Anda di halaman 1dari 90

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Cairan volatil adalah cairan yang mudah menguap, biasanya memiliki titik
didih dibawah titik didih air (< 100C). Molekul pada cairan volatil memiliki gaya
antar molekul yang sangatlah lemah, gaya antar molekul yang lemah ini
mengakibatkan molekul pada cairan volatil mudah lepas antara satu dengan yang
lain. Lepasnya molekul-molekul didalam cairan ini merupakan salah satu penyebab
cairan volatil mudah menguap. Cairan volatil mudah ditemukan didalam kehidupan
sehari-hari seperti metanol, dietil eter, aseton, klorofom, benzena.
Berdasarkan teori kinetik gas, cairan volatil dianggap sebagai kelanjutan dari
fase gas, di mana fase cairan molekul-molekulnya mempunyai gaya tarik-menarik
yang relatif lebih besar dibandingkan dengan gas, sehingga jarak antara partikel-
partikel jauh lebih lengkap. Hal inilah yang menyebabkan permukaan cairan dapat
menahan volume yang tepat. Cairan yang mudah menguap, gaya tarik-menarik
antara molekul-molekulnya rendah. Partikel-partikelnya cenderung untuk tercerai
berai oleh gerakannya masing-masing. Penguapan cairan terjadi karena molekul-
molekul cairan meninggalkan cairan.
Ketika cairan volatil dipanaskan, maka cairan volatil akan menguap dengan
cepat pada temperatur titik didih air. Penguapan ini terjadi akibat adanya pemanasan
atau penambahan suhu, sehingga energi kinetik didalam cairan tesebut bertambah.
Karena seiring bertambahnya suhu maka energi kinetik juga akan semakin besar.
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan berat molekul dari senyawa volatil
berdasarkan pengukuran densitas gas dan melatih persamaan gas. Karena
pengukuran berat molekul suatu cairan volatil tidak akan akurat bila dihitung
berdasarkan viskositas atau konsentrasinya hal ini disebabkan cairan dapat menguap
pada suhu kamar sehingga sebagian zat cair akan menguap dan menyebabkan analisa
tidak tepat. Untuk mengatasi hal itu maka digunakan metode yang paling sesuai
untuk menghitung berat molekul cairan volatil yaitu metode limiting density.

1.2 Perumusan Masalah
1. Bagaimana cara menentukan berat molekul dari senyawa volatil.
2. Bagaimana menghitung dan menentukan berat molekul dari sampel
senyawa volatil.

1.3 Tujuan
Mempelajari cara penentuan berat molekul dari senyawa volatil.

1.4 Manfaat
1. Dapat memahami prinsip dan cara pengukuran berat molekul cairan volatil
yang sederhana dan dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam
industri.
2. Dapat mengetahui dan memahami jenis-jenis cairan volatil.
3. Dapat lebih memperdalam pengetahuan mengenai prinsip-prinsip hukum
gas ideal.
4. Dapat mengetahui aplikasi cairan volatil dalam industri.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gas Ideal
Gas adalah suatu fase benda dalam ikatan molekul, bisa berbentuk cairan,
benda padat, ikatan molekul akan terlepas pada suhu titik uap benda. Gas
mempunyai kemampuan untuk mengalir dan dapat berubah bentuk. Namun berbeda
dari cairan yang mengisi pada besaran volume tertentu, gas selalu mengisi suatu
volume ruang, mereka mengembang dan mengisi ruang di manapun mereka berada.
Tenaga gerak/energi kinetis dalam suatu gas adalah bentuk zat terhebat kedua
(setelah plasma). Karena penambahan energi kinetis ini, atom-atom gas dan molekul
sering memantul antara satu sama lain, apalagi jika energi kinetis ini semakin
bertambah.



Gambar 2.1 Partikel dari asap rokok yang bergerak dalam gas / udara di sekitarnya

Kata "gas" kemungkinan diciptakan oleh seorang kimiawan Flandria sebagai
pengejaan ulang dari pelafalannya untuk kata Yunani, chaos (kekacauan)
(Wikipedia,2013a).
Gas ideal adalah gas teoritis yang terdiri dari partikel-partikel titik yang
bergerak secara acak dan tidak saling berinteraksi. Konsep gas ideal sangat berguna
karena memenuhi hukum gas ideal, sebuah persamaan keadaan yang disederhanakan,
sehingga dapat dianalisis dengan mekanika statistika.
Pada kondisi normal seperti temperatur dan tekanan standar, kebanyakan gas
nyata berperilaku seperti gas ideal. Banyak gas seperti nitrogen, oksigen, hidrogen,
gas mulia dan karbon dioksida dapat diperlakukan seperti gas ideal dengan
perbedaan yang masih dapat ditolerir. Secara umum, gas berperilaku seperti gas ideal
pada temperatur tinggi dan tekanan rendah, karena kerja yang melawan gaya
intermolekuler menjadi jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan energi kinetik
partikel, dan ukuran molekul juga menjadi jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan
ruangan kosong antar molekul.
Model gas ideal tak dapat dipakai pada suhu rendah atau tekanan tinggi, karena
gaya intermolekuler dan ukuran molekuler menjadi penting. Model gas ideal juga tak
dapat dipakai pada gas-gas berat seperti refrigeran atau gas dengan gaya
intermolekuler kuat, seperti uap air. Pada beberapa titik ketika suhu rendah dan
tekanan tinggi, gas nyata akan menjalani fase transisi menjadi liquid atau solid.
Model gas ideal tidak dapat menjelaskan atau memperbolehkan fase transisi. Hal ini
dapat dijelaskan dengan persamaan keadaan yang lebih kompleks.
Gas ideal termodinamika klasik
Karakteristik termodinamika gas ideal dapat dijelaskan dengan 2 persamaan:
Persamaan keadaan gas ideal adalah hukum gas ideal

Persamaan ini diturunkan dari Hukum Boyle: (pada n dan T
konstan); Hukum Charles: (pada P dan n konstan); dan Hukum Avogadro:
(pada P dan T konstan). Dengan menggabungkan ketiga hukum tersebut,
maka menjadi yang artinya .
Pada kondisi ideal, ; maka, .
Energi dalam gas ideal dinyatakan dengan: :
dengan
tekanan
volume
jumlah substansi gas dalam mol
konstanta gas
temperatur mutlak
konstanta Hukum Boyle
konstanta proporsional, sama dengan
konstanta proporsional, sama dengan
energi dalam
kapasitas panas spesifik pada volume konstan, 3/2 untuk
gas monoatom, 5/2 untuk gas diatom dan 3 untuk molekul lain yang
lebih kompleks. Untuk mengubah dari besaran makroskopik ke
mikroskopik, maka digunakan

dengan
adalah jumlah partikel gas
adalah konstanta Boltzmann (1.38110
23
J K
1
).
Kemungkinan distribusi partikel dari kecepatan atau energi dapat
menggunakan distribusi kecepatan Maxwell.
Hukum ideal gas adalah lanjutan dari hukum gas yang ditemukan secara
percobaan. Fluida nyata pada densitas rendah dan temperatur tinggi hampir
mengikuti hukum gas ideal. Namun, pada temperatur rendah atau densitas tinggi,
fluida nyata mengalami penyimpangan jauh dari sifat gas ideal, terutama karena
terkondensasi menjadi liquid atau terdeposisi menjadi padat. Penyimpangan ini
dinyatakan dalam faktor kompresibilitas.
Model gas ideal mengikuti asumsi berikut ini:
Molekul gas tidak dibedakan, berukuran kecil, dan berbentuk bola
Semua tabrakan antar gas bersifat elastis dan semua gerakannya tanpa friksi
(tidak ada energi hilang pada gerakan atau tabrakan)
Menggunakan hukum Newton
Jarak rata-rata antar molekul jauh lebih besar daripada ukuran molekul
Molekul secara konstan bergerak pada arah acak dengan distribusi kecepatan
Tidak ada gaya atraktif atau repulsif antara molekul atau sekitarnya
(Wikipedia, 2014a)
2.2 Sifat-sifat Gas
Gas terdiri dari partikel-partikel kecil yang memiliki ruang yang luas. Dalam
kondisi khusus, jarak rata-rata antara partikel-partikel gas adalah sekitar sepuluh kali
diameternya. Karena jarak yang besar ini, volume yang terisi partikel-partikel sangat
kecil bila dibandingkan dengan ruang kosong disekitarnya. Untuk gas pada suhu
ruangan dan temperatur, partikel-partikel gas mengisi sekitar 0,1% dari volume total,
99,9% yang lainnya adalah ruang kosong. Karena jarak yang besar antara partikel-
partikel gas, gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara partikel-partikel tersebut
sangat lemah.
Partikel-partikel dalam gas terus menerus bertumbukan dengan dinding
wadah dan bertumbukan satu sama lain. Karena tumbukan ini, partikel-partikel gas
terus menerus berganti arah gerakan dan kecepatannya. Dalam kondisi khusus,
sebuah partikel gas berpindah dengan jarak yang sangat pendek antara tumbukan.
Contohnya, Oksigen, molekulnya pada suhu dan tekanan normal berpindah kira-kira
10
-7
m antara tumbukan-tumbukan.
Sebuah gas ideal dibedakan dengan gas nyata dalam hal:
Partikel-partikel diasumsikan hanya memiliki massa tetapi tidak bervolume.
Tidak ada gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara partikel-partikel.
(Bishop, 2013)
Sebuah massa nM dari suatu gas dibatasi di dalam sebuah wadah yang
volumenya, V; M adalah berat molecular (gram/mol) dan n adalah banyaknya mol.
Massa jenis p dari gas tersebut adalah nM/V dan dapat mereduksi baik dengan
memindahkan sebagian gas dari wadah (dengan mereduksi n) atau dengan menaruh
gas tersebut di dalam sebuah wadah yang lebih besar dengan memperbesar V
(Halliday, 1985).
Diberikan suatu massa nM dari suatu gas di dalam keadaan kesetimbangan
termal, maka kita dapat mengukur tekanannya P, temperaturnya T, dan volumenya
V. Untuk nilai-nilai kerapatan yang cukup rendah maka eksperimen memperlihatkan
bahwa:
Untuk sebuah massa gas yang diberikan yang dipegang pada suatu temperatur
konstan, maka tekanan adalah berbanding terbalik dengan volume (hukum Boyle).
Untuk sebuah massa gas yang diberikan yang dipegang pada suatu tekanan
konstan, maka volume adalah berbanding langsung dengan temperatur (hukum
Charles dan Gay Lussac).
Dari kedua hasil eksperimental ini dapat diikhtisarkan dengan
hubungan:

= sebuah konstanta (untuk sebuah massa gas yang tetap)


Volume yang ditempati oleh suatu gas pada suatu tekanan dan
temperatur yang diberikan adalah sebanding dengan massanya. Jadi, konstanta di
dalam persamaan tersebut haruslah juga sebanding dengan massa gas. Kemudian
menuliskan konstanta dalam persamaan tersebut sebagai nR, dengan n adalah
banyaknya mol gas dan R adalah sebuah konstanta yang harus ditentukan dengan
eksperimen oleh setiap gas. Diharapkan bahwa kesederhanaan akan muncul jika
membandingkan gas-gas dengan menggunakan basis molar memang dapat
dibenarkan karena eksperimen memperlihatkan bahwa pada kerapatan yang cukup
rendah, R mempunyai nilai yang sama untuk semua gas. Tidak ada gas yang betul-
betul merupakan gas ideal, tetapi gas ideal tersebut tetap merupakan sebuah konsep
sederhana dan berguna yang dihubungkan dengan keadaan yang sebenarnya oleh
kenyataan bahwa sifat semua gas real akan mendekati abstraksi sifat gas ideal jika
kerapatan gas adalah cukup rendah. Persamaan di atas dinamakan persamaan
keadaan dari suatu gas ideal (Halliday, 1985).

2.3 Hukum-hukum Gas
Sifat-sifat gas dapat dipelajari dari segi eksperimen dan segi teori. Berikut ini
adalah hukum-hukum gas dari segi eksperimen.
a. Hukum Boyle
Hukum Boyle (atau sering direferensikan sebagai Hukum Boyle-
Mariotte) adalah salah satu dari banyak hukum kimia dan merupakan kasus
khusus dari hukum kimia ideal. Hukum Boyle mendeskripsikan kebalikan
hubungan proporsi antara tekanan absolut dan volume udara, jika suhu tetap
konstan dalam sistem tertutup. Hukum ini dinamakan setelah kimiawan dan
fisikawan Robert Boyle, yang menerbitkan hukum aslinya pada tahun 1662.
Hukumnya sendiri berbunyi:
Untuk jumlah tetap gas ideal tetap di suhu yang sama, P [tekanan] dan V
[volume] merupakan proporsional terbalik (dimana yang satu ganda, yang
satunya setengahnya).





