Anda di halaman 1dari 12

Tugas Tutorial Blok XV

PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG











Oleh :
Yuyun Mawaddatur Rohmah
NIM : 082010101034


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011
Pemeriksaan Lapang Pandang
Nervus optikus (N. II) merupakan saraf sensorik khusus untuk fungsi penglihatan.
Keluhan yang berhubungan dengan gangguan nervus optikus adalah ketajaman penglihatan
berkurang dan lapangan pandang berkurang. Jalur penglihatan merupakan saraf dari retina ke
pusat penglihatan pada daerah oksipital otak. Gangguan pada jalur penglihatan akan
mengakibatkan gangguan fungsinya.
Pentingnya pemeriksaan mata untuk deteksi dini, agar tidak terjadi komplikasi yang tidak
diinginkan. Prevalensi gangguan mata pada pediatric dalam sebuah jurnal dijelaskan sebagai
berikut.




Terdapat beberapa dasar jalur penglihatan dan lapang pandang mata, seperti :
- Retina bagian nasal dari makula diproyeksikan ke arah temporal lapang pandang.
- Serabut saraf bagian nasal retina menyilang optic chiasma.
- Serabut saraf bagian temporal berjalan tidak bersilang pada optic chiasma.
- Lapang pandang normal pada suatu mata terletak 90 derajat temporal, 60 derajat atas dan
75 derajat bawah.
Ada beberapa macam cara pemeriksaan lapang pandang seperti uji konfrontasi dan
pemeriksaan kampimetri. Bentuk kelainan lapang pandang dapat berupa : membesarnya bintik
buta fisiologik, terlihat pada papil edema, glaukoma dan miopi progresif. Lapang pandang yang
mengecil terlihat pada glaukoma, papilitis, keracunan obat dan histeria.
- Skotoma busur (arkuat) yang dapat terlihat pada glaukoma, iskemia papil saraf optik dan
oklusi arteri retina sentral.
- Skotoma sentral yang terlihat pada retinitis sentral.
- Hemianopsia bitemporal, hilangnya setengah lapang pandang temporal kedua mata
merupakan tanda khusus kelainan optic chiasma, dapat juga akibat meningitis basal,
kelainan sphenoid dan trauma chiasma.
- Hemianopsia binasal, defek lapang pandang setengah nasal dapat terjadi akibat tekanan
bagian temporal optic chiasma kedua mata atau atrofi papil saraf optik sekunder akibat
tetkanan intrakranial yang meninggi.
- Hemianopsia heteronim, hemianopsia bersilang yang dapat binasal atau bitemporal.
- Hemianopsia heteronim, hilangnya lapang pandang pada sisi yang sama pada kedua mata
yang dapat terlihat pada lesi temporal.
- Hemianopsia altitudinal, hilangnya lapang pandang sebagian atas atau bawah. Bila
binokuler terlihat pada iskemik optik neuropati, sedang bila binokular dapat akibat
kerusakan mata pada saraf optic chiasma dan kelainan korteks.



Telah dilakukan test lapang pandang pada beberapa populasi penduduk, dan didapatkan data
prevalensi sebagai berikut.




Gangguan lapang pandang sering diakibatkan kerusakan fungsi pada optic chiasma. Pada
chiasma terjadi persilangan serabut saraf optic bagian nasal. Kelainan pada daerah ini dapat
disebabkan tekanan tumor intraselar ataupun supraselar. Kraniofaringioma dapat merupakan
penyebab utama penekanan chiasma. Pemeriksaan lapang pandang perifer tidak dipengaruhi oleh
kelainan refraksi pasien. Pemeriksaan lapang pandang sentral dipengaruhi oleh kelainan refraksi
sehingga perlu dilakukan koreksi pada pemeriksaannya.
Nilai lapang pandang dengan kisi-kisi Esterman
Dasar penelitian Esterman adalah tidak sama nilai lapang pandang di setiap bagiannya.
Bagian sentral berbeda dengan bagian perifer, demikian pula atas tidak sama dengan bawah.
Pada kisi-kisi Esterman lapang pandang dibagi atas 100 bagian yang tidak sama besar dengan
masing-masing mempunyai nilai 1%. Setiap kotak yang dibuat dalam pembagian kelompok
mempunyai nilai sama. Kisi-kisi atau kotak ini akan member nilai berbeda walaupun luasnya
sama pada bagian sentral dan perifer.
Perkiraan hilang lapang pandang
Uji lapang pandang dilakukan dengan memakai objek pemeriksaan 3 mm dan dilakukan
setiap 45 derajat meridian. Jumlah derajat setiap meridian dibagi dengan 485 merupakan
prosentase efisiensi lapang pandang.
Contoh :
Lapang pandang normal Derajat
Temporal 85
Temporal bawah 85
Bawah 55
Nasal 55
Nasal bawah 50
Nasal atas 55
Atas 45
Atas temporal 55
% lapang pandang 485
Contoh :
Lapang pandang Derajat
Temporal 45
Temporal bawah 25
Bawah 30
Bawah nasal 25
Nasal 25
Nasal atas 25
Atas 25
Temporal atas 35
Jumlah 235

