Anda di halaman 1dari 24

Amenorea Primer et causa Sindrom Turner

Bernadette Elvina Setiadi


102010047
A6
17 September 2013
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Email: youna_yeongweonhipop@hotmail.com
Abstrak
Sindrom turner adalah sebuah sindrom yang terjadi pada karakterisasi perempuan
karena monosomi total atau parsial kromosom X dan ditandai dengan hipogonadisme,
webbed neck, dan cubitus valgus. Sindrom ini dinamai setelah Henry Turner, seorang
endokrinologi Oklahoma, yang digambarkan pada tahun 1938. Di Eropa, ini sering disebut
sindrom Turner Ullrich-atau bahkan Bonnevie-Ullrich-sindrom Turner. Laporan pertama
kasus diterbitkan atas seorang wanita dengan 45, kariotipe X adalah pada tahun 1959 oleh Dr
Charles Ford dan rekan di Rumah Sakit Harwell dan Guy di London. Kasus ini ditemukan di
seorang gadis 14 tahun dengan tanda-tanda sindrom Turner.
1

Abstract
Turner syndrome is a syndrome that occurs in the characterization of women as a
total or partial monosomy X chromosome and characterized by hypogonadism, webbed neck,
and cubitus valgus. The syndrome is named after Henry Turner, an Oklahoma
endocrinologist, who was described in 1938. In Europe, this is often called Ullrich-Turner
syndrome or even Bonnevie-Ullrich-Turner syndrome. The first report was issued in the case
of a woman with 45, X karyotype was in 1959 by Dr. Charles Ford and colleagues in Harwell
and Guy's Hospital in London. This case was found in a 14 year old with signs of Turner
syndrome.
1

PENDAHULUAN
Sindrom Truner adalah suatu sindroma pada perempuan yang terdiri dari postur
pendek dan anomali kongenital mayor dan minor yang disebabkan kelainan kromosom seks.
Biasanya pasien dengan sindrom turner datang dengan keluhan amenore dan
infertilitas.Secara genetika telah kita ketahui bahwa jumlah kromosom pada genom manusia
adalah 2n=46, yang terdiri dari 22 pasang autosom (22AA atau 44A) dan 2 kromosom seks
(XX atau XY). Seorang perempuan mempunyai pasangan khromosom sex yang sama, yaitu
khromosom X dan secara genetika ditulis 46,XX atau lebih singkat XX. Sebaliknya
khromosom sex pada laki-laki merupakan pasangan tidak sejenis yaitu khromosom X dan Y
dan ditulis 46,XY atau XY. Kadang terjadi gagal berpisah yaitu peristiwa tidak memisahnya
kromosom selama pembalahan sel atau pada saat pembentukan gamet sehingga terbentuk
mutan.
Tujuan tinjauan pustaka ini adalah mempelajari lebih lanjut mengenai anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnose kerja, diagnosis banding, etiologi, manifestasi
klinis, patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan, epidemiologi, prognosis dan pencegahan
dari sindrom turner dan beberapa kelainan lain yang membuat pasien tidak mens.

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis serta alloanamnesis.
Yang perlu ditanyakan secara umum adalah:
1. Riwayat kesehatan:
- Bagaimana pola makan? Apakah cukup gizi? Bagaimana nafsu makan (kurang,
baik)?
- Apakah sedang mengkonsumsi obat tertentu? (pil hormon, pil diet, dsb)
- Apakah sedang/pernah menderita penyakit kronis (HIV, TBC, penyakit jantung
bawaan)?
- Apakah sedang/pernah mengalami masalah psikososial? (depresi, trauma berat
dapat mengganggu intake gizi sehingga timbul gangguan pertumbuhan)
- Bagaimana riwayat pertumbuhan pada masa kanak-kanak? Apakah penambahan
tinggi badan mencapai 5cm/tahun atau kurang (dari usia 3 tahun hingga pubertas)?
- Berapa panjang badan sewaktu lahir?
2. Riwayat keluarga:
- Adakah gangguan menstruasi ataupun keterlambatan menarche pada wanita dalam
keluarga (ibu, tante, nenek)?
- Berapa tinggi rata-rata dalam keluarga? Adakah keluarga dewasa yang memiliki
perawakan pendek kurang dari 150cm (short stature)?
- Adakah anggota keluarga yang memiliki sindroma genetik (sindrom Down,
Turner, Robertsonian) (terutama ibu)?
3. Riwayat pendidikan:
- Bagaimana pola belajarnya?
- Bagaimana rata-rata nilai pada tahun-tahun sebelumnya?
4. Riwayat kehamilan:
- Apakah ada gangguan selama masa kehamilan (eclampsia, infeksi)?
- Apakah ibu pernah mengkonsumsi obat-obatan teratogenik selama masa
kehamilan?
- Apakah lahir cukup bulan atau prematur?
- Berapa berat dan panjang badan lahir?
- Berapa usia ibu saat masa kehamilan?
2


PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik kita dapat melakukan TTV karena pada sindrom turner
biasanya ditemukan tanda-tanda hipertensi, kita bisa lakukan inspeksi dengan melihat
perawakan anak ini cukup pendek umumnya tidak lebih dari 150 cm, bisa ditemukan web
neck. Biasanya muka tampak lebih tua dari umurnya, epikantus positif, terdapat gangguan
pertumbuhan dagu dimana akan mengganggu pertumbuhan gigi.

Dada berbentuk perisai (shield like chest) dengan putting susu yang letaknya
berjauhan, terkadang ditemukan pektus eksavatum, kita juga bisa meihat apakah terdapat
skoliosis, bisa dilakukan pemeriksaan jantung kebanyakan akan terdengar suara murmur
karena coartasio aorta. Kita bisa temukan juga lymphedema pada kaki. Terdapat juga nevus
pigmentosa pada kulit lebar.

Beberapa variasi yang bisa ditemukan:

Perawakan pendek (short stature)


Waktu lahir anak sudah pendek dan pada pertumbuhan selanjutnya biasanya berada di bawah
persentil ketiga. Bila dewasa umumnya tidak lebih tinggi dari150cm.

Webbed Neck
Merupakan lipatan kulit berbentuk segitiga (triangular skin fold) yang terbentang dari
telinga sampai ke akromion. Batas rambut biasanya rendah sekali, kadang-kadang sampai
scapula.

Kelainan wajah
Muka biasanya agak aneh, tampak lebih tua dari umurnya. Ujung mata agak miring
kebawah (anti mongoloid) dengan lipatan epikantus. Jarak interorbital agak kecil.
Telinga besar dan rendah (low set) dan kadang-kadang disertai cacat. Pertumbuhan dagu
dan rahang bawah kurang sempurna sehingga tampak kecil. Hal ini juga akan
mengakibatkan gangguan pertumbuhan gigi. Langit-langit melengkung tinggi.

Kelainan rangka
Hampir pada semua tipe ditemukan dada berbentuk perisai (shield-like chest ) dengan
puting susu yang letaknya berjauhan. Kadang-kadang ditemukan pektus ekskavatus,
gabungan beberapa tulang rusuk atau spina bifida, skoliosis, cubitus valgus, kelainan
pergelangan tangan (pigeon chest Madrlungs deformity) dan kelainan lutut. Sering
tampak jari tangan dan kaki yang pendek dan kecil, sindaktili dan haluks valgus.

