Anda di halaman 1dari 17

1.

Definisi
Labioschisis atau biasa disebut bibir sumbing adalah cacat bawaan yang menjadi masalah
tersendiri di kalangan masyarakat, terutama penduduk dengan status sosial ekonomi yang
lemah.Akibatnya operasi dilakukan terlambat dan malah dibiarkan sampai dewasa.
Labioschisis atau cleft lip atau bibir sumbing adalah suatu kondisi dimana terdapatnya
celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung. Kelainan ini dapat berupa takik kecil pada
bagian bibir yang berwarna sampai pada pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir memanjang
dari bibir ke hidung.Celah pada satu sisi disebut labioschisis unilateral, dan jika celah terdapat
pada kedua sisi disebut labioschisis bilateral.
Bibir sumbing dengan atau tanpa celah pada langit-langit, merupakan kelainan kongenital
yang paling umum pada kepala dan leher di dunia.Penelitian epidemiologi untuk pencegahan
terjadinya bibir sumbing masih sedikit namun teknik bedah untuk merepairbanyak dilakukan.
2. Embriologi



































Pembentukkan bibir atas melalui rangkaian proses sebagaimana berikut :
- Sisi lateral bibir atas, dibentuk oleh prominensi maksila kiri dan kanan.
- Sisi medial (philtrum) dibentuk oleh fusi premaksila dengan prominensi nasal.
- Ketiga prominensi ini kemudian mengalami kontak membentuk seluruh bibir atas yang
utuh.
- Gangguan dari faktor multigenetik dan faktor lingkungan bisa menyebabkan proses
pembentukan bibir atas tidak sempurna seterusnya membentuk celah.



3. Anatomi



4. Etiologi
Etiologi bibir sumbing dan celah langit-langit adalah multifaktorial.Selain faktor genetik
juga terdapat faktor non genetik atau lingkungan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
terjadinya bibir sumbing dan celah langit-langit adalah usia ibu waktu melahirkan, perkawinan
antara penderita bibir sumbing, defisiensi Zn waktu hamil dan defisiensi vitamin B6.
Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari
kombinasi faktor genetik dan faktor-faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat
Eropa, para peneliti melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga
labioschisis akan mengalami labioschisis. Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan
labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai
riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi alcohol dan narkotika, kekurangan vitamin
(terutama asam folat) selama trimester pertama kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih
cenderung melahirkan bayi/ anak dengan labioschisis.
Bayi yang terlahir dengan labioschisis harus ditangani oleh klinisi dari multidisiplin
dengan pendekatan team-based(dokter spesialis bedah mulut, spesialis anak dan spesialis
anestesi), agar memungkinkan koordinasi efektif dari berbagai aspek multidisiplin tersebut.
Selain masalah rekonstruksi bibir yang sumbing, masih ada masalah lain yang perlu
dipertimbangkan yaitu masalah pendengaran, bicara, gigi-geligi dan psikososial. Masalah-
masalah ini sama pentingnya dengan rekonstruksi anatomis, dan pada akhirnya hasil fungsional
yang baik dari rekonstruksi yang dikerjakan juga dipengaruhi oleh masalah-masalah tersebut.
Dengan pendekatan multidisipliner, tatalaksana yang komprehensif dapat diberikan, dan
sebaiknya kontinyu sejak bayi lahir sampai remaja.Diperlukan tenaga spesialis bidang kesehatan
anak, bedah plastik, THT, gigi ortodonti, serta terapis wicara, psikolog, ahli nutrisi dan audiolog.
Menurut Mansjoer dan kawan-kawan, hipotesis yang diajukan antara lain:
Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal kuantitas
(pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat, vitamin C, dan
Zn)
Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal
Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia.
Faktor genetik
Kelainan ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus
nasalis dan maksilaris) pecah kembali.
Vitamin B-6 memiliki peran vital dalam metabolisme asam amino.Defisiensi vitamin B-6
tunggal telah terbukti dapat menyebabkan langit-langit mulut sumbing dan kelainan defek lahior
lainnya pada tikus percobaan.Dan Miller (1972) menunjukkan bahwa pemberian vitamin B-6
dapat mencegah terjadinya celah orofasial.
Salah satu penyebab terjadinya celah orofasial ialah heterogenitas, sebanyak sekitar 20%
menyertai sindrom yang disebabkan mutasi yang spesifik.Namun juga terjadinya celah orofasil
juga berhubungan dengan asam folat dan multivitamin lainnya.Beberapa mungkin memiliki
etiologi karena asam folat, namun sebagian lagi tidak, sehingga menyulitkan untuk mencari
efeknya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bustami dan kawan-kawan diketahui bahwa alasan
terbanyak anak penderita labioschisis terlambat (berumur antara 5-15 tahun) untuk dioperasi
adalah keadaan sosial ekonomi yang tidak memadai dan pendidikan orang tua yang masih
kurang.
Penyelenggaraan upaya kesehatan gigi sebagai salah satu kegiatan pokok Puskesmas juga
dilaksanakan sesuai dengan pola pelayanan Puskesmas tersebut. Pelayanan kesehatan gigi dan
mulut terutama ditujukan kepada golongan rawan terhadap gangguan kesehatan gigi dan mulut
yaitu: ibu hamil/menyusui, anak pra sekolah dan anak sekolah dasar serta ditujukan pada
keluarga dan masyarakat berpenghasilan rendah di pedesaan dan perkotaan. Dengan
penyelenggaraan upaya kesehatan gigi di Puskesmas ini diharapkan tercapainya keadaan
kesehatan gigi masyarakat yang layak (optimum).
5. Klasifikasi
Labioschisis diklasifikasikan berdasarkan lengkap/ tidaknya celah yang terbentuk :
- Komplit : Celah terbentuk sempurna hingga menembus dasar hidung ataupun bagian dari
palatum lunak dan keras tidak menyatu.
- Inkomplit : Celah terbentuk tidak sempurna hanya sebagian kecil saja
Dan berdasarkan lokasi/ jumlah kelainan :
- Unilateral : Bila terdapat celah pada satu sisi
- Bilateral : Bila terdapat dua celah langsung pada kedua sisi