Sejarah








Grafik dalam data asli Boyle
Gambar 2.2 Hubungan Antara Tekanan dan Volume Hukum Boyle
Hubungan antara tekanan dan volume pertama kali dicatat oleh ilmuwan
amatir, Richard Towneley dan Henry Power. Boyle mengkonfirmasi penelitian
dan eksperimen mereka dan menerbitkan hasilnya. Berdasarkan keterangan
dari Robert Gunther dan otoritas lain, saat itu adalah asisten Boyle, Robert
Hooke, yang membuat peralatan eksperimen. Hukum Boyle adalah
berdasarkan dari eksperimen dengan udara, dimana ia mempertimbangkan
adanya partikel fluida di tengah mata air yang tidak terlihat. Saat itu, udara
masih terlihat sebagai satu dari empat elemen, tetapi Boyle tidak setuju. Minat
Boyle kemungkinan adalah untuk mengerti bahwa udara adalah bagian penting
dalam hidup; ia mempublikasikan sebagai contoh pertumbuhan tumbuhan
tanpa udara. Fisikawan Perancis, Edme Mariotte (1620-1684) juga menemukan
hukum yang sama secara terpisah dengan Boyle tahun 1676, tetapi Boyle telah
mempublikasikan hukum tersebut tahun 1662. Jadi, hukum ini, kemungkinan,
secara tidak tepat, direferensikan juga merupakan hukum Mariotte, atau
Hukum Boyle-Mariotte. Kemudian, pada tahun 1687, di Philosophi Naturalis
Principia Mathematica, Newton, menunjukkan, secara matematis, jika fluida
elastis berisi sisa partikel, di tengah kekuatan repulsif dengan proporsional
terbalik kepada jaraknya, kepadatannya secara proporsional langsung kepada
tekanan, tetapi risalah matematisnya bukan penjelasan secara fisika terhadap
hubungan pengamatan. Daripada teori statis, teori kinetis dibutuhkan, dimana
ditemukan oleh Maxwell dan Boltzmann.
Definisi
Hubungan dengan teori kinetis dan udara ideal
Hukum Boyle menyatakan bahwa "dalam suhu tetap" untuk massa yang
sama, tekanan absolut dan volume udara terbalik secara proporsional. Hukum
ini juga bisa dinyatakan sebagai: secara agak berbeda, produk dari tekanan
absolut dan volume selalu konstan.
Kebanyakan udara berjalan seperti udara ideal saat tekanan dan suhu
cukup. Teknologi pada abad ke-17 tidak dapat memproduksi tekanan tinggi
atau suhu rendah. Tetapi, hukum tidak mungkin memiliki penyimpangan pada
saat publikasi. Sebagai kemajuan dalam teknologi membolehkan tekanan lebih
tinggi dan suhu lebih rendah, penyimpangan dari sifat udara ideal bisa tercatat,
dan hubungan antara tekanan dan volume hanya bisa akurat, dijelaskan sebagai
teori udara sesungguhnya. Penyimpangan ini disebut sebagai faktor
kompresibilitas.
Robert Boyle (dan Edme Mariotte) menyatakan bahwa hukum tersebut
berasal dari eksperimen yang mereka lakukan. Hukum ini juga bisa berasal
secara teori, berdasarkan anggapan bahwa atom dan molekul dan asumsi
tentang gerakan dan elastis sempurna (lihat teori kinetis udara). Asumsi
tersebut ditemukan dengan resisten hebat dalam komunitas ilmiah positif saat
itu, tetapi, saat mereka terlihat, merupakan konstruksi teoretis murni yang tidak
ada sedikit pun bukti pengamatan.
Pada tahun 1738, Daniel Bernoulli, mengembangkan teori Boyle
menggunakan Hukum Newton dengan aplikasi tingkat molekul. Ini tetap tidak
digubris sampai kira-kira tahun 1845, dimana John Waterston menerbitkan
bangunan kertas dengan persepsi utama adalah teori kinetis; tetap tidak
digubris oleh Royal Society of England. Kemudian, James Prescott Joule,
Rudolf Clausius, dan Ludwig Boltzmann menerbitkan teori kinetis udara, dan
menarik perhatian teori Bernoulli dan Waterston.
Debat antara proponen energetika dan atomisme mengantar Boltzmann
untuk menulis buku pada tahun 1898, dimana membuahkan kritik dan
mengakibatkan ia bunuh diri pada tahun 1906. Albert Einstein, pada tahun
1905, memperlihatkan bagaimana teori kinetis berlaku kepada Gerakan Brown
dengan partikel yang berisi fluida, dikonfirmasi tahun 1908 oleh Jean Perrin.
Persamaan
Persamaan matematis untuk Hukum Boyle adalah:


dimana:
p berarti sistem tekanan.
V berarti volume udara.
k adalah jumlah konstan tekanan dan volume dari sistem tersebut.
Selama suhu tetap konstan, jumlah energi yang sama memberikan sistem
persis selama operasi dan, secara teoritis, jumlah k akan tetap konstan. Akan
tetapi, karena penyimpangan tegak lurus diterapkanm, kemungkinan kekuatan
probabilistik dari tabrakan dengan partikel lain, seperti teori tabrakan, aplikasi
kekuatan permukaan tidak mungkin konstan secara tak terbatas, seperti jumlah
k, tetapi akan mempunyai batas dimana perbedaan jumlah tersebut terhadap a.
Kekuatan volume v dari kuantitas tetap udara naik, menetapkan udara
dari suhu yang telah diukur, tekanan p harus turun secara proporsional. Jika
dikonversikan, menurunkan volume udara sama dengan meninggikan tekanan.
Hukum Boyle biasa digunakan untuk memprediksi hasil pengenalan
perubahan, dalam volume dan tekanan saja, kepada keadaan yang sama dengan
keadaan tetap udara. Sebelum dan setelah volume dan tekanan tetap merupakan
jumlah dari udara, dimana sebelum dan sesudah suhu tetap (memanas dan
mendingin bisa dibutuhkan untuk kondisi ini), memiliki hubungan dengan
persamaan:

Hukum Boyle, Hukum Charles, dan Hukum Gay-Lusaac menghasilkan
hukum kombinasi udara. Tiga hukum udara tersebut berkombinasi dengan
Hukum Avogadro dan disamaratakan dengan hukum udara ideal.
Contoh penggunaan
1. Pergantian tekanan dalam penyuntik
2. Meniup balon
3. Peningkatan ukuran gelembung saat mereka naik ke permukaan.
4. Kematian makhluk laut dalam karena perubahan tekanan.
5. Masalah pada telinga di ketinggian tinggi.
(Wikipedia, 2013b)

b. Hukum Gay Lussac
Hukum Gay-Lussac dapat merujuk kepada salah satu dari dua hukum
kimia yang dikemukakan oleh kimiawan Perancis Joseph Louis Gay-Lussac.
Keduanya berhubungan dengan sifat-sifat gas.

Gambar 2.3 Joseph Louis Gay-Lussac (1778-1850)
Hukum Gay-Lussac 1802
Pada 1802, Gay-Lussac menemukan bahwa
Tekanan dari sejumlah tetap gas pada volum yang tetap berbanding
lurus dengan temperaturnya dalam kelvin
Secara matematis dapat dinyatakan

atau

dimana:
P adalah tekanan gas.
T adalah temperatur gas (dalam Kelvin).
k adalah sebuah konstanta.
Hukum ini dapat dibuktikan melalui teori kinetik gas, karena temperatur
adalah ukuran rata-rata energi kinetik, dimana jika energi kinetik gas
meningkat, maka partikel-partikel gas akan bertumbukan dengan
dinding/wadah lebih cepat, sehingga meningkatkan tekanan.
Hukum Gay-Lussac dapat dituliskan sebagai perbandingan dua gas

Hukum Gay-Lussac 1809
Hukum ini disebut juga hukum gabungan volum, yang ditemukan pada
1809
Perbandingan volum antara gas-gas dalam suatu reaksi kimia adalah
perbandingan bilangan bulat sederhana
Misalnya perbandingan volum hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari
penguraian air adalah 2:1. Hukum ini merupakan salah satu dasar dari
stoikiometri gas modern, dan hipotesis Avogadro pada 1811 berasal dari
hukum ini.
Hukum Charles
Hukum Charles juga kadang-kadang disebut Hukum Gay-Lussac atau
Hukum Charles Gay-Lussac, karena Gay-Lussac lah yang pertama kali
mempublikasikan penemuan ini pada 1802. Jacques Charles telah
menemukannya lebih dahulu pada 1787, namun tidak mempublikasikannya.

Belakangan hukum ini lebih sering disebut hukum Charles karena
kemudian Gay-Lussac menemukan hukum-hukum lain yang dinamakan sesuai
namanya (Wikipedia, 2013c).

c. Hukum Charles
Dalam termodinamika dan kimia fisik, hukum Charles adalah hukum
gas ideal pada tekanan tetap yang menyatakan bahwa
pada tekanan tetap, volume gas ideal bermassa tertentu berbanding
lurus terhadap temperaturnya (dalam Kelvin).
Secara matematis, hukum Charles dapat ditulis sebagai:

dengan
V: volume gas (m
3
),
T: temperatur gas (K), dan
k: konstanta.
Hukum ini pertama kali dipublikasikan oleh Joseph Louis Gay-Lussac
pada tahun 1802, namun dalam publikasi tersebut Gay-Lussac mengutip karya
Jacques Charles dari sekitar tahun 1787 yang tidak dipublikasikan. Hal ini
membuat hukum tersebut dinamai hukum Charles. Hukum Boyle, hukum
Charles, dan hukum Gay-Lussac merupakan hukum gas gabungan. Ketiga
hukum gas tersebut bersama dengan hukum Avogadro dapat digeneralisasikan
oleh hukum gas ideal (Wikipedia, 2014b).

d. Hukum Avogadro
Hukum Avogadro (Hipotes Avogadro, atau Prinsip Avogadro) adalah
hukum gas yang diberi nama sesuai dengan ilmuwan Italia Amedeo Avogadro,
yang pada 1811 mengajukan hipotesis bahwa:
Gas-gas yang memiliki volum yang sama, pada temperatur dan tekanan
yang sama, memiliki jumlah partikel yang sama pula.
Artinya, jumlah molekul atau atom dalam suatu volum gas tidak
tergantung kepada ukuran atau massa dari molekul gas. Sebagai contoh, 1 liter
gas hidrogen dan nitrogen akan mengandung jumlah molekul yang sama,
selama suhu dan tekanannya sama. Aspek ini dapat dinyatakan secara
matematis,
.
dimana:
V adalah volum gas.
n adalah jumlah mol dalam gas tersebut.
k adalah tetapan kesebandingan.
Akibat paling penting dari hukum Avogadro adalah bahwa Konstanta
gas ideal memiliki nilai yang sama bagi semua gas. Artinya, konstanta

dimana:
p adalah tekanan gas
T adalah temperatur
memiliki nilai yang sama untuk semua gas, tidak tergantung pada ukuran
atau massa molekul gas. Hipotesis Avogadro dibuktikan melalui teori kinetika
gas.
Satu mol gas ideal memiliki volum 22.4 liter pada kondisi standar (STP),
dan angka ini sering disebut volum molar gas ideal. Gas-gas nyata (non-ideal)
memiliki nilai yang berbeda (Wikipedia, 2013d).

e. Hukum tekanan parsial
Dalam banyak kasus Anda tidak akan berhadapan dengan gas murni
tetapi dengan campuran gas yang mengandung dua atau lebih gas. Dalton
tertarik dengan masalah kelembaban dan dengan demikian tertarik pada udara
basah, yakni campuran udara dengan uap air. Ia menurunkan hubungan berikut
dengan menganggap masing-masing gas dalam campuran berperilaku
independen satu sama lain.
Anggap satu campuran dua jenis gas A (n
A
mol) dan B (n
B
mol) memiliki
volume V pada temperatur T. Persamaan berikut dapat diberikan untuk
masing-masing gas.
p
A
= n
A
RT/V (6.8)
p
B
= n
B
RT/V (6.9)
p
A
dan p
B
disebut dengan tekanan parsial gas A dan gas B. Tekanan
parsial adalah tekanan yang akan diberikan oleh gas tertentu dalam campuran
seandainya gas tersebut sepenuhnya mengisi wadah.
Dalton meyatakan hukum tekanan parsial yang menyatakan tekanan
total P gas sama dengan jumlah tekanan parsial kedua gas. Jadi,
P = p
A
+ p
B
= (n
A
+ n
B
)RT/V (6.10)
Hukum ini mengindikasikan bahwa dalam campuran gas masing-masing
komponen memberikan tekanan yang independen satu sama lain. Walaupun
ada beberapa gas dalam wadah yang sama, tekanan yang diberikan masing-
masing tidak dipengaruhi oleh kehadiran gas lain.
Bila fraksi molar gas A, x
A
, dalam campuran x
A
= n
A
/(n
A
+ n
B
), maka p
A

dapat juga dinyatakan dengan x
A
.
p
A
= [n
A
/(n
A
+ n
B
)]P (6.11)
Dengan kata lain, tekanan parsial setiap komponen gas adalah hasil kali
fraksi mol, x
A
, dan tekanan total P.
Tekanan uap jenuh (atau dengan singkat disebut tekanan jenuh) air
disefinisikan sebagai tekanan parsial maksimum yang dapat diberikan oleh uap
air pada temperatur tertentu dalam campuran air dan uap air. Bila terdapat lebih
banyak uap air, semua air tidak dapat bertahan di uap dan sebagian akan
mengembun.
f. Persamaan Gas Ideal
Esensi ketiga hukum gas di atas dirangkumkan di bawah ini. Menurut
tiga hukum ini, hubungan antara temperatur T, tekanan P dan volume V
sejumlah n mol gas dengan terlihat.
Tiga hukum Gas
Hukum Boyle: V = a/P (pada T, n tetap)
Hukum Charles: V = b.T (pada P, n tetap)
Hukum Avogadro: V = c.n (pada T, P tetap)
Jadi, V sebanding dengan T dan n, dan berbanding terbalik pada P.
Hubungan ini dapat digabungkan menjadi satu persamaan:
V = RTn/P (6.4)
atau
PV = nRT (6.5)
R adalah tetapan baru. Persamaan di atas disebut dengan persamaan
keadaan gas ideal atau lebih sederhana persamaan gas ideal.
Nilai R bila n = 1 disebut dengan konstanta gas, yang merupakan satu
dari konstanta fundamental fisika. Nilai R beragam bergantung pada satuan
yang digunakan. Dalam sistem metrik, R = 8,2056 x10
2
dm
3
atm mol
-1
K
-1
.
Kini, nilai R = 8,3145 J mol
-1
K
-1
lebih sering digunakan (Takeuchi, 2008).
Dari segi pandangan mikroskopik maka didefinisikan suatu gas ideal
yaitu :
a. Suatu gas terdiri dari partikel-partikel, yang dinamakan molekul-
molekul. Bergantung pada gas tersebut, maka setiap molekul akan terdiri dari
sebuah atom atau sekelompok atom. Jika gas tersebut adalah sebuah elemen
atau suatu persenyawaan dan berada di dalam suatu keadaan stabil, maka kita
akan meninjau semua molekulnya sebagai molekul-molekul yang identik.
b. Molekul-molekul bergerak secara serampangan dan menuruti hukum-
hukum gerak Newton. Molekul-molekul bergerak didalam semua arah dan
dengan berbagai laju. Di dalam menghitung sifat-sifat gerakan, maka kita
menganggap bahwa mekanika Newton dapat dipakai pada tingkat mikroskopik.
Seperti untuk semua anggapan kita, maka anggapan yang satu ini akan dapat
bertahan atau gagal bergantung pada apakah hasil-hasil eksperimental yang
diramalkan oleh anggapan ini benar atau tidak.
c. Jumlah seluruh molekul adalah besar. Arah dan laju gerakan dari
setiap molekul dapat berubah secara tiba-tiba karena tumbukan dengan dinding
atau dengan molekul lain. Setiap molekul khas akan menuruti sebuah jalan
yang berliku-liku karena tumbukan-tumbukan ini. Akan tetapi, karena
banyaknnya molekul maka kita menganggap bahwa jumlah besar tumbukan
yang dihasilkan akan mempertahankan distribusi kecepatan molekular secara
keselutuhan dan keserampangan gerakan.
d. Volume molekul-molekul adalah pecahan kecil yang dapat diabaikan
dari volume yang ditempati oleh gas tersebut. Walaupun jumlahnya molekul
adalah sangat banyak, namun molekul-molekul tersebut adalah sangat kecil
sekali. Kita mengetahui bahwa volume yang ditempati oleh suatu gas dapat
diubah melalui suatu jangkauan nilai yang besar dengan kesukaran yang kecil,
dan bahwa bila suatu gas mengembun maka volume yang ditempati oleh cairan
tersebut dapat beribu-ribu kali lebih kecil daripada volume yang ditempati oleh
gas (Halliday, 1985).