Kelainan kulit
Webbing di tempat lain seperti di jari dan aksila. Sering ditemukan keloid dan nevi
pigmentosa. Kadang-kadang ditemukan vitiligo. Cafeaulait spots dan neurofibromatosis
Von Rlexklingshausen. Kuku sering kecil dan tipis (hipoplastik), letaknya dalam dengan
pinggir kulit lebar.

Sistim kardiovaskular
Kira-kira 25% dari kumpulan kasus Wilkins disertai koarktasio aorta.
Walaupun jarang, kadang-kadang ditemukan pula stenosis subaortik. Defek septum dan
dekstro kardia, yang mungkin tidak ada hubungan langsung dengan sindrom ini.
Hemangioma multipel dan leangiektasia pada usus pernah ditemukan. Limfedema sering
di temukan pada bayi yang mempunyai sindrom Bonnevie-Uhrlich. Seringpula
ditemukan hipertensi dengan sistolik berkisar antara 135-150 mmHg dan diastolic 90-
110 mmHg, tetapi tidak didapatkan kecenderungan untuk naik. Tidak ditemukan
kelainan ginjal, kecuali kadang-kadang didapatkan kelainan bawaan seperti horse shoe
kidney.

Kelainan intelegensia
Sekitar -
1
/
3
dari penderita mempunyai kelemahan daya pikir. Terutama mereka yang
mempunyai webbed neck . Di rumah sakit jiwa ditemukan 0,05% dari penderita wanita.
Walaupun demikian didapatkan pula penderita yang cukup cerdas.

Kelainan pubertas
Karena kelainan gonad. Anak tidak akan mengalami masa pubertas. Gejala seks
sekunder yang karakteristik seperti pertumbuhan payudara, rambut aksila dan pubis serta
perubahan labia minora tidak timbul atau hanya sedikit sekali. Semua hal ini sebagai
akibat tidak adanya respons gonad untuk membuat estrogen.
5


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Analisa Kromosom
Sitogenetik klinik merupakan studi kromosom yang meliputi struktur, keturunan yang
diwariskan, dan abnormalitas. Kelainan kromosom terjadi dari 1% kelahiran hidup dan
bertanggung jawab atas sebagian besar dari kematian janin dini, malformasi kongenital
multipel, dan kasus mental retardasi.
Studi sitogenetik biasanya dilakukan dengan limfosit darah perifer atau kultur
fibroblas. Studi kromosom prenatal dilakukan dengan pengambilan sel dari cairan amnion,
jaringan korionik vilus, darah fetal, analisa blastomer. Kelainan kromosom meliputi jumlah
yang abnormal dan struktur akibat adanya eror pada pembelahan sel. Dua eror pada
pembelahan sel biasanya terjadi pada proses mitosis dan meiosis dan keduanya dapat
menghasilkan jumlah kromosom yang abnormal. Pertama, nondisjunction dimana 2
kromosom gagal untuk memisah dan menyebabkan keduanya migrasi bersama ke satu sel
baru, memproduksi satu sel dengan dua salin kromosom dengan yang satu lagi tanpa
kromosom. Kedua, anaphase lag, dimana kromatid atau kromosom hilang karena gagal untuk
bergerak cukup cepat pada fase anaphase untuk bergabung menjadi satu sel anak yang baru.

Gambar 1. Nondisjunction
Diunduh dari www.google.com
Untuk analisa kromosom, sel di kultur, dientikan di mitosis pada fase metaphase,
dipaparkan pada cairan hipotonik, difiksasi, dan diwarnakan. Pewarnaan yang paling sering
digunakan adalah metode tripsin-Giemsa dimana memproduksi G- atau GTG-banding, suatu
kombinsasi unik dari dark (G-positif) dan light (G-negatif) bands. Banyak teknik banding lain
dengan pewarnaan spesial termasuk quinacrine (Q-banding), reverse (R-banding), dan
centromere (C-banding) tersedia untuk digunakan pada kondisis tertentu. Penyebaran
kromosom metaphase biasanya terlihat pada 350-500 bands. Prophase dan prometaphase
biasanya lebih panjang, dan tidak terlalu padat biasanya terlihat pada 500-850 bands. Analisa
resolusi yang tinggi berguna untuk mendeteksi kelainan kromosom terkecil yang seringkali
terlewatkan.
Penyebaran kromosom metafase adalah yang pertama kali dinilai secara mikroskopik,
lalu gambaran tersebut direkam oleh video kamera dan disimpan di komputer. Kromosom
homolog dari penyebaran metafase tersebut dapat dipasangkan dan disusun secara sistematis
menjadi suatu kariotype. Kromosom disusun berdasarakan ukuran dalam pasangan, autosom
tebesar menjadi kromosom 1 dan autosom terkecil menjadi kromosom 22. Kromosom sex
menjadi pasangan ke 23. Deskripsi kariotype meliputi jumlah kromosom, kumpulan
kromosom sex, dan adnaya abnormalitas. Kariotype normal adalah 46,XX untuk perempuan,
dan 46, XY untuk pria.


Fluoresence in situ hybridization (FISH) teknik digunakan untuk identifikasi segmen
DNA spesifuk yand ada, absen, atau tertukar. FISH meliputi penggunaan sekuens DNA yang
unik dan diberikan label dengan tinta fluoresen, dimana dipaparkan kepada single-strand
DNA pada slide mikroskop. Pasangan probe dengan sekuen DNA komplimenter dan bisa
dilihat dengan mikorskop fluoresen. Pada fase interphase, jumlah salin segmen DNA tertentu
dapat ditentukan. Pada penyebaran kromosom metaphase, jumlah salin sekuens DNA dan
lokasi kromosom secara tepat dari setiap salin probe DNA bisa didokumentasikan. FISH
biasanya berguna untuk mendeteksi delesi yang sangat kecil yang seringkali bila diperiksa
dengan G-band analisa dapat terlewatkan. Dengan resolusi tinggi analisa kromosom, sangat
sulit untuk mengenali delesi lebih kecil dari 5-10 juta basa pasang (5-10Mb in size); FISH
dapat mendeteksi delesi sekecil 1 Mb.
6,7


Gambar 2. Fluorescence in situ hybridization (FISH)
Diunduh dari www.google.com
Laboratorium
1. Langkah awal dalam kerangka evaluasi penderita amenorea, dimulai dari pengukuran
hormon thyroid stimulating hormones (TSH), kadar prolaktin, dan tes provokasi
progesteron. Peningkatan LH dan FSH untuk mengkonfirmasi kegagalan
pembentukan ovarium. Penderita dengan hipotiroid primer dan hiperprolaktinemia
dapat muncul dengan amenorea primer maupun amenorea sekunder.
Tujuan dari uji progesteron adalah untuk menilai kadar estrogen endogen dan
kompetensi dari saluran genitalia. Dalam 27 hari setelah pemberian progesteron,
pasien kemungkinan terjadi perdarahan. Hal ini berarti bahwa sistem saluran
pengeluaran berada dalam batas normal dan adanya uterus yang endometriumnya
reaktif terhadap estrogen endogen. Dari hasil tersebut dapat ditetapkan adanya
estrogen, fungsi yang minimal pada ovarium, hipofisis, dan sistem saraf pusat.
Dengan tidak adanya galaktorea, dengan kadar prolaktin yang normal, dan kadar TSH
yang normal, evaluasi selanjutnya tidak diperlukan.


