Anda di halaman 1dari 24

8

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Susu
2.1.1 Definisi Susu dan Kandungan Gizi Susu
Susu merupakan hasil sekresi kelenjar susu hewan mamalia betina sebagai
sumber gizi bagi anaknya. Kebutuhan gizi pada setiap hewan mamalia betina
bervariasi sehingga kandungan susu yang dihasilkan juga tidak sama pada hewan
mamalia yang berbeda (Potter, 1976). Menurut Winarno (1993), susu adalah
cairan berwarna putih yang disekresi oleh kelenjar mammae (ambing) pada
binatang mamalia betina, untuk bahan makanan dan sumber gizi bagi anaknya.
Sebagian besar susu yang dikonsumsi manusia berasal dari sapi. Susu tersebut
diproduksi dari unsur darah pada kelenjar susu sapi. Sedangkan menurut Buckle
(1985), susu didefinisikan sebagai sekresi dari kelenjar susu binatang yang
menyusui anaknya.
Susu merupakan makanan alami yang hampir sempurna. Sebagian besar
zat gizi esensial ada dalam susu, di antaranya yaitu protein, kalsium, fosfor,
vitamin A, dan tiamin (vitamin B1). Susu merupakan sumber kalsium paling baik,
karena di samping kadar kalsium yang tinggi, laktosa di dalam susu membantu
absorpsi susu di dalam saluran cerna (Almatsier, 2002).
Untuk keperluan komersial, sumber susu yang paling umum digunakan
adalah sapi. Namun ada juga yang menggunakan ternak lain seperti domba,
kambing, dan kerbau. Alat penghasil susu pada sapi biasanya disebut ambing.
Ambing terdiri dari 4 kelenjar yang berlainan yang dikenal sebagai perempatan
(quarter). Masing-masing perempatan dilengkapi dengan satu saluran ke bagian
luar yang disebut puting. Saluran ini berhubungan dengan saluran yang
sebenarnya menyimpan susu. Kelenjar tersebut terdiri dari banyak saluran cabang
yang lebih kecil yang berakhir pada suatu pelebaran yang disebut alveoli, di
alveoli itu susu dihasilkan (Buckle, 1985).



Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
9

Kandungan air di dalam susu tinggi sekali yaitu sekitar 87,5%. Meskipun
kandungan gulanya juga cukup tinggi yaitu 5%, tetapi rasanya tidak manis. Daya
kemanisannya hanya seperlima kemanisan gula pasir (sukrosa). Kandungan
laktosa bersama dengan garam bertanggung jawab terhadap rasa susu yang
spesifik (Winarno, 1993).

Tabel 2.1 Kandungan Gizi Susu Sapi per 100 gram
Kandungan Zat Gizi Komposisi
Energi (kkal) 61
Protein (g) 3.2
Lemak (g) 3.5
Karbohidrat (g) 4.3
Kalsium (mg) 143
Fosfor (mg) 60
Besi (mg) 1.7
Vitamin A (g) 39
Vitamin B
1
(mg) 0.03
Vitamin C (mg) 1
Air (g) 88.3
Sumber : Daftar Komposisi Bahan Makanan, (Depkes RI, 2005)

Menurut Winarno (1993), susu merupakan sumber protein dengan mutu
sangat tinggi. Kadar protein susu sapi sekitar 3,5%. Protein susu pada umumnya
dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu kasein dan protein whey. Kasein
merupakan komponen protein yang terbesar dalam susu dan sisanya berupa
protein whey. Kadar kasein pada protein susu mencapai 80% dari jumlah total
protein yang terdapat dalam susu sapi, sedangkan protein whey sebanyak 20%.
Kasein penting dikonsumsi karena mengandung komposisi asam amino yang
dibutuhkan tubuh. Susu merupakan bahan makanan penting karena mengandung
kasein yang merupakan protein berkualitas dan mudah dicerna oleh saluran
pencernaan.
Karbohidrat utama yang terdapat di dalam susu adalah laktosa. Laktosa
adalah disakarida yang terdiri dari glukosa dan galaktosa. Enzim laktase bertugas
memecah laktosa menjadi gula-gula sederhana yaitu glukosa dan galaktosa. Pada
usia bayi tubuh kita menghasilkan enzim laktase dalam jumlah cukup sehingga
susu dapat dicerna dengan baik. Namun seiring dengan bertambahnya usia,
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
10

keberadaan enzim laktase semakin menurun sehingga sebagian dari kita akan
menderita diare bila mengonsumsi susu (Khomsan, 2004).
Selain zat-zat gizi tersebut di atas, pada susu sapi juga terkandung unsur
gizi yang mampu menjaga kestabilan kualitas dan berat tubuh manusia. Hal ini
disebabkan karena di dalam susu terdapat tiga kandungan gizi dan asam lemak
susu yang cukup penting untuk tubuh manusia, yakni asam butirat, asam linoleat
terkonjugasi (ALT), dan fosfolipid. Asam butirat berfungsi untuk meningkatkan
daya cerna tubuh. Bahkan, asam butirat mampu mencegah bibit kanker usus besar
karena asam tersebut berguna membantu pertumbuhan bakteri baik (bersifat
prebiotik). Sementara ALT dan fosfolipid mampu menghindarkan tumor,
menurunkan risiko kanker, hipertensi, dan diabetes. Dua asam lemak susu tersebut
juga mampu mengontrol lemak dan perkembangan berat badan. Dengan demikian
jumlah lemak yang masuk ke dalam tubuh akan tersaring oleh ALT dengan
sendirinya (Siswono, 2005).
Meskipun susu memiliki kandungan gizi lengkap, namun ternyata
konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-
negara lain seperti Amerika, India, Cina, dan Malaysia. Rata-rata orang Indonesia
hanya mengonsumsi susu 5,10 kg dalam satu tahun (Khomsan, 2004). Tabel 2.2
menunjukkan tingkat konsumsi susu di Indonesia menurut propinsi.

