Anda di halaman 1dari 29

Metoda Analisis Komponen - BM

Ricky K Natadipura

RKN

Pendahuluan

• Metoda ini berdasarkan pada Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen, SKBI - 2.3.26.1987; UDC : 625.73 (02) yang diperbaharui menjadi SNI No. 1732 - 1989 - F, yang diterbitkan oleh Direktorat Yayasan Badan Penerbit PU, Depertemen Pekerjaan Umum tahun 1987

• Pada dasarnya MAK merupakan saduran dari Metoda AASHO yang disesuaikan dengan kondisi alam dan karakteristik material di Indonesia.

• Metoda ini dapat digunakan untuk perencanaan perkerasan jalan baru, peningkatan jalan lama atau overlay, dan konstruksi bertahap

RKN

Istilah yang Digunakan (1)

• Jalur Rencana : Salah satu dari jalur jalan lalu lintas yang menampung lalu lintas terbesar. Umumnya jalur rencana adalah jalur tepi terluar dari jalan berjalur banyak.

• Umur Rencana : Adalah jumlah waktu dalam tahun yang dihitung dari sejak jalan tersebut dibuka untuk lalu lintas sampai diperlukan perbaikan besar atau perlu diberi lapis ulang. Pada pendekatan analitis atau semi analitis umur rencana sering dinyatakan dengan jumlah repetisi sumbu standar.

• Indeks Permukaan (IP) : Adalah suatu angka yang menunjukkan kualitas jalan yang berkaitan dengan kondisi jalan, yang dinyatakan dengan ketidakrataan, alur, dan persentase jumlah lubang dan retak. Jika dibandingkan dengan Metoda AASHO, nilai ini adalah Present Serviceability Index (PSI) atau ρ .

• Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) : Adalah jumlah lalu lintas kendaraan selama satu tahun penuh dibagi jumlah hari dalam satu tahun. Dalam mengungkapkan besaran LHR ini perlu ditegaskan satuan yang digunakan apakah satuan mobil penumpang (smp), satuan sumbu standar (ss) atau kendaraan.

• Angka Ekivalen : Angka Ekivalen (E) dari suatu beban sumbu kendaraan adalah angka yang menyatakan perbandingan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu lintasan beban sumbu tunggal kendaraan terhadap tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh satu lintasan beban standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb)

RKN

Istilah yang Digunakan (2)

• Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) : Adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yang diduga terjadi pada permulaan umur rencana

• Lintas Ekivalen Akhir (LEA) : Adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata dari sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yang diduga tedadi pada akhir umur rencana.

• Lintas Ekivalen Tengah (LET) : Adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata dari sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yang diduga terjadi pada pertengahan umur rencana.

• Lintas Ekivalen Rencana (LER): Adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata dari sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yang diperkirakan terjadi selama umur rencana. Besaran ini digunakan sebagai ‘beban’ lalu lintas untuk perencanaan tebal perkerasan

• Tanah Dasar : Permukaan tanah asli atau permukaan tanah galian atau timbunan yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan lapisan-lapisan perkerasan lainnya

• Lapis Pondasi Bawah : Lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar.

• Lapis Pondasi : Lapis perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dengan lapis pondasi bawah

• Lapis Permukaan : Lapis perkerasan yang paling atas yang menerima beban lalu lintas langsung

• Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) : Suatu besaran yang menyatakan daya dukung tanah atau kekuatan tanah atau kondisi tanah (soil support) sebagai fungsi dari nilai CBR tanah dasar.

• Faktor Regional (FR) : Pengaruh lingkungan terhadap perkerasan yang merupakan fungsi dari iklim, kemiringan jalan, dan persentase kendaraan berat.

• Indek Tebal Perkerasan (ITP) : Adalah angka yang berhubungan dengan penentuan tebal perkerasan. Nilai ini memiliki terminologi yang sama dengan Structural Number (SN) pada Metoda AASHO.

