Anda di halaman 1dari 8

Perlakuan Panas

Setelah part dibentuk dan melalui proses permesinan, part tersebut memerlukan
perlakuan panas untuk meningkatkan kekuatan, keuletan atau ketahanan terhadap
keausan. Perlakuan panas mengubah struktur satuan sel sehingga membuat sel-sel
lebih keras.
Secara umum yang sering dilakukan, proses perlakuan panas adalah sebagai
berikut :

1. Austenitizing



Austenitizing adalah langkah pertama dari proses perlakuan panas dan
dilakukanpada temperatur yang tinggi yang bertujuan agar karbon tersadur ke dalam
unit sel. Baja karbon pada suhu ruang mempunyai unit cell BCC (Body Centered
Cubic/Sel berbentuk kubus) yang tidak mempunyai ruang untuk karbon masuk ke
dalamnya.
Selama Austenitizing, temperature dinaikkan kira-kira 1400F (760C) untuk
mengubah unit cell dari BCC ke FCC (Face Center Cubic) agar ada ruang untuk
atom-atom karbon masuk.
Menambahkan karbon pada struktur sel adalah basis dari perlakuan panas.


Austenitizing dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang paling umum adalah
dengan tungku pemanas.
Beberapa part hanya memerlukan satu lapisan permukaan saja yang dikeraskan
dan tidak perlu dipanaskan sampai bagian dalam komponen. Induksi panas adalah
suatu permanasan permukaan part secara elektris dengan kedalaman pemanasan
sekitar 0.25 inchi (6mm).
Segera setelah proses Austenitizing selanjutnya adalah proses Quenching
(pendinginan) dan tempering

2. Quenching


Quenching adalah tahap ke dua dari perlakuan panas, yaitu dengancara
mendinginkan metal secara cepat dari temperature Austenitizing ke temperature
ruang. Unit cell berbentuk FCC berubah ke bentuk BCC yang mengikat karbon
didalamnya. Ini menghasilkan baja berkekuatab tinggi dan kekerasan yang
ditingkatkan dari Rc 20 ke Rc 60 setelah di quenching.
Quenching bisa dilakukan di dalam oli, air atau udara. Air pada umumny dpt
digunakan pada baja carbon rendah dan baja karbon medium, sedangkan oli dan
udara digunakan pada baja berkarbon tinggi atau baja campuran.
Air lebih aman daripada oli (oli bisa terbakar) dan air cenderung menghasulkan sifat-
sifat mekanikal yang lebih baik daripada quenching dengan oli.

3. Tempering


Tempering adalah tahap paling akhir dari perlakuan panas, membebaskan sisa -
sisa ketegangan sambil meningkatkan keuletan melalui kontrol pelepasan beberapa
karbon dari unit sel. Pengontrolan terhadap suhu tempering dapat memberi kontrol
yang baik untuk pelepasan carbon sehingga memperkecil resiko kehilangan
kekerasan. Apabila temperature part tidak dinaikkan diatas temperature tempering,
kekerasan dan keuletan akhir yang diperoleh akan stabil. Tempering dapat
mengurangi tingkat kekerasan daro Rc 60 menjadi skitar Rc 52.


