Anda di halaman 1dari 148

ALFERD HITCHCOCK

&
TRIO DETEKTIF

TRIO PENYAMAR
The Three Investigators in The Three
Imposters
Sumber: http://www.geocities.com/mhs1294/pojok.htm
EBook: syauqy_arr@yahoo.co.id
Weblog, http://hanaoki.wordpress.com



KATA PENGANTAR DARI ALFRED HITCHCOCK
SELAMAT DATANG, PARA PECINTA MISTERI!

Suatu kegembiraan tersendiri bagi saya untuk sekali lagi
mengantarkan sebuah petualangan anak-anak muda dari
Rocky Beach ini, California: Trio Detektif! Jika Anda telah
mengenal mereka, Anda saya izinkan melewatkan
formalitas ini dan langsung menuju Bab 1. Jika ini adalah
kali pertama Anda mengunjungi Rocky Beach, maka sudah
selayaknya Anda membaca kata pengantar ini.
Penyelidik Pertama dan pemimpin biro ini adalah
seorang pengamat yang hebat, Jupiter Jones. Yatim piatu
sejak kecil dan tinggal bersama bibi dan pamannya,
Jupiter, seorang mantan aktor kanak-kanak dengan nama
panggung Baby Fatso, sangat tidak suka dikatakan
gendut. Sejak ia mulai membaca, Jupiter membaca
segala macam buku yang bisa dijangkaunyadari psikologi
sampai kriminalitas. Hasilnya adalah orang-orang dewasa
yang sebal karena ia tahu terlalu banyak untuk anak
seusianya.
Pete Crenshaw adalah yang paling atletis dari trio ini.
Perawakannya yang kekar dan perasaannya yang tajam


akan arah membuatnya tak ternilai dalam semua kasus
yang pernah ditangani anak-anak ini. Meskipun seringkali
lebih suka menghindar dari bahaya, ia selalu setia
terhadap rekan-rekannya.
Terakhir, namun sama sekali tidak berarti yang paling
kecil perannya, adalah si rajin namun pemberani, Bob
Andrews. Bertanggung jawab atas segala pengarsipan
data dan riset yang diperlukan, Bob telah berperan dalam
mengalahkan penjahat yang paling pintar dengan
membuktikan bahwa ia tidak hanya teliti dalam membuat
catatan, namun juga memiliki hati seekor singa jika
situasi menuntut.
Dan sekarang, cukup dengan kata pengantar!
Pertunjukan akan segera dimulai!

ALFRED HITCHCOCK



BAB I
TAMU KEJUTAN


"Apa kira-kira yang akan terjadi seandainya dulu aku me-
mutuskan untuk menjadi seorang kriminal super?" Jupiter
Jones berspekulasi.
Pada hari yang panas itu ia dan Pete Crenshaw sedang
duduk di keteduhan bengkel Jupiter yang terletak di luar
rumah. Mereka sedang sibuk bekerja dengan tumpukan
barang bekas terbaru hasil belian Paman Titus, paman
Jupiter.
Pete, penyelidik yang tinggi dan berotot, menjatuh-
kan obeng yang sedang digunakannya membuka bagian
belakang sebuah jam dinding tua. Ia menatap Jupiter
dengan mulut terbuka.
"Apa katamu?"
"Aku bilang, apa kira-kira yang akan terjadi seandai-
nya dulu aku memutuskan untuk menjadi seorang kriminal
super," ulang Jupiter. "Kau ingat rencana para perampok
bank yang menyewa orang-orang kerdil untuk menyamar
sebagai kurcaci? Pemimpin perampok itu menawarkan


untuk menjadikan aku anak didiknya dan melatihku
menjadi penjahat nomor satu. Aku hanya iseng-iseng ber-
pikir apa yang akan terjadi seandainya waktu itu ku-
terima tawarannya."
"Kemungkinan besar kau sekarang terkurung di
Penjara Los Angeles bersama anggota geng yang lain,"
kata Pete.
"Hm," gumam Jupiter, "aku ingin tahu."
Anak-anak itu sedang bergembira karena sehari se-
belumnya mereka mengetahui bahwa mereka akan diberi
penghargaan oleh Rocky Beach Rotary Club sebagai warga
teladan atas jasa-jasa mereka terhadap masyarakat
sebagai detektif junior sukarela. Bersama seorang
pemenang yang lain mereka akan menerima hadiah
sebesar seribu dolar pada suatu acara penghargaan di
Balai Kota. Teman mereka, Chief Reynolds, akan ber-
tindak sebagai pembawa acara. Hadiah itu akan mereka
bagi tiga, yang berarti masing-masing akan memperoleh
hampir seratus enam puluh lima dolar!
"Menurutku seorang penjahat super harus merancang
suatu kejahatan super. Sesuatu yang direncanakan dan
dilaksanakan dengan sempurna," kata Jupiter lagi.


"Kau tidak sungguh-sungguh berniat menjadi seorang
penjahat kan?!" seru Pete.
"Rasanya sih tidak," Jupiter menyeringai. "Tapi sekali
waktu seorang penyelidik yang bagus harus berpikiran
seperti seorang kriminal untuk mengetahui cara mereka
berpikir."
"Seandainya aku diberi sepuluh sen setiap kali men-
dengar kau berkata..." omongan Pete terputus dengan
kedatangan Bob Andrews, seorang remaja berperawakan
kecil dan berpenampilan seorang kutu buku.
"Hai, Bob. Mengapa begitu lama?"
"Miss Bennett menyuruhku memperbaiki sampul buku-
buku tua. Kupikir aku takkan pernah bisa keluar dari
sana." Bob bekerja paruh waktu di Perpustakaan Umum
Rocky Beach. Pekerjaannya itu sungguh berguna dalam
melakukan riset-riset untuk kasus-kasus Trio Detektif.
"Sudahkah kalian memutuskan apa yang hendak kalian
lakukan dengan uang hadiah itu?" Bob bertanya penuh
semangat.
"Aku akan menghabiskannya di Magic Mountain!" Pete
tertawa.
"Aku akan membeli sepeda baru. Kau, Jupe?"


"Sudah menjadi keputusanku bahwa biro penyelidik
kita dapat menginvestasikan penghargaan finansial itu
pada sebuah komputer," jawab Jupiter. "Paling tidak se-
bagai uang mukanya."
"Saudara-saudara, serahkan saja pada Jupiter Jones
untuk bersenang-senang dengan uang yang demikian
banyak!" Pete berkata sinis.
Mereka terus bercakap-cakap dengan antusias tentang
apa yang akan mereka lakukan dengan hadiah itu, sampai
terdengar seruan Bibi Mathilda memanggil mereka. Suara-
nya bergema di sela-sela tumpukan barang bekas yang
sengaja mereka letakkan secara strategis. Mrs. Jones
adalah seorang wanita berbadan besar yang berhati besar
pula. Hanya satu yang lebih besar daripada hatinya, ke-
mampuannya menemukan anak-anak malas dan menyuruh
mereka bekerja keras. Meskipun Paman Titus yang ber-
buru barang bekas, Bibi Mathildalah yang sesungguhnya
menjalankan bisnis barang bekas mereka. Dan kini suara-
nya menuntut perhatian.
"Jupiter!" serunya. "Di mana lagi kau sekarang? Kau
kedatangan tamu. Chief Reynolds ada di sini mencarimu!"
Kemudian ia berpaling untuk melayani seorang pembeli.


Ketiga remaja itu saling berpandangan, terkejut.
"Menurutmu apakah ia lupa memberi tahu sesuatu
tentang acara penghargaan itu?" tanya Bob, melompat
turun dari tempatnya duduk di atas mesin cetak.
"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya!" Jupiter
bangkit. "Yuk!"
Mereka berjalan zig-zag melalui sela-sela tumpukan
barang bekas menuju suatu gerbang besar, pintu masuk
ke Jones Salvage Yard. Chief Reynolds berdiri menunggu
di sana di sebelah mobil patroli-nya. Jupiter segera sadar
bahwa petugas polisi itu nampak aneh. Mereka sudah
cukup lama bekerja sama sehingga Jupiter dapat
menyimpulkan dari raut muka Chief Reynolds bahwa ia
sedang berada dalam keadaan stres.
"Halo, Chief. Sepertinya Anda datang untuk urusan
pekerjaan dan bukan tentang penghargaan," kata Jupiter.
"Tepat sekali, Jupiter. Tapi bagaimana kau bisa
menebak, aku tak tahu," Chief Reynolds menjawab
dengan alis terangkat. Bob dan Pete menatap Jupiter
dengan kebingungan yang sama.
"Saya selalu berusaha untuk tidak menebak jika
jawabannya sudah jelas. Ada yang bisa kami bantu?"


"Begini, Anak-anak," kata Chief, nampak malu-malu,
"ada pencurian di Pearl's Bakery tadi malam .."
"Dan Anda ingin kami membantu menemukan pencuri-
nya," kata Pete penuh semangat. Sudah beberapa minggu
berlalu sejak kasus terakhir mereka dan mereka tidak
sabar menunggu misteri selanjutnya.
"Sayangnya tidak, Pete," jawab Chief lambat-lambat.
"Begini... kalian bertiga adalah tersangka utama!"
"APA?!" mereka berseru serempak.
Bibi Mathilda menjatuhkan sapu yang sedang di-
pegangnya dan bergegas menghampiri. "Apa maksudnya
semua ini, Sam?!" tukasnya. "Kau kenal baik dengan anak-
anak ini, kau seharusnya lebih tahu!" Wanita berbadan
besar itu mendengus dan berjalan menuju ke kantor.
"Titus Andronicus, keluar cepat!"
"Tenang, Mathilda," Chief menenangkannya. "Aku
yakin ada penjelasan yang masuk akal."
Sementara Chief Reynolds berusaha meredakan
amarah bibi Jupiter, Titus Jones berjalan menuju gerbang
utama. Mr. Jones adalah seorang lelaki pendek dengan
hidung besar dan kumis yang lebih besar lagi. Matanya


berbinar-binar sembari ia mengisap pipa di sela-sela
bibirnya. "Ada masalah apa, Sam?" tanyanya tenang.
"Pearl's Bakery dimasuki pencuri semalam," ulang
Chief. "Kami tidak punya petunjuk apa-apa... kecuali ini."
Ia menunjukkan selembar kartu nama milik anak-anak itu,
tersegel dalam sebuah kantong plastik tempat barang
bukti.
"Oh, itu salah satu kartu nama dari klub kalian, Anak-
anak!" Mrs. Jones menahan nafas. Mathilda Jones tahu
bahwa anak-anak mengadakan rapat secara teratur tapi
ia tidak pernah sadar bahwa mereka adalah penyelidik
serius yang telah membantu memecahkan beberapa
peristiwa kejahatan nyata. Tak peduli berapa kali Jupe
memberi tahunya, ia tetap menganggap perusahaan
mereka sebuah klub.
Sementara itu Jupiter mengamat-amati kartu di
tangan Chief dengan seksama dan mencubiti bibir bawah-
nya... suatu tanda bahwa otaknya sedang berputar
kencang.
"Boleh saya lihat, sir?" tanyanya.
Chief menyerahkan kantong barang bukti dengan
kartu di dalamnya. Jupiter menatapnya selama beberapa


menit. Ia membaliknya dan memandang bagian belakang,
lalu kembali ke bagian muka. Bob dan Pete mendekat dan
ikut memandang melalui bahu Jupiter. Tulisannya:

TRIO DETEKTIF
"Kami Menyelidiki Apa Saja"
? ? ?
Penyelidik Pertama...........Jupiter Jones
Penyelidik Kedua............Peter Crenshaw
Catatan dan Riset..............Bob Andrews

"Waduh! Ada pencuri menjatuhkan kartu nama kita!"
seru Pete.
"Anda bilang ini ditemukan di lokasi kejahatan?" tanya
Jupiter sambil mengerutkan kening.
"Tepat sekali, Jupiter," jawab Chief. "Tepat di se-
belah mesin kasir yang kosong. PearlMrs. Henderson,
pemiliknya, baru saja memasang seperangkat sistem
pengaman yang canggih dua minggu lalu. Menurutnya ia
sering membuat roti sampai larut malam dan harus
bekerja sendirian. Tidak mudah bagi seorang pencuri
untuk membobol sistem itu. Sekarang Pearl sangat
cemas."


"Pencuri itu hanya mengambil uang dari mesin kasir?"
tanya Jupiter, agak heran. "Tidak ada lagi yang dicuri
atau dirusak?"
"Tidak satupun. Dan inilah yang lucu," Chief nampak
tegang. Hari yang panas serasa semakin panas dan Chief
melonggarkan dasinya dan membuka kancing kerahnya.
"Menurut Pearl tidak ada peralatan yang dirusak dan
bahkan tidak ada satu donat pun yang diambil. Dan ia
sangat yakin bahwa di dalam mesin kasir hanya ada dua
puluh dolar!"
***


BAB II
DIFITNAH!

"Menurut saya jelas sekali si pencuri berusaha mem-fitnah
kami," Jupiter berkata tenang.
"Sepertinya memang demikian," jawab Chief Reynolds.
"Tetap saja, meskipun aku tidak suka me-lakukan ini, aku
harus menanyai kalian, Anak-anak, tentang di mana
kalian berada sekitar pukul sembilan tadi malam," Chief
mengeluarkan pen dan buku catatan kecil.
Bob dan Pete menatap Jupiter. Mereka semua tahu
bahwa pukul sembilan semalam mereka sedang meng-
adakan rapat rahasia di dalam markas mereka. Markas
adalah sebuah karavan sepanjang sepuluh meter yang di-
beli Titus Jones dengan harapan ia akan dapat men-
jualnya lagi. Namun karena rangkanya telah rusak parah,
karavan itu tidak laku-laku hingga akhirnya Titus mem-
berikannya kepada Jupiter untuk dijadikan tempat per-
temuan dengan teman-temannya. Perlahan-lahan selama
beberapa bulan anak-anak itu menumpukkan barang-


barang rongsokan di sekitarnya dan kini karavan itu
tersembunyidan terlupakankecuali oleh mereka.
"Kami bertiga ada di pangkalan barang bekas ini,
mengadakan rapat pada pukul sembilan tadi malam,
Chief," jawab Jupiter tanpa ragu-ragu.
"Ada yang bisa membuktikannya?"
Sebagai pemimpin Trio Detektif yang penuh percaya
diri dan kadang-kadang sombong, Jupiter Jones tidak
mudah bingung. Kini ia tergagap dalam menjawab.
"Eh... tidak. Saya... saya rasa tidak ada, sir."
Chief Reynolds menepuk bahu Jupiter dan tersenyum.
"Jangan khawatir, Nak. Kalian telah terbukti sebagai
asisten polisi yang hebat. Meskipun kalian berbalik men-
jadi penjahat, kalian tidak akan begitu ceroboh."
Jupe, Pete, dan Bob berusaha tersenyum terhadap
pujian itu.
"Nah, Anak-anak, sekarang aku harus mengembalikan
kartu nama ini ke laboratorium untuk pemeriksaan sidik
jari. Akan kukabari kalian setelah hasilnya keluar."
Setelah berkata demikian, Chief Reynolds masuk ke mobil
patrolinya. Ia memberi hormat dengan ramah sembari
memundurkan mobilnya keluar dari pangkalan barang


bekas. Anak-anak melambaikan tangan dan berdiri
dengan muram, memandangi mobil Chief Reynolds men-
jauh.
Begitu mobil Chief Reynolds menghilang dari
pandangan, sebuah mobil sport berwarna biru mengkilap
berhenti dengan mendadak di depan gerbang, menyebab-
kan debu dan tanah beterbangan di udara yang panas.
"Skinny Norris!" ujar Pete geram. "Bukan waktu yang
tepat untuk kekonyolannya!"
E. Skinner Norris berusia sedikit lebih tua daripada
anak-anak itu. Karena ayahnya secara resmi bertempat
tinggal di suatu negara bagian lain yang dapat dikatakan
mengizinkan bayi untuk mengemudi, Skinny dapat
menyetir mobilsesuatu yang amat ditonjolkannya
kepada semua anak di Rocky Beach. Namun demikian,
meskipun Skinny memiliki mobilnya sendiri, yang sangat
disukainya selama tinggal di Rocky Beach selama musim
panas adalah mencari tahu apa yang dilakukan Jupiter,
Pete, dan Bob, dan berusaha mengganggu mereka. Ia
selalu berusaha mengalahkan Jupe dan selalu gagal. Kini
ia melompat keluar dari mobilnya dan menghampiri Trio
Detektif.


"Pergi, Skinny!" tukas Bob.
"Diam kau!" Skinny menyeringai seperti seekor kucing
yang baru saja menangkap seekor burung kenari. "Jupiter
McSherlock, sepertinya Anda sedang bermasalah
sekarang." Beberapa orang gerombolan Skinny yang ber-
ada di jok belakang mobil tertawa dan Skinny mengikik
seperti seekor kuda.
Jupe menampilkan muka terkejut. "Aku tak tahu apa
maksudmu, Skinny," katanya polos, mengangkat bahu.
"Yang benar saja!" tukas Skinny, "Semua orang di kota
ini tahu kalian yang melakukannya! Mereka menemukan
kartu nama kalian di lokasi kejahatan!" Skinny mencibir.
"Suatu informasi yang menarik, Skinny," kata Jupiter,
mengedipkan mata kepada Bob dan Pete. "Mengingat
fakta bahwa hanya Mrs. Henderson dan polisi yang tahu
detail terjadinya kejahatan itu, mungkin ada baiknya kau
memberi tahu kami bagaimana kau tahu kartu nama kami
ditemukan di tempat kejadian."
Muka Skinny memerah. "Kau kira kau begitu pintarnya,
Gendut! Lihat saja nanti!" Ia mengacungkan jarinya yang
kurus ke arah Jupe. "Sebelum hari ini berakhir, kalian
bertiga akan menjadi bahan tertawaan di seluruh Rocky


Beach!" Skinny melompat masuk ke mobilnya dan
mundur, meninggalkan kepulan debu. Sambil tertawa dan
menjulurkan lidahnya ke arah anak-anak, ia memacu
mobilnya.
Ketika debu telah mereda, Bob menyuarakan per-
tanyaan yang ada di pikiran mereka bertiga.
"Bagaimana Skinny bisa tahu tentang kartu nama kita,
Jupe?"
Jupiter mengerutkan kening. "Aku tidak yakin namun
sepertinya mulut besarnya memberi implikasi bahwa
dialah yang ada di balik pencurian di Pearl's Bakery.
Menurutku sekarang saatnya Trio Detektif mengadakan
rapat darurat!"
***
Jupiter mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja se-
tengah hangus yang terdapat di dalam markas. "Rapat di-
mulai. Karena kita semua tahu tentang kejadian
mengejutkan yang baru saja disampaikan kepada kita,
mari kita sekarang mulai mendiskusikan para pelaku
potensial."
"Apa katanya?" tanya Pete kepada Bob.


"Jupe bilang, kita semua tahu apa yang terjadi, maka
mari memikirkan siapa yang mencoba memfitnah kita,"
kata Bob.
"Oh. Mengapa ia tidak bilang begitu saja?"
Penyelidik pertama yang gempal berdehem dan me-
letakkan sikunya di atas meja. "Jika kalian berdua telah
selesai berkomedi, kita akan lanjutkan," katanya dengan
tidak sabar. "Skinny Norris telah masuk daftar dengan
alasan yang jelas. Bisakah kalian memikirkan kira-kira
siapa yang ingin mencemarkan nama baik dan reputasi
kita?"
"Wah, Jupe, kita telah menangani begitu banyak
kasus... bisa siapa saja dari seratus orang!" seru Pete.
"Seratus mungkin agak terlalu berlebihan tapi kita
memang telah memperoleh beberapa musuh," Jupe
menghembuskan nafas.
"Mungkinkah Hugenay?" kata Bob bersemangat, "pen-
curi barang seni dari Prancis yang kita hadapi dalam
Misteri Nuri Gagap dan Misteri Jeritan Jam?"
Jupiter bersandar di kursi putar yang telah diperbaiki-
nya, berkonsentrasi penuh. "Bukan gayanya," katanya me-
mutuskan. "Selain itu ia sebenarnya membantu kita


terakhir kali kita bertemu. Rasanya tidak mungkin ia
jauh-jauh datang kembali ke Rocky Beach hanya untuk
memberi kita masalah. Berikutnya?"
Pete menjentikkan jarinya. "Bagaimana dengan para
penjahat yang berusaha mencuri permata August August,
Mata Berapi? Polisi tak pernah menangkap mereka!"
"Hm, jelas suatu kemungkinan," jawab Jupe.
Selama beberapa saat mereka berdiam diri, memikir-
kan semua kriminal yang pernah mereka temui selama
karir mereka sebagai Trio Detektif. Akhirnya Bob meng-
angkat tangan putus asa.
"Oh, kita harus menghadapi kenyataan, teman-teman,
daftar ini bisa terus bertambah panjang!"
"Kau benar, Data. Mari kita lanjutkan," kata Jupiter
setuju. "Mengapa seorang penjahat secara sengaja me-
milih sebuah toko kue untuk dirampok? Itulah misteri
teka-teki sebenarnya di sini."
"Biar kutambahi!" kata Pete. "Mengapa seseorang mau
bersusah payah hanya demi dua puluh dolar, itulah
misteri yang sebenarnya!"
"Awk! Misteri! Awk!" jerit Blackbeard. Blackbeard
adalah beo peliharaan mereka yang mereka dapatkan


saat menangani salah satu kasus. Dari sangkar besarnya
yang tergantung di sudut ruangan, burung itu selalu mem-
buat Pete gelisah.
"Diam kau!" seru Pete.
"Jupe, bagaimana kalau kita sudahi saja malam ini?"
kata Bob. "Hari ini sungguh melelahkan dan perutku
merasa ini sudah waktunya makan malam."
"Kurasa kau benar, Bob," kata Jupiter menyerah.
"Malam ini kita coba pikirkan, siapa saja yang berusaha
memfitnah kita. Besok kau telusuri semua catatan kasus
kita, Data. Buatlah daftar para tersangka yang mungkin,
termasuk Skinny, meskipun aku ragu dialah yang kita
cari."
"Baiklah, Jupe," jawab Bob. Remaja bertubuh kecil itu
menghilang melalui Lorong Dua, sebuah tingkap di lantai
karavan yang berfungsi sebagai salah satu jalan masuk
rahasia ke markas.
"Dua, besok kau ikuti Skinny dan lihat apa maunya
anak itu. Lapor ke markas siangnya."
"Aku harus memotong rumput di rumah tetangga dulu
tapi setelah itu akan kuamat-amati anak itu bagai seekor


elang!" kata Pete. "Apa yang akan kau lakukan besok,
Pertama?"
"Besok," kata Jupiter dengan dramatis, "Aku ada
kencan dengan empat kursi taman yang sangat berkarat."
Jupiter melambaikan tangan sambil mengunci
pangkalan. Ia menyeberang jalan ke rumah kecil ber-
warna putih, kediaman Keluarga Jones.
Pete dan Bob bersepeda pulang. Mereka bersama-
sama sepanjang sebagian jalan pulang, membicarakan
kejadian mengejutkan hari itu. Ketika matahari musim
panas mulai terbenam di langit nan ungu, mereka ber-
pisah dan mengambil jalan masing-masing. Tidak ada
yang menyadari kehadiran sebuah sedan hitam yang telah
membuntuti mereka secara diam-diam.
***


BAB III
PENCURIAN KEDUA!

