Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TUTORIAL

BLOK GERIATRI SKENARIO II





KELOMPOK A8 :
Achmad Nurul Hidayat G0011003
Aprilisasi P.S. G0011031
Dea Saufika Najmi G0011063
Fitria Dewi Larassuci G0011097
Ines Aprilia Safitri G0011115
Risky Pratiwi P G0011177
Azamat Agus Sampurna G0011047
Gefaritza Rabbani G0011099
Jati Febriyanto Adi L.P. G0011121
Riko Saputra G0011173
TUTOR :
dr. Dian Nugroho


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2013
BAB I
PENDAHULUAN

Inkontinensia urin adalah keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu
yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya, yang
mengakibatkan masalah sosial dan higienis penderitanya. Inkontinensia urin
merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai pada orang berusia
lanjut. Berbagai komplikasi dapat menyertai inkontinensia urin seperti infeksi
saluran kemih, kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi,
mudah marah, dan rasa terisolasi.
Pihak kesehatan, baik dokter maupun tenaga medis yang lain tidak jarang
tidak memahami tatalaksana inkontinensia urin dengan baik atau bahkan tidak
mengetahui bahwa inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan yang dapat
diselesaikan. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mengatasi masalah
inkontinensia urin, baik bersifat nonnfarmakologis maupun terapi obat dan
pembedahan jika diketahui dengan tepat jenis atau tipe inkontinensianya.

SKENARIO 1

Trilogi Eyang Yoso II : Kesedihan Sang Pejuang Sang Pejuang

Eyang Yoso, kini berusia 78 tahun, dibawa ke poliklinik geriatri oleh
cucunya karena mengeluh berulang kali kencing di malam hari. Akhir-akhir ini
sering marah-marah, gaduh gelisah dan tidak bisa tidur. Sejak istrinya meninggal
satu bulan yang lalu, sering minum obat tidur dari dokter umum.
Pada pemeriksaan tanda vital Tekanan Darah 150/90 mmHg. Hasil
pemeriksaan urin rutin leukosit 75/LPB, nitrit positif. Hasil GDS 350 mg/dl,
creatinin 2.0 mg/dl, proteinuri (+3). Setelah diperiksa prostat dengan rectal
touche didapatkan sulcus medianus datar. Juga dilakukan pemeriksaan Geriatric
Depression Scale, Mini Mental Scale Examination, konsultasi bagian psikiatri.
Oleh dokter disarankan di rawat di rumah sakit.



BAB II
DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA

A. Seven J ump
1. Langkah I: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah
dalam skenario
A. GDS : Geriatric Depression Scale (GDS) merupakan tes untuk
skrining depresi yang mudah untuk dinilai dan dikelola,
terdiri dari 30 pertanyaan atau 15 pertanyaan. Dirancang
untuk mengeliminasi hal-hal somatik, seperti gangguan tidur
yang mungkin tidak spesifik untuk depresi pada lansia
B. MMSE : Suatu alat tes yang digunakan secara luas untuk menilai dan
mengevaluasi kerusakan fungsi kognitif termasuk didalamnya
untuk mengukur orientasi terhadap tempat dan waktu,
memori segera, memori verbal, perhitungan, dan bahasa.
C.Proteinuria : Adanya protein di dalam urin manusia yang melebihi nilai
normalnya
D. Kreatinin : Produk sisa dari perombakan kreatin fosfat yang terjadi di
otot.
E. Nitrit positif : Nitrit yg positif mengindikasikan adanya bakteri dlm urine.
Bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK)
membuat enzim yang mengubah nitrat menjadi nitrit.

2. Langkah II: Menentukan/mendefinisikan permasalahan
1. Keluhan berulang kali kencing di malam hari
2. Akhir-akhir ini sering marah-marah, gaduh gelisah dan tidak bisa tidur
3. Sering minum obat tidur dari dokter umum sejak istrinya meninggal satu
bulan yang lalu
4. Tekanan Darah 150/90 mmHg
5. Hasil pemeriksaan urin rutin leukosit 75/LPB, nitrit positif
6. Hasil GDS 350 mg/dl, creatinin 2.0 mg/dl, proteinuri (+3)
7. Hasil pemeriksaan rectal touche didapatkan sulcus medianus datar
8. Dilakukan pemeriksaan Geriatric Depression Scale, Mini Mental Scale
Examination, konsultasi bagian psikiatri
9. Oleh dokter disarankan di rawat di rumah sakit.

3. Langkah III: Menganalisis permasalahan dan membuat pertanyaan mengenai
permasalahan (tersebut dalam langkah II)
1) A. Apa kaitan jenis kelamin dan usia dengan keluhan pasien?
B. Apakah penyebab pasien mengalami kencing berulang pada malam
hari?
C. Apa sajakah komplikasi dari kencing berulang pada malam hari?
2) A. Apa yang menyebabkan behaviour dari pasien tersebut?
B. Bagaimana prinsip-prinsip psikogeriatri? Masalah apa sajakah yang
bisa terjadi pada LANSIA?
C. Mengapa pasien tidak bisa tidur? Bagaimana fisiologi tidur pada
LANSIA? Bagaimana siklus tidur pada LANSIA?
3) A. Apa sajakah efek samping dari penggunaan obat tidur dalam jangka
panjang?
B. Apa Drug of Choice obat tidur pada LANSIA? Keadaan seperti apa
yang harus diberi obat tidur?
4) Bagaimana hubungan antara tekanan darah pada usia 78 tahun dengan
tekanan darah pada usia 60 tahun?
5) A. Bagaimana interpretasi hasil dan indikasi dari pemeriksaan :
i. urine rutin
ii. Gula Darah Sewaktu
iii. Kreatinin
iv. Proteinuria +3
B. Bagaimana perubahan faal ginjal pada LANSIA?
6) A. Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik pada pasien?
B. Bagaimana hubungan antara hasil pemeriksaan fisik dengan keluhan
pasien?
7) A. Apa sajakah pemeriksaan psikiatri pada LANSIA? Bagaimana
interpretasi hasil dari pemeriksaan tersebut?
B. Kondisi geriatri seperti apakah yang harus dirujuk ke psikiater?
C. Bagaimana tatalaksana yang baik terkait psikogeriatri?
8) A. Mengapa pasien pada skenario disarankan untuk dirawat di RS?
B. Bagaimana penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ini?

4. Langkah IV : Menginventarisasi permasalahan secara sistematis dan
pernyataan sementara mengenai permasalahan pada Langkah III.

