Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH SEMINAR HASIL PENELITIAN T.A.

2006
EVALUASI KINERJA OPERASI DAN
PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI DAN
UPAYA PERBAIKANNYA
Oleh:
Sumaryanto
Masdjidin Siregar
Deri Hidayat
M. Suryadi
PUSAT ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN
2006
2
EVALUASI KINERJA JARINGAN IRIGASI
DAN UPAYA PERBAIKANNYA
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa salah satu kendala terpenting
yang dihadapi untuk memacu pertumbuhan produksi pangan khususnya padi adalah
turunnya kapasitas lahan. Turunnya kapasitas lahan merupakan akibat dari sindroma
over-intensifikasi pada lahan sawah dan penurunan kualitas irigasi (Simatupang 2!!!".
Sindroma over-intensifikasi terkait dengan intensitas tanam yang tinggi dengan dosis
pemupukan yang cenderung melebihi kabutuhan optimal (#diningsih $%%&"
sedangkan turunnya kualitas irigasi merupakan akibat dari degradasi kinerja irigasi
(#rif $%%' Sumaryanto dkk 2!!(".
)ebih dari *! persen produksi padi di +ndonesia berasal dari lahan irigasi. ,leh
karena itu degradasi kinerja irigasi merupakan ancaman nyata terhadap masa depan
pasokan pangan nasional
$
. -ampak kemunduran kinerja irigasi bersifat langsung dan
tidak langsung. -ampak langsung adalah turunnya produktivitas turunnya intensitas
tanam dan meningkatnya risiko usahatani. -ampak tidak langsung adalah melemahnya
komitmen petani untuk mempertahankan ekosistem sawah karena buruknya kinerja
irigasi mengakibatkan lahan tersebut kurang kondusif untuk usahatani padi.
.enyebab turunnya kinerja irigasi terkait dengan/ ($" disain jaringan irigasi
tidak tepat (2" sistem operasi dan pemeliharaan (, 0 ." irigasi buruk dan (("
kombinasi dari keduanya (,smet $%%'". 1etidak tepatan disain jaringan irigasi
merupakan salah satu ekses dari/ ($" pendekatan yang terlalu menitik beratkan aspek
teknis (2" lemahnya kontrol pelaksanaan pembangunan irigasi dan ((" ketidak
sesuaian pola pikir perencana pembangunan jaringan irigasi dengan pola pikir petani
(#rif $%%'". +ni dapat disimak misalnya dari hasil penelitian #rif ($%%'". Sedangkan
sistem operasi dan pemeliharaan irigasi yang buruk terkait dengan/ ($" sistem
manajemen operasi dan pemeliharaan irigasi tidak sesuai dengan tuntutan teknis disain
jaringan irigasi. Terutama di level tertier (yang merupakan tanggung jawab petani"
$
-egradasi kinerja irigasi merupakan fenomena yang dihadapi oleh sebagaian besar negara berkembang
dan merupakan salah satu ancaman paling potensial terhadap masa depan keberlanjutan kecukupan
pangan di negara-negara berkembang (2orld Bank $%%(3 ,i $%%&3 4osegrant et al 2!!2".
(
penyebab utamanya terkait dengan kegagalan mengembangkan kelembagaan
pengelolaan irigasi partisipatif (2" dana yang tersedia untuk ,0. irigasi sangat
terbatas sehingga sebagian besar ('! 5 *! persen" habis untuk membayar gaji pegawai
dan biaya administrasi dan yang teralokasikan untuk pemeliharaan prasarana hanya
sekitar $6 5 7! persen (Syarief 2!!2".
8asil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa degradasi kinerja jaringan
irigasi memang terjadi di semua level tetapi yang paling menonjol dan banyak
ditemukan adalah di level tertier (.usposutardjo $%%&3 4ochdiyanto dan #rif $%%&3
9apitupulu $%%&3 Sumaryanto dkk 2!!2 Sumaryanto dkk 2!!(". ,leh karena itu
perbaikan kinerja operasi dan pemeliharaan pada level tertier merupakan masalah yang
membutuhkan pemecahan segera.
1.2. Perumuan !aala"
.ada dasarnya kinerja jaringan irigasi merupakan resultante dari kinerja
manajemen operasi dan pemeliharaan irigasi dan kondisi fisik jaringan irigasi secara
simultan. #ntar keduanya terdapat hubungan timbal balik/ kondisi fisik jaringan irigasi
yang rusak mengakibatkan pengoperasiannya tidak optimal3 di sisi lain jika operasi dan
pemeliharaannya tidak memenuhi ketentuan teknis yang dipersyaratkan maka kondisi
fisik jaringan irigasi juga tidak akan berfungsi optimal.
.enyebab rendahnya kualitas fisik jaringan irigasi dapat dipilah menjadi dua
kategori/ ($" adanya kerusakan prasarana (2" akibat salah disain. 1ategori ($" terkait
dengan terbatasnya sumberdaya yang tersedia untuk melakukan pemeliharaan dan atau
perbaikan3 atau akibat dari terjadinya perubahan lingkungan sekitarnya atau di wilayah
hulunya sehingga jaringan irigasi di wilayah tersebut rusak. 1ategori (2" terkait dengan
sistem pembangunan prasarana fisik yang tidak dilaksanakan dengan prosedur yang
benar. Secara empiris kasus-kasus yang terkait dengan kategori ($" lebih banyak
ditemukan daripada kategori (2".
1inerja (operasi dan pemeliharaan" jaringan irigasi yang buruk mengakibatkan
luas areal sawah yang irigasinya baik berkurang. Secara umum kinerja jaringan irigasi
yang buruk mengakibatkan meningkatnya water stress yang dialami tanaman (baik
akibat kekurangan ataupun kelebihan air" sehingga pertumbuhan vegetatif dan generatif
tanaman tidak optimal. 1erugian yang timbul akibat water stress tidak hanya berupa
7
produktivitas tanaman sangat menurun tetapi mencakup pula muba:irnya sebagian
masukan usahatani yang telah diaplikasikan (pupuk tenaga kerja dan lain-lain".
;aringan irigasi merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem irigasi dalam
pengertian perangkat keras maupun perangkat lunaknya. <valuasi dan upaya perbaikan
yang terkait dengan kondisi perangkat keras mungkin lebih mudah dilakukan karena
parameternya lebih jelas dan mudah diamati. Berbeda dengan itu evaluasi dan upaya
perbaikan dalam konteks perangkat lunak relatif lebih sulit karena melibatkan pula
aspek-aspek yang sifatnya intangible. +mplikasinya evaluasi kinerja jaringan irigasi
dan upaya perbaikannya membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan sistematis.
-alam konteks itu harus diperhitungkan pula persoalan-persoalan yang terkait dengan
implikasi dari perubahan pola manajemen irigasi dari .. 2(=$%*2 ke .. &&=2!!$ dan
kemudian juga berubah lagi agar sesuai dengan >> 9o. & Th. 2!!7.
>rgensi perbaikan kinerja jaringan irigasi terkait dengan beberapa faktor
berikut. .ertama peningkatan produksi padi merupakan program nasional yang
strategis sementara itu dalam jangka pendek kemampuan pemerintah untuk melakukan
peningkatan luas tanam padi melalui perluasan lahan sawah baru (new construction"
sangat terbatas. 1edua perbaikan kinerja jaringan irigasi tidak hanya potensial untuk
meningkatkan produktivitas lahan sawah untuk memproduksi padi tetapi juga potensial
untuk meningkatkan pendapatan petani. 1etiga dalam batas-batas tertentu perbaikan
kinerja jaringan irigasi kondusif untuk mengerem laju konversi lahan sawah ke
penggunaan lainnya. 1eempat perbaikan kinerja jaringan irigasi terutama di level
tertier dengan menempatkan petani sebagai pelaku utamanya adalah merupakan salah
satu bentuk pembelajaran yang relevan dengan implementasi kebijakan pengelolaan
irigasi yang baru. 1elima perbaikan kinerja jaringan irigasi merupakan salah satu cara
untuk menekan kemuba:iran investasi pembangunan sistem irigasi.