6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari kelainan labioschisis antara lain :
- Masalah asupan makanan
Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis.Adanya
labioschisis memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu atau
dot.Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan
kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek
menelan pada bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat
menghisap lebih banyak udara pada saat menyusu. Memegang bayi dengan
posisi tegak lurus mungkin dapat membantu proses menyusu bayi. Menepuk-
nepuk punggung bayi secara berkala juga dapat membantu.Bayi yang hanya
menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada palatum biasanya dapat
menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan
penggunaan dot khusus.Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan
tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio-palatoschisis dan bayi
dengan masalah pemberian makan/ asupan makanan tertentu.
5. Penatalaksanaan
Idealnya, anak dengan labioschisis ditatalaksana oleh tim labio-palatoschisis yang
terdiri dari spesialistik bedah mulut dan maksilofasial, terapis bicara dan bahasa, dokter gigi,
ortodonsi, psikolog, dan perawat spesialis. Perawatan dan dukungan pada bayi dan keluarganya
diberikan sejak bayi tersebut lahir sampai berhenti tumbuh pada usia kira-kira 18 tahun.
Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada saat usia anak 3 bulan.
Ada tiga tahap penatalaksanaan labioschisis yaitu :
1. Tahap sebelum operasi
Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima
tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan
usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari
10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr %, usia lebih dari 10 minggu, dan Leukosit <
10.000 ul, jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada
orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya memberi
minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri
dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau
terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup serta menghindari adanya
infeksi saluran telinga, jika dot dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi
minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk
menghindari masuknya susu melewati langit-langit yang terbelah.
Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan
menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar
celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh
kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan
(protrusio pre maxilla) akibat dorongan lidah pada
prolabium,karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada saat
operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir
yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus
tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba.
2. Tahap sewaktu operasi
Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal
kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh dokter
spesialis anak dan spesialis anestesi.Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty)
adalah usia 3 bulan. Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6
bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir
sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi
kurang sempurna. Bila gusi terbelah, kelainannya menjadi labiognatopalatoschizisis. Koreksi
gusi dilakukan pada usia 8-9 tahun dan bekerja sama dengan ahli ortodonsi.
2.1 Bibir Sumbing Unilateral
2.1.1 Teknik Tennison Triangular
Menggunakan flap triangular dari sisi lateral, dimasukkan ke sudut sisi medial dari celah
tepat diatas batas vermillion, melintasi collum philtral sampai ke puncak cupid.
Triangle ini menambah panjang di sisi terpendek dari bibir.
Teknik ini menghasilkan bentuk bibir yang baik tetapi jaringan parut yang terbentuk tidak
terlihat alami





