Anda di halaman 1dari 23

METABOLISME LIPID

Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu trigliserid
(ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid adalah
asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena larut dalam
air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai pendek
juga dapat melalui jalur ini.


Struktur miselus. Bagian polar berada di sisi luar, sedangkan bagian non polar berada di sisi dalam


Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut oleh
miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus (enterosit).
Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi trigliserida (lipid) dan
berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya kilomikron
ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava, sehingga bersatu
dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan jaringan
adiposa.



Struktur kilomikron. Perhatikan fungsi kilomikron sebagai pengangkut trigliserida

Simpanan trigliserida pada sitoplasma sel jaringan adiposa

Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam lemak
dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi
simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi. Sewaktu-
waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan
gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses
pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan oleh
albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty
acid/FFA).
Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan gliserol.
Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami esterifikasi
yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka
panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam lemak
dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida jaringan.
Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya
sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur
inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika
kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam
lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis
menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk steroid. Asetil
KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan badan-badan keton (aseto
asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan
ini dapat menyebabkan kematian.

Ikhtisar metabolisme lipid




Metabolisme gliserol

Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini
selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal,
gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa
ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara
dalam jalur glikolisis.

Kolesterol
Aseto asetat
hidroksi butirat Aseton
Steroid
Steroidogenesi
s
Kolesterogenesis
Ketogenesis
Diet
Lipid
Karbohidrat
Protein
Asam
lemak
Trigliserida
Asetil-KoA
Esterifikasi Lipolisis
Lipo-
genesis
Oksidasi beta

Siklus asam
sitrat
ATP
CO2

H2O

+ ATP
Gliserol

Reaksi-reaksi kimia dalam metabolisme gliserol


Oksidasi asam lemak (oksidasi beta)
Untuk memperoleh energi, asam lemak dapat dioksidasi dalam proses yang dinamakan oksidasi
beta. Sebelum dikatabolisir dalam oksidasi beta, asam lemak harus diaktifkan terlebih dahulu
menjadi asil-KoA. Dengan adanya ATP dan Koenzim A, asam lemak diaktifkan dengan
dikatalisir oleh enzim asil-KoA sintetase (Tiokinase).



Aktivasi asam lemak menjadi asil KoA


Asam lemak bebas pada umumnya berupa asam-asam lemak rantai panjang. Asam lemak rantai
panjang ini akan dapat masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan senyawa karnitin, dengan
rumus (CH
3
)
3
N
+
-CH
2
-CH(OH)-CH
2
-COO
-
.


Mekanisme transportasi asam lemak trans membran mitokondria melalui mekanisme pengangkutan karnitin

Langkah-langkah masuknya asil KoA ke dalam mitokondria dijelaskan sebagai berikut:
Asam lemak bebas (FFA) diaktifkan menjadi asil-KoA dengan dikatalisir oleh enzim
tiokinase.
Setelah menjadi bentuk aktif, asil-KoA dikonversikan oleh enzim karnitin palmitoil
transferase I yang terdapat pada membran eksterna mitokondria menjadi asil karnitin. Setelah
menjadi asil karnitin, barulah senyawa tersebut bisa menembus membran interna
mitokondria.
Pada membran interna mitokondria terdapat enzim karnitin asil karnitin translokase yang
bertindak sebagai pengangkut asil karnitin ke dalam dan karnitin keluar.
Asil karnitin yang masuk ke dalam mitokondria selanjutnya bereaksi dengan KoA dengan
dikatalisir oleh enzim karnitin palmitoiltransferase II yang ada di membran interna
mitokondria menjadi Asil Koa dan karnitin dibebaskan.
Asil KoA yang sudah berada dalam mitokondria ini selanjutnya masuk dalam proses oksidasi
beta.

Dalam oksidasi beta, asam lemak masuk ke dalam rangkaian siklus dengan 5 tahapan proses dan
pada setiap proses, diangkat 2 atom C dengan hasil akhir berupa asetil KoA. Selanjutnya asetil

Membran mitokondria interna
Karnitin palmitoil
transferase II


Karnitin
Asil karnitin
translokase
KoA Karnitin
Asil karnitin Asil-KoA
Asil karnitin
Beta oksidasi

Membran mitokondria eksterna
ATP + KoA AMP + PPi
FFA Asil-KoA

Asil-KoA
sintetase
(Tiokinase)
Karnitin palmitoil
transferase I
Asil-KoA KoA
Karnitin Asil karnitin
KoA masuk ke dalam siklus asam sitrat. Dalam proses oksidasi ini, karbon asam lemak
dioksidasi menjadi keton.