.erbaikan kinerja jaringan irigasi mencakup perangkat lunak maupun perangkat
kerasnya. Secara normatif monitoring dan evaluasi kinerja jaringan di level primer dan
sekunder telah dilakukan oleh instansi terkait dan program rehabilitasinya telah pula
dirumuskan. -i sisi lain meskipun selama ini telah banyak penelitian empiris yang
dilakukan dan merekomendasikan perlunya perbaikan pola ,0. irigasi tetapi fakta di
lapangan menunjukkan bahwa proses degradasi kinerja jaringan irigasi terutama di
level tertier masih terus berlanjut. ?engingat bahwa perbaikan kinerja jaringan irigasi
6
membutuhkan sumberdaya (anggaran waktu tenaga kerja" yang besar dan
keberhasilannya ditentukan oleh partisipasi petani maka perumusan kebijakan dan
program rehabilitasi kinerja jaringan irigasi membutuhkan masukan yang didasarkan
atas kajian empiris. -alam konteks itulah penelitian ini sangat dibutuhkan.
1.#. $u%uan
Sasaran penelitian ini adalah menghasilkan data informasi dan rekomendasi
kebijakan untuk memperbaiki kinerja jaringan irigasi. Tujuan penelitian adalah/
($" ?engevaluasi kinerja jaringan irigasi dengan penekanan pada aspek operasi dan
pemeliharaannya.
(2" ?engidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya degradasi kinerja jaringan
irigasi.
((" ?engidentifikasi potensi dan kendala yang dihadapi dalam perbaikan kinerja
jaringan irigasi.
II. !E$&DE PENELI$IAN
2.1. Kerangka Pem'k'ran
1emunduran kinerja irigasi yang terjadi pada sistem irigasi teknis sangat
menonjol terutama di level tertier. ,leh karena itu ruang lingkup evaluasi diarahkan
pada sistem irigasi teknis terutama di level tertier dan substansinya difokuskan pada
aspek operasi dan pemeliharaannya.
@ungsi terpenting jaringan irigasi adalah sebagai prasarana pendukung dalam
sistem penyaluran distribusi dan pembuangan (drainage". 1inerja jaringan irigasi
merupakan resultan dari kinerja fisik jaringan dan sistem ,. irigasi secara simultan.
1ondisi fisik jaringan irigasi yang optimal tidak menjamin kinerja irigasi yang optimal.
Sebaliknya kinerja operasi dan pemeliharaan yang baik juga belum tentu menghasilkan
manfaat optimal jika tidak ditunjang oleh kinerja fisik jaringan yang memadai.
Selain harus hadir bersama antara kedua faktor tersebut saling mempengaruhi.
1ondisi fisik jaringan yang buruk sehingga kinerjanya rendah merupakan salah satu
sebab rendahnya partisipasi petani untuk mengelola irigasi ikut berkontribusi terhadap
rendahnya dan melemahkan motivasi petani untuk mengoperasikan dan
'
memeliharanya. 1ondisi fisik jaringan cukup baik dan sistem operasi dan
pemeliharaannya juga baik reliabilitas pasokannya belum tentu baik jika ternyata
kinerja akuisisi dan penyimpanan buruk. ,leh karena itu dalam mengevaluasi kinerja
jaringan irigasi konstelasi hubungan antar sub sistem tersebut harus dipahami dengan
baik agar determinan kinerja jaringan irigasi diketahui.
2.2. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi.
1inerja jaringan irigasi tercermin dari kemampuannya untuk mendukung
ketersediaan air irigasi pada areal layanan irigasi (command area" yang kondusif untuk
penerapan pola tanam yang direncanakan. 1inerja irigasi ditentukan secara simultan
oleh kondisi fisik jaringan dan kinerja ,0..
Tolok ukur yang diterapkan untuk mengevaluasi kinerja ,0. irigasi mencakup
aspek-aspek berikut/
$. Tolok ukur keluaran ,0. jaringan irigasi sebagai penyedia penyalur dan
distribusi air. Terdapat empat indikator yang terkait dengan aspek ini/
1ehandalan penyampaian air (Reliability of Delivery 5 1.#"/
rencana
aktual
Q
Q
KPA =
1emerataan penjatahan air antar petak tertier (Water Allocation Equity 5 2#<"/
Hilir
Hulu
KPA
KPA
WE =
1emampuan untuk melakukan drainase yang baik (tercermin dari
perbandingan antara kondisi aktual dengan yang direncanakan".
1etersediaan dana , 0 . irigasi baik dari swadaya petani maupun dari
pemerintah.
2. Tolok ukur menurut sudut pandang petani. +ni dapat dinilai melalui/
Tingkat kecukupan yakni perbandingan tebal (det!" pemberian air irigasi
aktual terhadap tebal air yang diinginkan petani (.(#".
1etepatan waktu yakni perbandingan antara waktu pemberian air menurut
kondisi akutal terhadap jadwal yang diinginkan petani (.(#". -alam konteks ini
difokuskan pada ketepatan waktu kedatangan pasokan air irigasi meskipun
sebenarnya dimensinya juga mencakup durasinya.
1ehandalan penerimaan air irigasi (1.+" yakni kombinasi 19 dengan 12.
2.3. Identifikasi Faktor-faktor Penyebab Degradasi Kinerja OP Jaringan Irigasi.
&
1.# rata - rata dimana = KPA
+dentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya degradasi kinerja ,. jaringan
irigasi difokuskan pada jaringan tertier. Secara garis besar faktor penyebab terjadinya
degradasi kinerja (operasi dan pemeliharaan" jaringan irigasi di level tertier dipilah
menjadi 2 kategori/
($" <ksternal/ perubahan kondisi wilayah yang mengakibatkan jaringan irigasi tidak
dapat berfungsi optimal atau bahkan rusak.
(2" +nternal/ .(# tidak berfungsi sehingga tidak berhasil membangun aksi kolektif
untuk melakukan ,. irigasi dengan baik.

2.. Identifikasi Potensi dan Kendala yang Di!ada"i Dala# Perbaikan Kinerja
Jaringan Irigasi.
.ada level tertier potensi dan kendala yang dihadapi dalam perbaikan kinerja
jaringan irigasi diidentifikasi melalui pendekatan tidak langsung dengan cara mengkaji
faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi petani dalam ,. irigasi. Secara garis
besar bentuk partisipasi dipilah menjadi tiga kategori/ ($" berpartisipasi dalam bentuk
pemenuhan kewajiban finansial saja (2" berpartisipasi dalam bentuk tenaga kerja saja
((" berpartisipasi dalam pemenuhan kewajiban finansial maupun tenaga kerja. 1ualitas
partisipasi juga dikelompokkan menjadi tiga tingkatan/ ($" tidak berpartisipasi (2"
tingkat partisipasi sedang dan ((" berpartisipasi penuh.
2.(. Pengam)'lan *+nt+"
1ajian dilakukan pada sistem irigasi teknis di -aerah +rigasi Brantas (.rovinsi
;awa Timur" -aerah +rigasi 2ay Sekampung (.rovinsi )ampung" dan -aerah +rigasi
2awotobi (Sulawesi Tenggara". -aerah +rigasi Brantas dipilih untuk mewakili suatu
sistem irigasi di ;awa yang paling maju dan pola tanamnya paling dinamis. -aerah
+rigasi 2ay Sekampung dipilih untuk mewakili wilayah irigasi di )uar ;awa di
kawasan barat sedangkan -aerah +rigasi 2awotobi dipilih untuk mewakili ekosistem
pesawahan di luar ;awa di kawasan timur.
4esponden dalam penelitian ini terdiri dari dua kategori yaitu (a" lembaga atau
organisasi yang secara langsung menangani operasi dan pemeliharaanirigasi dan (b"
pengguna air irigasi. Butir (a" terdiri dari dua sub kategori yaitu/ (i" lembaga yang
secara langsung menangani operasi dan pemeliharaan irigasi pada level primer dan
*
sekunder yakni aparat dinas pengairan dan (ii" organisasi petani pengguna air irigasi
(.erkumpulan .etani .emakai #ir 5 .(#". .engguna air irigasi adalah petani
penggarap lahan sawah.