Keuntungan :
Menghasilkan bentuk bibir yan baik
Relatif mudah dimana puncak cupid dibentuk dari posisi atas angulasi ke posisi
datar
Penambahan tisu di bagian medial membantu untuk memperlihatkan protrusi
normal di bagian tersebut
Parut zigzag membantu untuk menyembunyikan garis vermilion ke dasar nasal
Kerugian :
Jaringan parut yang terbentuk tidak terlihat alami
Lekukan philtrum tidak terbentuk
Mungkin membentuk bibir yang terlalu panjang
Tidak memulihkan deformitas nasal seperti reparasi Millard
ILUSTRASI TENNISON RANDALL PROCEDURE

- Mengukur jarak dari 4 5, kemudian jarak dari 9-10. Contoh : Jarak 4-5 : 10mm, Jarak 9-
10 : 14mm, maka ukuran panjang untuk segitiga yang dibentuk adalah 4mm, dengan titik
tengah 2mm.
- Panjang dari 9-11 lebih panjang dari 13-3, maka supaya proyeksi sama, ada perpanjangan
dari 13-3 yaitu dengan menambah 12.
- A-C merupakan garis khayal yang terdapat pada batas antara bibir basah dan bibir kering.
- 12,11,8 merupakan pola triangular
- Metode ini harus melakukan pengukuran yang tepat.




2.1.2 Teknik Rotasi Millard
Dua flap yang berlawanan, dimana pada sisi medial dirotasi ke bawah dari kolumella
untuk menurunkan titik puncak ke posisi normal dan sisi lateral dimasukan ke arah garis
tengah untuk menutupi defek pada dasar kolumela
Memperpanjang bibir medial dengan meluruskan sayatan melengkung, tapi lateral bibir
tidak diperpanjang

Keuntungan :
Memberi variasi sepanjang ahli bedah menjalankan operasi
Jaringan parut yang lebih baik dibandingkan teknik Tennison
Mempertahankan puncak cupid dan lekukan philtral
Metode ini sangat fleksibel dimana bisa dilakukan modifikasi yang menerus
Bibir atas lebih terbentuk dengan baiknya
Kerugian :
Sulit untuk mendapatkan rotasi yang cukup dan lateral flap yang optimal
Untuk mendapatkan flap yang sesuai, diambil vermillion lateral yang banyak,
menyebabkan terlihatnya puncak cupid yang tidak simetris

Pemilihan : Keputusan akhir berasal dari mengukur jarak antara dasar alar (allar base)
dan ujung gulungan putih disisi sumbing (cleft side / CS). Bandingkan jarak ini dengan
sisi non sumbing (NCS). Paling sering akan terlihat bahwa CS lebih kecil. Jika jarak sisi
sumbing (8-10) lebih dari 2-3mm lebih pendek daripada NCS (4-2), maka menggunakan
teknik Tennison Randall. Jika kurang dari 2mm, maka menggunakkan prosedur Millard.
Alasannya : Jika perbedaan adalah lebih dari 2-3mm, seperti di sebagian besar complete
cleft, maka perlu menemukan cara untuk mengkompensasi karena jika pemanjangan
dilakukan tidak benar, maka operasi akan berakhir dengan perbedaan vertikal dalam
arsitektur bibir.
2.2 Bibir sumbing bilateral
Straight line Repair
Metode ini digunakan untuk bibir sumbing minimal.Operasi ini merupakan metode
operasi yang paling sederhana dan tertua.Dari segi kosmetik hasilnya kurang baik.