2.1.2 Jenis Susu
Saat ini beragam jenis susu telah beredar di pasaran. Beberapa jenis susu
yang saat ini beredar di pasaran di antaranya yaitu:
1. Susu segar, adalah cairan dari ambing sapi, kerbau, kuda, kambing, atau
domba, dan hewan ternak penghasil susu lainnya yang sehat dan bebas dari
kolostrum, serta kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu
apapun dan belum dapat perlakuan apapun kecuali pendinginan. Susu jenis ini
kadar lemak susunya tidak kurang dari 3%, sedangkan total padatan bukan
lemak tidak kurang dari 8%.



Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
11

Tabel 2.2 Konsumsi Susu Menurut Propinsi (Ton)
Tahun
No. Propinsi
2003 2004 2005 2006 2007
1 Nanggroe Aceh Darussalam 8,674 9,624 35 32,654 35,023
2 Sumatera Utara 2,435 25 4,695 115,122 123,531
3 Sumatera Barat 2,583 2,794 1,962 20,058 21,464
4 Riau - - - 43,786 46,932
5 J ambi 9,957 10,256 - 14,848 15,897
6 Sumatera Selatan 24,603 25,077 24,871 44,298 47,499
7 Bengkulu 188,380 195 3,076 9,225 9,870
8 Lampung 26,588 29,949 27,070 37,776 40,243
9 Bangka Belitung - - - 9,865 10,539
10 Kepulauan Riau - - - 42,440 45,680
11 DKI J akarta 195,040 200,236 227,692 234 243
12 J awa Barat 281,419 281,440 176,650 312,570 333,509
13 J awa Tengah 112,468 113,817 114,198 185,868 207,024
14 DI Yogyakarta 6,993 7,063 3,866 22,706 24,735
15 J awa Timur 235,942 238,208 239,908 352,946 376,642
16 Banten - 4 37 75,743 80,947
17 Bali 63 68 153 27,868 29,654
18 Nusa Tenggara Barat - - - 21,244 22,708
19 Nusa Tenggara Timur - - - 12,750 13,628
20 Kalimantan Barat 9 9 36 34,127 36,522
21 Kalimantan Tengah - - - 23,171 21,491
22 Kalimantan Selatan 9,610 10,091 - 28,261 30,423
23 Kalimantan Timur 12,924 13,182 13,950 14,648 15,078
24 Sulawesi Utara 7,000 7,140 - 17,049 18,158
25 Sulawesi Tengah 4,646 4,692 7,297 16,163 17,624
26 Sulawesi Selatan 33 33 - 49,465 53,751
27 Sulawesi Tenggara - - - 10,791 11,421
28 Gorontalo 3,724 3,725 - 2,679 2,840
29 Sulawesi Barat - - - 4,991 21,464
30 Maluku - - - 4,728 5,032
31 Maluku Utara - - 248 2,998 3,168
32 Papua Barat - - - 5,540 6,295
33 Papua - - - 24,912 29,308
Sumber : Direktorat J enderal Bina Produksi, Departemen Peternakan
Keterangan : (-) Data tidak tersedia






Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
12

2. Susu pasteurisasi, adalah produk susu cair yang diperoleh dari susu segar atau
susu rekonstitusi atau susu rekombinasi yang dipanaskan dengan metode High
Temperature Short Time (HTST) atau metode Holding, dan dikemas segera
dalam kemasan yang steril secara aseptis. Susu jenis ini kadar lemak susunya
tidak kurang dari 3% dan total padatan bukan lemak tidak kurang dari 8%.
3. Susu UHT, adalah produk susu cair yang diperoleh dari susu segar atau susu
rekonstitusi atau susu rekombinasi yang disterilkan pada suhu tidak kurang
dari 135
o
C selama 2 detik dan dikemas segera dalam kemasan yang steril dan
secara aseptis. Susu jenis ini kadar lemak susunya tidak kurang dari 3% dan
total padatan bukan lemak tidak kurang dari 8%.
4. Susu steril, adalah produk susu cair yang diperoleh dari susu segar atau susu
rekonstitusi atau susu rekombinasi yang dipanaskan pada suhu tidak kurang
dari 100
o
C selama waktu yang cukup untuk mencapai keadaan steril komersial
dan dikemas secara hermetis (kedap). Susu jenis ini kadar lemak susunya tidak
kurang dari 3% dan total padatan bukan lemak tidak kurang dari 8%.
5. Susu tanpa lemak atau susu skim, adalah produk susu cair yang sebagian besar
lemaknya telah dihilangkan dan dipasteurisasi atau disterilisasi atau diproses
secara UHT. Susu jenis ini kadar lemak susunya tidak lebih dari 1,25% dan
kadar proteinnya tidak kurang dari 2,7%.
6. Susu rendah lemak, adalah produk susu cair yang sebagian lemaknya telah
dihilangkan. Susu jenis ini kadar lemak susunya tidak kurang dari 1,25% dan
tidak lebih dari 3% serta kadar proteinnya tidak kurang dari 2,7%.
7. Susu rekonstitusi, adalah produk susu cair yang diperoleh dari proses
penambahan air pada susu bubuk berlemak (full cream) atau susu bubuk skim
atau susu bubuk rendah lemak, dan dipasteurisasi atau disterilisasi atau
diproses dengan UHT.
8. Susu rekombinasi, adalah produk susu cair yang diperoleh dari campuran
komponen susu (susu skim, krim) dan air atau susu, atau keduanya yang
dipasteurisasi atau disterilisasi atau diproses secara UHT.
9. Susu lemak nabati/susu minyak nabati (filled Milk), adalah produk susu cair
yang diperoleh dengan cara menggantikan sebagian atau seluruh lemak susu
dengan minyak atau lemak nabati, atau campurannya dalam jumlah yang
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
13

