Anda di halaman 1dari 5

VALIDASI METODE

Validasi metode merupakan proses mendapatkan informasi yang penting dalam


menilai kemampuan sekaligus keterbatasan suatu metode untuk:
Memperoleh hasil yang dapat dipercaya
Menentukan kondisi dimana hasil data pengujian atau kalibrasi diperoleh
Menentukan batasan suatu metode, misalnya akurasi, presisi, limit deteksi, dan
lain-lain (Daniati, 2012).
Tujuan melakukan validasi metode adalah untuk mengetahui sejauh mana
penyimpangan suatu metode tidak dapat dihindari pada kondisi normal. Validasi
metode dilakukan pada metode tidak baku, metode yang dikembangkan, laboratorium,
metode baku yang digunakan di luar lingkup yang dimaksudkan, dan modifikasi dari
metode baku untuk mengkonfirmasi bahwa metode itu sesuai untuk penggunaan pada
lingkup yang dimaksud (Daniati, 2012).
Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode
analisis diuraikan dan didefinisikan sebagaimana cara penentuannya.
Kecermatan (Accuracy)
Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis
dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persen
perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan ditentukan dengan
dua cara yaitu metode simulasi (spiked-placebo recovery) atau metode penambahan
baku (standard addition method). Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan
murni ditambahkan ke dalam campuran bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu
campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang
ditambahkan (kadar yang sebenarnya). Dalam metode penambahan baku, sampel
dianalisis lalu sejumlah tertentu analit yang diperiksa ditambahkan ke dalam sampel
dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang
sebenarnya (hasil yang diharapkan). Dalam kedua metode tersebut, persen peroleh
kembali dinyatakan sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang
sebenarnya (Harmita, 2004). Biasanya persyaratan untuk recovery adalah tidak boleh
lebih dari 5% (Riyadi, 2009).
Keseksamaan (Precision)
Precision atau presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara
hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika
prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran
yang homogen. Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif
(koefisien variasi). Presisi dapat dinyatakan sebagai repeatability (keterulangan) atau
reproducibility (ketertiruan) (Riyadi, 2009).
Repeatability adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis
yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek. Repeatability
dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap sampel-sampel
identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi memberikan ukuran keseksamaan
pada kondisi yang normal. Reproducibility adalah keseksamaan metode jika
dikerjakan pada kondisi yang berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam
laboratorium-laboratorium yang berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut,
dan analis yang berbeda pula (Riyadi, 2009).
Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif
(RSD) atau koefisien variasi (CV) 2% atau kurang. Akan tetapi kriteria ini sangat
fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah sampel, dan
kondisi laboratorium. Dari penelitian dijumpai bahwa koefisien variasi meningkat
dengan menurunnya kadar analit yang dianalisis. Percobaan keseksamaan dilakukan
terhadap paling sedikit enam replika sampel yang diambil dari campuran sampel
dengan matriks yang homogen (Riyadi, 2009).
Dasar perhitungan presisi yaitu :


(Rivai, 2013)
Nilai simpangan baku relatif atau disebut juga koefisien variasi (SBR, RSD, KV)
akan meningkat dengan menurunnya konsentrasi analit. Horwitz telah melakukan
kajian terhadap 3000 hasil analisis yang diambil dari studi kolaboratif AOAC dan
memberikan hasil sebagai berikut :



Di mana C adalah konsentrasi larutan yang dibuat (Rivai, 2013).
Selektivitas (Spesifisitas)
Spesifisitas suatu metode analisis adalah kemampuan suatu metode analisis untuk
mengukur analit yang dituju secara tepat dan spesifik dengan adanya komponen-
komponen lain dalam matriks sampel seperti adanya penganggu, prekursor sintetik,
produk degradasi, dan komponen matriks (Swartz & Krull, 1997).
Selektivitas dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias)
metode analisis yang dipakai untuk menganalisis sampel yang mengandung bahan
yang ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya,
dan dibandingkan dengan hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain
yang ditambahkan. Dalam spektrofotometri, selektivitas dapat ditingkatkan dengan
reaksi kimia menggunakan reagen yang selektif (Rivai, 2013).
Linieritas
Linearitas adalah kemampuan metode analisis memberikan respon proporsional
terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah
variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik
data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi
analit. Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui persamaan garis
lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit.
Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis
regresi linier y = a + bx. Hubungan linier yang r = +1 atau 1 bergantung pada arah
garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang
digunakan. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual (Sy).
Dengan menggunakan kalkulator atau perangkat lunak komputer, semua perhitungan
matematik tersebut dapat diukur (Riyadi, 2009).
Batas Deteksi (Limit of Detection) dan Batas Kuantitasi (Limit of Quatification)
LOD atau batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko.
Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai
kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan
seksama. Pada analisis instrumen, batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur
respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko. Formula
di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan. (Riyadi, 2009).

Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)
k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi
Sb = simpangan baku respon analitik dari blangko
Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon
terhadap konsentrasi
= slope (b pada persamaan garis y = a + bx)
(Riyadi, 2009)

Daftar Pustaka
Daniati, Y. 2012. Validasi Metode Pengujian Kadar Pati dalam Tepung Terigu dengan
Metode Polarimetri Modifikasi Ewer. Available online at
http://bpibjakarta.customs.go.id/dokumen/VALIDASI%
20PATI%20DALAM%20TEPUNG%20TERIGU%20YUNIA.pdf [diakses 11
Juni 2013].
Riadi, W. 2009. Validasi Metode Analisis. Available online at http://www.chem-is-
try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/validasi-metode-analisis/ [diakses 11 Juni
2013].
Swartz, M. E. & Krull I. S. 1997. Analytical Method and Validation. Marcell Dekker.
USA.
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi dan Cara Perhitungannya.
Departemen Farmasi FMIPA-UI. Depok.