Kekurangannya ialah jika digunakan pada bibir sumbing yang lebih luas, maka akan
mengorbankan terlalu banyak jaringan normal dan dapat merusak bentuk dari cupids bow, serta
penutupan dengan cara ini cenderung menyebabkan kontraksi yang menghasilkan suatu lekukan
deformitas pada vermilion.

3. Tahap setelah operasi.
Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi, penatalaksanaanya tergantung dari tiap-
tiap jenis operasi yang dilakukan, biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan
instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing, luka bekas operasi
dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum
bayi. Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia
optimal untuk operasi, membuat operasi hanya untuk keperluan kosmetika saja sedangkan secara
fisiologis tidak tercapai, fungsi bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa
huruf tetap tidak sempurna, tindakan speech terapi pun tidak banyak bermanfaat.
Cara menyusui bagi ibu yang memiliki anak dengan bibir sumbing:
a.Memberi tahu ibu kepentingan ASI untuk bayinya,
b.Usaha untuk menutup celah atau bibir sumbing agar bayi dapat memegang puting dan areola
dalam mulutnya waktu menyusui (jari ibu atau plak gigi yg khusus atau obturator), kadang-
kadang payudara ibu menutup celah itu.
c.Memerah susu dan memberikan kepada anaknya menggunakan cangkir atau sendok teh.
6. Prognosis
Kelainan labioschisis merupakan kelainan bawaan yang dapat dimodifikasi/
disembuhkan. Kebanyakan anak yang lahir dengan kondisi ini melakukan operasi saat usia masih
dini, dan hal ini sangat memperbaiki penampilan wajah secara signifikan. Dengan adanya teknik
pembedahan yang makin berkembang, 80% anak dengan labioschisis yang telah ditatalaksana
mempunyai perkembangan kemampuan bicara yang baik.Terapi bicara yang berkesinambungan
menunjukkan hasil peningkatan yang baik pada masalah-masalah berbicara pada anak
labioschisis.



Pencegahan
1. Menghindari merokok
Ibu yang merokok mungkin merupakan faktor risiko lingkungan terbaik yang telah
dipelajari untuk terjadinya celah orofacial.Ibu yang menggunakan tembakau selama kehamilan
secara konsisten terkait dengan peningkatan resiko terjadinya celah-celah orofacial.Mengingat
frekuensi kebiasaan kalangan perempuan di Amerika Serikat, merokok dapat menjelaskan
sebanyak 20% dari celah orofacial yang terjadi pada populasi negara itu.
Lebih dari satu miliar orang merokok di seluruh dunia dan hampir tiga perempatnya
tinggal di negara berkembang, sering kali dengan adanya dukungan public dan politik yang
relatif rendah untuk upaya pengendalian tembakau. (Aghi et al.,2002). Banyak laporan telah
mendokumentasikan bahwa tingkat prevalensi merokok pada kalangan perempuan berusia 15-25
tahun terus meningkat secara global pada dekade terakhir (Windsor, 2002). Diperkirakan bahwa
pada tahun 1995, 12-14 juta perempuan di seluruh dunia merokok selama kehamilan mereka dan,
ketika merokok secara pasif juga dicatat, 50 juta perempuan hamil, dari total 130 juta terpapar
asap tembakau selama kehamilan mereka (Windsor, 2002).
2. Menghindari alkohol
Peminum alkohol berat selama kehamilan diketahui dapat mempengaruhi tumbuh
kembang embrio, dan langit-langit mulut sumbing telah dijelaskan memiliki hubungan dengan
terjadinya defek sebanyak 10% kasus pada sindrom alkohol fetal (fetal alcohol syndrome). Pada
tinjauan yang dipresentasikan di Utah Amerika Serikat pada acara pertemuan konsensus WHO
(bulan Mei 2001), diketahui bahwa interpretasi hubungan antara alkohol dan celah orofasial
dirumitkan oleh bias yang terjadi di masyarakat. Dalam banyak penelitian tentang merokok,
alkohol diketemukan juga sebagai pendamping, namun tidak ada hasil yang benar-benar
disebabkan murni karena alkohol.