Pete Crenshaw bangun pagi-pagi sekali dan memerangi
kabut California yang tebal untuk memotong rumput di
halaman tetangganya. Ia tidak terlalu suka akan tugas
membuntuti Skinny Norris dan mobilnya berkeliling Rocky
Beach dengan sepeda. Tapi Pete adalah yang paling
atletis dari ketiga anak itu, jadi dialah yang selalu men-
dapat tugas seperti ini. Namun demikian pagi ini Pete
beruntung. Mobil Skinny Norris tidak pernah meninggalkan
rumah orang tuanya sepanjang pagi. Sekarang hari telah
siang dan dari tempat persembunyiannya di atas pohon
elm besar di seberang jalan, Pete, dengan teropong ayah-
nya, hanya melihat muka Skinny yang berbintik-bintik
mengintip melalui tirai dengan gelisah dari waktu ke
waktu. Pete merasa Skinny nampak cemas dan ia meng-
ingatkan diri untuk melaporkan hal ini kepada Jupe. Ia
memasukkan teropong ke dalam kotaknya dan turun dari
pohon.
***


Matahari tengah hari yang panas telah menghabisi
sisa-sisa kabut pagi ketika Pete meluncur di atas sepeda-
nya masuk ke Jones Salvage Yard. Hans dan Konrad,
kedua pekerja pangkalan asal Bavaria, sedang membuka
terpal penutup truk pangkalan dan melihat-lihat isinya.
"Hi, Konrad. Hi, Hans."
"Hi, Pete," kata Konrad.
"Kau mencari Jupe?" tanya Hans.
"Ia tak ada di sini?" tanya Pete heran. "Katanya ia
harus bekerja seharian!"
"Ia tidak kelihatan sepanjang pagi, Pete. Bob ada di
sini," jawab Konrad.
"Baiklah. Terima kasih ya."
"Sama-sama, Pete," balas kedua bersaudara itu
dengan riang.
Pete menaiki sepedanya mengelilingi tumpukan
barang bekas hingga ia tiba di bengkel Jupe. Sepeda Bob
tersandar di mesing cetak tua yang telah diperbaiki oleh
Jupiter. Pete menyandarkan sepeda-nya ke sepeda Bob
dan merangkak di bawah mesin cetak. Ia menyingkirkan
potongan terali yang seolah-olah tersandar begitu saja
pada sebuah pipa tua berdiameter besar dan merangkak


masuk. Ini adalah pintu masuk ke Lorong Dua. Pipa itu
memanjang beberapa meter, sebagian berada di bawah
tanah. Anak-anak itu telah meletakkan potongan karpet
di bagian bawah di dalam pipa sehingga lutut mereka
terlindungi. Pete tiba di pintu yang membuka ke atas, ke
lantai markas, mengetuk dengan kode khusus, dan masuk.
Bob Andrews sedang sibuk bekerja di lemari arsip.
Dengan sebatang pensil di sela-sela giginya ia meng-
gumamkan halo kepada Pete.
"Kau lihat Jupe?" tanya Pete.
"Tidak kelihatan sepanjang pagi," gumam Bob.
"Waduh, menurutmu ...." Pete terpotong oleh dering
telepon. Kedua anak itu saling berpandangan selama
beberapa saat. Telepon itu jarang berdering dan jika ia
berdering, biasanya untuk sesuatu yang penting. Bob
menjatuhkan pensil di mulutnya dan menjawab dengan
suaranya yang paling profesional.
"Trio Detektif, dengan Bob Andrews."
"Data!" Ternyata Jupiter dan ia terdengar terburu-
buru. "Pete ada?"
"Dia baru saja datang. Di mana kau?"
"Nyalakan pengeras suara!" perintah Jupiter.


Pengeras suara yang dimaksud adalah sebuah
mikrofon dan speaker yang telah dihubungkan oleh
Jupiter sehingga mereka bertiga dapat ikut serta dalam
pembicaraan di telepon. Bob menyalakannya dan me-
megang gagang telepon di depan mikrofon.
"Silakan, Pertama," kata Bob.
"Keadaan darurat! Gampang Tiga! Kelana Gerbang
Merah! Green's Hardware Store! Segera! Hati-hati!" Dan
tiba-tiba Jupiter memutuskan hubungan. Bob dan Pete
saling berpandangan seolah-olah terhipnotis oleh nada
sambung di telinga mereka.
"Apa itu tadi?" tanya Pete.
"Aku tidak yakin tapi sebaiknya kita ikuti saja
perintahnya!" seru Bob. "Ayo!"
Pete dan Bob berdesak-desakan keluar melalui
Gampang Tiga. Gampang Tiga adalah sebuah pintu besar
yang masih menempel pada bingkainya dan seolah-olah
tersandar begitu saja pada suatu tumpukan barang
rongsokan. Kalau dibuka dengan sebuah anak kunci ber-
karat yang tersembunyi, pintu itu membuka ke sebuah
ketel raksasa, yang kemudian menuju ke markas.


Diam-diam mereka mengambil sepeda dan menuju
Kelana Gerbang Merah. Bertahun-tahun yang lalu be-
berapa pelukis Rocky Beach telah melukisi pagar yang
mengelilingi pangkalan barang bekas sebagai tanda
terima kasih mereka kepada Titus Jones yang sering kali
memberi mereka benda-benda yang mereka butuhkan
secara cuma-cuma. Salah satu lukisan di bagian belakang
menampilkan kebakaran besar yang terjadi di San
Fransisco. Seekor anjing kecil, yang diberi nama Kelana
oleh anak-anak, dengan sedih menatap rumahnya yang di-
makan api. Jupiter merancang sebuah sistem sedemikian
sehingga jika mata Kelana ditekan, tiga papan pagar akan
membuka ke atas. Mereka biasanya menggunakan pintu
masuk ini jika ingin ekstra hati-hati agar tidak terlihat
oleh Bibi Mathilda.
Bob dan Pete membiarkan Kelana Gerbang Merah ter-
tutup dan mengebut sepeda mereka melalui jalan setapak
di rumput, menuju ke daerah perbelanjaan di tengah
kota Rocky Beach.
"Mungkinkah kita diawasi?" tanya Bob dengan cemas di
sela-sela nafasnya yang memburu.


"Mungkin saja," jawab Pete suram. "Kita harus tetap
berjaga-jaga dan jangan sampai dibuntuti!"
Mereka selalu mengambil jalan-jalan kecil dan lorong-
lorong, berulang kali melihat ke belakang ke arah mobil-
mobil yang mereka curigai membuntuti mereka. Beberapa
menit kemudian mereka tiba di Green's Hardware Store.
Jupiter dan Chief Reynolds berdiri di depan toko. Jupiter
sedang mondar-mandir, mencubiti bibir bawahnya, dan
nampak ber-pikir keras sekali. Raut muka Chief Reynolds
nampak suram.
"Hei, Jupe, ada apa ini?" tanya Pete, tersengal-sengal.
"Ada yang membobol toko peralatan ini?" tanya Bob,
membenarkan letak kacamatanya di atas hidungnya yang
berkeringat.
Jupiter tidak mengacuhkan pertanyaan itu dan balik
menanyai Bob. "Data, apakah kau kemarin langsung
pulang ke rumah dari pangkalan?"
"Tentu saja, Jupe. Ada apa?"
"Apakah sepedamu kau kunci pada malam hari,
Robert?" tanya Chief Reynolds.
"Wah, tidak," jawab Bob, terheran-heran. "Sepeda
selalu kuparkir di halaman rumah kami. Ada apa sih?"


"Masuklah, Anak-anak," kata Chief Reynolds dengan
serius, mendahului masuk melalui pintu depan.
"Kau benar, Bob. Green's Hardware Store dimasuki
pencuri semalam. Lihatlah sendiri. Tapi ingat, ini tempat
kejadian perkara, jangan sentuh apa pun!" perintahnya.
Hal pertama yang mereka lihat adalah seutas tali
plastik di tengah ruangan yang menjuntai dari sebuah
jendela di langit-langit yang tinggi.
"Seperti kalian lihat, jendela itu sangat kecil," kata
Jupiter sementara mereka menghampiri tali tersebut.
"Hampir terlalu kecil untuk seorang lelaki dewasa... tapi
sangat pas untuk seorang anak."
"Kedengarannya tidak terlalu menyenangkan!" dengus
Bob.
"Berikutnya," lanjut Jupiter, seolah-olah sedang mem-
berikan kuliah di kelas, "di bagian bawah tali ini kita
temukan bekas-bekas yang sepertinya berasal dari kapur
berwarna biru."
"Oh, tidak!" keluh Bob.
"Dan sekarang, coba alihkan perhatian kalian ke kaca
jendela di langit-langit..." Jupiter menyuruh, menunjuk
ke arah langit-langit.


"Sebuah tanda tanya!" seru Bob dan Pete serempak.
Hampir-hampir mereka tidak dapat mempercayai
penglihatan mereka. Di kaca jendela, sepuluh meter di
atas kepala mereka, tergambar sebuah tanda tanya besar
berwarna hijau. Tanda khusus Trio Detektif!
"Jupe! Chief! Kalian harus percaya padaku!" kata Bob
memelas, matanya terbelalak. "Aku tidur nyenyak sekali
semalam! Di rumah! Di ranjangku! Dan seandainya aku
ada di sana sekarang!"
Jupiter tidak menanggapi kata-kata Bob. "Bekas ban
sepedamu terlihat di atas lumpur, menuju ke pintu
belakang toko ini," ia memberi tahu anak bertubuh kecil
itu. "Aku selalu mengenali bekas ban sepedamu yang
bergaris-garis itu di mana pun!"
***


BAB IV
MENGINTAI

Kabut tebal menyelimuti kawasan Pasifik malam itu. Trio
Detektif, terbungkus dari kepala hingga ujung kaki
dengan mantel hitam, bersepeda memasuki pintu
belakang Kepolisian Rocky Beach. Beberapa menit men-
jelang pukul delapan.
Jupiter menyandang sebuah ransel yang berisi
'peralatan penting untuk mengintai', demikian ia
menyebutnya. Kini ia dan Bob bercakap-cakap penuh
semangat tentang bermacam-macam teknik mengintai.
Pete, yang sama sekali tidak suka segala sesuatu yang
mengandung bahaya, membuntuti di belakang. Mereka
mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh Officer
Haines, seorang polisi muda berwajah galak dan be-
rambut merah.
"Anak-anak melakukan pengintaian!" dengusnya.
"Mengapa kalian tidak kembali saja ke rumah pohon
kalian dan membiarkan para profesional menangani ini?"


Jupiter memiliki bakat berakting yang memungkinkan-
nya mengubah raut muka dan tingkah lakunya, sehingga
nampak lebih tua daripada usia sebenarnya. Kini ia ber-
diri tegak dengan dagu terangkat tinggi.
"Diremehkan karena usia kami telah memungkinkan
kami menyelesaikan banyak kasus membingungkan dan
dianggap tak terpecahkan. Mata muda kami dapat me-
lihat banyak hal yang terlewatkan oleh orang dewasa."
Officer Haines nampak seolah-olah ia baru saja meng-
gigit sebuah jeruk yang sangat asam. "Mulut pintarmu itu
suatu hari nanti akan memberimu masalah besar, Jones!"
geram Haines, mencucukkan jarinya ke dada Jupe. "Kau
tahu terlalu banyak demi kebaikanmu sendiri!"
"Cukup, Haines," Chief Reynolds berkata dari
belakangnya.
"Bukan anak-anak yang baik," Haines bergumam
sambil berjalan menjauh di koridor.
"Maaf tentang hal itu, Anak-anak," kata Chief. "Mereka
sedang menghadapi stres dengan segala aktivitas ke-
jahatan yang terjadi di Rocky Beach akhir-akhir ini. Kami
banyak bekerja lembur dan mereka tidak suka anak-anak
melakukan pekerjaan mereka. Jadi demi kebaikan kalian


sendiri, jangan mencari masalah dengan mereka malam
ini. Setuju?"
Ketiga anak itu mengangguk dengan muram.
"Apa yang dikatakan Skinny tentang pencurian-
pencurian ini, Chief?" tanya Bob, mengeluarkan buku
catatan dan pensil.
"Tidak banyak yang bisa ditulis, Bob. Skinny sudah
tidak ada di kota ini!"
"Apa?!" seru Pete, memukulkan kepalan ke telapak
tangannya. "Tunggu sampai dia berhadapan denganku!"
"Sebenarnya aku telah mencoret nama Skinny dari
daftar tersangka," kata Jupiter sementara mereka ber-
jalan menuruni tangga, menuju ke garasi polisi di bawah
tanah. "Kejadiannya terlalu kompleks untuk anak seperti
Skinny. Selain itu, ia takkan berani melakukan sesuatu
sebesar ini."
"Sepertinya sekali lagi Jupiter benar," kata Chief
setuju. "Entah bagaimana Skinny tahu tentang rencana si
pencuri... atau para pencuri... tapi rasanya cukup sampai
di situ keterlibatannya. Kita akan tahu begitu kita bisa
menemukannya. Ibunya berkata ia menginap di tempat
seorang sepupu di pesisir selama beberapa minggu.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil Chief
Reynolds, Jupe mengambil tempat duduk di depan. Chief
akhirnya tidak dapat menahan rasa ingin tahunya melihat
Jupe meletakkan ransel di antara kedua kakinya. Setelah
sekian lama bekerja sama, Sam Reynolds telah terbiasa
dengan kejutan-kejutan dari Jupiter Jones.
"Baiklah, sudah cukup berahasia, apa itu di dalam
ransel, Jones?"
Jupe tersenyum. "Kumpulan intrumen dan peralatan
yang boleh jadi akan terbukti sebagai faktor yang
menguntungkan dalam tugas pengintaian kami."
"Maksudnya, barang-barang yang mungkin berguna
nanti," kata Pete menyeringai.
"Cara yang agak rendah untuk menyatakannya tapi
pada intinya benar, Dua," jawab Jupiter. Ia mulai
membagi-bagikan isi ranselnya. "Walkie-talkie kita, bisa
digunakan sampai sejauh empat blok. Senter, kapur, tiga
set teropong, tiga botol soda jeruk, dan biskuit coklat
Bibi Mathilda yang telah ternama di seluruh dunia! Kita
tidak pernah tahu berapa lama pengintaian akan ber-
langsung!" senyum Jupe, mengambil suatu gigitan besar.
"Serahkan pada Jupe untuk berkemas!" Bob tertawa.


Chief menghela nafas, lalu berubah serius. "Sudahkah
kalian bertiga mendapat izin dari orang-tua masing-
masing?"
Mereka mengangguk penuh semangat.
"Baiklah kalau demikian. Mari kita menangkap pen-
curi!"
***
Sejam kemudian Trio Detektif telah berada di tempat
pengintaian masing-masing, sesuai petunjuk Chief.
Jupiter berjongkok di dalam bayang-bayang di pagar
rumah seberang Pearl's Bakery bersama seorang polisi
berbadan besar yang bernama McDaniels. Satu blok dari
situ, Bob duduk di jok depan sebuah mobil polisi tak
bertanda bersama Chief Reynolds. Kaca-kaca jendela
mobil itu benar-benar gelap sehingga tidak mungkin
melihat ke dalam tanpa menempelkan muka di kaca.
Pete, yang paling cekatan, menggigil di atap Green's
Hardware Store bersama Haines, yang nampak sangat
kesal. Meskipun saat itu musim panas, di daerah pesisir
malam dapat menjadi sangat dingin, terutama ketika
berkabut. Dan kini, hampir pukul sembilan dan matahari


tinggal sesaat lagi terbenam, Pete harus menaikkan
kerahnya, menutupi telinga.
Penyelidik Kedua dengan waspada mengamat-amati
jalan di depan toko peralatan itu. Ia merasa kabut telah
menjadi jauh lebih tebal dalam sejam terakhir. Bahkan
jalan raya, yang biasanya penuh dengan remaja pada
Jumat malam, nampak lengang. Setiap beberapa saat ada
mobil yang lewat, lampu depannya bercahaya bagaikan
kunang-kunang pada waktu malam. Pete merasa sial
sekali harus berpasangan dengan Haines namun memutus-
kan untuk mengurangi kebosanan dengan bercakap-cakap
dengan polisi galak itu.
"Kabut semakin tebal. Anda pikir kita bisa melihat apa
yang terjadi dari atas sini?"
"Diam, Anak Kecil," Haines meludah dengan kesal.
"Huh," gumam Pete. Ia kembali mengarahkan
pandangan ke jalan yang berkabut dan memutuskan untuk
mencoba walkie-talkie-nya. Walkie-talkie itu adalah salah
satu hasil karya Jupiter sejak mereka memulai Trio
Detektif. Terdiri dari alat penerima dan pengirim, walkie-
talkie itu terhubung oleh kawat tembaga dengan ikat
pinggang khusus yang mereka kenakan.


"Penyelidik Pertama, masuk," Pete berbisik.
"Penyelidik Pertama, masuk. Ganti."
Sejenak terdengar bunyi sinyal statis dan kemudian
suara Jupe, pelan namun jelas.
"Pertama di sini. Ada apa, Dua? Ganti."
"Biasa saja," kata Pete. "Hanya berusaha mencari
teman mengobrol yang tidak benci anak-anak." Ia men-
julurkan lehernya untuk melihat apa yang terjadi di jalan
lagi. "Kabut sangat tebal di sini. Aku hampir tidak dapat
melihat jalan! Apakah kau bisa melihat sesuatu di bawah
sana? Ganti."
"Negatif," jawab Jupe. "Sepertinya ini adalah malam
paling buruk untuk mengintai. Kabut ini seperti sup
kacang saja. Tetaplah waspada," Penyelidik Pertama
memberikan aba-aba.
"Dan jaga badanmu agar tetap hangat!" Suara Bob
terdengar diiringi dengan tawa. "Ganti dan selesai."
"Lucu sekali, Data!" kata Pete sinis. "Akan kuganti dan
kuselesaikan engkau!"
Pete menyimpan kembali walkie-talkie-nya dan ber-
usaha menemukan tempat duduk yang paling nyaman,
bersiap-siap menghadapi malam yang panjang.


***
Waktu serasa berlalu kian lama kian lambat. Tubuh
Pete terasa pegal dan pikirannya seolah-olah sama
berkabutnya dengan malam itu. Satu-satunya yang terjadi
selama pengintaian itu adalah ke-datangan seorang anak
buah Chief Reynolds dengan dua cangkir kopi untuk Pete
dan Haines. Pete begitu senang akan adanya sesuatu yang
hangat di dalam perutnya sehingga mulutnya terbakar
karena menghabiskan isi cangkir itu sekaligus.
Pete bermimpi ia tersesat di dalam kabut di suatu
pantai. Gemuruh ombak berderu-deru kencang sekali di
telinganya. Sudut matanya menangkap sesosok bayang-
bayang yang menyelinap di tengah-tengah kabut tidak
jauh dari tempatnya, terdengar suara tapak kaki di pasir.
Pete tergagap ketakutan dan mulai berlari di sepanjang
pantai tanpa bisa melihat apa-apa. Tapi seolah-olah
semakin cepat ia berlari, semakin dekat monster itu...
sampai akhirnya tepat di belakangnya! Pete terjatuh di
pasir dan berteriak...
Pete terbangun tiba-tiba... teriakannya masih terasa
di bibirnya. Ia menarik nafas panjang ketika menyadari
bahwa semua itu hanya mimpi.


