Anda di halaman 1dari 3

Salpingitis

Tingkat kemampuan : 4A

Masalah kesehatan
Salpingitis adalah suatu penyakit infeksi dan peradangan pada saluran tuba falopi.
Salpingitis sering disebut dengan istilah penyakit radang panggul, atau dalam bahasa
inggris disebut PID atau pelvic inflammatory disease.
Salpingitis sampai saat ini sering dihubungkan dengan ketidak suburban pada wanita,
karena peradangan dan terbentuknya parut pada tuba falopi, sehingga saluran tuba
menjadi buntu.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien umumnya datang dengan keluhan nyeri perut pada satu atau kedua sisi, demam,
mual, muntah, cairan vagina yang berbau, nyeri selama ovulasi, sering buang air kecil,
nyeri menstruasi, serta nyeri pinggang bawah.

Faktor Risiko
Higienitas diri yang buruk
Pengguna IUD
Berganti-ganti pasangan seksual
Melakukan hubungan seksual risiko tinggi

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum : suhu biasanya meningkat, sering sampai 120F atau 103F,
nadi cepat. Perhatikan cara pasien berjalan kedalam ruang gawat darurat, biasanya
dengan postur tubuh membungkuk.
Pemeriksaan Abdomen : nyeri kolik pada kedua kuadran bawah. Nyeri lepas,
ragiditas otot, defance muscular, bising usus menurun dan distensi merupakan tanda
peradangan peritoneum.
Pemeriksaan Pelvis : Pada pemeriksaan dengan spekulum, sekret purulen akan
terlihat keluar dari ostium uteri. Serviks sangat nyeri bila digerakkan. Adneksa
bilateral sangat nyeri. Masa definitif jarang terpalpai kecuali telah terbentuk
piosalping atau abses tuboovarium.


Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Hitung darah lengkap dan Apusan darah: hitung leukosit cenderung meningkat dan
dapat sampai 20.000 dengan peningkatan leukosit polimorfonuklear dan peningkatan
rasio bentuk batang dengan segmen.
Bakteriologis : pewarnaan gram & kultur dari sekret serviks dilakukan untuk
mengidentifikasi kuman Neisseria gonorrhea.
Laparoskopi : pemeriksaan invasif, dapat mengidentifikasi tuba secara langsung.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Klasifikasi :
Salpingitis akut : tuba fallopi menjadi merah dan bengkak, dan keluar cairan, dinding
dalam tuba sering menempel secara menyeluruh. Tuba bisa juga menempel pada
bagian intestinal yang terdekat. Kadang-kadang tuba fallopi penuh dengan pus. Tuba
dapat rupture sehingga terjadi peritonitis. Pada stadium akut ini, tanda gelaja tampak
jelas.
Salpingitis Kronis : Biasanya mengikuti gejala akut. Infeksi terjadi ringan, dalam
waktu yang panjang dan tidak menunjukan banyak tanda dan gejala.
Diagnosis Banding
1. Kehamilan ektopik terganggu
2. Endometriosis
3. Appendisitis
4. Peritonitis

Komplikasi
Infertilitas
Kehamilan ektopik terganggu
Perluasan infeksi ke organ sekitar

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada salpingitis tergantung pada tingkat keparahan penyakit, serta
kondisi pasien. Sebaiknya, pasangan seksual harus dievaluasi, diskrining dan bila perlu
dirawat. Hindari melakukan hubungan seksual menjalani perawatan untuk mencegah
terjadinya infeksi berulang.

Modalitas terapi salpingitis adalah pemberian antibiotik, serta pembedahan.
Pasien dianjurkan untuk tirah baring dengan posisi Fowler.
Berikan antibiotika spektrum luas dalam dosis yang tinggi :
Ampisilin 2 g i.v, kemudian 1 g setiap 6 jam, ditambah Gentamisin 5 mg/kgBB
i.v dosis tunggal/hari, dan Metronidazol 500 mg i.v setiap 8 jam.
Lanjutkan antibiotika sampai pasien panas turun selama 24 jam.
Pilihan lain : Ampisilin 3,5 gram per oral, disusul dengan 500 mg 4 x sehari
selama 7 10 hari.
Probenesid 1 gram/hari, diberikan per oral baik pada alternatif pertama maupun
kedua.
Pilihan lain : Doksisiklin 100 mg 2 x sehari selama 10 hari.
Jika pasien menggunakan AKDR, maka AKDR harus dilepas.
Pembedahan : dilakukan jika pengobatan dengan antibiotik menyebabkan terjadinya
resisten pada bakteri.

Konseling & Edukasi
Edukasi pasien mengenai salpingitis, serta bagaimana cara penularannya. Edukasi pasien
untuk menjaga higienitas alat-alat reproduksi, tidak berganti-ganti pasangan seksual, serta
rutin memeriksakan kesehatan reproduksinya.

Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk apabila tidak merespon terhadap pengobatan dengan antibiotik.

Sarana Prasarana
Alat pemeriksaan ginekologi sederhana
Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah rutin serta hapusan darah

Prognosis
Apabila penanganan tidak optimal, prognosa dubia ad bonam.

Referensi
1. Prawirohardjo, S. Saifuddin, A.B. Rachimhadhi, T. Wiknjosastro Gulardi H. Ilmu
Kandungan Sarwono Prawirohardjo. Edisi keempat cetakan ketiga. PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2010.