Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Pertanian telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat kita. Pertanian
tidak hanya dipandang sebagai kegiatan bercocok tanam dan sumber penghidupan
semata. Didalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para nenek
moyang sebagai tanda penghormatan terhadap alam serta sebagai nasihat dan
peringatan agar kita selalu menjaga keseimbangan alam.
Bentuk pencampuran antara kebudayaan dan pertanian dapat berupa
larangan atau pantangan untuk tidak melakukan hal0hal tertentu yang dapat
merusak kelestarian seperti penebangan pohon-pohon tua, karena dianggap
berhubungan dengan nenek moyang. Selain itu berupa larangan, adanya unsure
budaya dalam pertanian dapat juga berupa kesenian seperti upacara ritual sebelum
panen atau pun pesta panen sebagai bentuk wujud syukur atas panen yang
berlimpah.
Adanya nilai-nilai kebudayaan dalam kegiatan pertanian masyarakat kita
bukanlah hanya sebagai pemeliharan tradisi nenek moyang semata. Karena bila
ditinjau dari sudut pandang ilmiah, nilai-nilai kebudayaan yang dijaga ini turut
menjaga kelestarian alam dan secara tidak langsung meningkatkan hasil pertanian
mereka. Contohnya, prinsip akan penggunaan apa yang ada di alam secara bijak
seperti pemanfaatan sisa-sisa tanaman atau seresah dan kotoran hewan, dinilai
mampu meningkatkan produktifitas hasil serta mutu kualitas dari hasil panen itu
sendiri karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dunia pertanian pun turut
berkembang. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat kita untuk
menjaga nilai-nilai kearifan lokal mereka agar tidak tergerus modernism.
Masyarakat Bali yang dikenal akan gaya hidupnya yang masih
menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal budaya mereka dan hidup
berdampingan dengan kehidupan modern melalui yang terdiri dari para petani
yang sawahnya saling berdekatan dan memakai air dari penampungan tersebut.

2
Mengunjungi Bali tidak melulu menikmati keindahan pantai, upacara adat, atau
tarian tradisional. Ada sisi lain dari Bali yang kini diakui dunia sebagai Warisan
Budaya Dunia oleh UNESCO pada Juni 2012, yaitu subak. Subak merupakan
salah satu sistem kemasyarakatan adat Bali yang khusus mengatur sistem
pengairan sawah (irigasi) dan ini tidak kalah menarik untuk disimak.
Untuk mendukung sistem irigasinya, beruntunglah Pulau Dewata ini
diberkati dengan 150 sungai yang mengalir sepanjang tahun dan itu lebih dari
cukup untuk mengairi berhektar-hektar sawahnya. Akan tetapi, irigasi sawah tidak
akan berhasil jika tidak diikuti campur tangan manusia. Karenanya, petani Bali
mengenal sistem pengairan sawah yang unik ini sebab diturunkan dari generasi ke
generasi selama berabad lamanya. Prasasti kuno telah mencatat bahwa sistem
irigasi telah dikenal sejak tahun 944 Masehi.
Uniknya, sistem pengairan Bali (subak) tidaklah ditetapkan atas perintah
raja, melainkan diinisiasi penduduk desa melalui koperasi desa, yang disebut
"subak". Petani sangat tergantung pada sistem irigasi ini. Di lingkup terkecil,
setiap petani adalah anggota dari subak yang sawahnya mendapat suplai air dari
bendungan tertentu. Kepala Subak, yang disebut Klian Subak dipilih oleh
anggotanya.
Dalam subak yang lebih besar yang disuplai oleh sebuah kanal, tingkat
terendah disebut tempek. Subak-subak tersebut akan terhubung dengan pura
gunung atau pura masceti yang menjadi bagian dari salah satu dari dua candi
danau. Dua candi danau yang dimaksud adalah Pura Batu Kau yang
mengkoordinasikan irigasi di Bali Barat dan Pura Ulun Danau yang
mengkoordinasi irigasi di Utara, Timur dan Selatan Bali.
Pura danau tersebut akan menyelenggarakan festival setiap 105 hari, itu
terkait 105 hari musim menanam padi di Bali. Siklus ini juga menentukan waktu
membuka dan menutup saluran air guna memastikan bahwa air dialokasikan
secara efisien dan adil. Akan tetapi, setiap anggota subak biasanya mengadakan
pertemuan untuk memutuskan waktu tanam. Petani kemudian mulai menanam
secara berturut-turut setelah setiap 10 hari.
Di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, beras atau nasi adalah makanan
pokok. Beras juga merupakan bagian penting dari upacara sosial dan keagamaan.

