Anda di halaman 1dari 19

KARSINOMA KOLON TERMINAL Nama : Tiara Sari Irianti Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Email : pen_143f@yahoo.co.

id

PENDAHULUAN Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika.1 Euthanasia aktif, misalnya ada seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa sehingga pasien sering kali pingsan. Dalam hal ini, dokter yakin yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus Euthanasia pasif, adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, sedangkan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi Contoh euthanasia pasif, misalkan penderita kanker yang sudah kritis, orang sakit yang sudah dalam keadaan koma, disebabkan benturan pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Atau, orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati maka dapat

mematikan penderita. Dalam kondisi demikian, jika pengobatan terhadapnya dihentikan, akan dapat mempercepat kematiannya .

Menurut Deklarasi Lisabon 1981, euthanasia dari sudut kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan euthanasia, karena ada dua kendala. Pertama, dokter terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi lain, dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti melanggar kode etik kedokteran itu sendiri. Kedua, tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak pidana di negara mana pun.

KASUS Seoarang pasien berusia 62 tahun dating kerumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien masih culup sadar berpenidikan cukup tinggi. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan ketebatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralataan bermacam-macam tampak sangat menderita, dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaannya saja. Oleh karena itu ia meminta kepada dokter apabila dia mendekati ajaalnya agar menerima terapi yang minimal saja ( tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll) dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.

ASPEK HUKUM Persetujuan Tindakan Medik2 Pasal 1.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 a. Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut;

b. Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa diagnostik atau terapeutik; c. Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh; d. Dokter adalah dokter umum/ dokter spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik atau praktek perorangan/ bersama. Pasal 2.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. (2) Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta resiko yang dapat ditimbulkannya. (4) Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien Pasal 3.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Setiap tindakan medik yang mengandung risiko tinggi harus dengan persetujuan tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. (2) Tindakan medik yang tidak termasuk sebagaimana dimaksud dalam pasal ini tidak diperlukan persetujuan tertulis, cukup persetujuan lisan (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat diberikan secara nyata-nyata atau secara diam-diam. Pasal 4.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak diminta. (2) Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi.

(3) Dalam hal- hal sebagaimana dimaksud ayat (2) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang perawat/ paramedik lainnya sebagai saksi. Pasal 5.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medik yang akan dilakukan, baik diagnostik maupun terapeutik. (2) Informasi diberikan secara lisan. (3) Informasi harus diberikan secara jujur dan benar kecuali bila dokter menilai bahwa hal itu dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien. (4) Dalam hal-hal sebagaimana dimaksud ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat pasien. Pasal 6.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Dalam hal tindakan bedah (operasi) atau tindakan invasif lainnya, informasi harus diberikan oleh dokter yang akan melakukan operasi itu sendiri. (2) Dalam keadaan tertentu dimana tidak ada dokter sebagaimana dimaksud ayat (1), informasi harus diberikan oleh dokter lain dengan pengetahuan atau petunjuk dokter yang bertanggung jawab. (3) Dalam hal tindakan yang bukan bedah (operasi) dan tindakan yang tidak invasif lainnya, informasi dapat diberikan oleh dokter lain atau perawat, dengan pengetahuan atau petunjuk dokter yang bertanggung jawab. Pasal 7.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Informasi juga harus diberikan jika ada kemungkinan perluasan operasi. (2) Perluasan operasi yang tidak dapat diduga sebelumnya, dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. (3) Setelah perluasan operasi sebagaimana dimaksud ayat (2) dilakukan, dokter harus memberikan informasi kepadan pasien atau keluarganya Pasal 8.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989