3. Memperbaiki Nutrisi Ibu
Nutrisi yang adekuat dari ibu hamil saat konsepsi dan trimester I kehamilan sangat
penting bagi tumbuh kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang normal dari fetus.
a. Asam Folat
Peran asupan folat pada ibu dalam kaitannya dengan celah orofasial sulit untuk
ditentukan dalam studi kasus-kontrol manusia karena folat dari sumber makanan memiliki
bioavaibilitas yang luas dan suplemen asam folat biasanya diambil dengan vitamin, mineral dan
elemen-elemen lainnya yang juga mungkin memiliki efek protektif terhadap terjadinya celah
orofasial.Folat merupakan bentuk poliglutamat alami dan asam folat ialah bentuk monoglutamat
sintetis.Pemberian asam folat pada ibu hamil sangat penting pada setiap tahap kehamilan sejak
konsepsi sampai persalinan.Asam folat memiliki dua peran dalam menentukan hasil kehamilan.
Satu, ialah dalam proses maturasi janin jangka panjang untuk mencegah anemia pada kehamilan
lanjut. Kedua, ialah dalam mencegah defek kongenital selama tumbuh kembang embrionik.Telah
disarankan bahwa suplemen asam folat pada ibu hamil memiliki peran dalam mencegah celah
orofasial yang non sindromik seperti bibir dan/atau langit-langit sumbing.
b. Vitamin B-6
Vitamin B-6 diketahui dapat melindungi terhadap induksi terjadinya celah orofasial
secara laboratorium pada binatang oleh sifat teratogennya, demikian juga kortikosteroid,
kelebihan vitamin A, dan siklofosfamid.Deoksipiridin, atau antagonis vitamin B-6, diketahui
menginduksi celah orofasial dan defisiensi vitamin B-6 sendiri cukup untuk membuktikan
terjadinya langit-langit mulut sumbing dan defek lahir lainnya pada binatang percoban.Namun
penelitian pada manusia masih kurang untuk membuktikan peran vitamin B-6 dalam terjadinya
vitamin B-6.
c. Vitamin A
Asupan vitamn A yang kurang atau berlebih dikaitkan dengan peningkatan resiko
terjadinya celah orofasial dan kelainan kraniofasial lainnya. Hale adalah peneliti pertama yang
menemukan bahwa defisiensi vitamin A pada ibu menyebabkan defek pada mata, celah orofasial,
dan defek kelahiran lainya pada babi. Penelitian klinis manusia menyatakan bahwa paparan fetus
terhadap retinoid dan diet tinggi vitamin A jugadapat menghasilkan kelainan kraniofasial yang
gawat.Pada penelitian prospektif lebih dari 22.000 kelahiran pada wanita di Amerika Serikat,
kelainan kraniofasial dan malformasi lainnya umum terjadi pada wanita yang mengkonsumsi
lebih dari 10.000 IU vitamin A pada masa perikonsepsional.
4. Modifikasi Pekerjaan
Dari data-data yang ada dan penelitian skala besar menyarankan bahwa ada hubungan
antara celah orofasial dengan pekerjaan ibu hamil (pegawai kesehatan, industri reparasi, pegawai
agrikulutur).Teratogenesis karena trichloroethylene dan tetrachloroethylene pada air yang
diketahui berhubungan dengan pekerjaan bertani mengindikasikan adanya peran dari pestisida,
hal ini diketahui dari beberapa penelitian.namun tidak semua.Maka sebaiknya pada wanita hamil
lebih baik mengurangi jenis pekerjaan yang terkait.
Pekerjaan ayah dalam industri cetak, seperti pabrik cat, operator motor, pemadam
kebakaran atau bertani telah diketahui meningkatkan resiko terjadinya celah orofasial.
5. Suplemen Nutrisi
Beberapa usaha telah dilakukan untuk merangsang percobaan pada manusia untuk
mengevaluasi suplementasi vitamin pada ibu selama kehamilan yang dimaksudkan sebagai
tindakan pencegahan.Hal ini dimotivasi oleh hasil baik yang dilakukan pada percobaan pada
binatang.Usaha pertama dilakukan tahun 1958 di Amerika Serikat namun penelitiannya kecil,
metodenya sedikit dan tidak ada analisis statistik yang dilaporkan.Penelitian lainnya dalam usaha
memberikan suplemen multivitamin dalam mencegah celah orofasial dilakukan di Eropa dan
penelitinya mengklaim bahwa hasil pemberian suplemen nutrisi adalah efektif, namun penelitian
tersebut memiliki data yang tidak mencukupi untuk mengevaluasi hasilnya.Salah satu tantangan
terbesar dalam penelitian pencegahan terjadinya celah orofasial adalah mengikutsertakan banyak
wanita dengan resiko tinggi pada masa produktifnya.