Mimpi! Itu artinya ia telah tertidur! Pete mengambil
resiko dengan menyalakan senter untuk melihat jam
tangan. Tengah malam! Pete panik ketika menyadari ia
telah tertidur selama lebih dari tiga jam! Jupe pasti akan
marah-marah mendengar ia tertidur saat sedang meng-
intai bersama polisi!
Hal terakhir yang diingat Pete adalah saat Jupe me-
merintahkan mereka untuk tidak bercakap-cakap dengan
walkie-talkie, Penyelidik Pertama yakin sesuatu akan ter-
jadi sebentar lagi. Kemudian seorang polisi datang mem-
bawakan secangkir kopi... dan ia tidak ingat apa-apa lagi
sampai kemudian bermimpi!
Pete merasa sekali itu otak Jupiter Jones yang begitu
cerdas salah. Ia meregangkan kakinya yang panjang dan
menguap. Sambil mengusap mata Pete memandang ke
bagian lain dari atap, tempat Haines berada, bersiap-siap
akan menerima pandangan marah polisi itu. Pete ter-
kejut.
Haines telah menghilang!
Pete melompat berdiri dan buru-buru memijat sendi-
sendinya yang kaku. Penyelidik Kedua bergegas
menyeberangi atap, jantungnya berdegup kencang sekali.


"Officer Haines?" bisiknya. "Officer Haines, di manakah
Anda?" Tidak ada jawaban. Pete berpikir keras. Mungkin-
kah Haines adalah pencuri yang mereka tunggu? Mungkin-
kah ia sengaja menunggu Pete tertidur lalu beraksi? Ia
tidak ingat kapan terakhir kali ia mendengar suara
Haines. Pete membuat keputusan dan mengeluarkan
walkie-talkie.
"Jupe! Jupe!" serunya. "Kau dengar? Jupe, masuk!"
***
Ketika Pete menyadari bahwa ia sendirian di atas
atap, Jupiter tiba-tiba menegakkan tubuhnya dalam
kegelapan di tempat ia mengintai bersama McDaniels.
Apakah ia mendengar sesuatu? Seperti bunyi logam
beradu dengan logam. Ia menyentuh pundak McDaniels.
"Anda dengar itu?"
McDaniels mengangguk dan menaruh jari di bibir. Ia
menunjuk ke arah pagar yang mereka sandari selama tiga
jam terakhir.
Jupiter mematikan walkie-talkie-nya, suara yang tidak
perlu, sekecil apapun, dapat membuat keberadaan
mereka diketahui. Ia menjauh dari pagar sejauh yang ia


berani. Bahkan dengan kabut tebal yang menutupi
keberadaan mereka, ia tidak ingin posisi mereka
ketahuan dengan keluar ke cahaya suram lampu jalan.
Remaja gempal itu menahan nafas dan berusaha me-
nangkap suara sekecil apapun. Ia menggenggam senternya
erat-erat, berniat menggunakannya sebagai senjata bila
perlu.
Ketika Jupe telah yakin bahwa mereka tidak benar-
benar mendengar sesuatu, bunyi lembut itu kembali ter-
dengar.
Rambut Jupiter berdiri tegak.
Officer McDaniels mencabut pistol kecilnya dan meng-
arahkannya ke suatu tempat di pagar.
"Apakah sebaiknya kubutakan ia dengan senter?" bisik
Jupiter.
McDaniels menggeleng. "Kau akan ketahuan," bisiknya.
"Berdiri di belakangku!"
Jupiter melakukan yang disuruh. "Ada apa di balik
pagar?" bisiknya di telinga McDaniels. "Maksudku selain
pencuri itu?"
"Tangga menuju ke apartemen. Kita..." Mc Daniels
tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat pintu


pagar mulai bergerak pelan. Jupe mendengar bunyi
gerendel dibuka dan menatap dengan takut.
Pintu pagar perlahan membuka.
Sesosok gelap melangkah diam-diam.
"Berhenti!" bisik McDaniels tegas. "Jangan bergerak!"
"Santai! Ini hanya aku, Jensen!" Sosok gelap itu
berbisik, mengangkat kedua tangan. "Chief Reynolds
menyuruhku menggantikanmu!"
"Siapa?" McDaniels bertanya dengan curiga, pistolnya
tetap terarah ke sang penyusup.
"Jensen! Aku polisi!" bisik si orang tak dikenal. "Aku
salah satu polisi dari pesisir yang diminta Chief Reynolds
membantu dalam pengintaian ini! Carlson sedang meng-
gantikan Haines di atap!" bisiknya sambil menunjuk ke
seberang jalan.
McDaniels menyimpan pistolnya dan mengangkat alis.
Jupiter menyadari ia telah menahan nafas selama itu dan
menghembuskannya dengan lega. Dengan cahaya dari
lampu jalan ia kini dapat melihat sosok itu mengenakan
seragam hitam polisi dengan lencana berkilauan terkena
cahaya. Tempat itu terlalu gelap untuk dapat melihat


muka Officer Jensen dengan jelas namun Jupe melihat
lencananya dan suaranya terdengar tak asing.
"Sampai nanti, Kawan," McDaniels tersenyum. "Aku
akan mengambil kopi. Jangan tertidur!" Setelah berkata
demikian, polisi berbadan besar itu tanpa menimbulkan
suara menyelinap melalui pintu pagar dan menaiki
tangga. Jupiter mendengar gerendel terkunci. Ia ber-
paling ke arah sosok gelap Jensen.
"Sepertinya si pencuri takkan beraksi malam ini," kata
Jupe, meraih ke dalam ranselnya. "Anda mau kue? Kue
coklat legendaris buatan Bibi Mathilda-ku."
"Oh, sungguh menyenangkan," jawab Jensen, meng-
ambil sepotong kue dan mengunyahnya. "Terima kasih,
Nak. Rasanya seperti kue yang belum lama ini kumakan di
San Fransisco," ujar Jensen. "Seorang lelaki berjualan
dengan gerobak di China-town. Kue Chang, begitu nama-
nya. Buatan Bibi Mathilda-mu jauh lebih enak, tentu
saja," tambahnya cepat-cepat.
"Benar-benar memanjakan indera perasa," kata
Jupiter setuju.
Jensen menatap ke arah kabut tebal. "Aku takkan
heran jika Chief menyudahinya sekarang," katanya. "Ter-


lalu berkabut. Aku akan menghubungi markas dan me-
minta mereka menelepon istriku. Aku bilang padanya aku
takkan pulang hingga pagi hari nanti. Tidak ada gunanya
membiarkan ia cemas semalaman." Jensen meraih walkie-
talkie besar yang tergantung di ikat pinggangnya.
Jupiter mengunyah sepotong kue dan kembali meng-
amati jalan dengan teropongnya. Samar-samar terdengar
bunyi klik yang diikuti dengan sinyal radio ketika Jensen
menyalakan pesawatnya.
Tiba-tiba keheningan malam terpecah oleh deringan
nyaring sebuah bel!
"Alarm keamanan!" seru Jupe.
"Kira-kira dari mana asalnya?" tanya Jensen.
Jupe menelusuri jalan yang tertutup kabut dengan
teropongnya. Secercah cahaya merah me-narik perhatian-
nya.
"Tempat permainan dingdong," seru Jupe mengatasi
kebisingan alarm. "The Mineshaft!" Ia berlari
menyeberangi jalan yang sepi. Jensen berada tepat di
belakangnya.
"Tepat di sebelah Green's Hardware!" seru Jupe.
"Mungkin Pete melihat sesuatu!"


Jupe, dengan potongannya yang gempal, segera saja
terlewati oleh Jensen.
"Mari kita berputar ke belakang!" seru Jensen.
"Mungkin kita bisa menangkap si pencuri saat ia berusaha
kabur!" Jupiter menimbang-nimbang dengan cepat dan
setuju. Mereka berlari di tengah kabut menuju belokan
terdekat dan memasuki sebuah lorong, bayang-bayang
mereka memanjang di depan mereka. Ketika mereka
berbelok, tiba-tiba kaki mereka saling tersandung dan
mereka berdua terjatuh ke trotoar yang keras. Jensen
duduk lambat-lambat dan mengusap benjolan di kepala-
nya.
"Kau tak apa-apa, Nak?" tanyanya terguncang.
"Aku akan hidup," jawab Jupiter, memeriksa lututnya
yang terkelupas. Dering alarm pencuri itu begitu kuat
sehingga mereka harus berteriak-teriak meskipun mereka
duduk berdekatan. "Hanya beberapa luka kecil..." Jupe
berhenti tiba-tiba dan menarik nafas. "Lihat!" serunya,
menunjuk ke pintu belakang The Mineshaft. "Jendela
kecil di dekat tempat sampah itu terbuka!"
Mereka berdua melompat bangkit dan berlari men-
dekati jendela itu.


"Silakan, Nak, akan kuangkat kau!" Jensen menawar-
kan, merunduk dengan telapak tangan dan lututnya di
jalan. "Naiklah ke punggungku. Akan kususul kau nanti!"
Dengan sedikit bersusah payah, Jupiter mengempiskan
perutnya dan memaksa tubuhnya masuk melalui ambang
jendela yang sempit. Dengan hati-hati ia mendorong
tubuhnya masuk, mengaturnya sedemikian rupa sehingga
ia bisa turun dengan kaki dahulu. Jupe berpegangan pada
ambang jendela beberapa saat, firasatnya berusaha
memberitahunya sesuatu. Ada perasaan tidak enak bahwa
ada yang tidak beres dengan semuanya ini namun ia tidak
dapat menemukan apa yang salah. Akhirnya ia melupa-
kannya dan menjatuhkan diri ke lantai.
"Aku sudah di dalam!" serunya.
Tidak ada jawaban.
"Jensen?" Jupiter menunggu petugas polisi itu untuk
memanjat masuk melalu jendela yang baru saja di-
laluinya. "Jensen?" panggilnya lagi. Ia mulai merasa tidak
enak ketika tiba-tiba sebuah tas kecil terlempar masuk
melalui jendela, jatuh di lantai dengan bunyi dentingan
logam.


Jupe pelan-pelan memungut tas yang berat itu dan
memeriksanya. Di bagian luar terdapat tulisan dengan
huruf-huruf besar: ROCKY BEACH FEDERAL BANKTAS
DEPOSIT. Perlahan-lahan dibukanya tas itu, lalu di-
angkatnya sehingga terkena cahaya remang-remang yang
masuk melalui jendela, ada yang berkilauan di dalamnya.
Jupe terbelalak ketika akhirnya ia menyadari apa
yang sesungguhnya sedang terjadi... dan apa yang sejak
tadi berusaha diberitahukan oleh firasatnya.
Tas itu penuh berisi mata uang logam!
Remaja berwajah bulat itu dengan segera tahu bahwa
jika ia memeriksa ke dalam toko, ia akan menemukan
beberapa alat permainan telah dibobol, dan koin-koin di
dalamnya telah hilang.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan apapun, sebuah
lampu yang terang menyorot ke matanya.
"Jangan bergerak, Nak!" suatu suara yang galak
terdengar mengatasi dering alarm. "Kau ditangkap!"
***


BAB V
TERTANGKAP BASAH

"Kau ditangkap!" seru Chief Reynolds penuh ketegasan.
Jupiter Jones berdiri diterangi cahaya terang dari
senter, mulutnya terbuka, cahaya yang terang membuat-
nya tidak dapat melihat apa-apa untuk beberapa saat. Ia
mengangkat tangan menutupi mukanya yang bulat dan
berusaha keluar dari sinar yang membutakan itu. Bob
muncul di samping Chief.
"Jupe!" serunya terkejut. "Apa yang kau lakukan di
sini?"
Chief akhirnya mengenali Jupiter. "Jones? Demi
Tuhan, apa yang terjadi?!" tanyanya.
Penyelidik Pertama yang biasanya selalu tenang
sering kali menimbulkan kesan sombong pada orang-orang
yang tidak mengenalnya dengan baikkembali kehilangan
kata-kata, dua kali dalam dua hari berturut-turut.
"Aku... aku masuk lewat masuk lewat jendela.."
Saat itu ruangan belakang The Mineshaft telah di-
penuhi para petugas polisi anak buah Chief Reynolds.


Mereka menyebar di ruangan, menatap Jupe penuh ke-
curigaan.
"Mudah-mudahan kau punya penjelasan yang sangat
bagus, Anak Muda!" kata Chief tidak sabar.
Seorang polisi menemukan saklar dan lampu-lampu di
atas kepala mereka menyala. Terdengar dengungan pelan
ketika alarm dimatikan.
Jupiter menegakkan badan dan berdehem. Sudah
jelas ia telah ditipu mentah-mentah oleh Jensen si polisi
gadungan. Sekarang ia harus berpikir keras dan meng-
ulang rentetan kejadian yang berujung dengan ditemu-
kannya ia di dalam The Mineshaftsendiriandan me-
megang sebuah tas penuh uang!
"Semuanya bermula," ujarnya, "ketika Officer
McDaniels digantikan oleh Officer Jensen..."
"Jensen?" tukas Chief Reynolds. "Siapa itu, Jensen?"
Jupe nampak agak kesal karena dipotong. "Saya akan
sampai ke situ sebentar lagi," katanya. "Sekitar tengah
malam..." Jupe tidak sempat menyelesaikan penjelasan-
nya karena dipotong sekali lagi... kali ini oleh deringan
bel yang lain lagi.
"Alarm lain!" seru Bob, menarik lengan Jupe.


Seorang polisi datang berlari dari arah depan toko.
"Seseorang telah menyusup masuk ke toko minuman The
Vineyard, dua gedung dari sini!" katanya penuh semangat.
"Ia terjebak di dalam, kami telah menutup semua jalan
keluar!"
Chief Reynolds membenamkan topi polisinya dalam-
dalam di kepalanya dan berlari menuju pintu depan.
"Ayo!" perintahnya. "Kau juga, Jones!"
Jupiter tidak perlu disuruh dua kali. Ia dan Bob
berada tepat di belakang Chief ketika mereka berlari
masuk ke dalam kabut malam, menuju toko minuman The
Vineyard.
Mereka berhenti di depan pintu masuk dan bergegas
menempelkan muka ke kaca jendela, berusaha mengintip
ke dalam toko yang gelap. Chief Reynolds mengeluarkan
sekumpulan anak kunci, mencari kunci induk yang dapat
membuka semua toko di kota itu. Ia menemukannya dan
memasukkannya ke lubang kunci. Ketika alarm tiba-tiba
berhenti berbunyi, Chief berseru kepada pencuri yang
terjebak di dalam toko.
"Aku akan menyalakan lampu dan masuk! Jangan
bergerak! Berlututlah dengan tangan di belakang kepala!"


Chief meraih pentungannya dan mulai bergerak masuk
dengan penuh kewaspadaan. Ia berpaling ke arah Jupe
dan Bob dan berbisik, "Kalian berdua diam di sini!"
Bob dan Jupe memandang teman mereka itu masuk.
Mereka saling berpandangan dan tahu persis apa yang
sedang dipikirkan yang lain.
Mereka harus tahu siapa pencuri itu! "Jangan sampai
terlihat," bisik Jupe. Mereka berjingkat masuk melalui
pintu yang terbuka ketika lampu-lampu ruangan menyala.
Anak-anak bergerak diam-diam, melihat seutas tali
plastik tergantung dari lubang ventilasi di langit-langit..
suatu pemandangan yang mulai mereka kenal baik. Ketika
mereka melihat si pencuri yang berlutut di lantai, mereka
berseru serempak.
"Pete!"
Pete sedang berlutut dengan punggungnya ke arah
mereka, tangannya di atas kepala. Ia menoleh ke kiri dan
kanan, matanya terbelalak nyaris sebesar piring.
"Ini memang nampak seperti suatu pencurian namun
bukan!" erangnya. "Aku telah ditipu! Ditipu mentah-
mentah, Jupe! Sumpah!"


Chief Reynolds mengambil alih. "Geledah seluruh
toko!" ia memerintahkan anak buahnya. "Bediri, Pete, dan
beri tahu kami apa yang terjadi."
Pete berdiri dengan malu-malu dan terbatuk.
"Kejadiannya begini ...."
"Sebentar, Pete," potong Jupe. "Rasanya aku bisa
mengira-ngira apa yang telah terjadi." Ia berjalan
mondar-mandir secara dramatis selama beberapa detik,
mencubiti bibir bawahnya sambil berbikir keras. "Kau ada
di atap bersama Officer Haines, kemudian datanglah
seorang petugas polisi, seseorang yang belum pernah kau
temui sebelumnya..."
Seorang polisi menyentuh bahu Chief Reynolds,
memotong deduksi Jupe. "Sir, kami menemukan Haines,"
ujarnya pelan, "ia terikat di atas atap."
"Tepat seperti dugaanku," kata Jupiter mengumum-
kan.
"Memang ada seorang polisi, Jupe!" kata Pete meng-
konfirmasi. "Ia membawakan kopi panas untukku dan
Officer Haines. Hal berikutnya yang kuingat adalah aku
terbangun dua jam kemudian!"


"Kopi itu pasti telah dibubuhi obat tidur!" seru Bob.
"Sungguh berbahaya! Pete bisa saja terjatuh dari atap!"
Pete nampak seolah-olah baru saja melihat hantu... ia
tidak pernah berpikir akan kemungkinan bahwa ia bisa
saja jatuh dan cedera berat. Ia gemetar dan meneruskan
ceritanya. "Ketika aku terbangun, Haines telah hilang.
Aku mencarinya dan ketika tidak berhasil menemukan-
nya, aku memanggilmu melalui radio, Jupe." Pete me-
nunjukkan walkie-talkie-nya. Bob menatap alat itu dan
mengerutkan kening.
"Kau takkan bisa memanggil siapapun dengan radio
itu, Pete," kata Bob. "Lihat!" ia menunjuk ke bagian
belakang alat itu. "Baterainya hilang!"
"Pantas saja kalian tidak menjawab!" seru Pete. "Yah,
selanjutnya aku melompat ke atap sebelah dan kemudian
sebelahnya lagi, yaitu atap The Vineyard. Saat itulah aku
melihat jendela di atap terbuka dan seutas tali ter-
gantung masuk ke dalam toko. Karena kalian tidak men-
jawab melalui walkie-talkie dan Officer Haines tidak
kelihatan di mana-mana, aku memutuskan untuk ber-
usaha menangkap si pencuri sendirian," kata Pete.


"Sungguh berani, Pete," kata Chief Reynolds, "namun
juga sungguh berbahaya. Seharusnya kau berteriak saja
dari atap."
Pete menatap sepatunya. "Saya rasa saya tidak ber-
pikir jernih ketika itu," katanya. "Selanjutnya, aku turun
melalui tali itu dan begitu kakiku menyentuh lantai,
alarm berbunyi. Hampir saja aku terkena serangan
jantung!"
Chief nampak muram. "Sudah jelas yang kita hadapi
bukanlah pencuri biasa," ujarnya serius. "Seseorang ber-
usaha keras menjatuhkan nama baik kalian, Anak-anak...
dan situasi mulai berbahaya!" Ia menatap Penyelidik
Pertama yang gempal dengan tajam. "Mulai sekarang aku
ingin kalian tinggal di rumah saja. Ini sudah menjadi
urusan polisi sekarang!"
Jupe nampak murung. Lebih dari apapun ia benci
menyerah di tengah-tengah sebuah misteri. "Tapi,
Chief..."
"Tidak ada tapi, Jupiter Jones," kata Chief tegas. "Kau
tidak boleh meninggalkan rumah, mengerti?"
Bob, Pete, dan Jupiter mengumpulkan peralatan
mereka dan keluar memasuki kabut malam, berjalan kaki


menuju rumah masing-masing. Masing-masing berpikir
bahwa akhirnya mereka mengalami kekalahan pertama
sebagai detektif.
Selama itu sebuah sedan hitam diam-diam mem-
buntuti anak-anak itu, seperti bayang-bayang seekor
pemangsa.
***


BAB VI
JUPE CURIGA


Hari berikutnya anak-anak itu berkumpul di Jones Salvage
Yard. Bob dan Pete duduk di sekeliling meja besar di
dalam markas, wajah mereka muram. Bob membolak-
balik halaman sebuah majalah tanpa tujuan tertentu
sementara Pete duduk bertopang dagu.
Tiba-tiba kepala Jupe muncul dari Lorong Dua. Ia ter-
senyum ceria.
"Mengapa kau begitu gembira?" tanya Bob curiga.
"Pasti Bibi Mathilda telah membuat panekuk untuk
sarapan," kata Pete, berusaha tertawa.
"Bibi Mathilda," kata Jupe, "memang telah membuat
panekuknya yang telah terkenal di seluruh dunia untuk
sarapan tapi bukan itu yang membuatku gembira,"
katanya dengan misterius.
Bob menyingkirkan majalah yang sedari tadi dibolak-
baliknya. "Kita baru saja menemui kasus pertama kita
yang tak terpecahkan dan kau bersikap seolah-olah tidak
terjadi apa-apa," katanya. "Ada apa?"


