Anda di halaman 1dari 205

SAKSI BISU DUMB WITNESS by Agatha Christie 1937 Copyright 1937 by Agatha Christie Mallowan All rights reserved

d Alihbahasa: Indri K. Hidayat GM40284-109 Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Gambar sampul dikerjakan oleh Nana Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Juni 1984

Edited by: Farid ZE Blog Pecinta Buku PP Assalam Cepu

Untuk PETER anjingku sahabat dan sumber inspirasiku

Agatha Christie dilahirkan di Torquay dan didorong untuk menulis oleh Eden Phillpotts, penulis naskah sandiwara dari Devonshire. Dalam buku pertamanya, The Mysterious Affair at Styles, dia menciptakan Hercule Poirot, detektif Belgia yang kini sangat terkenal, sama terkenalnya dengan Sherlock Holmes ciptaan Conan Doyle. Buku pertamanya ini diterbitkan pada tahun 1920 dan karya besarnya, Pembunuhan Atas Roger Ackroyd, diterbitkan

pada tahun 1926. Agatha Christie menulis lebih dari tujuh puluh lima novel detektif, beberapa novel romantis - dengan memakai nama samaran Mary Westmacott - banyak cerita pendek dan sandiwara, termasuk The Mousetrap, yang masih tetap dimainkan setelah lebih dari dua puluh tahun. Banyak novelnya yang telah difilmkan, di antaranya Sepuluh Anak Negro, Pembunuhan di Sungai Nil, dan Pembunuhan di Atas Orient Express. Hercule Poirot akhirnya meninggal dalam Tirai, novel yang, meskipun sudah ditulis dua puluh tahun sebelumnya, baru diterbitkan sebelum Agatha Christie meninggal pada tahun 1976. Agatha Christie menikah dengan Sir Max Mallowan, arkeolog terkenal.

BAB I PEMILIK PURI HIJAU Nona Arundell meninggal pada tanggal satu Mei. Sakitnya hanya sebentar. Walaupun begitu kematiannya tidak terlalu mengejutkan Market Basing, kota kecil yang ditinggalinya sejak ia berusia enam belas tahun. Usia Nona Arundell sudah di atas tujuh puluh, dan sejak lama orang tahu bahwa kesehatannya kurang baik. Delapan belas bulan sebelum kematiannya, ia sudah hampir menghembuskan napas terakhir akibat serangan penyakit yang sama. Kematian puteri terakhir dari kelima anak almarhum Jenderal Arundell itu memang tidak mengejutkan siapa pun. Tetapi ada satu ha yang mengejutkan. Surat wasiatnya! Membaca isinya, berbagai reaksi bisa timbul di hati orang: heran, gembira, marah, putus asa, dan tentu saja gosip. Berminggu-minggu. bahka berbulan-bulan setelahnya masih itu juga yang dipercakapkan orang di Market Basing. Setiap orang punya opini tersendiri. Dari Tuan Jones penjual sayur, sampai ke Nyonya Lamphrey yang pegawai kantor pos. "Pasti ada apa-apanya. Kau ingat saja katakataku ini." Begitu dikatakan Nyonya Lamphrey kepada setiap orang yang dijumpainya. Yang menambah kecurigaan orang: surat itu baru dibuat pada tanggal dua puluh satu April. Di samping itu beberapa keluarga terdekat Nona Arundell datang tepat

sehari sebelum Paskah. Fakta-fakta ini menjadi semacam bahan pergunjingan yang menyenangkan bagi masyarakat Market Basing yang sehari-harinya hidup monoton. Ada satu orang yang diduga kuat tahu lebih banyak daripada yang mau diakuinya. Dia adalah Nona Wilhelmina Lawson, wanita yang bekerja sebagai pelayan pribadi Nona Arundell. Namun, seperti yang lain-lain, Nona Lawson pun menyatakan terkejut sekali ketika surat wasiat itu dibacakan. Banyak orang tak percaya akan pernyataan Nona Lawson. Tapi hanya seorang yang mengetahui kebenarannya, dan orang itu sudah mati. Emily Arundell. Ia lebih suka menyimpan 'kebijaksanaan'nya dalam dirinya sendiri. Bahkan kepada penasihat hukumnya sekali pun, wanita itu tak pernah mengemukakan motif yang melatarbelakangi tindakannya. Ia hanya menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang diinginkannya. Sikapnya yang 'pendiam' itu merupakan kunci watak wanita yang dalam segala hal betul-betul mewakili produk generasinya. Ia memiliki kebaikan sekaligus keburukannya. Ia keras dan sering menjengkelkan, namun hatinya penuh kehangatan. Kata-katanya tajam, tetapi tindakannya selalu mencerminkan kebaikan hatinya. Dari luar ia nampak sentimental, namun di dalam ia cerdik. Sering ia mengancam teman-temannya, tapi tak jarang pula mereka menikmati kemurahan hati wanita itu. Ia mempunyai rasa tanggungjawab yang sangat besar terhadap keluarga. Hari Jumat sebelum Paskah, Emily Arundell berdiri di ruang tamu Puri Hijau sambil memberi bermacam-macam perintah kepada Nona Lawson. Kecantikan dan keanggunannya tidak hilang dimakan usia. Ia masih tetap tegak dan tegap. Geraknya gesit. "Di mana saja kauatur tempat tidur mereka?" tanyanya. "Emm - mudah-mudahan yang saya lakukan tidak salah - Dokter dan Nyonya Tanios di Ruang Tidur Jati, Theresa di Ruang Tidur Biru, dan Tuan Charles di bekas kamar tidur anak-anak dulu...." "Tempatkan Theresa di kamar anak-anak dan Charles di Ruang Tidur Biru," sela Nona Arundell. "Baik, Nona. Maafkan saya Saya pikir kamar anak-anak kurang sesuai untuk ..." "Kamar itu cukup bagus untuk Theresa." Pada zamannya, wanita selalu menduduki tempat kedua. Laki-laki dianggap anggota masyarakat yang terpenting. "Sayang anak-anak tidak ikut datang," kata Nona lawson. Walaupun kurang bisa menguasai anak-anak, wanita itu sangat menyukai mereka.

"Empat tamu sudah cukup banyak," komentar Nona Arundell. "Bella terlalu memanjakan anak-anaknya," tambahnya. "Itu sebabnya mereka kurang bisa menurut." Minnie Lawson berkata, "Nyonya Tanios - wanita itu ibu yang baik sekali." Nona Arundell mengiyakan, "Ia memang baik sekali." "Tentu berat hidup di daerah terpencil macam Smyrna," ujar Minnie Lawson sambil menghela napas. "Itu kemauannya sendiri. Ia harus menanggung sendiri risikonya," kata Nona Arundell menimpali. "Sebaiknya aku ke kota sekarang - membereskan pesanan kita untuk malam Minggu nanti." "Biar saya saja yang pergi," cegah Nona Lawson. "Sebaiknya aku pergi sendiri. Rogers perlu sedikit kata-kata keras, dan kau - kau agak kurang tegas, Minnie. Bob! Mana anjing itu?" Seekor anjing terrier berbulu keriting melompat-lompat menuruni tangga menghampiri tuannya. Ia berputar-putar sambil menyalak-nyalak gembira. Keduanya ke luar melintasi pintu depan dan jalan setapak yang teratur rapi di halaman menuju ke pintu gerbang utama. Masih di pintu, Nona Lawson berdiri menyaksikan kepergian mereka sambil tersenyum seperti orang pandir. Tiba-tiha terdengar suara serak di belakangnya. "Sarung bantalnya, Non - yang Non berikan tadi bukan pasangannya." "Oh? Apa iya? Bodohnya aku ini...." Maka Nona Lawson pun kembali menekuni tugas rutinnya dalam rumah tangga Puri Hijau. *** Emily Arundell. Didampingi Bob, nampak sebagai pemandangan yang mewah berjalan menelusuri jalan utama Market Basing. Ia orang kaya yang sangat dihormati. Di setiap toko yang dimasukinya, Emily Arundell selalu disambut dengan tergopoh-gopoh oleh pemilik toko sendiri. Semua orang tahu siapa wanita itu: Pemilik Puri Hijau, Wanita hasil didikan masa lalu yang kini jarang didapati. "Selamat pagi, Nona. Bisa saya bantu? Kurang halus? Oh, maaf. Baiklah kalau itu memang yang Nona inginkan. Tidak. Tentu saja kami tak akan mengirimkan barang yang kurang bagus ke Puri Hijau. Ya, Nona - akan saya awasi sendiri pengirimannya." Di toko penjual sayur nampak beberapa orang wanita. Satu di antaranya berpakaian mewah walau tubuhnya sedikit kegemukan. "'Pagi, Emily," sapa wanita itu. "Oh. Pagi, Caroline."

Caroline Peabody bertanya. "Menunggu tamu dari kota?" "Ya. Mereka datang semua: Theresa, Charles, dan Bella." "Jadi, Bella juga pulang?" "Ya." Sepatah kata. Tapi keduanya tahu betul apa yang tersirat di dalamnya. Bella Winter, kemenakan Emily Arundell, menikah dengan orang Yunani. Tidak ada seorang pun dari Keluarga Arundell yang 'ningrat' itu menikah dengan bangsa yang dipandang rendah. Untuk mengenakkan suasana yang menjadi canggung, Caroline Peabody berkala, "Suami Bella sangat cerdas dan menyenangkan." "Betul," sambut Nona Arundell. Ketika keduanya meninggalkan toko penjual sayur, Nona Peabody bertanya, "Kudengar Theresa bertunangan dengan anak Donaldson?" Nona Arundell mengangkat bahu. "Anak muda zaman sekarang - pikiran mereka terlalu pendek." ujarnya. "Kalau huhungan mereka serius, kupikir mereka tidak bisa cepat-cepat kawin. Pemuda itu tak puma uang." "Tapi Theresa toh punya uang," komentar Caroline Peabody. Dengan kaku Nona Arundell menyahut, "Mana ada laki-laki mau dihidupi isterinya?" Nona Peabody tertawa. "Buat anak muda zaman sekarang, kelihatannya itu tidak jadi soal. Kau dan aku sudah kolot, Emily. yang tak bisa kumengerti cuma satu: apa yang dilihat Theresa pada diri laki-laki itu." "Dia dokter yang pandai." "Huh. Kaku, susah diajak bicara. Pada zaman kita dulu laki-laki macam begitu jadi bahan bulan-bulanan." Percakapan berhenti sejenak sementara Nona Peabody membayangkan pemudapemuda yang tampan dan menawan pada zamannya .... Sambil menarik napas panjang ia berkata, "Suruh Charles main-main ke tempatku, kalau dia datang." "Tentu. Akan kusampaikan pesanmu." Kedua wanita itu berpisah. Mereka sudah saling mengenal sejak lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Nona Peabody tahu benar beberapa hal yang mengecewakan. dalam kehidupan Jenderal Arundell, ayah Emily. Ia tahu juga bahwa perkawinan Thomas Arundell sangat mengejutkan saudara saudara perempuannya. Itulah sebabnya sangat mudah bagi Caroline Peabody menarik kesimpulan tentang apa yang terjadi pada generasi muda Arundell. Meskipun demikian, Emily dan Caroline tak pernah menyinggung-nyinggung masalah yang peka ini dalam pembicaraan mereka. Keduanya sangat menjunjung

tinggi kehormatan keluarga, berjiwa solider, dan sangat tertutup mengenai persoalan keluarga. Theresa misalnya. Kehidupan gadis itu tidak lagi bisa dikuasai oleh Emily sejak ia berpenghasilan sendiri pada usia dua puluh satu. Ia menjadi gadis yang terkenal sejak itu. Potretnya sering dimuat di majalah. Dan ia menjadi anggota kehidupan bebas yang penuh pesta pora di London. Pesta yang sering berakhir di Kantor Polisi. Popularitas semacam itu bukan untuk anggota Keluarga Arundell. Begitu pikir Emily. Ia sangat menentang cara hidup Theresa. Menanggapi pertunangannya, Emily merasa ragu. Pertama, karena ia menganggap Dokter Donaldson kurang memenuhi standar untuk Keluarga Arundell. Kedua, ia sadar bahwa Theresa tak mungkin bisa menjadi isteri yang baik bagi dokter desa itu. Pikiran wanita itu beralih pada Bella. Bella tak ada kekurangannya. Dia wanita yang baik sekali -seorang ibu dan isteri yang penuh kasih sayang. Tindaktanduknya patut dicontoh - tapi, agak membosankan! Meskipun begitu Bella belum bisa dianggap sempurna. Bella kawin dengan orang asing - dan, bukan sekedar orang asing. Orang Yunani. Bagi Emily Arundell orang Yunani tidak lebih daripada orang Yahudi. Sikap dan tingkah laku Dokter Tanios yang menyenangkan serta kepandaiannya yang tersohor tidaklah menambah nilai pria itu di mata Emily Arundell. Ia curiga terhadap sikap dan pujian yang sering kali dilontarkan olehnya. Dan untuk alasan ini pulalah Emily sukar untuk menyukai kedua anak mereka. Keduanya sangat mirip dengan ayahnya - tak sedikit pun darah Inggris nampak pada diri mereka. Dan kemudian Charles .... Ya, Charles .... Tak ada gunanya membutakan diri terhadap fakta. Charles sangat tampan dan menyenangkan. Tapi ia tak bisa dipercaya .... Emily Arundell mengeluh. Tiba-tiba saja ia merasa lelah, tua, dan begitu sedih .... Rasanya tidak lama lagi ia bisa bertahan.... Pikirannya melayang pada surat wasiat yang dibuatnya bertahun-tahun yang lalu. Sedikit untuk pembantu-pembantu yang setia, dan sedikit untuk yayasan sosial bagian terbesar dari kekayaannya akan dibagi rata di antara ketiga orang yang merupakan keluarga terdekatnya yang masih hidup... Tak ada salahnya membuat rencana seperti itu. Hanya saja. terlintas dalam pikirannya - kalau-kalau ada cara yang bisa mencegah Bella mendapatkan warisan itu. Emily tak rela suami Bella menyentuh uangnya ... ia akan menanyakan hal ini kepada Tuan Purvis. Emily Arundell membelok dan memasuki pintu gerbang Puri Hijau.

Charles dan Theresa Arundell tiba dengan menumpang mobil - sedang suami-isteri Tanios dengan kereta api. Charles dan adiknya datang lebih dahulu. Tinggi, tampan dan dengan sikapnya yang sedikit mengejek, Charles menyapa bibinya, "Halo, Bibi Emily! Apa kabar? Kelihatannya Bibi sehat-sehat saja." Lalu diciumnya pipi wanita tua itu. Theresa menempelkan pipinya yang penuh dan segar pada pipi Emily yang telah tampak keriput. "Apa kabar, Bibi Emily?" Kelihatannya Theresa kurang sehat, pikir Emily. Di balik make-up-nya yang tebal, ia kelihatan pucat. Dan di sekeliling matanya nampak lingkaran gelap. Mereka minum teh di Ruang Santai. Bella tak henti-hentinya memandang saudara sepupunya, Theresa, mencoba mengingat seteliti mungkin model baju yang dikenakannya. Bella sangat menyukai pakaian. Sayangnya, ia tidak mempunyai selera yang bagus. Pakaian Theresa mahal, dan modelnya sedikit berani. Tapi tubuh Theresa memang bagus dan cocok untuk pakaiannya. Ketika datang ke London dari Smyrna, Bella mencoba meniru keanggunan Theresa. Tetapi kelihatannya murahan dan tidak cocok dengan pribadinya. Dokter Tanios bertubuh besar, berjanggut tebal, dan pembawaannya selalu gembira, ia berbicara dengan Nona Arundell. Suaranya hangat dan sangat mempesona orang yang mendengarnya. Bahkan. Nona Arundell pun terpesona. Nona Lawson sangat sibuk. Ia mondar-mandir membawa piring berisi kue-kue dan menyiapkan minuman untuk tamu-tamunya. Beberapa kali Charles berdiri membantunya. Tapi sedikit pun Nona Lawson tidak menunjukkan rasa terima kasih. Setelah selesai minum teh, mereka berjalan-jalan di taman. Charles berbisik kepada adiknya, "Lawson tak menyukaiku. Aneh, bukan?" Dengan mengejek Theresa berkata, "Sangat aneh. Jadi terbukti masih ada orang yang tidak tunduk oleh pikatan pesonamu, Charles." Charles meringis. Katanya, "Untungnya cuma Nona Lawson...." Di taman, Nona Lawson berjalan dekat Nyonya Tanios. Ia menanyakan keadaan anak-anak. Wajah Bella Tanios menjadi hidup. Dan, ia lupa mengamati Theresa. Dengan penuh semangat ia berceritera tentang kedua anaknya. Bella merasa Minnie Lawson mendengarkan ceriteranya dengan penuh simpati. Seorang laki-laki berwajah serius dan berkacamata tempel dipersilakan menemui mereka di halaman oleh seorang pelayan. Laki-laki berambut pirang itu kelihatan malu-malu.

Nona Arundell menyapanya dengan sopan. Theresa berseru, "Halo, Rex!" Ia menggelayut pada lengan laki-laki itu. Lalu mereka berdua pergi. Charles mencibir. Ia pun berlalu dan menghampiri tukang kebun yang dulu pernah menjadi sahabatnya. Ketika Nona Arundell masuk kembali ke dalam rumah, Charles sedang bermainmain dengan Bob. Bob berdiri di puncak tangga. Di mulutnya tergigit bola mainannya. Ekornya bergerak-gerak. "Ayo, Bob!" seru Charles. Bob perlahan-lahan melipat kaki belakangnya dengan bola masih di moncongnya. Kemudian dengan hati-hati anjing itu mendorong bolanya semakin ke pinggir mulutnya. Ketika bolanya terlepas dan menggelinding ke bawah, ia berdiri sambil menyalak-nyalak gembira. Charles memungut bola itu dan melemparkannya kembali kepada Bob. Bob menangkap dengan mulutnya. Dan permainan pun diulang berkali-kali. "Ini mainannya sehari-hari," ujar Charles. Emily Arundell tersenyum. "Kalau diteruskan, dia kuat bermain berjam-jam," katanya. Nona Arundell masuk ke Ruang Santai, dan Charles mengikutinya. Bob menyalaknyalak menarik perhatian. Ketika dilihatnya Charles terus mengikuti tuannya, anjing itu tampak kecewa. Sambil memandang ke luar jendela, Charles berkata, "Lihatlah Theresa dan pemuda idamannya itu. Pasangan yang aneh!" "Kaupikir Theresa serius?" "Oh. Theresa sangat tergila-gila padanya!" ujar Charles. "Aneh. Tapi begitu adanya. Mungkin karena caranya memandang Theresa. Ia memandang Theresa bukan sebagai wanita hidup melainkan sebagai preparat yang hendak diselidiki. Theresa suka diperlakukan begitu. Kasihan. Laki-laki itu miskin. Selera Theresa mahal." Acuh tak acuh, Nona Arundell berkata, "Theresa bisa mengubah cara hidupnya kalau dia mau. Dan lagi dia punya penghasilan." "Apa? Oh, ya. Tentu saja." Pandangan Charles memancarkan rasa bersalah. Ketika mereka sedang duduk-duduk di Ruang Santai sambil menanti siapnya santapan malam, tiba-tiba terdengar bunyi berdembam dari arah tangga- Charles masuk dengan wajah merah. "Maaf, Bibi Emily. Terlalu lama menungguku? Hampir saja aku jatuh dari loteng. Anjing itu - dia meninggalkan bolanya di atas." "Kau sembrono, Bob," seru Nona Lawson sambil membungkuk dekat Bob - Bob memandangnya dengan penuh kebencian, dan kemudian memalingkan muka.

"Itu sangat berbahaya," ujar Nona Arundell. "Minnie, ambil bolanya dan simpan." Tergopoh-gopoh Nona Lawson keluar. Di meja makan, Dokter Tanios memonopoli percakapan. Ia menceriterakan kehidupannya yang menyenangkan di Smyrna. Mereka masuk ke kamar masing-masing tak lama setelah selesai makan malam. Sambil membawa gulungan benang wol, kacamata, tas beludru, dan sebuah buku, Nona Lawson mengantarkan majikannya ke ruang tidurnya. Dengan wajah berseri-seri ia berceloteh. "Sangat menyenangkan laki-laki itu Dokter Tanios. Bella tentu senang ditemani laki-laki seperti dia setiap saat. Meskipun, oh, aku tak berani membayangkan hidup di daerah terpencil seperti itu. Air harus dimasak dulu. Susu cuma ada susu kambing.... Hi, bagaimana rasanya?" Nona Arundell menyela, "Sudah kaukatakan pada Ellen supaya membangunkanku jam setengah tujuh?" "Ya, Nona Arundell. Sudah saya katakan juga dia tak perlu menyiapkan teh, tapi tidakkah lebih baik .... Maksud saya, Pendeta di Southbridge yang terkenal paling bijaksana itu mengatakan bahwa sebetulnya tidak wajib kita puasa sebelum...." Sekali lagi Nona Arundell menyela, "Aku belum pernah makan atau minum apa pun sebelum Misa pagi, dan aku tidak akan membiasakan begitu. Kalau kau lebih suka makan atau minum dulu, silakan." "Bukan begitu maksud saya ...." Nona Lawson merasa tersinggung dan malu. "Lepaskan ikat leher Bob," perintah Nona Arundell. Buru-buru Nona Lawson melaksanakan perintah majikannya. Berusaha menyenangkan hati majikannya, ia berkata, "Malam ini sangat memenangkan. Mereka semuanya kelihatannya senang di sini." "Hmm," komentar Nona Arundell, "mereka ke sini untuk mendapatkan yang mereka ingini." "Oh, Nona Arundell ..." "Minnie, aku sama sekali bukan orang bodoh! Aku cuma ingin tahu, siapa di antara mereka yang berani mengatakan lebih dulu." Rasa ingin tahu Nona Arundell tidak berusia panjang. Keesokan paginya, ketika ia pulang dari Misa pagi bersama Nona Lawson kurang lebih pukul sembilan. Dokter dan Nyonya Tanios sedang duduk-duduk di Ruang Makan Kakak beradik Arundell tidak kelihatan. Setelah sarapan, sementara yang lain meninggalkannya, Nona Arundell duduk menuliskan sesuatu di buku notesnya. Charles masuk kurang lebih pukul sepuluh. "Maaf kesiangan. Bibi Emily. Tapi Theresa lebih-lebih lagi. Dia belum bangun." "Setengah sebelas sarapan akan dibersihkan dari meja. Zaman sekarang memang jadi mode: tidak peduli dengan jadwal kerja pembantu. Tapi, tidak begitu di rumahku." "Bagus!" ujar Charles.

Ia mengambil sepotong daging, dan duduk di dekat bibinya. Seperti biasa, tawa dan senyumnya sangat mempesona. Emily Arundell pun tersenyum sayang kepadanya. Merasa mendapat angin, Charles berkata, "'Bibi Emily - maaf kalau aku merepotkan. Tapi aku sedang perlu sekali uang. Aku harus melunasi utang. Bisa Bibi menolongku? Seratus saja." Wajah bibinya menjadi kaku, dan pandangannya menunjukkan rasa tidak senang. Emily Arundell bukan orang yang takut mengemukakan pikirannya. Dan ia pun mengatakan dengan terus terang apa yang ada dalam otaknya. *** Di Ruang Tamu, hampir saja Nona Lawson bertubrukan dengan Charles yang keluar dari Ruang Makan. Diliriknya pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Ketika ia masuk ke Ruang Makan, didapatinya Nona Arundell duduk tegak dengan wajah merah padam.

BAB 2 KELUARGA Charles berlari ke loteng dan mengetuk pintu kamar tidur adiknya. Jawaban, "Masuk", terdengar seketika. Dan Charles pun masuk. Theresa duduk di atas tempat tidurnya sambil menguap. Charles mendekatinya, dan duduk di sisi tempat tidur. "Kau cantik sekali, Theresa," ujarnya sambil memandangi adiknya dengan kagum. Dengan tajam Theresa berkata, "Apa?" Charles meringis. "Hmm, judesnya. Aku mendahuluimu, Sayang." "Lalu?"" Charles merentangkan tangannya ke bawah sambil mengangkat bahu. "Tak ada gunanya! Bibi Emily menempatkanku di tempatku. Dia menyatakan bahwa dia tidak punya bayangan tentang mengapa keluarga terdekatnya berkumpul di

dekatnya. Dan dia juga menyebutkan, bahwa keluarga terdekat yang katanya menyayanginya itu akan kecewa." "Mestinya kau menunggu dulu," ujar Theresa tak acuh. Charles tersenyum. "Aku takut kau atau Tanios mcndahuluiku. Dan aku sungguh kuatir, Theresa, kita gagal kali ini. Bibi Emily bukan orang bodoh." "Tak ada yang pernah mengatakan dia bodoh." "Aku malah mencoba memberinya angin." "Maksudmu?" "Kukatakan dia pandai sekali. Tapi, bagaimanapun dia tak akan bisa membawa kekayaannya ke kubur. Mengapa dia tak mau melepaskannya sedikit?" "Kau bodoh, Charles!" "Sama sekali tidak! Aku cuma sedikit mempraktekkan teori psikologi Tak baik selalu membenarkan kata perempuan tua itu. Dan aku cuma menyatakan apa yang masuk di akal. Kalau dia mati, kita toh akan mendapat uangnya -- tak ada salahnya kan kalau dia mulai berpisah dengan hartanya sedikit demi sedikit?... Supaya kita tidak tergoda mempercepat prosesnya." "Dia tahu maksudmu?" tanya Theresa marah. "Itu, aku kurang yakin. Dia tidak mengatakan apa-apa. Cuma bilang terima kasih dengan agak tajam- atas nasihatku, dan bahwa dia bisa menjaga diri. 'Pokoknya aku sudah mengingatkan,' kataku. Dan dia menjawab. Aku tak akan melupakannya.' " Dengan sangat marah Theresa berkata, "Kau betul-betul bodoh, Charles." "Aku tak peduli, Theresa. Aku dalam kesusahan. Dan perempuan tua itu hidup dengan enaknya - enak sekali, tanpa banyak pengeluaran. Paling- paling ia menggunakan tak lebih dari sepersepuluh pendapatannya. Buat apa sih? Dia tak perlu apa-apa! Sedang kita - muda, saatnya menikmati hidup! Tapi... Oh, sekedar untuk memukul kita, aku yakin perempuan itu bisa bertahan hidup sampai seratus tahun. Aku ingin bersenang-senang sekarang.... Kau pun begitu...." Theresa mengangguk. Perlahan-lahan dan sedikit tersendat-sendat, Theresa berkata, "Mereka tidak mengerti. Orang-orang tua itu... mereka tidak dapat mengerti.... Mereka tak tahu apa artinya hidup ini!" Beberapa menit kakak beradik itu terdiam. Charles bangkit. "Selamat berjuang. Mudah-mudahan kau berhasil. Tapi aku tak yakin." "Aku agak menggantungkan diri pada Rex - sebagai taktik. Kalau saja aku bisa meyakinkan Emily tentang kepandaiannya - dan tentang kesempatan yang bisa didapatnya bila ia tak perlu bergumul dengan pasien di kampung untuk mencari nafkah.... Oh, Charles, dengan modal beberapa ribu saja, dunia kita akan lain sekali!"

"Kudoakan kau berhasil. Tapi aku ragu. Kau selama ini agak terlalu boros. Theresa, bagaimana menurut pikiranmu? Mungkinkah Bella atau Tanios mendapatkan sesuatu?" "Aku tak bisa melihat manfaat uang buat Bella. Seleranya terlalu murah." "Mungkin bukan untuk dirinya sendiri. Tapi Bella pasti butuh uang untuk anakanaknya. Uang sekolah, les musik, makanan bergizi.... Yah... bukan Bella, kupikir. Tapi Tanios. Dia suka sekali uang. Kau tahu kan, uang Bella dipakainya berspekulasi, dan akhirnya hilang begitu saja." "Kaupikir Bibi Emily akan memberinya warisan?" "Tidak. Akan kuusahakan ia tak mendapat apa-apa," ujar Charles geram. Charles turun ke ruang bawah. Bob ada di ruang tamu. Anjing itu dengan gembira menyambut kedatangan Charles. Bob berlari-lari kecil menuju Ruang Santai. Sesampai di pintu, ia menengok ke belakang - menarik perhatian Charles. "Ada apa?" tanya Charles sambil mengikutinya. Bob melompat ke dalam dan duduk menanti di dekat sebuah lemari kecil. Charles mendekatinya. "Apa maksudmu?" Bob menggoyang-goyangkan ekornya dan memandang tajam ke arah laci lemari itu sambil mengeluarkan suara aneh seolah mengharapkan sesuatu. "Ingin sesuatu di dalam situ?" Charles menarik laci yang paling atas. "Oh, oh... aku tahu sekarang," ujarnya sambil alisnya terangkat. Di sudut laci didapatinya setumpuk uang. Charles mengambil tumpukan itu dan menghitungnya. Dengan tersenyum lebar diambilnya tiga Lembar uang pound, dua lembar uang puluhan shilling dan dimasukkannya ke dalam sakunya. Sisanya dikembalikannya ke sudut laci. "Idemu bagus, Bob," katanya. "Pamanmu Charles akhirnya dapat jalan keluar. Setidaknya ada uang tunai tersedia di tangan." Bob menyalak galak waktu Charles menutup kembali laci. "Maaf, Bob," ujarnya sambil menarik laci yang kedua. Di sudut laci itu, terlihat bola mainan Bob. Charles mengambilnya. "Nih, bermainlah sepuas hatimu." Bob menangkap bola yang dilemparkan Charles kepadanya. Sementara Bob bermain dengan riangnya, Charles keluar menuju halaman. Udara segar, dan matahari bersinar cerah. Wangi bunga lili semerbak menusuk hidungnya. Dokter Tanios duduk di samping Nona Arundell. Ia sedang membicarakan bagusnya pendidikan Inggris untuk anak-anak, dan menyatakan penyesalannya bahwa ia tak sanggup membiayai pendidikan seperti itu untuk anak-anaknya.

Charles tersenyum sinis. Ia menggabungkan diri dalam percakapan mereka, dan sedikit demi sedikit mengalihkan topik pembicaraan. Emily Arundell tersenyum lembut kepadanya. Dalam hati Charles merasa bibinya senang ia mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lain. Semangat Charles tumbuh kembali. Mungkin, akhirnya, sebelum pulang ia... Charles orangnya terlalu optimis. *** Dokter Donaldson menjemput Theresa dengan mobilnya siang itu. Mereka pergi ke Worthem Abbey, salah satu gereja yang terindah. Dari situ mereka berjalan-jalan ke hutan kecil yang tak jauh letaknya dari gereja itu. Di sana Rrx menceriterakan kepada Theresa tentang teori-teorinya dan juga tentang beberapa percobaannya. Theresa kurang mengerti, tetapi ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Dalam hati ia berkata, "Bukan main pandainya Rex- dan ia begitu mempesona." Tunangannya berhenti bicara, dan dengan ragu-ragu ia berkata, "Ceriteraku membosankan, Theresa?" "Oh, sama sekali tidak. Ceriteramu sangat menarik. Sayang," ujar Theresa tegas. "Lanjutkan. Kau mengambil darah kelinci yang sakit itu, lalu..." Dokter Donaldson melanjutkan ceriteranya. Aneh rasanya bagi Theresa. Hampir tak ada di antara kawan-kawannya yang bekerja seserius Rex. Kalau toh ada yang bekerja, mereka selalu berkeluh kesah. Seperti telah sekali atau dua kali terlintas dalam pikirannya, gadis itu merasa aneh bahwa dirinya bisa jatuh cinta pada Rex Donaldson. Mengapa hal yang sama sekali tak masuk akal dan gila ini bisa terjadi? Terjadi pada dirinya? Dahinya berkerut. Pikirannya melayang kepada kawan-kawannya. Mereka hidup bebas ceria, dan sangat sinis. Cinta, bagi mereka, perlu untuk hidup. Tapi buat apa terlalu serius memikirkannya? Mereka jatuh cinta dan tak lama kemudian berpisah. Jatuh cinta lagi - dan berpisah lagi. Tapi perasaannya terhadap Rex Donaldson ini lain; lebih dalam daripada yang pernah dirasakannya sebelumnya. Ia merasa, kali ini tak mungkin ia berpisah untuk jatuh cinta lagi dengan yang lain. Ia sangat membutuhkan Rex. Segalanya pada diri Rex membuatnya terpesona. Ketenangan dan kesendiriannya sungguh berbeda dengan kawan-kawannya yang ribut dan tak pernah berpikir, pikirannya yang jernih dan penuh ilmu, serta sesuatu yang lain - yang tak pernah dapat dimengerti olehnya secara sempurna namun bisa dirasakan melalui instingnya - kekuatan tersembunyi yang ada dalam diri laki-laki bersikap sederhana dan patuh ini.

Ia tahu bahwa Rex sangat jenius, dan bahwa baginya profesi merupakan yang paling utama. Ia sadar bahwa bagi Rex ia hanya merupakan sebagian kecil saja dari kehidupan yang diperlukannya. Kesadaran ini menambah daya tarik Rex baginya. Kali ini Theresa menyadari dengan sepenuh hati dan pikirannya, bahwa ia untuk pertama kalinya mau menerima tempat kedua. Ini sangat menarik hatinya. Untuk Rex, ia mau melakukan apa saja - apa saja! "Betapa besarnya arti uang," ujar Theresa menerawangjauh ke depan. "Kalau saja Bibi Emily meninggal, kita bisa segera kawin dan kau bisa pergi ke London. Di sana kau bisa punya laboratorium sendiri lengkap dengan kelinci-kelinci percobaannya dan kau tak perlu lagi bekerja keras mengobati anak-anak yang sakit campak dan wanita-wanita tua berpenyakit lever." Donaldson berkata, "Bibimu bisa hidup sampai bertahun-tahun lagi. Kalau dia berhati-hati." "Aku tahu..." *** Di Ruang Tidur berukuran besar dengan perabotannya yang kuno. Dokter Tanios berkata kepada isterinya, "Aku sudah mempersiapkan jalannya. Sekarang giliranmu, Sayang." Dokter Tanios menuangkan air dari dalam sebuah galon ke sebuah baskom cina berhiaskan gambar mawar. Bella Tanios duduk di depan kaca rias. Ia mencoba menyisir rambutnya seperti Theresa, tapi hasilnya tidak sebagus yang diinginkannya. Ia tidak segera menjawab. "Aku tak mau - minta uang pada Bibi Emily," katanya. "Uang itu bukan untuk dirimu sendiri, Bella; untuk anak-anak. Kita sudah mencoba untuk menginvestasikan apa yang kita miliki, tetapi gagal." Bella melirik suaminya. Tapi laki-laki itu tak tahu karena ia membelakangi isterinya. "Apa pun alasannya, lebih baik tidak.... Bibi Emily orangnya susah dimengerti. Dia murah hati, kadang-kadang, tapi ia tak suka kalau kita meminta." balas Bella sedikit keras kepala. Tanios mendekati isterinya sambil mengeringkan tangannya dengan handuk. "Kau biasanya tidak keras begini, Bella. Ingat, buat apa kita jauh-jauh datang ke sini?" Bella bergumam, "Aku tak pernah berpikir... maksudku,... bukan untuk minta uang..." "Tetapi kau setuju bahwa satu-satunya harapan kita untuk bisa menyekolahkan anak-anak dengan pantas - cuma dengan bantuan bibimu."

Bella Tanios tidak menjawab. Ia bangkit dan berjalan tanpa tujuan. Wajahnya tetap lembut. Suami yang pandai sering menggunakan kelemahlembutan isterinya sebagai senjata. Akhirnya Bella berkata, "Siapa tahu Bibi Emily sendiri akan mengusulkan..." "Mungkin saja, tapi aku belum melihat tanda-tandanya sejauh ini." "Coba anak-anak kita bawa. Bibi Emily pasti sangat menyayangi Mary. Dan Edward begitu cerdas..." Tanios menimpali, "Kupikir bibimu kurang suka pada anak-anak. Tak ada gunanya membawa mereka." "Oh, Jacob...." "Ya, ya, Sayang. Aku tahu perasaanmu. Tapi perawan tua Inggris yang satu ini ... Bah! Dia bukan manusia. Dan, kita ingin berbuat yang sebaik-baiknya untuk anakanak kita, bukan? Memberikan bantuan sedikit buat kita tak akan memberatkan Nona Arundell." Nyonya Tanios berpaling kepada suaminya. Wajahnya merah padam. "Oh, Jacob, jangan sekarang. Memang itu kurang bijaksana. Tapi aku.... Oh, lebih baik tidak." Tanios berdiri dekat di belakang isterinya,lengannya merangkul bahunya. Bella merinding, namun ia diam - betul-betul diam. Tanios, dengan suara lembut, berkata, "Bagaimanapun juga, Bella, kupikir kupikir kau mau melakukan apa yang kuminta.... Biasanya kau mau, meskipun mula-mula menolak.... Ya, kupikir kau mau melakukan apa yang kukatakan...."

BAB 3 KECELAKAAN Selasa sore. Pintu samping yang menuju ke halaman terbuka. Nona Arundell berdiri di ambang pintu dan melemparkan bola kepada Bob yang kemudian berlarilari mengejarnya. "Sekali lagi, Bob," ujar Emily Arundell. "Yang bagus kali ini." Sekali lagi bolanya menggelinding, dan Bob berlari mengejarnya dengan sekuat tenaga.

Nona Arundell membungkuk, memungut bola dari tempat Bob meletakkan dekat kakinya, dan kemudian masuk. Bob mengikutinya dari belakang Emily Arundell menutupkan pintu samping, dan masuk ke Ruang Santai. Dengan Bob masih mengikutinya, Emily Arundell menarik laci dan menyimpan bola Bob di tempatnya. Ia memandang jam dinding di atas perapian. Pukul setengah tujuh. "Istirahat sebentar sebelum makan malam, Bob." Emily Arundell menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Bob menemaninya Berbaring di dipan dengan Bob mendengus-dengus di kakinya, Emily Arundell mengeluh. Lega rasanya sudah hari Selasa. Besok tamu-tamunya akan pulang. Malam Minggu kemarin tidak menambah pengetahuannya, cuma saja lebih meyakinkan apa yang telah lama diketahuinya. Ia semakin yakin bahwa ia harus mempercayai pikirannya sendiri. Kepada dirinya sendiri ia berkata, "Aku semakin tua, kupikir..." Dan kemudian dengan agak terkejut, "Aku memang sudah tua...." Ia berbaring dengan mata terpejam kurang lebih setengah jam lamanya. Kemudian Ellen datang membawakan air panas untuk mandi. Emily Arundell bangkit dan mulai menyiapkan diri untuk makan malam. Dokter Donaldson diundang makan malam. Emily Arundell ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengenal dari dekat pemuda idaman Theresa. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Theresa yang begitu cemerlang ingin menikah dengan laki-laki yang kaku dan serius ini. Ia juga tak bisa menerima bahwa laki-laki yang kaku dan serius itu ingin menikah dengan perempuan macam Theresa. Meskipun demikian, tak banyak hasil yang diraih Emily. Malam semakin larut, tetapi tak sedikit pun pengetahuannya tentang Rex Donaldson bertambah. Pemuda itu sangat sopan dan sikapnya resmi. Pada pikirannya, pemuda itu sedikit membosankan. Diam-diam ia setuju dengan pendapat Nona Peabody. "Memang, jauh lebih menarik pemuda-pemuda zaman kami dulu." Dokter Donaldson tak tinggal sampai larut malam. Pukul sepuluh ia sudah mohon diri. Setelah pemuda itu pulang, Emily pun pamit -ingin tidur agak sore. Ia pergi ke atas, begitu juga tamu-tamunya. Mereka sedikit diam malam ini. Nona Lawson tinggal di bawah menyelesaikan tugasnya: melepaskan Bob supaya berlari-lari sebentar sebelum tidur, mematikan api di perapian, memeriksa pintupintu dan jendela, menggulung karpet supaya jauh dari api. Kurang lebih lima menit kemudian, ia datang dengan terengah-engah ke kamar tidur majikannya. "Semuanya saya bawa," ujarnya sambil meletakkan gulungan benang wol dan sebuah buku perpustakaan. "Mudah-mudahan bukunya bagus. Gadis penjaga

perpustakaan itu bilang mereka tak punya buku yang tertulis di daftar Anda. Katanya, dia yakin Anda akan menyukai buku ini." "Gadis itu tak punya selera," komentar Nona Arundell. "Oh, maaf. Seharusnya saya...." "Jangan pikirkan hal itu, Minnie," hibur Emily Arundell, "Itu bukan kesalahanmu. Bagaimana siang tadi? Menyenangkan?" Wajah Nona Lawson berseri-seri. ia kelihatan bersemangat dan muda kembali. "Sangat menyenangkan. Terima kasih banyak. Anda sangat baik hati - memikirkan perasaan saya. Kami memanggil roh orang yang sudah meninggal, dan meminta pesan-pesan mereka. Cukup banyak pesan yang tertulis di papan kami.... Oh, untunglah kegiatan semacam itu masih diijinkan..." Sambil tersenyum Nona Arundell mengomentari, "Hati-hati saja. Kalau Bapak Pendeta mendengar itu..." "Tapi, Nona Arundell, kupikir tak ada salahnya melakukan permainan itu. Seharusnya Tuan Lond-sale meneliti dulu. Picik orang yang menyalahkan sesuatu tanpa meneliti lebih dulu masalahnya. Julia dan Isabel Tripp bukan wanita sembarangan. Mereka pengikut sejati aliran spiritual." "Terlalu sejati untuk orang yang masih hidup," ujar Nona Arundell. Nona Arundell tak peduli dengan Julia dan Isabel Tripp. Pakaian mereka menggelikan. Begitu juga makanan dan sikap mereka. Mereka bukan wanita hasil kebudayaan tertentu, tak punya akar yang baik - dan, tak punya pendidikan! Tapi ia tak mau mencela sahabat baik Minnie. Minnie nampak sangat gembira malam ini. Matanya bersinar-sinar. Ia berjalan kian kemari dalam kamar tidur majikannya. Sebentar menyentuh ini, dan sebentar lagi mengelus itu. Ia tak tahu apa yang dilakukannya. Ia cuma ingin menunjukkan perasaannya, lewat kedua matanya yang cerah dan bersinar-sinar. Dengan takut-takut dan sedikit tersendat wanita itu berkata, "'Kalau saja Anda di sana tadi, Nona Arundell.... Aku tahu Anda bukan orang yang mudah mempercayai hal-hal semacam itu. Tapi malam ini ada sebuah pesan untuk seorang berinisial E.A.. Aku yakin sekali melihat inisial itu tertulis. Pesannya datang dari orang yang meninggal bertahun-tahun yang lalu - seorang laki-laki, tentara, yang sangat tampan. Isabel jelas sekali melihat wajahnya. Pasti itu Tuan Jenderal Arundell. Pesannya sangat indah, disampaikan dengan penuh kasih sayang dan di dalamnya tersirat bahwa dengan kesabaran semuanya dapat dicapai." "Papa orangnya tidak sentimental." ujar Nona Arundell. "Tapi, orang berubah - di dunia sana, Nona Arundell. Semuanya berubah. Di sana mereka cuma mengenal kasih sayang dan pengertian. Pesan yang tertulis di papan kami menyatakan sesuatu mengenai sebuah kunci - kupikir, maksudnya kunci lemari Boule. Mungkinkah pesan itu benar?"

"Kunci lemari Boule?" tanya Nona Arundell tajam. Suaranya menunjukkan perasaan tertarik pada ceritera Nona Lawson. "Saya pikir begitu. Saya pikir mungkin ada hubungannya dengan surat-surat penting - atau semacamnya. Pernah terjadi, ada pesan yang menuliskan tentang perabot tertentu. Dan akhirnya ternyata ditemukan surat wasiat dalam perabot itu." "Tidak ada surat wasiat dalam lemari Boule," ujar Nona Arundell dengan sedikit kasar. "Pergilah tidur, Minnie. Kau lelah. Begitu juga aku. Kapan-kapan kita undang Julia dan Isabel Tripp ke sini." "Oh, tentu akan sangat menyenangkan, Nona Arundell. Selamat tidur. Tak ada lagi yang Anda perlukan? Mudah-mudahan Anda tidak terlalu merasa lelah dengan begitu banyak orang di sini. Besok saya suruh Ellen membersihkan Ruang Santai sampai bersih. Rokok mereka meninggalkan bau tak sehat. Anda sungguh baik hati membiarkan mereka merokok di situ." " Kita tidak boleh terlalu menentang yang modern, Minnie," kata Nona Arundell. "Selamat tidur." Waktu wanita itu meninggalkan Tuang tidurnya, Emily Arundell menjadi tak yakin bahwa aliran spiritual berpengaruh baik bagi Minnie. Matanya kadang-kadang menerawang terlalu jauh, dan ia nampaknya menjadi lelah dan terlalu terpengaruh perasaannya. Aneh yang dikatakannya mengenai lemari Boule, pikir Nona Arundell sambil membaringkan dirinya di tempat tidur. Ia tersenyum tak senang mengingat peristiwa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Lemari Boule itu pernah dibuka setelah Papa meninggal. Dan yang keluar botol-botol brandy kosong. Hal itu tak mungkin diketahui oleh Minnie Lawson, apalagi Julia dan Isabel Tripp. Bahwa lemari Boule disebut-sebut mereka, itu membuat orang jadi ragu-ragu untuk seratus persen tidak mempercayai kebenaran aliran mereka.... Di tempat tidurnya yang berukuran besar itu Nona Arundell tak bisa memejamkan mata. Akhir-akhir ini ia sering sulit tidur. Tapi ia tak mau meminum obat tidur yang diberikan Dokter Grainger. Obat tidur bukan untuknya. Obat tidur dipakai oleh orang-orang yang lemah, yang tak kuasa menahan sakit. Sering Nona Arundell bangun dan berjalan kian kemari dalam rumahnya, mengambil sebuah buku, memeriksa hiasan dinding, mengatur kembali bunga yang sudah teratur dalam vas, menulis surat... sambil menunggu kantuknya tiba. Bahkan dalam kesepian malam, ia merasakan ada sesuatu yang hidup dalam rumahnya. Dan ia menyukai perasaan itu. Seolah-olah roh mereka ada di sekitarnya. Roh kakak dan adik perempuannya: Arbella, Matilda, dan Agues; roh Thomas, adik laki-lakinya yang sangat dekat dengannya sampai ia direbut oleh wanita itu! Bahkan juga roh Jenderal John

Laverton Arundell, seorang tiran yang menawan, yang sering memerintah anakanaknya dengan kekerasan, tapi yang selalu menjadi kebanggaan mereka. Pikirannya melayang kepada tunangan kemenakannya. "Laki-laki itu tak akan berani minum! Katanya dia laki-laki. Tapi cuma air bening yang diminumnya malam tadi! Air bening! Sedang aku saja berani minum anggur khusus kesukaan Papa." Lain dengan Charles. Dia laki-laki sejati. Oh, kalau saja Charles bisa dipercaya. Kalau saja orang tak tahu bahwa dengannya... Pikirannya terpecah belah., kini Emily Arundell mengingat kembali semua kejadian sejak malam Minggu yang lalu.... Rasanya semuanya meresahkan.... Ia mencoba membuang jauh-jauh perasaan kuatirnya. Tapi tak bisa. Ia bangkit, dan dengan bantuan cahaya lampu tidurnya yang temaram dilihatnya jam dinding. Pukul satu. Tapi sedikit pun ia tak merasa mengantuk. Dikenakannya sandal dan kimono. Ia ingin turun, sekedar memeriksa buku-buku yang akan dibayarnya besok pagi. Seperti bayang-bayang, wanita itu keluar menyelinap dari dalam kamar tidurnya. Ditelusurinya jalan menuju anak tangga yang diterangi oleh sebuah lampu kecil. Lampu itu selalu dibiarkan menyala sepanjang malam. Sampai di ujung koridor, ia mengulurkan tangannya - hendak berpegang pada ril yang terdapat di sisi tangga. Tapi, tanpa diduga-duga, tiba-tiba saja ia terjungkal. Gagal menjaga keseimbangan badannya, wanita tua itu terguling dan jatuh menggelinding ke bawah. Hempasan tubuhnya di lantai, teriakannya yang melengking, memecah keheningan malam mengusik kelelapan tidur seisi rumah. Pintu-pintu dibuka, dan lampu dinyalakan. Nona Lawson melongok ke luar kamarnya yang terletak paling dekat tangga. Berteriak histeris, wanita itu tergopoh-gopoh turun. Yang lain berdatangan satu per satu. Charles menguap dan masih mengenakan jas kamar. Theresa, tubuhnya cuma diliput sehelai kain sutera warna gelap. Bella, dengan kimono biru laut dan rambut penuh gulungan. Dengan pikiran tak menentu, Emily Arundell terbaring di lantai. Bahu, pergelangan kaki, dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia sadar dirinya dikelilingi orang. Sadar juga bahwa Minnie Lawson meraung-raung sambil merabai tubuhnya tak karuan, bahwa Bella berdiri melongo, dan bahwa Charles - dari tempat yang jauh sekali - bicara, "Bola Bob penyebabnya! Lagi-lagi anjing bodoh itu meninggalkan bolanya di sini. Lihat, ini dia bolanya. Kasihan Bibi Emily."

Kemudian Emily merasa dirinya didekati oleh orang yang menguasai situasi. Yang lain-lain diperintahkannya minggir. Orang itu berlutut di sampingnya, merabai tubuhnya dengan penuh pengetahuan tentang bagian-bagian yang perlu diperiksanya. Perasaan lega meliputi diri Emily. Ia merasa aman. Dengan suara tegas Dokter Tanios berkata, "Untung tidak apa-apa. Tak ada patah tulang. Cuma shock dan sedikit lecet-lecet." Setelah sekali lagi menyuruh orang-orang di sekitarnya minggir. Dokter Tanios mengangkat tubuh Emily dan menggendongnya kembali ke kamarnya. Di situ ia memeriksa denyut nadi Emily. Kemudian sambil mengangguk ia menyuruh Minnie (wanita itu masih saja menangis meraung-raung) keluar mengambil brandy dan botol air panas. Dalam keadaan bingung tak menentu seperti itu dan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Emily Arundell merasa bersyukur ada Jacob Tanios di dekatnya. Ia merasa aman di tangan laki-laki profesional semacamnya. Laki-laki itu memberikan perasaan yakin serta menumbuhkan kembali kepercayaan dirinya. Itu memang tugas dan kewajiban seorang dokter. Namun ada sesuatu - ya, ada sesuatu yang membuatnya resah. Ia tak tahu apa, dan segan mencari jawabnya sekarang. Ia akan minum brandy yang diberikan kepadanya, dan tidur. Itu perintah dokter. Hanya saja hatinya yakin akan sesuatu. Sesuatu yang hilang. Ya, ada sesuatu yang hilang. Oh, ia tak mau berpikir... Bahunya amat sakit. Diminumnya isi gelas yang disodorkan kepadanya. Terdengar Dokter Tanios berkata, suaranya sejuk dan meyakinkan, "Dia akan sehat kembali besok." Dan, Emily pun memejamkan mata. Ia terbangun oleh bunyi yang tak asing - salak anjing. Sebentar saja Emily jadi benar-benar terjaga. Bob - Bob yang nakal! Ia menyalak-nyalak minta dibukakan pintu. Begitu selalu nadanya menyalak kalau semalaman tidak pulang. Lembut memelas, seolah menyampaikan permintaan maaf dan minta dirinya diterima kembali di rumah. Nona Arundell memasang telinga. Oh, beres. Terdengar Minnie turun membukakan pintu buat Bob, dan dengan suara tertahan ia memarahi Bob, "Kau memang nakal sekali, Bobsie...!" Terdengar suara pintu dibuka. Pintu dapur. Tempat tidur Bob letaknya di bawah meja dapur.

Kini Emily Arundell sadar apa yang semalam dirasanya hilang. Bob! Dalam keadaan normal, Bob pasti ikut-ikutan menonton dirinya ketika ia terbaring kebingungan di kaki tangga semalam. Paling tidak, kalau ia sudah terkunci di dapur, ia akan menyalak-nyalak sambil menggurat pintu dapur dengan kukunya - minta dibukakan pintu. Itu, kalau Bob ada di rumah. Jadi itulah yang mengganggu pikirannya tadi malam. Sekarang semuanya sudah jelas. Bob rupanya pergi mencari kesenangan di luar rumah, Ia memang sekalisekali suka begitu. Naluri hewaninya kadang-kadang melupakan sopan santun yang telah diajarkan kepadanya. Bob, Bob! Oh, tapi ia selalu minta maaf sesudahnya. Masalahnya sudah gamblang kini. Tapi, benar- kah? Apa lagi yang seolah masih mengganjal pikirannya? Kecelakaan itu - kecelakaan yang baru saja dialaminya. Ya, rasanya ada hubungannya dengan itu. Benar. Ada orang yang mengatakan - Charles, orangnya. Ya, Charles mengatakan bahwa ia jatuh karena bola Bob - karena Bob meninggalkan lagi bolanya di dekat tangga.... Bola itu ada di sana - Charles memungut dan menunjukkan bola itu kepada yang lain.... Emily Arundell merasa pusing. Bahunya berdenyut-denyut. Tubuhnya yang lecet terasa perih.... Namun, di balik segala penderitaannya, pikirannya tetap terang dan jernih. Ia tidak kebingungan lagi. Ingatannya sangat jelas. Ia mengingat segala peristiwa yang terjadi sejak pukul enam sore kemarin... satu per satu... sampai tiba pada saat ia berada di ujung tangga, hendak turun... Tiba-tiba ia diliputi ketakutan yang dahsyat.... Pasti - pasti pikirannya salah... Orang memang cenderung membayangkan yang aneh-aneh setelah mengalami kecelakaan. Ia kembali lagi kepada pikirannya semula. Ia berusaha, betul-betul berusaha, mengingat kakinya menyentuh benda bulat -bola Bob - sebelum melangkah dan terjatuh.... Tapi tidak. Ia yakin sekali tak ada bola yang menghalangi langkahnya. Bukan bola, melainkan... "Bah! Ini semua cuma perasaanku," ujar Emily Arundell pada dirinya sendiri. "Cuma bayangan-bayangan tolol." Walaupun begitu akal sehat dan otaknya yang teramat cerdik itu tak mau menerima kesimpulannya sendiri. Ia bukan orang bodoh.

BAB 4 NONA ARUNDELL MENULIS SURAT Hari jumat. Tamunya sudah pulang semua. Mereka pulang hari Rabu, seperti rencana semula. Masing-masing menawarkan diri untuk tinggal lebih lama, menemaninya. Tetapi Emily Arundell menolak semua tawaran mereka. Ia lebih suka 'ketenangan', Selama dua hari semenjak kemenakannya meninggalkan Market Basing, tak hentihentinya Emily Arundell merenung. Sering tak kedengaran olehnya Minnie berbicara kepadanya. Ia cuma memandang wanita itu dengan acuh tak acuh dan menyuruhnya mengulangi lagi kata-katanya. "Shock-nya. belum hilang," ujar Minnie Lawson. "Aku kuatir dia tak bisa kembali seperti dulu lagi," tambahnya mengungkapkan isi hatinya. Sebaliknya, Dokter Grainger sangat membesarkan hati. Katanya, satu dua hari lagi Nona Arundell sudah boleh meninggalkan tempat tidur, dan bahkan boleh turun ke ruang bawah. Dikatakannya pula bahwa ia sangat beruntung tulangnya tidak ada yang patah, bahwa ia seorang pasien yang sebetulnya tidak memerlukan dokter - dan, bahwa jika semua pasien sikapnya seperti itu, ia bisa tutup praktek. Biasanya, Emily Arundell menangkis kata-kata dokternya dengan penuh semangat. Ia dan Dokter Grainger tua itu sudah lama sekali bersahabat. Dokter Grainger sering mengancam, dan Nona Arundell mentah-mentah menantang. Keduanya menemukan banyak kesenangan dalam persahabatan mereka. Tapi kini, sesudah dokternya pergi, Emily Arundell berbaring dengan dahi berkerut. Ia masih terus berpikir - dan berpikir. Kata-kata Minnie Lawson cuma setengah kedengaran olehnya. Tapi, tanpa diduga-duga ia tersentak dan kembali ke lingkungannya yang nyata. Kalau sudah begitu, kata-kata Minnie Lawson ditanggapinya dengan tajam. "Bobsie, Bobsie," ujar Minnie Lawson sambil membungkuk membelai Bob yang sedang berbaring di atas permadani di kaki tempat tidur tuannya. "Kalau kau tahu betapa fatal akibat kelalaianmu, Bobsie - kau pasti akan sangat menyesal dan bersedih."

Emily Arundell membentak, "Jangan bodoh, kau, Minnie! Di Inggris berlaku hukum, bahwa tak seorang pun boleh dituduh bersalah sebelum kesalahannya terbukti. Tak tahukah kau akan hukum itu?" "Oh, tapi kita kan tahu..." Sekali lagi Emily membentaknya, "Kita tidak tahu apa-apa sama sekali. Hentikan tindak-tanduk dungumu itu-jalan sana, jalan sini, sentuh ini, sentuh itu. Menjengkelkan sekali. Tak tahukah kau bagaimana mesti bersikap di kamar orang sakit? Pergi, kau! Suruh Ellen ke sini." Dengan patuh Nona Lawson keluar dari kamar majikannya. Emily Arundell memandang wanita itu dengan sedikit menyesali kata-katanya. Walau sering menjengkelkan, Minnie Lawson selalu berusaha melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kerut-kerut kembali menghiasi dahinya. Ia merasa bingung dan sedih tiada menentu. Biasanya ia benci melihat orang bersikap seperti dirinya saat itu. Pikirannya yang hidup dan kemauannya yang keras selalu mengatakan, bahwa selalu ada jalan keluar dari situasi yang bagaimanapun sulitnya. Tetapi kali ini, ia betul-betul tak mengerti langkah apa yang harus diambilnya. Ada kalanya ia bimbang akan pikirannya sendiri, akan daya ingatannya. Tapi, tak ada seorang pun tempat ia bisa mencurahkan isi hatinya. *** Setengah jam kemudian, ketika Nona Lawson masuk dengan berjingkat-jingkat ke kamar majikannya, dilihatnya majikannya tidur. Hampir saja cangkir yang dibawanya terjatuh ketika tiba-tiba Nona Arundell berkata, "Mary Fox," "Apa?" tanya Nona Lawson. "Sudah jadi tulikah, kau, Minnie? Mary Fox, kataku. Perempuan yang kujumpai di Cheltenham tahun lalu. Dia saudara pendeta yang ada di Kathedral Exeter. kesinikan cangkir itu. Kau kurang hati-hati. Isinya kautumpahkan, Minnie. Dan ingat, jangan lagi berjingkat-jingkat kalau masuk ke kamarku. Tingkah seperti itu sangat menjengkelkan. Sekarang, turunlah kau. Ambilkan buku telepon." "Bisa saya bantu cari nomornya? Atau Anda mungkin perlu suatu alamat?" "Kalau aku ingin kaulakukan itu, tentu sudah kukatakan dari tadi, Minnie. Lakukan perintahku. Bawa buku itu ke sini, dan letakkan map yang berisi kertas suratku di meja samping ranjangku." Nona Lawson mengikuti perintah yang diterimanya. Setelah yakin semua permintaan majikannya terpenuhi, ia pun beranjak meninggalkan kamar Nona Arundell. Tanpa diduga-duga, Emily Arundell berkata,

"Kau baik dan setia, Minnie. Jangan hiraukan kalau aku membentakmu. Aku tahu itu menyakitkan. Tapi, kau sangat sabar dan baik kepadaku." Nona Lawson keluar dengan wajah bersemu merah. Mulutnya komat-kamit menyemburkan kata-kata yang tak menentu. Duduk bersandar di tempat tidurnya, Nona Arundell menulis surat. Ia menulis dengan perlahan-lahan dan sangat berhati-hati. Kadang-kadang ia berhenti untuk berpikir atau menggarisbawahi kata-kata yang telah ditulisnya. Berkali-kali ia mencoret kata-kata yang baru ditulisnya. Ia tidak berusaha menyalin kembali halaman yang dipenuhi coretan. Di sekolahnya dulu, ia diajar tidak membuang-buang kertas tulis. Akhirnya, dengan rasa puas ia menandatangani suratnya dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia menuliskan sebuah nama di bagian depan amplop itu. Kemudian diambilnya sehelai kertas tulis baru. Kali ini ia membuat draft. Setelah membaca kembali dan membetulkan beberapa bagian pada surat ini, disalinnya isinya. Dibacanya sekali lagi dengan hati-hati -- lalu, dimasukkannya ke dalam sebuah amplop. Di bagian depannya ia menuliskan: Tuan William Purvis, Kantor Pengacara Purvis, Purvis, Charlesworth, Harchester. Diambilnya kembali amplop yang pertama yang bertuliskan M. Hercule Poirot di bagian depannya. Kemudian, dibukanya buku telepon. Setelah menemukan alamatnya, dituliskannya alamat itu pada amplop tadi. Ada yang mengetuk pintu kamarnya. Nona Arundell cepat-cepat memasukkan amplop yang baru diberinya alamat ke dalam salah satu kantong pada map kertas suratnya. Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan Minnie. Minnie terlalu suka mencampuri urusan orang lain. "Masuk," serunya sambil membaringkan kembali tubuhnya dengan perasaan lega. Ia telah mengambil langkah yang diperlukannya untuk mengatasi situasinya.

BAB 5 HERCULE POIROT MENERIMA SURAT

Kejadian yang baru saja kuceriterakan tadi tentulah tidak kuketahui sampai berbulan-bulan sesudahnya. Tetapi, dengan menanyai berbagai anggota keluarga Nona Arundell secara teliti, dapatlah kususun urut-urutan kejadiannya dengan cukup sempurna. Kami, Poirot dan aku, baru terlibat dalam skandal itu sendiri setelah menerima surat Nona Arundell. Ingat benar aku akan hari itu. Suatu hari yang panas dan gersang menjelang akhir bulan Juni. Poirot sedang melakukan pekerjaan rutinnya: membuka surat yang diterimanya dari petugas pos pagi. Dipungutnya surat-surat itu satu per satu, diamat-amatinya dengan cermat, dan baru kemudian dengan hati-hati ia membuka amplopnya menggunakan pisau pemotong kertasnya. Setelah membaca isinya dengan sungguh-sungguh, ia meletakkan surat itu pada salah satu dari keempat tumpukan yang terletak di seberang termos coklat-nya. (Poirot punya kebiasaan minum coklat sebagai sarapan). Pekerjaannya ini dilakukan tiap hari seperti mesin. Begitu teratur dan lancar langkah-langkahnya melakukan pekerjaan itu hingga penyimpangan sedikit saja pada gerakannya segera menarik perhatian orang yang bersamanya. Saat itu aku sedang duduk dekat jendela, memperhatikan lalu lintas di bawah. Aku baru saja kembali dari Argentina. Hatiku serasa hidup kembali berada di tengah deru kota London. Kutengok Poirot, dan sembari tersenyum kukatakan, "Poirot, boleh aku menebak sesuatu?" "Hmm. Tentu saja. Apa itu?" Kutegakkan dudukku. Lalu dengan angkuh kukatakan, "Pagi ini kau menerima surat yang menarik perhatianmu!" "Kau memang benar-benar seorang Sherlock Holmes! Ya, tepat sekali." Aku tertawa. "Aku kenal cara kerjamu, Poirot. Kalau kau sampai membaca sebuah surat dua kali, pasti ada sesuatu di dalamnya yang menarik perhatianmu." "Itu kesimpulanmu sendiri, Hastings!" Sambil tersenyum Poirot menyodorkan surat yang kami perbincangkan kepadaku. Kuterima surat itu. Aku meringis. Tulisannya bengkok-bengkok - model tulisan kuno, dan penuh coretan di sana sini. "'Mesti kubacakah surat ini. Poirot?" keluhku. "Tidak ada yang mengharuskanmu. Kawan." "Mau kasih tahu apa isinya?"

"Lebih baik kaubaca sendiri supaya kau bisa menyimpulkannya. Tapi, kalau kau segan, tak usah repot-repot." "Aku ingin tahu isinya," protesku. Poirot berkomentar tak acuh, "Percuma. Surat itu tak ada isinya." Kupikir Poirot mulai mempermainkanku Tanpa berlama-lama, kucurahkan perhatianku pada surat itu. M. Hercule Poirot. Dengan hormat, Setelah lama sekali kebingungan, saya memenulis (kata yang terakhir dicoret). Saya terpaksa menulis surat kepada Anda dengan harapan Anda bisa membantu saya memecahkan suatu masalah yang sangat pribadi sifatnya (dua kata terakhir digarisbawahi rangkap tiga). Saya mengenal nama Anda. Nona Fox dari Exeter pernah menyebutkan nama Anda kepada saya, Nona Fox sendiri tidak kenal Anda. Ia cuma mengatakan bahwa saudara perempuan kakak iparnya (namanya, maaf saya lupa) menceriterakan kebaikan dan kebijaksanaan Anda yang luar biasa (kata-kata luar biasa digarisbawahi). Tentu saja saya tidak menanyakan apa masalahnya yang pernah Anda bantu pemecahannya itu (masalahnya digarisbawahi) Meskipun begitu, Nona Fox mengatakan, bahwa masalahnya sangat menyedihkan dan rahasia (empat kata terakhir diberi garis bawah tebal). Aku berhenti membaca tulisan yang sukar sekali dibaca itu. "Poirot," tanyaku, "mestikah kuteruskan? Rasanya berbelit-belit sekali." "Lanjutkan, Kawan. Sabar." "Sabar," gerutuku. "Ini sih tak ada bedanya dengan membaca.... Oh, aku jadi membayangkan laba-laba yang kecempelung ke botol tinta lalu berjalan di atas kertas ini.... Hasilnya pasti guratan-guratan macam tulisan ini." Sekali lagi kualihkan perhatianku kepada surat di tanganku. Dalam dilema yang sedang saya hadapi ini, saya pikir Anda bisa membantu menyelidiki beberapa hal. Masalahnya, seperti yang tentunya Anda ketahui, sangat memerlukan kebijaksanaan, dan saya - tidak perlu kiranya saya kemukakan di sini, betapa saya berdoa (kata berdoa ini digarisbawahi dua kali) supaya masalah ini semoga apa yang ada dalam pikiran saya ini - tidak benar. Saya sadar, orang sering cenderung mempersulit masalah yang sesungguhnya amat sederhana. "Ada halaman yang hilang, mungkin?" gumamku sedikit heran. "Tidak. Tidak ada."

"Tidak masuk akal. Apa sih yang sebenarnya dibicarakan wanita ini?" "Teruskan saja, Bung." Masalahnya, seperti yang Anda mengerti.... Bah! Yang ini sudah kubaca tadi. Nah! Ini... sampai di sini aku tadi. Dalam situasi begini, saya yakin Anda dapat menghargai pikiran saya yang satu ini, tak seorang pun dapat saya mintai pendapat di Market Basing ini. (Kutengok kembali kepala suratnya. Puri Hijau, Market Basing, Berks.) Tentunya Anda juga dapat mengerti betapa tidak enaknya perasaan saya (tidak enak digarisbawahi). Sejak beberapa hari belakangan ini, berkali-kali saya menuduh diri saya terlalu membayangkan yang tidak-tidak (empat kata terakhir digaris tiga di bawahnya). Namun, hati saya semakin tidak enak. Berkali-kali pula saya yakinkan diri saya, bahwa perasaan saya itu tidak ada artinya dan bahwa saya bodoh kalau terlalu menghanyutkan diri terhadap perasaan seperti itu, tetapi tetap saja. Perasaan tidak enak dalam hati saya tidak mau hilang. Saya merasa pasti akan hal itu. Berpikir begini terus-menerus sangat mempengaruhi kesehatan saya. Tentu saja saya ada dalam posisi yang sulit, karena saya tidak bisa mengatakan apa pun kepada siapa pun (apa pun kepada siapa pun diberi garis bawah tebal). Mungkin Anda berpikir, bahwa semuanya ini hanyalah masalah yang sepele. Memang. Mungkin muatan terhadap masalah ini pun sebetulnya sepele (sepele digarisbawahi). Meskipun begitu, meski bagaimanapun sepele kelihatannya, saya selalu merasa gelisah dan ketakutan semenjak kecelakaan yang disebabkan oleh bola- mainan anjing itu. Saya minta pendapat dan nasihat Anda dalam hal ini. Saya yakin, ini akan sangat meringankan beban pikiran saya. Mohon Anda kabarkan berapa imbalan yang Anda minta, dan apa yang harus saya lakukan dalam hal ini. Sekali lagi, saya tekankan di sini, bahwa tidak ada seorang pun di sini yang tahu mengenai hal ini. Faktanya, saya tahu, sangat sepele dan tidak penting, tapi kesehatan saya buruk dan perasaan saya (perasaan diberi garis bawah tiga kali) tidak lagi seperti dulu. Kekuatiran seperti ini jelek bagi diri saya. Dan, semakin saya pikirkan masalahnya, semakin saya yakin akan kebenaran pikiran saya bahwa saya tidak mungkin salah. Tentu saja saya tidak akan mengatakan apa pun (ini digarisbawahi) kepada siapa pun (juga digarisbawahi). Nasihat Anda yang segera sangat saya harapkan. Hormat saya, Emily Arundell Kubalik surat itu dan kubaca lagi setiap halaman dengan teliti. "Tapi, Poirot," seruku, "Apa maksudnya surat ini?"