2. Jika rangkaian pengobatan progesteron tidak memberikan hasil seperti pada langkah
di atas, apalagi sistem organ target tidak operatif atau perkembangan estrogen dari
endometrium tidak terjadi. Langkah 2 didesain untuk membuat klarifikasi terhadap
situasi ini. Pemberian estrogen oral, estrogen dapat merangsang secara aktif baik
secara kwantitatif maupun durasinya untuk perkembangan endometrium dan
pendarahan yang aktif dari uterus pada sistem pengeluaran yang ada.
Sebagai hasil dari test farmakologis langkah 2, apakah pada penderita dengan
amenorea tersebut terjadi perdarahan atau tidak. Jika tidak terjadi, diagnosis dari
kerusakan pada kompartemen I (endometrium, aliran pengeluaran) bisa ditegakkan.
Jika pendarahan terjadi, bisa diasumsikan bahwa kompartemen I mempunyai
kemampuan fungsional yang normal jika mendapat rangsangan esterogen.
Dari sudut pandang praktis, pada pasien dengan alat genitalia interna dan eksterna
yang normal dapat ditetapkan dengan pengujian pada panggul, dan tanpa adanya latar
belakang infeksi atau trauma (seperti kuretase), serta tidak didapatkannya
ketidaknormalan dari aliran pengeluaran yang tidak sewajarnya. Masalah aliran
pengeluaran termasuk kerusakan endometrium, secara umum sebagai akibat dari
kuretase yang berlebihan atau akibat dari infeksi, atau akibat amenorea primer dari
diskontinuitas atau abnormalitas pada duktus Mulleri.
3. Pasien amenorea tidak sanggup menyediakan rangsangan estrogen yang memadai.
Untuk memproduksi estrogen, ovarium memiliki folikel yang normal dan hormon
hipofisis yang cukup untuk merangsang organ yang diperlukan. Langkah 3 dirancang
untuk menentukan apakah 2 komponen yang penting (gonadotropin atau aktifitas
folikel) berfungsi secara wajar atau tidak.
Langkah ini mengikutsertakan pengujian tingkat gonadotropin pada pasien. Karena
langkah 2 mengikutsertakan pemberian estrogen eksogen, kadar gonadotropin
endogen mungkin tidak nyata. Sebab itu, penundaan selama 2 minggu setelah langkah
2 mesti dilakukan sebelum melaksanakan langkah 3, pengujian gonadotropin.
Langkah 3 dirancang untuk menentukan apakah kekurangan estrogen menyebabkan
kesalahan pada folikel (kompartemen II) atau pada sistem aksis saraf pusat-hipofisis
(kompartemen III dan IV). Hasil pengujian gonadotropin pada wanita amenorea yang
tidak mengalami pendarahan setelah pemberian pemicu progestagen akan
menghasilkan kadar gonadotropin abnormal yang tinggi, abnormal yang rendah, atau
pada kadar yang normal.
Prinsip dasar fisiologi fungsi menstruasi memungkinkan dibuatnya suatu sistem yang
memisahkan dalam beberapa kompartemen dimana menstruasi yang normal
tergantung. Hal ini berguna untuk memakai evaluasi diagnostik yang memilah
penyebab amenorea dalam 4 kompartemen, yaitu:
Kompartemen I : kelainan terletak pada organ target uterus atau outflow tract
Kompartemen II : kelainan pada ovarium.
Kompartemen III : kelainan pada pituitri anterior
Kompartemen IV : kelainan pada sistem syaraf pusat (hipotalamus).
1,6

Radiologi
Ultrasuara jantung, ginjal, dan ovarium terindikasi setelah diagnosa ditegakkan.
Kelainan skeleton yang paling lazim adalah pemendekkan tulang metakarpal dan metatarsal
ke-4, disgenesis epifisis pada sendi lutut dan siku, deformitas Madelung, skoliosis, dan pada
penderita yang lebih tua, mineralisasi tulang tidak cukup.
8


DIAGNOSIS KERJA
Syndrom Turner
Etiologi
Monosomi X pada sindroma turner terjadi akibat nondisjunction saat pembentukan
ovum ibu. Nondisjunction adalah kelainan pemisahan kromsom saat meiosis atau sewaktu
pembelahan sewaktu mitosis. Nondisjunction dapat mengenai autosomal ataupun kromosom
seks. Nondisjunction saat meiosis menghasilkan gamet-gamet haploid yang memiliki
kelainan komplemen kromosom. Resiko nondisjunction pada ibu meningkat di usia 35 tahun
ke atas.
Kemungkinan lain disebabkan hilangnya sebuah kromosom kelamin selama mitosis
setelah zigot XX atau XY terbentuk. Kemungkinan yang terakhir ini didukung oleh tingginya
frekuensi mosaik yang dihasilkan dari kejadian sesudah terbentuk zigot pada penderita
sindroma turner. Mosaik dengan kromosom kelamin X/XX memperlihatkan tanda-tanda
sindroma turner, tetapi individu memiliki tinggi badan yang lebih daripada X dan mempunyai
lebih sedikit anomali daripada wanita non mosaik 45,X.
Kelainan struktural kromosom X mencakup (1) delesi lengan pendek, menyebabkan
terbentuknya isokrom lengan panjang 46,X,i(X)(q10); (2) delesi sebagian lengan pendek atau
lengan panjang dan pendek, yang menyebabkan terbentuknya kromosom cincin 46,X,r(X);
(3) delesi sebagian lengan pendek atau lengan panjang 46,X,del(Xq). Mosaikisme adalah
embrio yang mengandung paling sedikit dua turunan sel, dimana terjadi gangguan pemisahan
kromosom setelah pembuahan sewaktu mitosis diwariskan. Pasien mosaik memiliki suatu
populasi 45,X bersama dengan salah satu dari jenis sel berkariotipe normal atau abnormal.
Contoh kariotipe yang dapat dimiliki oleh wanita dengan sindrom Turner mosaik adalah:
- 45,X/46,XX
- 45,X/46,XY
- 45,X/47,XXX
9

