Anda di halaman 1dari 17

Sistem Nilai Tukar Uang Dalam Islam A.

LATAR BELAKANG MASALAH


Dalam topic Ekonomi tidak ada yang lebih sensitif selain pembahasan tentang uang. Dalam perekonomian saat ini pembahasan tentang uang masih tetap hangat, mulai dari perdebatan tentang kebijakan uang ketat vs uang longam; tentang peran Bank Sentral; atau tentang versi uang yang sebenarnya apakah harus terbuat dari emas ataukah bahan lain, dan lain sebagainya. Dalam sistem ekonomi kapitalis, uang dianggap sebagai salah satu komoditas yang dapat diperdagangkan, selain tentunya berfungsi sebagai alat tukar dan pengukuran nilai suatu barang atau jasa tertentu. Layaknya barang komoditas, uang, dalam sistem kapitalis, memiliki sebuah harga. Sehingga, jika seseorang ingin meminjam uang dari orang yang lain, maka ia harus bersedia membayar harga dari uang tersebut. Inilah yang kita kenal dengan interest atau bunga uang. Sementara dalam perekonomian Islam uang memiliki fungsi sebagai alat tukar dan pengukur nilai, tetapi tidak sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Hal ini karena uang dalam bentuk aslinya tidaklah memiliki harga sema sekali, selembar kertas atau sekeping logam. Uang baru akan bernilai jika sudah ditukarkan ke dalam bentuk asset yang riil atau untuk membayar jasa yang diterima oleh si pemilik uang. Islam telah menutup seluruh pintu bagi masuknya riba atau bunga uang ke dalam sistem perekonomian yang adil. Dari Abu Said al-khudry RA, bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas (mata uang) kecuali sama jumlahnya serta janganlah melebihkan sebahagiannya. Kemudian janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali sama jumlahnya serta jangan melebihkan sebahagiannya dan janganlah menjualnya dengan cara sebahagian secara tunai dan sebahagian lagi ditangguhkan. (HR. Muslim) Dalam hadits yang lain, diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah. (H.R. Muslim). Dengan hadits ini jelaslah bahwa Islam menutup benar-benar seluruh pintu yang dapat digunakan oleh pendukung bunga uang untuk masuk ke dalam sistem ekonomi. Dengan melarang pemberlakuan sifat komoditas pada uang, Islam jelas melarang adanya bentuk pengambilan bunga atas uang. Dan pada akhirnya, akan berujung pada penyelesaian masalah eksploitasi sumber daya alam tanpa batas dari Negara-negara maju kepada Negara-negara berkembang dan miskin, penyelesaian masalah inflasi, pengengguran, dan volatilitas nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang domestik. Namun pada masa sekarang ini, bunga uang telah berkembang dan mengakar dalam bentuk hutang publik yang sangat besar jumlahnya, khususnya di Negara-negara berkembang dan miskin. Dan yang paling menikmati sistem ini adalah Negara-negara maju yang dengan mudah, karena bunga uang yang dibebankan kepada Negara-negara berkembang dan miskin, menjadi ujung aliran arus sumber daya alam dari Negara-negara berkembang dan miskin yang terbebani hutang tersebut. Akibatnya, Negara-negara miskin harus bekerja keras hanya untuk memberikan pendapatan mereka kepada Negara-negara kaya.

B.

IDENTIFIKASI MASALAH Sejarah mencatat, dalam sistem moneter Internasional pernah dikenal tiga macam sistem nilai tukar mata uang (kurs valas). Tiga sistem tersebut adalah 1. Fixed Exchange Rate System, 2. Floating Exchange Rate System 3. Pegged Exchange Rate System. Era fixed exchange rate system ditandai dengan berlakunya Bretton Woods System sejak 1 Maret 1947. Sistem ini menuntut agar nilai suatu mata uang dikaitkan atau convertible terhadap emas atau gold exchange standard. Pada waktu itu, mata uang dolar AS menjadi acuan (numeraire), di mana semua mata uang yang terikat dengan sistem ini dikaitkan dengan USD. Untuk mencipta uang senilai $35, Federal Reserve Bank (Bank Sentral Amerika) harus mem-backup dengan emas senilai 1 ounce atau 28,3496 gram. Dengan demikian, nilai mata uang secara tidak langsung dikaitkan dengan emas melalui USD. Namun ternyata, The Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar AS. Hal tersebut ditandai dengan peristiwa penukaran dollar secara besar-besaran oleh negaranegara Eropa. Adalah Perancis, pada masa pemerintahan Charles de Gaule, negara yang pertama kali menentang hegemoni dollar dengan menukaran sejumlah 150 juta dollar AS dengan emas. Tindakan Perancis ini kemudian diikuti oleh Spanyol yang menarik sejumlah 60 juta dollar AS dengan emas. Praktis, cadangan emas di Fort Knox berkurang secara drastis. Ujungnya, secara sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekrit Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971, yang isinya antara lain, USD tidak lagi dijamin dengan emas. Istimewanya, dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate. Floating exchange rate atau sistem kurs mengambang adalah sistem yang ditetapkan melaui mekanisme kekuatan permintaan dan penawaran di bursa valas dan sama sekali tidak dijamin logam mulia. Pemerintah melalui Bank Sentral bebas menerbitkan sejumlah berapapun uang. Hal inilah yang menyebabkan nilai mata uang cenderung terdepresiasi, baik terhadap mata uang kuat (hard currency) maupun terhadap harga barang. Kondisi ini kemudian diperparah oleh aksi spekulan yang mengakibatkan nilai mata uang berfluktuasi secara bebas. Meski bisa dikendalikan melalui intervensi yang dikenal dengan managed floating, otoritas pemerintah suatu negara cenderung menghindari hal ini karena membutuhkan sumber daya yang sangat besar yang berupa cadangan devisa. Berakhirnya fixed exchange rate dan bermulanya floating exchange rate, konon ditengarai sebagai awal dari berbagai rangkaian kesulitan moneter yang dikenal dengan krisis moneter internasional (Hamdy Hady, 2001). Sistem yang ketiga, pegged exchange rate ditetapkan dengan jalan mengaitkan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain atau sejumlah mata uang tertentu yang biasanya merupakan mata uang kuat (hard currency). Sistem ini pernah dijalankan antara lain oleh negara-negara Afrika serta Eropa. Secara hakikat, sistem ini tak jauh beda dengan floating exchange rate system. Hal ini dikarenakan mekanisme hard currency sebagai mata uang yang dipagu (pegged) masih ditentukan melalui