Oksidasi karbon menjadi keton


Keterangan:
Frekuensi oksidasi adalah ( jumlah atom C)-1
Jumlah asetil KoA yang dihasilkan adalah ( jumlah atom C)



Oksidasi asam lemak dengan 16 atom C. Perhatikan bahwa setiap proses pemutusan 2 atom C adalah proses
oksidasi dan setiap 2 atom C yang diputuskan adalah asetil KoA.




Aktivasi asam lemak, oksidasi beta dan siklus asam sitrat

Telah dijelaskan bahwa asam lemak dapat dioksidasi jika diaktifkan terlebih dahulu menjadi asil-
KoA. Proses aktivasi ini membutuhkan energi sebesar 2P. (-2P)
Setelah berada di dalam mitokondria, asil-KoA akan mengalami tahap-tahap perubahan sebagai
berikut:

Proses Beta Oksidasi

Asil KoA jenuh dipecah melalui urutan empat reaksi yang berulang yaitu : oksidasi oleh flavin
adenin dinukleotida ( FAD ), hidrasi oleh NAD dan tiolisis oleh KoA. Rantai asil diperpendek dengan dua
atom karbon sebagai hasil dari keepat reaksi tadi dan terjadi pembentukan FADH2, NADH dan asetil
KoA.
Reaksi pertama pada tiap daur pemecahan adalah oksidasi asil KoA oleh asil KoA dehidrogenase yang
menghasilkan satu enoil KoA denganikatan rangkap trans antara C 2 dan C 3.
Asil KoA + E FAD trans - - Enoil KoA + E FADH2
Langkah selanjutnya adalah hidrasi ikatan ganda antara C- 2 dan C 3 oleh enoil KoA hidratase.
Trans - - Enoil KoA + H2O L- 3 hydroksiasil KoA.
Hidrasi enoil KoA membuka jalan bagi reaksi oksidasi kedua, yang mengubah gugus hidroksil pada C 3
menjadi gugus keto dan menghasilkan NADH. Oksidai ini dikatalisis oleh L 3 hidroksiasil KoA
dehidrogenase .
L 3 hidroksiasil KoA + NAD 3 ketoasil KoA + NADH + H+
Langkah akhir adalah pemecahan 3 ketoasil KoA oleh gugus tiol dari molrkul KoA lain, yang akan
menghasilkan asetil KoA dan suatu asil KoA rantai karbonnya dua atom karbon lebih pendek. Reaksi ini
dikatalisis oleh ketotiolase.
3- ketoasil KoA + HS KoA asetil KoA + asil KoA.
(karbon- karbon n ) ( karbon- karbon n-2 ).
Asil KoA yang memendek selanjutnya mengalami daur oksidasi berikutnya, yang diawali dengan
reaksi yang dikatalisis oleh asil KoA dehidrogenase. Rantai asam lemak yang mengandung 12 sampai 18
karbon dioksidasi oleh asil KoA dehidrogenase rantai panjang. Asil KoA dehidrogenase untuk rantai
sedang mengoksidasi ranta asam lemak yang memiliki 14 sampai 4 karbon, sedangkan asil KoA
dehidrogenase untuk rantai pendek hanya bekerja pada rantai 4 dan 6 karbon. Sebaliknya, ketotiolase,
hidroksiasil dehidrogenase, dan enoil KoA hidratase memiliki spesifitas yang luas berkenaan dengan
panjangnya gugus asil.

Dalam satu oksidasi beta dihasilkan energi 2P dan 3P sehingga total energi satu kali oksidasi
beta adalah 5P. Karena pada umumnya asam lemak memiliki banyak atom C, maka asil-KoA
yang masih ada akan mengalami oksidasi beta kembali dan kehilangan lagi 2 atom C karena
membentuk asetil KoA. Demikian seterusnya hingga hasil yang terakhir adalah 2 asetil-KoA.
Asetil-KoA yang dihasilkan oleh oksidasi beta ini selanjutnya akan masuk siklus asam sitrat.

Proses penghitungan ATP :
Dalam satu kali proses beta oksidasi dihasilkan 5 ATP dr NADH dan FADH
2
ditambah dengan
12 ATP dari siklus asam sitrat.Banyaknya ATP jg tergantung pada jumlah atom C yang ada di
asam lemak itu sendiri.