(1) Persetujuan diberikan oleh pasien dewasa yang berada dalam keadaan sadar dan sehat mental. (2) Pasien dewasa sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah yang telah berumur 21 tahun (dua puluh satu) tahun atau telah menikah Pasal 9.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Bagi pasien dewasa yang berada di bawah pengampuan (cura tele) persetujuan diberikan oleh wali/curator. (2) Bagi pasien dewasa yang menderita gangguan mental, persetujuan diberikan oleh orang tua/wli/curator Pasal 10.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 Bagi pasien di bawah umur 21 (dua puluh satu) tahun dan tidak mempunyai orang tua/wali dan atau orang tua/wali berhalangan, persetujuan diberikan oleh keluarga terdekat atau induk semang (guardian). Pasal 11.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 Dalam hal pasien tidak sadar/ pingsan serta tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam keadaan gawat dan atau darurat yang memerlukan tindakan medik segera untuk kepentingannya, tidak diperlukan persetujuan dari siapapun. Pasal 12.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 (1) Dokter bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan tentang persetujuan tindakan medik. (2) Pemberian persetujuan tindakan medik yang dilaksanakan di rumah sakit/ klinik, maka rumah sakit/ klinik yang bersangkutan ikut bertanggung jawab. Pasal 13.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan surat izin prakteknya.

Pasal 14.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 Dalam hal tindakan medik yang harus dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah dimana tindakan medik tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak, maka persetujuan tindakan medik tidak diperlukan. Pasal 15.Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 Hal-hal yang bersifat teknis yang belum diatur dalam Peraturan Menteri ini, ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik.2 KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA Merupakan pedoman bagi dokter Indonesia anggota IDI dalam melaksanakan praktek kedokteran. Tertuang dalam SK PB IDI no 221/PB/A.4/04/2002 tanggal 19 April 2002 tentang penerapan Kode Etik Kedokteran Indonesia. Kode Etik Kedokteran Indonesia pertama kali disusun pada tahun 1969 dalam Musyawarah Kerja Susila Kedokteran Indonesia. Dan sebagai bahan rujukan yang dipergunakan pada saat itu adalah Kode Etik Kedokteran Internadional yang telah disempurnakan pada tahun 1968 melalui Muktamar Ikatan Dokter Sedunia ke 22, yang kemudian disempurnakan lagi pada MuKerNas IDI XIII, tahun 1983.3 KEWAJIBAN UMUM Pasal1 Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Dokter. Pasal2 Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standard profesi yang tertinggi. Pasal3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu

yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal4 Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Pasal5 Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. Pasal6 Setiap dokter harus senantiasa berhati hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan tehnik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Pasal7 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.. Pasal7a Seorang dokter harus, dalam setiappraktek medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang ( compassion ) dan penghormatan atas martabat manusia. Pasal7b Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dansejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien.

Pasal7c Seorang dokter harus menghormati hak hak pasien, hak hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien. Pasal7d Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup mahluk insani. Pasal8 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh ( promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif ), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar benarnya. Pasal9 setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat dibidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.3 KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN Pasal10 Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. Pasal11 Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.

Pasal12 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Pasal13 Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT Pasal14 Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal15 Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.2 KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI Pasal16 Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. Pasal17 Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi kedokteran/kesehatan. Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi Pasal 50 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak : a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional;

c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan d. menerima imbalan jasa. Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban : a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Hak dan Kewajiban Pasien Pasal 52 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak: a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3); b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; d. menolak tindakan medis; dan e. mendapatkan isi rekam medis. Pasal 53 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban : a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi; c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
3

INFORM CONSERNT Informed consernt adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan

dilakukan terhadap pasien. Informed consernt dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak melainkan lebih kearah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain: 4 Infirmed consernt memiliki 3 element, yaitu: 1. Threshold elements Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai element, oleh karena sifatnya lebih kearah syarat, yaitu pemberi consernt haruslah seorang yang kompeten. Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan (medis). Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suatu continuum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu ( keputusan yang reasonable berdasarkan alas an yang reasonable). Secara hukum seseorang dianggap cakap ( kompeten) adalah apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak dibawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila ia mempunyai penyakit mental sedemikian rupa atau perkembangan mentalnya terbelakang sedemikian rupa, sehingga kemampuan membuat keputusan terganggu. 2. Information elemens Elemen ini terdiri dari dua bagian, yaitu disclosure (pengungkapan) dan Undestanding (pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa agar pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini seberapa baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standart, yaitu: Standar Praktek Profesi Bahwa memberikan informasi dan criteria ke-adekua-an infomasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenaga medis (constumary practice of a professional community- Faden and Beauchamp, 1986). Standar ini terlalu mengacu pada nilai-nilai yang ada didalam komunitas kedokteran tanpa memeperhatikan