kekuatan supply dan demand pada bursa valas dalam hal mata uang yang dijadikan sebagai acuan. Pertanyaannya, dari ketiga sistem moneter di atas, manakah yang sesuai dengan konsep ekonomi Islam? Beberapa argumen muncul. Yang paling dianggap benar, namun sering dianggap radikal bahkan oleh pengusung ekonomi Islam sendiri adalah kembali menggunakan mata uang fisik dinar dan dirham (full bodied money). Yang moderat mengusulkan supaya mata uang sekarang agar di-backup dengan emas sebagaimana Bretton Woods. Sedangkan yang paling lunak adalah sebagaimana seperti adanya sekarang, hanya bagaimana pemerintah mengatur supaya tidak ada lagi unsur maghrib (masyir spekulasi, gharar penipuan dan riba) dalam sistem moneter yang berlaku. Dari ketiga usulan itu, penulis dengan tegas menolak yang disebutkan terakhir berdasarkan kenyataan bahwa sistem moneter yang ada sekarang memungkinkan pihak yang mengejar keuntungan pribadi melakukan aksi maghrib tersebut. Terbukti, betapapun pemerintah menghimbau para spekulan, aksi spekulasi di bursa valas masih tetap gencar. Adapun alternatif yang pertama, saat ini akan (masih) sulit diwujudkan. Kesulitan ini terutama karena dinar dan dirhammeski sebenarnya merupakan mata uang dari luar Islam yaitu Romawi dan Persiatelah dicitrakan sebagai mata uang Islam. Menurut penulis, seandainya negara-negara Islam mengusulkan kepada dunia untuk menggunakan dinar dirham, akan banyak penolakan terutama Barat yang phobia terhadap Islam. Dengan begitu, peluang terbesar ada pada usulan moderat, yaitu agar mata uang-mata uang sekarang kembali di-backup dengan emastentu dengan beberapa penyempurnaan dari system sebelumnya (Bretton Woods). System inilah yang oleh kalangan barat ingin kembali digulirkan yang dikenal dengan istilah Bretton Woods II. Usulan ini bahkan didukung oleh nama-nama besar seperti Joseph E. stiglitz (Ekonom Peraih Nobel dari Amerika), Gordon Brown (PM Inggris) hingga Nicholas Sarkozy (Presiden Perancis). Keunggulan Gold Exchange Standard. Ada beberapa alasan mengapa mesti kembali pada gold exchange standard dari pada sistem nilai tukar yang lain. Pertama, jumlah uang yang beredar di masyarakat bisa terkendali dengan baik dan tidak merajalela sebagaimana sekarang. Kondisi ini pada gilirannya akan mempertahankan kestabilan nilai tukar mata uang yang merupakan kondisi yang kondusif bagi perekonomian. Kedua, dengan menggunakan gold exchange standard, perekonomian suatu Negara secara otomatis bisa melakukan mekanisme penyesuaian (adjustment) posisi BOP (Balance of Payment), yakni kembalinya posisi neraca pembayaran pada kondisi equilibrium bahkan surplus. Mekanisme ini sebagaimana dijelaskan oleh David Hume yang dikenal dengan price specie flow mechanism sebagai berikut. Ketika suatu negara mengalami defisit BOP, persediaan emas turun karena lari ke luar negeri. Larinya emas ke luar negeri berakibat turunnya money supply domestik yang disertai dengan turunnya harga-harga barang. Akibatnya, harga barang dalam negeri menjadi

kompetitif yang pada gilirannya akan kembali meningkatkan ekspor pada kondisi semula atau bahkan lebih besar. Ketiga, keuntungan mengunakan gold exchange standard adalah bahwa emas secara instrinsik menjaga nilainya dari fluktuasi bebas sebagaimana mata uang kertas. Untuk melakukan transaksi perdagagan, gold standard tidak memerlukan hedging yang pada hakikatnya merupakan barrier bagi perdagangan. C. RUMUSAN MASALAH
Pembahasan ini amatlah urgent bagi setiap orang yang hendak terjun di dunia bisnis atau yang ingin bermuamalah dalam penukaran uang. Jika ia sudah memahami hal ini, ia akan memahami kenapa syariat Islam yang mulia memasukkan suatu hal ke dalam transaksi ribawi. Ini semua karena syariat yang indah ini dibangun di atas kemaslahatan dan ingin mencegah bahaya. a. Ketika Uang Menjadi Komoditi Dagang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, (Mata uang) dinar dan dirham asalnya bukan untuk dimanfaatkan zatnya. Tujuannya adalah sebagai alat ukur (untuk mengetahui nilai suatu barang). Dirham dan dinar bukan bertujuan untuk dimanfaatkan zatnya, keduanya hanyalah sebagai media untuk melakukan transaksi. Oleh karena itu fungsi mata uang tersebut hanyalah sebagai alat tukar, berbeda halnya dengan komoditi lainnya yang dimanfaatkan zatnya. (Majmu Al Fatawa, 19/251-252) Imam Al Ghozali rahimahullah menjelaskan, Orang yang melakukan transaksi riba dengan (mata uang) dinar dan dirham, sungguh ia telah kufur nikmat dan telah berbuat kezholiman. Karena (mata uang) dinar dan dirham diciptakan hanya sebagai media dan bukan sebagai tujuan. Maka bila mata uang tersebut diperdagangkan, maka ia akhirnya akan menjadi komoditi dan tujuan. Hal ini bertentangan dengan tujuan semula uang diciptakan. Oleh karena itu, tidak dibolehkan menjual (mata uang) dirham dan dengan dirham yang berbeda nominalnya dan tidak dibolehkan menjualnya secara berjangka. Maksud dari hal ini adalah agar mencegah orang-orang yang ingin menjadikan mata uang tersebut sebagai komoditi. Syarat ini jelas mendesak para pendagang untuk tidak meraup keuntungan. (Ihya Ulumuddin, 4/88) b. Kaedah Jual Beli Uang Kaedah yang akan kami utarakan disebutkan dalam hadits berikut:

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, tidak mengapa jika dengan takaran yang sama, dan sama berat serta tunai. Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka hatimu asalkan dengan tunai dan langsung serah terimanya. (HR. Muslim) Menukar emas dan emas adalah riba kecuali jika dilakukan dengan cara tunai. (HR. Bukhari dan Muslim ) Dari hadits di atas dapat disimpulkan beberapa syarat dalam transaksi penukaran mata uang, yaitu:

- - .