RKN

Parameter Beban Lalu lintas

• Beban Ialu lintas yang diperlukan dalam desain struktur perkerasan jalan adalah jumlah total perulangan beban sumbu standar ekivalen yang diperkirakan akan lewat pada lajur rencana jalan yang untuk masa layan

• Karena setiap kendaraan memiliki konfigurasi dan beban sumbu yang berlainan maka untuk memudahkan perhitungan, maka beban lalu lintas dikonversikan dalam bentuk repetisi sumbu tunggal 8,16 ton (18000 lb).

• Konversi dilakukan dengan menggunakan faktor ekivalen atau angka ekivalen yang dihitung berdasarkan pendekatan yang diturunkan oleh Liddle

AE

L

=

&

k $

%

L

8,16

#

!

"

4

angka ekivalen yang dihitung berdasarkan pendekatan yang diturunkan oleh Liddle AE L = & k $

RKN

Perhitungan Beban Lalu lintas

Perhitungan Beban Lalu lintas RKN

RKN

Tabel Distribusi Kendaraan

Tabel Distribusi Kendaraan RKN
Tabel Distribusi Kendaraan RKN
Tabel Distribusi Kendaraan RKN
Tabel Distribusi Kendaraan RKN

RKN

Distribusi Lane untuk Sepedah

Distribusi Lane untuk Sepedah RKN

RKN

Komposisi Sumbu Kendaraan

Komposisi Sumbu Kendaraan • Angka ekivalen untuk setiap kendaraan adalah jumlah angka ekivalen masing-masing sumbunya.

• Angka ekivalen untuk setiap kendaraan adalah jumlah angka ekivalen masing-masing sumbunya. Terminologi berat kendaraan penumpang dalam MAK dapat menunjukkan jumlah beban sumbunya

RKN

Daya Dukung Tanah Dasar

• Stabilitas tanah dasar dapat diperoleh dari berbagai percobaan di lapangan dan di laboratorium, seperti misainya pengujian CBR, Resistance dan Plate Bearing.

• Korelasi antara nilai CBR dan nilai DDT yang ditetapkan dalam Metoda Analisa Komponen diberikan dalam bentuk nomogram, dengan persamaannya sebagai berikut

DDT yang ditetapkan dalam Metoda Analisa Komponen diberikan dalam bentuk nomogram, dengan persamaannya sebagai berikut RKN
DDT yang ditetapkan dalam Metoda Analisa Komponen diberikan dalam bentuk nomogram, dengan persamaannya sebagai berikut RKN

RKN

Cara Grafis Menentukan Nilai CBR Representatif

Cara Grafis Menentukan Nilai CBR Representatif • to list strength value in order of increasing magnitude
Cara Grafis Menentukan Nilai CBR Representatif • to list strength value in order of increasing magnitude

• to list strength value in order of increasing magnitude

• for each value to calculate the % equal to or greater than and prepare a plot of this parameter against strength

• expanding an importance of the road, as indicated by the traffic to be carried, to select a value that is exceeded by a specified % of other value

RKN

Faktor Regional

• Faktor ini adalah fungsi dari kondisi iklim (yang dinyatakan dengan jumlah curah hujan per tahun), kelandaian dan persentase kendaraan berat

dari kondisi iklim (yang dinyatakan dengan jumlah curah hujan per tahun), kelandaian dan persentase kendaraan berat

RKN

Indeks Permukaan

• Kondisi tingkat pelayanan dalam Metoda Analisa Komponen dinyatakan dalam Indeks Permukaan, yang dinyatakan dengan nilai Present Serviceability Index (PSI) dari Metoda AASHO dalam sekala nilai 0 - 5

• Kondisi permukaan jalan yang diharapkan pada saat jalan mulai dibuka dinyatakan dengan Indeks Permukaan Awal

• Indeks ini tergantung pada jenis perkerasan yang digunakan untuk lapisan permukaan. Nilai indeks ini didukung dengan besaran kuantitatif, yaitu nilai ketidakrataan (roughness)

untuk lapisan permukaan. Nilai indeks ini didukung dengan besaran kuantitatif, yaitu nilai ketidakrataan ( roughness )
untuk lapisan permukaan. Nilai indeks ini didukung dengan besaran kuantitatif, yaitu nilai ketidakrataan ( roughness )