Poirot mengangkat bahu. "Benar. Apa sebetulnya maksudnya?" Kuketuk-ketuk surat itu dengan perasaan tak sabar. "Bukan main! Nyonya - atau, Nona-kah dia?" "Kupikir dia seorang Nona. Gaya suratnya khas gaya surat perawan tua." "Benar," ujarku. "Perawan tua yang cerewet. Aku tidak mengerti." Poirot menarik napas. "Persis seperti yang kaubilang, tanpa susunan dan tanpa metoda. Hastings..." "Persis," potongku cepat-cepat, "Tidak memakai otak sama sekali." "Bukan begitu, Kawan." "Lalu, apa maksudnya menulis surat seperti itu?" "Hm. Hm," gumam Poirot. "Isinya memang hampir tidak ada." "Bertele-tele, ke sana kemari, tapi tidak ada tujuannya. Mungkin dia cuma mau mengatakan anjingnya terserang penyakit asma... Oh, sungguh membingungkan. Begitu, tapi kau membacanya sampai dua kali, Poirot." Poirot tersenyum. "Kalau kau, Hastings - apa yang hendak kaulakukan? Membuangnya ke tempat sampah?" "Kupikir begitu," sahutku sambil sekali lagi meneliti surat yang masih kupegang. "Mungkin pikiranku sedang buntu. Tapi, sungguh mati, aku tidak melihat sesuatu yang menarik dalam surat ini." "Ada yang sangat menarik - yang langsung menarik perhatianku begitu amplopnya kubuka." "Tunggu," cegahku. "Jangan katakan dulu. Kucoba sekali lagi mencari point yang menarik perhatianmu. Mungkin kali ini aku bisa menemukannya. " Aku jadi penasaran. Kuteliti lagi surat itu Akhirnya aku cuma bisa geleng kepala. "Aku menyerah, Sobat. Perempuan tua itu terlalu berbelit-belit. Mungkin insting yang menyebabkanmu..." Poirot nampak tersinggung. "Insting! Kau tahu betapa aku membenci kata yang satu itu, Hastings. Perasaan tidak kupakai dalam urusan begini. Otak! Sekali lagi. Otak yang kupakai. Matamu kurang jeli, Hastings." "Oke," komentarku lelah "Sebutkan sekarang di mana kebodohanku." "Kau tidak bodoh, cuma kurang jeli." "Sudahlah! Katakan sekarang apa yang menarik perhatianmu itu. Paling-paling.. " Poirot tidak mempedulikan omelanku. Dengan tenang sekali ia berkata, "Yang menarik tanggalnya." "Tanggalnya?" Kupungut kembali suratnya. Pada sudut kiri atas kulihat tertulis: tujuh belas April. "Ya." komentarku lambat. "Memang aneh. Tanggal tujuh belas April." "Sekarang sudah tanggal dua puluh delapan Juni. Mencurigakan, bukan? Lebih dari dua bulan yang lalu surat itu ditulis."

Kugelengkan kepala dengan bimbang. "Siapa yang tahu itu tidak punya arti apa-apa. Salah tulis. Maksudnya mau menulis tujuh belas Juni, keliru jadi tujuh belas April." "Seandainya toh betul begitu, masih tetap aneh. Berarti baru sepuluh atau sebelas hari kemudian surat itu kuterima. Tapi dugaanmu itu pasti salah. Lihat kertasnya, dan warna tintanya. Surat ini ditulis lebih dari cuma sepuluh atau sebelas hari yang lalu. Aku yakin tanggal yang tertulis di situ tidak salah. Tapi. apa sebabnya surat itu tidak segera dikirimkan?" "Itu gampang dijelaskan," ujarku. "Penulisnya ragu-ragu, dan memutuskan untuk tidak mengirimkannya." "Kalau begitu, mengapa tidak dia musnahkan saja suratnya, dan bukannya menunggu sampai begitu lama baru mengirimkannya?" Harus kuakui, sulit menjawab pertanyaan Poirot yang satu ini. Aku tak berhasil mencari jawaban yang memuaskan. Karena itu aku cuma menggeleng. Poirot manggut-manggut. "Sekarang kau tahu, kan? Ini sungguh-sungguh mencurigakan." Ia beranjak kembali ke meja tulisnya, mengambil pena. "Akan kaujawab surat itu?" tanyaku. "Oui, mon ami."[Ya, Sobat.] Hening meliputi suasana ruang kerja Poirot. Yang kudengar cuma gesekan penanya dengan kertas. Udara terasa pengap. Bau debu dan aspal panas menerobos masuk melalui jendela. Poirot bangkit. Surat yang baru ditulis dipegangnya. Dibukanya laci, dan dikeluarkannya sebuah kotak kecil. Dari dalam kotak itu, Poirot mengeluarkan sebuah perangko. Dibasahinya belakang perangko itu dengan busa basah, lalu ia pun siap menempelkannya pada amplopnya. Tetapi, tiba-tiba ia tertegun. Dengan perangko basah masih terpegang di tangannya, ia menggeleng-geleng. "Non!" serunya. "Tindakan begini salah." Poirot merobek surat yang baru ditulisnya dan melemparkan serpihan kertasnya ke dalam keranjang sampah. "Bukan begitu caranya. Kita harus pergi ke sana." "Maksudmu ke Market Basing?" "Persis. Apa salahnya? Daripada kepanasan di London hari ini.... Hawa pedesaan tentu lebih menyenangkan." "Terserah kalau itu maumu," ujarku. "Kita naik mobil?" Aku baru saja dapat mobil bekas merek Austin. "Bagus! Cuacanya pas benar buat melancong naik mobil. Tak perlu dasi - cukup jaket dan syal sutera..." "Poirot - buat apa? Kita toh bukan mau ke kutub?" protesku.

"Yah, untuk jaga kesehatan saja. Kita mesti baik-baik menghindari flu sekarang ini," komentar Poirot. "Meskipun hari gerah seperti ini?" tanyaku keheranan. Tanpa mempedulikan protesku, Poirot mengambil jaket, mengenakannya, dan kemudian melilitkan saputangan sutera pada lehernya. Ia meletakkan perangko yang telah dibasahinya tadi di atas kertas penghisap dengan bagian yang basah di sebelah atas. Setelah itu kami pun berangkat.

BAB 6 PURI HIJAU Tak terbayangkan olehku bagaimana rasanya Poirot dalam pakaiannya yang seperti itu. Aku sendiri, yang tanpa jaket dan syal, sudah merasa dipanggang sebelum kami keluar dari lalu lintas London yang hiruk-pikuk Mobil berkap terbuka bukan tempat yang nyaman pada siang hari sepanas itu. Sekeluar dari London, semangatku timbul kembali. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih satu jam setengah. Sudah hampir pukul dua belas ketika kami sampai di Market Basing. Dulunya kota ini terletak di pinggir jalan utama. Sekarang sudah ada jalan by-pass kurang lebih tiga mil di sebelah utaranya. Dengan demikian Market Basing terhindar dari kebisingan lalu-lintas jalan raya antarkota. Kota itu tidak kehilangan keanggunan dan ketenangan masa lalunya. Satu-satunya jalan raya dan pasar berpelataran luas yang ada di situ seolah-olah mengatakan, "Aku pernah menjadi tempat penting. Orang berpendidikan akan tetap menganggapku demikian. Biarkan dunia modern yang serba tergesa-gesa lewat di jalannya yang baru dan megah; Aku dibangun pada zamanku - zaman setia kawan dan keindahan - dan aku harus tetap bertahan." Tempat parkir di pasar itu cukup luas meski cuma beberapa buah mobil diparkir di situ. Kuparkir Austin-ku, dan Poirot pun menanggalkan pakaiannya yang berlebihan. Ia meraba kumisnya, memeriksa apakah bentuknya tetap rapi dan simetris.

Pertanyaan kami yang pertama tidak mendapatkan respons yang memuaskan. "Maaf, saya sendiri orang baru di sini." Pada penglihatan kami, hampir mustahil ada orang baru di kota kuno ini. Aku pun merasa bahwa kami berdua sudah mulai menjadi perhatian orang. Pembawaan kami semacam tidak sesuai dengan lingkungan kota yang masih penuh tradisi itu. "Puri Hijau?" Laki-laki gendut bermata bulat yang kami tanyai memandang kami dengan keheran-heranan. "Terus saja. Pasti ketemu. Anda tidak mungkin kesasar. Setelah melewati Bank, rumah besar yang pertama di sebelah kiri jalan. Namanya tertulis di pintu gerbangnya." Sekali lagi ia berkata, "Pasti ketemu." Pandangannya mengikuti kepergian kami. "Oh, Tuhan," keluhku. "Aku merasa diriku aneh di tengah-tengah kota seperti ini. Tapi, kau, Poirot, kau lebih kelihatan aneh lagi." "Maksudmu, aku kelihatan seperti orang asing. Begitu?" "Persis," ujarku. "Padahal pakaianku jahitan penjahit Inggris." "Pakaian bukan satu-satunya tolok ukur," sahutku. "Kepribadianmu itu lho, Poirot. Sangat menyolok. Sering aku merasa heran kelebihanmu ini bisa berjalan berdampingan dengan karirmu. Maksudku, ini bisa menghambat karir pada orang lain." Poirot menarik napas. "Itu karena kau punya bayangan yang salah tentang detektif. Hastings Detektif tidak perlu selalu memakai janggut palsu dan bersembunyi di balik pilar! Janggut palsu itu cuma kedok. Sedang bersembunyi - itu cuma dilakukan oleh detektif-detektif pemula. Hercule Poirot lain. ia cuma perlu duduk dan berpikir." "Lalu mengapa kita mesti berjalan berpanas-panas seperti ini?" "Jawabanmu bagus sekali, Hastings. Ini pertama kalinya kau menang angka dariku.' Tanpa menemui kesukaran, kami menemukan Puri Hijau. Namun sesuatu membuat kami terkejut. Sebuah papan bertuliskan nama sebuah agen jual/beli rumah terpampang di depannya. Sementara kami memperhatikan papan nama itu. terdengar salak seekor anjing Dari antara daun-daunan, kulihat berdiri seekor anjing. Anjing terrier. Bulunya keriting dan tampak lusuh. Kakinya mengangkang, dan ia menyalak-nyalak dengan riang. "Lihatlah aku." begitu kira-kira kata anjing itu. "Aku penjaga rumah ini Tapi jangan takut! Aku memang suka menyalak-nyalak begini. Dan ini memang tugasku. Tapi aku senang kalian datang. Pagi ini aku bosan sekali Pekerjaan yang sedikit ini menghiburku. Mau masuk? Mudah-mudahan ya. Aku ingin teman mengobrol."

"Hai, Bung!" ujarku. Anjing itu mendekat, dan melongokkan kepalanya melalui sela-sela jeruji pagar, ia mendengus-dengus. ekornya bergoyang- goyang, ia nampak sedikit curiga. "Aku mesti begini," ia seolah berkata. "Aku belum dikenalkan kepada kalian. Tapi kelihatannya kalian baik-baik." "Anjing yang cerdik," ujarku. "Guk," sahut anjing itu ramah. "Nah, Poirot?" tanyaku mengalihkan perhatian dari anjing itu. Ekspresi wajah Poirot aneh. Aku tak bisa menebak apa maknanya - semacam perasaan senang yang tertahan. Begitulah! "Kecelakaan yang disebabkan oleh bola mainan anjing," gumamnya. "Paling tidak, kita telah ketemu dengan seekor anjing di sini." "Guk," kawan haru kami memperhatikan gerak-gerik kami. Kemudian ia duduk dan menguap. Matanya menatap kami dengan penuh harap. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku. Pertanyaan yang sama nampak pada mata si anjing. "Meneruskan perjalanan ke Firma - apa tadi Firma Gabler and Stretcher," ujar Poirot sambil melihat kembali ke papan yang terdapat di depan Puri Hijau. "Sudah kutebak," komentarku. Kami berputar haluan, kembali ke arah Pasar. Kawan baru kami menggonggong, seolah memprotes kepergian kami. Firma Gabler and Stretcher berkantor di sekitar pasar. kami masuk ke dalam sebuah ruangan kantor yang agak gelap. Di situ kami disambut oleh seorang wanita muda yang nampaknya menderita adenoid. Matanya kuyu tanpa gairah. "Selamat pagi," sapa Poirot sopan. Wanita muda itu sedang berbicara di telepon. Ia mempersilakan kami duduk dengan anggukan kepala. Di depan meja wanita itu cuma ada sebuah kursi. Untunglah aku menemukan sebuah kursi lain yang segera kuseret ke dekat kursi yang sudah diduduki Poirot. "Saya tidak bisa mengatakan," ujar wanita itu dingin. "Saya tidak tahu berapa harganya.... Apa? Oh, sumur, saya kira - tapi saya tidak yakin... Maaf. Ya.... dia sedang keluar.... Saya tidak tahu.... Ya. Nanti saya tanyakan kepadanya... Ya... 8135? Bisa diulang lagi? Oh... 8935... 39.... Oh. 5135.... Ya. Saya akan minta dia menelepon Anda nanti.... Setelah jam enam.... Oh, maaf. Sebelum jam enam. Terima kasih banyak." Ia meletakkan gagang telepon, menuliskan 5319 pada secarik kertas, dan dengan acuh tak acuh mengalihkan pandangannya kepada Poirot. Segera Poirot membuka pembicaraan. "Kelihatannya ada rumah dijual di pinggiran kota ini. Puri Hijau namanya, kalau saya tak salah."

"Rumah yang akan disewakan atau dijual," ulang Poirot lambat-lambat dan dengan sangat jelas- "Puri Hijau." "Oh, Puri Hijau," ucap wanita muda tadi tak jelas. "Puri Hijau?" "Betul, Nona. Itu yang saya tanyakan." "Puri Hijau," ujar wanita itu lagi- Nampaknya ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan. "Oh, Tuan Gabler yang tahu tentang rumah itu." "Kalau begitu bolehkah saya bertemu dengan Tuan Gabler?" "Sedang keluar," jawabnya. Ia kelihatan puas. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan, "Satu - Nol." "Jam berapa kembalinya?" "Tidak tahu," ujarnya. "Saya sedang mencari rumah di sekitar sini," Poirot berkata. "Oh," komentar wanita itu tak acuh. "Saya tertarik sekali pada Puri Hijau. Boleh saya melihat brosur rumah itu?" "Brosur?" wanita itu nampak terkejut. "Ya. Brosur atau data-data yang seadanya mengenai rumah itu." Dengan segan ia membuka laci dan mengeluarkan setumpuk kertas. Kemudian ia berseru, "John!" "Ya, Non?" "Kau punya data-data... apa Anda bilang tadi?" "Puri Hijau," ucap Poirot jelas. "Ini dia iklannya - terpasang jelas sekali di sini," ujarku sambil menunjuk pada papan iklan yang tergantung di dinding. Wanita itu memandangku dingin. Dua - Satu. Begitu kelihatannya ia berpikir, meskipun jelas-jelas permainan itu curang. "Kau tidak tahu surat-surat mengenai rumah itu, kan, John?" tambahnya. "Tidak, Non." ujar yang ditanya. "Di arsip barangkali." "Maaf." ujarnya. "Mungkin surat-surat mengenai rumah itu sedang dipinjam orang." "C'est dommage."[sayang.]" "Apa?" "Sayang." "Ada bungalow yang cantik di Hemel End - dua kamar tidur, satu ruang duduk." Ia bicara tanpa semangat, sekedar menunaikan tugas. "Terima kasih. Saya tidak tertarik." "Ada lagi yang lain. Halamannya luas. Punya rumah taman. Data-datanya ada di sini sekarang." "Tidak. Terima kasih. Saya cuma ingin tahu sewa Puri Hijau." "Puri Hijau tidak disewakan," kata wanita itu.

Akhirnya ia meninggalkan sikap tidak-tahu- menahu-nya mengenai Puri Hijau. Sekali lagi gayanya seperti ia menang point lagi. "Rumah itu hendak dijual. Segera." "Tapi di papannya saya baca disewakan/dijual." "Oh, saya tidak tahu menahu tentang papan itu. Yang saya tahu cuma bahwa rumah itu dijual." Pintu dibuka. Seorang laki-laki setengah baya berambut abu-abu masuk dengan terburu-buru. Matanya memandang kami bersinar-sinar. Alis matanya naik seperti menanyakan sesuatu kepada anak buahnya. "Ini Tuan Gabler," ujar wanita muda tadi. Tuan Gabler membuka pintu ke dalam. "Silakan masuk, Tuan," katanya sambil menunjukkan kursi. Sementara itu dia sendiri berjalan mengelilingi meja kerjanya ke kursinya sendiri. Ia duduk menghadapi kami. "Bisa saya bantu?" Poirot memulai lagi. "Saya ingin mengetahui data-data mengenai Puri Hijau..." Poirot tak sempat menyelesaikan kalimatnya Tuan Gabler sudah mengambil alih pembicaraan. "Oh, Puri Hijau! Penawaran yang menarik sekali itu, Tuan! Baru saja dipasarkan. Jarang ada rumah taraf itu dijual dengan harga serendah ini, Tuan. Selera orang sekarang rupanya kembali lagi ke model kuno. Orang mulai bosan dengan modelmodel bangunan sekarang. Mereka ingin yang antik: gedung yang bagus, kuat. dan buatan zaman dulu. Puri Hijau ini sungguh-sungguh istimewa, Tuan. Modelnya, suasananya... segalanya benar-benar menyerupai zaman Gorgia dulu. Itu justru yang dicari orang sekarang. Puri Hijau tidak akan lama ada di daftar penjualan kami. Pasti cepat laku. Kemarin, hari Sabtu yang lalu, ada seorang anggota Parlemen yang melihat. Kelihatannya dia sangat tertarik. Janji akan datang lagi Sabtu depan. Ada lagi orang lain yang melihat. Kalau tidak salah dari Bursa Saham. Orang mencari ketenangan sekarang ini. Tuan. Mereka ingin menjauhi keramaian kota. Rumah desa banyak dijual. Tapi, hidup di desa itu kurang bermutu. Lain dengan Puri Hijau ini. Tuan. Puri Hijau mutunya luar biasa. Tahu sendiri bagaimana mutu bangunan kuno. Jauh lebih bagus buatannya daripada bangunan sekarang. Juga lebih kuat, Tuan. Pasti cepat lakunya." Tuan Gabler berhenti bicara. Kecapean kelihatannya. "Apa rumah itu sering ganti tangan tahun-tahun belakangan ini, Pak?" tanya Poirot. "Sebaliknya, Tuan. Rumah itu dimiliki oleh satu keluarga selama lebih dari lima puluh tahun. Keluarga Arundell. Sangat dihormati di sini. Mereka itu sisa-sisa pendidikan zaman dulu,Tuan. Puterinya..." Ia membuka pintu dan berseru, "Tolong ambilkan surat-surat Puri Hijau, Nona Jenkins. Cepat."

Dan kembali ke kursinya. "Saya sedang mencari rumah di luar London," ujar Poirot. "Di kota kecil, bukan terlalu di desa. Anda mengerti maksud saya, kan?" "Tentu. Tentu, Tuan. Tinggal di desa itu kurang nyaman. Pertama, pembantu jarang mau bekerja di desa. Di sini. di Market Basing ini, Anda bisa merasakan kehidupan desa tanpa mengurangi fasilitas yang bisa didapat di kota." Nona Jenkins masuk membawa sehelai kertas berhuruf ketik. Diletakkannya kertas itu di hadapan majikannya, dan ia pun disuruh keluar oleh Tuan Gabler. "Ini dia," ucap Tuan Gabler. Ia membaca tulisan pada kertas di hadapannya. "Rumah kuno penuh karisma: empat ruang tamu, delapan kamar tidur dan kamar pakaian, ruang kantor, dapur luas, bangunan pelayan terpisah, istal kuda, dan sebagai-nya. Air sumur, taman, pemeliharaan murah, luas tanah dan bangunan dua belas ribu meter persegi. Punya beberapa rumah taman, dan sebagainya, dan sebagainya. Harga permintaan 2.850 pound. Damai." "Boleh dilihat?" "Tentu. Tuan. Tentu." Tuan Gabler menulis dengan penuh semangat. "Nama dan alamat Tuan?" Aku sedikit terkejut. Poirot menyebut dirinya dengan nama Parotti. "Ada satu atau dua rumah lain di catatan kami yang mungkin menarik bagi Tuan," lanjut Tuan Gabler. Poirot membiarkan laki-laki itu berbicara. "Jadi Puri Hijau bisa dilihat setiap saat?" tanyanya. "Tentu, Tuan. Tentu," jawabnya. "Akan saya telepon pelayannya. Supaya mereka siap-siap." "Kapan Tuan akan melihat?" tanyanya, "Sekarang, atau sesudah makan siang nanti?" "Sesudah makan siang," jawab Poirot. "Akan saya telepon mereka, Tuan. Saya katakan kira-kira jam dua. Begitu, ya. Tuan?" "Terima kasih. Bapak tadi menyebut pemiliknya - Nona Arundell. Betulkah itu?" "Lawson. Nona Lawson. Tuan. Itu pemiliknya yang baru. Nona Arundell sudah meninggal. Belum lama. Itu sebabnya Puri Hijau dijual. Percayalah, Tuan - rumah itu pasti cepat lakunya. Antara Tuan dengan saya saja... kalau Tuan tidak jadi membelinya, saya rasa saya sendiri yang akan membelinya. Ini rahasia, Tuan. Seperti sudah saya katakan tadi, sudah dua orang peminatnya. Mereka pasti mengajukan tawaran satu atau dua hari lagi. Mereka berlomba-lomba. Mudahmudahan saja Tuan tidak keduluan." "Nona Lawson ingin cepat-cepat menjualnya?" Tuan Gabler mengangguk penuh rahasia.

"Begitulah. Rumah itu terlalu besar untuknya - wanita setengah baya yang hidup sendirian. Ia ingin menjual Puri Hijau dan membeli rumah di London. Bisa dimengerti. Itulah sebabnya dijual begitu murah." "Kira-kira harganya bisa ditawar?" "Itulah, Tuan. Cepat-cepat saja ajukan tawaran, dan bereskan. Saya yakin tak ada kesukaran kalau Tuan menawar tidak terlalu jauh dari harga permintaannya. Membangun rumah seperti itu sekarang bisa habis enam ribu pound... belum lagi harga tanah dan perabotnya." "Nona Arundell. Apakah dia meninggalnya mendadak?" "Sebetulnya tidak juga. Tuan. Mungkin memang sudah saatnya. Umurnya sudah tujuh puluh lebih dan dia sudah lama sakit-sakitan. Dia yang paling akhir meninggal di antara saudara-saudaranya. Mungkin Anda kenal atau mengetahui sesuatu tentang keluarga itu?" "Saya punya beberapa kenalan yang katanya punya keluarga di daerah sini. Nama mereka juga Arundell. Jadi saya pikir mungkin masih ada hubungannya." "Mungkin sekali, Tuan. Ada empat bersaudara. Perempuan semua. Yang satu kawin sudah tua. Yang tiga lagi hidup di sini sampai akhir hayatnya. Nona Emily yang bertahan paling lama. Sangat dihormati di sini." Tuan Gabler menyerahkan surat pengantar kepada Poirot. "Tuan datang lagi, kan, Tuan? Memberitahukan keputusan Tuan? Memang di sanasini perlu diperbaharui. Tapi, berapalah biaya memperbaiki satu atau dua kamar mandi? Itu toh gampang diatur." Kami beranjak meninggalkan ruangan kerja Tuan Gabler. Sebelum keluar, terdengar suara Nona Jenkins, "Tadi ada telepon dari Nyonya Samuel. Dia minta ditelepon kembali. Negeri Belanda - nomornya 5391." Seingatku, itu bukan nomor yang ditulis Nona Jenkins tadi. Kukira, bukan juga nomor yang disebutkan oleh peneleponnya tadi. Aku yakin Nona Jenkins sedang membalas dendam - karena ia dipaksa mencari surat-surat Puri Hijau.

BAB 7 SANTAP SIANG DI RESTORAN GEORGE Di luar, kukatakan kepada Poirot bahwa Tuan Gabler sesuai dengan namanya cerewet. Poirot tersenyum sambil manggut-manggut. "Dia pasti kecewa kalau kau tidak muncul lagi," ujarku. "Ia begitu yakin kau akan membelinya." "Betul. Tapi kelihatannya dia tak sadar dirinya dikibuli." "Sebaiknya kita makan dulu sebelum kembali ke London. Atau, mungkin kau lebih suka makan di perjalanan saja?" "Hastings, aku belum punya rencana buat meninggalkan Market Basing begitu cepat. Tujuan kita datang ke sini belum lagi tercapai." Aku diam keheranan. "Maksudmu - oh, buat apa? Bukankah nenek itu sudah mati?" Nadanya mengucapkan itu membuatku lebih terbengong-bengong. Nyata benar bahwa otak Poirot sangat dipengaruhi oleh surat yang diterimanya pagi tadi. "Tapi, Poirot," protesku, "buat apa kaulakukan semuanya ini kalau orangnya sudah mati? Dia tidak bisa menjelaskan apa-apa kepadamu. Problem apapun yang dihadapinya waktu menulis surat itu -sudah lewat. Perkaranya sudah selesai." "Gampang sekali kau mengesampingkan urusan ini, Hastings. Dengar, tidak ada satu perkara pun bisa dianggap selesai sebelum Hercule Poirot mengundurkan diri dari perkara itu." Mestinya, dari pengalaman aku harus tahu, bahwa berbantah dengan Poirot tak ada gunanya. Tapi toh kuteruskan juga. "Tapi, karena dia sudah mati..." "Persis, Hastings. Persis. Persis sekali. Berkali-kali kauulang fakta penting yang satu itu tanpa menyadari kepentingannya. Nona Arundell sudah mati." "Tapi ingat. Poirot. Ia meninggal dengan biasa-biasa saja... tidak ada keanehan yang menyangkut kematiannya. Kau dengar sendiri Tuan Gabler bilang begitu." "Dia juga yang mengatakan bahwa Puri Hijau ditawarkan dengan harga 2.850 pound. Kau juga percaya itu?" "Tentu saja tidak. Pada pikiranku itu cuma taktik supaya Puri Hijau cepat laku. Siapa tahu keadaannya sudah parah sekali - perlu perbaikan dari pondasi sampai atap? Aku yakin, dalam hal begitu, kliennya mau menerima tawaran yang jauh lebih rendah dari harga permintaannya. Dari depan memang kelihatan bagus. nyatanya, yang punya ingin cepat-cepat membebaskan diri dari rumah itu. Pasti ada apa-apanya." "Nah," tukas Poirot, "makanya jangan gampang saja mengatakan 'Kan Gabler bilang begitu.' - seolah-olah ia nabi yang ucapannya tidak bisa salah saja."

Hampir aku memprotesnya. Tapi, dengan isyarat Poirot menghentikan niatku bicara. Kami tepat melintasi pintu masuk sebuah restoran. Restoran George. Dan kami pun masuk. Seorang pelayan mempersilakan kami masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran sedang dengan semua jendela tertutup rapat. Udara di situ dipenuhi aroma daging panggang. Kami dilayani oleh seorang pelayan yang kira-kira setengah umur. Napas pelayan itu terdengar berat. Hidangan yang disajikan kepada kami terdiri dari daging kambing dengan kubis dan kentang. Kelihatannya kami satu-satunya tamu siang itu. Selesai dengan hidangan utama, disajikan buah-buahan dan agaragar. Sebagai hidangan penutup, pelayan kami menghidangkan cairan yang disebutnya sebagai kopi dengan beberapa potong biskuit. Poirot memanggil pelayan itu. "Ya. Saya tahu tempatnya, Tuan. Hemel Down kira-kira tiga mil dari sini - dijalan Much Benham. Rumah Pertanian Nylor kira-kira satu mil. Ada jalan kecil menuju ke situ selewatnya Patung Kepala Raja. Bisset Grange? Rasanya saya belum pernah mendengar, Tuan. Puri Hijau - dekat sekali, Tuan Cuma beberapa menit berjalan dari sini." "Ya. Saya sendiri sudah melihatnya dari luar." ujar Poirot. "Saya rasa Puri Hijaulah yang paling cocok. Bagaimana keadaannya? Masih bagus?" "Bagus sekali, Tuan. Atapnya, saluran airnya... Oh, kalau Pun Hijau saya tahu semuanya bagus. Kuno memang. Tuan. Belum pernah dipugar sama sekali. Tamannya sangat indah. Nona Arundell sangat mencintai tamannya." "Saya dengar pemiliknya bernama Nona Lawson." "Betul itu, Tuan. Sekarang memang kepunyaan Nona Lawson ia dulunya pelayan pribadi Nona Arundell. Waktu Nona Arundell meninggal, semua kekayaannya diwariskan kepada Nona Lawson. Semuanya... rumah, dan... oh, pokoknya semuanya. Tuan." "Oh ya? Oh, mungkin Nona Arundell tidak punya sanak saudara yang masih hidup." "Sebetulnya bukan begitu. Tuan. Nona Arundell punya beberapa orang kemenakan. Mereka masih hidup. Tapi yang selalu menemaninya ya Nona Lawson itu. Tuan. Dan lagi... yah, dia sudah tua. Jadi begitulah, Tuan." "Mungkin cuma rumah yang diwariskan. Jadi sukar dibagi-bagi." ditanyakan secara blak-blakan - dengan menyatakan asumsi yang salah malah akan mendapatkan jawaban yang benar. "Oooh, uangnya banyak sekali Tuan. banyaaak sekali. Orang tidak menyangka nenek itu punya uang sebanyak itu. Surat wasiatnya dimuat di koran. lengkap dengan jumlah uangnya dan lain-lainnya. Kalau tidak salah, jumlahnya tiga... atau empat ratus ribu pund, Tuan."

"Bukan main," seru Poirot "Seperti dongeng saja! Jadi pelayan itu kaya mendadak? Hmmm... masih mudakah dia? Maksudku, kalau masih muda Nona Lawson bisa foya-foya...." "Tidak tuan. Ia sudah cukup tua. Kurang lebih... yah, setengah baya-an." "Kemenakan Nona Arundell tentu sangat kecewa," ujar Poirot. "Tentu saja, Tuan. Mereka sangat terkejut dan kecewa. Sama sekali tidak didugaduga. Orang jadi berpendapat macam-macam. Ada yang menyalahkan Nona Arundell - tidak mewariskan harta miliknya kepada darah dagingnya sendiri. Tapi ada juga orang yang berpendapat - orang bebas memberikan miliknya kepada siapa yang disukainya. Keduanya tentu ada benar salahnya, Tuan." "Sudah lamakah Nona Arundell tinggal di sini?" "Ya, Tuan. Dia dan saudara-saudara perempuannya. Mereka puteri Jenderal Arundell. Saya belum lahir waktu ayahnya itu hidup, Tuan. Saya cuma banyak mendengar ceriteranya. Dia tokoh yang disegani, Tuan. Pernah memimpin pasukan di India." "Banyakkah puteri Jenderal itu?" "Setahu saya yang tinggal di sini tiga orang, Tuan. Selain itu ada yang kawin satu. Nona Matilda, Nona Agnes, dan Nona Emily. Yang duluan meninggal itu Nona Matilda, lalu Nona Agnes. Nona Emily yang paling akhir." "Dan itu baru-baru saja?" "Awal Mei - atau, mungkin juga akhir April," "Sudah lamakah sakitnya?" "Dia memang sakit-sakitan sejak lama. Dari dulu begitu. Tahun lalu sudah hampir meninggal karena sakit kuning. Tuan. Tapi tidak jadi. Kalau tidak salah, sudah sejak lima tahun yang lalu dia sakit-sakitan, Tuan." "Tapi di sini banyak dokter, kan?" "Yah. Ada, Tuan. Dokter Grainger. Sudah dua puluh tahunan dokter itu di sini. Kebanyakan orang berobat kepadanya. Orangnya sedikit aneh. Tapi ia sangat pandai. Tak ada tandingannya. Tuan. Dia punya patner kerja. Seorang dokter muda. Dr. Donaldson namanya. Ada memang yang lebih senang berobat ke dokter muda ini. Dia tipenya lain dengan Dokter Grainger. Masih ada satu lagi, Tuan... Namanya, Dokter Harding. Pasiennya-" "Dokter Grainger kelihaiannya dokternya Nona Arundell. Betul?" "Betul, Tuan. Berkali-kali sudah dokter itu menyembuhkan Nona Arundell. Dia memang suka menantang orang. Tuan - biar hidup terus." Poirot mengangguk-angguk. "Sebelum tinggal di daerah baru, orang harus mempelajari dulu lingkungannya Salah satunya cari tahu dokter mana yang baik." "Betul sekali, Tuan." Poirot minta diambilkan bon makanannya dan memberikan tip cukup banyak kepada pelayan itu.

"Terima kasih banyak. Tuan. Terima kasih. Mudah-mudahan Tuan jadi menetap di sini." "Mudah-mudahan." sahut Poirot. Kami keluar dari restoran George. "Puas kau, Poirot?" tanyaku sewaktu kami melangkahkan kaki kembali ke jalan. "Sama sekali belum. Sobat." Poirot membelok ke arah yang tidak kuduga-duga. "Mau ke mana lagi, Poirot?" tanyaku. "Gereja. Di sana mungkin ada sesuatu yang menarik." Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Poirot hanya sebentar meneliti bagian dalam gereja. Ia keluar, dan seperti orang iseng, menelusuri halaman gereja, membaca tulisan pada nisan-nisan yang berjajar di situ. Aku tidak terkejut melihat ia berhenti di depan sebuah semacam monumen terbuat dari marmer. Tulisan yang agak buram pada monumen itu menyebutkan: UNTUK MENGENANG JOHN LAVERTON ARUNDELL JENDERAL RESIMEN SIKH KE-24 YANG BERISTIRAHAT DALAM KRISTUS PADA 19 MEI 1888 DALAM USIA 69 TAHUN 'PERJUANGKAN PERJUANGAN YANG BAIK DENGAN IMAN DAN HATI NURANI YANG MURNI'. JUGA MATILDA ANN ARUNDELL YANG MENINGGAL PADA 10 MARET 1912 'AKU AKAN BANGKIT DAN PERGI KEPADA BAPAKU' JUGA AGNES GEORGINA MARY ARUNDELL YANG MENINGGAL PADA 20 NOVEMBER 1921 'MINTALAH MAKA AKAN DIBERIKAN KEPADAMU'

Tulisan yang selanjutnya nampak baru dan sangat jelas: JUGA EMILY HARRIET LAVERTON ARUNDELL YANG MENINGGAL PADA 1 MEI 1936 'JADILAH KEHENDAKMU' Poirot berdiri memandangi monumen itu beberapa menit lamanya. "Tanggal satu Mei... satu Mei...," gumamnya. "Dan sekarang, tanggal dua puluh delapan Juni - kuterima suratnya. Kau mengerti, kan, Hastings - ini harus dijelaskan?" Aku mengerti. Maksudku, aku tahu Poirot berniat mengungkapkan teka-teki yang katanya perlu dijelaskan itu.

BAB 8 DI PURI HIJAU Sekeluar dari halaman gereja, langkah kami pasti menuju Puri Hijau. Kupikir Poirot akan tetap berperan sebagai calon pembeli. Poirot mendorong pintu gerbangnya, dan langsung menuju ke pintu depan. Kali ini kawan baru kami, si Terrier, tidak nampak meskipun suaranya terdengar di kejauhan. Kupikir, anjing itu ada di sekitar dapur. Kami mendengar langkah kaki di ruang depan. Seorang wanita membukakan pintu. Wajahnya sangat menyenangkan. Umurnya kira-kira lima puluhan. Segera terlihat bahwa wanita ini seorang pelayan. Pelayan peninggalan zaman silam, yang jarang ada sekarang. Poirot memperkenalkan diri. "Ya, Tuan. Tadi kami sudah ditelepon oleh agen yang mau menjualkan rumah ini. Silakan masuk."

Kerai yang pagi tadi tertutup, kini nampak terbuka lebar menyambut kedatangan kami. Pada-penglihatanku segala sesuatu di situ amat bersih dan terpelihara baik. Wanita yang menemani kami tampaknya sangat berhati-hati. "Ini Ruang Paginya, Tuan." Kupandangi ruangan itu. Bagus dan menyenangkan. Jendelanya besar-besar dengan pemandangan ke jalan. Perabotnya berat dan kuno, model Zaman Victoria. Meskipun begitu ruangan itu dihuni pula oleh sebuah rak buku ringan dan satu stel kursi santai berwarna putih menarik. Kami bersikap sebagai layaknya calon pembeli rumah. Berdiri mengamati, sambil berkomentar macam, "Bagus sekali." "Menyenangkan." "Ruangan apa Anda bilang tadi?" Kami dibawa ke ruangan yang berseberangan letaknya dengan Ruang Pagi. Yang ini jauh lebih luas. "Ini Ruang Makan, Tuan." Ruangan ini betul-betul diperaboti dengan model Victoria. Sebuah meja makan besar dari kayu berpelitur gelap, sebuah bupet berukir dan berpelitur sama gelap serta kursi makan dengan bantalan kulit asli. Pada dindingnya tergantung beberapa potret. Kelihatannya potret keluarga. Si Terrier masih kedengaran terus menyalak-nyalak. Mula-mula suaranya terdengar jauh. Tiba-tiba suaranya terdengar lebih jelas, bersamaan dengan suara kakinya yang berlari-lari kecil. "Siapa yang berani-berani masuk? Kuhajar dia," begitu kelihatannya ia berkata. "Oh, Bob - kau mulai nakal lagi, ya...." seru pelayan yang menyertai kami. "Jangan hiraukan dia, Tuan. Dia tidak galak." Melihat siapa tamunya. Bob segera mengubah sikapnya. Ia menghampiri kami dan memperkenalkan diri dengan manisnya. "Aku senang berkenalan denganmu." begitu pandangannya berkata sementara dia mengelilingi kami sambil mendengus-dengus. "Maafkan salakan-ku tadi. Aku cuma melakukan tugas. Aku harus berhati-hati membiarkan tamu masuk. Hidupku membosankan. Aku senang kau bertamu. Kau mengerti jiwa anjing. Punya anjingkah kau di rumahmu?" Kata-kata itu seolah ditujukannya kepadaku. Kutepuk dia. "Anjing ini manis." ujarku kepada pelayan tadi. "Memang, Tuan." "Sudah tuakah dia?" "Belum. Bob baru berumur enam tahun. Kadang-kadang kelakuannya masih seperti anjing kecil. Menggigit gigit sandal koki dan membawanya ke mana-mana. Dipikirnya itu mainan. Mendengar dia menyalak seperti tadi, Anda tidak akan percaya bila saya katakan anjing ini sangat lembut. Satu-satunya orang yang

diserangnya cuma Tukang Pos. Dan sampai sekarang Tukang Pos kami selalu ketakutan jika melihat Bob." Sekarang Bob memperhatikan ujung bawah pantalon Poirot. Setelah puas mempelajarinya ia mendengus-dengus dan kembali ke dekatku. Duduk sambil memiringkan kepalanya, ia memandangku penuh harap. "Saya tidak mengerti mengapa anjing sangat membenci tukang pos," ujar pelayan itu lagi. "Pasti ada alasannya," komentar Poirot. "Anjing makhluk yang cerdik; ia mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya ia segera tahu siapa-siapa yang boleh masuk ke dalam rumah dan siapa-siapa yang tidak. Eh bien[baiklah], siapa orangnya yang sering ngotot mengetuk pintu rumah lapi tak pernah disilakan masuk? Tukang Pos. Pasti dalam pikiran anjing itu, si Tukang Pos bukan tamu yang disukai majikannya. Karena itu anjing itu merasa bahwa ia punya tugas mengusir orang yang tidak disukai ini; menggigitnya bilamana perlu. Jalan pikirannya bagus. Dapat diterima oleh akal sehat." Poirot tersenyum kepada Bob. "Dia sangat pandai kelihatannya." "Ya. Betul, Tuan. Kadang-kadang Bob seperti manusia malahan." Pelayan itu membuka pintu ke ruangan yang lain. "Ini Ruang Santai, Tuan." Ruangan ini, kelihatannya, penuh kenangan lama. Tirai jendelanya yang bermotif mawar tampak sudah lusuh dindingnya digantungi lukisan-lukisan dari cat air. Di sana-sini diletakkan patung keramik Cina berbentuk penggembala. Bantal-bantal kursinya diberi bersarung rajutan Tampak beberapa potret lusuh dalam pigura indah terbuai dari perak. Yang paling menarik perhatianku adalah boneka-boneka perempuan yang diletakkan dalam peti kaca. Ada dua boneka. Yang satu memegang alat pintal benang, yang lain memangku seekor kucing. Boneka-boneka itu terbuat dari kertas tissue, dan dibentuk bagus sekali. Ruang ini betul-betul mengingatkan orang pada zaman dulu, zaman kehidupan tenang dan damai. Ruang semacam ini betul-betul diciptakan untuk bersantai. Di sini para wanita duduk mengerjakan kerajinan tangan. Dan bila ada anggota keluarga dari jenis laki-laki ikut nimbrung dan merokok di situ, dapat dibayangkan betapa keras kerja pelayan membersihkan ruangan itu setelahnya. Perhatianku tertarik oleh sikap Bob. ia duduk seperti memikirkan sesuatu di dekat lemari kecil berbentuk elegan dan berlaci dua. Ketika ia tahu bahwa aku memperhatikannya, ia mengeluarkan bunyi-bunyian aneh, memandangku dan kemudian memandang lemari kecil di sampingnya. "Apa yang kauinginkan?" tanyaku. Perhatian kami terhadap Bob rupanya menyenangkan hati pelayan yang menemani kami. Pasti wanita itu sangat sayang pada Bob. "Bola mainannya, Tuan. Bolanya selalu disimpan di situ. Itu sebabnya dia duduk di situ dan minta diambilkan bolanya." Suaranya berubah. Dengan suara hampir

melengking ia berkata kepada Bob, "Bolamu tidak di situ lagi, Sayang. Bola Bob sekarang di dapur tempatnya. Di dapur, Bobsie." Bob mengalihkan perhatiannya kepada Poirot dengan tak sabar. "Perempuan ini tolol," matanya berkata. "Lain denganmu- Kau kelihatannya berotak- Bola ada tempatnya - laci ini salah satunya. Di situ selalu ada bola. Sekarang pun harus ada. Itu logis, kan?" "Hei. bolamu sudah tidak ada di situsekarang," ujarku. Dia memandangku ragu. Ketika kami beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia mengikuti kami dengan sikap tidak yakin. Kami dibawa melihat berbagai lemari, sebuah ruangan tempat menyimpan jas di ruang bawah, dan sebuah dapur kecil. "Di sini Nona sering merangkai bunga, Tuan." "Kau bekerja di sini sudah lama?" tanya Poirot. "Dua puluh dua tahun, Tuan." "Sendirian?" "Sekarang saya berdua dengan koki, Tuan." "Dia juga sudah lama bekerja untuk Nona Arundell?" "Empat tahun, Tuan. Koki yang sebelumnya meninggal dunia." "Seandainya saya jadi membeli rumah ini, maukah kau terus bekerja di sini?" Wajah pelayan itu bersemu merah. "Anda baik sekali, Tuan. Tapi saya sudah ingin istirahat. Nona Arundell meninggali sedikit uang. Saya punya rencana tinggal di tempat saudara saya. Saya cuma tinggal di sini membantu Nona Lawson-sampai rumah ini terjual - menjaga dan merawat rumah ini, maksud saya." Poirot mengangguk. Sementara suasana menjadi hening, terdengar suara baru: Bum, bum, bum. Suara itu terdengar berulang-ulang dari ruangan atas. "Itu Bob, Tuan." Pelayan itu tersenyum. "Rupanya dia menemukan bolanya. Dia selalu bermain bola di tangga. Itu mainan kesukaannya." Ketika kami sampai ke kaki tangga, sebuah bola hitam menggelinding sampai ke bawah. Kupungut bola itu dan kutengok Bob di kepala tangga. Ia sedang berbaring. Mulutnya menganga dan ekornya bergerak-gerak. Kulemparkan bola itu kepadanya. Bob menangkapnya dengan mulutnya. Digigitnya bola itu beberapa lama, dan kemudian dilepaskannya hingga bola itu kembali menggelinding ke bawah. "Kalau sudah bermain bola, bisa berjam-jam, Tuan. Apalagi kalau ada temannya. Sehari pun ia tidak puas. Cukup, Bob. Tuan-tuan ini ke sini bukan untuk main bola denganmu."

Seekor anjing bisa menjadi penolong. Perhatian dan kesukaan kami pada Bob telah menjembatani hubungan kami dengan pelayan itu. Ia menjadi ramah, dan tidak lagi kaku. Sementara kami menuju ruang tidur di lantai atas, ia berceritera dengan penuh gairah mengenai kelucuan-kelucuan Bob. Bola Bob dibiarkan berhenti di kaki tangga. Waktu kami melewatinya, Bob kelihatannya sangat marah karena kami tak mau terus bermain-main dengannya. Meskipun begitu, ia turun - mengambil sendiri bolanya - dan mengikuti kami. Di ruang tidur, Poirot mulai memancing pelayan itu. "Ada empat nona Arundell yang pernah tinggal di sini. Betulkah?" tanyanya. "Mula-mula begitu, Tuan. Tetapi itu sebelum saya bekerja di sini. Waktu saya masuk, tinggal Nona Agnes dan Nona Emily yang ada di sini. Nona Agnes meninggal beberapa tahun kemudian. Sebetulnya dia yang paling muda di antara saudara-saudaranya. Aneh, dia pergi mendahului yang lain." "Mungkin ia tidak sekuat kakaknya." "Tidak, Tuan. Aneh, memang. Tapi, Nona saya - Nona Emily Arundell dari dulu yang paling sakit-sakitan. Sepanjang hidupnya ia hampir selalu berurusan dengan dokter. Nona Agnes kuat dan sehat. Tapi dia meninggal lebih dahulu. Sedang Nona Emily yang ringkih malah hidup paling lama. Aneh sekali, bukan?" "Benar. Seringkali yang aneh-aneh begitu yang terjadi." Poirot meneruskan kalimatnya itu dengan ceritera mengenai pamannya. Aku tak akan bersusah-susah menceriterakan kembali ceriteranya di sini. Yang jelas ceritera Poirot mempunyai pengaruh yang menguntungkan. Obrolan mengenai kematian dan yang sebangsanya ternyata lebih mudah membuka kunci lidah seseorang daripada topik-topik lainnya. Kini Poirot dalam posisi siap menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dua puluh menit yang lalu akan disambut dengan sikap curiga dan garang. "Apakah Nona Arundell lama dan parah sakitnya?" "Tidak, Tuan. Tapi kesehatannya memang sudah sejak lama buruk. Dua tahun yang lalu Nona pernah sakit kuning hebat. Beliau tidak bisa makan sama sekali. Dokter Grainger pun ragu Nona akan bisa tetap hidup- Tapi Dokter Grainger tahu cara menyembuhkan Nona Arundell. Nona Arundell orangnya harus ditantang, begitu katanya. Dokter Grainger, kalau tak salah bilang begini, 'Sudah yakin kepingin mati, Emily?' - dan Nona menjawab, 'Aku masih punya keinginan buat hidup, Dokter.' Dokter Grainger lalu mengatakan, 'Hm, bagus! Senang aku mendengarnya.' Pernah Nona dirawat oleh suster dari rumah sakit. Susternya berpikir - sudah tidak ada harapan, ia mengadu kepada Dokter Grainger. Bilang Nona tak mau makan sama sekali. Dokter memarahinya, Tuan. 'Omong kosong,' katanya, 'Kau tak tahu bagaimana menyuruhnya makan. Tantang dia!' Apa yang dikatakan Dokter Grainger sesudah itu tak pernah terlupakan oleh saya, Tuan.

Begini katanya, 'Aku mengerti - kau masih muda, Suster. Kau belum mengerti betapa kuatnya penarungan dalam jiwa orang tua untuk mempertahankan hidupnya. Justru orang yang muda-muda yang umumnya lebih gampang mati. Mereka kurang punya gairah untuk melanjutkan hidup. Orang yang bisa mencapai usia tujuh puluh tahun - itu menandakan dia orangnya tangguh, dan punya kemauan hidup yang besar.' Dan itu memang benar, Tuan. Orang-orang tua memang mengagumkan. Begitu hidup dan begitu bergairah menjaga kekuatan badannya. Itu sebabnya, saya kira, mereka bisa hidup begitu lama dan menjadi begitu tua. Orang yang gairah hidupnya hampir tak ada, pasti cepat matinya." "Yang kaukatakan sangat betul. Dan Nona Arundell - bagaimana orangnya? Apakah seperti begitu - besar semangat hidupnya?" "Ya, Tuan. Kesehatannya memang jelek. Tapi otaknya... bukan main. ia cerdas. Kemauannya kuat. Buktinya ia sembuh. Oh, juru rawatnya betul-betul terkejut ketika itu." "Sembuh sama sekali?" "Benar, Tuan. Tentu saja Nona harus berdiet. Mula-mula makanannya cuma boleh direbus atau dikukus. Nona sama sekali tak boleh makan goreng-gorengan. Nona juga tidak boleh makan makanan yang berlemak, tidak boleh makan telur. Oh, tentu saja sangat membosankan makanannya." "Tapi yang penting dia sehat kembali, kan?" "Benar, Tuan. Memang Nona beberapa kali lagi jatuh sakit setelah sakit kuning yang hebat itu. Tapi tak pernah separah yang satu itu. Nona kadang-kadang agak sembrono sih - sembrono mengawasi makanannya sendiri, maksud saya..." "Sakitnya yang terakhir - apakah sama dengan sakitnya yang parah dua tahun yang lalu itu?" "Hampir sama. Tuan. Tubuhnya menjadi berwarna kekuning-kuningan, dan kelihatannya sangat menderita. Salah Nona sendiri. Malam itu Nona makan kare. Kan kare berlemak sekali, Tuan." "Oh, jadi sakitnya mendadak?" "Memang begitu, Tuan. Tapi Dokter Grainger mengatakan sebetulnya Nona sudah agak lama sakitnya. Nona selesma- udaranya memang kurang enak hari-hari itu. Lalu Nona makan makanan yang terlalu berlemak..." "Mengapa Nona Lawson tidak mencegahnya? Dia pelayan pribadi Nona Arundell. bukan?" "Mana bisa Nona Lawson melarang Nona Arundell. Nona Arundell - orangnya tidak mau diperintah orang lain, Tuan." "Apakah waktu sakit dua tahun yang lalu Nona Lawson sudah menjadi pelayan pribadi Nona Arundell?" "Belum, Tuan. ia baru setahun bekerja di sini."

"Sebelum Nona Lawson bekerja di sini, apakah Nona Arundell juga punya pelayan pribadi?" "Ada beberapa orang. Tuan, yang pernah jadi pelayan pribadi Nona Arundell. Ganti-ganti terus." "Oh, jadi pelayan pribadinya rupanya tak betah tinggal lama seperti pelayan lainnya?" komentar Poirot sambil tersenyum. Wajah Ellen merah padam. "Lain, Tuan. Nona Arundell jarang keluar. Dan lagi..." Ia berhenti. Poirot memperhatikannya sejenak. Kemudian katanya, "Aku mengerti bagaimana umumnya sikap seorang wanita yang sudah lanjut usia. Mereka terlalu menuntut kesempurnaan. Kecerewetannya, bisa mengakibatkan habisnya kesabaran orang yang melayaninya." "Anda pandai sekali, Tuan. Tepat sekali yang Tuan katakan tadi. Pada mulanya, pelayan pribadi Nona memang kelihatan senang. Nona Arundell punya banyak ceritera - tentang masa kecilnya, tentang pandangan hidupnya, tentang tempattempat yang pernah dikunjunginya, dan banyak lagi masalah-masalah lain yang suka dibicarakannya. Tetapi, lama-lama ceriteranya habis. Kalau sudah begitu, pelayan pribadinya cepat menjadi bosan." "Aku mengerti. Dan, antara kita saja, kupikir orang yang bekerja sebagai pelayan pribadi itu orang yang umumnya kurang menyenangkan, bukan?" "Betul, Tuan. Rata-rata menjengkelkan mereka itu. Dan, - eh - kadang-kadang juga bodoh. Tuan. Nona Arundell sendiri sering bosan sama mereka. Kalau sudah begitu, Nona mencari pelayan pribadi yang baru." "Bagaimana dengan Nona Lawson. Apakah Nona Arundell cocok dengannya?" "Yah... tidak juga, Tuan." "Jadi Nona Lawson tidak punya keistimewaan?" "Rasa-rasanya tidak, Tuan. Orangnya biasa-biasa saja." "Kau sendiri menyukainya?" Ellen terdiam sejenak. "Sifatnya - tidak ada yang mesti tidak disukai, Tuan. Juga tidak ada yang mesti disukai. Agak cerewet orangnya. Tapi itu biasa. Orang tua - pengikut aliran... spiritual." "Spiritual?" tanya Poirot terkejut. "Benar, Tuan. Spiritual katanya. Sering duduk mengelilingi meja di ruang gelap memanggil roh orang-orang mati. Katanya roh bisa bicara, Tuan. Saya sendiri berpendapat perbuatan begitu tidak cocok dengan ajaran agama." "Oh, jadi Nona Lawson ini seorang spiritualis rupanya. Apakah Nona Arundell juga pengikut aliran ini?" "Oh, Nona Lawson pernah mengajaknya," nada Ellen mengucapkannya seolah mengungkapkan kepuasan yang selama ini terpendam.

"Tapi ditolak?" "Nona Arundell bukan orang bodoh," Ellen berkata lagi. "Bukan berarti Nona Arundell tidak menganggap permainan itu tidak menyenangkan, Tuan. Nona senang. Tapi Nona tak pernah percaya. Sering Nona mengatakan. 'Coba yakinkan aku!' -tapi tak jarang juga Nona mengelus dada sambil berkata, 'Minnie, Minnie betapa bodohnya kau percaya yang begituan." "Jadi Nona Arundell bukan pengikut, cuma penggemar?" "Ya, Tuan. Nona cepat bosan. Kalau sudah begitu. Nona suka seperti anak nakal sementara yang lain serius." "Yang lain? Siapa yang lain?" "Maksud saya, Nona Lawson dan Nona Tripp." "Apakah Nona Lawson benar-benar percaya pada aliran ini?" "Ya, Tuan." "Dan Nona Arundell sangat dekat dengan Nona Lawson?" Ini kedua kalinya Poirot menanyakan pertanyaan yang sama. Jawaban yang diperolehnya pun tidak berbeda. "Ah, tidak juga, Tuan." "Tapi," tukas Poirot, "Nona Arundell mewariskan semua hartanya kepadanya." Perubahan terjadi sangat cepat. Sikap ramah dan kesantaian Ellen hilang, digantikan dengan sikapnya sebagai pelayan rumah tangga yang disiplin. Perempuan itu menarik diri. Dengan sopan ia berkata, ....(?) Kupikir Poirot salah langkah - kurang hati-hati menggunakan kesempatan yang diciptakannya sendiri. Tapi kuperhatikan, ia cukup bijaksana -tidak terlalu cepat mengembalikan situasi. Setelah memberi komentar mengenai ukuran dan banyaknya kamar tidur, ia melangkah ke arah tangga. Bob tak kelihatan lagi di situ. Tapi, ketika sampai di ujung atas tangga, kakiku tersandung sesuatu. Hampir aku jatuh dibuatnya. Untung aku cepat berpegang pada pagar tangga. Kutengok, di dekat kakiku kudapati bola mainan Bob. "Maaf, Tuan. Bob memang sembrono. Dia sering meninggalkan bolanya di situ. Di atas karpet warna gelap begini bola hitam tidak nampak jelas. Nona Arundell sendiri pernah jatuh gara-gara bola itu. Untung saja beliau tidak meninggal. Dokter Grainger bilang, orang bisa saja mati karena kecelakaan seperti itu?" Mendadak Poirot berhenti di situ. "Maksudmu - Nona Arundell pernah jatuh dari sini?" "Ya, Tuan. Bob memang sembrono. Habis bermain-main meninggalkan bolanya begitu saja di situ. Nah, Nona Arundell suka keluar dari kamarnya malam-malam. Rupanya waktu itu beliau mau turun. Malang, Tuan, kakinya tersandung bola Bob. Beliau jatuh menggelinding ke bawah sana. Oh, untung saja beliau selamat."

"Banyak cideranya?" "Tidak sebanyak yang mungkin Tuan kira. Nona Arundell sangat beruntung. Dokter Grainger berpendapat begitu, Tuan. Nona cuma keseleo otot punggungnya, luka sedikit di kepalanya, lecet-lecet ringan dan shock. Tuan. Seminggu Nona tidak turun-turun dari tempat tidur." "Kejadian ini sudah lama terjadinya?" "Kira-kira... seminggu, atau... dua minggu sebelum beliau meninggal." Poirot membungkuk, memungut sesuatu yang aku tahu sengaja dijatuhkannya. "Maaf. Pulpen saya jatuh... Uh! Ini dia!" Ia kembali berdiri. "Bob rupanya memang sembrono kalau begitu," ujar Poirot menyelidik. "Tapi dia tak tahu apa-apa. Tuan," bela Ellen cepat. Suaranya lembut dan merdu. "Bob memang sering seperti manusia tingkahnya. Tapi, bagaimanapun ia tetap seekor anjing. Kita tak bisa mengharapkan terlalu banyak darinya. Nona sering susah tidur. Malam-malam, Nona sering sibuk sendiri ke sana-sini, turun ke bawah kadang-kadang...." "Seringkah begitu?" "Hampir tiap malam, Tuan. Tapi Nona tak mau ditemani siapa pun." Poirot balik ke Ruang Santai sekali lagi. "Ruangan ini sangat indah," komentarnya. Pandangannya berkeliling ke sekitar ruangan, mengamati setiap sudut dan dindingnya. "Kira-kira lemari bukuku bisa masuk ke sini tidak, Hastings?" tanyanya tiba-tiba. Terkejut, kujawab bahwa sebaiknya diukur saja dulu. "Betul," ujarnya. "Tolong ukurkan dengan penggaris kecilku ini, Sobat. Sini. biar aku yang mencatat ukurannya." Patuh, kuambil penggaris kecil yang disodorkannya, dan kuukur apa yang diminta Poirot. Sementara itu Poirot menulis di balik sebuah amplop. Heran aku melihat tingkahnya. Biasanya ia mencatat sesuatu dengan rapi dalam buku notesnya. Namun keherananku hilang ketika Poirot menyerahkan amplop itu kepadaku sambil berkata, "Betul begini kan, ukurannya? Coba periksa sekali lagi." Tak sebuah angka pun kulihat di situ. Yang terbaca: "Kita akan kembali lagi ke atas. Pura-puralah lupa bahwa kau punya janji dengan seseorang, lalu pinjamlah telepon. Minta si pelayan menemanimu ke tempat telepon, dan usahakan dia di situ selama mungkin." "Betul," sahutku mengantongi amplop tadi. "Kupikir dua-duanya malah bisa masuk ke sini." "Bolehkah saya melihat sekali lagi kamar tidurnya yang di atas?" tanya Poirot. "Saya ingin mengukur juga di situ." "Silakan, Tuan."

Kami kembali ke atas. Poirot sedang mengukur dan memperbincangkan tentang kemungkinan mengubah letak tempat tidur dan lemari yang ada di situ ketika tibatiba kutengok jam tanganku dan aku berseru dengan sedikit kelewat lantang, "Ya ampun, Poirot. Sudah jam tiga! Anderson pasti marah. Aku mesti meneleponnya segera." Kudekati Ellen. "Boleh pinjam teleponnya?" "Tentu saja, Tuan, Teleponnya ada di bawah, di dekat Ruang Tamu. Mari, saya antarkan." Ellen menyertaiku turun, dan menunjukkan tempat teleponnya. Kuminta ia membantuku mencari nomor telepon Anderson. Akhirnya, kuputar nomor telepon seorang bernama Anderson yang tidak kukenal. Untunglah orangnya tak ada. Maka kutinggalkan pesan, bahwa aku akan meneleponnya kembali sore nanti. Waktu aku keluar dari ruangan tempatku menelepon tadi, kudapati Poirot sudah turun. Ia sedang berdiri di Ruang Tengah. Matanya bersinar-sinar. Aku tak mengerti apa penyebab kegirangan hatinya. Tapi aku yakin, ada sesuatu yang menggembirakannya. "Tentu majikanmu sangat hebat shock-nya jatuh dari ketinggian seperti ini. Apakah setelah itu ia bersikap takut-takut, atau bersikap lain terhadap Bob dan bolanya?" "Bagaimana Tuan bisa mengatakan begitu? Benar sekali. Tuan. Nona gelisah terus menerus. Pikirannya selalu ke situ. Bahkan, ketika hampir meninggal pun ia masih berkata-kata mengenai Bob dan bolanya. Nona mengigau, tentu saja. Aneh-aneh yang dikatakannya... toples... lukisan... Bob.... Saya tidak mengerti apa maksudnya, Tuan." "Sebentar," ucap Poirot tiba-tiba. "Saya perlu ke Ruang Santai sekali lagi." Di situ Poirot mengamati barang-barang keramik yang menghiasi lemari dan beberapa meja kuno. Sebuah guci bertutup nampaknya menarik perhatiannya. Guci cina itu berlukiskan seekor anjing bulldog yang sedang duduk di depan pintu. Di bawahnya tertulis komentar nakal: Semalaman keluar, tidak punya kunci... Setahuku Poirot kurang menyukai barang- barang antik semacam itu. Anehnya, kali ini nampaknya ia sangat terpesona. "Semalaman keluar, tidak punya kunci..." gumamnya. "Lucu benar! Benarkah Bob sering begitu?" "Jarang sekali. Tuan. Bob anjing yang baik." "Ya, memang kelihatannya dia sangat baik. Tapi, anjing yang terbaik pun..." "Benar, Tuan. Yang Tuan katakan itu benar! Sesekali Bob memang keluar malam. Pagi, kira-kira jam empat ia kembali. Kalau pulang ia duduk di depan pintu, menyalak-nyalak minta dibukakan pintu." "Siapa biasanya yang membukakan pintu buatnya? Nona Lawson?" "Yah... siapa saja, Tuan - yang kebetulan mendengarnya. Yang terakhir Nona Lawson.

Tepat pada malam terjadinya kecelakaan itu. Tuan. Maksud saya, malam Nona Arundell jatuh dari tangga itu. Nona Lawson buru-buru turun. Takut Bob menyalak lebih keras lagi dan mengganggu Nona Arundell. Nona Arundell suka merasa gelisah kalau tahu Bob tidak ada di rumah. Itulah sebabnya, malam itu. Nona Arundell tidak diberi tahu bahwa si Bob sedang nakal - menghilang dari rumah..." "Maksudmu, Nona Lawson berpendapat bahwa sebaiknya Nona Arundell tidak diberi tahu?" "Begitu katanya, Tuan. Toh Bob pasti pulang. Buat apa membuat gelisah Nona." "Bagaimana sikap Bob terhadap Nona Lawson? Apakah Bob suka padanya?" "Yah... kelihatannya sih. Tuan, Bob sering benci pada Nona Lawson. Anjing memang kadang-kadang membingungkan. Padahal Nona Lawson sangat menyayanginya, ia suka memanggil Bob - Doggie manis -- dengan penuh kasih sayang. Tapi Bob selalu menggeram. Tak pernah Bob mau menuruti perintah Nona Lawson." Poirot mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berbuat sesuatu yang sangat mengejutkan. Ia mencabut secarik kertas dari saku bajunya - surat Nona Arundell yang diterimanya tadi pagi. "Ellen," ujarnya. "Kau tahu surat ini?" Perubahan wajah Ellen sangat kentara. Perempuan itu menganga. Dari matanya kelihatan bahwa perasaannya tak menentu. "Oh," ujarnya hampir terlompat. "Tidak." Mungkin kurang cermat pengamatanku. Tapi kesan yang kudapat, bukan itu yang dimaksud Ellen. Nampak memaksa dirinya berani, Ellen kemudian berkata: "Kalau begitu, Anda... Oh, Tuanlah yang ditulisi surat." "Benar, Ellen. Aku Hercule Poirot" Seperti kebanyakan orang yang lain, Ellen tidak memperhatikan kartu bukti diri yang disodorkan oleh Poirot pada awal kunjungannya. Ellen menundukkan kepala. "Jadi," gumamnya, "Anda Hercule Poirot. Oh, Tuhan!" serunya tiba-tiba. "Koki pasti tidak percaya." Segera Poirot berkata, "Bagaimana kalau kita bersama ke dapur dan membicarakan ini dengan Koki sekaligus." "Silakan, kalau Tuan mau." Kedengarannya Ellen sedikit ragu. Nampak sekali dilema sosial macam begini baru sekali dihadapinya. Namun sikap Poirot yang apa adanya menimbulkan keyakinan pada diri perempuan itu. Kami melangkah ke dapur. Ellen mengisahkan apa yang terjadi kepada seorang perempuan yang sedang mengangkat ketel dari kompor gas. Seperti Ellen, wajah perempuan ini pun menyenangkan.

"Pasti kau tak percaya, Annie - Tuan ini orang yang ditulisi surat oleh Nona Arundell. Surat yang itu, tuh - yang kutemukan dalam map surat itu...." "Ellen, saya belum tahu sama sekali mengenai sejarah surat itu," kata Poirot. "Maukah kau menceriterakan - misalnya, mengapa begitu lambat dikirimkannya?" "Terus terang, Tuan - kami tidak tahu apa yang mesti kami lakukan." "Ya, Tuan. Kami sungguh-sungguh bingung," kata si Koki menimpali. "Waktu Nona Lawson bersih-bersih, banyak sekali barang-barang yang dibuangi. Salah satunya, sebuah map berisi beberapa lembar kertas surat. Cantik sekali rupanya, Tuan. Bagian depannya bergambar bunga lily. Map itu kepunyaan Nona Arundell. Kalau Beliau sakit dan ingin menulis surat di tempat tidur, map itu yang biasanya dipakainya. Nah, map itu dibuang oleh Nona lawson. Kalau mau, boleh diambil begitu katanya. Map itu begitu bagus. Sayang dibuang. Jadi saya ambil. Saya menyimpannya di laci. Kemarin, saya berniat memasukkan beberapa lembar kertas surat baru. Maksud saya, supaya mudah kalau saya mau menulis surat kapan-kapan. Saya iseng merogoh-rogoh selepitan map itu. Eh, di situ saya menemukan amplop dengan tulisan Nona Arundell. "Seperti yang saya katakan tadi. Tuan, saya tak tahu apa yang mesti saya lakukan. Saya tahu pasti itu tulisan Nona Arundell. Mungkin Nona Arundell memasukkannya ke situ setelah selesai menulisnya, dan lalu lupa mengeposkan. Nona memang sering pelupa. Pernah kami mencari-cari kuitansi pembayaran listrik. Ternyata, lama setelah itu baru ketemu... di rak meja tulis Nona." "Apakah Nona Arundell sembrono?" "Malah sebaliknya. Tuan. Sangat rapi. Itu juga salah satu penyebabnya. Nona tak suka melihat kertas bercecer di mana-mana. Apa yang kelihatan bercecer, selalu disimpannya. Tapi dia pelupa, dan tak tahu lagi di mana dulu sesuatu disimpannya." "Misalnya, bolanya Bob?" tanya Poirot tersenyum. Yang dibicarakan melompat dari luar dan menyapa kami dengan ramahnya. "Benar, Tuan. Setiap kali Bob selesai bermain-main, Nona selalu menyimpan bolanya. Tapi bola Bob tak pernah terselip tidak keruan. Sudah ada tempatnya sendiri. Laci yang saya tunjukkan kepada Tuan tadi tempatnya." "Oh. disitu..," komentar Poirot. "Mengenai surat tadi, bagaimana kelanjutannya?" "Oh, sesudah itu... saya tanya sama Annie - apa yang sebaiknya saya lakukan. Membakarnya, saya tak mau, Tuan, dan membukanya, saya juga tidak berani. Selain itu, kami berpendapat surat itu bukan urusan Nona Lawson. Jadi tak ada perlunya diberikan kepadanya. Setelah berunding sebentar, saya beri perangko amplopnya dan saya masukkan ke kotak pos." Poirot menoleh kepadaku "Voila,[Begitulah]" gumamnya. Tak bisa menahan diri, aku berkata nakal, "Bukan main! Ternyata begitu sederhana masalahnya."

