Anda di halaman 1dari 26

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


BAB I
PENDAHULUAN
Kehidupan manusia tidak terlepas dari bahan galian. Rumah dari genting,
seisinya, mulai tembok, tegel, keramik, peralatan dapur, motor, mobil, cat sampai ke
bahan bakar, semua berasal dari bahan galian. Tidak bisa dipungkiri bahwa bahan
galian telah mulai dimanfaatkan sejak ribuan tahun lamanya.
Orang-orang Mesir kuno sudah mengetahui keseluruhan dari proses
pengolahan yang lebih memudahkan mereka dalam peleburan kekayaan alam yaitu
berupa partikel-partikel emas, dibandingkan dengan menggunakan metode lainnya
yang terlihat akan menghasilkan hasil yang kurang baik jika diterapkan. Sebagai
hasil dari proses pengolahan ini adalah adanya pengayaan terhadap mineral emas
melalui pencucian untuk memisahkan dengan mineral-mineral ringan yang
merupakan pengotornya.
(Anonim, 2012)
Bahan galian pada umumnya diperlukan sebagai salah satu bahan baku
dalam suatu industri. Agar dapat dimanfaatkan tentunya harus memenuhi
persyaratan. Untuk itulah pada umumnya bahan galian sebelum dimanfaatkan
dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Namun demikian pengolahan bahan galian untuk mendapatkan manfaat
yang maksimal mendapatkan banyak sekali kendala, diantaranya keterbatasan
sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya, keterbatasan operasional
pertambangan dan sebagainya akan menimbulkan dampak negatif yaitu
tertinggalnya bahan galian berharga pada pemrosesan dan hilangnya potensi bahan
galian yang berharga.
Pengolahan Bahan Galian merupakan proses pemisahan mineral berharga
dari gangue-nya (mineral tak berharga), yang dilakukan secara mekanik,
menghasilkan produk yang kaya mineral berharga (konsentrat) dan produk yang
mineral berharganya berkadar rendah karena terdiri dari gangue mineral (tailing).
Bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri (industrial minerals) atau bahan
galian golongan C dan batubara (coal).
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Pengolahan bahan galian atau mineral dressing adalah istilah umum yang
biasa dipergunakan untuk proses pengolahan semua jenis bahan galian/mineral
yang berasal dari endapan-endapan alam pada kulit bumi, untuk dipisahkan menjadi
produk-produk berupa satu macam atau lebih mineral berharga dengan
memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian dan sisanya dianggap
sebagai mineral kurang berharga, yang terdapat bersama-sama dalam alam.
Bahan galian tertinggal adalah bahan galian/endapan berpotensi ekonomi
berupa bahan galian utama, mineral ikutan maupun bahan galian lain pada wilayah
usaha pertambangan dan pengolahan tertentu tetapi karena pertimbangan aspek
teknis, ekonomi dan sosial, belum dapat dimanfaatkan.
Penggolongan atau pengelompokan bahan galian yaitu berdasarkan
Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian.
Pemerintah Indonesia membagi bahan galian menjadi tiga golongan berdasarkan
penggolongan berikut:
1. Nilai strategis atau ekonomis bahan galian terhadap negara
2. Terdapatnya suatu bahan galian dalam alam (genesa)
3. Penggunaan bahan galian bagi industri
4. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak
5. Pemberian kesempatan pengembangan perusahaan
6. Penyebaran pembangunan di daerah
Berdasarkan Undang-undang Pokok Pertambangan, bahan galian dibagi
dalam 3 golongan:
1. Bahan Galian Strategis atau golongan A
Merupakan bahan galian yang strategis bagi pertahanan dan keamanan serta
perekonomian negara. Termasuk dalam golongan ini antara lain minyak bumi,
bitumen cair, lilin bumi, gas alam, bitumen padat, aspal, batubara, uranium,
radium, litium, bahan galian radioaktif lainnya, nikel, kobalt, dan timah.
2. Bahan Galian Vital atau Golongan B
Merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang banyak.
Termasuk dalam golongan ini adalah besi, mangan, molibden, krom, wolfram,
vanadium, titanium, bauksit, tembaga, timbal seng, emas, platina, perak, air
raksa, intan, arsin, antimoni, bismuth, yitrium, retenium, cerium, dan logam
langka lainnya.

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


3. Bahan galian bukan strategis dan vital atau golongan C
Merupakan bahan galian yang tidak termasuk golongan strategis dan vital,
karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional.
Termasuk dalam golongan ini antara lain nitrit, fosfat, asbes, talk, mika, grafit,
magnesit, tawas, oker, batu permata, batu setengah permata, pasir kwarsa,
kaolin, feldspar, gigs, bentonit, batuapung, obsidian, perlit, marmer, batu tulis,
batu kapur, dolomit, kalsit, granit, andesit, basalt, tanah liat, pasir dan lain-lain,
sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan A maupun B.
Bahan galian menurut pemanfaatannya dikelompokkan atas:
1. Bahan Galian Logam/Bijih/Ore
Dari pengolahan dapat diambil dan dimanfaatkan logamnya, seperti
timah putih, besi, tembaga, nikel, emas, perak, dll. Pengolahan tahap pertama
biasanya disebut dengan Ore Dressing karena yang diolah adalah ore/bijih.
Disebut juga Mineral Processing karena hasil dari proses masih berupa mineral,
dan disebut juga sebagai Unit Operation karena proses ini berdasarkan sifat
mineralnya.
2. Bahan Galian Energi
Merupakan bahan galian yang dimanfaatkan untuk energi, seperti
minyak bumi dan batubara. Agar batubara dapat memenuhi kriteria pasar maka
harus dilakukan pengolahan dengan pencucian.
3. Bahan Galian Industri
Merupakan bahan galian yang dimanfaatkan untuk industri, seperti
asbes, aspal, bentonit, batugamping, batupasir, dan lain-lain. Untuk pengolahan
dilakukan peremukan, penggilingan, pengayakan maupun klasifikasi. Untuk
pengotor bersifat logam dilakukan dengan Flotasi atau Magnetic Separator.
Menurut cara terbentuknya, penggolongan bahan galian terbagi menjadi
beberapa macam, yaitu bahan galian magmatik, bahan galian pegmatit, bahan
galian hasil pengendapan, bahan galian hasil pengayaan sekunder, bahan galian
hasil metemorfosis kontak, dan bahan galian thermal.
Berdasarkan kandungan mineralnya bahan galian dapat dibedakan dalam
dua golongan, yaitu:
1. Bijih (ore), bahan galian sebagai sumber bahan logam, contohnya kasiterit (Sn),
Hematit (Fe), Bauksit (Al).
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