2.4 Berat Molekul Gas
Dengan mengganggap bahwa rumus gas ideal diikuti oleh gas nyata pada
tekanan rendah, berat molekul gas dapat dicari dengan mempergunakan rumus gas
ideal:


Di mana:
Mr = berat molekul gas
W = massa gas
= densitas gas
Dengan menimbang suatu volume tertentu gas pada P dan T tertentu dengan
memakai rumus di atas dapat ditentukan berat molekul.
a. Cara Regnault
Dipakai untuk menentukan berat molekul zat pada suhu kamar berbentuk gas.
Untuk itu suatu bola gelas (300-500cc) dikosongkan dan ditimbang. Kemudian diisi
dengan gas yang bersangkutan dan ditimbang kembali. Dari tekanan dan temperatur
gas dengan memakai rumus di atas dapat ditentukan Mr. Berat gas adalah selisih
berat kedua penimbangan.
b. Cara Victor Meyer
Dipakai untuk menentukan berat molekul zat cair yang mudah menguap. Alat
Victor Meyer terdiri atas tabung B (50 cc) yang didalamnya dimasukkan pula
tabung C. Tabung A berisi zat cair dengan titik didih 30C lebih tinggi daripada zat
cair yang akan ditentukan berat molekulnya. Bila berat zat cair = W, maka dapat
dihitung berat molekul zatnya. Tekanan uap harus direduksi dengan tekanan uap air
pada temperatur percobaan.
c. Cara Limiting Density
Berat molekul ditentukan berdasarkan hukum-hukum gas ideal hanya kira-
kira, namun hasilnya cukup untuk penentuan rumus-rumus molekul. Hal ini
disebabkan karena hukum gas ideal sudah menyimpang walaupun pada tekanan
atmosfer (Sukardjo, 1997).

2.5 Penguapan Cairan
Zat yang mudah menguap, seperti alkohol, cuka, parfum, minyak cengkeh, dan
bensin, kita sebut volatil atau atsiri. Zat-zat yang volatil adalah senyawa kovalen
dengan titik didih rendah, sehingga pada suhu kamar sudah cukup banyak yang
menguap (ingat! menguap berbeda dari mendidih; mendidih adalah perubahan cairan
menjadi gas pada titik didihnya; menguap adalah perubahan pedatan atau cairan atau
cairan menjadi uap, tidak harus pada titik didihnya) (Purba, 2003).
Cairan yang mudah menguap terdiri dari molekul molekul yang mempunyai
gaya antar molekul yang lemah, mereka cenderung bercerai berai oleh gesekan
masing masing, seperti yang ditun jukkan pada gambar (a) dan (b) dibawah,
beberapa molekul meninggalkan induk cairan (menguap) jika kebetulan molekul itu
berarah keatas dan cukup kecepatannya untuk mengalahkan gaya tarik yang lemah
itu. Uap ialah nama keadaan gas suatu zat pada suatu tekanan dan temperatur, pada
mana zat itu lazimnya
Terbentuk cairan yang mudah menguapkan dikatakan atsiri (volatil), etil eter
adalah cairan yang sangat mudah menguap, minyak pelumas sukar menguap.

a) Penguapan dari suatu wadah terbuka lebih banyak molekul yang pergi
daripada yang kembali.
b) Penguapam dalam wadah tertutup pada keadaan jenuh atau
kesetimbangan, banyaknya molekul yang meninggalkan cairan persatuan sama
dengan banyaknya molekul yang kembali.
Gas mengembun menjadi cairan, bila gaya antar molekul menjadi cukup kuat
untuk mengalahkan energi kinetika molekul. Temperatur diatas mana suatu gas tak
dapat dicairkan, beberapa besarnya tekanan disebut temperatur kritis untuk gas itu,
kritis keadaan gas suatu zat dibawah kondisi pada mana lazimnya zat itu berbentuk
suatu cairan atau zat padat disebut uap. Tekanan yang dilakukan oleh tekanan suatu
kesetimbangan dengan fase padat ataupun fase cairan (Keenan, dkk.1996).









BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Cairan Volatil
3.1.1 Kloroform (CHCl
3
)
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl
3
).


Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, akan tetapi
penggunaanya sudah dilarang karena telah terbukti dapat merusak liver dan
ginjal. Kloroform kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di
laboratorium. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan bening, mudah
menguap, dan berbau khas.
Tabel 3.1 Sifat Fisika dan Kimia Kloroform
Kloroform


Nama IUPAC
Chloroform
Nama sistematis
Trichloromethane
Nama lain
Formyl trichloride, Methane trichloride, Methyl
trichloride, Methenyl trichloride, TCM, Freon 20, R-20,
UN 1888
Identifikasi
Nomor CAS [67-66-3]
PubChem 6212
Nomor EINECS 200-663-8
KEGG C13827
ChEBI 35255
Nomor RTECS FS9100000
SMILES C(Cl)(Cl)Cl
InChI
1/CHCl3/c2-1(3)4/h1H
Sifat
Rumus molekul CHCl
3

Massa molar 119.38 g/mol
Penampilan Colorless liquid
Densitas 1.48 g/cm
3

Titik lebur -63.5 C
Titik didih 61.2 C
Kelarutan dalam air 0.8 g/100 ml at 20 C
Struktur
Bentuk molekul Tetrahedral
Bahaya
Bahaya utama
Harmful (Xn), Irritant (Xi), Carc.
Cat. 2B
NFPA 704

0
2
0

Frasa-R
R22, R38, R40,
Templat:R48/20/22
Frasa-S S2, S36/37
Titik nyala Non-flammable
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)
Produksi
Kloroform dapat disintesis dengan cara mencampuran etil alkohol atau
etanol dengan kalsium hipoklorit. Kalsium hipoklorit merupakan donor unsur
klor. Selain kalsium hipoklorit, penyumbang unsur klor yang dapat dipakai
adalah pemutih pakaian. Pemutih pakaian memiliki senyawa aktif yaitu asam
hipoklorit. Etil alkohol dipanaskan dan dicampurkan dengan kalsium
hipoklorit. Untuk mendapatkan kloroform dari reaksi pencampuran ini,
terdapat tiga reaksi yang terjadi:
Reaksi oksidasi
CH
3
-CH
2
OH (etil alkohol) + Cl
2
---> CH
3
-CHO (asetaldehida) + HCl
(asam klorida)
Reaksi klorinasi
CH
3
-CH
2
OH (asetaldehida) + 3Cl
2
---> CCl
3
-CHO
(trikloroasetaldehida) + 3HCl (asam klorida)
Reaksi hidrolisis
2CCl
3
-CHO (trikloroasetaldehida) + Ca(OH)
2
(kalsium hidroksida) ---
> 2CH
3
Cl (kloroform) + (HCOOH)2Ca (kalsium format)
Selain menggunakan etil alkohol, aseton dapat digunakan untuk
menggantikan etil alkohol. Reaksi yang terjadi adalah:
Reaksi klorinasi
CH
3
COCH
3
(aseton) + 3Cl
2
---> CCl
3
COCH
3
(trikloroaseton) + 3HCl
(asam klorida)
Reaksi hidrolisis
CCl
3
COCH
3
(trikloroaseton) + Ca(OH)
2
---> 2CH
3
Cl (kloroform) +
(CH
3
COO)
2
Ca (kalsium asetat)
Selain ketiga hal diatas, terdapat pula reaksi klorinasi metana yang
membutuhkan suhu 400C. Reaksi tersebut terjadi sebagai berikut:
CH
4
(metana) + Cl
2
---> CH
3
Cl + CH
2
Cl
2
+ CHCl
3
+ CCl
4

Untuk proses ini, kloroform dapat dipisahkan menggunakan distilasi
bertingkat, dan proses ini paling banyak diaplikasikan dalam industri.
[1]

Aplikasi
Kloroform dapat digunakan untuk mengekstraksi komponen
yang tidak larut dalam air seperti lipid dalam proses isolasi DNA. Proses
isolasi DNA melibatkan larutan yang berisi campuran fenol, kloroform, dan
isoamilalkohol. Campuran ini akan membuat suspensi DNA pada lapisan atas
dan pengotor-pengotor akan mengendap pada bagian bawah tabung.
[4]
Cairan
yang berada pada bagian atas tabung akan diproses lebih lanjut untuk analisis
DNA, dan bagian pengotor dibuang.
Kloroform dapat digunakan untuk campuran untuk
menentukan konsentrasi detergen anionik seperti ''sodium dodesil sulfat''.


Metode yang dilakukan dinamakan Methylene Blue Active Substance. Lapisan
bagian kloroform diambil lalu diukur menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang 652 nm.
Kloroform juga dapat digunakan untuk mengkuantifikasi
secara kasar kandungan lipid dalam suatu sampel. Untuk memisahkan lipid
dari pengotor-pengotor lainnya, sering ditambahkan pelarut organik lainnya
seperti metanol untuk menarik kandungan protein. Lapisan kloroform diambil
lalu diuapkan hingga tersisa lipidnya.
Kloroform digunakan untuk mengekstraksi kafein dalam
minuman. Untuk mendapatkan kafein tersebut, dalam pemisahannya perlu
ditambahkan diklorometana untuk menarik senyawa pengotor. Lapisan
kloroform diambil, lalu diuji menggunakan spektrofotometer ultraviolet
(Wikipedia, 2014c).
3.1.2 Aseton (CH
3
COCH
3
)
Aseton, juga dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon,
propan-2-on, dimetilformaldehida, dan -ketopropana, adalah senyawa
berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Ia merupakan keton
yang paling sederhana. Aseton larut dalam berbagai perbandingan dengan air,
etanol, dietil eter,dll. Ia sendiri juga merupakan pelarut yang penting. Aseton
digunakan untuk membuat plastik, serat, obat-obatan, dan senyawa-senyawa
kimia lainnya. Selain dimanufaktur secara industri, aseton juga dapat
ditemukan secara alami, termasuk pada tubuh manusia dalam kandungan kecil.
Tabel 3.2 Sifat Fisika dan Kimia Aseton
Aseton



Nama IUPAC
Propanon
Nama lain
-ketopropana
Dimetil keton, dimetilformaldehida, DMK
Identifikasi
Nomor CAS [67-64-1]
Nomor RTECS AL31500000
SMILES CC(=O)C
InChI 1/C3H6O/c1-3(2)4/h1-2H3
Sifat
Rumus molekul CH
3
COCH
3

Massa molar 58,08 g/mol
Penampilan Cairan tidak berwarna
Densitas 0,79 g/cm, cair
Titik lebur 94,9 C (178,2 K)
Titik didih 56,53 C (329,4 K)
Kelarutan dalam
air
larut dalam berbagai
perbandingan
Viskositas 0,32 cP pada 20 C
Struktur
Bentuk molekul trigonal planar pada C=O
Momen dipol 2,91 D
Bahaya
Klasifikasi EU
Mudah terbakar (F)
Iritan (Xi)
NFPA 704

3
1
0

Frasa-R R11, R36, R66, R67
Frasa-S S2, S9, S16, S26
Titik nyala -17 C
Suhu swanyala 465 C
Senyawa terkait
Pelarut terkait
Air
Etanol
Isopropanol
Toluena
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas
berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25C,
100 kPa)
Produksi
Aseton dibuat secara langsung maupun tidak langsung dari propena.
Secara umum, melalui proses kumena, benzena dialkilasi dengan propena dan
produk proses kumena(isopropilbenzena) dioksidasi untuk menghasilkan fenol
dan Aseton:
C
6
H
5
CH(CH
3
)
2
+ O
2
C
6
H
5
OH + OC(CH
3
)
2