Pertama: Menukar mata uang sejenis, seperti menukar uang rupiah dengan pecahan rupiah yang lebih kecil, syaratnya ada dua: 1. Jumlah nominalnya harus sama. 2. Serah terima dilakukan secara tunai. Menukar emas dengan mata uang, artinya membeli emas harus memenuhi dua syarat yang dikemukakan di atas karena emas dan mata uang adalah barang yang sejenis. Kedua: Menukar mata uang yang berlainan jenis, seperti menukar uang rupiah dengan riyal, syaratnya hanya satu, yaitu; serah terima harus dilakuakan secara tunai. Artinya berlangsung sebelum berpisah dari majelis akad dan tidak disyaratkan jumlahnya sama. Maka dibolehkan jumlah nominal keduanya berbeda sesuai dengan kurs pasar di hari itu atau keduanya sepakat dengan kurs sendiri. Kaedah penting dalam sistem moneter di atas jelas diabaikan oleh para ekonom di zaman ini. Mereka melalaikan syarat penukaran mata uang yang sejenis yang menjerumuskan mereka dalam riba. Akibat tidak mengindahkan hal ini, nilai mata uang akhirnya mengalami fluktuasi setiap saat yang menyebabkan kezhaliman kepada seluruh pemegang uang. c. Uang sebagai Alat Tukar dan bukan Komoditas Sistem ekonomi Syariah menganggap uang semata-mata sebagai alat tukar. Sebagai alat tukar ia tidak menghasilkan nilai tambah apapun, kecuali apabila ia dikonversi menjadi barang atau jasa. Dengan demikian, setiap transaksi keuangan harus dilatarbelakangi oleh transaksi sector riil. Dalam konsep Islam juga tidak dikenal motif money demand for speculation, karena spekulasi tidak diperbolehkan. Dan kebalikan dari system konvensional yang memberikan bunga atas harta, Islam malah menjadikan harta (capital) sebagai objek zakat. Ekonomi Islam secara jelas telah membedakan antara money dan capital.Dalam Islam, money adalah flow concept. Dengan kata lain, semakin cepat moneyberputar dalam perekonomian, maka akan semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat, dan oleh karenanya akan semakin baik perekonomiaannya. Dalam konsep Islam, money adalah public goods, sedangkan capital adalah private goods. Money adalah milik masyarakat, dan oleh karenanya penimbunan uang (atau dibiarkan tidak produktif) berarti mengurangi jumlah uang beredar. Bila diibaratkan denga darah, maka perekonomian akan kekurangan darah, alias kelesuan ekonomi, alias stagnasi. Itu hikmah dilarangnya menimbun uang. Sedangkan capital, adalah milik pribadi, dan oleh karenanya capital adalah objek zakat. Bagi yang tidak dapat memproduktifkan capitalnya, nmaka Islam menganjurkan untuk melakukanmusyarakah atau mudharabah bisnis dengan bagi hasil. Bila tidak ingin berisiko Islam menganjurkan qardI, yaitu meminjamkan capitalnya tanpa imbalan apapun. Ini sangat berlainan dengan konsep konvensional, yaitu money or capitaladalah private goods. Konsep ini telah secara rancu mencampur-adukkan istilahmoney dan capital. Analoginya, adalah sama saja apakah capital diinvestasikan dalam proses produksi atau tidak, maka capital itu harus menghasilkan uang. Dikenallah konsep time value of money sehingga terjadilah riba dan pemberlakuan bunga atas uang. Akhirnya uang tidak lagi diperlakukan semata-mata sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai komoditas yang menghasilkan bunga. Islam jelas-jelas menolak konsep ini.

Fungsi uang sebagai alat tukar ini menunjukkan bahwa uang memiliki karakter yang berbeda dengan barang dan komoditas lain, baik yang menyangkut daya tukar yang dimiliki, kepercayaan masyarakat terhadapnya, maupun posisi hukumnya. Maka

Islam tidak memperbolehkan bunga (riba), baik dengan alasan sebagai imbalan sewa maupun alasan apapun. Sewa hanya dikenakan terhadap barang-barang seperti rumah, perabotan, alat transportasi dan sebagainya, yang bila digunakan akan habis, rusak, dan kehilangan sebagian dari nilainya. Biaya sewa layak dibayarkan terhadap barang yang susut, rusak dan memerlukan biaya perawatan. Adapun uang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Karena itu, menuntut sewa uang tidak beralasan. Konsep uang sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditas, sangat sesuai dengan karakteristik dinar. Kondisi dinar yang nilai intrinsiknya sama dengan nilai ektrinsiknya, membuat dinar amat sulit untuk dijadikan komoditas yang dibebankan bunga uang. Hal ini berbeda dengan uang kertas yang kini telah diperdagangkan dalam pasar uang yang sarat dengan riba. Nilai uang kertas semata-mata ditentukan dari supply and demand pasar. Keuntungan dari jual beli uang dapat seenaknya ditentukan, dan ini sebenarnya merupakan riba. Kondisi ini membuat kesenjangan antara nilai uang yang diperjualbelikan dengan nilai barang yang beredar di pasar. Dunia perbankan juga ikut ambil bagian dalam hal ini. Itulah sebabnya sector moneter tidak akan pernah dapat menggambarkan sector riil di lapangan. Dengan demikian uang kertas benar-benar identik dengan riba, karena telah dijadikan komoditas dan bukan sekedar sebagai alat tukar.

D. LANDASAN TEORI (KAJIAN PUSTAKA)


1. a. b. c. a. Definisi Mata Uang Definisi uang secara bahasa secara etimologi, definisi uang (nuqud) ada beberapa makna: Al-Naqdu: yang baik dari dirham, dikatakan dirham al-nuqdu, yakni baik. ini adalah sifat. Al-Naqdu: meraih dirham, dikatakan meraih naqada al- darahima yanquduha naqdan, yakni meraih nya (menggegam, menerima). Al-Naqdu: membedakan dirham dan mengeluarkan yang palsu. Sibawaihi bersyair: Tanfi yadaha al Hasna fi kulli Hajiratin- Nafya al-Darahima Tanqadu al-Shayarifu. yang bermakna; Tangannya (unta) mengais-ngais di setiap padang pasir memilah-milah dirham oleh tukang uang (pertukaraan, pemeriksaann, pembuaat uang). Al-naqdu: Tunai, lawan tunda, yakni memberikan bayaran segera. Dalam hadis jabir : Naqadani alTsaman, yakni dia membayarku harga tunai. Klemudian digunakan atas yang dibayarkan, termaksud penggunaan mas dar (akar kata) terhadap isim maful (menunjukkan objek). Definisi uang (nuqud) secara istilah fuqaha Kata Nuqud barang-barang murah, kata Dirham, Dinar dan Wariq terdapat tidak terdapat dalam Alquran mamupun hadis Nabi Saw. Mereka menggunakan kata Dinar untuk menunjukkan mata uang yang terbuat dari emas, kata Dirham untuk menunjukan alat tukar yang terbuat dari perak. Mereka juga menggunakan kata Wariq untuk menunjukkan dirham perak, kata Ain untuk menunjukkan Dinar emas. Sedang kata fulus (uang tembaga) adalah alat tukar tambahan yang di gunakan untuk membeli dalam Al uran dan hadis. Firman Allah Swt 2.

d.