2. Bukan Bijih, Sebagian sumber bahan bukan logam, contohnya belerang, fosfat,
kaolin, kapur.
Berdasarkan mineral ekonomi, bahan galian dapat digolongkan menjadi dua
golongan, yaitu:
1. Metalic Mineral
a. Precious metal, yaitu emas, platina dan perak
b. Base metal, yaitu tembaga, seng dan timah
c. Steel industry, yaitu besi, nikel, chromium, mangan, tungsten dan vanadium
d. Electronic industry, yaitu cadmium, bismuth dan germanium
e. Radio active, yaitu Uranium dan radium
2. Non-Metalic Mineral
a. Isolator, yaitu Mika dan asbes
b. Refractory material, yaitu silica, alumina, zirkon dan grafit
c. Abresive Mineral, yaitu corundum, garnet, intan dan topas
d. General industrial Mineral, yaitu fosfat, belerang, batugamping, garam, barit,
boraks, feldspar, magnesit, gypsum, clay (lempung), dan lain-lain
3. Fuel Mineral
a. Solid (zat padat), yaitu coal, lignite dan oil shale
b. Liquid (zat cair), yaitu minyak bumi
Pada pengolahan bahan galian dalam prosesnya lebih mendasarkan pada
sifat fisik mineral dari pada sifat fisik kimia. Sifat-sifat fisik mineral yang penting
adalah kekerasan/kelunakan (hardness/softness), kerapuhan (brittleness), structure
dan fracture, agregasi (aggregation), warna dan kilap (listre), berat jenis (specific
gravity), sifat kemagnetan (magnetic susceptibility), dan sifat kelistrikan (electro-
conductivity).
Pengolahan bahan galian merupakan suatu proses untuk mempertinggi
mutu atau kualitas dari bahan galian tersebut. Selain itu pengolahan bahan galian
juga dapat berguna untuk mendapatkan mineral atau unsur yang berharga dari
bahan galian.
Pengolahan bahan galian sering kali disebut dengan mineral dressing.
Secara umum mineral dressing adalah suatu proses pengolahan bahan
galian/mineral hasil penambangan guna memisahkan mineral berharga dari mineral
pengotornya yang kurang berharga, yang terdapatnya bersama-sama (gangue
mineral). Teknik pengolahan bahan galian bermacam-macam. Pengaplikasiannya
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


sangat tergantung pada jenis bijih atau mineral yang akan ditingkatkan
konsentrasinya.
Tujuan digunakannya sistem alat-alat konsentrasi dalam mengolah suatu
bahan galian adalah untuk memurnikan konsentrasi bahan galian tersebut.
Penambangan intan yang dipisahkan dari mineral lain dilakukan dengan konsep
konsentrasi berdasarkan atas gaya berat seperti meja goyang atau shaking table
dan alat-alat jig.
Pemurnian feldspar mempergunakan proses gaya berat dan juga flotasi
untuk menghasilkan feldspar bermutu tinggi. Permurnian fosfat dilakukan dengan
cara flotasi, sedangkan barit serbuk yang merupakan hasil pengolahan tailing
pertambangan emas di Pulau Wetar diolah dengan cyclone, classifier, dan
pengering atau dryer. Contoh bahan galiannya adalah feldspar dan zirkon.
Tujuan diberlakukannya sistem pengolahan alat konstentrasi dan proses
kimia dalam pengolahan bahangalian adalah untuk meningkatkan kadar suatu
unsur. Pengolahan belerang dapat dilakukan dengan proses penyulingan dalam
usaha menfapatkan belerang dalam mutu tinggi.
Pemurnian pasir besi dengan memperhatikan perbedaan berat jenis dengan
mineral yang lain dan sifat kemagnetannya telah dilakukan di penambangan pasir
besi di Cilacap, juga untuk meningkatkan kadar suatu unsur bahan galian.
(Setyowati, 2001)
Pemilihan teknik didasarkan pada perbedaan sifat-sifat fisik dari mineral-
mineral yang ada dalam bijih tersebut. Khusus untuk batubara, proses pengolahan
itu disebut pencucian batubara (coal washing) atau preparasi batubara (coal
preparation).
Ada beberapa faktor-faktor penting dalam teknik pengolahan bahan galian,
yaitu:
1. Potensi endapan bahan galian
Potensi, keberadaan/lokasi mineral perlu diketahui. Bila potensi besar
dapat ditambang secara menguntungkan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi,
maka studi awal penelitian dapat dilakukan.
2. Sifat/karakteristik bijih (mineral hasil tambang)
a. Bahan galian dialam perlu diolah karena masih mengandung pengotor untuk
meningkatkan mutu dengan cara memisahkan mineral pengotor di dalam
mineral.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


