Anda di halaman 1dari 9

1.

PENDAHULUAN Pelayanan kefarmasian saat ini telah bergeser orientasinya dari pelayanan obat (drug oriented) menjadi pelayanan pasien (patient oriented). Kegiatan pelayanan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat berubah menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, maka apoteker dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilakunya agar mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lain secara aktif dan berinteraksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat dan mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik. Sebagai upaya peningkatan pemahaman tentang peran, fungsi, dan tanggung jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian maka dilaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilaksanakan pada bulan Juli hingga bulan Januari 2013 yang terdiri dari tiga tempat praktek, yaitu rumah sakit, apotek, dan industri, Praktek kerja profesi apoteker di industri farmasi bertujuan untuk mengetahui kompetensi apoteker di industri farmasi yaitu khusus industri obat. Sesuai PP 51 th 2009 tentang pekerjaan kefarmasian dan Permenkes 1799 th 2010 tentang industri farmasi. Kompetensi apoteker di industri farmasi diantaranya mampu melakukan pengawasan terhadap mutu produk, pemastian mutu produk, menetapkan kondisi penyimpanan produk dan waktu kadaluarsa produk sehingga dihasilkan produk yang bermutu sesuai dengan yang telah distandarkan. Praktek kerja profesi apoteker di bidang apotek dilaksanakan agar calon apoteker dapat memahami kompetensi apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian di apotek, melaksanakan perencanaan dan pengadaan barang, serta dibidang pharmaceutical care meliputi konsultasi, informasi, edukasi yang berkaitan dengan obat dan perbekalan kesehatan kepada pasien. Selain itu juga mengetahui peraturan (UU, PP, Kepmenkes) yang terkait apotek dan pekerjaan kefarmasian di apotek serta membandingkan langsung penerapan peraturan tersebut. Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit sangat penting, hal ini diperjelas dalam Kepmenkes RI No.1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Untuk itu dilakukan Praktek kerja profesi Apoteker di bidang Rumah Sakit. Pada praktek kerja profesi apoteker di bidang rumah sakit, kompetensi apoteker di rumah sakit ada dua, yaitu fungsi manajemen dan fungsi klinis. Kegiatan kefarmasian di rumah sakit dimulai dari pengelolaan obat hingga pelayanan kefarmasian yang bersifat klinis dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien, termasuk melaksanakan fungsi konsultasi, informasi, dan edukasi yang berkaitan dengan penggunaan obat untuk pasien dan keluarganya. Serta memahami peraturan yang terkait dengan pelayanan kefarmasian di rumah sakit

II. PKPA INDUSTRI PRAKTEK KERJA PROFESI INDUSTRI a. Waktu dan Tempat Waktu : 7 Januari-28 Januari 2013 Tempat : Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan angkatan Darat Jl. Gudang utara Nomor 25-26, Bandung b. Materi PKP Pengenalan lingkungan Lafi Ditkesad Instalasi Produksi CPOB Pengawasan Mutu PPIC Penelitian dan Pengembangan Personalia Instalasi Pemeliharaan dan Sistem Penunjang Penanganan limbah

c. Kesimpulan 1. Lafi Ditkesad adalah industri farmasi milik TNI-AD yang khusus memproduksi obat-obat dan hanya dipergunakan untuk prajurit, PNS TNI-AD beserta keluarganya , sehingga obat-obat tersebut tidak untuk diperdagangkan secara bebas. 2. Lafi Diitkesad telah memiliki struktur organisasi yang jelas yang menguraikan tugas dan tanggung jawab secara jelas pada setiap bagiannya 3. Bangunan dan fasilitas yang dimiliki Lafi Ditkesad telah dikonstruksi, didesain dengan baik sehingga menghindari resiko pencemaran silang dan memudahkan dalam prosedur pemeliharaan dan pembersihan. Tetapi terdapat kekurangan terutama pada area penyimpanan seperti pada gudang transit di Instalasi Penyimpanan. Pada pintu gudang masih terdapat celah-celah kecil yang memungkinkan masuknya cahaya dan udara luar yang bisa mempengaruhi kondisi penyimpanan di ruangan tersebut. 4. Pengawasan Mutu Lafi Ditkesad telah dilengkapi dengan sarana yang memadai berupa laboratorium pengujian kimia, fisika maupun mikrobiologi.