% efisiensi lapang pandang 235 x 100/485 = 46%
Pemeriksaan lapang pandang bertujuan untuk memeriksa batas perifer penglihatan, yaitu
batas dimana benda dapat dilihat bila mata difiksasi pada satu titik. Lapang pandang yang normal
mempunyai bentuk tertentu dan tidak sama ke semua jurusan, misalnya ke lateral kita dapat
melihat 90 100 derajat dari titik fiksasi, ke medial 60 derajat, ke atas 50 60 derajat dan ke
bawah 60-75 derajat. Terdapat dua jenis pemeriksaan lapang pandang yaitu pemeriksaan secara
kasar (tes konfrontasi) dan pemeriksaan yang lebih teliti dengan menggunakan kampimeter atau
perimeter.
Pemeriksaan lapang pandang dilakukan dengan perimeter, merupakan alat yang
digunakan untuk menetukan luas lapang pandang. Alat ini berbentuk setengah bola dengan jari-
jari 30 cm, dan pada pusat parabola ini mata penderita diletakkan untuk diperiksa. Batas lapang
pandang perifer adalah 90 derajat temporal, 75 derajat inferior, 60 derajat nasal dan 60 derajat
superior. Dapat dilakukan dengan pemeriksaan static maupun kinetic. Pemeriksaan ini berguna
untuk :
- Membantu diagnosis pada keluhan penglihatan
- Melihat progresivitas turunnya lapang pandang
- Merupakan pemeriksaan rutin pada kelainan susunan saraf pusat
- Memeriksa adanya histeria atau malingering.
Dikenal 2 cara pemeriksaan perimetri, yaitu:
- Perimetri kinetik yang disebut juga perimeter isotropik dan topografik, dimana
pemeriksaan dilakukan dengan objek digerakkan dari daerah tidak terlihat menjadi
terlihat oleh pasien.
- Perimetri statik atau perimetri profil dan perimeter curve differential threshold, dimana
pemeriksaan dengan tidak menggerakkan objek akan tetapi dengan menaikkan intensitas
objek sehingga terlihat oleh pasien.
Uji perimeter atau kampimeter, ini merupakan uji lapang pandang dengan memakai bidang
parabola yang terletak 30 cm di depan pasien. Pasien diminta untuk terus menatap titik pusat alat
dan kemudian benda digerakkan dari perifer ke sentral. Bila ia melihat benda atau sumber cahaya
tersebut, maka dapat ditentukan setiap batas luar lapang pandangnya. Dengan alat ini juga dapat
ditentukan letak bintik buta pada lapang pandang.
Uji konfrontasi, merupakan uji pemeriksaan lapang pandang yang paling sederhana. Karena
tidak memerlukan alat tambahan. Lapang pandang pasien dibandingkan dengan lapang pandang
pemeriksa. Pasien dan pemeriksa atau dokter berdiri berhadapan dengan bertatap mata pada jarak
60 cm. mata kanan pemeriksa dan mata kiri pasien ditutup. Mata kiri pemeriksa menatap mata
kanan pasien. Pemeriksa menggerakkan jari dari arah temporalnya dengan jarak yang sama
dengan mata pasien kearah sentral. Bila pemeriksa telah melihat benda atau jari di dalam lapang
pandangnya, maka bila lapang pandang pasien normal ia juga dapat melihat benda tersebut. Bila
lapang pandang pasien menciut maka ia akan melihat benda atau jari tersebut bila benda telah
berada lebih ketengah dalam lapang pandang pemeriksa. Dengan cara ini dapat dibandingkan
lapang pandang pemeriksa dengan lapang pandang pasien pada semua arah.
Pemeriksaan Lapang Pandang dengan Tes Konfrontasi
Skrining.
Skrining dimulai dari lapang pandang temporal karena kebanyakan defek melibatkan daerah ini.
Bayangkan, lapang pandang pasien diproyeksikan pada mangkuk kaca yang melingkupi bagian
depan kepala pasien. Minta kepada pasien untuk melihat mata Anda dengan kedua matanya.
Ketika Anda bertatapan dengan pasien, tempatkan kedua tangan Anda secara terpisah dengan
jarak 2 feet (sekitar 0,6 meter) di sebelah lateral tiap-tiap telinga pasien. Minta pasien untuk
menunjuk jari tangan anda begitu dia melihatnya. Kemudian, gerakkan secara perlahan jari-jari
yang digoyang-goyangkan dari kedua tangan Anda disepanjang mangkuk imajiner dan kearah
garis pandangan sampai pasien melihatnya. Ulangi pola gerakan ini pada kuadran temporal atas