keingintahuan dan kemampuan pemahaman individu yang diharapkan menerima informasi tersebut. Dalam standar nilai ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut diatas tidak sesuai dengan nilai-nilai social setempat, misalnya: risiko yang tidak bermakna ( menurut medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi social/ pasien. Standart Subyektif Bahwa keputusan harus didasrkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan. Sebaiknya dari standar sebelumnya, standar ini sangat ulit dilaksanakan atau hamper mustahil. Adalah mustahil bagi tenaga medis untuk memahami nilai-nilai yang secara individual dianut oleh pasien. Standart pada reasonable person Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan pada umumnya orang awam. Sub-elemen pemahaman (understanding) dipengaruhi oleh penyakitnya, irrasionalis dan imaturitas. Banyak ahli yang mengatakan bahwa apabila elemen ini tidak dilakukan maka dokter dianggap telah lalai melaksanakan tugasnya member informasi yang adekuat. 3. Consent Elements Elemen ini terdiri dari dua bagian, yaitu voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak adanya tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya. Banyak ahli masih berpendapat bahwa melakukan persuasi yang :tidak berlebihan masih apat dibenarkan secara moral. Consernt dapat diberikan: a. Dinyatakan (expressedI) o Dinyatakan secara lisan

o Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti dikemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasive atau yang beresiko mempengaruhi kesehatan pasien secara bermakna. Permenkes tentang persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis. b. Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku ( gerakan) yang menunjukan jawabannya. Meskipun consernt jenis ini tidak memiliki bukti, namun consernt jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktek sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya. Informed consernt memiliki lingkup terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan sebelumnya tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan dilakukan. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat darurat dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya. Proxy-consernt adalah consernt yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu sendiri dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan concern secara pribadi dan consernt tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien apabiala ia mampu memberikannya (baik buat pasien, bukan baik buat orang banyak). Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy-consernt adalah suami/isteri, anak orang tua, saudara sekandung dll. Hak menolak terapi lebih sukar diterima oleh profesi kedokteran daripada hak menyetujui terapi. Banyak ahli yang mengatakan bahwa hak menolak terapi bersifat tidak absolute, artinya masih dapat ditolak atau tidak diterimaoleh dokter. Hal ini karena dokter akan mengalami konflik moral dengan kewajiban menghormati kehidupan, kewajiban untuk mencegah perbuatan yang bersifat bunuh diri atau self inflicted, kewajiban melindungi pihak ketiga dan integritas etis profesi dokter.4 REKAM MEDIS