Di antara ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi[206]. mereka Berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka Mengetahui. (QS Ali Imran 75) Dan pada ayat yang lainnya : Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, ya itu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.[7: 47]. Nabi Saw. Bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan: jangan kalian jual santu dinar dengan dua dinar, dan satu dirham dengan dua dirham. Juga Nab i Saw bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Abu Said al-Khudry: jangan kalian jual emas dengan emas, perak dengan perak kecuali sama nilai, ukuran dan timbangannya. Uang menurut fuqaha tidak terbatas pada emas dan perak yang di cetak, tetapi mencakup seluruh jenisnya. Al-Syarwani berkata: (dan uang) yakni emas dan perk sekalipun bukan cetakan. Dan pengususan terhadap cetakan sangat di hindari dalam padangan (Urf) para fuqaha. Jadi dirham dan dinar merupakan alat standar ukuran yang di bayarkan sebagai pertukaran komoditas dan jasa. Keduanya adalah unit hitungan yang memiliki kekuatan nilai tukar pada bendanya, bukan pada perbandingan dengan komoditas atau jasa, Karena segala sesuatu tidak bisa menjadi nilai harga bagi keduanya. Imam Ghazali (wafat tahun 505 H) berkata: Allah menciptakan dinar dan dirham sebagai hakim penengah diantara seluruh harta sehingga seluruh harta bisa di ukur dengan keduanya. Dikatakan, unta ini menyamai 100 dinar, sekian ukuran minyak zafaran ini menyamai 100. keduanya ki ra-kira sama dengan satu ukuran maka keduanya bernilai sama. Dia juga berkata: Kemudian di sebabkan jual beli muncul kebutuhan terhadap dua mata uang. Seseorang yang ingin makanan dengan baju, dari mana dia mengetahui ukuran makanan dari nilai baju tersebut. Berapa? Jual beli terjadi pada jenis barang yang berbeda seperti di jual baju dengan makanan dan hewan dengan baju, barang-barang ini tidak sama, maka diperlukan hakim yang adil sebagai penengah dari kedua orng yang ingin bertransaksi dan berbuat adil satu dengan yang lain. Keadilan itu di tuntut dari jenis harta. Kemudian di perlukan jenis harta yang paling bertahan lama adalah barang tambang. Maka di buatlah uang dari emas, perak, dan loga.. Beliau mengisyaratkan uang sebagai unit hitungan yang digunakan untuk mengukur nilai harga komoditas dan jasa. Demikian juga beliau mengisyaratkan uang sebagai alat simpanan karena itu dibuat dari jenis harta yang bertahan lama karena kebutuhan yang berkelanjutan sehingga betul-betul bersifat cair sehingga dapat di gunakan pada waktu yang di kehendaki. Ibnu Khaldun juga mengisyaratkan uang sebagai alat simpanan dalam perkataan beliau: kemudian Allah Taala menciptkan dari dua barang tambang emas dan perak, sebagai nilai untuk setiap harta. Dua jenis ini merupakan simpanan dan perolehan orang-orang di dunia kebanyakannya. Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) berkata: ketika seseorang susah menemukan nilai persamaan antara barang-barang yang berbeda, jadikan dinar dan dirham untuk mengukurnya. Apabila seseorang menjual kuda dengan beberapa baju, nilai harga kuda itu terhadap beberapa kuda adalah nilai harga baju itu terhadap beberapa baju. Maka jika kuda itu bernilai 50, tentunya baju-baju juga harus bernilai 50. Dengan demikian, jelaslah bahwa fuqaha memberikan def inisi uang dari penjelasan dengan melihat fungsi-fungsinya dalam ekonomi, yaitu melalui tiga fugsi:

sebagai standar ukuaran menentukan nilau harga komoditas dan jasa. Sebagai media pertukaran komoditi dan jasa. Sebagai alat simpanan. Fungsi ini di singgung oleh al-Ghazali dan ibnu Khaldun. Kemudian ada diantara fuqaha yang mempertegas peran tradisi (Urf) dalam pengukuhan uang, dan tidak terbatas pada dua mata uang yang ada. Kenyataan ini diperkuat pernyataan-pernyataan berikut. 1. perkataan Sayyidina Umar bin khatab: Aku berkeingiunan membuat dirham dari kulit unta. Lalu ada yang memberi komentar: akhirnya beliau urungkan niatnya,. pernyataan ini menunjukkan bahwa beliau sempat berpikir untuk mencetak uang dari kulit Unta, tapi tidak dilakdanakan karena khawatir unta akan punah yang pada sisi lain berfungsi sebagai alat transportasi dan Alat jihad. 2. Perkataan Imam Malik Bin Anas: seandainya orang-orang membolehkan kulit-kulit hingga ada sakkah (stempel) dan benda, tentu aku benci (hukumnya makruh) dijual dengan emas dan perak secara tunda. Yakni, jika orang-orang mengakui keabsahan kulit-kulit itu sebagai uang, maka diberlakukan hukumhukum yang berlaku pada emas dan perak. Seperti diisyaratkannya tunai dalam satu majlis (Pertemuan) ketika terjadi transaksi pertukaran dengan mata uang lain. Maka, sekarang bisa dikemukakan definisi uang setelah memperhatikan ungkapan para Fukaha seperti berikut ini. Uang adalah apa yang digunakan manusia sebagai standar ukuran nilai harga dimedia Transaksi pertukaran. Sedangkan berdasarkan pada ungkapan Al Ghazali dan Ibnu khaldun sebagai berikut: Uang adlah apa yang digunakan manusia sebagai standar ukuran nilai harga, media transaksi pertukaran, dan media simpanan. 3. Definisi Uang menurut Para Ahli Ekonomi Masih belum ada kata sepakat tentang difinisi uang yang spesifik. Definisi-definisi mereka berbeda disebabkan perbedaan cara pandang mereka terhadap hakikat uang. Menurut Dokter Fuad Dahman, defenisi-definisi uang yang di ajukan banyak dan berbeda-beda. Semakin bertambah seiring perbedaan para penulis dalam memandang hakikat uang dan perbedaan pengertiannya dalam pandangan mereka. Dr Muhammad Zaki SyafiI mendefinisikan uang sebagai: segala sesuatu yang diterima khlayak untuk menunaikan kewaj iban-kewajiban sedangkan J.P Coraward mendefinisikan uang sebagai:segala sesuatu yang diterima secara luas sebagai media pertukaran, sekaligus berfungsi sebagi standar ukuran nilai harga dan media penyimpan kekayaan. Boumul dan Gandlre berkata:uang mencakkup seluruh sesuatu yang diterima secara luas sebagi alat pembayaran, diakui secara luas sebagai alat pembayaran utang-utang dan pembayaran harga barang dan jasa. Dr. Nazhim Al-Syamri berkata:setiap sesuatu yang diterima semua pihak dengan legalitas tradisi (urf) atau undang-undang, atau nilai sesuatu itu sendiri, dan mampu berfungsi sebagi media dalam proses transaksi pertukaran yang beragam terhadap komoditi dan jasa, juga cocok utnuk menyelesaikan utang piutang dan tanggungan, adalah termasuk dalam lingkup uang. Dari sekian definisi yang diutarakan, kita bisa membedakan dalam tiga segi: pertama, definisi dari segi fungsi-fungsi ekonomi sebagi standar ukuran nilai, media pertukaran dan alat pembayaran yang tertunda (Deffered Payment). Kedua, definisi uang dengan melihat karakteristiknya yaitu segala sesuatu yang diterima secara luas oleh tiap-tiap individu. Ketiga, definisi uang dari segi peraturan perundangan sebagi segala sesuatu yang memiliki kekuatan hokum dalam menyelesaikan kewajiban dan tanggungan. Disini kita menemukan bahwa para ahli ekonomi membedakan antara uang dan mata uang. Mata uang adalah setiap sesuatu yang dikukuhkan pemerintah sebagai uang dan memberinya kekuatan hukum yang bersifat dapat memenuhi tangungan dan kewajiban, serta diterima secar luas.