.emilihan responden kategori (a" mengacu pada unit analisis wilayah untuk
lokasi penelitian yang terpilih sedangkan pemilihan responden kategori (b"
menggunakan prosedur random samling. .rosedur pemilihan contoh di masing-
masing .ropinsi dapat disimak pada Aambar $ sedangkan jumlah responden tertera
pada Tabel )ampiran $.
Keterangan,
A - Bl+k $ert'er .engan k'ner%a &/P %ar'ngan 'r'ga' kurang0t'.ak )a'k
B - Bl+k $ert'er .engan k'ner%a &/P %ar'ngan 'r'ga' )a'k
P - Petan' re1+n.en
Aambar $. .rosedur pemilihan contoh.
III. HASIL PENELI$IAN DAN PE!BAHASAN
#.1. Dekr'1' Umum
Sistem irigasi yang dijadikan lokasi penelitian mempunyai peranan yang
penting di masing-masing .ropinsi. Total luas lahan irigasi di -#S Brantas adalah
sekitar (!% ribu hektar atau sekitar (7.!6 B dari total luas lahan irigasi .ropinsi ;awa
Timur. -ari seluruh lahan irigasi yang termasuk dalam -aerah +rigasi Brantas itu
sekitar 272.6 ribu hektar atau &* B beririgasi teknis. #ngka ini sekitar ((.(& persen
%

.
.
.
.
.
.
.
.
#
B
#
B
#
B
#
B
8ulu
8ilir
8ulu
8ilir
8ulu
8ilir
Satu 'tem
Daera" Ir'ga'
dari total lahan +rigasi Teknis .ropinsi ;awa Timur. Sistem irigasi Sekampung
melayani areal irigasi seluas 76.$$! hektar atau sekitar 77 persen terhadap total luas
lahan irigasi teknis di .ropinsi )ampung. Sedangkan sistem irigasi 2awotobi
melayani luas areal irigasi sekitar &.!!! hektar yang berarti sekitar 2% persen dari
total luas areal irigasi teknis di .ropinsi Sulawesi Tenggara. .otensi peningkatan
peranannya masih sangat terbuka karena dari air yang tersedia di bendung maupun
lahan yang potensial dikembangkan sebenarnya sistem irigasi 2awotobi mampu
melayani areal irigasi seluas $'.266 hektar.
Berbeda dengan sistem distribusi air di Brantas maupun 2awotobi di sistem
irigasi 2ay Sekampung dilakukan pola pergiliran tahunan. 8al ini disebabkan
kapasitas rata-rata volume air irigasi yang tersedia dari debit andalan #rgoguruh
maupun suplesi dari 2aduk Batutegi hanya cukup untuk mengairi sekitar 6* persen
dari total luas lahan sawah yang harus dilayani (command area". ,leh karena itu
dilakukan pembagian menjadi dua wilayah/
Aolongan + (masa awal garap akhir ,ktober" 5 +++ (masa awal garap awal
-esember" pada tahun ganjil memperoleh gadu.
Aolongan +C (mulai garap pertengahan -esember" 5 +C (mulai garap pertengahan
;anuari" tidak memperoleh jatah pasokan air ?T ++ (jatah gadu" kecuali Aolongan
+C dari Saluran Sekunder Bekri-2 (27!! 8a".
Sebagaimana umumnya pada sistem irigasi di +ndonesia awal masa tanam padi
?T + sangat terkait dengan datangnya musim hujan. +ni berlaku pula pada sistem irigasi
teknis karena volume reservoir dipengaruhi oleh curah hujan. #wal masa garap
usahatani padi ?T + di Brantas pada umumnya adalah pertengahan ,ktober 5 awal
-esember sedangkan di Sekampung pertengahan 9opember 5 pertengahan ;anuari. -i
2awotobi awal masa garap usahatani padi ?T + pada umumnya berlangsung pada
pertengahan ;anuari 5 awal ?aret.
Terkait dengan teknologi usahatani yang diterapkan petani produktivitas
usahatani padi yang tertinggi adalah di Brantas sedangkan yang terendah di 2awotobi.
-i Brantas produktivitas pada musim kemarau cenderung lebih rendah sedangkan di
2ay Sekampung maupun 2awotobi adalah sebaliknya. Secara umum pola tanam
yang paling berdiversifikasi adalah di Brantas sedangkan yang cenderung monokultur
$!
adalah di 2awotobi. 1omoditas utama di luar padi adalah jagung kedele dan tebu.
;agung diusahakan pada ?T ++ dan atau +++ sedangkan kedele pada umumnya pada ?T
+++. Sebagian besar usahatani tebu adalah sistem keprasan dengan frekuensi kepras
antara ' 5 * kali. +ndeks pertanaman pada sistem irigasi teknis Sekampung Brantas
dan 2awotobi masing-masing adalah sekitar 2.$7 2.'6 dan $.62.
Tabel $. -eskripsi umum pemanfaatan lahan sawah irigasi teknis dalam lima tahun
terakhir.
Sistem irigasi
Brantas Sekampung 2awotobi
$. #wal garap lahan untuk usahatani padi ?T + ,kt=-es 9op=;an ;an=?ar
2. .roporsi luas tanam padi (B"
- ?T + *& %* %(
- ?T++ '6 7* 6'
- ?T+++ 7 2 -
(. .roduktivitas usahatani padi (ton A1.=ha"/
- ?T + 6.' 6.$ 7.6
- ?T++ 6.7 6.( 7.&
7. -iversifikasi usahatani ke tanaman non padi
pada ?T ++ dan atau ?T +++
tinggi sedang sangat
rendah
6. +ntensitas tanam 2.'6 2.$7 $.62
'. 4ata-rata luas pemilikan lahan sawah (8a" !.(7 !.&$ $.(6
&. 1ontribusi pendapatan usahatani sawah
terhadap pendapatan rumah tangga petani (B"
6*.& '*.2 &'.7
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
4ata-rata pemilikan lahan sawah di Brantas adalah sekitar !.(7 hektar=petani
sedangkan di 2ay Sekampung dan 2awotobi masing-masing adalah sekitar !.&$ dan
$.%6 hektar=petani. 8al itu berimplikasi pada peranan usahatani di lahan sawah terhadap
ekonomi rumah tangga petani. Terkait pula dengan perkembangan perekonomian
wilayah maka kontribusi pendapatan dari usahatani di lahan sawah terhadap total
pendapatan rumah tangga petani di Brantas 2ay Sekampung dan 2awotobi masing-
masing adalah sekitar 6% '* dan &' persen. -i Brantas dan 2ay Sekampung sumber
$$
pendapatan utama di luar usahatani sawah adalah dari aktivitas non pertanin sedangkan
di 2awotobi adalah dari usahatani di lahan kering (kelapa pisang kakao dan kayu".
#.2. P+la Umum D'tr')u' Pa+kan A'r Ir'ga'
.ola umum distribusi temporal pasokan air irigasi didekati dengan metode
indeks (.>-T"
$
. -ata yang digunakan adalah debit air irigasi yang dilepas dari saluran
induk atau debit bendung. 8asil kajian menunjukkan bahwa secara umum distribusi
temporal air irigasi paling stabil adalah di Brantas sedangkan yang paling berfluktuasi
adalah di 2ay Sekampung (Aambar 2".
Aambar 2. .ola distribusi temporal pasokan air irigasi di reservoir utama.
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
Terkait dengan data yang tersedia pembandingan pola temporal antara wilayah
hulu dan hilir hanya dapat diperlakukan sistem irigasi Brantas. 8asil estimasi dari data
selama kurun waktu $* tahun ($%&% 5 $%%'" di Brantas diperoleh kesimpulan bahwa
rata-rata pasokan air per bulan di 8ulu (?olek" adalah sekitar '(.6! m
(
=dt sedangkan
di 8ilir (agregat Coor Danal-$ dan Coor Danal-2" adalah sekitar 6!.%6 m
(
=dt. Secara
umum pasokan di wilayah hulu lebih stabil daripada di 8ilir (Aambar )ampiran $".