KESIMPULAN
Bibir sumbing merupakan penyakit cacat bawaan.Penyebabnya terjadinya bibir sumbing
ialah multifaktorial, seperti genetik, nutrisi, lingkungan, bahkan sosial ekonomi.Jumlah penderita
bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 setiap tahun atau 1 bayi setiap 1.000
kelahiran. Namun, jumlah total penderita bibir sumbing di Indonesia belum diketahui secara
pasti. Klasifikasi berdasarkan utuh atau tidaknya celah dapat dibagi menjadi complete dan
incomplete, serta menurut jumlahnya dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Penderita bibir
sumbing dapat diperbaiki dengan jalan operasi dimana usia optimal untuk operasi bibir sumbing
(labioplasty) adalah usia 3 bulan. Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai
pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan
huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap
menjadi kurang sempurna.Selain usia, sebelum operasi perlu dilakukan persiapan dengan rule of
ten, meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr %,dan
Leukosit < 10.000 ul. Untuk menunjang gizi dan nutrisi yang baik, perlu cara yang benar untuk
menyusui dapat menggunakan botol khusus dimana dotnya lebih panjang dari dot pada
umumnya.Teknik operasi dibagi sesuai keadaan pasien.Umumnya untuk bibir sumbing unilateral
digunakan teknik operasi Tennison Triangular dan Teknik Rotasi Millard.Jika jarak sisi sumbing
lebih dari 2-3mm lebih pendek daripada NCS, maka menggunakan teknik Tennison Randall. Jika
kurang dari 2mm, maka menggunakkan prosedur Millard Sedangkan untuk bibir sumbing
bilateral digunakan teknik Straight Line. Namun tindakan ini memerlukan biaya yang besar,
sedangkan kesempatan penderita yang menjalani operasi setiap tahunnya hanya sekitar 1.500
orang, angka ini masih jauh dari idealnya sehingga tindakan-tindakan pencegahan sebaiknya
lebih diutamakan dimana tindakan pencegahan tersebut dengan jalan menghindari merokok dan
minum alkohol bagi ibu pada trimester pertama kehamilan, memperbaiki nutrisi ibu dengan
pemberian asam folat, vitamin B6, vitamin A, modifikasi pekerjaan serta suplemen nutrisi.





DAFTAR PUSTAKA
http://www.utmb.edu/otoref/grnds/Cleft-lip-palate-9801/Cleft-lip-palate-9801.pdf
Bart van de Ven, Joel Defrancq and Ellen Defrancq. "Cleft Lip Surgery, a Practical Guide". July
2008
http://www.ux1.eiu.edu/~cfmah/cleft/lipsurg.htm
http://www.cmds.canterbury.ac.nz/documents/CMDS111/Lecture12%20-
20cleft%20lip%20and%20palate.pdf