Rekam Medis adalah kumpulan berkas yang berisikan segala sesuatu yang berhubungan dengan perawatan pasien di institusi pelayanan kesehatan. Bayangkan ketika kita datang ke dokter, klinik, rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya, maka yang ditanyakan pertama adalah identitas kita. Selanjutnya dokter atau tenaga kesehatan lainnya akan menanyakan apa keluhan dan yang berkaitan dengan keluhan kita. Ini adalah awal dari proses rekam medis. Proses selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, seperti tensi darah atau ukur suhu tubuh. Semua yang dilakukan dan terapi yang diberikan dicatat dalam suatu lembar kertas, kartu ataupun media lainnya (Inilah yang disebut rekam medis).5 Perkembangan Rekam Medis sangat cepat seiring dengan kemajuan bidang kedokteran, kesadaran hukum dan teknologi informasi. Sehingga perubahan paradigma dari rekam medis menjadi rekam kesehatan sudah harus kita terima. Peraturan tentang penyelenggaraan Rekam Medis dimulai Tahun 1989, dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.749a/Menkes/PER/XII/ 1989 tentang Rekam Medis, yang mana pengaturannya masih mencakup rekam medis berbasis kertas (konvensional). Sementara saat ini Rekam medis konvensional kurang tepat lagi untuk digunakan disaat mana kita sudah menggunakan informasi secara intensif dan lingkungan yang berorientasi pada otomatisasi pelayanan kesehatan dan bukan terpusat pada unit kerja semata. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang melanda dunia telah berpengaruh besar bagi perubahan pada semua bidang, termasuk bidang kesehatan. Salah satu penggunaan teknologi informasi (TI) di bidang kesehatan yang menjadi tren dalam pelayanan kesehatan secara global adalah rekam kesehatan elektronik (Electronic Medical Record). Selama ini rekam medis mengacu pada Pasal 46 dan Pasal 47 UU No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Permenkes No.269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis sebagai pengganti dari Peraturan Menteri Kesehatan No.749a/Menkes/PER/XII/1989. Undang-undang No.29 Tahun 2004 sebenarnya telah diundangkan saat EMR sudah banyak digunakan, namun belum mengatur mengenai EMR. Begitu pula Peraturan Menteri Kesehatan No.269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis belum sepenuhnya mengatur mengenai EMR. Hanya pada Bab II pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa Rekam medis harus dibuat secara

tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik. Secara tersirat pada ayat tersebut memberikan ijin kepada sarana pelayanan kesehatan membuat rekam medis secara elektronik (EMR).5 ETIKA Etika Kedokteran 5 Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehataan atau kedokteran, selain mempertimbangkan keempat kebutuhan dasar diatas keputusan hendaknya juga memepertimbangkan hak-hak asasi pasien. Pelanggaran atas hak pasien akan mengakibatkan juga pelanggaran atas kebutuhan dasar diatas terutama kebutuhan kreatif dan spiritual pasien. Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk dan benarsalah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontology dan teleologi. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa, Deontologi mengajarkan bahwa baikburuknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri (I Kant), sedangkan Teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Mills). Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleology lebih kearah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat ( aliran utilitarian). Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral ( moral principle) dan beberapa rules dibawahnya. Ke-4 kaidah dasar moral tersebut adalah: 1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consert. 2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya ( manfaat) lebih besar dari pada sisi buruknya (mudharat).

3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien, Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do no harm 4. Prinsip justice yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice). Sedangkan rules deviratnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). Selain prinsip atau kaidah dasar moral diatas yang harus dijadikan pedoman dakam mengambil keputusan klinis, professional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Sebagaimana diuraikan pada pendahuluan, nilai-nilai dalam etika profesi tercermin didalam sumpah dokter dank ode etik kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu kontrak moral antara dokter dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan kontrak kewajiban moral antara dokter dengan peer-groupnya yaitu manyarakat profesinya. Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada para dokter . meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi pemimpin dari kewajiban dalam hukum kedokteran. Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis. Etika Klinik 5 Pembuatan keputusan etik. Terutama dalam situasi klinik dapat juga dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler dan Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang essensial dalam pelayanan klinik yaitu: 1. Medical indikasi 2. Patient preferences 3. Quality of life

4. Contextual features Kedalam topic medical indikasi dimasukkan semua prosedur diagnostic dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari sisi etikanya, terutama menggunakan kaidah beneficence dan nonmaleficence, pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin informed consernt. Pada topic patient preference kita memperlihatkan nilai (value) dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy.pernyataan etiknya meliputi pernyataan tentang kompetensi paien, sifat volunteer sikap dan keputusannya,pemahaman atas informasi, siapa pembuatan keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien, dll. Topic quality of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedoteran, yaitu memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insane. Apa, siapa dan bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pernyataan etik sekitar prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, noonmaleficence, dan autonomy. Dalam contextual featurs dibahas pernyataan etik seputas aspek nonmedis yang mempengaruhi keputusan, seperti factor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya dan factor hukum. Etik dalam Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Didalam praktek, peran professional kesehatan khususnya dokter dapat terbagi ke dalam 3 model penjaga gawang yaitu peran tradisional, peran negative gatekeeper dan peran positive gatekeeper. Dalam peran tradisionalnya, dokter memikul beban moral sebagai penjaga gawang penyelenggaraan layanan kesehatan dan medis. Mereka harus menggunakan pengetahuan mereka untuk berpraktek secara kompeten dan rasional ilmiah. Petunjukknya harus diagnostic elegance (termasuk menggunakan cara yang memiliki tingkat ekonomi yang sesuai dalam mendiagnosis) dan therapeutic persinomy (memberikan terapi hanya yang secara nyata

