Anda di halaman 1dari 8

International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"

Surabaya, August 25-26, 2006

PENINGKATAN MUTU DESAIN STRUKTUR DI INDONESIA DENGAN


MENGGUNAKAN SOFTWARE DESAIN STRUKTUR TERPADU SANSPRO
Structural Design Quality Improvement in Indonesia Using
Comprehensive Structural Design Software SANSPRO

Nathan MADUTUJUH1

ABSTRAK: Berada di daerah gempa yang aktif, semua bangunan di Indonesia harus direncanakan
mengikuti persyaratan yang ketat dari peraturan bangunan sehingga mampu menahan beban gempa
yang direncanakan. Sayangnya, banyak insinyur di Indonesia kurang memiliki kemampuan desain dan
training yang cukup untuk merencanakan bangunan tahan gempa, khususnya dengan menggunakan
peraturan bangunan dan peraturan gempa yang baru. Insinyur pemula biasanya memiliki pengetahuan
yang cukup mengenai peraturan yang baru, tapi kurang dalam pengalaman desain yang nyata.
SANSPRO, suatu program terpadu untuk Pemodelan, Analisis, Desain, Penggambaran, dan
Perhitungan Biaya Struktur, dapat menjadi suatu alat bantu yang sangat berguna untuk meningkatkan
mutu desain di Indonesia. Program ini dapat digunakan sebagai alat bantu belajar, dan juga sebagai
alat desain sehari-hari.

ABSTRACT: Located in active earthquake zone, all buildings in Indonesia should be designed to
follow strict building code requirements to be able to resist designated earthquake load.
Unfortunately, many engineers in Indonesia do not have enough design skill and training for aseismic
building design, especially with new building code and earthquake design code. Freshly graduated
engineers usually have enough knowledge about the new code, but lack of actual design experiences.
SANSPRO, as an Integrated Structural Modeling, Analysis, Design, Drawing, and Cost estimation
software, can be a very useful tool to increase design quality in Indonesia. It can be used as a learning
tool and also as a real design tool.

KEYWORDS: Structural modelling, analysis and design, drawing generator, cost estimation,
foundation design, integrated software, design tools.

1. PENDAHULUAN

Aplikasi komputer dalam dunia teknik sipil sekarang sudah merupakan suatu keharusan. Hal ini
terlihat ketika listrik padam di suatu konsultan sipil dengan ratusan insinyur, mereka tidak bisa bekerja
sampai sore. Namun apakah mutu desain meningkat seiring dengan maraknya penggunaan software
canggih ini ? Dari pengamatan, malah ada kecenderungan peningkatan kecerobohan dalam desain
yang mengakibatkan kegagalan struktur bahkan pada masa konstruksi. Sering kita mendengar atau
menjumpai sendiri kasus pelat yang melendut, atau dinding yang retak direncanakan dengan
menggunakan software canggih oleh konsultan terkemuka.
Kemampuan intelektual seorang insinyur tidak dapat ditingkatkan begitu saja dengan memberikan
software yang canggih atau seperangkat peraturan bangunan yang lengkap. Kemauan, ketelitian,
1
Director of Engineering Software Research Center, a practicing structural engineer, and a doctorate candidate at Catholic
Parahyangan University, Bandung, INDONESIA. E-mail: nathan@bdg.centrin.net.id

123
MADUTUJUH

kerajinan, bakat dan naluri seorang insinyur masih merupakan faktor yang penting. Menggunakan
suatu software yang canggih yang menyediakan ribuan halaman output tanpa menyediakan fasilitas
reporting dan quality control yang mudah digunakan akan dapat membawa banyak masalah di
kemudian hari. Dalam paper ini akan dibahas bagaimana cara penggunaan software analisis dan desain
struktur yang optimal tanpa merasa kehilangan kendali atas hasil yang diperoleh. Tujuannya adalah
agar prosedur desain yang baik dapat diterapkan pada sebanyak mungkin proyek, dan perbedaan yang
tajam dari mutu desain dapat dikurangi.