Kulihat Poirot agak terkejut dan kurang suka mendengar komentarku. Ia mengalihkan kembali perhatiannya kepada Ellen. "Seperti yang baru saja dikatakan teman saya: ternyata sederhana sekali masalahnya. Kau tahu, Ellen, waktu saya menerima surat ini, saya sangat terkejut. Melihat tanggalnya, saya jadi bertanya-tanya. Sebab, sudah lebih dari dua bulan yang lalu tanggalnya." "Oh, tentu saja, Tuan," ujar Ellen. "Oh, kami tak berpikir sejauh itu, Tuan." "Di samping itu," lanjut Poirot sambil berdehem, "saya menghadapi sesuatu... katakanlah yang saya hadapi itu suatu dilema. Nona Arundell minta bantuan saya. ia meminta saya menyelidiki sesuatu yang sifatnya sangat pribadi," sekali lagi Poirot berdehem. "Sekarang ternyata Nona Arundell sudah meninggal. Saya jadi bingung... apa yang mesti saya lakukan... melaksanakan permintaannya, atau apa? Yah, ini tentu saja sulit. Sulit sekali." Kedua perempuan itu memandang Poirot penuh hormat. "Mungkin sebaiknya saya menemui pengacaranya. Nona Arundell punya pengacara, bukan?" Ellen cepat menjawab, "Punya, Tuan. Namanya Tuan Purvis. Alamatnya di Herchester." "Apakah kira-kira Tuan Purvis ini mengetahui semua masalah Nona Arundell?" "Kemungkinan ia tahu, Tuan. Seingat saya, dari dulu Tuan Purvis yang mengurus semua masalah Nona. Tuan Purvis jugalah yang dipanggil Nona pertama-tama setelah Nona jatuh itu." "Setelah Nona Arundell jatuh dari tangga itu, maksudnya?" "Benar, Tuan." "Tunggu. Tanggal berapa persisnya kejadian itu?" Koki menyahut, "Sehari setelah Paskah. Saya ingat sekali. Soalnya, saya terpaksa tidak bisa ambil libur - Nona Arundell banyak tamunya. Saya ambil libur hari Rabunya, setelah tamu-tamu pulang." Poirot merogoh almanak kecil dari sakunya. "Tepat. Tepat sekali. Paskah jatuh pada tanggal tiga belas. Nona Arundell jatuh pada tanggal empat belas-nya. Lalu surat ini dia tulis tiga hari sesudahnya. Sayang tidak segera diposkan. Tapi mungkin belum terlambat." Poirot berhenti sejenak. "Kupikir-pikir, eh - mungkin permintaan Nona Arundell itu ada hubungannya dengan salah seorang tamu yang baru saja kausebutkan." Komentar ini ditanggapi cepat. Pada wajah Ellen terbersit suatu ekspresi yang cerdik, seolah ia tahu sesuatu, ia berpaling kepada Koki, dan Koki menyambutnya dengan kerlingan. "Pasti yang dimaksud itu Tuan Charles," ujarnya. "Siapa saja sih tamunya?" tanya Poirot.

"Dokter Tanios dan isterinya, Nyonya Bella. Selain itu, Tuan Charles dan Nona Theresa, adiknya." "Mereka semua masih ada hubungan keluarga dengan Nona Arundell?" "Ya, Tuan. Mereka kemenakan Nona Arundell. Dokter Tanios tentu saja bukan kemenakan langsung. Ia suami Bella. Bella itu anak adik perempuan Nona Arundell." "Jadi, ceriteranya, waktu kecelakaan itu terjadi, di sini sedang ada semacam reuni keluarga? Kapan mereka pulang?" "Hari Rabu pagi, Tuan. Dokter dan Nyonya Tanios datang lagi ke sini hari Sabtunya. Mereka kuatir akan keadaan Nona." "Bagaimana dengan Tuan Charles dan adiknya?" "Oh, mereka juga ke sini lagi. Seminggu setelah Dokter Tanios dan isterinya... ya, malam Minggu terakhir sebelum Nona meninggal." Tak habis-habisnya pertanyaan Poirot ini, pikirku. Padahal hampir semua misterinya telah terjawab. Sebaiknya kupikir, ia cepat-cepat pamitan. Yang kupikirkan rupanya mengalir juga ke kepala Poirot. "Eh bien," ujarnya. "Keterangan yang kalian berikan sangat membantu. Saya akan menemui Tuan Purvis... emm, namanya betul begitu, bukan? Terima kasih banyak atas bantuan kalian." Poirot membungkuk, menepuk punggung Bob. "Brave chien, va![anjing berani.] Kau sangat setia, bukan?" Bob nampak senang. Ia beranjak ke perapian, menggigit sepotong batu bara untuk bermain-main. Ellen memarahinya. Batu bara di mulut anjing itu dipungut dan dilemparkannya kembali ke perapian. Bob memandangku kecewa. "Perempuan-perempuan ini tak pernah pelit memberiku makan," begitu seolah ia berkata, "tapi mereka sangat membosankan. Tak bisa diajak bermain-main."

BAB 9 REKONSTRUKSI KECELAKAAN NONA ARUNDELL "Nah, Poirot," ucapku ketika kami beranjak meninggalkan halaman Puri Hijau, "kuharap kau sudah puas sekarang!" "Benar, Sobat! Aku puas." "Syukurlah!" Semua misterinya sudah terungkap! Tentang pelayan pribadi si nenek tua itu, tentang si nenek tua itu sendiri, tentang surat yang telat diposkan, dan bahkan tentang kecelakaan itu sendiri... hmm. semuanya bisa terungkapkan dengan begitu sempurna dan memuaskan. Tak kusangka!" Poirot mendehem. Katanya kemudian, "Tidak begitu bagiku, Hastings." "Eh, bukankah kau sendiri barusan bilang kau puas?" Poirot menggeleng. "Aku cuma bilang, bahwa secara pribadi aku puas - bahwa perasaan ingin tahuku terpuaskan. Aku sudah tahu penyebab yang sesungguhnya dari kecelakaan itu." "Dan penyebabnya ternyata begitu sederhana," ledekku. "Tidak sesederhana seperti yang kauduga, Kawan." Poirot mengangguk-anggukkan kepalanya berulang-ulang. Lalu lanjutnya, "Tahukah kau, Hastings. Ada sesuatu yang kuketahui, tapi tidak kauketahui?" "Apa?" tanyaku kurang percaya. "Aku menemukan sebuah paku tertancap pada papan pegangan di sisi tangga yang berbatasan dengan dinding. Persisnya, pada sisi anak tangga yang paling atas." Kupandangi Poirot, masih dengan perasaan kurang percaya. Namun wajahnya begitu serius. "Apa keanehannya ada paku di situ?" "Pertanyaanmu kurang tepat. Seharusnya: Mengapa harus ada paku di situ?" "Mana aku tahu? Untuk menggantungkan sesuatu, barangkali. Apa artinya sih?" "Tentu saja ada artinya, Sobat. Dan pada pikirku, tak mungkin paku itu dipakai untuk menggantungkan sesuatu untuk urusan rumah tangga. Tempatnya begitu khusus. Bukan cuma itu. Pakunya pun dicat sama dengan warna papannya - supaya tidak kelihatan." "Tahukah kau apa sebabnya, Poirot?" "Itu gampang dikira-kirakan. Kalau kita ingin merentang tali pada ketinggian kirakira satu kaki dari anak tangga yang paling atas: ujung tali yang satu bisa kita ikatkan pada salah satu jeruji pagar di sisi tangga itu. Tapi, untuk mengikatkan tali itu pada sisi tangga yang satunya lagi, kita perlu tempat untuk mengikatkannya. Paku merupakan tempat yang paling bagus." "Poirot," seruku. "Apa maksudmu?" "Mon cher ami,[sobat] aku sedang merekonstruksikan bagaimana sesungguhnya kecelakaan itu terjadi. Mau dengar kelanjutannya?" "Teruskan!"

"Eh bien. Begini. Ada orang yang memperhatikan kebiasaan Bob. Maksudku, kebiasaannya meninggalkan bola di atas tangga. Orang ini tahu bahwa itu kebiasaan yang bisa membahayakan orang -dengan kata lain, bisa menyebabkan orang kecelakaan." Poirot berhenti. Kemudian, dengan nada suara yang berbeda ia melanjutkan, "Misalnya kau ingin membunuh seseorang, Hastings - apa yang akan kaulakukan?" "Terus terang, aku tak tahu, Poirot. Membuat suatu alibi atau, oh - sungguh aku tak tahu, Poirot." "Ah, tentu saja susah buatmu. Kawan. Kau bukan pembunuh berdarah dingin yang cerdik dan licin. Tak terpikirkah olehmu bahwa jalan yang paling mudah dan aman adalah dengan menggunakan kedok kecelakaan? Kecelakaan bisa terjadi setiap saat, di mana saja... dan, memang selalu terjadi di mana-mana. Kau mesti tahu, Hastings, kadang-kadang kecelakaan itu juga bisa dibuat terjadi." Poirot berhenti sebentar. "Bola Bob yang secara tidak sengaja tergeletak di situ menimbulkan ide kepada si pembunuh. Dia tahu kebiasaan Nona Arundell keluar malam, ia tahu juga Nona Arundell sudah tua, dan penglihatannya sudah kabur. Bukanlah hal yang mustahil bila Nona Arundell tersandung oleh bola itu - begitu kira-kira jalan pikiran si pembunuh. Tapi, seorang pembunuh tidak akan merencanakan suatu tindakan yang hasilnya akan dipengaruhi oleh faktor untunguntungan. Apa yang direncanakan itu harus terlaksana, dengan atau tanpa faktor untung-untungan tadi. Persiapannya akan jauh lebih teliti. Tali yang direntangkan dari sisi ke sisi pada anak tangga paling atas akan membawa hasil yang lebih pasti. Paling tidak, korbannya pasti akan terjungkal dan jatuh dengan kepala di bagian bawah. Nah, kalau orang berdatangan - penyebabnya mudah sekali terlihat: Bola Bob!" "Ah! Itu sih keterlaluan-", seruku. "Benar sekali," Poirot menimpali, "Benar... keterlaluan! Tapi toh usahanya tidak berhasil. Nona Arundell cuma terluka sedikit meskipun sebetulnya bisa fatal akibatnya. Tentu si pembunuh merasa kecewa. Tapi Nona Arundell orangnya cerdik. Semua orang mengatakan, bola Bob-lah penyebabnya - dan memang terbukti bola itu ada di sana pada waktu kecelakaan itu terjadi; namun, mengingatingat kejadiannya secara teliti, Nona Arundell merasa yakin bahwa bukan bola Bob yang menyebabkan ia jatuh. Ia tidak merasa kakinya tersandung oleh bola Bob. Ia teringat sesuatu yang lain. Ia ingat Bob menyalak minta dibukakan pintu, subuh keesokan harinya. "Yang ini, terus terang, cuma dugaanku. Tapi mudah-mudahan tidak salah. Dan aku yakin memang tak salah. Nona Arundell ingat betul bahwa ia telah menyimpan kembali bola Bob sore hari sebelumnya. Bob keluar semalaman, dan tidak pulang. Jadi, bukan Bob yang menaruh bola itu di situ." "Ah, itu toh cuma dugaanmu, Poirot?"

Poirot menyangkal. "Bukan cuma dugaanku, Kawan. Kata-kata Nona Arundell sendiri - dalam igaunya sebelum ia meninggal. Ia menyebut sesuatu tentang bola Bob dan lukisan pada toples. Kau mengerti maksudnya, bukan?" "Sama sekali tidak." "Ellen juga tidak mengerti. Tapi aku mengerti. Aku jadi penasaran. Itulah sebabnya aku kembali ke Ruang Santai memeriksa guci-guci dan toples-toples tua di situ. Ternyata benar. Di situ kudapati guci bertutup - seperti toples memang kelihatannya -dan pada bagian luarnya terlihat lukisan seekor anjing. Benda itu sudah kulihat sepintas sebelumnya, tapi belum kuperhatikan. Mendengar ceritera Ellen, aku buru-buru ingin mengamatinya. Dugaanku benar... lukisan itu menggambarkan seekor anjing yang keluar semalaman. Kau mulai bisa mengerti jalan pikiran perempuan tua itu, bukan? Bob, seperti anjing dalam lukisan di guci itu, keluar semalaman. Jadi, bukan dialah yang menaruh bolanya di situ" Aku bukan orang yang gampang terpesona. Tetapi, kali ini aku betul-betul terpana. Hampir berteriak, aku berkata, "Kau memang setan, Poirot! Aku benar-benar kagum akan cara kerja otakmu. Aku tidak berpikir sampai ke situ." "Siapa bilang aku berpikir, Hastings? Semuanya itu fakta yang bisa dilihat oleh siapa pun. Eh bien, sekarang kau menyadari bagaimana duduk perkaranya, bukan? Setelah kecelakaan itu Nona Arundell terbaring sambil terus menerus diliputi rasa curiga, ia merasa resah. Perasaannya mengatakan, kecurigaannya tidak beralasan dan cuma bayangannya saja. "'Sejak kecelakaan yang disebabkan oleh bola mainan anjing itu, saya merasa semakin gelisah.' Itu sebabnya dia menulis surat kepadaku. Karena nasib buruk, surat itu baru sampai kepadaku dua bulan setelah ditulisnya. Bukankah isi suratnya cocok benar dengan semua fakta yang baru saja kita pelajari." "Benar," ujarku. "Memang cocok sekali" Poirot menyambung, "Meskipun begitu, ada satu faktor yang mesti diperhatikan. Mengapa Nona Lawson begitu bersikeras mencegah majikannya tahu Bob keluar malam itu." "Maksudmu, kau menganggapnya..." "Maksudku, fakta kecil itu harus diperhatikan betul-betul." Kubolak-balik masalah itu di dalam kepalaku sejenak. "Yah." ujarku menarik napas panjang. "Semuanya itu memang menarik - sebagai latihan mental, maksudku. Dan aku angkat topi buatmu. Sobat. Rekonstruksimu begitu hebat dan beralasan. Sayang benar perempuan tua itu telah tiada." "Benar, sayang sekali. Dia menulis dalam suratnya bahwa ada seseorang yang berusaha membunuhnya, dan tak lama kemudian ia meninggal."

"Ya," komentarku pula. "Dan kau, Poirot, merasa sangat kecewa karena meninggalnya biasa-biasa saja. Betul, kan? Oh, ayolah... akui!" Poirot mengangkat bahu. "Atau, kaupikir dia mati diracun?" tanyaku menggoda. Poirot menggeleng, nampaknya dengan enggan. "Kelihatannya," ujarnya setuju dengan pernyataanku," Nona Arundell memang meninggal karena sebab-sebab yang wajar." "Karena itu, sekarang kita bisa pulang ke London, kan?" "Pardon, Sobat? Kita tidak akan pulang sekarang. Belum. Belum waktunya." "Apa maksudmu, Poirot?" seruku. "Kalau kepada seekor anjing kautunjukkan seekor kelinci, Hastings - apakah kaupikir anjing itu akan pulang? Tidak. Ia akan mengejar kelinci itu ke liangnya." "Maksudmu?" "Anjing memburu kelinci. Hercule Poirot memburu pembunuh. Saat ini kita dihadapkan pada seorang pembunuh yang gagal membunuh mangsanya. Gagal! Bagaimanapun, ia tetap seorang pembunuh. Dan aku, Kawan, berniat memburunya sampai ke sarangnya." Poirot mendadak membelok masuk ke suatu halaman. "Mau ke mana kau, Poirot?" "Mencari sarangnya, Sobat! Ini rumah Dokter Grainger - dokter yang menangani penyakit Nona Arundell sebelum ia mati." Usia Dokter Grainger kira-kira enam puluhan. Wajahnya kurus, tulang-tulangnya tajam. Dagunya sedikit mencuat ke muka. Alis matanya lebat, dan matanya cerdik berwarna keabu-abuan. Ia memandangku dengan ramah, dan kemudian kepada Poirot. "Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?" tanyanya. Poirot berbicara dengan cara yang teramat menarik. "Maafkan saya, Dokter Grainger - terpaksa mengganggu Anda seperti ini. Terus terang, saya ke sini bukan untuk berobat." Dengan suara kering dokter itu berkata, "Bagus. Anda kelihatannya memang sehatsehat." "Maksud kedatangan saya," lanjut Poirot, "begini. Saya sedang menyusun sebuah buku mengenai kehidupan Jenderal Arundell almarhum. Setahu saya, Beliau tinggal di Market Basing pada tahun-tahun terakhir hayatnya." Dokter Grainger nampak agak terkejut. "Ya. Jenderal Arundell memang tinggal di sini sampai saat meninggalnya. Tepatnya, di Puri Hijau - letaknya tak jauh dari bank. Anda sudah ke sana, mungkin?" Poirot mengangguk. "Saya sendiri tidak mengalami zaman itu. Saya baru datang ke sini pada tahun 1919."

"Tapi Anda kenal puterinya, bukan - Nona Arundell almarhum." "Ya. Saya kenal baik dengan Emily Arundell." "Terus terang, saya sangat terkejut mendengar dia sudah meninggal." "Ya. Meninggalnya belum begitu lama. Tanggal satu Mei yang lalu." "Begitu yang saya dengar. Saya sebenarnya sangat mengharap bisa bertemu dengannya. Saya pikir, dia tentu bisa memberikan keterangan yang lengkap mengenai pribadi ayahnya, juga mengenai kenang-kenangan yang ditinggalkannya." "Benar. Benar. Tapi, apa hubungannya saya dengan semua itu?" Poirot bertanya, "Apakah tidak ada lagi putera atau puteri Jenderal Arundell yang masih hidup?" "Tidak. Semuanya sudah meninggal." "Berapa semuanya - puteranya?" "Lima orang. Empat perempuan, satu laki-laki." "Generasi selanjutnya?" "Charles Arundell dan adiknya, Theresa. Saya pikir Anda bisa menghubungi mereka. Walaupun, terus terang, saya ragu Anda akan mendapat keterangan yang Anda perlukan. Generasi muda umumnya tidak begitu sentimental. Jarang mereka tahu sesuatu mengenai kakek mereka. Di samping Charles dan Theresa, ada satu lagi. Nyonya Tanios. Tapi, darinya pun - kukira - Anda tak akan dapat keterangan yang memuaskan." "Mungkin mereka memiliki surat-surat penting atau dokumentasi keluarga lainnya?" "Mungkin saja. Tapi saya ragu. Setahu saya, banyak kertas-kertas yang sudah dibuang dan dibakar setelah Nona Arundell meninggal." Poirot menggeram, nampaknya sangat kesal. Dokter Grainger memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. "Apa sih yang menarik tentang Jenderal Arundell - sampai Anda berniat menulis buku mengenainya? Setahu saya, dia bukan orang yang istimewa." "Oh," mata Poirot bersinar-sinar. "Belum pernahkah Anda mendengar peribahasa yang mengatakan bahwa sejarah tak pernah tahu sesuatu mengenai tokohnya yang terbesar? Akhir-akhir ini beberapa surat kabar mulai menyoroti 'Indian Mutiny' dari sudut yang lain Ada sesuatu yang masih belum terungkap mengenai peristiwa bersejarah itu. Dalam bagian itu Jenderal Arundell memegang peranan penting. Sangat mengagumkan! Saat ini, Tuan Dokter, masalah ini sedang menjadi pusat perhatian." "Hmm, bahwa Jenderal Arundell memegang suatu peran dalam peristiwa itu - itu memang pernah kudengar." "Dari mana Anda mendengarnya?"

"Nona Peabody. Oh, ya - dia ada perlunya Anda hubungi. Banyak tahu mengenai Keluarga Arundell. ia penduduk tertua di sini. Hobinya gosip. Tapi tak ada salahnya Anda menghubungi wanita itu." "Terima kasih. Usul Anda sangat berharga. Mungkin Anda bisa memberikan alamat Tuan Arundell muda... maksud saya, cucu Jenderal Arundell?" "Charles? Oh, pemuda tak berperasaan itu. Coba saja. Tapi kupikir sia-sia saja menghubunginya." "Masih mudakah dia?" "Yah, orang tua sepertiku menganggapnya masih muda," ujar Dokter Grainger. Matanya bersinar nakal. "Usianya kurang lebih tiga puluhan Kelihatannya anak itu cuma dilahirkan untuk merepotkan keluarganya saja. Tak punya tanggung jawab. Penampilan dan sikapnya memang hebat. Sudah disekolahkan ke seluruh penjuru dunia - tapi sia-sia juga." "Bibinya tentu sangat menyayanginya?" komentar Poirot. "Biasanya begitu." "Hmmm - aku tak tahu mengenai itu. Setahuku, Emily bukan orang yang bodoh. Charles tak pernah berhasil minta uang sepeser pun darinya. Perempuan tua itu keras. Aku suka padanya. Sikapnya seperti sikap prajurit sejati - dalam segala hal. Aku sangat menghormatinya." "Apakah Beliau meninggalnya mendadak?" "Bisa juga dikatakan begitu. Sebetulnya, keadaan kesehatannya sudah beberapa tahun ini jelek. Tapi ia selalu berhasil mengatasi serangan yang terberat sekali pun." "Saya dengar - maafkan saya, mengulangi gosip yang saya dengar...," ujar Poirot sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Nona Arundell pernah bertengkar dengan keluarganya?" "Sebenarnya bukan bertengkar." Dokter Grainger berkata lambat-lambat. "Setahu saya, tak pernah ada pertengkaran yang terbuka." "Oh, maafkan saya kalau begitu." "Tidak apa-apa," sahut Dokter Grainger. "Gosip toh milik umum." "Saya dengar ia mewariskan kekayaannya bukan kepada keluarganya sendiri." "Benar. Semua hartanya dia wariskan kepada pelayan pribadinya, seorang perempuan tua yang selalu ketakutan dan tak pernah tidak gugup. Aneh. Saya sendiri tidak bisa mengerti. Setahu saya, sifat Emily tidak seperti itu." "Tapi mungkin itu bisa dimengerti," ujar Poirot sambit merenung. "Nona Arundell sudah tua dan sakit-sakitan, ia sangat tergantung pada orang yang menolong dan merawatnya sehari-hari. Kalau pelayan pribadinya itu pandai, mudah sekali ia mempengaruhinya." Kata-kata Poirot tepat mengenai sasarannya. "Mempengaruhi Emily Arundell? Bah! Tak mungkin! Emily selalu memperlakukan Minnie Lawson tak lebih dari memperlakukan seekor anjing.

Lebih buruk lagi malah. Tapi itu memang sifat wanita dari generasinya. Bagaimanapun, tak bisa kita sangkal, bahwa umumnya, perempuan yang bekerja menjadi pelayan pribadi itu orangnya bodoh. Kalau ia pintar, tentu bisa mencari mata pencaharian lain yang lebih baik. Hampir tiap tahun Emily berganti pelayan pribadi. Tapi ingat, Emily Arundell bukan orang yang bisa dipengaruhi oleh siapa pun -terlebih oleh pelayan pribadinya." Poirot tidak menyia-nyiakan kesempatan. "Mungkin ada surat-surat atau dokumen- dokumen keluarga yang penting yang masih disimpan oleh Nona Lawson?" "Mungkin saja," ujar Dokter Grainger. "Perempuan tua umumnya suka menyimpan barang-barang yang punya kenangan. Saya pikir, Nona Lawson belum sempal menyortir setengah dari barang-barang peninggalan Emily." Poirot bangkit. "Terima kasih banyak, Dokter Grainger. Anda baik sekali." "Jangan berterima kasih kepada saya," sahut si dokter. "Maaf saya tidak bisa banyak membantu. Besar kemungkinan, Nona Peabody bisa banyak memberi keterangan. Ia tinggal di Morton Manor, kira-kira satu mil dari sini." Poirot menghirup wangi bunga mawar yang menghiasi meja Dokter Grainger. "Hmmm, harumnya...," gumamnya. "Memang. Kelihatannya begitu," komentar Dokter Grainger. "Sayang indera penciumanku hilang beberapa tahun yang lalu. Sekarang merokok tidak senikmat dulu rasanya." "Oh," ujar Poirot. "Katanya Anda punya alamat Tuan Arundell muda. Dokter?" "Benar. Sebentar saya ambilkan," ujar Dokter Grainger sambil beranjak masuk dan mempersilakan kami ke ruang tengah. Sesudah itu kudengar ia berteriak, "Donaldson!" "Donaldson patner praktek saya. Dia pasti tahu alamat mereka. Kebetulan dia bertunangan dengan adik Charles si Theresa." Sekali lagi Dokter Grainger berseru, "Donaldson!" Seorang laki-laki muda muncul dari salah satu ruangan yang terletak di bagian belakang rumah Dokter Grainger. Perawakannya sedang. Wajahnya agak pucat. Sikapnya agak terlalu sempurna. Dokter Grainger menjelaskan maksud kedatangan kami. Mendengarnya, dokter muda itu menatap kami dengan pandangan meneliti. Sinar kekaguman dipancarkan oleh matanya yang biru jernih. Meskipun begitu, suaranya kering ketika ia akhirnya berbicara. "Terus terang, saya tidak tahu di mana Charles. Alamat Theresa bisa saya berikan. Tapi saya ragu Theresa tahu di mana Charles." Poirot meyakinkannya bahwa alamat Theresa pun sudah cukup.

Dokter Donaldson menuliskan suatu alamat pada buku notesnya. Setelah itu disobeknya lembaran yang ia tulisi, dan diserahkannya kepada Poirot. Poirot mengucapkan terima kasih dan mohon diri kepada kedua dokter itu. Sewaktu kami berjalan keluar dari halamannya, aku merasa Donaldson mengawasi kepergian kami - dengan pandangan sedikit terkejut.

BAB 10 KUNJUNGAN KE RUMAH NONA PEABODY "Perlukah membual semacam itu, Poirot?" tanyaku. Poirot mengangkat bahu. "Berbohong jangan tanggung-tanggung.... Mungkin, buat orang sesuci kau agak susah ya, Hastings?! Buatku sih biasa-biasa saja...." "Itu jelas terlihat," selaku. "Maksudku, kalau toh kita terpaksa harus berbohong - buatlah sekalian ceritera yang menarik, romantis, dan tentu saja yang meyakinkan!" "Apa? Kaupikir bualanmu barusan meyakinkan? Aku sangsi si Donaldson percaya." "Hm, laki-laki muda itu memang agak teliti," kata Poirot mengiyakan. "Menurut penglihatanku, dia pencuriga," tambahku. "Apa alasannya dia mencurigai kita? Di dunia ini si Dungu boleh saja menuliskan kisah hidup si Dungu lainnya. Itu sudah bukan hal yang aneh." "Oh. baru sekarang kudengar kau menyebut dirimu dungu," ucapku meringis. "Eh, apa salahnya? Semua orang bisa berperan sebagai orang lain. Mengapa aku tidak?" sambut Poirot dungu. "Sayang kau menganggap fiksiku barusan kurang meyakinkan Hastings. Terus terang, aku sendiri cukup puas dengannya." "Apa yang akan kita perbuat sekarang? tanyaku "Gampang sekali. Kita kembali ke Austin-mu, lalu pergi ke Morton Manor." ***

Morton Manor ternyata sebuah rumah peninggalan zaman Victoria Penampilannya buruk tidak terawat. Kami diterima oleh seorang jongos. Laki-laki tua itu nampak ragu-ragu. Ia menanyakan apakah kami sudah punya janji untuk bertemu dengan majikannya. "Katakan kepada Nona Peabody, bahwa kami datang dari tempat Dokter Grainger," ujar Poirot. Beberapa saat kami menanti, dan keluarlah seorang perempuan gemuk. Rambutnya tipis, terbelah rapi di tengah tengah gaun yang dikenakannya terbuat dari bahan beledu warna hitam. Di sana-sini permukaannya tampak sudah gundul. Selapis renda halus yang sangat indah dilekatkan di sekeliling leher gaunnya dengan menggunakan bros Dia menghampiri kami dengan mengerjap-ngerjapkan mata. Rupanya, untuk memperjelas penglihatannya. Kalimat pertama yang diucapkannya agak mengejutkan. "Jual barang, ya?" "Tidak, Madame" Poirot berkata. "Sungguh?" "Tentu saja sungguh." "Bukannya jualan vakum?" "Jualan stocking, mungkin?" "Tidak." "Karpet?" "Tidak." "Oh, baiklah," ujar wanita itu akhirnya, sambil mendudukkan dirinya pada sebuah kursi. "Silakan duduk." Perintahnya dengan patuh kami turuti. "Maafkan aku bertanya-tanya begitu," nampaknya ia merasa agak bersalah. "Aku harus berhati-hati. Pelayan sering tidak bisa membedakan. Tapi, yah... mereka juga tidak bisa disalahkan. Suara sopan, baju bagus, nama mentereng... mana mereka bisa membedakan? Komandan Ridgeway. Tuan Scot Edgerton. Kapten D'Arcy Fitzherbert. Wajahnya sopan-sopan dan mempesona. Tapi, belum sempat tahu siapa dia, tahu-tahu dia sudah mendemonstrasikan mesin pembuat krem-lah, inilah, itulah...." Penuh perhatian, dan dengan sikap yang sangat sopan, Poirot berkata, "Percayalah, Madame- maksud kedatangan kami sama sekali bukan seperti itu." "Yah... yang penting Anda tahu bahwa ada orang-orang yang begitu," ujar Nona Peabody. Poirot memulai kisahnya. Nona Peabody mendengarkan tanpa komentar. Sebentarsebentar matanya yang kecil itu berkedip-kedip. Setelah selesai kisah Poirot, ia berkata, "Mau menulis buku, he?" "Ya."

"Bahasa Inggris?" "Tentu." "Tapi, Anda orang asing, bukan? Oh - ayolah, terus terang saja! Anda orang asing, kan?" Wanita itu kini memperhatikan diriku. "Anda sekretarisnya?" "Ee - ya," jawabku ragu-ragu. "Bisa menulis dengan bahasa Inggris bagus?" "Mudah-mudahan." "Hmm - di mana sekolahnya dulu?" "Eton." "Hmm - kalau begitu tak mungkin bisa berbahasa Inggris benar." Terpaksa aku tidak mengomentari penghinaannya, karena wanita itu sudah berpaling kembali kepada Poirot. "Mau menulis kisah hidup jenderal Arundell he?" "Benar. Anda mengenal Beliau?" "Ya. Aku kenal John Arundell. Pemabok orangnya!" Sejenak suasana hening. Kemudian, Nona Peabody melanjutkan -Suaranya riang. "Indian Mutiny, he? Apa perlunya diungkit-ungkit, yah itu urusan Anda sendiri." "Tahukah Anda Madame bahwa ada musimnya orang menyorot babak tertentu sejarah? Saat ini India sedang menjadi topiknya." "Ada benarnya yang Anda bilang itu. Segala sesuatu memang hilang timbul hilang timbul. Ambil contoh model baju. Yang dulu sekali pernah jadi model kegemaran orang sekarang digemari lagi setelah tak pernah kedengaran kabarnya selama bertahun-tahun." Nona Peabody berhenti bicara. Ditatapnya Poirot lekatlekat. "Nah apa yang ingin Anda tanyakan?" "Apa saja! Sejarah keluarga Gosip. Kehidupan rumah tangga... semua yang Anda ketahui tentang keluarga Arundell." "Soal India aku tak pernah tahu," ujar Nona Peabody. "Terus terang, aku kurang tertarik mendengarkan ceriteranya mengenai India. Membosankan! Jenderal Arundell itu orangnya bodoh sebenarnya. Tapi bukan berarti ia bukan jenderal yang baik. Kerap kudengar, memang, kepandaian tak banyak artinya dalam kemiliteran. Ayahku bilang begini, 'Mau naik pangkat? Cukup dengarkan segala yang dikatakan isteri Kolonel - dan patuhi perintah atasan. Itu sudah cukup!'" Tak punya maksud meremehkan teorinya itu, Poirot berdiam diri dulu sebelum berkata, "Anda kenal Keluarga Arundell secara intim, bukan?" "Yah - aku kenal mereka semua," jawab Nona Peabody. "Matilda. Ia anak sulung Jenderal Arundell. Orangnya menarik sekali Sering mengajar di Sekolah Minggu. Lalu Emily - dia anggun sekali kalau duduk di punggung kuda. Dia satu-satunya yang bisa melayani ayahnya kaau sedang kumat. Bergerobak-gerobak botol kosong dikeluarkan dari rumah itu dan dikubur pada malam hari. Lalu -siapa berikutnya? Tunggu Arabella, atau Thomas? Thomas, kupikir. Kasihan anak laki-laki itu.

Sendirian di antara empat saudara perempuan. Jadinya ia tolol. Sifatnya malah seperti perempuan tua. Tak kira dia bisa kawin, Kaget waktu dengar dia kawin." Nona Peabody berdecak. Kelihatan sekali ia senang berceritera seperti itu. Ia hampir lupa bahwa kami ada di situ mendengarkan ceriteranya. Ia benar-benar terbuai dan terseret kembali ke zaman mudanya dulu. "Lalu Arabella. Sederhana. Mirip kue bantat. Meskipun begitu ia juga kawin. Suaminya profesor di Cambridge. Sudah agak tua Enampuluhan kalau tak salah, waktu mereka kawin. Pernah memberi kuliah di sini - kalau tak salah, mengenai keajaiban kimia modern. Aku selalu mendengarkan kuliahnya. Aku ingat benar. Bicaranya takjelas. Berewokan. Hampir tak sepatah kata pun bisa kutangkap. Arabella selalu duduk di belakang. Dia sering bertanya. Waktu itu Arabella sudah cukup tua juga. Tiga puluhan, kalau tak salah. Mereka sudah meninggal duaduanya. Perkawinan mereka kelihatannya cukup bahagia. Orang bilang mengawini gadis yang sederhana itu ada untungnya: langsung tahu kejelekannya, dan umumnya tak suka mengkhayal. Setelah itu Agnes. Dia yang bungsu. Paling cantik di antara saudara-saudaranya. Orangnya periang. Aneh tak juga dapat jodoh. Padahal orang mengira dialah yang akan laku paling cepat. Nyatanya, dia malah tak pernah kawin sama sekali. Dia meninggal tidak lama setelah perang selesai." Poirot bergumam, "Anda bilang, Madame - perkawinan Tuan Thomas tidak diduga-duga?" Sekali lagi terdengar wanita itu berdecak. "Tak terduga-duga. Begitu memang! Skandal sembilan puluh hari! Tak sangka Thomas bisa begitu. Orangnya pendiam, patuh, betah tinggal di rumah, dan sayang sama saudara!" Sejenak Nona Peabody diam. "Ingat ceritera yang menghebohkan sekitar tahun 1900-an? Tentang seorang perempuan - Nyonya Varley. Dia dituduh membunuh suaminya, meracuni dengan arsenik - kalau aku tak salah. Sempat disidangkan. Tapi akhirnya ia dibebaskan dari tuduhan itu. Nah - si Thomas ini begitu tergila-gilanya pada perempuan itu. Semua majalah dan surat kabar yang memuat berita mengenai perempuan itu dibacanya. Bukan itu saja. Ia juga mengguntingi foto-foto wanita itu dan menyimpannya. Tahu apa yang dilakukan Thomas setelah wanita itu dibebaskan? Dia pergi ke London -melamarnya. Thomas, si pendiam itu ... Oh, orang tak sangka. Tapi laki-laki memang begitu - susah diramal!" "Apa yang terjadi setelahnya?" "Perempuan itu menerima lamarannya, dan mereka kawin." "Bagaimana saudara-saudaranya? Tentunya mereka sangat kaget?" "Tentu saja. Dan mereka tidak mau menerima perempuan itu. Thomas sangat terpukul- Dia kemudian meninggalkan Market Basing. Kabarnya dia lalu menetap di Kepulauan Channel. Sejak itu tak pernah lagi kedengaran beritanya. Orang tak

pernah tahu apakah perempuan itu benar membunuh suami pertamanya. yang jelas, Thomas tidak dibunuhnya. Thomas meninggal tiga tahun setelah isterinya meninggal. Mereka punya dua anak: laki-laki dan perempuan. Pasangan yang cantik sekali - seperti ibunya." "Apakah mereka sering menjenguk bibinya?" "Setelah orang tuanya meninggal, ya. Sebelum itu mereka masih sekolah. Emily, sementara itu sudah hidup sendirian di sini. Kedua anak itu, dan Bella -merupakan sisa-sisa keturunan keluarganya yang masih ada." "Bella?" "Ya. Bella Biggs. Anak Arabella. Agak pandir anak itu. Lebih tua beberapa tahun daripada Theresa. Ia kawin dengan orang asing yang ditemuinya di kampus. Orang Yunani. Dokter. Jelek rupanya - tapi sikapnya cukup menyenangkan. Kasihan sebenarnya si Bella itu. Kurang mendapat kesempatan mengenal anak muda lainnya. Ia terlalu sibuk membantu ayahnya di laboratorium, dan juga merawat ibunya. Orang asing itu satu-satunya pria yang pernah menarik perhatiannya..." "Bahagiakah perkawinan mereka?" "Kelihatannya cukup bahagia. Mereka punya dua anak. Tinggal di Smyrna sekarang." "Tapi, saya dengar, mereka sedang berada di Inggris pada saat ini." "Ya. Mereka datang bulan Maret yang lalu. Kupikir tak akan lama lagi mereka tinggal di sini." "Apakah Nona Emily Arundell menyayanginya?" "Bella? Oh - biasa-biasa saja. Bella bukan perempuan yang gemerlap. Semua perhatiannya dicurahkan kepada anak-anaknya, dan rumah tangganya." "Apakah Nona Emily Arundell menyetujui perkawinan mereka?" Nona Peabody berdecak. "Sebetulnya Emily tidak setuju. Tapi kupikir, akhirnya ia agak menyukai juga bajingan itu. Pintar orangnya. Dan perlakuannya terhadap Emily sangat manis. Mata duitan, itu jelas." Poirot berdehem. "Saya dengar Nona Arundell sangat kaya ketika meninggal." Nona Peabody mengenakkan posisi duduknya. "Itulah yang jadi masalah! Orang tak sangka dia sekaya itu. Begini ceriteranya. Jenderal Arundell meninggalkan warisan yang menghasilkan pendapatan bulanan yang lumayan bagi anak-anaknya. Sebagian penghasilan yang didapat ditanamkan kembali. Penanaman ini boleh dibilang berhasil Mereka punya saham di Mortland. Waktu kawin, Thomas dan Arabella sudah mengambil bagian mereka. Tapi tiga yang lainnya tetap di sini. Hidup mereka sederhana. Kupikir, sepersepuluh penghasilan mereka pun tak habis mereka makan setiap bulannya. Selebihnya, mereka tanamkan kembali. Waktu Matilda meninggal, bagiannya dibagi dua untuk Emily dan Agnes. Dan waktu

Agnes meninggal, semuanya jadi milik Emily. Emily meneruskan pola hidupnya yang sederhana. Sebagian besar penghasilannya ia tanamkan kembali. Begitu seterusnya. Alhasil... ia meninggal sebagai wanita yang kaya raya; dan si Lawson mewarisi semuanya itu!" Nona Peabody mengucapkan kalimat terakhir itu begitu rupa, seolah menunjukkan bahwa itulah klimaksnya. "Apakah Anda juga terkejut mengetahuinya, Nona Peabody?" "Terus terang, ya. Emily selalu mengatakan bahwa bila ia meninggal kekayaannya akan dibagi tiga untuk ketiga kemenakannya - setelah, tentu saja dikurangi dulu untuk kasih tanda jasa sama pembantu-pembantu setianya. Surat wasiatnya yang mula-mula memang begitu isinya. Hmmm - wajar saja bila terjadi kehebohan sewaktu surat wasiatnya dibacakan, dan ternyata Lawson yang menjadi ahli waris tunggalnya." "Apakah surat wasiatnya itu belum lama dibuatnya?" Nona Peabody menatap tajam wajah Poirot. "Maksud Anda - Emily dipengaruhi orang. Begitu? Tidak mungkin! Dan lagi, Lawson bukan orangnya. Dia perempuan bodoh. Tak mungkin berani coba-coba ke arah situ. Terus terang, dia sendiri kaget sekali mengetahui isi surat wasiat Emily begitu, katanya." Poirot tersenyum mendengar embel-embelnya. "Surat wasiat itu dibuat sepuluh hari sebelum Emily meninggal," lanjut Nona Peabody. "Pengacaranya mengatakan - semuanya sah! Yah -mungkin saja!" "Maksud Anda?" Poirot beringsut. Wajahnya serius. "Permainan bawah tangan - begitu pikirku," ujar Nona Peabody. "Pokoknya, lihat saja. Pasti ada yang tidak benar." "Anda tahu pasti?" "Yah - aku tak tahu. Mana aku tahu di mana letak permainannya. Aku bukan orang hukum. Tapi ada yang aneh dalam kasus ini. Percayalah!" Perlahan-lahan Poirot berkata, "Apakah sudah dicoha mendebat isi surat wasiat itu?" "Kelihatannya Theresa sudah menghubungi pengacara. Tapi, sembilan dari sepuluh pengacara dapat dipastikan menganjurkan - jangan! Aku sendiri pernah begitu. Lima penasihat hukum mengatakan 'jangan' - tapi aku toh tetap maju dan buktinya aku menang!" Nona Peabody berdecak. Wajahnya berseri-seri. "Tentunya timbul perasaan tak enak antara Nona Lawson dan kemenakan Nona Arundell?" "Mau apa lagi. Manusia ya begitu itu. Anda toh sudah tahu sendiri. Kematian selalu menimbulkan perselisihan...." Poirot menghela napas panjang. "Benar, Madame."

"Begitulah manusia." Poirot beralih pada subyek yang lain. "Benarkah Nona Arundell itu pengikut aliran spiritual?" Sekali lagi, Nona Peabody menatap Poirot lekat-lekat. "Kalau Anda berpikir arwah almarhum Jenderal Arundell datang menyuruh Emily mengubah surat wasiatnya supaya semua kekayaannya jatuh ke si Lawson; lalu Emily menurutinya... Anda salah besar!" ujar Nona Peabody. "Emily bukan orang bodoh. Ia menganggap spiritualisme sedikit lebih menarik dibandingkan dengan permainan kartu. Cuma itu. Sudah ketemu Nona Tripp?" "Kalau ketemu mereka, Anda akan tahu dimana letak kebodohannya. Menjengkelkan sekali. Kerjanya menyampai-nyampaikan pesan dari orang mati. Isi pesannya tak pernah masuk akal. Mereka itu begitu percayanya. Minnie Lawson juga. Yah -bagiku, kegiatan macam itu tak lebih dari pelewat waktu senggang saja." Poirot mencoba mengalihkan ke subyek yang lain lagi. "Mungkin Anda kenal dengan Charles Arundell? Bagaimana dia?" "Tidak bagus! Menarik memang. Tak pernah tak bangkrut. Utang dibikinnya di mana-mana. Dia pandai mendekati perempuan. Aku kenal banyak laki-laki semacamnya! Jadi aku tahu! Lucu -Thomas bisa punya anak seperti itu. Betul-betul berlawanan. Tak mengerti siapa yang menurunkan sifat jelek seperti itu! Meskipun begitu - aku suka pada bajingan itu. Suka, tapi aku tak keberatan menarik suatu pendapat mengenai anak itu: ia tega membunuhneneknya sendiri demi uang sepeser. Tak punya moral - anak itu. Aku tak mengerti... bagaimana orang bisa dilahirkan tanpa moral begitu itu..." "Dan adiknya?" "Theresa?" Nona Peabody menggeleng-geleng. Perlahan ia berkata. "Aku tidak tahu. Orangnya sangat eksotis. Tidak seperti orang biasa. Tunangan dengan Dokter Donaldson, kudengar. Huh, laki-laki pendiam dan sentimental.... Emmm, sudah ketemu Donaldson?" "Dokter Donaldson, maksud Anda?" "Betul. Orang bilang dia dokter yang pandai. Meskipun begitu aku tak akan pilih laki-laki macam dia kalau aku jadi Theresa. Tapi Theresa sudah dewasa- Ia harus tahu pikiran dan keinginannya sendiri. Aku percaya ia sudah berpengalaman." "Pernahkah Dokter Donaldson merawat Nona Arundell?" "Kadang-kadang, kalau Dokter Grainger cuti." "Dan pada waktu sakitnya yang terakhir?" "Kurasa tak pernah." Sambil tersenyum Poirot berkata, "Kelihatannya, Nona Peabody, Anda ragu akan kepandaian Dokter muda itu?"

"Aku tak pernah bilang begitu. Dugaan Anda salah! Lelaki itu cerdas dan pandai. Cuma kebetulan saja caranya mengobati orang berbeda dengan cara yang baik menurut pendapatku. Kita ambil contoh. Dulu, kalau anak kecil kebanyakan makan apel hijau dan mabok. Dokter akan mengatakan bahwa anak itu memang mabok apel hijau. Dokter itu akan memberinya obat. Nah, lain lagi dokter sekarang, ia tak akan menyebut si anak mabok apel hijau. Yang dia katakan, si anak menderita gejala acidosis -dietnya mesti diperhatikan - ia memberi si anak obat. pil putih kecil-kecil yang halus buatannya tapi harganya tiga kali lipat harga pil yang sama dengan yang diberikan dokter tua. Banyak ibu-ibu muda lebih menyukai dokter yang begitu. Kedengarannya lebih mengenakkan. Tapi, laki laki muda itu tak akan lama lagi tinggal di sini. Cita-citanya ke London, Mengambil spesialisasi." "Tahukah Anda. bidang spesialisasi mana yang diminatinya?" "Pengobatan Serum, kalau aku tak salah. Maksudnya begini menyelidiki zat-zat apa saja yang bisa disuntikkan ke tubuh orang sehat supaya orang itu kebal terhadap sesuatu penyakit tertentu. Aku sendiri belum pernah mencobanya." "Apakah Dokter Donaldson sedang melakukan eksperimen untuk suatu jenis penyakit tertentu sekarang ini?" "Jangan tanyai aku. Aku cuma tahu - dia merasa kurang bila ia cuma jadi dokter praktek umum. Dia ingin mengembangkan karirnya di London. Tapi untuk itu ia perlu uang. Padahal dia orangnya miskin sekali." Poirot bergumam. "Sayang sekali. Memang banyak terjadi suatu kepandaian tidak bisa dikembangkan cuma gara-gara tidak tersedianya biaya. Padahal ada orang yang tak habis memakan sepersepuluh penghasilannya." "Seperti Emily Arundell," komentar Nona Peabody. "Orang terkejut - waktu surat wasiatnya dibacakan - bukan cuma karena tahu siapa ahli warisnya. Tapi, juga mengetahui jumlahnya yang sebegitu banyak." "Menurut pendapat Anda, apakah keluarga Nona Arundell sendiri terkejut mengetahui besarnya warisan itu?" "Itulah," ujar Nona Peabody. Matanya bersinar-sinar. "Aku tak bisa bilang ya atau tidak. Tapi, menurutku, salah satu di antara mereka pasti bisa mengira-ngira." "Yang mana?" "Tuan Charles, tentu saja. Dia pasti sudah membuat perhitungan sendiri. Ingat, Charles bukan orang bodoh." "Tidak bodoh, cuma sedikit liar?" "Yang jelas tidak membosankan macam si Donaldson." Sejenak wanita itu diam. Lalu tanyanya, "Mau menemuinya?" "Itu memang maksud saya," jawab Poirot kalem. "Saya pikir, mungkin dia masih menyimpan surat-surat mengenai kakeknya...." "Hmm, lebih besar kemungkinannya anak muda itu sudah membakarnya. Charles sama sekali tak punya rasa hormat terhadap generasi tuanya."

"Yah, tak ada salahnya dicoba," komentar Poirot. "Orang harus mencoba semua jalan yang mungkin ditempuh." "Memang," ujar Nona Peabody kering. Kerling mata perempuan itu rupanya Poirot merasa tidak enak. Ia bangkit. "Saya tak akan menyita waktu Anda lebih lama lagi, Madame, Terima kasih banyak atas informasi yang telah Anda berikan." "Kurasa, aku sudah memberikan selengkapnya - meskipun, agak terlalu menyimpang dari Indian Mutiny, bukan?" "Kasih kabar kalau bukunya sudah terbit," pesannya sebelum kami meninggalkannya.Setelah itu kudengar jelas decak perempuan itu. Decak khas seorang wanita zaman victoria yang anggak.

BAB 11 BERKUNJUNG KE GUBUK NONA TRIPP "Sekarang," ucap Poirot sewaktu kami masuk ke mobil, "apa yang akan kita lakukan?" Ingat pengalaman sebelumnya, aku tidak lagi mengusulkan pulang ke London. Sebaliknya, aku mengusulkan agar kami cari warung, dan minum teh sebentar. Poirot menggerutu. "Dasar orang Inggris. Tak hidup kalau tak ada teh! Tidak, mon ami. Bukan waktunya. Belum. Ini sudah jam setengah enam. Beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah buku etika. Katanya, bertamu tak boleh melebihi jam enam sore. Kita masih punya setengah jam sekarang. Sebaiknya kita selesaikan dulu tugas kita." "Bukan main!" komentarku. "Dan, siapa kali ini yang akan kita kunjungi?" "Les demoiselles[nona-nona] Tripp." "Alasanmu sekarang: tetap sebagai penulis kisah hidup Jenderal Arundell? Atau ganti menjadi penulis tentang Spiritualisme?" "Jauh lebih sederhana dari yang kauduga, Kawan. Tapi kita mesti cari informasi dulu di mana alamat mereka." Tak banyak kesulitan yang kami hadapi mencarinya. Tempat tinggal kakak beradik Tripp ternyata sebuah gubuk mungil yang sangat unik.

Begitu unik dan kunonya - sampai kupikir tinggal menunggu waktu robohnya saja. Seorang anak berusia tiga belas atau empat belasan membukakan pintu. Dengan susah payah ia minggir merapatkan diri ke dinding memberi jalan kami masuk. Bagian dalam gubuk itu terbuat dari kayu jati tua. Sebuah perapian tua nampak mendominasi ruangan yang sempit itu. Jendelanya kecil sekali. Perabotannya dibuat sangat sederhana -sekedar bisa dipergunakan. Nampak buahbuahan tersusun pada beberapa mangkuk buah. Sementara itu di sana-sini tergantung potret dua orang perempuan dalam berbagai pose. Ada yang sedang mendekap seikat bunga, ada yang sedang memakai topi lebar. Anak yang menerima kedatangan kami menggumamkan sesuatu ketika meninggalkan ruang tamu. Namun, tak lama kemudian terdengar suaranya cukup nyaring di loteng. "Ada tamu, Non!" Terdengar suara perempuan berbicara, dan dengan diiringi suara gemerisik dan gemerincing, seorang wanita terlihat turun. Usianya sudah mendekati lima puluhan. Rambut-nya dibelah di tengah model Madona. Matanya coklat dan sedikit cekung. Gaunnya dari bahan muslin bercorak ramai. Poirot melangkah mendekatinya, dan dengan lancarnya mulai berbicara. "Maafkan saya mengganggu Anda, Mademoiselle. Saya datang ke Market Basing ini mencari teman saya. Tapi rupanya ia sudah pindah. Saya tanya orang dijalan. Katanya Anda pasti bisa memberikan alamatnya." "Oh. Siapa teman Anda itu?" "Nona Lawson." "Ooo... Minnie Lawson? Tentu saja saya tahu alamatnya. Dia teman baik kami. Silakan duduk, Tuan..." "Parotti, nama saya. Dan ini kawan saya. Kapten Hastings." Nona Tripp mengangguk kepadaku, lalu menyibukkan diri. "Silakan duduk di sini. Saya lebih suka kursi bersandaran tegak. Sudah enak duduknya? Oh, Minnie Lawson.... Oh, ini dia adik saya." Terdengar lagi suara gemerisik dan gemerincing ketika di tangga terlihat seorang wanita lain turun. Gaunnya berwarna hijau cerah - lebih cocok dikenakan oleh remaja belasan tahun. "Adik saya - Isabel. Isabel, ini Tuan - eh. Parrot, dan temannya, Kapten Hawkins," Perempuan yang pertama tadi berkata memperkenalkan. "Tahukah, kau, Isabel?" tambahnya. "Tuan-tuan ini ternyata temannya Minnie Lawson." Nona Isabel Tripp tidak semontok kakaknya. Perempuan yang satu ini malah bisa dikatakan kurus. Rambutnya berwarna terang dan kelihatannya dikeriting.

Sikapnya agak kekanak-kanakan, dan dengan mudah bisa dikenali sebagai model foto-foto gadis yang berpose membawa bunga. Ia bertepuk tangan kegirangan seperti anak kecil. "Oh, Minnie Lawson? Anda ketemu dia baru-baru ini? Bagaimana kabarnya dia?" "Sudah bertahun-tahun saya tak jumpa dengannya," ujar Poirot. "Kami saling kehilangan jejak. Saya baru pulang dari perjalanan jauh. Itulah sebabnya saya sangat terkejut dan girang bukan buatan mendengar nasib baik yang dialaminya." "Benar. Minnie memang berhak mendapat rejeki. Minnie - oh, orangnya - oh, jarang ada orang seperti dia. Sederhana... tulus..." "Julia," seru Isabel tiba-tiba. "Bukan main. Ingatkah kau huruf P yang semalam kita lihat di papan jaelangkung kita? Tamu dari seberang... dan initialnya P." "Oh, ya- betul." Julia menjawab. Kedua perempuan itu memandangi Poirot seperti tidak percaya. "Sama sekali tidak pernah salah," kata Julia lembut. "Apakah Anda juga tertarik pada keajaiban ini, Tuan Parrot?" "Pengalaman saya masih sedikit, Mademoiselle. Tapi seperti orang lain yang pernah tinggal di negara-negara di Timur sana, saya pun mengakui adanya hal-hal yang tak dapat dijelaskan di alam ini." "Benar," ujar Julia. "Tepat sekali." "Hmmm... Negeri Timur," gumam Isabel. "Daerah asal mistis dan okultis." Perjalanan Poirot ke Timur, setahuku, cuma sampai ke Siria dan dilanjutkan ke Irak.Iramanya tidak lebih dari seminggu atau dua minggu. Mendengar kata-katanya barusan, aku yakin orang mengira ia sudah bertahun-tahun hidup mengembara di hutan belantara bersama sesama pengikut aliran mistis. Dari penelitianku selama duduk di situ, dapat kupastikan kedua tuan rumah kami itu vegetans. Juga, bahwa mereka itu penganut teosofi, suka mempelajari berbagai bangsa: Inggris. Israel, serta mempelajari ajaran Kristen, spiritual. Mereka juga fotographer amatir kelihatannya. "Kadang-kadang orang merasa," Julia berkata sambil berdesah, "Market Basing ini bukan tempat yang ideal buat hidup Tak punya keindahan - dan tak punya jiwa. Bukankah setiap manusia memerlukan jiwa buat bisa hidup, Kapten Hawkins?" "Ya," sahutku malu-malu. "Itu memang benar." "Tak punya imajinasi, orang akan mati," kutip Isabel. "Sering saya berusaha untuk mendiskusikannya dengan Bapak Pendeta. Tapi pandangan Beliau rasanya terlalu sempit. Bagaimana pandangan Anda, Tuan Parrot. Bukankah setiap kepercayaan itu membuat orang cenderung berpikir sempit?" "Padahal segala sesuatu itu sesungguhnya sangat sederhana," sela Julia. "Semua orang pada dasarnya sudah tahu, bahwa segala sesuatu itu tak lain daripada kebahagiaan dan cinta kasih."

"Benar, benar!" ujar Poirot. "Sayangnya manusia masih sering berselisih paham dan bertengkar -lebih-lebih kalau berurusan dengan uang." "Uang itu kotor," cela Julia. "Nona Arundell almarhum juga pengikut aliran Anda?" Kedua kakak beradik itu saling pandang. "Saya tidak tahu," kata Isabel. "Terus terang, kami tak pernah merasa yakin akan hal itu," sambung julia. "Kadang-kadang kelihatannya dia itu percaya... tapi kata-katanya selalu mencemooh, meremehkan." "Ah, tapi ingatkah kau saat terakhir itu? Benar-benar menakjubkan." Sambil berpaling kepada Poirot, Isabel melanjutkan. "Malam itu malam pertama Nona Arundell jatuh sakit. Kami sedang berkunjung ke Puri Hijau, dan duduk-duduk di ruang gelap bersama-sama. Kami berempat waktu itu: Nona Arundell, Minnie Lawson, dan kami berdua. Kami - maksud saya Minnie dan kami berdua menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan. Di atas kepala Nona Arundell nampak kepulan asap berwarna terang membentuk semacam lingkaran suci." "Bercahaya?" "Yah... asapnya memang seperti bercahaya. Ya kan?" tanya Julia kepada Isabel. "Benar'. Tepat! Perlahan-lahan... sedikit demi sedikit... asap itu mengepul di atas kepala Nona Arundell. Itu suatu pertanda - bahwa ia akan pindah ke alam yang lain." "Bukan main," ujar Poirot dengan nada kagum. "Jadi ketika itu Anda sedang duduk-duduk di ruang gelap, bukan?" "Ya. Jaelangkung kami hasilnya lebih bagus kalau dibuat di tempat gelap. Malam itu udara hangat. Jadi perapian pun tidak dinyalakan." "Ada roh yang datang dan berbicara kepada kami waktu itu," lanjut Isabel. "Namanya Fatima. Katanya, ia mati pada zaman para nabi. Pesannya indah sekali.'" "Roh itu benar-benar berbicara?' "Tidak dengan mulut seperti kita. Bicaranya melalui ketukan-ketukan. Cinta, harapan, hidup -Oh, semua pesannya itu begitu indah." "Nona Arundell betul-betul sakit sesudahnya?" Poirot bertanya. "Ya. Sesudahnya. Saya ingat. Waktu itu dihidangkan anggur dan kue-kue. Nona Arundell tak mau makan apa-apa. Katanya tidak enak badan. Itu memang permulaan sakitnya. Untunglah, ia tidak terlalu lama menderita." "Ya. Nona Arundell meninggal empat hari setelahnya," sambung Isabel. "Malahan sudah ada pesan-pesannya yang disampaikan kepada kami," Julia berkata bersemangat. "Katanya ia sangat berbahagia. Semuanya indah, dan harapannya - damai menyertai orang-orang yang dicintainya."

Poirot berdehem. "Padahal - eh, yang terjadi justru sebaliknya," "Kemenakannya memperlakukan Minnie keterlaluan sekali. Kasihan Minnie," komentar Isabel. Wajahnya merah padam menunjukkan perasaan marahnya. "Padahal Minnie itu orangnya baik - tidak materialistis sama sekali," tambah Julia. "Banyak orang yang menuduhnya sembarangan. Katanya Minnie sengaja mendalangi permainan kotor itu - hingga Nona Arundell terpaksa mewariskan semua kekayaannya kepadanya." "Padahal dia sendiri terkejut...." "ia tidak percaya waktu surat wasiat itu dibacakan oleh penasihat hukum Nona Arundell...." "Ia sendiri berkata kepada kami. 'Julia,' katanya, 'aku benar-benar tak bisa percaya. Bayangkan - semuanya diwariskan kepadaku setelah dipotong sedikit untuk membagi-bagi tanda jasa kepada pelayan setianya.' Minnie sangat terharu. Ia hampir-hampir tak kuasa bicara. Setelah beberapa saat ia baru bisa bertanya - berapa jumlah warisan yang diberikan kepadanya. Dipikirnya cuma beberapa ribu pound saja. Nyatanya tiga ratus tujuh puluh lima ribu pound. Begitu kata penasihat hukum Nona Arundell setelah menjelaskan panjang lebar dari mana asal semua uang itu. Minnie hampir saja pingsan - begitu katanya." "Ia sama sekali tidak pernah membayangkan," cetus Isabel. "Ia tidak pernah berpikir nasib semacam itu akan dialaminya." "Jadi begitu ceriteranya kepada Anda?" "Ya. Ia berulang-ulang menceriterakan pengalamannya itu. Makanya --saya pikir sungguh tak patut Arundell-Arundell muda itu bersikap seperti itu kepada Minnie. Menuduh, mencurigai... Ini kan negara merdeka...." Poirot menggumamkan sesuatu. "Orang toh bebas mewariskan uangnya kepada siapa saja yang disukainya?! Nona Arundell orangnya memang sangat bijaksana. Kelihatan sekali wanita tua itu tidak percaya kepada keluarganya sendiri. Dan itu beralasan." "Ah," Poirot berkata penuh antusias. "Benarkah begitu?" Perhatiannya yang serius itu mendorong Isabel lebih bernapsu mengisahkan ceriteranya. "Tentu saja benar. Tuan Charles Arundell - dia itu kemenakan Nona Arundell orangnya betul-betul tidak terpuji. Semua orang tahu itu. Kalau tak salah, ia malah dikejar-kejar polisi di negeri asing. Sifatnya tak bisa dibanggakan. Adiknya - yah, terus terang saya belum pernah bicara sendiri dengan gadis itu. Tapi rupanya aneh, Tuan. Aneh sekali. Dia itu gadis ultra modern. Make-upnya selalu tebal. Melihat warna bibirnya, saya jadi mual rasanya. Merah - seperti darah segar. Saya pikir gadis itu sudah kena pengaruh ganja pula... sikapnya tidak wajar. Dengar-dengar ia tunangan dengan dokter muda Donaldson. Tapi Donaldson pun rupanya sering

merasa jijik melihatnya. Memang dia menarik. Tapi... oh, mudah-mudahan dokter muda itu cepat sadar. Donaldson harusnya dapat isteri yang baik-baik. Gadis desa yang patuh dan menyukai alam." "Adakah sanak keluarga Nona Arundell yang lain lagi?" "Yang satu ini juga, Tuan - kurang bisa dibanggakan. Bukannya saya menjelekjelekkan Nyonya Tanios. Oh, orangnya sih sangat baik. Tetapi bodohnya minta ampun. Ia betul-betul dikuasai suaminya. Suaminya orang Turki, kalau tak salah. Sangat memalukan - gadis Inggris kawin dengan orang Turki. Kelihatan sekali rendahnya. Nyonya Tanios itu seorang ibu yang sangat baik, walaupun rupa anakanaknya kurang menarik." "Jadi, dengan kata lain Nona Lawson-lah yang paling pantas menerima warisan itu?" Dengan tulus Julia berkata, "Minnie Lawson itu orangnya benar-benar baik. Sedikit pun ia tidak materialistis. Masalah uang sama sekali tidak pernah dipikirkannya. Hal-hal semacam itu sangat jauh dari pikirannya." "Meskipun begitu, tak pernah terpikir olehnya buat menolak warisan itu?" Isabel terperangah. "Oh, mana ada orang mau berbuat begitu?" Poirot tersenyum. "Tentu saja tidak ada." "Tahukah Anda, Tuan Parrot," ujar Julia. "Minnie menganggap warisan itu dipercayakan kepadanya. Kepercayaan yang tulus dan suci dari majikannya." "Ia rela berbuat sesuatu untuk Nyonya Tanios, atau untuk kepentingan anakanaknya," lanjut Isabel. "Ia cuma tidak rela kalau suami Bella - TuanTanios maksudku- menguasai hak isterinya. "Katanya, ia malah sedang berpikir-pikir untuk memberi uang saku bulanan kepada Theresa." Bukankah semuanya itu mencerminkan kebaikan hatinya? Padahal, selama ini mereka itu memperlakukan Minnie jelek sekali." "Sungguh, Tuan Parrot, Minnie itu orang yang paling baik. Anda toh tahu sendiri bagaimana dia itu." "Ya," ujar Poirot. "Saya mengenalnya, memang. Tapi - di mana alamatnya?" "Oh, maaf.... Betapa bodohnya saya! Perlu saya tuliskan?" "Biar saya tulis sendiri." Poirot mengeluarkan buku sakunya. "17 Clanroyden Mansions, W.2. Tidak jauh dari Whiteles. Tolong sampaikan salam kami, ya Tuan. Kami sudah agak lama juga tidak mendapat kabar dari Minnie." Poirot beranjak dari duduknya. Aku mengikutinya.

"Terima kasih banyak," ucap Poirot, "atas keramahan Anda. Juga atas ceriteraceritera Anda. Terima kasih juga Anda mau memberikan alamat Minnie." "Oh, tak habis pikir mengapa orang-orang di Puri Hijau tidak memberikan alamat Minnie," Isabel berkata. "Pasti si Ellen! Dasar pembantu! Sukanya iri dan sangat picik. Mereka juga sering kasar terhadap Minnie." Julia berjabat tangan penuh hormat. "Terima kasih atas kunjungannya," ujarnya anggun. "Oh..." Ia mengerling saudaranya. "Apakah Anda," wajahnya bersemu merah. "Apakah Anda mau makan malam bersama kami, mungkin? Tidak ada apa-apa... cuma roti, sayuran, dan mentega... tambah buah- buahan...." "Hmmm... lezat kedengarannya," kata Poirot buru-buru. "Tapi sayang, kami harus segera kembali ke London." Setelah bersalaman sekali lagi, kami pun pamit dan pergi.

BAB 12 POIROT MEMPERSOALKAN KASUSNYA "Untunglah, Poirot," kataku bersungguh-sungguh, "kau segera menghindar dari tawaran makan wortel mentah mereka! Hmm... bukan main., kedua perempuan itu." "Pour nous un bon bifteck[untuk kita bistik lezat] ditambah kentang goreng dan sebotol anggur. Minuman apa yang akan disajikan kalau kita mau, ya?" "Air sumur, mungkin," jawabku bergidik. "Atau sari apel non-alkohol. Heran aku. Begitu sederhananya dan seadanya. Mungkin kamar mandi dan WC pun tak ada di situ. Yang ada cuma lubang dan pancuran di halaman belakang." "Heran, memang. Ada perempuan yang suka hidup susah begitu." Poirot nampak berpikir. "Padahal bukan karena miskin. Situasi itu sengaja mereka ciptakan. Hm... pandai juga."