setara. Produk ini mempunyai komposisi umum, penampakan, dan
penggunaan yang mirip dengan susu segar. Susu jenis ini kadar lemaknya
tidak kurang dari 3,25% dan total padatan bukan lemaknya tidak kurang dari
8,25%.
10. Susu evaporasi, adalah produk susu cair yang diperoleh dengan cara
menghilangkan sebagian air dari susu segar atau susu rekonstitusi atau susu
rekombinasi, dengan menggunakan proses evaporasi hingga diperoleh tingkat
kepekatan tertentu. Produk dikemas secara kedap (hermetis) dan diproses
dengan pemanasan setelah penutupan pengemas. Susu jenis ini kadar lemak
susunya tidak kurang dari 7,5% dan total padatan tidak kurang dari 25%.
11. Susu kental manis, adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh
dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga
mencapai tingkat kepekatan tertentu, atau merupakan hasil rekonstitusi susu
bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain.
Gula yang ditambahkan harus dapat mencegah pembusukan. Produk dikemas
secara kedap (hermetis) dan dipasteurisasi. Susu jenis ini kadar lemak susunya
tidak kurang dari 8%.
12. Susu kental manis dengan lemak nabati/susu kental manis minyak nabati,
adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dari susu lemak
nabati/susu minyak nabati dengan menghilangkan sebagian air dari campuran
susu (yang sebagian lemaknya telah diganti dengan lemak nabati/minyak
nabati) dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu dengan atau
tanpa penambahan bahan lain. Gula yang ditambahkan harus dapat mencegah
pembusukan. Produk dikemas secara kedap (hermetis) dan dipasteurisasi.
Susu jenis ini kadar lemaknya tidak kurang dari 8%.
13. Susu bubuk berlemak (full cream), adalah produk susu berbentuk bubuk yang
diperoleh dari susu cair, atau susu hasil pencampuran susu cair dengan susu
kental atau krim bubuk, atau susu hasil pencampuran susu cair dengan susu
kental atau susu bubuk, yang telah dipasteurisasi dan melalui proses
pengeringan. Susu jenis ini kadar lemak susunya tidak kurang dari 26% dan
kadar airnya tidak lebih dari 5%.
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
14

14. Susu bubuk rendah lemak dan susu bubuk kurang lemak, adalah produk susu
berbentuk bubuk yang diperoleh dengan proses pengeringan yang sebelumnya
telah dipisahkan sebagian lemak susunya dengan alat pemisah krim (cream
separator) atau susu hasil pencampuran susu cair dengan susu kental atau
krim bubuk, atau susu hasil pencampuran susu cair dengan susu kental atau
susu bubuk. Susu jenis ini kadar lemak susunya tidak kurang dari 1,5% dan
tidak lebih dari 26% serta kadar airnya tidak lebih dari 5%.
15. Susu bubuk bebas lemak atau susu skim bubuk, adalah produk susu berbentuk
bubuk yang diperoleh dengan proses pengeringan susu skim pasteurisasi. Susu
jenis ini kadar lemak susunya tidak lebih dari 1,5% dan kadar airnya tidak
lebih dari 5%.

2.1.3 Manfaat Susu
Susu merupakan salah satu jenis minuman yang menyehatkan karena
kandungan gizinya yang lengkap dan mengandung semua asam amino esensial
dalam jumlah yang cukup (Winarno,1993). Manfaat susu dapat dirasakan dengan
meminum susu minimal 2 gelas perhari (setara dengan 480 ml) terutama untuk
kesehatan tulang (Almatsier, 2002). Menurut Kalkwarf et al. (2003), seseorang
yang mengonsumsi susu dalam jumlah yang rendah pada saat anak-anak, akan
menghalangi mereka dalam mencapai kepadatan tulang maksimum (peak bone
mass) saat dewasa sehingga akan terjadi penurunan massa tulang dan dapat
menyebabkan terjadinya osteoporosis.
Menurut Khomsan (2004), susu mempunyai peranan penting dalam
mencegah osteoporosis, hal ini disebabkan karena susu merupakan sumber
kalsium dan fosfor yang sangat penting untuk pembentukan tulang. Tulang
manusia mengalami turning over, yaitu peluruhan dan pembentukan secara
berkesinambungan. Pada saat usia muda, pembentukan tulang berlangsung lebih
intens dibandingkan peluruhannya, sedangkan pada usia tua sebaliknya, peluruhan
tulang berlangsung lebih intens dibandingkan pembentukannya. Itulah sebabnya
pada usia tua terjadi proses kehilangan massa tulang (gradual lose of bone).

Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
15

Selain bermanfaat untuk kesehatan tulang, ternyata susu juga bermanfaat
untuk kesehatan gigi. Apabila kita rajin mengonsumsi susu, gigi kita akan
terlindungi dari kerusakan dan juga membuatnya menjadi kuat. Namun hal
tersebut tentu saja juga harus diiringi dengan rajin menggosok gigi secara teratur
agar mendapatkan hasil yang maksimal (Siswono, 2001).
Pentingnya susu bagi kesehatan tidak hanya menyangkut masalah
osteoporosis. Susu juga diketahui mendatangkan manfaat untuk optimalisasi
produksi melatonin. Susu yang mengandung banyak asam amino triptofan
ternyata merupakan salah satu bahan dasar melatonin. Melatonin adalah hormon
yang dihasilkan oleh kelenjar pineal pada malam hari. Kehadiran melatonin akan
membuat kita merasa mengantuk dan kemudian tubuh bisa beristirahat dengan
baik. Selain itu susu juga mempunyai kemampuan mengikat logam-logam berat
yang ada di sekitar kita akibat polusi. Dengan demikian susu bermanfaat untuk
meminimalisasi dampak keracunan logam berat yang secara tidak sengaja masuk
ke dalam tubuh karena lingkungan yang terpolusi (Khomsan, 2004).