5. Langkah V : Merumuskan tujuan pembelajaran.
1) A. Apa yang menyebabkan behaviour dari pasien tersebut?
B. Bagaimana fisiologi tidur pada LANSIA? Bagaimana siklus tidur pada
LANSIA?
2) A. Apa sajakah efek samping dari penggunaan obat tidur dalam jangka
panjang?
B. Apa Drug of Choice obat tidur pada LANSIA? Keadaan seperti apa
yang harus diberi obat tidur?
3) Bagaimana hubungan antara tekanan darah pada usia 78 tahun dengan
tekanan darah pada usia 60 tahun?
4) A. Bagaimana interpretasi hasil dan indikasi dari pemeriksaan urine rutin,
Gula Darah Sewaktu, Kreatinin dan proteinuria?
B. Bagaimana perubahan faal ginjal pada LANSIA?
5) A. Apa sajakah pemeriksaan psikiatri pada LANSIA? Bagaimana
interpretasi hasil dari pemeriksaan tersebut?
B. Kondisi geriatri seperti apakah yang harus dirujuk ke psikiater?
C. Bagaimana tatalaksana yang baik terkait psikogeriatri?
6) A. Mengapa pasien pada skenario disarankan untuk dirawat di RS?
B. Bagaimana penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ini?

6. Langkah VI :
- Mengumpulkan informasi baru.
- Mahasiswa mencari informasi di rumah.

7. Langkah VII : Melaporkan, membahas dan menata kembali informasi baru
yang diperoleh.
Hasil dari Langkah VII akan dijelaskan di Pembahasan.

B. Pembahasan
1. a.) Apa kaitan jenis kelamin dan usia dengan keluhan pasien?
Keluhan sering kencing di malam hari (nocturia) salah satunya
disebabkan oleh inkontinensia urin yang dialami oleh pasien. Sekitar
50% usia lanjut di instalasi perawatan kronis dan 11-30% di
masyarakat mengalami inkontinensia urin. Prevalensi nya meningkat
seiring dengan paningkatan umur. Perempuan lebih sering mengalami
inkontinensia urin daripada laki-laki dengan perbandingan 1,5:1
(Sudoyo, 2006).
Survei inkontinensia urin yang dilaukan oleh Divisi Geriatri
Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo pada
208 orang usia lanjut di lingkungan Pusat Santunan Keluarga
(PUSAKA) di Jakarta (2002) mendapatkan angka kejadian
inkontinensia urin tipe stres sebesar 32,2% (Sudoyo, 2006).

b.) Apakah penyebab pasien mengalami kencing berulang pada
malam hari?
Inkontinensia urin meningkat seiring proses menua. Akan
tetapi, proses menua bukanlah penyebabnya melainkan hanya faktor
predisposisi penyakit ini. Proses penuaan pada manusia (pria maupun
wanita) menyebabkan perubahan anatomis dan fisiologis urogenital
bawah. Hal ini terkait dengan kadar hormon yaitu terjadi penurunan
produksi androgen pada pria maupun estrogen pada wanita (Sudoyo,
2006).
Hal ini akan berdampak pada perubahan morfologis kandung
kemih (vesika urinaria) manusia berupa timbulnya fibrosis dan
penurunan kandungan kolagen pada dinding vesika urinaria. Selain
itu, fungsi kontraktil vesika urinaria juga tidak efektif lagi. Hal ini
akan mengakibatkan terbentuknya trabekulasi pada otot detrusor dan
divertikel pada dinding dalam vesika urinaria. Sedangkan, pada
mukosa vesika urinaria terjadi atrofi, perubahan vaskularisasi
submukosa, dan penipisan otot uretra sehingga terjadi penurunan
penutupan uretra oleh otot tersebut (Sudoyo, 2006).
Terdapat 4 tipe Inkontinensia Urin yaitu sebagai berikut:
1. Inkontinensia urin tipe urgensi, yaitu ditandai dengan
ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi berkemih
muncul. Manifestasinya berupa urgensi , frekuensi , dan nokturia
2. Inkontinensia urin tipe stres, yang terjadi akibat tekanan
intraabdominal yang meningkat seperti batuk, bersin, atau
mengejan, terutama terjadi pada perempuan usia lanjut yang
mengalami hipermobilitas uretra dan lemahnya otot dasar panggul
akibat seringnya melahirkan, operasi dan penurunan estrogen.
3. Inkontinensia urin tipe overflow, yaitu meningkatnya tegangan
kandung kemih akibat obstruksi prostat hipertrofi pada laki-Iaki
atau lemahnya otot detrusor akibat diabetes melitus, trauma
medula spinalis, obat-obatan dapat menimbulkan. Manifestasi
klinisnya berupa berkemih sedikit, pengosongan kandung kemih
tidak sempurna, dan nokturia.
4. Inkontinensia urin tipe fungsional, yaitu terjadi akibat penurunan
berat fungsi fisik dan kognitif sehingga pasien tidak dapat
mencapai toilet pada saat yang tepat. Hal ini terjadi biasanya pada
demensia berat, gangguan mobilitas
c.) Apa sajakah komplikasi dari kencing berulang pada malam hari?
Kencing berulang pada malam hari menyebabkan kualitas tidur
menurun, berakibat menurunnya fungsi fisik dan kognitif. Misalnya
merasa kelelahan di waktu siang. Selain itu juga meningkatkan
insidensi jatuh pada usia lanjut. Jatuh dapat meningkatkan morbiditas
dan mortalitas (Osman, 2013). Selain itu, berbagai komplikasi dapat
menyertai inkontinensia urin seperti infeksi saluran kemih, kelainan
kulit, gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi, mudah
marah, dan rasa terisolasi (Sudoyo, 2006).