dan bawah. Normalnya, seseorang akan melihat jari-jari tangan dari kedua tangan Anda disaat
yang bersamaan. Jika demikian, biasanya lapang pandangnya mormal.
Pengujian lebih lanjut.
Jika anda menemukan suatu defek, coba untuk menentukan batas-batasnya. Uji setiap mata satu
per satu. Sebagai contoh, jika anda mencurigai defek temporal pada lapang pandang yang kiri,
minta pasien untuk menutup mata kanannya dengan menggunakan mata kiri, minta pasien untuk
menatap langsung mata Anda pada sisi yang berlawanan. Kemudian, secara perlahan gerakkan
jari-jari tangan Anda yang digoyang-goyangkan dari daerah defek kearah daerah yang
penglihatannya lebih baik. Perhatikan, di daerah mana pasien pertama-tama bereaksi. Ulangi
pengujian ini pada beberapa level untuk menentukan batas defek. Jika mata kiri pasien secara
berulang-ulang tidak melihat jari-jari tangan anda sampai jari-jari tangan tersebut melintasi garis
pandangan pasien, keadaan ini disebut hemianopsia temporal kiri. Keadaan ini digambarkan
dalam bentuk diagram menurut titik pandang pasien.
Defek temporal pada lapang pandang salah satu mata menunjukkan defek nasal pada
mata yang lain. Untuk menguji hipotesis ini, periksa mata yang lain dengan cara yang sama,
yaitu dengan menggerakkan sekali lagi jari-jari tangan dari daerah yang diperkirakan mengalami
defek kearah daerah yang penglihatannya lebih baik.
Defek lapang pandang yang kecil dan bintik buta yang melebar memerlukan stimulus
yang lebih halus. Dengan menggunakan objek berwarna merah yang kecil seperti batang korek
api yang kepalanya berwarna merah atau penghapus berwarna merah pada ujung pensil, lakukan
pengujian mata satu per satu. Ketika pasien memandang langsung mata Anda pada sisi yang
berlawanan, gerakkan objek tersebut disekitar lapang pandang. Bintik buta yang normal dapat
ditemukan pada 15 derajat sebelah temporal garis pandangan.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pemeriksaan Lapang Pandang
a. Metode konfrontasi
Pemeriksa dan penderita saling berhadapan.
Satu mata penderita yang akan diperiksa memandang lurus kedepan (kearah mata
pemeriksa).
Mata yang lain ditutup.
Bila yang akan diperiksa mata kanan, maka mata kanan pemeriksa juga
dipejamkan.
Tangan pemeriksa direntangkan, salah satu tangan pemeriksa atau kedua tangan
pemeriksa digerak-gerakkan dan penderita diminta untuk menunjuk kea rah
tangan yang bergerak (dari belakang penderita).
b. Metode Kampimeter
Dalam ruang, penderita duduk menghadap kampimeter.
Pemeriksa berdiri disamping penderita.
Mata penderita yang tak diperiksa ditutup.
Mata yang diperiksa berada pada posisi lurus dengan titik tengah kampimeter.
Pandangan lurus ke depam (titik tengah kampimeter).
Pemeriksa menggerakkan objek dari perifer menuju ketitik tengah kampimeter.
Bila penderita telah melihat objek tersebut, maka pemeriksa member tanda pada
kampimeter.
Demikian dilakukan sampai 360 derajat sehingga dapat digambarkan lapangan
pandang dari mata yang diperiksa.
Gambar 1 : Tes lapang pandang menggunakan perimetri


Gambar 2: Tes lapang pandang menggunakan Perimetri



Gambar 3: Tes lapang pandang menggunakan uji konfrontasi









DAFTAR PUSTAKA


Budiono, Ari. 2008. Nervus Optikus. Riau : Fakultas Kedokteran Universitas Riau RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru.
Bickley, Lynn. 2009. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Ilyas, Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Lumbantobing. 2010. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Prasad, Sashank et al. 2011. Diagnostic Accuracy Of Confrontation Visual Field Tests. America
: American Academy Of Neurology.
Scheiman, Mitchell. 2002. Optometric Clinical Practice Guideline Pediatric Eye And Vision
Examination. America : Reference Guide for Clinicians American Optometric
Association.
Swartz, Mark. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.