4. Case hardening


Tipe lain perlakuan panas adalah case hardening. Karena harga baja karbon
medium dan baja karbon tinggi sangat mahal maka akan lebih murah apabila
menggunakan baja karbon rendah untuk pengerasan permukaan dan menambah
karbon, nitrogen atau keduanya untuk melapisi permukaan dan dikeraskan. Tiga
jenis perlakuan panas untuk tipe tersebut adalah carburizing, carbo-nitriding dan
nitriding.
Carburizing dilakukan pada temperature 927'C (1700'F) dan menambah karbon
sampai dengan kedalaman sekitar 3mm (0.125")
Carbonitriding yaitu dengan menambahkan karbon dan nitrogen ke kedalaman
sekitar 0.3mm (0.015") pada temperature sekitar 760'C (1400'F) setelah itu
memerlukan quenching dan tempering untuk menghasilkan permukaan tipis yang
keras dan halus.
Nitriding, menambahkan nitrogen sekitar 0.3mm (0.015") pada permukaan metal
dengan temperature sekitar 538'C (1000'F). Memerlukan austenitizing, quenching
dan tempering untuk menghasilkan part yang keras, tahan aus dan mampu
menahan beban medium.
http://coalminingindonesia.blogspot.com/2012/09/metalurgy-part-iii-perlakuan-panas.html
Sifat mekanis adalah kemampuan bahan tersebut memberikan perlawanan apabila diberikan
beban pada bahan tersebut. Berikut adalah sifat mekanis pada baja karbon :
Regangan (e) : besar deformasi perpanjang awal (tanpa satuan)
Tegangan (s) : gaya per satuan luas dalam satuan Mpa.
Elongation : pertambahan panjang pada pengujian tarik (%).
Kekuatan tarik (tensile strength) : besar tegangan (gaya) yang diperlukan unutk
mematahkan atau memutuskan benda uji.
Kekuatan leleh (yield strength) : besar tegangan yang diperlukan untuk mencapai
regangan plastis 0.2%.
Keliatan (ductility) : besar regangan maksimal yang dapat terjadi pada saat benda uji
patah atau putus dalam satuan persen (%).
Kekerasan (hardness) : ketahanan bahan terhadap penetrasi dipermukaannya, yang
dinyatakan dalam Bilangan kekerasan Brinell (BHN), Vickers (DPH) dan atau
kekerasan Rockwell (R). BKB dihitung berdasarkan luas daerah lekukan yang
ditimbulkan, sedangkan R dihitung berdasarkan dalamnya lekukan.
Keuletan (toughness) : daya tahan bahan terhadap lenturan dan puntiran puntiran
berulang ulang yang diukur dari besarnya energi yang diperlukan untuk
mematahkan suatu benda uji yang dinyatakan dalam satuan joule. Penilaian keuletan
dilakukan dengan tes Charpy atau Izod.