2.1.4 Konsumsi Susu dan Hasil Olahannya
Susu dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk. Ada yang segar dan ada
yang dalam bentuk terolah, seperti susu bubuk dan susu kental manis. Manusia
juga mengonsumsi susu dari produk pangan yang mengandung susu seperti keju,
mentega, es krim, dan yogurt (Almatsier, 2002).
Menurut Logue (1991), susu dan produk olahannya tidak selalu
dikonsumsi secara bersamaan oleh beberapa kelompok manusia. Beberapa
kelompok seperti orang-orang Eropa bagian utara tidak hanya mengonsumsi susu
tetapi juga mengonsumsi produk olahannya seperti keju, sedangkan suku bangsa
Hausa-Fulani di Nigeria mengonsumsi yogurt tetapi tidak mengonsumsi susu.
Kelompok yang mengonsumsi produk olahan susu seperti keju dan yogurt tetapi
tidak mengonsumsi susu biasanya adalah orang-orang yang cenderung tidak
memiliki enzim laktase dalam jumlah yang cukup. Hal ini disebabkan karena keju
dan yogurt merupakan produk olahan susu yang sudah difermentasi oleh bakteri
dan hanya mengandung laktosa dalam jumlah yang sedikit sehingga enzim laktase
tidak dibutuhkan untuk mencerna makanan tersebut.
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
16

Tabel 2.3 Kandungan Gizi Produk Olahan Susu per 100 gram
Produk Olahan Susu
Kandungan Zat Gizi
Keju Mentega Es Krim Yogurt
Energi (kkal) 326 725 207 52
Protein (g) 22.8 0.5 4 3.3
Lemak (g) 20.3 81.6 12.5 2.5
Karbohidrat (g) 13.1 1.4 20.6 4
Kalsium (mg) 777 15 123 120
Fosfor (mg) 338 16 99 90
Besi (mg) 1.5 1.1 0.1 0.1
Vitamin A (g) 227 1000 158 22
Vitamin B
1
(mg) 0.01 0 0.04 0.04
Vitamin C (mg) 1 0 1 0
Air (g) 38.5 16.5 62.1 88
Sumber : Daftar Komposisi Bahan Makanan, (Depkes RI, 2005)

2.2 Kebutuhan Gizi Anak Usia Sekolah
Williams (1993) menyatakan bahwa anak usia 7-12 tahun masuk dalam
kategori praremaja. Pada periode ini pertumbuhan berjalan terus walaupun tidak
secepat seperti waktu bayi (Pudjiadi, 1997). Pada umumnya kelompok usia ini
mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan kesehatan anak
balita, namun nafsu makan mereka cenderung menurun, sehingga konsumsi
makanan tidak seimbang dengan kalori yang dibutuhkan (Notoatmodjo, 1997).
Menurut Berg (1986), anak umur 7-12 tahun biasanya banyak melakukan aktivitas
di luar rumah, sehingga sering melewatkan waktu makan.
Anak yang tergolong dalam usia sekolah memerlukan makanan yang
hampir sama dengan yang dianjurkan untuk anak prasekolah. Namun karena
pertambahan berat badan dan banyaknya aktivitas yang mereka lakukan maka
dibutuhkan porsi yang lebih besar (Pudjiadi, 1997). Menurut Apriadji (1986),
golongan usia 10-12 tahun kebutuhan energinya relatif lebih besar bila
dibandingkan dengan golongan usia 7-9 tahun karena pada usia 10-12 tahun
mereka mengalami pertumbuhan lebih cepat terutama penambahan tinggi badan.


Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
17

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI (2005), kebutuhan gizi pada anak
usia 10-12 tahun berbeda antara laki-laki dan perempuan terutama kebutuhan akan
zat besi. Anak perempuan membutuhkan zat besi yang lebih banyak daripada anak
laki-laki. Hal tersebut disebabkan karena pada usia tersebut anak perempuan
biasanya sudah mulai haid sehingga memerlukan zat besi yang lebih banyak.
Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan untuk anak usia sekolah
berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI (2005) adalah seperti dalam tabel
berikut.

Tabel 2.4 Angka Kecukupan Gizi Rata-rata yang Dianjurkan
untuk Anak Usia Sekolah

Usia 7-9 Tahun Usia 10-12 Tahun
Zat Gizi
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Energi (Kkal) 1800 1800 2050 2050
Protein (gr) 45 45 50 50
Kalsium (mg) 600 600 1000 1000
Besi/Fe (mg) 10 10 13 20
Vitamin A (RE) 500 500 600 600
Vitamin C (mg) 45 45 50 50
Sumber : Keputusan Menteri Kesehatan RI tahun 2005

2.3 Pentingnya Susu bagi Pertumbuhan Anak Usia Sekolah
Gizi yang cukup memiliki peran yang penting selama usia sekolah untuk
menjamin bahwa anak-anak mendapatkan pertumbuhan, perkembangan, dan
kesehatan yang maksimal. Anak-anak pada usia sekolah secara bertahap memiliki
dorongan untuk tumbuh bertepatan dengan waktu peningkatan nafsu makan dan
asupan makanan. Di dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tersebut
seorang anak membutuhkan sejumlah zat gizi yang harus didapatkan dari
konsumsi pangan dalam jumlah yang cukup dan sesuai dengan yang dianjurkan
setiap harinya (Brown, 2005). Hal tersebut dapat dipenuhi dengan mengonsumsi
makanan sehat yaitu empat sehat lima sempurna yang di dalamnya terdapat susu.
Susu merupakan salah satu jenis minuman sehat yang dapat mendukung
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
18