Epidemiologi
Sindrom Turner merupakan 35% penyebab amenorea primer. Resiko terhadap
sindrom tidak meningkat sejalan dengan usia ibu. Sindrom turner (Disgenesis gonad) 60.000
mempengaruhi perempuan di Amerika Serikat. Gangguan ini terlihat dalam 1 dari setiap
2000-2500 bayi lahir, dengan sekitar 800 kasus baru didiagnosa setiap tahun. Sindrom turner
(Disgenesis gonad) bukan merupakan penyakit keturunan tetapi kadang diduga salah satu
orang tua membawa kromosom yang telah mengalami penyusunan ulang, yang
bisa menyebabkan terjadinya sindrom ini. Kehilangan suatu kromosom seks (45,X) sering
ditemukan pada jaringan-jaringan abortus dan hanya sekitar 3-5% fetus dengan sindrom
turner yang dapat mencapai trimester ketiga kehamilan.
5,8
Patofisiologi
Temuan awal 45,X pada penderita dengan sindrom Turner terjadi pada hanya 50%
penderita yang terkena. Sekitar 15% penderita adalah mosaik untuk 45,X dan deretan sel
normal (45,X/46,XX). Mosaik lain dengan isokromosom, 45,X/46,X,i (Xq); dengan cincin,
45,X/46,X,r(X); atau fragmen, 45,X/46 fra jarang terjadi. X tunggal adalah berasal dari ibu
pada 75% penderita 45,X. Mekanisme hilangnya kromosom belum diketahui, dan risiko
terhadap sindrom tidak meningkat sejalan dengan usia ibu. Adalah mungkin bahwa gen yang
terlibat pada fenotip Turner adalah gen terkait-X yang lolos inaktivasi. Tampak ada lokus
untuk perawakan pada Xp distal, yang dekat dengan daerah pseudoautosom. Xp dan Xq
tampak berisi gen untuk fungsi ovarium normal.
Sindrom Turner terjadi pada sekitar 1 dari 1.500-2.500 bayi wanita lahir-hidup.
Frekuensi kariotip 45,X pada konsepsi adalah sekitar 3,0%, tetapi 99% dari jumlah ini
mengalami abosi secara spontan, merupakan 5-10% dari semua abortus Mosaikisme
(45,X/46,XX) terjadi pada proporsi yang lebih tinggi daripada proporsi yang terlihat pada
setiap keadaan aneuploid lain, tetapi mosaik konstitusi Turner jarang pada abortus; temuan-
temuan ini menunjukkan ketahanan hidup yang istimewa untuk bentuk-bentuk mosaik.
Ovarium janin normal berisi sekitar 7 juta oosit, tetapi oosit ini mulai menghilang
dengan cepat pada sekitar 5 bulan kehamilan. Pada saat lahir, hanya ada 3 juta; pada
menarkhe, ada 400.000; pada menopause, tinggal 100.000. Bila tidak ada satu kromosom X,
proses ini dipercepat, dan hampir semua oosit lenyap pada usia 2 tahun. Pada janin 45,X yang
diabortuskan, jumlah sel benih premordial pada rigi gonad tampak normal, yang
menunjukkan bahwa proses normal dipercepat pada penderita dengan sindrom Turner.
Akhirnya, ovarium digambarkan sebagai coretan dan hanya berisi jaringan ikat tetapi
mungkin ada sedikit sel benih.
8

Manifestasi Klinis
Selama kehamilan, sindrom Turner dapat berupa hidrops total atau hanya
pembengkakan leher setempat yang pada ultrasonografi mungkin salah diintepretasikan
sebagai ensefalokel. Kelebihan cairan di jaringan-jaringan adalah akibat maturasi yang
terlambat pada sistem drainase limfatik. Pada bayi-bayi yang lahir hidup, sisa-sisa edema
intrauterin bermaifestasi sebagai leher yang bergelambir (webbed neck), tangan dan kaki
yang bengkak serta kuku-kuku yang kecil dan hiperkonvek. Pada sindrom Turner terdapat
abnormalitas dengan derajat yang kisrarnnya luas dan terutama bergantung pada
kariotipenya; tipe 45,X menunjukkan kelainan yang paling berat. Ciri-ciri khasnya meliputi:
Limfedema leher, tangan, dan kaki
Leher yang bersirip dan melebar
Bentuk tubuh yang pendek
Dada yang lebar dan kedua puting susu yang terpisah jauh
Amenore primer dan infertilitas
Kegagalan perkembangan payudara
Genitalia eksterna infantil
Ovarium berkembang normal selama pertengahan masa kehamilan, kemudian
mengalami atrofi berat dan fibrosis (streak overies)
Sekitar 15% kasus disertai penyakit jantung kongenital, khususnya koartksio aorta
Tingkat kecerdasan normal.
9



Gambar 3. Manifestasi dari Sindrom Turner
Diunduh dari www.google.com
Komplikasi
Defek jantung kongenital dapat menyertai monosomi kromosom seks.

Pengidap sindrom Turner berisiko tinggi mengalami fraktur semasa kanak-kanan dan
osteoporosis pada orang dewasa karena kurangnya estrogen.
Sebagian individu mungkin memperlihatkan ketidakmampuan belajar.
Kelainan imun sering terjadi pada penderita sindroma Turner, termasuk kelainan
tiroid (hipotiroid), yang menyebabkan produksi hormon yang mengontrol
metabolisme berkurang. Juga dapat terjadi alergi pada gandum sering disebut
penyakit Celiac.
Gangguan penglihatan juga dapat terjadi karena fungsi otot mata yang melemah
(strabismus)dan tidak dapat melihat jauh.
Penderita sindroma Turner juga sering mengalami gangguan psikologis, seperti
percaya diri yang rendah, depresi, kecemasan, kesulitan untuk bersosialisasi, dan
gangguan untuk memusatkan perhatian.
10

Penatalaksanaan
Dalam menatalaksana sindrom Turner, yang lebih banyak ditangani umumnya adalah
manifestasi penyakit genetik tersebut, bukan kelainan penyebabnya.
Non-medikamentosa
Dalam penatalaksanaan secara non-medikamentosa dapat dilakukan dengan cara
edukasi kepada keluarga penderita. Suport psikososial merupakan komponen integral
dalam penatalaksanaan. Pembentukan kelompok sosial sindrom turner lokal di AS
dan Kanada serta di negara lain, menyediakan dukungan sistem yang bernilai untuk
pasien dan keluarganya dalam untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.
Medikamentosa
Penatalaksanaan secara medikamentosa hanya bersifat suportif. Pemberian hormon
pertumbuhan (GH) dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tinggi badan. Terapi
GH sebaiknya dilakukan sejak dini. Dosis awal pemberian hormon pertumbuhan yaitu
0,375mg/kg/minggu. Kadar serum IGF-1 harus diperiksa secara rutin selama
pemberian terapi ini.
Pada sindrom Turner diberikan pula terapi estrogen dimulai pada usia 12-13 tahun
(usia mulai pubertas) untuk merangsang pertumbuhan ciri seksual sekunder sehingga
penderita akan memiliki penampilan yang lebih normal pada masa dewasa nanti.
Tetapi terapi estrogen tidak dapat mengatasi kemandulan. Estrogen juga berfungsi
untuk menjaga integritas tulang dan kesehatan jaringan. Terapi estrogen
meningkatkan memori verbal dan nonverbal pada penderita sindrom turner.
Pemberian estrogen yang diawali dengan terapi hormon pertumbuhan dahulu
sebelumnya memberikan hasil pertumbuhan tinggi badan yang lebih baik. Premarin
0,3-0,625mg atau Estrace 0,5mg diberikan setiap hari selama 3-6 bulan untuk
menginduksi pubertas. Setelah itu, estrogen diberikan dalam siklus (hari 1-23) dan
progestin ditambahkan (hari 10-23) dengan dosis 5-10mg setiap hari.
Untuk penderita sindrom Turner yang fertil, kehamilan dapat dibantu menggunankan
donor ovum ataupun dengan tekhnik pembuahan in vitro. Sedangkan untuk memperbaiki
kelainan jantungnya kadang perlu dilakukan pembedahan.
1,11,12