http://caritah.blogspot.com/2012/07/baja-karbon_08.html

Logam dan paduannya adalah salah satu matrial teknik yang porsinya paling banyak
diperlukan dalam kegunaan Teknik. Jika diperhatikan komponen mesin, maka sebagian besar
sekitar 80% dan bahkan lebih terbuat dari logam. Selebihnya digunakan material non logam
seperti keramik, glass, polimer dan bahkan material maju seperti komposit.
Material Logam dikelompokan menjadi dua yaitu
1. Logam Besi (ferrous)
Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, keras, penghantar listrik dan
panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan cara penambangan
yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur.
2. Logam Non Besi (Non Ferrous)
Logam non besi merupakan semua unsur logam yang komposisi utamanya bukan besi.
Logam non besi juga sering digunakan walaupun pada umumnya jarang sekali di industri. Itu
karena Logam besi lebih banyak dipakai semua industri.
Logam Besi (Ferrous) juga terdiri menjadi dua yaitu;
A. Baja (Steel)
Baja paduan adalah baja paduan dengan berbagai elemen dalam jumlah total antara 1,0% dan
50% berat untuk meningkatkan sifat mekanik. Baja Paduan dipecah menjadi dua kelompok:
1). Baja paduan rendah (low alloy steel)
Baja paduan rendah biasanya digunakan untuk mencapai hardenability lebih baik, yang pada
gilirannya akan meningkatkan sifat mekanis lainnya. Mereka juga digunakan untuk
meningkatkan ketahanan korosi dalam kondisi lingkungan tertentu. Dengan menengah ke
tingkat karbon tinggi, baja paduan rendah sulit untuk las. Menurunkan kandungan karbon
pada kisaran 0,10% menjadi 0,30%, bersama dengan beberapa pengurangan elemen paduan,
meningkatkan weldability dan sifat mampu bentuk baja dengan tetap menjaga kekuatannya.
Seperti logam digolongkan sebagai baja paduan rendah kekuatan tinggi.
Baja paduan rendah dikelompokan menjadi 3 yaitu:
a). Baja Karbon Rendah (low carbon steel)
Baja ini dengan komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya adalah ferrit
dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas (martensit) hanya bisa
dengan pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan memiliki keuletan dan
ketangguhan yang baik. Serta mampu mesin (machinability) dan mampu las nya (weldability)
baik.
b). Baja Karbon Sedang ( medium carbon steel)
Baja Mil memiliki komposisi karbon antara 0,2%-0,5% C (berat). Dapat dikeraskan dengan
perlakuan panas dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah ditahan beberapa
saat didinginkan dengan cepat ke dalam air atau sering disebut quenching untuk memperoleh
fasa ang keras yaitu martensit. Baja ini terdiri dari baja karbon sedang biasa (plain) dan baja
mampu keras. Kandungan karbon yang relatif tinggi itu dapat meningkatkan kekerasannya.
Namun tidak cocok untuk di las, dengan kata lain mampu las nya rendah. Dengan
penambahan unsur lain seperti Cr, Ni, dan Mo lebih meningkatkan mampu kerasnya. Baja ini
lebih kuat dari baja karbon rendah dan cocok untuk komponen mesin, roda kereta api, roda
gigi (gear), poros engkol (crankshaft) serta komponen struktur yang memerlukan kekuatan
tinggi, ketahanan aus, dan tangguh.
c). Baja Karbon Tinggi (high carbon steel)
Baja karbon tinggi memiliki komposisi antara 0,6- 1,4% C (berat). Kekerasan dan
kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. baja ini cocok untuk baja perkakas,
dies (cetakan), pegas, kawat kekuatan tinggi dan alat potong yang dapat dikeraskan dan
ditemper dengan baik. Baja ini terdiri dari baja karbon tinggi biasa dan baja perkakas. Khusus
untuk baja perkakas biasanya mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya unsur-
unsur tersebut bersenyawa dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras sehingga
ketahanan aus sangat baik.
2). Baja Paduan Tinggi (high alloy steel)
Baja paduan tinggi terdiri dari baja tahan karat atau disebut dengan stainless steel dan baja
tahan panas.
Baja ini memiliki ketahanan korosi yang baik, terutama pada kondisi atmosfer. Unsur utama
yang meningkatkan korosi adalah Cr dengan komposisi paling sedikit 11%(berat). Ketahanan
korosi dapat juga ditingkatkan dengan penambahan unsur Ni dan Mo. Baja tahan karat dibagi
menjadi tiga kelas utama yaitu jenis martensitik, feritik, dan austenitik. jenis martensitik
dapat dikeraskan dengan menghasilkan fasa martensit. baja tahan karat austenitik memiliki
fasa y (austenit) FCC baik pada temperatur tinggi hingga temperatur kamar. Sedangkan jenis
feritik terdiri dari fasa ferrit (a) BCC. Untuk jenis austenitik dan feritik dapat dikeraskan
dengan pengerjaan dingin (cold working). Jenis Feritik dan Martensitik bersifat magnetis
sedangkan jenis austenitik tidak magnetis.
http://romzneverdie.wordpress.com/metallurgy/klasifikasi-logam-dan-paduannya/
Pengaruh Campuran Unsur Kimia Pada Baja