"Sekarang, perintah apa yang diberikan kepada sopir?" tanyaku sementara kami menikung menuju jalan raya ke luar kota Market Basing. "Siapa lagi yang mendapat giliran kita kunjungi sekarang? Atau mau balik ke restoran George - menanyai lagi pelayan berpenyakit asma itu?" "Nah, sekarang, kau pasti senang mendengarnya, Hastings. Tugas kita di Market Basing sudah selesai..." "Bagus." "Selesai buat hari ini saja, Sobat. Kita masih harus kembali lagi ke sini." "Masih dalam rangka memburu pembunuh yang gagal membunuh itu?" "Persis sekali." "Apakah data-datamu bertambah dengan mendengarkan ocehan kakak beradik Tripp barusan?" "Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan," sahut Poirot. "Tokoh-tokoh drama kita semakin jelas ketahuan sifatnya. Ceriteranya mirip-mirip novelet zaman dulu, bukan? Pelayan yang papa yang dulunya dihina dan dicerca - berubah nasib menjadi orang yang kaya raya, yang mura hati..." "Menurutku, orang yang merasa dirinya sebagai ahli waris yang sah akan merasa segan berlaku seperti itu." "Benar, Hastings. Yang kaukatakan itu seratus persen benar!" Kami berdiam diri beberapa menit lamanya, sementara mesin Austin-ku menderu lembut mengarungi jalan menuju London. Kudengungkan sebuah nada lagu. "Little Man. You've Had a Busy Day." "Senang, Poirot?" tanyaku akhirnya. Poirot menyahut dingin, "Aku tak mengerti maksudmu. Hastings." "Yah, kelihatannya hari ini kau menghabiskan waktu buat memuaskan hobimu." "Jadi kaupikir aku main-main?" "Oh, tentu saja kau serius. Tapi kurasa tak ada gunanya terlalu melibatkan diri pada kasus ini. Kau melakukannya cuma untuk kepuasan hatimu sendiri. Maksudku, ini bukan kasus yang nyata..." "Au contraire,[sebaliknya] ini benar-benar nyata." "Mungkin caraku mengemukakan salah. Yang kumaksud adalah - seandainya dengan apa yang kaulakukan itu kau bisa menyelamatkan Nona Arundell, maka yah, bolehlah. Ada kepuasannya! Tapi dalam hal ini, apa gunanya... toh nenek itu sudah meninggal." "Kalau begitu, mon ami, apa gunanya orang menyelidiki kasus-kasus pembunuhan?" "Bukan begitu. Itu lain lagi. Maksudku, dalam kasus pembunuhan biasanya jelas ada orang yang mati terbunuh.... Oh, sudahlah. Lupakan saja!" ujarku kesal "Jangan marah! Aku mengerti maksudmu. Kau membedakan kematian yang jelasjelas disebabkan oleh pembunuhan dan kematian yang kelihatannya biasa-biasa

saja. Seandainya, Nona Arundell mati dianiaya, misalnya - dan bukan mati karena penyakit yang sudah lama diidapnya - kau tentu tak akan meremehkan usahaku membongkar kebenarannya. Begitu, kan?" "Ya." "Pokoknya, ada orang yang mencoba membunuhnya." "Ya. Tapi gagal. Ada bedanya. kan?" "Apa kau tidak kepingin tahu siapa orangnya yang ingin membunuh Nona Arundell itu?" "Tentu saja." "Sebenarnya lingkupnya cukup sempit," ujar Poirot. "Tali itu..." "Ah, tali itu cuma ada dalam bayanganmu, Poirot - karena kau melihat paku itu," sanggahku. "Siapa tahu paku itu sudah bertahun-tahun tertancap di situ?" "Tidak. Catnya masih baru." Penjelasannya? Saat itu, tak sebuah alasan pun terpikir olehku. Poirot menggunakan kesempatan itu untuk melanjutkan teorinya sendiri. "Ya. Lingkupnya memang sangat sempit. Tali itu direntangkan setelah semua penghuni rumah pergi tidur. Karena itu, kemungkinannya cuma penghuni rumah pada waktu itu yang perlu dicurigai. Dengan kata lain, orangnya ada di antara ketujuh orang yang tinggal di Puri Hijau waktu itu. Dokter Tanios. Nyonya Tanios. Theresa Arundell. Charles Arundell. Nona Lawson. Ellen. Koki." "Kupikir pelayan tak perlu kaucurigai, Poirot." "Perlu. Mereka juga menerima bagian warisan, lain: sakit hati, pertengkaran, ketidakjujuran...mana kita tahu?" "Itu tak mungkin." "Tak mungkin. Aku setuju, tapi, orang harus mempertimbangkan setiap kemungkinan." "Kalau begitu, mestinya delapan orang yang harus kaucurigai." "Mengapa begitu?" Rasanya kali ini aku menang angka. "Nona Arundell sendiri! Siapa tahu dia sengaja merentang tali di situ dengan maksud supaya orang lain yang jatuh?" Poirot mengangkat bahu. "Tidak masuk akal. Kalau benar Nona Arundell sendiri yang memasang tali itu, dia tentu akan berhati-hati. Nyatanya dia sendiri yang jatuh. Kesal, aku tidak lagi mencoba-coba membantahnya. Sambil menerawang jauh sekali, Poirot berkata, "Urut-urutan kejadiannya cukup jelas: Nona Arundell jatuh - suratnya kepadaku - kedatangan penasihat hukumnya cuma ada satu hal yang meragukan. Apakah Non Arundell sengaja menahan suratnya - tidak jadi mengirimkannya. Atau dia punya perasaan surat itu sudah dikirimkan?"

"Kita cuma bisa menebak. Secara pribadi, aku berpendapat Nona Arundell mengira surat itu sudah diposkan. Dan dia pasti heran mengapa jawabannya tidak kunjung datang." Pikiranku sedang sibuk sendiri. "Bagaimana pendapatmu tentang aliran spiritual itu, Poirot? Ada artinyakah?" tanyaku. "Maksudku, mungkinkah yang dikatakan Nona Peabody itu benar: arwah jenderal Arundell datang menyampaikan pesan supaya Nona Arundell mengubah surat wasiatnya; supaya semua kekayaannya itu diwariskan kepada Minnie Lawson." Ragu, Poirot menggeleng. "Bukan seperti itu bayanganku tentang Nona Arundell." "Kata Nona Tripp, Nona Lawson sangat terkejut waktu surat wasiat itu dibacakan," ujarku pula. "Begitu memang ceritera Nona Lawson kepada mereka." "Tapi kau tidak percaya?" "Mon ami, kau tahu kan, betapa pencuriganya diriku! Aku tidak akan mempercayai apa pun yang dikatakan oleh siapa pun, kecuali bila ada buktinya." "Benar, Sobat," komentarku. "Kau memang begitu orangnya." "Katanya. Bah! Apa artinya itu? Tidak ada. Sama sekali tak ada. Mungkin saja yang dikatakan itu benar. Tapi bukan tak mungkin itu sengaja dikatakan untuk mengacaukan kita. Aku, Sobat, cuma mau berurusan dengan fakta" "Dan faktanya..-?" "Nona Arundell jatuh. Semua orang yakin itu cuma kecelakaan biasa. Padahal kecelakaan itu sebenarnya tidak wajar - kecelakaan itu dibuat." "Buktinya... Hercule Poirot bilang begitu." "Oh. Sama sekali bukan! Ada bukti yang kuat: paku itu. Bukti lain? Surat Nona Arundell sendiri. Bukti yang lain lagi? Kata-kata yang diucapkan Nona Arundell sebelum meninggal - tentang lukisan pada guci, dan tentang bola Bob. Semuanya itu adalah fakta." "Fakta yang berikutnya lagi?" "Jawaban kita sendiri terhadap pertanyaan manusia normal. Bila Nona Arundell meninggal -siapa yang mendapat keuntungan? Jawabnya -Nona Lawson!" "Si Pelayan yang tak disukai itu! Di lain pihak, yang lain-lain mengira akan mendapat sesuatu bila Nona Arundell meninggal. Dan pada saat terjadinya kecelakaan, mereka memang akan menerima warisan bila Nona Arundell meninggal." "Tepat, Hastings. Itulah sebabnya kedudukan mereka semuanya sama: perlu dicurigai. Ada lagi suatu fakta sepele yang perlu diperhatikan: mengapa Nona Lawson bersikeras agar majikannya tidak mengetahui bahwa Bob tidak di rumah semalaman." "Curiga?"

"Tidak. Aku cuma mencatat fakta kecil itu. Bisa saja itu merupakan hal yang wajar. Tindakan seorang pelayan yang bijaksana - demi ketenangan hati majikannya. Dan pada pikirku inilah yang benar." Kukerling Poirot. Gampang sekali ia berubah pendapat. "Nona Peabody menyebutkan bahwa ada permainan di balik surat wasiat yang baru," ujarku. "Menurutmu, apa maksudnya, Poirot?" "Itu cuma caranya mengemukakan suatu kecurigaan yang tak bisa didefinisikannya." "Nona Arundell bukan potongan orang yang mudah dipengaruhi orang lain. Jadi, kupikir, kemungkinan itu kita abaikan saja. Juga, ia tidak mungkin bisa dipengaruhi oleh hal-hal tolol semacam aliran spiritual itu." "Mengapa aliran itu kausebut tolol, Hastings?" Kupandang Poirot dengan keheran-heranan. "Ya ampun, Poirot - perempuan-perempuan tolol itu toh sama sekali tak masuk akal..?!" Poirot tersenyum. "Aku setuju akan penilaianmu terhadap kedua Nona Tripp. Tapi, jangan karena hal itu dikemukakan oleh orang yang kaunilai rendah lalu kausama-ratakan nilainya dengan orang yang mengemukakannya." "Maksudmu, kau percaya aliran itu?" "Aku tidak menutup pikiranku untuk hal-hal semacam itu. Aku sendiri belum pernah mempelajari manifestasinya. Tapi hal itu tentu bisa diterima kalau melihat banyaknya ilmuwan yang menyatakan bahwa mereka mengakui adanya beberapa fenomena yang tidak bisa dijabarkan." "Kalau begitu, kau percaya bahwa kabut bulat bercahaya itu benar-benar ada di atas kepala Nona Arundell?" Poirot mengibaskan tangan. "Aku cuma bicara secara umum, Sobat - mengomentari penilaianmu yang agak terlalu sempit. Baiklah kujelaskan sekarang. Setelah tahu dan menilai bagaimana Nona Tripp itu, kupikir, kita mesti hati-hati sekali menyaring apa yang mereka kemukakan. Perempuan yang dungu, tetap saja dungu, Sobat - tak peduli apa pun yang dibicarakannya." "Tapi semua yang diucapkannya kauperhatikan dengan sungguh-sungguh," tuduhku. "Itu tugasku hari ini. Mendengarkan dengan teliti. Mendengarkan pendapat berbagai orang mengenai ketujuh tokoh yang ingin kukenal - khususnya, kelima orang yang terlibat secara langsung. Sekarang kita tahu aspek-aspek tertentu dari orang-orang ini. Ambil contoh Nona Lawson. Dari Nona Tripp kita dengar bahwa ia tokoh yang setia, tidak materialistis, murah hati, dan... semuanya yang bagusbagus. Dari Nona Peabody lain lagi yang kita dengar: orangnya dungu, tak punya

keberanian dan pikiran untuk berbuat jahat. Dokter Grainger mengatakan Nona Lawson cepat bingung, tergantung pada orang lain, dan selalu ketakutan. Dari pelayan di Restoran George, kita dapat keterangan bahwa Nona Lawson orang yang disegani. Sedangkan Ellen mengatakan, Bob sangat membencinya. Nah, bukankah masing-masing orang melihatnya dari segi yang berbeda-beda? Begitu juga halnya dengan tokoh-tokoh lainnya. Tak seorang pun berpendapat positif terhadap Charles Arundell, misalnya. Walaupun begitu, cara mereka membicarakannya berbeda-beda. Dokter Grainger menyebutnya tidak menghargai orang tua. Nona Peabody menyatakan ia bisa membunuh neneknya cuma untuk uang beberapa sen - ia juga mengatakan, bahwa secara pribadi ia lebih menyukai Charles daripada Donaldson yang tekun dan patuh. Nona Tripp bukan cuma mengatakan Charles bisa berbuat jahat. Ia malah menyebutkan bahwa Charles sudah sering melakukannya. Semua pandangan ini sangat berguna dan sekaligus menarik sekali. Berdasarkan semua itu kita bisa melakukan apa yang selanjutnya mesti kita lakukan." "Apa?" "Menarik kesimpulan sendiri, Sobat."

BAB 13 THERESA ARUNDELL Pagi berikutnya kami menuju alamat yang diberikan oleh Dokter Donaldson. Kuusulkan kepada Poirot untuk menemui penasihat hukum Nona Arundell. tapi Poirot menolak. "Jangan," katanya. "Apa yang akan kita katakan kepadanya? Alasan apa yang akan kita ajukan untuk mengorek info dari dia?" "Aaah, kan itu gampang, Poirot! Selama ini otakmu tak pernah kehabisan alasan...." "Ya. Tapi menghadapi ahli hukum lain lagi, Hastings. Risikonya besar." "Baiklah kalau begitu," ujarku. "Jangan." Jadi, seperti telah kukatakan tadi, kami pergi ke flat yang dihuni Theresa Arundell. Letaknya di daerah Chelsea. Pemandangan di sekitarnya indah, dengan sungai

jernih mengalir tak jauh dari situ. Perabotannya sangat modern dan tampak mahal harganya- Semua terbuat dari khrom mengkilat dengan kombinasi kulit. Karpetnya tebal bermotifkan garis-garis geometris. Beberapa menit kami menunggu. Kemudian keluarlah seorang gadis. Gadis itu menemui kami dengan wajah penuh tanda tanya. Kelihatannya Theresa Arundell berumur dua puluh delapan atau dua puluh sembilan-an. Perawakannya tinggi, dan tubuhnya amat langsing. Dalam gaun hitam putih yang dikenakannya, ia nampak seperti lukisan yang terlalu dibuat-buat. Rambutnya hitam legam - wajahnya bermake-up tebal dan sangat putih. Alisnya yang sengaja dibentuk itu memberi kesan kurang menyenangkan. Bibirnya merupakan satu-satunya warna cerah. Merah menyala - pada wajah yang teramat putih. Ia juga memancarkan suatu kesan, bahwa di dalamnya tersembunyi kekuatan dan semangat yang besar sekali. Aku sendiri tak tahu mengapa aku memperoleh kesan seperti itu. Tapi, sungguh; kesan itulah yang kudapat sejak aku melihatnya. Dengan pandangan dingin dan penuh tanda tanya ia melihatku. Kemudian dialihkannya pandangannya kepada Poirot. Lelah berbohong (kukira), Poirot kali ini menunjukkan kartu namanya sendiri. Theresa memegang kartu itu sambil mengamat-amatinya. "Anda M. Poirot?" tanyanya. Poirot mengangguk dan bersikap sangat sopan. "Benar, Mademoiselle. Boleh saya mengganggu Anda sebentar?" Seolah menirukan sikap Poirot yang resmi, gadis itu berkata. "Tentu saja. M. Poirot. Silakan duduk." Poirot memilih kursi santai yang rendah. Sedang aku sendiri memilih yang bersandaran tegak. Dengan anggun namun cukup santai,Theresa menjatuhkan dirinya pada kursi pendek di dekat perapian, ia menawarkan rokok. Ketika kami menolak, ia pun menyulut sebatang untuk dirinya sendiri. "Anda mungkin sudah mengenal nama saya. Mademoiselle?" Theresa mengangguk. "Komplotannya Scotland Yard. Betul, bukan?" Poirot nampak senang dijuluki begitu. Dengan merasa diri penting, ia berkata, "Saya memang menyibukkan diri saya dengan menangani masalah-masalah kriminalitas, Mademoiselle?" "Oh, menarik sekali kedengarannya," ujar Theresa walaupun nadanya bosan. "Sayang buku tandatangan saya hilang. Saya yakin tandatangan Tuan termasuk yang banyak diburu." "Kali ini saya menghadapi suatu masalah," lanjut Poirot. "Saya menerima surat dari bibi Anda." "Dari bibi saya?" "Betul. Begitu saya bilang tadi," komentar Poirot.

Theresa bergumam, "Maafkan saya. Tapi, sungguh - saya tidak punya bibi. Semua bibi saya sudah meninggal. Yang terakhir meninggal kurang lebih dua bulan yang lalu." "Nona Emily Arundell?" "Ya. Nona Emily Arundell namanya. Anda toh bukan menerima surat dari orang yang sudah mati, M. Poirot?" "Ada kalanya, Mademoiselle." Ada sesuatu yang baru dalam suara gadis itu. Perhatian, dan juga kehati-hatian. "Apa yang ditulis bibi saya, M. Poirot?" "Itu, Mademoiselle, belum bisa saya kemukakan sekarang," ujar Poirot berdehem. "Masalahnya agak sensitif." Sunyi. Theresa Arundell menghisap asap rokoknya. Kemudian katanya, "Kedengarannya berahasia sekali, Anda. Lalu apa hubungannya dengan saya?" "Saya harap, Mademoiselle, Anda bersedia menjawab beberapa pertanyaan." "Pertanyaan? Mengenai apa?" "Mengenai keluarga Anda." Mata Theresa membelalak. "Itu terlalu luas, saya kira. Bisakah Anda memberi contoh, kira-kira macam apa pertanyaannya?" "Contohnya, bisakah Mademoiselle memberikan alamat kakak Mademoiselle Charles?" Kini matanya yang tadi membelalak kembali menjadi sempit. Tenaganya yang tadi nampak tersembunyi, sekarang tidak kelihatan sama sekali. Ia seperti keong yang menarik diri ke dalam siputnya. "Tidak. Saya jarang sekali berkirim surat kepadanya. Dia pun begitu. Saat ini dia sedang di luar negeri." "Oh." Poirot diam. "Cuma itu yang ingin Anda tanyakan?" "Masih ada beberapa pertanyaan lagi. Salah satunya, apakah Anda merasa puas dengan cara bibi Anda mewariskan hartanya? Pertanyaan yang lain, sudah berapa lamakah Anda bertunangan dengan Dokter Donaldson?" "Taktik Anda cepat juga rupanya." "Eh bien - kita tidak saling mengenal. Karena itu cuma satu jawaban saya: semuanya itu bukan urusan Anda. Ca ne vous regarde pas, M. Hercule Poirot." Poirot memperhatikannya tanpa kedip. Kemudian, tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikit pun, ia bangkit. "Oh, jadi begitu! Sudah kuduga. B again biarkan saya memuji aksen bahasa Prancis Anda yang sangat mengagumkan itu, Mademoiselle. Selamat pagi, dan banyak terima kasih. Ayo, Hastings!"

Kami sudah sampai di pintu ketika terdengar suaranya. Kekuatannya yang terpendam kelihatan timbul lagi. Ia tak sedikit pun beranjak dari tempat duduknya semula. Namun sepatah kata yang diucapkannya toh mengubah suasana. "Kembalilah!" Poirot menurut. Ia duduk kembali dan memandangnya penuh tanda tanya. "Sebaiknya kita hentikan semua pura-pura ini," katanya. "Siapa tahu Anda bisa menolong saya, M-Poirot." "Dengan segala senang hati, Mademoiselle. Apa yang harus saya lakukan?" Di antara dua kepulan asap rokok yang disemburkannya, ia berkata dengan tenang dan teratur. "Tolong kasih tahu saya: bagaimana cara membatalkan surat wasiat itu." "Oh, pengacara..." "Ya. Tentu saja," selanya. "Pengacara memang bisa melakukannya - asal kita ketemu pengacara yang tepat. Pengacara yang saya kenal semuanya orang-orang terhormat. Mereka bilang surat itu sudah sah. Mereka menasihati supaya saya tidak mencoba-coba menyangkalnya. Percuma, katanya. Cuma menghabiskan biaya saja." "Anda tidak percaya akan hal itu?" "Saya percaya bahwa di dunia ini selalu ada cara untuk melakukan apa pun - asal tidak terlalu takut salah, dan berani membayar. Nah, saya dalam hal ini bersedia membayar." "Anda yakin saya mau melakukannya kalau saya dibayar?" "Setahu saya, kebanyakan orang mau. Apa bedanya Anda dengan yang lain. Menyangkal kejujuran diri sendiri memang wajar... tapi itu cuma mula-mula saja...." "Oh, begitu. Jadi, ini merupakan bagian dari permainannya? Seandainya saya bersedia melakukannya - apa kira-kira yang mesti saya lakukan?" "Saya sendiri tidak tahu. Anda kan orang pandai. Semua orang tahu itu, M. Poirot. Saya percaya Anda bisa memikirkan suatu cara." "Misalnya?" Theresa mengangkat bahu. "Itu urusan Anda. Mencuri surat wasiat itu dan memalsunya, kek. Menculik si Lawson dan memaksanya mengaku bahwa dia memaksa Bibi Emily menulis surat wasiat itu.... Mengarang surat wasiat baru yang seolah-olah dibuat oleh Bibi Emily sesaat sebelum meninggal.... Yah, banyak cara!" "Imajinasi Anda sangat mengagumkan. Mademoiselle." "Nah, bagaimana jawaban Anda? Saya sudah cukup terang-terangan. Kalau Anda menolak, silakan keluar." Theresa berkata sambil menunjuk ke pintu. "Saya tidak menolak. Tapi..." ujar Poirot.

Theresa Arundell tertawa. Ia memandangku. "Teman Anda kelihatannya shock. Apakah tidak sebaiknya Anda suruh dia berjalan-jalan di luar saja sementara kita berunding?" Poirot memandangku jengkel. "Kontrol sikapmu, Hastings. Maafkan dia, Mademoiselle. Dia memang orang yang jujur. Tapi dia sangat setia. Kesetiaannya kepada saya seratus persen. Baiklah. Saya ingin menekankan di sini, bahwa apa yang akan kita lakukan tidak akan bertentangan dengan hukum." Alis mata Theresa terangkat. "Hukum," lanjut Poirot, "mempunyai banyak bidang cakupan." Theresa tersenyum tipis. "Baiklah. Jadi .kita sama-sama mengerti itu. Anda ingin merundingkan bagian yang akan Anda peroleh jika Anda berhasil?" "Itu bisa juga kita putuskan sekarang. Saya tidak akan meminta lebih daripada yang sewajarnya saja." "Oke," ujar Theresa Arundell. Poirot beringsut ke pinggir kursi yang didudukinya. "Sekarang saya minta Anda mendengarkan apa yang saya katakan, Mademoiselle. Biasanya, katakan - dalam sembilan puluh sembilan di antara seratus kasus - saya selalu berdiri di pihak hukum. Satu lainnya - yah, itu berbeda. Mungkin itu karena memang lebih menguntungkan begitu... yang penting, semuanya ini harus dilaksanakan dengan diam-diam. Anda mengerti maksud saya, bukan? Saya punya reputasi, dan saya tak mau reputasi saya terganggu. Kita harus sangat berhati-hati." Theresa Arundell mengangguk. "Di samping itu saya perlu fakta-fakta yang selengkapnya. Fakta-fakta yang benar! Anda mengerti bukan, Mademoiselle, bahwa bila kebenarannya sudah diketahui, maka lebih gampang memikirkan taktik apa yang akan kita lakukan?" "Kedengarannya masuk akal," komentar Theresa. "Baiklah, kalau Anda sudah mengerti. Sekarang, kapan surat wasiat itu ditulis maksud saya, tanggal berapa? "Tanggal dua puluh satu April." "Surat wasiat yang sebelumnya?" "Bibi Emily menulis surat wasiat itu kurang lebih lima tahun yang lalu." "Setelah memberikan sekedar tanda jasa kepada Ellen dan seorang bekas koki, sisa kekayaannya dibagi tiga untuk kemenakannya, anak saudara kandungnya, Thomas dan Arbella." "Apakah warisan itu akan diserahkan kepada seorang wali?" "Tidak. Bisa langsung diserahkan kepada kami." "Sekarang, hati-hati! Apakah Anda mengetahui bagaimana pembagian warisannya menurut surat wasiat itu?" "Oh, Ya. Charles juga tahu. Begitu juga Bella. Bibi Emily tidak pernah merahasiakan hal itu. Setidaknya, kalau ada di antara kami yang ingin pinjam

uang, Bibi Emily selalu mengatakan, 'Kalian toh akan mewarisi semua uangku kalau aku mati nanti'" "Apakah bibi Anda juga menolak kalau pinjaman itu sifatnya sangat penting misalnya karena ada yang sakit?" "Saya kira tidak." "Tapi bibi Anda berpendapat bahwa Anda semuanya sudah berkecukupan?" "Benar- Bibi Emily memang selalu beranggapan seperti itu." Suaranya terdengar pahit. "Padahal - sesungguhnya tidak begitu?" Theresa tidak segera menjawab. "Ayah meninggalkan sedikit uang. Kami masing-masing mendapat tiga puluh ribu pound. Uang itu disimpan di bank. Bunganya setahun kurang lebih seribu dua ratus pound. Memang cukup untuk hidup yang pas-pasan. Tapi saya..." suara Theresa tiba-tiba berubah, tubuhnya yang langsing menegak, kepalanya terangkat tinggi, dan ia berbicara dengan semangat menggebu-gebu. "Tapi saya menghendaki lebih dari itu! Saya ingin yang terbagus! Makanan yang paling lezat. Baju yang paling indah - bukan cuma sekedar penutup tubuh yang memadai dengan model kampungan. Bukan. Yang kuinginkan baju dengan potongan mantap dan meyakinkan Saya ingin hidup dan menikmati hidup ini - pelesir ke Laut Tengah, berjemur di pantai hangat, berjudi dengan persediaan uang cukup, berpesta pora pesta yang mewah dan meriah. Saya ingin semuanya apa saja yang ada di bumi celaka ini. Bukan kapan-kapan, tapi sekarang! Saya ingin semuanya itu saat ini juga!" Suaranya begitu menawan, mengalun lembut namun pasti dan diurapkan dengan penuhsemangat. Poirot menatap gadis itu, memperhatikan setiap kata yang diucapkannya - dengan sungguh-sungguh. "Dan, saya tidak salah menduga, bukan - bila saya kira saat ini Anda telah menikmati semuanya itu?" "Benar. Hercule - semuanya itu sudah saya rasakan." "Tinggal berapa uang Anda yang tersisa dari yang tiga puluh ribu itu?" Tiba-tiba Theresa tertawa ngakak. "Dua ratus dua puluh satu pound lebih tujuh pence. Itu jumlah yang setepattepatnya. Jadi, tanpa hasil jangan harap Anda akan dibayar." "Kalau memang demikian halnya. Mademoiselle" Poirot berkata, "saya yakin saya akan berhasil." "Jiwamu besar, Hercule. Untung saja kita bertemu." Dengan nada bisnis Poirot menyambung, "Masih ada beberapa hal lagi yang perlu saya ketahui. Apakah Anda mengganja?" "Tidak. Tak pernah."

"Minum?" "Ya - cukup banyak. Tapi bukan karen ketagihan. Saya minum karena kawankawan saya minum. Saya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan saya. Tapi, kalau perlu, saya bisa menghentikan kebiasaan itu dengan segera." "Bagus sekali." "Saya kan tidak mau mabuk dan membocorkan rahasia sendiri, Hercule." Poirot melanjutkan, "Anda suka ganti-ganti pacar?" "Dulu - ya." "Dan sekarang?" "Cuma Rex." "Dokter Donaldson, maksudnya?" "Ya." "Kelihatannya dia berbeda sekali dengan kehidupan yang baru saja Anda sebutkan tadi." "Memang." "Tapi toh Anda mencintainya? Mengapa, kalau saya boleh tahu?" "Alasannya, maksud Anda? Yah, mengapa, ya? Mengapa Juliet jatuh cinta kepada Romeo? Sama saja begitu." "Salah satu sebabnya, karena Romeo kebetulan pemuda pertama yang dijumpainya." Perlahan Theresa berkata. "Rex bukan lelaki pertama yang saya lihat," ujarnya. Kemudian, masih dengan suara perlahan ia menambahkan, "Tapi saya yakin ia lelaki terakhir." "Dia miskin, Mademoiselle." Theresa mengangguk. "Sangat miskin! Tapi dia orangnya tidak menginginkan kemewahan atau keindahan atau kesenangan atau semacamnya. Kalau perlu, ia bersedia tidak ganti baju sampai bajunya berlubang, makan daging kaleng setiap hari, dan mandi dalam bak alumunium reot. Kalau dia punya uang, uangnya akan dihabiskannya untuk membeli tabung-tabung percobaan dan mendirikan laboratorium. Dia ambisius. Profesi adalah segalanya baginya. Profesi, baginya, lebih penting dan lebih berarti daripada diri saya." "Apakah dia tahu bahwa Anda akan menerima warisan bila bibi Anda meninggal?" "Ya. Saya mengatakan kepadanya. Oh! Tapi, tentu saja setelah kami bertunangan. Dia bukan mengawini saya karena uang." "Sampai sekarang dia masih tunangan Anda?" "Tentu saja." Poirot tidak memberi komentar. Ini. kelihatannya membuat Theresa gelisah. "Tentu saja kami masih tunangan," ulangnya. "Apakah Anda pernah bertemu dengannya?"

"Sudah. Kemarin, di Market Basing." "Oh, ya. Apa katanya?" "Saya tidak bicara apa-apa dengannya. Cuma minta alamat kakak Anda." "Charles?" suaranya kembali tajam. "Apa perlunya Anda mencari Charles?" "Charles? Siapa yang mencari Charles?" Yang belakangan asalnya dari suara lain yang belum kami kenal sebelumnya. Suara seorang laki-laki, suara yang nyaman dan enak didengar. Seorang lelaki muda berwajah kecoklatan melangkah masuk dengan senyum yang teramat memikat. "Siapa yang menyebut-nyebut namaku?" tanyanya. "Aku tidak nguping, tapi kebetulan mendengar namaku disebut-sebut. Ada apa sebenarnya, Theresa? Ayo ceriterakan!"

BAB 14 CHARLES ARUNDELL Harus kuakui, aku tertarik pada laki-laki muda bernama Charles sejak detik pertama memandangnya. Ada sesuatu yang memikat pada dirinya. Matanya simpatik, kaya akan kerlingan humor. Senyumnya sangat menawan. Melenggang santai, ia berjalan ke tengah ruangan, dan duduk pada lengan sebuah kursi. "Ada apa, Non?" tanyanya lagi. "Kenalkan Ini M. Hercule Poirot, Charles. Katanya dia bersedia melakukan pekerjaan kotor buat membantu kita. Imbalan yang dimintanya tidak berlebihan." "Maaf," sela Poirot. "Saya menyangkal bila Anda mengatakan pekerjaan yang akan saya lakukan itu kotor. Bukan pekerjaan kotor. Bagaimana kalau kita sebut saja semacam penipuan tanpa maksud jahat -sekedar agar maksud semula bibi Anda terlaksana?" "Terserah! Anda boleh sebut itu apa saja, sesuka hati Anda," ujar Charles. Nadanya enak didengar, dan tidak menyakitkan hati. "Ngomong-ngomong, bagaimana ceriteranya sampai Theresa bisa menghubungi Anda?"

"Adik Tuan tidak pernah menghubungi saya," kata Poirot cepat. "Saya datang ke sini atas kemauan saya sendiri." "Menawarkan jasa?" "Sebetulnya tidak. Saya datang hendak mencari Anda. Adik Anda mengatakan bahwa Anda sedang di luar negeri." Charles berkata, "Theresa memang seorang adik yang bijaksana, ia sangat berhatihati. Hampir tak pernah dia berbuat salah. Tapi, terus terang - orangnya sangat pencuriga." Charles memandang adiknya sayang. Tapi yang dipandang tidak membalas senyumannya. Ia kelihatan gelisah dan berpikir. "Saya jadi bingung. Mengapa jadi begini? Bukankah Anda M. Poirot yang tersohor sebagai pemburu orang jahat paling ulung? Mengapa tiba-tiba mau melakukan yang sebaliknya?" "Kami bukan penjahat," komentar Theresa tajam. "Tapi kami bersedia jadi penjahat," Charles berkata ringan. "Terus terang, saya sudah berpikir-pikir untuk membuat surat wasiat palsu. Itu satu-satunya yang terpikir oleh saya. Saya dikeluarkan dari Oxford karena masalah cek. Bodoh juga sih saya waktu itu... mencoret cek dan mengganti angkanya. Tentu saja ditolak. Pernah lagi kejadian di Market Basing. Tapi yah - itu toh karena saya kurang hatihati. Bisa dimaklumi! Masih coba-coba. Gagal juga kurang ada artinya. Nah, rencana yang ini - membuat surat wasiat palsu yang seolah-olah dibuat oleh Bibi Emily ditempat tidur beberapa saat sebelum meninggal - kuakui: agak riskan. Satusatunya jalan, kita harus membujuk - kalau perlu memaksa dan mengancam Ellen supaya mau mengaku bahwa dia menyaksikan Bibi Emily menulis surat yang paling akhir ini. Saya tahu itu sukar. Yah, kalau terpaksa, mengawininya pun saya mau. Bukan karena apa-apa. Tapi karena dengan begitu saya yakin dia tidak bisa memberikan kesaksian yang merugikan saya." Charles meringis manis kepada Poirot. "Saya jadi ngeri Anda memasang alat perekam - bisa-bisa seluruh Scotland Yard mendengar semua yang saya katakan tadi," ujarnya. "Saya tertarik pada masalah yang Anda hadapi," Poirot berkata. Sikapnya menunjukkan rasa kurang senang. "Saya memang tidak bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum. Tapi, masih banyak jalan selain..." Poirot sengaja berhenti. Charles Arundell mengangkat bahu. "Saya yakin ada cara lain yang bisa dipikirkan dengan menggunakan kelemahankelemahan hukum," katanya. "Anda pasti lebih tahu." "Siapa yang menyaksikan penandatanganan surat wasiat bibi Anda yang baru? Maksud saya, yang dibuat pada tanggal 21 April itu?" "Purvis waktu itu mengajak anak buahnya. Saksi lainnya Pak Kebon Bibi Emily."

"Surat itu ditandatangani di hadapan Tuan Purvis?" "Ya." "Dan, Tuan Purvis ini orang yang reputasinya sangat terhormat?" "Purvis, Purvis, Charlesworth dan sekali lagi Purvis - itu sama terhormatnya dengan Bank of England." "Sebenarnya," cetus Theresa, "Tuan Purvis tak senang Bibi Emily menulis surat yang kedua itu. Dia malah mencoba mencegah Bibi Emily membuat surat itu." Charles berkata tajam, "Dia bilang begitu kepadamu, Theresa?" "Ya. Saya ke kantornya kemarin." "Tidak baik. Sudah berkali-kali kukatakan tidak baik. Tak ada gunanya kau mondar-mandir ke sana." Theresa mengangkat bahu. Poirot berkata, "Coba ceriterakan kepada saya sebanyak mungkin mengenai minggu-minggu terakhir sebelum Bibi Anda meninggal. Setahu saya. Anda berdua, juga Dokter Tanios dan isterinya, tinggal di sana selama liburan Paskah." "Betul." "Adakah kejadian yang patut dicatat selama itu?" "Tidak." "Tidak ada? Saya kira..." Charles menyela, "Dasar egois, kau. Theresa! Kau - dimabok cinta! Theresa punya pemuda idaman di Market Basing, M. Poirot. Pemuda asli situ. Akibatnya, dia kurang sadar akan apa yang terjadi. Bibi Emily mengalami kecelakaan. Jatuh menggelinding dari pucuk tangga. Hampir saja meninggal. Sayangnya tidak. Kalau Bibi Emily meninggal waktu itu, tentu semuanya ini tidak akan terjadi." "Jatuh dari tangga?" "Ya. Tersandung bola anjing kesayangannya. Anjing itu sembrono. Suka bermain bola di tangga situ. Celakanya, dia sering meninggalkan bolanya begitu saja di situ. Bibi Emily tersandung waktu dia hendak turun." "Kapan kejadiannya?" "Tunggu - Selasa malam. Sebelum kami pulang." "Bibi Anda luka parah?" "Sayang bukan kepalanya duluan yang menumbuk lantai. Kalau ya, paling tidak Bibi Emily gegar otak. Tapi tidak. Bibi Emily hampir tidak luka sama sekali." "Dan ini sangat mengecewakan buat Anda!" "Apa? Oh, ya, saya mengerti maksud Anda. Memang, sangat mengecewakan." "Anda semuanya pulang pada hari Rabunya?" "Benar." "Rabu tanggal lima belas. Sesudah itu. apakah Anda pernah bertemu lagi dengan bibi Anda sebelum Beliau meninggal?"

"Ya. Tapi bukan malam Minggu berikutnya. Malam Minggu yang sesudahnya. Jadi, dua minggu sesudahnya." "Oh, jadi itu tanggal dua puluh lima, bukan?" "Ya." "Dan kapan meninggalnya bibi Anda?" "Hari Jumat setelah itu." "Setelah sakit mulai hari Senin malamnya?" "Ya." "Anda pulang hari Senin itu?" "Ya." "Apakah selama Nona Arundell sakit Anda datang menjenguk?" "Tidak. Kami baru datang hari Jumat itu. Tak sangka keadaan Bibi Emily seburuk itu." "Jadi kedatangan Anda itu tepat sebelum Beliau meninggal?" " "Tidak. Bibi Emily sudah meninggal ketika kami datang. Kami terlambat." Poirot ganti memandang Theresa. "Anda datang ke sana bersama kakak Anda?" "Ya." "Dan bibi Anda tidak mengatakan apa-apa mengenai surat wasiatnya yang baru?" "Tidak," jawab Theresa. Pada saat yang bersamaan Charles menjawab "Ya." Bicaranya ringan seperti semula. Hanya saja ada sesuatu dalam suaranya yang kedengaran kurang wajar. "Oh. Jadi Nona Arundell mengatakan bahwa dia membuat surat wasiat baru?" "Charles!" seru Theresa. Charles nampak gelisah. Ia menghindari pandangan adiknya. "Masa kau lupa, Theresa? Aku kan sudah bilang. Bibi Emily mengultimatum. Dia duduk seperti hakim di pengadilan. Berpidato panjang lebar. Katanya dia kecewa pada semua keluarganya - maksudnya, Theresa dan saya sendiri. Bella, katanya tidak termasuk. Tapi Bibi Emily benci dan tak bisa mempercayai suami Bella. Kalau toh Bella diwarisi sesuatu. Bibi Emily tak mau suaminya ikut menguasai harta itu. Orang Yunani tidak bisa dipercaya. 'Biarkan Bella lebih aman begitu saja.' Begitu kata Bibi Emily. Bibi Emily juga mengatakan, bahwa Theresa dan saya sama-sama tidak dapat dipercaya dalam hal yang menyangkut uang. Katanya. paling-paling uangnya dipakai berjudi dan dihambur-hamburkan. Itulah sebabnya, katanya, ia membuat surat wasiat yang baru. Semua kekayaannya akan diwariskan kepada Minnie Lawson. Minnie memang agak bodoh,' katanya, meskipun begitu dia setia. Aku yakin dia berbakti padaku tanpa pamrih. Kita tidak bisa menyalahkannya kalau otaknya kurang cerdas. Kupikir, Charles, lebih baik kukatakan semuanya ini kepadamu - supaya kau tidak terlalu banyak mengharap dariku.' "

"Mengapa kau tidak menceriterakannya kepadaku, Charles?" tanya Theresa sengit. "Sudah.'" Charles masih tetap menghindari pandangan adiknya. Poirot ganti bertanya, "Bagaimana reaksi Anda ketika itu. Tuan Arundell?" "Reaksi?" tanyanya. "Saya cuma tertawa. Tak baik membalas kekasarannya dengan kekasaran pula. Bukan begitu caranya. 'Terserah, kalau itu memang yang Bibi inginkan,' kataku. 'Terus terang saya kaget mendengarnya, tapi itu toh uang Bibi sendiri. Bibi bebas mempergunakannya sesuka hati Bibi.' " "Dan reaksi bibi Anda?" " 'Bagus,' katanya, 'Kau sportif.' Kubalas, 'Aku cuma membalas kekasaran dengan kehalusan, Bibi. Ngomong-ngomong, kalau Bibi memang tidak akan mewarisiku apa-apa, boleh kan saya minta uang jajan sedikit sekarang?' Bibi Emily bilang saya anak tak tahu malu, tapi toh memberikan juga selembar uang lima pound." "Anda pandai sekali menyembunyikan perasaan, Tuan Arundell." "Terus terang saya tidak menganggapnya serius."' "Oh, ya?" "Ya. Saya pikir itu cuma taktik orang tua menakut-nakuti anak. Saya yakin beberapa minggu kemudian Bibi Emily akan menyobek surat wasiatnya yang baru. Bibi Emily orangnya sangat besar rasa kekeluargaannya. Perasaan saya begitu yakin Bibi Emily akan mengubah lagi isi surat wasiatnya kalau saja tidak meninggal secepat itu." "Ah!" Poirot berkata. "Luar biasa! Sangat menarik!" Semenit atau dua menit lamanya, Poirot diam. Kemudian ia berkata, "Mungkinkah ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan itu - Nona Lawson, umpamanya?" "Mungkin saja. Kami tidak berbisik-bisik waktu itu. Dan terus terang, ketika saya keluar, si Lawson memang sedang keluyuran dekat pintu. Siapa yang tahu dia memang nguping." Poirot mengalihkan perhatiannya kepada Theresa. "Sungguh Anda tidak tahu sama sekali mengenai ini?" Belum sempat gadis itu menjawab, Charles sudah menyela, "Theresa - aku yakin aku sudah menceriterakan-ya kepadamu. Memang tidak selengkap yang barusan kuceriterakan. Tapi aku sudah bilang kepadamu. Sungguh, Theresa!" Aneh. Charles menatap tajam adiknya. Tatapan yang menunjukkan kegelisahan, dan terasa tidak pas dalam pembicaraan itu. Perlahan Theresa berkata, "'Kalau memang benar kau sudah menceriterakannya kepadaku - tidak mungkin aku lupa. Betul, bukan, M. Poirot?" Sepasang matanya yang hitam tajam memandang Poirot. "Benar, Nona Arundell," sahut Poirot pelan. "Anda tak mungkin lupa." Tiba-tiba Poirot berpaling kepada Charles.

"Coba jelaskan dengan teliti, Tuan Arundell - Apakah waktu itu Bibi Anda mengatakan akan merubah surat wasiatnya; ataukah sudah melakukannya?" Jawaban Charles cukup cepat. "Sudah. Bibi Emily malah menunjukkan surat wasiatnya yang baru." Duduk Poirot menegak. Matanya membeliak. "Ini penting sekali. Jadi, Anda tadi bilang - Bibi Anda benar-benar menunjukkan surat wasiatnya yang baru kepada Anda?" Charles membuat beberapa gerakan seperti anak kecil yang resah. Kelihatan sekali pertanyaan Poirot memojokkan pemuda itu. "Ya," ujarnya. "Bibi Emily menunjukkan surat wasiat itu kepada saya." "Anda berani sumpah?" "Berani." Charles memandang Poirot dengan gelisah. "Apa pentingnya sih?" Theresa berdiri dari kursinya. Ia berjalan pelan-pelan ke perapian, dan berdiri di dekatnya. Disulutnya sebatang rokok baru. "Dan Anda, Mademoiselle?" alih Poirot tiba-tiba. "Apakah Bibi Anda tidak mengatakan apa pun kepada Anda mengenai hal ini?" "Tidak. Bibi Emily ramah - maksud saya, biasa-biasa saja. Menasihati saya supaya mengubah cara hidup saya yang jelek, dan sebagainya. Tapi itu memang biasa dilakukannya. Hanya saja, yang terakhir kemarin memang rasanya sedikit lain." Tersenyum, Poirot berkata, "Mungkin karena Anda terlalu sibuk dengan tunangan Anda, Mademoiselle?" Jawaban Theresa pedas. "Oh. Dia tidak di sana waktu itu. Kebetulan ada suatu kongres kesehatan yang harus dihadirinya." "Jadi, Anda belum bertemu lagi dengannya semenjak liburan Paskah?" "Benar. yang terakhir, waktu dia datang santap malam bersama di Puri Hijau malam sebelum kami pulang." "Maafkan pertanyaan saya ini. Apakah Anda tidak bertengkar dengan tunangan Anda waktu itu?" "Tentu saja tidak." "Saya cuma berasumsi - mencoba mencari jawab, mengapa ia pergi pada kunjungan Anda yang kemudian." Charles menyela, "Kedatangan kami setelah Paskah itu memang tidak direncanakan sebelumnya." "Sungguh?" "Oh, sudahlah! Kita terus terang saja: Bella dan suaminya menjenguk Bibi Emily seminggu sebelum itu. Mereka berusaha menunjukkan perhatian. Kami kuatir, mereka itu mendahului langkah kami...." "Kami berpikir," Charles berkata dengan tersenyum lebar, "bahwa kami pun sepantasnya menunjukkan perhatian pada kesehatan Bibi Emily... Kami tahu Bibi

Emily sukar dibohongi. Dia cepat menangkap apa yang sebetulnya ada di balik kedatangan kami itu." "Lucu, bukan? Semuanya bermanis-manis demi uang." "Itu juga yang dilakukan oleh saudara sepupu Anda dan suaminya?" "Ya. Kehidupan Bella selama ini agak sulit. Ia berusaha meniru semua model baju saya - dengan biaya tak lebih dari seperdelapannya. Sebenarnya Bella tidak miskin. Tapi, suaminya suka berspekulasi. Uang Bella habis dispekulasikannya. Itu sebabnya mereka hidup sangat sulit sekarang. Anak mereka dua orang, dan mereka ingin menyekolahkan anak-anak itu di Inggris sini." "Boleh saya minta alamatnya?" tanya Poirot. "Sekarang mereka masih tinggal di Hotel Durham, Di Bloomsbury." "Bagaimana dia orangnya? Maksud saya, saudara sepupu Anda itu?" "Bella? Oh, agak membosankan. Charles?" "Benar. Sangat membosankan. Tampangnya seperti kepik. Dia seorang ibu yang baik- begitu juga kepik." "dan suaminya?" "Tanios? Yeah, tampangnya agak aneh. Tapi dia orangnya manis. Cerdas, menyenangkan...." "Anda setuju, Mademoiselle?" "Yah - harus saya akui, saya lebih menyukai Tanios daripada Bella. Tanios dokter yang pandai sekali. Meskipun begitu, sukar bagi saya untuk mempercayainya." "Theresa," ujar Charles sambil melingkarkan lengannya pada bahu adiknya, "tak pernah percaya pada siapa pun. Termasuk saya." "Kalau ada orang yang mempercayaimu, Charles, pasti ada sesuatu yang tidak beres pada orang itu," sahut Theresa. Charles melepaskan Theresa. Kedua kakak- beradik itu kini memandang Poirot. Poirot menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju pintu. "Akan saya kerjakan tugas saya! Memang sulit. Tapi Mademoiselle benar - jalan bisa dicari. Ngomong-ngomong, apakah Nona lawson tipe orang yang bingung bila diperiksa di pengadilan?" Charles dan Theresa saling bertukar pandang. "Menurut saya," Charles berkata, "kalau pandai orang yang menanyainya, ia bisa mengatakan yang hitam itu putih." "Terima kasih. Informasi ini sangat berguna," ucap Poirot. Ia keluar dari ruang apartemen itu, dan aku pun mengikutinya. Di tempat peniupan topi dan jas, Poirot mengambil topinya. Setelah itu ia berjalan menuju pintu keluar. Dibukanya pintu itu, dan dihempaskannya sedemikian rupa hingga pintu itu menutup dengan suara keras. Poirot tidak keluar. Ia masih tetap di dalam. Berjingkat-jingkat ia kembali ke dekat pintu ruang duduk apartemen Theresa dan tanpa malu-malu, ditempelkannya

telinganya dekat lubang kunci. Nguping seperti itu sangat memalukan bila dilakukan oleh orang yang berpendidikan. Dan kali ini, aku merasa malu dan marah melihat Poirot melakukannya. Tapi aku tak berdaya mencegahnya. Beberapa kali kuberi isyarat, namun Poirot tak menghiraukannya. Kemudian, jelas sekali, terdengar suara Theresa Arundell yang dalam dan bergetar mengucapkan dua patah kata, "Kau bodoh!" Terdengar langkah kaki orang, dan Poirot pun cepat menarik lenganku sambil setengah menyeretku ke luar melalui pintu yang tadi dibuka dan dihempaskannya. Kali ini ia membuka dan menutupnya tanpa suara.

BAB 15 NONA LAWSON "Poirot," ujarku, "perlukah nguping seperti itu?" "Tenang, Kawan - kau tak perlu malu. Toh yang melakukan bukan kau." "Ya. Tapi aku juga ikut mendengar." "Betul. Mademoiselle memang tidak berbisik-bisik." "Itu, karena dia berpikir kita sudah pergi." "Kuakui. Kita memang sedikit curang." "Aku tak suka itu." "Moralmu agak terlalu tinggi. Tapi sudahlah. Sudah berkali-kali kita memperdebatkannya. Kau mau bilang bahwa permainan begitu tidak jujur, kan? Nah. Jawabku, pembunuhan juga bukan permainan yang jujur." "Tapi, dalam hal ini toh tidak ada pembunuhan?" "Jangan terlalu yakin akan pendirianmu itu." "Maksud memang ada - ya, maksud membunuh itu memang ada, mungkin. Tapi, membunuh dan mencoba membunuh toh berbeda?" "Ditinjau dari segi moral, keduanya sama. Tapi. yakinkah kita bahwa yang kita hadapi ini cuma suatu percobaan membunuh?" Kupandang Poirot dengan rasa heran. "Tapi, Poirot, Nona Arundell meninggalnya wajar." "Sekali lagi kuulang - yakinkah kau?"

"Semua orang bilang begitu." "Semua orang? Oh, ia ia!" "Dokternya mengatakan begitu," bantahku. "Dokter Grainger toh tahu penyebab kematiannya." "Ya. Seharusnya dia tahu penyebabnya." Kedengarannya Poirot tidak puas. "Tapi ingat, Hastings. Tubuh orang mati masih selalu bisa digali kembali dan diperiksa. Dalam hal begitu, ada surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh dokter yang menanganinya secara jujur." "Aku mengerti. Tapi, dalam hal ini Nona Arundell toh meninggal karena sakit yang berkepanjangan?" "Kelihatannya." Suara Poirot masih menunjukkan rasa tidak puasnya. Kuperhatikan dia. "Poirot," ujarku. "Sekarang giliranku tanya dengan memakai kata-kata Yakinkah kau' - Yakinkah kau bahw kau tidak terbuai oleh kefanatikan Profesimu? Karena kau ingin menganggapnya sebagai pembunuhan, lalu kaupikir itu pasti pembunuhan." Poirot kelihatan berpikir. Ia mengangguk pelan-pelan. "Di situ kau pandai, Hastings. Pembunuhan memang selalu jadi urusanku. Seperti dokter bedah yang katakanlah spesialis di bidang usus buntu... kalau ada pasien yang datang kepadanya dengan gejala mendekati usus buntu, maka ia akan cepat mengambil asumsi bahwa pasiennya memang menderita usus buntu. Begitu juga aku. Dalam menghadapi setiap kasus, selalu aku bertanya pada diriku sendiri, 'Mungkinkah ini suatu pembunuhan?' Dan, Kawan, kemungkinan itu selalu ada." "Dalam hal ini tak banyak kemungkinannya," komentarku. "Tapi dia mati, Hastings! Kau tak bisa menyangkal fakta ini. Dia mati!" "Kesehatannya jelek. Umurnya sudah lebih dari tujuh puluh. Bagiku, kematiannya hal yang wajar." "Wajar pulakah kaupikir bila Theresa Arundell menyebut kakaknya bodoh dengan cara seperti itu?" "Apa hubungannya?" "Banyak! Coba katakan - apa pendapatmu mengenai pernyataan Tuan Charles bahwa bibinya memperlihatkan surat wasiatnya yang baru?" Kupandang Poirot dengan kesal. "Pendapatmu sendiri bagaimana?" tanyaku. Mengapa harus selalu Poirot yang bertanya? "Menurutku itu sangat menarik - ya, menarik sekali. Begitu juga reaksi Nona Theresa Arundell mendengarnya. Gerakan mereka mencerminkan sesuatu." "Hm," gumamku. "Dari situ timbul dua pertanyaan."

"Kelihatannya mereka pasangan penjahat yang manis sekali," komentarku. "Siap menghadapi segala sesuatu. Yang perempuan bukan main cantiknya. Dan si pemuda - jelas sangat mempesona." Poirot melambaikan tangan, menghentikan sebuah taksi. Taksi itu berhenti di pinggir jalan, dan Poirot memberikan alamat kepada supirnya. "17 Clanroyden Mansions, Bayswater." "Jadi, berikutnya si Lawson'" komentarku. "Dan sesudahnya... Keluarga Tanios?" "Benar, Hastings." "Peran apa yang akan kaumainkan nanti?" tanyaku sementara taksi yang kami tumpangi mengurangi kecepatan dan berhenti di Clanroyden Mansions. "Penulis biografi Jenderal Arundell, calon pembeli Puri Hijau, atau apa lagi?" "Sederhana. Aku akan datang sebagai Hercule Poirot." "Oh." Aku mencibir. Poirot cuma melirikku sambil membayar supir taksi. Nomor 17 ada di lantai dua. Seorang pelayan muda berwajah agak tolol membukakan pintu. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu yang kelihatan sangat menggelikan bila dibandingkan dengan ruang tamu di flat Theresa tadi. Flat Theresa Arundell hampir bisa dikatakan kosong. Sebaliknya, tempat tinggal Nona Lawson ini begitu penuh sesak dengan perabot dan barang-barang kecil lainnya sampai-sampai orang hampir tidak bisa bergerak tanpa menyentuh sesuatu. Pintu dalam dibuka, dan seorang wanita keluar. Badannya agak gemuk. Usianya kira-kira lima puluhan. Nona Lawson ternyata persis seperti yang kubayangkan semula. Wajahnya penuh antusias walaupun kelihatan sedikit kurang cerdas. Rambutnya yang keabu-abuan nampak acak-acakan, ia mengenakan sepasang kaca mata tanpa gagang yang menempel agak terlalu bawah pada hidungnya. Bicaranya terputus-putus, dan diselingi terlalu banyak 'Ah!' atau 'Oh!' "Selamat pagi - eee... saya tidak..." "Anda Nona Wilhelmina Lawson?" "Ya - ya. Itu nama saya." "Saya Poirot - Hercule Poirot. Kemarin saya melihat-lihat Puri Hijau" "Oh, ya?" Mulut perempuan itu menganga lebih lebar, dan beberapa kali ia nampak membetulkan letak rambutnya tanpa hasil. "Silakan duduk," ujarnya. "Oh, silakan duduk di sini. Oh! Meja itu menghalangi jalan Anda. Memang di sini agak kepenuhan. Susah. Flat macam begini! Sempit... Tapi, yah letaknya di tengah kota. Saya memang cari yang begitu."

Sambil berdesah ia duduk pada sebuah kursi antik. Dengan kacamatanya masih menempel di tempat yang tidak semestinya, perempuan itu menyandarkan punggungnya sambil memandang Poirot penuh harap. "Saya pergi ke Puri Hijau, berpura-pura jadi calon pembeli," lanjut Poirot "Tapi, saya ingin segera mengatakan alasan saya yang sebenarnya -walaupun ini sebetulnya sangat rahasia." "Oh, ya," Nona Lawson berkata segera, ia nampak senang dan bersemangat. "Ini sangat rahasia sifatnya," lanjut Poirot. "Maksud saya, bahwa saya pergi ke sana itu dengan alasan yang lain. Mungkin Anda tahu, mungkin juga tidak sebelum meninggal, Nona Arundell menulis surat kepada saya...." Poirot berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya: "Saya seorang detektif kenamaan." Berbagai ekspresi berganti-ganti menghiasi wajah Nona Lawson. Aku tak tahu ekspresi yang mana yang akan dicatat oleh Poirot. Ketakutan, keharuan, terkejut, bertanya-tanya... "Oh," katanya. Kemudian, setelah diam sejenak. "Oh," sekali lagi. Tiba-tiba, tanpa kuduga. Nona Lawson bertanya, "Isinya mengenai uang itu?" Poirot pun nampaknya agak terkejut. Ia mengulur-ulur waktu: "Maksud Anda mengenai uang yang..." "Ya, ya. Uang yang dicuri dari laci?" Poirot berkata tenang, "Apakah Nona Arundell tidak mengatakan bahwa dia menulis surat kepada saya mengenai uangnya?" "Tidak. Sungguh. Saya sama sekali tidak tahu - Oh, sungguh - saya terkejut sekali mendengarnya...." "Anda pikir Nona Arundell tidak mengatakan ini kepada siapa pun?" "Saya pikir tidak. Oh, dia memang tahu..." Nona Lawson berhenti lagi. Cepat Poirot berkata, "Dia tahu siapa yang mengambilnya, kan?" Nona Lawson mengangguk, dan dengan napas terputus-putus lanjutnya: "ya." Sekali lagi Poirot memotong bicaranya yang tidak koheren. "Masalah keluarga?" "Tepat." "Saya mengkhususkan diri saya dalam hal menangani urusan-urusan keluarga semacam ini," ujar Poirot. "Jadi, saya bisa memegang rahasia." Nona Lawson mengangguk-angguk. "Oh, tentu saja - itu bedanya. Anda tidak seperti polisi." "Tidak, tidak. Saya sama sekali tidak seperti polisi. Polisi tak pernah mengurusi masalah seperti ini." "Oh. Benar. Nona Arundell sangat menjaga kehormatan. Dia sering kesulitan menghadapi Charles. Tapi, tak pernah ia membicarakannya."

"Persis," Poirot berkata. "Nah, sekarang masalahnya sebetulnya begini, bukan? Nona Arundell menyimpan sejumlah uang di laci..." Poirot berhenti. Cepat Nona Lawson membenarkan pernyataannya. "Ya - uang itu dari bank. Nona Arundell mengambilnya untuk membayar gaji kami dan buku-buku pesanannya." "Berapa banyak yang hilang?" "Empat lembar uang pound. Oh, bukan. Saya salah. Tiga lembar uang pound dan dua lembar puluhan shilling. Saya harus mengatakan yang setepat-tepatnya - ya, dalam hal begini memang perlu ketepatan." Nona Lawson memandang Poirot penuh perhatian. Tanpa sadar, ia menyentuh kacamatanya - hingga lebih tidak keruan lagi letaknya. Matanya yang agak cekung seolah hendak menelan Poirot. "Terima kasih. Nona Lawson. Kelihatannya Anda tahu bagaimana harus bersikap dalam bisnis." Nona Lawson nampak menahan perasaannya, dan tertawa. "Nona Arundell kelihatannya punya alasan buat mencurigai kemenakannya Charles - mencuri uang itu," lanjut Poirot. "Ya." "Meskipun tidak ada bukti yang pasti mengenai siapa yang sebenarnya mengambil uang itu?" "Oh, sudah pasti Charles yang mengambil! Nyonya Tanios tidak akan berbuat begitu, dan suaminya - dia orang asing - tak mungkin tahu tempat Nona Arundell menyimpan uang. Theresa Arundell juga tidak mungkin. Dia tidak akan mimpi mencuri uang. Uangnya sendiri sudah banyak, dan pakaiannya tidak ada yang jelek." "Siapa tahu salah seorang pelayan, yang melakukannya?" kata Poirot. Nona Lawson kelihatan marah mendengarnya. "Oh, tidak mungkin. Sungguh, tak mungkin. Ellen, juga Annie orang yang jujur... jujur sekali, saya yakin itu." Poirot menunggu beberapa menit lamanya. Kemudian katanya. "Mungkin Anda bisa memberi gambaran - oh. saya yakin Anda bisa, karena Anda orang kepercayaan Nona Arundell...." Nona Lawson bergumam tak menentu, "Oh. masalah itu. saya yakin... saya tidak tahu sama sekali." Walaupun begitu jelas kelihatan bahwa ia malu menerima predikat yang diberikan Poirot. "Saya merasa Anda hisa menolong saya. Nona Lawson.'" "Oh. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk anda..." Poirot melanjutkan, "Ini rahasia di antara kita....' Wajah Nona Lawson penuh gairah, namun kelihatan agak ragu.

"Punyakah Anda bayangan - mengapa Nona Arundell mengubah surat wasiatnya?" "Surat wasiatnya? Oh - surat wasiatnya?" Nona Lawson nampak sedikit terkejut. Sambil memandangnya lekat-lekat, Poirot berkata, "Benar, bukan - bahwa Nona Arundell menulis surat wasiat baru beberapa hari sebelum kematiannya dan bahwa isinya menyatakan semua kekayaannya dijatuhkan kepada Anda?" "Benar, tapi saya sama sekali tidak mengetahui apa sebabnya," Nona Lawson memprotes. "Saya sangat terkejut! Kejutan yang menggembirakan, tentu Begitu baiknya Nona Arundell. Padahal, sekali pun. ia tidak pernah menyinggungnyinggung hal itu. Sama sekali tidak pernah. Saya sungguh terkejut, Tuan Poirot. Dan saya ingin meyakinkan Anda, bahwa Nona Arundell benar-benar baik. Tentu saja saya mengharap ditinggali sesuatu - sedikit -meskipun kalau tidak pun sebenarnya tidak apa-apa. Tidak ada keharusan baginya meninggali saya sesuatu. Tapi ini - Oh. seperti dalam dongeng saja rasanya! Bahkan sampai sekarang, kadang-kadang saya masih sulit menerima kenyataan.... Terus terang, kadangkadang saya merasa tidak enak. Maksud saya..., yah, maksud saya..." tanpa sengaja, ia menyentuh kaca matanya. Kacamata tanpa gagang itu jatuh dan dipungutnya. Kemudian dengan gugup ia memasangnya kembali dan melanjutkan kata-katanya yang tidak koheren, "Saya sering merasa - yah, darah daging tetap darah daging. Saya tidak enak Nona Arundell meninggalkan uangnya bukan kepada darah dagingnya sendiri. Maksud saya. oh, rasanya itu tidak betul. Bukankah, begitu? Semuanya lagi - dan dengan jumlah yang sekian banyak! tak seorang pun menduga! Pokoknya, saya merasa tidak enak. Sangat tidak enak - dan orang selalu membicarakan -padahal, saya yakin saya bukan perempuan jahat! Maksud saya, saya tak akan pernah punya keinginan mempengaruhi Nona Arundell dalam hal apa pun! Dan itu pun tidak mungkin saya lakukan. Terus terang, saya sering takut pada Nona Arundell! Pikirannya begitu cerdas - kata-katanya tajam; menyakitkan hati kadang-kadang. Sering membentak - dan, oh, saya toh punya perasaan juga. Tuan Poirot. Saya sering merasa tak dapat menahan perasaan saya... marah, dan benci sekali.... Dan sekarang, saya tahu. Bahwa sebenarnya, sebenarnya, dia menyayangi saya. Oh, rasanya! Tapi tetap saya tidak bisa melupakan: banyak sekali saat saya menderita, sakit hati, jengkel, dan sebagainya. Tidak mungkin orang bisa menahan semua perasaan begitu, bukan?" "Maksud Anda, Anda lebih suka melepaskan uang itu?" tanya Poirot. Sesaat - cuma sesaat - kulihat cahaya yang berbeda terpancar dari mata Nona Lawson yang sayu kebiru-biruan itu. Sejenak, terbayang olehku seorang perempuan yang cerdik dan terpelajar duduk di hadapan kami - bukan Nona Lawson yang lemah dan agak bodoh.

Katanya dengan tawa kecil, "Yah - tentu saja ada segi lainnya.... Maksud saya, setiap pertanyaan dapat dijawab dari dua segi yang berbeda. Nona Arundell memang punya maksud meninggalkan uangnya kepada saya - itu keyakinan saya. Kalau saya tidak mau menerimanya, berarti saya tidak mengikuti keinginannya. Dan itu tidak baik, bukan?" "Pertanyaannya sukar," kata Poirot sambil menggelengkan kepala. "Ya. Benar. Berkali-kali saya merasa kuatir dan gelisah memikirkannya. Nyonya Tanios - Bella - orangnya sangat baik - dan, ada anak-anaknya pula! Maksud saya, saya merasa yakin bahwa Nona Arundell tidak ingin dia. Saya rasa, Nona Arundell berharap saya menggunakan kebijaksanaan saya. Dia tidak mau terang-terangan meninggali Bella uang karena takut suaminya akan menguasai uang itu-" "Suaminya?" "Ya. Suaminya. Oh, Tuan Poirot- Bella itu boleh dikatakan sangat ditindas oleh suaminya. Apa pun yang diperintahkan oleh suaminya dilakukannya. Saya yakin, disuruh membunuh pun ia akan melakukannya! Bella sangat takut pada suaminya. Sekali dua kali, saya melihat dia begitu ketakutan. Itu toh tidak benar, Tuan Poirot?" Poirot tidak mengomentari. Tanyanya, "Lelaki macam bagaimana suaminya itu?" "Yah," Nona Lawson menjawab ragu-ragu, "laki-laki itu sangat menyenangkan." "Tetapi Anda tidak mempercayainya?" "Yah - tidak. Tapi saya tak tahu," lanjutnya ragu, "saya merasa tak pernah bisa mempercayai laki-laki! Setelah menjadi suami, biasanya mereka itu jadi macammacam! Isterinyalah yang akhirnya menderita! Sungguh keterlaluan! Dokter Tanios memang selalu berpura-pura sayang kepada isterinya Di depan umum ia penuh perhatian dan sangat memanjakannya. Oh. Sikapnya betul-betul menyenangkan. Tapi, saya kurang bisa mempercayai orang asing. Mereka itu terlalu berseni.' Yang jelas, saya yakin Nona Arundell tidak menghendaki uangnya disentuh oleh lelaki itu!" "Nona Theresa Arundell dan Tuan Charles Arundell pun merasa kecewa tidak menerima warisan," ujar Poirot. Wajah Nona Lawson merah padam. "Uang Theresa sudah cukup banyak," katanya tajam. "Beratus-ratus pound dibelanjakannya cuma untuk pakaian, dan pakaian dalamnya - itu tidak adil'. Banyak gadis manis dan sopan harus bekerja untuk mencari nafkah..." Poirot melengkapi kalimatnya. "Jadi, Anda pikir tidak ada salahnya bila dia pun berjuang untuk memperoleh uang?" Nona Lawson memandang Poirot dengan sungguh-sungguh. "Itu justru baik buatnya," komentarnya. "Dengan begitu mungkin dia bisa sadar. Dari kesulitan dalam hidup, kita belajar banyak hal...."

Poirot mengangguk. Perhatiannya penuh pada Nona Lawson. "Dan Charles?" "Charles tak pantas menerima sepeser pun," kali ini jawabnya sangat tajam. "Nona Arundell bijaksana memutuskan untuk tidak mewarisi pemuda itu. Pemuda tak tahu diri... mengancam..." "Mengancam?" "Ya." "Mengancam apa? Kapan dia mengancam bibinya?" "Tunggu - waktu itu liburan Paskah. Saya ingat sekarang. Kejadiannya tepat pada hari Minggu Paskah." "Apa katanya?" "Dia minta uang dan bibinya tak mau memberi! Dia mengatakan bibinya tidak bijaksana. Katanya, kalau bibinya tetap bersikap seperti itu dia akan -apa yang diucapkannya waktu itu, ya? yang jelas sangat kasar - oh, ya, dia bilang sikap bibinya itu menantang orang buat membunuhnya...." "Dia mengancam akan merobohkan bibinya?" "Ya." "Lalu apa komentar bibinya?" "Nona Arundell mengatakan, 'Aku bisa menjaga diriku sendiri, Charles.' " "Ketika itu Anda berada di ruangan yang sama?" "Ece, tidak di ruangan yang sama," jawab Nona Lawson setelah terdiam beberapa saat. "Tapi cukup dekat," ujar Poirot cepat. "Lalu bagaimana tanggapan Charles?" "Dia bilang, 'Jangan terlalu yakin.' " Poirot berkata perlahan-lahan, "Apakah Nona Arundell menganggap ancaman itu serius?" "Yah, saya tidak tahu.... Dia tidak pernah mengatakannya kepada saya.... Bagaimanapun, itu bukan kebiasaannya." Lagi-lagi Poirot bertanya perlahan, "Anda tentunya tahu bahwa Nona Arundell menulis surat wasiat baru?" "Tidak, tidak. Sudah saya katakan tadi, saya sangat terkejut. Saya tidak pernah mimpi..." Poirot menyela, "Anda tidak tahu isinya. Tapi Anda tahu bahwa ada surat wasiat baru, kan?" "Yah - saya cuma menduga -- maksud saya, dia memanggil pengacaranya sementara dia berbaring..." "Tepat. Itu setelah Nona Arundell jatuh, bukan?" "Ya. Bob - Bob itu anjing kesayangannya -anjing itu meninggalkan bolanya di dekat puncak tangga. Nona Arundell terpeleset dan jatuh." "Kecelakaan yang sangat mengerikan."