>ntuk memperoleh pola umum distribusi air irigasi di pintu tertier maka angka
tersebut dikoreksi dengan intake efficiency (+<@" dan system oeration efficiency
(S,<@" yang diperoleh dari hasil penelitian lain di wilayah yang bersangkutan. +<@
$

Q
Q Q
P"#D
i

= dimana Qi adalah debit pada bulan ke-i sedangkan Q adalah rata-rata debit
$2
-1.500
-1.000
-0.500
0.000
0.500
1.000
1.500
Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep
Way Sekampung ranta! Wa"otob#
merefleksikan intake aktual yang diterima di salah satu saluran berikutnya terhadap
volume intake yang direncanakan pada saluran di level atasnya (main canal". -isain
jaringan (dari saluran induk 5 tertier" irigasi yang kurang terkonsolidasi merupakan
salah satu faktor yang menentukan +<@. Sedangkan S,<@ adalah ratio antara volume
alir yang diterima di inlet di lapangan terhadap inflow pada saluran utama (main canal".
@aktor yang paling menentukan S,<@ adalah kebocoran dan evaporasi selama
penyaluran dan kehilangan air akibat kesalahan dalam pengoperasian fasilitas kontrol
distribusi air irigasi (#rmitage $%%%".
8asil penelitian Tim studi #S.S ++ ($%%2" menunjukkan bahwa $ntake
efficiency (+<@" dan %ystem oeration efficiency (S,<@" di wilayah hulu adalah sekitar
*% dan &' persen sedangkan di wilayah hilir (dengan urutan yang sama" adalah sekitar
&$ dan 6* persen (Tim Studi S#.S ++ $%%2". -engan asumsi bahwa tingkat efisiensi
tersebut tidak banyak berubah hasil estimasi menunjukkan bahwa rata-rata pasokan air
di pintu tertier di wilayah 8ulu adalah sekitar !.&% )t=dt=8a dengan koefisien variasi
!.77 sedangkan di 8ilir sekitar !.&' )t=dt=8a dengan koefisien variasi !.7% (Tabel
)ampiran 2".
#.#. K'ner%a Jar'ngan Ir'ga'
<stimasi tolok ukur kuantitatif yang menunjukkan keluaran ,0. jaringan
irigasi sebagai penyedia penyalur dan distribusi (1.# dan 2#<" hanya dapat
dilakukan pada sistem irigasi Brantas. -i 2ay Sekampung ()ampung" meskipun
pemantauan kondisi fisik jaringan dilakukan secara rutin akan tetapi pencatatannya
kurang tertib sehingga data series yang reliable sulit diperoleh. Sedangkan di
2awotobi bukan hanya pencatatannya yang tidak dilakukan secara rutin pemantauan
kondisi fisik jaringan irigasinyapun kurang memadai akibat sangat terbatasnya tenaga
dan anggaran yang tersedia untuk melakukan ,. irigasi. -apat ditambahkan bahwa
sejak masa pengoperasiannya (tahun $%%2" praktis hanya dua tahun sistem ,. irigasi
2awotobi dilaksanakan sesuai prosedur standard. Setelah itu kondisinya secara
berangsur mengalami degradasi. Sejak tahun 2!!( mulai dilakukan upaya revitalisasi
dengan merehabilitasi jaringan irigasi (pada saat ini 9ippon 1oei tengah mengkaji
proyek rehabilitasi irigasi 2awotobi".
$(
<stimasi tolok ukur kuantitatif jaringan irigasi sebagai penyedia penyalur dan
pendistribusi (1.# dan 2#<" pada sistem irigasi Brantas dapat dilihat pada Tabel 2
dan Tabel (. ?engacu pada nilai 1.# (Tabel 2" dapat disimpulkan bahwa/ ($" pada
umumnya tingkat kehandalan jaringan irigasi di Brantas dalam penyampaian (reliability
of delivery" air irigasi adalah sekitar *! persen dan (2" secara relatif kondisi yang
terjadi di wilayah 8ulu adalah lebih baik daripada di 8ilir. 8al ini terkait dengan
banyak faktor. Selain konfigurasi jaringan maupun ketepatan disain juga terkait kinerja
pemeliharaan saluran irigasi di wilayah yang bersangkutan.
Tabel 2. 8asil estimasi keandalan penyampaian 1.# di lokasi penelitian di sistem
irigasi Brantas
2ilayah Sub 2ilayah 4ata-rata ?aks ?in ST-
8ulu 8ulu !.*7% $.277 ! !.(**
8ilir !.*$& $.(2' ! !.72&
8ilir 8ulu !.*22 $.(2* ! !.7!2
8ilir !.*!& $.7&& ! !.76$
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
Tabel ( menunjukkan hasil estimasi tolok ukur kuantitatif yang merefleksikan
tingkat pemerataan distribusi air irigasi. Tampak bahwa secara umum tingkat distribusi
air irigasi di bagian 8ulu (baik di 2ilayah 8ulu maupun 2ilayah 8ilir" cenderung
lebih merata. +ni konsisten dengan pengamatan di tingkat petani yang menunjukkan
bahwa keluhan tentang Etidak kebagian airE di bagian hilir pada umumnya lebih
banyak ditemukan dibanding di bagian hulu.
Tabel (. 9ilai 2#< di 2ilayah 8ulu dan 2ilayah 8ilir di sistem irigasi Brantas.
2ilayah Sub 2ilayah 4ata-rata 9ilai 2#< Tingkat kemerataan/
8ulu 8ulu $.$&& Sedang 5 tinggi
8ilir $.(%2 4endah 5 sedang
8ilir 8ulu $.2(% 4endah 5 sedang
8ilir 2.!$' 4endah
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
Selain aspek penyaluran dan distribusi kemampuan jaringan irigasi dalam
menekan kelebihan air (drainase" merupakan bagian penting dari kinerja jaringan
$7
irigasi. @ungsi drainase menjadi sangat menonjol pada wilayah layanan irigasi yang
elevasinya relatif rendah. 1ondisi drainase yang baik bukan hanya diperlukan untuk
mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman tetapi juga berperan penting
untuk menghindari kehilangan hasil.
-ata kuantitatif yang mencerminkan unjuk kerja saluran pembuang tidak
tersedia. ,leh karena itu evaluasi didasarkan atas penilaian kualitatif. -engan
pendekatan ini kinerja jaringan irigasi dalam hal drainase dipilah menjadi ( kategori/
($" baik (2" sedang dan ((" tidak=kurang baik. 1riteria tersebut didasarkan atas
penilaian petani atas kemampuan drainase pada musim penghujan untuk usahatani padi.
Berdasarkan pendekatan tersebut dapat dilihat bahwa secara umum kemampuan
jaringan irigasi untuk melakukan drainase yang terbaik adalah di Brantas sedangkan
yang terburuk adalah di 2awotobi. -i Brantas sekitar separuh persen kondisinya baik
dan sekitar sepertiga sedang. Sebaliknya di 2awotobi lebih dari dua pertiga adalah
tidak=kurang baik dan hanya sekitar $! persen yang fungsi drainasenya baik. -i 2ay
Sekampung unjuk kerja drainase yang termasuk kategori baik adalah sekitar 26 persen
dan yang termasuk kategori sedang adalah 6! persen (Tabel 7".
Tabel 7. 1emampuan jaringan irigasi untuk melakukan drainase (dalam persen"
1ategori 2ay Sekampung Brantas 2awotobi
Baik 26.! 6!.! $2.6
Sedang 6!.! (&.6 26.!