pertumbuhan dan perkembangan anak karena kandungan gizinya yang lengkap
dan mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang cukup
(Winarno,1993). Menurut Siswono (2001), jenis susu yang baik dikonsumsi anak
adalah susu bubuk, sedangkan susu kental manis kurang baik untuk dikonsumsi.
Alasan yang mendasari susu kental manis kurang baik untuk dikonsumsi adalah
karena kandungan gizinya yang rendah dan banyak mengandung gula yang
kurang baik untuk tubuh.
Selain untuk pertumbuhan dan perkembangan, pada usia ini anak juga
mimiliki kemampuan yang baik menyerap kalsium untuk kesehatan tulang. Agar
tulang menjadi kuat, diperlukan asupan zat gizi yang cukup terutama kalsium.
Sumber kalsium yang utama adalah berasal dari susu dan hasil olahan susu seperti
keju, mentega, es krim, yogurt, dan lain sebagainya (Almatsier, 2003). Menurut
Kalkwarf et al. (2003), seseorang yang mengonsumsi susu dalam jumlah yang
rendah pada saat anak-anak, akan menghalangi mereka dalam mencapai
kepadatan tulang maksimum (peak bone mass) saat dewasa sehingga akan terjadi
penurunan massa tulang dan dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis.

2.4 Faktor-faktor yang berhubungan dengan Konsumsi Susu pada Anak
Usia Sekolah
2.4.1 Karakteristik Anak
2.4.1.1 Jenis Kelamin
J enis kelamin menentukan pula besar kecilnya kebutuhan gizi bagi
seseorang. Pria lebih banyak mambutuhkan zat tenaga dan protein daripada
wanita, karena pria memang diciptakan untuk tampil lebih aktif dan lebih kuat
daripada wanita. Hal ini dapat dilihat dari jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pria
dan wanita. Pria lebih sanggup menyelesaikan pekerjaan berat yang biasanya tidak
bisa dilakukan wanita. Kegiatan wanita pada umumnya lebih banyak
membutuhkan keterampilan tangan dan kurang memerlukan tenaga (Apriadji,
1986).
Menurut Gibney et al. (2005), wanita memiliki kebutuhan energi yang
lebih rendah daripada pria karena massa tubuh wanita yang lebih rendah. Secara
sosial, di dalam suatu budaya yang mempermasalahkan berat badan berlebih juga
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
19

memandang kurang layak jika wanita mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.
Wanita tampak lebih banyak mempunyai pengetahuan tentang makanan dan gizi
serta menenjukkan perhatian yang lebih besar terhadap keamanan makanan,
kesehatan, dan penurunan berat badan.

2.4.1.2 Sikap
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan adalah sikap
seseorang terhadap makanan (Gibney et al., 2005). Sikap merupakan reaksi atau
respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap
tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari
perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 1997). Sedangkan menurut Marat (1984),
sikap merupakan produk dari proses sosialisasi di mana seseorang bereaksi sesuai
dengan rangsang yang diterimanya.
Menurut Muhadjir (1992), sikap itu tidak netral, sikap mempunyai
kecenderungan ke arah lebih positif atau negatif. Kecenderungan tersebut
bukanlah kecenderungan faktual, melainkan kecenderungan yang lebih bersifat
afektif berupa suka-tidak suka, setuju-tidak setuju, mencintai-membenci,
menggemari-tidak menggemari, dan semacamnya. Sikap merupakan perpaduan
antara instink dan kebiasaan. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau
orang lain yang paling dekat. Sikap akan membuat seseorang untuk mendekati
atau menjauhi sesuatu. Menurut Suhardjo (1989), sikap seseorang terhadap
makanan, suka atau tidak suka, akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan.

2.4.2 Karakteristik Orang Tua
2.4.2.1 Pendidikan Orang Tua
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi seseorang dalam menyerap dan
memahami sesuatu (Apriadji, 1986). Orang yang tergolong dalam kelompok kelas
sosial yang lebih tinggi dan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi
cenderung memiliki pola makan yang lebih sehat (Gibney et al., 2005). Namun
menurut Apriadji (1986), seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu
kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi
dibandingkan orang lain yang pendidikannya lebih tinggi. Hal ini disebabkan
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
20

karena walaupun berpendidikan rendah, jika orang tersebut sering terpapar dengan
sumber informasi atau selalu ikut serta dalam penyuluhan gizi tentu saja
pengetahuan gizinya akan lebih baik.

2.4.2.2 Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan seseorang akan berkaitan dengan tingkat pendapatan yang
diperolehnya. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas
dan kualitas makanan. Terdapat perbedaan proses pembentukan makan pada anak
dengan status ibu bekerja. Seorang ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah di luar
rumah, akan mengurangi perannya dalam hal mempersiapkan makanan dan
pemberian makanan terhadap anak-anaknya. Hal ini disebabkan karena waktu
untuk mempersiapkan makanan dan pemberian makanan terhadap anak-anaknya
cenderung berkurang, sehingga pekerjaan tersebut biasanya diserahkan pada orang
lain. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan anggota keluarga lain seperti ayah dan
kakak untuk ikut serta dalam membentuk kebiasaaan makan yang baik bagi anak
(Suhardjo, 1989).
Menurut Pipes (1985), suatu keluarga yang ibunya bekerja akan memiliki
sedikit waktu dalam menyiapkan makanan. Mereka akan lebih sering makan di
luar, memesan makanan dari restoran, atau mengonsumsi makanan cepat saji.
Selain itu, keputusan untuk memilih makanan juga cenderung diserahkan kepada
anak.

2.4.2.3 Pendapatan Orang Tua
Besar kecilnya pendapatan akan menentukan kemampuan keluarga
tersebut untuk membeli bahan makanan (Apriadji, 1986). Menurut Gibney et al.
(2005), salah satu faktor penting dalam pemilihan makanan adalah pendapatan
dan jumlah uang yang akan dibelanjakan untuk membeli makanan. Terdapat
sejumlah bukti bahwa makanan yang sekarang ini direkomendasikan untuk pola
makan sehat bukan hanya lebih mahal, lebih mengenyangkan, dan padat energi,
tetapi makanan itu juga harus dibeli dengan harga yang lebih tinggi.

Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
21

Besar pendapatan akan berbeda antara keluarga yang ayah dan ibunya
bekerja dengan keluarga yang hanya mengandalkan pendapatan yang bersumber
dari ayah saja. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan
kurang dapat memenuhi kebutuhan zat gizinya sejumlah yang diperlukan tubuh.
Kebutuhan akan keanekaragaman bahan makanan juga kurang bisa dijamin, hal
ini disebabkan karena dengan uang yang terbatas itu tidak akan banyak pilihan
(Apriadji, 1986).
Keluarga dengan penghasilan tinggi akan menggunakan sebagian kecil
dari keuangannya untuk membeli makanan dan bahan makanan, sebaliknya
semakin rendah pendapatan maka semakin besar bagian penghasilan yang
digunakan untuk membeli makanan. Keluarga dengan penghasilan yang rendah
tentu akan rendah pula jumlah uang yang dibelanjakan untuk membeli makanan.
Bila penghasilan meningkat, maka jumlah uang yang dipakai untuk membeli
makanan dan bahan makanan itu juga meningkat. Dengan meningkatnya
pendapatan perorangan, maka akan berdampak pada perubahan-perubahan dalam
susunan makanan (Suhardjo, 1989). Akan tetapi, pengeluaran uang yang lebih
banyak untuk pangan tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan dan
meningkatnya kualitas pangan. Kadang-kadang perubahan utama yang terjadi
dalam kebiasaan makan adalah pangan yang dikonsumsi itu lebih mahal (Berg,
1985).
Menurut Marsetyo (1991), keluarga yang memiliki pendapatan tinggi
banyak yang tidak memanfaatkan makanan yang bergizi, hal ini disebakan karena
kurangnya pengetahuan mereka akan makanan yang bergizi atau keengganan
untuk mengonsumsi makanan yang murah walaupun mereka mengetahui bahwa
makanan tersebut banyak mengandung zat gizi.

2.4.2.4 Pengetahuan Gizi Ibu
Menurut Notoatmodjo (1997), pengetahuan merupakan hasil tahu dan
terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan tersebut terjadi melalui panca indera manusia, namun sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
merupakan bagian yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
22

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bertahan lebih lama dibandingkan
dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Proses seseorang dalam
mengadopsi perilaku baru merupakan suatu proses yang cukup panjang. Proses ini
dimulai dengan timbulnya kesadaran (awareness), ketertarikan (interest),
penilaian mengenai perilaku tersebut (evaluation), mulai mencoba perilaku
tersebut (trial), dan akhirnya orang tersebut berperilaku sesuai dengan yang
diharapkan (adoption).
Penyelenggaraan makanan dalam rumah tangga sehari-hari pada umumnya
dikoordinir oleh ibu. Hidangan-hidangan yang disajikan oleh ibu setiap hari bagi
keluarganya sangat bergantung pada pengetahuan ibu terhadap jenis-jenis
makanan tertentu. Ibu yang mempunyai pengetahuan gizi dan memiliki kesadaran
gizi yang tinggi akan melatih kebiasaan makan yang sehat sedini mungkin kepada
semua putra-putrinya. Anak-anak biasanya akan meniru apa yang dilakukan oleh
orang tuanya atau kakak-kakaknya. Bila anak melihat anggota keluarga yang lain
mau mengonsumsi apa yang dihidangkan ibu di meja makan maka ia pun akan
ikut makan juga. Oleh karena itu ibu berperan penting dalam melatih anggota
keluarganya dalam membiasakan makan yang sehat (Suhardjo, 1989).
Pengetahuan gizi juga amat diperlukan untuk kepentingan gizi keluarga dengan
tujuan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam
keluarga dan bisa mengambil tindakan secepatnya (Apriadji, 1986).
Menurut Pipes (1985), tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi ibu
mempengaruhi kualitas gizi makanan yang dikonsumsi anak. Seorang ibu yang
memiliki pegetahuan yang baik mengenai perencanaan makan, zat gizi yang
penting untuk anak, dan perannya sebagai ibu rumah tangga, kemungkinan besar
bagi anaknya akan mendapatkan kualitas makanan yang baik.

2.4.3 Lingkungan
2.4.3.1 Pengaruh Iklan
Pipes (1993) menyatakan bahwa media massa memiliki pengaruh pada
permintaan dan sikap terhadap makanan. Dari berbagai jenis media massa, televisi
memiliki pengaruh yang sangat besar pada anak. Hal ini disebabkan karena
televisi mampu menjangkau banyak anak-anak bahkan sebelum mereka memiliki
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
23

kemampuan berbicara. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waku mereka
untuk menonton televisi daripada waktu yang mereka lewatkan di sekolah dan
melakukan aktivitas lain selain tidur. Pada umumnya aak-anak yang berasal dari
keluarga dengan tingkat pendapatan rendah lebih bayak menghabiskan waktunya
untuk menonton televisi dibandingkan anak-anak dari keluarga dengan tingkat
pendapatan menengah ke atas. Anak-anak usia sekolah diperkirakan menonton
televisi 26 jam perminggu. Ini berarti rata-rata anak menonton iklan televisi 3 jam
dalam sehari dan menonton 19000 hingga 22000 iklan komersial pertahun.
Menurut Gibney et al. (2005), media khususnya televisi, mungkin
menjadi salah satu sumber informasi paling penting mengenai makanan. Iklan
makanan diketahui meningkatkan pengetahuan anak akan merk dagang produk
makanan, menimbulkan sikap positif terhadap makanan. Hasil riset
memperlihatkan jika anak menikmati sebuah iklan komersial dan tertarik pada
isinya, permintaan mereka terhadap makanan tertentu meningkat. Dalam
lingkungan juga akan tampak bahwa semakin banyak iklan televisi yang ditonton
anak tentang produk tertentu yang dipasarkan khusus bagi anak, semakin besar
kemungkinan produk itu ditemukan pada tempat tinggal anak itu. Dengan
demikian, pesan yang disampaikan oleh media dapat begitu berpengaruh dalam
penentuan permintaan jenis produk pangan tertentu dan pemilihan makanan.
Menurut Pipes (1985), iklan di televisi mempengaruhi permintaan dan penerimaan
makanan pada anak. Sedangakan menurut Brown (2005), anak-anak banyak
terpengaruh oleh iklan di media. Mereka ingin mencoba makanan yang mereka
lihat pada iklan di televisi.