"Oh, ya. Benar. Dokter bilang, untung Nona Arundell tidak mengalami patah kaki atau tangan." "Untung juga tidak mati. Kecelakaan macam begitu bisa menyebabkan kematian." "Benar!" Jawabannya kedengaran begitu wajar dan jujur. Poirot berkata sambil tersenyum, "Saya bertemu dengan Tuan Bob di Puri Hijau." "Oh, tentu saja. Dia anjing yang manis sekali." Jengkel benar aku mendengar anjing segagah si Terrier itu dikatakan manis. Pantas Bob membenci perempuan ini dan tak pernah mau menuruti perintahnya. "Anjing itu sangat pandai, bukan? "Ya. Pandai sekali dia." "Kalau dia tahu bahwa akibat kelalaiannya tuannya bisa meninggal, dia tentu sedih." Nona Lawson tidak memberi komentar. Dia cuma menggeleng dan mendesah. Poirot bertanya, "Bagaimana menurut pendapat Anda? Apakah kecelakaan itu yang mendorong Nona Arundell mengubah surat wasiatnya?" Kupikir, pembicaraan sudah hampir mencapai sasarannya pada waktu itu. Tapi Nona Lawson rupanya menganggap pertanyaan itu wajar- wajar saja. "Mungkin juga," ujarnya "Yang jelas dia shock sekali. Orang lanjut usia biasanya segan berpikir tentang kematian. Tapi, kecelakaan semacam itu membuka pikirannya. Atau, mungkin juga membuatnya punya perasaan bahwa hidupnya cak akan lama lagi." Dengan wajar Poirot berkata, "Waktu itu kesehatannya relatif baik, bukan?" "Oh, ya. Nona Arundell sedang sehat sekali." "Sakitnya datang tiba-tiba?" "Oh, ya. Mengejutkan. Malam itu sedang ada tamu...." Nona Lawson berhenti. "Tamunya, teman-teman Anda -Nona Julia dan Isabel Tripp. Ya, saya sudah bertemu dengan mereka. Orangnya cukup menyenangkan!" Pipi perempuan tua itu bersemu merah, dan matanya bersinar-sinar. "Oh, memang. Mereka menyenangkan, bukan? Bukan main - berpendidikan mereka itu! Berbagai ilmu mereka pelajari. Mereka pengikut aliran spiritual. Mungkin mereka sudah menceriterakan pengalaman-pengalaman kami? Oh, sangat menyenangkan - pesan-pesan yang disampaikan oleh roh-roh itu." "Tentu. Saya yakin itu merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan." "Ibu saya sudah dua kali berbicara kepada saya, Tuan Poirot! Oh, bukan main senangnya bila kita tahu orang yang kita sayangi masih memikirkan kita dan memperhatikan kita dari alam yang lain sana." "Ya, ya. Saya mengerti," Poirot berkata lembut. "Apakah Nona Arundell juga pengikut aliran ini?" Wajah Nona Lawson menjadi keruh.

"Dia mau diyakinkan," ujarnya ragu. "Tapi, saya rasa, Nona Arundell tidak pernah melakukan pendekatan sebagaimana mestinya. Nona Arundell orangnya skeptis, tidak mudah percaya. Sekali dua kali, sikapnya membuat roh marah. Kalau roh marah, maka berita yang disampaikan buruk-buruk, Tuan. Tak senang mendengarnya. Dan itu, saya yakin, karena kelakuan Nona Arundell." "Bisa jadi." kala Poirot meyakinkan. "Tapi, pada malam terakhir...," lanjut Nona Lawson, "Isabel dan Julia sudah menceriterakan kejadian malam terakhir kami berkumpul itu? Oh. waktu itu terjadi semacam ectoplasm.... Anda mengerti maksud saya, bukan?" "Ya, ya. Istilah-istilahnya cukup saya kenal." "kejadiannya pelan sekali. Mula-mula dari mulut Nona Arundell keluar semacam kabut terang berbentuk pita panjang. Pita itu naik... naik, dan membentuk semacam selubung di sekeliling kepalanya. Sekarang saya yakin. Tuan Poirot. Tanpa disadarinya, Nona Arundell tengah berada di alam peralihan pada waktu itu. Jelas sekali saya lihat asap terang berbentuk pita itu keluar dari mulutnya. Lalu, tak lama kemudian, kepalanya seperti terbungkus oleh lapisan kabut yang bersinar terang." "Hmmm, bukan main!" "Tapi sayang sekali. Tuan - Nona Arundell tiba-tiba merasa sakit. Kami terpaksa menghentikan permainan jaelangkung kami." "Anda memanggil dokter? Kapan?" "Pagi-pagi sekali esok harinya." "Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apakah penyakit Nona Arundell dianggapnya serius?" "Pokoknya dokter Crainger mengirim juru rawat dari rumah sakit sore harinya." "Maaf- apakah sanak keluarga Nona Arundell diberitahu?" Wajah Nona lawson merah padam. "Tentu saja - segera setelah Dokter Crainger menyatakan Nona Arundell dalam keadaan gawat." "Apa yang menyebabkan penyakitnya? Makanan?" "Bukan. Saya pikir bukan, Tuan Poirot. Dokter Grainger mengatakan, kemungkinan besar penyakitnya kambuh karena udara yang terlalu dingin. Memang hari-hari itu cuaca sedang sangat buruk." "Theresa dan Charles Arundell datang pada akhir pekan, bukan?" "Ya." Jawab Nona Lawson pendek. "Kedatangan mereka sia-sia," lanjut Poirot sambil mengamati wajah Nona Lawson. "Betul." Kemudian "dengan suara bernada tak suka Nona Lawson menambahkan, "Nona Arundell tahu maksud kedatangan mereka yang sebenarnya." "Apa?" Tanya Poirot sambil tetap menatap wanita itu. "Uang!" lontar Nona Lawson. "Tapi mereka tidak berhasil mendapatkannya."

"Tidak berhasil?" tanya Poirot. "Saya yakin... itu juga yang diburu Dokter Tanios," lanjut Nona Lawson. "Dokter Tanios datangnya tidak bersamaan dengan Charles dan Theresa, kan?" "Hari Minggunya. Tapi cuma sebentar, tak lebih dari sejam." "Hmm... kelihatannya semua mengejar uang Nona Arundell," komentar Poirot. "Ya. Dan, mengingat keadaan Nona Arundell pada waktu itu... oh, rasanya mereka itu tidak punya perasaan!" "Tepat sekali," ujar Poirot. "Tentu Charles dan Theresa sangat kaget waktu Nona Arundell mengatakan terus terang bahwa dia tidak akan mewarisi mereka sepeser pun." Nona Lawson memandangnya tidak berkedip. Poirot melanjutkan, "Itu benar, bukan? Maksud saya, Nona Arundell memang mengatakan hal itu dengan terus terang?" "Itu saya tidak tahu. Saya sama sekali tidak mendengar apa-apa. Malah, saya lihat Charles dan Theresa berseri-seri waktu mereka pulang." "Ah! Jadi rupanya informasi yang saya terima tidak benar. Nona Arundell menyimpan surat wasiatnya di rumah - maksud saya - di Puri Hijau. Apakah itu benar?" Kacamata tempel Nona lawson terjatuh, dan perempuan itu membungkuk memungutnya. "Oh, saya sungguh-sungguh tidak tahu mengenai hal itu. Tapi, saya pikir surat itu pasti disimpan oleh Tuan Purvis." "Siapa pengacaranya?" "Tuan Purvis." "Setelah Nona Arundell meninggal, apakah Tuan Purvis datang ke Puri Hijau memeriksa surat-suratnya?" "Ya." Poirot memandang tajam perempuan itu. Pertanyaannya yang selanjutnya sama sekali tidak terduga. "Anda menyukai Tuan Purvis?" Nona Lawson tergagap kebingungan. "Menyukai Tuan Purvis? Oh - pertanyaan Tuan sukar dijawab. Maksud saya, saya yakin dia pandai - eh, ahli hukum yang pandai. Tapi sikapnya agak kaku! Maksud saya, orang kan jadi tidak senang kalau diajak berbicara sampai orang itu merasa seperti - oh, saya tidak bisa menjelaskan, Tuan Poirot. Dia orang terhormat, tapi kasar. Anda tahu maksud saya. bukan?" "Situasinya benar-benar sulit buat Anda." ujar Poirot penuh simpati. "Benar. Sulit sekali." Nona Lawson mengeluh dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Poirot bangkit.

"Terima kasih banyak, Mademoiselle, atas segala keramah-tamahan Anda Juga atas segala bantuan anda." "Jangan bilang terima kasih sama saya, Tuan Poirot - saya sudah senang kalau saya bisa membantu. Kalau masih ada hal lain yang bisa saya lakukan..." Poirot melangkah ke luar. Namun, sebelum sampai di pintu ia berbalik mendekati Nona Lawson. Dengan suara pelan ia berkata, "Saya rasa Anda perlu tahu. Nona Lawson, bahwa Charles dan Theresa ingin menggugat surat wasiat itu." Mendadak pipi wanita itu merah padam. "Tidak mungkin! Mereka tidak akan bisa," ujarnya penuh napsu. "Ahli hukum saya bilang begitu." "Ah," kata Poirot, jadi Anda sudah minta nasihat ahli hukum juga?" "Tentu- Apa salahnya?" "Anda bijaksana. Mademoiselle. Selamat siang." Sementara kami beranjak meninggalkan Clanroy-den Mansions Poirot menarik napa panjang. "Hastings, mon ami, perempuan itu persis seperti penampilannya. Atau, mungkin juga dia artis jagoan." "Yang jelas, dia yakin bahwa kematian Nona Arundell wajar-wajar saja," komentarku. Poirot tidak menyahut. Dia kadang-kadang memang suka bertingkah seperti orang tuli. Poirot menghentikan taksi. "Hotel Durham, Bloomsbury," ujarnya kepada supir.

BAB 16 NYONYA TANIOS "Ada tamu, Nyonya!" Perempuan yang sedang duduk menulis pada sebuah meja di sebuah ruangan Hotel Durham itu menoleh. Kemudian ia bangkit dan menghampiri kami dengan ragu. Umur Nyonya Tanios kelihatannya sudah di atas tiga puluhan. Perawakannya tinggi semampai, rambutnya hitam, dan wajahnya seperti penuh kekuatiran. ia

mengenakan topi gaya mutakhir. Namun, letaknya kurang enak dipandang mata. Gaunnya terbuat dari bahan katun, dan kelihatannya jauh dari kecerahan. "Saya rasa saya tidak...." ujarnya kurang jelas. Poirot mengangguk. "Saya baru saja dari tempat sepupu Anda, Nona Theresa Arundell." "Oh. Dari Theresa? Betul?" "Boleh saya bercakap-cakap sebentar saja dengan Nyonya? Ada masalah pribadi yang perlu saya tanyakan." Dengan pandangan kosong Nyonya Tanios melihat ke sekelilingnya. Poirot menunjuk sofa kulit di ujung ruangan. Sementara kami berjalan menuju sofa itu, terdengar suara anak kecil melengking, "Mama, mau ke mana?" "Cuma ke situ. Sayang. Ayo, teruskan saja suratmu." Si anak, seorang gadis kurus berumur tujuh tahunan, kembali menekuni tugas beratnya. Lidahnya kadang-kadang dijulurkan ke luar, seolah dengan begitu mengarang menjadi lebih mudah. Di sekitar sofa tak ada orang lain. Nyonya Tanios duduk, ia memandang Poirot dengan penuh tanda tanya. Poirot segera memulai. "Ini berhubungan dengan kematian Bibi Anda, Nona Emily Arundell almarhum." Aku tak tahu. Apakah aku mulai membayangkan yang bukan-bukan? Atau, memang benar mata perempuan itu menunjukkan rasa ketakutan? "Ya?" "Nona Arundell," lanjut Poirot, "mengganti isi surat wasiatnya tak lama sebelum Beliau meninggal. Surat wasiat barunya menyatakan bahwa segala sesuatu miliknya diwariskan kepada Nona Wilhelmina Lawson. Yang ingin saya tanyakan, Nyonya, apakah Anda ingin bergabung dengan sepupu Anda - Nona Theresa dan Tuan Charles Arundell? Mereka ingin berusaha menggugat surat wasiat itu." "Oh!" Nyonya Tanios menarik napas dalam. "Tapi itu tidak mungkin, toh? Suami saya sudah menanyakan kemungkinannya kepada seorang ahli hukum. Tapi kelihatannya ia berpendapat - lebih baik tidak coba-coba." "Nyonya, ahli hukum itu kebanyakan terlalu berhati-hati- Mereka memberi nasihat, umumnya, untuk menghindari perkaranya sampai ke pengadilan. Tentu saja nasihat mereka umumnya benar. Tapi, kadang-kadang ada untungnya mengambil risiko. Saya sendiri bukan ahli hukum. Karena itu saya melihat masalahnya dari kacamata lain. Nona Arundell - maksud saya, Theresa sudah siap memperjuangkan haknya. Nah, Anda sendiri bagaimana?" "Saya - oh, saya tidak tahu." Nyonya Tanios dengan gelisah mempermainkan jarijari tangannya. "Saya mesti berbicara dulu dengan suami saya."

"Tentu saja, Nyonya, Nyonya harus merundingkan dulu dengan suami Nyonya sebelum mengambil keputusan. Tapi, bagaimana perasaan Nyonya sendiri terhadap masalah itu?" "Saya tidak tahu." Nyonya Tanios nampak lebih kuatir. "Itu tergantung pada suami saya." "Tapi, Anda sendiri, Nyonya - bagaimana?" Dahinya berkerut. Lalu katanya perlahan-lahan, "Saya kurang setuju. Menurut pikiran saya itu tidak sopan." "Oh, betulkah begitu?" "Ya. Kalau Bibi Emily sudah memutuskan untuk tidak memberikan uangnya kepada keluarganya sendiri... saya pikir, kita harus menerima keputusannya itu." "'Jadi, Nyonya tidak merasa kecewa?" "Oh, tentu saja saya kecewa." Warna merah merambati pipinya. "Keputusan itu sangat tidak adil. Tidak adil! Dan sama sekali di luar dugaan. Bukan Bibi Emily rasanya kalau ia membuat keputusan seperti itu. Sangat tidak adil untuk anakanak." "Jadi, Anda berpendapat keputusan itu bukan keputusan Bibi Anda sendiri?" "Yang jelas aneh sekali." "Kalau begitu, mungkin sekali Bibi Anda tidak bertindak alas kemauan bebasnya. Menurut pendapat Anda, mungkinkah Bibi Anda dipengaruhi oleh orang yang tidak bertanggung jawab?" Dahi Nyonya Tanios berkerut lagi. Dengan rasa segan yang sangat kentara, ia berkata, "Susahnya, saya tidak bisa membayangkan Bibi Emily dipengaruhi siapa pun! Beliau begitu pasti dengan keputusannya sendiri." Poirot mengangguk-angguk setuju. "Ya. Yang baru saja Nyonya katakan itu memang benar. Dan lagi, Nona Lawson bukan tipe orang yang berkepribadian begitu keras." "Oh. dia orang yang manis - agak tolol, mungkin, tapi sangat baik hati. Itu salah satu sebab saya -" "Ya, Nyonya?" pancing Poirot ketika Nyonya Tanios tidak melanjutkan katakatanya. Nyonya Tanios bermain-main dengan jari tangannya. Wajahnya nampak sangat gelisah ketika ia berkata, "Yah, tidak pantas dan tidak semestinya menggugat surat wasiat itu. Saya merasa yakin keputusan dipengaruhi oleh Nona Lawson. Tidak mungkin perempuan semacam dia merencanakan dan membujuk..." "Saya setuju, Nyonya." "Itu sebabnya saya merasa bahwa mengajukannya ke pengadilan sungguh tidak pantas dan tidak terpuji. Di samping itu biayanya juga mahal, bukan?" Poirot diam beberapa menit lamanya sebelum berkata, "Memang mahal."

"Dan besar kemungkinan tidak ada hasilnya. Coba Anda bicarakan hal ini dengan suami saya. Dalam urusan bisnis dia lebih cekatan daripada saya." Lagi-lagi Poirot berdiam sejenak sebelum berkata, "Menurut perkiraan Nyonya, apa yang melatarbelakangi pembuatan surat wasiat baru itu?" Wajah Nyonya Tanios merah padam. "Saya tidak mempunyai bayangan sama sekali," "Nyonya, saya sudah mengatakan tadi, bahwa saya bukan ahli hukum. Tapi saya perhatikan Nyonya belum menanyakan apa profesi saya yang sebenarnya." Ia memandang Poirot penuh tanda tanya. "Saya detektif, Nyonya. Beberapa hari sebelum meninggal Nona Arundell menulis surat kepada saya." Nyonya Tanios beringsut. Ia mengatupkan kedua belah tangannya rapat-rapat. "Surat?" tanyanya terkejut. "Mengenai suami saya?" Agak lama Poirot mengamati perempuan itu. Lalu, perlahan-lahan dia berkata, "Maaf- saya tidak berhak menjawab pertanyaan Nyonya." "Oh, jadi benar - mengenai suami saya." Suaranya agak keras. "Apa katanya? Percayalah, Tuan... e, saya belum tahu nama Tuan." "Nama saya Poirot. Hercule Poirot." "Percayalah, Tuan Poirot - bila Bibi Emily menyebutkan sesuatu yang jelek mengenai suami saya, itu sama sekali tidak benar! Saya tahu siapa yang sebenarnya memberikan bayangan semacam itu mengenai suami saya. Itu alasan lain, saya tidak mau ikut campur dengan apa pun yang dilakukan Theresa dan Charles! Theresa sangat membenci suami saya. Dia menjelek-jelekkan suami saya! Saya yakin! Bibi Emily berpraduga macam-macam karena suami saya bukan orang Inggris. Jadi, bisa diterima kalau Bibi Emily mempercayai ceritera buatan Theresa. Tapi itu tidak benar, Tuan Poirot. Percayalah!" "Mama, suratnya sudah selesai!" Cepat Nyonya Tanios berpaling. Dengan melontarkan senyum sayang diambilnya surat yang diacungkan anak gadisnya. "Bagus! Bagus sekali, Sayang! Dan gambar Mickey Mousenya... Hmmm, kau betul-betul hebat." "Sekarang buat apa lagi, Ma?" "Mau beli kartu pos bergambar? Ini uangnya. Pergi saja ke toko di sudut sana pilih gambar yang paling bagus, tulisi, lalu kirimkan kepada Selim." Anak itu pergi. Teringat olehku kata-kata Charles Arundell. Memang. Nyonya Tanios seorang ibu dan isteri yang penuh pengabdian - seperti kepik. "Anak satu-satunya?" tanya Poirot. "Oh, saya punya anak seorang lagi. Laki-laki. Ia sedang keluar dengan ayahnya." "Mereka tidak pernah ikut ke Puri Hijau?"

"Oh, kadang-kadang. Tapi Anda tahu sendiri... bibi saya sudah tua. Anak-anak kecil sering membuatnya pusing. Meskipun begitu Bibi Emily sangat sayang kepada mereka. Tiap Natal tak pernah lupa mengirim hadiah buat mereka." "Kapan yang terakhir Anda bertemu dengan bibi anda?" "Kalau tidak salah, sepuluh hari sebelum Beliau meninggal." "Anda dengan suami Anda dan sepupu-sepupu Anda bersama-sama ke sana?" "Bukan yang terakhir - itu minggu yang sebelumnya. Waktu Paskah!" "Dan, seminggu setelah Paskah Anda ke sana lagi dengan suami Anda?" "Ya." "Ketika Anda datang Nona Arundell sedang sehat dan penuh semangat?" "Ya, Beliau kelihatan biasa-biasa saja." "Tidak sakit di tempat tidur?" "Oh, ya. Bibi Emily masih harus banyak berbaring setelah kecelakaan yang dialaminya. Tapi, Beliau sudah bisa bangun dan berjalan-jalan, bahkan turun ke bawah sementara kami di sana." "Apakah bibi Anda mengatakan bahwa ia sudah menulis surat wasiat baru?" "Tidak. Sama sekali tidak." "Bagaimana sikapnya? Apakah sikapnya tidak berubah?" Kali ini Nyonya Tanios nampak berpikir sebelum menjawab. "Ya," jawabnya. Aku yakin Poirot mempunyai perasaan yang sama denganku bahwa wanita itu berbohong. Poirot tidak langsung bicara. Beberapa lama kemudian baru ia berkata, "Maaf, Nyonya. Waktu saya tanya apakah sikapnya tidak berubah - itu maksud saya bukan sikapnya terhadap Anda semuanya, kepada Anda pribadi." Komentar Nyonya Tanios datang segera, "Oh, begitu? Bibi Emily sangat baik kepada saya. Beliau memberi saya bros berlian. Anak-anak dikiriminya uang sepuluh shilling seorang." Sikap Nyonya Tanios nampak bebas dari ketegangan. Kata-katanya lancar dan sedikit terburu-buru. "Bagaimana sikapnya terhadap suami Anda? Apakah biasa-biasa saja juga?" Ketegangan kembali menguasai dirinya. Nyonya Tanios menghindari mata Poirot waktu menjawab, "Tentu saja. Memangnya kenapa?" "Oh, maaf. Bukankah Anda tadi mengatakan bahwa sepupu Anda - Theresa, menjelek-jelekkan suami Anda. Saya pikir, mungkin saja sikap bibi Anda jadi berubah setelah mendengar..." "Ya," Nyonya Tanios berkata penuh semangat. "Anda benar. Memang ada perubahan! Bibi Emily agak menjauhi suami saya. Sikapnya aneh. Suami saya menganjurkan agar Bibi Emily minum campuran obat tertentu - malah suami saya susah-susah mencarikannya ke apotek, membelikan, dan mencampurkan buat Bibi

Emily. Bibi Emily memang mengucapkan terima kasih. Tapi kaku sekali caranya mengucapkan itu. Tak lama kemudian, dengan mata kepala saya sendiri saya menyaksikan Bibi Emily membuang obat itu." Sakit hati dan rasa marahnya sangat jelas kelihatan. Mata Poirot berbinar-binar. "Aneh," ujar Poirot. Ia sangat berhati-hati agar suaranya tidak mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya. "Sungguh tidak tahu terima kasih," lontar isteri Dokter Tanios itu dengan penuh emosi. "Seperti yang Anda katakan tadi, Nyonya, perempuan tua macam bibi Nyonya sering tidak percaya pada orang asing," ujar Poirot. "Mereka pikir cuma dokter Inggris yang bisa dipercaya." "Mungkin juga," Nyonya Tanios nampak sedikit tenang. "Kapan kembali ke Smyrna, Nyonya?" "Beberapa minggu lagi. Suami saya - ah! Itu dia datang bersama Edward."

BAB 17 DOKTER TANIOS Terus terang aku terkejut waktu pertama kali memandang Dokter Tanios. Dalam benakku, selama ini terbayang berbagai sikap dan sifat yang jelek mengenai lelaki yang satu ini. Aku membayangkan dia berkulit hitam dan berjanggut lebat, dengan mata tajam berpandangan sinis dan mengerikan. Nyatanya, yang kulihat seorang lelaki gemuk berwajah berseri-seri dengan mata dan rambut berwarna coklat. Walaupun benar ia berjanggut, janggutnya tipis seperti janggut seniman. Bahasa Inggrisnya begitu lancar dan sempurna. Nada suaranya menyenangkan, cocok dengan wajahnya yang jenaka. "Kami datang, Mam," serunya kepada isterinya dengan tersenyum. "Edward senang dan sangat terkesan dengan pengalaman pertamanya naik kereta bawah tanah. Selama ini dia cuma tahu bus."

Dilihat dari wajahnya, Edward tidak mirip dengan ayahnya. Walaupun begitu, dia dan saudara perempuannya nampak sekali keturunan asingnya. Kehadiran Dokter Tanios menyebabkan Nyonya Tanios semakin gelisah. Dengan agak terbata-bata ia memperkenalkan Poirot kepada suaminya. Aku -oh, dia tidak mempedulikan diriku. Dokter Tanios cepat mengenali nama Poirot. "Poirot? Monsieur Hercule Poirot? Saya kenal benar akan nama Anda. Ada apa sampai Anda datang mengunjungi kami, M. Poirot?" "Mengenai Nona Emily Arundell," jawab Poirot. "Bibi isteri saya? Ya. mengapa?" Perlahan-lahan Poirot menjelaskan, "Ada beberapa masalah yang timbul sehubungan dengan kematiannya..." Tiba-tiba saja Nyonya Tanios menyela, "Mengenai surat wasiatnya, Jacob. M. Poirot rupanya sudah berbincang-bincang dengan Theresa dan Charles." Kecanggungan yang semula nampak meliputi Dokter Tanios lenyap. Lelaki itu menjatuhkan dirinya ke kursi. "Ah! Surat warisan itu, toh? Tapi apa hubungannya? Itu toh bukan urusan kami?" Poirot menceriterakan secara singkat hasil pembicaraannya dengan Charles dan Theresa Arundell (terus terang, bukan yang sebenarnya dibicarakan di sana) dan dengan sangat berhati-hati mengemukakan kemungkinan untuk memperjuangkan suatu gugatan atas surat wasiat itu. "Menarik sekali, Tuan Poirot. Terus terang, saya setuju dengan pendapat Tuan. Ada sesuatu yang bisa dilakukan. Saya bahkan sudah membicarakan hal ini dengan seorang ahli hukum. Tapi jawabnya mematahkan semangat. Karena itu..." ia mengangkat bahu. "Tadi sudah saya katakan kepada isteri Tuan, bahwa ahli hukum itu orang-orang yang terlalu berhati-hati. Mereka tidak mau ambil risiko. Tapi saya - lain! Dan Anda?" Dokter Tanios tertawa - tawa yang segar dan murni. "Oh, saya berani ambil risiko! Saya malah sering melakukannya - benar, kan, Bella? tanyanya tersenyum kepada isterinya, dan si isteri tersenyum kembali. Cuma, senyum perempuan itu tidak keluar dari hati nuraninya, kupikir - senyum dangkal, cuma untuk menyenangkan hati suaminya. Perhatian Dokter Tanios kembali kepada Poirot. "Saya bukan ahli hukum," katanya. "Tapi saya berpendapat bahwa masalahnya jelas sekali. Surat itu dibuat pada saat perempuan tua itu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Nona Lawson orangnya pandai dan sangat berpengaruh." Nyonya Tanios bergerak-gerak gelisah. Poirot segera mengalihkan perhatiannya. "Anda tidak setuju, Nyonya?"

Agak lemah, dia menjawab, "Nona Lawson baik sekali. Dan menurut saya, dia bukan orang yang pandai." "Dia memang baik kepadamu," ujar Dokter Tanios, "karena dia tidak takut padamu. Bella sayang. Kau terlalu mudah dipengaruhi!" Dokter Tanios berbicara dengan nada bergurau, namun isterinya merah padam. "Lain lagi dengan saya," lanjut lelaki itu. "Dia tidak menyukai saya. Dan hal itu tidak disembunyikan. Ini contohnya. Nona Arundell mengalami kecelakaan -jatuh dari tangga - pada waktu kami sedang menginap di sana. Saya bersikeras datang menjenguknya pada minggu berikutnya untuk melihat keadaan kesehatannya. Nona Lawson berusaha keras mencegah maksud kami ini. Memang dia tidak berhasil mencegah kami, dan dia sangat kesal. Itu jelas terlihat. Alasannya jelas. Dia ingin Nona Arundell mencurahkan perhatiannya kepadanya seorang." Sekali lagi Poirot berpaling kepada Nyonya Tanios. "Anda setuju, Nyonya?" Dokter Tanios tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. "Bella terlalu baik hati," katanya. "Dia tidak pernah punya dugaan tak baik mengenai seseorang. Tapi saya yakin bahwa dugaan saya benar. Akan saya beri contoh lain lagi, M. Poirot. Rahasianya bisa mempengaruhi Nona Arundell adalah spiritualisme. Cara itulah yang dipakainya!" "Anda pikir begitu?" "Ya. Saya yakin benar. Sudah sering saya melihat hal-hal semacam itu. Itu bisa menguasai orang. Anda tentu akan heran. Tapi itu benar. Lebih-lebih, orang seusia Nona Arundell. Saya yakin itu permulaan ceriteranya. Ada roh - mungkin roh ayahnya -menyuruhnya mengubah isi surat wasiat itu dan mewariskan seluruh kekayaannya kepada Nona Lawson. Kita harus pikir... Nona Arundell sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk...." Nyonya Tanios berdesah. Poirot mengalihkan perhatian kepadanya. "Apakah Anda pikir itu mungkin?" "Ayo, Bella! Bicaralah," ujar Dokter Tanios. "Katakan bagaimana pendapatmu." Kelihatannya Dokter Tanios memberinya semangat. Pandangannya yang selintas kepada suaminya nampak aneh. ia ragu-ragu. Kemudian katanya, "Pengetahuan saya mengenai hal-hal semacam ini sangat terbatas. Mungkin kau benar, Jacob." "Nah, benar, kan - M. Poirot?" Poirot mengangguk. "Mungkin." Kemudian ia berkata, "Anda pergi ke Market Basing seminggu sebelum Nona Arundell meninggal?" "Kami ke sana pada perayaan Paskah, dan seminggu setelahnya. Ya. Benar." "Bukan. Maksud saya- minggu yang berikutnya - tanggal dua puluh enam Anda ada di sana pada hari Minggunya, bukan?" "Oh, Jacob, betulkah?" Nyonya Tanios memandangnya dengan mata terbelalak. Suaminya berpaling dengan cepat.

"Ya. Lupakah kau? Aku cuma mampir minggu siang itu. Aku toh bilang kepadamu, Bella?" Kami berdua, Poirot dan aku sendiri, memandang Bella. Dengan gelisah didorongnya topinya lebih ke belakang. "Ah, kau pasti ingat, Bella." lanjut suaminya. "Parah benar ingatanmu kalau begitu saja lupa." "Oh, ya!" ujarnya seperti minta maaf. Wajahnya dihiasi seulas senyum tipis. "Benar; ingatan saya kadang-kadang memang memalukan. Dan lagi, itu sudah lebih dari dua bulan yang lalu." "Waktu Anda ke sana, Nona Theresa dan Tuan Charles Arundell sedang berada di sana?" tanya Poirot. "Mungkin," kata Dokter Tanios, "tapi saya tidak bertemu dengan mereka." "Anda cuma sebentar di sana?" "Ya - cuma kurang lebih setengah jam saja." Lirikan Poirot yang penuh tanda tanya kelihatannya membuat Dokter Tanios merasa tidak enak. "Terus terang," Dokter Tanios berkata dengan mata bersinar nakal, "tadinya saya berniat pinjam uang - tapi gagal. Saya rasa bibi isteri saya kurang menyukai saya. Sayang, sebetulnya saya sangat menyukainya. Dia seorang yang sportif." "Bolehkah saya menanyakan sesuatu, Dokter Tanios?" Memang benar, atau cuma bayanganku - keragu-raguan dan kekuatiran nampak selintas di matanya. "Tentu, M. Poirot!" "Bagaimana pendapat Anda mengenai Charles dan Theresa Arundell?" Dokter itu kelihaian sangat lega. "Charles dan Theresa?" Dipandangnya isterinya dengan senyum sayang. "Bella, Sayangku, kau tak keberatan kalau aku berterus terang mengenai keluargamu?" Nyonya Tanios menggeleng. Seulas senyum menghiasi wajahnya. "Saya berpendapat mereka sudah rusak sampai ke akar-akarnya. Anehnya, saya sangat suka pada Charles. Dia bajingan, tapi bajingan yang menyenangkan. Dia tidak bermoral, tapi itu bukan salahnya. Ia tidak minta dilahirkan tanpa moral." "Dan Theresa?" Dokter Tanios ragu-ragu. "Saya kurang yakin. Yang jelas dia perempuan muda yang menarik sekali. Saya berani bertaruh, dia tidak akan ragu-ragu membunuh orang bila itu menguntungkannya. Itu cuma bayangan saya. Mungkin Anda pernah mendengar bahwa ibunya pernah dituduh membunuh?" "Ya, tapi kemudian dibebaskan." "Benar. 'Dibebaskan'," ujar Dokter Tanios. "Meskipun begitu, perkaranya belum jelas dan sering membuat orang bertanya-tanya."

"Sudah bertemu dengan pemuda tunangannya?" "Donaldson? Ya - dia pernah datang makan malam bersama kami waktu kami di Puri Hijau." "Bagaimana pendapat Anda mengenai pemuda itu?" "Sangat pandai- Saya percaya dia bisa maju - kalau mendapat kesempatan. Mengambil spesialisasi memerlukan banyak uang." "Maksud Anda, dia pandai dalam profesinya?" "Tepat. Otaknya luar biasa!" Dokter Tanios tersenyum. "Memang belum kelihatan gemerlap di dalam masyarakat. Sikapnya agak kaku. Pemuda itu dan Theresa merupakan pasangan yang menggelikan. Sangat bertolak belakang. Yang satu kupu-kupu masyarakat, yang lain lebih suka tinggal di balik tirai." Kedua anak mereka menyerang ibunya. "Mama, makan yuk, Ma! Lapar! Nanti kita telat, lho..." Poirot melirik arlojinya, dan nampak terperangah. "Oh, maaf! Saya mengganggu jam makan siang Anda!" Sambil memandang suaminya, Nyonya Tanios berkata ragu-ragu, "Mungkin Anda mau makan bersama..." Cepat Poirot berkata, "Terima kasih, Nyonya. Anda sangat baik mengundang kami. Tapi kami punya janji makan siang, dan kami sudah terlambat." Poirot menjabat tangan suami-isteri Tanios dan anak-anak mereka. Aku pun mengikutinya. Di lobby kami berhenti sebentar. Poirot mencoba menelepon. Aku menunggunya dekat meja portir. Aku masih berdiri di situ ketika kulihat Nyonya Tanios keluar dan memandang ke sana-sini seperti mencari sesuatu. Nampaknya dia sedang dikejar-kejar dan sangat terburu-buru. ia melihatku, dan buru-buru menghampiriku. "Teman Tuan - M. Poirot - apakah dia sudah pergi?" "Belum. Sedang menelepon." "Oh." "Anda ingin berbicara dengannya?" Ia mengangguk. Kegelisahannya semakin menjadi-jadi. Poirot keluar dari ruang menelepon dan langsung melihat kami berdiri berdekatan. Segera ia datang menghampiri kami. "M- Poirot," ujar Nyonya Tanios. Suaranya berbisik, namun tergesa-gesa. "Ada sesuatu yang ingin saya katakan - saya harus mengatakannya kepada Anda..." "Ya, Nyonya?" "Penting sekali - sangat penting. Begini..." Nyonya Tanios berhenti bicara. Dokter Tanios dan kedua anak mereka baru saja keluar ke lobby. Mereka datang menghampiri kami. "Menyampaikan kata-kata terakhir kepada M. Poirot, Bella?"

Nada bicaranya berkelakar, dan senyumnya sangat mempesona. "Ya...." katanya ragu-ragu. Kemudian lanjutnya, "Yah, M. Poirot. Saya cuma ingin mengatakan kepada Anda, tolong kasih tahu Theresa bahwa kami mendukung apa pun yang akan dilakukannya. Saya sadar, sebagai satu keluarga, kami harus bersatu.'" Dengan tersenyum cerah Nyonya Tanios mengangguk, lalu meraih lengan suaminya, dan mereka pun berjalan ke arah ruang makan. Kurengkuh bahu Poirot. "Tadinya bukan itu yang mau dikatakannya," Poirot menggelengkan kepala sambil memperhatikan keluarga Tanios menghilang ke dalam ruang makan. "Pikirannya berubah," lanjutku. "Ya, mon ami, dia mengubah pikirannya." "Mengapa?" "Sayang aku tidak tahu," gumamnya. "Mudah-mudahan dia mengatakan yang sebenarnya kapan-kapan," ujarku. "Aku tidak yakin. Takutnya, dia malah tidak akan pernah mengatakan...."

BAB 18 'YANG TERSELUBUNG' Kami bersantap siang pada sebuah rumah makan tak jauh dari situ. Aku sudah tak tahan ingin mendengar komentar Poirot mengenai Keluarga Arundell. "Nah, Poirot?" tanyaku tak sabar. Acuh tak acuh Poirot mengalihkan perhatiannya kepada daftar makanan yang disodorkan kepadanya. Setelah memesan makanannya, ia bersandar dengan santai pada sandaran kursinya, sambil memotong roti gulungnya. Dengan nada mengejek ia berkata, "Nah, Hastings?" "Apa pendapatmu mengenai mereka setelah kau bertemu dengan semuanya?" Jawaban Poirot sangat lambat, "Ma foi, sangat menarik! Sungguh, Hastings, kasus ini merupakan studi yang sangat mempesona! Seperti membuka kotak-kotak yang berisi kejutan. Lihat saja. Tiap kali aku mengatakan, 'Saya menerima surat dari Nona Arundell sebelum Beliau meninggal,' - ada-ada saja komentar yang

membuka sesuatu. Dari Nona Lawson, kita tahu uang Nona Arundell dicuri orang. Nyonya Tanios langsung mengatakan, Mengenai suami saya?' Memang ada apa dengan suaminya? Apa perlunya Nona Arundell menulis surat kepada Hercule Poirot mengenai Dokter Tanios?" "Ada sesuatu yang dipikirkan wanita itu," ujarku. "Ya, dia tahu sesuatu. Tapi apa? Nona Peabody mengatakan Charles Arundell bisa membunuh neneknya cuma untuk uang dua pence. Nona Lawson berkata Nyonya Tanios akan membunuh siapa pun kalau suaminya menyuruhnya. Dokter Tanios mengatakan Charles dan Theresa rusak sampai ke akar-akarnya, dan dia mengingatkan kita bahwa ibu mereka seorang pembunuh serta memberi gambaran secara santai bahwa Theresa bisa membunuh dengan darah dingin. "Lucu pendapat mereka, satu mengenai lainnya! Dokter Tanios berpikir, atau mengatakan bahwa ia berpikir, bahwa pasti ada yang mempengaruhi Nona Arundell. Sebelum dia datang, jelas isterinya tidak berpendapat begitu. Mula-mula dia tidak mau menggugat surat warisan itu. Kemudian ia berbalik seratus delapan puluh derajat. Kau merasa kan, Hastings... semuanya ini seperti air rebusan. Satu per satu masalah timbul dan tenggelam. Ada sesuatu di dalamnya - ya, ada sesuatu. Saya bersumpah! Sebagai Hercule Poirot saya bersumpah: pasti ada sesuatu!" Aku terkesan akan kejujuran Poirot. Setelah satu atau dua menit berlalu, aku berkata, "Mungkin kau benar, tapi kelihatannya begitu tidak jelas..." "Tapi kau setuju bahwa ada sesuatu, bukan?" "Ya," ujarku ragu-ragu. Poirot bersandar pada meja dan mendekatkan mukanya ke wajahku. Pandangannya menembus mataku. "Kau sudah berubah. Ya, kau tidak lagi menertawakanku, mengejek, dan mengatangataiku. Apa sebabnya? Pasti bukan uraianku yang panjang lebar tadi - non, ce n'est pas ca![bukan, bukan itu!] Tapi ada sesuatu -sesuatu yang lain - yang mempengaruhimu. Coba katakan. Kawan, apa sebabnya kau tiba-tiba menganggap kasus ini serius?" "Kupikir," ujarku perlahan, "Nyonya Tanios. Kelihatannya - kelihatannya dia ketakutan..." "Takut sama aku?" "Tidak. Bukan sama kau. Ada sesuatu yang lain. Mula-mula dia bicara dengan tenang dan masuk akal - wajar caranya dia mengemukakan kekecewaannya akan surat wasiat bibinya, tapi dia mau menerima kenyataan dan membiarkannya begitu. Sikap semacam itu memang sikap orang yang terdidik dan sedikit apatis. Tapi, tiba-tiba saja dia berubah - semangatnya waktu dia mendukung pendapat Dokter Tanios. Cara perempuan itu keluar ke lobby mengejar kita - dan, cara bicaranya...." Poirot mengangguk memberiku semangat.

"Ada satu hal kecil yang mungkin tidak kauperhatikan..." "Oh, semuanya kuperhatikan!" "Maksudku - kunjungan suaminya ke Puri Hijau pada Hari Minggu siang itu. Rasanya aku yakin dia tidak tahu menahu mengenai hal itu - dia sangat terkejut tapi dengan cepat dia mengakui ingatannya yang kurang tajam, mengaku bahwa suaminya menceritakan hal itu kepadanya tapi dia lupa. Aku tak suka itu, Poirot!" "Kau benar, Hastings- itu salah satu point paling penting!" "Aku jadi punya kesan jelek." Poirot mengangguk pelan. "Perasaanmu sama?" tanyaku. "Ya - kesan itu tak bisa dihapuskan." Poirot berhenti. Kemudian ia melanjutkan, "Tapi kau menyukai Tanios, kan? Kau merasa dia lelaki yang menyenangkan, terbuka, periang, dan simpatik. Menarik bila dibandingkan dengan bayanganmu semula..." "Ya," ujarku terus terang. Dalam keheningan yang menyusul pembicaraan kami, kuperhatikan Poirot. Lalu aku berkata, "Apa yang kaupikirkan, Poirot?" "Aku sedang membayangkan berbagai manusia: Norman Gale yang tampan dan muda, Evelyn Howard yang ramah, Dokter Shepherd yang menyenangkan, Knighton yang tenang dan meyakinkan." "Kenapa mereka?" tanyaku. "Mereka semua punya kepribadian yang menyenangkan...." "Ya ampun, Poirot... kaupikir Tanios..." "Tidak. Tidak. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Hastings. Aku cuma mencoba menunjukkan bahwa reaksi pribadi seseorang terhadap orang lain itu bukan petunjuk yang aman. Orang tak boleh menjadikan perasaannya sebagai bahan pertimbangan. Sebaliknya, faktalah yang harus dipertimbangkan." "Hm," ujarku. "Ngomong soal fakta lagi! Oh, jangan, Poirot, jangan. Dalam 'fakta' ini kita belum menemukan kecocokan." "Aku tidak akan berpanjang-panjang, Kawan - jangan kuatir! Pertama-tama, jelas kita punya suatu kasus mengenai percobaan pembunuhan. Kauakui?" "Ya," jawabku pelan. Sampai saat itu aku agak skeptis menanggapi rekonstruksi Poirot mengenai berbagai kejadian pada malam Selasa setelah Paskah. Walaupun begitu, terpaksa kuakui, bahwa deduksinya sangat masuk akal. "Tres bien.[bagus.] Jadi pasti ada pembunuhnya. Dan, pembunuhnya adalah salah seorang yang tinggal di Puri Hijau pada malam itu... ehm, baiklah orang yang berniat membunuh kalau tak boleh dibilang pembunuh!" "Betul!"

"Jadi itu titik acuan kita - ada pembunuh. Kita bertanya ke sana-sini. Katakanlah, kita mengaduk-aduk lumpurnya. Dan, apa yang kita dapatkan? Bermacam-macam tuduhan dilontarkan dengan cara yang biasa-biasa saja dalam percakapan kita." "Jadi kaupikir sebenarnya itu tidak biasa-biasa saja?" "Tak mungkin itu bisa dipastikan sekarang! Ceritera Nona Lawson mengenai Charles mengancam bibinya - itu bisa sengaja, bisa juga tidak. Komentar Dokter Tanios mengenai Theresa -mungkin tanpa maksud jelek, sekedar pendapat seorang dokter. Sebaliknya, Nona Peabody kelihatannya bersungguh-sungguh akan komentarnya mengenai Charles Arundell - tapi itu cuma sekedar pendapat. Begitulah seterusnya. Begitulah, Kawan, kita menghadapi seorang pembunuh yang terselubung..." "Aku ingin tahu - apa yang menjadi pendapatmu sendiri, Poirot!" "Hastings - Hastings - Aku tidak boleh berpendapat. Itu terlarang buatku. Yang kulakukan saat ini cuma mencerminkan kembali hal-hal tertentu." "Misalnya?" "Memikirkan pertanyaan mengenai motifnya. Apa yang kira-kira menjadi motif kematian Nona Arundell? Jelas bahwa alasan atau motif pembunuhannya adalah 'keuntungan'. Siapa yang beruntung kalau Nona Arundell mati? - Kalau dia mati Selasa malam setelah Paskah?" "Semuanya - kecuali Nona Lawson." "Tepat." "Yah, setidak-tidaknya, seorang praktis bersih." "Ya," Poirot berkata sambil berpikir. "Kelihatannya begitu. Tapi ada yang menarik: orang yang tidak akan mendapat keuntungan sama sekali jika Nona Arundell mati pada hari Selasa setelah Paskah itu justru memperoleh segala-galanya ketika Nona Arundell meninggal dua minggu setelah itu." "Apa maksudmu, Poirot?" tanyaku tidak mengerti. "Sebab dan akibat, Kawan - sebab dan akibat." Kupandang dia ragu-ragu. Katanya, "Secara logis! Apa yang terjadi setelah kecelakaan?" Sungguh benci rasanya aku kepada Poirot bila dia sedang dalam suasana seperti ini. Apa pun yang dikatakan orang, selalu salah. Karena itu aku hati-hati sekali. "Nona Arundell terbaring di ranjangnya." "Betul. Dia punya banyak waktu untuk berpikir. Lalu?" "Dia menulis surat kepadamu." Poirot mengangguk. "Ya- Dia menulis surat kepadaku. Dan suratnya tidak dikirimkan. Sayang sekali." "Apakah kaukira ada kecurangan sampai surat itu tidak diposkan?" Poirot nampak berpikir. Dahinya berkerut-kerut. "Aku harus akui, Hastings - di situ aku sama sekali tak punya bayangan. Kupikir - dan melihat serta menimbang

segala sesuatu yang kita dengar, aku yakin - surat itu terlupakan. Kukira - tapi aku tidak yakin - tidak ada orang yang menduga bahwa Nona Arundell menulis surat semacam itu. Lanjutkan - apa yang terjadi kemudian?" "Kunjungan Penasihat Hukumnya," ujarku. "Ya - Nona Arundell memanggil Penasihat Hukumnya, dan ia datang pada waktunya." "Lalu Nona Arundell membuat surat wasiat baru," lanjutku. "Tepat. Nona Arundell membuat surat wasiat baru yang tidak diduga-duga isinya. Mengenai surat wasiat ini, kita mesti sangat berhati-hati mengenai pernyataan Ellen. Mungkin kau masih ingat, Ellen mengatakan bahwa Nona Lawson bersikeras agar Nona Arundell tidak tahu bahwa Bob keluar semalaman." 'Tapi, oh, aku tidak mengerti. Atau barangkali aku mulai mengerti maksudmu?" "Aku ragu!" kata Poirot. "Seandainya benar kau mulai mengerti maksudku, kuharap kau mengerti betapa pentingnya pernyataan itu." Poirot memandangku tidak berkedip. "Tentu, tentu," ujarku buru-buru "Lalu," lanjut Poirot, "berbagai peristiwa terjadi. Charles dan Theresa datang berkunjung pada akhir minggunya, dan Nona Arundell menunjukkan surat wasiat barunya kepada Charles - atau begitu ceritera Charles." "Kau tidak percaya pada ceriteranya?" "Aku cuma percaya pada pernyataan yang sudah dicek kebenarannya. Nona Arundell tidak menunjukkannya kepada Theresa." "Karena dipikir, Charles toh sudah mengatakan kepadanya." "Tapi, nyatanya tidak. Apa sebab?" "Menurut Charles sendiri, dia sudah menceriterakannya." "Tapi Theresa mengatakan dengan pasti bahwa Charles tidak menceriterakan apaapa mengenai hal itu - perselisihan yang menarik dan mencurigakan. Dan waktu kita pergi. Theresa mengatai kakaknya bodoh!" "Aku jadi bingung, Poirot," ujarku sederhana. "Baiklah. Kita kembali ke urut-urutan peristiwanya. Dokter Tanios datang pada hari Minggunya -besar kemungkinan tanpa sepengetahuan isterinya." "Bagaimana kalau kita sebut saja 'Mungkin'. Selanjutnya, Charles dan Theresa pulang pada hari Senin. Nona Arundell dalam keadaan sehat dan penuh semangat. Dia bersantap malam dengan lahapnya, dan duduk-duduk di tempat gelap bersama kedua Nona Tripp dan Nona Lawson. Menjelang akhir permainan jaelangkung itu. Nona Arundell merasa sakit, ia beristirahat di tempat tidur dan meninggal empat hari kemudian - Nona Lawson mewarisi semua kekayaannya, dan Kapten Hastings berpendapat bahwa kematian Nona Arundell itu wajar!" "Sedangkan Hercule Poirot berpendapat Nona Arundell diracuni makanannya tanpa bukti sama sekali!"

"Aku punya bukti. Hastings. Ingat kembali percakapan kita dengan kedua Nona Tripp. Juga suatu pernyataan yang menyolok dari gambaran tak jelas yang diberikan Nona Lawson." "Maksudmu Nona Arundell makan kare malam itu? Kare yang pedas dan kaya bumbu itu akan menutupi rasa racun. Itu maksudmu?" Poirot berkata perlahan-lahan, "Ya. Kare itu sendiri punya arti yang cukup penting." "Tapi," ujarku, "kalau dugaanmu itu betul, cuma Nona Lawson dan dua orang pembantu lainnya di Puri Hijau yang patut dicurigai." "Ah." "Atau kedua Nona Tripp. Tak mungkin. Itu, aku tidak percaya. Orang-orang macam mereka sama sekali bebas dari niat dan perbuatan jahat." Poirot mengangkat bahu. "Ingat ini, Hastings. Kebodohan - atau bahkan ketololan, dalam hal ini - bisa menjadi kedok yang bagus sekali. Dan jangan lupa akan percobaan pembunuhan semula. Pekerjaan itu direncanakan oleh otak yang pandai dan berpikiran kompleks. Semula, pembunuhannya memang direncanakan sangat sederhana cuma karena si pembunuh memperhatikan kebiasaan buruk Bob meninggalkan bolanya di ujung atas tangga. Pikiran buat merentang benang dan sisi ke sisi tangga itu sangat mudah - anak-anak pun bisa memikirkannya!" Aku merenung. "Maksudmu...?" "Maksudku, yang kita ingin ketahui sebenarnya cuma satu. Keinginan membunuh. Itu saja." "Tapi racun - meracuni - bukan sesuatu yang sederhana. Itu memerlukan keahlian supaya tidak meninggalkan bekas," sanggahku. "Orang awam tak mungkin bisa merencanakan sebagus itu. Oh, sialan. Rasanya aku tidak percaya akan semuanya ini, Poirot! Kita tak mungkin tahu! Semuanya itu cuma hipotesa!" "Kau salah, Kawan. Sebagai hasil pembicaraan kita pagi ini, aku sudah punya pegangan dan arah yang pasti. Masih agak kabur, tapi rasanya tak mungkin salah. Masalahnya cuma - aku takut." "Takut? Takut apa?" Poirot menjawab serius, "Takut membangunkan anjing yang sedang tidur. Kau selalu bilang - biarkan, jangan ganggu anjing yang sedang tidur! Itulah yang sedang dilakukan pembunuhnya tidur dengan tenangnya di bawah sinar matahari pagi... Kita tahu, Hastings... bahwa sering kali, bila seorang pembunuh tersinggung harga dirinya ia akan beraksi dan membunuh korbannya yang kedua, atau bahkan yang ketiga." "Kau takut itu terjadi?" Poirot mengangguk. "Ya. Jika di antara mereka ada pembunuhnya - dan aku yakin ada...."

BAB 19 TUAN PURVIS POIROT memanggil pelayan, menyuruh ambilkan bon makanan, dan membayarnya. "Sekarang, apa lagi?" tanyaku. "Usulmu pagi tadi. Kita menuju ke Harchester, mewawancarai Tuan Purvis. Itu sebabnya aku menelepon dari Hotel Durham tadi, Sobat!" "Kau menelepon Purvis?" "Bukan Purvis. Yang kutelepon tadi Theresa Arundell, Dia kusuruh menulis surat pengantar yang isinya memperkenalkan kita kepada Purvis. Supaya punya harapan bisa berhasil, kita perlu diperkenalkan oleh orang yang bersangkutan. Theresa berjanji akan menyuruh orang mengantarkan suratnya ke flatku. Kupikir surat Theresa sudah menanti kita di sana." Bukan cuma surat yang kami temui di flat Poirot. Charles Arundell membawa sendiri surat itu dan menunggu untuk menyerahkannya secara pribadi kepada Poirot. "Flat Anda sangat menyenangkan, M. Poirot," komentarnya, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Pada saat itu perhatianku tertarik pada sebuah laci yang nampaknya tidak tertutup secara sempurna. Ada sehelai kertas yang menghalanginya. Aneh. Poirot tak biasa menutup laci-lacinya sesembrono itu! Kupandang Charles sambil berpikir-pikir. Charles sendirian di situ menunggu kedatangan kami. Tibatiba aku yakin Charles menghabiskan waktunya menunggu dengan mengacak-acak kertas-kertas Poirot. Pemuda ini rupanya memang benar-benar bajingan! Aku merasa darahku mendidih, marah dan benci. Charles sendiri kelihatannya santai-santai saja. "Ini suratnya," ujarnya sambil menyodorkan sepucuk surat. "Mudah-mudahan Anda lebih beruntung daripada kami dalam membujuk Pak Tua Purvis." "Harapannya tipis?"

"Yang pasti, sulit mengubah pikirannya... Purvis menganggap Lawson merupakan ahli waris yang sah!" "Pernahkah Anda dan adik Anda mengimbau Nona Lawson - mengajaknya berbicara dari hati ke hati?" Charles meringis. "Itu pernah saya pertimbangkan. Tapi rasanya tidak akan ada gunanya. Kelihatannya Nona Lawson sangat membenci saya. Saya tidak mengerti apa alasannya." Charles tertawa. "Padahal, biasanya perempuan tua seumurnya cepat sekali menyukai (saya)." "Hmm... itu point yang berguna!" "Oh, memang sudah banyak sekali gunanya. Tapi, seperti saya katakan tadi, dengan Lawson tak ada gunanya. Kupikir Lawson agak anti-lelaki...." "Ah!" Poirot menggeleng-geleng. "Kalau cara yang sesederhana itu gagal...." "Kita mesti pakai otak kriminal!" lontar Charles dengan riangnya. "Aha," Poirot berkata. "Ngomong-ngomong tentang kriminal, Anak Muda benarkah Anda mengancam bibi Anda? Maksud saya, Anda pernah mengatakan bahwa Anda akan membunuhnya atau kata-kata semacam itulah pokoknya?" Charles menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi. Diselonjorkannya kakinya dengan santai. Namun, pandangannya tajam ditujukan kepada Poirot. "Siapa yang mengatakan itu?" tanyanya. "Itu tidak penting. Tapi, benarkah itu?" "Yah - ada benarnya." "Oh - coba ceriterakan bagaimana ceritera yang sebenarnya!" "Boleh saja, kalau Anda kepingin tahu. Tuan! Tapi rasanya tidak ada relevansinya. Waktu itu saya sedang mencoba-coba mendekati Bibi Emily. Anda tahu maksud saya, kan?" "Ya." "Sayangnya, yang terjadi diluar rencana saya semula. Bibi Emily dengan keras mengatakan bahwa setiap usaha yang bertujuan memisahkan dia dengan uangnya pasti tidak berhasil. Saya tidak marah. Saya cuma bilang, 'Oh, Bibi Emily - kalau cara Bibi menangani segala sesuatu tetap seperti ini, percayalah Bibi akan dibunuh orang!' Bibi Emily menanyakan apa maksud saya dengan agak kaku. 'Cuma itu,' jawab saya. "Di sini berkumpul semua kawan dan sanak keluarga Bibi - mereka semuanya kelaparan seperti tikus gereja, dan mereka cuma bisa berharap. Lalu apa yang Bibi lakukan? Tinggal duduk di atas tumpukan uang Bibi, tak mau berpisah sama sekali dengan yang Bibi miliki. Itu sikap orang yang kepingin dirinya dibunuh. Percayalah, Bibi Emily -kalau sampai Bibi dibunuh orang, yang salah Bibi sendiri. "Bibi Emily memandang saya lewat atas kacamatanya. Dipandangnya saya dengan penuh kebencian. 'Oh,' jawabnya tak acuh, 'jadi begitu pendapatmu, bukan?' 'Ya,'

ujar saya. 'Kalau Bibi mau menuruti anjuran saya korbankanlah sedikit kekayaan Bibi itu ' Terima kasih, Charles,' katanya, 'atas anjuranmu yang bermaksud baik itu. Tapi aku cukup bisa menjaga diriku sendiri.' 'Terserah, kalau begitu, Bibi Emily,'jawab saya. Saya meringis - dan kelihatannya Bibi Emily tidak semarah seperti kelihatannya. 'Pokoknya aku sudah mengingatkan Bibi.' 'Akan kuingat itu, Charles,' katanya." Charles berhenti berceritera. "Begitulah ceriteranya." "Dan karena itu," kata Poirot, "Anda lalu puas dengan mencuri beberapa lembar uang pound dari laci." Charles memandang Poirot, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Betul-betul saya angkat topi buat Anda, M. Poirot!" katanya. "Anda rupanya detektif yang bukan main! Bagaimana Anda bisa tahu tentang hal itu?" "Jadi itu memang benar?" "Benar sekali! Saat itu saya sedang betul-betul kehabisan uang. Saya lihat ada setumpuk uang di laci, dan saya ambil saja beberapa lembar tanpa banyak pikir. Saya sama sekali tidak mengira bahwa dengan diambil beberapa lembar saja akan ketahuan kurang. Kalau ketahuan pun, pasti pembantu yang dicurigai." Dengan dingin Poirot berkata, "Seandainya benar pembantu yang dicurigai, bagi mereka itu bukan masalah enteng." Charles mengangkat bahu. "Setiap orang membela dirinya sendiri," gumamnya. "Dan sembunyi di balik kesengsaraan orang lain, kalau perlu," tambah Poirot. "Itu falsafah hidup Anda, bukan?" Charles memandangnya dengan pandangan ingin tahu. "Saya tak tahu Bibi Emily tahu uangnya hilang beberapa lembar. Bagaimana Anda bisa tahu - juga mengenai yang Anda bilang saya mengancam tadi?" "Nona Lawson yang mengatakannya." "Oh - kucing tua itu lagi!" (Kupikir - Charles kelihatannya agak tak enak.) "Dia membenci saya, dan Theresa pun tidak disukainya," kata Charles. "Anda pikir masih banyak yang lain-lain lagi yang dia rahasiakan?" "Maksud Anda?" "Oh. Saya tidak tahu. Cuma saja saya melihatnya sebagai setan tua yang tak punya perasaan," Charles berhenti sebentar. "Dia membenci Theresa..." tambahnya. "Apakah Anda tahu bahwa Dokter Tanios datang menjenguk bibi Anda pada hari Minggu sebelum dia meninggal?" "Apa- hari Minggu waktu kami berada di sana?" "Ya. Anda tidak bertemu dengannya?"

"Tidak. Kami keluar berjalan-jalan siang itu. Mungkin tepat pada waktu itu dia datang. Lucu, bibi Emily tidak menyebut apa-apa tentang kedatangannya. Siapa yang memberi tahu Anda?" "Nona Lawson." "Lawson lagi? Rupanya dia tambang informasi." Charles berhenti, tapi kemudian sambungnya, "Tahukah Anda, Tuan Poirot Tanios itu orangnya baik. Saya sangat menyukainya. Dia begitu ramah dan periang... dan selalu tersenyum!" "Kepribadiannya sangat menarik memang," ujar Poirot. Charles bangkit dari duduknya. "Kalau saya jadi dia, sudah lama saya bunuh Bella yang membosankan itu! Menurut penglihatan Anda - Bella cocok sekali jadi korban pembunuhan, kan? Oh - saya tidak akan heran kalau pada suatu hari orang menemukan potongan tubuhnya di suatu tempat!" "Cap apa pula yang Anda berikan kepada suaminya yang dokter itu, Tuan Arundell?" komentar Poirot tajam. "Oh - saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Tanios. Membunuh lalat pun dia tak akan tega. Orangnya terlalu baik hati!" "Dan Anda sendiri - bagaimana? Tegakah Anda membunuh seseorang kalau itu menguntungkan Anda?" Charles tertawa - tawa yang renyah dan murni. "Oh, Anda teringat lagi pada ancaman saya terhadap Bibi Emily, M. Poirot? Jangan kuatir. Percayalah - saya tidak menaburi sup Bibi Emily dengan..." Charles terhenti beberapa saat. Kemudian lanjutnya, "Strychnine." Dengan lambaian tangan, Charles meninggalkan flat Poirot. "Kau mencoba-coba membuatnya takut, Poirot?" tanyaku. "Kalau benar itu maksudmu, kupikir kau gagal. Kulihat tidak sedikit pun dia bereaksi yang menunjukkan rasa salahnya." "Oh, tidakkah?" "Kelihatannya tidak!" "Mencurigakan - keragu-raguannya sebelum mengucapkan kata 'strychnine'. Seolah-olah dia hendak mengucapkan sesuatu, tapi cepat tersadar bahwa itu mungkin membahayakan." Aku cuma mengangkat bahu. "Siapa tahu dia berusaha mengingat nama zat peracun yang kedengarannya paling keren?" "Mungkin juga. Mungkin juga. Tapi sudah waktunya kita berangkat. Kupikir, malam ini kita akan menginap di The George, di Market Basing." ***

Sepuluh menit kemudian terlihat kami berdua mengarungi lalu lintas kota London, menuju ke luar kota. Kami tiba di Harchester kurang lebih jam empat sore, dan langsung menuju kantor Tuan Purvis. Tuan Purvis berperawakan gemuk dengan rambut putih dan kulit kemerahmerahan. Melihatnya, orang jadi terbayang Tuan Tanah zaman dulu. Sikapnya hormat, tapi terjaga. Dibacanya surat yang kami bawa, dan kemudian dipandanginya kami dari seberang meja tulisnya yang mengkilat. Pandangannya jeli dan terasa sebagai pandangan yang menyelidik. "Tentu saja saya sudah mengenal nama Anda, M. Poirot," ujarnya sopan. "Kelihatannya Nona Arundell dan kakaknya menyewa Anda untuk membantu menyelesaikan masalah warisan itu Tapi, yang saya tidak bisa mengira-ngira adalah, sampai di mana jauh?" "Bolehkah saya katakan begini, Tuan Purvis: saya diminta menyelidiki masalahnya dengan lebih teliti." Tuan Purvis berkata kering, "Nona Arundell dan kakaknya sudah mendengar pendapat saya mengenai posisinya di dalam hukum. Situasinya sudah jelas-jelas saya gamharkan dan uraikan, hingga saya rasa tidak perlu diulangi lagi." "Tentu saja sudah sangat jelas bagi mereka, Tuan Purvis," sahut Poirot cepat. "Tapi saya mohon Anda tidak berkeberatan mengulangnya untuk saya sehingga saya bisa mendapat bayangan yang tepat dan jelas mengenai situasinya." Pengacara di depan kami itu menundukkan kepalanya. "Baiklah." Poirot memulai, "Nona Emily Arundell menulis surat kepada Anda, meminta Anda untuk mengerjakan beberapa hal pada tanggal tujuh belas April. Apakah itu benar?" Tuan Purvis memeriksa kertas-kertas yang ada di hadapannya. "Ya. Benar." "Bisakah Anda menyebutkan apa-apa saja yang ditulisnya dalam surat itu?" "Beliau meminta saya membuat konsep surat wasiat. Dalam surat wasiat itu harus ditulis tanda penghargaan untuk dua orang pembantunya dan tiga atau empat yayasan sosial. Sisa dari seluruh kekayaannya diwariskan secara mutlak kepada Wilhelmina Lawson". "Maafkan saya, Tuan Purvis - apakah Anda kaget waktu membaca suratnya?" "Saya akui - ya. Saya sangat terkejut." "Nona Arundell pernah menulis surat wasiat sebelum itu?" "Ya - lima tahun yang lalu." "Dalam surat wasiat yang dibuatnya lima tahun yang lalu itu - setelah dikurangi untuk para pelayan dan yayasan sosial, maka sisa kekayaannya diwariskan kepada putera-puteri saudara kandungnya?"

"Ya. Bagian terbesar kekayaannya dibagi tiga sama rata untuk dua orang anak adik laki-lakinya, Thomas, dan seorang anak Arabella Biggs - adik perempuannya." "Apa yang terjadi dengan surat wasiat itu?" "Sesuai dengan permintaan Nona Arundell, saya membawanya ke Puri Hijau pada waktu saya ke sana tanggal dua puluh satu April." "Saya akan sangat berterima kasih kalau Anda mau menjelaskan sejelas-jelasnya segala sesuatu yang terjadi pada kunjungan Anda itu." Tuan Purvis berdiam diri semenit dua menit lamanya. Kemudian dengan jelas ia berkata, "Saya sampai ke Puri Hijau pada jam tiga sore. Salah seorang pegawai saya menemani saya. Nona Arundell menerima saya di Ruang Santai." "Bagaimana kelihatannya dia?" "Menurut penglihatan saya, dia nampak sehat. Hanya saja ia berjalan dengan bantuan tongkat. Penyebabnya, setahu saya, karena beberapa hari sebelumnya dia jatuh dari tangga. Secara umum, kesehatannya nampaknya bagus. Lain daripada itu, nampaknya ia agak gelisah dan terlalu perasa." "Apakah Nona Lawson menemaninya?" "Nona Lawson ada bersamanya waktu saya datang. Tetapi ia segera meninggalkan kami." "Kemudian?" "Nona Arundell menanyakan apakah saya sudah mengerjakan apa yang dimintanya, dan apakah saya membawa surat wasiat barunya untuk ditandatangani olehnya." "Saya katakan bahwa saya sudah mengerjakannya. Saya - e..." Tuan Purvis raguragu sejenak. Kemudian dengan kaku ia melanjutkan, "Mungkin ada baiknya saya katakan juga, bahwa sejauh yang pantas dan bisa saya lakukan, saya memprotes tindakan Nona Arundell. Saya katakan kepadanya, bahwa surat wasiatnya yang baru itu sangat tidak adil bagi keluarganya - yang bagaimanapun juga adalah darah dagingnya sendiri." "Jawabnya?" "Dia bertanya apakah uangnya boleh dipergunakan sekehendak hatinya. Dan saya katakan, bahwa tentu saja dia bebas menggunakan uangnya sesuka hatinya. 'Kalau begitu, tidak ada masalah,' katanya. Saya ingatkan dia bahwa dia belum lama mengenal Nona Lawson. Saya tanyakan apakah dia benar-benar yakin bahwa ketidakadilan yang dilakukannya kepada darah dagingnya sendiri itu tidak akan disesalkannya. Dan jawabnya, 'Sobat, aku tahu apa yang kulakukan ini." "Dia mudah sekali tersinggung - seperti yang Anda katakan tadi?" "Saya pikir, ya, M. Poirot. Tapi saya mengerti bahwa dia orang yang bertanggung jawab, yang panjang pikir dan bukan orang bodoh. Diasangat pandai mengurus dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Meskipun saya kasihan terhadap

keluarga Nona Arundell, saya akan tetap pada pendirian saya yang tadi mengenai Nona Arundell -di mana pun dan kapan pun juga." "Itu bisa saya mengerti, Tuan Purvis. Saya hargai sikap dan pendirian Anda itu." "Nona Arundell membaca surat wasiatnya yang lama, kemudian dia mengulurkan tangannya -meminta konsep surat wasiat yang baru saya buatkan. Sebetulnya saya lebih suka menyerahkan draft lebih dulu, tetapi dia bersikeras bahwa surat wasiat baru yang dia minta saya buatkan itu siap untuk ditandatanganinya kalau saya datang ke Puri Hijau. Memang tidak sulit membuatnya, karena pembagian kekayaannya sangat sederhana. Nona Arundell membacanya, menganggukkan kepala, dan mengatakan bahwa dia akan segera menandatanganinya. Saya masih merasa wajib untuk memperingatkannya sekali lagi. Didengarkannya kata-kata saya dengan penuh kesabaran, tetapi dia mengatakan bahwa keputusannya sudah pasti. Saya memanggil pegawai saya untuk menyaksikan penandatanganannya, dan pegawai saya bersama-sama dengan tukang kebun Nona Arundell pun masuk menjadi saksi Nona Arundell membubuhkan tanda tangannya pada surat wasiat yang baru itu. Bukan salah satu dari pelayannya yang dijadikan saksi, sebab sebagai ahli waris, mereka tidak berhak menjadi saksi." "Setelah itu, apakah Nona Arundell menyerahkan surat wasiat barunya kepada Anda untuk disimpan?" "Tidak. Dia menyimpannya dalam laci meja tulisnya - dan laci itu dikuncinya." "Diapakan surat wasiatnya yang lama? Apakah surat wasiat itu dimusnahkan?" "Tidak. Surat wasiatnya yang lama disimpannya bersama-sama dengan yang baru." "Di mana surat wasiat itu diketemukan, setelah dia meninggal?" "Masih di laci itu. Sebagai penasihat hukumnya, saya diberi kunci hingga saya bisa memeriksa semua surat bisnisnya setelah dia meninggal." "Dua-duanya ada di situ?" "Ya. Persis seperti ketika kedua surat wasiat itu baru dimasukkan ke situ." "Apakah Anda menanyakan alasannya melakukan tindakan yang agak mengejutkan itu?" "Saya bertanya. Tapi jawaban yang saya terima tidak memuaskan. Dia cuma meyakinkan saya bahwa dia tahu dan sadar akan apa yang dilakukannya itu." "Meskipun begitu Anda tetap merasa heran akan tindakannya itu?" "Sangat heran. Setahu saya, Nona Arundell itu rasa kekeluargaannya sangat kuat." Poirot diam. Kemudian katanya, "Anda toh tak pernah membicarakan masalah itu dengan Nona Lawson?" "Tentu saja tidak. Itu sangat terlarang untuk saya lakukan, M. Poirot!" Tuan Purvis nampak agak tersinggung. "Pernahkah Nona Arundell mengatakan sesuatu yang mempunyai implikasi bahwa Nona Lawson telah tahu mengenai surat wasiat barunya?"

