Anda di halaman 1dari 3

Pada kelompok pertama (I), yaitu kelompok kontrol, pada kelompok ini mencit hanya

diberikan larutan suspensi gom arab (PGA) 2 % saja, sehingga mencit pada kelompok ini bekerja
alami tanpa ada pengaruh obat, sehingga kelompok-kelompok yang lain dapat dibandingkan
dengan kelompok kontrol ini. Pada kelompok kami, aktivitas mencit (jumlah putarannya) yaitu:
menit ke 5= 23, menit ke 10= 32, menit ke 15= 7, menit ke 20= 39, menit ke 25= 22 dan menit
ke 30= 7. Hal ini menunjukkan aktivitas mencit berlangsung tidak normal (fluktuatif), respon
saraf terhadap gerak pada otot yang di aplikasikan dalam bentuk gerak berlari dalam roda putar.
Kelompok kontrol dibuat agar dapat dijadikan pembanding dengan kelompok lainnya dimana
mencit tersebut tidak diberikan sediaan obat sehingga dapat diketahui efek obat mana yang dapat
menimbulkan efek yang cukup kuat.
Pada mencit kedua yang diberikan obat uji depresan yaitu kafein. Didapatkan jumlah
putarannya pada kelompok kami yaitu: menit ke 5= 59, menit ke 10= 61, menit ke 15= 83, menit
ke 20= 72, menit ke 25= 55 dan menit ke 30= 76. Sedangkan pada mencit ketiga yang diberi
fenobarbital, pada kelompok kami menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dibandingkan
mencit kontrol negatif yang diberi PGA. Jumlah putaran yang dilakukan mencit pada roda putar
yaitu: menit ke 5= 17, menit ke 10= 0, menit ke 15= 0, menit ke 20= 0, menit ke 25= 0 dan menit
ke 30= 1. Jumlah putarannya menunjukkan aktivitas mencit menurun dengan pemberian
fenobarbital.
Untuk mencit yang diberikan obat kafein ternyata mengalami peningkatan aktivitas yang
cukup signifikan yang ditandai dengan peningkatan jumlah putaran rodanya. Kafein
meningkatan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap terjaga dan memberikan efek fisiologis
berupa peningkatan energi. Dengan demikian maka mencit akan terus aktif bergerak selama efek
obat tersebut masih ada namun seiring dengan berjalannya waktu pengamatan maka lama-lama
efeknya akan menurun karena ketersediaan obat makin berkurang di dalam tubuh mencit karena
terjadinya metabolisme obat dalam tubuh. Hal ini ditandai dengan berkurangnya jumlah putaran
roda.
Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi jumlah putaran selain pemberian obat uji.
Salah satunya yang sangat mempengaruhi adalah keseragaman berat badan dari mencit uji yang
digunakan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, adanya metabolisme obat dalam tubuh
dapat menurunkan aktivitas obat. Kemampuan metabolisme obat dalam tubuh dipengaruhi oleh
luas permukaan daerah absorpsi obat, yang berkaitan dengan berat badan mencit karena semakin
berat mencit maka luas permukaan daerah absorpsi obat akan semakin besar.
Hal tersebut mempengaruhi bagaimana ketersediaan obat dalam mencit. Semakin lama
obat dalam mencit akan bekerja sampai puncaknya dan kemudian lama-lama efeknya akan
menurun karena ketersediaan obat makin berkurang, sehingga efek obat uji yang diberikan baik
berupa depresan (fenobarbital) maupun stimulan (kafein) dapat berkurang aktivitasnya. Maka
dari itu mencit yang digunakan diusahakan memiliki keseragaman bobot antar mencit yang sama
atau tidak terlalu berbeda agar efek dari obat uji yang diamati dapat diteliti lebih akurat. Selain
itu, pemberian jeda waktu yang diperlukan obat untuk mencapai efek kerja setelah diberikan
sebelum mencit dimasukkan dalam wheel cage dapat mempengaruhi. Hal ini disebabkan obat uji
yang diberikan mencit yang memiliki bobot berat akan lebih mudah termetabolisme daripada
mencit yang memiliki bobot yang lebih ringan, sehingga efek yang ditimbulkan pun lebih cepat.
Sehingga dikhawatirkan efek obat yang ditimbulkan dapat tidak sesuai dengan literatur.
Pada kelompok kami dapat disimpulkan bahwa aktifitas obat stimulan (kafein) sangat
memberi pengaruh, terbukti jika dibandingkan dengan kelompok kontrol menunjukkan bahwa
terjadi peningkatan putaran roda wheel cage, sementara pada pemberian depresan (fenobarbital)
memeberikan efek penurunan aktivitas, terbukti lewat penurunan jumlah putaran wheel cage jika
dibandingkan dengan kelompok uji negative dan kelompok kontrol. Hasil yang diperoleh dari
kelompok kami sesuai dengan literatur yang ada, karenan efek obat yang dihasilkan sesuai
dengan respon yang diberikan oleh hewan.
Kemudian jika dikomparasikan dengan data data dari kelompok lain yang ada, hasil yang
sesuai literatur atau respon hewan uji terhadap obat yang diberikan hanyalah kelompok kami
dengan kelompok II. Karena jumlah putaran hewan uji yang diberi kafein, mengalami jumlah
putaran tertinggi dibandingkan dengan kelompok uji kontrol juga apalagi kelompok uji
fenobarbital.
Selain dua kelompok itu, data jumlah putaran yang diperoleh dari kelompok lain,
mengalami penyimpangan dengan literatur yang ada. Penyimpangan atau ketidaksesuaian ini
terjadi selain dikarenakan faktor kesalahan praktikan, juga karena banyak faktor seperti
kesterilan alat dan bahan obat, hingga faktor kepekaan dan berat hewan uji terhadap obat yang
berbeda tiap ekornya seperti diulas diatas.
Setelah didapat hasil pengamatan percobaan, dilihat pengaruh pemberian obat
fenobarbital maupun kaffein pada mencit dengan perhitungan persentasi aktivitas masing-masing
obat. Setelah dilakukan perhitungan % aktivitas stimulan untuk mengukur efek dari kafein yang
diberikan dengan rumus:




Didapatkan hasil % aktivitas stimulan sebesar -29,83%. Kemudian dilakukan juga
perhitungan % aktivitas depresan untuk mengukur efek dari fenobarbital yang diberikan dengan
rumus :




Setelah dihitung, didapatkan hasil % aktivitas depresan sebesar 54,82%. Hal ini
menunjukkan baik obat stimulan (kafein) maupun depresan (fenobarbital) belum memiliki efek
yang cukup signifikan terhadap kontrol uji, dikarenakan banyak faktor yang sudah dipaparkan di
atas.