Anda di halaman 1dari 10

Nama : Fannie Ndama

Nrp : 2443011128
ANALGETIKA
Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat mengenal beberapa metode pengujian analgetika dan
menerapkannya.
Mahasiswa dapat mengenal penggolongan dari analgetika dan obat-obat
analgetika
Mahasiswa dapat mempelajari cara pengolahan data hasil percobaan
dengan membuat grafik respon time vs waktu pengamatan pada metode
stimulasi panas
Mahasiswa dapat mempelajari cara pengolahan data hasil percobaan
dengan membuat tabel dan grafik jumlah geliatan vs waktu pengamatan
pada metode siegmund.
Teori
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika
umum). Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan
rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu
terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses
pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan
narkotik menekan reaksi-reaksi psikis yang disebabkan oleh rangsangan rasa
sakit. (Tjay, 2007).
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan
dengan (ancaman) kerusakan jaringan. keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri,
misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi dapat
pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. nyeri merupakan suatu perasaan
subjektif pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. batas
nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni pada 44-45oC (Tjay, 2007).
Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) pada mana nyeri dirasakan
untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas rangsangan yang terendah saat
orang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan (Tjay,
2007).
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi
melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang adanya
kerusakan pada jaringan.Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan
mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada
jaringan dan rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut
mediator nyeri. Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan
kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit, mukosa
dan jaringan lain. Nocireseptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh,
kecuali di SSP. Dari sini rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari
tajuk-tajuk neuron dengan amat banyak sinaps via sumsum tulang belakang, sumsum
lanjutan, dan otak tengah. Dari thalamus impuls kemudian diteruskan ke pusat nyeri
di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang
terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan
prostaglandin-prostaglandin serta ion-ion kalium (Tjay, 2007).
Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan
beberapa cara, yaitu :
1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri
perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal.
2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris,
misalnya dengan anestetika local
3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika
sentral (narkotika) atau anestetika umum.

Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut
berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien.
Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua kelompok besar,
yakni :
a. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Analgetika antiradang termasuk
kelompok ini (misalnya asetosal dan parasetamol)
b. analgetika narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat,
seperti pada fractura dan kanker misalnya morfin. (Tjay, 2007).
Analgetika Narkotik
Analgetik narkotik, kini disebut juga opioida (=mirip opioat) adalah obat-obat
yang daya kerjanya meniru opioid endogen dengan memperpanjang aktivasi dari
reseptor-reseptor opioid (biasanya -reseptor) (Tjay, 2007).
Efek utama analgesik opioid dengan afinitas untuk resetor terjadi pada
susunan saraf pusat; yang lebih penting meliputi analgesia, euforia, sedasi, dan
depresi pernapasan. Dengan penggunaan berulang, timbul toleransi tingkat tinggi bagi
semua efek (Katzung, 1986).
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan
tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi
kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman
(euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta
ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala
abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka
kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-
Undang Narkotika dan penggunaannya
diawasi dengan ketat oleh dirgen POM.
Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai
berikut:
1. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin,
hidromorfon, hidrokodon, dan dionin.
2. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :
a. Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil
b. Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida,
dan d-ptopoksifen
c. Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.

Antagonis-antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek
samping dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan
terutama digunakan pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat
ini sendiri juga berkhasiat sebagai analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam
terapi, karena dia sendiri menimbulkan efek-efek samping yang mirip dengan
morfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering
Digunakan adalah nalorfin dan nalokson.
Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis
biasa adalah gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga
efek-efek pusat lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan
suasana jiwa dengan euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang
lebih berbahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah
terganggu. Akhirnya dapat terjadi koma dan pernapasan terhenti.
Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis.
Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan
seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg)
menimbulkan euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan
gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan
disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah.
Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir,
apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas
tersa berat, badan terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas
dan miosis. Rasa lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa
mual. Dalam lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20
mg) morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan
miosis.
Antara nyeri dan efek analgetik (juga efek depresi nafas) morfin dan
opioid lain terdapat antagonisme, artinya nyeri merupakan antagonis faalan bagi
efek analgetik dan efek depresi nafas morfin. Bila nyeri sudah dialami beberapa
waktu sebelum pemberian morfin, efek analgetik obat ini tidak begitu besar.
Sebaliknya bila stimulus nyeri ditimbulkan setelah efek analgetik mencapai
maksimum, dosis morfin yang diperlukan untuk meniadakan nyeri itu jauh lebih
kecil. Penderita yang sedang mengalami nyeri hebat dan memerlukan mofin
dengan dosis besar untuk menghilangkan rasa nyerinya, dapat tahan terhadap
depresi nafas morfin. Tetapi bila nyeri itu tiba-tiba hilang, maka kemungkinan
besar timbul gejala depresi napas oleh morfin.

Analgetika Perifer (non-narkotik)
Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau
mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja
antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut
juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat
pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit)
dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.
Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:
1. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat
2. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol
3. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon
danturunan-turunannya
4. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam
nifluminat.