2. a.) Apa yang menyebabkan behaviour dari pasien tersebut?
Salah satu kemungkinan penyebab behaviour pasien adalah
adanya tipe kepribadian mandiri pada sang Pasien yang menyebabkan
adanya Power post syndrome. Selain itu adanya riwayat istri dari sang
pasien meninggal juga dapat menyebabkan depresi pada pasien dan
memicu behaviour tersebut muncul.
Depresi bukan merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh
patologi tunggal, tetapi biasanya bersifat multifaktorial. Pada usia
lanjut, dimana stress lingkungan sering menyebabkan depresi dan
kemampuan adaptasi menurun, akibat depresi pada usia lanjut
seringkali tidak sebaik pada usia muda (Darmojo, 1999).
Gejala depresi pada usia lanjut sering hanya berupa apatis dan
penarikan diri dari aktivitas sosial, gangguan memori, perhatian serta
memburuknya kognitif secara nyata. Tanda disfori atau sedih yang jelas
sering kali tidak terdapat (Darmojo, 1999).
Depresi usia lanjut seringkali kurang atau tidak terdiagnosis
karena hal-hal berikut (Darmojo, 1999) :
- Penyakit fisik yang diderita seringkali mengacaukan gambaran
depresi, antara lain mudah lelah dan penurunan berat badan.
- Golongan lanjut usia seringkali menutupi rasa sedihnya dengan
justru menunjukkan bahwa dia lebih aktif.
- Kecemasan, obsesionalitas histeria dan hipokondria yang sering
merupakan gejala depresi justru menutupi depresinya.
- Masalah sosial yang juga diderita seringkali membuat gambaran
depresi menjadi lebih rumit.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka dalam setiap asesmen
geriatri seringkali disertakan form pemeriksaan untuk depresi, yang
seringkali berupa skala depresi geriatrik (GDS) (Darmojo, 1999).
Selain itu, depresi dapat disebabkan oleh pengaruh obat-obatan
yang diminum pasien. Pada kasus ini dicurigai pasien meminum sedatif
hipnotik. Barbiturat dapat menyebabkan depresi. Selain itu tidak
menutup kemungkinan perilaku pasien seperti marah-marah dan gelisah
dapat mengarah ke Behavioral Psychological Dementia.

b.) Bagaimana prinsip-prinsip psikogeriatri? Masalah apa
sajakah yang bisa terjadi pada LANSIA?
1. Teori-teori geriatri
Mengenai masalah psikologik pada lansia, terdapat beberapa
teori seperti disengagement theory yang menunjukkan adanya
penarikan diri dari masyarakat dan diri pribadi lansia satu sama lain.
Teori ini dulunya dianggap mensukseskan proses menua. Namun
sekarang muncul anggapan bahwa sosial involvement (keterlibatan
sosial) dianggap lebih penting dan meyakinkan.
Selain itu daya ingat (memori) lansia memang banyak menurun
dari lupa sampai pikun bahkan demensia. Biasanya mereka masih
ingat betul peristiwa yang telah lama terjadi, namun malah lupa
mengenai hal-hal yang baru terjadi. Dibawah ini terdapat beberapa
stereotipe psikologik orang lansia. Biasanya tipe stereotipe ini sesuai
dengan pembawaan lansia pada saat muda. Tipe yang dikenal adalah
sebagai berikut :
a. Tipe konstruktif
Integritas baiak, dapat menikmati hidupnya, mempunyai
toleransi tinggi, humoristik, fleksibel, tahu diri.
Sifat ini dibawa sejak muda
Dapat menerima fakta proses menua, mengalami masa pensiun
dan menghadapi masa akhir dengan tenang.
b. Tipe ketergantungan
Pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tidak mempunyai
inisiatif, bertindak tidak praktis.
Biasanya dikuasai istrinya
Senang mengalami pensiun, banyak makan dan minum, tidak
suka bekerja, senang berlibur.
c. Tipe defensif
Dulu mempunyai pekerjaan/jabatan tidak stabil
Selalu menolak bantuan
Emosinya tidak dapat dikontrol
Memegang teguh pada kebiasaannya
Bersifat kompulsif aktif
Takut menghadapi menjadi tua dan tidak menyenangi masa
pensiun
d. Tipe bermusuhan
Menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalannya
Selalu mengeluh, agresif, curiga, takut mati, iri hati pada orang
yang muda
Pekerjaan dulunya tidak stabil
Menjadi tua dianggapnya tidak ada hal-hal yang baik
e. Tipe membenci/menyalahkan diri sendiri
Kritis, menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi
Mengalami penurunan kondisi sosio-ekonomi
Mempunyai perkawinan yang tidak bahagia
Merasa menjadi korban dari keadaan
Menerima fakta pada proses menua
Tidak iri pada yang muda
Merasa sudah cukup mempunyai apa yang ada
Menganggap kematian membebaskannya dari penderitaan
Angka bunuh diri pada lansia tipe ini tinggi, apalagi untuk
mereka yang hidup sendirian
Orang lanjut usia juga memiliki kebutuhan tersendiri yang
harus diperhatikan karena kebutuhan LANSIA tidak bisa disamakan
dengan orang dewasa pada umumnya, antara lain :
- Makanan yang cukup dan sehat
- Pakaian dan kelengkapannya
- Perumahan/tempat tinggal/ tempat berteduh
- Perawatan dan pengawasan kesehatan
- Bantuan teknis praktis sehari-hari/bantuan hukum
- Transportasi umum bagi lansia
- Kunjungan/ teman bicara/ informasi
- Rekreasi dan hiburan sehat lainnya
- Rasa aman dan tentram
- Bantuan alat-alat pancaindera
Namun, yang lebih penting diantara lainnya adalah
mendapatkan cukup perhatian (di-orang-kan). Berikut ini tabel
prognosis untuk lansia sesuai kondisi fisik dan psikis pasien:
Baik Buruk
<70 tahun >70 tahun
Riwayat keluarga ada penderita
depresi/manik
Terdapat penyakit fisik serius
dan disabilitas
Riwayat pernah depresi berat
(sembuh sempurna) sebelum usia 50
tahunn
Riwayat depresi terus-menerus
selama 2 tahun
Kepribadian ekstrovert dan
temperamen yang datar (tidak
berubah-ubah)
Terbukti ada kerusakan otak,
misal gejala neurologik adanya
demensia