bermanfaat dan efektif). Mereka harus mencegah adanya resiko yang tidak diperlukan kepada pasien yang berasal dari terapi yang meragukan dan menjaga sumber daya financial pasien. Dalam peran negative gatekeeper yaitu pada system kesehatan prabayar atau kapitasi, dokter diharapkan untuk membatasi akses pasien ke layanan medis. Pada peran ini jelag terjadi konflik moral pada dokter dengan tanggungjawab tradisionalnya dalam membela kepentingan pasien (prinsip beneficence ) dengan tanggungjawab barunya sebagai pengawal sumberdaya masyarakat/komunitas. Meskipun demikian, peran negative gatekeeper ini secara moral mungkin masih dapat di justifikasi. Tidak seperti peran negative yang banyak dideskripsikan secara terbuka, peran positive gatekeeper dokter sangat tertutup dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Dalam peran ini dokter diberdayakan untuk menggunakan fasiliatas medis dan jenis layanan hi-tech demi kepentingan profit. Bagi mereka yang mampu membayar disediakan fasilitas diagnostic dan terapi yang paling mahal dan mutakhir, layanan didasarkan kepada keinginan pasar dan bukan kepada kebutuhan medis. Upaya meningkatkan demand atas layanan yang sophisticated dijadikan tujuan yang implicit, dan dokter menjadi salesmannya. Mereka berbagi profit secara langsung apabila mereka pemilik atau inverstor layanan tersebut, atau mereka memperoleh penghargaan berupa kenaikan honorarium atau tunjangan apabila mereka hanya berstatus pegawai atau pelaksana. Tidak disangkal lagi bahwa peran positive gatekeeper telah membudaya bagi para dokter di kota-kota besar di Indonesia. Transaksi antara pasien dengan dokter menjadi transaksi komoditi biasa. Dokter menjadi entrepreneur atau sebagai agen dari sang entrepreneur. Etik para professional kesehatan menjadi menurun hingga ke bottom li ne ethics dan bukan lagi menjunjung tinggi nilai-nilai keutamaan (virtue ethics). Pertanyaan apa yang harus saya lakukan agar pasien bebas dari tuntutan menjadi dasar kerja dokter sebagai pengganti pertanyaan apa yang harus saya lakukan agar pasien memperoleh manfaat danlayanan profesi yang optimal. Orang yang sakit, dependen, gelisah, kurang pengetahuan, dan vulnerable dieksploitasi untuk keuntungan pribadi orang-orang tertentu. 5 KESIMPULAN

Euthanasia pasif, adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan euthanasia dari sudut kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan.Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan euthanasia, karena ada dua kendala. Pertama, dokter terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi lain, dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti melanggar kode etik kedokteran itu sendiri. Kedua, tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak pidana di negara mana pun.

DAFTAR PUSTAKA 1. Idries AM. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses penyidikan.Jakarta: Sagung Seto.2013. h.243-57. 2. Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedokteran. Edisi Pertama. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 1994. 3. Etika Kedokteran Indonesia. Diunduh dari: http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia/. 8 Januari 2014. 4. Hanafiah HJ. Pernyataan IDI tentang informed consent. Dalam: Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1999; hal. 279. 5. Sampurna Budi, et all. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Jakarta: Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 2007.