Penghitungan energi hasil metabolisme lipid

Dari uraian di atas kita bisa menghitung energi yang dihasilkan oleh oksidasi beta suatu asam
lemak. Misalnya tersedia sebuah asam lemak dengan 10 atom C, maka kita memerlukan energi 2
ATP untuk aktivasi, dan energi yang di hasilkan oleh oksidasi beta adalah 10 dibagi 2 dikurangi
1, yaitu 4 kali oksidasi beta, berarti hasilnya adalah 4 x 5 = 20 ATP. Karena asam lemak
memiliki 10 atom C, maka asetil-KoA yang terbentuk adalah 5 buah.
Setiap asetil-KoA akan masuk ke dalam siklus Krebs yang masing-masing akan menghasilkan
12 ATP, sehingga totalnya adalah 5 X 12 ATP = 60 ATP. Dengan demikian sebuah asam lemak
dengan 10 atom C, akan dimetabolisir dengan hasil -2 ATP (untuk aktivasi) + 20 ATP (hasil
oksidasi beta) + 60 ATP (hasil siklus Krebs) = 78 ATP.
Sebagian dari asetil-KoA akan berubah menjadi asetoasetat, selanjutnya asetoasetat berubah
menjadi hidroksi butirat dan aseton. Aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton dikenal sebagai
badan-badan keton. Proses perubahan asetil-KoA menjadi benda-benda keton dinamakan
ketogenesis.

Proses ketogenesis


Lintasan ketogenesis di hati

Sebagian dari asetil KoA dapat diubah menjadi kolesterol (prosesnya dinamakan
kolesterogenesis) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk disintesis menjadi
steroid (prosesnya dinamakan steroidogenesis).

Gambar Lintasan kolesterogenesis


Sintesis asam lemak

Makanan bukan satu-satunya sumber lemak kita. Semua organisme dapat men-sintesis asam
lemak sebagai cadangan energi jangka panjang dan sebagai penyusun struktur membran. Pada
manusia, kelebihan asetil KoA dikonversi menjadi ester asam lemak. Sintesis asam lemak sesuai
dengan degradasinya (oksidasi beta).
Sintesis asam lemak terjadi di dalam sitoplasma. ACP (acyl carrier protein) digunakan selama
sintesis sebagai titik pengikatan. Semua sintesis terjadi di dalam kompleks multi enzim-fatty acid
synthase. NADPH digunakan untuk sintesis.
Tahap-tahap sintesis asam lemak ditampilkan pada skema berikut.


Tahap-tahap sintesis asam lemak

Penyimpanan lemak dan penggunaannya kembali

Asam-asam lemak akan disimpan jika tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi.
Tempat penyimpanan utama asam lemak adalah jaringan adiposa. Adapun tahap-tahap
penyimpanan tersebut adalah:
- Asam lemak ditransportasikan dari hati sebagai kompleks VLDL.
- Asam lemak kemudian diubah menjadi trigliserida di sel adiposa untuk disimpan.
- Gliserol 3-fosfat dibutuhkan untuk membuat trigliserida. Ini harus tersedia dari glukosa.
- Akibatnya, kita tak dapat menyimpan lemak jika tak ada kelebihan glukosa di dalam tubuh.


Dinamika lipid di dalam sel adiposa. Perhatikan tahap-tahap sintesis dan degradasi trigliserida

Jika kebutuhan energi tidak dapat tercukupi oleh karbohidrat, maka simpanan trigliserida ini
dapat digunakan kembali. Trigliserida akan dipecah menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol
dapat menjadi sumber energi (lihat metabolisme gliserol). Sedangkan asam lemak pun akan
dioksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi pula (lihat oksidasi beta).




Metabolisme lipid dapat juga dibedakan menjadi 2 jalur yaitu :
Katabolisme Lipid
Anabolisme Lipid

KATABOLISME LIPID


I. Oksidasi Asam Lemak

Pada tahun 1904, Franz Knoop menerangkan bahwa asam lemak itu dipecah melalui
oksidasi pada karbon . Kemudian padatahun 1949 Eugene Kennedy dan Lehninger
menerangkan bahwa terjadinya oksidasi asam lemak di mitokondria.Di mana asam lemak
sebelum memasuki mitokondria mengalami aktivasi . adenosin trifosfat ( ATP ) memacu
pembentukan ikatan tioester antara gugus karboksil asam lemak dengan gugus sulfhidril pada
KoA. Reaksi pengaktifan iniberlangsung di luar mitokondria dan dikatalisis oleh enzim asil KoA
sintetase ( tiokinase asam lemak )
Paul Berg membuktikan bahwa aktivasi asam lemak terjadi dalam dua tahap.Pertama, asam
lemak bereaksi dengan ATP membentuk asil adenilat. Dalam bentuk anhidra campuran ini,
gugus karboksilat asam lemak diikatkan dengan gugus fosforil AMP. Dua gugus fosforil lainnya
dari ATP dibebaskan sebagai pirofosfat. Gugus sulfhidril dari KoA kemudian bereaksi dengan
asila adenilat yang berikatan kuat dengan enzim membentuk asil KoA dan AMP.