c.) Bagaimana fisiologi tidur pada LANSIA? Bagaimana siklus tidur
pada LANSIA?
Fisiologi tidur dapat diterapkan melalui gambaran aktivitas sel-sel
otak selama tidur, dan dapat direkam dengan elektroensefalograf (EEG).
Untuk merekam otak orang yang sedang tidur, digunakan poligrafi EEG.
Dengan cara ini kita dapat erekam stadium tidur adalah sebagai berikut:
1. Stadium jaga (wake)
EEG : Pada keadaan rileks dan mata tertutup, gambaran didominasi
oleh gelombang alfa. Tidak ditemukan adanya kumparan tidur dan
kompleks K.
Elektrookuloagraf (EOG) : Gerakan mata berkurang, kadang-kadang
terdapat artefak yang disebabkan oleh gerakan kelopak mata
Elektromiograf (EMG) : Kadang-kadang tonus otot meninggi
2. Stadium I
EEG : Terdiri dari gelombang campuran alfa, beta dan kadang-kadang
teta. Tidak terdapat kumparan tidur, kompleks K atau gelombang delta
EOG : Tidak terlihat aktivitas bola mata yang cepat
EMG : Tonus otot menurun dibandingkan dengan stadium W.
3. Stadium II
4. EEG : Terdiri atas gelombang campuran alfa, teta dan delta. Terlihat
adanya kumparan tidur dan kompleks K.
EOG : Tidak terdapat aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Kadang-kadang terlihat peningkatan tonus otot secara tiba-tiba,
menunjukkan bahwa otot-otot tonik belum seluruhnya dalam keadaan
rileks.
5. Stadium III
EEG : Persentase gelombang delta antara 20- 50 %. Tampak
kumparan tidur.
EOG : Tidak tampak aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Gambaran tonus otot yang jelas dari Stadium II.
6. Stadium IV
EEG : Persentase gelombang delta mencapai lebih dari 50%. Tampak
kumparan tidur.
EOG : Tidak tampak aktivitas bola mata yang cepat
EMG : Tonus otot menurun dari pada stadium sebelumnya.
7. Stadium REM (Rapid Eye Movement)
EEG : Terlihat gelombang campuran alfa, beta dan teta. Tidak tampak
gelombang delta, kumparan tidur dan kompleks K.
EOG : Terlihat gambaran REM yang lebar
EMG : Tonus otot sangat rendah. Frekuensi di tinggi dan ereksi.
Stadium I dan II disebut sebagai tidur ringan, sedangkan Stadium III
dan IV sebagai tidur dalam. Stadium I, II, III dan IV disebut Stadium non
REM (NREM).
Stadium REM dikatakan sebagai tidur ringan, sehingga stadium ini
juga disebut sebagai paradoxical leep. Pada stadium REM, individu
mengalami peristiwa mimpi dengan intensitas tinggi sehingga panca indera
ikut terangsang.
Terdapat perubahan tidur secara subjektif dan objektif pada usia
lanjut. Survei epidemiologic menunjukkan bahwa pada usia lanjut yang
tinggal di rumah atau panti werda menunjukkan bahwa 15- 75 persen dari
mereka tidak puas dalam lamanya dan kualitas tidur malam. Pada usia lanjut
wanita sehat secara subjektif lebih merasakan kesulitan tidur dari pada pria.
Yang paling mencolok pada karakteristik tidur pada usia lanjut ialah
konfirmasi poligrafik pada upaya setelah dimulai tidur. Struktur tidur pada
usia lanjut berubah dengan meningkatnya stadium I sehingga terjadi
fragmentasi atau disrupsi dari struktur tidur. Berkurangnya tidur mempunyai
dampak pada pemulihan fungsi tidur.
Orang lanjut usia membutuhkan waktu lebih lama untuk msuk tidur
(berbaring lama di temnpat tidur sebelum tertidur) dan mempunyai lebih
sedikit/lebih pendek waktu tidur nyenyaknya. Pada usia lanjut juga terjadi
perubahan pada irama sirkadian tidur normal yaitu menjadi kurang sensitif
dengan perubahan gelap dan terang. Dalam irama sirkadian yang normal
terdapat peranan pengeluaran hormon dan perubahan temperatur badan
selama siklus 24 jam. Ekskresi kortisol dan GH meningkat pada siang hari
dan temperatur badan menurun di waktu malam. Pada usia lanjut, ekskresi
kortisol dan GH serta perubahan temperatur tubuh berfluktuasi dan kurang
menonjol. Melatonin menurun dengan meningkatnya umur (Sudoyo, 2006).
Penelitian lain menunjukkan kualitas tidur usia lanjut yang sehat,
juga tergantung pada bagaimana aktivitasnya pada siang hari. Bila siang hari
sibuk dan aktif sepanjang hari, pada malam hari tidak ada gangguan dalam
tidurnya, sebaliknya bila siang hari tidak ada kegiatan dan cenderung tidak
aktif, malamnya akan sulit tidur (Sudoyo, 2006).

3. a.) Apa sajakah efek samping dari penggunaan obat tidur dalam
jangka panjang?
Obat tidur memiliki berbagai efek samping seperti rasa kantuk
berkepanjangan keesokan paginya, mulut kering, kebingungan, lupa,
pusing, sakit kepala, sembelit, nyeri otot, dan insomnia lanjutan. Bila
pasien memiliki alergi, obat tidur juga dapat membuat wajah
membengkak, memori yang tidak stabil, dan halusinasi.

b.) Apa Drug of Choiceobat tidur pada LANSIA? Keadaan seperti
apa yang harus diberi obat tidur?
Pada lansia yang mengalami gangguan tidur pada dasarnya lebih
baik memberi tata laksana terlebih dahulu untuk penyakit yang
menyebabkan gangguan tidur pada lansia. Hal ini dikarenakan adanya
penurunan fungsi organ tubuh pada lansia sehingga sebisa mungkin
meminimalisir obat yang masuk. Selain itu, menjaga pola hidup sehat
lebih disarankan bagi lansia yang mengalami gangguan tidur
dibandingkan mengkonsumsi obat tidur dalam jangka waktu lama.
Namun, beberapa keadaan gangguan tidur memang bisa diberikan
obat tidur misalnya obat transkuiliser minor (contoh : golongan
benzodiazepin) dapat diberikan kepada penderita insomnia akut,
diberikan dosis kecil dan dalam waktu yang tidak lama. Selain itu,
akhir-akhir ini obat yang sedang marak dipakai sebagai obat tidur
adalah melatonin, namun sampai saat ini belum menunjukkan hasil
yang memuaskan dalam mengatasi gangguan tidur pada usia lanjut.
Benzodiazepine (BZDs) adalah obat yang paling sering digunakan
untuk mengobati insomnia pada usia lanjut. BZDs menimbulkan efek
sedasi karena bekerja secara langsung pada reseptor benzodiazepine.
Efek yang ditimbulkan oleh BZDs adalah menurunkan frekuensi tidur
pada fase REM, menurunkan sleep latency, dan mencegah pasien
terjaga di malam hari. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pemberian BZDs pada usia lanjut mengingat terjadinya perubahan
farmakokinetik dan farmakodinamik terkait pertambahan umur.
Absorpsi dari BZDs tidak dipengaruhi oleh penuaan akan tetapi
peningkatan masa lemak pada lanjut usia akan meningkatkan drug-
elimination half life, disamping itu pada usia lanjut lebih sensitif
terhadap BZDs meskipun memiliki konsentrasi yang sama jika
dibandingkan dengan pasien usia muda. Pilihan pertama adalah short-
acting BZDs serta dihindari pemakaian long acting BZDs. BZDs
digunakan untuk transient insomnia karena tidak dianjurkan untuk
penggunaan jangka panjang. Penggunaan lebih dari 4 minggu akan
menyebabkan tolerance dan ketergantungan. Golongan BZDs yang
paling sering dipakai adalah temazepam, termasuk intermediate acting
BZDs karena memiliki waktu paruh 8-20 jam. Dosis temazepam
adalah 15-30 mg setiap malam. Efek samping BZDs meliputi:
gangguan psikomotor dan memori pada pasien yang diterapi short-
acting BZDs sedangkan residual sedation muncul pada pasien yang
mendapat terapi long acting BZDs. Pada pasien yang menggunakan
BZDs jangka panjang akan menimbulkan resiko ketergantungan,
daytime sedation, jatuh, kecelakaan dan fraktur.