Lebih jauh lagi, biaya struktur juga sekarang digunakan sebagai nilai tambah dan alat marketing,
bahkan ada konsultan yang berani menjamin, “kalau pakai saya, dijamin volume beton ... m3/m2, dan
berat tulangan .... kg/m3”, bahkan kadang-kadang sebelum melihat gambar desain arsiteknya. “Ilmu
tebakan” seperti ini akan menjadi bumerang di kemudian hari, karena terlanjur berkata, maka volume
harus dikurangi, dengan mengorbankan detail dan kebutuhan akan kekuatan dan kekakuan. Alternatif
dari perencanaan “gaya tebakan” diatas adalah menggunakan program analisis struktur yang memiliki
kemampuan menghitung volume dan biaya struktur, walaupun masih dalam level estimasi.

2. ASPEK-ASPEK DALAM PERENCANAAN STRUKTUR

Ada bebeberapa aspek dalam perencanaan struktur yang melibatkan perancang struktur, antara lain:
1. Desain Awal : Pemilihan Sistem dan ukuran awal
2. Desain Skematik : Pemilihan ukuran akhir
3. Beban struktur : Perhitungan beban
4. Analisis Struktur : Mencari gaya-gaya dalam, reaksi, dan deformasi
5. Desain Struktur : Mencari penulangan beton dan rasio tegangan baja
6. Desain Pondasi : Mencari jumlah dan konfigurasi pondasi yang optimal
7. Penggambaran Detail : Menggambar detail balok, kolom dan indeks penamaannya
8. Analisis Volume dan Biaya : Menghitung volume, biaya beton, baja, cat dan bekisting
9. Penyusunan Laporan
Umumnya software analisis struktur yang ada hanya dapat menangani poin 3 dan 4 saja. Beberapa
software dapat menangani poin 2 s/d 7 dan hampir tidak ada atau sangat sedikit software yang
memiliki cukup kecerdasan untuk menangani poin 1 s/d 8, itu pun hanya untuk struktur khusus.

3. HUMAN FACTOR

Sifat umum dari manusia adalah lambat untuk berubah bila sudah merasa nyaman pada suatu situasi
tertentu. Sifat ini menghambat dalam penyerapan metode desain dan peraturan bangunan baru, yang
setiap 3-5 tahun selalu diperbaharui. Kecenderungan dari pelaku perancangan adalah memilih sesuatu
yang lebih mudah dan cepat dilaksanakan, walaupun hasilnya mungkin tidak akurat. Jika sesuatu tidak
tersedia fasilitasnya dengan mudah, sangat sukar untuk berharap bahwa sesuatu tugas akan dikerjakan
dengan baik dan benar sesuai prosedur yang telah ditentukan.

4. PROGRAM SANSPRO SEBAGAI ALAT BANTU PERENCANAAN STRUKTUR

Program komputer analisis dan desain struktur (SANSPRO) pada awalnya (1988) dirancang dengan
filosofi lama dimana software masih dianggap sebagai alat bantu analisis saja, sebagai berikut:
Perencana memanfaatkan komputer sebagai alat bantu analisis dan desain struktur. Sedangkan
penggambaran akhir dan perhitungan volume dilakukan dengan kontrol ketat manusia.

Tabel 1. Pembagian tugas antara perencana dan program komputer

Tahapan Pemodelan Analisis Desain Penggambaran Laporan


Pelaku Perencana Program Program Perencana Perencana

124
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"

Dalam perkembangannya, Program SANS berkembang menjadi


suatu software terpadu dengan filosofi baru dimana software
berfungsi sebagai database pusat desain, sebagai berikut [1]:

Suatu model terpadu disusun dengan bantuan komputer, komputer


melakukan analisis, desain, perhitungan volume, dan
penggambar-an. Sang insinyur sebagai perencana diberikan
sebanyak mungkin jendela untuk memeriksa model tersebut dari
berbagai segi, kemudian model dapat diatur kembali parameternya
dan semua laporan direvisi kembali. Proses dikontrol oleh perencana
dengan menggunakan parameter yang tepat (Gbr. 1):
Gambar 1. Diagram Aliran Data Desain

