina. Kemudian dimasukkan betina yang lain (sirip lebih indah), induk jantan mendekati ikan tersebut dan setelah itu ikan betina asing di pindahkan kembali untuk memancing ikan jantan mengejar kembali ikan betina pertama yang bersembunyi dibawah daun ketapang. Pada hari ke empat tingkah laku yang ditunjukan masih sama seperti hari kemarin, Ikan jantan dan betina kembali disatukan. Tingkah laku berbeda yang tampak dari ikan jantan setelah disatukan, ikan jantan menunjukan tingkah laku menarik perhatian betina dengan berenang mengitari betina dan menggerakan sirip ekornya dan kemudian ikan jantan mencoba mengajak betina untuk berenang disekitar gelembung yang telah dibuat oleh ikan jantan, Ikan betina mulai tertarik oleh ajakan ikan jantan dengan menunjukan tingkah laku berenang bersamaan dengan jantan. Ikan jantan dan betina mulai melakukan reproduksi dibawah daun talas yang terdapat gelembung. Proses reproduksi dilakukan dengan tingkah laku yang terlihat seperti posisi ikan jantan dan betina yang menyatu dan membentuk huruf U. Kemudian terjadi proses kopulasi dimana ikan betina mengeluarkan telur dan ikan jantan mengeluarkan sperma. Ikan jantan dan betina mengutip telur yang jatuh dan dimaukan kedalam gelembung bersama. Proses ini berlangsung selama 2 jam. Setelah itu ikan betina dipasahkan dan masukan kembali kedalam toples. Ikan cupang jantan bersifat agresif mendekati toples. Ikan betina dikeluarkan dari toples untuk dipijahkan. Namun tingkah laku yang ditunjukan ikan jantan setelah betina dikeluarkan, ikan jantan langsung menyerang betina sehingga sirip ekornya rusak. Ikan betina dimasukan kembali ke dalam toples. Ikan jantan mulai diam/pasif. Nafsu makan mulai berkurang. Namun ikan jantan membuat gelembung hingga memenuhi daun. Pada hari kelima, saat akan mengeluarkan telur, cupang betina mendekatkan posisi urogenitalnya di dekat buble nest. Setelah telur dilepas, cupang jantan secara bersamaan juga mengeluarkan sperma. Ejakulasi pada ikan cupang jantan susah untuk diamati. Telur ikan cupang kemudian tenggelam secara perlahan ke dasar atau terperangkap dalam tubuh ikan cupang jantan yang membentuk kurva. Dalam selang waktu 4-8 detik saja, ikan cupang jantan bisa menangkap kurang lebih 90% telurtelur itu di dalam mulutnya sebelum jatuh menyentuh dasar. Diameter telur ikan cupang berkisar 0.8 sampai 0.9 mm. Sementara jantan membawa telur-telur di dalam mulutnya untuk diletakkan di buble nest, ikan cupang betina berenang ke dasar untuk mengambil material di dasar dan membawanya menuju nest di samping ikan cupang
14

jantan. Kebiasaan memakan telur oleh ikan tidak pernah ditemukan pada cupang setelah pemijahan. Setelah semua telur diletakkan pada nest, betina dipisahkan dari jantan. Ikan jantan melakukan penjagaan telur dengan menunjukan tingkah laku seperti berenang disekitar gelembung yang berisi telur dan jika ada telur yang terjatuh maka ikan jantan akan meletakkannya kembali ke gelembung. Proses ini dilakukan sampai telur-telur menetas. Pada hari ke enam, Tingkah laku yang ditunjukan masih sama seperti hari kemarin, dimana ikan jantan masih menjaga telur-telurnya. Berdasarkan praktikum pemijahan cupang yang telah dilakasanakan ikan cupang jantan telah mengeluarkan bubble nest dan terjadi pemijahan, namun tidak terjadi penetasan telur , hal ini dapat disebabkan karena kurangnya kualitas dari induk ikan cupang, sebagaimana diliteratur menyatakan kualitas telur dan larva sangat ditentukan oleh induknya. Proses pemijahan merupakan pertemuan ikan jantan dan ikan betina yang diukur dengan keluarnya sel gamet jantan dan betina. Proses ini memiliki banyak aspek yang menentukan baik buruknya hasil yang diperoleh. Aspekaspek tersebut antara lain seleksi induk yang baik, persiapan wadah dan substrat yang baik hingga perlakuan sifat atau tipe pemijahan.

15

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengamatan ini, adalah : Ikan Betta atau dengan sebutan populer ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai komersial, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Ikan cupang merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin Umumnya ikan cupang termasuk kelompok ikan yang membuat gelembung udara pada saat ingin kawin. Untuk itu diperlukan tanaman air agar cupang dapat menempelkan gelembung udaranya. Proses pemijahan ikan cupang berlangsung ditandai dengan induk jantan yang melakukan pendekatan dengan cara mengitari induk betina. Bila pasangan ikan cupang tersebut cocok maka induk jantan segera membuat sarang berupa gelembung-gelembung busa. Pemijahan bisa terjadi kapan saja, bisa pagi, siang, sore atau malam. Bila sudah memijah ditandai dengan adanya telur di dalam busa dengan warna yang putih kontras beda dengan warna buih di permukaan air. Setelah itu induk betina di pisahkan dan biarkan induk jantan di wadah tersebut. Ikan cupang (Betta splendes) termasuk jenis ikan yang bersifat parental care yang dimana induk jantannya memelihara dan merawat telur-telurnya. tingkah laku ikan cupang termasuk tipe diurnal, yaitu aktif mencari pakan mulai dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. 5.2 Saran Diharapkan pada dosen pembimbing praktikum agar untuk lebih serius dan disiplin pada saat praktikum dilaksanakan dan tidak diburu pada saat akhir perkuliahan.

16

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Cara Budidaya Ikan Cupang Hias. http://budidayanews.blogspot.com/2011/02/cara-budidaya-ikan-cupanghias.html Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2013. Jenis-Jenis Ikan Cupang. www. yakhanu. wordpress.com Anonim. 2012. Diakses 1 Januari 2013. Betta Splendens. http://aquariumfishparadise. com.au/2012/02/siamese-fighting-fish-betta-splendens/ Anonim. 2012. Diakses 1 Januari 2013. Budidaya Ikan http://icalizeter.blogspot.com/2012/06/budidaya-ikan-cupang.html Cupang.

Anonim. 2012. Diakses 1 Januari 2013. Membudidayakan Ikan Cupang. http://www.ogasfarm.com/2012/04/membudidayakan-ikan-cupang.html Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Teknologi Budidaya Ikan Hias. http://taufikbudhipramono.blog.unsoed.ac.id/2011/05/12/teknologi-budidayaikan-hias-3/ Wibowo, Deo. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Cara singkat Merwat Ikan Cupang. www. Deo-Wibowo.blogspot.com

17