Anda di halaman 1dari 4

Laporan Praktikum Kimia Analitik II

1
TITRASI IODOMETRI
Mashfufatul Ilmah (1112016200027)
Eka Yuli Kartika, Eka Noviana Nindi Astuti, Nina Afria Damayanti

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014

ABSTRAK
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion
iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan
pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka
jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat
untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik.
Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan
pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Tujuan
percobaan iini adalah untuk menentukan kadar CuSO
4
dan mengetaui proses iodometri. Dari
titrasi ini diperoleh molaritas natrium tiosulfat 0.084 M dan diperoleh massa CuSO
4
sebanyak
1.25 gram.
PENDAHULUAN
Banyak agen pengoksidasi yang kuat dapat dianalisa dengan menambahkan kalium
iodida berlebih dan mentitrasi ion yang dibebaskan. Karena agen pengoksidasi membutuhkan
suatu larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, natrium tiosulfat biasanya dipergunakan
sebagai titrannya. Natriun tiosulfat umumnya dibeli sebagai pentahidrat Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O, dan
larutan-larutannya distandarisasi terhadap sebuah standar primer. Larutan-larutan tersebut
tidak stabil pada jangka waktu yang lama, sehingga boraks atau natrium karbonat seringkali
ditambahkan sebagai bahan pngawet. Iodin mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetrationat: I
2

+ 2S
2
O
3
2
- 2I
-
+ S
4
O
6
2-
reaksinya berjalan cepat, sampai selesai, dan tidakada reaksi
Laporan Praktikum Kimia Analitik II
2
sampingan. Berat ekivlen dari Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O adalah berat molekulnya, 248.17, karena satu
elektron per satu mol hilang. Jika pH dari larutan diatas 9,tiosulfat teroksidasi secara parsial
mejadi sulfat: 4I
2
+ S
2
O
3
2-
+5H
2
O 8I
-
+ 2SO
4
2-
+ 10H
+
dalam larutan yang netral, atau
sedikit alkalin, oksidasi menjadi sulfat tidak muncul, terutama jika iodin dipergunakan
sebagai titran. Banyak agen pengoksidasi kuat, seperti garam permanganat dan garam
serium(IV), mengoksidasi tiosulfat,namun reaksinya tidak kuantitatif (Underwood,
298:1998).
Pada titrasi iodometri perlu diawasi pHnya. Larutan harus dijaga supaya pHnya lebih
kecil dari 8 karena dalam lingkungan yang alkalis iodium bereaksi dengan hidroksida
membentuk iodida dan hipoyodit dan selanjutnya terurai menjadi iodida dan iodat yang akan
mengoksidasi tiosulfatdan sulfat, sehingga reaksi tidak berjalan kuantitatif. Adanya
konsentrasi asam yang kuat dapat menaikkan oksidasi potensial anion yang mempunyai
oksidasi potensial yang lemah sehingga direduksi sempurna oleh iodida. Dengan pengaturan
pH yang tepat dari larutan makadapat diatur jalannya reaksi dalam oksidasi atau reduksi dari
senyawa (Syarif Hamdani: 2012).
Metode titrasi iodometri mengacu pada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode
titrasi tak langsung adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi
kimia (J. Bassett, 433: 1994). Iod akan mengoksidasi zat-zat yang potensial reduksinya lebih
renda, misalnya titrasi asam askorbat. Larutan iodin yang digunakan dibakukan
terhadaplarutan natrium tiosulfat, selain itu titik akhir dideteksi menggunakan indikator kanji,
yang menghasilkan pewarnaan biru dengan kelebihan iodin (David, 86:2007).
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: buret, statif dan klem, pipet tetes,
gelas ukur, kaca arloji, neraca analitik, spatula, erlenmeyer, corong. Bahan yang digunakan
adalah: larutan iodin, larutan natrium tiosulfat, indikator amilum, larutan H
2
SO
4
2M, larutan
CuSO4, Kristal KI.
Metode
Laporan Praktikum Kimia Analitik II
3
Mengambil larutan iodin 0.1 M 15 mL dimasukkan dalam Erlenmeyer ditambah dengan 110
tetes sampai warna biru tua, larutan dititrasi dengan natrium tiosulfat sampai menjadi tak
berwarna.
Penentuan kadar CuSO
4

25 mL laruan CuSO
4
ditambah dengan 5 mL H2SO4 2M ditambah dengan 0.5 gram KI
(larutan warna kuning kecoklatan), dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambah dengan
indikator kanji sampai warna biru terbentuk. Dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat sampai
warna biru hilang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Volume natrium tiosulfat pada titrasi dengan iodin 17.9 mL
Volume natrium tiosulfat pada titrasi dengan CuSO4 38.9 mL
Mencari konsentrasi natrium tiosulfat


M
2
= 0.084
Mencari konsentrasi CuSO
4



M
2
= 0.13
Menghitung kadar CuSO4
M =


0.13 =

= 1.25 gram
Dalam praktikum ini membahas mengenai titrasi tidak langsung yaitu iodometri.
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat
oksidator seperti besi III, tembaga II, dimana zat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk akan ditentukan dengan menggunakan
Laporan Praktikum Kimia Analitik II
4
larutan baku tiosulfat, pada praktikum ini larutan baku yang digunakan adalah
natriumtiosulfat.
Indikator yang digunakan adalah indikator kanji, penambahan indikator sampai larutan
berwarna biru. Titrasi dilakukan hingga larutan tak berwarna. Dari titrasi ini diperoleh
molaritas natrium tiosulfat 0.084 M. Dari molaritas yang diperoleh dapat digunakan untuk
titrasi dalam menentukan kadar CuSO
4
dan diperoleh massa CuSO
4
sebanyak 1.25 gram.
Pada titrasi iodometri pH larutan haru dijaga agar pH larutan di bawah 8. Penambahan
asam sulfat dilakukan untuk menjaga agar larutan bersifat asam. Penambahan 0.5 gram KI
berfungsi untuk pembentukan iodium. Selama proses titrasi harus dilakukan dengan segera,
karean I
2
bersifat mudah menguap, pada akhir titrasi larutan masih berwarna kuning
kecoklatan yang menandakan adanya iod yang tersisa dari adanya KI, tetapi warna biru sudah
hilang yang menunjukkan titik akhir titrasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan bercobaan titrasi iodometri dapat disimpulkan bahwa: iodometri adalah
analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator. Pada titrasi
iodometri pH larutan haru dijaga agar pH larutan di bawah 8. Dari percobaan ini didapatka
molaritas natrium tiosulfat sebesar 0.084 M. Dan diperoleh molaritas CuSO
4
sebesar 0.13 M,
dan massa CuSO
4
sebesar 1.25 gram.


DAFTAR PUSTAKA
Bassett, J. Dkk. 1991. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Hamdani, Syarif. Dkk. 2012. Panduan Praktikum Kimia Analisis. Bandung: Sekolah Tinggi
Farmasi Indonesia.
Underwood, A.L. dan R.A. Day. Jr. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta:
Erlangga.
Watson, David G. 2007. Analisi Farmasi Untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi Kimia
Farmasi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.