Beberapa aspek dalam tahapan perencanaan struktur dengan SANSPRO dijelaskan sebagai berikut:

4.1. DESAIN AWAL

Pada desain awal ini ditentukan sistem struktur yang efisien: sistem pemikul beban gravitasi, dan
sistem pemikul beban lateral gempa. Tidak banyak yang dapat diatur oleh program, selain
memberikan database berbagai jenis struktur yang pernah ada, sehingga perencana dapat
menggunakannya dalam pemilihan sistem struktur yang optimal. Idealnya dicoba beberapa sistem
struktur alternatif, memang untuk proyek khusus mutlak perlu, tapi untuk proyek tipikal akan
menghabiskan banyak waktu dan biaya. Pada SANSPRO, dengan telah dilakukannya otomatisasi pada
tahapan berikutnya, sebenarnya mencoba beberapa sistem struktur tidaklah begitu menghabiskan
waktu. Dalam menentukan ukuran awal, dilakukan dengan rumus empiris sebagai berikut [5]:
Ukuran Balok: H = L/12 s/d L/14 (konvensional), H = L/20 s/d L/24 (beton prategang), dan
H = L/4 (balok kantilever)
Ukuran Kolom: Area kolom = Ptotal / (0.3 × fc’)
Ukuran Shearwall: Area wall = Ptotal / (0.2 × fc’)
Tebal pelat: Tp = L/33 (konvensional), Tp = L/30 (flat slab)
Dimana H=tinggi balok, L=bentang, fc’=kuat tekan beton, dan Tp=tebal pelat

4.2. DESAIN SKEMATIK

Dengan SANS, ukuran balok baja dan beton yang sesuai dengan bentangnya dapat dipilih secara
otomatis dengan satu perintah sederhana. Cuma hasilnya adalah pembagian group balok dan kolom
dapat menjadi tidak sesuai karena bentangnya berbeda. Untuk itu setelah dilakukan perubahan,
perencana dapat melakukan perbaikan. Jenis dan ukuran penampang balok dan kolom dapat
ditampilkan sesuai kode warna yang berbeda sehingga dapat diperiksa dengan mudah. Prosedur
Desain Skematik yang dapat dikerjakan secara otomatis oleh SANSPRO adalah sebagai berikut [1]:
1. Tentukan daftar calon ukuran balok dan kolom yang tersedia
2. Untuk setiap balok:
1. Cari panjang fisiknya (dari kolom ke kolom) atau kolom ke ujung kantilever
2. Tentukan nilai H = L/12-L/14 (balok induk) atau H=L/5-L/4 (kantilever)
3. Cari dari daftar balok yang ada, ukuran yang terdekat
3. Untuk setiap kolom:
1. Cari luas tributari area kolom (bisa juga beban pada setiap pelat yang bersentuhan dengan
kolom diberikan sebanyak 25% untuk pelat segiempat, dan 33% untuk pelat segitiga)
2. Bagi tinggi bangunan ke dalam beberapa grup lantai (per grup dapat 1-5 level)
3. Untuk tiap grup lantai:
1. Hitung beban lantai diatas kolom yang bersangkutan
2. Cari luas permukaan kolom