1urang=tidak baik 26.! $2.6 '&.6
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
1ondisi fisik jaringan sangat dipengaruhi oleh operasi dan pemeliharaannya
yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan ketersediaan dana untuk
melaksanakan aktivitas tersebut. #nggaran dari pemerintah sangat terbatas. Sebagai
ilustrasi anggaran ,. 2!!6 di 2ay Sekampung Brantas 2awotobi masing-masing
adalah sekitar 4p.''.6!! 4p.2%.7!! dan 4p.&*.!!! =hektar. -i sisi lain di Brantas
kebutuhan dana menurut Fangka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaanG (#19,."
dari perhitungan .> .engairan ;awa Timur adalah sekitar 4p $!!.!!! per hektar per
tahun. -i Sulawesi Tenggara (agregat .ropinsi" dengan kondisi jaringan seperti saat ini
$6
adalah sebesar 4p$6!.!!!=ha=tahun3 dan khusus untuk Sistem +rigasi 2awotobi adalah
sekitar 4p. $'$.!!!=ha=tahun.
Sebagian besar dari anggaran ,. dari pemerintah ternyata teralokasikan untuk
honor dan gaji pegawai pengairan untuk menjalankan tugas tersebut. Bahkan untuk
honor sebagian petugas pengairan seringkali terjadi keterlambatan pembayaran - tidak
hanya satu atau dua bulan tetapi lebih dari tiga bulan. 1asus-kasus ini ditemui baik di
2awotobi maupun di Brantas. +mplikasinya kegiatan operasi tidak optimal dan
pemeliharaan juga tidak memadai sehingga berdampak umur dan mutu jaringan
menjadi lebih rendah.
-i level tertier keswadayaan petani untuk menyediakan anggaran ,. juga
sangat terbatas. -alam konteks ini penilaian apakah ketersediaan dana swadaya
tersebut cukup ataukah tidak cukup adalah relatif karena sangat terkait dengan tingkat
kerusakan jaringan irigasi di wilayah yang bersangkutan. ,leh karena itu evaluasi
terhadap tingkat ketersediaan dana ,. irigasi didekati dengan penilaian petani dan
pengurus .(# berdasarkan kebutuhan biaya ,. di wilayah masing-masing. -alam
kajian ini tingkat ketersediaan dana ,. swadaya petani (diorganisasikan oleh .(#"
dipilah menjadi empat kategori/ ($" cukup (2" kurang ((" sangat kurang dan (7" tidak
ada dana yang tersedia.
Sebagaimana tampak pada Tabel 6 .(# yang menyatakan bahwa dana ,.
swadayanya cukup untuk membiayai ,. irigasi di wilayah kerjanya hanya ditemukan
di 2ay Sekampung ($2.6 B" dan Brantas (26 B". Bahkan di 2awotobi proporsi .(#
yang tidak mempunyai dana untuk ,. irigasi di wilayah kerjanya lebih dari sepertiga.

Tabel 6 Tingkat ketersediaan dana ,. irigasi swadaya petani (dalam persen"
1ategori 2ay Sekampung Brantas 2awotobi
Dukup $2.6 26.! -
1urang (&.6 6!.! (&.6
Sangat kurang (&.6 26.! 26.!
Tidak ada $2.6 - (&.6
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
.enilaian petani terhadap kinerja air irigasi pada akhirnya bermuara pada
persoalan volume dan ketepatan waktu. -ari sudut pandang petani penilaian terhadap
$'
tingkat kecukupan air irigasi yang diterima di lahan sawahnya (volume" untuk
usahatani padi dapat didekati melalui pembandingan antara rata-rata tinggi genangan
aktual dengan yang secara normatif digunakan sebagai pedoman petani setempat.
-alam penelitian ini tingkat kecukupan tersebut dipilah menjadi ( kategori/ ($"
berlebih (2" cukup dan ((" kurang. .enilaian dilakukan terhadap kondisi air irigasi
untuk usahatani padi pada ?T ++. -engan pendekatan ini diperoleh kesimpulan bahwa
secara umum air irigasi yang diterima petani di lahan sawah di 2ay Sekampung dan
Brantas lebih langka daripada di 2awotobi (Tabel '".

Tabel '. 1uantitas pasokan air irigasi di petak tertier contoh (dalam persen"
1ategori 2ay Sekampung Brantas 2awotobi
Berlebih $6.! &.6 2&.6
Dukup 62.6 '!.! 6&.6
1urang (2.6 (2.6 $6.!
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
Tentang jadwal kedatangan pasokan air di 2ay Sekampung maupun Brantas
lebih dari separuh mengalami keterlambatan. +ni berbeda dengan di 2awotobi dimana
yang tidak mengalami keterlambatan ternyata lebih dari separuh (Tabel &". Aambaran
lebih rinci tentang kombinasi antara volume dan jadwal dapat disimak pada Tabel
)ampiran (.
Tabel &. 1etepatan waktu pasokan air irigasi di petak tertier contoh (dalam persen"
1ategori 2ay Sekampung Brantas 2awotobi
Tidak terlambat 76.! 7&.6 '!.!
Sering terlambat 66.! 62.6 7!.!
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
#.2. Pen3e)a) Degra.a' K'ner%a Jar'ngan .an &P Ir'ga'
Sebagaimana dikemukakan di muka kajian tentang penyebab degradasi kinerja
jaringan dan ,. irigasi ini difokuskan pada kinerja jaringan dan ,. irigasi di tingkat
tertier. .enyebabnya memang sangat kompleks dan saling berkaitan. -ari penelitian ini
teridentifikasi bahwa penyebab utama yang sifatnya eksternal (di luar kendali
petani=.(#" terkait dengan lima aspek berikut/ ($" anggaran ,. irigasi dari pemerintah
$&
(2" jumlah petugas dan fasilitas pendukungnya ((" pembinaan .(# (7" koordinasi
antar lembaga terkait dan (6" perubahan kawasan yang mendorong terjadinya konversi
lahan sawah ke penggunaan lain. 8asil identifikasi adalah sebagai berikut.
Sebagian besar petani berpendapat bahwa keterbatasan anggaran ,. irigasi
merupakan penyebab dari terjadinya degradasi kinerja ,. irigasi di tingkat tertier
$
.
.roporsi petani yang berpendapat bahwa anggaran ,. irigasi dari pemerintah cukup
ternyata kurang dari $! persen. .roporsi petani yang berpendapat bahwa anggaran yang
tersedia sangat kurang hampir mencapai '! persen sedangkan yang berpendapat
kurang adalah sekitar 2! persen (Tabel *".
Tabel *. @aktor-faktor yang mem-pengaruhi degradasi kinerja ,. irigasi di level tertier
(dalam persen"
#spek yang dinilai .endapat petani Sekampung Brantas 2awotobi 4ata-rata
$. #nggaran ,. dari
pemerintah
Tidak ada $$.$ $7.( 2$.$ $6.'
Sangat kurang 66.' '*.' 62.' 6*.&
1urang (!.' $$.7 $*.7 2!.2
Dukup 2.* 6.& &.% 6.6
2. ;umlah petugas 0
fasilitas pendukung
Sangat kurang (!.* $!.( 77.& 2*.7
1urang 6$.( '%.2 77.& 66.2
Dukup $&.% 2!.6 $!.6 $'.7
(. .embinaan .(# Sangat kurang 2$.$ $!.* ('.* 2(.!
1urang 72.$ 76.% 72.$ 7(.7
Dukup ('.* 7(.2 2$.$ ((.'
7. 1ualitas koordinasi
antar lembaga terkait
Sangat buruk 2(.& $&.$ 76.& 2*.&
Buruk (%.6 7!.! 72.% 7!.&
Dukup baik ('.* 72.% $$.7 (!.'