Pencegahan
Pencegahan primer terhadap kelainan genotip memerlukan tindakan sebelum
konsepsi. Diagnosis pranatal dengan terminasi kehamilan selektif (pencegahan skunder)
merubah angka kejadian suatu kelainan. Apabila usaha pencegahan gagal diperlukan suatu
tindakan pengobatan.
a. Pencegahan primer kelainan genetik
Pada pencegahan, diperlukan peningkatan pengetahuan tentang kedua proses tersebut
(kerusakan kromosom). Semua kelainan gen tunggal disebabkan oleh mutasi. Masih
diperlukan berbagai penelitian unntuk mencari penyebab kelainan ini. Kelainan yang
disebabkan multifaktor mempunyai peranan yang paling besar dalam pencegahan primer.
Tujuan disini adalah agar orang yang mempunyai resiko dapat mencegahnya dengan
menghindari faktor lingkungan.
10
b. Pencegahan sekunder kelainan genetik
Pencegahan sekunder termaksud didalamnya semua aspek uji tapis prenatal dan
terminasi selektif.
Kelainan kromosom
Uji tapis biokimia untuk menentukan kehamilan resiko tinggi, dalam kombinasi
dengan umur ibu, sangat meningkatkan efektifitas program pencegahan pranatal.
Biasanya uji tapis dilakukan pada ibu usia 35 tahun keatas dan pada golongan
risiko tinggi.
Konseling genetik
Merupakan suatu upaya pemberian advis terhadap orang tua atau keluarga
penderita kelainan bawaan yang diduga mempunyai faktor penyebab herediter,
tentang apa dan bagaiman kelainan yang dihadapi itu, bagaimana pola
penurunannya dan juga upaya untuk melaksanakan pencegahan ataupun
menghentikannya. Terdapat tiga aspek konseling:
Aspek diagnosis
Perkiraan risiko yang seungguhnya
Tindakan suportif untuk memberikan kepastian bahwa pasien dan
keluarganya memperoleh manfaat dari nasihat yang diberikan dan tindakan
pencegahan yang bisa dilakukan.
Tujuan dari konseling genetik adalah untuk mengumpulkan data-data medis maupun
genetik dari pasien ataupun keluarga pasien yang berpotensi dan menjelaskan langkah-
langkah yang dapat dilakukan. Konseling genetik dimulai dengan pertanyaan mengenai
kemungkinan terjadinya kelainan genetik yang diajukan oleh orang tua/wali penderita. Akan
dilakukan pemeriksaan pendukung yang lengkap, untuk mendapatkandiagnosis yang tepat
seperti pemeriksaan sitogenetik, analisis DNA, enzim, biokimiawi, radiologi, USG, CT scan,
dan sebagainya.
13
Prognosis
Prognosis dari sindrom Turner tergantung dari tipenya. Tipe yang mosaik dengan
kromosom kelamin X/XX biasanya lebih baik daripada tipe non-mosaik 45, X. Karena tipe
mosaik lebih memperlihatkan kewanitaannya, mempunyai siklus haid lebih ke arah normal
dan mungkin subur. Sedangkan non-mosaik lebih banyak memiliki komplikasi lain seperti
koartasio aorta, kelainan pada ginjal, dan sebagainya.
12

DIAGNOSIS BANDING
1. Amenorea primer et causa Androgen Insuficiency Syndrom (AIS)
Etiologi
Insensitivitas androgen terjadi akibat mutasi pada gen untuk reseptor androgen (AR)
yang berlokasi pada kromosom Xq 11-12. Hal ini merupakan X-linked recessive trait
yang penyakitnya tidak bergejala, atau minimal.2
Epidemiologi
Insidens CAIS adalah 1:20.000. Insidens derajat yang lebih rendah dari resistensi
androgen tidak diketahui; menurut beberapa peneliti, bisa lebih banyak atau bahkan
lebih sedikit dari insidens CAIS. Bukti-bukti memperlihatkan bahwa banyak kasus
infertilitas pada pria yang tidak dapat diterangkan sebabnya ternyata merupakan
derajat ringan resistensi androgen. AIS pada dasarnya merupakan kerancuan antara
genotip dan fenotip gender. Secara konvensional, seseorang dikatakan ber-genotip
perempuan bila memiliki kromosom 46XX dan bergenotip laki-laki bila memiilki
kromosom 46XY. Berkaitan dengan kaidah ini, individu pengidap AIS memiliki
fenotip perempuan dengan kromosom 46XY (genotip laki-laki).
14

Patogenesis
Kromosom X yang diwariskan secara resesif
Wanita dengan mutasi tunggal gen AR dapat merupakan karier AIS. Anak dengan
kromosom 46 XY (secara genetik laki-laki) akan mempunyai 50% kemungkinan AIS.
Pada kondisi X-linked recessive lainnya, ibu karier dapat memperlihatkan ciri minor
kelainan ini. Karier AIS sering kali mempunyai sedikit rambut aksila dan pubis serta
hanya berjerawat sedikit semasa remaja.2 Kebanyakan individu yang terlahir dengan
AIS mewarisi kromosom X tunggal dengan defek gen yang diturunkan dari ibunya
dan bisa mempunyai saudara kandung dengan kelainan yang sama (tes karier
sekarang tersedia untuk mencari risiko relatif dalam anggota keluarga ketika diagnosis
AIS ditegakkan). Lebih dari 100 mutasi AR dilaporkan menimbulkan beragam fenotip.
Fenotip AIS yang tergolong minimal atau ringan (sindrom infertilitas pada pria dan
undervirilized fertile male syndrome) terjadi akibat salah mutasi dengan kodon
tunggal atau asam amino yang berbeda, sedangkan bentuk komplet dan hampir
komplet dihasilkan dari mutasi yang mempunyai efek besar pada bentuk dan struktur
protein. Sekitar 1/3 kasus AIS adalah mutasi baru. Dalam sebuah kasus CAIS,
dilaporkan terdapat abnormalitas koaktivator AF-1 (activating factor-1).
15,16