125
MADUTUJUH

3. Cari dari daftar kolom yang ada, ukuran yang terdekat

4.3. PERHITUNGAN BEBAN STRUKTUR

Perhitungan beban yang tadinya membutuhkan waktu yang lama, sekarang bukan menjadi masalah
lagi. Berat sendiri, beban mati pelat, beban hidup, beban gempa, beban angin dan beban tekanan tanah
dapat dimodelkan dengan mudah dengan SANSPRO, dengan prosedur sebagai berikut [1]:
1. Berat sendiri
1. Masukkan berat jenis bahan pada tabel MATERIAL
2. Masukkan ukuran penampang pada tabel SECTION
3. Berat sendiri = berat jenis × luas penampang × panjang
2. Beban mati dan Beban hidup terbagi merata
Beban mati dan hidup terbagi rata dapat dimodelkan sebagai beban terdistribusi pelat
3. Beban gempa
1. Beban gempa statik ekivalen dapat dihitung secara otomatis dari data berat per lantai
2. Masa untuk analisis dinamik dihitung dengan mudah dengan memberikan faktor
konstribusi masa pada tiap kasus beban yang diperhitungkan masanya.
3. Peta gempa Indonesia dan daftar kota beserta zona gempanya juga diberikan
4. Beban angin pada dinding
1. Beban angin pada struktur dikenakan pada elemen shell atau shearwall yang dipasang
pada posisi dinding. Bila kekakuan dinding tidak ingin dimasukkan, maka elemen
shell dapat diberikan nilai kekakuan nol.
2. Setelah dihitung, beban angin pada dinding dimodelkan sebagai beban titik pada
diafragma lantai atas dan bawah masing-masing 50%.
3. Tekanan angin yang terjadi pada dinding tergantung pada ketinggian dan kecepatan
angin dasar
5. Beban tekanan tanah pada dinding basement
1. Beban tekanan tanah pada struktur dikenakan pada elemen shearwall seperti diatas.
2. Setelah dihitung, beban tekanan tanah pada dinding dimodelkan sebagai beban
terdistribusi pada elemen shell untuk dieruskan pada titik atas dan bawah.
3. Tekanan tanah yang terjadi pada dinding tergantung pada kedalaman dan adanya
muka air tanah atau tidak. Beban dapat berupa segitiga atau trapesium.
6. Beban tekanan tanah pada pelat dasar basement
1. Beban tekanan tanah pada struktur dikenakan pada elemen shearwall seperti diatas.
2. Setelah dihitung, beban tekanan tanah pada lantai dimodelkan sebagai beban titik
3. Tekanan tanah yang terjadi pada lantai basement tergantung pada kedalaman dan
adanya air tanah, dan adanya tanah liat yang bersifat ekspansif.

4.4. ANALISIS STRUKTUR

Analisis struktur umumnya sudah bukan masalah bahkan telah menjadi proses blackbox dan dianggap
benar. Hal ini yang menyebabkan banyaknya kegagalan struktur pada saat konstruksi. Suatu prosedur
minimal dalam pemeriksaan hasil analisis struktur harus dilakukan:
1. Memeriksa kewajaran besaran beban dan reaksi tumpuan
2. Memeriksa kewajaran ukuran kolom, balok dan pelat
3. Memeriksa lendutan balok dan pelat
4. Memeriksa keabsahan hasil analisis dinamik:
1. Tidak seperti analisis statik dimana hasilnya hanya tergantung kekakuan struktur dan
beban, hasil analisis dinamik juga sangat tergantung pada parameter analisis
dinamiknya: jumlah eigen, perioda getaran, rasio damping, mode getaran, faktor
partisipasi massa, drift lantai dan rasio base shear dinamik/statik

126
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"

2. Proses analisis dinamik adalah bersifat iteratif dan harus dilakukan berulangkali agar
didapat hasil yang tepat. Sistem pelaporan ringkas dan Visual Report dari SANSPRO
akan membantu dalam mempercepat pemeriksaan hasil analisis dinamik ini.

Program SANSPRO dalam hal ini menyediakan fasilitas Visual Report dan Quick Report untuk
memeriksa output berupa lendutan, gaya dalam, reaksi perletakan, maupun untuk memeriksa hasil
analisis dinamik. Keabsahan suatu model dapat diperiksa terlebih dahulu dengan Model Advisor, suatu
modul expert system yang memiliki database kesalahan-kesalahan pemodelan yang sering dilakukan.

