Anda di halaman 1dari 9

MEKANIKA BATUAN

(Prof. Dr. Ir. H. Munirwansyah, M. Sc)


OLEH :

ULFA RIANI
1204108010062






JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2014
KULIAH IX
Tugas IX A
Catatan Kuliah Mekanika Batuan (tatap muka)
Prof. DR. Ir. H. Munirwansyah, M.Sc
Tentang Sifat Anisotrop Batuan
Selasa, 6 April 2014
Ruang A16-301
Oleh
Ulfa Riani
1204108010062


TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2014
Anisotrope
1. Lubang galian, nilai equivalen dan safety factor.
Anisotrope adalah salah satu sifat batuan yang dipengaruhi oleh behavior (perilaku)
batuan. Batuan memiliki 3 sifat yaitu heterogen, diskontinu dan anisotrope. Karena sifat yang
berbeda-beda tersebut maka untuk dapat melakukan suatu perhitungan matematis dari suatu
terowongan atau tunnel (lubang bukaan) yang disekitarnya terdapat berbagai macam formasi
batuan, yang misalnya formasi batuan B1, B2, dan B3 maka batuan-batuan tersebut diasumsikan
menjadi batuan equivalen B sebagai pengganti batuan B1, B2, dan B3 yang mempunyai sifat
homogen, kontinu, dan isotrope.
Lubang bukaan terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Lubang bukaan tertutup(terowongan biasa)
Lubang bukaan tertutup adalah lubang bukaan yang digali pada sebuah tebing atau gunung.
Lubang bukaan tertutup bertujuan untuk menyambung sisi satu lereng atau batuan dengan
sisi yang lainnya.
lubang bukaan tertutup biasanya dibuat untuk mengambil sumberdaya dalam bumi.
Contoh lubang bukaan tertutup : terowongan biasa dan terowongan bawah tanah.

2. Lubang bukaan terbuka
Lubang bukaan terbuka adalah lubang bukaan yang dibuat galian pada semua bagian dari
suatu lereng, setelah digali kemudian ditimbun kembali.
Contoh lubang bukaan terbuka :


Gambar di atas adalah lubang bukaan terbuka. Lubang bukaan terbuka adalah lubang
galian yang setelah digali kemudian ditimbun kembali. Pada saat dilakukan penggalian, terdapat
berbagai jenis batuan di sekitar lubang galian tersebut. Misalnya terdapat batuan B1, B2, dan B3
di sekitar lubang bukaan. Batuan batuan tersebut kemudian dianggap sama dan diasumsikan
menjadi batuan equivalen B. Batuan equivalen adalah batuan yang memiliki sifat yang berbeda-
beda namun dianggap sama (homogen). Namun, untuk mengasumsikan batuan menjadi batuan
equivalen kita perlu memperhatikan safety factor atau factor keselamatannya.
Untuk membuat sebuah terowongan para ahli menganggap batuan di sekitar terowongan
tersebut equivalen, yaitu dengan cara mengambil nilai rata-ratanya. Jika nilai equivalennya
rendah maka biaya pembuatan terowongan mahal tapi safety factornya tinggi, tetapi jika nilai
equivalen tinggi maka biayanya murah tapi safety factornya rendah. Dengan adanya nilai
equivalen tersebut, para ahli dapat menghitung nilai safety factor, sehingga dapat menghindari
kecelakaan yang terjadi. Standar safety factor yang telah ditentukan adalah ( 1 6 ) tapi
umumnya ( 2.5 3 ). Nilai safety factor yang lebih besar dari 6 adalah standar safety factor untuk
gempa bumi.
Batuan equivalen diasumsikan untuk mempermudah perhitungan dalam mekanika tanah
dan mekanika batuan. Akan tetapi, dalam mengasumsikan batuan equivalen tetap harus
memperhatikan nilai safety factornya. Dengan memperhatikan nilai safety factor, maka kita
dapat menghitung seberapa besar beban yang sanggup diterima oleh sebuah terowongan atau
bangunan.dengan begitu, suatu terowongan akan tetap aman serta dapat menghindari resiko
terjadinya kecelakaan. Beban yang dikenakan terhadap sebuah batuan atau
terowongan(bangunan) tidak boleh melebihi nilai p allowable-nya. Berikut adalah salah satu
contoh soal untuk menghitung P allowable.
Contoh :
Diketahui : sebuah bangunan dikenakan gaya atau tekanan, p = 15 ton. Nilai safety factor dari
bangunan tersebut adalah 2,5-3. Hitung P allowable!
Jawab : P allowable = 15/3 = 5 ton.
Maka, bangunan diatas tidak boleh dikenakan beban melebihi 5 ton karena itu akan memperbesar
resiko kecelakaan. Bangunan tersebut hanya sanggup menahan beban kurang dari atau sam
dengan 5 ton.
2. Analisis Anisotrop dalam Mekanika Batuan
Ketika kita tidak menggangu atau tidak mengotak-atik batuan, maka batuan tersebut
memiliki regangan = 0. Batuan tersebut tidak mengalami deformasi atau berada dalam
keadaan stabil.
Equivalen dapat dilihat dari nilai regangannya. Equivalen dianalisis dari nilai regangannya.
Batuan yang mengalami pergerakan akan terus bergerak bila tidak ada gaya hambatan.
karena sifat batuan heterogen, diskontinu, anisotrop, maka untuk dapat menghitung secara
matematis misalnya sebuah lubang bukaan yang disekitarnya terdiri dari batuan B1,B2,B3,
diasumsikan batuan ekivalen B sebagai pengganti batuan B1,B2,B3, yang mempunyai sifat
homogen, kontinu, dan isotrope. Diperjelas pada gambar berikut :

Pengecilan ruang batuan yang tidak stabil bergantung pada nilai regangan.pada gambar
berikut akan dijelaskan hubungan kekuatan dari batuan dengan batas deformasi serta
seberapa panjang anchor yang harus dipasang agar terowongan sanggup menahan beban.



BEBERAPA CIRI DARI MEKANIKA BATUAN :
hal-hal yang perlu diperhatikan ketika kita menghitung stabilitas dari suau dinding bukaan
adalah sebagai berikut :
1. sifat kontinu yang terdiri atas regangan ( ), v, dan E
2. sifat diskontinu yang terdiri atas crack, joint, fault, fissure, dan sebagainya.
Karena proses alamiah maka batuan mempunyai sifat diskontinu. Untuk kondisi tertentu
maka mekanika batuan dapat dikatakan mekanika diskontinu
Secara mekanik, maka batuan dapat dikatakan terbentuk dengan sistem multiple body.
Material yang terkandung dalam bidang lemah juga dapat mempengaruhi gaya yang bekerja.
Misalnya bidang lemah yang berisi clay, maka gaya akan cenderung ke tempat yang berisi
clay sehingga akan mudah terjadi crack di tempat tersebut.
Keririkil pecah lebih kuat karena terkunci atau interlocking sehingga tidak terlalu banyak
terjadi pergerakan.
Keretakan pada batuan disebabkan oleh sifat diskontinu batuan tersebut. Karena adanya
bidang diskontinu maka batuan disebut sebagai multiple-body.
Poly body adalah batuan yang terdiri dari banyak multiple-body
Single body adalah batuan yang tidak ada bidang diskontinu atau bidang lemahnya, sangat
sulit ditemukan di alam.

SINGLE BODY (MASSIVE)/PADAT MULTIPLE BODY

POLY-BODY


Gambar diatas adalah gambar dari beberapa aktivitas manusia terhadap batuan