b. Contoh uji karakteristik bijih (memerlukan sejumlah tertentu contoh bahan
galian).
c. Mineral Basah dikeringkan, diremuk dan digerus sampai ukuran 100 mesh.
d. Sampling baku: Splitting, cone quatering diperoleh contoh representatif
kemudian dikirim ke Laboratorium (analisis Kimia dan sifat fisiknya).
e. Metode analisis kimia: AAS, Titrasi dan Gravimetri.
f. Komposisi mineral diuji: X-ray difraction (xrd).
g. Ukuran dan bentuk mineral serta derajat liberasinya: Mikroskop Optik,
Scanning Electron Microscope (SEM), dan lain-lain.
h. Distribusi Ukuran partikel: Alat particle size distribution.
i. Untuk mengukur berat jenis: Piknometer.
j. Untuk kerapatan ruah (bulk density): Density meter.
3. Arah pemanfaatan mineral yang optimal
4. Pemilihan teknologi
a. Studi Karakteristik Bahan Baku dan studi literatur.
b. Teknologi tepat.
c. Metode pengolahan harus efektif, efisien dan aman terhadap lingkungan.
d. Teknik pengolahan mineral logam meliputi konsentrasi, ekstraksi, purifikasi.
e. Untuk mineral industri meliputi aktivasi (pemanasan atau pereaksi kimia),
kalsinasi, flotasi dan modifikasi.
f. Konsentrasi gravitation: sluice box, shaking table, jig, spiral claissifier,
humprey spiral, dan hidrosiklon.
g. Konsentrasi: sifat permukaan (surface tension), flotation dan dms.
h. Extraction: pelarutan menggunakan tangki pengaduk (mixer).
i. Purifikasi dengan menggunakan elektrolisa, dapur pelebur.
j. Proses pengolahan lain seperti kalsinasi, HMS, roasting, smelting adsorpsi,
ion exchange, dan magnet separation.
Teknik-teknik yang digunakan dalam proses pengolahan bahan galian
diantaranya adalah:
1. Konsentrasi gravitasi
Teknik ini memanfaatkan perbedaan berat jenis antara mineral-mineral.
Mineral-mineral dipisahkan dengan peralatan yang berprinsip pada pemisahan
berat jenis seperti jigging, rake classifier, spiral classifier, vibrating table, dan
lain-lain.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


2. Flotasi
Teknik ini memanfaatkan perbedaan sifat permukaan mineral-mineral.
Dengan menambahkan reagen kimia yang bisa membuat permukaan salah
satu mineral menjadi hidrofil sementara bagian reagen itu sendiri memiliki sifat
hidrofob, maka mineral bersangkutan dapat diangkat oleh gelembung yang
ditiupkan ke permukaan untuk dipisahkan. Biasnya mineral-mineral sulfida
dipisahkan dengan cara ini.
3. Magnetic Separation
Cara ini memanfaatkan sifat magnet dari mineral-mineral. Mineral yang
bersifat feromagnetik dipisahkan dari mineral yang bersifat diamagnetik.
Dasar pemikiran dalam teknik pengolahan bahan galian, yaitu:
1. Dalam usaha pertambangan, tidak semua bahan galian dapat tereksploitasi,
terolah, dan termanfaatkan secara optimal karena faktor teknologi, ekonomi dan
sosial.
2. Perlunya inventarisasi bahan galian tertinggal dan bahan galian berpotensi
terbuang secara sistematis agar potensi bahan galian tidak ada yang
terabaikan.
3. Diperlukan data potensi bahan galian tertinggal dan bahan galian berpotensi
terbuang sebagai dasar penetapan kebijakan dan pemanfaatannya.
Inventarisasi bahan galian adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan
pencatatan, penggambaran, perekaman, pengambilan dan manajemen data serta
informasi sumber daya mineral baik yang bersifat data primer maupun sekunder
yang diperoleh dari hasil kegiatan eksplorasi, eksploitasi, dan konservasi.
Pedoman teknis ini merupakan acuan bagi pemerintah atau instansi
berwenang dalam melakukan inventarisasi bahan galian tertinggal dan bahan galian
berpotensi terbuang, sehingga menghasilkan data yang lengkap, tepat dan akurat
untuk dipergunakan sebagai dasar evaluasi bahan galian yang ada agar tidak
terabaikan dan tersia-siakan dalam kehidupan mendatang.
Jenis atau kelompok bahan galian tertinggal dan bahan galian berpotensi
terbuang dapat berupa bahan galian utama, bahan galian lain dan mineral ikutan.
Adapun komoditas yang termasuk dalam jenis atau kelompok bahan galian tersebut
dapat terdiri dari satu komoditas bahan galian utama, satu atau beberapa komoditas
bahan galian lain dan satu atau beberapa mineral ikutan.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Pada perkembangannya, istilah Mineral Dressing telah berkembang menjadi
beberapa bagian tersendiri, yaitu meliputi:
1. Mineral Dressing, yaitu proses pengolahan bahan galian anorganik secara
mekanis tanpa merubah sifat-sifat kimia dan fisik dari mineral-mineral tersebut
atau perubahan hanya sebagian dari sifat fisik mineral tersebut. Proses ini
dapat dilakukan dengan beberapa jalan, diantaranya:
a. Memperkecil ukuran bahan atau mineral-mineral tersebut, sehingga terjadi
liberalisasi sempurna dari partikel-pertikel yang tidak sejenis satu sama
lainnya.
b. Memisahkan partikel-partikel yang tidak sama komposisi kimianya atau
berbeda sifat fisiknya.
2. Extractive Metallurgy, juga merupakan pengolahan bahan galian aborganik,
tetapi dalam prosesnya mineral-mineral tersebut mengalami perubahan
seluruhnya atau sebagian dari sifat kimia dan fisik mineral-mineral tersebut.
Metalurgi ekstraksi kemudian dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Piro metalurgi (pyro metallurgy) yang dalam proses ekstraksinya
menggunakan energi panas yang tinggi (bisa sampai dengan 2.000
o
C).
b. Hidro metalurgi (hydro metallurgy) yang menggunakan larutan kimia atau
reagen organik untuk menangkap logamnya.
c. Elektro metalurgi (electro metallurgy) yang memanfaatkan teknik elektro-
kimia (antara lain elektrolisis) untuk memperoleh logamnya.
3. Fuel Technology, yaitu proses pengolahan bahan galian organik dimana dalam
prosesnya mengalami perubahan seluruhnya atau sebagian dari sifat kimia dan
fisik mineral-mineral tersebut.
(Nurhakim, 2007)
Proses pengolahan berlangsung secara mekanis tanpa merubah sifat kimia
dan fisik mineral tersebut atau hanya sebagian dari sifat fisik itu saja yang berubah.
Hal ini dapat dilakukan dengan jalan memperkecil ukuran bahan atau mineral
tersebut sehingga terjadi liberasi sempurna dari partikel yang tidak sejenis satu
sama lainnya dan memisahkan partikel yang tidak sama komposisi kimia atau
berbeda sifat fisiknya.


PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Secara umum, setelah proses mineral dressing akan dihasilkan tiga produk,
yaitu:
1. Konsentrat, dimana logam-logam berharga terkumpul dan dengan demikian
kadarnya menjadi tinggi.
2. Tailing, dimana bahan-bahan tidak berharga (bahan ikutan, gangue mineral)
terkumpul. Inventarisasi bahan galian berpotensi terbuang yang sudah
tertambang dan terolah berupa tailing dengan cara pengumpulan data sekunder
dan primer. Pengumpulan data sekunder meliputi data eksplorasi, studi
kelayakan, eksploitasi dan operasi produksi, terutama pengolahan dan tata
letak lokasi tailing. Pengumpulan data primer berupa uji lapangan dengan
pengumpulan data lokasi tailing, jenis bahan galian utama dan mineral ikutan,
kadar atau kualitas, kuantitas bahan galian, penanganan tailing yang berkaitan
dengan aspek lingkungan, serta pemercontohan dan analisis percontohan di
laboratorium.
3. Middling, yang merupakan bahan pertengahan antara konsentrat dan tailing.
Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam
sudah jarang yang mempunyai mutu atau kadar mineral berharga yang tinggi dan
siap untuk dilebur atau dimanfaatkan.
Oleh sebab itu bahan galian tersebut perlu menjalani pengolahan bahan
galian (PBG) agar mutu atau kadarnya dapat ditingkatkan sampai memenuhi kriteria
pemasaran atau peleburan.
Proses pengolahan bahan galian merupakan jembatan antara penambangan
dengan ekstraksi logam (metalurgi ekstrasi). Karena pengolahan bahan galian
mendasarkan atas sifat fisik mineral, maka informasi tentang Bahan Galian yang
terkandung dalam tentang mineral yang bahan galian sangat diperlukan, misalnya:
1. Macam dan komposisi mineral dalam bahan galian.
2. Kadar masing-masing mineral.
3. Besar kecilnya ukuran/distribusi ukuran.
4. Macam dan tipe ikatan mineral dalam bahan galian.
5. Derajat liberasi (kebebasan) dari mineral.
6. Sifat fisik mineral, yaitu:
a. Hardness (kekerasan), structure dan fracture
Sifat ini diperlukan dalam menentukan alat penghancur yang tepat saat akan
mengecilkan ukuran bahan galian.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


b. Ikatan mineral dan besar kecilnya kristal
Berkaitan dengan derajat liberasi. Semakin tinggi derajat liberasi akan
semakin sempurna proses pengolahan.
c. Warna dan kilap
Berkaitan dengan proses pemisahan secara hand sorting/hand picking, yaitu
pemisahan yang dilakukan dengan tangan biasa.
d. Specific gravity (SG)
Berkaitan dengan pengolahan konsentrasi gravimetri.
e. Magnetic susceptibility (sifat kemagnetan)
Berkaitan dengan pengolahan magnetic separation.
f. Electro conductivity (daya hantar listrik)
Berkaitan dengan pengolahan Electrostatic separation atau High Tension
Separation.
g. Sifat permukaan senang tidaknya terhadap udara
Berkaitan dengan pengolahan flotasi.
Dari segi ekonomi, pengolahan bahan galian sangat berguna karena
bertujuan untuk:
1. Memudahkan dalam pengolahan lebih lanjut.
Umumnya, setelah ditambang, bahan galian tidak dapat langsung
digunakan. Namun kembali digunakan sebagai bahan baku dari industri lain
dengan diadakannya pengolahan awal. Maka hal ini akan memudahkan
konsumen untuk langsung menggunakan bahan galian tersebut tanpa harus
mengeluarkan cost untuk pengolahan awal, sehingga konsumen akan dapat
membeli bahan galian dengan harga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
sebelum pengolahan awal.
2. Memaksimalkan jumlah daya angkut.
Dengan dipisahkannya antara tailing dengan konsentrat, maka pada
saat proses pemindahan bahan galian, kita tidak perlu memindahkan zat
pengotornya, sehingga jumlah bahan galian yang dapat kita pindahkan menjadi
maksimal dan hal ini akan mempengaruhi pada cost transportasi pemindahan
bahan galian (Hauling) yang semakin rendah.
Dari segi ekonomi dan teknis, pengolahan awal ini juga memliki beberapa
keuntungan, diantaranya:
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