Sedangkan uang lebih umum dari mata uang, karena mencakup mata uang dan yang serupa dengan uang (uang perbankan). Dengan demikian, setiap mata uang adalah uang, tapi tidak setiap uang itu mata uang antara keduanya dinamakan hubungan umum khusus mutlak. b. Fungsi Uang 1. Uang sebagai standar ukuran harga dan unit hitungan Yakni sebagai media pengukur nilai harga komoditi dan jasa, dan perbandingan harga setiap komoditas dan komoditas lainnya. 2. Uang sebagai media pertukaran (medium of exchange) Fungsi ini menjadi sangat penting dalam ekonomi maju, dimana pertukaran terjadi oleh banyak pihak. Seseorang tidak memproduksi setiap apa yang dibutuhkan, tapi terbatas pada barang tertentu, atau bagian barang atau jasa tertentu yang dijual kepada orang-orang untuk selanjutnya ia gunakan untuk mendapatkan barang atau jasa apa yang ia butuhkan. Orang memproduksi barang dan menjualmya dengan bayaran uang, selanjutnya dengan uang itu ia gunakan untuk membayar pembelian apa yang ia butuhkan. Dengan demikian, uang sebagi proses pertukaran kedalam dua macam: a) proses penjualan barang atau jasa dengan pembayaran uang. b) proses pembelian barang atau jasa dengan menggunakan uang 3. Uang sebagai media penyimpan Nilai. Maksud para ahli ekonomi dalam ungkapan mereka uang sebagi media penyimpan nilai adalah bahwa orang yang mendapatkan uang, kadang tidak mengeluarkan seluruhnya dalam satu waktu, tapi ia disisihkan sebagian untuk membali barang atau jasa yang ia butuhkan pada waktu mendadak atasu menghadapi kerugian yang tak terduga. c. Uang di berbagai Bangsa Uang pada bangsa Lydia, Dikatakan bahwa Lydia atau bangsa lydiah adalah orang-orang yang pertamakali mengenal uang cetakan. Pertama kali uang muncul ditangan para pedagang ketika mereka merasakan kesulitan dalam jual beli dalam system barter lalu mereka membuat uang. Pada masa Croesus 570-546 SM, Negara berkepentingan mencetak uang. Dan pertama kalinya masa ini terkenal dengan mata uang emas dan perak yang halus dan akurat. 2. Uang pada bangsa Yunai Bangsa yunani membuat uang komoditas (komodity money) sehingga tersebar diantara mereka.koin koin dari perunggu. Kemudian mereka membuat emas yang pada awalnya berada pada mereka dalam bentuk batangan sampai masa dimulainya percetakan uang tahun 406 SM. Kadang mereka mengukir di uang mereka bentuk berhala mereka, gamabar pemimpin-pemimpin mereka, sebagimana juga kadang mereka mengukir nama negeri dimana uang itu dicetak. Mata uang utama mereka adalah Drachma yang terbuat dari perak 3. Uang pada bangsa Romawi Bangsa romawi pada masa sebelum abad ke-3 sebelum masehi menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yang disebut Aes (Aes signatum aes rude) mereka juga menggunakan mata uang koin yang terbuat dari tembaga. Dikatakan oleh orang yang pertama kali mencetaknya adalah Numa atau Servius Tullius, dikatakan koin itu dicetak pada tahun 269 SM. Kemudian mereka mencetak denarius dari emas yang kemudian menjadi mata uang utan Imperium Romawi dicetak tahun 268 SM diatas uang itu mereka cetak ukiran bentuk tuhan-tuhan dan pahlawan-pahlawan mereka, hingga masa Julius Caesar yang kemudian mencetak gambarnya pada uang tersebut. 1.

Mata uang rmawi menjadi bermacam-macam sesuai dengan kepentingan politiknya dalam bentuk ukiran pada uang yang digunakan untuk tujuan-tujuan politik. 4. Uang pada Bangsa Persia Bangsa Persia mengadobsi percetakan uang dari bangsa Lydia setelah penyerangan mereka pada tahun 546 SM. Uang di cetak dari emas dan perak dengan perbandingan (ratio) 1:13,5. suatu hal yang membuat naiknya nilai emas dari perak. Uang pada mulanya berbentuk persegi empat kemudian mereka ubah menjadi bundar dan mereka ukir pada uang itu ukiran-ukiran tempat peribadatan mereka dan tempat nyala api. Mata uang yang tersebar luas pada bangsa Persia adalah dirham perak dan betul-betul murni. Ketika system kenegaraan mengalami kemunduran, mata uang mereka pun ikut serta mundur. 5. Uang dalam pemerintahan Islam Ulasan tentang uang dalam sistem pemerintahan islam agak panjang dan terperinci, karena itu penulis mencoba menyimpulkan dalam poin-poin berikut. a) Uang pada masa kenabian Bangsa Arab di hijaz pada masa jahiliyah tidak memiliki mata uang tersendiri. Mereka menggunakan mata uang yang mereka peroleh berupa dinar emas Hercules, Byziantium dan dirham perak dinasti Sasanid dari irag, dan sebagian mata uang bangsa himyar, yaman. Ketika nabi Muhammad SAW diutus sebagi Rasul beliau menetapkan apa yang sudah menjadi tradisi penduduk mekkah. Dan beliau memerintahkan penduduk madina untuk mengikuti timbangan penduduk makkah ketika itu mereka berinteraksi ekonomi menggunakan dirham dalam jumlah bilangan bukan ukuran timbangan belia bersabda:timbangan adalah timbangan penduduk makkah sedang takaran adalah penduduk madinah Sebab munculnya perintah itu adalah perbedaan ukuran dirham Persia karena terdapat tiga bentuk percetakan uang adanya ukuran 20 qirath (karat) adanya ukuran 12 karat adanya ukuran 10 karat Lalu ditetapkan dalam dirham islam menjadi 14 karat dengan mengambil sepertiga dari semua dirham Persia yang ada. 20+12=10= 42/3= 14 = 6 Danig, setiap Danig ukurannya seukuran dengan 7 Mitsgal dalam ukuran sekarang adalah gram. Demikian Nabi Muhammad SAW juga mempunyai peranan dalam masalah keuangan, yaitu menentukan ukuran timbangannya. Bersama itr, mereka menulis tentang uang dari pandangan islam tidak menyinggung soal peranan ini. Hanya saja Rasulullah SAW tidak megubah mata uang karena kesibukannya memperkuat tiang-tiang agama islam di Jazirah Arab. Karena itu sepanjang masa kenabian, kaum muslimin terus mengenakan mata uang asing dalam interaksi ekonomi mereka. b) uang pada masa khulafah Urrasiddin ketikaq Abu bakar menjadi khalifah beliau tidak melakukan perubahan tyerhadap mata uang beredar bahkan menetapkan apa yang sudah berjalan dari masa Nabi SAW yaitu penggunaan mata uang Dinar Hercules dan Dirham Persia. Beliau sendiri sibuk memerangi kemurtadan begitu juga ketika Ummar Bin Khatab sebagi khalifah sibuk menyebarkan islam ke berbagai negeri dan menetapkan persoalan uang sebagaimana yang sudah berlaku. Mada masa Usman Bin Affan dicetak uang seperti masa umar bin khatab dan di tuliskan juga kota tempat percetakan dan tanggalnya dengan huruf bahlawiyah dan salah satu kaliamat bismillah, barakah, bismillah Rabbi, Allah, dan Muhammad dengan