Jupe hanya setengah mendengarkan. Ia sibuk di
bagian belakang karavan, mencari sesuatu di salah satu
lemari kecil yang ada di markas.
"Aha!" serunya. "Ini dia!" Ia mengeluarkan alat pen-
jejak yang dulu dibuatnya untuk sebuah kasus. Kotak
logam kecil itu setiap beberapa saat meneteskan suatu
cairan. Jika ditempelkan pada sebuah kendaraan dengan
magnet kuat yang terdapat di baliknya, anak-anak tinggal
mengikuti jejak cairan tersebut. "Kasus ini jauh dari 'tak
terpecahkan'!" kata Jupe. "Bahkan kita mungkin lebih
dekat ke pemecahannya daripada yang kita kira!"
"Apa?!" seru Bob dan Pete. "Chief Reynolds bilang kita
tidak boleh ikut campur lagi!"
"Tidak tepat," kata Jupe dengan senyum simpul di
mukanya yang tembam. "Ia bilang 'tinggal di rumah',
secara spesifiknya AKU tinggal di rumah!" kata Jupe
penuh kemenangan. "Ia tidak pernah bilang bahwa kalian
berdua harus tinggal di rumah... dan ia sama sekali tidak
pernah bilang bahwa kita tidak boleh ikut campur!"
Bob dan Pete tahu dari pengalaman bahwa berdebat
dengan Jupiter tentang sesuatu yang menyangkut daya
ingat tidak ada gunanya. Daya ingat Jupe sangat hebat, ia


dapat mengingat apa yang dikatakan orang-orang, kata
per kata, dan dapat mengulanginya kapan pun perlu.
Bob dan Pete duduk tegak dengan bersemangat. "Apa
yang ada di pikiranmu, Pertama?" tanya Bob.
"Aku sedang berbaring di ranjang semalam," kata Jupe
antusias, "memikirkan kasus kita ketika aku menyadari
bahwa ada satu orang di Rocky Beach yang akan mem-
peroleh keuntungan besar dengan mencemarkan nama
baik kita. Bahkan orang ini akan memiliki kesempatan
untuk mendapatkan lima ratus dolar, tepatnya!"
"Aku tidak mengerti," kata Pete.
Bob berpikir sejenak, lalu menjentikkan jarinya penuh
semangat. "Maksud Jupe Leo Magellan, ahli sejarah
kesenian yang bersama kita akan berbagi uang hadiah
dari Klub Rotary!" seru Bob. "Tentu saja! Mengapa tidak
terpikir olehku sebelumnya?"
"Tidak terpikir olehku juga, Bob, sampai tadi malam,"
jawab Jupe. "Seharusnya aku sudah harus menarik
kesimpulan ini sejak awal," katanya, menyesali dirinya
yang telah melewatkan sesuatu yang jelas.
Pete merasa akhirnya ia mengerti. "Jadi Magellan
memfitnah kita dengan pencurian-pencurian itu, ber-


harap dapat mencemarkan nama baik kita sehingga ia
akan mengantungi seluruh seribu dolar hadiah itu, benar
bukan?"
"Tepat sekali, Pete," ujar Jupiter. "Dan sekarang
kalian berdua akan mengunjungi Museum Kesenian dan
Ilmu Pengetahuan Rocky Beach. Salah satu dari kalian
akan menanyai Mr. Magellan sementara yang lainnya
mengamati dari jauh untuk melihat apa yang terjadi ...
dan kemudian membuntutinya seandainya ia pergi setelah
ditanyai."
Bob menimbang-nimbang. "Menurutmu dia akan gugup
dengan pertanyaan kita dan kelepasan bicara, Jupe?"
"Benar. Dan jika ia kelepasan, kita akan merekamnya
di kaset!" Jupe mengeluarkan sebuah alat perekam kecil
dari dalam laci di salah satu dari banyak lemari yang ber-
jajar di salah satu dinding markas. "Nyalakan ini, Data,
saat kau bicara dengannya. Aku berharap ia akan cukup
marah atau, lebih mungkin, cukup arogan karena kita
hanya anak-anak, dan kelepasan," kata Jupe menerang-
kan. "Maka kita akan punya cukup bukti untuk mem-
bersihkan nama kita!"


Pete nampak ragu-ragu. "Kedengarannya bagus, Jupe,
tapi bagaimana jika Magellan tidak mau bicara apa-apa?
Semua orang tahu ia benci anak-anak. Bahkan ia mungkin
saja tidak memberi kita kesempatan sama sekali untuk
bicara!"
"Menurut perasaanku, hanya dengan melihat kalian
saja ia akan merasa ketakutan," kata Jupiter. "Salah satu
dari kalian harus membuatnya bicara. Kita hanya akan
menggunakan alat penjejak sebagai alternatif terakhir.
Ingat, Chief Reynolds tidak ingin kita terlibat lebih jauh!"
"Apakah sebaiknya kami pergi sekarang?" tanya Bob.
"Jangan. Kita tunggu sampai menjelang waktu tutup
museum sehingga kalian berdua dapat melihat ke mana ia
pergi jika perlu," jawab Jupe.
"Baiklah," kata Bob. "Aku hendak pulang untuk be-
berapa jam kalau begitu. Aku berjanji pada ayahku untuk
membantu membersihkan garasi hari ini."
"Baik," kata Jupe. "Sementara itu Pete dan aku dapat
bekerja untuk Bibi Mathilda... ia sudah berulang kali
mengeluhkan tumpukan besar kayu di pojok pangkalan.
Pasti ia akan terkejut jika kita mengerjakannya tanpa di-
suruh."


"Setelah makan siang dengan roti ham, kentang
goreng, kue-kue, dan limun, tentu saja," kata Pete
menyeringai.
"Tentu saja," kata Jupe setuju, menjilat bibirnya.
Ketiga anak itu berebut keluar dari karavan dengan
perut keroncongan.
***


BAB VII
LELAKI PEMBENCI ANAK-ANAK


Hari telah siang ketika Bob mengayuh sepedanya kembali
ke Jones Salvage Yard. Dengan gesit ia meloncat turun
dari sepedanya dan mencungkil sebuah mata kayu yang
terdapat pada salah satu papan pagar. Ia memasukkan
jarinya ke dalam lubang dan menarik tuas yang membuka
Gerbang Hijau Satu dan masuk ke bengkel Jupe di pojok
pangkalan. Pete dan Jupe sudah berada di sana.
"Siap berangkat?" tanya Bob.
"Aku tidak mengerti mengapa aku yang harus bicara
dengan orang ini!" gerutu Pete. "Bob lebih baik daripada
aku dalam hal-hal seperti ini!"
Jupe sedang sibuk memasukkan sebuah kaset ke
dalam alat perekam kecil. "Suatu latihan yang bagus,
Dua," katanya, "pokoknya kau ingat saja untuk berdiri
tegak, bicara dengan lambat dan jelas, dan bersikap
seperti seorang dewasa menghadapi situasi semacam ini."
"Tapi apa yang harus kutanyakan kepadanya?" seru
Pete, mengusap rambutnya dengan gugup.


Jupiter bersandar pada mesin cetak dan berpikir
selama beberapa saat, memikirkan apa yang akan di-
katakannya jika ia berada dalam situasi itu. Akhirnya ia
menganggukkan kepala.
"Bilang saja, 'akhir-akhir ini banyak terjadi pencurian
di daerah Rocky Beach... apakah Anda sebagai seorang
direktur museum khawatir karenanya, Mr. Magellan?'...
lalu lihat apa reaksinya. Lanjutkan dengan pertanyaan-
pertanyaan semacam itu dan lihat apa yang terjadi," Jupe
menjelaskan dengan sabar. "Jika ia bereaksidugaanku
dengan penuh emosi, kita akan punya cukup bahan di
dalam kaset ini untuk menuntaskan kasus ini sebelum
matahari terbenam!"
"Aku masih tidak mengerti mengapa Bob mendapat
tugas yang gampang!" Pete menggerutu.
"Dalam kasus berikutnya aku akan mengambil tugas
yang kotor," Bob tertawa sambil mendorong sepedanya
keluar melalui jalan rahasia yang sama. "Sekarang, mari
kita pergi!"
"Aku selalu siap di samping telepon seandainya terjadi
sesuatu," seru Jupe.


Bob mengangguk dan kedua detektif itu mengayuh
sepeda mereka menuju museum kesenian. Mereka baru
beberapa blok dari pangkalan ketika Bob menoleh ke arah
Pete dengan raut wajah serius.
"Ada apa?" tanya Pete.
"Mungkin aku salah," kata Bob, "tapi sepertinya ada
yang membuntuti kita!"
"Mana?" tanya Pete gugup. Sudah lama ia belajar dari
Jupe bahwa sebagai seorang detektif mereka tidak boleh
menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada yang
membuntuti... itu sama saja memberi tahu yang
membuntuti bahwa mereka tahu. Ia menunggu Bob
memastikan kecurigaannya.
"Sebuah mobil hitam, kira-kira satu blok di belakang
kita," kata Bob. "Aku menyadarinya ketika kita meninggal-
kan pangkalan tadi."
"Apakah sebaiknya kita lakukan aksi ban kempis?"
Bob mengangguk setuju. Aksi ban kempis adalah hasil
rekaan Jupe untuk menghadapi situasi semacam ini. Pete
menghentikan sepedanya dan meloncat turun sementara
Bob berputar dan menunggunya memeriksa bannya. Pete
memeriksa jeruji roda dan menekan-nekan ban depannya


beberapa kali, memeriksanya dengan seksama, memberi
kesempatan kepada Bob untuk melihat dengan jelas
mobil hitam yang misterius itu.
"Kurasa ia tahu," kata Bob muram. "Ia berbelok di
persimpangan. Marilah berharap ini hanya kebetulan."
***
Beberapa menit kemudian kedua anak itu tiba di
sebuah jalan dengan pepohonan di tepinya. Pemandangan
dari jalan itu sungguh mengagumkan, sebuah bangunan
besar dari batu dengan banyak pilar marmer. Sebuah air
mancur yang sangat besar dengan dua malaikat terdapat
di depan museum. Spanduk-spanduk berbagai warna
mengumumkan pameran yang sedang berlangsung. Bob
sangat menyukai museum. Ia dan Jupe sering
mengunjungi beberapa museum kala sedang tidak ada
kasus. Sebaliknya, Pete lebih memilih olahraga daripada
seni dan hanya berkunjung ke museum jika ada perlu.
Jika tidak ada apa-apa ia lebih suka berselancar atau
menonton bisbol dengan ayahnya. Pete tidak dapat
menemukan sesuatu yang lebih membosankan daripada
sebuah museum!


Sambil berjalan mendekati anak tangga besar
berwarna putih yang menuju ke pintu depan, Bob berbisik
kepada Pete.
"Pete, lihat!"
Pete menatap ke arah yang ditunjuk Bob. Leo
Magellan berada di tempat parkir museum, sedang keluar
dari mobilnya.
Sebuah sedan hitam!
Direktur museum itu memasukkan kunci ke dalam
sakunya dan bergegas menuju pintu samping museum. Ia
nampak sangat kesal dan sambil berjalan ia bergumam
kepada dirinya sendiri.
"Aku ingin tahu, ke mana ia pergi sesore ini?" tanya
Pete keras. "Apakah menurutmu itu mobil yang sama,
Data?"
Bob ragu-ragu. "Sukar dikatakan. Mirip memang."
"Mari segera kita selesaikan tugas ini," desah Pete.
Bob mendorong sepedanya menuju tempat parkir dan
mengeluarkan alat penjejak dari keranjang yang terdapat
di sepedanya. Pete memarkir sepedanya dan berjalan
menuju pintu depan museum. Pete berhenti di anak
tangga teratas dan berbalik menatap Bob. Bob memberi


senyum yang menenangkan dan jempol teracung. Pete
menarik nafas panjang.
"Lakukan apa yang akan dilakukan Jupiter," katanya
pada dirinya sendiri. Ia menekan tombol perekam pada
alat perekam yang dibawanya dan memasuki museum.
Di dalam ruangan yang besar suasana begitu sunyi
seperti sebuah kuburan. Tulang belulang seekor
Tyrannousaurus Rex yang nampak ganas menatap Pete
dengan lapar sementara Penyelidik Kedua mencari Leo
Magellan. Remaja berbadan tinggi itu menelan ludah dan
berjalan dengan cepat. Ternyata ia tidak perlu bersusah
payah mencari direktur museum yang pemarah itu, ia
cukup mengikuti pendengarannya. Dari suatu tempat di
lantai dua terdengar suara Magellan berseru marah
kepada seseorang, suaranya yang tinggi bergema di dalam
museum.
Pegangan tangga yang terbuat dari kayu oak terdapat
pada salah satu sisi tangga. Sambil mengusap keringat di
dahi, Pete meraihnya dan mulai menaiki tangga.
"Anak-anak!" seru Magellan. "Pasti anak-anak yang
telah melakukannya! Dan kau menganggap dirimu petugas
keamanan!" Pete mengitari sebuah sudut dan melihat Leo


Magellan menggoyang-goyangkan jarinya di hadapan
seorang lelaki dengan seragam dan rambut terpotong
pendek. Di pinggangnya ter-gantung sepucuk pistol.
Magellan adalah seorang lelaki yang sangat pendek
dengan alis lebat berwarna hitam. Ia berteriak-teriak
kepada si petugas keamanan yang mukanya memerah.
"Kita harus segera mengganti tali pembatas dengan
sesuatu yang lain untuk menjaga agar para perusak itu
tidak mendekati barang-barang yang dipamerkan! Untuk
apa kugaji kau?"
Pete mendengar si petugas keamanan meng-geramkan
suatu jawaban dengan marah. "Bukan waktu dinasku!
Jensen yang berada di lantai ini semalam!"
Jensen!
Pete berpikir keras. Nama itu lagi! Pete berdehem
dan mendekati direktur museum yang sedang marah itu.
"Maaf, sir," Pete memulai.
"Nah, ini pastilah salah seorang dari mereka! Tangkap
dia!" seru Magellan. Petugas keamanan berbadan besar
itu mulai melangkah ke arah Pete.
"Tolonglah, sir, saya hanya hendak menanyakan be-
berapa hal," katanya memohon.


"Lantai dua ini sudah di luar batas, nak. Kusarankan
kau segera pergi sebelum aku memanggil polisi," kata si
petugas keamanan. "Kecuali, tentu saja, jika kau datang
untuk mengaku."
"Apakah ada yang merusak benda-benda museum, sir?"
tanya Pete, berusaha bersikap sedewasa mungkin.
"Seolah-olah kau tidak tahu," dengus Magellan.
"Zaman sekarang anak-anak nakal akan melakukan apa-
pun demi kesenangan mereka!" keluhnya. "Tapi aku tidak
mengerti mengapa ada orang yang sampai hati meng-
gambarkan tanda tanya pada jambangan dari Dinasti Won
dengan cat semprot! Museum harus mengeluarkan banyak
biaya untuk memperbaikinya!" Magellan mengacungkan
jarinya ke arah Pete. "Siapa namamu, nak?" serunya,
matanya yang lebar menyipit. "Apa yang kau lakukan di
sini?"
Pete mulai berjalan mundur menuju tangga. Ia tidak
suka arah pembicaraan ini. "Saya dengar seseruan..."
katanya tergagap. "Saya perlu bibicara dengan Anda,
sir."
Museum direktur yang pemarah dan petugas
keamanan yang bertubuh besar itu mendekati Pete. Anak


itu tidak membuang waktu lagi. Pete berbalik dan duduk
di pegangan tangga yang terbuat dari oak dan meluncur
turun sejauh lima meter ke lantai satu. Kakinya sudah
mulai berlari sebelum menyentuh lantai.
Kedua lelaki itu berlari menuruni tangga mengejar
Pete namun sementara itu Penyelidik Kedua yang atletis
itu telah berada di luar pintu dan berlari menuju
sepedanya.
"Bob!" panggilnya. "Data... di mana kau?" Tapi Bob
tidak nampak batang hidungnya. Pete bergegas menuju
tempat mereka memarkir sepeda.
Sepeda Bob hilang!
***


BAB VIII
TIDAK ASING LAGI TERHADAP BAHAYA


Bob menyaksikan Pete memasuki museum, lalu berjalan
ke arah sedan hitam milik Leo Magellan di tempat parkir.
Ia hendak menaruh alat penjejak. Kira-kira sepuluh meter
lagi Bob akan sampai ketika tiba-tiba sebuah tangan
membekap mulutnya dan sebuah suara kasar berbisik di
telinganya, "Jangan ribut, nak, atau akan kupatahkan
lehermu!"
Bob merasa tubuhnya diseret dengan kasar ke arah
sebuah van tua berwarna putih. Van itu dipenuhi karat,
pintu belakangnya terbuka seperti sebuah mulut yang
lapar hendak menelan Bob! Ia meronta-ronta namun
lelaki itu terlalu kuat. Putus asa, Bob menghentakkan
dagunya ke atas dan menggigit tangan penyerangnya
sekeras-kerasnya. Lelaki itu mengerang kesakitan. Bob
berteriak sekuat-kuatnya.
"Tolong! Penculik! Tolong!"


Ia berusaha melepaskan diri. Namun penculiknya ter-
lalu cekatan dan meremas pergelangan tangan Bob
seperti penjepit. Bob meringis kesakitan.
Ia hanya punya beberapa detik untuk menyusun
rencana. Seperti biasa ia berusaha memikirkan apa yang
akan dilakukan Jupe jika berada dalam situasi yang sama.
Tanpa ragu-ragu, Bob melemaskan tubuhnya dan berpura-
pura pingsan, ia melorot ke jalan. Diam-diam ia
menempelkan alat penjejak ke bemper van itu dan
mengaktifkannya. Ia dan Pete sering kali menggoda Jupe
karena ia terlalu pintar namun mereka sering kali pula
harus berterima kasih atas penemuan-penemuan Jupe.
Ketika penculiknya meraih bajunya dan melemparkan-
nya dengan kasar ke bagian belakang van, Bob berusaha
mengintip wajah penyerangnya melalui kelopak matanya.
Pria misterius itu mengenakan masker ski namun Bob
dapat melihat bahwa tubuhnya besar dan berotot.
Pintu dibanting hingga tertutup dan Bob berada di
dalam kegelapan di dalam van. Ia dapat merasakan
bahwa ia terbaring di atas terpal dan ada beberapa kotak
yang sepertinya berisi peralatan di sekitarnya. Detektif
yang bertanggung jawab atas catatan dan riset itu ber-


gegas meraba-raba isi kotak-kotak itu, berusaha mencari
sesuatu untuk digunakan sebagai senjata atau alat
pencongkel pintu.
Ia hanya dapat berharap bahwa Pete akan melihat
jejak yang ditinggalkannya dan menebak apa yang telah
terjadi. Tapi Bob segera menyadari bahwa Pete akan
mencari jejak dari mobil Magellan. Bob merasa panik.
Mungkinkah Pete mengetahui bahwa Bob telah
menempelkan alat penjejak pada mobil yang lain? Ia
memaksakan dirinya untuk tenang. Jupe selalu mengata-
kan bahwa kehilangan akal sehat dalam situasi tertekan
adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan seseorang!
Tetap tenang adalah kuncinya. Dan lagipula, Bob
Andrews tidak asing lagi terhadap bahaya. Ini bukanlah
kali pertama ia terjebak. Sebelum ini ia selalu berhasil
keluar dari situasi bahaya dan ia akan keluar dari yang
saat ini dihadapinya pula... seandainya saja ia bisa tetap
tenang.
Setelah berhasil meyakinkan dirinya, Bob kembali
mencari-cari dengan sikap yang berbeda. Tangannya
menemukan suatu alat yang terasa seperti sebuah kunci


pas besar. Ia merasa bisa tersenyum. Nanti jika penjahat
itu membuka pintu, ia akan mendapatkan kejutan besar!
Bob merasa van itu melambat. Hatinya berdebar
kencang. Mobil itu terasa mendaki, kembali ke posisi
rata, dan berhenti. Bob mendengar pintu terbuka dan
tertutup kembali, kemudian langkah-langkah menuju
pintu belakang van. Ia menggenggam senjatanya erat-
erat dan bersiap untuk bertempur!
Pintu van itu tiba-tiba terbuka dan cahaya terang
menimpa mata Bob ketika ia mengayunkan senjatanya
sambil keluar.
Namun Bob merasa hatinya mengkerut ketika melihat
bahwa penculiknya mempunyai refleks secepat kilat dan
menguasai suatu ilmu bela diri.
Penculik itu menangkap kunci pas yang terayun
dengan tangan kosong dan merampasnya dari genggaman
Bob hampir-hampir tanpa usaha. Kemudian kakinya
terayun seperti kilat dan menyapu kaki Bob. Bob terjatuh
berdebam, nafasnya serasa terputus.
Selagi ia berusaha menarik nafas, ia menyadari
sesuatu. Orang ini sangat kecil. Orang yang menculiknya
bertubuh besar dan berotot. Pasti ini rekannya!