4. Bagaimana hubungan antara tekanan darah pada usia 78 tahun
dengan tekanan darah pada usia 60 tahun?
Pada kasus hipertensi pada lansia, ada beberapa faktor yang
berperan, antara lain :
Penurunan kadar renin karena menurunnya jumlah nefron akibat
proses menua. Hal ini menyebabkan suatu sirkulus vitiosus :
hipertensi-glomerulo-sklerosis-hipertensi yang berlangsung terus-
menerus.
Penurunan elastisitas pembuluh darah perifer yang pada akhirnya
mengakibatkan hipertensi sistolik saja.
Perubahan ateromatous akibat proses menua menyebabkan
disfungsi endotel yang berlangsung pada pembentukan berbagai
sitokin dan substansi kimiawi lain yang kemudian menyebabkan
resorbsi natrium di tubulus ginjal, meningkatkan proses sklerosis
pembuluh darah perifer dan keadaan lain yang berakibat pada
kenaikan tekanan darah.
Peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium. Pada poin
sebelumnya juga sudah dijelaskan bahwa karena adanya disfungsi
endotel, menyebabkan resorbsi natrium di tubulus ginjal meningkat
sehingga kadar natrium pun di tubuh menjadi meningkat dan pada
akhirnya menyebabkan tekanan darah naik.
Adanya penurunan diastole pada usia tua disebabkan karena adanya
kekakuan pada pembuluh darah pasien (Sudoyo, 2006).


5. a.) Bagaimana interpretasi hasil dan indikasi dari pemeriksaan urine
rutin dan Gula Darah pasien?
Dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolism
protein. Jika terdapat infeksi saluran kemih (urinary tract infection) oleh
kuman dari spesies Enterobacter, Citrobacter, Escherichia, Proteus dan
Klebsiela yang mengandung enzim reduktase, maka nitrat akan diubah
menjadi nitrit.
Seiring dengan proses penuaan, semakin banyak lansia yang
berisiko terhadap terjadinya DM, sehingga sekarang dikenal istilah
prediabetes. Prediabetes merupakan kondisi tingginya gula darah puasa
(gula darah puasa 100-125mg/ dL) atau gangguan toleransi glukosa
(kadar gula darah 140- 199mg/dL, 2 jam setelah pembebanan 75 g
glukosa). Modifikasi gaya hidup mencakup menjaga pola makan yang
baik, olah raga dan penurunan berat badan dapat memperlambat
perkembangan prediabetes menjadi DM. Bila kadar gula darah
mencapai >200 mg/dL maka pasien ini masuk dalam kelas Diabetes
Melitus (DM). Gangguan metabolisme karbohidrat pada lansia meliputi
tiga hal yaitu resistensi insulin, hilangnya pelepasan insulin fase
pertama sehingga lonjakan awal insulin postprandial tidak terjadi pada
lansia dengan DM, peningkatan kadar glukosa postprandial dengan
kadar gula glukosa puasa normal (Kurniawan, 2010).
Pemeriksaan kreatinin dilakukan untuk mengetahui keadaan ginjal
seseorang, apakah ada kerusakan ginjal. Nilai rujukan untuk kreatinin
urin untuk Laki-laki dewasa : 0,7-1,2 mg/dL; Perempuan dewasa : 0,5-
0,9 mg/dL; Sampel Urine Laki-laki : 1.000-2.000 mg/24 jam; Sampel
Urine Perempuan : 800-1.800 mg/24 jam; Sampel Urin pagi pertama
Laki-laki : 39-259 mg/dL; Sampel Urin pagi Perempuan : 28-217
mg/dL. Pada pasien di skenario terdapat kenaikan kadar kreatinin urin
yang menandakan adanya kerusakan ginjal pada pasien.
Setidaknya tiga sampel urin harus diperiksa dengan stick testing
untuk mengkonfirmasi adanya proteinuria persisten. Ini memberikan
estimasi kasar konsentrasi protein sebagai berikut (Kallen, 2008) :
Trace = 5-20 mg / dL.
1 + = 30 mg / dL.
2 + = 100 mg / dL.
3 + = 300 mg / dL.
4 + = lebih besar dari 2.000 mg / dL

b.) Bagaimana perubahan faal ginjal pada LANSIA?
Proses menua menyebabkan jumlah nefron (unit fungsional ginjal
yg terdiri dari glomerolus dan tubulus) berkurang. Setelah usia 40
tahun, manusia akan kehilangan 10% jumlah nefron dalam ginjalnya.
Karena umur pasien 78 tahun, jadi eyang yoso telah kehilangan hampir
30% nefron ginjalnya. Sedangkan, fungsi nefron adalah filtrasi dan
reabsorbsi. Terutama protein, dia akan di filtrasi oleh glomerolus dan
jika masih ada yg lolos, maka protein dengan diameter < 20kDal akan
direabsorbsi oleh tubulus. Jika jumlah glomerolus dan tubulus
berkurang, kemungkinan akan terjadi peningkatan ekresi protein
melalui urin. Begitu pula dengan kreatinin, karena produk metabolisme
kreatin ini lebih besar dari ureum dan impermeabel dengan membran
tubulus, maka langsung dieksresikan melalui urin. (Guyton, 2007).