RKN

Koefesien Kekuatan Relatif

• Dalam Metoda Analisa Komponen, karakteristik bahan perkerasan jalan dinyatakan dengan nilal Stabilitas Marshall (SM) untuk material yang beraspal, nilai kuat tekan (Kt) untuk material yang distabilisasi dengan semen atau kapur serta nilai CBR untuk material lepas

nilai kuat tekan (Kt) untuk material yang distabilisasi dengan semen atau kapur serta nilai CBR untuk

RKN

Prosedur Perhitungan

Prosedur Perhitungan RKN

RKN

Perhitungan Tebal Perkerasan

l o g (

L

E R

* 3 5 6 0 )

=

9 . 3 6 l o g (

T P

I

2,5 4

+

1) 0, 2 0

+

+ l o g % '

&

1

F

R

" $ +

#

0 . 3 7 2 (

D D T

3)

l

o g

(

I P

0

I P

t

)

( 4 . 2 1 . 5)

0 . 4 0 +

1

9 0 4

(

T P

I

2,5 4

+ 1)

5

. 1 9

Lapis Permukaan a 1 D 1 Lapis Pondasi a 2 D 2

ITP 2

ITP 3

ITP 4

DDT 2

Lapis Pondasi Bawah a 3 D 3

DDT 3

ITP = a D + a D + a D

1

1

2

2

3

3

DDT 4

RKN

IP 0 dan IP t

IP 0 dan IP t RKN

RKN

Koefisien Kekuatan Relatif : a

Koefisien Kekuatan Relatif : a RKN

RKN

Tebal Minimum Tiap Lapisan

Tebal Minimum Tiap Lapisan RKN

RKN

Pilihan Rekomendasi Full Depth

• Memaksimumkan tebal lapis permukaan; Tebal lapis pondasi bawah dan tebal lapis pondasi ditetapkan minimum (diambil nilai minimum). Sedangkan, tebal lapis permukaan dihitung dari persamaan untuk ITP4 (persamaan 4.9) Tebal lapis permukaan yang diperoleh kemudian harus dikontrol terhadap persyaratan tebal lapisan minimum. Jika tebal yang dihitung leblh tipis dari persyaratan, maka tebal lapis permukaan minimum harus digunakan.

• Memaksimumkan tebal lapis pondasi; Tebal lapis permukaan harus dihitung terlebih dahulu dari persamaan ITP2 dan hasilnya dibandingkan dengan persyaratan minimum. Jika tebal yang dihitung lebih tebal dari persyaratan minimum, maka tebal lapis permukaan yang dihitung tersebut harus digunakan. Berdasarkan tebal lapis permukaan ini dan tebal lapis pondasi bawah minimum (sesuai persyaratan), kemudian dihitung tebal lapis pondasi dari nilai ITP3. Tebal lapis pondasi yang diperoleh tetap perlu dikontrol terhadap persyaratan tebal lapisan minimum. Jika tebal yang dihitung lebih tipis dari persyaratan, maka tebal lapis pondasi minimum harus digunakan.

• Memaksimumkan tebal lapis pondasi bawah; Penyelesaian dilakukan secara berurutan dari mulai dari persamaan untuk ITP2 yang mendapatkan tebal lapis permukaan kemudian dilanjutkan pada persamaan untuk ITP3 yang akan mendapatkan tebal lapis pondasi dan terakhir dengan persamaan untuk ITP4 yang akan mendapatkan tebal lapis pondasi bawah. Masing-masing tebal yang didapatkan tetap harus dikontrol dengan tebal minimum. Jika tebal yang didapat lebih kecil dari tebal minimum, maka diambil tebal minimum sesuai persyaratan.