Kegiatan pengawasan mutu yang dilakukan di Lafi Ditkesad meliputi sampling, testing, spesifikasi dan inspeksi. 5. Lafi Ditkesad memiliki sistem pengolahan limbahh cair yang sudah berjalan dengan baik dan memenuhi persyaratan dan sesuai dengan parameter baku mutu lingkungan. 6. Secara umum Lafi Ditkesad sudah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

III. PKPA APOTEK

1. Waktu dan Tempat Waktu : 18 Februari 2013 31 Maret 2013 Tempat : Apotek Kimia Farma Padang 2. Materi PKPA A. Aspek hukum tentang pendirian, permohonan izin apotek dan pelayanan kefarmasian sehari-hari di apotek Memahami aspek hukum terkait tata cara pendirian apotek Memahami aspek hukum tentang permohonan izin apotek Memahami peraturan perundang-undangan tentang pelayanan kefarmasian diapotek Memahami aspek hukum tentang obat-obat yang tersedia di apotek (penggolongan obat, penanganan obat berdasarkan golongannya, OWA, OTC) B. Aspek administrasi dan manajerial di apotek Memahami tata cara pelayanan obat dan perbekalan farmasi lainnya di apotek Memahami aspek-aspek manajerial dan administrasi di apotek Memahami tata cara pengarsipan, dokumentasi dan pelaporan obat dan perbekalan farmasi lainnya di apotek Memahami aspek pekerjaan kefarmasian di apotek terkait pengelolaan perbekalan farmasi. C. Aspek pekerjaan kefarmasian meliputi pelayanan resep, peracikan obat dan penyerahan obat Membaca dan memahami resep Memahami syarat-syarat atau kelengkapan resep yang memenuhi aturan perundang-undangan farmasi Memahami langkah-langkah dalam meracik obat sesuai resep yang diterima Memahami prinsip dasar compounding dan perhitunganperhitungan praktis sesuai dosis obat dan signa pada resep Mengetahui informasi apa saja mengenai pasien yang harus diketahui terkait resep yang akan diproses (antisipasi reaksi alergi, adverse effect dari obat)

D. Aspek pekerjaan kefarmasian (asuhan kefarmasian) Memahami aspek hukum tentang patient counseling Memahami prinsip-prinsip dasar KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) pasien Memiliki pengetahuan dasar sebagai bekal untuk pelaksanaan KIE (informasi obat, efek samping, interaksi obat, cara minum obat dan hal-hal penting yang harus diketahui pasien tentang obat yang diserahkan di apotek agar tujuan terapi tercapai) Memahami manajemen pengadaan di apotek Kimia Farma Memahami tata cara pengelolaan narkotika dan psikotropika di apotek Kimia Farma Memahami tata cara stok opname 3. Kesimpulan Peran dan tanggung jawab Apoteker di apotek adalah memimpin dan mengatur seluruh kegiatan apotek, baik pengelolaan pembekalan farmasi maupun kegiatan administrasi keuangan, personalia, dan administrasi. PT Kimia Farma Apotek terdiri atas Bisnis Manager (BM) dan Apotek Pelayanan. Apotek BM membawahi beberapa Apotek Pelayanan yang berada dalam suatu wilayah. Apotek BM bertugas menangani pembelian, penyimpanan barang dan administrasi apotek pelayanan yang berada di bawahnya. Apotek Kimia Farma melayani penjualan langsung melayani resep dokter dan menyediakan pelayanan lain, misalnya praktek dokter, alkes, optik dan pelayanan OTC (swalayan) serta pusat pelayanan informasi Obat. Apotek Kimia Farma dipimpin oleh tenaga Apoteker yang bekerja full timer sehingga dapat melayani informasi obat dengan baik. Peranan apoteker penanggung jawab apotek di apotek Kimia Farma sudah berjalan sebagai mana mestinya. Sistem manajemen di apotek Kimia Farma berjalan dengan baik, dimana dibantu oleh sistem komputerisasi Pencatatan obat di apotek Kimia Farma selain dicatat dikartu stok, juga dicatat dikomputer dengan jumlah yang sesuai Penataan obat di apotek Kimia Farma ditata sesuai abjad beredasarkan bentuk sediaan, efek farmakologi, fast moving, golongan obat, dan obat generik Gudang obat sementara apotek Kimia Farma masih terlalu kecil, sehingga tidak memadai untuk jumlah obat yang banyak. Administrasi di apotek Kimia Farma meliputi pencatatan defekta, pencatatan stok barang, pencatatan permintaan barang, pencatatan penerimaan barang, rekap resep, dan laporan.