Konversi di atas terjadi melalui zat antara kumena hidroperoksida,
C
6
H
5
C(OOH)(CH
3
)
2
.
Aseton juga diproduksi melalui propena yang dioksidasi langsung
dengan menggunakan katalis Pd(II)/Cu(II), mirip seperti 'proses wacker'.
Dahulu, aseton diproduksi dari distilasi kering senyawa asetat,
misalnya kalsium asetat. Selama perang dunia I, sebuah proses produksi aseton
dari fermentasi bakteri dikembangkan oleh Chaim Weizmann dalam rangka
membantu Britania dalam usaha perang. Proses ini kemudian ditinggalkan
karena rendahnya aseton butanol yang dihasilkan.
Biosintesis
Sejumlah kecil aseton diproduksi dalam tubuh melalui dekarboksilasi
jasad keton.
Penggunaan
Cairan pembersih
Aseton sering kali merupakan komponen utama (atau tunggal) dari
cairan pelepas cat kuku. Etil asetat, pelarut organik lainnya, kadang-kadang
juga digunakan. Aseton juga digunakan sebagai pelepas lem super. Ia juga
dapat digunakan untuk mengencerkan dan membersihkan resin kaca serat dan
epoksi. Ia dapat melarutkan berbagai macam plastik dan serat sintetis.
Ia sangat baik digunakan untuk mengencerkan resin kaca serat,
membersihkan peralatan kaca gelas, dan melarutkan resin epoksi dan lem super
sebelum mengeras.
Selain itu, aseton sangatlah efektif ketika digunakan sebagai cairan
pembersih dalam mengatasi tinta permanen.
Pelarut
Aseton dapat melarutkan berbagai macam plastik, meliputi botol
Nalgene yang dibuat dari polistirena, polikarbonat, dan beberapa jenis
poliprolilena.
[2]

dalam laboratorium, aseton digunakan sebagai pelarut aportik polar
dalam kebanyakan reaksi organik, seperti reaksi S
N
2. Penggunaan pelarut
aseton juga berperan penting pada oksidasi Jones. Oleh karena polaritas aseton
yang menengah, ia melarutkan berbagai macam senyawa. Sehingga ia
umumnya ditampung dalam botol cuci dan digunakan sebagai untuk membilas
peralatan gelas laboratorium.
Walaupun mudah terbakar, aseton digunakan secara ekstensif pada
proses penyimpanan dan transpor asetilena dalam industri pertambangan.
Bejana yang mengandung bahan berpori pertama-tama diisi dengan aseton,
kemudian asetilena, yang akan larut dalam aseton. Satu liter aseton dapat
melarutkan sekitas 250 liter asetilena.
Stok umpan
Dalam bidang industri, aseton direaksi dengan fenol untuk
memproduksi bisfenol A. Bisfenol A adalah komponen penting dalam berbagai
polimer, misalnya polikarbonat, poliuretana, dan resin epoksi. Aseton juga
digunakan dalam manufaktur kordit (Wikipedia, 2014d).
3.1.3 Metanol (CH
3
OH)
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau
spiritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH
3
OH. Ia merupakan
bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan
yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun
dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). metanol
digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai
bahan additif bagi etanol industri.
Tabel 3.3 Sifat Fisika dan Kimia Metanol
Methanol




Nama IUPAC
methanol
Nama lain
Hidroksimetana
Metil alkohol
Metil hidrat
Alkohol kayu
Karbinol
Identifikasi
Nomor CAS [67-56-1]
Nomor RTECS PC1400000
SMILES
CO
Sifat
Rumus molekul CH
3
OH
Massa molar 32.04 g/mol
Penampilan colorless liquid
Densitas 0.7918 g/cm, liquid
Titik lebur 97 C, -142.9 F (176 K)
Titik didih 64.7 C, 148.4 F (337.8 K)
Kelarutan dalam
air
Fully miscible
Keasaman (pK
a
) ~ 15.5
Viskositas 0.59 mPa s at 20 C
Momen dipol 1.69 D (gas)
Bahaya
Klasifikasi EU Flammable (F)
Toxic (T)
NFPA 704

3
3
1

Frasa-R R11, R23/24/25,
Templat:R39/23/24/25
Frasa-S (S1/2), S7, S16, S36/37, S45
Titik nyala 11 C
Senyawa terkait
alkanols terkait ethanol
propanol
butanol
Senyawa terkait chloromethane
methoxymethane
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)
Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh
bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di
udara. Setelah beberapa hari, uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh
oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi karbon dioksida dan air.
Reaksi kimia metanol yang terbakar di udara dan membentuk karbon
dioksida dan air adalah sebagai berikut:
2 CH
3
OH + 3 O
2
2 CO
2
+ 4 H
2
O
Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus
berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera
akibat api yang tak terlihat.
Karena sifatnya yang beracun, metanol sering digunakan sebagai
bahan additif bagi pembuatan alkohol untuk penggunaan industri; Penambahan
"racun" ini akan menghindarkan industri dari pajak yang dapat dikenakan
karena etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras (minuman
beralkohol). Metanol kadang juga disebut sebagai wood alcohol karena ia
dahulu merupakan produk samping dari distilasi kayu. Saat ini metanol
dihasilkan melului proses multi tahap. Secara singkat, gas alam dan uap air
dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan karbon monoksida;
kemudian, gas hidrogen dan karbon monoksida ini bereaksi dalam tekanan
tinggi dengan bantuan katalis untuk menghasilkan metanol. Tahap
pembentukannya adalah endotermik dan tahap sintesisnya adalah eksotermik.
Sejarah
Dalam proses pengawetan mayat, orang Mesir kuno menggunakan
berbagai macam campuran, termasuk di dalamnya metanol, yang mereka
peroleh dari pirolisis kayu. Methanol murni, pertama kali berhasil diisolasi
tahun 1661 oleh Robert Boyle, yang menamakannya spirit of box, karena ia
menghasilkannya melalui distilasi kotak kayu. Nama itu kemudian lebih
dikenal sebagai pyroxylic spirit (spiritus). Pada tahun 1834, ahli kimia Perancis
Jean-Baptiste Dumas dan Eugene Peligot menentukan komposisi kimianya.
Mereka juga memperkenalkan nama methylene untuk kimia organik, yang
diambil dari bahasa Yunani methy = "anggur") + hl = kayu (bagian dari
pohon). Kata itu semula dimaksudkan untuk menyatakan "alkohol dari (bahan)
kayu", tetapi mereka melakukan kesalahan.
Kata methyl pada tahun 1840 diambil dari methylene, dan kemudian
digunakan untuk mendeskripsikan "metil alkohol". Nama ini kemudian
disingkat menjadi "metanol" tahun 1892 oleh International Conference on
Chemical Nomenclature. Suffiks [-yl] (indonesia {il}) yang digunakan dalam
kimia organik untuk membentuk nama radikal-radikal, diambil dari kata
"methyl".
Pada tahun 1923, ahli kimia Jerman, Matthias Pier, yang bekerja
untuk BASF mengembangkan cara mengubah gas sintesis (syngas / campuran
dari karbon dioksida and hidrogen) menjadi metanol. Proses ini menggunakan
katalis zinc chromate (seng kromat), dan memerlukan kondisi ekstrem
tekanan sekitar 30100 MPa (3001000 atm), dan temperatur sekitar 400 C.
Produksi metanol modern telah lebih effisien dengan menggunakan katalis
tembaga yang mampu beroperasi pada tekanan relatif lebih rendah.
Penggunaan metanol sebagai bahan bakar mulai mendapat perhatian
ketika krisis minyak bumi terjadi pada tahun 1970-an karena ia mudah tersedia
dan murah. Masalah timbul pada pengembangan awalnya untuk campuran
metanol-bensin. Untuk menghasilkan harga yang lebih murah, beberapa
produsen cenderung mencampur metanol lebih banyak. Produsen lainnya
menggunakan teknik pencampuran dan penanganan yang tidak tepat.
Akibatnya, hal ini menurunkan mutu bahan bakar yang dihasilkan. Akan tetapi,
metanol masih menarik utuk digunakan sebagai bahan bakar bersih. Mobil-
mobil dengan bahan bakar fleksibel yang dikeluarkan oleh General Motors,
Ford dan Chrysler dapat beroperasi dengan setiap kombinasi etanol, metanol
dan/atau bensin.
Produksi
Saat ini, gas sintesis umumnya dihasilkan dari metana yang
merupakan komponen dari gas alam. Terdapat tiga proses yang dipraktekkan
secara komersial.
Pada tekanan sedang 1 hingga 2 MPa (1020 atm) dan temperatur
tinggi (sekitar 850 C), metana bereaksi dengan uap air (steam) dengan katalis
nikel untuk menghasilkan gas sintesis menurut reaksi kimia berikut:
CH
4
+ H
2
O CO + 3 H
2

Reaksi ini, umumnya dinamakan steam-methane reforming atau SMR,
merupakan reaksi endotermik dan limitasi perpindahan panasnya menjadi
batasan dari ukuran reaktor katalitik yang digunakan.
Metana juga dapat mengalami oksidasi parsial dengan molekul
oksigen untuk menghasilkan gas sintesis melalui reaksi kimia berikut:
2 CH
4
+ O
2
2 CO + 4 H
2

reaksi ini adalah eksotermik dan panas yang dihasilkan dapat
digunakan secara in-situ untuk menggerakkan reaksi steam-methane reforming.
Ketika dua proses tersebut dikombinasikan, proses ini disebut sebagai
autothermal reforming. Rasio CO and H
2
dapat diatur dengan menggunakan
reaksi perpindahan air-gas (the water-gas shift reaction):
CO + H
2
O CO
2
+ H
2
,
untuk menghasilkan stoikiometri yang sesuai dalam sintesis metanol.
Karbon monoksida dan hidrogen kemudian bereaksi dengan katalis
kedua untuk menghasilkan metanol. Saat ini, katalis yang umum digunakan
adalah campuran tembaga, seng oksida, dan alumina, yang pertama kali
digunakan oleh ICI pada tahun 1966. Pada 510 MPa (50100 atm) dan
250 C, ia dapat mengkatalisis produksi metanol dari karbon monoksida dan
hidrogen dengan selektifitas yang tinggi:
CO + 2 H
2
CH
3
OH
Sangat perlu diperhatikan bahwa setiap produksi gas sintesis dari
metana menghasilkan 3 mol hidrogen untuk setiap mol karbon monoksida,
sedangkan sintesis metanol hanya memerlukan 2 mol hidrogen untuk setiap
mol karbon monoksida. Salah satu cara mengatasi kelebihan hidrogen ini
adalah dengan menginjeksikan karbon dioksida ke dalam reaktor sintesis
metanol, dimana ia akan bereaksi membentuk metanol sesuai dengan reaksi
kimia berikut:
CO
2
+ 3 H
2
CH
3
OH + H
2
O
Walaupun gas alam merupakan bahan yang paling ekonomis dan
umum digunakan untuk menghasilkan metanol, bahan baku lain juga dapat
digunakan. Ketika tidak terdapat gas alam, produk petroleum ringan juga dapat
digunakan. Di Afrika Selatan, sebuah perusahaan (Sasol) menghasilkan
metanol dengan menggunakan gas sintesis dari batu bara.
Kegunaan
Bahan bakar untuk kendaraan bermotor
Metanol digunakan secara terbatas dalam mesin pembakaran dalam,
dikarenakan metanol tidak mudah terbakar dibandingkan dengan bensin.
Metanol juga digunakan sebagai campuran utama untuk bahan bakar model
radio kontrol, jalur kontrol, dan pesawat model.
Salah satu kelemahan metanol jika digunakan dalam konsentrasi
tinggi adalah sifat korosif terhadap beberapa logam, termasuk aluminium.
Metanol, meskipun merupakan asam lemah, menyerang lapisan oksida yang
biasanya melindungi aluminium dari korosi:
6 CH
3
OH + Al
2
O
3
2 Al(OCH
3
)
3
+ 3 H
2
O
Ketika diproduksi dari kayu atau bahan oganik lainnya, metanol
organik tersebut merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan
hidrokarbon. Namun mobil modern pun masih tidak bisa menggunakan BA100
(100% bioalkohol) sebagai bahan bakar tanpa modifikasi. Metanol juga
digunakan sebagai pelarut dan sebagai antibeku, dan fluida pencuci kaca depan
mobil.
Bahan utama untuk bahan lain
Penggunaan metanol terbanyak adalah sebagai bahan pembuat bahan
kimia lainnya. Sekitar 40% metanol yang ada diubah menjadi formaldehid, dan
dari sana akan dihasilkan berbagai macam produk seperti plastik, plywood, cat,
peledak, dan tekstil.
Senyawa kimia lainnya yang merupakan turunan dari metanol adalah
dimetil eter, yang telah menggantikan klorofluorokarbon sebagai bahan
campuran pada aerosol, dan asam asetat. Dimetil eter juga dapat dicampur
dengan gas alam terkompresi (LPG) untuk memanaskan masakan, dan juga
bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti diesel.
Dalam beberapa pabrik pengolahan air limbah, sejumlah kecil metanol
digunakan ke air limbah sebagai bahan makanan karbon untuk denitrifikasi
bakteri, yang mengubah nitrat menjadi nitrogen.
Bahan bakar direct-metanol unik karena suhunya yang rendah, operasi
pada tekanan atmofser, mengijinkan mereka dibuat kecil. Ditambah lagi
dengan penyimpanan dan penanganan yang mudah dan aman membuat
metanol dapat digunakan dalam perlengkapan elektronik.dari MUMU
(Wikipedia, 2013e).
3.1.4 Etanol (C
2
H
5
OH)
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut,
atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar,
tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat
ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah
salah satu obat rekreasi yang paling tua.
Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia
C
2
H
5
OH dan rumus empiris C
2
H
6
O. Ia merupakan isomer konstitusional dari
dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan
singkatan dari gugus etil (C
2
H
5
).
Fermentasi gula menjadi etanol merupakan salah satu reaksi organik
paling awal yang pernah dilakukan manusia. Efek dari konsumsi etanol yang
memabukkan juga telah diketahui sejak dulu. Pada zaman modern, etanol yang
ditujukan untuk kegunaan industri dihasilkan dari produk sampingan
pengilangan minyak bumi.
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia
yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada
parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol
adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis
senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai
bahan bakar.