Setelah matanya terbiasa akan cahaya, ia melihat
bahwa ia berada di sebuah garasi di depan sebuah gudang
yang terbengkalai. Cahaya matahari lenyap ketika pintu
garasi yang besar tertutup. Seorang lelaki Asia bertubuh
kecil, kira-kira setinggi Bob, berdiri di hadapannya. Lelaki
itu mengenakan pakaian hitam, ia menyeringai keji,
menampakkan gigi-gigi yang kuning dan tidak rata.
"Kupu-kupu terjebak di sarang laba-laba," katanya
dengan bahasa Inggris yang buruk. "Kini kita menunggu
laba-laba untuk kembali." Lelaki Asia itu tertawa kejam
dan mendorong Bob melalui suatu koridor ke sebuah
ruangan kecil dengan tulisan "Kantor" di pintunya.
Ruangan itu benar-benar kosong.
Si pria Asia menggenggam pundak Bob, membuatnya
berhenti. Tanpa berkata-kata ia meletakkan sebuah
kaleng cat semprot ke dalam genggaman Bob dan dengan
cepat menariknya kembali. Bob lalu didorong masuk
dengan kasar ke dalam ruangan itu, pintu terbanting ter-
tutup di belakangnya. Bob tidak perlu lama-lama berpikir
untuk menyadari mengapa si pria Asia memberinya
sebuah kaleng cat semprot dan mengambilnya lagi.
Dinding-dinding ruangan itu penuh dengan lukisan cat


semprot. Tepatnya, tanda tanya! Dan kini sidik jarinya
ada di kaleng cat!
Bob Andrews menyadari sulitnya situasi yang
dihadapinya dan tanpa membuang waktu lagi mulai
memeriksa tempat ia terkurung. Dinding ruangan itu
menjulang ke langit-langit setinggi lima meter. Satu-
satunya jendela terletak tiga meter di atas lantai, di luar
jangkauan Bob. Lantainya sendiri dari beton dan tanpa
retakan. Sepertinya tiada harapan bagi Bob dan ia
terduduk di lantai, merasa kalah.
***


BAB IX
PETE SANG PENYELAMAT


Sepertinya sudah berhari-hari sejak Bob didorong masuk
ke van di tempat parkir museum namun dengan melihat
ke arlojinya Bob tahu bahwa hanya beberapa jam telah
berlalu. Tetap saja harapannya memudar secepat ter-
benamnya matahari merah di garis cakrawala. Kira-kira
sejam lagi hari akan gelap... suatu pikiran yang membuat
jantung Bob berdebar kencang.
Di mana Pete? Apakah dia belum juga sadar bahwa
alat penjejak tertempel pada mobil yang berbeda?
Tentulah ia akan kembali ke markas dan melapor kepada
Jupe. Jupe lalu akan kembali ke tempat kejadian dan
dengan cepat mengetahui apa yang telah terjadi!
Bob bangkit dan mulai berjalan mondar-mandir di
ruangan kecil itu. Sekonyong-konyong harapannya timbul
kembali. Ia mendengar sesuatu di luar jendela. Ia
menahan nafas dan menunggu suara itu terdengar
kembali.


Terdengar lagi! Suara logam berdenting diikuti se-
suatu yang bergeser pada suatu logam. Bob menjauhi
dinding dan melihat ke atas ke arah jendela.
Sebuah bayang-bayang wajah muncul di bagian luar
kaca jendela yang buram. Bob menghembuskan nafas
lega. Pete mengintip melalui jendela! Penyelidik Kedua
menyeringai ke arah Bob lalu mem-beri isyarat agar anak
itu tidak bersuara sementara ia berusaha membuka daun
jendela yang berkarat. Jendela itu akhirnya terbuka, ber-
derit seolah-oleh memprotes. Bob menatap pintu dengan
panik, lalu berpaling kembali ke arah Pete.
"Kau ada tali?" bisik Bob.
Pete menggelengkan kepala. "Lempar kemejamu ke
sini!" bisiknya. Bob bergegas membuka kemejanya dan
melemparkannya ke Pete, yang kemudian menghilang
selama beberapa saat yang serasa berabad-abad.
Sementara menunggu Pete muncul kembali, Bob
mendengar suara lain. Suara pintu garasi yang besar ter-
buka. Penculiknya telah kembali!
"Pete!" bisiknya. "Pete, cepat!"
Kemudian Bob mendengar suara langkah. "Ada yang
datang!" desisnya. Langkah-langkah itu semakin dekat...


di mana Pete? Tepat pada saat itu kepala Pete muncul
kembali di jendela. Ia telah merobek kemeja Bob dan
kemejanya sendiri menjadi beberapa helai kain
memanjang dan mengikat potongan-potongan itu menjadi
semacam tali. Ia melemparkan tali itu melalui jendela
dan Bob menangkapnya tepat pada saat pintu ruangan itu
terbuka!
"Oh, kupu-kupu mengepakkan sayapnya, eh?" kata si
orang Asia. Lelaki pendek itu menyerbu masuk sementara
Pete menarik tali itu. Lelaki itu menangkap kaki Bob tapi
tidak berhasil menahannya karena Bob menendang-
nendang dengan liar sambil memanjat.
Ketika Bob memanjat keluar melalui ambang jendela,
ia melihat bahwa Pete telah menumpukkan beberapa
drum minyak sehingga ia dapat mencapai jendela. Ia
menjejakkan kaki di atas drum itu dan memandang ke
dalam ruangan. Si pria Asia telah menggenggam tali itu
dan mulai memanjat. Ketika ia telah dekat dengan
jendela, Pete melepaskan tali dan meloncat turun.
Terdengar suara berdebam dengan jatuhnya lelaki Asia
itu ke lantai.


Pete mendarat di tengah kepulan debu, diikuti oleh
Bob.
"Ahhh!" seru Bob.
Rasa nyeri merambati kaki kanannya, membuat Bob
menahan nafas. Beberapa waktu yang lalu Bob pernah
dengan bodohnya mencoba memanjat tebing di dekat
Rocky Beach seorang diri. Ia terjatuh dan kakinya patah
di tempat yang tak terhitung banyaknyademikian
menurut Dokter Alvarez. Sejak saat itu ia terpaksa
menggunakan penopang sampai kakinya cukup kuat untuk
dipakai berjalan lagi. Meskipun sudah berbulan-bulan ia
tidak lagi mengenakan penopang itu, nampaknya Bob
telah membebani bekas patahan di kakinya terlalu berat
ketika ia meloncat dari atas drum. Pete berlari mendekat
dan dengan tangannya menopang Bob.
"Kau tak apa-apa?" tanyanya sambil memandang ke
arah jendela. "Bisa berjalan?"
Bob menggertakkan giginya. "Yah, tapi tidak jauh-
jauh."
"Sepedaku kusembunyikan di semak-semak tidak
terlalu jauh dari sini. Kira-kira kau bisa mencapainya?"


Bob nampak membulatkan tekad. "Kita coba saja!"
katanya keras kepala.
Pete tersenyum dan membantu temannya tertatih-
tatih secepat yang ia bisa ke sepedanya, selama ini terus-
menerus memandang ke belakang untuk melihat kalau si
pria Asia mengejar mereka. Ketika mereka tiba di tempat
sepeda Pete, ia menyuruh Bob duduk di setang sementara
ia mengayuh secepat-cepatnya menuju Jones Salvage
Yard.
"Bagaimana kau menemukanku?" tanya Bob lega.
"Apakah kau mengikuti jejak dari alat penjejak?"
Pete menceritakan bagaimana ia nyaris tidak ber-hasil
kabur dari Leo Magellan dan si petugas keamanan. "Aku
tidak bisa kembali ke museum sampai mereka pergi!"
katanya. "Ketika aku kembali, aku tidak melihat jejak
dari tempat mobil Magellan diparkir tadi. Aku tahu kau
takkan pergi tanpa alasan jelas, jadi aku mengikuti
firasatku, mencari-cari di sekeliling tempat parkir hingga
kutemukan jejak itu. Kuikuti sampai kemari. Kau
beruntung, aku langsung menemukanmu pada jendela
pertama!"


"Wah, pekerjaan yang bagus, Pete!" kata Bob kagum.
"Tunggu sampai kita telah kembali ke pangkalan dan ber-
cerita kepada Jupe tentang petualangan yang dilewatkan-
nya sementara ia menunggui telepon!"
Matahari sedang terbenam ketika Pete mengayuh
sepedanya melewati gerbang besi besar di pangkalan.
Konrad menyuruh mereka menuju bengkel Jupe, tempat
Jupe marah-marah sejak kepergian mereka.
"Jupe sedang kesal," kata Konrad memperingatkan.
"Sebaiknya hati-hati, jangan sebut-sebut tentang pekerja-
an," ia tersenyum. "Menurutnya tidak ada anak Amerika
yang bekerja lebih keras daripada dia."
Anak-anak itu tertawa dan bisa menebak apa yang
telah terjadi. Bibi Mathilda telah memojokkan Jupe dan
menyuruhnya mengerjakan salah satu proyeknya yang
tidak habis-habis, menumpuk, memilah-milah, mengatur,
dan memperbaiki barang bekas! Pete mengayuh
sepedanya menuju bengkel Jupe, Bob masih tetap duduk
di setang. Mereka menemukan teman mereka yang
gempal itu sedang duduk dengan muram di sebuah kursi
lipat, memandangi lampu khusus di atas mesin cetak yang
akan menyala jika ada yang menelepon ke markas.


Jupe mengangkat mukanya ketika melihat teman-
temannya datang dan segera menyadari bahwa Bob ter-
pincang-pincang. Rasa cemas merambati wajahnya. "Kau
cedera! Apa yang terjadi? Ada masalah?"
"Bisa dibilang demikian," kata Pete.
"Sementara kau terjebak di sini, bekerja setengah
mati untuk Bibi Mathilda, kami menemukan kepingan baru
untuk teka-teki ini," kata Bob bercanda. "Seandainya saja
Bibi Mathilda dan Paman Titus menyuruhmu bekerja lagi
besok, Pete dan aku pasti sudah berhasil memecahkan
kasus ini!"
Tapi Jupe nampak sangat serius. "Kau mencederai
kembali kakimu, Data. Kita harus membawamu ke rumah
sakit dengan segera!"
Bob terpaksa setuju. Ia sangat ingin memberi tahu
Jupe tentang hari menarik yang mereka lalui namun ia
harus mengakui bahwa kakinya benar-benar sakit.
"Sepertinya kau benar," ia mengangkat bahu. "Tapi kami
akan menceritakan apa yang terjadi selama di jalan."
"Setuju," kata Jupe. "Aku harus menelepon dari
markas, setelah itu akan kuminta Paman Titus meng-
antarkan kita ke rumah sakit. Sementara itu kau me-


nelepon orangtuamu dari rumah dan memberi tahu apa
yang terjadi."
Beberapa saat kemudian kedua anak itu telah
berdesak-desakan di dalam pick up pangkalan, Bob duduk
di pangkuan Pete. Jupe telah meminjami mereka dua
kemeja miliknya, kemeja-kemeja itu begitu besar se-
hingga kedua anak itu nampak kocak.
Tanpa merasa terganggu, mereka menceritakan
petualangan mereka hari itu kepada Jupe, memastikan
mereka tidak melupakan fakta bahwa ada seseorang ber-
nama Jensen yang bekerja di museum dan bahwa be-
berapa jambangan dari Dinasti Won telah dicemari
dengan tanda tanya.
"Dan kau yakin bahwa orang yang menculikmu
bukanlah orang yang mengeluarkanmu dari van?" tanya
Jupe.
"Positif," jawab Bob. "Penculikku berbadan besar,
sangat kuat. Yang mengeluarkanku bertubuh kecil dan
pendek, orang Asia. Jelas bukan orang yang sama."
Jupe nampak hanyut dalam pikiran ketika Konrad
memarkir kendaraan di depan pintu rumah sakit. "Kita
telah tiba," kata Konrad. "Akan kugendong Bob ke dalam."


"Tidak perlu, Konrad, tidak separah itu," protes Bob.
"Tidak, Bob, kau tidak boleh berjalan. Kugendong kau
sekarang," kata lelaki Bavaria bertubuh besar itu dengan
tegas.
Ketika anak-anak itu memanjat keluar, mereka
melihat sebuah sedan abu-abu berhenti di samping pick
up. Yang datang adalah Worthington, supir pribadi anak-
anak. Beberapa waktu yang lalu Jupiter telah memenang-
kan hak menggunakan sebuah Rolls-Royce bersepuh emas
dari Rent-'n-Ride Auto Rental Company dalam sebuah
kontes yang mereka sponsori. Termasuk dalam hadiah itu
adalah seorang supir cakap berkebangsaan Inggris ber-
nama Worthington. Selama beberapa kasus yang mereka
tangani, Worthington menyukai ikut serta dalam
penyelidikan anak-anak itu dan kini menganggap dirinya
penyelidik keempat tidak resmi. Supir Inggris bertubuh
langsing itu bergegas menggabungkan diri.
"Master Andrews, Anda cedera!" serunya.
"Tidak parah, Worthington," kata Bob. "Hanya salah
mendarat dan terlalu membebani kakiku."


"Biarlah Dokter Alvarez yang menilainya," kata
Worthington serius. Mereka masuk ke lobi tempat Dokter
Alvarez dan orangtua Bob telah menunggu.
Sementara Konrad menggendong Bob untuk tes sinar
X, Jupiter mengusap rambutnya dan menggeleng-geleng
dengan kesal. "Aku merasa bertanggung jawab atas
cederanya Bob," katanya. "Seharusnya aku saja yang pergi
dan Bob menunggui telepon."
"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu, Pertama," kata
Pete. "Sudah berapa kali kita menghadapi situasi yang
tidak mengenakkan ketika menangani kasus? Kau sendiri
pernah cedera, aku juga. Bob akan segera normal
kembali."
"Master Crenshaw benar sekali," kata Worthing-ton.
"Anda tidak sepatutnya merasa bersalah. Ada sebuah
kasus yang menyangkut reputasi Anda untuk dipecahkan,
kecuali saya benar-benar salah, Master Andrews pasti
ingin Anda melanjutkan penyelidikan."
"Kurasa kau benar," desah Jupe. "Tidak ada gunanya
menyesali yang telah terjadi. Kau menemukan sesuatu,
Worthington?"
"Menemukan?" tanya Pete. "Menemukan apa?"


"Kau dan Bob bukan satu-satunya yang menyelidik hari
ini. Ketika kalian berada di museum, aku menelepon be-
berapa orang, salah satunya Worthington, yang bersedia
membantu kita melakukan suatu penyelidikan. Baiklah,
Worthington, apa yang kau temukan?"
Worthington mengusap dagunya dan berdehem. "Saya
khawatir, Master Jones... sepertinya kesimpulan Anda
benar-benar salah!"
***


BAB X
JUPITER SALAH!


"Salah?!" seru Jupe. "Tapi aku sudah begitu yakin."
Worthington mengangkat bahu dan duduk di sofa
besar di ruang tunggu rumah sakit.
"Saya memanfaatkan keanggotaan saya pada Per-
kumpulan Seni Rocky Beach untuk mengecek daftar hadir
pada Malam Apresiasi Seni semalam di museum," kata
supir jangkung itu menjelaskan. "Leo Magellan ada di sana
dari pukul tujuh hingga lewat tengah malam menurut
daftar itu."
"Berarti ia tidak mungkin terlibat dalam pembobolan-
pembobolan yang terjadi! Dan aku telah demikian yakin
ia pasti terlibat," kata Jupe. "Kecuali jika daftar hadir itu
telah dimanipulasi ... Magellan bisa saja menyuruh sese-
orang memalsu tanda tangannya di buku tamu."
"Mungkin saja," kata Worthington. "Itulah sebabnya
saya berinisiatif mengajak beberapa orang anggota ber-
bincang-bincang untuk memeriksa kalau Mr. Magellan


benar-benar hadir dalam pertemuan itu. Ada banyak saksi
terpercaya yang dengan positif mengidentifikasikan ke-
hadirannya semalam."
"Dengan demikian Magellan si pemarah itu bersih,"
kata Pete, lega. "Sungguh lega aku tidak perlu berurusan
dengan sikap pemarahnya itu lagi! Tapi Jupe, kau bilang
kau menelepon beberapa orang, siapa lagi?"
"Chief Reynolds. Menurutnya mereka telah menemu-
kan Skinny Norris di pesisir... namun anak itu tidak mau
bicara. Katanya ia tahu hak-haknya dan tidak wajib
bicara tanpa kehadiran pengacaranya. Sayangnya dia
benar. Sekarang aku menghadapi jalan buntu dalam kasus
ini," Jupe mendesah.
"Kita masih punya kedua lelaki dengan van putih yang
menculik Bob," usul Pete. "Mereka mungkin saja bekerja
untuk Magellan."
Jupiter nampak bersemangat lagi ketika ia memikir-
kan hal itu beberapa saat. Kemudian ia memukulkan
telapak tangannya ke atas sebuah tumpukan majalah
dengan sikap berbeda. "Sejak semula aku merasa Leo
Magellan terlalu 'cocok' sebagai seorang tersangka ...
namun aku ceroboh dan tidak mendengarkan firasatku


itu; dan akibatnya kita hampir saja kehilangan Bob! Ini
tidak akan terulang lagi," kata Jupe serius.
"Jadi apa langkah kita selanjutnya, Pertama?" tanya
Pete.
"Menurutku besok kita harus mengunjungi gudang
tempat Bob disekap tadi. Kira-kira apakah kau bisa
mengingat jalan ke sana?"
"Tidak masalah," kata Pete. "Tapi aku akan menunggu
di markas saja sampai kau kembali. Pergi ke tempat itu
dua kali dalam dua hari bukanlah cara yang
menyenangkan untuk menghabiskan liburan musim panas-
ku. Terima kasih namun tidak, terima kasih!"
Jupiter Jones telah terbiasa dengan Penyelidik Kedua
berbicara seperti itu. Pete tidak pernah suka berhadapan
dengan bahaya namun pada akhirnya ia selalu setia
terhadap teman-temannya. "Mungkin kau bisa tinggal di
markas dan membantu di pangkalan," jawab Jupiter
lambat-lambat. "Tadi kudengar Bibi Mathilda berkata
kepada Konrad bahwa Paman Titus dan Hans akan meng-
ambil setruk penuh bak mandi besok. Bak mandi dengan
kaki berbentuk cakar."


"Hanya itu yang kuperlukan untuk meyakinkanku,"
seru Pete. "Aku akan pergi ke gudang itu pagi-pagi sekali!
Namun bagaimana dengan peringatan Chief Reynolds agar
kau tinggal di rumah, Jupe?" tanyanya.
"Aku tinggal di rumah seharian hari ini ... kau dan Bob
dapat bersumpah untukku," kata Jupe tersenyum. "Ia
tidak bilang berapa lama aku harus tinggal di rumah!"
Saat itu Bob masuk ke dalam ruangan dengan kursi
roda, kakinya terbalut rangka besar berwarna biru yang
berfungsi sebagai penopang sementara.
"Bagaimana keadaanmu, Bob?" tanya Jupiter, benar-
benar cemas akan temannya.
"Oh, aku akan baik-baik saja," kata Bob dengan
murung. "Hanya retak sedikit. Namun Dokter Alvarez
tidak mau mengambil resiko karena ini kaki yang sama.
Katanya aku harus memakai kembali penopangku yang
dulu. Sepertinya aku tidak bisa beraksi lagi dalam kasus
ini."
***
Keesokan harinya, pagi-pagi benar kedua detektif itu
telah tiba di tempat parkir museum. Begitu mereka tiba


di sana, Pete mengikuti kembali rute yang dilaluinya
ketika mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh alat yang
dipasang Bob pada van.
Mereka bersepeda beberapa mil sampai jauh di luar
kota Rocky Beach dan memasuki kawasan industri yang
terletak di antara Rocky Beach dan Santa Monica.
Meskipun Pete memiliki naluri yang tajam akan arah,
Jupe sudah mulai berpikir bahwa temannya telah tersesat
ketika tiba-tiba Pete menghentikan sepedanya.
"Itu dia!" serunya. Penyelidik Kedua menunjuk ke arah
sebuah bangunan besar berwarna putih be-berapa blok di
depan. Bangunan itu terbuat dari besi bergelombang dan
bagian luarnya sangat perlu dicat ulang.
"Paling tidak aku merasa itulah tempatnya. Mungkin
seharusnya kubuat sebuah tanda tanya di sana dengan
kapurku," kata Pete. "Aku terlalu berkonsentrasi untuk
bersepeda pulang, aku tidak dapat memastikannya. Dan
terus terang, aku tidak terlalu berminat untuk mendekat
dan memastikannya!"
Jupe menyipitkan matanya, mengamati keadaan
sekitar. Koran tua dan sampah beterbangan di jalan.
Tidak ada lalu lintas di kawasan itu, nampak seperti


sebuah kota hantu modernsuatu tempat persembunyian
yang sangat bagus untuk seorang penjahat.
"Kita cukup melihat apakah para penculik itu ada di
dalam," kata Jupiter menjelaskan. "Begitu kita tahu
mereka mendiami tempat itu, kita tinggal mencari
telepon umum dan menghubungi yang berwajib."
Namun mereka kurang beruntung. Ketika mereka
sampai di gudang yang terbengkalai itu dan menyelinap
hingga cukup dekat untuk mengintip, mereka dengan
segera melihat bahwa tempat itu kosong. Jupe me-
merintahkan untuk mencari petunjuk di sekitar tempat
itu. Mereka tidak menemukan apa-apa kecuali jejak ban
van menuju dan kemudian menjauhi bangunan itu, serta
cat semprot yang masih baru.
"Sepertinya kita kurang beruntung, Pertama," kata
Pete putus asa. Ia menendang sebutir kerikil dan me-
mandang Jupe penuh harap. Jika ada petunjuk di depan
mata, Jupiter sepertinya selalu dapat menemukannya
sementara Pete dan Bob menyerah.
"Sepertinya kau benar, Dua," kata Jupe setuju. "Kita
harus mencoba pendekatan yang lain besok. Ada sesuatu
tentang kasus ini yang menggangguku namun sampai


sekarang aku tidak tahu apa," katanya. "Bagaimanapun
juga, Malam Penghargaan tinggal dua hari lagi dan belum
ada yang memberi tahu bahwa kita tidak jadi diundang,
maka sebaiknya sekarang kita berkonsentrasi untuk acara
itu. Terus terang, Dua, aku benar-benar bingung!"
Pete menatap Jupe sambil mengangkat alis. Sungguh
jarang Jupiter Jones mengakui bahwa ia bingung!
***


BAB XI
JUPE MENARIK KESIMPULAN


Ketika Jupe tiba di rumah sore itu, ia berhenti untuk
memastikan bahwa pangkalan telah terkunci. Ia dapat
melihat samar-samar cahaya televisi dari pondok kecil
yang didiami oleh Hans dan Konrad dan dapat mendengar
suara kedua bersaudara itu tertawa terbahak-bahak
melalui sebuah jendela yang terbuka. Sambil tersenyum
Jupe menyeberang jalan menuju rumah kecil tempat
tinggalnya bersama paman dan bibinya.
Detektif gempal itu sedang tidak berselera dan hanya
makan sedikit, membuat paman dan bibinya heran. Se-
panjang malam rentetan kejadian minggu itu melintas di
kepalanya dan ia berusaha menarik kesimpulan dari
semua itu. Ia merasa yakin ada suatu pola di balik kasus
ini. Jika ia berusaha cukup keras seharusnya ia bisa
menemukannya.
Namun sementara matahari mulai tenggelam di kaki
langit, langit berubah abu-abu, dan bintang-bintang mulai


bercahaya, pola itu tetap ter-sembunyi. Setelah berulang
kali membalik badan di tempat tidur, Jupe akhirnya
tertidur dengan kasus Trio Penyamar di dalam benaknya.
***
Jupe tahu hari pasti telah pagi. Sebelum membuka
mata, ia telah dapat mencium harum sarapan daging dan
telur yang sedang disiapkan Bibi Mathilda di dapur di
bawah. Ia berbaring di ranjang dan mengusap-usap mata-
nya, berusaha mengingat mimpi yang dialaminya sebelum
terbangun.
Di dalam mimpi itu Bob berada dalam kesulitan, ia
terjebak di dalam sebuah peti mati dan berusaha
menyelipkan secarik kertas berisi pesan melalui sebuah
retakan di penutup peti supaya teman-temannya tidak
menguburnya hidup-hidup. Jupe mengerutkan kening atas
mimpi aneh itu dan turun dari ranjang, berniat mengisi
bahan bakar dengan sarapan yang lezat untuk memulai
hari yang baru... dan untuk menggantikan makan malam-
nya yang tidak seberapa.
Ia berhenti sekonyong-konyong.