"Sebaliknya. Saya menanyakan kepadanya apakah Nona Lawson tahu mengenai semuanya itu, dan dengan agak membentak dia mengatakan Nona Lawson tidak tahu apa-apa. "Saya pikir, sebaiknya Nona Lawson tidak diberitahu tentang surat wasiat baru itu. Saya berusaha menjelaskan dan menekankan hal ini, dan nona Arundell kelihatannya berpendapat sama dengan saya." "Mengapa Anda menekankan hal itu, Tuan Purvis?" Tuan Purvis memandang Poirot dengan penuh wibawa. "Itu sebaiknya tidak perlu dibicarakan. Di samping itu membicarakannya cuma akan membawa kekecewaan pada waktu yang akan datang." "Ah!" Poirot menarik napas panjang. "Menurut saya, itu karena Anda berpikir bahwa ada kemungkinan Nona Arundell mengubah pikirannya setelah itu, bukan?" Tuan Purvis menundukkan kepala. "Benar. Dalam dugaan saya, Nona Arundell baru berselisih paham dengan kemenakan-kemenakan-nya. Saya pikir, mungkin saja, bila hatinya sudah dingin dia akan mempertimbangkan kembali keputusan yang diambilnya dengan terburu-buru itu." "Dalam hal begitu - apa yang mungkin dilakukannya?" "Mungkin saja dia menyuruh saya membuat surat wasiat baru lagi" "Bisa juga dia mengambil cara yang lebih sederhana: memusnahkan surat wasiat yang baru -hingga yang lama berlaku kembali." "Itu bisa didebat. Semua surat wasiat yang dibuat terdahulu tidak berlaku lagi dengan adanya surat wasiat yang lebih baru." "Tapi, mungkin saja Nona Arundell tidak mempunyai pengetahuan seluas itu mengenai hukum. Dia pikir dengan memusnahkan surat wasiat yang baru, maka yang lama dengan sendirinya akan berlaku kembali." "Kemungkinan itu memang ada." "Sesungguhnya, seandainya Nona Arundell meninggal tanpa menulis surat wasiat baru sebelumnya - uangnya akan dengan sendirinya diserahkan kepada keluarganya?" "Ya. Separuh untuk Nyonya Tanios, dan separuh lagi dibagi dua antara Charles dan Theresa Arundell. Bagaimanapun, nyatanya, Nona Arundell tidak mengubah keputusannya, sampai dia meninggal." "Itulah sebabnya saya datang," ujar Poirot. Tuan Purvis memandang Poirot penuh tanda tanya. Poirot bangkit dari sandaran kursinya, dan mendekatkan tubuhnya ke meja Tuan Purvis. "Andaikata," ujarnya, "Nona Arundell ingin memusnahkan surat wasiat itu beberapa saat sebelum dia meninggal. Andaikata dia merasa yakin telah memusnahkan surat wasiat itu - tapi, dalam kenyataannya, dia memusnahkan surat wasiatnya yang pertama."

Tuan Purvis menggeleng. "Tidak mungkin. Kedua surat wasiatnya masih tetap utuh." "Baiklah. Seandainya dia memusnahkan surat wasiat palsu yang tidak ada isinya dengan perasaan bahwa dia telah memusnahkan yang asli. Dia dalam keadaan sakit keras, itu harus diingat; menipunya dalam keadaan semacam itu sangat mudah." "Itu memerlukan bukti," Tuan Purvis berkata keras. "Oh, tentu saja - tentu saja...." "Adakah - kalau boleh saya bertanya - adakah alasan untuk berpendapat hal semacam itu terjadi?" Poirot terperangah. "Saya belum mau mengemukakan pendapat saya pada kesempatan yang sedini ini..." "Tentu, tentu," kata Tuan Purvis, setuju dengan kata-kata yang biasa didengarnya. "Kalau saya boleh berkata, tentu saja ini rahasia, ada beberapa hal yang mencurigakan dalam kasus ini." "Oh, sungguh?" Tuan Purvis mengatupkan kedua belah telapak tangannya seperti menanti sesuatu yang menyenangkan hatinya. "Yang saya inginkan dari Anda, dan yang telah saya peroleh adalah," lanjut Poirot, "bahwa cepat atau lambat. Nona Arundell akan mengubah pikirannya, dan berbalik kepada keluarganya sendiri." "Itu hanya pendapat saya pribadi," ujar Tuan Purvis. "Oh, saya mengerti itu, Tuan Purvis. Tentunya Anda tidak bertindak sebagai pengacara Nona Lawson juga, kan?" "Saya anjurkan supaya Nona Lawson mencari pengacara lain," kata Tuan Purvis. Nadanya kaku. Poirot menjabat tangan lelaki tua itu sambil mengucap terima kasih atas kebaikan dan informasi yang telah diberikannya.

BAB 20 KUNJUNGAN KEDUA KE PURI HIJAU Dalam perjalanan meninggalkan Harchester, kira-kira setelah berjalan sejauh sepuluh mil, kami membicarakan situasinya. "Memangnya kau punya dasar untuk apa yang kauucapkan tadi, Poirot?" "Maksudmu bahwa Nona Arundell mungkin merasa bahwa dia sudah memusnahkan surat wasiatnya yang terakhir? Tidak, mon ami, terus terang, tidak. Tapi aku merasa wajib mengemukakan sesuatu! Tuan Purvis orang yang cerdik. Kalau aku tidak mengajukan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kukatakan tadi, dia yang akan menanyaiku: apa yang bisa kulakukan dalam perkara ini." "Kau mengingatkanku pada sesuatu, Poirot. Kau tahu, apa?" "Tidak, mon ami" "Orang meniup air sabun. Sekali tiup berpuluh-puluh bola dengan aneka warna disemburkan ke udara." "Maksudmu, setiap bola mewakili satu omong kosongku?" "Begitulah kurang lebih." "Dan kaupikir, pada suatu hari nanti akan terjadi tubrukan hebat di antara bola-bola itu?" "Yang jelas, kau tak bisa terus menerus begitu," ucapku. "Kau benar. Akan tiba waktunya aku meraih bola-bola itu satu per satu, membungkukkan badan dengan penuh hormat, dan pergi meninggalkan panggung." "Dan para penonton bertepuk tangan buatmu?" Poirot memandangku curiga. "Ya - mungkin saja." "Tak banyak yang kita pelajari dari Tuan Purvis," komentarku, menghindar dari topik yang kurang enak. "Memang tidak banyak. Tapi setidak-tidaknya, kita memperoleh penegasan mengenai gambaran umum kita semula." "Dan menegaskan juga pernyataan Nona Lawson bahwa dia tidak tahu apa-apa mengenai surat wasiat itu sampai sesudah Nona Arundell meninggal." "Aku sama sekali tidak menganggapnya begitu." "Purvis menganjurkan agar Nona Arundell tidak memberitahukan kepada Nona Lawson, dan Nona Arundell menjawab bahwa dia tidak punya maksud mengatakannya." "Ya, itu sangat jelas. Tapi, jangan lupa - ada lubang kunci, dan ada kunci yang bisa membuka laci tempat surat wasiat itu disimpan." "Jadi kau berpendapat Nona Lawson nguping?" tanyaku, agak kaget. Poirot tersenyum.

"Nona Lawson bukan orang sebegitu tanpa dosanya, mon cher. Dan kita tahu, bahwa paling tidak ia mendengarkan satu percakapan yang seharusnya bukan untuk kupingnya - maksudku, percakapan antara Charles dan Bibinya mengenai 'ancaman Charles' itu." Kuakui kebenarannya. "Jadi, bukan tidak mungkin dia juga mendengarkan percakapan antara Tuan Purvis dan Nona Arundell. Suara Tuan Purvis jelas dan keras. Orang-orang yang kelihatannya jinak dan penakut seperti Nona Lawson sering mempunyai kebiasaan yang kurang terhormat - karena itu bisa menjadi semacam hiburan baginya." "Ah, Poirot!" protesku. Berkali-kali Poirot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi kenyataannya memang begitu, Sobat!" Kami tiba di The George dan memesan dua kamar. Selelah itu kami berjalan-jalan dengan tujuan Puri Hijau. Waktu kami membunyikan bel, Bob segera menyahut. Anjing itu menerobos masuk melalui Ruang Tengah dan berhenti sambil menyalak-nyalak di bagian dalam pintu depan. Terdengar bisikan seseorang menenangkannya. "Ayo Bob- anjing manis, ayo... masuk ke sini!" Walaupun segan, Bob terpaksa menuruti kemauan orang yang menyeretnya ke Ruang Pagi. Pintu Ruang Pagi ditutup, dan Ellen pun melepaskan gembok pintu depan dan membukakannya. "Oh, rupanya Anda yang datang. Tuan!" serunya. Dibukanya pintu lebar-lebar. Wajahnya nampak senang. "Silakan masuk, Tuan." Kami masuk. Dari pintu tertutup di sebelah kiri kami terdengar Bob menggeram, memprotes. "Biarkan saja dia keluar," ujarku. "Oh, baik, Tuan. Sebetulnya dia tidak apa-apa. Cuma suaranya itu... sering kali membuat orang takut. Yah, tapi dia memang anjing jaga yang baik. Ellen membuka pintu Ruang Pagi, dan Bob pun menerobos keluar. Bob memandang ke kiri dan ke kanan sambil mendengus-dengus. Nampaknya ia mengenali kami. "Hallo, Bob," seruku. "Apa kabar?" Bob menggoyang-goyangkan ekornya. Sekarang Bob memperhatikan Poirot. Tidak lama. Ia segera beranjak meninggalkannya. "Bob," panggilku. Dipandangnya aku dari atas bahunya.

"Kalian tidak perlu dijaga. Aku akan kembali ke kandangku," begitu seolah-olah Bob berkata sambil meninggalkan kami. "Jendelanya tertutup semua. Oh, maafkan sebentar..." buru-buru Ellen menghambur ke Ruang Pagi, membuka jendela. "Bagus," ujar Poirot mengikutinya, sambil duduk di salah satu kursi di situ. Waktu aku mau mengikutinya, Bob tiba-tiba muncul kembali. Ia membawa bola pada mulutnya. Ia melompat-lompat naik tangga. Sesampainya di atas, ia memandang ke bawah sambil menggoyang-goyangkan ekornya. "Ayo," begitu kelihatannya dia berkata. "Ayo, kita main-main!" Perhatianku teralihkan kepadanya, dan kami pun bermain-main beberapa menit lamanya. Aku kembali ke Ruang Pagi dengan rasa bersalah karena melalaikan tugas. Poirot dan Ellen kedengarannya sedang asyik berbicara mengenai obat-obatan dan penyakit. "Pil putih, Tuan - cuma itu yang biasanya diminum. Dua atau tiga pil setelah makan. Begitu perintah Dokter Grainger. Oh ya, Nona Arundell mematuhi perintah itu. Obatnya kecil-kecil sekali. Tapi kemudian Nona Lawson memperkenalkan obat baru. Berbentuk kapsul, rancangan Dokter Lough-barrow. Katanya itu Kapsul Hati. Mungkin Tuan sudah melihat iklannya?" "Nona Arundell minum kapsul itu juga?" "Ya. Mula-mula Nona Lawson yang memaksanya. Kemudian, Nona Arundell merasakan khasiatnya, dan sejak saat itu Beliau selalu meminumnya." "Apakah Dokter Grainger tahu?" "Tahu, Tuan. Tapi Dokter Grainger tidak melarangnya. 'Minum saja kalau kaurasa khasiatnya bagus,' katanya. Lalu Nona Arundell menyahut, 'Kau boleh menertawakanku, tapi sungguh, aku merasakan khasiatnya -jauh lebih berkhasiat dari resepmu.' Dokter Grainger tentu saja tertawa, Tuan. Katanya keyakinan lebih manjur daripada obat apa pun yang pernah ditemukan orang." "Adakah obat lain lagi yang diminumnya?" "Tidak. Suami Nona Bella - dokter asing itu - memberinya sebotol obat. Tapi, meskipun Nona Arundell mengucapkan terima kasih, obat itu dibuang. Saya melihat sendiri waktu Nona Arundell membuangnya, Tuan. Tapi itu tidak bisa disalahkan. Kita tidak tahu apa yang diberikan oleh orang asing." "Nyonya Tanios juga melihat waktu Nona Arundell membuang obat itu, kan?" "Ya. Kelihatannya dia sakit hati. Kasihan. Saya mengerti maksud dokter itu baik." "Tentu. Tentu. Setelah Nona Arundell meninggal semua obat-obatannya dibuang?" Ellen kelihatan terkejut mendengar pertanyaan itu. "Oh, ya, Tuan. Juru rawat-nya membuang semua obat yang ada diluar. Sedang Nona Lawson sudah mengosongkan lemari obat yang di kamar mandi."

"Di situkah Kapsul Hatinya disimpan?" "Tidak. Kapsul itu diletakkan di lemari sudut di Ruang Makan supaya mudah mengambilnya setiap kali selesai makan." "Siapa juru rawat yang merawat Nona Arundell? Anda tahu alamatnya?" Dengan cepat Ellen memberikan nama dan alamatnya. Poirot terus menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit Nona Arundell sebelum meninggal. Ellen menceriterakan dengan mendetil tentang penyakitnya, tentang keluhannya, tentang gejala penyakit kuning yang nampak dari luar, dan tentang saat-saat terakhirnya. Aku tak tahu apakah Poirot puas atau tidak dengan apa yang didengarnya. Yang jelas, ia mendengarkan dengan sabar dan kadang-kadang melontarkan pertanyaan, khususnya mengenai Nona Lawson, dan lamanya Nona Lawson berada di kamar Nona Arundell. Poirot nampaknya juga tertarik akan pengaturan diet Nona Arundell -dengan membandingkan segalanya dengan pengalaman keluarganya (yang sebetulnya tidak ada) yang sekarang sudah meninggal. Melihat mereka berdua begitu asyik, aku keluar lagi ke Ruang Tengah. Bob rupanya tertidur di bagian atas tangga. Bolanya tergeletak dekat mulutnya. Aku bersiul membangunkannya, ia pun cepat bangkit dan sigap kembali. Menutupi rasa malunya (kedapatan tertidur), Bob segera mempermainkan bolanya dan melemparkannya kepadaku. Kami bermain-main beberapa menit lamanya. Ketika aku kembali ke Ruang Pagi, Poirot sedang membicarakan kunjungan Dokter Tanios yang tidak terduga-duga hari Minggu sebelum Nona Arundell meninggal. "Ya, Tuan - Tuan Charles dan Nona Theresa memang sedang berjalan-jalan ke luar. Kami memang tidak tahu Dokter Tanios akan datang. Nona Arundell sedang berbaring. Waktu tahu Dokter Tanios datang, Beliau sangat terkejut. 'Dokter Tanios?' tanyanya. 'Dengan isterinya?' Saya katakan dia datang sendirian. Nona Arundell menyuruh saya mengatakan kepada Dokter Tanios bahwa Nona Arundell akan turun." "Lama Dokter Tanios tinggal di sini?" "Tidak lebih dari satu jam, Tuan Kelihatannya dia kecewa waktu pulang." "Mungkin Anda kebetulan tahu maksud kedatangannya?" "Oh, tentu saja tidak, Tuan. Saya tidak tahu apa-apa!" "Anda tidak mendengar apa-apa sama sekali?" Wajah Ellen memerah. "Tidak, Tuan! Saya tak pernah nguping di dekat pintu..." "Oh, Anda salah tangkap," ujar Poirot segera, menghindari Ellen merasa lebih tersinggung. "Maksud saya, mungkin saja waktu Anda membawa teh masuk Anda kebetulan mendengar apa yang dikatakan."

Ellen nampak tenang mendengar penjelasan Poirot. "Maafkan saya. Tuan - saya salah mengerti. Dokter Tanios tidak sampai minum teh di sini." Poirot memandangnya, matanya bersinar nakal. "Dan kalau saya tetap ingin tahu maksud kedatangan Dokter Tanios - besar kemungkinan Nona Lawson tahu, bukan?" "Kalau dia tidak tahu, Tuan, orang lain pun tak ada yang tahu," Ellen berkata dengan nada jijik. "Eee...," Poirot nampaknya mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Nona Lawson kamarnya kalau tidak salah berdekatan dengan kamar Nona Arundell, bukan?" "Oh, tidak. Tuan. Kamar Nona Lawson persis di bagian kanan atas tangga. Saya bisa menunjukkannya kepada Anda, Tuan." Poirot menerima tawarannya. Sementara naik tangga, ia berjalan sedekat mungkin dengan dinding di sisi tangga itu. Begitu sampai di puncak tangga, ia menyerukan sesuatu sambil membungkuk dan memegangi ujung bawah pantalonnya. "Pantalon saya tersangkut -ah, ini dia, ada paku di sini, di papan miring ini." "Oh, ya - memang ada paku di situ, Tuan. Mungkin mau copot. Baju saya sendiri sudah beberapa kali tersangkut paku itu." "Sudah lamakah paku itu begitu?" "Cukupan, Tuan. Pertama kali saya melihatnya waktu Nona Arundell masih berbaring setelah kecelakaan di tangga ini. Tuan. Saya mencoba menariknya, tapi tidak bisa." "Ada benang yang diikatkan di situ kelihatannya." "Ya, Tuan. Saya ingat, waktu pertama kali saya melihatnya ada bekas potongan benang di situ. Saya tidak tahu bekas apa." Suara Ellen sama sekali tidak mengandung kecurigaan. Baginya, itu cuma salah satu kejadian dalam rumah tangga yang tidak memerlukan penjelasan! Poirot melangkah masuk ke kamar di sebelah kanan atas tangga. Kamar itu tidak terlalu besar, tetapi juga tidak kecil. Di salah satu sudutnya terdapat meja dan kaca rias dan di antara dua jendela yang terdapat di situ, ada sebuah lemari dengan kaca di bagian depannya. Tempa tidurnya terletak di sebelah kanan, di belakang pintu, menghadap ke jendela. Di dinding sebelah kiri terdapat sederetan lemari kecil dengan banyak laci dan sebuah tempat cuci tangan-dari marmer. Poirot memperhatikan sekeliling kamar itu dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia keluar lagi. Dia menuju gang, melampaui dua ruang tidur lainnya, dan akhirnya ke Ruang Tidur Utama, yang dulunya kamar Emily Arundell. "Juru rawat kamarnya di sebelah," kata Ellen. Poirot mengangguk. Sementara kami menuruni tangga, Poirot bertanya apakah dia boleh berjalan-jalan melihat taman. "Oh, ya, Tuan. Tentu saja. Taman di sini sedang bagus-bagusnya saat ini."

"Apakah penjaganya masih tetap yang dulu?" "Angus? Oh, ya, Angus masih di sini. Nona Lawson ingin agar tamannya tetap terawat karena itu akan menambah harga rumah ini." "Ya. Dia bijaksana. Membiarkan rumah dan tamannya tidak terawat bukan tindakan yang bijaksana." Tamannya sangat luas dan indah. Kami berjalan berkeliling, sampai tibalah kami ke suatu tempat di mana nampak seorang lelaki tua sedang sibuk bekerja. Dengan hormatnya laki-laki itu mengangguk kepada kami, dan Poirot pun mengajaknya bercakap-cakap. Mendengar kami belum lama berselang bertemu dengan Tuan Charles rupanya menyenangkan hati laki-laki itu. Ia menjadi lincah dan sangat ramah. Banyak ceriteranya mengenai masa kecil Charles kalau anak itu berkunjung ke Puri Hijau. "Bulan April yang lalu dia datang ke sini, bukan?" "Ya. Ke sini - dua akhir minggu berturut-turut. Persis sebelum Nona Arundell meninggal." "Banyak mengobrol dengan Anda?" "Lumayan! Kurang menyenangkan buat anak muda macam dia berlibur di sini. Itu fakta, Tuan. Kebanyakan dia jalan-jalan ke The George. Kadang-kadang juga jalan-jalan di kebun sini - menghampiri saya, tanya ini dan itu." "Mengenai tanaman?" "Yah... bunga-bungaan dan semak-semak juga." "Semak-semak?" Nada suara Poirot terdengar mengandung arti lain. Dia berpaling, dan mengamati sederet kaleng yang terletak tak jauh dari situ, pada rak. Pandangannya berhenti pada sebuah kaleng. "Dia mungkin ingin tahu bagaimana cara membasminya?" "Betul, Tuan!" "Ini obat pembasminya, kan?" Poirot memutar kaleng itu perlahan-lahan dan membaca labelnya. "Betul, Tuan," komentar Angus. "Yang paling mudah memang menggunakan obat itu." "Apakah tidak berbahaya?" "Tidak, asal betul cara menggunakannya, Tuan. Obat itu mengandung banyak arsenik. Tuan Charles malah bercanda sedikit mengenai obat itu. Katanya, kalau dia punya isteri yang cerewet dan membosankan, dia akan datang ke sini minta sedikit obat itu, Tuan. Untuk menghilangkan isterinya itu, mungkin! Saya balas dia, dan saya katakan, siapa tahu justru isterinya yang akan mengambilnya buat dia sendiri. Dia tertawa terbahak-bahak."

Kami merasa wajib tertawa menanggapi ceritera yang dianggapnya lucu itu, Poirot membuka tutup kalengnya. "Sudah hampir habis," gumamnya. Angus ikut melihat isi kaleng itu. "Wah. Tak terasa, sudah sebanyak itu yang saya pakai. Saya mesti cepat-cepat memesan lagi." "Ya," ujar Poirot tersenyum, "Seandainya saya ingin minta sedikit untuk isteri saya pun sudah tidak cukup!" Sekali lagi kami tertawa bersama-sama. "Kelihatannya Anda belum menikah, Tuan?" "Belum." "Ah, belum kawin saja sudah begitu. Kalau sudah kawin... nah, itu, baru tahu susahnya!" "Isteri Anda...?" tanya Poirot, sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya. "Oh, jangan kuatir - dia hidup, segar bugar!" Angus kelihatan sedikit muram. Setelah memuji tamannya yang bagus, kami pun berpamitan.

BAB 21 APOTEKER. JURU RAWAT. DOKTER Kaleng obat pembasmi semak itu menimbulkan babak pemikiran baru dalam otakku. Kini aku betul-betul mempunyai rasa curiga. Perhatian Charles pada obat itu - dan kenyataan bahwa Angus mendapatkan kalengnya hampir kosong kelihatannya merupakan penanda ke arah pemikiran yang benar. Seperti biasanya kalau aku senang atau menaruh curiga, Poirot bersikap acuh-takacuh. "Meskipun terbukti ada seseorang yang mengambil obat pembasmi semak itu, Hastings - belum berarti bahwa Charles pelakunya." "Tapi dia toh banyak sekali mempersoalkan obat itu dengan Angus," sanggahku. "Kalau memang itu tujuannya, mengobrol seperti itu bukan tindakan yang bijaksana."

Kemudian Poirot melanjutkan, "Nama zat peracun apa yang paling cepat teringat olehmu kalau kau ditanyai?" "Ya. Jadi kau mengerti mengapa Charles ragu-ragu sebelum mengucapkan 'strychnine" tadi pagi?" "Maksudmu..." "Semula dia hendak mengatakan 'menaburkan arsenik pada sup - tapi dia tidak jadi mengatakannya." "Ah!" ucapku. "Mengapa mesti begitu?" "Tepat, Hastings! Mengapa? Terus terang, untuk menjawab pertanyaan itulah aku sengaja mengelilingi taman, mencari sumber pembasmi semak." "Dan kau berhasil menemukannya." "Ya. Aku menemukannya." Aku menggeleng-geleng. "Kelihatannya bukan berita baik buat Charles. Dan kedengarannya tadi kau membicarakan penyakit Nona Arundell dengan si Ellen. Samakah gejalanya dengan gejala keracunan arsenik?" Poirot menggosok-gosok hidungnya. "Sukar untuk dikatakan. Nona Arundell merasa perutnya tidak enak - sakit." "Nah - itu memang gejalanya, bukan?" "Hmmm, aku kurang yakin." "Lalu kira-kira keracunan apa kalau begitu?" "Eh bien, Sobat, melihat gejalanya seperti sakit lever biasa yang mematikan." "Oh, Poirot!," seruku. "Tidak mungkin itu cuma penyakit biasa! Dia mati dibunuh!" "Oh, ia ia, kok kita jadi tukar tempat?" Tiba-tiba Poirot membelok ke sebuah apotek. Setelah lama memperbincangkan keluhan- keluhan pribadinya, Poirot membeli sekotak kecil obat isap untuk sakit tenggorokan.Kemudian, sementara obat yang dibelinya itu sedang dibungkus, perhatiannya tiba-tiba tertarik pada obat berbungkus menarik: Kapsul Lever Dr. Loughbarrow. "Oh, ya, Tuan - obat itu bagus sekali." Si Apoteker yang setengah baya itu berpromosi. "Sangat mujarab!" "Kalau tak salah Nona Arundell biasa meminumnya. Nona Emily Arundell." "Memang betul, Tuan. Nona Arundell yang empunya Puri Hijau itu. Oh, dia perempuan yang luar biasa. Saya sering melayaninya." "Banyakkah obat paten yang biasa diminumnya?" "Tidak, Tuan. Tidak sebanyak yang biasa diminum perempuan-perempuan tua lainnya. Nona Lawson, bekas pelayan pribadinya yang sekarang jadi ahli waris..." Poirot mengangguk.

"Dia banyak minum obat - macam-macam pil, obat isap, obat untuk melancarkan pencernaan, obat tambah darah, dan sebagainya. Makin banyak botol di lemari obatnya, makin senang dia. Padahal sekarang orang tidak terlalu doyan obat seperti dulu. Meskipun begitu, obat-obatan yang kami jual masih banyak laku - karena ada orang yang punya kesenangan mengumpulkan obat-obatan seperti Nona Lawson itu." "Apakah Nona Arundell minum kapsul lever ini secara teratur?" "Ya. Selama tiga bulan terakhir sebelum Beliau meninggal." "Oh ya - ada keluarganya. Dokter Tanios -kalau tak salah - yang datang ke sini untuk membeli ramuan obat tertentu. Betul?" "Ya. Lelaki Yunani yang menikahi kemenakan Nona Arundell. Campuran obatnya baru rupanya -saya belum pernah menjumpai campuran seperti itu." Apoteker itu berbicara mengenai botani. "Obat baru biasanya memang berkhasiat, Tuan - sebab tubuh kita lama kelamaan menjadi kebal dengan obat yang biasa kita minum. Betul, Tuan -campuran obatnya sangat menarik. Tapi itu bisa dimengerti - dia seorang dokter, bukan? Orangnya baik sekali - senang mengobrol dengannya." "Isterinya pernah belanja ke sini?" "Pernah atau tidak, ya? Oh, saya tidak ingat. Tapi, eee, ya, pernah, Tuan. Dia datang membeli obat tidur - chloral. Ya, chloral - saya ingat. Dia membeli dosis dua kali lipat yang biasa diberikan dokter." "Dokter mana yang menulis resepnya?" "Suaminya, saya pikir. Sekarang ini kami mesti lebih berhati-hati, Tuan. Kadangkadang dokter salah menulis resep. Karena itu kami sering harus mencek ulang. Sebab, Tuan, kalau umpamanya terjadi sesuatu - bukan dokternya yang disalahkan, tapi kami. Kami dianggap tahu dosis yang seharusnya." "Itu tidak adil!" "Ya - agak mengkuatirkan, saya akui. Tapi, yah - saya tidak boleh berkeluh kesah. Amit-amit, tapi selama ini yang seperti itu belum pernah terjadi dengan apotek kami." Laki-laki itu mengetuk meja di hadapannya tiga kali. Poirot membeli sebungkus kapsul lever buatan Dr. Loughbarrow. "Yang ukuran berapa, Tuan - dua puluh lima, lima puluh, seratus?" "Yang paling besar pasti jatuhnya lebih murah - tapi..." "Yang lima puluh sajalah, Tuan. Nona Arundell biasanya mengambil yang lima puluh." Poirot mengangguk, membayar, dan menerima bungkusan kapsul levernya. Kami pergi meninggalkan apotek tadi.

"Jadi Nyonya Tanios pernah membeli obat tidur dengan dosis melebihi normal," ujarku setelah kami sampai dijalan. "Minum obat tidur melebihi dosis kan bisa mematikan?" "Ya - mati dengan tanpa susah-susah sama sekali." "Mungkinkah Nona Arundell..." Tiba-tiba aku ingat kata-kata Nona Lawson, Saya yakin dia mau membunuh siapa pun kalau disuruh suaminya." Poirot menggeleng. "Chloral itu semacam narkotik - biasanya dipakai untuk mati rasa dan penenang. Tapi bisa juga membuat orang kecanduan." "Mungkinkah Nyonya Tanios kecanduan obat itu?" Poirot menggeleng lagi. "Tidak. Kupikir tidak. Tapi aku jadi curiga. Buat apa dia membeli obat tidur sebanyak itu. Mungkin..." Poirot tidak melanjutkan kata-katanya, ia segera mengalihkan perhatiannya pada arlojinya. "Ayo. kita cari alamat Suster Carruthers yang merawat Nona Arundell pada harihari terakhirnya." Suster Carruthers ternyata seorang wanita setengah baya yang kelihatannya sangat bijaksana. Kali ini Poirot memainkan peran baru. Ia berpura-pura mencari juru rawat untuk ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. "Terus terang, ibu saya orangnya sulit. Telah beberapa kali kami memanggil juru rawat muda yang pandai dan cekatan. Tapi, justru karena mereka muda itu ibu saya menentang. Beliau tidak menyukai perempuan muda. Mereka selalu dihinanya. Saya harus akui, ibu saya keras dan kolot, ia sangat menentang segala sesuatu yang berbau modern. Karena itu, sulit sekali bagi saya untuk mencari orang yang bisa coco dan sabar menghadapinya," ujar Poirot dengan sedihnya. "Saya bisa mengerti," kata Suster Carruthers simpati. "Memang kadang-kadang menjengkelkan. Dengan wanita tua seperti ibu Anda, kita harus menggunakan banyak taktik. Tidak baik membuat si pasien marah. Lebih baik kita yang mengalah sebanyak mungkin. Kalau dia merasa bahwa kita tidak memaksanya, tidak memerintah atau mendikte - maka lambat laun dia akan bersikap santai, dan bahkan menyerah." "Ah! Saya yakin Anda akan cocok sekali buat ibu saya. Anda kelihatannya mengerti perasaan wanita tua." "Saya terpaksa mengerti lewat pengalaman- pengalaman saya," kata Suster Carruthers sambil tertawa. "Kesabaran dan humor ternyata banyak sekali membantu."

"Ya - itu bijaksana sekali. Saya dengar Anda pernah merawat Nona Arundell. Beliau pun, saya kira, bukan pasien yang gampang." "Yah - bagaimana, ya? Kemauannya memang keras, tapi saya tidak mengalami kesulitan merawatnya. Tapi mungkin saja itu karena saya tidak terlalu lama merawatnya. Dia meninggal pada hari keempat dalam rawatan saya." "Saya baru kemarin bertemu dengan kemenakannya, Nona Theresa Arundell." "Oh, sungguh? Dunia ini memang sempit!" "Anda kenal dia?" "Ya, tentu saja. Dia datang setelah bibinya meninggal, dan datang lagi buat menghadiri pemakamannya. Sebelumnya pun saya sudah sering melihatnya - kalau dia berjalan-jalan pada waktu berlibur di sini. Dia sangat cantik." "Ya. Cantik sekali. Sayangnya agak terlalu kurus." Sadar akan pipinya sendiri yang agak montok, Suster Carruthers menjadi kemalumaluan. "Benar," ujarnya. "Sebaiknya orang tidak terlalu kurus." "Kasihan dia," lanjut Poirot. "Saya betul-betul merasa kasihan kepadanya. Entre nous"[antara kita saja] Poirot mendekatkan dirinya pada Suster Carruthers, dan dengan setengah berbisik ia berkata, "surat wasiat bibinya sangat tidak terdugaduga." "Kelihatannya begitu," ujar Suster Carruthers. "Setahu saya, itu menjadi bahan pembicaraan orang." "Saya sama sekali tidak bisa membayangkan mengapa Nona Arundell memutuskan untuk tidak mewarisi keluarganya sendiri sama sekali. Tidak biasanya orang berbuat begitu." "Aneh sekali memang. Dan dengar-dengar, orang mengatakan ada sesuatu di balik semuanya itu." "Mungkin Anda punya bayangan - apa alasannya? Pernahkah Nona Arundell mengatakan sesuatu mengenai hal itu?" "Tidak - tidak kepada saya." "Tapi dia mengatakan kepada orang lain?" "Yah - saya pikir Nona Arundell mengatakan sesuatu kepada Nona Lawson, dan saya dengar Nona Lawson berkata, 'Ya. Tapi surat-surat itu dibawa oleh Tuan Pur...' Purvis kalau tidak salah. Saya pikir itu nama pengacaranya. Kemudian Nona Arundell berkata, 'Saya yakin ada di laci di bawah.' Dan Nona Lawson mengatakan, 'Tidak. Masakan lupa? Kan, sudah dikirimkan ke Tuan Purvis?' Setelah itu pasien saya mengalami serangan mual-mual lagi, dan Nona Lawson pergi ke luar sementara saya merawat Nona Arundell. Saya sering bertanya-tanya mungkinkah surat wasiat itu yang mereka perbincangkan." "Sangat mungkin."

Suster Carruthers melanjutkan, "Kalau memang benar, saya pikir Nona Arundell merasa gelisah dan ingin mengubahnya - tapi Beliau begitu lemah dan menderita sampai ajalnya tiba." "Apakah Nona Lawson membantu merawatnya?" tanya Poirot. "Oh, sama sekali tidak. Sikapnya kerap kali justru mengganggu ketenangan pasien." "Jadi, Anda sendiri yang merawat Nona Arundell selama Beliau sakit? C'est formidable ca."[bukan main] "Ada seorang pelayan - - namanya Ellen, kalau saya tidak salah. Dia membantu saya. Ellen sangat baik. Dia sudah terbiasa merawat orang sakit, dan kelihatannya dia sangat mengerti apa yang disukai atau tidak disukai Nona Arundell. Kami berdua bekerja sama dengan baik sekali, saya akui. Dokter Grainger mengirim seorang suster jaga malam pada hari Jumat sore. Tapi Nona Arundell sudah meninggal sebelumnya." "Mungkin Nona Lawson membantu menyiapkan makanan pasien Anda?" "Tidak. Nona Lawson sama sekali tidak melakukan apa-apa. Terus terang, hampir tidak ada yang perlu dipersiapkan. Semuanya sudah saya siapkan di kamar Nona Arundell - Valentine dan brandy-nya, juga glucose dan sebagainya. yang dilakukan Nona Lawson cuma menangis, kadang-kadang meraung-raung, mengganggu semua orang." Sedikit nada pahit terselip dalam suara Suster Carruthers. "Kedengarannya," komentar Poirot, "Anda kurang menghargai Nona Lawson." "Pada pikiran saya, pelayan pribadi kebanyakan orang bodoh. Mereka tidak atau kurang berpendidikan. Cuma bekerja - katakanlah - sebagai amatiran. Dan umumnya, mereka itu perempuan yang tidak bisa bekerja yang lain." "Menurut penglihatan Anda, apakah Nona Lawson sangat dekat dengan Nona Arundell?" "Kelihatannya begitu. Waktu Nona Arundell meninggal, dia yang paling histeris melebihi keluarga Nona Arundell sendiri, malah." "Ya, mungkin juga," ujar Poirot sambil mengangguk-angguk. "Sebab Nona Arundell nampaknya sangat sadar ketika memutuskan untuk mewariskan seluruh kekayaannya kepada Nona Lawson." "Nona Arundell orangnya sangat cerdik," ujar Suster Carruthers. "Pengetahuannya sangat luas." "Pernahkah dia membicarakan Bob - anjingnya?" "Lucu, Anda mengatakan begitu! Memang Nona Arundell sering sekali membicarakannya - lebih-lebih kalau dia mengigau. Tak jelas apa yang diucapkan. Yang terdengar dia menyebut-nyebut Bob dan bolanya serta dia jatuh dari tangga. Bob anjing manis. Saya sangat menyayangi anjing. Kasihan Bob kelihatannya

sedih sekali ketika majikannya meninggal. Kadang-kadang sukar dimengerti, bukan?" "Anjingsering mempunyai perasaan seperti manusia." Dengan pembicaraan mengenai anjing ini, kami pun minta diri. "Ada seseorang yang nampaknya sama sekali tidak mempunyai kecurigaan," ujar Poirot di jalan. Suaranya kurang bersemangat. *** Santap malam kami di The George sama sekali tidak nikmat - Beberapa kali Poirot mengeluh, lebih-lebih waktu makan supnya. "Padahal, Hastings, gampang sekali bikin sup yang enak. Le pot au feu..." Kuhindari topik masak memasak ini dengan susah payah. Sehabis makan malam, kami mendapat kejutan. Kami sedang duduk-duduk di lobby. Saat itu kebetulan tidak ada orang lain yang duduk- duduk di situ. Waktu makan di ruang makan tadi ada seorang laki-laki lain yang juga sedang makan. Seorang pengusaha kelihatannya. Tapi dia tidak tinggal di hotel lama. Dia keluar setelah selesai santap malam. Aku iseng-iseng membuka semacam jurnal ekonomi terbitan lama yang tersedia di meja ketika tiba-tiba kudengar ada orang menyerukan nama Poirot. Suara yang kudengar itu rupanya berasal dari luar. "Mana dia? Di sini? Oh - aku harus menemukan orang itu!" Pintu masuk ke lobby dibuka orang dari luar. Dokter Grainger masuk tergopohgopoh dengan wajah merah padam dan kedua alisnya bertemu di tengah. Lelaki itu berhenti sebentar menutup pintu, kemudian menghampiri kami dengan salah tingkah. "Oh, jadi Anda di sini! M. Poirot, apa maksud Anda datang ke tempat saya dan membual yang bukan-bukan?" "Ini dia salah satu bola sabunmu, Poirot," gumamku. Dengan suara sangat lembut Poirot berkata, "Oh, Dokter, perkenankan saya menjelaskan..." "Memperkenankan? Memperkenankan? Huh. persetan dengan macam-macam perkenan. Akan kupaksa kau menjelaskan semua duduk perkaranya! Anda seorang detektif, kan? Detektif yang kasak-kusuk berusaha mencari informasi! Apa maksudnya Anda datang ke tempat praktek saya dan membuat ceritera- ceritera bohong? Yang katanya mau menulis buku biografi Jenderal Arundell - lah.... Oh, "Siapa yang memberitahukan identitas saya kepada Anda?" tanya Poirot. "Siapa? Nona Peabody. tentu saja. Dia tidak bisa ditipu. Dia langsung tahu maksud Anda."

"Oh, Nona Peabody- ya." Poirot kedengarannya sedang mencoba mengingat-ingat Nona Peabody. "Saya pikir..." Dokter Grainger menyela dengan marahnya. "Saya menunggu penjelasan Anda, Tuan!" "Tentu saja! Penjelasannya sangat sederhana. Usaha Pembunuhan." "Apa? Apa yang Anda katakan?" Dengan tenang Poirot berkata, "Nona Arundell mengalami kecelakaan-jatuh dari tangga. Betul, bukan? Tidak lama. sebelum Beliau meninggal." "Ya. Apa hubungannya? Dia terpeleset bola mainan anjingnya sendiri." Poirot menggeleng. "Tidak, Dokter. Dia bukan jatuh karena terpeleset atau terantuk bola Bob! Ada benang yang sengaja direntang pada ujung atas tangga itu supaya dia tersandung dan jatuh!" Dokter Grainger membelalak. "Tapi Nona Arundell tidak mengatakan begitu," sanggahnya. "Dia sama sekali tidak pernah mengatakan apa-apa." "Itu bisa dimengerti -- kalau memang benar salah seorang keluarganya sendiri yang memasang benang itu." "Hmmm," Dokter Grainger melemparkan pandangan tajam kepada Poirot, kemudian menjatuhkan dirinya ke kursi. "Nah," ujarnya pula. "Lalu bagaimana Anda bisa ikut campur dalam urusan ini?" "Nona Arundell sendiri menulis surat kepada saya. Dia menekankan kerahasiaannya. Sayangnya surat itu terlambat dikirimkan." Poirot melanjutkan ceriteranya mengenai penyelidikannya serta paku yang ditemukannya di papan miring yang terdapat di sisi tangga. Dokter Grainger mendengarkan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Wajahnya serius. Amarahnya menghilang. "Anda hiea mengerti bagaimana sulitnya kedudukan saya, bukan, Dokter Grainger?" kata Poirdt akhirnya. "Saya mengerjakan semuanya ini atas permintaan orang yang sudah meninggal. Walaupun dia sudah meninggal, tapi saya merasa bahwa permintaannya memang penting dan harus dilakukan." Dahi Dokter Grainger berkerenyit, kedua alisnya hampir bertemu di atas hidungnya. "Anda belum punya bayangan siapa yang dengan sengaja memasang benang di tangga itu?" "Saya belum mempunyai bukti. Tapi itu bukan berarti saya belum punya gambaran" "Perbuatan yang sangat terkutuk," gumam Dokter Grainger. "Ya. Mula-mula sulit menentukan apakah ada kelanjutan ceriteranya." "Apa?"

"Kelihatannya Nona Arundell meninggal karena penyakit biasa. Tapi, yakinkah kita bahwa dia benar-benar meninggal karena penyakit? Pernah terjadi percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Bagaimana saya bisa yakin bahwa selanjutnya tidak terjadi percobaan yang kedua? Dan percobaan yang kedua ini ternyata berhasil!" Dokter Grainger mengangguk-angguk. "Jangan marah, Dokter Grainger - tapi, Anda pun merasa yakin bahwa Nona Arundell meninggal karena penyakitnya, bukan? Maksud saya, Anda yakin bahwa dia meninggal secara wajar? Saya baru saja menemukan beberapa bukti..." Poirot menceriterakan dengan mendetil percakapannya dengan Angus siang tadi, serta perhatian Charles yang nampaknya sangat besar terhadap obat pembasmi semak itu. Poirot juga menyebutkan keterkejutan Angus waktu tahu bahwa isi kalengnya sudah hampir habis. Dokter Grainger mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika Poirot selesai berceritera, ia berkata. "Saya mengerti jalan pikiran Anda. Dalam kebanyakan kasus keracunan arsenik memang timbul keluhan akut pada ginjal. Meskipun demikian, kasus semacam ini agak sulit didefinisikan karena mempunyai akibat yang berbeda-beda. Bisa akut, sub-akut. mengenai saraf atau gejala kronis. Mungkin penderita muntah-muntah dan merasa sakit perut -tapi gejala semacam ini mungkin juga tidak timbul sama sekali. Sebaliknya, ada juga kemungkinan si penderita langsung terkapar dan meninggal, atau menjadi lumpuh. Gejalanya sangat bervariasi." Poirot berkata, "Eh bien, melihat fakta-faktanya, bagaimana pendapat Anda?" Dokter Grainger diam beberapa menit lamanya. Kemudian dengan perlahan-lahan dia berkata, "Melihat fakta-faktanya, dan tanpa dilatarbelakangi oleh pikiran lain selain yang berhubungan dengan kedokteran, saya berpendapat tidak ada gejala keracunan arsenik sama sekali dalam kasus Nona Arundell. Dia meninggal karena penyakit kuning yang disebabkan oleh kerusakan pada hatinya. Sudah bertahuntahun saya menjadi dokter pribadinya. Dan selama itu, telah beberapa kali saya mengalami penyakitnya itu kambuh. Pada waktu kambuh, gejala yang nampak sama dengan gejala yang nampak pada sakitnya yang terakhir. Begitulah pendapat saya, M. Poirot." Di situ, pembicaraan dengan sendirinya berhenti. Rasanya seperti anti-klimaks ketika tiba-tiba Poirot mengeluarkan bungkusan kapsul lever yang dibelinya di apotek sore tadi. "Saya dengar Nona Arundell memakai obat ini?" tanyanya. "Tapi ini toh tidak membahayakan?" "Obat itu? Tak ada jeleknya. Aloes-podophyllin-zat yang terkandung di dalamnya tergolong lembut dan tidak membahayakan," Dokter Grainger berkata. "Dia ingin mencoba obat itu. Dan saya tidak berkeberatan." Dokter Grainger berdiri.

"Anda sendiri meramu obat untuknya?" tanya Poirot. "Ya - pil lever enteng buat setiap kali habis makan." Mata Dokter Grainger bersinar aneh. "Seandainya dia memakan satu dos sekaligus pun, tak ada bahayanya. Saya tidak pernah meracuni pasien-pasien saya, M. Poirot." Dengan tersenyum dijabatnya tangan kami, dan dia pun pergi. Poirot membuka dos obat yang dibelinya di apotek tadi. Isinya kapsul transparan, tiga perempatnya terisi oleh serbuk berwarna kecoklatan. "Seperti obat mabok laut yang pernah kuminum," komentarku. Poirot membuka sebuah kapsul dan memeriksa isinya. Dijilatnya serbuk coklat yang baru dikeluarkan dari kapsulnya. Ia meringis. "Yah," ujarku sambil menjatuhkan pantatku ke kursi, "Kelihatannya tidak ada yang membahayakan. Maksudku, kapsul buatan Dokter Loughbarrow maupun pil ramuan Dokter Grainger! Dan lagi Dokter Grainger kelihatannya sangat negatif terhadap kemungkinan keracunan arsenik. Apakah kau akhirnya percaya, Poirot Sobatku yang keras kepala?" "Aku memang keras kepala," ujarnya. "Jadi, meskipun kau telah mendengar keterangan apoteker itu, juru rawat, serta dokter itu sendiri -kau masih tetap yakin bahwa Nona Arundell dibunuh orang?" Jawaban Poirot sangat pelan, "Itu keyakinanku. Bukan cuma keyakinan, Hastings aku merasa pasti!" "Ada cara buat membuktikannya," ujarku lambat. "Gali makamnya, dan periksa sisa-sisa tubuhnya." Poirot mengangguk. "Itu langkahmu yang berikut?" "Kawan, aku mesti sangat berhati-hati." "Mengapa?" "Karena," suaranya turun. "'Aku takut akan terjadi tragedi yang kedua." "Maksudmu?" "Aku takut, Hastings, aku takut. Itu saja."

BAB 22 PEREMPUAN DI TANGGA SANA

Keesokan harinya, datang sepucuk surat ditujukan kepada Poirot. Tulisannya raguragu dan miring ke atas di sebelah kanannya. M. Poirot yang terhormat, Saya dengar dari Ellen, Anda berkunjung ke Puri Hijau kemarin. Kalau Anda tidak terlalu sibuk, tolong mampir sebentar hari ini. "Jadi, dia sedang di sini?" komentarku. "Ya." "Apa perlunya dia datang?" Poirot tersenyum. "Jangan sinis begitu, Sobat. Puri Hijau kan rumahnya sendiri sekarang." "Memang. Tahukah Poirot, kelihatannya kita akan kejepit lagi. Setiap tipuan yang dilakukan orang pada akhirnya akan terbuka." "Aku sependapat denganmu, Hastings." "Kau masih mencurigai mereka semua?" "Tidak. Aku cuma mencurigai seorang saja sekarang ini." "Yang mana?" "Karena baru merupakan dugaan, dan belum ada buktinya, kupikir sebaiknya kau menarik kesimpulan sendiri. Jangan lupa akan faktor-faktor psikologi. Itu sangat penting. Sifat pembunuhannya mencerminkan temperamen pelakunya - itu kunci terpentingnya." "Mana aku bisa tahu temperamen pembunuhnya kalau pembunuhnya sendiri tidak kuketahui?" "Kau tidak memperhatikan yang barusan kukatakan. Kalau kaugambarkan kembali sifat-sifat yang penting dan menyolok, tentunya - dari pembunuhan itu. kau akan sadar siapa sebenarnya pelaku pembunuhan itu." "Sungguhkah kau tahu, Poirot?" tanyaku ingin tahu. "Tak bisa aku mengatakan bahwa aku tahu, Sobat - aku belum punya bukti. Itu sebabnya aku tidak berani berkata lebih banyak pada saat ini. Tapi aku cukup yakin dan pasti akan kebenarannya." "Yah," ujarku tertawa, "hati-hati sajalah! Kalau pembunuhnya tahu, bisa-bisa terjadi tragedi seperti yang kautakutkan." Poirot agak terperangah. Kelihatannya ia tidak menganggap komentarku tadi suatu gurauan. Ia bergumam, "Kau benar. Aku mesti hati-hati sekali."

"Kau mesti pakai baju anti peluru," gurauku. "Bawa alat pendeteksi racun, kalau perlu. Malah, tak ada salahnya mulai menyewa tukang pukul." "Merci,[terima kasih] Hastings! Aku akan menjaga diriku sendiri." Poirot kemudian menulis kepada Nona Lawson, memberitahukan bahwa kami akan datang ke Puri Hijau kurang lebih jam sebelas nanti. Setelah itu kami sarapan dan berjalan-jalan ke alun-alun. Hari sudah hampir menunjukkan setengah sebelas. Udara terasa panas dan membuat orang mengantuk. Aku sedang memperhatikan barang-barang antik yang dipajang di etalase sebuah toko ketika tiba-tiba bahuku ditepuk orang dengan keras sekali. "Hai!" serunya dengan suara yang teramat lantang. Aku berputar, dan di hadapanku berdiri Nona Peabody. Tangannya memegang sebuah payung berukuran besar yang nampaknya sangat kekar. (Payung itulah yang dipakainya memukul pundakku tadi, pikirku.) Tak sadar akan rasa sakit yang ditimbulkannya dipundakku, Nona Peabody memperhatikanku, dan dengan suara amat puas berkata: "Ha! Benar - tak salah dugaanku. Memang kau yang kulihat!" Dengan agak dingin kusahuti, "Ee, selamat pagi. Bisa saya bantu?" "Bagaimana kemajuan buku yang dibikin kawanmu itu - Kehidupan Jenderal Arundell?'" "Terus terang, dia belum mulai menulisnya," Nona Peabody tidak bersuara. Namun tawanya segera keluar, tawa seorang yang merasa puas. "Kupikir dia tidak akan pernah menulis buku itu." Tersenyum, kukatakan, "Jadi Anda sudah tahu fiksi kami?" "Memangnya kaupikir aku ini apa - perempuan pandir?" tanya Nona Peabody. "Tidak lama - cuma sebentar saja. aku sudah tahu apa yang sebenarnya dicari oleh kawanmu itu! Dia ingin aku bicara! Aku tidak berkeberatan sih! Kebetulan aku memang suka mengobrol. Sekarang ini susah cari orang yang senang mendengarkan ceritera orang lain. Terus terang, aku merasa senang atas kunjungan kalian siang itu." Ia mengerdipkan matanya kepadaku. "Ada apa sebenarnya?" Aku ragu-ragu menjawabnya. Untunglah Poirot segera keluar dari toko dan bergabung dengan kami. Ia mengangguk hormat ketika melihat Nona Peabody. "Selamat pagi, Mademoiselle. Senang sekali bertemu lagi." "Selamat pagi," balas Nona Peabody. "Peran apa lagi yang Anda mainkan pagi ini, Parotti atau Poirot - he?" "Anda sangat cerdik - tahu kedok saya secepat itu," ujar Poirot sambil tersenyum. "Yah - sedikit orang yang seperti Anda di sekitar sini, bukan? Karena itu sulit mengatakan bagus atau jelek."

"Lebih baik Anda katakan saya ini unik, Mademoiselle" "Baiklah, kalau itu mau Anda," Nona Peabody berkata acuh tak acuh. "Nah, Tuan Poirot, tempo hari saya sudah menceriterakan semuanya yang ingin Anda ketahui. Sekarang giliran saya bertanya. Ada apa sebenarnya?" "Apakah Anda bukan menanyakan pertanyaan yang sudah bisa Anda jawab sendiri?" "Oooh," Nona Peabody memandang tajam Poirot. "Kecurangan mengenai surat wasiat itu? Atau ada yang lain lagi? Punya rencana membongkar kubur Emily? Begitukah?" Poirot tidak menjawab. Nona Peabody mengangguk-angguk seolah ia telah menerima jawab yang diinginkannya. "Sering saya bayangkan," ujar perempuan itu menyimpang dari pembicaraan semula, "bagaimana rasanya... membaca koran - membayangkan pada suatu hari orang membongkar kuburan di Market Basing... Tak kusangka Emily Arundell..." Tiba-tiba Nona Peabody menyorot Poirot dengan pandangan menyelidik, "Emily tidak suka kalau dia tahu... Sudahkah itu Anda pertimbangkan?" "Ya - sudah." "Aku percaya -Anda bukan orang bodoh!" Poirot mengangguk. "Terima kasih, Mademoiselle." "Melihat kumis Anda itu, tak banyak orang yang akan menjuluki Anda seperti itu. Mengapa Anda memelihara kumis seperti itu? Suka?" Aku menoleh, hampir tak bisa menahan tawa. "Di Inggris kelihatannya seni memelihara kumis kurang diperhatikan orang," sahut Poirot. Tangannya mengusap-usap kumisnya dengan penuh kebanggaan. "Oh, lucu!" ujar Nona Peabody. "Syukurlah kalau Anda menyukai apa yang diberikan oleh Tuhan. Biasanya orang malah sebaliknya." Nona Peabody menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengeluh. "Tak pernah mengira ada pembunuhan di tempat terpencil seperti ini," Lagi-lagi pandangannya tajam ditujukan kepada Poirot. "Yang mana pembunuhnya?" "Apakah saya mesti keras-keras mengatakannya kepada Anda di tengah jalan begini?" "Mungkin Anda tidak tahu siapa pembunuhnya. Atau, Anda tahu? Oh - keturunan jelek. Aku dulu setengah mati ingin tahu apakah perempuan bernama Varley itu betul membunuh suaminya. Tapi, yah - itu lain lagi!" "Anda percaya pada sifat-sifat yang menurun?" Nona Peabody berkata cepat, "Mudah-mudahan saja si Tanios. Dia orang lain! Tapi harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Yah -kupikir aku mesti pulang.

Kelihatannya Anda tidak mau menceriterakan apa pun kepada saya.... Buat siapa sih Anda bekerja?" Dengan suara berat Poirot berkata, "Saya bekerja atas perintah yang sudah meninggal, Mademoiselle." Jengkel sekali rasanya ketika Nona Peabody tertawa terkekeh-kekeh mendengar keterangan Poirot tadi. Meskipun demikian ia segera menghentikan tawanya dan berkata, "Maafkan saya. Seperti Isabel Tripp - cuma itu! Bukan main! Lebih-lebih Julia. Nah, sampat ketemu lagi. Sudah bertemu Dokter Grainger?" "Mademoiselle, Anda sudah membocorkan rahasia saya." Nona Peabody berdecak. "Laki-laki berpikir terlalu sederhana. Mau saja dibohongi. Oh, dia marah sekali waktu saya beri tahu! Dia langsung pergi mencari Anda!" "'Dia sudah menemukan saya tadi malam." "Oh, sayang - saya tidak menyaksikan kejadiannya." "Sungguh sayang. Mademoiselle." Nona Peabody tertawa dan bersiap-siap meneruskan perjalanannya. Lewat atas bahunya dia menyapaku, "Sampai ketemu lagi. Anak Muda! Jangan terlalu terpaku pada barang antik di toko itu - barang tiruan!" Dengan berdecak dia meninggalkan kami. "Dia," ujar Poirot, "baru namanya perempuan tua yang cerdik." "Kaujuluki dia begitu meskipun dia tak menyukai kumismu?" "Selera dan otak tidak sama, Sobat," bantahnya. Kami masuk ke dalam sebuah toko, dan menghabiskan waktu sambil melihat-lihat barang yang dijual di situ. Hampir jam sebelas ketika kami keluar dan berjalan ke arah Puri Hijau. Dengan wajah lebih merah daripada biasanya, Ellen buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Dari Ruang Tengah terdengar langkah seseorang menuruni tangga. Tak lama kemudian Nona Lawson muncul. Napasnya terengah-engah dan kelihatannya sedikit bingung. Rambutnya diikat dengan sebuah saputangan sutera "Maafkan saya keluar dalam keadaan tidak rapi seperti ini, M. Poirot. Saya baru saja membongkar lemari yang selama ini belum pernah saya buka. Bukan main. Banyak sekali barang yang dikumpulkan oleh Nona Arundell. Bayangkan, dia menyimpan dua lusin buku sulam-menyulam - dua lusin!" "Maksud Anda Nona Arundell membeli dua lusin buku sulam-menyulam?" "Ya, dan menyimpannya di lemari - kemudian melupakannya. Tentu saja jarumnya sudah karatan semuanya - sayang. Biasanya Nona Arundell suka menghadiahkannya kepada para pelayan sebagai hadiah Natal." "Dia sangat pelupa?"

"Sangat! Lebih-lebih kalau menyimpan sesuatu." Nona Lawson tertawa - rupanya geli mengingat kejadian yang pernah dialaminya. Ia mengeluarkan sapu tangan dan mulai membersihkan hidungnya. "Oh," ujarnya berkaca-kaca, "tak pantas benar aku menertawakannya seperti ini." "Anda terlalu perasa," hibur Poirot. "Sampai hal-hal yang terlalu kecil pun Anda rasakan." "Begitu kata ibu saya selalu, M. Poirot. 'Kau terlalu banyak memasukkan segala sesuatu ke dalam hatimu, Mina,' begitu ibu saya sering berkata. Berat rasanya jadi orang yang terlalu sensitif, M. Poirot -lebih-lebih kalau kebetulan kita ini perlu mencari nafkah buat hidup." "Memang; tapi itu toh sudah lalu. Anda sekarang tak perlu lagi bekerja susah payah. Anda bisa pesiar - tanpa perlu punya rasa kuatir apa pun." "Ya. Itu benar," Nona Lawson berkata agak ragu-ragu. "Tentu saja benar," hibur Poirot. "Ngomong-ngomong tentang sifat pelupa Nona Arundell, saya jadi mengerti mengapa surat yang ditulisnya kepada saya sampai begitu lambat diposkannya." Poirot menceriterakan bagaimana surat itu diketemukan. Tiba-tiba pipi Nona Lawson menjadi merah. Katanya, "Seharusnya Ellen mengatakan kepada saya! Lancang benar dia - mengirimkan begitu saja surat itu kepada Anda! Setidaknya, dia harus meminta pendapat saya dulu. lancang! Tak sepatah kata pun pernah saya dengar mengenai surat itu. Oh, keterlaluan sekali! Memalukan!" "Nona Lawson, saya yakin Ellen tidak bermaksud buruk." "Pokoknya saya tetap menganggap itu tidak sepatutnya! Sangat tidak patut! Memang pembantu kadang-kadang tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Ellen harus ingat, bahwa saya pemilik rumah ini sekarang!" Merasa dirinya penting, Nona Lawson menegakkan duduknya. "Ellen sangat setia kepada majikannya, bukan?" ujar Poirot. "Ya. Tapi tetap saja dia salah. Seharusnya dia memberitahukannya kepada saya." "Yang penting - saya telah menerima suratnya," ujar Poirot lagi. "Oh, ya. Saya setuju - tidak ada gunanya meributkan yang telah lewat. Meskipun begitu, saya tetap harus memberitahu Ellen supaya tidak bertindak semaunya sendiri seperti itu." Nona Lawson berhenti bicara. Kedua pipinya masih nampak merah. Poirot berdiam diri beberapa saat lamanya. Kemudian ia bertanya, "Anda mengundang saya datang ke sini. Ada yang saya bisa lakukan untuk Anda, Mademoiselle?" Kejengkelan hati Nona Lawson hilang secepat timbulnya. Ia mulai bingung dan tidak koheren lagi bicaranya.

"Eh - begini - e - terus terang, M. Poirot... begini... saya datang ke sini kemarin sore. Dan tentu saja Ellen mengatakan bahwa Anda baru saja ke sini. Yah - saya merasa aneh - maksud saya, yah -saya tidak tahu apa perlunya.." "Maksud saya datang ke sini ini?" tanya Poirot menyelesaikan kalimat Nona Lawson. Nona Lawson memandang Poirot dengan wajah bersemu merah. Ia nampak kemalu-maluan, namun pandangannya penuh rasa ingin tahu. "Saya harus mengakui kesalahan saya," ujar Poirot. "Selama ini, seolah-olah saya memberi pengertian kepada Anda bahwa isi surat Nona Arundell yang ditulis kepada saya itu mengenai uang yang dicuri - kemungkinan oleh Tuan Charles Arundell." Nona Lawson mengangguk. "Sebenarnya, bukan itu isi suratnya... terus terang, baru dari Anda saya mendengar mengenai uang yang hilang itu... Nona Arundell sendiri menulis mengenai kecelakaannya." "Kecelakaannya?" "Ya. Nona Arundell pernah jatuh dari tangga, bukan?" "Betul, betul...." Nona Lawson nampak tidak percaya. Dipandangnya Poirot dengan pandangan kosong. Lanjutnya, "Maaf - saya tahu saya bodoh - tapi, apa perlunya dia menulis kepada Anda? Setahu saya, atau kalau tak salah Anda pernah bilang sendiri - Anda eorang detektif. Anda bukan dokter, kan? Atau mungkin Anda juga seorang penganut kepercayaan...?" "Bukan. Saya bukan dokter - juga bukan penganut aliran kepercayaan tertentu. Tapi, seperti dokter, saya sering mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan kematian seseorang yang disebabkan oleh kecelakaan." "Kematian karena kecelakaan?" "Sebangsa itu. Memang betul Nona Arundell tidak meninggal akibat kecelakaan yang dialaminya. Tapi, ia bisa meninggal karena kecelakaan itu." "Oh, ya... dokter bilang begitu. Tapi saya tidak mengerti...." Nona Lawson masih nampak bingung dan tidak percaya. "Penyebab kecelakaan Nona Arundell itu diduga bola Bob. Betul, bukan?" "Ya. Memang. Bola Bob yang menyebabkan." "Sebenarnya bukan. Bukan bola Bob yang jadi penyebab Nona Arundell jatuh." "Maaf, Tuan Poirot, tapi saya melihat sendiri bola itu ada di situ - itu waktu kami semua keluar begitu mendengar suara Nona Arundell berteriak." "Anda memang melihat bola itu. Tapi, bola itu bukan yang menyebabkan Nona Arundell jatuh. Penyebabnya, Nona Lawson, seutas benang berwarna gelap yang direntang dari sisi ke sisi tangga d. bagian atas tangga itu!" "Tapi, tidak mungkin anjing bisa..."

"Tepat sekali," potong Poirot. "Seekor anjing memang tidak mungkin melakukan hal semacam itu - anjing tidak sepandai itu - atau, boleh juga dikatakan: anjing tidak berhati sejahat itu... Jadi, ada orang yang sengaja memasang benang di situ dengan maksud..." Wajah Nona Lawson mendadak pucat pasi. Dengan tangan gemetar, ditutupnya wajahnya. "Oh, M. Poirot," raungnya, "rasanya saya tidak percaya. Oh keterlaluan sekali. Maksud Anda, ada orang yang sengaja melakukannya?" "Ya. Sengaja" "Oh, keterlaluan! Itu sama saja dengan - dengan membunuh orang namanya." "Seandainya Nona Arundell meninggal, ya - dia membunuh. Dengan kata lain, itu suatu pembunuhan. Bukan kecelakaan biasa." Nona Lawson menjadi histeris. Masih dengan nada berat Poirot melanjutkan. "Ada sebuah paku ditancapkan pada papan pegangan di sisi tangga. Paku itulah yang dipakai untuk mengikatkan benangnya. Paku itu dicat warna gelap sehingga tidak mudah kelihatan. Pernahkah Anda merasa ada bau cat basah yang dari mana asalnya Anda tidak tahu?" Nona Lawson terkesiap. "Oh, bukan main anehnya! Kalau dipikir kembali! Oh, ya - tentui Dan selama ini saya tidak pernah berpikir - bermimpi - tapi memang bagaimana bisa? Padahal, waktu itu saya merasa aneh sekali." Poirot mendekatkan tubuhnya pada meja yang menjadi batas kami dengan Nona Lawson. "Jadi, Anda bisa membantu kami, Mademoiselle. Sekali lagi saya katakan, Anda bisa membantu kami. C'est epatant![bagus sekali!]" "Oh, rasanya - tidak terpikir waktu itu bahwa itu penyebab - Oh,..." "Sekarang, tolong ceriterakan kepada saya. Anda mencium bau cat - betul?" "Ya. Mula-mula saya tidak tahu bau apa yang tercium itu. Saya pikir.... Oh, jadi itu bau cat Saya pikir itu cuma bayangan saya." "Kapan kejadiannya?" "Kapan ya? Tunggu..-" ""Apakah dalam liburan Paskah, waktu rumah ini dipenuhi tamu?" "Ya. Benar - memang pada waktu itu kejadiannya - cuma, saya sedang mengingatingat hari apa tepatnya.... Yang jelas... bukan Minggu. Bukan, dan juga bukan hari Selasa -- sebab Selasa malam itu Dokter Donaldson datang makan malam di sini. Hari Rabu - mereka semua pulang. Oh, ya - tepatnya pada hari Senin, M. Poirot! Malam itu saya berbaring-baring di tempat tidur saya. Ada sesuatu yang sedang saya pikirkan. Daging yang saya pesan cuma cukup untuk makan malam. Saya sangat takut Nona Arundell marah kalau mengetahuinya. Seharusnya saya memesan tiga setengah kilo waktu belanja hari Sabtunya. Tapi, pikir-pikir, dua

setengah kilo sudah cukup. Padahal seharusnya saya tahu, Nona Arundell suka marah kalau persediaan kurang. Dia orangnya suka sekali menjamu orang...." Nona Lawson berhenti sebentar, mengambil napas. Kemudian lanjutnya, "Saya sedang berbaring, membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Nona Arundell seandainya dia tahu keesokan paginya. Berpikir-pikir begitu rupanya membuat saya ketiduran. Tapi, tepat sebelum saya terlelap, ada sesuatu yang seperti membangunkan saya - bunyi semacam gesekan pada kayu, atau sejenisnya..,. Saya segera bangun, duduk di tempat tidur dengan hati was-was. Saya mencoba mencium kalau-kalau ada bau barang terbakar.... Oh, selama ini saya paling takut sama api. Saya takut sekali kalau terjadi kebakaran. Bayangkan, bagaimana rasanya terkurung di tengah-tengah api. Saya memang mencium sesuatu; baunya agak aneh - saya terus mencium dan mencium, mencoba menemukan bau apa yang tercium oleh saya itu. Yang jelas, bukan bau asap atau sebangsanya. Saya katakan kepada diri saya sendiri - kok seperti bau cat. Tapi tak mungkin, mana ada orang mengecat tengah malam begitu. Tapi baunya cukup tajam. Saya masih tetap duduk sambil mencium-cium bau yang tercium tadi. Baru setelah itu saya melihat gadis..." "Siapa?" "Saya melihatnya dari cermin saya - waktu itu pintu kamar saya sedikit terbuka. Saya memang biasa meninggalkannya setengah terbuka begitu -supaya kalau Nona Arundell memanggil saya, cepat terdengar. Di samping itu juga supaya gampang melihat apakah Nona Arundell naik atau turun tangga. Di gang, selalu ada satu lampu yang menyala -jadi saya bisa dengan mudah melihat keluar tanpa berdiri dari tempat tidur saya. Dari cermin itulah saya lihat dia berlutut di tangga Theresa, maksud saya. Dia berlutut kira-kira pada anak tangga ketiga dari atas. Kepalanya menunduk, seperti sedang memperhatikan sesuatu. Saya merasa heran. Mungkinkah dia sakit - saya pikir. Tapi tepat ketika itu, dia bangkit dan berjalan pergi. Jadi, saya pikir dia terpeleset, mungkin. Atau, mungkin juga dia mengambil sesuatu yang jatuh. Tapi, tentu saja saya tidak pernah lagi memikirkan kejadian itu." "Yang membangunkan Anda mungkin bunyi palu yang dipakai untuk menancapkan paku itu," ujar Poirot. "Ya. Mungkin saja. Tapi, oh, M. Poirot - itu toh keterlaluan - keterlaluan sekali! Dari dulu memang saya tahu Theresa agak liar, tapi berbuat sekeji itu..." "Anda yakin itu Theresa?" "Oh, ya - tentu saja." "Tidak mungkinkah yang Anda lihat itu Nyonya Tanios atau salah seorang pelayan?" Nona Lawson menggeleng-geleng dan bergumam kepada dirinya sendiri- "Oh, oh!" berkali-kali.