1. Memudahkan dalam pengolahan lanjutan. Dengan sudah terpisahnya
konsentrat dan tailing, maka pengolahan lanjutan untuk konsentrat ini akan
menjadi lebih mudah.
2. Kemungkinan mendapatkan mineral ikutan. Pada saat pengolahan, proses
utama yang dilakukan adalah memisahkan bahan galian utama dengan
material lain. Namun dalam beberapa kasus, material tersebut juga dapat
berupa bahan galian ekonomis, seperti adanya unsur emas pada
penambangan tembaga yang dilakukan PT Freeport Indonesia.
3. Mengurangi ongkos angkut (transportasi) dan peleburan. Karena sebagian
waste telah terbuang selama proses dressing, kadar bijih telah ditingkatkan dan
tonase yang dileburkan lebih sedikit.
4. Mengurangi jumlah flux yang ditambahkan dalam peleburan serta mengurangi
metal yang hilang bersama slug. Flux merupakan katalis yang diberikan pada
proses peleburan yang berfungsi untuk meningkatkan laju reaksi peleburan
pada pengolahan bahan galian sedangkan slug merupakan zat sisa dari proses
peleburan.
5. Meningkatkan nilai jual.
6. Menambah kualitas dan kuantitas.
7. Mengurangi kehilangan (losses) logam berharga pada saat peleburan.
8. Proses pemisahan (pengolahan) secara fisik jauh lebih sederhana dan
menguntungkan daripada proses pemisahan secara kimia.
(Anonim, 2012)
Proses pengolahan berlangsung secara mekanis tanpa merubah sifat-sifat
kimia dan fisik dari mineral-mineral tersebut atau hanya sebagian dari sifat fisik saja
yang berubah. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan memperkecil ukuran bahan atau
mineral-mineral tersebut, sehingga terjadi liberasi sempurna dari partikel-partikel
yang tidak sejenis satu sama lain. Kemudian memisahkan partikel-partikel yang
tidak sama komposisi kimianya atau berbeda sifat fisiknya.
Pada pengolahan bahan galian, ada beberapa peningkatan mutu pada
bahan galian sehingga didapat hasil yang maksimal, diantaranya:
1. Pemurnian dengan sistem konsentrasi
2. Peningkatan kadar suatu unsur dengan proses kimia
3. Peningkatan sifat kimia dengan pembakaran dan pengaktifan kimia
4. Peningkatan sifat fisika dengan pemecahan dan delaminasi
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


5. Peningkatan bentuk permukaan dengan pemolesan
Proses pengolahan bahan galian bijih logam, yaitu sebelum bijih logam
diproses lebih lanjut menjadi logam, terlebih dahulu dilakukan preparasi terhadap
bijih-bijih tersebut. Proses preparasi itu meliputi pemecahan (breaking), pengayakan
(sizing) dan pembenahan (dressing). Bijih-bijih yang diperoleh dari penambangan
biasanya mempunyai ukuran melintang 1200-1500 mm. Dalam pengerjaan
metalurgi umumnya dibutuhkan bijih-bijih yang cukup halus (kadang sampai 0,1
mm), sehingga bijih-bijih yang diperoleh dari penambangan harus diperkecil atau
dipecah terlebih dahulu.
Berdasarkan ukuran feed dan ukuran produk dari pemecahan, maka proses
pemecahan dikelompokkan menjadi:
1. Breaking, yaitu pemecahan dengan ukuran feed 300-1500 mm dan ukuran
produk 100-300 mm.
2. Crushing, yaitu pemecahan dengan ukuran feed 100-300 mm dan ukuran
produk 10-50 mm.
3. Fine Crushing, yaitu pemecahan dengan ukuran feed 10-50 mm dan ukuran
produk 2-10 mm.
4. Grinding, yaitu pemecahan dengan ukuran feed 2-20 mm dan ukuran produk
0,05 mm. Breaking dilakukan dengan memakai pemecah Beater Mill, crushing
dan fine crushing menggunakan Gyratory Crusher dan grinding menggunakan
Ball Mill.
5. Pembenahan (dressing)
Pembenahan bijih-bijih adalah proses pemisahan bijih dari unsur ikutan
atau kotoran tanpa merubah sifat kimia atau sifat fisik dari bijih-bijih. Dengan
demikian bijih-bijih akan memiliki persentase bahan tambang atau concentrate
yang lebih tinggi. Pembenahan atau pemisahan bahan tambang dari unsur
ikutannya dilakukan dengan beberapa metoda, yaitu:
a. Pemisahan dengan cara disortir atau dipilih, berdasarkan warna atau bentuk
bijihnya. Pemilihan biasanya dilakukan pada permukaan yang datar atau
menggunakan konveyor sortir.
b. Pemisahan berdasarkan perbedaan kekerasan atau kerapuhan bijih.
c. Pemisahan berdasarkan sifat gesekan bijih. Dalam hal ini bijih-bijih
diluncurkan pada bidang miring, sehingga bahan yang lebih ringan akan
meluncur lebih cepat.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


d. Pemisahan secara elektrostatik, yaitu pemisahan bijih berdasarkan
konduktivitas listrik dan sifat-sifat kelistrikannya.
e. Pemisahan secara magnetis, dimana bahan tambang dipisahkan
berdasarkan sifat magnetiknya.
f. Pemisahan berdasarkan gravitasi bijih-bijih tambang. Dalam hal ini bijih-bijih
dibedakan berdasarkan kecepatan tenggelam atau jatuhnya bijih-bijih
tersebut dalam suatu cairan atau udara.
g. Pemisahan dengan menggunakan suatu medium berat, dalam hal ini akan
terdapat bijih-bijih yang mengapung dan tenggelam, tergantung pada massa
jenis bijih dan medium yang digunakan (cairan organik atau larutan).
Tahap-tahap utama dalam proses pengolahan bahan galian dapat pula
digolongkan menjadi:
1. Kominusi atau reduksi ukuran (comminution)
Kominusi atau pengecilan ukuran adalah proses mereduksi ukuran butir
sehingga menjadi lebih kecil dari ukuran semula. Hal ini dapat dilakukan
dengan crushing (peremukan) untuk proses kering sedangkan grinding
(penggilingan) digunakan untuk proses basah dan kering. Selain untuk
mereduksi ukuran butir, kominusi juga untuk meliberasi bijih, yaitu proses
melepaskan mineral bijih dari ikutannya yang merupakan gangue mineral.
Kominusi ada dua macam, yaitu:
a. Peremukan atau pemecahan (crushing).
b. Penggerusan atau penghalusan (grinding).
Kominusi merupakan tahap awal dalam proses pengolahan bahan
galian yang bertujuan untuk:
a. Membebaskan atau meliberasi (to liberate) mineral berharga dari material
pengotornya.
b. Menghasilkan ukuran dan bentuk partikel yang sesuai dengan kebutuhan
pada proses berikutnya.
c. Memperluas permukaan partikel agar dapat mempercepat kontak dengan
zat lain, misalnya reagen flotasi.
Di samping itu, kominusi, baik peremukan maupun penggerusan, bisa
terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap pertama atau primer (primary stage).
b. Tahap kedua atau sekunder (secondary stage).
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