6. a.) Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik pada pasien?
Pada pasien ini didapatkan kecurigaan yang mengarahkan kepada
BPH lewat pemeriksaan sulkus medianus prostat yang mendatar.
Sedangkan BPH dapat menyebabkan komplikasi berupa Infeksi
Saluran Kemih, yang didukung pada penemuan Leukosit yang berlebih
dan nitrit positif.

b.) Bagaimana hubungan antara hasil pemeriksaan fisik dengan
keluhan pasien?
Benign Prostate Hypertrophy (BPH) dan nokturia merupakan
fenomena yang umum terjadi pada pria berkaitan dengan umur tua.
BPH menurunkan kapasitas kandung kemih dengan 2 cara. Pertama,
melalui kontraksi nonvolunter muskulus detrusor (detrusor
overactivity) selama pengisian kandung kemih. Kedua, obstruksi yang
diakibatkan hiperplasia prostat itu menyebabkan pengosongan
kandung kemih yang inkomplit sehingga urin masih tersisa dalam
kandung kemih setelah berkemih. Ketika kandung kemih diisi oleh
urin baru, padahal masih ada urin sisa akibat pengosongan yang
inkomplit, menyebabkan overdistensi kandung kemih dan akibatnya
adalah penurunan efisiensi kontraksi muskulus detrusor. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa pada pria usia tua sering mengeluhkan pancaran
berkemih yang lemah ketika terbangun untuk berkemih.

7. a.) Apa sajakah pemeriksaan psikiatri pada LANSIA? Bagaimana
interpretasi hasil dari pemeriksaan tersebut?
Pemeriksaan Psikiatri pada Lansia terdiri dari (Darmojo, 2011):
1. Riwayat psikiatrik
Bisa didapatkan dari alo- atau oto- amamnesis. Riwayat psikiatrik
lengkap termasuk identifikasi awal (nama, usia, jenis kelamin, status
perkawinan), keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu (termasuk gangguan fisik yang pernah diderita),
riwayat pribadi dan riwayat keluarga, pemakaian obat yang sedang
atau pernah digunakan.