R C + ATP R C AMP + PPi
Asam lemak Asil adenilat

R C AMP + H- S KoA R C S KoA + AMP
Asil KoA

Pengangkutan asam lemak rantai panjang ke dalam matriks mitokondria.
Asam lemak diaktifkan di luar membran mitokondria, proses oksidasi terjadi di dalam
matriks mitokondria. Molekul asil KoA rantai panjang tidak dapat melintasi membran
mitokondria, sehingga diperlukan suatu mekanisme transport khusus.Asam lemak rantai panjang
aktif melintasi membran dalam mitokondria dengan cara mengkonjugasinya dengan karnitin,
suatu senyawa yang terbentuk dari lisin.Gugus asil dipindahkan dari atom sulfur pada KoA ke
gugus hidroksil pada karnitin dan membentuk asil karnitin. Reaksi ini dikatalisis oleh karnitin
transferase I, yang terikat pada membran di luar mitokondria.

R C S KoA + H3C N CH2 C CH2 C HS KoA + H3C N CH2
Asil KoA Karnitin Asil Karnitin

C CH2 C.

Selanjtunya, asil karnitin melintasi membran dalam mitokondria oleh suatu translokase.
Gugus asil dipindahkan lagi ke KoA pada sisi matriks dari membran yang dikatalisis oleh
karnitin asil transferase II. Akhirnya karnitin dikembalikan ke sisi sitosol oleh translokase
menggantikan masuknya asil karnitin yang masuk.Molekul asil KoA dari sedang dan rantai
pendek dapat menembus mitokondria tanpa adanya karnitin.
Kelainan pada transferase atau translokase atau defisiensi karnitin dapat menyebabkan
gangguan oksidasi asam lemak rantai panjang, Kelainan tersebut diatas ditemukan pada kembar
identik yang menderita kejang otot disertai rasa nyeri yang dialami sejak masa kanak-kanak..
Rasa nyeri diperberat oleh puasa, latihan fisik, atau diet tinggi lemak; oksidasi asam lemak
adalah proses penghasil energi utama pada ketiga keadaan tersebut. Enzim glikolisis dan
glikogenolisis dalam keadaan normal.

I.1. Asetil KoA, NADH dan FADH2 terbentuk pada setiap satu kali oksidasi.

Asil KoA jenuh dipecah melalui urutan empat reaksi yang berulang yaitu : oksidasi oleh
flavin adenin dinukleotida ( FAD ), hidrasi oleh NAD dan tiolisis oleh KoA. Rantai asil
diperpendek dengan dua atom karbon sebagai hasil dari keepat reaksi tadi dan terjadi
pembentukan FADH2, NADH dan asetil KoA.
Reaksi pertama pada tiap daur pemecahan adalah oksidasi asil KoA oleh asil KoA dehidrogenase
yang menghasilkan satu enoil KoA denganikatan rangkap trans antara C 2 dan C 3.

Asil KoA + E FAD trans - - Enoil KoA + E FADH2

Langkah selanjutnya adalah hidrasi ikatan ganda antara C- 2 dan C 3 oleh enoil KoA
hidratase.

Trans - - Enoil KoA + H2O L- 3 hydroksiasil KoA.

Hidrasi enoil KoA membuka jalan bagi reaksi oksidasi kedua, yang mengubah gugus
hidroksil pada C 3 menjadi gugus keto dan menghasilkan NADH. Oksidai ini dikatalisis oleh L
3 hidroksiasil KoA dehidrogenase .

L 3 hidroksiasil KoA + NAD 3 ketoasil KoA + NADH + H+

Langkah akhir adalah pemecahan 3 ketoasil KoA oleh gugus tiol dari molrkul KoA
lain, yang akan menghasilkan asetil KoA dan suatu asil KoA rantai karbonnya dua atom karbon
lebih pendek. Reaksi ini dikatalisis oleh ketotiolase.

3- ketoasil KoA + HS KoA asetil KoA + asil KoA.
(karbon- karbon n ) ( karbon- karbon n-2 ).

Asil KoA yang memendek selanjutnya mengalami daur oksidasi berikutnya, yang diawali
dengan reaksi yang dikatalisis oleh asil KoA dehidrogenase. Rantai asam lemak yang
mengandung 12 sampai 18 karbon dioksidasi oleh asil KoA dehidrogenase rantai panjang. Asil
KoA dehidrogenase untuk rantai sedang mengoksidasi ranta asam lemak yang memiliki 14
sampai 4 karbon, sedangkan asil KoA dehidrogenase untuk rantai pendek hanya bekerja pada
rantai 4 dan 6 karbon. Sebaliknya, ketotiolase, hidroksiasil dehidrogenase, dan enoil KoA
hidratase memiliki spesifitas yang luas berkenaan dengan panjangnya gugus asil.