IV. PKPA RUMAH SAKIT

1. Waktu dan Tempat Praktek kerja profesi bidang rumah sakit dilaksanakan dari tanggal 8 April 2013 28 Juni 2013 di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi, di instalasi farmasi dan lima bangsal yang berbeda masing-masingnya selama tiga minggu. Bangsal Neuro : 8 April 26 April 2013 Instalasi Farmasi : 29 April 17 Mei 2013 Bangsal Anak : 20 Mei 8 Juni 2013 Bangsal Interne : 10 Juni 28 Juni 2013 2. Materi PKPA A. Pengenalan secara umum RSSN Bukittinggi (Organisani rumah sakit dan farmasi rumah sakit) Klasifikasi RS Struktur organisasi RS Panitia farmasi dan terapi/ komite farmasi dan terapi Struktur organisasi farmasi RS Standar pelayanan FRS Akreditasi RS B. Pengelolaan perbekalan farmasi di RS 1. Perencanaan dan seleksi : a. Anggaran obat b. Sistem perencanaan c. Pemilihan supplier 2. Pengadaan : a. Prioritas pengadaan b. Metoda pengadaan 3. Penyimpanan : a. Tata letak sistem pergudangan RS b. Sistem penyimpanan 4. Distribusi a. Sistem distribusi b. Pengendalian distribusi C. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Apotek rawat inap dan rawat jalan Gudang farmasi Produksi dan sterilisasi

D. Laporan Studi Kasus (Case Report Study) Bangsal Neuro (Stroke Iskemik) Instalasi Farmasi (Perhitungan Kebutuhan Sumber Daya Manusia) Bangsal Anak (Diare akut ) Bangsal Interne (Demam Berdarah Dengue) E. Pengakajian penggunaan obat dan pengisisan kertas kerja farmasi F. Visite dengan Dokter G. Follow up pasien H. Konseling pasien 5. Kesimpulan Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi adalah rumah sakit khusus tipe B yang yang berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan dan menjalankan praktek pelayanan kefarmasian di rumah sakit Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) sebagai rumah sakit khusus tidak hanya melayani pasien stroke saja melainkan juga melayani sekitar 25 % kasus diluar stroke. Rumah sakit ini terdiri atas bangsal neuro, bangsal interne, dan bangsal anak. Selain melayani pasien rawat inap, RSSN Bukittinggi juga melayani pasien rawat jalan melalui poliklinik yang terdiri atas poliklinik penyakit saraf, poliklinik bedah saraf, poliklinik penyakit dalam, poliklinik kesehatan anak, poliklinik kesehatan jiwa, poliklinik kesehatan gigi dan mulut, poliklinik mata, dan poliklinik jantung dan pembuluh darah. Kegiatan instalasi farmasi rumah sakit meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan dan penyimpanan, pendistribusian, pengendalian dan penghapusan serta pencatatan dan pelaporan obat, alkes, dan perbekalan farmasi Sistem disribusi obat yang dipakai di apotek rawat inap RSSN Bukttinggi adalah UDD yang dimodifikasi menjadi ODD (one day dispensing) yaitu pendistrbusian obat per pasien untuk satu hari pemakaian (siang, malam, dan pagi) namun penyerahan obat dilakukan per satu kali pakai. Secara umum, Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan yang sudah dilakukan dirumah sakit antara lain mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien, mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan, memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan, memberikan informasi kepada pasien/keluarga, memberi konseling kepada pasien/keluarga, melakukan pencatatan setiap kegiatan dan melaporkan setiap kegiatan. Pengadaan obat-obatan di RSSN berasal dari pembelian, produksi sendiri sediaan farmasi dan sumbangan atau hibah. Untuk pembelian, RSSN mempunyai beberapa rekanan dengan distributor baik lokal maupun luar daerah, seperti dari Pekanbaru dan Jakarta. Pengadaan di rumah sakit tidak hanya meliputi pengadaan terhadap kebutuhan medis, tetapi juga pengadaan
7