Jupe berkedip dan berdiri di kaki ranjangnya, mulut-
nya terbuka.
Ia telah berhasil! Ia telah mendapatkan jawaban atas
teka-teki itu!
Sambil terburu-buru mengenakan pakaian, ia berlari
ke bawah dan meraih pesawat telepon.
"Demi Tuhan dan langit!" seru Bibi Mathilda. "Jangan
macam-macam sebelum kau mengisi perutmu, Jupiter
Jones! Kau akan mengkerut dan tertiup angin nanti kalau
tulang-tulangmu itu tidak segera kau beri daging!"
"Bolehkah aku menelepon dulu, Bibi Mathilda? Ini
mendesak sekali!" Jupe memohon.
Paman Titus memandang melalui bagian atas koran
dan bergumam kepada istrinya. "Permainan sedang ber-
langsung, Sayang. Biarlah anak ini menelepon dan aku
berani bertaruh uang lawan donat ia akan memakan
apapun yang kau hidangkan nanti."
Bibi Mathilda menggerutu dan kembali sibuk di dapur.
Jupe menyeringai ke arah pamannya dan mulai memutar
nomor telepon Pete.
***


Setengah jam kemudian anak-anak itu berkumpul di
rumah Bob, duduk di tepi ranjang teman mereka itu. Bob
duduk berganjal beberapa bantal, kakinya masih ter-
bungkus penopang.
"Kupikir karena kau sedang tidak dalam kondisi yang
menguntungkan, kita harus mengadakan rapat di rumah-
mu, Bob," Jupe menjelaskan.
"Jadi apa berita besarnya, Jupe?" kata Bob.
Mata Jupe berbinar-binar dan ia tersenyum-senyum
senang.
"Aku telah memecahkan kasus ini!" katanya meng-
umumkan. "Dan itu kulakukan dengan sedikit bantuan dari
Bob!"
"Oh ya?" kata Bob. "Apa yang kulakukan?"
"Bagaimana mungkin patahnya kaki Bob membantumu
memecahkan kasus ini, Jupe?" tanya Pete bingung.
"Bukan itu maksudku. Kejadiannya dalam mimpiku!"
seru Jupe. "Semalam aku bermimpi tentang Bob. Dalam
mimpiku itu ia terjebak di dalam sebuah peti yang sangat
gelap. Sepertinya sebuah peti mati. Ia berusaha memberi
tahu kita bahwa ia ada di dalam dengan menyelipkan
secarik kertas melalui sebuah retakan. Aku merasa ada


sesuatu yang sama sekali tak asing lagi dengan situasi
itu... dan ketika aku terbangun, aku tahu!"
"Kau tahu apa?" desak Pete.
Bob merasa mengerti. "Kejadian itu terasa tidak asing
bagimu karena sudah pernah terjadi!" serunya.
"Tepat!" kata Jupe. "Hanya saja Bob tidak ter-
perangkap di dalam sebuah peti mati, melainkan sebuah
peti penyimpan anggur! Ketika aku teringat akan mimpi
itu, semua potongan teka-teki seakan-akan terjatuh ke
tempatnya yang tepat! Toko roti yang dibobol itu adalah
Pearl's Bakery, Pearl... mutiara. Toko peralatan itu
adalah Green's... hijau. Tempat permainan itu adalah The
Mineshaft... lubang tambang. Toko minuman itu adalah
The Vineyard... kebun anggur. Si polisi gadungan ber-
nama Jensen... dan ia bahkan sempat menyebut
Chinatown dan nama Chang. Nah, sekarang apa yang
menghubungkan mutiara, hijau, lubang tambang, kebun
anggur, Chinatown, dan nama Jensen serta Chang?"
Pete segera paham. "Misteri Hantu Hijau!" jawabnya.
Namun kemudian ia menggelengkan kepala dan menatap
Bob dan Jupe dengan putus asa. "Namun kau harus
menjelaskannya kepadaku. Apa hubungannya salah satu


kasus lama kita dengan adanya seseorang yang berusaha
memfitnah kita?"
"Dua kata, Pete. Balas dendam!"
"Balas dendam? Maksudmu seseorang dari kasus lama
itu berusaha membalas kita?" seru Pete. "Menurutmu
siapa, Pertama?"
"Biar kutebak!" kata Bob. "Pasti Jupe menduga Mr.
Won ... lelaki Cina misterius yang mengaku berumur
seratus tujuh tahun! Ia hendak membalas dendam karena
kita menghancurkan Mutiara Hantu terakhir!"
"Mr. Won? Sebuah nama yang tak ingin kudengar lagi!"
desah Pete. "Satu kasus saja cukup untuk lelaki itu."
"Hampir, Bob, namun tidak tepat," kata Jupe dengan
dramatis.
"Bukan Mr. Won?" tanya Bob. "Lalu menurutmu siapa?"
"Memang semula kupikir juga Mr. Won... ingat,
jambangan-jambangan yang dirusak di museum berasal
dari Dinasti Won. Namun demikian hal itu terlalu
gampang dan balas dendam sepertinya bukan sifat Won.
Aku tak percaya ia mau bersusah payah demi tiga orang
anak dari Rocky Beach. Lagipula kita tidak menghancur-


kan kalung Mutiara Hantu dengan sengaja, hanya ke-
celakaan."
"Baiklah, jika bukan Won lalu siapa?" tanya Pete.
Jupe mengangkat bahu seolah-olah bagi Pete dan Bob
jawabannya sejelas baginya. "Menurut deduksiku, petugas
polisi yang menggunakan nama Jensen itu menggunakan
nama aslinya."
"Jensen!" seru Bob. "Mandor dari Verdant Valley. Balas
dendam sudah jelas merupakan sifatnya."
"Waduh!" kata Pete. "Ia tidak pernah tertangkap sejak
melarikan diri dari Hashknife Canyon. Tapi apa yang di-
lakukannya di sini di Rocky Beach? Dan mengapa setelah
selama ini?"
Jupiter mengeluarkan sebuah kantung kulit kecil dari
saku depannya dan menuangkan isinya di ranjang Bob.
"Itulah sebabnya aku mengumpulkan ini," katanya dengan
bangga. "Untuk menjebak Jensen dan menemukan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu!"
Pete dan Bob menatap isi kantung itu dengan mata
terbelalak. Di atas kasur Bob tergeletak setumpukan
mutiara berwarna abu-abu buram. Mutiara Hantu!
***


BAB XII
MEMBUAT PERANGKAP


"Wah! Mutiara Hantu!" Bob dan Pete berseru serempak.
"Di mana kau temukan, Jupe?"
Penyelidik Pertama yang gempal itu tidak dapat
menahan tawa. "Aku tidak menemukan mutiara-mutiara
ini, aku membuatnya."
"Membuat? Apa maksudmu?" tanya Pete.
Jupiter meraup segenggam mutiara dan memberikan-
nya kepada Bob dan Pete. "Ketika aku akhirnya bisa men-
duga siapa di balik semua ini, aku mulai menyusun
rencana, yang akan kubeberkan sebentar lagi. Langkah
pertama adalah menyiapkan beberapa Mutiara Hantu.
Kalian sama tahunya dengan aku bahwa Mutiara Hantu
terakhir telah hancur dalam gua di Verdant Valley. Maka
aku memutuskan untuk membuat beberapa butir tiruan-
nya. Jika kalian amati mutiara di tangan kalian, kalian
akan melihat bahwa itu hanyalah kerikil halus yang ku-


pungut di jalan masuk pangkalan dan kucat abu-abu.
Hasilnya cukup meyakinkan bukan?"
"Kau berhasil menipuku," kata Bob. "Tapi bagaimana
kita akan memanfaatkannya?"
"Koreksi," kata Jupe, "maksudmu, bagaimana Pete dan
aku akan memanfaatkannya."
"Oh ya," kata Bob muram. "Aku benar-benar tidak suka
tidak dapat ikut beraksi. Sepertinya Duet Detektif akan
menangani sisa kasus ini."
"Jangan khawatir, Bob," kata Jupe menenangkan. "Aku
punya perasaan bahwa akan banyak yang bisa kau tulis
tentang kasus ini setelah malam penghargaan besok."
"Apakah kita akan menggunakan batu-batu ini untuk
menjebak Jensen?" tanya Pete.
"Ya," kata Jupe. "Kita tahu bahwa Jensen adalah
seorang penjahat berbahaya yang akan melakukan apa
saja demi uang. Maka marilah kita pancing dia masuk ke
dalam perangkap dengan sesuatu yang tak ternilai.
Jensen tahu bahwa Mr. Won akan membayar tinggi, maka
menurutku ia takkan menolak umpan ini. Ia akan
berusaha mendapatkan mutiara ini... dan kita akan ada di
sana untuk menangkapnya!"


"Bersama polisi, tentu saja," Pete menambahkan.
"Tentu saja," kata Jupe setuju. "Jensen terlalu ber-
bahaya untuk kita tangani sendiri. Aku sama sekali tidak
keberatan meminta bantuan Chief Reynolds untuk
menyelesaikan kasus ini." Remaja gempal itu meraup
perhiasan tak ternilai itu dan memasukkannya kembali ke
dalam kantung.
"Jadi apa tindakan kita sekarang, Pertama?" tanya
Pete.
"Sekarang kita harus mengumumkan bahwa kita me-
miliki beberapa butir Mutiara Hantu terakhir di dunia!
Kita akan memberi tahu Chief Reynolds tentang rencana
kita dan minta bantuannya menyebarkan berita ini. Kita
dapat menghubungi stasiun radio setempat dan meminta
mereka mengumumkan bahwa Trio Detektif akan me-
mamerkan cendera mata dari beberapa kasus mereka
yang paling terkenaltermasuk Mutiara Hantu yang
menakjubkandalam acara besok."
"Ayahku kenal dengan penerbit surat kabar Rocky
Beach. Aku bisa memintanya memasang iklan dalam
terbitan hari ini, mengatakan bahwa Mutiara Hantu akan
dipamerkan," kata Bob. Ayah Bob telah lama bekerja


pada sebuah surat kabar terkenal di Los Angeles. Ia sering
kali tertarik akan kasus-kasus anak-anak itu dan me-
nawarkan bantuan jika mungkin.
"Usul yang bagus, Data," kata Jupe. "Dan selagi kau
tidak dapat ke mana-mana, kau bisa memulai Hubungan
Hantu ke Hantu, meminta anak-anak menyebarkan berita
tentang mutiara ini kepada siapa saja yang mau men-
dengarkan." Hubungan Hantu ke Hantu adalah rancangan
Jupiter; masing-masing dari mereka menelepon lima
orang kawan yang berbeda dan meminta mereka me-
lakukan sesuatu. Masing-masing dari kelima kawan itu
selanjutnya menelepon lima orang kawan mereka dan
menyampaikan hal yang sama. Dalam waktu beberapa
jam Trio Detektif bisa mengerahkan seluruh populasi
anak-anak Rocky Beach!
"Bagaimana dengan kita, Jupe?" tanya Pete. "Tidakkah
sebaiknya kita melakukan Hubungan Hantu ke Hantu
juga?"
"Kita lakukan nanti. Sekarang kau dan aku harus turun
ke jalan dan menyebarkan berita tentang mutiara ini."
"Mengapa aku tiba-tiba merasa cemas?" tanya Pete
resah.


"Sepertinya kau telah mengenalku dengan baik," kata
Jupe sambil tersenyum. "Kita tahu Jensen mengamat-
amati kita... kemungkinan pada saat kita berbicara ini."
Pete menelan ludah dan menyibakkan tirai, melihat
keluar kaca jendela dengan raut wajah cemas.
"Jangan khawatir, Pete," kata Bob. "Lingkungan
sekitar sini aman dan rasanya ia tidak akan macam-
macam ketika hari masih terang."
Jupe melanjutkan, "Kita tahu ia mengamati kita,
maka biarlah ia mendengar kita juga. Pete dan aku akan
kembali ke pangkalan dan berkeliling, berusaha nampak
sibuk. Selama itu kita akan berbicara dengan keras
tentang betapa bersemangatnya kita akan penghargaan
itu dan tentang akan dipamerkannya Mutiara Hantu."
Pete mulai berjalan mondar-mandir dan mengusap-
usap rambutnya. "Sekarang aku benar-benar cemas!"
"Kujamin kita tidak akan apa-apa," kata Jupe.
"Bukan itu," seru Pete. "Jika kita mondar-mandir di
sekitar pangkalan, itu sama saja dengan meminta
dipekerjakan oleh Bibi Mathilda!"
Ketiga sahabat itu tertawa terbahak-bahak.
***


Beberapa menit kemudian, setelah meninggalkan Bob
untuk mulai menelepon, Jupe dan Pete menghentikan
sepeda mereka di depan gerbang pangkalan.
"Kita gunakan pintu depan," kata Jupe. "Tidak ada
gunanya memberi tahu semua rahasia kita."
"Apa yang harus kukatakan?" tanya Pete.
"Apa saja yang terpikir olehmu. Bicara dengan keras
namun wajar."
"Gampang saja bagimu mengatakannya," desah Pete.
"Akting bagimu telah mendarah daging."
Selama sejam berikutnya kedua anak itu berkeliaran
di Jones Salvage Yard, merapikan barang-barang dan ber-
bicara dengan kuat tentang Mutiara Hantu. Ketika Jupe
merasa puas, ia menarik Pete ke pondok kecil yang ber-
fungsi sebagai kantor dan berbisik di telinganya.
"Sepertinya sudah cukup bagus. Sekarang kita tinggal
menunggu Jensen mengambil tindakan. Aku akan mem-
beri tahu Chief Reynolds dan menjelaskan rencana kita.
Pasukannya harus benar-benar waspada pada acara
penghargaan besok, siap untuk menangkap Jensen saat ia
berusaha mengambil mutiara itu. Apakah tidak apa-apa


bagimu untuk pulang bersepeda? Mungkin sebaiknya kita
minta tolong Konrad mengantarkanmu."
"Tidak apa-apa," bisik Pete. "Tidak jauh dan seperti
kata Bob, kecil kemungkinannya ia akan mencoba macam-
macam di tengah hari."
Jupiter memikirkannya selama beberapa saat. "Aku
yakin itu benar namun aku akan lebih tenang jika kau
keluar tanpa terlihat. Gunakan saja Gerbang Biru Dua dan
ambil jalan belakang untuk ke rumahmu. Lebih baik ber-
hati-hati." Gerbang Biru Dua adalah sebuah jalan masuk
rahasia di pagar pangkalan, terletak di sudut jauh
pangkalan di balik kantor. Pagar bagian luar dilukisi
dengan pemandangan di taman, ibu-ibu berpakaian gaya
Victoria lengkap dengan payung mengawasi anak-anak
mereka bermain di tepi sebuah kolam. Dua papan yang
merupakan jalan masuk rahasia itu berwarna biru terang
seperti langit. Karena sulit untuk menggunakannya tanpa
dilihat Bibi Mathilda, anak-anak itu jarang memanfaat-
kannya kecuali dalam keadaan darurat.
"Akan kutelepon kau setelah tiba di rumah," kata
Pete.


"Baiklah. Jangan lupa menelepon untuk Hubungan
Hantu ke Hantu supaya orang-orang mulai membicarakan
Mutiara Hantu. Dan jangan lupa mandi bersih-bersih dan
mengenakan pakaian terbaikmu untuk besok!"
"Tidak akan lupa!" bisik Pete. Remaja jangkung itu
mengayuh sepedanya ke balik kantor dan menghilang
melalui Gerbang Biru Dua sementara Jupe masuk kembali
ke kantor dan mulai menelepon.
***
Di seberang jalan Jensen dan rekannya si orang Asia
duduk di dalam sedan dengan mesin menyala. "Nah, apa
itu tadi... Mutiara Hantu, Ping? Baru saja kita hendak
melakukan aksi terakhir dan meninggalkan kota ini.
Bagaimana menurutmu?" gerutunya.
"Sepertinya sebuah perangkap," gumam Ping.
"Itulah yang kupikirkan," kata Jensen setuju. "Tetap
saja aku akan punya cukup uang untuk seumur hidup jika
aku bisa mendapatkan mutiara itu dan kita tidak usah
melaksanakan rencana semula untuk menculik anak
gendut itu demi tebusan."


"Sepertinya beresiko," kata Ping. "Tak mungkin kita
bisa mengambil mutiara-mutiara itu dengan polisi di
mana-mana. Kita harus menyusun rencana."
"Oh, aku punya rencana, Ping," desis Jensen. "Tentu
saja aku punya rencana."
***


BAB XIII
PERANGKAP TELAH SIAP


Keesokan harinya Bob bangun pagi-pagi dan terpincang-
pincang turun ke dapur tempat ibunya sedang memasak
telur goreng untuk sarapan.
"Selamat pagi, Robert," sapa ibunya. "Cepatlah makan
sarapanmu. Kau perlu lebih banyak waktu untuk bersiap-
siap sekarang karena penopang kakimu itu."
Ayah Bob sedang menikmati ritual hari Sabtunya
dengan surat kabar, pipa, dan kopi yang banyak. Ia
meletakkan korannya dan tersenyum kepada Bob. "Jadi
hari inilah hari besarnya?"
"Ya," kata Bob antusias. "Jupe berharap kita bisa
menyelesaikan kasus ini hari ini!"
"Kasus," kata ayahnya, sedikit kaget. "Maksudku acara
penghargaan itu."
"Oh ya," Bob mengangkat bahu, menyeringai. "Itu hari
ini juga."
"Kalian tidak sedang mempersiapkan yang aneh-aneh
kan?" tanya ayahnya curiga.


Ibunya meletakkan piring di depan Bob dan menuang-
kan jus jeruk untuknya. "Yang aneh-aneh tidaklah terlalu
aneh untuk Jupiter Jones. Ia memang telah menemukan
cincinku tapi kadang-kadang anak itu terlalu pintar!"
kataya, menggelengkan kepala sebagai penegasan.
"Sekarang makanlah, Robert. Akan kusiapkan pakaianmu
di tempat tidur."
Sebentar kemudian terdengar tiga klakson kencang di
depan rumah Bob. Bob mengintip dari jendela dan
melihat Rolls Royce bersepuh emas yang mengagumkan
itu bertahta seperti sang raja hutan. Ia menyeret kakinya
dan keluar dari pintu depan. Worthington melompat
keluar dari mobil dan berlari ke sisi yang lain untuk
membukakan pintu untuk Bob.
"Terima kasih, Worthington."
"Sama-sama, Master Robert. Oh ya, saya akan senang
sekali jika dapat membantu memecahkan kasus Anda.
Mobil ini akan berada di depan Rotary Club, siap
berangkat begitu diperlukan."
Bob tersenyum sambil masuk ke bagian dalam Rolls
Royce yang mewah. "Aku tak tahu apa yang dapat kami
lakukan tanpamu, Worthington."