I.2.Oksidasi sempurna asam palmitat

Kita dapat menghitung energi yang dihasilkan dari oksidasi suatu asam lemak. Pada tiap
daur reaksi, asil KoA diperpendek dua karbon dan satu FADH2, NADH dan asetil KoA
terbentuk.

Cn asil KoA + FAD + NAD + H2O + KoA Cn-2 asil KoA + FADH2 + NADH + asetil
KoA + H

Pemecahan palmitoil KoA ( C16 asil KoA ) memerlukan tujuh daur reaksi. Pada daur
ketujuh, C4 ketoasil KoA mengalami tiolisis menjadi dua molekul asetil KoA. Dengan
demikian stoikiometri oksidasi palmitoil KoA menjadi.

Palmitoil KoA + 7 FAD + 7 NAD +7 KoA + & H2O
8 asetil KoA + 7 FADH2 + 7 NADH + 7 H
Dua setengah ATP akan terbentuk per NADH yang dioksidasi pada rantai pernafasan, sedangkan
1,5 ATP akan terbentuk untuk tiap FADH2. Jika diingat bahwa oksidasi asetil KoA oleh daur
asam sitrat menghasilkan 10 ATP, maka jumlah ATP yang terbentuk pad oksidasi palmitoil KoA
adalah 10,5 dari 7 FADH2, 17,5 dari 7 NADH dan 80 dari 8 molekul asetil KoA, sehingga
jumlah keseluruhannya adalah 108. Dua ikatan fosfat energi tinggi dipakai untuk mengaktifkan
palmitat, saat ATP terpecah menjadi AMP dan 2 Pi. Jadi oksidasi sempurna satu molekul asam
palmitat menghasilkan 106 ATP.

I.3.Oksidasi asam lemak tak jenuh.

Oksidasi asam lemak tak jenuh reaksinya sama seperti reaksi oksidasi asam lemak jenuh.
Hanya diperlukan tambahan dua enzim lagi yaitu isomerase dan reduktase untuk memecah asam-
asam lemak tak jenuh..
Oksidasi asam palmitoleat atau asam lemak C16 yang memiliki ikatan rangkap antara C- 9 dan C
10 ini diaktifkan dan diangkut melintasi membran dalam
mitokondria dengan cara yang sama dengan asam lemak jenuh. Selanjutnya palmitoleil KoA
mengalami tiga kali pemecahan dengan enzim-enzim yang sama seperti oksidasi asam lemak
jenuh. Enoil KoA sis - yang terbentuk pada ketiga kali jalur oksidasi bukanlah substrat bagi
asil KoA dehidrogenase. Adanya ikatan rangkap antara C-3 dan C-4 menghalangi pembentukan
ikatan rangkap lainnya antar C 2 dan C 3. Kendala ini dapat diatasi oleh suatu reaksi yang
mengubah posisi dan konfigurasi dari ikatan rangkap sis - . Suatu isomerase mengubah ikatan
rangkap ini menjadi ikatan rangkap trans - . Reaksi- reaksi berikutnya mengikuti reaksi
oksidasi asam lemak jenuh saat enoil KoA trans - merupakan substrat yang reguler.
Satu enzim tambahan lagi diperlukan untuk oksidasi asam lemak tak jenuh jamak .Misalnya
asam lemak tak jenuh jamak C18 yaitu linoleat , dengan ikatan rangkap sis - 9 dan sis 12.
Ikatan rangkap sis - yang terbentuk setelah tiga daur oksidasi , diubah menjadi ikatan
rangkap trans - oleh isomerase tersebut di atas, seperti pada oksidasi palmitoleat . Ikatan
rangkap sis - - linoleat menghadapi masalah baru. Asil KoA yang dihasilkan oleh empat daur
oksidasi mengandung ikatan rangkap rangkap sis - 4. dehidrogenase pada spesies ini oleh asil
Koa dehidrogenase menghasilkan zat antara 2,4 dienoil yang bukan substrat bagi enzim
berikutnya pada jalur oksidasi . Kendala ini dapat diatasi oleh 2,4 - dienoil KoA reduktase,
suatu enzim yang menggunakan NADH untuk mereduksi zat antara 2,4 dienoil menjadi enoil
KoA sis - . Isomerase tersebut di atas kemudian mengubah enoil KoA sis - menjadi
bentuk trans, suatu zat antara yang lazim pada oksidasi .Jadi ikatan rangkap yang letaknya
pada atom C nomer ganjil ditangani oleh isomerase dan ikatan rangkap yang terletak pada atom
C nomor genap ditangani oleh reduktase dan isomerase.