Tabel 3.4 Sifat Fisika dan Kimia Etanol
Etanol




Nama IUPAC
Etanol
Nama lain
Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol
absolut
Identifikasi
Nomor CAS [64-17-5]
PubChem 702
Nomor RTECS KQ6300000
SMILES
CCO
InChI
1/C2H6O/c1-2-3/h3H,2H2,1H3
Sifat
Rumus molekul C
2
H
5
OH
Massa molar 46,07 g/mol
Penampilan cairan tak berwarna
Densitas 0,789 g/cm
3

Titik lebur 114,3
Titik didih 78,4
Kelarutan dalam air tercampur penuh
Keasaman (pK
a
) 15,9
Viskositas 1,200 cP (20 C)
Momen dipol 1,69 D (gas)
Bahaya
Klasifikasi EU Mudah terbakar (F)
NFPA 704

3
1
0

Frasa-R R11
Frasa-S S2 S7 S16
Titik nyala 13 C (55.4 F)
Senyawa terkait
Senyawa terkait metanol, propanol
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)
Sejarah
Etanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan
pemabuk dalam minuman beralkohol. Residu yang ditemukan pada
peninggalan keramik yang berumur 9000 tahun dari Cina bagian utara
menunjukkan bahwa minuman beralkohol telah digunakan oleh manusia
prasejarah dari masa Neolitik.
Etanol dan alkohol membentuk larutan azeotrop. Karena itu
pemurnian etanol yang mengandung air dengan cara penyulingan biasa hanya
mampu menghasilkan etanol dengan kemurnian 96%. Etanol murni (absolut)
dihasilkan pertama kali pada tahun 1796 oleh Johan Tobias Lowitz yaitu
dengan cara menyaring alkohol hasil distilasi melalui arang.
Lavoisier menggambarkan bahwa etanol adalah senyawa yang
terbentuk dari karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808 Saussure
berhasil menentukan rumus kimia etanol. Lima puluh tahun kemudian (1858),
Couper mempublikasikan rumus kimia etanol. Dengan demikian etanol adalah
salah satu senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus kimianya.
Etanol pertama kali dibuat secara sintetik pada tahun 1826 secara
terpisah oleh Henry Hennel dari Britania Raya dan S.G. Srullas dari Perancis.
Pada tahun 1828, Michael Faraday berhasil membuat etanol dari hidrasi etilena
yang dikatalisis oleh asam. Proses ini mirip dengan proses sintesis etanol
industri modern.
Etanol telah digunakan sebagai bahan bakar lampu di Amerika Serikat
sejak tahun 1840, namun pajak yang dikenakan pada alkohol industri semasa
Perang Saudara Amerika membuat penggunaannya tidak ekonomis. Pajak ini
dihapuskan pada tahun 1906, dan sejak tahun 1908 otomobil Ford Model T
telah dapat dijalankan menggunakan etanol. Namun, dengan adanya pelarangan
minuman beralkohol pada tahun 1920, para penjual bahan bakar etanol dituduh
berkomplot dengan penghasil minuman alkohol ilegal, dan bahan bakar etanol
kemudian ditinggalkan penggunaannya sampai dengan akhir abad ke-20.
Sifat-sifat fisika
Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan
aroma yang khas. Ia terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang
kadang-kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa.
Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus
hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat
berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih
sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa molekul yang
sama.
Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut
organik lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida,
kloroform, dietil eter, etilena glikol, gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena.
Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan, seperti pentana dan
heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik seperti trikloroetana dan
tetrakloroetilena.
Campuran etanol-air memiliki volume yang lebih kecil daripada
jumlah kedua cairan tersebut secara terpisah. Campuran etanal dan air dengan
volume yang sama akan menghasilkan campuran yang volumenya hanya 1,92
kali jumlah volume awal. Pencampuran etanol dan air bersifat eksotermik
dengan energi sekitar 777 J/mol dibebaskan pada 298 K.
Campuran etanol dan air akan membentuk azeotrop dengan
perbandingkan kira-kira 89 mol% etanol dan 11 mol% air. Perbandingan ini
juga dapat dinyatakan sebagai 96% volume etanol dan 4% volume air pada
tekanan normal dan T = 351 K. Komposisi azeotropik ini sangat tergantung
pada suhu dan tekanan. Ia akan menghilang pada temperatur di bawah 303 K.
Ikatan hidrogen menyebabkan etanol murni sangat higroskopis,
sedemikiannya ia akan menyerap air dari udara. Sifat gugus hidroksil yang
polar menyebabkannya dapat larut dalam banyak senyawa ion, utamanya
natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium klorida, kalsium klorida,
amonium klorida, amonium bromida, dan natrium bromida. Natrium klorida
dan kalium klorida sedikit larut dalam etanol. Oleh karena etanol juga memiliki
rantai karbon nonpolar, ia juga larut dalam senyawa nonpolar, meliput
kebanyakan minyak atsiri dan banyak perasa, pewarna, dan obat.
Penambahan beberapa persen etanol dalam air akan menurunkan
tegangan permukaan air secara drastis. Campuran etanol dengan air yang lebih
dari 50% etanol bersifat mudah terbakar dan mudah menyala. Campuran yang
kurang dari 50% etanol juga dapat menyala apabila larutan tersebut dipanaskan
terlebih dahulu.
Indeks refraksi etanol adalah 1,36242 (pada =589,3 nm dan
18,35 C).
Sifat-sifat kimia
Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon
yang berikatan dengan gugus hidroksil paling tidak memiliki dua hidrogen
atom yang terikat dengannya juga. Reaksi kimia yang dijalankan oleh etanol
kebanyakan berkutat pada gugus hidroksilnya.
Reaksi asam-basa
Gugus hidroksil etanol membuat molekul ini sedikit basa. Ia hampir
netral dalam air, dengan pH 100% etanol adalah 7,33, berbanding dengan pH
air murni yang sebesar 7,00. Etanol dapat diubah menjadi konjugat basanya,
ion etoksida (CH
3
CH
2
O

), dengan mereaksikannya dengan logam alkali seperti


natrium:
2CH
3
CH
2
OH + 2Na 2CH
3
CH
2
ONa + H
2

ataupun dengan basa kuat seperti natrium hidrida:
CH
3
CH
2
OH + NaH CH
3
CH
2
ONa + H
2
.
Reaksi seperti ini tidak dapat dilakukan dalam larutan akuatik, karena
air lebih asam daripada etanol, sehingga pembentukan hidroksida lebih
difavoritkan daripada pembentuk etoksida.
Halogenasi
Etanol bereaksi dengan hidrogen halida dan menghasilkan etil halida
seperti etil klorida dan etil bromida:
CH
3
CH
2
OH + HCl CH
3
CH
2
Cl + H
2
O
Reaksi dengan HCl memerlukan katalis seperti seng klorida.
[14]

Hidrogen klorida dengan keberadaan seng klorida dikenal sebagai reagen
Lucas.
CH
3
CH
2
OH + HBr CH
3
CH
2
Br + H
2
O
Reaksi dengan HBr memerlukan proses refluks dengan katalis asam
sulfat.
Etil halida juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan alkohol dengan
agen halogenasi yang khusus, seperti tionil klorida untuk pembuatan etil
klorida, ataupun fosforus tribromida untuk pembuatan etil bromida.
CH
3
CH
2
OH + SOCl
2
CH
3
CH
2
Cl + SO
2
+ HCl
Pembentukan ester
Kondisi di bawah katalis asam, etanol bereaksi dengan asam
karboksilat dan menghasilkan senyawa etil eter dan air:
RCOOH + HOCH
2
CH
3
RCOOCH
2
CH
3
+ H
2
O.
Agar reaksi ini menghasilkan rendemen yang cukup tinggi, air perlu
dipisahkan dari campuran reaksi seketika ia terbentuk.
Etanol juga dapat membentuk senyawa ester dengan asam anorganik.
Dietil sulfat dan trietil fosfat dihasilkan dengan mereaksikan etanol dengan
asam sulfat dan asam fosfat. Senyawa yang dihasilkan oleh reaksi ini sangat
berguna sebagai agen etilasi dalam sintesis organik.
Dehidrasi
Asam kuat yang sangat higroskopis seperti asam sulfat akan
menyebabkan dehidrasi etanol dan menghasilkan etilena maupun dietil eter:
2 CH
3
CH
2
OH CH
3
CH
2
OCH
2
CH
3
+ H
2
O (pada 120'C)
CH
3
CH
2
OH H
2
C=CH
2
+ H
2
O (pada 180'C)
Oksidasi
Etanol dapat dioksidasi menjadi asetaldehida, yang kemudian dapat
dioksidasi lebih lanjut menjadi asam asetat. Dalam tubuh manusia, reaksi
oksidasi ini dikatalisis oleh enzim tubuh. Pada laboratorium, larutan akuatik
oksidator seperti asam kromat ataupun kalium permanganat digunakan untuk
mengoksidasi etanol menjadi asam asetat. Proses ini akan sangat sulit
menghasilkan asetaldehida oleh karena terjadinya overoksidasi. Etanol dapat
dioksidasi menjadi asetaldehida tanpa oksidasi lebih lanjut menjadi asam asetat
menggunakan piridinium kloro kromat (Pyridinium chloro chromate, PCC).
C
2
H
5
OH + 2[O] CH
3
COOH + H
2
O
Produk oksidasi etanol, asam asetat, digunakan sebagai nutrien oleh
tubuh manusia sebagai asetil-koA.
Pembakaran
Pembakaran etanol akan menghasilkan karbon dioksida dan air:
C
2
H
5
OH(g) + 3 O
2
(g) 2 CO
2
(g) + 3 H
2
O(l);(H
r
= 1409 kJ/mol
[16]
)
Pembuatan
Etanol dapat diproduksi secara petrokimia melalui hidrasi etilena
ataupun secara biologis melalaui fermentasi gula dengan ragi.
Hidrasi etilena
Etanol yang digunakan untuk kebutuhan industri sering kali dibuat
dari senyawa petrokimia, utamanya adalah melalui hidrasi etilena:
C
2
H
4(g)
+ H
2
O
(g)
CH
3
CH
2
OH
(l)
.
Katalisa yang digunakan umumnya adalah asam fosfat. Katalis ini
digunakan pertama kali untuk produksi skala besar etanol oleh Shell Oil
Company pada tahun 1947. Reaksi ini dijalankan dengan tekanan uap berlebih
pada suhu 300 C.
Proses lama yang pernah digunakan pada tahun 1930 oleh Union
Carbide adalah dengan menghidrasi etilena secara tidak langsung dengan
mereaksikannya dengan asam sulfat pekat untuk mendapatkan etil sulfat. Etil
sulfat kemudian dihidrolisis dan menghasilkan etanol:
C
2
H
4
+ H
2
SO
4
CH
3
CH
2
SO
4
H
CH
3
CH
2
SO
4
H + H
2
O CH
3
CH
2
OH + H
2
SO
4

Fermentasi
Etanol untuk kegunaan konsumsi manusia (seperti minuman
beralkohol) dan kegunaan bahan bakar diproduksi dengan cara fermentasi.
Spesies ragi tertentu (misalnya Saccharomyces cerevisiae) mencerna gula dan
menghasilkan etanol dan karbon dioksida:
C
6
H
12
O
6
2 CH
3
CH
2
OH + 2 CO
2
.
Proses membiakkan ragi untuk mendapatkan alkohol disebut sebagai
fermentasi. Konsentrasi etanol yang tinggi akan beracun bagi ragi. Pada jenis
ragi yang paling toleran terhadap etanol, ragi tersebut hanya dapat bertahan
pada lingkungan 15% etanol berdasarkan volume.
Untuk menghasilkan etanol dari bahan-bahan pati, misalnya serealia,
pati tersebut haruslah diubah terlebih dahulu menjadi gula. Dalam pembuatan
bir, ini dapat dilakukan dengan merendam biji gandum dalam air dan
membiarkannya berkecambah. Biji gandum yang beru berkecambah tersebut
akan menghasilkan enzim amilase. Biji kecambah gandum ditumbuk, dan
amilase yang ada akan mengubah pati menjadi gula.
Untuk etanol bahan bakar, hidrolisis pati menjadi glukosa dapat
dilakukan dengan lebih cepat menggunakan asam sulfat encer, menambahkan
fungi penghasil amilase, atapun kombinasi dua cara tersebut.
Sifat Medis
Etanol telah banyak dibukti menyebabkan kelainan pada metabolisme
lipoprotein, sintesis kolesterol dan penurunan sintesis asam empedu, asam
kolat, fosfolipid, serta penurunan aktivitas enzim 12 alpha-hydroxylase.
Penggunaan
Pelarut
Campuran minuman (intoxicant)
Sintesis bahan kimia lain
Etanol juga dapat diminum sedikit dengan campuran air dan dapat
membantu proses metabolisme (Wikipedia, 2014e).
3.1.5 Diisopropil Eter (C
6
H
14
O)
Eter diisopropil adalah eter sekunder yang digunakan sebagai pelarut.
Ini adalah cairan tak berwarna yang sedikit larut dalam air, tetapi larut dengan
pelarut organik. Hal ini digunakan sebagai ekstraktan dan aditif bensin
oksigenat. Hal ini diperoleh industri sebagai produk sampingan dalam produksi
isopropanol dengan hidrasi propena. Diisopropyl ether kadang-kadang
direpresentasikan dengan singkatan "DIPE".
Kegunaan
Sedangkan pada 20 C, dietil eter akan larut 1% berat air, Dipe hanya
melarutkan setengah sebanyak. Hal ini digunakan sebagai pelarut khusus untuk
menghapus atau ekstrak senyawa organik polar dari larutan berair, misalnya
fenol, etanol, asam asetat. Dipe digunakan sebagai agen antiknock.
Tabel 3.5 Sifat Fisika dan Kimia Diisopropil Eter

(en.Wikipedia, 2013)
Diisopropyl ether

Identifiers
CAS number 108-20-3


Molecular formula C
6
H
14
O
Molar mass 102.17 g mol
1

Appearance Colorless liquid
Odor Sharp, sweet, ether-like
[1]