2.5 Metode Penilaian Pola Konsumsi Susu
2.5.1 Metode Food Frequency and Amount Questionnaire (FAQ)
Salah satu metode penilaian konsumsi masa lalu yaitu Food Frequency
and Amount Questionnaire (FAQ). FAQ terdiri dari dua komponen yaitu daftar
bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut
(Gibson, 2005). Menurut Arisman (2004), FAQ bertujuan untuk menilai frekuensi
jenis atau kelompok bahan makanan tertentu (perhari, perminggu, perbulan,
pertahun). Kebanyakan FAQ sering dilengkapi dengan ukuran khas porsi setiap
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
24

kali konsumsi dari jenis makanan. Oleh karena itu, FAQ sering ditulis sebagai
riwayat pangan semi kuantitatif (Semiquantitative Food History).
Menurut Supariasa dkk. (2002), metode memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan metode ini di antaranya adalah relatif murah dan
sederhana, pengisian formulir dapat diserahkan pada responden, tidak
membutuhkan latihan khusus, serta dapat menjelaskan hubungan antara penyakit
dan kebiasaan makan. Sedangkan kekurangan metode ini adalah pengisian hanya
mengandalkan ingatan, kekeliruan dalam menentukan frekuensi dan ukuran porsi
karena hanya berdasarkan skala perkiraan, serta responden sering malas mengisi
formulir dengan lengkap, terutama jika proses pengisian diserahkan sepenuhnya
pada mereka.





















Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
25

2.6 Kerangka Teori


























- Produksi Pangan dan
Sistem Distribusi
- Sistem Sosial Ekonomi
Politik
Pekerjaan
Orang Tua
Gaya Hidup
Anak
Pengetahuan
Gizi Ibu
Pendidikan
Orang Tua
Konsumsi
Pangan Anak
Ketersediaan
Pangan
Daya Beli
Pendapatan
Orang Tua
J enis
Kelamin
Sikap Anak
terhadap Pangan
Iklan
(Media Massa)
Pola Makan
Keluarga
Seleksi
Pangan

Gambar 2.1 Kerangka Teori Faktor-faktor yang berhubungan dengan Konsumsi
Pangan Anak (Sumber : Suhardjo, 1989; Worthington, 2000; Harper, 1985 &
Gibney et al., 2005)



Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
26

Beberapa faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan
anak di antaranya yaitu jenis kelamin, ketersediaan pangan dalam keluarga, pola
makan keluarga, dan gaya hidup anak. Ketersediaan pangan dalam keluarga
dipengaruhi oleh daya beli keluarga dalam membeli pangan. Daya beli tersebut
tentunya sangat dipengaruhi oleh pendapatan keluarga (pendapatan ayah dan ibu),
sedangkan pendapatan sangat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan.
Seorang anak biasanya cenderung meniru pola makan keluarganya. Bila
anak melihat anggota keluarga yang lain mau mengonsumsi apa yang dihidangkan
di meja makan maka ia pun cenderung untuk meniru. Pola makan tersebut
tentunya sangat dipengaruhi oleh seleksi makanan yang biasanya dilakukan oleh
ibu. Hal tersebut disebabkan karena ibu memiliki perang yang sangat penting
dalam penyelenggaraan makanan sehari-hari dalam rumah tangga. Hidangan-
hidangan yang disajikan oleh ibu setiap hari bagi keluarganya sangat bergantung
pada pengetahuan ibu terhadap jenis-jenis pangan tertentu. Salah satu faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah tingkat pendidikan. Namun tingkat pendidikan
bukanlah satu-satunya faktor yang mutlak mempengaruhi pengetahuan. Seseorang
yang berpendidikan rendah, jika sering terpapar dengan sumber informasi,
tentunya pengetahuan gizinya juga akan lebih baik. Pekerjaan orang tua pada
umumnya dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya.
Konsumsi pangan anak juga secara langsung dipengaruhi oleh gaya hidup
anak tersebut. Gaya hidup tersebut biasanya juga sangat dipengaruhi oleh
pengetahuan gizi ibu. Ibu yang mempunyai pengetahuan gizi dan memiliki
kesadaran gizi yang tinggi akan melatih anaknya untuk membiasakan gaya hidup
sehat, salah satunya yaitu membiasakan mengonsumsi pangan yang sehat sedini
mungkin. Gaya hidup juga sering dipengaruhi oleh sikap anak terhadap pangan
tertentu. Sikap tersebut pada umumnya juga banyak yang dipengaruhi oleh iklan
(media massa) terutama televisi. Semua faktor tersebut pada akhirnya dipengaruhi
oleh produksi pangan dan sistem distribusi, serta sistem sosial ekonomi dan
politik dalam suatu negara.
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
27


BAB 3
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN
DEFINISI OPERASIONAL

Dalam penelitian ini akan dilihat hubungan antara variabel dependen
dengan variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
riwayat konsumsi susu selama masa usia Sekolah Dasar pada siswa kelas 1 SMP
negeri 102 dan SMPI PB Sudirman J akarta Timur, sedangkan variabel independen
yang akan diteliti di antaranya jenis kelamin, sikap terhadap susu, pendidikan
ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah dan ibu,
pengetahuan gizi ibu mengenai susu, dan pengaruh iklan susu di televisi.
Selain hubungan antara variabel independen dengan dependen, akan
diketahui pula gambaran fluktuasi riwayat frekuensi, porsi setiap kali konsumsi,
dan kuantitas konsumsi susu dan produk olahan susu selama masa usia Sekolah
Dasar pada siswa kelas 1 SMP Negeri 102 dan SMPI PB Sudirman yang meliputi
mentega, es krim, keju, dan mentega.














Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
28


3.1 Kerangka Konsep

























- Produksi Pangan dan
Sistem Distribusi
- Sistem Sosial Ekonomi
Politik
Pekerjaan
Orang Tua
Gaya Hidup
Anak
Pengetahuan
Gizi Ibu
Pendidikan
Orang Tua
Konsumsi
SusuAnak
Ketersediaan
Pangan
Daya Beli
Pendapatan
Orang Tua
J enis
Kelamin
Sikap Anak
terhadap Susu
Iklan
(Media Massa)
Pola Makan
Keluarga
Seleksi
Makanan


Keterangan : Variabel yang diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Riwayat Konsumsi Susu selama Masa Usia
Sekolah Dasar pada Siswa Kelas 1 SMP Negeri 102 dan SMPI PB Sudirman
J akarta Timur Tahun 2009
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
29


3.2 Definisi Operasional

No Variabel Definisi
Cara
Ukur
Alat Ukur Hasil Ukur
Skala
Ukur
1. Riwayat
konsumsi
susu
Kuantitas
konsumsi
susu perhari
selama
rentang waktu
usia Sekolah
Dasar
(7-12 tahun)
Angket Form Food
Frequency
and Amount
Questionnaire
1. Baik :
480 ml
perhari
2. Kurang :
< 480 ml
perhari
(Almatsier, 2002)
Ordinal
2. Jenis kelamin Status gender
siswa dengan
melihat
penampilan
fisik dari luar
Angket Kuesioner 1. Laki-laki
2. Perempuan
Nominal
3. Sikap
terhadap susu
Tanggapan
siswa yang
menunjukkan
perasaan
sangat setuju,
setuju, kurang
setuju, tidak
setuju, atau
sangat tidak
setuju
terhadap
konsep
mengenai
susu
Angket Kuesioner 1. Baik :
median
2. Kurang :
< median


Ordinal
4. Pendidikan
Ayah
Pendidikan
formal
tertinggi yang
telah
diselesaikan
oleh ayah
responden
Angket Form isian 1. Tinggi :
(> SMP)
2. Rendah :
( SMP)
(Depdiknas,
2001)
Ordinal
5. Pendidikan
Ibu
Pendidikan
formal
tertinggi yang
telah
diselesaikan
oleh ibu
responden
Angket Form isian 1. Tinggi :
(> SMP)
2. Rendah :
( SMP)
(Depdiknas,
2001)
Ordinal
6. Pekerjaan
Ayah
Pekerjaan
yang
dilakukan
Angket Form isian 1. Buruh
2. Karyawan
3. Wiraswasta
Nominal
Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
30


oleh ayah
untuk
memperoleh
penghasilan
4. TNI
5. PNS
6. Petani
7. Pedagang kecil
8. Lain-lain
9. Tidak bekerja
(BPS, 2005)
7. Pekerjaan Ibu Pekerjaan
yang
dilakukan
oleh ibu untuk
memperoleh
penghasilan
Angket Form isian 1. Buruh
2. Karyawan
3. Wiraswasta
4. TNI
5. PNS
6. Petani
7. Pedagang kecil
8. Lain-lain
9. Tidak bekerja
(BPS, 2005)
Nominal
8. Pendapatan
Ayah dan Ibu
Rata-rata
jumlah uang
yang
diperoleh
ayah dan ibu
dalam satu
bulan
Angket Form isian 1. Tinggi :
median
2. Rendah :
< median
Ordinal
9. Pengetahuan
gizi ibu
mengenai
susu
Tingkat
pengetahuan
ibu responden
mengenai
susu beserta
kandungan
gizinya
Angket Form isian 1. Baik :
(skor 80%
dari seluruh
jawaban benar)
2. Kurang :
(skor < 80%
dari seluruh
jawaban benar)
(Khomsan, 2000)
Ordinal
10. Pengaruh
iklan susu di
televisi
Respon yang
ditunjukkan
responden
ketika melihat
iklan susu di
televisi
Angket Kuesioner 1. Positif : jika
responden
tertarik untuk
minum susu
ketika melihat
iklan susu di
televisi
2. Biasa saja :
jika responden
bersikap biasa
saja ketika
melihat iklan
susu di televisi
Ordinal


Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
31


3.3 Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas maka hipotesis
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ada hubungan antara jenis kelamin siswa dengan riwayat konsumsi susu selama
masa usia Sekolah Dasar.
2. Ada hubungan antara sikap siswa terhadap susu dengan riwayat konsumsi susu
selama masa usia Sekolah Dasar.
3. Ada hubungan antara pendidikan ayah dengan riwayat konsumsi susu selama
masa usia Sekolah Dasar.
4. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan riwayat konsumsi susu selama masa
usia Sekolah Dasar.
5. Ada hubungan antara pekerjaan ayah dengan riwayat konsumsi susu selama masa
usia Sekolah Dasar.
6. Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan riwayat konsumsi susu selama masa
usia Sekolah Dasar.
7. Ada hubungan antara pendapatan ayah dan ibu dengan riwayat konsumsi susu
selama masa usia Sekolah Dasar.
8. Ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu mengenai susu dengan riwayat
konsumsi susu selama masa usia Sekolah Dasar.
9. Ada hubungan antara pengaruh iklan susu di televisi dengan riwayat konsumsi
susu selama masa usia Sekolah Dasar.

Universitas Indonesia
Hubungan antara..., Isni Utami I., FKM UI, 2009 Universitas Indonesia