4.5. DESAIN STRUKTUR

Proses perencanaan struktur adalah proses yang bersifat iteratif, tidak dapat langsung sekali jadi.
Setelah beban, model struktur, dan hasil analisis sudah benar, masih perlu diperiksa apakah
penampang yang ada masih memenuhi. Walaupun proses desain juga bersifat Blackbox, tapi tetap
diberikan kesempatan bagi perencana untuk mengatur parameter desain, dan juga mengatur
pembulatan hasil desain.
1. Mengatur parameter desain
1. Faktor beban dan faktor reduksi kekuatan
2. Mutu bahan, diameter tulangan, mutu baut, dsb
3. Parameter desain : desain kapasitas, desain sambungan
2. Pembulatan hasil desain
1. Jarak sengkang dapat dibulatkan ke cm terdekat
2. Jumlah dan luas tulangan minimal dapat ditentukan
3. Untuk sambungan baja, jumlah baris baut dan jumlah baut minimal dapat ditentukan

Pemeriksaan hasil desain juga dapat dilakukan dengan lebih mudah dengan menggunakan Visual
Report, dimana setiap batang diberikan kode warna yang menunjukkan status desainnya. Kode warna
yang berbeda-beda dapat menggambarkan apakah desain sudah optimum atau belum. Dengan
menggunakan sistem ini, pemeriksaan mutu desain sangatlah dimudahkan, sehingga proses
perencanaan struktur menjadi menarik dan tidak membosankan. Arti dari kode warna dalam output
SANSPRO adalah sebagai berikut [1]: hijau=Penampang terlalu besar, biru=penampang optimal,
ungu=penampang terlalu kecil (atau gagal untuk beban tetap), merah=desain gagal.

Desain pelat adalah proses yang mudah tetapi cukup rumit, terutama dalam penggambaran hasilnya.
Dalam SANSPRO, pelat beton direncanakan hanya terhadap beban gravitasi, dengan perhitungan
momen pelat berdasarkan tabel. Untuk analisis yang lebih akurat, dapat digunakan elemen pelat lentur,
khususnya untuk struktur flat slab. Modul desain pelat ini dapat membedakan pelat one-way atau two-
way, dan bentuk pelat segiempat maupun segitiga. Desain pelat ini cukup penting karena biaya pelat
adalah cukup signifikan dalam keseluruhan biaya struktur. Untuk menghemat biaya, dapat juga
diberikan opsi untuk menyederhanakan tulangan pelat menjadi tulangan menerus dan tulangan
tertekuk (bent rebar).

4.6. DESAIN PONDASI

Desain pondasi adalah area abu-abu, dimana ada keterlibatan perencana struktur dan ahli geoteknik.
Idealnya, bila akan diotomatisasi semuanya, perlu dimasukkan peta lokasi sondir, boring, dan hasil uji
laboratorium untuk setiap sampel boring. Prosedur desain pondasi ini, karena biasanya datanya tidak
diintegrasi, memakan waktu yang lama, dan akhirnya tidak dikerjakan dengan baik (baik karena lalai
atau tidak sempat), atau yang mengerjakannya tidak memiliki akses penuh ke database model
komputer sehingga tidak semua kombinasi beban dan parameter desain dapat digunakan. Perencanaan
sistem pondasi dengan SANSPRO dilakukan sbb:
1. Menyiapkan data daya dukung tanah dan daya dukung tiang aksial, lateral, dan tarik

127
MADUTUJUH

2. Mengambil gaya reaksi dari seluruh kasus beban yang ada


3. Melakukan kombinasi ulang gaya reaksi untuk:
1. Beban gravitasi + reduksi jumlah lantai
2. Beban gravitasi + Beban gempa + beban hidup tereduksi
3. Beban gravitasi + Beban gempa × multiplier + beban hidup tereduksi
4. Untuk perencanaan jenis pondasi telapak
1. Menghitung Luas telapak minimum
2. Menghitung tekanan tanah dan momen pada telapak
3. Periksa pons, tentukan tebal telapak
4. Mengubah ukuran dan tebal telapak jika momen terlalu besar
5. Menghitung tekanan tanah akhir
6. Menghitung biaya struktur
5. Untuk perencanaan jenis pondasi tiang (langkah ini dilakukan untuk setiap jenis tiang
pada setiap pilecap, untuk tiap kombinasi beban, lalu dipilih jenis tiang termurah)
1. Menghitung jumlah tiang, menurut beban aksial, beban lateral, beban tarik,
abaikan dulu efisiensi grup, berat dan ukuran kepala tiang (pilecap)
2. Dari jumlah tiang yang didapat diatas, dicari konfigurasi tiang yang ideal
3. Dari konfigurasi tiang, ditentukan ukuran pilecap
4. Memeriksa kekuatan terhadap pons, tentukan tebal pilecap
5. Menghitung gaya-gaya pada tiang dan momen pada pilecap
6. Mengubah ukuran dan tebal pilecap jika momen terlalu besar
7. Revisi desain pondasi dengan menggunakan faktor efisiensi grup vertikal dan
lateral
8. Langkah 1-6 dapat diulangi dengan memasukkan efisiensi grup, dan berat pilecap
9. Menghitung biaya struktur
6. Pemeriksaan Uplift dan Differential Settlement
Konfigurasi final dan jumlah tiang yang diperoleh diberikan kembali kepada ahli
geoteknik untuk diverifikasi sbb:
1. Menghitung reduksi kapasitas aksial, lateral, dan tarik dari tiang
2. Menghitung differential settlement untuk perencanaan basement dan sloof
7. Pemeriksaan Akhir dapat dilakukan secara grafis dengan Visual Report dengan melihat
gambar denah pilecap dan pondasi hasil desain