Defek Reseptor Androgen
Penyebab terbanyak AIS adalah mutasi gen penyandi reseptor androgen, yang
menghasilkan protein reseptor yang tidak mampu berikatan dengan hormon atau
dengan DNA.4 AIS terjadi akibat berbagai defek genetik pada kromosom X yang
membuat tubuh tidak mampu merespons untuk menampilkan fenotip pria. AIS terbagi
atas 2 kategori:
A. AIS komplet
Bentuk komplet ini terjadi pada satu dari setiap 20.000 kelahiran hidup. Ciri-ciri
kelainan ini:
Perkembangan penis dan bagian tubuh pria lainnya terganggu
Anak lahir sebagai perempuan
Saat pubertas, tanda-tanda seks sekunder (seperti payudara) berkembang,
tetapi menstruasi tidak terjadi dan infertil.
Berpenampilan wanita, tetapi tidak memiliki uterus, mempunyai sedikit
bulu ketiak dan rambut pubis.
B. AIS inkomplet
Pengidap AIS inkomplit dapat berpenampilan sebagai laki-laki atau perempuan.
Banyak terjadi penutupan sebagian bibir vagina luar, pembesaran klitoris, dan
vagina dangkal. Kelainan sangat bervariasi, dapat berupa sindrom Reifensten
(disebut juga sindrom Gilbert-Dreyfus atau sindrom Lubs), yaitu terjadinya
perkembangan payudara pada pria, kegagalan turunnya testis ke dalam skrotum
setelah kelahiran, dan hipospadia). AIS inkomplit ini juga mencakup sekumpulan
gejala infertilitas pada pria.
Manifestasi klinis
Pasien yang datang dengan tanda dan gejala berikut harus dicurigai mengidap AIS:
Anak gadis dengan keterlambatan menarke atau amenorea primer
Perempuan yang mencari penjelasan tentang kesulitan hubungan suami istri,
Perempuan yang berobat karena infertilitas
Perempuan dengan perkembangan payudara yang normal, tetapi tidak ada
serviks atau uterus
Tidak ditemukan testis, uterus, atau ovarium pada seorang pasien,
Hernia inguinalis (kurang lebih 1% pasien yang menjalani operasi hernia
inguinalis ternyata mengidap AIS)
Ditemukan massa di inguinal atau di labia
Testis berada di dalam abdomen
Ditemukan kromosom XY pada perempuan yang diperiksa kariotipe-nya
untuk tujuan lain.
10-12


Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah kanker testis, infertilitas, dan gangguan
psikologis.
10

Penatalaksanaan
Aspek pengelolaan
Tujuan utama pengelolaan adalah menentukan jenis kelamin, apakah seorang bayi
akan menjadi perempuan atau laki-laki. Penilaian tergantung sebagian dari dugaan
perkembangan pubertas, respons potensial dari phallus terhadap testosteron, dan hasil
pembedahan rekonstruksi. Sindrom Reifeinstein (salah satu bentuk AIS) merupakan
salah satu tantangan terbesar karena sering kali menimbulkan dilema saat akan
mengambil keputusan, baik orang tua maupun dokter. Beberapa pilihan yang ada
memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Penetapan menjadi laki-laki selalu diikuti oleh satu atau lebih operasi pada bayi
oleh urolog anak untuk memperbaiki hipospadia, tertutupnya kantong skrotum di
garis tengah, dan (jika mungkin) meletakkan testis pada skrotum. Status gonad
dan respons testosteron akan dinilai kembali pada usia 12 tahun. Jaringan
payudara dapat diangkat saat remaja jika memang berlebihan. Gonad sebaiknya
diangkat jika menempatkan testis ke dalam skrotum tidak memungkinkan.
Pemberian testosteron dengan dosis tinggi kadang-kadang mengakibatkan
virilisasi lebih lanjut. Hal ini sering menjadi pilihan orang tua. Penelitian pada
orang dewasa yang menjalani pengelolaan ini melaporkan bahwa mereka merasa
nyaman dengan penilaian gender saat kelahiran dan fungsi seksual genitalianya
tersebut, tetapi mereka tidak puas dengan ukurannya.
Penetapan menjadiperempuan biasanya diikuti oleh gonadektomi pada masa
kanak-kanak untuk mencegah maskulinisasi lanjut, terutama pada masa pubertas.
Sering kali dilakukan perluasan vagina dan pengurangan ukuran klitoris. Estrogen
diberikan saat pubertas; hal ini mempunyai keuntungan, yaitu jaringan akan lebih
sensitif pada masa yang akan datang terhadap testosteron yang tidak relevan
untuk remaja perempuan. Prosedur pembedahan yang dilakukan lebih sedikit
dibandingkan prosedur penentuan pada laki-laki dan secara kosmetik hasilnya
lebih baik, tetapi perempuan yang mengalami pembedahan dini ini banyak yang
mengalami gangguan sensasi dan fungsi seksual.
Pilihan ketiga yang dianjurkan pada 10 tahun terakhir ini adalah penentuan laki-
laki atau perempuan dengan menunda semua jenis pembedahan sampai anak
tersebut dapat diajak untuk berkomunikasi tentang identitas seksnya. Pendekatan
ini bertujuan membuat anak lebih mudah untuk menolak atau menerima
penentuan gender; sebelumnya, penentuan gender ditentukan semasa bayi oleh
orang tua dan dokter. Selain itu, anak juga dapat memilih atau menolak
pembedahan rekonstruksi yang ditawarkan. Begitu anak dapat berkomunikasi
dengan jelas tentang identitas seksnya, kita harus menghormati hak anak tersebut.
Semua langkah sebaiknya memperhatikan perasaan dan keinginan anak. Hal ini
semestinya menjadi bahan pertimbangan utama karena diyakini dapat mencegah
trauma selama dan setelah pubertas terkait keganjilan identitas gendernya dan
lebih siap menghadapi tindakan pembedahan.
Selama lebih dari 50 tahun, penentuan gender dengan bedah rekonstruktif pada bayi
banyak dilakukan sebagai pilihan orang tua dan dokter. Hal ini ternyata banyak
menimbulkan masalah.
Perluasan dan pemanjangan vagina
Pada wanita dengan vagina yang dangkal, dapat dilakukan dilatasi non-operatif.
Konstruksi vagina secara operatif dapat juga dilakukan dengan berbagai teknik.
Keputusan gonadektomi
Waktu yang tepat untuk mengangkat testis masih dalam perdebatan. Keuntungan
untuk mempertahankan testis (yang biasanya terdapat di intraabdomen) sampai
pubertas membuat perubahan pubertas yang terjadi akan berlangsung secara alami
tanpa terapi sulih hormon hormone replacement therapy). Hal ini bisa terjadi karena
testosteron yang diproduksi oleh testis akan dikonversi menjadi estrogen (melalui
proses aromatisasi). Beberapa peneliti berpendapat bahwa testis yang dibiarkan di
dalam abdomen selama hidupnya dapat mengakibatkan perkembangan menjadi tumor
jinak ataupun ganas. Risiko keganasan dalam kasus CAIS lebih tinggi pada laki-laki
yang testisnya berada di dalam abdomen, tetapi jarang terjadi pada remaja. Menurut
penelitian, wanita dengan CAIS dan PAIS (partial androgen insensitivity syndrome)
yang testisnya dipertahankan sampai pubertas memiliki insidens 25% berkembang
menjadi tumor jinak dan 4-9% menjadi ganas. Terdapat isu tentang apakah testis pada
penderita AIS dapat digunakan untuk menghasilkan keturunan dengan donor telur
melalui IVF. Kenyataannya, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa undescensus
testis sering kali tidak dapat memproduksi spermatozoa yang viabel karena sel Sertoli
yang memproduksi sel spermatozoa tidak dapat bertahan pada temperatur yang tinggi,
seperti di dalam abdomen. Terlepas dari hal tersebut, beberapa wanita pengidap CAIS
mengeluhkan kehilangan libido setelah gonadektomi. Keuntungan lain dari upaya
mempertahankan testis pada CAIS adalah estradiol akan dihasilkan dari testosteron.
Meskipun estrogen diberikan setelah gonadektomi, tetapi wanita dengan CAIS merasa
sulit untuk menerima terapi sulih hormon dan merasa menyesal bila harus kehilangan
sumber estrogen yang alami.
Terapi sulih estrogen
Begitu testis diangkat, estrogen diperlukan untuk mendukung perkembangan pubertas,
pertumbuhan tulang, dan menyempurnakan pertumbuhan tubuh.
Aspek etik terapi medis AIS
Aspek etik untuk menyingkap keadaan sebenarnya meliputi 1) adanya informasi dari
pasien tentang variasi perkembangan organ reproduksi berdasarkan asumsi bahwa
dokter dianggap lebih mampu untuk menentukan apa yang terbaik untuk pasien, 2)
prinsip menyetujui informed consent untuk menyingkap beberapa hal, antara lain
diagnosis pasien, dan partisipasi untuk membuat keputusan yang dipandu oleh konsep
persetujuan yang sepadan dengan kapasitas perkembangan, serta 3) meluasnya
tanggung jawab dokter, karena selain membantu kerahasiaan penderita juga harus
memberi informasi kepada anggota keluarganya bahwa kondisi ini berisiko pada
keturunannya.
8,11