terhadap kebutuhan nonmedis dan bangunan. Namun, di RSSN sendiri panitia pengadaan ini dibuat terpisah, dimana panitia pengadaan obat dipisahkan dari panitian pengadaan yang lain. Kondisi gudang perbekalan farmasi Rumah Sakit Stoke Nasional (RSSN) Bukittinggi untuk saat ini masih belum optimal, dimana penyusunan obat belum berdasarkan bentuk sediaan, alfabetis, ataupun kelas terapinya. Suhu dan kelembapan pun belum dikontrol secara benar. Selain itu, tidak adanya tempat khusus untuk menyimpan obat-obatan kadaluarsa atau solusi utuk memusnahkan obat-obatan tersebut, menyebabkan gudang penyimpanan menjadi semakin sesak oleh barang-barang yang tidak digunakan lagi serta dikhawatirkan dapat memberikan pengaruh terhadap barang-barang lain disekitarnya.

V. PENUTUP

Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker sangat bermanfaat bagi mahasiswa calon apoteker dimana mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sehingga mahasiswa mendapat gambaran tentang bagaimana kelak nanti berada di dunia kerja. Berdasarkan pengalaman PKP, peran apoteker di apotek, rumah sakit, dan industri berbeda. Di apotek, apoteker berperan dalam peracikan, termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter serta pelayanan informasi obat kepada pasien di apotek. Apoteker harus memahami dan menyadari kemunglinan terjadinya medication error dalam proses pelayanan. Selain itu, apoteker juga berperan dalam bidang managemen apotek yaitu menyusun prosedur tetap yang digunakan di apotek, mengelola obat, sumber daya manusia, peralatan dan uang di apotek, dan mengelola sumber daya di apotek tersebut secara efektif dan efisien. Di bidang rumah sakit apoteker berperan secara klinis dan managemen. Secara klinis Apoteker berperan dalam mendampingi dokter untuk memberikan terapi yang tepat bagi pasien, memberikan konseling kepada pasien tentang penggunaan obatnya, memonitor efek samping yang timbul karena pengobatan, menyesuaikan regimen dan dosis obat yang digunakan pasien. Apoteker bertanggung jawab untuk penggunan obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat yang digunakan oleh pasien. Peranan apoteker dalam fungsi managemen farmasi rumah sakit telah berjalan dengan baik meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan pengendalian, distribusi, pencatatan pelaporan serta evaluasi. Walaupun tidak semua kompetensi apoteker di ketiga tempat tersebut di dapatkan selama PKP, setidaknya sudah memberikan pengalaman praktis tentang bagaimana kompetensi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian dan mengetahui peraturan yang terkait dengan pekerjaan kefarmasian tersebut.