6. 1ecenderungan
konversi lahan sawah
Tidak ada $(.( 2.% $7.& $!.2
4endah &(.( 77.$ *2.7 ''.(
Sedang $!.! 7&.$ 2.% 2!.7
Tinggi (.( 6.% - (.$
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
1eterbatasan anggaran berkaitan dengan jumlah petugas dan fasilitas
pendukung petugas pengairan untuk melaksanakan kegiatannya. -alam hal ini ternyata
pendapat petani konsisten. )ebih dari separuh menyatakan bahwa jumlah petugas
pengairan dan fasilitas pendukungnya termasuk kategori kurang. +mplikasinya berlanjut
pada kegiatan pembinaan .(# oleh petugas. ,leh karena fasilitas pendukungnya sangat
$
-isadari bahwa adanya peluang bahwa terbentuknya persepsi tersebut dipengaruhi pula oleh
pernyataan=alasan yang dikemukakan oleh petugas pengairan pada saat yang bersangkutan berinteraksi
dengan petani. #kan tetapi jika dikaitkan fenomena saat ini dimana keterbukaan dan keberanian petani
untuk menyampaikan pendapatnya cukup tinggi maka peluang bahwa persepsi tersebut dibentuk oleh
petugas pengairan tampaknya sangat kecil.
$*
terbatas maka aktivitas aparat pengairan untuk melakukan pembinaan .(# mengalami
hambatan. .roporsi petani yang menyatakan bahwa pembinaan .(# cukup memadai
hanya sekitar sepertiga.
-alam kondisi seperti itu persoalan yang dihadapi menjadi semakin kompleks
karena koordinasi antar lembaga terkait tampaknya juga tidak menunjukkan kinerja
yang memadai. 1erjasama yang sistematis dan produktif antara aparat pemerintah
daerah petugas pengairan dan ..) di lapangan belum melembaga. 1ecenderungan
yang sering terjadi adalah adanya sejumlah .(# yang sangat sering dikunjungi dan
dibina di sisi lain cukup banyak pula .(# yang sangat jarang disentuh. Tolok ukur
keberhasilan pembinaan dan atau kegiatan oleh petugas dimana keberhasilan itu
diukur dari besarnya partisipasi masyarakat setempat untuk ikut dalam kegiatan terkait
semakin memperparah kesenjangan pembinaan antar .(# tersebut. .etugas cenderung
memilih masyarakat yang lebih kooperatif dalam berpartisipasi dalam kegiatan
dibanding masyarakat yang kurang kooperatif.
@aktor lain adalah pengaruh dari perubahan kawasan terutama yang
berimplikasi pada kecenderungan petani untuk mengkonversi lahan sawahnya.
Sebagian besar petani memang berpendapat bahwa kecenderungan seperti itu masih
relatif rendah. #kan tetapi implikasi dari konversi lahan sawah terhadap kinerja
jaringan dan ,. irigasi sangat serius. Secara empiris sangat jarang ditemui lahan sawah
yang telah dikonversi ke penggunaan lain kemudian (dapat" difungsikan sebagai sawah
&irreversible'(
1asus-kasus konversi lahan sawah yang terjadi di ketiga sistem irigasi yang
dikaji berbeda baik motivasi maupun bentuk konversinya. -i 2ay Sekampung kasus-
kasus konversi adalah menjadi lahan kering untuk tanaman palawija=sayuran. -i
Brantas selain menjadi lahan kering untuk usahatani sayuran adalah untuk perumahan.
1eduanya sangat berbeda dengan di 2awotobi. -i wilayah ini sebagian besar kasus
konversi adalah untuk usahatani tanaman perkebunan. +ni terutama terjadi di areal
persawahan yang berada jauh dari pintu-pintu saluran irigasi dan umumnya dimiliki
penduduk lokal. .erpaduan faktor kecukupan air tingginya biaya tenaga kerja
dukungan mekanisasi pertanian yang rendah dan budaya bertani masyarakat
merupakan penyebab yang salih berkaitan laju konversi lahan ini.
$%
@aktor penyebab terjadinya degradasi jaringan dan ,. irigasi yang sifatnya
internal adalah kinerja .(#. 1inerja .(# merupakan komposit dari keberadaan
pengurus pembagian tugas yang jelas antar pengurus kemampuan mendorong petani
untuk berpartisipasi dalam pemeliharaan jaringan tertier dan kuarter keterbukaan
dalam penggunaan iuran irigasi dan keterampilan mencegah=memecahkan konflik
internal organisasi .(# ataupun dengan pihak lain.
Secara umum sebagian besar petani berpendapat bahwa kinerja .(# adalah
rendah 5 sedang. Bahkan di 2awotobi proporsi yang menyatakan sangat rendah dan
rendah masing-masing mencapai 27 dan 7% persen (Tabel %".
Tabel %. 1inerja organisasi .(# dalam mengelola ,. irigasi (dalam persen"
.endapat responden Sekampung Brantas 2awotobi 4ata-rata
Sangat rendah *.' (.! 27.( $2.7
4endah ($.7 2&.( 7*.' ('.2
Sedang 72.% '(.' 2&.! 7(.*
Tinggi $7.( '.$ !.! '.&
Sangat tinggi 2.% !.! !.! $.!
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
#.(. P+ten' .an Ken.ala 3ang D'"a.a1' Dalam !em1er)a'k' K'ner%a &P Ir'ga'
.' Le4el $ert'er
1endala yang dihadapi dalam memperbaiki kinerja ,. irigasi tampaknya justru
terletak pada kebijakan pemerintah terutama dalam kaitannya dengan antisipasi
terhadap dinamika budaya dan perkembangan wilayah. +ni berkaitan dengan paradigma
dan inkonsistensi kebijakan. .aradigma yang dianut terlalu menitik beratkan pada
aspek fisik dan keteknikan. .ada awal pembangunannya cenderung menggunakan
pendekatan to)down dan disisi lain terjadi kooptasi kelembagaan lokal yang
sebenarnya semula telah berjalan. #kibatnya kemandirian petani tak terbentuk. >paya
untuk mentransformasi sistem irigasi dari protektif menjadi sistem irigasi produktif
sulit diwujudkan. ,leh karena konstelasi persoalannya sangat kompleks maka upaya
perbaikan sistem irigasi (,. irigasi merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan
irigasi" di +ndonesia memang membutuhkan reformasi (.asandaran 2!!6".
+nkonsistensi kebijakan pemerintah sangat berpengaruh terhadap penurunan
kinerja ,. jaringan irigasi. 1ebijakan pengelolaan sumber daya air terkadang tidak
didukung atau bahkan tidak sejalan dengan kebijakan dibidang yang lain. 1ebijakan
2!
pemerintah dalam mengendalikan alih fungsi lahan sawah sampai saat ini tidak efektif
karena implementasi tata ruang tidak konsisten3 padahal alih fungsi lahan sawah
berimplikasi serius terhadap kondisi jaringan irigasi pada lahan-lahan sawah di
sekitarnya.
Dontoh inkonsistensi kebijakan yang lain adalah terjadinya perubahan-
perubahan aturan pengelolaan sumber daya air yang cenderung kurang memperhatikan
prospek implementasinya di lapangan. +ni terlihat misalnya dari persoalan yang
dihadapi dalam mengimplementasikan >> 9o. & Tahun 2!!7. Salah satu implikasi dari
undang-undang ini adalah tentang pembagian tanggung jawab ,. irigasi antara
.emerintah .usat .emerintah .ropinsi dan .emerintah 1abupaten. Sampai saat ini
tindak lanjut undang-undang ini baru sampai pada tingkat .. sedangkan petunjuk
teknisnya masih dalam tahap penyempurnaan. #kibatnya pada tahun ini terjadi
kerancuan dalam realisasi biaya operasi pemeliharaan dan terutama rehabilitasi irigasi.
-alam batas-batas tertentu potensi dan kendala yang dihadapi .(# dalam
memperbaiki ,. irigasi dapat dibaca dari partisipasi petani dalam membayar iuran
irigasi dan partisipasi untuk berkontribusi tenaga kerja (gotong rorong" dalam
memeliharan saluran irigasi. .artisipasi dalam membayar iuran irigasi mencerminkan
apresiasinya terhadap nilai ekonomi air irigasi sedangkan partisipasi dalam gotong
royong mencerminkan persepsinya terhadap nilai aksi kolektif.