I.4.Oksidasi asam lemak dengan nomor atom karbon ganjil.

Asam lemak yang memiliki jumlah karbon ganjil merupakan spesies jarang. Asam lemak
ini dioksidasi dengan cara yang samaseperti oksidasi asam lemak dengan jumlah atom karbon
genap, kecuali pada daur akhir degradasi akan terbentuk propionil KoA dan asetil KoA, bukan
dua molekul asetil KoA. Unit tiga karbon aktif pada propionil KoA memasuki daur asam sitrat
setelah diubah menjadi suksinil KoA.

ANABOLISME LIPID

I.Proses Ketogenesis.

Asetil KoA yang terbentuk pada oksidasi asam lemak akan memasuki daur asam sitrat hanya jika
pemecahan lemak dan karbohidrat terjadi secara berimbang. Karena masuknya asetil KoA ke
dalam daur asam sitrat tergantung pada tersedianya oksaloasetat untuk pembentukan sitrat.
Tetapi konsentrasi oksaloasetat akan menurun jika karbohidrat tidak tersedia atau
penggunaannya tidak sebagaimana mestinya. Oksaloasetat dalam keadaan normal dibentuk dari
piruvat.
Pada puasa atau diabetes, oksaloasetat dipakai untuk membentuk glukosa pada jalur
glukoneogenesis dan demikian tidak tersedia untuk kondensasi dengan asetil KoA. Pada keadaan
ini asetil KoA dialihkan kepembentukan asetoasetat dan D-3- hidroksibutirat. Asetoasetat, D- 3-
hidroksibutirat dan Aseton disebut dengan zat keton.

O O O

C S - KoA C S - KoA

CH2 Asetil KoA + CH2 Asetil H+ +
KoA H2O KoA KoA NADH NAD+
2 Asetil KoA C = O HO C CH3 O = C CH3
1 2 3 4
CH3 CH2 CH2

COO COO


H

HO C CH3

CH2

COO
H+ CO2
Asetoasetat Aseton

Asetoasetat dibentuk dari asetil KoA dalam tiga tahap.Dua molekul asetil KoA berkondensasi
membentuk asetoasetil KoA. Reaksi yang dikatalisis oleh tiolase ini merupakan kebalikan dari
tahap tiolisis pada oksidasi asam lemak. Selanjutnya astoasetil KoA bereaksi dengan asetil KoA
dan air untuk menghasilkan 3 - hidroksi 3 metilglutaril KoA ( HMG KoA ) dan KoA .
Kondensasi ini mirip dengan kondensasi yang dikatalisis oleh sitrat sintase.Keseimbangan yang
tidak menguntungkan bagi pembentukan asetoasetil KoA diimbangi oleh reaksi ini, yang
keseimbangannya menguntungkan karena hidrolisis iaktan tioester . 3 Hidroksi 3
metilglutaril KoA kemudian terpecah menjadi asetil KoA dan asetoasetat. Hasil dari keseluruhan
reaksi adalah
2 Asetil KoA + H2O Asetoasetat +2 KoA H+
3 Hidroksibutirat terbentuk melalui reduksi asetoasetat di matriks mitokondria. Rasio
hidroksibutirat terhadap astoasetat tergantung pada rasio NADH / NAD+ di dalam mitokondria .
Karena merupakan asam keto , asetasetat secara lambat mengalami dekarboksilasi spontan
menjadi aseton . bau aseton dapat dideteksi dalam udara pernafasan seseorang yang kadar
asetoasetat dalam darahnya tinggi.


I.1 Asetoasetat adalah merupakan salah satu bahan bakar yang utama dalam jaringan.

Situs utama produksi asetasetat dan 3 hidroksibutirat adalah hati. Senyawa- snyawa ini
berdifusi dari mitokondria hati ke dalam darah dan diangkut ke jaringan perifer. Asetoasetat dan
3- hidroksibutirat merupakan bahan bakar normal pada metabolisme energi dan secara
kwantitatif penting sebagai sumber energi .Otot
jantung dan korteks ginjal menggunakan asetoasetat sebagai sumber energi disbanding glukosa..
glukosa merupakan bahan b akar utama bagi otak dan sel darah merah pada orang yang
mempunyai gizi baik dengan diet seimbang. Tapi otak dapat beradaptasi dan menggunakan
asetoasetat dalam keadaan kelaparan dan diabetes. Pada kelaparan berkepanjangan, 75% bahan
bakar yang diperlukan oleh otak didapat dari asetoasetat.
Asetoasetat dapat diaktifkan melalui pemindahan KoA dari suksinil KoA dalam suatu reaksi
yang dikatalisis oleh suatu koA transferase spesifik. Kemudian, asetoasetil KoA dipecah oleh
tiolase menjadi dua molekul asetil KoA, yang selanjutnya memasuki daur asam sitrat. Hati dapat
membekali organ-organ lain dengan asetoasetat karena hati tidak memiliki KoA transferase
spesifik ini.
Asam lemak dilepaskan oleh jaringan adiposa dan diubah menjadi unit- unit astil oleh hati, yang
kemudian mengeluarkannya sebagai asetoasetat .Kadar asetoasetat yang tinggi dalam darah
menandakan berlimpahnya unit asetil yang menyebabkan berkurangnya laju lipolisis di jaringan
adiposa .