3
Tidak mengheranan, budaya masyarakat adat ini tidak hanya di Bali tapi juga ada
di Jawa dan pulau penghasil beras lainnya, terutama yang mengenal Dewi Sri
sebagai Dewi Padi.
Budaya subak Bali merupakan manifestasi luar biasa petani Bali. Tradisi
pengairan sawah ini menggabungkan nilai-nilai tradisional suci dengan sistem
kemasyarakatan yang terorganisasi. Subak juga merupakan manifestasi dari Tri
Hita Karana, sistem kosmologis Bali yang sebagian besar masyarakatnya
menganut ajaran Hindu. Hal tersebut merupakan refleksi nyata dari keyakinan
masyarakat Bali yang berakar pada konsep kesadaran bahwa manusia harus selalu
menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan
sesama manusia, dan antara manusia dan alam dalam kehidupan sehari-hari.
Subak di Bali menggambarkan kemampuan masyarakat adatnya
menerjemahkan sistem kosmologis mereka dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Hal itu menjadi tercermin dalam perencanaan dan pemanfaatan lahan, penataan
pemukiman, arsitektur, upacara dan ritual, serta seni dan juga organisasi sosial.
Implementasi konsep tersebut juga terbukti menciptakan pemandangan alam yang
mengagumkan dan memiliki nilai budaya tinggi.

2.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari subak?
2. Bagaimana sejarah terjadinya kebudayaan sistem pengairan subak?
3. Apa fungsi dan kewajiban subak?
4. Bagaimana sistem organisasi yang berlaku di dalam kebudayaan sistem
subak?
5. Bagaimana sistem kepengurusan di dalam kebudayaan sistem subak?
6. Apa dan bagaimanakah tugas panitia irigasi dalam sistem pengairan
subak?
7. Bagaimana cara kerja keanggotaan sistem subak?
8. Apa saja hak dan kewajiban para anggota subak?
9. Bagaimana tata pengaturan dan penetapan iuran dalam sistem subak?
10. Bagaimana tata pengaturan air dan sistem distribusi air dalam sistem
subak?

4

2.3 TUJUAN PENULISAN
1. Makalah ini bertujuan untuk pembaca mengetahui sedikit lebih dalam
tentang masayarakat Bali dan kebudayaan subak yang berlaku di
masyarakat Bali.




























5
BAB II
ISI


2.1 Pengertian Kebudayaan Subak
Subak merupakan organisasi kemasyarakatan yang khusus
mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam
padi di Bali, Indonesia. Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan
Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para
petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan dewi
Sri.Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah
seorang petani di Bali.Subak dimulai di masa Markandea, seorang yogi
yang datang dari Pulau Jawa pada abad pertama tahun Saka.Ketika itu ia,
bersama dengan para pengikutnya, mulai membuka hutan dan membuat
sawah. Seorang ahli Purbakala Belanda, Dr. R. Goris, menyebutkan bahwa
di masa prasejarah, yaitu sebelum tahun 600M, telah dikenal adanya
kebudayaan pertanian di Pulau Bali.Dalam prasasti Raja Purana di
Klungkung, bertahun saka 994 (1072 M), ditemukan kata kesuwakan,
yang sama dengan kata kesubakan, yang sekarang disingkat menjadi
subak.
Di Kabupaten Tabanan, kata subak dianggap berasal dari kata
seuwak, yang diartikan sebagai pembagian air yang baik. Di Kabupaten
Badung, kata Subak juga dianggap berasal dari kata seuwak, tetapi
diartikan sebagai aliran air yang masuk ke dalam petak sawah petani.
Penjelasan yang berlainan didapat dari pengurus subak Temblang di
Kabupaten Jembrana.
Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan J. Stephen
Lansing telah menarik perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi
tradisional.Ia mempelajari pura-pura di Bali, terutama yang diperuntukkan
bagi pertanian, yang biasa dilupakan oleh orang asing. Pada tahun 1987
Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan

6
model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan
keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini.
Dalam pengelolaan
Irigasi Subak, masyarakat Bali
mengusung konsep Tri Hita
Karana (THK) yang memiliki
Hubungan timbale balik antara
Parahyangan yakni Hubungan
yang harmonis antara anggota atau karma subak dengan Tuhan Yang
Maha Esa, Pawongan Hubungan yang harmonis antara anggota Subaknya
dimana yang disebut dengan Krama Subak, Palemahan: Hubungan yang
harmonis antara anggota Subak dengan lingkungan atau wilayah irigasi
Subaknya.
Menurut pendapat pengurus subak di Kabupaten-kabupaten di
Bali, pada dasarnya cara pemberian nama subak mengikuti:
a. Nama desa terdekat, seperti misalnya subak Basangka, subak Luwus,
subak Joanyar, dan sebagainya.
b. Nama tempat sumber air, seperti misalnya subak Yeh Poh, subak Yeh
Empas, subak Yeh Tangis, dan sebagainya.
c. Nama bangunan keagamaan yang terdekat, seperti misalnya subak
Adel-dewa, dan sebagainya.
d. Waktu dan cara pembukaan tanah, seperti misalnya subak Babakan
Anyar, dan sebagainya.
e. Lain-lain.

2.2 Sejarah Kebudayaan Subak
Berikut sejarah singkat kebudayaan bertani dengan sistem Subak di
Bali:
Abad tahun pertama tahun saka, orang mengatakan bahwa
subak di mulai dari masa Markandea

7
Seorang ahli purbakala Belanda, Dr. R. Goris menyatakan
bahwa di masa prasejarah tahun 600M telah dikenal adanya
pertanian di Pulau Bali
Prasasti di Sukawana menyatakan bahwa dalam tahun saka 800
(tahun 882M) telah dikenal kata huma yang artinya sawah
Dr Witheim dkk mengemukakan bahwa subak telah dikenal
dalam tahun 896m dan 1022M
Ada prasasti menyebutkan bahwa subak dikenal dan
dikembangkan pada masa pemerintahan Raja Marakarta
Panghodja Sthanuttunggadewa pada tahun 994 (1022M)
Prasasti Raja Purana di klungkung, bertahun saka 994
(1072M), ditemukan kata kesuwakan = kesubakan, saat ini
disingkat menjadi subak

2.3 Fungsi dan Kewajiban Subak
Subak merupakan suatu badan yang mempunyai hak otonomi
untuk mengatur dirinya secara luas. Subak adalah organisasi
kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang
digunakan dalam cocok tanam padi di Bali, Indonesia. Subak ini biasanya
memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang
khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi
kemakmuran dan kesuburan dewi Sri.Sistem pengairan ini diatur oleh
seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.Antara lain
subak mempunyai hak untuk membentuk pengurus, mengatur keuangan,
membuat peraturan, melaksanakan sanksi terhadap pelanggaran
anggotanya, tanpa campur tangan pihak luar, dan yang terpenting ialah
menjaga ketertiban dan kesejahteraan para anggotanya.
Fungsi dan kewajiban subak yang sangat penting ialah mengatur
pembagian air bagi para anggotanya, agar masing-masing anggota
memperoleh bagian air yang cukup dan seadil-adilnya.Dengan demikian
kesejahteraan semua anggota merupakan tujuan pokok subak.Begitu juga
subak wajib memelihara sumber-sumber air, khususnya sumber air yang