c. Tahap ketiga atau tersier (tertiary stage).
d. Terkadang jika diperlukan ada tahap keempat atau kwarter (quaternary
stage).
Faktor-faktor yang mengendalikan kominusi yaitu:
a. Karakteristik dari sifat mineral, terdiri dari :
1) Tingkat homogenitas dari bijih, misal bijih yang brittle, fibrous lebih mudah
pecah dibandingkan dengan yang kompak.
2) Struktur.
3) Kekerasan.
4) Kandungan air, dimana bijih yang mempunyai kandungan air yang tinggi
akan mudah lengket pada alat.
b. Rasio Pengecilan
Adalah suatu proses pengecilan ukuran atau suatu perbandingan
antara umpan yang masuk dalam crusher dengan ukuran hasil produksi
(ukuran yang keluar).
c. Penghancuran
Penghancuran dan Penggerusan mineral bijih, dan segala
pemanfaatannya dengan cara pencucian untuk menghilangkan mineral-
mineral pengotornya telah diterapkan sejak zaman purba. Kegiatan
penghancuran mineral bijih pada masa primitif telah dilakukan dengan
hentakan tangan menggunakan batu keras yang kemudian diganti dengan
menggunakan palu logam.
2. Peremukan atau pemecahan (Crushing)
Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian/bijih yang
langsung dari tambang (ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar
(mempunyai diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa
sampai ukuran 2,5 cm.
Peralatan yang dipakai antara lain adalah jaw crusher, gyratory crusher,
cone crusher, roll crusher, impact crusher, rotary breaker, dan hammer mill.
3. Penggerusan atau penghalusan (Grinding)
Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah
berukuran 2,5 cm menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan
dibutuhkan media penggerusan yang antara lain terdiri dari bola-bola baja atau
keramik (steel or ceramic balls), batang-batang baja (steel rods), dan campuran
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang disebut semi
autagenous mill (SAG). Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau
bijihnya yang saling menggerus dan disebut autogenous mill. Peralatan
penggerusan yang dipergunakan adalah:
a. Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik.
b. Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja.
c. Semi autogenous mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah
bahan galian atau bijihnya sendiri.
d. Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya
sendiri.
Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan diperoleh
bermacam-macam ukuran partikel. Oleh sebab itu harus dilakukan pemisahan
berdasarkan ukuran partikel agar sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan pada
proses pengolahan yang berikutnya.
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam
skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu:
1. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
2. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).
Saringan (sieve) yang secara umum sering dipakai di laboratorium adalah:
1. Hand sieve
2. Vibrating sieve series / Tyler vibrating sive
3. Sieve shaker / rotap
4. Wet and dry sieving
Sedangkan alat yang digunakan untuk mengayak (screen) yang berskala
industri antara lain:
1. Stationary grizzly
2. Roll grizzly
3. Sieve bend
4. Revolving screen
5. Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, dan lain-lain)
6. Shaking screen
7. Rotary shifter
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Ada beberapa jenis pengolahan bahan galian, yaitu:
1. Konsentrasi Gaya Berat (Heavy Medium Concentration)
Metoda pemisahan secara gaya berat umumnya dipergunakan untuk
memisahkan mineral bijih dari mineral pengganggunya atau proses pencucian
batubara. Teknik pemisahan ini efesien untuk proses konsentrasi mineral
dengan selang ukuran 10 50 mm dan sangat baik untuk pabrik yang
direncanakan berkapasitas besar.
Metoda pemisahan mempergunakan prinsip perbedaan berat jenis,
kecepatan gerak relatif dan gaya tahanan terhadap gerak partikel yang
diberikan oleh faktor kekentalan fluida. Pemisahan efektif dapat terjadi bila ada
perbedaan berat jenis yang jelas antara mineral utama dan mineral ikutannya.
Gerak partikel di dalam fluida dipengaruhi faktor berat jenis dan ukuran
partikel, ukuran partikel lebih besar akan mendapat pengaruh tahanan gaya
yang lebih besar dari pada partikel yang lebih kecil. Umpan proses harus
mempunyai ukuran partikel yang terkontrol agar gerak relatif partikel hanya
dipengaruhi oleh perbedaan berat jenis partikel dan tidak dipengaruhi oleh
perbedaan ukuran.
2. Metalurgi Ekstraktif (Extractive Metallurgy)
Langkah-langkah yang digunakan untuk mengambil logam dan mineral
yang mengandung berbagai unsur logam menjadi logam dengan kemurnian
yang diperlukan untuk pemakaian tertentu disebut metalurgi ekstraktif. Langkah
menghasilkan logam atau metalurgi ekstraktif tersebut terdiri dari jalur
pirometalurgi, hidrometalurgi dan elektrometalurgi. Setiap proses dapat
digunakan untuk menghasilkan logam-logam dengan rentang kemurnian yang
luas.
Suatu pemahaman tentang bagaimana proses dapat dimanipulasikan
untuk menghasilkan logam dengan komposisi yang diinginkan dapat diperoleh
dari prinsip-prinsip teori yang mengendalikan kecepatan dan efektifitas
meluasnya reaksi kimia yang terjadi. Termodinamika menentukan titik terakhir
atau kesetimbangan dari reaksi kimia dan dapat digunakan untuk menyelidiki
seberapa jauh titik akhir dapat dirubah dengan memberi variasi kondisi yang
diterapkan seperti suhu, tekanan dan komposisi padatan, cairan atau gas.
Kinetika mengendalikan kecepatan reaksi menuju kesetimbangan dan
menentukan waktu berakhirnya reaksi.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