Secara umum proporsi petani yang tidak berpartisipasi membayar iuran irigasi
relatif rendah (kurang dari $! persen bahkan di 2ay Sekampung kurang dari 6 persen"
kecuali di 2awotobi mencapai lebih dari (! persen. .roporsi petani yang membayar
penuh di -i 2ay Sekampung Brantas dan 2awotobi masing-masing adalah '( (&
dan $' persen (Tabel $!".
Tabel $!. Tingkat partisipasi dalam membayar iuran irigasi (dalam persen"
Sekampung Brantas 2awotobi 4ata-rata
Tidak membayar 2.% &.% (7.7 $7.(
?embayar tidak penuh (7.( 66.( 6!.! 7'.&
?embayar penuh '2.% ('.* $6.' (%.!
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
+uran irigasi yang harus dibayar petani terutama terdiri atas +.#+4 dan +uran
.(# (sejak era reformasi sebagian besar .(# tidak lagi memberlakukan +.#+4". ;ika
2$
membayar penuh rata-rata nilai iuran irigasi yang harus dibayar petani di Brantas
adalah sekitar 4p. 2'! !!!=hektar=tahun (dua kali tanam padi" atau sekitar 7 B dari
total biaya usahatani. -i 2ay Sekampung nilainya sedikit lebih rendah yaitu sekitar
4p. 2$6 !!!= hektar=tahun ( (.' persen dari total biaya usahatani" sedangkan di
2awotobi adalah sekitar 4p. $6! !!!=hektar=tahun (2.& persen dari total biaya
usahatani" (Tabel $$".
Tabel $$. .enerimaan Biaya dan 1euntungan >sahatani .adi di )okasi .enelitian
(4ibu 4upiah=8a"
>raian -aerah +rigasi
Brantas Sekampung 2awotobi
?T +/
Total penerimaan * &!!.' & %!&.6 7 %7(.*
Total Biaya ( 2*(.( ( !7'.( 2 '(&.7
1euntungan 6 7$&.( 7 *'$.2 2 (!'.(
?T ++
Total penerimaan
* '7(.* * !*&.6 ' !66.!
Total Biaya
( (!(.2 2 %7(.* 2 *%$.&
1euntungan
6 (7!.' 6 $7(.& ( $'(.(
Biaya +rigasi/
+.#+4 (4p.=8a=Th" $7.& $!.! 26.!
+uran .(# (4p.=8a=?usim" $27.( $!2.' '$.'
Total (4p.=8a=Th" 2'(.2 2$6.2 $7*.(
.roporsi terhadap total biaya
usahatani (B"

(7.!!"

((.6%"

(2.'*"
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
.artisipasi petani dalam gotong royong memelihara saluran irigasi yang
tertinggi adalah di Sekampung sedangkan yang terendah di 2awotobi. Secara umum
prosentase petani yang tidak=sangat jarang berpartisipasi dalam gotong royong adalah
sangat kecil (Tabel $2". 8al ini menunjukkan bahwa kesadaran petani terhadap aksi
kolektif relatif tinggi dan menunjukkan potensi perbaikan kinerja petani dalam ,.
jaringan irigasi masih terbuka.
Tabel$2. .roporsi pendapat petani terhadap tingkat partisipasi dalam gotong royong
memelihara saluran irigasi
1ualitas partisipasi Sekampung Brantas 2awotobi 4ata-rata
Tidak=sangat jarang berpartisipasi 2.& 6.$ 2.& (.6
Sering berpartisipasi 27.( 7(.' '7.% 77.2
22
Selalu berpartisipasi &(.! 6$.( (2.7 62.2
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
-ari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum kendala yang
dihadapi dalam memperbaiki ,. irigasi di level tertier sebenarnya dapat diatasi. #kan
tetapi dalam konteks ini perlu diperhitungkan adanya kecenderungan bahwa pada
umumnya partisipasi yang relatif tinggi adalah terjadi pada petak-petak tertier yang
kondisinya EmoderatE. .artisipasi petani di petak-petak tertier yang pasokan airnya
selalu cukup atau sebaliknya yang selalu langka cenderung rendah. 1ecederungan
tersebut terlihat di tiga propinsi lokasi kajian terutama di 2awotobi (Sulawesi
Tenggara".
IV. KESI!PULAN DAN I!PLIKASI KEBIJAKAN
A. Ke'm1ulan
$. -ari evaluasi diperoleh kesimpulan bahwa degradasi kinerja irigasi terjadi akibat
pengaruh simultan dari degradasi kondisi fisik jaringan dan rendahnya kinerja
operasi dan pemeliharaan. Sebagian besar degradasi kondisi fisik jaringan terkait
dengan kerusakan saluran irigasi banyaknya pintu-pintu air yang rusak dan
sedimentasi saluran-saluran pembuang terutama di level tertier. 4endahnya
kinerja operasi dan pemeliharaan irigasi terkait dengan sangat terbatasanya
anggaran ,. irigasi dari pemerintah yang jauh dari mencukupi3 sementara itu
keswadayaan petani dalam memupuk dana ,. irigasi sangat terbatas.
2. Tingkat kehandalan jaringan irigasi maupun tingkat pemerataan distribusi air
irigasi termasuk kategori rendah 5 sedang. -i 2ay Sekampung dan Brantas hal
itu lebih banyak disebabkan oleh debit air irigasi yang cenderung semakin
menurun sedangkan di 2awotobi terutama disebabkan oleh banyaknya jaringan
irigasi yang rusak.
(. .ada level tertier penyebab degradasi kinerja jaringan irigasi yang bersifat
eksternal (di luar kendali petani=.(#" terkait dengan lima aspek berikut/ ($"
anggaran ,. irigasi dari pemerintah yang sangat terbatas sehingga hanya dapat
dimanfaatkan di sebagian jaringan sekunder dan tertier (2" jumlah petugas dan
2(
fasilitas pendukung yang tidak mencukupi ((" pembinaan .(# yang kurang
memadai (terutama di 2awotobi" (7" koordinasi antar lembaga terkait yang
lemah dan tumpang tindih dan (6" perubahan kawasan yang mendorong terjadinya
konversi lahan sawah ke penggunaan lain.
7. @aktor internal yang mempengaruhi kinerja jaringan irigasi adalah kinerja .(#.
Secara umum kinerja .(# termasuk kategori rendah 5 sedang3 bahkan cukup
banyak ditemukan adanya petak-petak tertier yang irigasinya tidak dikelola secara
sistematis dalam wadah .(# (.(# hanya sekedar nama". +ni dapat disimak dari
keberadaan pengurus kejelasan pembagian tugas antar pengurus kemampuan
untuk mendorong partisipasi petani dalam pemeliharaan jaringan tertier dan
kuarter kemampuan mengumpulkan dan keterbukaan dalam penggunaan iuran
irigasi dan keterampilan mencegah=memecahkan konflik internal organisasi .(#
ataupun dengan pihak lain.
6. 1endala yang dihadapi dalam memperbaiki kinerja ,. irigasi tampaknya justru
terletak pada kebijakan pemerintah terutama dalam kaitannya dengan antisipasi
terhadap dinamika budaya dan perkembangan wilayah serta konsistensi dalam
pengembangan dan pendayagunaan irigasi.
'. .eluang untuk menggalang aksi kolektif petani dalam operasi dan pemeliharaan
irigasi sangat bervariasi akan tetapi secara umum masih terbuka untuk dilakukan
perbaikan. -i sisi lain meskipun peluang untuk meningkatkan partisipasi petani
dalam membayar iuran irigasi juga masih terbuka akan tetapi jumlah iuran yang
dapat dikumpulkan diperkirakan tidak cukup untuk mempertahankan fungsi irigasi
secara optimal.
&. #danya kecenderungan bahwa partisipasi yang relatif tinggi hanya terjadi pada
petak-petak tertier yang kondisinya EmoderatE dan pada lokasi-lokasi tertentu
dalam jangka panjang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka peningkatan
fungsi pembinaan mengingat sistem irigasi adalah sistem yang tidak bisa berdiri
sendiri.