8
memberikan air kepadanya.Subak berkewajiban mengatur jenis padi yang
harus ditanam (baru belakangan ini), menetapkan waktu penyiapan lahan,
penaburan benih, dan penanaman padi, serta mengatur pergiliran tanah.
Subak berkewajiban membuat dan memelihara jalan-jalan subak
atau jalan desa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan subak, sehingga
komunikasi menjadi lancar.subak merupakan suatu organisasi yang boleh
bergerak keluar, antara lain ia dapat berhubungan dengan
pemerintah,subak dapat pula menjadi perantara antara pemerintah dan
petani dalam hal menyampaikan perintah-perintahnya, memajukan/
menyampaikan penyuluhan, lebih-lebih pada masa kini, yang menuntut
agar teknologi baru di bidang pertanian harus segera diterapkan.. Dalam
bidang sosial subak berkewajiban membina dan meningkatkan kerja sama
yang erat antara para anggotanya, antara subak-subak dan para petani dan
pemerintah.Dalam hubungan kerja sama dengan pemerintah, subak
menjadi alat bantu untuk memungut Ipeda (Iuran Pembangunan Daerah).

2.4 Organisasi Subak
Subak merupakan suatu organisasi yang otonom.Dalam melaksanakan
tugasnya, subak mengkoordinasikan setiap gerak anggota guna mencapai sasaran
yang tepat, yaitu pembagian air yang cukup dan adil.Peranan organisasi dan
pengurus subak menjadi sangat penting.
Pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi subak adalah sedahan
agung dengan tugas:
a. Mengatur pengairan dan persediaan air irigasi di wilayah kabupaten
b. Memecahkan persoalan-persoalan yang timbul anatarsubak yang tidak
sanggup diselesaikan oleh petugas bawahannya.
c. Memungut pajak tanah.
d. Menjadi penghubung antara subak-subak dan pemerintah untuk
menetapkan tanggal pelaksanaan upacara-upacara untuk desa dan subak.
e. Mengkoordinasi upacara adat yang berhubungan dengan subak di tingkat
kabupaten.

9
Pekaseh bukanlah nama umum yang berlaku diseluruh Bali. Di Kabupaten
Buleleng disebut klian subak, yang hak dan kewajibannya sama dengan
pekaseh ditempat lain.Pemilihan pekaseh dilakukan secara musyawarah.Rapat
pemilihan diadakan antara pengurus dan anggota, yang sering dihadiri oleh
sedahan dan kepala desa.Suara terbanyak menentukan pilihan.Umumnya tidak
ada ketentuan mengenai lama masa jabatan seorang pekaseh. Selama ia jujur
dan bekerja dengan baik, ia bisa tetap memangku jabatannya.Pada umumnya
seorang pekaseh mempunyai beberapa orang pembantu. Jumlah dan macam
pembantu ini tidaklah sama untuk semua kabupaten di Bali. Di Kabupaten
Buleleng seorang pekaseh dibantu oleh :
a. wakilpekaseh,
b. klian banjaran (klian tempek di tempat lain,
c. juru arah yang bertugas menyampaikan perintah dan pengumuman
dari pekaseh kepada anggota subak, dan
d. kesinoman yang bertugas sebagai pembantu umum.


















10
2.5 Susunan Kepengurusan Subak

Bagan Susunan Pengurus Subak
Umum Kabupaten Kabupaten Buleleng

Sedahan Agung Sedahan agung Kepala seksi pengairan
persubakan kabupaten/
sedahan agung

Sedahan
(pengelurahan untuk
Kabupaten
Karangasem)
Sedahan Mantra pengairan
persubakan
kecamatan/sedahan

Pekaseh (klian gde
untuk Kabupaten
Bangli) dan pembantu

Pekaseh dan pembantu Klian subak dan
pembantu
Klian tempek dan
pembantu

Klian subak dan pembantu Klian banjaran dan
pembantu
Anggota subak Anggota subak Anggota subak


2.6 Tugas Panitia Irigasi
Tugas Panitia Irigasi adalah sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan koordinasi penggunaan air seefisien
mungkin, jika perlu dengan penentuan prioritas
penggunaan.
b. Menyelenggarakan koordinasi tata-tanam dengan
menetapkan peraturan tentang waktu/musim, tempat, jenis
dan luas tanaman.

