Anda di halaman 1dari 5

KASUS BANK LIPPO

Kasus Bank Lippo bermula ketika bank menarik dana publik melalui tabungan maupun
deposito. Melalui kredit yang disalurkan, dana itu, selanjutnya digunakan untuk membiayai
investasi di perusahaan afiliasi. Ketika krisis melanda, dan perusahaan- perusa- haan berguguran,
kredit macet, bank pun berguguran. Ketika kemudian diperoleh berita bahwa pemerintah dalam
hal ini Bank Indonesia (BI) akan melakukan uji tuntas terhadap bank-bank, apakah melanggar
Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) terhadap perusahaan afiliasi, maka Bank Lippo
cepat bergerak. Mereka mengambil alih semua agunan dari kredit perusahaan afiliasi. Dengan
demikian, seluruh kredit dianggap lunas, dan hapus dari pembukuan. Kalau mau melihat lebih
jauh, mestinya Bank Lippo juga melanggar BMPK.
Dalam paparan kepada publik untuk menjelaskan kasus laporan keuangan ganda per 30
September 2002, manajemen Bank Lippo kembali berkelit. Ketika dikejar, apakah AYDA
berasal dari kredit kepada afiliasi dan pembelinya adalah perusahaan afiliasi, manajemen hanya
menjawab bahwa menurut peraturan Bank Indonesia tidak ada aset yang tercatat di buku yang
merupakan afiliasi dengan pinjaman grup. Padahal, dalam laporan keuangan Bank Lippo, sejak
tahun 1998, jelas-jelas tertulis bahwa AYDA tersebut adalah surat berharga yang meliputi saham
PT Lippo Karawaci Tbk, PT Lippo Cikarang Tbk, PT Lippo Securities Tbk, PT Bukit Sentul
Tbk, PT Hotel Prapatan Tbk, PT Matahari Putra Perkasa Tbk, dan PT Panin Insurance Tbk.
Selain itu ada pula properti berupa perumahan, komersial, dan industri di Jakarta, Tangerang,
Bekasi, Karawang, Ujung Pandang (Makassar), Bogor, Serang, Bandung, Surabaya, Purwakarta,
Medan, dan Tasikmalaya. Dari namanya saja, jelas-jelas itu dari grup Lippo pemberian kredit
kepada kelompok sendiri.
Penggelembungan nilai (mark up) memang sulit dibuktikan. Kasus ini mencuat, ketika dalam
laporan keuangan Bank Lippo per 30 September 2002 kepada publik pada tanggal 28 November
2002, manajemen menyebutkan total aktiva perseroan Rp 24 trilyun dan laba bersih Rp 98
milyar. Namun, dalam laporan keuangan kepada BEJ 27 Desember 2002, manajemen
menyebutkan total aktiva berkurang menjadi Rp 22,8 trilyun dengan rugi bersih Rp 1,3 trilyun.
Perbedaan laba dikatakan karena adanya kemerosotan nilai agunan yang diambil alih dari Rp
2,393 trilyun pada laporan publikasi menjadi Rp 1,42 trilyun pada laporan ke BEJ. Akibatnya,
dalam keseluruhan neraca terjadi penurunan tingkat kecukupan modal (CAR) dari 24,77 persen
menjadi 4,23 persen.
Keanehan semakin menjadi, ketika dalam suatu wawancara dengan salah satu majalah berita,
Wakil Presiden Komisaris Bank Lippo Roy Tirtadji menyatakan, penjualan AYDA tersebut
dilakukan, salah satunya karena AYDA membebani bank dengan biaya perawatan sampai Rp
400 milyar per tahun. Menggelikan. Bank Lippo yang pemegang saham mayoritasnya
pemerintah, harus mengeluarkan biaya Rp 400 milyar tiap tahun untuk biaya pemeliharaan
AYDA, yang berisi aset-aset yang berasal dari Grup Lippo sendiri. Biaya perawatan itu setara
dengan 15 persen dari nilai AYDA sendiri yang Rp 2,393 trilyun.