B. Saran .an Im1l'ka' Ke)'%akan
27
$. >paya meningkatkan kinerja operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi harus
dimulai dengan pemahaman paradigma dan konsistensi kebijakan sumber daya air
baik oleh pemerintah pusat dan daerah sehingga kebijakan yang dikeluarkan telah
mampu mempertimbangan (kendala dan potensi" kelembagaan pengelola jaringan
irigasi di daerah dinamika masyarakat dan dapat berjalan dengan arah yang tepat
serta konsisten.
2. Sangat diperlukan adanya peningkatan kemampuan keswadayaan petani dalam
operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Simultan dengan itu dalam jangka
pendek sangat dibutuhkan adanya peningkatan anggaran untuk operasi dan
pemeliharaan irigasi dan biaya rehabilitasi irigasi. +ni diperlukan bukan hanya di
level .emerintah .usat akan tetapi juga di tingkat .ropinsi dan 1abupaten.
.embagian kewenangan antara .emerintah .usat dan -aerah dalam pengelolaan
irigasi sebagaimana dimaksud dalam >> 9o. & Tahun 2!!7 harus secepatnya
ditindak lanjuti dalam bentuk .etunjuk Teknis yang jelas dan siap dioperasionalkan
agar degradasi kinerja jaringan irigasi tidak terus berlanjut.
DA5$AR PUS$AKA
#diningsih ;.S. $%%&. .eranan efisiensi penggunaan pupuk untuk melestarikan
swasembada pangan. 8lm. '6 5 *6. .rosiding Simposium 9asional dan
1onggres C+ .eragi. .erhimpunan #gronomi +ndonesia ;akarta.
#rif S. S. $%%'. 1etidak Sesuaian 4ancangbangun ;aringan +rigasi di Tingkat Tersier
dan #kibatnya Terhadap .elaksanaan .rogram .enganekaragaman Tanaman
(Drop -iversification"/ Studi 1asus di -aerah +rigasi (-+" Dikuesik Direbon.
9apitupulu ?. $%%&. .enyempurnaan Sarana +rigasi >ntuk ?enunjang .engembangan
#groindustri dan #gribisnis. Dalam S.S. #rif dan S. 4ochdyanto (.enyunting".
.rosiding )okakarya/ 4ancangbangun dan ?anajemen +rigasi >ntuk
?endukung Sistem >sahatani 4akyat yang Berorientasi #gribisnis dan
#groindustri. @akultas Teknologi .ertanian >niversitas Aadjah ?ada.
,i. S. $%%&. +ntroduction to ?oderni:ation of +rrigation Schemes. -alam
?oderni:ation of irrigation schemes/ past eHperience and future options. 2ater
report $2. @#,. 4ome.
,smet. $%%'. Sistem .engelolaan #ir ?enunjang .embangunan .ertanian yang
Berkelanjutan. -alam. 8ermanto et.al.(<d.".$%%'. .ersaingan -alam
.emanfaatan Sumberdaya )ahan dan #ir. -ampaknya Terhadap 1eberlanjutan
Swasembada .angan. 8asil 1erjasama .usat .enelitian Sosial <konomi
.ertanian -engan @ord @oundation. .S<. Bogor.
26
.asandaran <. 2!!6. 4eformasi +rigasi -alam 1erangka .engelolaan Terpadu
Sumberdaya #ir. 9askah ,rasi .engukuhan #hli .eneliti >tama Bidang
<konomi .ertanian. Badan .enelitian dan .engembangan .ertanian ;akarta.
.usposutardjo S. $%%&. .erbaikan ?anajemen +rigasi >ntuk ?endukung >sahatani
#groindustri Berkelanjutan. Dalam S.S. #rif dan S. 4ochdyanto (.enyunting".
.rosiding )okakarya/ 4ancangbangun dan ?anajemen +rigasi >ntuk
?endukung Sistem >sahatani 4akyat yang Berorientasi #gribisnis dan
#groindustri. @akultas Teknologi .ertanian >niversitas Aadjah ?ada.
4osegrant ?.2. I. Dai and S. S. Dline. 2!!2. 2orld 2ater and @ood to 2!26/
Dealing Wit! %carcity. +nternational @ood .olicy 4esearch +nstitute
2ashington.
Simatupang .. 2!!!. @enomena perlambatan dan instabilitas pertumbuhan produksi
beras 9asional/ #kar penyebab dan kebijakan pemulihannya. ?akalah
disampaikan pada .raseminar 9asional Sektor .ertanian Tahun 2!!2/ 1endala
Tantangan dan .rospek Bogor 7 ,ktober 2!!! .usat .enelitian Sosial
<konomi .ertanian Bogor.
Sumaryanto dkk. 2!!(. .enentuan #lokasi Beban .embiayaan ,perasi dan
.emeliharaan +rigasi dalam <ra ,tonomi -aerah. .usat .enelitian Sosial
ekonomi .ertanian Bogor.
2orld Bank. $%%(. 2ater resources management/ a 2orld Bank policy paper. 2orld
Bank 2ashington.
2'
Tabel )ampiran $. ;umlah responden
Sistem +rirgasi
)embaga = organisasi (unit"
.etani
Dontoh
Supra struktur .(# )evel
Tertier
(.(#"
)evel
.rimer
)evel
Sekunder
2ay Sekampung (.rop. )ampung" 2 7 * 7!
Brantas (.rop. ;awa Timur" 2 7 * 7!
2awotobi (Sulawesi Tenggara" 2 7 * 7!
Total ' $2 27 $2!
Aambar 2. @luktuasi volume air yang dilepas dari reservoir utama
Tabel )ampiran 2. <stimasi rata-rata debit air di saluran induk dan di pintu tertier di
wilayah hulu dan hilir -+ BrantasJ"
Bulan 8ulu (?olek" 8ilir (C.Danal-$ dan C. Danal-2"
?
(
=dt )t=dt=ha ?
(
=dt )t=dt=ha
,ct 7.%( !.2* ($.$$ !.22
9ov 6.6' !.7' 7$.(& !.7*
-ec '.$' !.** 6'.7$ !.%$
;an &.2' $.!( '(.6* $.!$
@eb &.'! $.$* '6.2! $.2*
?ar &.6& $.$* '6.7& $.$&
#pr &.$( $.$$ '2.2& $.!2
?ay '.%2 !.%& 6'.67 !.%7
;un '.7& !.%7 6(.7$ !.**
;ul '.$$ !.*$ 76.7* !.&2
#ug 6.77 !.7* (%.!7 !.(2
Sep 6.!( !.2$ ($.6$ !.$&
4ata-rata '.(6 !.&% 6!.%6 !.&'
2&
Ba', rata6rata .e)'t .' ma'ng6
ma'ng 7'la3a"
0.40
0.60
0.80
1.00
1.20
1.40
Hulu 0.78 0.88 0.7 1.14 1.20 1.1 1.12 1.0 1.02 0.6 0.86 0.7
Hilir 0.61 0.81 1.11 1.2! 1.28 1.2 1.22 1.11 1.0! 0.8 0.77 0.62
O"t #o$ De" %an &e' Mar ()r May %un %ul (ug Se)
1oefisien variasi !.$6 !.77 !.26 !.7%
Sumber/ .erum ;asa Tirta + dan -inas .engairan ;awa Timur.
J" -ihitung dari data tahun $%&% - $%%'
)uas layanan irigasi (command area" ?olek (%%7 8a -elta Brantas 2&('2 8a.
Tabel )ampiran (. .enilaian terhadap kuantitas dan jadwal pasokan air irigasi
1uantitas 2aktu 2ay Sekampung Brantas 2awotobi
Berlebih Tidak terlambat $!.! 6.! 2!.!
Sering terlambat 6.! 2.6 &.6
Dukup Tidak terlambat 22.6 26.! (&.6
Sering terlambat (!.! (6.! 2!.!
1urang Tidak terlambat $2.6 $&.6 2.6
Sering terlambat 2!.! $6.! $2.6
Sumber/ #nalisis -ata .rimer
2*