Pencegahan
Konseling genetik
Ketika wanita terdiagnosis CAIS atau PAIS, konsultasi dengan konselor genetik
dibutuhkan untuk menjelaskan mengenai turunan resesif terkait X.
Ibu dari wanita dengan AIS mungkin mengandung gen pembawa (karier) pada
salah satu kromosom X-nya.
Pada ibu karier, kelainan akan diturunkan pada sekitar 50% keturunan, baik itu
XX atau XY. Turunan XX tampaknya akan tidak terpengaruh, sedangkan turunan
XY dapat memiliki kondisi yang sama (menjadi infertil).
Dalam keluarga besar, dapat ditemukan anggota keluarga lain yang merupakan
penderita atau karier AIS.
Deteksi karier oleh tes genetik sekarang ini memungkinkan.
Prognosis
Untuk CAIS, pengangkatan jaringan testis sebaiknya dilakukan. Prognosis untuk IAIS
tergantung dari keadaan dan berat tidaknya ambiguitas genitalia.
9

2. Amenorea primer et causa kelainan pada kelenjar endokrin
Etiologi
Lesi sistem saraf pusat (tumor hipofisis atau hipotalamus) mungkin meningkatkan
kadar prolaktin. Pasien dengan lesi ini mempunyai kadar gonadotropin dan estrogen
yang rendah. Pelepasan GnRH yang tidak memadai disebabkan oleh sintesis GnRH
hipotalamus yang tidak memadai atau kerusakan pada neurotransmitter SSP.
15

Epidemiologi
Sekitar 20-30% penyebab amenorea primer.
Patogenesis
Hipogonadisme hipogonadotropik menyebabkan kadar estrogen yang sangat rendah
dan etiologi dapat bersifat morfologis atau endokrinologis. Fungsi hipotalamus
normal memerlukan pelepasan pulsatil GnRH dari nucleus arcuatus ke dalam sistem
portal hipofisis sekitar setiap jam. GnRH menyebabkan pelepasan LH dan FSH dari
hipofisis yang memacu pertumbuhan folikel ovarium dan ovulasi. Defisiensi sekresi
pulsatil GnRH akan menyebabkan gangguan pengeluaran gonadotropin sehingga
berakibat gangguan pematangan folikel dan ovulasi dan pada gilirannya akan terjadi
amenorea. Tidak adanya GnRH, transport abnormal GnRH, atau adanya pulsatil
GnRH yang abnormal akan menghasilkan hipogonadisme hipogonadotropik. Jika
frekuensi atau amplitudo pulsatil GnRH sangat berkurang, hanya sedikit atau tidak
ada FSH dan LH yang akan dilepaskan, tidak ada folikel ovarii yang akan
berkembang dan estradiol tidak akan disekresi.
Penatalaksanaan
Pengobatan pada amenore primer karena disfungsi hipotalamus adalah dengan
kontrasepsi oral.
16

3. Amenorea primer et cause kelainan gynekology (struktur reproduksi)
Etiologi
1. Gangguan kanalisasi vagina menyebabkan terbentuknya septum vagina trasversal,
atau pada bentuk paling ekstrim, tidak adanya vagina.
2. Pematangan unilateral dukteus mulleri disertai gangguan atau tidak adanya
perkembangan di duktus yang berlawanan menimbulkan cacat yangdiakibatkan
oleh kelainan saluran kemih bagian atas.
3. Kelainan tersering adalah tidak adanya atau kegagalan fusi kedua duktus mulleri
di bagian tengah. Kegagalan total fusi menghasilkan dua uterus, serviks, dan
vagina yang sama sekali terpisah. Resorpsi jaringan yang tidak sempurna di
antara ke dua duktus mulleri yang menyatu mengakibatkan terbentuknya septum
uterus.
4,11

Epidemiologi
Belum tersedia angka yang akurat tentang anomali-anomali ini. Green dan Harris
(1976) mengidentifikasi 80 kelainan perkembangan uterus dari 31.836 pelahiran (1
dalam 400). Mereka menekankan bahwa deteksi paling besar selama suatu periode
terjadi saat salah satu anggota staf bersemangat melakukan eksplorasi uterus saat
persalinan, dan apabila dicurigai adanya suatu anomali, dilakukan histerosalpingografi
6sampai 8 minggu pascapartum.
Sonografi dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelainan perkembangan uterus,
walaupun kurang presisi dibandingkan dengan histeroskopi dan histerosalpingografi.
Namun, selama kehamilan atau disangka hamil, evaluasi ultrasonografi cukup
informatif. Magnetic resonance imaging (MRI) mungkin lebih spesifik.
6,7