11
c. Mengatur kerjasama yang baik diantara dinas-
dinas/jawatan-jawatan dan instansi-instansi lain yang
berkaitan dengan penggunaan air.
d. Membantu gubernur kepala daerah dalam:
a. Mengkoordinasikan tugas-tugas pemeliharaan
jaringan irigasi dan usaha pembinaan terhadap
jaringan-jaringan irigasi, termasuk jaringan tersier,
irigasi desa, pompanisasi dan sebagainya, agar
dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi
usaha-usaha pertanian, serta usaha inventarisasi
jaringan-jaringan dan sumber air, baik yang sudah
maupun yang belum dimanfaatkan secara langsung
untuk irigasi maupun usaha-usaha pertanian
lainnya.
b. Mempersiapkan dan mengajukan saran-saran untuk
menentukan langkah kebijaksanaan dalam
penyediaan biaya untuk usaha eksploitasi dan
pemeliharaan jaringan irigasi.

2.7 Keanggotaan Subak
Dilihat dari segi tanggung jawabnya, anggota subak seringkali dapat
dibagi atas tiga golongan:
a. Anggota yang ikut menjalankan setiap kegiatan subak dalam urusan
pengairan. Anggota-anggota ini terhimpun dalam sekehe yeh
(perkumpulan air), dan sering disebut krama pekaseh.
b. Anggota yang tidak ikut dalam tugas menyelenggarakan pembagian
air. sebagai gantinya mereka membayar sejumlah uang, yang besarnya
ditetapkan dalam peraturan subak. Anggota semacam ini dinamakan
pengampel.
c. Anggota yang dibebaskan dari tugas menyelenggarakan pembagian air.
golongan ini disebut leluputan, yang terdiri dari para ahli agama yang

12
bertugas menyelenggarakan upacara keagamaan yang berhubungan
dengan subak.

2.8 Hak dan Kewajiban Anggota Subak
Tugas dan kewajiban Anggota Subak
Tugas dan kewajiban anggota subak pada dasarnya mencakup tiga bidang;
I. Bidang fisik:
a. Membuat, memelihara serta memperbaiki
bangunan-bangunan pengairan seperti bendungan,
saluran dan sebagainya.
b. Membuat, memelihara serta memperbaiki
bangunan-bangunan subak selain bangunan
pengairan, seperti jalan subak, balai subak dan
tempat upacara keagamaan yang berhubungan
dengan subak.
II. Bidang sosial ekonomi:
a. Menaati dan melaksanakan peraturan subak, baik
yang tertulis maupun tidak;
b. Melaksanakan segala keputusan rapat anggota;
c. Menjalankan segala perintah pengurus berdasarkan
peraturan berlaku;
d. Mengadakan pemilihan pengurus;
e. Menghadiri rapat anggota, baik yang bersifat rutin
maupun insidental;
f. Memelihara kelancaran pembagian air;
g. Membayar denda serta iuran-iuran, baik yang
berupa uang maupun barang;
h. Membayar Ipeda yang telah ditetapkan oleh
pemerintah pada batas waktu yang telah ditentukan;
i. Melaksanakan instruksi-instruksi pemerintah yang
disalurkan lewat subak;

13
j. Menjaga air di bendungan agar tidak dicuri oleh
anggota subak lain dan mencari air apabila terjadi
kecurian atau kebocoran;
k. Bilamana perlu, bersama-sama dengan anggota
subak lainnya mengadakan pemberantasan hama,
misalnya dengan menangkapi tikus yang sedang
menyerang tanaman-tanaman milik subak.
III. Bidang keagamaan
Upacara keagamaan dilakukan mulai dari saat lahan dipersiapkan sampai
hasil panen (padi) sudah ada di tempat penyimpanan (lumbung). Jenis serta
waktu menyelenggarakan upacara tidak sama untuk setiap subak. Ada
upacara yang dilakukan oleh anggota subak secara perorangan, tapi ada pula
yang bersama-sama.
Upacara-upacara yang dilakukan antara lain:
a) Ngendagin.
b) Pangwiwit;
c) Mapag toya;
d) Nandur
e) Neduh
f) Pecaruan
g) Nyambutin
h) Biyakukung,
i) Miseh
j) Ngasaba