Penderita yang berusia 65 keatas sering memiliki keluhan
subyektif adanya gangguan daya ingat yang ringan, seperti tidak dapat
mengingat kembali nama orang atau keliru meletakkan benda.
Gangguan daya ingat yang berhubungan dengan usia tersebut perlu
dibedakan dengan kecemasan pada saat dilakukan pemeriksaan.
Riwayat medis harus meliputi semua penyakit berat, kehilangan
kesadaran, nyeri kepala, masalah pendengaran dan penglihatan , serta
riwayat penggunaan alkohol.
Riwayat kanak-kanak, remaja, dan dewasa penderita dapat
memberikan informasi tentang kepribadian pramorbidnya dan
memberikan petunjuk penting tentang strategi cara dan mekanisme
pertahanan jiwa yang mungkin digunakan oleh penderita usia lanjut
tersebut dalam keadaan stress. Dan juga perlu dicari riwayat
ketidakmampuan belajar atau adanya disfungsi serebral.
Hubungan dengan teman-teman , olahraga , hobi , aktivitas
khusus dan pekerjaan juga perlu ditanyakan secara rinci. Riwayat
pekerja harus termasuk perasaan penderita tentang pekerjaannya,
hubungan dengan teman sekerja, masalah dengan atasan, riwayat
ganti-ganti pekerjaan dan sikap terhadap pensiun. Kepada penderita
juga harus ditanyakan tentang rencana masa depan. Apa harapan dan
kecemasan/katakutan penderita. (Gunandi, 1984).
Riwayat keluarga harus termasuk penjelasan tentang sikap orang
tua penderita dan adaptasi terhadap ketuaan mereka. Jika mungkin
informasi tentang kamatian orang tua, riwayat gangguan jiwa dalam
keluarga. Situasi sosial penderita sekarang harus dinilai. Siapa yang
merawat penderita, apakah penderita mempunyai anak. Bagaimana
karakteristik hubungan orangtua-anak. Riwayat sosial ekonomi
dipakai untuk menilai peran ekonomi dalam mengelolah penyakit
penderita dan membuat anjuran terapi yang realistik (Gunandi , 1982).
Riwayat perkawinan, termasuk penjelasan tentang pasangan hidup
dan karakteristik hubungan. Jika penderita adalah janda atau duda,
harus digali bagaimana rasa duka citanya dulu saat ditinggal mati oleh
pasangannya. Jika kehilangan pasangan hidup terjadi dalam satu tahun
terakhir, penderita dalam keadaan resiko tinggi mengalami peristiwa
fisik atau psikologik yang merugikan.
Riwayat seksual penderita termasuk aktivitas seksual, orientasi
libido, masturbasi, hubungan gelap diluar perkawinan dan gejala
disfungsi seksual.
2. Pemeriksaan status mental
Pemeriksaan status mental meliputi bagaimana penderita berpikir
(proses pikir), merasakan dan bertingkah laku selama pemeriksaan.
Keadan umum penderita adalah termasuk penampilan, aktivitas
psikomotorik, sikap terhadap pemeriksa dan aktivitas bicara.
Gangguan motorik, antara lain gaya berjalan menyeret, posisi
tubuh membungkuk, gerakan jari seperti memilin pil, tremor dan
asimetri tubuh perlu dicatat. Banyak penderita depresi mungkin
lambat dalam berbicara dan gerakannya. Wajah seperti topeng
terdapat pada penderita penyakit Parkinson Bicara penderita dalam
keadaan teragitasi dan cemas mungkin tertekan. Keluar air mata dan
menangis ditemukan dalam gangguan depresi dan gangguan kognitif,
terutama jika penderita merasa frustasi karena tidak mampu menjawab
pertanyaan pemeriksa. Adanya alat bantu dengar atau indikasi lain
bahwa penderita menderita gangguan pendengaran, misalnya selalu
minta pertanyaan diulang, harus dicatat (Gunandi, 1984).
Sikap penderita pada pemeriksa untuk berkerjasama, curiga,
bertahan dan tak berterimakasih dapat memberi petunjuk tentang
kemungkinan, adanya reaksi transferensi. Penderita lanjut usia dapat
bereaksi pada dokter muda seolah-olah dokter adalah seorang tokoh
yang lebih tua, tidak peduli terhadap adanya perbedaan usia.
Penilaian fungsi, Penderita lanjut usia harus diperiksa tentang
kemampuan mereka untuk mempertahankan kemandirian dan untuk
melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Aktifitas tersebut
adalah termasuk ke toilet, menyiapkan makanan , barpakaian,
berdandan dan makan. Derajat kemampuan fungsional dalam perilaku
sehari-hari adalah suatu pertimbangan penting dalam menyusun
rencana terapi selanjutnya.
Mood, perasaan dan afek, Di Negara lain, bunuh diri adalah salah
satu penyebab utama kematian pada golongan usia lanjut. Oleh
karenanya pemeriksaan ide bunuh diri pada penderita lanjut usia
sangat penting. Perasaan kesepian, tidak berguna, putus asa dan tidak
berdaya adalah gejala depresi . Kesepian merupakan alasan yang
paling sering dinyatakan oleh para lanjut usia yang ingin bunuh diri.
Depresi merupakan resiko yang tinggi untuk bunuh diri ( Gunandi,
1984). Pemeriksa harus secara spesifik menanyakan tentang adanya
pikiran bunuh diri, apakah penderita merasa kehidupannya tidak
berharga lagi, apakah ia merasa lebih baik mati atau jika mati tidak
membebani orang lain.
Gangguan persepsi, Halusinasi dan ilusi pada lanjut usia
merupakan fenomena yang disebabkan oleh penurunan ketajaman
sensorik. Pemeriksa harus mencatat apakah penderita mengalami
kebingungan terhadap waktu atau tempat selama episode halusinasi.
Adanya kebingungan menyatakan suatu kondisi organik. Halusinasi
dapat disebabkan oleh tumor otak dan patologi fokal yang lain.
Pemeriksaan yang lebih lanjut diperlukan untuk menentukan diagnosa
pasti.
Fungsi visuospasial, Suatu penurunan kapasitas visuospasial
adalah normal dengan lanjutnya usia.meminta penderita untuk
mencontoh gambar atau menggambar. Pemeriksaan neuropsikologis
harus dilaksanakan jika fungsi visuospasial sangat terganggu.
Proses berfikir, Gangguan pada progresi pikiran adalah
neologisme, gado-gado kata, sirkumstansialitas, asosiasi longgar,
asosiasi bunyi, flight of ideas, dan retardasi. Hilangnya kemampuan
untuk mengerti pikiran abstrak mungkin tanda awal dementia. Isi
pikiran harus diperiksa adanya obsesi, preokupasi somatic, komplusi
atau waham. Gagasan tentang bunuh diri dan pembunuhan harus
dicari.
Sensorium dan kognisi, Sensorium mempermasalahkan fungsi
dari indra tertentu, sedangkan kognisi memperasalahkan informasi dan
intelektual.
Kesadaran, Indikator yang peka terhadap disfungsi otak adalah
adanya perubahan kesadaran, adanya fluktuasi tingkat kesadaran atau
tampak letargik. Pada keadaan yang berat penderita dalam keadaan
somnolen atau strupor.
Orientasi, Gangguan orientasi terhadap waktu, tempat dan orang
berhubungan dengan gangguan kognisi.gangguan orientasi sering
ditemukan pada gangguan kognitif, gangguan kecemasan, gangguan
konversi, dan gangguan kepribadian terutama selama episode fisik
atau lingkungan yang tidak mendukung. Pemeriksa harus menguji
orientasi tempat dengan meminta penderita menggambarkan lokasi
saat ini. Orientasi terhadap orang diniai dengan dua cara : apakah
penderita mengenal namanya sendiri serta dokter dan perawat.
Orientasi waktu diuji dengan menanyakan tanggal, hari, bulan dan
tahun.
Daya ingat, Dinilai dalam hal daya ingat jangka panjang, pendek
dan segera. Tes diberikan dengan memberikan angka enam digit dan
penderita diminta untuk mengulangi maju dan mundur. Penderita yang
tak terganggu daya ingatnya dapat mengingat enam angka maju dan
lima angka mundur. Daya ingat jangka panjang diuji dengan
menanyakan tempat tanggal lahir, nama dan hari ulang tahun anak
penderita. Daya ingat jangka pendek diperiksa dengan menyebut tiga
benda pada awal wawancara dan meminta penderita mengingat
kembali benda tersebut diakhir wawancara. Atau dengan memberikan
cerita singkat pada penderita dan penderita diminta untuk mengulangi
cerita tadi secara tepat/persis.
Fungsi intelektual, konsentrasi, informasi dan kecerdasan.
Menghitung dapat diujikan dengan meminta penderita untuk
mengurangi 7 dari angka 100 dan mengurangi 7 lagi dari hasil akhir
dan seterusnya sampai dicapai angka 2. Pemeriksa mencatat respon
sebagai dasar untuk pengujian selanjutnya. Pengetahuan umum adalah
yang berhubungan dengan kecerdasan. Penderita ditanya nama
presiden Indonesia, nama kota besar di Indonesia. Pemeriksa harus
memperhitungkan tingkat pendidikan penderita dalam menilai hasil
dari beberapa pengujian tersebut.
Membaca dan menulis, Penting bagi klinisi untuk memeriksa
kemampuan membaca dan menulis dan menentukan apakah penderita
mempunyai deficit bicara khusus. Pemeriksa dapat meminta penderita
membaca kisah singkat dengan suara keras atau menulis kalimat
sederhana untuk menguji gangguan membaca atau menulis pada
penderita. Apakah menulis dengan tangan kiri atau kanan juga perlu
dicatat.
Pertimbangan, Pertimbangan (judgement) adalah kapasitas untuk
bertindak sesuai dengan berbagai situasi. Apakah penderita
menunjukkan gangguan pertimbangan, apa yang akan dilakukan oleh
penderita, misal apakah penderita mampu membedakan antara orang
kerdil dengan seorang anak.
Selain pemeriksaan di atas, juga terdapat pemeriksaan lain seperti
Geriatric Depression Scale, Mini Mental Scale Examination (MMSE) dan
Indeks Barthel. Geriatric Depression Scale (GDS) merupakan tes untuk
skrining depresi yang mudah untuk dinilai dan dikelola, terdiri dari 30
pertanyaan atau 15 pertanyaan. Dirancang untuk mengeliminasi hal-hal
somatik, seperti gangguan tidur yang mungkin tidak spesifik untuk depresi
pada lansia
MMSE merupakan suatu alat tes yang digunakan secara luas untuk
menilai dan mengevaluasi kerusakan fungsi kognitif termasuk didalamnya
untuk mengukur orientasi terhadap tempat dan waktu, memori segera,
memori verbal, perhitungan, dan bahasa.
Indeks Barthel merupakan suatu instrument pengkajian yang
berfungsi mengukur kemandirian fungsional dalam hal perawatan diri dan
mobilitas serta dapat juga digunakan sebagai kriteria dalam menilai
kemampuan fungsional bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan
keseimbangan. Terdapat 10 indikator yang dinilai, yaitu kemampuan untuk
makan (feeding), mandi (bathing), perawatan diri (grooming), berpakaian
(dressing), buang air kecil (bowel), buang air besar (bladder), penggunaan
toilet (toilet use), transfer (transfers), mobilitas (mobility), dan naik turun
tangga (stairs). Interpretasi hasil dari pemeriksaan ini adalah :
0 20 Ketergantungan penuh
21 61 Ketergantungan berat (sangat tergantung)
62 90 Ketergantungan moderat
91 99 Ketergantungan ringan
100 Mandiri