Cara Poirot memandangnya tidak bisa kumengerti. "Bolehkah saya membuat semacam eksperimen di atas?" pintanya. "Saya ingin kita semuanya ke atas untuk merekonstruksikan kejadian yang baru saja Anda ceriterakan itu." "Merekonstruksi? Oh, sungguh - saya tidak tahu - maksud saya, saya tak mengerti...." "Akan saya tunjukkan kepada Anda," ujar Poirot tegas, menghentikan keraguraguan Nona Lawson. Dengan agak kebingungan, Nona Lawson mempersilakan kami masuk dan naik ke atas. "Mudah-mudahan kamarnya tidak berantakan - akhir-akhir ini begitu banyak yang harus dikerjakan - ini dan itu..." Kamar Nona Lawson memang penuh dengan berbagai benda yang rupanya hasil bongkaran lemarinya pagi tadi. Dengan bahasanya yang acak-acakan Nona Lawson mencoba menjelaskan bagaimana posisinya waktu melihat pemandangan yang nampak dari cerminnya. Poirot sendiri kelihatannya sudah bisa membayangkan. Memang sebagian tangga nampak terpantul pada cermin di kamar Nona Lawson. "Sekarang, Mademoiselle," pinta Poirot, "bisakah Anda menirukan pemandangan yang pernah Anda saksikan dari cermin itu?" Masih tetap menggumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri, Nona Lawson segera ke luar - memainkan perannya. Sementara itu Poirot menyaksikan melalui cermin. Setelah selesai itu, Poirot keluar dan menanyakan lampu mana yang selalu dibiarkan menyala sepanjang malam. "Yang ini - yang ini. Persis di luar pintu kamar tidur Nona Arundell." Poirot mendekati lampu yang ditunjuk, meraih bola lampunya, dan melepaskannya. "Empat puluh watt. Tidak begitu terang." "Memang. Lampu itu cuma supaya gang ini tidak gelap sama sekali saja." Setelah mengembalikan bola lampu ke tempatnya, Poirot melangkah kembali ke dekat tangga. "Maaf, Mademoiselle- tapi, menurut pengamatan saya, dengan cahaya lampu yang selemah itu ditambah pula dengan jatuhnya bayangan yang ditimbulkan lampu tadi - saya rasa Anda kurang bisa melihat dengan jelas. Yakinkah Anda bahwa yang Anda lihat itu Theresa - bukan perempuan lainnya?" Nona Lawson bersikeras, "Sungguh, M. Poirot! Saya yakin benar! Saya toh kenal sekali Theresa! Saya yakin dia yang saya lihat! Kimononya yang berwarna gelap dan bros besar mengkilap yang menunjukkan inisial namanya itu... tak salah lagi, M. Poirot! Memang Theresa yang saya lihat!" "Jadi Anda sudah benar-benar yakin bahwa penglihatan Anda tidak salah. Anda melihat betul inisialnya?"

"Ya. T.A. Saya kenal sekali dengan bros itu Theresa sering mengenakannya. Berani sumpah, M. Poirot - dia memang Theresa." Ketegasan dan kepastiannya sangat mengagumkan bila dibandingkan dengan caranya berbicara yang selalu membingungkan. Poirot memandangnya. Ada sesuatu yang tak bisa kudefinisikan pada caranya memandang. "Anda berani sumpah - betul?" tanyanya. "Kalau - kalau perlu. Tapi, memang perlu," Sekali lagi Poirot melontarkan pandangan yang tak bisa kudefinisikan kepada perempuan itu. "Itu tergantung dari hasil pemeriksaan jasadnya nanti," ujarnya pula. "Oh - apakah itu perlu? Maksud saya, keluarganya pasti tidak setuju bila itu dilakukan -mereka akan menolak!" "Mungkin." "Saya yakin mereka tidak mau tahu!" "Tapi, seandainya itu perintah dari Kantor Polisi, bagaimana?" "Tapi, tapi - mengapa harus begitu, M. Poirot? Maksud saya - itu bukan... itu bukan..." "Itu bukan apa?" "Bukan berarti... ada yang tidak beres, bukan?" "Apakah Anda berpikir begitu?" "Oh, mengapa tiba-tiba ada yang tidak beres? Bukankah - oh, bukankah dokter dan juru rawat dan semuanya..." "Jangan terlalu pikirkan hal itu," kata Poirot tenang. "Oh, bagaimana mungkin? Oh, Nona Arundell - betapa malangnya dia! Padahal Theresa tidak ada di sini waktu dia meninggal." "Memang. Theresa pulang pada hari Senin, sebelum Nona Arundell sakit. Betul, kan?" "Ya - dia berangkat pagi-pagi sekali. Jadi, pasti dia tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Nona Arundell, M. Poirot?!" "Mudah-mudahan tidak." "Oh. Tuhan!" keluh Nona Lawson sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. "Belum pernah saya menyaksikan hal yang begitu keterlaluan seperti ini. Saya sungguh tidak mengerti." Poirot melihat arlojinya. "Sudah waktunya kami pulang. Kami masih harus berjalan jauh kembali ke London. Anda sendiri, Mademoiselle- masih mau tinggal di sini lebih lama?" "Eh, saya belum punya rencana. Sebenarnya saya cuma ke sini buat semalam saja membereskan yang perlu dibereskan...."

"Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Mademoiselle. Maafkan kami mengganggu ketenangan Anda." "Oh, M. Poirot! Anda bilang mengganggu ketenangan saya? Rasanya saya jadi sakit! Oh, Tuhan - Oh -betapa kejamnya dunia ini! Betapa sangat kejamnya!" Poirot menghentikan ocehan Nona Lawson yang mulai tidak menentu itu dengan meraih lengan wanita tua itu dan menggenggamnya erat-erat. "Memang kejam dunia ini, Nona Lawson. Anda masih bersedia bersumpah melihat Theresa Arundell berlutut di tangga pada hari Senin malam setelah Paskah?" "Oh, ya - tentu saja saya berani sumpah!" "Anda juga berani bersumpah bahwa Anda melihat semacam lingkaran kabut yang bercahaya di sekeliling kepala Nona Arundell pada malam terakhir Anda bersama Nona Tripp dan Nona Arundell berkumpul di ruang gelap untuk memanggil roh orang mati?" Mulut Nona Lawson menganga. "M. Poirot - oh, jangan, semuanya itu Anda jadikan bahan lelucon!" "Saya tidak melucu, Nona Lawson.... Saya serius!" Kemudian Nona Lawson berkata dengan sungguh-sungguh, "Mungkin tidak bisa dikatakan sebagai lingkaran kabut, M. Poirot. Yang jelas, kelihatannya mau jadi begitu - dan asalnya dari kabut berbentuk pita yang keluar dari mulutnya." "Sangat mengagumkan! Au revoir, Mademoiselle. Tolong rahasiakan dulu semuanya ini." "Oh, tentu saja - tentu saja. Saya tidak punya maksud menceritakannya kepada siapa pun..." Nona Lawson, dengan wajah tololnya, menyaksikan kepergian kami dari pintu depan Puri Hijau.

BAB 23 KEDATANGAN DOKTER TANIOS Begitu meninggalkan Puri Hijau wajah Poirot mendadak tegang. "Dipechons nous,[ayo, cepat] Hastings," ujarnya. "Kita mesti segera kembali ke London."

"Ayo," sahutku, melangkah lebih cepat - menyesuaikan diri dengan langkahnya. Diam- diam kucuri pandang - wajahnya masih nampak tegang dan tidak tenang. "Siapa yang kaucurigai, Poirot?" tanyaku. "Percayakah kau bahwa Theresa Arundell yang dilihat Nona Lawson berlutut di tangga?" Poirot tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah balik bertanya: "Pikir sebelum menjawab - menurutmu, bisa dipercayakah kata-kata Nona Lawson tadi?" "Apa maksudmu?" "Kalau aku tahu. aku tak akan bertanya, Hastings." "Itu aku tahu. Cuma, apa maksudmu 'bisa dipercaya' itu?" "Ya itu. Aku tak bisa menyatakannya dengan lebih tepat. Yang jelas, sementara dia berceritera tadi -aku merasakan adanya sesuatu yang tidak atau kurang nyata... seolah-olah ada sesuatu - sesuatu yang kecil tapi salah - itu, ya, itu yang terasa sesuatu yang tidak mungkin..." "Kelihatannya dia yakin sekali bahwa itu Theresa!" "Ya, ya." "Bagaimanapun, cahaya lampu itu terlalu lemah. Aku tidak mengerti bagaimana Nona Lawson bisa begitu yakin." "Kau tidak membantuku, Hastings. Ada sesuatu - suatu hal yang sepele - ada hubungannya dengan - ya, aku yakin - dengan kamar tidur." "Kamar tidur?" ulangku sementara pikiranku sibuk membayangkan kembali detil kamar tidur Nona Lawson. "Oh, rasanya aku memang tidak bisa membantumu, Poirot!" Poirot menggeleng-geleng. "Mengapa kausebut-sebut lagi urusan roh orang mati itu?" tanyaku. "Itu penting." "Apanya yang penting? Pita bercahaya itu?" "Kauingat bagaimana Nona Tripp menggambarkan yang mereka saksikan malam itu?" "Ingat. Mereka bilang kepala Nona Arundell diselubungi asap berwarna terang yang membentuk semacam lingkaran suci." Aku tertawa mengakak. "Masakan dia orang suci macam santa-santa! Nona Lawson saja ketakutan dimarahi cuma karena kurang membeli daging. Bayangkan!" "Ya. Kuakui, itu agak menarik." "Apa yang akan kita lakukan sesampai di London nanti?" tanyaku waktu kami membelok ke The George. "Kita harus segera menemui Theresa Arundell," ujar Poirot sambil membayar rekening hotel kami. "Mengorek kebenaran ceritera Nona Lawson tadi? Tapi, bagaimana kalau dia menyangkal?"

"Mon cher, berlutut di tangga bukan perbuatan kriminal! Siapa tahu dia sedang membungkuk mengambil penitinya yang jatuh?" "Lalu, apa hubungannya dengan bau cat itu?" Percakapan kami terhenti oleh kedatangan pelayan hotel. *** Dalam perjalanan kembali ke London, sangat sedikit yang kami perbincangkan. Aku kurang suka mengobrol sambil mengemudikan mobil. Sementara itu Poirot rupanya sibuk melindungi kumisnya dari serangan angin yang cukup keras. Kami tiba di flat Poirot kurang lebih jam dua kurang dua puluh. George, pelayan Poirot yang selalu berpakaian rapi dan sikapnya sangat keinggrisinggrisan itu membukakan pintu. "Ada tamu menunggu, Tuan. Namanya Dokter Tanios. Sudah hampir setengah jam Beliau di sini." "Dokter Tanios? Di mana dia menunggu?" "Di Ruang Duduk, Tuan. Sebelumnya ada seorang wanita datang ke sini, Tuan. Kelihatannya sangat kecewa dan bingung waktu saya katakan Anda tidak ada di rumah. Datangnya sebelum saya menerima telepon dari Tuan - jadi saya tidak bisa memberi tahu kapan Tuan pulang." "Coba ceriterakan bagaimana rupa perempuan itu." "Perawakannya tinggi, Tuan - rambutnya berwarna gelap dan matanya berwarna biru muda. Dia mengenakan rok dan jas warna abu- abu. Topinya dipakai agak ke belakang, tidak seperti kebanyakan orang - agak ke depan." "Nyonya Tanios," seruku dengan suara tertahan. "Kelihatannya dia sedang kebingungan sekali.Tuan. Katanya dia perlu sekali bertemu dengan Tuan secepat mungkin." "Jam berapa datangnya?" "Kurang lebih jam setengah sebelas. Tuan." Poirot menggeleng-geleng sementara melangkahkan kakinya ke Ruang Duduk. "Ini kedua kalinya aku tak jadi mendengar apa yang hendak dikatakan Nyonya Tanios. Apa kira-kira pada pikirmu. Hastings? Apakah menyangkut nasib - kirakiranya?" "Yah - kali ketiga kau akan mendengarnya," hiburku. Poirot menggeleng penuh keraguan. "Akan adakah kali yang ketiga? Aku tidak yakin. Ayo, kita temui suaminya." Dokter Tanios sedang duduk pada sebuah kursi santai membaca salah sebuah buku psikologi kepunyaan Poirot. Mendengar kami datang, laki-laki itu segera bangkit dan menyalami kami.

"Maafkan saya mengganggu begini. Anda tidak marah saya menunggui Anda seperti ini. bukan?" "Du tout, du tout.[Sama sekali tidak.] Silakan duduk. Mau minum sherry?" "Terima kasih. Masalahnya begini, M. Poirot. saya sangat kualir akan isteri saya." "Kuatir akan isteri Anda? Ada apa?" Tanios berkata. "Baru-baru ini mungkin Anda bertemu dengannya? Pertanyaannya wajar, tapi lirik mata yang menyertainya terasa tidak wajar. Poirot menjawab seadanya, "Saya belum bertemu lagi dengannya sejak waktu kami menemui Anda di hotel kemarin." "Ah - saya pikir mungkin dia datang ke sini menemui anda." Poirot menyibukkan diri dengan menuang minuman ke gelas. Katanya, "Tidak. Apa sebabnya dia perlu menemui saya?" "Oh, tidak apa-apa." Dokter Tanios menerima gelas sherrynya. "Terima kasih Terima kasih banyak. Sebetulnya memang tidak ada alasan yang pasti mengapa isteri saya perlu menemui Anda. Terus terang, saya sedang sangat kuatir akan keadaan kesehatan isteri saya." "Ah, kondisi badannya lemah?" "Kesehatan fisiknya," ujar Tanios perlahan-lahan, "bagus. Sayangnya, tidak begitu mentalnya." "Ah?" "Saya sungguh kuatir, M. Poirot, dia sudah mencapai garis batas... sewaktu-waktu dia bisa mengalami nervous breakdown total." "Oh, saya ikut sedih mendengarnya. Dokter Tanios." "Ini sudah agak lama kelihatannya. Dalam dua bulan terakhir ini sikapnya kepada saya sudah betul-betul berubah. Selalu gelisah, cepat terkejut, dan suka membayangkan yang tidak-tidak. Bukan cuma membayangkan, M. Poirot - dia malah mulai berangan-angan... dan, angan-angannya itu rupanya begitu hidup dan kuat..." "Sungguh?" "Ya. Dia menderita apa yang disebut persecution mania - semacam napsu menganiaya." Poirot menggeleng-geleng dengan penuh simpati. "Anda bisa mengerti kekuatiran saya, bukan?" "Tentu! Tentu! Cuma, yang saya tidak mengerti -mengapa Anda datang kepada saya. Apa yang bisa saya lakukan buat menolong Anda, Dokter Tanios?" Dokter Tanios nampak kemalu-maluan. "Saya mempunyai pikiran bahwa isteri saya sudah, atau akan, datang kemari menceriterakan yang bukan-bukan. Besar kemungkinan dia akan mengatakan bahwa diri saya mengancam keselamatannya, atau - yah, semacam itulah." "Tapi, apa perlunya dia datang menemui saya?"

Dokter Tanios tersenyum-senyum. Senyumnya teramat menawan, namun agak sayu. "Anda detektif kenamaan, M. Poirot. Saya melihat, bahwa isteri saya sangat terkesan bertemu dengan Anda kemarin itu. Kenyataan bahwa dia bertemu dengan seorang detektif bisa menimbulkan ide yang tidak-tidak pada pikirannya yang sedang dalam kondisi seperti itu. Saya begitu yakin dia akan mencari Anda dan mengeluarkan isi hatinya. Orang yang sedang mengalami gangguan mental seperti isteri saya - biasanya, mempunyai kecenderungan untuk menentang orang-orang yang terdekat dan yang disayangi." "Oh." "Sungguh, M. Poirot. Saya sangat sedih. Saya sangat sayang kepada isteri saya." Waktu mengucapkan ini suara Dokter Tanios kedengaran sangat mesra. "Saya selalu mengagumi keberaniannya -mengawini saya, lelaki bangsa lain - lalu pergi mengikuti saya ke tempat yang begitu jauh dari tanah airnya sendiri, meninggalkan semua kawan dan sanak saudaranya. Hari-hari terakhir ini saya sungguh-sungguh merasa putus asa.... Bagi saya kelihatannya cuma ada satu pilihan...." "Ya?" "Ketenangan dan istirahat total - serta perawatan kejiwaan yang sesuai. Ada tempat yang menurut saya baik, dikelola oleh seorang yang sungguh-sungguh hebat. Ingin saya membawanya ke sana -Norfolk, nama tempatnya - secepat mungkin. Istirahat total dan isolasi dari segala pengaruh luar - - itu yang diperlukan oleh isteri saya. Saya yakin -sebulan atau dua bulan dirawat secara intensif di sana, pasti sudah akan kelihatan perubahannya." "Ya. Saya mengerti," ujar Poirot. Caranya mengatakan betul-betul apa adanya, tanpa mengungkapkan sedikit pun perasaan atau tanggapannya. Tanios meliriknya. "Itulah sebabnya, M. Poirot - saya akan sangat tertolong, bila Anda mau memberi kabar kepada saya seandainya isteri saya benar-benar datang ke sini." "Oh, tentu. Saya akan segera menelepon Anda. Anda masih tinggal di Hotel Durham?" "Ya. Saya akan kembali ke sana sekarang." "Isteri Anda tidak ada di sana sekarang ini?" "Dia meninggalkan hotel seusai sarapan tadi pagi." "Tanpa mengatakan ke mana perginya?" "Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak biasanya dia berbuat seperti itu." "Dan anak-anak, bagaimana?" "Anak-anak dibawanya." "Oh." Tanios berdiri. "Terima kasih banyak, M. Poirot. Saya tidak perlu mengatakan, bukan -- bahwa bila isteri saya datang dan menceriterakan kepada Anda hal-hal

yang sifatnya mengancam, menganiaya dan sebagainya, Anda tidak perlu memperhatikannya. Itu merupakan salah satu gejala penyakitnya." "Sungguh saya ikut bersedih atas keadaan isteri Anda, Dokter Tanios," kata Poirot simpati. "Memang, sangat menyedihkan. Meskipun, sebagai orang yang tahu banyak mengenai kesehatan saya tahu bahwa itu sebetulnya penyakit, tapi rasanya -sakit hati saya diperlakukan begitu oleh orang yang saya sayangi. Cinta kasihnya tibatiba saja berubah menjadi kebencian." "Saya sangat bersimpati terhadap Anda. Dokter Tanios," kata Poirot sewaktu menjabat tangan tamunya. "Ngomong-ngomong..." ujar Poirot ketika Tanios sudah hampir sampai ke pintu. "Ya?" "Pernahkah Anda menulis resep chloral buat isteri anda." Tanios terperangah. "Saya - tidak. Setidaknya, akhir-akhir ini tidak pernah. Isteri saya membenci semua jenis obat tidur." "Ah! Karena dia tidak percaya kepada Anda?" "M. Poirot!" Tanios melangkah masuk kembali dengan sangat (cepat?) "Itu juga salah satu gejala penyakitnya," ujar Poirot tanpa ragu. Tanios berhenti. "Ya. Ya, tentu saja." "Ada kemungkinan dia mencurigai segala sesuatu yang Anda berikan kepadanya untuk diminum atau dimakan. Mungkin dia merasa curiga bahwa Anda ingin meracuninya?" "Oh, M. Poirot! Anda memang benar. Jadi Anda mengerti kasus-kasus semacam itu. bukan?" "Dalam profesi saya, sesekali orang pasti menjumpai kasus semacam itu. Saya tidak bermaksud menunda kepergian Anda, Dokter Tanios. Siapa tahu isteri Anda sudah ada di hotel menunggu Anda." "Ya. Mudah-mudahan. Saya sungguh-sungguh merasa kuatir." Dokter Tanios buru-buru keluar. Poirot segera menuju ke tempat telepon. Dibuka-bukanya buku petunjuk nomor telepon, dan kemudian diputarnya suatu nomor. "Halo - Halo - di situ Hotel Durham? Apakah Nyonya Tanios ada di situ? Apa? TA-N-I-O-S. Ya. betul. Ya? Oh!" Poirot meletakkan kembali gagang teleponnya. "Nyonya Tanios meninggalkan hotel pagi-pagi sekali tadi. Dia pulang jam sebelas, menunggu di dalam taksi sementara koper pakaiannya diambilkan dari kamarnya. Setelah itu dia pergi bersama semua kopernya." "Tahukah Tanios bahwa isterinya membawa semua kopernya?"

"Kupikir, dia belum tahu sekarang ini." "Ke mana perginya dia?" "Mana aku tahu?" "Mungkinkah dia ke sini lagi?" "Mungkin. Tapi aku tidak yakin." "Mungkin dia akan menulis buatmu." "Apa yang bisa kita lakukan?" Poirot menggeleng. Dia nampak gelisah dan bingung. "Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Sebaiknya kita cepat-cepat makan siang, dan sesudah itu kita ke tempat Theresa Arundell." "Kau yakin dia yang berlutut di tangga?" "Aku tidak tahu. Yang jelas, aku yakin Nona Lawson tidak bisa melihat wajahnya dengan cahaya lampu selemah itu. Yang dilihatnya cuma tubuh seorang perempuan yang tinggi, mengenakan kimono warna gelap. Cuma itu." "Bagaimana dengan brosnya?" "Hastings, bros bukan merupakan bagian anatomi seseorang! Bisa dipisahkan dari orangnya. Bisa hilang - bisa juga dipinjam atau dicuri." "Dengan kata lain, kau tidak mau menduga Theresa Arundell sebagai orang yang bersalah?" "Aku ingin mendengar pendapatnya.'" "Bagaimana kalau Nyonya Tanios ke sini lagi?" "Itu bisa diatur." George masuk membawa dadar telur. "Dengarkan, George," kata Poirot. "Kalau Nyonya yang tadi itu datang lagi, suruh dia tunggu, ya! Dan kalau Dokter Tanios datang sementara Nyonya itu ada di sini, jangan sampai kaupersilakan dia masuk. Kalau dia menanyakan apakah isterinya ada di sini, katakan saja tidak ada. Mengerti?" "Ya, Tuan." Poirot melahap dadar telurnya. "Urusan ini menjadi rumit," ujarnya. "Kita harus melangkah dengan hati-hati sekali. Kalau tidak, pembunuhnya akan beraksi lagi." "Kalau dia beraksi lagi, kau pasti bisa menangkapnya." "Ya. Tapi aku lebih suka dia tidak memakan korban lagi. Karena itu, kita mesti hati-hati sekali"

BAB 24 SANGKALAN THERESA Pada waktu kami datang, Theresa sedang bersiap-siap hendak pergi. Ia kelihatan sangat menarik. Sebuah topi mungil bermodel eksklusif bertengger dengan manisnya, menutupi bagian kanan depan kepalanya. Teringat olehku Bella mengenakan tiruan topi semacam itu kemarin - dan, seperti yang dikatakan George -cara memakainya terlalu ke belakang. Jelas sekali dalam ingatanku bagaimana ia beberapa kali mendorong topinya hingga letaknya makin ke belakang pada rambutnya yang acak-acakan. Poirot berkata dengan sopan. "Bolehkah saya mengganggu semenit atau dua menit saja, Mademoiselle? Atau, itu terlalu mengganggu waktu Anda?" Theresa tertawa. "Oh, tidak apa-apa. Silakan! Saya selalu terlambat paling tidak tiga per empat jam. Tidak ada salahnya kali ini terlambat satu jam." Theresa mempersilakan kami masuk ke ruangtamu. Kaget sekali aku melihat Dokter Donaldson bangkit dari sebuah kursi di dekat jendela. "Kau sudah jumpa dengan M. Poirot, bukan, Rex?" "Ya. Di Market Basing," kata Donaldson kaku. "Anda berpura-pura hendak menulis tentang kehidupan kakek saya yang pemabuk itu rupanya?" tanya Theresa. "Rex. Manisku, maukah kau meninggalkan kami sebentar?" "Terima kasih, Theresa, tapi ditinjau dari segala segi, saya berpendapat lebih baik saya mendengarkan wawancara ini." Sejenak keduanya beradu pandang. Pandangan Theresa memerintah. Sedangkan pandangan Donaldson tidak mau mengalah. Theresa kelihatan (marah). "Baiklah, kalau itu maumu!" bentaknya. Dokter Donaldson kelihatannya tak gentar. Dia duduk lagi di kursi yang tadi didudukinya, dekat jendela. Buku yang sedang dibacanya ia letakkan pada sandaran tangan kursinya. Buku mengenai kelenjar bawah otak, rupanya. Theresa duduk pada kursi rendah kesukaannya. Dipandangnya Poirot dengan perasaan tidak sabar. "Anda sudah bertemu dengan Purvis? Bagaimana hasilnya?" Tanpa menyatakan pendapat, Poirot berkata, "Kemungkinannya ada, Mademoiselle."

Theresa memandangnya penuh perhatian. Kemudian dilontarkannya pandangannya kepada si dokter. Kupikir, itu semacam peringatan yang ingin disampaikannya kepada Poirot. "Saya pikir," lanjut Poirot, "mengenai hal itu lebih baik saya laporkan lain kali, kalau rencana saya sudah lebih pasti." Seulas senyum tipis nampak sejenak pada wajah Theresa. Poirot lebih lanjut mengatakan, "Saya baru saja pulang dari Market Basing. Di sana saya bertemu dan berbicara dengan Nona Lawson. Saya ingin mendengar penjelasan Anda, Mademoiselle: apakah Anda pada tanggal tiga belas April malam berlutut di tangga setelah semua orang pergi tidur? "Oh, Hercule Poirot, pertanyaan Anda aneh sekali! Apa perlunya saya berlutut di situ?" "Pertanyaannya, Mademoiselle, bukan apa perlunya melainkan apa Anda melakukannya?" "Saya rasa tidak." "Untuk Anda ketahui, Mademoiselle, Nona Lawson mengatakan bahwa Anda melakukannya." Theresa mengangkat bahunya yang indah. "Apakah itu penting?" "Sangat penting." Theresa memandang Poirot dengan ramah, dan Poirot balik memandangnya. "Aneh!" ujar Theresa. "Maaf, Anda bilang apa?" "Aneh sekali!" kata Theresa. "Bagaimana pendapatmu, Rex?" Dokter Donaldson batuk. "Maafkan saya, M. Poirot - apa tujuan Anda menanyakan itu?" Poirot merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Sangat sederhana! Ada seseorang yang sengaja menancapkan paku di tempat yang strategis pada papan pegangan di sisi tangga. Paku itu dicat Sedemikian rupa sehingga warnanya mirip dengan warna papan pegangan tempatnya ditancapkan." "Apakah ini semacam ilmu gaib baru?" tanya Theresa. "Tidak, Mademoiselle. Masalahnya jauh lebih umum dan sederhana daripada itu. Pada malam berikutnya. Selasa malam, seseorang mengikatkan seutas benang atau tali pada paku itu dan merentangkannya serta mengikatkan ujung lain dari benang atau tali itu pada pagar yang terdapat di sisi lain tangga. Akibatnya ketika Nona Arundell keluar dari kamarnya dia tersandung dan jatuh." Theresa menarik napas dengan keras. "Bola Bob!" "Maaf, tapi bukan!" Hening sejenak. Keheningan itu dipecahkan oleh Donaldson dengan suara yang tenang dan seksama, "Maaf, bukti apa yang Anda miliki sebagai pendukung pernyataan Anda itu?"

Dengan sama tenangnya Poirot menjawab, "Bukti adanya paku itu, tulisan Nona Arundell sendiri dalam suratnya yang ditujukan kepada saya. dan akhirnya bukti yang disampaikan oleh Nona Lawson, bahwa dia manyaksikan seseorang berlutut di tangga itu pada tanggal tiga belas April." Suara Theresa terdengar kembali. "Nona Lawson mengatakan saya yang melakukannya, bukan?" Poirot tidak menjawab. Dia cuma menundukkan kepalanya sedikit. "Itu bohong! Saya tidak melakukan hal serupa itu sama sekali!" "Mungkin Anda jongkok untuk mengambil sesuatu?" "Saya tidak pernah berlutut di tangga itu!" "Hati-hati, Mademoiselle" "Saya tidak pernah di situ! Saya tidak pernah keluar dari kamar setelah masuk buat tidur selama saya menginap di situ." "Nona Lawson mengenali Anda." "Mungkin Bella Tanios atau salah seorang pelayan yang dilihatnya." "Dia mengatakan Anda yang dilihatnya." "Pembohong!" "Nona Lawson mengenali kimono dan bros yang Anda kenakan." "Bros? Bros apa?" "Bros dengan inisial Anda." "Oh, ya - aku tahu brosnya! Tapi - dia berbohong!" "Jadi Anda menyangkal bahwa yang dilihat Nona Lawson itu Anda?" "Kalau kata-kata saya menuduhnya..." "Anda lebih pandai menipu daripada dia - begitu?" Dengan tenang Theresa berkata, "Mungkin itu benar. Tapi kali ini saya mengatakan yang sebenarnya. Saya sama sekali tidak berlutut di tangga itu untuk kepentingan apa pun." "Anda punya bros yang dimaksud?" "Mungkin masih ada. Ingin melihatnya?" "Kalau Anda tidak berkeberatan, Mademoiselle." Theresa bangkit dan meninggalkan ruang tamu. Keheningan yang mengikuti kepergian gadis itu terasa kaku. Cara Dokter Donaldson memandang Poirot, menurut pikiranku, seperti caranya memperhatikan persediaan di laboratorium. Theresa datang kembali. "Ini dia!" Gadis itu setengah melemparkan brosnya kepada Poirot. Bros itu besar, terbuat dari logam putih mengkilap dengan bentuk T.A. dalam sebuah lingkaran. Kuakui, bros itu cukup besar dan terang bila dilihat dari jarak jauh melalui cermin di kamar Nona Lawson.

"Saya tidak pernah lagi memakainya. Sudah bosan," ujar Theresa. "London rasanya penuh dengan perhiasan macam begitu. Semua orang memakainya." "Tapi harganya masih mahal waktu Anda membelinya?" "Oh, ya, memang. Mula-mula bros macam ini merupakan barang eksklusif." "Kapan itu?" "Natal tahun yang lalu, kalau tak salah. Ya kurang lebih waktu itu." "Pernah Anda meminjamkannya kepada orang lain?" "Tidak." "Anda membawanya ke Puri Hijau?" "Saya rasa, ya. Ya. Saya memang membawanya. Saya ingat sekarang." "Anda meninggalkannya sembarangan? Atau, pernahkah bros itu lepas dari tangan Anda selama Anda tinggal di sana?" "Tidak. Saya memasang bros itu di sweater hijau saya. Dan, saya ingat betul selama di sana saya memakai sweater itu setiap hari." "Dan pada malam hari?" "Bros itu tetap menempel di sweater." "Sweaternya?" "Oh - sweatemya saya gantungkan di kursi." "Anda yakin tidak ada orang yang melepaskan bros itu dari sweater Anda dan mengembalikannya lagi keesokan harinya?" "Saya cukup yakin hal seperti itu tidak terjadi! Mungkin saja ada orang yang mencoba meniru saya, tapi saya rasa itu pun tidak mungkin!" Dahi Poirot berkerut. Ia bangkit, dikaitkannya bros itu perlahan-lahan pada bagian depan jasnya, dan ia berjalan ke dekat cermin yang terletak di atas sebuah meja pada sudut ruang tamu. ia berdiri di depannya, dan kemudian perlahan-lahan mundur, melihat pantulan pada cermin dari kejauhan "Bodoh! Betapa bodohnya saya ini!" serunya. Poirot kembali. Diserahkannya bros itu kepada Theresa. Sambil membungkuk dia berkata, "Anda benar, Mademoiselle. Bros ini memang tidak pernah lepas dari tangan Anda! Maafkan kebodohan saya." "Saya suka akan kerendahan hati Anda," ujar Theresa, mengunci brosnya dengan sembrono. Setelah itu ia memandang Poirot. "Ada yang lain lagi? Saya mesti pergi." "Yang lain bisa dibicarakan lain kali." Theresa berjalan ke pintu. Poirot dengan suara tenang berkata, "Ada kemungkinan harus dilakukan penggalian makam Nona Arundell. Benarkah..." Mendadak sontak Theresa menghentikan langkahnya. Bros yang dipegangnya jatuh ke lantai. Dengan jelas Poirot berkata, "Ada kemungkinan jasad Nona Arundell harus diperiksa."

Theresa berdiri terpaku. Tangannya tergenggam tegang. Ia berbicara dengan suara pelan tapi marah, "Apakah ini ulah Anda? Yang jelas, itu tidak bisa dilakukan tanpa izin tertulis keluarganya. "Anda salah. Mademoiselle. itu bisa dilakukan atas perintah yang berwenang." "Oh, Tuhan!" seru Theresa, ia berbalik dan berjalan kian kemari. Donaldson berkata, "Kupikir, tak ada gunanya marah-marah begitu, Tessa. Aku tahu kesannya bagi orang luar kurang enak, tapi..." Theresa menyela, "Jangan bodoh, kau, Rex!" Poirot bertanya, "Apakah kemungkinan itu mengganggu ketenangan Anda, Mademoiselle?" "Tentu saja! Tidak sopan kedengarannya. Kasihan Bibi Emily! Mengapa dia mesti digali dari kuburnya?" "Kukira," ujar Donaldson, "ada keragu-raguan mengenai penyebab kematiannya?"' Dokter muda itu memandang Poirot penuh rasa ingin tahu. Lanjutnya, "Saya akui saya kaget. Saya pikir kematian Nona Arundell disebabkan oleh penyakit yang sudah lama diidapnya." "Kau pernah menceriterakan seekor kelinci dan kerusakan pada hatinya," Theresa berkata. "Saya sudah lupa ceriteranya, tapi kalau tak salah kau memasukkan darah orang berpenyakit kuning ke tubuh kelinci itu. Setelah itu kauambil darah kelinci itu dan kausuntikkan ke tubuh kelinci lainnya - dan akhirnya, kausuntikkan darah kelinci yang kedua itu ke tubuh orang. Orang itu jadi punya penyakit lever." "Itu cuma buat melukiskan pengobatan melalui serum," Donaldson berkata sabar. "Sayangnya terlalu banyak kelinci dalam ceritera itu!" Theresa tertawa. "Tak ada di antara kita yang memelihara kelinci." Theresa kini memandang Poirot. Suaranya berubah. "M. Poirot, benarkah itu?" tanyanya. "Benar, Mademoiselle, tetapi - ada beberapa cara untuk menghindari hal itu." "Kalau begitu, hindari!" suaranya hampir menyerupai bisikan. Walaupun begitu pasti dan memaksa. "Hindari, berapa pun besarnya yang harus kita korbankan!" Poirot bangkit. "Itu perintah Anda?" suaranya sangat formal. "Ya. Itu perintah saya." "Tetapi, Tessa...." sela Donaldson. Theresa berputar menghadapi tunangannya. "Diam. Dia bibiku. Mengapa bibiku harus digali dari kuburnya? Tahukah kau berita apa yang akan ditulis di koran dan gosip apa yang akan timbul?" Theresa berbalik menghadapi Poirot. "Cegah tindakan itu! Saya memberikan carte blanche.[kekuasaan sepenuhnya] Lakukan apa saja, asal tindakan itu tidak dilakukan." Poirot mengangguk hormat.

"Akan saya lakukan yang saya bisa lakukan, Mademoiselle. Au revoir, Mademoiselle, au revoir. Doctor." "Oh, pergi!" seru Theresa. "Kenapa aku mesti bertemu dengan kalian!" Kami meninggalkan ruang tamu Theresa. Kali ini Poirot tidak berusaha nguping lagi. Dia sengaja tinggal lebih lama di luar ruang tamu itu. Dan itu berhasil. Suara Theresa terdengar jelas dan keras. "Jangan pandang aku seperti itu, Rex." Kemudian, dengan tersendat, "Oh, Sayangku!" Terdengar suara Dokter Donaldson, "Laki-laki itu bermaksud jahat." Poirot meringis. Ditariknya tanganku keluar. "Ayo," katanya, "c'est drole, ca!"[lucu] Secara pribadi, kupikir lelucon itu konyol.

BAB 25 MEMBAYANGKAN KEMBALI Tidak, kupikir, sementara aku buru-buru mengikuti Poirot. Tak ada keragu-raguan lagi sekarang. Nona Arundell memang mati dibunuh, dan Theresa tahu. Tapi, dia sendirikah pelakunya, atau ada orang lain? Yang jelas Theresa ketakutan. Tapi, takut buat dirinya sendiri atau buat orang lain? Mungkinkah-orang lain itu si dokter yang tenang dan cermat? Mungkinkah Nona Arundell mati karena penyakit sungguhan yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuhnya? Sampai titik tertentu semuanya terasa pas - ambisi - Donaldson dan pikirannya bahwa Theresa akan menerima warisan bila bibinya mati. Dan pemuda itu datang makan malam pada hari Selasa malam. Gampang sekali sengaja meninggalkan sebuah jendela terbuka. Tengah malam dia kembali untuk memasang benang di tangga. Tapi, bagaimana ceriteranya dia bisa memasang paku di situ? Ah. Theresa bisa melakukannya. Ya, Theresa bekerja sama dengan tunangannya. Kalau mereka bekerja sama, perkaranya jadi jelas.

Mungkin juga Theresa sendiri yang memasang benang itu. Kejahatan pertama, kejahatan yang gagal - itu hasil pekerjaan Theresa. Yang kedua, yang berhasil, hasil pekerjaan Donaldson yang memang ahli dalam hal semacam itu. Ya - rasanya memang pas. Meskipun begitu, ada keganjilannya. Mengapa Theresa menyebut-nyebut penyuntikan darah kelinci berpenyakit lever ke dalam tubuh manusia? Kalau begitu, rupanya dia tidak tahu... Tapi - pikiranku jadi kacau dan kuhentikan spekulasiku. Aku bertanya kepada Poirot, "Kita ke mana sekarang, Poirot?" "Kembali ke flatku. Mungkin Nyonya Tanios ada di sana." Pikiranku berpindah ke jalur yang lain. Nyonya Tanios! Misteri lain lagi! Kalau Donaldson dan Theresa memang bersalah, apa peran Nyonya Tanios dan suaminya yang selalu tersenyum itu? Apa yang ingin dikatakan perempuan itu kepada Poirot - dan mengapa suaminya berusaha mencegahnya? "Poirot," ucapku merendahkan diri. "Rasanya aku jadi pusing. Mereka tidak melakukannya bersama-sama, bukan?" "Membunuh dengan membentuk sindikat? Sindikat keluarga? Tidak. Kali ini tidak. Ada tanda-tanda bahwa semuanya ini dilakukan oleh satu otak- dan cuma satu otak saja. Masalah kejiwaannya sudah jelas." "Maksudmu, Theresa atau Donaldson yang melakukannya - tapi bukan mereka berdua? Paling tidak Donaldson mengambilkan palu buat Theresa..." "Oh, Hastings - sejak saat Nona Lawson menceriterakan kesaksiannya, kusadari adanya tiga kemungkinan: (1) Nona Lawson memang menceriterakan yang sebenarnya. (2) Nona Lawson mengarang-ngarang ceritera itu untuk kepentingan dirinya sendiri. (3) Nona Lawson yakin akan kebenaran ceriteranya berdasarkan bros yang dikenalnya- tapi, seperti kukatakan tadi, bros bisa dipisahkan dari pemiliknya." "Ya, tapi Theresa ngotot - bros itu tidak pernah lepas dari tangannya." "Yang dikatakannya itu memang benar. Ada satu hal kecil yang sangat penting, tapi belum terperhatikan olehku." "Tumben," ujarku bersungguh-sungguh. "N'est-ce pas? Orang tidak ada yang sempurna. Setiap orang bisa lupa sesuatu." "Karena umur semakin tua?" "Tidak ada hubungannya dengan umur," Poirot berkata dingin. "Baiklah - apa hal kecil yang penting itu?" tanyaku. Saat itu kami tepat sedang membelok masuk ke pelataran gedung tempat flat Poirot terletak. "Akan kutunjukkan."

Kami tiba di flat Poirot. George membukakan pintu. Menjawab pandangan Poirot yang penuh tanda tanya, lelaki itu menggelengkan kepala. "Belum, Tuan. Nyonya Tanios belum ke sini. Telepon juga tidak ada, Tuan." Poirot masuk ke ruang duduk. Sejenak dia berjalan kian kemari seperti orang kebingungan. Kemudian diraihnya telepon. Mula-mula diputarnya nomor Hotel Durham. "Ya - ya. Ah, Dokter Tanios, ini dari Hercule Poirot. Apakah isteri Anda sudah kembali? Belum? Oh.... Dia membawa barang-barangnya semua?... Dan anak-anak juga? .. Anda tidak punya bayangan ke mana perginya.... Ya,... Oh, tentu... Kalau jasa saya bisa berguna bagi Anda? Saya pernah mengalami hal yang serupa.... Hal semacam itu bisa dilakukan dengan diam-diam.... Tidak, tentu saja tidak... Ya, itu memang benar.... Tentu - tentu. Saya menghargai maksud Anda." Poirot meletakkan kembali gagang teleponnya. "Dokter Tanios tidak tahu ke mana isterinya pergi," ujarnya serius. "Kupikir yang dikatakannya itu memang benar. Kekuatiran yang kudengar dalam suaranya bukan dibuat-buat. Tanios tidak mau berurusan dengan polisi. Itu bisa dimengerti. Ya, itu bisa kumengerti. Dia juga menolak bantuanku. Itu yang kurang bisa kumengerti... Dia ingin isterinya ditemukan, tapi tak mau kalau aku mencarinya.... Kelihatannya dia yakin bisa menyelesaikan sendiri masalah ini. Katanya, tidak mungkin isterinya bersembunyi lama-lama - sebab, dia cuma membawa uang sedikit. Di samping itu, dia membawa anak-anak Ya, kupikir dia bisa segera menemukan isterinya. Tapi, Hastings, gerak kita mesti lebih cepat. Aku merasa ini sangat penting." "Percayakah kau bahwa Nyonya Tanios agak miring?" tanyaku. "Kupikir dia sedang dalam keadaan sangat gelisah dan kecapean." "Tapi tidak sebegitu parahnya sampai mesti dirawat di rumah perawatan orang gila, kan?" "Pasti tidak." "Aku tidak mengerti semua ini. Poirot." "Maafkan aku, Hastings - terus terang, kupikir kau memang tidak mengerti sama sekali." "Rasanya - oh, terlalu banyak aspeknya." "Memang. Tapi untuk bisa berpikir jernih, kita mesti bisa memisahkan satu dengan lainnya." "Poirot, sudah lamakah kau menduga ada delapan kemungkinan dan bukannya tujuh?" Suara Poirot kering waktu menjawab, "Itu sudah kupertimbangkan sejak Theresa Arundell mengatakan bahwa ia bertemu Donaldson yang terakhir pada malam pemuda itu datang bersantap malam bersama di Puri Hijau - tepatnya, tanggal empat belas April." "Aku kurang mengerti...." cetusku.

"Apanya yang kurang kaumengerti?" "Yah - kalau Donaldson merencanakan pembunuhan secara ilmiah - dengan suntikan atau sejenisnya - aku tidak mengerti kenapa dia mesti menggunakan cara janggal semacam merentang benang di tangga." "En verite',[terus terang saja] Hastings, kadang-kadang aku kehabisan kesabaran berdebat denganmu! Yang satu merupakan metode tingkat tinggi yang cuma bisa dilakukan oleh orang yang cukup berpengetahuan di bidang itu. Betul, kan?" "Ya" "Yang satunya lagi sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa pun. Betul?" "Ya" "Nah, Hastings - pikir! Coba duduk dengan tenang, pejamkan mata, dan pakai otakmu." Kupatuhi perintahnya. Aku bersandar di kursi dan kututup mataku. Otakku sibuk melaksanakan perintah Poirot yang ketiga. Tapi hasilnya tidak banyak. Kubuka mataku. Kulihat Poirot tengah memandangku dengan pandangan seorang juru rawat terhadap pasien kecilnya yang tidur terlelap. "Eh bien?" Aku herusaha keras menandingi sikap Poirot. "Yah," ucapku, "kupikir orang yang memasang benang bukan tipe orang yang merencanakan pembunuhan dengan menggunakan cara-cara ilmiah." "Rasanya janggal kalau otak yang sudah terbiasa berpikir kompleks tiba-tiba memikirkan sesuatu yang kekanak-kanakan macam merencanakan pemasangan benang itu." Merasa diberi angin, aku meneruskan, "Karena itu, satu-satunya pemikiran yang logis adalah begini - keduanya direncanakan oleh orang yang berbeda. Jadi, yang kita hadapi ini adalah dua kali percobaan pembunuhan oleh dua orang yang berbeda." "Kaupikir itu bukan cuma suatu kebetulan?" "Kau sendiri bilang bahwa dalam setiap kasus pembunuhan selalu ditemukan faktor kebetulan." "Ya. Itu memang benar. Dan harus kuakui." "Jadi?" "Siapa kaupikir kedua orang tertuduhmu itu?" "Donaldson dan Theresa Arundell. Jelas sekali bahwa percobaan pembunuhan kedua yang ternyata berhasil itu merupakan pekerjaan dokter. Sebaliknya, kita tahu bahwa Theresa tersangkut dalam usaha pembunuhan yang pertama. Kupikir, keduanya bekerja sendiri-sendiri dalam hal ini." "Kau senang sekali bilang 'kita tahu', Hastings. Apa pun yang mungkin Kauketahui, aku merasa pasti aku sendiri tidak tahu apakah Theresa terlibat atau tidak."

"Tapi menurut ceritera Nona Lawson..." "Ceritera Nona Lawson cuma ceritera Nona Lawson." "Tapi, katanya..." "Katanya - katanya.... Selalu kau percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan orang. Sekarang dengar, mon cher. Aku pernah mengatakan kepadamu bahwa ada sesuatu yang tidak benar dalam ceritera Nona Lawson." "Ya. Aku ingat kau pernah berkata begitu. Tapi kau sendiri tidak tahu apanya yang kaurasa tidak benar itu." "Sekarang aku sudah tahu. Sebentar akan kutunjukkan kepadamu apa yang mestinya sejak semula langsung kulihat." Poirot melangkah ke dekat meja tulisnya. Dibukanya lacinya dan dikeluarkannya sepotong karton. Karton itu dipotongnya dengan menggunakan gunting - memberi isyarat kepadaku supaya aku tidak melihat apa yang sedang dilakukannya. "Sabar, Hastings. Sebentar lagi kita akan melakukan percobaan kita." Tak lama kemudian kudengar Poirot menyerukan sesuatu dengan perasaan puas. Diletakkannya guntingnya, dan dibuangnya sisa kartonnya ke keranjang sampah. Setelah itu ia pun segera melangkah mendekatiku. Kuturuti perintahnya sambil tertawa. Kedengarannya Poirot merasa puas akan apa yang dilihatnya. Perlahan-lahan ditariknya aku menuju kamar tidur yang paling dekat dengan ruang duduknya. "Sekarang buka matamu, Hastings. Pandang dirimu di cermin. Kau mengenakan, pada jaketmu, sebuah bros indah berinisial namamu. Cuma, bien entendu,[tentu saja] brosmu bukan terbuat dari logam mengkilap atau emas atau platina - brosmu cuma terbuat dari karton sederhana." Kupandangi diriku dalam cermin sambil tersenyum. Tangan Poirot memang sangat terampil. Kulihat pada jaketku menempel sebuah bros yang sangat mirip dengan bros Theresa - sebuah lingkaran dari karton mengelilingi inisialku - A.H. "Eh bien" ujar Poirot. "Kau puas? Brosmu indah sekali, bukan - dan dengan inisialmu pula..." "Kuakui - bagus sekali, memang." "Memang tidak mengkilap dan bersinar-sinar, tapi kau-akui kan, bahwa bros itu kelihatan cukup jelas dari kejauhan?" "Ya. Aku tidak meragukannya." "Tepat. Ragu-ragu bukan sifatmu. Mudah percaya - itulah. Dan sekarang, Hastings, coba buka jaketmu.". Dengan keheran-heranan kuturuti permintaannya. Poirot sendiri melepaskan jasnya dan ganti mengenakan kepunyaanku sambil sedikit menghadap ke belakang. "Sekarang," ujarnya, "lihat bagaimana brosmu tiba-tiba jadi kepunyaanku. Poirot berbalik menghadapku. Kupandang dia - mula-mula tidak mengerti- Baru kemudian aku tahu maksudnya.

"Oh, bodohnya! Tentu saja. H.A. yang kautuliskan pada bros itu, bukan A.H.!" Poirot tersenyum lebar. Diberikannya jaketku kepadaku, dan dikenakannya jasnya sendiri. "Tepat!" katanya. "Sekarang kau tahu apa sebabnya aku merasa ceritera Nona Lawson salah. Nona Lawson mengatakan dia melihat jelas inisial Theresa pada bros itu. Tapi, jangan lupa - Nona Lawson melihat dari cermin. Jadi, kalau memang dia melihat inisial, kebalikannyalah yang sebenarnya dilihatnya pada cermin itu." "Mungkin," sanggahku, "dan mungkin juga dia sadar bahwa yang dilihatnya kebalikannya." "Mon cher, terpikirkah itu olehmu barusan? Tapi kau tidak berseru 'Ha! Poirot, kau salah - itu H.A. - bukan A.H.' Tidak, kau tidak berseru macam begitu. Padahal, menurutku, kau jauh lebih pandai daripada Nona Lawson. Jangan katakan perempuan seperti Nona Lawson terbangun, dan masih dalam keadaan setengah tidur segera menyadari bahwa T.A. yang dilihatnya sesungguhnya A.T. Tidak, Kawan - itu tidak sesuai dengan mentalitas Nona Lawson." "Dia ngotot yang dilihatnya itu Theresa," ujarku perlahan. "Kau sudah semakin dekat dengan kenyataannya, Kawan. Ingatkah kau, aku pernah bilang bahwa tidak mungkin Nona Lawson bisa melihat dengan jelas wajah orang yang dilihatnya. Lalu apa yang langsung diingatnya?" "Bros Theresa - tanpa menyadari bahwa dia melihatnya dalam cermin, yang berarti bahwa yang dikatakannya tidak benar." Telepon berdering dengan nyaringnya. Poirot segera menghambur menerimanya. Ia cuma mengucapkan beberapa kata. "Ya? Ya... tentu. Ya, cukupan. Siang, mungkin. Jam dua? Kelihatannya bisa." Diletakkannya gadang telepon, dan ia pun berpaling kepadaku sambil tersenyum. "Dokter Donaldson ingin berbincang-bincang denganku. Dia mau ke sini besok jam dua. Ada kemajuannya, mon ami, ada kemajuannya."

BAB 26 NYONYA TANIOS MENOLAK BERBICARA Ketika aku tiba keesokan paginya, kulihat Poirot sedang sibuk menulis di meja tulisnya. Ia mengacungkan tangan sebagai isyarat sapaan, tapi segera menyibukkan dirinya kembali dengan sesuatu yang sedang ditulisnya. Akhirnya dilipatnya kertas yang ditulisi itu, dimasukkannya ke dalam amplop, dan direkatnya amplopnya dengan lem. "Sedang apa kau?" tanyaku berkelakar. "Mencatat kasus yang sedang kauselesaikan buat disimpan di almari besi hingga orang bisa meneruskan usahamu bila kau sendiri terbunuh hari ini?" "Dugaanmu tidak banyak meleset, Hastings!" Sikapnya bersungguh-sungguh. "Kaupikir pembunuhnya sudah menjadi berbahaya sekarang?" "Pembunuh selalu berbahaya," ujar Poirot serius. Sayangnya fakta itu sering kurang diperhatikan." "Ada berita baru?" "Dokter Tanios menelepon." "Istcrinya belum ditemukan?" "Kalau begitu - aman." "Aku tidak yakin." "Kau tidak berpikir Nyonya Tanios dibunuh orang, kan?" Poirot menggelengkan kepala. Nampaknya dia ragu-ragu. "Kuakui," gumamnya, "aku ingin sekali tahu di mana perempuan itu sekarang." "Oh," ujarku. "Dia pasti ketemu." "Optimismemu membuatku lega kadang- kadang, Hastings." "Oh, Tuhan - maksudmu kaupikir Nyonya Tanios akan kita ketemukan dalam keadaan terbungkus dan terpotong-potong?" Poirot berkata pelan, "Aku merasa kekuatiran Dokter Tanios agak berlebih-lebihan - tapi cuma itu. Yang pertama- tama mesti kita lakukan hari ini adalah menemui Nona Lawson. "Kau mau mengatakan kepadanya mengenai kekeliruan penglihatan pada bros itu?" "Tentu saja tidak. Fakta itu cuma buatku sendiri sampai tiba saatnya yang tepat buat menyatakannya.'" "Lalu, apa yang mau kaukatakan?" "Itu, mon ami, akan kaudengar sendiri nanti. " "Omong kosong lagi?" "Kadang-kadang kau menyakitkan hati, Hastings. Orang akan mengira aku suka berbohong bila mendengar kata-katamu barusan."

"Kupikir, kau memang suka berbohong, Poirot. Aku malah mulai yakin bahwa kau sungguh-sungguh suka berbohong." "Kuakui - kadang-kadang aku kagum akan kepandaianku menciptakan sesuatu yang kedengarannya begitu realistis." Tak kuasa aku menahan tawa. Poirot memandangku dengan ejekan, dan kami pun berangkat ke Clanroyden Mansions. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamunya yang terasa sangat penuh dengan berbagai barang, dan tak lama kemudian Nona Lawson keluar dengan tergopohgopoh. Sikapnya lebih tidak menentu daripada biasanya. "Oh, M. Poirot, selamat pagi! Oh- berantakannya. Maafkan. Tapi pagi ini rasanya repot sekali. Sejak Bella datang..." "Apa? Bella?" "Ya, Bella Tanios. Dia datang setengah jam yang lalu - dengan anak-anaknya. Mereka kelihatannya sangat kecapean. Oh, kasihannya mereka itu. Sungguh, saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan. Anda tahu, M. Poirot - dia meninggalkan suaminya." "Meninggalkan Dokter Tanios?" "Katanya begitu. Oh - tapi saya yakin tindakannya itu bijaksana. Malangnya anak itu...." "Dia berceritera terus terang kepada Anda?" "Yah - sebenarnya tidak juga, M. Poirot. Dia sama sekali tidak mau mengatakan apa-apa. Cuma berulang-ulang dikatakannya bahwa dia meninggalkan suaminya dan tidak akan mau kembali lagi!" "Ini merupakan langkah yang sangat serius." "Tentu saja.' Seandainya suaminya orang Inggris, saya akan bujuk agar dia mau tapi, suaminya toh bukan orang Inggris. Dan lagi, tidak tega saya. melihatnya... dia begitu ketakutan. Tak tahu saya apa yang dilakukan laki-laki itu terhadap isterinya sampai isterinya seperti itu. Dari dulu saya sudah menduga, orang Turki kadangkadang bisa berlaku- " "Dokter Tanios bukan orang Turki. Dia Yunani." "Oh, ya, tentu, kebalikannya - maksud saya, mereka yang biasanya dibunuh oleh orang Turki -oh, atau saya jadi berpikir tentang orang Yahudi? Sama saja! Pokoknya saya rasa Bella tak perlu kembali kepada suaminya. Bukankah begitu, M Poirot? Eh, dia bilang ... dia tidak mau kembali. Dia malah tak mau suaminya tahu di mana dia berada." "Separah itu?" "Ya. Maka dari itu. Anak-anaknya... katanya. Bella takut suaminya membawa mereka kembali ke Smyrna. Kasihan! Oh, tahukah anda, M. Poirot, dia tidak punya uang sama sekali - sama sekali. Dia tidak tahu lagi ke mana dia mesti pergi atau apa yang mesti dia lakukan. Katanya dia ingin bekerja mencari nafkah; tapi, oh, M.

Poirot, itu bukan segampang dikatakan, bukan? Saya tahu susahnya cari pekerjaan. Dan, Bella tidak punya pendidikan khusus." "Kapan dia meninggalkan suaminya?" "Kemarin. Semalam dia menginap di hotel kecil dekat Paddington. Dia datang ke sini karena tidak tahu mesti ke mana lagi. Oh, kasihannya anak itu..." "Dan Anda mau menolongnya? Betapa baik hati Anda, Nona Lawson." "Oh, M. Poirot, sungguh. - saya merasa itu kewajiban saya. Tapi, tentu saja sangat sulit. Flat ini terlalu kecil, kamarnya tidak ada lagi - di samping itu, oh..." "Kenapa Anda tidak menyuruhnya tinggal di Puri Hijau saja?" "Mungkin seharusnya begitu - tapi, oh, suaminya pasti akan datang mencarinya ke sana. Sementara, saya sewakan dia kamar di Hotel Wellington di Queen's Road. Dia tinggal di situ dengan nama samaran Nyonya Peters." "Oh," ucap Poirot. Sejenak ia diam. Kemudian katanya, "Saya ingin bertemu dengan Nyonya Tanios. Dia mencari saya ke flat saya kemarin, tapi saya kebetulan sedang keluar." "Oh, ya? Dia tidak ceritera sama saya. Sebentar, saya katakan kepadanya, ya?!" "Terima kasih." Buru-buru Nona Lawson keluar dari ruang tamunya. Suaranya kedengaran cukup jelas dari tempat kami duduk. "Bella - Bella sayang, maukah kau menemui M. Poirot?" Jawaban Nyonya Tanios tidak kedengaran, tapi beberapa menit kemudian dia keluar ke ruang tamu. Aku sangat kaget melihat rupanya. Sekeliling matanya nampak hitam dan pipinya pucat sekali. Yang lebih mengagetkan lagi, raut mukanya sangat ketakutan. Perempuan itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia cuma duduk diam mendengarkan. Poirot menyapanya dengan sikap penuh simpati. Ia bangkit menghampiri Nyonya Tanios, menjabat tangannya. Kemudian dibimbingnya perempuan itu ke sebuah kursi dan dipersilakannya duduk. Ia mengambil sebuah bantal, lalu kembali ke dekat Nyonya Tanios dan memberikan bantal itu kepadanya. Poirot memperlakukan perempuan yang pucat dan ketakutan itu bagaikan seorang puteri. "Sekarang, Madame, ayo kita mengobrol. Anda datang ke flat saya kemarin?" Nyonya Tanios mengangguk. "Saya menyesal sekali tidak bertemu dengan Anda, Madame." "Ya - saya pun begitu." "Ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan kepada saya?" "Ya - maksud saya begitu...." "Eh bien, sekarang saya ada di hadapan Anda, siap mendengar apa pun yang ingin Anda katakan kemarin itu."

Nyonya Tanios tidak menyahut. Dia duduk diam, memutar-mutar cincin pada jarinya. "Bagaimana, Madame?" "Tidak. Saya - kalau dia tahu - dia akan - oh, dia pasti melakukan sesuatu kepada saya!" "Ayolah, Madame - masakan begitu. Tidak mungkin." "Bukan tidak mungkin - itu mungkin. Mungkin sekali. Anda tidak tahu dia..." "Maksud Anda 'dia' itu suami Anda, Madame?" "Ya. Ya. Dia." Semenit dua menit lamanya Poirot berdiam diri. Kemudian katanya, "Suami Anda juga datang ke flat saya kemarin, Madame." Sejenak wajahnya penuh ketakutan. "Oh, Tidak! Anda tidak mengatakannya kepadanya - pasti tidak! Anda toh tidak tahu di mana saya. Apakah dia bilang saya gila?" Poirot menjawab dengan sangat berhati-hati. "Dia cuma mengatakan bahwa Anda sangat gelisah." Tapi Nyonya Tanios tidak bisa dibohongi, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, dia bilang saya gila - atau saya akan jadi gila! Dia mau mengurung saya supaya saya tidak bisa mengatakan apa-apa kepada siapa pun buat selamalamanya." "Mengatakan apa, Madame?" Nyonya Tanios menggeleng. Sambil mempermainkan jari-jari tangannya dengan gelisah, ia bergumam, "Saya takut..." "Tapi, Madame, kalau Anda sudah mengatakannya kepada saya - Anda aman!Rahasianya sudah keluar! Fakta ini dengan sendirinya akan melindungi." Tapi Nyonya Tanios tetap tidak menjawab. Dia terus saja mempermainkan jarinya. "Anda akan merasakannya sendiri, Madame." Poirot berkata sangat lembut. Nyonya Tanios terperangah. "Bagaimana saya bisa merasakannya?... Oh, ini sangat keterlaluan sekali! Dia logis.' Dan dia dokter. Orang pasti percaya dia, bukan saya. Saya tahu itu. Tidak ada orang yang akan mempercayai saya." "Anda tidak mau memberi kesempatan kepada saya?" Pandangan Nyonya Tanios mengungkapkan kebimbangan hatinya. "Bagaimana saya tahu? Mungkin saja Anda ada di pihaknya...." "Saya tidak pernah berdiri di pihak siapa pun, Madame - saya cuma berdiri di pihak kebenaran." "Saya tidak tahu," ujar Nyonya Tanios putus asa. "Oh, betul-betul saya tidak tahu." Nyonya Tanios meneruskan kata-katanya, suaranya semakin keras tapi terputusputus, "Sudah bertahun-tahun begini ini. Berkali-kali saya menyaksikan hal yang sama terjadi berulang-ulang. Tapi tidak ada yang bisa saya katakan atau lakukan.

Sebab ada anak-anak yang harus saya bela, Rasanya mimpi buruk itu terus berkepanjangan. Dan sekarang ini.... Tapi, saya tidak mau kembali kepadanya. Saya tak akan membiarkan dia membawa anak-anak. Saya akan pergi ke suatu tempat yang tak akan bisa diketemukannya. Minnie Lawson akan membantu saya. Dia sangat baik hati - sangat baik hati dan manis. Tidak ada orang lain yang lebih baik daripadanya." ia berhenti. Pandangannya menembus mata Poirot. Lalu katanya, "Apa yang dikatakannya mengenai saya? Apakah dia bilang saya berkhayal, berangan-angan?" "Dia mengatakan bahwa - sikap Anda terhadapnya berubah, Madame" Nyonya Tanios mengangguk. "Dan dia bilang saya berkhayal, berangan-angan.... Betul, bukan?" "Ya, Madame. Terus terang, dia memang bilang begitu. "Itulah. Dia akan terus bilang begitu. Sedangkan saya tidak punya bukti - sama sekali tidak punya bukti yang nyata." Poirot bersandar pada kursinya. Ketika dia berbicara lagi, sikapnya betul-betul berubah. "Apakah Anda mencurigai suami Anda ada sangkut pautnya dengan pembunuhan Nona Arundell?" Jawabnya datang sangat cepat - spontan, "Saya tidak, mencurigainya - saya tahu." "Kalau begitu, Madame, Anda wajib mengatakannya." "Ah, tapi itu sukar - ya, sukar." "Bagaimana dia membunuhnya?" "Tepatnya saya tidak tahu - tapi dialah yang membunuh." "Anda tidak tahu cara apa yang dipakainya?" "Tidak - itu dilakukannya pada hari Minggu sebelum Bibi Emily meninggal." "Hari Minggu ketika dia datang ke Puri Hijau sendirian?" "Ya." "Tapi Anda tidak tahu apa persis yang dilakukannya." ""Tidak." "Lalu, maaf, Madame, bagaimana Anda bisa begitu yakin?" "Karena dia..." Nyonya Tanios berhenti. Kemudian katanya pelan, "Saya yakin!" "Maaf, Madame, ada sesuatu yang Anda sembunyikan. Sesuatu yang belum Anda katakan kepada saya." "Ya." "Mengapa tidak Anda katakan saja sekalian?" Bella Tanios mendadak bangkit. "Tidak. Tidak. Saya tidak bisa. Anak-anak. Ayah mereka. Saya tidak bisa. Saya tidak bisa...." "Tapi, Madame..." "Saya tidak bisa menceriterakannya kepada anda."

Suaranya melengking histeris. Mendadak pintu terbuka dan Nona Lawson masuk. Nampak sekali ada sesuatu yang menyenangkan hatinya. "Boleh masuk? Sudah selesai pembicaraan Anda? Bella sayang, kupikir kau mesti minum sesuatu... secangkir teh, atau malah sedikit brandy." Nyonya Tanios menggeleng. "Saya tidak apa-apa," ujarnya sambil tersenyum lemah. "Saya mesti kembali ke anak-anak. Sudah terlalu lama saya tinggalkan mereka. Mereka sedang membereskan pakaian mereka dari koper ketika saya tinggalkan." "Oh," ujar Nona Lawson, "lucunya anak-anak itu." Nyonya Tanios tiba-tiba berpaling kepadanya. "Oh, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan tanpa bantuanmu, Minnie." ujarnya. "Kau - kau begitu baik." "Na, na, na, jangan menangis begitu, Bella. Segala sesuatu akan beres sendiri pada akhirnya. Kau boleh dalang ke tempat penasihat hukumku - dia orangnya baik dan sangat simpatik - dia pasti mau memberi petunjuk bagaimana caranya mendapatkan surat cerai. Zaman sekarang itu bukan hal sulit. Begitu kudengar orang-orang berkata. Oh, ada tamu kedengarannya. Siapa, ya?" Nona Lawson buru-buru meninggalkan ruang tamu. Terdengar suara orang bercakap-cakap di teras. Nona Lawson muncul kembali. Jalannya berjingkatjingkat. Ditutupnya pintu pelan-pelan. Katanya berbisik, "Oh, Bella - suamimu yang datang. Aku tak tahu..." Nyona Tanios beranjak ke sebuah pintu yang menuju ke belakang. Nona Lawson mengangguk-angguk. "Benar, Sayang - masuklah ke sana. Dari situ kau bisa menyelinap keluar sementara dia kuajak masuk ke sini." Nyonya Tanios berbisik, "Jangan katakan saya dari sini. Jangan katakan Anda barusan ketemu saya." "Tidak. Tentu saja tidak." Nyonya Tanios menyelinap keluar. Poirot dan aku sendiri buru-buru mengikutinya. Kami ternyata masuk ke ruang makan. Poirot menyeberangi ruang makan sempit itu, dan membuka pintu yang berhubungan dengan teras, ia mengintip dan mendengarkan sesuatu, kemudian mengangguk. "Nona Lawson sudah mengajaknya masuk." Berjingkat-jingkat kami keluar. Pintu muka ditutup oleh Poirot dengan sangat pelan setelah kami semuanya keluar. Nyonya Tanios berlari-lari kecil menuruni tangga, tersandung, dan berpegang pada sisi tangga. Poirot memegang tangannya kuat-kuat, menahannya supaya tidak jatuh. "Du calme - du calme.[tenang-tenang.] Tidak ada yang mesti Anda takuti." Kami masuk ke lobby.