4.7. PENGGAMBARAN DETAIL BALOK/KOLOM

Penggambaran struktur adalah proses yang juga memakan waktu lama dan sukar untuk
diotomatisasikan. Prosedur penggambaran yang umum dilakukan adalah:
1. Perencana struktur mengambil hasil desain dari komputer dan membuat sketsa tulangan
2. Dari sketsa tulangan yang ada, dibuatkan sejumlah detail balok dan kolom oleh drafter.
Jumlah detail dibatasi agar didapatkan gambar yang sederhana namun tetap ekonomis
3. Detail balok dan kolom diberikan nomor detail yang unik
4. Denah pembalokan digambar, dan setiap balok diberikan nomor detail yang sesuai
5. Denah kolom tiap grup lantai digambar, dan setiap kolom diberikan nomor detail yang sesuai
6. Bila perlu, digambarkan juga potongan memanjang balok atau bahkan potongan portal

Proses diatas sangat mudah namun akan memakan waktu lama bila dilakukan secara manual. Belum
lagi resiko human error karena proses ini melibatkan juga drafter dan pihak lainnya yang tidak terlibat
langsung dalam perencanaan. Pada suatu struktur dengan jumlah balok dan kolom ribuan, kesalahan
gambar hampir pasti akan terjadi. Proses penggambaran dalam SANSPRO adalah sbb [4]:
1. Denah balok + tulangannya, dan juga potongan portal, dapat dicetak dengan dua opsi:
Tulangan yang diperlukan, atau yang sudah melalui proses penyamaan dan penyederhanaan
2. Detail penulangan balok dan kolom dapat dibuat secara otomatis sbb:

128
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"

1. Untuk tiap lantai lakukan:


1. Untuk tiap tipe balok lakukan:
1. Menyederhanakan pola tulangan balok
2. Menghitung jumlah detail tulangan, sesuai tul. lapangan/tumpuan, dan geser.
3. Menaikkan tulangan lapangan 10-20% untuk efek redistribusi momen [5]
4. Mereduksi tulangan tumpuan 0-15% untuk efek redistribusi momen [5]
5. Bila jumlah detail tulangan masih terlalu banyak lakukan:
1. Mencari jumlah tulangan minimum dan maksimum
2. Menentukan berapa detail tulangan per tipe balok yang diinginkan
3. Konversi detail lama ke indeks detail baru yang terdekat
6. Mengisikan nomor indeks detail tulangan ke gambar denah balok
2. Untuk tiap tipe kolom lakukan:
1. Menyederhanakan tulangan kolom
2. Menghitung jumlah detail tulangan, sesuai jumlah tulangan memanjang
3. Mengisikan nomor indeks detail tulangan ke gambar denah kolom

Untuk mendapatkan detail yang lebih sedikit, pembagian jenis detail tulangan dapat dilakukan tidak
per lantai, tapi per gedung, namun proses revisi gambar nantinya akan lebih sulit.