jenis tulisan Kufi, ketika Ali bin Abi thalib beliau mencetak dirham model Usman bin Affan dan menuliskan di lingkarannya salah satu kalimat Bismillah, Bismillah Rabbi, dan Rabbi ya Allah dengan tulisan kufi. c) Uang pada masa Dinasti Ummaya Percetakan uang pada masa dinasti ini semenjak masa Muawiyyah bin Abi Sofyan masih meneruskan model sasanid dengan menambahkan beberapa kata tauhid seperti halnya pada masa khalifa Urrasidin. Pada masa abdul malik bin marwan, setelah mengalahkan Abdullah bin zubair dan Mushab bin zubair, beliau menyatukan tempat percetakan. Dan pada tahun 76 H. beliau membuat mata uang islam yang bernafaskan model islam itu sendiri tidak ada lagi isyarat atau tanda bizantium atau Persia. Dengan demikian, abdul malik bin marwan adalah orang yang pertama kali mencetak dinar dan dirham dalam model islam itu sendiri. d) Uang pada masa dinasti abbasiyah dan sesudahnya Pada masa abbasiyah, pencetakan dinar masih melanjutkan cara dinasti umayyah. Al-Saffah mencetak dinarnya yang pertama pada awal berdirinya dinasti abbasiyah tahun 132 H mengikuti model dinar umayyah dan tidak mengubah sedikitpun kecuali pada ukiran-ukiran. Sedangkan dirham, pada awalnya ia kurangi satu butir kemudian dua butir. Pengurangan ukuran dirham terus berlanjut pada masa abu jafar Al-Mansyur dia mengurang tiga butir hingga pada masa musa al hadi kurangnya mencapai satu karat. Dinarpun tidak seperti adanya, pengurangan terjadi setelah itu namum begitu, nilainya dihitung seperti semula. Dengan demikian kita membedakan dua fase pada masa dinasti abbasiyah. Fase pertama, terjadai pengurangan terhadap ukuran dirham, kemudia dinnar. Fase kedua, ketika pemerintahan melemah dan para pembantu (mawali) dari orang-orang turki ikut serta mencampuri urusan Negara. Ketika itu pembiayaan semakin besar, orang-orang sudah menuju kemewahan sehingga uang tidak lagi mencukupi kebutuhan. Negarapun membutuhkan bahan baku tambahan, terjadilah kecurangan dalam pembuatan dirham dan mencampurkannya dengan tembaga untuk memperoleh keuntungan dari margin nilai tertulis dengan nilai actual. Pada masa dinasti fathimiyah dirham-dirham campuran sangat banyak menyebabkan harganya turun sehingga pada masa Al-hakim bin Amrillah harga dinnar sama denngan 34 dirham, padahal perbandingan asli antara dinnar dan dirham adalah 1 : 10. Pada massa Shalahuddin al-Ayubbi Rahimahullah, bahan baku emas tidak cukup untuk percetakan dinar di sebabkan berbagai perperangan karena itu, mata uang utama adalah perak dan tidak juga murni, bahkan separuhnya adalah tembaga. Percetakan uang dalam bentuk ini terus berlanjut di Mesi dan Syam (Syiria) sepanjang massa pemerintahan Bani Ayyub. Pada massa pemerintahan Mamalik, percetakan uang tembaga (fulus) tersebar luas. bahkan pada massa pemerintahan raja al-Zhahir Barqud dan anaknya Farj, uang tembaga menjadi mata uang utama dan percetakan dirham di hentikan kareana beberapa sebab berikut: penjualan perak ke negara-negara Eropa. Impor tembaga dari Negara-negara eropa yang semakin bertambah akibat dari peningkatan produksi pertambangan di sebagian besar wilayah Eropa. Meningkatnya konsumsi perak untuk pembuatan pelana dan bejana. Ketika perang dunia 1 berkecamuk tahun 1914, Turki seperti Negara-negara lainnya mengumumkan pembelakuan wajib uang kertas dan membatalkan transaksi dengan emas dan perak. System ini berlaku di Negara-negara Arab di bawah kekuasaan pemerintahan Ustmaniyah sampai sekutu membagi-bagi wilayah arab.

Demikianlah kita perhatikan perkembangan system keuangan dunia yang terjadai. Pada tahun 1914, uang kertas di seluruh dunia bersifat wajib dan tidak dengan penopang barang tambangan tertentu. Uang kertas adalah satu-satunya mata uang utama yang terakhir sekiranya tidak lagi ditukarkan dengan emas. d. Permintaan Uang dalam Islam 1. karena ada kebutuhan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa di dalam islam, permintaan uang adalah sebagai kebutuhan, (kebutuhan transaksi atau disebut dengan money demand for transaction),bukan untuk spekulasi, dan islam juga sangat menganjurkan penggunaan uang dalam pertukaran, karena Rasulullah SAW telah menyadari kelemahan dari salah satu bentuk pertukaran pada zaman dahulu, yaitu barter, Rasululllah sangat menyadari kelemahan-kelemahan dalam barter, maka beliau menganjurkan para sahabat untuk menggunakan uang dalam transaksi-transaksi mereka. Lain halnya denngan ekonomi konvensional, bahwa keberadaan uang malah banyak di perdagangkan, dari pada dipergunakan sebagai alat tukar. 2. Untuk berjaga-jaga. Islam juga menganjurkan kita untuk ber Investasi untuk memenuhi kebutuhan yang akan dating, jadi disini sudah jelas bahwa di dalam Islam, uang juga untuk berjga-jaga untuk kebutuhan kita juga. Jadi disini sudah jelas bagai mana permitaan uang dalam islam. Pada masa dinasti Utsmaniyah, kekhalifahan Islam terakhir sebelum dihapuskan oleh Mustafa Kamal Attaturk dengan bantuan koalisi Inggris-Perancis-Amerika pada tahun 1924, sistem keuangannya di awal berdiri adalah emas dan perak dengan perbandingan 1:15. namun demikian, pada tahun 1839 dikatakan bahwa pemerintahan dinasti Utsmaniyah menerbitkan mata uang baru yang menyerupai uang kertas yang disebut dengan Gaima, yaitu kertas-kertas seperti bank-note yang memiliki back-up emas dan perak di tempat penyimpanan khusus (bank). Hanya saja nilainya terus merosot sehingga masyarakat banyak yang tidak percaya lagi dan meminta ganti dengan emas yang terkait.

E. PEMBAHASAN a. Mata Uang Dalam Pandangan Islam Sebelum manusia mengenal uang, mereka telah melakukan aktivitas jual beli dan tukar menukar dengan barang dan jasa. Namun, karena pertukaran barang dan jasa menimbulkan banyak kerugian dan banyak kesulitan, terutama yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan, maka mereka berpikir untuk mencari barang dasar untuk mencari nilai intrinsik. Selain itu dapat memberikan kemudahan dalam peredarannya sehingga dapat dijadikan tolak ukur yang menilai barang dan jasa. Lalu munculah mata uang yang menjadikan satu-satunya tolak ukur. Setelah manusia di masa lalu mengetahui bahwa logam mulia, emas dan perak memiliki nilai intrinsik, maka mereka menjadikan keduanya sebagai mata uang. Kemudian mereka mencetak dinar dan dirham. Kedua benda tersebut jarang diperoleh (depositnya), tetapi memiliki keunikan (seperti emas) yang tidak hancur diteln masa. Islam telah menetapkan hukum-hukum jual beli (bay) dan sewa menyewa (ijarah), namun Islam tidak menetapkan barang tertentu sebagai asas pertukaran (mubadalah) untuk barang dan jasa.