Beberapa menit kemudian mobil anggun itu berhenti
di depan Jones Salvage Yard. Jupe dan Pete berdiri di
depan pagar, nampak bersih sekali. Rambut mereka
tersisir rapi dan mereka mengenakan pakaian terbagus
mereka. Bob dapat melihat bahwa Jupiter juga membawa
ranselnya.
"Kue dan soda lagi, Jupe?" tanyanya ketika kedua anak
itu masuk ke mobil.
"Kalau Jensen beraksi nanti, aku mau kita telah siap,"
kata remaja gempal itu. "Ini walkie-talkie kita, alat
penjejak, dan kapur. Benda-benda ini akan dipamerkan
namun kita akan bisa segera meraihnya kapan pun Jensen
berusaha mengambil mutiara itu."
"Menurutku ia gila jika ingin beraksi di acara itu," kata
Pete. "Tempat itu pasti akan dipenuhi polisi!"
"Kuduga Jensen malah akan memanfaatkan keadaan
itu," jawab Jupe.
"Maksudmu ia akan menyamar sebagai salah seorang
anak buah Chief Reynolds?" tanya Bob.
"Kemungkinannya tidak kecil. Aku berencana akan
memperingatkan Chief begitu kita tiba agar hati-hati ter-
hadap adanya polisi yang menyamar."


Worthington berdehem. "Maaf, Teman-teman. Saya
harus tetap berada di mobil karena itu adalah tugas saya.
Namun demikian saya akan membuka mata terhadap
kegiatan apapun yang mencurigakan di luar gedung
Rotary Club."
"Jika tidak terlalu merepotkan, aku ingin kau masuk
sebentar, Worthington. Aku tahu banyak orang yang ingin
berjumpa dengan Penyelidik Keempat Tidak Resmi," kata
Jupe.
Worthington tersenyum. "Mungkin saya bisa me-
ninggalkan mobil sebentar. Cukup untuk sedikit teh dan
biskuit."
Mereka semua tersenyum. Worthington dan gaya
hidup Inggrisnya sering kali kontras dengan kepribadian
California Selatan.
Beberapa saat kemudian Worthington bersuara. "Kita
telah tiba dan merupakan kehormatan bagi saya jika Anda
mengizinkan saya membukakan pintu," katanya.
"Tentu saja, Worthington. Akan membuat kedatangan
kami penuh kesan," jawab Jupe.
***


Sejenak kemudian anak-anak itu duduk di meja ke-
hormatan di sisi kanan podium. Leo Magellan, direktur
museum yang gendut, duduk di meja di sisi kiri dan
memandang Pete dengan curiga.
Pete menyikut Jupe. "Sepertinya ia mengenaliku,"
katanya sambil menelan ludah.
"Santai saja, Pete," bisik Jupe. "Kau tidak salah apa-
apa. Sebelum hari ini berakhir kuharap kita dapat mem-
buktikannya!"
Panitia memberikan penghargaan atas pengabdian
mereka terhadap masyarakat dan persembahan cek ber-
jalan lancar tanpa terjadi sesuatu yang tidak wajar.
Mutiara masih berada di dalam kotak kaca di atas meja di
tengah ruangan bersama beberapa cendera mata dari
kasus-kasus Trio Detektif yang lain, seperti proyektor
yang digunakan untuk menghasilkan hantu dari Misteri
Hantu Hijau, koin emas dari Pulau Tengkorak, dan kalung
laba-laba perak dari Varania. Jupe nyaris gemetar di
kursinya penuh harap.
"Aku tak mengerti," desahnya. "Aku yakin Jensen akan
sudah beraksi sekarang. Acara ini hampir selesai! Mari


kita berbaur dengan orang-orang dan mencoba mengenali
Jensen."
Anak-anak itu meninggalkan tempat duduk mereka.
Pete menolong Bob menuruni tangga panggung dan
mereka menghilang di antara orang-orang yang memenuhi
ruangan.
Tepat pada saat itu terdengar bunyi barang pecah
dari arah dapur. Jupe berusaha mencapai pintu dapur dan
berusaha mencari Pete dan Bob di tengah kerumunan.
Kini terdengar teriakan dan jeritan dari balik pintu ayun
dapur. Semua orang menoleh untuk melihat apa yang
terjadi. Jupe dapat melihat Chief Reynolds berbicara
melalui walkie-talkie-nya. Paling tidak dia waspada! Tiba-
tiba pintu dapur terbuka dan Jupe terjatuh ke lantai.
Koki kepala dari jasa boga sedang memarahi seorang
bawahannya yang ceroboh.
"Kau bodoh! Kau telah memecahkan jambangan Cina
seharga seribu dolar!"
"Bukan saya," kata pelayan itu bersikeras. "Saya
didorong!"


"Hah! Didorong," kata si koki sinis. "Seperti waktu itu
kau juga 'didorong', eh? Tidak akan terulang lagi! Kau
dipecat!"
"Tapi... tapi..." pelayan itu tergagap-gagap.
Jupe cepat bangkit. Ini dia! Suatu pengalih perhatian!
Ia lekas-lekas menatap sekeliling ruangan, mencari Bob
dan Pete. Mereka tak terlihat di tengah-tengah lautan
manusia... dan walkie-talkie mereka ada di dalam kotak
kaca di sisi lain ruangan! Jupe berpikir cepat. Hanya ada
satu hal yang bisa dilakukan.
Secepat seekor kucing, Jupe menyelinap me-lewati
koki yang sedang marah itu dan masuk ke dapur.
Beberapa pelayan telah berhenti bekerja untuk me-
mandangi kejadian itu dan hampir-hampir tidak
menyadari kehadirannya. Jupe mengamati semua wajah
mereka, mencari Jensen. Ia tidak ada di dapur. Jupe
berjalan cepat ke pintu masuk pelayan dan mengintip
melalui pintu belakang ke tempat parkir di belakang
gedung Rotary Club.
Tidak ada siapapun di tempat parkir, hanya ada be-
berapa buah van putih dari jasa boga. Jupe berbalik
hendak kembali ke ruang makan ketika sesuatu menarik


perhatiannya. Tiga dari van itu berwarna putih meng-
kilap, baru. Namun yang keempat sudah tua, penyok-
penyok, dan penuh karat, seperti mobil yang menculik
Bob! Setelah menimbang sejenak, Jupe memutuskan
untuk memeriksanya sendirian dan keluar dari pintu
belakang.
Ia melangkah keluar ke bawah cahaya terang matahari
dan menudungi matanya. Tidak ada orang dan sekarang-
lah kesempatannya! Detektif gempal itu bergegas menuju
van yang berbeda itu dan dengan waspada mengintip me-
lalui jendelanya. Kosong. Tanpa membuang waktu Jupe
membuka pintu belakang van.
Ia ternganga.
Bagian belakang van putih tua itu dipenuhi hasil seni
dan harta dari Asia yang tak ternilai! Jupe dapat melihat
sutra yang indah, peti kayu hasil kerajinan tangan,
jambangan yang tak ternilai, dan benda-benda antik
lainnya. Benda-benda curian ini pasti bernilai satu juta
dolar, pikirnya.
Tiba-tiba ia mendengar seruan dan suara kaki berlari.
Jupe melihat sekeliling, mencari tempat persembunyian.
Hanya ada satu tempat dan ia menyadarinya. Tanpa ber-


pikir dua kali Jupe me-lompat masuk ke bagian belakang
van dan membanting pintunya hingga tertutup, tepat
pada saat Jensen dan Ping berlari keluar dari sudut
gedung Rotary Club.
Jupe menelan ludah dan memandang sekelilingnya di
dalam van. Peti itu! Nampaknya cukup besar untuk se-
orang anak lelaki... jika tidak ada sesuatu di dalamnya!
Jupe membuka penutupnya dan meng-hembuskan nafas
lega. Kosong. Dengan cepat ia melompat masuk dan
menutup penutupnya... tepat pada waktunya. Jensen dan
Ping membuka pintu van dan Jupe mendengar suara
mesin meraung hidup. Kemudian Jupe mendengar suara
lain. Bob, Pete, dan Chief Reynolds! Jupe tersenyum
sendiri sementara van itu mulai bergerak dan ber-
guncang-guncang. Mereka akan membuntuti van itu dan
akhirnya memasukkan Jensen ke penjara, tempatnya
yang seharusnya.
Lalu secepat munculnya, senyum Jupe berubah
menjadi kerutan ketika ia mendengar Jensen dan Ping
berbicara. "Mendorong si tolol yang membawa piring-
piring itu benar-benar berguna," Jensen tertawa. "Namun
anak-anak sialan itu masih sempat melihat kau me-


mecahkan kaca dan mencuri mutiara-mutiara itu. Kau
seharusnya lebih hati-hati," katanya memperingatkan.
"Yah, sudahlah. Sekarang kita tinggal menyingkirkan van
ini, memuat semua barang ini ke truk yang sebenarnya,
dan kita bebas!"
"Apakah Won akan membayar mahal?"
"Tentu saja. Bagaimanapun juga ia menganggap
semua ini miliknya yang sah. Kita kaya, Ping! Sekarang
kita harus ke San Fransisco tanpa tertangkap oleh polisi!"
***
Di bagian belakang jantung Jupe berdebar kencang
dan ia berkeringat dingin.
Won?
San Fransisco?
Jupe menelan ludah. Ia berada dalam kesulitan besar
dan tidak dapat berbuat apa-apa!
***


BAB XIV
NYARIS


"Ada yang melihat Jupiter Jones?" seru Chief Reynolds.
Orang-orang yang ada di Rotary dilanda kebingungan;
para tamu berdiri di sekitar gedung, memperbincangkan
perampokan dan menganalisis yang baru saja terjadi.
Chief Reynolds berseru lagi. "Ada yang melihat Jupiter
Jones?" Beberapa orang di antara kerumunan meng-
gelengkan kepala, yang lain kembali asyik bercakap-
cakap, semakin lama se-makin sensasional. Si koki meng-
geleng dan menatap Bob dan Pete. "Terakhir kali aku me-
lihat Jones adalah ketika pintu dapur menjatuhkannya ke
lantai. Itu sekitar sepuluh menit yang lalu... ia tidak
mungkin pergi terlalu jauh dalam sepuluh menit."
"Ingat, yang kita bicarakan adalah Jupiter Jones," kata
Pete. "Ia bisa saja berada di Meksiko sekarang!"
"Aku hampir-hampir percaya itu mungkin saja dengan
Jones," si koki menghela nafas.


Bob tertatih-tatih dengan penopangnya menuju ke
tempat van Jensen terparkir tadi. "Menurut Anda, apakah
mobil-mobil patroli akan bisa menyusul Jensen, Chief?"
"Aku telah memberi pengumuman ke seluruh penjuru
Rocky Beach dan daerah sekitarnya, termasuk Los
Angeles. Polisi akan menghentikan setiap van putih yang
mereka lihat... kita akan menangkap-nya, Bob."
Pada saat itu Pete berbicara, "Chief, baru terpikir
oleh saya. Bagaimana jika Jupe sedang berada di dalam
van ketika Jensen dan temannya melarikan diri? Waduh,
ia akan mendapat masalah besar jika mereka menemu-
kannya!"
Chief nampak khawatir. "Memang seperti Jones, ber-
buat seperti itu. Sebaiknya aku memberi tahu anak buah-
ku untuk ekstra waspada. Van itu bisa saja punya tempat
rahasia."
***
Di dalam peti antik Jupiter Jones tersengal-sengal dan
kakinya mulai kesemutan. Ia menghitung jarak ke San
Fransisco dari Rocky Beach, berapa waktu yang
diperlukan, dan menggigit bibir. Ia tidak yakin ia dapat


bertahan selama itu di dalam tempat persembunyiannya.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil resiko dengan
membuka penutup peti untuk mendapatkan sedikit udara
segar.
Tepat pada saat ia hendak membuka penutup peti itu,
van berhenti tiba-tiba. Pintu dibanting tertutup dan Jupe
mendengar langkah kaki terseret-seret dan gumaman
sementara Jensen dan Ping mulai memindahkan harta
curian mereka dari van ke bak belakang truk yang akan
mereka gunakan untuk melarikan diri.
Ketika mereka sampai pada peti tempatnya berada,
Jupe menahan nafas. Peti itu terangkat beberapa inci dan
kemudian terbanting dengan keras ke lantai van.
"Peti ini bukannya kosong?" tukas Jensen. "Se-harusnya
kita mengisinya dengan emas," katanya.
"Mungkin sebaiknya kita buka saja," kata Ping.
"Tidak ada waktu," jawab Jensen. "Kita harus tiba di
San Fransisco sejam lagi. Ayo cepat... angkat!"
Jupe merasa peti terangkat. Ia menyiapkan dirinya
untuk benturan yang pasti akan terjadi saat peti itu di-
masukkan ke dalam truk. Jensen dan Ping membanting-
nya dengan kuat.


Setelah beberapa kali bolak-balik, kedua penjahat itu
selesai mengosongkan van. Jupe mendengar pintu truk
dibanting tertutup dan mesinnya meraung hidup. Ia ada
dalam perjalanan menuju San Fransisco... suka atau
tidak!
***
Di Rotary Club di Rocky Beach Bob Andrews dan Pete
Crenshaw duduk dengan gelisah, menunggu masuknya
laporan yang mengatakan bahwa van putih itu telah di-
temukan dan rekan mereka diselamatkan.
Ketika sejam telah berlalu, Pete berdiri dan mulai
mondar-mandir. "Seandainya saja Jupe sempat meng-
ambil walkie-talkie, kita akan bisa menemukannya!"
"Jangan khawatir, Peter," kata Chief Reynolds me-
nenangkan. "Banyak orang yang mencari Jupiter sekarang.
Kita pasti akan menemukannya."
"Mudah-mudahan saat itu belum terlambat," kata Bob.
"Kita pernah berurusan dengan Jensen dan tahu apa yang
bisa dilakukannya. Jika ia menemukan Jupe bersembunyi
di van itu ...." Bob tidak menyelesaikan kalimatnya.


Mereka semua tahu apa yang akan terjadi seandainya
Jensen menemukan Jupe.
Tepat pada saat itu radio di mobil Chief bersuara.
"Chief Reynolds, masuk. Ganti." Chief meraih mikrofon
dengan cepat. "Ini Chief, ada berita apa?"
"Kami telah menemukan van itu, ditinggalkan di kaki
bukit beberapa mil di sebelah utara kota. Van itu di-
sembunyikan di sebuah ceruk, terlindung oleh dinding
tebing. Ganti."
"Aku datang sekarang! Ganti dan selesai." Chief
Reynolds melompat masuk ke mobil. "Mari, Anak-anak!"
Bob dan Pete bergegas masuk ke dalam mobil patroli.
Chief menyalakan lampu dan sirenenya dan memacu
mobil menuju perbukitan di daerah pantai. Pete dan Bob
berpegangan kuat ketika jalanan menyempit dan aspal
berganti dengan tanah. Mereka tidak perlu cemas, Chief
Reynolds adalah seorang pengemudi ahli dan mengambil
tikungan-tikungan tajam dengan tangkas.
Namun ketika mereka tiba di ceruk yang kering itu,
tidak banyak yang dapat mereka lihat. Van putih tua itu
kosong.


Pete dan Bob memeriksa van itu dengan cermat, luar
dalam.
"Ada banyak jejak kaki di belakang van," kata Bob.
"Sepertinya Jensen dan satu orang lagi, kemungkinan si
orang Asia yang menculikku, memindahkan sesuatu dari
van ke sebuah kendaraan lain. Lihatlah ke sini," lanjut-
nya, mengikuti jejak di debu jalan. "Jejak ban dari se-
buah kendaraan lain. Jensen pasti telah menyiapkan
mobil untuk melarikan diri di sini."
"Ban yang ini lebih lebar," kata Chief Reynolds.
"Menurutku sebuah truk."
"Tapi apa yang mereka pindahkan dari bagian
belakang van?" tanya Pete cemas. "Dan bagaimana kita
bisa menemukan mereka kalau kita tidak tahu truk
macam apa yang kita cari?"
***
Di bak belakang truk Jupe mengangkat penutup peti.
Hampir-hampir tidak bergerak. Jensen pasti telah me-
letakkan sesuatu yang berat di atasnya! Jupe berusaha
tetap tenang namun sulit sekali dengan pikiran bahwa ia
harus terperangkap di dalam peti selama sejam lagi. Ia


mendorong sekuat tenaga dengan bahunya dan berhasil
membuka penutup itu, cukup untuk kepala dan tangan
kirinya.
Jupe menjulurkan kepalanya dan melihat benda yang
menahan penutup peti itu. Sebuah patung harimau yang
terbuat dari marmer. Jupe mendorong sekali lagi dan ber-
hasil mengeluarkan tangannya yang lain. Sedikit lagi.
Sambil mengempiskan perut, Penyelidik Pertama me-
maksakan diri keluar dari peti dan terjatuh ke lantai.
Patung berukuran besar itu bergoyang-goyang di atas
peti, sedikit lagi terjatuh. Jupe melompat untuk me-
nahannya. Ia tidak ingin tempat persembunyiannya
ketahuan lebih cepat!
Bak belakang truk itu gelap, satu-satunya cahaya yang
memungkinkan Jupe melihat masuk melalui sebuah
jendela di dinding seberangnya. Ia meraba-raba melalui
benda-benda antik curian dan berdiri di atas sebuah
karpet yang tergulung hingga ia dapat menempelkan
wajahnya ke jendela yang berdebu itu. Di baliknya ia
dapat melihat Jensen di belakang kemudi. Orang itu
sedang berbicara dengan rekan-nya.


"Menurutku ada sekitar satu juta dolar di belakang,
Ping. Mudah sekali mendapatkan pekerja-an sebagai
penjaga keamanan di museum itu!" tawanya. "Barang-
barang itu ada di dalam kotak dan peti di tempat
penyimpanan bawah tanah museum, menunggu untuk
dipamerkan. Mereka tidak akan me-rasa kehilangan
sampai satu minggu lagi, seperti kata Won."
"Berapa yang kita minta untuk mutiara itu?" tanya
Ping.
"Sepertinya kita bisa mendapat banyak," Jupiter dapat
melihat Jensen mengangkat kantung yang berisi mutiara-
mutiara palsu itu. "Mungkin satu juta untuk penawaran
pertama. Siapa tahu?"
Jupe dapat mendengar kedua penjahat itu tertawa
sementara ia turun dari atas karpet. Ia membuat tanda
tanya di peti dan pintu truk dengan kapurnya. Ia tidak
yakin hal itu akan ada gunanya namun paling tidak lebih
baik daripada memikirkan bahwa sebentar lagi ia harus
kembali masuk ke dalam peti. Juga lebih baik daripada
memikirkan apa yang akan dilakukan Jensen dan Ping
ketika mereka tiba di San Fransisco dan menemukannya
di bak belakang.


Tidak lama kemudian Jupe merasa truk itu melambat
dan berbelok-belok lebih sering. Ia menarik nafas,
menyadari bahwa sudah waktunya ia kembali ke dalam
peti. Masuk ternyata lebih mudah daripada keluar namun
tetap saja Jupe harus bersusah payah memaksa badannya
yang gempal masuk. Beberapa menit setelah ia berada di
dalam, truk itu berhenti dan mesinnya dimatikan. Jupe
mendengar pintu bak belakang dibuka dan Jensen dan
Ping mulai sibuk.
Selama di dalam peti Jupe telah memikirkan sebuah
rencana dan memutuskan untuk tetap bersembunyi di
dalam peti sampai hari gelap, lalu berusaha kabur setelah
memastikan semua orang telah meninggalkan tempat per-
sembunyian Won. Bukan sebuah rencana yang terlalu
bagus namun hanya itu yang dapat dipikirkannya.
Sekarang tiba giliran peti Jupe untuk dipindahkan. Ia
dapat mendengar Jensen dan Ping mengumpat-umpat
sementara mereka berjuang mengangkat peti yang berat
itu. Ketika akhirnya peti itu diletakkan, Jupe mendengar
sebuah suara yang dikenalnya. Won!
"Apa maksudnya ini?" tanya Won tajam.