Gbr 2. Detail Penulangan Gbr. 3. Detail Sambungan Gbr. 4. Detail Balok

4.8. ANALISIS VOLUME DAN BIAYA

Analisis volume dan biaya struktur adalah seni yang kelihatannya mudah tapi rumit dan memakan
waktu yang lama. Sewajarnyalah perencana struktur diberikan juga tanggung jawab untuk
mempermudah proses ini, bagaimanapun juga, mereka yang paling mengetahui data ukuran dan hasil
desain struktur suatu gedung. Perencana yang sudah berpengalaman akan mengetahui betapa
pentingnya penguasaan perhitungan volume dan biaya, sesederhana apapun, karena hasil analisis biaya
yang mudah dan cepat dapat membantu dalam pemilihan sistem struktur dan dalam perencanaan
keuangan pemilik gedung. Prosedur perhitungan volume dan biaya dalam SANSPRO adalah sebagai
berikut [1]:
1. Masukkan harga satuan dasar (terpasang): beton (Rp/m3), baja (Rp/kg) dan bekisting (Rp/m2)
2. Volume beton akan dihitung dari data penampang, akurasi sekitar 2% dari volume aktualnya
3. Volume baja tulangan dapat dihitung dari tiga alernatif:
1. Persentase tulangan balok, kolom, dan pelat sesuai masukkan dari perencana
2. Jumlah tulangan dari hasil desain, diambil berbeda-beda tiap batang
3. Jumlah tulangan dari hasil desain, disamakan untuk tiap jenis batang
Volume baja dapat dikoreksi terhadap sambungan, dan telah memperhitungkan sengkang.
Ketelitian dari perhitungan ini adalah sekitar 5-10% (biasanya kurang) dari nilai aktualnya.
4. Khusus untuk berat tulangan pelat, karena alasan praktis, tetap menggunakan persentase
Laporan volume dan biaya yang diberikan adalah [1]: biaya total struktur, biaya/m2 struktur, volume
beton/m2, berat baja/m3 beton, volume beton, berat baja, dan luas bekisting/lantai.

129
MADUTUJUH

4.9. PENYUSUNAN LAPORAN

Penyusunan laporan yang baik juga merupakan sarana untuk meningkatkan mutu desain. Dengan
adanya laporan yang baik, perencana senior dapat memeriksa hasil dari perencana junior dengan
mudah, sehingga mutu desain dapat seragam. Agar mudah dibaca, laporan yang ringkas atau berupa
grafik ditempatkan di depan, dan laporan berupa tabel yang tebal ditempatkan sebagai lampiran.
Susunan dari laporan perencanaan struktur yang baik adalah [3]:
1. Ringkasan laporan, data proyek, data tanah dan jenis pondasi, sistem struktur, data material
2. Pemodelan struktur
3. Ringkasan hasil analisis struktur dan verifikasi hasil analisis dinamik
4. Ringkasan hasil desain struktur dan pondasi
5. Desain pelat dan dinding basement, disain galian, lereng, dan soldier pile
6. Desain komponen struktur lainnya: tangga, canopy, tangki air, dsb
7. Lampiran: Laporan detail analisis struktur, detail desain struktur

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Di atas telah dibahas beberapa prosedur desain standar yang dapat dilakukan dengan bantuan
komputer dengan mudah. Program komputer SANSPRO digunakan sebagai contoh karena program ini
tersedia luas di Indonesia, namun banyak program lainnya yang memiliki fasilitas yang sama bahkan
lebih canggih dapat digunakan bila memungkinkan. Dengan fasilitas program komputer yang ada, dan
ditambah tersedianya peraturan bangunan yang baru, diharapkan standar minimum mutu desain
struktur di Indonesia dapat ditingkatkan secara merata.

6. DAFTAR PUSTAKA

1. Nathan Madutujuh, SANPRO V.4.79 User's Guide, ESRC, Bandung, 2005


2. Tim Penasihat Konstruksi Bangunan, Pedoman Penyusunan Laporan Perencanaan Struktur
3. Puskim, Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung, SNI-1726-2002
4. ACI, Concrete Detailing Guide, 1989
5. PCA, Notes on ACI 2002, PCA, 2002

130