Density 0.725 g/ml
Melting point 60 C (76 F; 213 K)
Boiling point
68.5 C (155.3 F;
341.6 K)
Solubility in water 2 g/L at 20 C
Hazards
EU classification Flammable (F)
NFPA 704

3
1
1
Flash point 28 C (18 F; 245 K)
Explosive limits 1.47.9%
Except where noted otherwise, data are given for
materials in their standard state (at 25 C
(77 F), 100 kPa)
3.2 Silika Gel
Gel silika adalah butiran seperti kaca dengan bentuk yang sangat berpori, silika
dibuat secara sintetis dari natrium silikat. Walaupun namanya, gel silika padat. Gel
silika adalah mineral alami yang dimurnikan dan diolah menjadi salah satu bentuk
butiran atau manik-manik. Sebagai pengering, ia memiliki ukuran pori rata-rata 2,4
nanometer dan memiliki afinitas yang kuat untuk molekul air.
Silika gel merupakan suatu bentuk dari silika yang dihasilkan melalui
penggumpalan sol natrium silikat (NaSiO2). Sol mirip agar agar ini dapat
didehidrasi sehingga berubah menjadi padatan atau butiran mirip kaca yang bersifat
tidak elastis. Sifat ini menjadikan silika gel dimanfaatkan sebagai zat penyerap,
pengering dan penopang katalis. Garam garam kobalt dapat diabsorpsi oleh gel ini.
Silica gel mencegah terbentuknya kelembapan yang berlebihan sebelum
terjadi. Para pabrikan mengetahui hal ini, karena itu mereka selalu memakai silica
gel dalam setiap pengiriman barang-barang mereka yang disimpan dalam kotak.
Silica gel merupakan produk yang aman digunakan untuk menjaga kelembapan
makanan, obat-obatan, bahan sensitif, elektronik dan film sekalipun.
Produk anti lembap ini menyerap lembap tanpa mengubah kondisi zatnya.
Walaupun dipegang, butiran-butiran silica gel ini tetap kering. Silica gel penyerap
kandungan air bisa diaktifkan sesuai kebutuhan. Unit ini mempunyai indikator
khusus yang akan berubah dari warna biru ke merah muda kalau produk mulai
mengalami kejenuhan kelembapan. Saat itulah alat ini aktif. Setelah udara
mengalami kejenuhan/kelembapan, dia bisa diaktifkan kembali lewat oven. Sejak
Perang Dunia II, silica gel sudah menjadi pilihan yang terpercaya oleh pemerintah
dan pelaku industri. Silica gel sering ditemukan dalam kotak paket dan pengiriman
film, kamera, teropong, alat-alat komputer, sepatu kulit, pakaian, makanan, obat-
obatan, dan peralatan peralatan lainnya.
Silica gel adalah substansi-substansi yang digunakan untuk menyerap
kelembapan dan cairan partikel dari ruang yang berudara/bersuhu. Silica gel juga
membantu menahan kerusakan pada barang-barang yang mau disimpan.
Silica gel yang siap untuk digunakan berwarna biru. Ketika silica gel telah
menyerap banyak kelembapan, ia akan berubah warnanya menjadi pink(merah
muda). Ketika ia berubah menjadi warna pink(merah muda), ia tidak bisa lagi
menyerap kelembapan. Ia harus meregenerasi. Hal ini dapat dilakukan dengan
menghangatkannya di dalam mesin oven. Panasnya mengeluarkan kelembapan, lalu
ia akan berubah warnanya menjadi biru dan kembali bisa digunakan (Wikipedia,
2013f).

3.3 Peralatan Percobaan
1. Desikator
Fungsi Desikator / Eksikator
Desikator atau Eksikator berfungsi sebagai:
Tempat menyimpan sampel yang harus bebas air
Mengeringkan dan mendinginkan sample yang akan di gunakan untuk uji
kadar air
Macam-macam Desikator atau Eksikator
Desikator/eksikator ada 2 macam, yaitu:
- Desikator biasa
- Desikator vakum (Vacum)




Cara menggunakan Desikator/eksikator:
Cara membuka tutup desikator adalah dengan menggesernya ke samping.
Letakkan sampel yang baru keluar dari oven atau yang akan di keringkan dan
didinginkan
Lalu tutup kembali dengan cara yang sama dengan cara membukanya tadi
yaitu di geser kesamping.
Perhatikan Silika gel yang berfungsi sebagai penyerap uang air. Silika gel
yang masih bisa menyerap uap air berwarna biru; jika silika gel sudah
berubah menjadi merah muda maka perlu dipanaskan dalam oven bersuhu
105
o
C sampai warnanya kembali biru (Azizah, 2012).

Gambar 3.1 Desikator
2. Water Bath

Water Bath merupakan peralatan yang berisi air yang bisa
mempertahankan suhu air pada kondisi tertentu selama selang waktu yang
ditentukan.

Prinsip kerja:

Pada saat dingin mensterilisasi steker dihidupkan, dipilih suhu
(temperatur) yang diinginkan (jika memungkinkan) dan atur. Pengaturan harus
dilakukan sesuia dengan pembacaan thermostat (bila tersedia), atau sesuai
dengan suatu sistem pengawasan suhu.
Fungsi Water bath :
Water bath dapat digunakan untuk :
1. Pemanasan pada suhu rendah 30
0
C sampai 100
0
C
2. Menguapkan zat atau larutan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi
Water bath menggunakan daya listrik yang rendah sehingga sangat
ekonomis dan efisien. Pada laboratorium mikrobiologi, water bath digunakan
untuk menginkubasi kultur mikrobiologi.
Secara sederhana alat ini menggunakan pemanas pada air yang
dipanaskan dengan api maupun dengan listrik atau uap dari air.
Bagian-bagian water bath :
1. Pengatur suhu
2. pengaman kedudukan tinggi air
3. penangas air bisa dilengkapi motor penggerak sehingga dapat
berfungsi sebagai alat pengocok
4. elemen pemanas dengan listrik
5. tangas uap mempunyai satu hingga enam buah lubang untuk
menaruh/meletakkan benda yang akan diuapkan
Cara kerja water bath :
1. Air dimasukkan ke dalam bejana
2. Atur suhu yang dikehendaki dan hidupkan water bath
3. Masukkan benda yang akan dipanaskan ke dalam air ( untuk tangas air )
letakkan benda pada salah satu lubang ( untuk tangas uap ), ingat lubang lain
yang tidak digunakan tetap ditutup (Anonim, 2013).
.
3. Labu Erlenmeyer
Labu Erlenmeyer, Fungsi dan cara menggunakannya. Erlenmeyer adalah
peralatan gelas (Glass ware equipment) yang seringkali di gunakan untuk
analisa dalam laboratorium. Bentuknya bulat dan berbentuk kerucut dibagian
atasnya. Disalah satu sisi, ada tanda untuk menunjukkan ukuran volume isi,
dan memiliki spot yang dapat diberi label dengan pensil . leher dan mulut botol
yang sempit pada erlenmeyer bertujuan agar mudah di pegang, mengurangi
penguapan dan dapat di tutup dengan mudah. Sedangkan dasar permukaan
yang rata membuatnya flexsible di letakan dimana saja.




Fungsi dan Kegunaan Erlenmeyer
Fungsi dan kegunaan Erlenmeyer antara lain adalah:
1. Erlenmeyer berfungsi untuk mengukur dan mencampur bahan-bahan
analisa,
2. Erlenmeyer berfungsi utk menampung larutan, bahan padat ataupun
cairan,
3. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan
menghomogenkan (melarutkan) bahan-bahan komposisi media,
4. Erlenmeyer berfungsi sebagai tempat kultivasi mikroba dalam kultur
cair,
5. Erlenmeyer berfungsi sebagai tempat untuk melakukan titrasi bahan
Labu erlenmeyer Kebanyakan terbuat dari kaca borosilikat sehingga
mereka dapat dipanaskan di atas api atau di autoklaf. Ukuran yang paling
umum mungkin adalah termos erlenmeyer 250 ml dan 500 ml. Namun ada juga
Erlenmeyer yang berukuran 50 ml, 125 ml, dan 1000 ml. Biasanya erlenmeyer
tidak mempunyai tutup. Untuk penutup dapat menyegel mereka dengan plastik
atau gabus penyumbat. Namun ada juga Erlenmeyer yang khusus di buat
dengan penutup yang juga terbuat kaca
4. Neraca Elektrik
Fungsi : sebagai alat untuk menimbang sampel

5. Gelas ukur
Fungsi : untuk mengukur volume larutan
6. Termometer
Fungsi : sebagai alat pengukur suhu larutan
7. Alumunium foil
Fungsi : sebagai penutup mulut labu erlenmeyer
8. Karet gelang
Fungsi : sebagai pengedap udara
9. Jarum
Fungsi : sebagai pembuat lubang pada aluminium foil
10. Penjepit tabung
Fungsi : sebagai alat untuk menjepit labu erlenmeyer
11. CorongGelas
Fungsi :menuanglarutan agar tidaktumpah

3.4 Prosedur Percobaan Penentuan Berat Molekul Volatil
1. Labu erlenmeyer kosong ditimbang dengan menggunakann neraca digital.
2. Labu erlenmeyer ditutup dengan alumunium foil, kemudian penutup
tersebut dikencangkan dengan karet gelang.
3. Labu erlenmeyer kosong, aluminium foil dan karet gelang ditimbang
dengan menggunakan neraca digital.

Gambar 3.2 Timbang erlenmeyer kosong yang sudah ditutup dengan
alumuniumdan karet gelang
(Fernandes, 2013)
4. Labu erlenmeyer dibuka kembali dan dalamnya dimasukkan sampel (cairan
volatil) sesuai dengan variasi volume, kemudian ditutup dengan
menggunakan aluminium foil dan karet gelang yang sama sehingga bersifat
kedap gas. Kemudian dengan jarum kecil dibuat lubang pada penutupnya.

Gambar 3.3 Memasukkan sampel kedalam erlenmeyer
(Fernandes, 2013)
5. Labu erlenmeyer direndam dalam penangas air bersuhu 100
o
C sedemikian
sehingga air berada sekitar 1 cm di bawah alumunium foil. Biarkan sampai
semua cairan volatil menguap, kemudian catat suhu penangas air tersebut.

Gambar 3.4 Penguapan dalam penangas air
(Fernandes, 2013)

Gambar 3.5 Penngukuran suhu penangas air
(Fernandes, 2013)
6. Setelah semua cairan volatil menguap, labu erlenmeyer diangkat dari
penangas air. Bagian luarnya dikeringkan dengan menggunakan kain lap,
dan didinginkan dalam desikator sekitar 30 menit sehingga udara masuk
kembali ke dalam labu melalui lubang kecil pada penutup dan uap cairan
volatil yang terdapat dalam labu erlenmeyer akan kembali menguap menjadi
cairan.

Gambar 3.6 Pendinginan cairan volatil dalam desikator
(Siregar, 2014)
7. Setelah uap dalam labu erlenmeyer mengembun menjadi cairan, labu
erlenmeyer dikeluarkan dari desikator lalu ditimbang (jangan lepaskan tutup
alumunium foil dan karet gelang sebelum labu erlenmeyer ditimbang).

Gambar 3.7 Ditimbang berat erlenmeyer
(Fernandes, 2013)
8. Volume labu erlenmeyer ditentukan dengan cara mengisi labu dengan air
sampai penuh dan beratnya ditimbang serta suhu air yang terdapat dalam
labu erlenmeyer dicatat.

Gambar 3.8 Ditentukan volume erlenmeyer
(Fernandes, 2013)
9. Dengan menggunakan massa cairan volatil dan volume labu erlenmeyer
dihitung massa jenis gas.
10. Hitung berat molekul cairan volatil dengan menggunakan persamaan gas
ideal.












3.4 Flowchart Percobaan Penentuan Berat Molekul Volatil































Ya
Labu erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil,
dikencangkan dengan karet gelang
Ditimbang dengan neraca digital
Sampel dimasukkan sebanyak 2,5 mL
ml
Dibuat lubang kecil dengan jarum pada penutup
Mulai
Labu erlenmeyer kosong ditimbang dengan neraca digital
Apakah sampel sudah
menguap semua ?
Diangkat, dikeringkan, dan didinginkan dalam desikator
Ya
A
B
Labu erlenmeyer direndam dalam penangas air
Tidak
Apakah pengeringan
sudah berlangsung
selama 30 menit ?
Tidak





















Gambar 3.9 Flowchart Percobaan Penentuan Berat Molekul Volatil








Labu erlenmeyer diisi penuh dengan air
Labu erlenmeyer ditimbang
Labu erlenmeyer ditimbang dan
ditentukan volume erlenmeyer
Apakah masih ada
variasi sampel lain
?
Selesai
B
Tidak
Ya
A
Dicatat suhu dalam desikator
Dicatat suhu dalam labu erlenmeyer
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Faktor Koreksi
Nilai Mr hasil perhitungan akan mendekati nilai sebenarnya tetapi sebenarnya
mengandung kesalahan. Ketika labu erlenmeyer kosong ini ditimbang, labu ini penuh
dengan udara. Setelah pemanasan dan pendinginan dalam desikator tidak semua uap
cairan kembali kebentuk cairnya. Oleh karena itu massa sebenarnya X harus
ditambahkan dengan massa udara yang tidak dapat masuk kembali ke dalam labu
erlenmeyer karena adanya uap cairan yang tidak mengembun. Massa tersebut dapat
dihitung dengan mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat
masuk tadi sama dengan tekanan uap cairan X pada suhu kamar. Nilai ini dapat
diketahui dari tabel ( misalnya dalam The handbook of physic Chemistry). Sebagai
contoh untuk menghitung tekanan uap kloroform pada suhu tertentu dapat digunakan
rumus :
Log P = 6,9023-1163,03 /(227,4 +T )
T = suhu senyawa dalam
0
C
P = tekanan
(Vermandes, dkk., 2011).