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan
lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi
alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau
pada dosis besar, maka sebaiknya janganlah menggunakan analgetika ini secara
terus-menerus.

Analgetika-Antipiretik
Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat
menurunkan suhu tubuh yang tingi. Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang
mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Sebagai mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut:
1.Histamin
2.Serotonin
3.Plasmokinin (antara lain Bradikinin)
4. Prostaglandin
5. Ion Kalium
Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang
dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang
melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut
terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin,
prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri
di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain. Dari tempat-tempat ini selanjutnya
rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks serebri oleh saraf sensoris
melalui sum-sum tulang belakang dan thalamus.
Secara kimiawi analgetika perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yakni :
a. parasetamol
b. salisilat : asetosal, salisilamida, dan benorilat
c. penghambat prostaglandin (NSAIDs) : ibuprofen, dll
d. derivat-antranilat : mefenaminat, glafenin
e. derivat-pirazolon : propifenazon, isopropilaminofenazon, dan metamizol
f. lainnya : benzidamin (Tantum) (Tjay, 2007).

Sensasi nyeri, tak perduli apa penyebabnya, terdiri dari masukan isyarat bahaya
ditambah reaksi organisme ini terhadap stimulus. Sifat analgesik opiat berhubungan
dengan kesanggupannya merubah persepsi nyeri dan reaksi pasien terhadap nyeri.
Penelitian klinik dan percobaan menunjukkan bahwa analgesik narkotika dapat
meningkatkan secara efektif ambang rangsang bagi nyeri tetapi efeknya atas
komponen reaktif hanya dapat diduga dari efek subjektif pasien. Bila ada analgesia
efektif, nyeri mungkin masih terlihat atau dapat diterima oleh pasien, tetapi nyeri
yang sangat parah pun tidak lagi merupakan masukan sensorik destruktif atau yang
satu-satunya dirasakan saat itu (Katzung, 1986).

Alat dan Hewan Coba
Alat yang diperlukan :
1. Alat suntik 1 ml
2. Jarum suntik
3. Basile plantar test
4. timbangan
Hewan percobaan : tikus jantan galur wistar (metode plantar test)
Perhitungan Dosis Obat
Obat : larutan antalgin 50%
Dosis : 500 mg/70kgBB ; 750 mg/70kgBB
W Tikus : 200 gr
Tikus dosis 500 mg/70 kgBB
Do = 0,018 x 500 x

= 9
Vp

= 0,018 ml
Vpc =

= 0,36 ml
Tikus dosis 80 mg/kgBB
Do = 0,018 x 750 x


= 13,5
Vp

= 0,027 ml
Vpc =

= 0,54 ml
Skema Kerja
Metode Plantar Test
Letakan tikus dalam wadah plantar, biarkan beradaptasi selama 5 menit
(terlihat tikus mulai tegang dan tidak banyak bergerak)

Lakukan uji pada tikus dan catat waktu yang diperlukan sampai tikus
mengangkat dan menjilat kaki depan sebagai waktu respon. Catat sebagai
respon normal atau respon sebelum perlakuan.

ambil tikus dari wadah plantar dari berikan obat-obat secara intraperitoneal
kepada tikus kemudian letakan lagi pada wadah

Biarkan selama 15 menit untuk memberikan mula kerja dari obat

Lakukan uji pada tikus dan catat waktu responnya pada menit ke 15, 30, 45,60
menit setelah pemberian obat.

Buatlah grafik dari hasil pengamatan masing-masing untuk obat A dan B

Metode WrithingTest
Ambil mencit, timbang, ukur dosis berat badan

Suntikan larutan obat secara intraperitoneal pada mencit

Tunggu selama 15 menit untuk memberikan mula kerja obat

Suntikan larutan asam asetat 0,60 % secara intraperitoneal

Hitung frekuensi geliatan pada mencit pada waktu 10, 15, 20, 45, 60 menit
setelah pemberian asam asetat

Buatlah grafik dari hasil pengamatan masing-masing untuk obat A dan B

Bandingkan data yang diperoleh dari kontrol negatif terhadap obat A dan obat
B dan hitunglah prosentase inhibisi nyeri masing-masing obat.

Grafik Pengamatan
Tikus
Respon time







Waktu Pengamatan


Mencit
Jumlah geliatan








Waktu pengamatan
DAFTAR PUSTAKA
Anief,Moh.2000. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi.
Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada University Press.
Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
Katzung,B.G.1986. Farmakologi Dasar dan Klinik, ed IV.Jakarta
:Penerbit Buku Kedokteran EGC
Mutschler Ernest. 1991. Dinamika Obat, Buku Ajar Farmakologi &
Toksikologi edisi V. Bandung : Penerbit ITB
Tjay, Tan Hoan,Drs.,Rahardja,Kirana,Drs.2007. Obat-obat Penting.
Jakarta : Gramedia