Akan tetapi islam membedakan masalah pertukaran dengan masalah mata uang yang akan di cetak oleh negara. Islam telah menetapkan standar tertentu sebagai asas pertukaran, yaitu emas dan perak. Emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Hukum-hukum syariah yang dikaitkan dengan emas dan perak diantaranya: Abu Bakar ra. menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda (yang artinya) : Rasulullah melarang jual beli perak dengan perak dan emas dengan emas, kecuali dengan nilai setara (sama nilainya). Beliau membolehkan kita membeli perak dengan emas menurut kehendak kita. Serta membolehkan kita membeli emas dengan perak menurut kehendak kita. (HR. Al-Bukhari Musliam) Bahkan sebenarnya dinar dan dirham berpeluang menjadi mata uang dunia dan akan menggantikan dominasi dollar AS, karena dollar AS bukanlah mata uang yang kuat seperti sebelumnya. Dollar AS sebenarnya tidak bernilai karena dunia kini banyak dibanjiri oleh terlalu banyak dollar. Dalam pasar-pasar uang saja terdapat gelembunggelembung dollar AS pertahun. Jumlah ini adalah dua kali lipat dari dimensi yang biasa. Gelembuang ini tentu akan semakin membesar dan suatu saat akan meledak dan pecah, lalu terjadilah keruntuhan ekonomi kapitalis global. Karakteristik paling mendasar dari sistem ekonomi kapitalis yang menjadi akar penyebab terjadinya inflasi, naik turunnya situasi perdagangan dunia dan ambruknya pasar uang adalah lebih disebabkan adanya spekulasi dan gambaran yang keliru. Kesalahan ini misalnya tampak pada kebijakan pemerintah dalam pencetakan uang. Dalam hal ini, karena tidak ada satupun yang dapat menghalangi pemerintah dari upaya mencetak uang kertas dalam jumlah yang berlebihan, sementara di sisi lain pemerintah tidak dapat mengimbanginya dengan jumlah kekayaan riil yang dimiliki, maka hal tersebut menjadikan akar penyebab terjadinya inflasi. Lebih dari itu, pemerintah dan perbankan justru menyelesaikan masalah tersebut dengan memperbesar tingkat penawaran uang; dengan kata lain mereka akan mencetak lebih banyak uang lagi jika aset yang diwakili oleh uang yang beredar tidak mengalami perubahan. Di samping itu, dunia perbankan diperbolehkan meminjamkan uang yang tidak riil dengan jalan menghutangkan uang kertas kepada masayarakat. Langkah ini sama artinya dengan membuat jumlah uang yang beredar semakin banyak. Dalam Islam, negara dilarang menambah tingkat penawaran uang, kecuali bila berdasarkan aset atau kekayaan yang nyata. Oleh karena itu, tidak akan ada peningkatan penawaran uang bila tidak terjadi peningkatan jumlah aset riil. Dengan demikian inflasi bukanlah menjadi sebuah masalah. Dalam lingkungan yang seperti ini, dunia bisnis akan memiliki stabilitas yang lebih tinggi, sedangkan fenomena lain seperti naik turunnya perdagangan dunia/internasioanal serta sirkulasi inflasi dan resesi tidak akan pernah terjadi. Naiknya nilai emas sebesar 107 persen dalam tiga bulan pada saat terjadinya krisis meksiko tahun 1995, lalu melonjaknya nilai emas yang mencapai 375 persen dalam kurun waktu tujuh bulan pada saat terjadi krisis tahun 1997 di Indonesia dan kemudian kenaikan 307 persen nilai emas pada saat krisis rubel Rusia tahun 1998, telah membuktikan kestabilan nilai emas sebagai alat tukar atau mata uang. Hal ini

disebabkan karena mata uang emas memiliki nilai intrinsik yang tinggi. Artinya, nilai nominal mata uang yang berlaku akan dijaga oleh nilai intrinsiknya, bukan oleh daya tukar terhadap mata uang yang lain sebagai mana yang terjadi pada fiat money. Negara dalam Islam boleh mengeluarkan mata uang non emas dan perak; misalnya mata uang tembaga, brons, kertas atau yang lainnya dengan syarat kas negara menyimpan emas dan perak yang senilai. Ketika negara kekurangan cadangan emas dan peraknya, atau cadangan tersebut banyak dikuasai oleh asing, serta untuk menjaga stabilitas moneternya, upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh negara dalam Islam adalah : 1. membangun industri-industri baru untuk mengeksplorasi emas dan perak. 2. menghimbau kepada seluruh rakyatnya agar menyumbangkan atau menjual kelebihan emas dan peraknya kepada Negara 3. menghapuskan segala bentuk hambatan bagi peredaran emas dan perak, baik dalam negeri maupun untuk transaksi luar negeri. 4. melarang praktik menimbun emas, perak, dan mata uang lainnya tanpa ada tujuan tertentu bagi segenap rakyatnya dan senantiasa mengawasi peredaran mata uangnya. 5. memperbanyak ekspor barang produksi dalam negeri dengan menggunakan emas ataun perak sebagai alat pembayarannya, jika itu dimungkinkan,. Jika tidak, dapat digunakan mata uang asing yang kuat untuk cadangan devisa. 6. melarang segala bentuk praktek riba terhadap emas, perak dan seluruh mata uang lain. 7. jika negara melihat penggunaan emas dan perak untuk transaksi perdagangan luar negeri masih banyak mengalami hambatan, bahkan ada kemungkinan disembunyikan di negara asing, maka untuk kebutuhan impor barang lebih baik digunakan untuk mata uang asing yang lebih kuat. 8. menarik cukai atas barang-barang yang di impor dri pedagang asing dengan menggunakan emas dan perak. 9. mendorong negara-negara asing untuk mau menggunakan emas dan peraknya untuk bertransaksi dan bukan untuk alat komoditi. 10. negara harus tetap memiliki simpanan (devisa) dalam bentuk mata uang asing yang kuat untuk menjaga nilai emas dan perak.

b. Sistem Kurs dalam Pandangan Islam Ketika negara-negara di dunia masih menggunakan sistem mata uang emas, persoalan kurs mata uang tidak pernah muncul. Dengan sistem emas ini, perdagangan internasioanal mencapai puncak kejayaan kemudahannya. Proses ekspor-impor dapat berlangsung tanpa adanya kendala apapun. Dalam sistem Islam, seperti yang telah dikemukakan tentang pandangan Islam mengenai mata uang, bahwa satuan mata uang terikat dengan emas dalam kadar tertentu yang di ukur menurut berat timbangannya. Ekspor-impor yang dilakukan dengan menggunakan mata uang emas hukumnya adalah mubah. Siapapun boleh memiliki mata uang emas, emas batangan, bijih emas, perhiasan emas, dan bebas pula untuk mengekspor atau mengimpornya.