Baja pada dasarnya ialah besi (Fe) dengan tambahan unsur Karbon ( C ) sampai dengan
1.67% (maksimal). Bila kadar unsur karbon (C) lebih dari 1.67%, maka material tersebut
biasanya disebut sebagai besi cor (Cast Iron).
Makin tinggi kadar karbon dalam baja, maka akan mengakibatkan hal- hal sbb:
Kuat leleh dan kuat tarik baja kan naik,
Keliatan / elongasi baja berkurang,
Semakin sukar dilas.
Oleh karena itu adalah penting agar kita dapat menekan kandungan karbon pada kadar
serendah mungkin untuk dapat mengantisipasi berkurangnya keliatan dan sifat sulit dilas
diatas, tetapi sifat kuat leleh dan kuat tariknya tetap tinggi.
MANFAAT PENAMBAHAN UNSUR-UNSUR PADA BAJA
Baja merupakan campuran besi dan karbon. Dimana kandungan karbon ( C ) mempengaruhi
kekerasan baja, Disamping itu, baja mengandung unsure campuran lain yang disebut paduan,
misalnya Mangan ( Mn ), Tembaga (Cu), Silikon ( Si ), Belerang ( S ), dan Posfor ( P ).
Untuk memahami pengaruh komposisi kimia dan heat treat terhadap sifat akhir baja, maka
kita perlu menganal factor factor sbb:
Struktur mikro,
Ukuran butiran,
Kandungan nonlogam.
Endapan dipermukaan antar butiran.
Keberadaan gas gas yang terserap atau terlarut
Unsur-unsur tersebut mempunyai pengaruh pada baja yaitu :
Pengaruh Campuran Unsur Kimia Pada Baja :
1. C = CARBON :
Mempunyai sifat keras tetapi getas.
Fungsi CARBON pada baja adalah mampu menjalani reaksi-reaksi kimia seperti reaksi
SUBSTITUSI (pergantian), reaksi ADISI (penambahan), reaksi ELIMINASI (pengurangan).
CARBON pada baja adalah sebagai LEM atau zat perekat dan mempunyai sifat cukup
TAHAN GESEK terhadap benda atrasip ( tanah yang berpasir dan tidak mengandung silicon
). CARBON membuat / MEMBENTUK STRUKTUR FERRITE, dimana struktur tersebut
mempunyai kekerasan diatas 48HRC, tetapi tidak mempunyai sifat ketajaman.
2. Si = SILICON :
Mempunyai SIFAT ELASTIS / KEULETANNYA TINGGI. SILICON juga menambah
kekerasan dan ketajaman pada baja. Tapi penambahan SILICON yang BERLEBIHAN akan
menyebabkan BAJA tersebut MUDAH RETAK. SILICON berupa massa hitam mirip logam
yang meleleh pada 1410C . Unsur ini mempunyai kecenderungan yang kuat untuk berikatan
dengan oksigen dan SIFAT SERATNYA TAHAN API.
3. Mn = MANGAN :
Mempunyai sifat yang TAHAN terhadap GESEKAN dan TAHAN TEKANAN (IMPACT
LOAD). Unsur ini mudah berubah kekerasannya pada kondisi temperatur yang tidak tetap
dan juga digunakan untuk membuat alloy mangan tembaga yang bersifat
FERROMAGNETIC.
4. Cr = CROMIUM :
Unsur ini digunakan Sebagai PELINDUNG PERMUKAAN BAJA dan tahan gesekan. Baja
yang mengkilap, KERAS dan RAPUH serta TAHAN terhadap KOROSI (karat) tetapi
mempunyai KEULETAN yang RENDAH.
5. Mo = MOLYBDENUM :
Mempunyai sifat TAHAN PEKERJAAN PANAS sehingga cocok untuk hotwork tool steel,
batas pencampuran unsur ini MAX.7% juga berfungsi sebagai penetralisir kekerasan
wolfram. Molybdenum merupakan unsur tambahan pembuat keuletan baja yang maximum.
6. Ni = NIKEL :
Mempunyai SIFAT yang ULET dan TAHAN terhadap BAHAN KIMIA dan untuk
MENGATASI KOROSI ( karat ) yang serius tetapi tidak mempunyai kekerasan yang tinggi.
Merupakan unsur yang dicampurkan kedalam baja untuk mengatasi kerusakan pada
temperatur tinggi (dapat mencapai 1200 C ).
7. V = VANADIUM :
Baja berwarna putih perak dan sangat keras. Vanadium adalah bahan tambahan untuk
pekerjaan panas karena sifat Vanadium TAHAN terhadap GESEKAN PADA
TEMPERATUR YANG TINGGI
8. W = WOLFRAM :
Diperlukan untuk KETAJAMAN ,tahan terhadap temperatur tinggi dan Juga sangat TAHAN
GESEKAN. WOLFRAM mempunyai temperatur sepuh yang sangat tinggi dan memerlukan
tempering berulang-ulang kali sehingga sangat sulit dalam pengolahannya.
9. Co = COBALT :
Sifatnya TAHAN GESEK dan TAHAN PANAS pada temperatur tinggi., KEKERASAN
TINGGI TAPI GETAS. Berfungsi untuk membentuk CARBIDE, meningkatkan kekerasan
dan hot strength, yang sangat baik untuk ketajaman pada mata pisau.
http://yogoz.wordpress.com/2011/05/15/pengaruh-campuran-unsur-kimia-pada-baja/