Hak Anggota Subak
1) Mendapat bagian air secara adil dari subak
2) Memilih dan dipilih sebagai pengurus subak;
3) Mengeluarkan pendapat dan usul-usul dalam rapat anggota;
4) Diwakili oleh orang lain dalam melakukan segala kegiatan persubakan;
5) Melaporkan pelanggaran-pelanggaran kepada pengurus subak

14
6) Mendapat bagian dari kekayaan subak;
7) Mendapat pelayanan dan perlakuan yang baik dari subak.

2.9 Tata Pengaturan Dan Penetapan Iuaran
Sumber-Sumber Keuangan Subak
a. Iuran dari tiap anggota
b. Denda yang dikenakan kepada para anggota yang tidak hadir
dalam rapat,
c. Uang pangkal yang ditarik dari anggota baru;
d. Upah baknya;
e. Hasil tanah milik subak;
f. Bunga uang dari anggota subak yang meminjam kepada kas
subak;
g. Subsidi atau bantuan dari pemerintah.

Cara-cara penetapan iuran
a. Iuran yang dipungut secara incidental
b. Iuaran yang dipungut secara berkala. Biasanya iuran ini
dipungut setiap habis panen dan dibayar dalam bentuk barang.
Ada beberapa macam iuran berkala, yaitu:
a. Pengoot atau pengampel
b. Sarin tahun
c. iuran untuk balas jasa pengurus subak.
Pengawasan Terhadap Keuangan Subak
Pada umumnya keuangan subak dipegang oleh pekaseh sendiri, Subak-subak
pada umumnya sudah membuat perancangan tentang apa yang akan dikerjakan
atas persetujuan anggotanya, tetapi jarang sekali yang tertulis.

2.10 Tata Pengaturan Air dan Sistem Distribusi Air
Dasar perhitungan besar kecilnya debit air yang dapat diambil oleh subak
ialah (a) luas subak yang bersangkutan, (b) jarak antara bendungan dengan

15
wilayah subak, (c) debit sungai sepanjang musim, (d) tinggi rendah letak subak
tersebut terhadap bendungan dan (e) keadaan tanah subak.
Pembagian nair di subak ada dua macam, yaitu :
a. Pembagian air antarsubak : Dengan system satu tektek (satuan dasar
bagian air)
b. Pembagian air antaranggota : Di subak yang mengadakan sistem giliran,
yang umumnya dilaksanakan di Kabupaten Buleleng karena air sungai
tidak cukup, penggunaan air oleh tempek-tempek diatur dalam tiga masa
yaitu:
1) Ngulu (terdahulu). Tempek-tempek yang di hilir sumber air
biasanya mendapat giliran ini.
2) Maongin, (baong = leher, maksudnya pertengahan). Tempek-
tempek turun ke sawah pada masa pertengahan.
3) Ngasep (kasep = terlambat, yang artinya paling akhir). Tempek-
tempek ang ngasep umumnya terletak di daerah hulu sungai/
sumber air).

















16
BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan




























17
DAFTAR PUSTAKA


http://www.wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/subak
http://www.indonesia.travel/id/destination/277/ubud/article/283/subak-
bali-irigasi-pertanian-masyarakat-adat-bali-yang-diakui-dunia
http://www.scribd.com/doc/88415936/subak
blog.ub.ac.id/ikha/files/2012/06/subak.docx
http://www.slideshare.net/LindaRhisma/irigasi-subak-di-bali


Semua situs diakses pada Jumat, 7 Maret 2014