Namun demikian, saat ini sistem tersebut sudah tidak berlaku lagi. Seluruh dunia saat ini menggunakan mata uang kertas yang berbeda-beda untuk setiap negara yang mengeluarkannya. Dengan adanya perbedaan mata uang tersebut, menurut teori ada tiga kemungkinan sistem kurs yang dapat diberlakukan: 1. sistem kurs tetap (fixed exchange rates) 2. sistem kurs mengambang terkendalai (managed floating exchange rates) 3. sistem kurs mengambang bebas (freely floating exchange rates). Dari tiga sistem kurs tersebut, ternyata Islam telah memiliki ketentuan berbeda dari ketiganya. Sistem kurs dalam Islam sepintas hampir mirip dengan sistem kurs mengambang bebas, karena Islam memberikan kebebasan penuh bagi rakyatnya untuk melakukan transaksi berbagai valuta asing secara bebas (suka sama suka). Akan tetapi aturan tersebut tidak berhenti sampai di situ, karena masih ada syarat selanjutnya, yaitu harus dilakukan secara kontan dalam satu tempat. Rasulullah bersabda (yang artinya), Juallah emas dengan perak sesuka kalian dengan (syarat harus) kontan. Emas dan perak dalam hadits tersebut adalah emas dan perak sebagai mata uang yang diberlakukan pada masa Nabi SAW. Ketentuan tersebut berlaku umum untuk transaksi-transaksi mata uang sebagaimana yang berlaku saat ini. Dalam masalah perdagangan, baik perdagangan domestik maupun internasioanal, Islam menjadikan pedagang sebagai asas yang akan dijadikan titik perhatian dalam kajian maupun hukum-hukum perdagangannya. Status hukum komoditi yang diperdagangkan akan mengikuti status hukum pedagangnya. Hukum dagang atau jual beli adalah hukum terhadap pemilikan harta, bukan hukum terhadap harta yang dimilikinya. Dengan kata lain, hukum dagang atau jual beli adalah hukum untuk penjual dan pembeli, bukan untuk harta yang dijual atau yang di beli. Allah SWT, berfirman yang artinya: Allah telah menghalalkan jual beli... (QS. Al-Baqarah:275) Rasulullah SAW juga bersabda : Dua orang yang berjual beli boleh memilih (akan meneruskan jual beli mereka atau tidak) selama keduanya belum berpisah dari tempat akad. (HR. Bukhari Muslim). Menurut pandangan Islam, status pedagang internasioanal mengikuti kebijakan politik luar negeri Islam. Berdasarkan politik luar negeri itulah, maka status pedagang dapat dikelompokan menjadi empat, yaitu : 1. Pedagang yang berstatus sebagai warga negara Warga negara Islam, yaitu Muslim maupun non-muslim (kafir dzimmi), mempunyai hak untuk melakukan aktivitas perdagangan di luar negeri, sebagaimana kebolehannya melakukan aktivitas perdagangan di dalam negeri. Mereka bebas melakukan eksporimpor komoditi apapun tanpa harus ada izin negara, juga tanpa ada batasan kuota selama komoditi tersebut tidak merugiakan atau membawa keburukan. 2. Pedagang dari negara harbi hukman (negara yang secara de facto tidak sedang berperang dengan Islam) Pedagang dari negara harbi hukman, baik yang Muslim maupun non-Muslim, memerlukan izin khusus dari negara jika mereka akan memasukan komoditinya. Izin dapat untuk pedagang maupun untuk komoditinya, atau dapat juga hanya untuk komoditinya.

Jika pedagang dari negeri harbi hukman tersebut sudah berada dalam negara, maka dia berhak untuk berdagang di dalam negeri maupun membawa keluar komoditi apa saja selama komoditi tersebut tidak membawa keburukan atau tidak merugikan (misalnya narkoba). 3. Pedagang dari negara harbi hukman yang terikat dengan perjanjian. Pedagang yang berasal dari negara harbi hukman yang terikat dengan perjanjian dengan negara islam, diperlakuakn sesuai dengan isi perjanjian yang diadakan negara tersebut, baik berupa komoditi yang mereka impor dari negara islam, maupun komoditi yang yang mereka ekspor ke negara Islam. 4. Pedagang dari negara harbi filan (negara yang secara real atau de facto sedang memerangi Islam) Pedangan dari negara harbi filan, baik yang Muslim maupun non -Muslim, diharamkan secara mutlak melakukan ekspor maupun impor. Perlakuan terhadap negara yang secara real memerangi Islam adalah embargo secara penuh, baik untuk kepentingan ekspor maupun impor. Dalam perdagangan internasioanal, Islam telah memberikan ketentuan terhadap penetapan tarif, baik untuk ekspor maupun impor, yang biasa dikenal dengan bea cukai. Menurut hukum Islam, bea cukai haram diambil untuk pedagang warga negara terhadap komoditi apapun. Adapun warga negara asing diperlakukan sesuai dengan yang telah dikenakan terhadap pedagang warga negara Islam ketika memasuki negara asing tersebut. F. KESIMPULAN DAN SARAN Walaupun dari sisi fiskal sudah kuat, bukan berarti persoalan ekonomi telah aman. Masih tetap ada ancaman yang serius selama perekonomian negara adalah perekonomian terbuka. Dalam perekonomian terbuka, arus perdagangan tidak dapat dihindari. Apabila sistem moneter yang digunakan negara masih menganut sistem moneter ekonomi kapitalisme sekarang, maka ancaman kebangkrutan ekonomi tetap akan menjadi monster yang akan siap menerkam. Semua itu berujung pada sangat rentannya sistem mata uang yang hanya disandarkan pada nilai nominal yang tertulis pada secarik kertas, tanpa ada peminjaman yang jelas, kecuali hanya bergantung pada kekuatan supply dan demand yang ada di pasar uang, sebagaimana yang terjadi pada saat ini. Oleh karena itu dalam sistem ekonomi Islam, sistem mata uang wajib berbasiskan emas dan perak, atau yang lebih dikenal dengan mata uang dinar dan dirham. Dengan demikian mata uang dalam Islam dapat menjadi mata uang yang kuat dan stabil, tidak akan mudah terguncang oleh gejolak perubahan kurs sebagaimana yang terjadi pada mata uang kertas. Nilai nominal dari mata uang ini akan sama dengan nilai intrinsiknya. Mata uang ini tidak membutuhkan pengendalian moneter manapun dan juga tidak perlu dijamin bank sentral manapun, karena mata uang ini dapat menjamin dirinya sendiri sebagai barang berharga. Apalagi jika mata uang ini digunakan untuk alat transaksi perdagangan internasioanal, maka mata uang ini akan memberikan keadilan bagi segenap negara-negara yang ada di dalamnya. Semua

barang dan jasa yang di transaksikan akan dapat dinilai sama, dengan harga yang relatif stabil. Selain resiko spekulasinya nol, ongkos usaha juga dapat dikurangi sebagai akibat batasan-batasan tertentu lenyap, yang selanjutnya akan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA Rivai Prof. Dr. Veithzal, Islamic Economics, Jakarta : Bumi Aksara, 2009 Rivai Prof. Dr. Veithzal, Islamic Bank and Financial Institution Management, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007 Antonio, Muhamad Syafii.. Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum. Jakarta: Tazkia Instute. 1999 Frank E, Vogel dan Samuel L, Hayes.. Hukum Keuangan Islam: Konsep Teori dan Praktik. Bandung: Po Box 31 Ujung berung , 2007 Azwar Karim, Adiwarman.. Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan. Jakarta: IIIT Indonesia, 2003 Dahlan, Abdul Azis. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve 1996 Al-Auraq Al-Naqdiyah fi al-Iqtishad al-Islami yang telah diterjemahkan oleh Barito dan Ali (2005) ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mata Uang Islami: Chapra, Dr.Umer, Sistem Moneter Islam, (terjemahan dari a just Monetary System), Jakarta : Gema Insani Press, 2000 Zainul arifin, Memahami Bank Syariah Lingkup, Peluang, tantangan, dan prospek, penerbit AlvaBet, Jakarta, 2000 Mahmud, Prof.Dr.Syamsuddin, Ekonomi Moneter Indonesia,Jakarta : Yayasan Kesejahteraan Ummat, 1985 Vadillo, Umar Ibrahim, Fatwa on Paper Money, Granada, Spain : Madinah Press, Murabitun, 1991.