BAB V
APLIKASI-APLIKASI DALAM INDUSTRI

5.1 Aplikasi Dalam Industri Simulasi Proses Dehidrasi Etanol dengan
Kolom Distilasi Azeotrop Menggunakan Isooktan
Etanol dapat diperoleh dari berbagai cara, yakni hidrasi etilen, fermentasi
glukosa atau sebagai hasil samping kegiatan industri. Bioetanol merupakan etanol
yang dihasilkan dari fermentasi glukosa yang berasal dari biomassa yang
mengandung komponen pati atau selulosa, seperti singkong, molase (tetes tebu),
jagung, sagu atau gliserol. Masalah yang timbul pada proses pemurnian ini adalah
etanol akan membentuk azeotrop dengan air pada temperatur 78,15
o
C pada
konsentrasi 95,6 % berat (97,2 % volume) sehingga tidak dapat dipisahkan melalui
proses distilasi biasa. Distilasi azeotrop digunakan untuk campuran yang sulit
dipisahkan melalui proses distilasi biasa, karena membentuk azeotrop, dimana
komposisi komponen di fasa uap maupun cair tidak berubah lagi oleh pemanasan.
Pada penelitian ini, distilasi azeotrop digunakan untuk mendapatkna
bioethanol murni dari campuran azeotropnya. Dalam distilasi azeotrop, pemisahan
dapat terjadi dengan penambahan entrainer, yaitu suatu zat yang berperan mengubah
volatilitas relatif komponen kunci. Pada penelitian ini, entrainer yang digunakan
adalah isooktan.
Umpan yang berupa campuran etanol-air masuk ke azeotropic column.
Produk atas dari azeotropic column dicampur dengan produk atas dari stripping
column, kemudian dilakukan pemisahan antara fasa yang banyak mengandung
entrainer dengan fasa yang sedikit mengandung entrainer. Fasa yang banyak
mengandung entrainer diumpankan kembali ke azeotropic column dengan
penambahn make-up isooktan murni, sementara fasa yang sedikit mengandung
entrainer diumpankan ke stripping column. Produk bawah azeotropic column
diharapkan berupa etanol murni, sedangkan produk bawah stripping column
diharapkan mengandung sedikit isooktan (Bisowarno., dkk, 2010).

5.2 Aplikasi Dalam Industri Recovery Metanol pada Proses Pembuatan
Biodiesel dari Minyak Jarak Pagar (J atropha Curcas Oil)
Salah satu sumber minyak tumbuhan yang sangat prospektif untuk bahan
baku biodiesel adalah biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) Proses pembuatan
biodiesel terdiri dari dua tahap yaitu proses esterifikasi dan transesterifikasi. Untuk
menyempurnakan kedua proses tersebut maka digunakan metanol berlebih. Proses
esterifikasi menghasilkan fasa metanol-air, gum, dan metil ester, sedangkan proses
transesterifikasi menghasilkan fasa metil ester dan gliserol. Kelebihan metanol yang
tidak bereaksi terdistribusi dalam fasa-fasa tersebut. Recovery metanol dari fasa
ester-minyak pada proses esterifikasi dilakukan dengan proses distilasi satu tahap.
Dari lima percobaan yang dilakukan, metanol berlebih yang dapat diperoleh kembali
dari proses esterifikasi adalah 65,69%, 77,37%, 62,04%, 72,98%, dan 62,77% dari
metanol sisa. Indeks refraksi metanol yang terdistilasi antara 1,3206 sampai 1,3306
dibanding dengan indeks refraksi metanol murni yang 1,3306. Sedangkan
kromatogram dari analisis kromatografi gas cair menunjukkan bahwa kadar metanol
berada antara 87,3% sampai 100%. Biodiesel yang dihasilkan telah memenuhi
spesifikasi biodiesel Standar Nasional Indonesia (Suratno, dkk, 2007).










Gambar 5.1 Flowsheet Recovery Metanol pada Proses Pembuatan Biodiesel
dari Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas Oil)
(Suratno,dkk, 2007)

5.3 Aplikasi Dalam Industri Pembuatan Etanol dari Fermentasi Molase
Etanol dapat diproduksi dari tanaman yang mengandung pati atau disebut
bioetanol. Salah satu alternatif lain yang cukup potensial dalam menanggulangi krisis
minyak bumi adalah pemanfaatan molase sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.
Pembuatan etanol dari molase dilakukan beberapa tahap. Prosesnya, molase
dimurnikan dengan menyaringnya lewat screening yang bertujuan untuk
menghilangkan abu. Abu yang telah dipisahkan dari molase kemudian ditampung
dalam bak penampung yang selanjutnya dibuang. Molase yang telah dimurnikan
dipompakan ke reaktor, kemudian molase dihidrolisa untuk mengubah sukrosa
menjadi glukosa sehingga diperoleh kadar gula yang optimum. Untuk mencegah
adanya mikroba kontamin yang hidup selama proses fermentasi, maka molase
dipanaskan memakai uap pada suhu 75
o
C kemudian didinginkan sampai suhu 30
o
C.
Molase yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk proses fermentasi. Fermentasi
dilakukan dalam fermentor dalam kondisi anaerob dengan suhu 30
o
C. Untuk
mendapatkan etanol murni, etanol hasil fermentasi kemudian disaring menggunakan
filter press. Karena konsentrasi etanol hasil fermentasi masih sangat rendah,maka
etanol harus didistilasi untuk mendapatkan kadar etanol yang sesuai standar. Setelah
diperoleh konsentrasi etanol yang diinginkan, etanol kemudian dikondensasi untuk
mengubah etanol dalam fasa cair. Etanol yang sudah berfasa cair kemudian dialirkan
ke tangki penyimpanan (Tarigan, 2009).

5.4 Aplikasi Dalam Industri Minyak Atsiri Pada Produk Gel Pengharum
Ruangan Anti Serangga
Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri yang dapat
menjadi kebanggaan dan andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa. Minyak
atsiri banyak dipakai pada produk rumah tangga seperti kosmetik, penyedap
makanan, pewangi pakaian. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama
bertujuan untuk mengetahui konsentrasi minyak nilam terbaik dalam hal mengikat
wangi. Tahap kedua bertujuan untuk mengetahui komposisi bahan pewangi dan
bahan aktif penolak serangga yang paling efektif menolak serangga.
Hasil dari penentuan konsentrasi bahan fiksatif pada tahap pertama penelitian
yaitu, minyak nilam dengan konsentrasi 1% memiliki kemampuan daya fiksatif yang
lebih baik daripada minyak nilam dengan konsentrasi 0%, 0.5%, 1.5%, dan 2%.
Kemudian, pada tahap kedua penelitian, didapatkan 3 macam komposisi gel
pengharum ruangan yang efektif menolak nyamuk Culex quinquefasciatus dengan
wangi yang berbeda. Komposisi pertama, terdiri atas minyak lemon 2% sebagai
bahan pewangi, minyak sereh wangi dengan konsentrasi 2% dan minyak lavender
dengan konsentrasi 2% sebagai bahan aktif penolak serangga. Komposisi kedua,
terdiri atas minyak jeruk purut 2% sebagai bahan pewangi dan minyak sereh wangi
3% sebagai bahan aktif penolak serangga. Komposisi ketiga, terdiri atas minyak
kenanga 2% sebagai bahan pewangi, minyak sereh wangi dengan konsentrasi 2% dan
minyak lavender dengan konsentrasi 2% sebagai bahan aktif penolak serangga
(Rahmaisni, 2011).






















Gambar 5.2 Flowchart Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Gel Pengharum Ruangan
(Rahmaisni, 2011)
Mulai
Penentuan konsentrasi minyak nilam terbaik
untuk mengikat wangi
Minyak nilam X % yang senyawa utamanya
merupakan bahan volatil
Penentuan komposisi bahan yang paling efektif
mengusir serangga
Produk X,Y,Z
Penentuan gel pengharum ruangan anti serangga
yang paling disukai wanginya
Produk wangi lemon/jeruk purut/kenanga aktif
menolak X Y Z
Selesai
5.5 Aplikasi Dalam Industri Pembuatan Kosmetik Minyak Atsiri
Minyak atsiri merupakan senyawa organik yang berasal dari tumbuhan dan
bersifat mudah menguap. Kegunaannya sebagai bahan baku untuk industri parfum
atau bahan pewangi dan bahan aroma. Minyak atsiri juga digunakan sebagai bahan
baku obat dan aromaterapi. Minyak atsiri merupakan salah satu jenis minyak nabati
yang multimanfaat. Karakteristik fisiknya berupa cairan kental yang dapat disimpan
pada suhu ruangan. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai tanaman seperti
daun, bunga, buah, biji, kulit biji, batang, akar atau rimpang. Salah satu ciri minyak
atsiri yaitu mudah menguap dan beraroma khas. Oleh karena itu, minyak ini banyak
digunakan sebagai bahan dasar pembuatan wewangian dan kosmetika. Menurut
sejarah, minyak atsiri ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Romawi dan Mesir
Kuno. Namun, kepopulerannya dimulai pada abad ke 16. Saat itu beberapa industri
penyulingan di Prancis mulai memproduksi minyak atsiri yang berasal dari bunga
lavender, lalu dikemas di dalam botol kecil dengan harga jual yang tinggi. Wangi
yang dihasilkan oleh minyak atsiri banyak dimanfaatkan sebagai campuran
wewangian / parfum. Tidak hanya sebagai sumber wangi, minyak atsiri digunakan
untuk beberapa produk seperti sabun, pasta gigi, sampo, lotion, deodoran, tonik
rambut dan pembersih. Selain itu, minyak atsiri dapat digunakan sebagai pengharum
ruangan dan penyaring udara. Pasalnya minyak atsiri mampu menghilangkan partikel
logam racun dari udaramengikat oksigen, dan menambahkan ion negatif (Syahbana,
2006).





















Gambar 5.3 Flowchart Pembuatan Kosmetik dari Minyak Atsiri
(Syahbana, 2006)







Mulai

Penyiapan bahan baku
Ekstraksi pelarut penyulingan
Resin oleoresin minyak atsiri
Purifikasi Modifikasi kimia dan biologi
lanjut
Ensense flavor / Parfum Bahan kimia aroma
Campuran flavor dan fragnance
Parfum
Selesai
5.6 Aplikasi Dalam Industri Perubahan Komponen Volatil selama
Fermentasi Kecap
Sebuah studi telah dilaksanakan untuk menyelidiki perubahan komponen
volatil selama fermentasi kecap. Selama fermentasi, banyak komponen volatil yang
dihasilkan dapat menambah rasa kecap. Komponen volatil yang diidentifikasi oleh
GC-MS dikelompokkan dalam hidrokarbon (15), alcohol (15), aldehid (14), ester
(14), keton (9), derivat benzene (11), asam lemak (9), furan (5), terpenoid (18),
pyrazine (3), thiezole (1), piridin (1) dan senyawa sulfur.
Konsentrasi senyawa ditemukan dalam hampir semua langkah fermentasi,
seperti hexanal dan benzaldehida. Senyawa ini dapat berasal dari kedelai mentah,
karena hadir dalam bentuk kedelai mentah dan konsentrasinya tidak berubah selama
fermentasi. Konsentrasi dari asam palmitat dan benzenasetaldehid, secara umum,
meningkat selama semua langkah fermentasi. Mereka mungkin berasal dari
degredasi lemak atau aktivitas mikroorganisme. Konsentrasi dalam beberapa asam
lemak, ester dan hidrokarbon, seperti linoleic acid, methyl palmitate dan heptadecane
meningkat hanya selama fermentasi garam. Konsentrasi dari beberapa senyawa lain
seperti 2,4-dekadienal menurun atau tidak terdeteksi selama fermentasi.
Ketiadaan beberapa senyawa volatil seperti (E)-nerolidol dan (E,E)-famesol
dalam kedelai yang matang yang pada awalnya terdapat pada kedelai mentah
mungkin disebabkan oleh penguapan dari senyawa ini selama pendidihan. Beberapa
senyawa volatil seperti methyl heptadecanoate dan beberapa alkohol aromatik
mungkin berasal dari Aspergillus Sojac, karena senyawa ini teridentifikasi hanya
dalam 0 hari (Apriyantono, 2004)















Gambar 1 Proses fermentasi kecap



Gambar 5.4 Proses fermentasi kecap
(Apriyantono, 2004)






Kedelai Hitam (1 kg)
Dicuci
Direbus selama 1 jam (1 kg
kedelai + 3 liter air)
Ditiriskan dan didinginkan
Diinokutasi dengan laru (0,5%
dari berat basah kedelai rebus)
Fermentasi kapang 3 hari
Dimasukkan ke dalam larutan
garam 20% (1:3)
Fermentasi garam (sampai 2 bulan)
Moromi
koji
5.7 Aplikasi Dalam Industri Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari Minyak
Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi
Biodiesel merupakan monoalkil ester dari asam-asam lemak rantai panjang
yang terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani untuk digunakan sebagai
bahan bakar mesin diesel. Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterifikasi
trigliserida dan atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas
minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku. Transesterifikasi adalah proses
yang mereaksikan trigliserida dalam minyak nabati atau lemak hewani dengan
alkohol rantai pendek seperti metanol atau etanol (pada saat ini sebagian besar
produksi biodiesel menggunakan metanol) menghasilkan metil ester asam lemak
(Fatty Acids Methyl Esters/FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai
produk samping. Katalis yang digunakan pada proses transesterifikasi adalah
basa/alkali, biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida
(KOH). Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA)
dengan alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester asam
lemak (FAME) dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah
asam, biasanya asam sulfat (H
2
SO
4
) atau asam fosfat (H
3
PO
4
).
Dedak merupakan produk samping penggilingan gabah menjadi beras. Minyak
dedak diperoleh dari ekstraksi dedak dengan pelarut volatile, umumnya n-heksan.
Minyak dedak padi adalah minyak berkandungan gizi tinggi karena mengandung
asam lemak, komponen-komponen aktif biologis, dan antioksidan (oryzanol,
tocopherol, tocotrienol, phytosterol, polyphenol dan squalene). Minyak mentah
dedak padi sulit dimurnikan karena tingginya kandungan asam lemak bebas dan
senyawa tidak tersaponifikasikan berwarna gelap. Pada keadaan atmosfer, metanol
berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan
beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Metanol
digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai
bahan aditif bagi etanol industri, merupakan produk samping dari distilasi kayu. Saat
ini metanol dihasilkan melalui proses multi tahap. Secara singkat, gas alam dan uap
air dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan gas karbon monoksida,
kemudian gas hidrogen dan karbon monoksida ini bereaksi dalam tekanan tinggi
dengan bantuan katalis untuk menghasilkan metanol. Tahap pembentukannya adalah
endotermik dan tahap sintetisnya adalah eksotermik. Penelitian ini dilakukan dengan
melalui tiga tahap yaitu ekstraksi, esterifikasi, dan transesterifikasi (Hikmah, dkk,
2010).






