Proses ketogenesis

Lintasan ketogenesis di hati






II. Metabolisme Kolestrol

Jaringan yang mampu mensintesis kolestrol antara lain di hati, korteks adrenal, usus,
testes, kulit, aorta. Sintesis kolestrol berlangsung di bagian sitosol dan mikrosom sel jaringan.
Kolestrol yang disintesis merupakan bagian terbesar dari kolestrol di dalam tubuh,
sedangkan sebagian kecil saja kolestrol berasal dari kolestrol yang terdapat dalam makanan.
Kolestrol diekskresi dari tubuh melalui :
1. Empedu sebagai asam empedu yang dikeluarkan ke lumen usus halus
2. Empedu sebagai sterol netral yang dikeluarkan ke lumen usus halus.
Kolestrol hanya dapat disintesis di dalam tubuh binatang, termasuk manusia, dan tidak
dapat disintesis di dalam tubuh tanaman. Sehingga sebagai sumber kolestrol yang
terdapat dalam makanan adalah makanan yang berasal dari binatan, misalnya: daging,
hati, otak, dan kuning telur.
Untuk memudahkan, sintesis kolestrol dibagi dalam 2 tahap deretan reaksi
berturut-turut berupa tahapan deretan reaksi untuk pembentukan :
1. Senyawa intermediate mevalonat, yang kemudian dilanjutkan ke ;
2. Senyawa intermediate lanosterol, dan lanosterol ini merupakan senyawa sterol
yang dibentuk pertama, selanjutnya lanosterol mengahasilkan kolestrol.

II.1 Pembentukan senyawa intermediate mevalonat

Diawali oleh reaksi penggabungan 2 molekul asetil-SKoA, yang dikatalisis oleh enzim
tiolase, dan dihasilkan asetoasetil-SkoA.
Selanjutnya, asetoasetil-SkoAbereaksi dengan 1 molekul asetil-SkoAlagi membentuk
senyawa B-OH, B-CH3-Glutaril-SkoA (HMG-SkoA). Reaksi ini dikatalisis oleh enzim HMG-
SkoA sintetase.
Akhirnya HMG-SkoA direduksi oleh NADPH+H
+
, yang dikatalisis oleh enzim HMG-
SkoAvreduktase, danterbentuklah mevalonat.

II.2 Pembentukan Sterol/Kolestrol

Perubahan mevalonat menjadi senyawa sterol pertama berupa lenosterol, berlangsung
melalui pembentukan 2 senyawa intermediate, berturut-turut berupa senyawa unit isoprenoid dan
squalen.
Kolestrol diturunkan dari lanosterol melalui reaksi pembentukan senyawa intermediate
berturut-turut berupasenyawa 14-desmetillano-sterol, zimosterol,
7
,
24
-kolestadienol,
desmosterol dan pada akhirnya terbentuklah sterol.


Gambar Lintasan kolesterogenesis

III.Sintesis Asam lemak.

Sintesis asam lemak bukan merupakan kebalikan dari jalur pemecahannya. Sintesis asam
lemak lebih merupakan seperangkat reaksi, yang menunjukkan prinsip bahwa jalur sintesis dan
jalur pemecahan dalam system biologis biasanya berbeda. Beberapa cirri penting jalur biosintesis
asam lemak adalah :
1. Sintesis berlangsung di luar mitokondria, oksidasi terjadi di dalam matriks mitokondria.
2. Zat antara pada sintesis asam lemak berikatan kovalen dengan gugus sulfhidril pada protein
pembawa asil ( ACP ), sedangkan zat antara pada pemecahan asam lemak berikatan dengan
koenzim A.
3. Enzim enzim pada sintesis asam lemak pada organisme yang lebih tinggi tergabung dalam
suatu rantai polipeptida tunggal, yang disebut sintase asam lemak . Sebaliknya, enzim enzim
pemecahan tampaknya tidak saling berikatan.
4. Rantai asam lemak yang sedang tumbuh, diperpanjang dengan cara penambahan berturut
turut unit dua karbon yang berasal dari asetil KoA. Donor aktif unit dua karbon pada tahap
perpanjangan adalah malonil ACP. Reaksi perpanjangan dipacu oleh pelepasan CO2.
5. Reduktor pada sintesis asam lemak adalah NADPH, sedangkan oksidator pada pemecahan
asam lemak adalah NAD dan FAD.
6. Perpanjangan rantai oleh kompleks sontase asam lemak terhenti setelah terbentuknya palmitat
( C16 ). Perpanjangan rantai lebih lanjut dan penyisipan ikatan rangkap oleh system enzim yang
lain.