4. Amenorea primer et causa rokitansky sindrom
Etiologi
1. Produksi faktor regresi Mulleri yang tidak sesuai pada gonad embrio wanita
2. Tidak adanya atau kurangnya reseptor estrogen yang terbatas pada saluran
Muller bawah
3. Terhentinya perkembangan saluran Muller oleh bahan teratogenik.
4. Defek sel mesenkhim
5. Mutasi gen secara sporadis
Bahan teratogrnik dan gen mutan merupakan faktor etiologi yang paling mendekati.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, insiden dari aplasia vagina kongenital adalah 1 per 4000-5000
kelahiran perempuan. Sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser diperkirakan
sebagai keadaan sporadik dan saudara perempuan dari pasien tampaknya tidak
mengalami peningkatan risiko. Namun, dijumpai kasus familial sehingga risiko
saudara perempuan pasien untuk mengalami sindrom ini meningkat. Sindrom ini
dapat terjadi pada semua ras dan hanya mempengaruhi wanita. Sindrom Mayer-
Rokitansky-Kuster-Hauser merupakan kelainan kongenital yang muncul sejak lahir.
Namun, sindrom ini mungkin tidak terdiagnosis sampai remaja atau awal masa
dewasa.
Patogenesis
Sekitar umur kehamilan 5 minggu, duktus muleri berhenti berkembang. Kerangka
tulang yang berasal dari jaringan mesoderm embrio rentan mengalami gangguan
perkembangan pada masa ini. Uterus, serviks, dan 2/3 proksimal vagina terbentuk dari
penggabungan ujung akhir duktus mulerian. Sedangkan tuba falopi terbentuk dari
bagian ujung awal duktus muleri yang tidak menyatu. Sindrom Mayer-Rokitansky-
Kuster-Hauser sebelumnya diperkirakan sebagai kasus anomali yang sporadik, tetapi
adanya kasus familial mendukung hipotesis bahwa sindrom ini disebabkan oleh
kelainan genetik. Walaupun gen penyebab sindrom ini belum dapat ditentukan,
sindrom ini kemungkinan diwariskan melalui gen autosomal dominan.
5


Manifestasi klinis
Amenore Primer dan Nyeri Abdomen
o Gejala ini umum dijumpai pada penderita sindrom Mayer-Rokitansky-
Kuster-Hauser .
o Pasien dapat mengalami pubertas dengan thelarche dan adrenarche
normal, namun menstruasi tidak terjadi.
o Pasien dapat mengalami nyeri abdomen bersiklus sesuai dengan siklus
peluruhan endometrium.
o Dikarenakan fungsi ovarium normal, pasien mengalami segala perubahan
yang berkaitan dengan menstruasi dan pubertas.
Infertilitas
o Pasien yang tidak mengalami amenore primer sering mencari pertolongan
klinis untuk masalah infertilitasnya.
o Walaupun fungsi ovarium normal, tuba falopi dapat tertutup dan uterus
sering mengalami kelainan.
Ketidakmampuan untuk Berhubungan Seksual
o Derajat aplasia vagina bervariasi dari tidak terbentuknya vagina sama
sekali sampai
o Semakin sempit saluran vagina, semakin besar kemungkinan pasien
mengalami dispareunia.
Malformasi ginjal
o Tidak terbentuknya ginjal atau ektopia ginjal umum dijumpai. Diagnosis
dapat mengarah pada penemuan kelainan ginjal.
o Beberapa pasien memiliki riwayat inkontinensia uri atau infeksi traktus
urniraia berulang.
Abnormalitas Vertebra
Dapat dijumpai gangguan vertebra yang bervariasi derajat keparahannya.
Skoliosis merupakan kelainan vertebra yang paling sering dijumpai.
Penatalaksanaan
Pembuatan neo vagina melali tehnik:
1. Tehnik modifikasi McIndoe dan Bannister
2. Flap fasciocutaneous pudendal
3. Penggunaan kolon sigmoig (Metode Wagner)
4. Metode Vecchietti
17


KESIMPULAN
Amenore primer bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya adalah sindrom turner.
Sindrom turner adalah suatu monosomi kromosom seks, yang merupakan suatu kelainan
jumlah (aneuploidi). Dalam populasi umum, sindrom turner terjadi pada sekitar satu per
5.000 kelahiran bayi perempuan hidup. Bayi yang lahir dengan sindrom turner memiliki 45
kromosom; 22 pasang kromosom somatic dan satu kromosom seks, biasanya X (45 X/O).
Sindrom turner terjadi pada sekitar 1-2 persen kehamilan yang diketahui secara klinis, tapi 99
persen janin dengan kondisi sindrom turner meninggal sebelum dilahirkan. Hal ini
menjadikan sindrom turner sebagai anomaly kromosom yang paling umum dilaporkan pada
kasus aborsi spontan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nelson. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th Edition. 2007. United States of America:
Elsevier Inc. p.2386-8.
2. Susanto Rudy. Perawakan pendek. 2008. Semarang: Universitas Diponegoro Fakultas
Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Anak. h. 46-9.
3. Suryo. Genetika manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2003.h.247-
50.
4. Hull D, Johnshon DI. Dasar-dasar pediatric. Jakarta: EGC; 2008.h.18-9, 228.
5. Hassan R & Alatas H. Buku kuliah 1 ilmu kesehatan anak. Jakarta: FKUI;2007.
h.222.
6. Avise JC. The genetic god. Ed.1. Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2007. h. 314-6.
7. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi robbins. Ed.7. Vol.1. Jakarta :
EGC. 2007.183-4.
8. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak nelson. Vol 3. Edisi ke-
15. Jakarta: EGC; 2000.h.1992-4.
9. Harmsen Rebecca, Gallucci Betty B. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit. Edisi 6. 2006. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Hal: 26-7
10. Yudha EK, wahyuningsih E, Yulianti D, Karyuni PE. Buku saku patofisiologi:
genetika. Edisi ke-3. Jakarta: EGC;2007.h.63-6.
11. Sybert Virginia P, McCauley Elizabeth. Turners syndrome. N Engl J Med 2004;
351:1227-38
12. Kosim, MS, et.al. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Edisi I,
cetakan pertama 2008. Hal 63-70.
13. Effendi SH, Indrasanto E. Kelainan kongenital. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi
R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI;2008.h.63-9.
14. Lee HJ, Chang C. Recent advances in androgen receptor action. Cellular and
Molecular Life Sciences. 2003. p. 161322.
15. Nitsche EM, Hiort O. The molecular basis of androgen insensitivity. Hormone
Research. 2000. p. 32733.
16. Norwitz ER, Schorge JO. At a glance obstetri dan ginekologi, edisi ke 2. Jakarta:
penerbit Erlangga. 2007. h.47.
17. Emans J, Laufer MR, Goldstein DP. Pediatric & adolescent gynecology. Ed.5.
Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. 2005. p. 471-4.

























SASARAN PEMBELAJARAN
Mampu memahami dan menjelaskan anamnesis yang diperlukan untuk menegakkan
diagnosis kerja dan menyingkirkan diagnosis banding dari amenorea primer.
Mampu memahami dan menjelaskan pemeriksaan fisik dan penunjang yang
diperlukan untuk kasus amenorea primer.
Mampu memahami dan menjelaskan mengenai amenorea primer et causa sindrom
turner.
Mampu memahami dan menjelaskan mengenai amenorea primer et causa androgen
insufisiensi sindrom (AIS).
Mampu memahami dan menjelaskan mengenai amenorea primer et causa kelainan
pada kelenjar endokrin.
Mampu memahami dan menjelaskan mengenai amenorea primer et causa kelainan
ginekologi (struktur reproduksi)
Mampu memahami dan menjelaskan mengenai amenorea primer et causa rokitansky
sindrom.