Kecurigaan justru menyeruak, apakah ini cara lain moroti bank? Bagaimana mungkin bank
tiap tahun mengeluarkan biaya perawatan Rp 400 milyar untuk aset-aset properti yang bisnisnya
berjalan. "Tiap tahun kita mengeluarkan Rp 400 milyar," katanya. Selain itu kemungkinan
mengakali uang negara juga terbuka dalam proses pengalihan aset yang dianggap macet pada
BPPN. Seluruh permainan memiliki benang merah yang sama. Menyalahgunakan subyektivitas
dalam penilaian aset.Proses penyerahan aset ke BPPN, banyak sekali menimbulkan peluang bagi
pemilik bank yang direkapitalisasi untuk mengambil dana sebanyak mungkin dari negara.
Sementara itu, begitu banyaknya dokumen yang diserahkan ke BPPN, juga membuatnya menjadi
mudah dimainkan. Entah itu karena lelah, malas, lalai, tidak teliti, atau apa pun, yang jelas
menjadi terbuka lebar untuk dibobol saat harus menghadapi banyaknya dokumen. Inilah rupanya
hal yang tak dapat ditolak. Rekapitalisasi besar-besaran di satu sisi memang dibutuhkan, tetapi di
sisi lain menimbulkan banyak kesempatan bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan
secara tidak wajar. Proses administrasi yang sedemikian banyak, merupakan titik lemah yang
sering kali menjadi sumber korupsi.
Belum lagi, rekayasa dengan berbagai bentuk tukar guling dalam bank dan grup sendiri.
Misalnya, aset dalam grupnya sendiri ditukar guling melalui perusahaan jadi-jadian di Mauritius
atau Cayman Island. Dengan demikian, pemilik lama yang sesungguhnya telah melanggar
BMPK akan bisa menguasai kembali asetnya yang telah menjadi AYDA, ataupun membeli
kembali kreditnya sendiri dengan diskon besar. DI sisi lain, dengan memanfaatkan isu-isu, baik
yang alamiah maupun yang direncanakan seperti penggembosan valuasi AYDA dan kasus
laporan keuangan ganda, di pasar modal saham Bank Lippo digarap habis-habisan. . Sejak dari
dugaan menggerojog pasar untuk kemudian memborong kembali saham setelah harganya jatuh,
sampai upaya menurunkan saham dengan melakukan transaksi satu lot pada menit terakhir
selama 40 hari.
Berdasarkan kasus dan faktor-faktor fraud diatas, maka dapat Terdapat dua metode
pendekteksian kecurangan secara pro aktif, yaitu :
1. Inductive Detection Method : Pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan commercial
data-mining software seperti Audit Command Language (ACL).Pendekatan lain yang dapat
dilakukan adalah melakukan prosedur analytical review.
2. Deductive Detection Method : Pendekatan ini untuk menentukan apa saja yang dapat terjadi
dalam situasi tertentu dan kemudian menggunakan teknik dan metode lainnya untuk menentukan
apabila kecurangan tersebut benar- benar ada.
Menganalisis kasus skandal Bank Lippo melakukan tindakan fraud seperti:
1. Asset Misapropriation (Penggelapan/Penyelewengan Aset)
Adalah fraud yang dilakukan dengan cara mencuri penerimaan, mencuri kas/asset yang
ada di perusahaan, dan melakukan kecurangan terhadap pengeluaran. Para pelaku biasanya
melakukan kejahatannya secara sendiri atau denga kolusi bersama pihak lain.
Dalam hal ini Bank Lippo mengakali penjualan AYDA karena AYDA membebani Bank
dengan biaya perawatan sampe 400 Milyar per tahun, dan ini untuk membiayai aset yang berasal
dari group sendiri yang bisnisnya masih berjalan. Dan berbagai rekayasa seperti gropu nya
sendiri ditukar guling melalui perusahaan jadi-jadian di Mauritius atau cayman Island, sehingga
dapat menguasai kembali asetnya yang telah menjadi AYDA, membeli kembali kreditnya sendiri
dengan diskon besar.
Selain itu adanya laporan keuangan ganda Bank Lippo yang berbeda antara laporandi
BEJ dan di publik. Laporan keuangan BankLippo kepada publik pada tanggal 28 November
2002, manajemen menyebutkan total aktiva perseroan Rp 24 trilyun dan laba bersih Rp 98
milyar. Namun, dalam laporan keuangan kepada BEJ 27 Desember 2002, manajemen
menyebutkan total aktiva berkurang menjadi Rp 22,8 trilyun dengan rugi bersih Rp 1,3 trilyun.