RKN

Konstruksi Bertahap

• Konstruksi bertahap adalah konstruksi perkerasan lentur yang memiliki 1 (satu) lapis pondasi bawah, 1 (satu) lapis pondasi dan 2 (dua) lapis permukaan, dimana kedua lapis permukaan tersebut terbuat dari bahan aspal beton atau sejenis yang dikerjakan secara berurutan dengan selang waktu tertentu menurut ketetapan yang ditentukan dalam proses desain

• Manfaat dari desain konstruksi bertahap antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :

– Memungkinkan peningkatan kondisi perkerasan dengan memperbaiki kelemahan setempat yang dijumpai di antara konstruksi tahap pertama dengan tahap kedua.

– Jika terdapat kesalahan perencanaan atau konstruksi atau material lapis pondasi atau lapis pondasi bawah, maka koreksi masih dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah.

– Jika beban lalu lintas tidak dapat diperkirakan dengan baik maka penyesuaian desain dapat dilakukan pada konstruksi tahap kedua

– Konstruksi bertahap dipertimbangkan seandainya pendanaan pembangunan jalan juga harus disediakan secara bertahap juga.

RKN

Perhitungan Konstruksi Bertahap

• Pada akhir tahap pertama, struktur perkerasan dianggap masih memiliki ‘sisa umur’ sebesar 40%, atau :

X LER1 = LER1 + 40% X LER1 Dan didapat nilai X = 1,67 Jadi, nilai ITP untuk konstruksi tahap pertama (ITP1) dapat dihitung berdasarkan beban lalu lintas sebesar 1,67 LER1

• Konstruksi tahap pertama, tanpa pemberian konstruksi tahap kedua, akan mampu melayani 60% dari total masa layan, atau

Y LER2

= LER1 + LER2 = 60% Y LER2 + LER2

Dan didapat nilai y = 2,50 Serupa seperti untuk ITP1, nilai ITP total yang diperlukan untuk memikul beban lalu lintas selama masa layan dapat dihitung berdasarkan beban Ialu lintas sebesar 2,50 LER2.

• Nilai ITP untuk konstruksi tahap kedua adalah

ITPII

= ITP total – ITP1

Perhitungan nilai ITP1 dan nilai ITPtotal dapat didasarkan pada nomogram atau model struktur perkerasan (persamaan 4.7). Demikian juga, struktur perkerasan tahap pertama dapat didesain apakah dengan mengikuti salahsatu skenario yang dilakukan pada konstruksi perkerasan baru

• Tebal lapis tambahan, sebagai pekerjaan tahap kedua dapat dihitung dengan rumus, sebagal berikut :

dimana :

D0

= Tebal lapis tambahan

a0

= koefisien kekuatan relatif

RKN

Overlay

• Prinsip dasar dari desain lapis tambahan pada struktur perkerasan lentur menurut Metoda Analisa Komponen adalah bahwa di akhir masa layannya struktur perkerasan perlu diperkuat dengan memperbesar nilai ITP sehingga mampu memikul perkiraan beban Ialu lintas tambahan yang diinginkan

• Penentuan ITP sisa dilakukan secara subjektif. Nilai ITP sisa struktur perkerasan lama dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

ITPsisa = Σ (ai x Di x Ki)

dimana : Ki

lapisan tambahan dihitung berdasarkan rumus :

= nilai kondisi lapisan, yang dinilai secara subjektif Sedangkan tebal

D =

0

IT P

per lu

IT P

s is a

a 0

IT P

p er l u

I T P

si s a

=

a D

1

1

+

a D

2

2

RKN

Contoh Perhitungan : Traffic Analysis

Contoh Perhitungan : Traffic Analysis RKN

RKN

Perhitungan LER

Perhitungan LER RKN

RKN

Perhitungan Daya Dukung Tanah

Perhitungan Daya Dukung Tanah RKN
Perhitungan Daya Dukung Tanah RKN

RKN

Penetapan Faktor Regional dan IP

Penetapan Faktor Regional dan IP RKN
Penetapan Faktor Regional dan IP RKN

RKN

Pemilihan Nomogram

Pemilihan Nomogram RKN

RKN

Penggunaan Nomogram

ITP Hasil Tetapkan Nilai DDT Faktor Regional Hitung Nilai LER
ITP Hasil
Tetapkan
Nilai DDT
Faktor
Regional
Hitung Nilai
LER

RKN