Gambar 5.5 Flowchart Pembuatan Biodiesel dari Minyak Dedak dan Metanol
Melalui Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi
(Hikmah, dkk, 2010)




Mulai
Dimasukkan dedak ke labu leher tiga
Ditambahkan metanol dan dipanaskan suhu 60-
65
o
C selama 120 menit lalu hasil ekstraksi disaring
Dilakukan analisa kadar FFA dari hasil ekstraksi
Dimasukkan dedak, metanol, dan katalis
H
2
SO
4
ke labu leher tiga
Diaduk dan dipanaskan
Diambil 3 ml sampel ditambah 9 ml etanol
96% dan dipanaskan sampai 45
o
C
Ditambah 3 tetes phenolptalein, dititrasi NaOH 0,1N
Ditambah katalis NaOH ke dalam hasil esterifikasi
Direaksikan pada suhu 60
o
C sesuai waktu yang
telah ditentukan lalu dikeringkan
5.8 Aplikasi Dalam Industri Volatil Asam Lemak dan Flora Aerobik di
Saluran Pencernaan Tikus dalam berbagai Kondisi
Asam lemak volatil memberikan suatu efek represif atas Enterobacteriaceae
dan spesies Pseudomonas in vitro dan in vivo pada tikus muda. Total rata-rata
konsentrasi asam lemak volatil dalam sampel kotoran tikus adalah 81,7 mol / g
(berat basah), yang merupakan antibakteri in vitro, dan dalam sampel dubur adalah
41,1 mol / g (berat basah). Hitungoan rata-rata Enterobacteriaceae di usus besar
tikus hanya 10
2
/ g, sedangkan di rektumnya 10
5
/ g. Kadar asam lemak volatil
dipengaruhi oleh asupan makanan dan peningkatan pada titik puncak sekitar 6
sampai 10 jam setelah makan dan kemudian menurun. Pada tikus yang tidak diberi
makan selama 17 jam, konsentrasi asam butirat secara nyata menurun dan jumlah
sampel kotoran positif Enterobacteriaceaenya meningkat. Ketika tidak diberi makan
selama 4 hari, tikus memiliki konsentrasi asam lemak volatil yang rendah usus besar
dan rektumnya dan jumlah Enterobacteriaceae dan enterococci meningkat menjadi 2
x 10
6
/ g dan 3 x 10
6
/ g dalam usus besar dan menjadi 10
7
dan 5 x 10
6
/ g dalam
rektum. Jadi dapat disimpulkan bahwa asam lemak volatil salah satu mekanisme
interferensi yang banyak terlibat dengan pengaturan tingkat Enterobacteriaceae dan
enterococci pada usus besar tikus (Byrne, 1979).


























Gambar 5.6 Flowchart Volatil Asam Lemak dan Flora Aerobik di Saluran
Pencernaan Tikus dalam berbagai Kondisi
(Byrne, 1979)

Mulai
Empat tikus diberi makan pada waktu yang tetap selama 5 hari

Kotoran tikus dikumpulkan secara individual

Sampel disimpan pada -20 C
Dianalisis untuk VFA

Disusun dalam nampan dan semua media diinkubasi pada 37 C selama 24
jam,10-20 koloni dari media MacConkey dianggap menjadi bakteri gram
negatif diidentifikasi dengan menggunakan sistem API
(Analisis Produk Inc )
Dilakukan Kuantitatif teknik kultur aerobik
Sampel disuling

Sampel disuspensikan dalam 1,5 ml air suling yang mengandung
500 l dari asam 2-metilvalerik sebagai standar internal
dan 11 ml H
2
SO
4
per liter
Spesimen ditimbang, Dihomogenkan dalam
kaldu nutrisi
dilengkapi dengan glukosa 1% (berat /
volume)
Selesai
5.9 Aplikasi Dalam Industri Teknik Pervaporasi Senyawa Volatil
Pervaporasi adalah proses pemisahan yang mengontakkan campuran larutan
secara langsung dengan salah satu sisi dari membran (upstream side), sedangkan
produknya yaitu permeat atau pervaporat, dikeluarkan dalam fasa uap dari sisi
membran yang lain (down stream side). Pervaporasi merupakan teknik pemisahan
menggunakan membran yang saat ini berkembang dan dianggap dapat menjadi
alternatif pengganti proses distilasi pada campuran azeotropik serta dehidrasi pelarut.
Hal ini terutama terlihat dari penggunaan energi yang sangat efisien.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah poli (vinil alkohol), PYA,
asam malat (MA), etanol teknis, etanol pro analisis, dan aquades. ini adalah
serangkaian alat pervaporasi hasil rancang bangun, refraktometer ATAGO-lT,
Scanning Electron Microscopy (SEM) JSM - 35 C, perangkat casting membrane
yang terdiri atas pelat kaca ukuran 20 x 20 cm dan batang silinder perata, serta
peralatan gelas yang umum digunakan dalam laboratorium.

Gambar 5.7 Skema Alat Pervaporasi

Sel pervaporasi berupa dua sel kompartemen (terbuat dari bahan PMMA) yang
terikat bersama dengan pengikat. Membran ditempatkan di atas pendukung gelas
berpori dalam sel. Daerah membran yang efektif adalah 2,83.10
-3
m
2
. Tekanan pada
bagian aliran bawah dijaga pada 50 cmHg (dibawah vakum) dengan bantuan pompa
vakum. Campuran umpan disirkulasi untuk mencegah polarisasi konsentrasi dengan
pompa peristaltik melalui sel dari tangki umpan, yang dijaga pada suhu konstan.
Ketika mencapai kondisi aliran yang steady-state, uap permeat dikumpulkan dalam
perangkap air es dan etilen glikol, kemudian ditimbang. Konsentrasi etanol permeat
dihitung dengan mengukur indeks biasnya menggunakan refraktometer dengan
bantuan kurva standar untuk campuran etanol-air yang telah dipersiapkan.
Karakteristik membran ditunjukkan dengan faktor pemisahan (selektivitas) dan laju
permeasi (fluks) (Haryadi, dkk, 2006).

5.9 Aplikasi Dalam Industri Pembuatan Etil Asetat dengan Reactive
Distillation
Di Indonesia, konsumsi asam asetat sebagian besar digunakan dalam industri
percetakan, yaitu sebesar 51,4%; 31,7% untuk industri cat dan thiner; 4,4% untuk
industri film dan PVC dan sisanya untuk bahan perekat, farmasi dan pelarut.
Kebutuhan akan etil asetat ini semakin besar seiring dengan berkembangnya
industri kimia dan teknologi yang berkembang di Indonesia. Pemenuhan
kebutuhan etil asetat beberapa tahun terakhir dipenuhi secara impor Jepang, Korea,
Taiwan dan Singapura. Karena kebutuhan akan etil asetat semakin meningkat
sedangkan produksi dalam negeri tetap, maka perlu didirikan pabrik etil asetat
untuk menghemat sumber devisa negara, membuka lapangan kerja baru, dan
menjaga kontinuitas etil asetat di pasar. Ada beberapa macam proses dalam
pembuatan etil asetat, salah satunya adalah Reactive Distillation. Reaksi yang
terjadi pada proses ini adalah :
CH
3
COOH + C
2
H
5
OHCH
3
COOC
2
H
5
+ H
2
O
Reactive Destillation merupakan suatu alat yang menggabungkan antara proses
reaksi kimia dengan dan proses ditilasi ke dalam suatu unit proses. Dalam beberapa
penggunaan khusus di banyak kasus, ketika keseimbangan reaksi termodinamika
dapat membatasi reaksi konversi yang diperoleh, sehingga produk reaksi
meninggalkan zona reaksi dan dapat meningkatkan konversi dan selektivitas secara
signifikan. Katalis yang digunakan dalam Reactive Destillation adalah resin aktif
yang mempunyai H
+
. Ion ini berperan dalam mempercepat reaksi esterifikasi sebagai
contoh adalah amberlyst-35. Proses dijalankan pada suhu antara 90-110
o
C. Konversi
maksimal yang di dapat juga lebih besar yaitu mendekati 100% (Absori, dkk, 2011).































Gambar 5.8 Flowchart Pembuatan Etil Asetat dengan Reactive Distillation
(Absori, dkk, 2011)








Mulai
Dimasukkan etanol ke dalam wadah
Ditambahkan etanol kedalam etil asetat
Diaduk dan dipanaskan
Dilakukan proses esterifikasi dengan
reactive distillation
Ditambahkan katalis yaitu resin aktif
yang mempunyai ion H
+

Direaksikan pada suhu 90-110
o
C
Terbentuk etil asetat dan uap air
BAB VI
KESIMPULAN

6.1 Kesimpulan
1. Cairan volatil adalah cairan yang mudah menguap, biasanya memiliki titik
didih dibawah titik didih air (< 100C).
2. Dengan menimbang suatu volume tertentu gas pada P dan T tertentu
dengan memakai rumus dapat ditentukan berat molekul.
3. Terdapat beberapa cara dalam menentukan berat molekul gas yaitu Cara
Regnault, Cara Victor Meyer, dan Cara Limiting Density.
4. Penentuan berat molekul cairan volatil banyak diaplikasikan dalam skala
industri.
5. Terdapat faktor koreksi pada penentuan berat molekul senyawa volatil
dimana nilai Mr hasil perhitungan akan mendekati nilai sebenarnya tetapi
sebenarnya mengandung kesalahan.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Waterbath. http://analismuslim.blogspot.com/. Diakses 30 April
2014.
Absori, Ulil. 2011. Pembuatan etil asetat dengan reactive distillation. Semarang :
Universitas Diponegoro.
Apriyantono, Anton, Gono Dewi Yulianati. 2004. Perubahan Komponen Volatil
Pada Fermentasi Kecap. Bogor : Departemen Teknologi Pangan Institut
Pertanian Bogor
Azizah, Nurlela. 2012. Desikator. http://kamusq.blogspot.com/. Diakses 30 April
2014.
Bishop, Mark. 2013. An Introduction to Chemistry. http://preparatorychemistry.com/.
Diakses 30 April 2014.
Bisowarno, H Budi; Buana Girisuta; Philip Wijaya, Anggraeni Yunita. 2010.
Simulasi Proses Dehidrasi Etanol dengan Kolom Distilasi Azeotrop
Menggunakan Isooktan. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknologi Industri.
Universitas Katolik Parahyangan Jalan Ciumbuleuit No. 94. Bandung
Byrne, 1979. Volatil Asam Lemak dan Flora Aerobik di saluran pencernaan tikus
dalam berbagai kondisi. Riau : Universitas Riau.
En.Wikipedia. 2013. Diisopropyl Ether. http://en.wikipedia.org/. Diakses 30 April
2014.
Fernandes, Agustin. 2013. Penentuan BM Senyawa Volatil.
http://kimiatip.blogspot.com/. Diakses 30 April 2014.
Halliday, David, Robert Resnick. 1985. Fisika. Edisi ketiga. Jilid 1. Jakarta :
Erlangga.
Haryadi, Surya., dkk. 2006. Teknik Pervaporasi Senyawa Volatil. Medan :
Universitas Sumatera Utara.
Hikmah, Maharani Nurul. 2010. Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari Minyak
Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi.
Semarang : Universitas Diponegoro.
Keenan, W Charles; Donald C. Kleinfelter; Jesse H. Wood; Aloysius Hadyana
Pudjaatmaka. 1996. Kimia Untuk Universitas. Edisi Keenam. Jilid 1. Penerbit
Erlangga. Jakarta.
Purba, Michael. 2003. KIMIA SMU 1A. Jakarta : Penerbit erlangga
Rahmaisni, A. 2011. Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Gel Pengharum Ruangan
Anti Serangga. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. IKIP Yogyakarta. Jakarta : Rineka Cipta.
Suratno, Wawang, In Jumanda K., Rita Karlina R. 2007. Recovery Metanol pada
Proses Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas Oil).
Bandung : Universitas Padjajaran.
Syahbana. 2006. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. Jakarta: PT Agro Media
Pustaka.
Takeuchi, Yoshito. 2008. Hukum gas ideal. http://www.chem-is-try.org/. diakses 30
April 2014.
Tarigan, Nursinta. 2009. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Bioetanol dari Molase
Kapasitas Produksi 98000 ton/ tahun. Medan : Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/11723/1/10E00479.pdf.
Diakses : 9 Maret 2014.
Vernandes, Andrian., Floweriza Yulia., Oktiani Damaianti., Sari Ramadhani. 2011.
Penentuan Massa Molekul Relatif Senyawa Volati. Padang : Universitas
Negeri Padang.

Wikipedia. 2013a. Gas. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2013b. Hukum Boyle. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2013c. Hukum Gay-Lussac. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April
2014.
________. 2013d. Hukum Avogadro. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2013e. Metanol. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2013f. Gel Silika. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
Wikipedia. 2014a. Gas Ideal. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2014b. Hukum Charles. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2014c. Kloroform. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2014d. Aseton. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.
________. 2014e. Etanol. http://id.wikipedia.org/. diakses 30 April 2014.