2. Corruption (Korupsi)
Korupsi yang dilakukan Bank Lippo yaitu:
a. Penyuapan (Bribery)
Adalah menawarkan, memberikan, menerima, atau meminta sesuatu yang bernilai untuk
mempengaruhi tindakan pejabat. Dalam kasus ini, Bank Lippo mengakali uang Negara dalam
proses pengalihan asset yang dianggap macet pada BPPN. Di BPPN proses rekapitalisasi dan
proses administrasi yang sedemikian banyak, sering kali dan bias menjadi sumber korupsi.
b. Konflik Kepentingan (Conflict of Interest)
Bertindak atas nama individu atau organisasi tetapi memiliki kepentingan pribadi dalam
aktivitas yang dilaksanakan dan mempengaruhi/merugikan pihak yang diwakilinya. Dalam
kasus ini, Bank Lippo memberikan kredit kepada kelompok sendiri sehingga melanggar
BMPK namun Bank Lippo berdalih tidak ada asset yang tercatat di buku yang merupakan
afiliasi dengan pinjaman group, padahal sudah jelas bahwa AYDA tersebut merupakan surat
berharga meliputi saham dengan nama group sendiri.
Dengan melihat tindakan-tindakan fraud yang dilakukan oleh Bank Lippo tersebut, maka
dapat dilakukan langkah-langkah yang dapat digunakan untuk mengatasi fraud yang telah ada
tersebut. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi fraud tersebut diantaranya:
a. Strategi Preventif
Strategi ini dilakukan dengan pengendalian atas faktor-faktor penyebab korupsi, dengan
rumusan sebagai berikut :
memperkuat peran lembaga tinggi Negara,
Membangun kode etik di sektor publik dan lembaga lainnya seperti parpol, organisasi
profesi, asosiasi dan sebagainya.
penataan manajemen yang berorientasi hasil dan ber-azas akuntabilitas baik dalam
manajemen SDM, keuangan, dan manajemen pelayanan public.
Dalam kasus Bank Lippo hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat peran lembaga
tinggi Negara, dalam kasus Bank Lippo mulai dari BI, Bapepam, DPR ataupun BPPN. Dan yang
menjadi ujung tombak berbagai rekayasa uang negara adalah komisaris oleh karena itu peran
komisaris, wakil dari kepentingan pemerintah selaku pemegang saham mayoritas menjadi
penting.
b. Strategi Detektif
Strategi ini adalah upaya mengidentifikasi tindakan korupsi dengan rumusan sebagai
berikut:
penyempurnaan sistem pengaduan masyarakat atas pelayanan publik.
peningkatan kemampuan audit investigasi bagi auditor internal dalam mendeteksi
korupsi
pemberlakuan kewajiban pelaporan transaksi keuangan pribadi yang jumlahnya
signifikan dan pelaporan kekayaan pribadi manajemen perusahaan penyempurnaan
sistem pengaduan masyarakat atas pelayanan publik.
Peningkatan partisipasi perusahaan pada gerakan anti korupsi dan pencucian uang
pada masyarakat internasional.
Dalam kasus Bank Lippo yang harus diberlakukan adalah pemberlakuan kewajiban
pelaporan transaksi keuangan pribadi dan pelaporan kekayaan pribadi manajemen perusahaan.
c. Strategi Represif
Adalah tindakan utuk menangani perbuatan-perbuatan korupsi yang terjadi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dapat dirumuskan dengan:
Penyelidikan, penuntutan, peradilan dan penerapan hukuman bagi para manajemen
dan pegawai yang melakukan korupsi.
pemberlakuan system pemantauan proses penyelesaian tindak pidana korupsi secara
terpadu.
Penataan kembali pelaksanaan tugas.
Dalam kasus Bank Lippo strategi represif yang harus dilakukan adalah strategi
penyelidikan, penuntutan, peradilan dan penerapan hukuman bagi para manajemen dan pegawai
yang melakukan korupsi.