b.) Kondisi geriatri seperti apakah yang harus dirujuk ke psikiater?
Kondisi geriatri yang harus dirujuk ke psikiater antara lain :
- Terdapat masalah diagnostik serius
- Risiko bunuh diri tinggi
- Pengabaian diri serius
- Agitasi, delusi, halusinasi berat
- Tidak memberi tanggapan dan tidak patuh terhadap
pengobatan
- Memerlukan tindakan/rawat inap

c.) Bagaimana tatalaksana yang baik terkait psikogeriatri?
Tatalaksana dari pasien yang mengalami sleep disorder adalah:
1. Ada jadwal yang jelas kapan harus tidur dan kapan harus
bangun. Hindari tidur di siang hari sehingga dapat
mempermudah tidur di malam hari.
2. Olahraga
3. Jangan beraktivitas di tempat tidur. Jadi gunakan tempat tidur
hanya untuk tidur.


8. a.) Mengapa pasien pada skenario disarankan untuk dirawat di RS?
Adanya beberapa penyakit pada pasien menyebabkan pasien
mengalami gangguan tidur. Kualitas tidur pasien pun menjadi
berkurang. Pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk
mengobati penyakit yang mendasari gangguan tidur ini. Selain itu,
yang pasien butuhkan tidak hanya obat tidur saja. Apabila pasien
dirawat di rumah sakit, pasien bisa mendapat obat-obatan yang bisa
mengobati penyakit yang menyebabkan pasien susah tidur. Apabila
penyakit ini bisa diatasi, kualitas tidur pasien bisa diperbaiki dan
kemudian dapat melakukan aktivitas seperti semula.

b.) Bagaimana penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ini?
Penatalaksaan untuk gangguan psikologis pada pasien didahulukan
intervensi nonfarmakologis, apabila tidak berhasil, intervensi obat
ditujukan pada gejala-gejala psikiatrik yg menonjol misalnya psikosis,
depresi atau ansietas. Terapi farmakologis dimulai dengan monoterapi,
mulai dg 1/3 dosis dewasa kemudian ditititrasi pelan-pelan, tetapi
intervensi nonfarmakologis jangan dihentikan. Terapi depresi pada
lansia harus mempertimbangkan kerentanan psikologis lansia yang
sensitif thd efek samping psikotropik. Hipotensi postural yg sering di
jumpai dapat mempunyai akibat serius dan fatal. Diperburuk oleh efek
sedatif antidepresan dengan kecenderungan besar untuk jatuh,
Telah dikenal beberapa modalitas terapi dalam penatalaksanaan
pasien dengan inkontinensia urin. Umumnya berupa tatalaksana non
farmakologis, farmakologis, maupun pembedahan. Spektrum
modalitas terapi meliputi: terapi non farmakologis meliputi terapi
suportif non spesifik (edukasi, manipulasi lingkungan, pakaian dan
pads tertentu); intervensi tngkah laku (latihan otot dasar panggul,
latihan kandung kemih, penjadwalan berkemih, latihan kebiasaan)
terapi medikamentosa; operasi; dan pemakaian kateter (Sudoyo, 2006).
Pada pasien ini, terapi farmokologis lebih didahulukan untuk
penyakit metabolik yang mendasari keluhan pasien. Sedangkan untuk
keluhan psikologis diterapi dengan intervensi nonfarmakologis.
























DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, Boedhi. 2011. Buku ajar Geriatri Edisi ke-4. Jakarta: Balai penerbit FK
UI.
Kallen RJ et al, 2008. Proteinuria. EMedicine.
Kurniawan, I. 2010. Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia Lanjut. Journal of the
Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Yayasan
Penerbit IDI.
Osman, Nadir I. and Christopher R. Chapple. 2013. Focus On Nocturia In The
Elderly. Diakses dari : http://www.medscape.com/viewarticle/809746_6-
diakses Maret 2014
Sudoyo, Aru W et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.
Penerbit Buku Kedokteran IPD FK UI.













BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Penyakit bersifat multipatologik atau mengenai multiorgan/ sistem,
bersifat degenerative, saling terkait. Keluhan sering kencing di malam hari
(nocturia) yang diialami oleh pasien pada skenario salah satunya disebabkan
oleh inkontinensia urin yang dialami oleh pasien. Inkontinensia urin sendiri
dapat disebabkan oleh Benign Prostate Hyperplasia yang sering terjadi pada
pria usia lanjut dan bisa menyebabkan komplikasi diantaranya adalah Infeksi
Saluran Kemih yang dapat dilihan dari hasil pemerikaan urin rutin pasien.
Penyebab lainnya dari kencing berulang adalah Diabetes Mellitus tipe 2 yang
diderita pasien, status diabetes pasien dibuktikan oleh hasil pemeriksaan Gula
Darah Sewaktu yang melebihi normal.
Selain komplikasi klinis, inkontinensia urin juga berdampak pada
psikologis pasien, salah satunya depresi akibat ketidakberdayaan lansia untuk
hidup mandiri. Kondisi psikiatrik pasien juga dapat memperparah penyakit
fisik yang diderita pasien. Sehingga terdapat keterkaitan antara satu kondisi
dengan kondisi lainnya. Penatalaksanaan pada pasien geriatri sebisa mungkin
menghindari polifarmasi, sehingga terapi farmakologis didahulukan untuk
penyakit yang paling membutuhkan penanganan.

SARAN
Diharapkan supaya mahasiswa lebih mempersiapkan diri ketika
melakukan kegiatan tutorial sehingga diskusi dapat berjalan lebih lancar.

Anda mungkin juga menyukai