"Apa maksudmu?" tukas Jensen. "Ini sudah semuanya,
sesuai permintaanmu."
"Aku tidak bicara tentang harta ini, bodoh. Aku bicara
tentang harta yang ada di dalam harta."
"Kau harus berhenti bicara penuh teka-teki, Won.
Bikin repot saja," kata Jensen.
"Buka peti yang terakhir itu dan lihatlah apa yang
tersembunyi dari mata yang tidak waspada," jawab Won.
Penutup peti perlahan terangkat dan Jupiter Jones
yang kebingungan dan sedikit malu-malu beranjak keluar
dari dalamnya.
***


BAB XV
KEMATIAN DENGAN 1000 IRISAN


Jupiter Jones keluar dari peti dan segera dibekuk dengan
kasar oleh Ping. Jensen berdiri dengan mulut terbuka,
menatap Mr. Won, kemudian peti itu, dan kemudian Mr.
Won lagi.
"Bagaimana kau tahu ia ada di dalam situ?"
Mr. Won menyipitkan mata di balik kacamatanya yang
berbingkai emas dan menggelengkan kepala. "Apabila kau
telah hidup selama aku, kau akan memahami bahwa ada
banyak cara untuk melihat tanpa menggunakan mata."
Jupe mengamati ruangan yang besar dan melingkar
itu. Tepat seperti yang digambarkan Bob dan Pete ketika
mereka menangangi Misteri Hantu Hijau. Dinding-dinding-
nya masih tetap tertutupi tirai tebal berwarna merah
dengan sulaman emas yang menggambarkan naga dan
kuil. Di bagian depan ruangan terdapat kursi Mr. Won
yang besar; terbuat dari kayu hitam dengan ukiran yang
indah dan dilengkapi dengan bantalan yang tebal. Mr.
Won sendiri mengenakan jubah bangsawan Cina kuno ber-


warna merah yang terjuntai sampai ke lantai. Ia bangkit
dari kursi besarnya dan mengacungkan jari ke arah Jupe.
"Mendekatlah, Nak," katanya dengan suara yang pelan
namun tegas. Jupe melangkah maju dan berdiri di
hadapan Mr. Won, berusaha keras untuk nampak tegar.
"Tidak apa-apa merasa takut," kata Mr. Won, seolah-
olah membaca pikirannya. "Itu memberitahuku bahwa kau
menghargai kekuatanku." Jupe berdiri diam, berpikir
keras mencari jalan keluar. "Bagaimanapun juga, dulu aku
telah bersikap luwes terhadap teman-temanmu, sekarang
aku tidak bisa berjanji." Ia melangkah mendekati Jupe.
"Kau telah terbukti cukup sukar ditaklukkan, Bulat."
Jupe mengerutkan kening mendengar acuan terhadap
bentuk tubuhnya. Bahkan di dalam situasi yang paling
berbahaya sekalipun ia tetap peka akan tubuhnya. Ia
hendak mengucapkan sesuatu ketika Mr. Won berbicara
lagi.
"Kau telah melihat dan mendengar terlalu banyak.
Seperti yang kau ketahui, aku telah menghabiskan seluruh
hidupku berusaha mendapatkan dan mengembalikan
harta karun dari Dinasti Won ke pemiliknya yang sah. Aku
adalah keturunan paling tua yang masih hidup dari Dinasti


Won Cina kuno. Harta di depan matamu ini adalah milik
keluargaku yang terhormat, tidak untuk didiamkan di
museum."
Jupe menelan ludah dan memandang berkeliling. Ping
mendekatinya dari belakang, seolah-olah merasa Jupe
akan berusaha lari menuju pintu sewaktu-waktu. Mr. Won
mengibaskan tangan.
"Si Bulat tahu tidak ada jalan untuk melarikan diri,
Ping. Ia tidak akan mencoba sesuatu yang bodoh seperti
lari, benar?"
Jupe mengangguk lambat-lambat dan menatap
sepatunya. Ia ingat yang dikatakan Bob dan Pete tentang
kekuatan hipnotis Mr. Won dan mengingatkan dirinya
untuk tidak terpengaruh.
Mr. Won terus berbicara sambil berjalan mondar-
mandir di depan Jupe. "Kau tentu saja tidak punya apa-
apa yang aku belum punya untuk kau tawarkan kepadaku,
jadi tidak ada gunanya tawar-menawar untuk kebebasan-
mu."
Sekonyong-konyong sebuah ide melintas di kepala
Jupe. "Saya punya Mutiara Hantu!" tukasnya. "Tidak


banyak, namun cukup untuk memperpanjang umur Anda
paling tidak setahun lagi!"
Won berhenti melangkah dan memalingkan muka ke
arah Jupe. "Dengan mudah aku dapat membaca pikiranmu
untuk mengetahui kebenaran hal ini, Bulat. Jangan coba-
coba menipuku."
"Anda tidak perlu membaca pikiran saya," kata Jupe
cepat. "Lihat saja di dalam kantung yang ada di saku
Jensen."
Mata Mr. Won menyipit kembali dan ia duduk lagi di
kursinya yang besar. "Pegang dia," katanya pelan.
Sebelum Jensen dapat bergerak, kedua tangannya di-
bekuk dari belakang oleh dua orang pelayan setia Mr.
Won. Jupe merasa seolah-olah mereka muncul begitu saja
dari lipatan tirai. Jensen memberontak dan mendengus
seperti seekor banteng namun bahkan tenaganya yang
besar pun bukan tandingan kedua anak buah Won.
"Apa maksudnya ini?" seru Jensen marah. "Tidakkah
kau pikir aku akan memberikannya kepadamu?! Segala
sesuatu ada harganya, tahu!" Wajahnya berubah merah
dan ia memaki-maki.


Mr. Won duduk dengan sabar hingga Jensen selesai
memaki-maki. "Sudah cukup aku mendengar omonganmu.
Gara-gara kebodohanmu sekarang situasi kita yang sudah
rumit ketambahan lagi anak lelaki ini," kata Mr. Won.
"Tolong mutiaranya." Satu lagi pelayan muncul dari balik
tirai dan menggeledah saku-saku Jensen sementara lelaki
besar itu memberontak. Si pelayan menemukan kantung
kelereng milik Jupe dan menyerahkannya kepada Mr.
Won.
"Kau sungguh berani dan dapat berpikir cepat, Bulat,"
kata Mr. Won pelan. "Mungkin kau telah membeli ke-
bebasanmu." Mr. Won meraih ke sela-sela bantalan kursi-
nya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan
bening. Ia meraih ke dalam tas Jupe dan mengeluarkan
sebutir Mutiara Hantu. "Jika ini benar-benar mutiara ke-
hidupan, kau akan mendapatkan kebebasanmu... dengan
syarat kau menyerahkan semua sisa mutiara yang kau
miliki. Cukup adil, Bulat. Namun demikian, jika ini adalah
sebuah tipuan, kau akan menjadi korban kematian
dengan seribu irisan. Cukup adil juga."
Hati Jupe mengecil. Ia tidak menduga Mr. Won akan
menguji salah satu mutiara itu. Tapi sebelum ia dapat


menyatakan keberatan, Mr. Won menjatuhkan kerikil itu
ke dalam botol, menyentuh dasarnya dengan sebuah
dentingan. Ketika batu itu tidak melebur, Mr. Won
menatap Jupe penuh amarah. "Tatap mataku, Bulat, dan
lihatlah kematianmu."
Jupe didorong ke depan oleh para pelayan Mr. Won,
genggaman mereka di lengannya terasa sekeras baja.
Sementara ia berusaha mengalihkan pandangannya dari
tatapan Mr. Won yang me-nembus, hatinya berdebar
keras dan keringat dingin muncul di dahinya. Ia tidak
akan pernah melihat Bibi Mathilda atau Paman Titus lagi.
Dan bagaimana dengan Pete dan Bob? Apa yang akan
mereka lakukan tanpanya? Ada begitu banyak orang yang
tidak akan sempat diberinya selamat tinggal. Hans dan
Konrad. Worthington...
Worthington!
Dengan dentuman yang kencang, pintu tempat per-
sembunyian Mr. Won yang terbuat dari kayu oak tebal
terbanting ke lantai dan supir Inggris bertubuh jangkung
itu menyerbu masuk! Ia diikuti beberapa orang polisi
dengan pistol teracung. Sejenak terjadi kekacauan dan
para pelayan Mr. Won berusaha melarikan diri melalui


jalan keluar rahasia yang tersembunyi di balik tirai. Para
polisi berusaha menangkap sebanyak-banyaknya yang
mereka bisa namun mereka direpotkan oleh Jensen dan
Ping, yang hampir saja berhasil kabur sebelum akhirnya
sebuah tembakan peringatan ke langit-langit dilepaskan
oleh salah seorang polisi.
Worthington melihat Jupe dan bergegas menghampiri.
"Lepaskan dia, Teman-teman!" serunya dengan berani,
menyerang para pelayan Won dengan gerakan judo yang
membuat Jupe terbelalak. Anak-anak itu telah mengenal
Worthington cukup lama namun tidak ada yang tahu
bahwa ia memiliki minat dalam ilmu bela diri!
Anak buah Won bukan tandingan supir jangkung itu
dan mereka berlari menuju pintu... dan para polisi. "Anda
tidak apa-apa, Master Jones? Anda tidak terluka?"
"Aku baik-baik saja, Worthington," Jupe menghembus-
kan nafas lega. "Tapi bagaimana kau menemukanku?"
Si supir jangkung memungut topinya dari lantai dan
meluruskan dasinya. "Mari kita pergi ke tempat yang
aman dulu dan nanti saya akan menjelaskan semuanya."
"Sebentar, Worthington," kata Jupe. "Ada satu orang
yang ingin kupastikan tidak dapat lari kali ini."


Selama kekacauan berlangsung Mr. Won duduk diam di
kursi hitamnya yang besar. Kini Jupe dan Worthington
melihatnya dengan tenang mengangkat salah satu
bantalan tangan di kursinya dan menekan sebuah tombol
merah yang tersembunyi di bawahnya. Dengan takjub
mereka menyaksikan lantai tempat kursi Mr. Won terletak
mulai berputar... dan dalam beberapa detik ia telah
menghilang, digantikan oleh sebuah dinding bertirai. Jupe
mendengar sebuah dentingan berat di balik dinding itu. Ia
menduga itu adalah sebuah mekanisme pengunci. Akan
dibutuhkan waktu lama untuk menjebol dinding itu.
Cukup waktu, pikir Jupe, bagi Mr. Won untuk melarikan
diri dengan tenang.
***


BAB XVI
PERJANJIAN DENGAN ALFRED HITCHCOCK


Seminggu setelah Jupe nyaris teriris-iris di San Fransisco,
Trio Detektif mengunjungi Alfred Hitchcock di kantornya
yang luas di World Studios. Sutradara film kenamaan itu
membaca dengan teliti catatan Bob tentang kasus ter-
akhir mereka dan kemudian meletakkannya di mejanya
yang luas.
"Sebuah kasus yang sulit terpecahkan!" ujarnya.
"Selamat karena kalian akhirnya berhasil memasukkan si
penjahat Jensen itu ke dalam penjara."
"Terima kasih, sir," kata Jupe tanpa nampak terlalu
bangga.
"Tentu saja," kata sang pembuat film dengan penuh
perasaan, "ini sama sekali bukan kasus paling profesional
yang pernah kalian tangani."
Jupe melonggarkan dasinya dan mukanya mulai
memerah. Sutradara kenamaan itu menatap Bob dan Pete
sambil menyeringai. "Bahkan, Jones, sepertinya


keberuntungan memainkan peranan yang lebih besar
dalam kasus ini daripada logika dan deduksi."
Jupe bergerak dengan gelisah di kursinya. "Sudah saya
duga Anda akan berkata demikian, sir. Itulah sebabnya
saya ragu-ragu untuk meminta Anda menuliskan kata
pengantar untuk kasus ini."
Sutradara itu terkekeh dan menggelengkan kepala
atas sikap Jupe yang tiba-tiba rendah hati. "Kekurangan
dalam ketajaman pikiran dan analisis dalam kasus ini
tertutupi oleh keberanian dan keteguhan hati." Mata
Alfred Hitchcock berbinar-binar sementara ia mengaitkan
jari-jarinya di atas perutnya yang bundar. "Bagaimana-
pun, keberanian kadang-kadang dapat diinterpretasikan
sebagai kebodohan, seperti ketika kau mengambil resiko
dengan bersembunyi di dalam peti itu. Komentar?"
"Resiko yang telah diperhitungkan," ujar Pete. "Dan
segalanya berakhir dengan baik. Jensen dan Ping masuk
penjara atas penculikan dan pencurian dan harta
'keluarga' Mr. Won telah dikembalikan ke semua museum
yang dibobolnya."


"Ah ya," Mr. Hitchcock mengangguk. "Mr. Won yang
misterius. Bolehkah aku bertanya bagaimana ia bisa tahu
kau ada di dalam peti?"
Jupiter mengerutkan kening. Ia merasa Mr. Hitchcock
benar-benar gembira bisa menyindirnya. "Saya benar-
benar tidak punya penjelasan untuk itu, sir," katanya
tanpa keyakinan.
Bob berbicara untuk menyelamatkan Jupe. "Kami
hanya bisa menduga bahwa setelah hidup selama lebih
dari seratus tahun, inderanya telah menjadi jauh lebih
tajam daripada orang kebanyakan."
"Pikiran yang bagus, Master Andrews," kata sang
sutradara setuju. "Dan sesuatu yang perlu dipikirkan lebih
lanjut. Mungkinkah seseorang melatih pikiran-nya untuk
melihat yang tidak dapat dilihat orang lain? Aku bisa
membuat sebuah film tentang hal ini! Apapun yang
terjadi, aku ingin tahu jika tokoh menarik ini, Mr. Won,
muncul kembali. Dan jika memang demikian, marilah kita
berharap ia tidak punya dendam apa-apa terhadap Trio
Detektif seperti Jensen. Bicara tentang Jensen, apa yang
terjadi dengannya setelah Misteri Hantu Hijau?"


Bob menjawab, "Itu mungkin merupakan kebetulan
paling menakjubkan dalam kasus ini! Menurut keterangan
Jensen kepada polisi, setelah ia melarikan diri dari Hash
Knife Canyon, ia menuju ke pantai selatan tempat
seorang temannya menjalankan sebuah bisnis
penyelundupan perahu memancing beberapa mil dari
Kota Fishingport di Atlantic Bay. Suatu hari ia kebetulan
membaca di sebuah surat kabar lokal tentang tiga orang
anak yang membantu menemukan harta karun yang hilang
dari Kapten One-Ear." Tentu saja Bob mengacu pada
petualangan Trio Detektif menyingkap rahasia Pulau
Tengkorak beberapa waktu yang lalu.
"Demi guntur dan kilat!" seru Mr. Hitchcock.
"Kebetulan yang aneh memang! Aku dapat membayangkan
keterkejutannya. Ia pasti merasa ia tidak dapat meng-
hindari Trio Detektif, bahkan setelah ia berada di bagian
lain dari benua ini!"
Pete melanjutkan, "Ia benar-benar marah dibuatnya
dan mulai menyusun rencana untuk membalas dendam. Ia
tahu bahwa suatu saat ia pasti akan kembali ke
California... bayaran yang didapatnya dari Mr. Won
terlalu bagus untuk dilewatkan terlalu lama. Maka ia


menunggu dengan sabar waktu untuk kembali dengan
selamat ke pantai barat dan kembali bekerja untuk Won
sambil menjalankan rencananya terhadap kami. Ia tidak
mempercayai keberuntungannya ketika pekerjaan
pertama dari Won adalah di museum Rocky Beach!"
Kini Jupe ikut mengambil bagian, "Hal pertama yang
dilakukannya adalah mengajak Ping. Rencananya terlalu
besar untuk dilakukan sendirian dan ia tahu ia perlu
bantuan. Ping adalah salah seorang pekerja di Verdant
Valley yang secara diam-diam membantu Jensen
membuat masalah untuk Keluarga Green. Kemudian ia
menggunakan identitas palsu untuk mendapatkan
pekerjaan di museum, tempat barang-barang antik dari
Dinasti Won dijadwalkan untuk dikirim.
"Jika aku tidak salah, tinggal satu pertanyaan lagi
yang belum terjawab," kata Mr. Hitchcock.
"Bagaimana Worthington menemukan saya?" tanya
Jupe.
"Tepat," kata sang sutradara.
Jupe menarik nafas panjang dan mulai menjelaskan.
"Setelah Worthington masuk ke dalam Rotary Club untuk


menemui para penggemarnya, ia bergegas kembali ke
Rolls Royce yang terparkir di depan gedung."
"Selalu seorang pengemudi profesional," komentar Mr.
Hitchcock.
"Dan profesionalisme itulah yang menyelamatkan
Jupe!" sela Bob.
"Merupakan sebuah kebetulan," lanjut Jupe, "bahwa
van itu harus mengambil jalan yang melewati sisi gedung
dan kemudian lewat tepat di depan tempat parkir
Worthington. Ia merasa curiga ketika van itu pergi dengan
tergesa-gesa dan ketika kami tidak segera keluar dari
gedung untuk melakukan pengejaran, ia memutuskan
untuk membuntutinya sendirian dan akan menelepon
kami dengan telepon mobil setelah ia tahu tujuannya."
"Sebuah keputusan yang terbukti menyelamatkan
nyawamu, Master Jones."
Jupe mengangguk. "Worthington membuntuti van
sampai ke daerah perbukitan di luar Rocky Beach. Ia
harus menjaga jarak karena Rolls Royce sangat mudah
dikenali dan hampir saja kehilangan kami ketika van itu
tidak muncul-muncul dari jalan buntu itu... seperti Anda
ketahui, sebuah truk yang akhirnya muncul. Ia membuat


dugaan yang tepat dan mulai membuntuti truk, yang
nampaknya menuju San Fransisco. Saat itulah ia ingat
akan telepon. Karena ia tidak tahu nomor telepon Rotary
Club dan Bob, Pete, serta Chief Reynolds terlalu jauh
untuk bertindak, ia memutuskan untuk menanyakan
nomor telepon kepolisian San Fransisco ke bagian
informasi. Kemudian ia menceritakan segala sesuatunya
dan tetap berhubungan dengan polisi sampai van itu
masuk ke garasi sebuah gedung yang ternyata di-miliki
oleh Mr. Won."
Bob melanjutkan ceritanya, "Worthington kemudian
mengambil resiko besar dengan meninggalkan Rolls Royce
dan membuntuti Jensen dan Ping ke lift untuk melihat di
lantai berapa mereka turun. Kemudian ia kembali ke
mobil dan menunggu kedatangan polisi. Setelah itu
sementara seorang polisi menjaga Rolls Royce, ia dan
beberapa petugas lainnya memasuki gedung. Mereka
menaiki lift dan karena hanya ada satu pintu di lantai itu,
mereka merasa para penjahat telah terjebak. Ketika
mereka mendengar ancaman Won terhadap Jupe, mereka
memutuskan untuk bertindak!"


Pete tidak dapat lagi menahan diri. "Itulah
semuanya!" serunya. "Maukah Anda sekarang menuliskan
kata pengantar untuk kasus ini, sir?"
Alfred Hitchcock terkekeh sambil matanya kembali
berbinar-binar. "Sebagai seorang sutradara aku punya hak
untuk mengambil sebuah adegan berulang-ulang hingga
mendapatkan hasil yang diinginkan. Sebagai detektif
kalian tidak punya hak itu. Kalian harus berpikir dengan
cepat dan hanya dapat mengambil sebuah adegan sekali,
kadang-kadang meskipun keadaan tidak memungkinkan.
Mengingat hal itu, kurasa kalian telah bertindak dengan
mengagumkan dalam menghadapi bahaya, bahkan meski-
pun kemampuan deduksi kalian tidak terlalu menonjol."
Trio Detektif beringsut maju di kursi mereka sambil
menahan nafas.
"Maka meskipun tadinya aku kurang setuju, dengan ini
kunyatakan kasus ini terpecahkan dan bersedia menulis-
kan kata pengantar."
Anak-anak itu berseri-seri dengan kesediaan Mr.
Hitchcock namun sutradara besar itu belum selesai.
"Dengan satu syarat!"
"Apa itu, sir?" tanya Jupe.


Alfred Hitchcock bersandar kembali di kursinya,
nampak sangat puas atas penampilannya. "Karena kasus
ini tidak seperti kasus Trio Detektif biasanyadan kita
semua setuju bahwa pemecahannya tidak terjadi dengan,
ehm, terlalu meyakinkanaku bersedia menuliskan kata
pengantar hanya jika kalian setuju untuk menerbitkannya
di internet, sehingga para penggemar yang memuja kalian
dapat melihat bahwa bahkan Trio Detektif yang begitu
fantastis pun tidak selamanya hebat. Bisa diterima?"
Jupe segera menemukan keyakinan dirinya kembali
dan duduk tegak. "Saya rasa itu adalah ide yang bagus,
sir. Kami memang telah setuju untuk membeli se-
perangkat komputer untuk markas."
"Selamat tinggal Magic Mountain!" desah Pete.
"Yah," kata Bob. "Sepertinya kita telah kalah dengan
keputusan satu banding dua lagi!"
Mereka semua tertawa namun kemudian Jupe berubah
serius. "Kami berjanji untuk menerbitkan kasus ini di
internet dan saya berjanji untuk belajar dari kesalahan-
kesalahan yang saya lakukan dalam kasus ini dan tidak
akan mengulanginya lagi."


Sutradara ternama itu tertawa terbahak-bahak. "Kau
terlalu keras terhadap dirimu sendiri, Jones. Berbangga-
lah karena kalian telah memasukkan se-orang buronan ke
dalam penjara dan mengembalikan harta karun ke
museum. Lebih dari yang dapat dilakukan oleh banyak
detektif seumur hidup mereka!"
Ketiga anak itu tersenyum kepada pembimbing
mereka dan berterima kasih sebelum pergi. Sendirian, Mr.
Hitchcock mulai menuliskan kata pengantarnya untuk
kasus terakhir Trio Detektif dan bertanya-tanya
petualangan menegangkan apa yang selanjutnya akan
dihadapi anak-anak muda itu.


SELESAI