"Temani saya," pinta Nyonya Tanios memelas. Kelihatannya perempuan itu sudah mau pingsan. "Tentu," ujar Poirot menenangkan hatinya.Kami menyeberang jalan, berjalan sedikit melewati tikungan, dan sampai di Queen's Road. Hotel Wellington ternyata sebuah hotel kecil yang tidak banyak diketahui orang. Modelnya seperti asrama. Sesampai di dalam, Nyonya Tanios menjatuhkan diri pada sebuah sofa. Tangannya memegangi dadanya yang berdebar-debar. Poirot menepuk-nepuk bahunya, menenangkan perempuan itu. "Anda lolos, Madame. Tapi dengarkan saya baik-baik sekarang." "Tidak ada lagi yang bisa saya ceriterakan kepada Anda, M. Poirot. Tak benar kalau saya menceriterakannya. Anda - Anda tahu apa yang saya pikir -yang saya yakini. Anda mesti puas dengan itu." "'Saya minta Anda mendengarkan saya, Madame. Misalkan - ini cuma suatu pemisalan - saya sudah tahu semua fakta mengenai kasus ini. Misalkan saya sudah bisa menebak apa yang Anda ketahui - masalahnya jadi lain, bukan?" Nyonya Tanios memandangnya ragu. Sebersit rasa sakit nampak pada matanya. "Percayalah, Madame - saya bukan bermaksud menjebak Anda supaya Anda mengatakan apa yang tidak ingin Anda katakan. Tapi, masalahnya jadi lain, kan?" "Saya pikir - ya." "Bagus. Sekarang dengar. Saya, Hercule Poirot, tahu kebenarannya. Saya tidak meminta Anda mempercayai kata-kata saya. Ambil ini." Poirot menyodorkan sebuah amplop tebal yang tadi pagi kulihat disiapkannya. "Semua faktanya tertulis di situ. Setelah Anda membacanya, dan Anda merasa puas, teleponlah saya nomor telepon saya ada saya cantumkan di dalam situ." Agak enggan Nyonya Tanios menerima amplop itu. Poirot menyambung cepat, "Sekarang, satu hal lagi. Anda harus cepat-cepat meninggalkan hotel ini." "Mengapa?" "Anda cepat pergi ke Hotel Coniston, dekat Euston. Jangan katakan kepada siapa pun di mana Anda tinggal." "Tapi, oh - mengapa kalau di sini saja? Minnie Lawson tidak mungkin mengatakan kepada suami saya bahwa saya tinggal di sini." "Anda pikir begitu?" "Ya - dia memihak saya!" "Ya, tapi ingat, Madame, suami Anda sangat pandai. Mudah sekali buatnya membujuk perempuan tua macam Nona Lawson untuk mengeluarkan rahasianya. Ini sangat penting - penting sekali, Madame. Suami Anda tidak boleh tahu di mana Anda berada." Nyonya Tanios mengangguk tanpa berkomentar. Poirot memberikan selembar kertas.

"Ini alamatnya. Cepat bereskan barang-barang Anda, dan bawa anak-anak naik taksi ke alamat itu. Anda mengerti?" Nyonya Tanios mengangguk. "Saya mengerti." "Anak-anaklah yang mesti Anda pikirkan, Madame - bukan diri Anda sendiri. Anda sayang mereka, bukan?" Poirot menyentuh bagian yang terpeka. Warna merah merambati pipi perempuan itu, dan kepalanya pun menjadi tegak. Ia sekarang nampak bukan lagi seperti orang yang ketakutan, tapi seorang wanita gagah dan agak sombong. "Oke. Semuanya beres, kalau begitu." Dijabatnya tangan Nyonya Tanios. dan kami pun pergi. Tapi tidak jauh. Dari bawah naungan atap sebuah cafetaria di seberang jalan, kami memperhatikan pintu masuk hotel tadi sambil minum secangkir kopi. Kurang lebih lima menit kemudian, nampak Dokter Tanios berjalan di jalan. Dia tidak menoleh sama sekali ke arah Hotel Wellington. Hotel itu dilaluinya begitu saja Kepalanya tertunduk waktu dia berjalan. Di tikungan, dia membelok ke stasiun kereta bawah tanah. Sepuluh menit setelahnya, kami melihat Nyonya Tanios dan anak-anaknya masuk ke sebuah taksi dengan membawa barang-barang mereka. "Bien," ujar Poirot mengacungkan bon minuman yang dipesannya. "Kita sudah melakukan apa yang menjadi kewajiban kita. Semuanya sekarang ada di tangan Tuhan."

BAB 27 KUNJUNGAN DOKTER DONALDSON Donaldson datang tepat pada pukul dua. Pembawaannya tenang dan serius seperti biasanya. Kepribadian Donaldson mulai membangkitkan minatku. Mula-mula pemuda itu kuanggap sebagai orang yang agak langka. Aku tidak mengerti apa yang dilihat oleh gadis secantik Theresa pada dirinya. Sekarang aku baru sadar bahwa pemuda ini tak bisa diabaikan begitu saja. Di balik sikapnya yang ilmiah itu ada kekuatan yang tersembunyi.

Setelah bersapa-sapaan sebagaimana layaknya tamu dan tuan rumahnya, Donaldson berkata, "Alasan kedatangan saya begini. Saya tidak mengerti apa tepatnya posisi Anda dalam kasus ini, M. Poirot." Jawaban Poirot hati-hati. "Anda tentunya tahu profesi saya, bukan?" "Tentu. Terus terang, saya sudah bersusah payah ke sana-sini mencari keterangan mengenai diri anda." "Anda orang yang sangat berhati-hati, Dokter." Kering, Donaldson berkata, "Saya selalu ingin yakin akan fakta-fakta saya." "Pikiran Anda sangat ilmiah." "Setahu saya, semua orang berpendapat begitu juga mengenai diri Anda. Tidak diragukan lagi, Anda orang yang sangat pandai dalam profesi Anda. Anda juga mendapat julukan detektif yang teliti dan jujur." "Pujian Anda terlalu berlebihan." "Itulah sebabnya saya tidak habis berpikir - mengapa Anda sampai ikut campur dalam masalah keluarga ini. Apa hubungannya?" "Sangat sederhana!" "Sebaliknya," ujar Donaldson. "Mula-mula Anda memperkenalkan diri sebagai penulis biografi." "Itu bisa dimaafkan, bukan? Hampir tidak mungkin seorang detektif pergi ke sanasini dengan setiap kali memproklamirkan dirinya seorang detektif - meskipun, saya akui kadang-kadang ada manfaatnya pula memperkenalkan diri sebagai detektif.", "Baiklah." Nada suara Donaldson sangat kering. "Selanjutnya, Anda menemui Nona Theresa Arundell dan mengatakan bahwa ada kemungkinan surat wasiat bibinya bisa diperkarakan." Poirot cuma menundukkan kepalanya, mengiyakan. "Itu sangat mengherankan dan menggelikan." Suara Donaldson tajam. "Anda tahu benar bahwa surat wasiat itu sah menurut hukum dan bahwa itu tidak mungkin diubah atau dibatalkan." "Oh, begitukah pikiran Anda?" "Saya bukan orang bodoh, M. Poirot...." "Sama sekali bukan, Dokter Donaldson'." "Saya tahu sesuatu - tidak banyak, tetapi cukuplah - mengenai hukum. Surat wasiat itu tidak mungkin dibatalkan. Mengapa Anda berpura-pura dan mengatakan ada kemungkinannya? Jelas itu cuma untuk kepentingan Anda sendiri - dan, sayang sekali maksud itu tidak segera ditangkap oleh Nona Theresa Arundell." "Kedengarannya Anda begitu pasti akan reaksinya." Seulas senyum tipis menghiasi wajah pemuda itu. Tanpa diduga-duga, ia berkata, "Saya tahu lebih banyak mengenai Theresa daripada yang diketahuinya. Saya merasa yakin bahwa dia dan Charles berpikir Anda akan membantu mereka. Charles orangnya hampir tidak punya moral sama

sekali. Theresa punya sifat-sifat menurun yang kurang menguntungkan, ditambah pula dengan didikan yang kurang bagus." "Jadi, itulah sebabnya Anda membicarakan tunangan Anda - seolah-olah dia itu seekor marmot?" Donaldson menatap Poirot dengan tajam dari balik kacamata tempelnya. "Saya tidak pernah menyangkal apa yang benar. Saya mencintai Theresa Arundell, dan saya mencintainya sebagaimana adanya - bukan untuk sifat-sifat baik yang hanya khayalan saja." "Sadarkah Anda bahwa Nona Theresa Arundell begitu sayang kepada Anda. dan bahwa keinginannya mendapatkan uang itu semata-mata supaya cita-cita Anda bisa tercapai?" "Tentu saja saya sadar akan hal itu. Sudah saya katakan kepada Anda, bahwa saya bukan orang bodoh. Tapi saya tak mau Theresa menceburkan dirinya pada situasi yang sulit cuma buat saya. Dalam banyak hal, dia masih kekanak-kanakan. Saya mampu memajukan karir saya dengan usaha saya sendiri. Saya tidak mengatakan, bahwa saya tidak ingin dibantu dalam hal finansial. Bantuan semacam itu akan sangat menolong. Tapi, itu cuma menolong memperpendek jalan saya. Cuma itu." "Jadi, Anda punya keyakinan bahwa Anda bisa berhasil dengan usaha sendiri, bukan?" "Mungkin kedengarannya sombong, tapi ya - saya yakin saya bisa," ujar Donaldson. "Mari kita lanjutkan. Saya akui bahwa saya memperoleh kepercayaan dari Nona Theresa dengan menggunakan semacam taktik. Saya yakinkan dia bahwa saya mau menolongnya, asal saya dibayar -tentu saja ini tidak benar, Dokter - tapi, ternyata Nona Theresa segera percaya." "Ya, karena Theresa yakin semua orang mau berbuat apa pun, demi uang," ujar dokter muda itu dengan apa adanya. "Benar. Sikapnya memang begitu - begitu juga kakaknya." "Charles mungkin mau melakukan apa pun demi uang!" "Jadi Anda sudah tahu bagaimana calon kakak ipar Anda itu?" "Ya. Bagi saya dia merupakan studi yang menarik. Pada dirinya, kelihatannya, ada semacam gejala neurosis yang terpendam - ah, itu membuat pembicaraan kita menyimpang. Kembali ke yang kita bicarakan semula, M. Poirot - saya cuma bisa menemukan satu jawaban sehubungan dengan pertanyaan saya tadi: apa sebabnya Anda berlaku seperti itu. Jelas bahwa Anda mencurigai Theresa atau Charles bertanggung jawab atas kematian Nona Arundell. Jangan - jangan menyangkal kata-kata saya! Anda menyebutkan mengenai kemungkinan dilakukannya penggalian kubur Nona Arundell -dan itu, saya pikir, cuma untuk memancing reaksinya. Ngomong-ngomong, sudahkah Anda mengambil langkah ke arah sana -

maksud saya, menghubungi yang berwenang supaya mereka memerintahkan penggalian kembali kubur itu?" "Saya akan berterus terang kepada Anda. Sampai sekarang saya belum melangkah sejauh itu." Donaldson mengangguk. "Jadi, saya pikir, Anda mulai mempertimbangkan bahwa ada kemungkinan Nona Arundell meninggal secara wajar?" "Bahwa saya telah mempertimbangkan kematian itu nampak sebagai kematian wajar - ya." "Keputusan Anda sudah pasti?" "Sangat pasti. Seandainya Anda menghadapi kasus - katakan, tubercolusis yang menunjukkan gejala-gejala tubercolusis, dan ketika Anda periksa darahnya menunjukkan tubercolusis positif- eh bien, Anda pasti menganggapnya sebagai tubercolusis, bukan?" "Begitu cara Anda melihat perkaranya? Kalau begitu, apa sebenarnya yang Anda tunggu?" "Saya menunggu bukti yang final." Telepon berdering. Menuruti isyarat Poirot, aku beranjak mengangkatnya. Suara yang kudengar sangat kukenali. "Kapten Hastings? Ini dari Nyonya Tanios. Maukah Anda menyampaikan kepada M. Poirot, bahwa dia benar? Kalau M. Poirot mau datang ke sini jam sepuluh besok pagi, saya bisa memberikan apa yang diinginkannya." "Jam sepuluh besok?" "Ya." "Baiklah. Akan saya sampaikan pesan Anda" Poirot bertanya dengan matanya. Dan aku mengangguk. Ia kembali berpaling kepada Donaldson. Sikapnya berubah - gesit dan yakin. "Mari saya jelaskan," ujarnya. "Saya sudah mendiagnosa kasus yang saya hadapi ini sebagai suatu kasus pembunuhan - dan memang, ini suatu pembunuhan! Itu tidak perlu diragukan lagi." "Kalau begitu - di mana letak keragu-raguan Anda? Sebab, saya merasa Anda masih ragu-ragu mengenai sesuatu." "Mengenai identitas pembunuhnya. Tapi sekarang, itu pun sudah tidak saya ragukan." "Sungguh? Anda tahu pembunuhnya?" "Bukti pastinya akan saya dapatkan besok." Alis Dokter Donaldson terangkat, sangat ironis. "Ah," ujarnya. "Besok! Kadang-kadang besok itu tak ada habisnya, M. Poirot." "Sebaliknya," sahut Poirot, "bagi saya." Donaldson tersenyum. Ia bangkit. "Saya telah menyita terlalu banyak waktu Anda yang berharga, M. Poirot."

"Sama sekali tidak. Saya senang mendapat kesempatan bertukar pikiran dengan orang lain." Dengan mengangguk, Dokter Donaldson meninggalkan kami.

BAB 28 KORBAN KEDUA "Dia orang pintar," kata Poirot sungguh-sungguh. "Agak sulit mengetahui maksudnya." "Ya. Orangnya agak kurang manusiawi. Tapi sangat cerdik." "Telepon tadi dari Nyonya Tanios." "Sudah kuduga." Kusampaikan pesannya. Poirot mengangguk. "Bagus. Semuanya berjalan lancar. Dua puluh empat jam lagi, Hastings, kita akan tahu." "Aku masih bingung. Siapa sebenarnya yang kita curigai?" "Mana aku tahu siapa yang kau curigai, Hastings!" "Kadang-kadang aku merasa kau mempermainkanku." "Tidak, tidak. Tak akan kusenangkan diriku dengan cara begitu, Kawan." "Aku tidak yakin." Poirot menggeleng, tapi pikirannya seolah jauh menerawang. Kuamati dia. "Ada sesuatu, Poirot?" tanyaku. "Aku selalu merasa ngeri setiap kali sampai pada akhir suatu kasus. Seandainya terjadi sesuatu...." "Memangnya ada kemungkinan terjadi sesuatu?" "Kupikir tidak." ia berhenti, dahinya berkerut. "Rasanya aku sudah memperhitungkan segala kemungkinan." "Kalau begitu, bagaimana kalau kita lupakan sejenak urusan ini dan kita nonton? "Ma foi, Hastings, idemu bagus sekali!" ***

Malam itu kami lewatkan dengan cukup santai dan menyenangkan. Walaupun begitu, ada satu kesalahan kecil yang kulakukan - aku mengajak Poirot nonton film pembunuhan yan melibatkan seorang detektif. Itu sebabnya aku ingin menyampaikan sedikit pesan kepada para pembaca: Jangan pernah mengajak seorang tentara menonton film militer, seorang pelaut menonton film mengenai angkatan laut, atau seorang detektif menonton film detektif. Anda akan lelah mendengar kritikan yang mereka lontarkan sepanjang pertunjukan! Memang kritik yang dihujankannya itu kadang-kadang mengena sekali. Poirot menyayangkan bahwa detektif pelakunya kurang menguasai aspek kejiwaan dan cara kerjanya tidak sistematis. Waktu kami berpisah malam itu, Poirot masih saja menyinggung-nyinggung kekurangan dalam babak permulaan lakon yang baru kami nikmati. "Kalau semuanya menuruti jalan pikiranmu, Poirot, cerita film tadi tidak akan sepanjang itu," Poirot terpaksa mengakui kemungkinan itu. *** Jam menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa menit ketika aku masuk ke ruang duduk flat Poirot keesokan harinya. Poirot sedang sarapan - seperti biasa, sambil membuka amplop surat yang diantarkan oleh petugas pos pagi. Telepon berdering, dan akupun buru-buru mengangkatnya. Terdengar olehku suara orang perempuan terengah-engah, "Apakah di situ dengan M. Poirot? Oh, Anda Kapten Hastings." Suaranya tersendat. "Apakah Anda Nona Lawson?" tanyaku. "Ya, ya, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi!" Kugenggam gagang telepon erat-erat. "Dia pergi meninggalkan Hotel Wellington - Bella, maksudku. Saya ke sana kemarin siang. Katanya dia sudah pergi. Dan, oh - tanpa meninggalkan pesan apa pun buat saya! Aneh! Mungkin yang dikatakan Dokter Tanios memang benar. Laki-laki itu menceriterakan Bella dengan begitu manis dan kelihatannya begitu sedih. Sekarang saya baru tahu - mungkin yang dikatakan suaminya itu memang betul." "Apa yang sebenarnya terjadi, Nona Lawson? Apakah cuma itu - maksud saya, Nyonya Tanios cuma pergi meninggalkan Hotel Wellington tanpa memberitahukan apa-apa kepada Anda?"

"Oh, bukan. Bukan cuma itu! Kalau cuma itu sih tidak apa-apa. Dokter Tanios mengatakan dia kuatir isterinya agak - agak - oh, bukan cuma agak... katanya dia menderita kelainan kejiwaan... per-... oh, persecution mania ata apa, katanya." "Ya." (Sialan, umpatku). "Tapi, apa yang terjadi?" "Oh - sangat menyedihkan! Dia mati dalam tidurnya. Minum obat tidur dengan dosis berlebihan! Dan anak-anak yang malang itu... oh! Semuanya ini begitu menyedihkan! Rasanya saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis sejak menerima berita itu." "Siapa yang mengabari Anda? Coba ceriterakan, Nona Lawson!" Dari sudut mataku, kulihat Poirot tiba-tiba berhenti membuka surat-suratnya. Dia mendengarkan kata-kata yang kuucapkan. Aku tak ingin memberikan tempatku kepadanya. Kalau kuberikan telepon kepadanya, aku yakin Nona Lawson akan mulai meraung-raung tidak keruan lagi. "Orang menelepon saya dari hotel sana. Hotel Coniston - kalau tak salah. Kelihatannya mereka menemukan nama dan alamat saya di tasnya. Oh, M. Poirot oh, Kapten Hastings - bukankah ini sangat menyedihkan? Anak-anak itu tidak beribu lagi." "Tunggu," ujarku- "Yakinkah Anda itu dilakukannya tanpa sengaja? Atau dia sengaja bunuh diri?" "Oh, Kapten Hastings - kedengarannya kok jadi begitu mengerikan! Oh, saya tidak tahu. Betul-betul saya tidak tahu. Mungkinkah dia sengaja bunuh diri? Oh, mengerikan sekali! Tapi dia memang kelihatan sangat tertekan. Sebetulnya tak perlu dia begitu. Maksud saya, dia tidak akan kesulitan uang. Saya sudah merencanakan hendak berbagi-bagi dengannya. Sungguh, itu rencana saya. Saya tahu Nona Arundell ingin begitu. Saya yakin itu keinginannya. Tapi, oh - bukan main - dia menghabisi hidupnya sendiri - tapi mungkin juga tidak.... Orang yang menelepon dari hotel tadi kedengarannya mengatakan tidak sengaja." "Obat tidur apa yang diminumnya?" "Salah satu obat tidur biasa. Veronal, mungkin. Oh, bukan. Chloral. Ya, itu katanya tadi. Chloral. Oh, Kapten Hastings - apakah..." Seperti orang tak tahu aturan, kubanting gagang telepon. Aku cepat berpaling kepada Poirot. "Nyonya Tanios..." Poirot mengacungkan tangannya. "Ya, ya, aku tahu apa yang hendak kaukatakan, Kawan. Dia mati. Betul, kan?" "Ya. Kebanyakan minum obat tidur. Chloral!" Poirot bangkit. "Ayo, Hastings, kita mesti segera ke sana." "Itukah yang kaukuatirkan semalam? Maksudku, waktu kaubilang kau selalu merasa ngeri menjelang akhir suatu kasus?" "Aku takut terjadi kematian lagi - ya."

Wajah Poirot geram dan kaku. Hampir tak ada yang kami percakapkan dalam perjalanan menuju Euston. Sesekali kulihat Poirot menggeleng-geleng. Takut-takut aku berkata, "Kau pikir - mungkinkah itu kebetulan saja," "Tidak, Hastings - itu bukan suatu kebetulan atau kecelakaan." "Bagaimana mungkin Tanios tahu tempat isterinya tinggal?" Poirot cuma menggeleng tanpa memberi komentar. Hotel Coniston ternyata sebuah hotel yang kurang menarik di bilangan stasiun Euston. Poirot, dengan kartu pengenalnya dan dengan gayanya yang sok penting, dengan cepat bisa menerobos ke kantor direkturnya. Faktanya sangat sederhana. Nyonya Peters, begitu katanya, dan dua anaknya tiba kurang lebih jam dua belas tiga puluh. Mereka bersantap siang pada jam satu. Pada jam empat, datang seorang lelaki membawa surat untuk Nyonya Peters. Surat itu diantarkan ke kamarnya. Tak lama kemudian Nyonya Peters turun bersama kedua anaknya dengan membawa sebuah koper. Anak-anaknya kemudian pergi dengan tamu pria tadi. Nyonya Peters lalu pergi ke kantor tata usaha. Dia mengatakan, bahwa dia cuma perlu satu kamar saja. Nampaknya Nyonya Peters biasa-biasa saja - tidak gelisah atau kebingungan sama sekali; orang malah melihatnya sebagai seorang wanita yang berpembawaan tenang dan berwibawa. Nyonya Peters turun makan malam pada jam tujuh tiga puluh dan langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Pada waktu pelayan masuk ke kamarnya pagi-pagi esok harinya, ditemuinya Nyonya Peters sudah meninggal. Dokter dipanggil dan menyatakan bahwa Nyonya Peters sudah beberapa jam lamanya meninggal. Sebuah gelas kosong ditemukan di atas meja di samping tempat tidurnya. Jelas sekali, ia minum obat tidur - tanpa sengaja, melebihi dosis. Hidrat Chloral, begitu kata dokter yang memeriksanya, mungkin jenis obat yang diminumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Nyonya Peters melakukan bunuh diri. Tidak ada surat yang ditinggalkan. Waktu orang berusaha mencari identitas Nyonya Peter untuk memberi kabar kepada keluarganya, ditemukan nama dan alamat Nona Lawson pada secarik kertas dalam tas perempuan itu. Maka Nona Lawson pun segera diberi kabar melalui telepon. Poirot menanyakan kalau-kalau ada surat atau kertas-kertas penting tertentu diketemukan.Sebagai contoh, surat yang dibawa tamu pria yang datang menjemput anak-anaknya. Tidak ada secarik kertas pun ditemukan, begitu kata pemilik hotel, tapi kelihatannya ada bekas kertas dibakar di perapian. Poirot mengangguk-angguk.

Sejauh yang diketahui orang, Nyonya Peters tidak menerima tamu, dan tak ada seorang pun yang berkunjung ke kamarnya, kecuali orang yang menjemput anakanaknya. Kutanyai portir mengenai ciri-ciri laki-laki yang menjemput kedua anak Nyonya Peters, tapi kelihatannya dia kurang ingat. Orangnya tidak terlalu tinggi - kalau tidak salah rambutnya agak pirang- tubuhnya kekar. Tapi dia yakin laki-laki itu tidak berjanggut. "Bukan Tanios," bisikku kepada Poirot. "Oh, Hasting - kaupikir, setelah susah payah menghindari suaminya seperti itu, Nyonya Tanios segampang itu akan menyerahkan anak-anaknya kepada suaminya?" "Lalu, siapa orangnya?" "Jelas dia orang yang dipercaya Nyonya Tanios, atau orang suruhan orang yang dipercaya Nyonya Tanios." "Orangnya tidak terlalu tinggi," ujarku pula. "Kau tidak perlu merisaukan bagaimana rupa laki-laki itu, Hastings. Aku yakin laki-laki itu tidak penting dalam urusan kita. Paling-paling dia cuma orang suruhan." "Dan yang menyuruhnya? Orang yang menulis surat itu?" "Ya." "Dan orang itu orang kepercayaan Nyonya Tanios." "Kelihatannya." "Surat itu dibakar oleh Nyonya Tanios." "Atas permintaan pengirimnya." "Apa yang terjadi dengan ringkasan peristiwa yang kautuliskan buatnya?" Wajah Poirot kelihatan sangat geram. "Dibakar juga! Tapi biar saja, itu tidak penting." "Tidak?" "Tidak - semuanya sudah ada dalam otak Hercule Poirot." Poirot meraih lenganku. "Ayo kita pergi. Hastings. Kita bukan berurusan dengan yang sudah mati, tapi dengan yang masih hidup. Dengan merekalah aku mesti berurusan."

BAB 29 PEMERIKSAAN LEBIH LANJUT DI PURI HIJAU

Jam sebelas pagi keesokan harinya. Tujuh orang berkumpul di Puri Hijau. Hercule Poirot berdiri dekat perapian. Charles dan Theresa duduk di sofa, Charles pada sandaran tangan sofa itu sementara sebelah tangannya merangkul bahu Theresa. Dokter Tanios duduk di kursi goyang. Matanya masih nampak merah dan sembab. Pada pergelangan tangannya melingkar ban hitam. Pada sebuah kursi tegak yang terletak dekat meja bulat, duduk pemilik rumah. Nona Lawson. Mata perempuan itu pun nampak merah. Rambutnya lebih kusut dan acak-acakan daripada biasanya. Dokter Donaldson duduk tepat menghadap kepada Poirot. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan tertentu. Semangatku tumbuh sementara kupandang wajah mereka berganti-ganti. Sejak kukenal Poirot, telah beberapa kali aku menemaninya dalam acara semacam itu - dikelilingi oleh sekelompok orang yang masing-masing nampak tenang dan berwibawa dari luar. Telah kusaksikan pula bagaimana Poirot biasanya membuka kedok mereka satu per satu - menunjukkan apa yang terdapat di balik kedok itu, wajah seorang pembunuh! Ya, aku tak ragu lagi. Seorang dari ketujuh orang yang kami hadapi itu pasti pembunuh. Tapi yang mana? Sampai sekarang aku masih bingung. Poirot berdehem - dengan congkak, seperti biasanya. Lalu ia pun mulai berbicara. "Kita semuanya berkumpul di sini, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian, untuk mempertanggungjawabkan kematian Nona Emily Arundell pada tanggal satu Mei yang lalu. Ada empat kemungkinan: Beliau meninggal secara wajar -Beliau meninggal akibat suatu kecelakaan - Beliau meninggal karena bunuh diri atau, bisa juga Beliau meninggal akibat perbuatan orang, seseorang yang mungkin dikenal atau tidak dikenal. "Pada waktu Beliau meninggal, tidak dilakukan suatu pemeriksaan pun - karena semua orang menganggap Beliau meninggal secara wajar. Hal ini ditunjang pula oleh surat pernyataan Dokter Grainger mengenai penyebab kematian Beliau. "Dalam hal terjadi keragu-raguan mengenai sebab musabab kematian seseorang setelah orang yang bersangkutan dimakamkan biasanya dilakukan penggalian makamnya dan pemeriksaan terhadap jenazahnya. Meskipun begitu, ada beberapa alasan yang mencegah saya meminta hal tersebut dilaksanakan atas diri Nona

Emily Arundell. Alasan yang paling penting ialah, karena saya tahu klien saya tidak akan menyukai cara itu." Dokter Donaldson menyela. Katanya, "Klien Anda?" Poirot berpaling kepadanya "Klien saya adalah Nona Emily Arundell. Saya bertindak atas permintaannya. Beliau menegaskan, bahwa Beliau tidak menghendaki adanya skandal." Kulompati saja apa yang dibicarakan Poirot selama sepuluh menit pertama, karena itu merupakan ulangan dari yang sudah kita ketahui. Poirot menceriterakan mengenai surat yang diterimanya, menunjukkan surat itu, dan membacakan isinya keras-keras- Ia menceriterakan pula langkah-langkah yang diambilnya pada waktu datang ke Market Basing serta menjelaskan setiap penemuannya yang berhubungan dengan kecelakaan Nona Arundell. Kemudian ia berhenti, berdehem sekali lagi, dan melanjutkan ceriteranya, "Sekarang saya akan mengajak Anda sekalian menelusuri kembali jalan yang telah saya tempuh dalam mencari kebenarannya. Saya akan menunjukkan rekonstruksi dari setiap fakta dalam kasus ini, yang saya sangat yakin akan kebenarannya. "Pertama-tama, perlu kiranya kita bayangkan sejelas-jelasnya apa yang terlintas dalam pikiran Nona Arundell. Itu, saya pikir, cukup mudah. Dia jatuh, penyebabnya diduga orang bola mainan Bob, tapi dia sendiri tahu bukan itu penyebabnya. Sementara berbaring di tempat tidur setelah mengalami kecelakaan itu, ota Nona Arundell yang giat dan cerdik itu tidak henti-hentinya berpikir memikirkan apa yang baru dialaminya itu. Beliau akhirnya sampai pada suatu kesimpulan: ada orang yang sengaja berbuat sesuatu untuk mencelakakannya -atau, bahkan membunuhnya. "Berdasarkan kesimpulan itu, Nona Arundell mulai berpikir: siapa orangnya. Ada tujuh orang yang tinggal dalam rumahnya pada waktu kecelakaan itu terjadi: empat tamu, seorang pelayan pribadinya, dan dua orang pembantu rumah tangga. Dari ketujuh orang ini, cuma seorang yang secara logis dapat dibebaskan dari tuduhan. Hal ini disebabkan karena orang yang satu ini tidak akan memperoleh keuntungan apa-apa dari kematiannya. Beliau juga tidak bisa sungguh-sungguh mencurigai kedua pembant rumah tangganya, karena mereka itu sudah bertahun-tahun mengabdi dengan setia. Karena itu, tinggal empat orang yang bisa dicurigai - tiga orang keluarganya sendiri, dan yang seorang lagi berhubungan keluarga akibat perkawinan. Masing-masing dari keempat orang itu akan mendapat keuntungan, atau tepatnya, warisan bila Nona Arundell meninggal - tiga orang mendapatkannya secara langsung, dan seorang secara tidak langsung. "Nona Arundell merasa dirinya ada pada posisi yang sulit. Di satu pihak Beliau dikenal sebagai seorang wanita yang sangat kuat rasa kekeluargaannya dan tidak mau jika keburukan keluarganya diketahui oleh orang lain. Di lain pihak, Beliau

tidak mau tinggal diam dan menyerah begitu saja atas usaha pembunuhan yang telah dilakukan terhadap dirinya! "Akhirnya Nona Arundell membuat suatu keputusan. Beliau menulis surat kepada saya. Bukan itu saja. Beliau juga mengambil langkah lebih jauh lagi. Langkah ini diambilnya karena terdorong oleh dua motif. Pertama, kecurigaannya menimbulkan rasa benci terhadap keluarganya, dan Beliau ingin menghukum mereka. Kedua, Beliau ingin melindungi diri sendiri. Seperti kita sekalian ketahui, Beliau menulis surat kepada pengacaranya, Tuan Purvis - memintanya menulis surat wasiat baru yang isinya pada dasarnya menjatuhkan seluruh kekayaannya kepada satu-satunya orang yang pada pikiran Nona Arundell sama sekali tidak punya andil dalam usaha pembunuhan itu. "Melihat isi surat yang ditulisnya kepada saya, dan juga melihat tindakantindakannya, saya merasa yakin bahwa Nona Arundell tidak lagi mencurigai keempat orang yang semula dicurigainya, melainkan seorang saja di antara mereka. Nada suratnya sangat menekankan bahwa masalah ini harus sangat dirahasiakan karena menyangkut kehormatan keluarga. "Saya pikir, Nona Arundell yang masih berpikiran seperti orang-orang zaman Victoria itu mencurigai seseorang yang menyandang nama keluarga - dan besar kemungkinan, yang dicurigainya itu seorang pria. "Seandainya Nyonya Tanios yang dicurigainya, saya yakin Beliau juga akan menekankan agar masalahnya dirahasiakan. Walaupun begitu, permintaannya itu tidak akan seserius permintaannya untuk melindungi nama baik orang yang betulbetul dicurigainya. Nyonya Tanios, bagaimanapun, tidak menyandang nama keluarga. Begitu pula dengan Theresa. "Charles merupakan seorang Arundell. ia merupakan penerus keluarga Arundell! Alasan Beliau mencurigai Charles sangat jelas. Pertama, karena Beliau sangat mengenal dan mengakui kekurangan-kekurangan pada diri Charles. Pernah Charles hampir menodai nama keluarga. Itu sebabnya Nona Arundell bukan saja berpendapat bahwa Charles patut dicurigai, melainkan menganggapnya mampu berbuat kejahatan. Charles pernah memalsukan tanda tangannya pada sebuah cek dan baginya, kalau Charles bisa melakukan kejahatan macam itu, maka tidak mustahil bila ia pun bisa melakukan kejahatan yang sedikit lebih serius, membunuh, misalnya. "Sebagai tambahan, pernah terjadi suatu percakapan di antara Nona Arundell dan Charles yang bisa memperkuat keyakinannya. Dalam percakapan yang terjadi dua hari sebelum kecelakaan itu, Charles meminta uang kepada bibinya dan ditolak. Charles kemudian memberi komentar, dengan cukup halus, yang pada dasarnya menyatakan bahwa sikap bibinya yang begitu menantang orang untuk membunuhnya. Nona Arundell menanggapi dengan mengatakan bahwa Beliau cukup bisa menjaga diri! Menurut informasi yang saya dapat, Charles menimpali

tanggapan bibinya itu dengan mengatakan, 'Jangan kelewat yakin.' - dan, dua hari kemudian, terjadilah kecelakaan yang mengerikan itu. "Tidak perlu kiranya dipertanyakan lagi bagaimana jalan pikiran Nona Arundell sementara ia berbaring bingung dan gelisah memikirkan siapa yang berusaha menghabisi nyawanya itu. Nona Arundell mengambil kesimpulan bahwa Charleslah yang merencanakan semuanya itu. "Urut-urutan kejadiannya cukup jelas. Percakapannya dengan Charles. Kecelakaannya. Surat yang ditulisnya kepada saya dalam keadaan resah. Suratnya kepada Tuan Purvis. Pada hari Selasa minggu berikutnya, tepatnya pada tanggal dua puluh satu April, Tuan Purvis datang membawa surat wasiat baru yang siap untuk ditandatangani oleh Nona Arundell. "Charles dan Theresa datang menjenguknya pada akhir pekan berikutnya, dan Nona Arundell pun segera mengambil langkah-langkah yang dirasanya perlu untuk melindungi diri. Nona Arundell mengatakan kepada Charles, bahwa Beliau telah membuat surat wasiat baru. Bukan cuma mengatakan, Beliau malah menunjukkan surat wasiatnya yang baru kepada Charles! Pada pikiran saya, maksudnya sangat jelas. Nona Arundell ingin menyatakan kepada si calon pembunuhnya bahwa dengan membunuhnya ia tidak akan memperoleh apa pun! "Mungkin Nona Arundell mengira bahwa Charles otomatis akan menceriterakan hal itu kepada adiknya. Tetapi, ternyata tidak. Mengapa? Saya pikir, Charles punya alasan yang cukup bisa diterima - dia merasa bersalah! Charles merasa bahwa akibat perbuatannyalah maka bibinya mengubah surat wasiat itu. Tapi,mengapa dia merasa bersalah? Apakah karena dia memang yang telah mencoba membunuh bibinya? Atau cuma karena dia merasa bersalah telah mencuri sedikit uang? Yang jelas, salah satu dari kedua alasan tadi membuatnya merasa tidak enak. Dia tidak memberi komentar apa-apa kepada bibinya, dan cuma berharap, bahwa pada suatu hari nanti bibinya akan mengubah pikirannya dan mengganti lagi surat wasiatnya. "Mengenai jalan pikiran Nona Arundell, saya rasa saya telah merekonstruksikannya dengan cukup jelas dan benar. Itulah sebabnya, langkah selanjutnya yang harus saya ambil adalah menyelidiki apakah kecurigaan Nona Arundell itu pada kenyataannya memang beralasan. "Seperti Beliau, saya pun sadar bahwa kecurigaan saya cuma terbatas kepada tujuh orang saja. Charles dan Theresa Arundell. Dokter dan Nyonya Tanios, serta kedua pembantu rumah tangga dan Nona Lawson. Ada orang kedelapan yang juga saya pertimbangkan - namanya, Dokter Donaldson. Dokter Donaldson datang bersantap malam d Puri Hijau pada malam terjadinya kecelakaan itu. Tapi. ini baru saya ketahui belakangan. "Ketujuh orang yang saya curigai ini dengan mudah dapat dibagi menjadi dua kategori. Enam di antaranya - sedikit atau banyak - akan mendapat keuntungan dari kematian Nona Arundell. Bila salah seorang di antara mereka yang melakukan

kejahatan, maka dapat dipastikan motifnya adalah warisan. Dalam kategori yang kedua cuma ada satu orang saja, yaitu Nona Lawson. Nona Lawson sama sekali tidak akan memperoleh keuntungan bila Nona Arundell meninggal pada kecelakaan itu, tetapi, akibat kecelakaan itu, ia mendapat keuntungan yang sangat banyak di kemudian hari. "Artinya, kalau Nona Lawson yang merencanakan kecelakaan itu..." "Saya tidak pernah berbuat seperti itu!" sela Nona Lawson. "Sangat memalukan! Berdiri di depan situ dan mengatakan begitu!" "Bersabarlah sedikit. Mademoiselle. Dan saya mohon, jangan menyela-nyela lagi." kata Poirot. Nona Lawson menghempaskan kepalanya pada sandaran kursi dengan marahnya. "Saya tetap akan memprotes! Memalukan! Ya - fitnahan itu sangat memalukan!" Tanpa mempedulikan protesnya, Poirot melanjutkan pidatonya, "Yang sedang saya ucapkan tadi ialah, bahwa bila Nona Lawson yang merencanakan kecelakaan itu. maka perbuatannya itu didasari oleh alasan yang lain - yaitu, ia berusaha menciptakan situasi sedemikian rupa supaya Nona Arundell mencurigai keluarganya dan memusuhi mereka. Itu merupakan suatu kemungkinan! Saya menyelidiki kebenaran atau kemustahilan kemungkinan itu, dan saya berhasil mendapatkan suatu fakta yang pasti. Kalau Nona Lawson memang mempunyai keinginan supaya Nona Arundell mencurigai keluarganya, dia akan menekankan fakta bahwa Bob malam itu tidak ada di rumah. Tetapi sebaliknya, Nona Lawson berusaha keras supaya Nona Arundell tidak mengetahui fakta ini. Berdasarkan hal itu, saya mengambil kesimpulan bahwa Nona Lawson tidak bersalah." Nona Lawson berkata tajam, "Nah, begitu dong!" "Selanjutnya yang saya pikirkan adalah masalah Kematian Nona Arundell. Bila orang mencoba membunuh seseorang dan gagal, biasanya ia akan mencoba lagi. Dan pada pikiran saya, jangka waktu dua minggu itu cukup masuk akal. Karena itu saya memulai penyelidikan saya. "Dokter Grainger rupanya tidak melihat adanya keanehan dalam kematian pasiennya. Pendapatnya ini tentu saja berlawanan dengan teori saya. Tetapi, setelah bertanya kepad beberapa orang mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada malam terakhir sebelum Beliau sakit, saya menemukan suatu fakta yang cukup berarti. Nona Julia Tripp menyebutkan bahwa ia melihat ada semacam lingkaran kabut bercahaya di sekeliling kepala Nona Arundell. Pernyataan ini didukung oleh saudaranya, Nona Isabel Tripp. Kedua Nona Tripp itu tentu saja menghubungkan fenomena tadi sesuai dengan keyakinan mereka, yaitu dengan hal-hal yang sifatnya magis. Pada waktu saya menanyai Nona Lawson, saya juga mendapat informasi yang sangat menarik. Nona Lawson menyatakan bahwa dia melihat ada semacam kepulan asap bercahaya yang bentuknya seperti pita keluar dari mulut Nona Arundell dan kemudian membentuk lingkaran di sekeliling kepalanya.

"Bagi saya menjadi jelas, bahwa walaupun diungkapkan secara sedikit berbeda, tapi kenyataannya memang ada dan sama. Lepas dari pemikiran kaum spiritualis, yang terjadi itu adalah sebagai berikut. Pada malam yang dimaksud, napas Nona Arundell mengandung fosfor! Dokter Donaldson bergerak. Poirot mengangguk kepadanya. "Nah, rupanya Anda mulai mengerti sekarang. Bahan yang mengandung zat fosfor dalam dosis yang tinggi tidak banyak terdapat. Tapi, yang pertama-tama saya temui dan kelihatannya cukup banyak dipakai betul-betul merupakan bahan yang memang sedang saya cari-cari. Akan saya bacakan kepada Anda sekalian cuplikan sebuah artikel mengenai keracunan zat ini. "Sebelum korban merasakan pengaruh racunnya, mula-mula napasnya akan mengandung fosfor. Nah, itulah yang disaksikan oleh Nona Lawson serta kedua kakak beradik Tripp di ruang gelap tempat mereka duduk-duduk bersama Nona Arundell. Yang mereka lihat itu tidak lain adalah napas Nona Arundell yang sudah mengandung fosfor. Selanjutnya, artikel itu menyebutkan sebagai berikut: Gejala yang muncul kemudian dapat disamakan dengan gejala-gejala umum yang biasa ditemukan pada penderita penyakit kuning. Racun fosfor merambat dan mempengaruhi jaringan-jaringan darah pada tubuh si korban. Pengaruhnya terhadap darah sama dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh kerusakan pada hati penderita sakit kuning. "Cerdik sekali, bukan? Kita semua tahu bahwa Nona Arundell telah bertahun-tahun mengidap penyakit lever, dan bahwa telah beberapa kali penyakitnya itu kambuh dengan gejala seperti yang baru saja saya sebutkan. Gejala keracunan fosfor pada dirinya cuma akan kelihatan seperti kambuhnya penyakit lama itu. Tidak ada yang baru, dan tidak akan menimbulkan kecurigaan apa pun. "Perencanaannya memang sangat sempurna! Mencari fosfor bukan pekerjaan yang terlalu sulit. Di samping itu, sedikit saja sudah bisa mematikan. Dalam obatobatan, biasanya unsur fosfor tidak melebihi seperseribu sampai seperlimaratus gram. "Voila. Pandai dan sangat mengagumkan. Dokter Grainger jelas-jelas tertipu. Itu bisa dimaafkan karena saya kebetulan tahu, bahwa indera penciuman dokter tua itu sudah rusak. Jadi, bau tajam yang dikeluarkan oleh napas pasiennya - ini merupakan salah satu gejala jelas keracunan fosfor - tidak mungkin tercium oleh dokter itu. Di samping itu Dokter Grainger memang tidak menaruh curiga sama sekali. Ini bisa dimengerti, sebab memang dia tidak menemukan gejala yang mencurigakan pada diri pasiennya. Satu-satunya gejala yang terlihat tidak dilihatnya sendiri. Dan, seandainya ia mendengar mengenai gejala ini pun, besar kemungkinan dia akan menganggapnya sebagai omong kosong penganut aliran spiritual.

"Berdasarkan kesaksian Nona Lawson dan kedua kakak beradik Tripp tadi, yakinlah saya, bahwa kematian Nona Arundell bukan kematian wajar melainkan hasil pembunuhan. Pertanyaannya ialah: siapa pelakunya? Saya tidak mencurigai pembantu rumah tangga, karena saya tahu pemikiran mereka tidak akan serumit itu. Begitu pula halnya dengan Nona Lawson. Seandainya Nona Lawson yang meracuni Nona Arundell, ia tidak akan menceriterakan tentang asap yang keluar dari mulut Nona Arundell. Charles pun saya buang dari kemungkinan ini. Charles telah melihat surat wasiat yang baru dibuat bibinya, dan ia tahu kematian bibinya tidak akan memberinya keuntungan apa pun. "Sisanya tinggal Theresa, Dokter Tanios, Nyonya Tanios, dan Dokter Donaldson. Dokter Donaldson saya masukkan dalam pertimbangan saya. karena belakangan saya tahu bahwa ia datang bersantap malam di Puri Hijau pada malam terjadinya kecelakaan Nona Arundell "Sampai di sini, saya merasa tidak banyak lagi kenyataan yang bisa membantu saya. Karena itu saya mulai menyandarkan pemikiran saya pada psikologi kejahatannya dan kepribadian pembunuhnya! Secara kasar kedua kejahatan yang dilakukan terhadap diri Nona Arundell itu mempunyai garis besar yang sama: sederhana! Keduanya hasil pemikiran licik, dan dilaksanakan dengan sangat efisien. Untuk melaksanakan ini diperlukan sejumlah pengetahuan tertentu, tetapi tidak banyak. Hal-hal yang berhubungan dengan keracunan fosfor mudah dipelajari. Di samping itu, zat kimia itu sendiri tidak terlalu sulit didapat, lebihlebih di luar negeri. "Kecurigaan saya mula-mula tertuju kepada dua pria yang mungkin melakukannya. Mereka sama-sama merupakan dokter yang pandai. Tidak mustahil kalau satu di antara mereka berpikir bahwa fosfor merupakan racun yang paling tepat digunakan dalam kasus ini. Tetapi, kemudian terpikir oleh saya, bahwa tidak mungkin percobaan pembunuhan yang pertama itu hasil pemikiran seorang pria. Pada pikiran saya, kecelakaan yang diduga disebabkan oleh bola Bob itu pasti hasil pemikiran seorang wanita. "Kecurigaan saya berpindah, mula-mula kepada Theresa Arundell. Theresa mempunyai sifat-sifat tertentu yang potensial. Keras, kasar, kurang berperasaan. Di samping itu, kehidupannya selama ini tamak dan egois. Ia selalu mendapat apa yang diingininya, dan pada saat ini ia sudah mencapai suatu titik di mana ia sangat membutuhkan uang -untuk dirinya sendiri, dan juga untuk kepentingan kekasihnya. Lain daripada itu, dari sikapnya dapat diambil kesimpulan bahwa ia tahu bibinya dibunuh. "Antara dia dan kakaknya terjadi perselisihan kecil yang sangat menarik perhatian saya. Saya mendapat kesan bahwa mereka saling mencurigai. Charles setengah memaksanya untuk mengatakan, bahwa ia tahu mengenai surat wasiat baru yang dibuat bibinya. Mengapa? Jelas kalau Theresa mengetahui adanya surat wasiat

baru itu, ia tidak akan dicurigai sebagai pembunuh. Sebaliknya, Theresa tidak percaya akan pernyataan kakaknya bahwa Nona Arundell menunjukkan surat wasiat baru itu kepadanya. Theresa menganggap pernyataan kakaknya itu sebagai usaha yang janggal untuk membebaskan dirinya sendiri dari kecurigaan. "Ada satu hal lagi yang cukup penting. Charles menunjukkan keengganan menggunakan kata 'arsenik'. Belakangan baru saya tahu, bahwa ia pernah menanyakan kekuatan obat pembasmi semak-semak pada tukang kebun tua di Puri Hijau. Apa yang dipikirkan Charles jelas terlihat." Charles menggeserkan duduknya sedikit. "Saya memang pernah memikirkan itu," ujarnya. "Tapi - yah, saya merasa takut." Poirot mengangguk. "Tepat, itu memang bukan ciri psikologi Anda. Kalau Anda melakukan kejahatan, kejahatan itu pasti sifatnya lemah. Mencuri, memalsu - ya, yang mudah-mudah semacam itulah! Tapi membunuh -tidak.' Untuk membunuh, seseorang perlu pikiran yang bisa dibakar oleh ide tertentu." Poirot kembali pada posisinya sebagai pemberi ceramah. "Menurut pendapat saya. Theresa Arundell punya cukup kekuatan untuk melaksanakan kejahatan semacam itu. tetapi ada beberapa hal yang patut dipertiimbangkan. Theresa belum pernah dikekang - hidupnya selalu bebas dan egois. Tapi tipe orangnya bukan tipe orang yang bisa membunuh - kecuali, mungkin dalam keadaan sangat marah. Walaupun begitu, saya merasa yakin Theresa-lah yang mencuri obat pembasmi semak dari kalengnya." Tiba-tiba Theresa berkata, "Saya akan menceriterakannya secara jujur. Itu memang terlintas dalam pikiran saya. Dan saya memang mengambil sedikit obat pembasmi semak itu dari sebuah kaleng di kebun Puri Hijau. Tetapi saya tak sampai hati buat melakukannya! Saya begitu senang hidup - bersyukur bahwa saya diberi hidup dan saya merasa tidak tega melakukan hal itu kepada orang lain - mengambil hidup orang lain.... Saya memang jelek dan egois, tapi ada hal-hal tertentu yang tidak bisa saya lakukan! Saya tidak tega membunuh orang yang jelas-jelas masih hidup, masih bernapas!" Poirot mengangguk. "Yang Anda katakan memang benar. Mademoiselle. Dan And sebetulnya tidak sejelek yang Anda gambarkan. Anda cuma muda - dan sembrono." Kemudian lanjutnya, "Satu-satunya yang tertinggal adalah Nyonya Tanios. Begitu bertemu dengannya, saya sadar bahwa ia ketakutan. Ia tahu bahwa saya menyadari hal itu, dan dengan cepat menggunakan kesempatan itu. Ia memberikan gambaran yang begitu meyakinkan tentang dirinya sendiri sebagai seorang wanita yang takut pada suaminya. Tak lama kemudian ia mengubah taktiknya. Ini dilakukannya dengan teramat cermat - tapi toh perubahannya tak lepas dan pengamatan saya. Seorang wanita bisa merasa takut untuk suaminya, dan bisa juga takut pada

suaminya tapi yang jelas, tidak kedua-duanya sekaligus. Nyonya Tanio memutuskan untuk berperan sebagai yang kedua, dan ia memerankannya dengan bagus sekali - bahkan sampai berlari mengejar saya ke lobby hotel berpura-pura hendak mengatakan sesuatu. Ketika suaminya keluar mencarinya -kemungkinan ini sudah diperhitungkannya - ia berpura-pura tidak dapat berbicara di hadapan suaminya. "Segera saya menjadi sadar, bahwa ia bukan takut pada suaminya melainkan membenci suaminya. Dan segera pula saya merasa yakin, bahwa inilah sifat yang saya cari-cari. ia bukan seorang wanita yang selalu memanjakan dirinya sendiri, melainkan seorang wanita yang terkekang. Seorang gadis sederhana, tidak bisa menarik perhatian lelaki yang diingininya, da akhirnya menerima seorang pria yang tida dicintainya cuma karena takut menjadi perawan tua. Saya bisa menelusuri kembali ketidakpuasan dalam hidupnya yang makin hari makin dirasakannya. Kehidupan di Smyrna mengasingkannya dari segala yang dicintainya dalam hidupnya. Kemudian lahirlah anak-anaknya, dan ia pun melekatkan hidupnya pada mereka. "Suaminya sangat setia kepadanya, tetapi ia diam-diam jadi semakin membencinya. Suaminya pernah menggunakan uangnya untuk berspekulasi, dan uangnya tidak pernah kembali - itu merupakan salah satu penyebab perasaan dendamnya. "Cuma ada satu hal yang menjadi titik terang dalam hidupnya yang merana itu: harapannya akan kematian bibi Emilynya. Dengan kematian bibinya ia akan memperoleh uang, kebebasan, biaya untuk pendidikan anak-anaknya - seperti yang selama ini menjadi cita-citanya. Ada satu hal yang patut diingat, baginya pendidikan merupakan hal yang sangat penting: dia puteri seorang profesor. "Ada kemungkinan dia sudah merencanakan kejahatan yang akan dilakukannya, paling tidak sudah punya bayangan - sebelum ia datang di Inggris. Dia mempunyai pengetahuan yang cukup dalam bidang kimia, karena dulunya ia banyak menghabiskan waktunya membantu ayahnya di laboratorium. Ia tahu penyakit yang diderita Nona Arundell, dan sadar bahwa fosfor merupakan zat paling ideal untuk merealisasikan rencananya. "Tapi, ketika sampai di Puri Hijau, cara yang lebih sederhana terpikir olehnya. Bola Bob - seutas tali atau benang direntang di tangga. Ini adalah ide sederhana yang bisa terpikir oleh seorang perempuan yang bodoh sekalipun. "Dia mencoba - tapi gagal. Saya pikir, ia tidak sadar bahwa Nona Arundell sesungguhnya tahu penyebab kecelakaannya. Bagaimanapun, kecurigaan Nona Arundell tertuju pada Charles seorang. Dan karenanya, saya pikir, sikap Nona Arundell terhadap Bella tidak berubah. Diam-diam, dan dengan tekad yang bulat, perempuan pendiam yang tidak bahagia dan ambisius itu melaksanakan apa yang semula telah direncanakannya.-Ia menemukan media yang cocok sekali untuk

racunnya, yaitu sejenis kapsul yang selalu diminum oleh Nona Arundell selelah makan. Membuka kapsul, memasukkan fosfor ke dalamnya, dan menutup kapsul itu kembali -merupakan permainan anak kecil. Kapsul tadi dikembalikannya ke dalam botolnya. Cepat atau lambat Nona Arundell pasti akan meminumnya. Orang tidak mungkin mengira Nona Arundell keracunan. Seandainya toh terbukti bahwa Nona Arundell keracunan, ia sendiri sudah tidak ada di dekat-dekat Market Basing. "Meskipun begitu, ia masih mengambil langkah buat berjaga-jaga. Dengan memalsu tanda tangan suaminya pada lembaran resep, ia membeli hidrat chloral di apotek. Maksudnya tidak saya ragukan lagi - untuk disimpan dan digunakan bila suatu ketidakberesan terjadi. "Seperti telah saya katakan tadi, saya yakin sejak saat pertama bertemu dengannya, bahwa Nyonya Tanios adalah orang yang saya cari-cari - tapi saya sama sekali tidak mempunyai - bukti. Karena itu, saya harus berhati-hati sekali. Saya kualir Nyonya Tanios akan memakan korban lagi bila tahu bahwa saya mencurigainya. Lebih lanjut, saya sudah bisa membayangkan siapa korban berikut yang diincarnya. Ia ingin membebaskan hidupnya dari suaminya. "Pembunuhan yang telah dilakukannya ternyata tidak membawa hasil yang diharapkannya, uang yang diidam-idamkannya semuanya jatuh ke tangan Nona Lawson! Itu merupakan pukulan buatnya, tetapi ia tidak habis akal. ia mulai mempengaruhi perasaan Nona Lawson dengan cara yang begitu pandai supaya Nona Lawson semakin merasa tidak enak. Tiba-tiba terdengar tangis terisak-isak. Nona Lawson mengeluarkan saputangannya dan menangis tersedu-sedu. Jahat," isaknya. "Saya jahat! Sangat jahat. Oh, saya pernah merasa begitu kepingin tahu mengenai surat wasiat itu - maksud saya, mengapa Nona Arundell menulis surat wasiat baru. Pada suatu hari, ketika Nona Arundell sedang mengaso, saya mencoba-coba membuka laci meja tulisnya. Pada waktu itu saya tahu bahwa ia mewariskan semua kekayaannya kepada saya! Saya tidak pernah membayangkan akan menerima warisan sebegitu banyak. Beberapa ribu saja - itu yang saya bayangkan. Saya jadi berpikir - mengapa tidak? Toh keluarganya tidak ada yang sayang kepadanya! Tetapi kemudian, pada waktu ia sakit keras, ia menanyakan surat wasiatnya. Saya tahu - dia bermaksud menyobek surat wasiat itu.... Di situ kejahatan saya timbul. Saya katakan kepadanya, bahwa surat itu sudah dikembalikan kepada pengacaranya, Tuan Purvis. Saya tahu dia orangnya. Sangat pelupa. Dia tidak ingat lagi apa-apa yang pernah dilakukannya. Dan, dia percaya pada kata-kata saya. Dia menyuruh saya menulis kepada Tuan Purvis, meminta kembali surat wasiat itu, dan saya bilang ya. "Oh, Tuhan... tapi dia semakin gawat sakitnya, dan tidak bisa berpikir lagi. Lalu dia meninggal. Dan. ketika surat wasiat itu dibacakan, saya merasa bersalah. Tiga ratus tujuh puluh lima ribu pound. Oh. kalau tahu jumlahnya sebanyak itu, saya

tidak akan berbuat jahat. Saya pikir uang yang diwariskan Nona Arundell itu cum beberapa ribu saja. Sungguh -kalau tahu sebanyak itu, saya tidak akan membohongi Nona Arundell. "Saya merasa saya telah merampas uang sebanyak itu, dan saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan dengan uang sebanyak itu. Waktu Bella datang ke tempat saya, saya katakan kepadanya, bahwa dia akan saya beri separuh dari uang yang saya terima itu. Pada waktu itu saya merasa yakin, bahwa dengan begitu saya bisa merasa gembira lagi dan bebas dari perasaan bersalah." "Betul, bukan? Nyonya Tanios berhasil mencapai sasarannya," sambung Poirot. "Itu sebabnya ia menentang keinginan sepupu-sepupunya untuk memperkarakan surat wasiat itu. Dia sudah punya rencana sendiri, dan yan jelas-jelas tak mau dilakukannya adalah menyerang Nona Lawson. ia berpura-pura bahwa ia perlu merundingkannya dulu dengan suaminya, tapi sama sekali tidak menyembunyikan pendapatnya pribadi. "Pada waktu itu ada dua hal yang menjadi tujuannya: memisahkan diri bersama kedua anaknya dari suaminya, dan menerima bagian uang yang dijanjikan oleh Nona Lawson. Setelah itu ia akan menjadi seperti yang dicita-citakannya-hidup kaya dan tenang di Inggris bersama anak-anaknya. "Lama-kelamaan ia tidak bisa menyembunyikan rasa bencinya terhadap suaminya. Tentu saja suaminya merasa sangat bingung dan sedih. Ia tidak bisa mengerti mengapa isterinya jadi bertingkah laku begitu. Padahal sebenarnya tingkah lakunya itu logis. Dia sengaja bertingkah laku seperti orang yang menderita semacam kelainan jiwa - orang yang selalu dibayangi oleh perasaan takut. Ia sadar, bahwa saya mencurigai kematian Nona Arundell bukan kematian wajar melainkan suatu pembunuhan. Dan ia berusaha meyakinkan diri saya, bahwa suaminyalah yang melakukan pembunuhan itu. Sementara itu saya sadar, bahwa setiap saat bisa terjadi pembunuhan yang kedua. Saya yakin itu sudah direncanakannya. Saya tahu bahwa ia menyimpan chloral dengan dosi berlebih. Saya kuatir ia akan memproklamirkan bahwa suaminya bunuh diri. "Tapi, saya tetap belum punya bukti untuk mempermasalahkannya! Ketika saya sudah hampir putus asa, saya menemukan sesuatu! Nona Lawson menceriterakan bahwa dia melihat Theresa Arundell berlutut di tangga pada hari Senin malam setelah Paskah. Berdasarkan pengamatan saya, tidak mungki Nona Lawson bisa melihat wajah Theresa dengan jelas. Meskipun begitu, Nona Lawson sangat pasti bahwa yang dilihatnya itu Theresa. Dalam keadaan terpojok oleh pertanyaanpertanyaan saya, Nona Lawson teringat akansesuatu yang membuatnya merasa pasti bahwa yang dilihatnya itu Theresa. Perempuan yang dilihatnya dari cerminnya mengenakan bros dengan inisial Theresa - T.A. "Atas permintaan saya, Theresa menunjukkan bros termaksud kepada saya. Pada waktu itu Theresa menyangkal bahwa ia pernah melakukan sesuatu di tangga.

Mula-mula, say mengira ada orang lain yang meminjam bros itu, tetapi - ketika saya melihat bros itu di depan cermin saya segera tahu kebenarannya. Nona Lawson yang terbangun dengan kaget melihat seorang wanita mengenakan bros dengan inisial T.A. dari cermin di kamarnya. Dari situ dia menyimpulkan bahwa yang dilihatnya itu adalah Theresa Arundell. "Tetapi, bila yang dilihat Nona Lawson dicerminnya itu inisial T.A. - maka inisial tersebut sesungguhnya adalah kebalikannya, yakni A.T. Cermin selalu merefleksikan kebalikan dari yang sesungguhnya - yang kanan jadi nampak di sebelah kiri, dan yang kiri jadi nampak di sebelah kanan. "Tentu saja ibu Nyonya Tanios bernama Arabella Arundell. Bella merupakan kependekan dari nama itu. Jadi, A.T. sebenarnya merupakan inisial Arabella Tanios. Bahwa Nyonya Tanios memiliki bros semacam itu, bukanlah merupakan hal yang aneh. Bros semacam itu masih merupakan barang eksklusif sekitar hari Natal tahun lalu. Tapi, menjelang musim semi tahun ini imitasinya mulai dijual dengan harga murah. Di samping itu, saya pernah mendengar, Nyonya Tanios suka meniru model pakaian dan topi yang dikenakan Theresa dengan biaya yang tentu saja terbatas. "Berdasarkan penemuan itu, secara pribadi saya berpendapat bahwa kasusnya telah terbukti. "Lalu, apa yang selanjutnya mesti saya lakukan? Meminta yang berwenang supaya mengeluarkan surat perintah buat membongkar kubur Nona Arundell? Saya yakin itu bisa saya lakukan. Mungkin saya akan bisa membuktikan bahwa Nona Arundell memang meninggal karena diracuni dengan fosfor. Tapi saya kurang yakin bahwa hal itu bisa dibuktikan. Bagaimanapun, sudah lebih dari dua bulan Nona Arundell dimakamkan. Di samping itu, saya dengar dalam beberapa kasus keracunan fosfor tidak nampak adanya bekas-bekas tertentu pada jenazah korbannya. Tapi, bisakah saya membuktikan bahwa Nyonya Tanios menyimpan atau memiliki fosfor? Saya ragu, karena besar kemungkinan fosfor itu dibelinya di luar negeri. "Pada saat saya bingung memikirkan bagaimana mendapatkan bukti yang saya perlukan. Nyonya Tanios mulai bertindak. Ia meninggalkan suaminya, dan menjatuhkan dirinya pada rangkulan belas kasihan Nona Lawson. Ia sekaligus menuduh suaminya sebagai pembunuh. "Kalau saya tidak bertindak, saya yakin Dokter Tanios akan menjadi korban pembunuhan berikutnya. Saya berusaha memisahkan mereka satu sama lain dengan alasan demi keselamatan Nyonya Tanios. Nyonya Tanios tidak bisa menolak anjuran saya itu. Padahal maksud saya yang sebenarnya adalah demi keselamatan suaminya. Dan kemudian -dan kemudian..." Poirot berhenti - kali ini cukup lama. Wajahnya nampak sedikit pucat. "Tapi itu cuma buat sementara. Saya harus berbuat sesuatu agar si pembunuh tidak membunuh orang lain lagi. Saya harus melindungi orang yang tidak bersalah.

"Maka saya pun menuliskan rekonstruksi kasusnya dan menyerahkan tulisan saya itu kepada Nyonya Tanios." Lama Poirot tidak menyambung bicaranya. Dokter Tanios menjerit, "Ya, Tuhan... jadi itu sebabnya dia bunuh diri." Lembut Poirot berkata, "Bukankah itu jalan yang paling baik? Nyonya Tanios menganggapnya begitu. Masih ada anak-anak yang perlu dipikirkan." Dokter Tanios menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Poirot mendekatinya dan memegangi bahu pria itu. "Memang begitu seharusnya. Percayalah, itu memang harus terjadi. Kalau tidak, akan bertambah jumlah korbannya. Mula-mula Anda sendiri, lalu -sangat mungkin Nona Lawson juga. Dan belum tentu ini tidak akan berlanjut lagi." Dengan suara serak Tanios berkata, "Pernah dia menyuruh saya - minum obat tidur... Tapi, saya lihat ada sesuatu pada wajahnya - saya buang obat itu. Itulah mula-mulanya saya merasa yakin bahwa pikirannya tidak..." "Bila dipikir-pikir, ada benarnya juga dugaan Anda itu. Tapi bukan dalam arti kata yang sebenarnya. sebab - sesungguhnya dia tahu apa arti tindakannya...." Amat sedih kedengarannya suara Dokter Tanios waktu ia mengatakan. "Padahal... dia baik sekali - selalu terasa terlalu baik buatku." Kenangan yang aneh akan seseorang yang mengaku dirinya pembunuh!

BAB 30 PENUTUP Hampir tidak ada lagi yang mesti kuceriterakan. Theresa kawin dengan dokter pujaan hatinya tidak lama setelah peristiwa itu. Mereka kukenal dengan baik sekarang ini, dan aku mulai menghargai Donaldson jalan pikirannya yang jernih, serta kekuatan dan kemanusiaannya. Memang sikapnya masih kaku seperti dulu, Theresa sering menirukan sikap kakunya itu waktu bergurau. Kelihatannya Theresa sangat berbahagia, perhatiannya tercurah pada karir suaminya. Donaldson memang sudah mulai punya nama dan kedudukan yang terpandang di kalangannya. Nona Lawson, karena merasa begitu bersalah, bersikeras mengembalikan setiap sen yang pernah diterimanya. Tapi akhirnya, dengan bantuan Tuan Purvis,

dibuatlah suatu surat persetujuan bersama -warisan Nona Arundell dibagi sama rata untuk Nona Lawson, Theresa, Charles, dan kedua anak Tanios. Bagian Charles sudah habis dalam waktu setahun lebih sedikit. Pemuda itu saat ini. kalau tidak salah, berada di British Columbia. Ada dua insiden yang patut kucatat. "Anda memang pandai, bukan?" tanya Nona Peabody ketika kami melangkah ke luar dan halaman Puri Hijau pada suatu hari. "Bisa menghentikan segala desasdesus! Tidak jadi digali kubur Emily, bukan? Semuanya kalian lakukan dengan sopan." "Tidak diragukan lagi kematian Nona Arundell memang disebabkan oleh penyakit kuning karena levernya kambuh," komentar Poirot halus "Kedengarannya memuaskan," ujar Nona Peabody pula. "Oh, ya - dengar-dengar Bella Tanios minum obat tidur kelewat banyak?" "Ya. Sangat menyedihkan." "Yah - hidupnya sangat menyedihkan - anak itu - selalu ingin yang tidak dipunyainya. Orang sering kali jadi gila kalau menuruti perasaan seperti itu. Pernah ada pembantu, tukang masak. Begitu juga. Anaknya sederhana. Sadar akan kenyataan itu. Ingin terkenal. Mulai menulis surat kaleng. Masuk rumah sakit gila akhirnya. Tapi, yah - mungkin itu yang terbaik." "Orang memang selalu mengharapkan yang paling baik, Madame." "Yah," kata Nona Peabody sambil bersiap-siap hendak meneruskan perjalanannya, "Kuakui, Anda benar-benar pandai. Bisa menghentikan desas-desus dengan cara yang begitu bagus," Ia pergi. Kudengar bunyi 'Guk' di belakangku. Aku berbalik, membukakan pintu. "Ayo, Bob!" Bob menerobos ke luar. "Jangan bawa Bob itu ke jalan!" Bob mengeluh, tapi dengan enggan segera mendorong bolanya ke dalam pagar. Dipandang bolanya yang menggelinding, setelah itu ia pun kembali ke dekatku. Ia memandangku. "Kuturuti perintahmu, Tuan." Kutarik napas panjang. "Oh, Poirot - senang sekali rasanya punya anjing lagi." "Ingat, Kawan," ujar Poirot, "Nona Lawson menghadiahkan anjing itu kepadaku, bukan kepadamu." "Aku tahu." sahutku. "Tapi kau toh kurang suka anjing, Poirot. Kau tidak mengerti jiwa seekor anjing! Bob dan aku saling mengerti satu sama lain. Betul kan, Bob?" "Guk," sahut Bob penuh semangat. -End-

Edited by: Farid ZE Blog Pecinta Buku PP Assalam Cepu