Tahap-tahap sintesis asam lemak

III.1 Penyimpanan lemak dan penggunaannya kembali

Asam-asam lemak akan disimpan jika tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
energi. Tempat penyimpanan utama asam lemak adalah jaringan adiposa. Adapun tahap-tahap
penyimpanan tersebut adalah:
- Asam lemak ditransportasikan dari hati sebagai kompleks VLDL.
- Asam lemak kemudian diubah menjadi trigliserida di sel adiposa untuk disimpan.
- Gliserol 3-fosfat dibutuhkan untuk membuat trigliserida. Ini harus tersedia dari glukosa.
- Akibatnya, kita tak dapat menyimpan lemak jika tak ada kelebihan glukosa di dalam tubuh.



Dinamika lipid di dalam sel adiposa. Perhatikan tahap-tahap sintesis dan degradasi trigliserida
Jika kebutuhan energi tidak dapat tercukupi oleh karbohidrat, maka simpanan trigliserida
ini dapat digunakan kembali. Trigliserida akan dipecah menjadi gliserol dan asam lemak.
Gliserol dapat menjadi sumber energi (lihat metabolisme gliserol). Sedangkan asam lemak pun
akan dioksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi pula (lihat oksidasi beta).
TRANSPORT LIPID

Lipid ditransport dalam bentuk kompleks Lipoprotein. Produk hasil digesti lipid yang
diabsorpsi oleh sel usus halus diubah kembali menjadi TG oleh sel dan dikemas dalam partikel
lipoprotein yang disebut kilomokron. Kilomikron ini akan dilepaskan ke dalam darah melalui
sistem limfatik.

Sedangkan TG yang disintesis di hati akan dikemas dalam bentuk very low density lipoprotein
(VLDL) dan dilepaskan langsung ke dalam sirkulasi darah.

TG dalam kilomikron dan VLDL akan dihidrolisis menghasilkan asam lemak dan gliserol oleh
enzim lipoprotein lipasedi kapiler dan jaringan adiposa. Hasil asam lemak akan diambil oleh
jaringan tsb.

Sedang gliserol ditransport ke hati dan ginjal untuk diubah menjadi dihidroksi asetonfosfat
(masuk jalur glikolisis Embden Meyerhof) oleh enzim-enzim gliserol kinase dan gliserol-3 P
dehidrogenase.

Di jaringan adiposa mobilisasi TG melibatkan enzim hormone-sensitive triasilgliserol lipase.
Asam lemak akan dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dibawa oleh albumin. Kelarutan
maksimum asam lemak hanya 1/1000000 M. Bila kadarnya melebihi itu maka asam lemak
membentuk misel yang berefek detergen sehingga dapat merusak protein dan struktur membran,
jadi bersifat toksik.






















BODY MASS INDEX

Istilah normal, overweight, dan obese dapat bebeda-beda, masing-masing Negara dan budaya
mempunyai criteria sendiri-sendiri, oleh karena itu, WHO menetapkan suatu
pengukuran/klasifikasi obesitas yang tidak bergantung pada bias-bias kebudayaan. Metode yang
paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas adalah BMI (Body Mass
Index)yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan
(meter). Nilai BMI yang didapat tidak bergantung pada umur dan jenis kelamin.

Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang
dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkankarena berat badannya. Seseorang
dikatakan obese dan membutuhkan pengobatan bila mempunyai BMI diatas 30, dengan kata lain
orang tersebut memiliki kelebihan berat badan sebanyak 20%.

KLASIFIKASI BMI MENURUT WHO (1998)

Kategori BMI (Kg/m2)
Underweight < 18,5 kg/m2
Normal 18,5-24,9 kg/m2
Overweight >= 25 kg/m2
Pre-obese 25 29,9 kg/m2
Obese I 30 34,9 kg/m2
Obese II 35 39,9 kg/m2
Obese III >= 40 kg/m2