3. Karbon dalam Luluhan (Carbon in Pulp)
Karbon dalam luluhan adalah sistem perolehan emas yang banyak
digunakan karena modal yang diperlukan dan biaya operasionalnya relatif
murah dibanding dengan metode Merill-Crowe karena tidak diperlukannya
sirkuit untuk memisahkan padatan/larutan. Metode ini memanfaatkan
kemampuan karbon aktif untuk menyerap emas-kompleks dari larutan sianida.
Dalam proses carbon in pulp luluhan ditransfer ke dalam sirkuit adsorpsi emas
terdiri dari beberapa seri tank aduk. Luluhan hasil diumpankan pada satu seri
sedangkan karbon aktif ditambahkan pada seri berikutnya dan mengalir
berlawanan dengan arus luluhan.
4. Karbon dalam lindian (Carbon in leach)
Perbedaan antara carbon in leach dengan carbon in pulp adalah dalam
proses pencampuran karbon aktif. Dalam proses yang pertama, karbon aktif
dimasukkan langsung dalam sirkuit lindi sianida dan dalam proses pelindian
atau serapan dilaksanakan secara bersama-sama. Hal ini menguntungkan
karena tidak diperlukan sirkuit serapan secara terpisah seperti yang terjadi
dalam carbon in pulp tetapi akan membatasi fleksibilitas operasional.
Karaktristik bijih akan menetukan pilihan yang mana akan dipakai antara carbon
in leach dan carbon in pulp.
5. Pengolahan Bahan Galian Uji Endap-Apung Batubara
Uji endap-apung batubara dilakukan untuk menentukan karakteristik
ketercucian batubara dari pengotornya berdasarkan densitasnya. Dari data
hasil uji dapat dibuat kurva ketercucian batubara yang dapat memberikan
informasi tentang perolehan maksimum batubara bersih hasil pencucian-
kandungan abu pengotor, kandungan abu yang masih ikut ke dalam batubara
bersih dan karakteristik ketercucian batubara menjadi batubara bersih pada
densitas tertentu.
Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan
pengendapannya dalam suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam
suatu alat yang disebut classifier.
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu produk yang berukuran
kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas disebut overflow dan produk yang
berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian bawah (dasar) disebut
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


underflow. Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara
(concept), yaitu partition concept, tapping concept, dan rein concept.
Hal ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan bermacam-
macam ukuran jatuh bebas di dalam suatu media atau fluida (udara atau air), maka
setiap partikel akan menerima gaya berat dan gaya gesek dari media. Pada saat
kecepatan gerak partikel menjadi rendah (tenang/laminer), ukuran partikel yang
besar-besar mengendap lebih dahulu, kemudian diikuti oleh ukuran-ukuran yang
lebih kecil, sedang yang terhalus (antara lain slimes) akan tidak sempat
mengendap.
Peralatan yang umum dipakai dalam proses klasifikasi adalah:
1. Scrubber
2. Log washer
3. Sloping tank classifier (rake, spiral dan drag)
4. Hydraulic bowl classifier
5. Hydraulic clindrical tank classifier
6. Hydraulic cone classifier
7. Counter current classifier
8. Pocket classifier
9. Hydrocyclone
10. Air separator
11. Solid bowl centrifuge
12. Elutriator
Agar bahan galian yang mutu atau kadarnya rendah (marginal) dapat diolah
lebih lanjut, yaitu diambil (diekstrak) logamnya, maka kadar bahan galian itu harus
ditingkatkan dengan proses konsentrasi. Sifat-sifat fisik mineral yang dapat
dimanfaatkan dalam proses konsentrasi adalah:
1. Perbedaan berat jenis atau kerapatan untuk proses konsentrasi gravitasi dan
media berat.
2. Perbedaan sifat kelistrikan untuk proses konsentrasi elektrostatik.
3. Perbedaan sifat kemagnetan untuk proses konsentrasi magnetik.
4. Perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses flotasi.



PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Proses peningkatan kadar itu ada bermacam-macam, antara lain:
1. Sorting atau pemilahan
Bila ukuran bongkahnya cukup besar, maka pemisahan dilakukan dengan
tangan (manual), artinya yang terlihat bukan mineral berharga dipisahkan untuk
dibuang.
2. Konsentrasi Gravitasi (Gravity Concentration)
Yaitu pemisahan mineral berdasarkan perbedaan berat jenis dalam media
fluida, memanfaatkan perbedaan kecepatan pengendapan mineral yang ada.
Ada 3 (tiga) cara pemisahan secara gravitasi bila dilihat dari segi gerakan
fluidanya, yaitu:
1. Fluida tenang, contoh dense medium separation (DMS) atau heavy medium
separation (HMS).
2. Aliran fluida horisontal, contoh sluice box, shaking table dan spiral
concentration.
3. Aliran fluida vertikal, contoh jengkek (jig).
Bila jumlah partikel (mineral) di dalam fluida relatif sedikit, maka akan terjadi
pengendapan bebas (free settling). Tetapi bila jumlah partikel banyak gerakannya
akan terhambat sehingga terbentuk stratifikasi yang terdiri dari 3 (tiga) tahap
sebagai berikut:
1. Hindered settling classification, yaitu klasifikasi pengendapannya terhalang.
2. Differential acceleration pada awal pengendapan, artinya partikel yang berat
mengendap lebih dahulu.
3. Consolidation trickling pada akhir pengendapan, yaitu partikel-partikel kecil
berusaha mengatur diri di antara partikel-partikel besar sesuai dengan berat
jenisnya.
Peralatan konsentrasi gravitasi yang banyak dipakai adalah: jengkek (jig)
dengan bermacam-macam reka cipta (design), meja goyang (shaking table),
konsentrator spiral (humprey spiral concentrator), dan palong atau sakan (sluice
box). Konsentrasi dengan media berat (dense/heavy medium separation)
merupakan proses konsentrasi yang bertujuan untuk memisahkan mineral-mineral
berharga yang lebih berat dari pengotornya yang terdiri dari mineral-mineral ringan
dengan menggunakan medium pemisah yang berat jenisnya lebih besar dari air
(berat jenisnya > 1).
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Produk dari proses konsentrasi ini adalah endapan (sink) yang terdiri dari
mineral-mineral berharga yang berat dan apungan (float) yang terdiri dari mineral-
mineral pengotor yang ringan. Peralatan yang biasa dipakai adalah gravity
dense/heavy medium separators yang berdasarkan bentuknya ada 2 (dua) macam,
yaitu drum separator karena bentuknya silindris dan cone separator karena
bentuknya seperti corongan.
Media pemisah yang pernah dipakai antara lain:
1. Air + magnetit halus dengan kerapatan 1,25 2,20 ton/m
3
.
2. Air + ferrosilikon dengan kerapatan 2,90 3,40 ton/m
3
.
3. Air + magnetit + ferrosilikon dengan kerapatan 2,20 2,90.
4. Larutan berat seperti tetra bromo ethana (b.j. = 2,96), bromoform (b.j. = 2,85)
dan methylene jodida (b.j. = 3,32). Tetapi larutan berat ini harganya mahal, oleh
sebab itu hanya dipakai untuk percobaan-percobaan di laboratorium.
Ada beberapa cara pemisahan yang mendasar pada sifat fisik mineral,
diantaranya adalah:
1. Warna, kilap dan bentuk kristal
Konsentrasi yang dilakukan dengan tangan biasa (hand picking).
Mineral-mineral yang bersifat konduktor antara lain adalah:
a. Magnetit (Fe
3
O
4
)
b. Kasiterit (Sn O
2
)
c. Ilmenit (Fe Ti O
3
)
d. Molibdenit (Mo S
2
)
e. Wolframit [(Fe, M) WO
4
]
f. Galena (Pb S)
g. Pirit (Fe S
2
)
2. Specific gravity
Konsentrasi berdasarkan berat jenisnya. Gravity concentration ada tiga
macam, yaitu:
a. Flowing film concentration, merupakan proses konsentrasi berdasarkan
berat jenisnya melalui aliran fluida yang tipis
b. Aliran air vertikal, merupakan proses konsentrasi mendasarkan ada aliran air
ke atas.
c. SG media cairan berat, merupakan pemisahan berdasarkan atas SG cairan
media dan SG mineral. Sebagai media adalah cairan berat yang umumnya
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


tidak bereaksi langsung dengan material yang dipisahkan. Ada dua proses
yaitu Heavy media seperation dan Heavy liquid seperation.
3. Magnetic succeptibillity (sifat kemagnetan)
Setiap mineral mempunyai sifat kemagnetan yang berbeda yakni ada
yang kuat, lemah dan bahkan ada yang sama sekali tidak tertatik oleh magnet.
Berdasarkan sifat kemagnetan yang berbeda-beda itulah mineral dapat
dipisahkan dengan alat yang disebut Magnetic seperator. Alat ini bekerja
berdasarkan pada kuat lemahnya mineral tersebut tertarik oleh magnet
sehingga dapat terpisah antara mineral magnetis dan mineral non magnetis.
Pemisahan dapat dilakukan dalam keadaan kering maupun basah.
Konsentrasi Magnetik (Magnetic Concentration) adalah proses
konsentrasi yang memanfaatkan perbedaan sifat kemagnetan (magnetic
susceptibility) yang dimiliki mineral. Sifat kemagnetan bahan galian ada 3 (tiga)
macam, yaitu:
a. Ferromagnetic, yaitu bahan galian (mineral) yang sangat kuat untuk ditarik
oleh medan magnet. Misalnya magnetit (Fe
3
O
4
).
b. Paramagnetic, yaitu bahan galian yang dapat tertarik oleh medan magnet.
Contohnya hematit (Fe
2
O
3
), ilmenit (Se Ti O
3
) dan pyrhotit (Fe S).
c. Diamagnetic, yaitu bahan galian yang tak tertarik oleh medan magnet.
Misalnya kwarsa (Si O
2
) dan feldspar [(Na, K, Al) Si
3
O
8
].
Jadi produk dari proses konsentrasi yang berlangsung basah ini adalah
mineral-mineral magnetik sebagai konsentrat dan mineral-mineral non-magnetik
sebagai ampas (tailing). Peralatan yang dipakai disebut magnetic separator
yang terdiri dari:
a. Induced roll dry magnetic separator.
b. Wet drum low intensity magnetic separator yang arah aliran dapat:
1) concurrent
2) countercurrent
3) counter rotation
Sedang letak magnetnya bisa bermacam-macam, yaitu suspended
magnets, suspended magnets with continuous removal, dan cobbing drum.
4. Electro conductivity
Mineral memiliki sifat konduktor dan non konduktor. Untuk memisahkan
mineral jenis ini diperlukan alat yang disebut high tension seperator atau electro
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


static seperator dan hasilnya berupa mineral mineral konduktor dan non
konduktor, proses ini selalu dalam keadaan kering.
Konsentrasi Elektrostatik (Electrostatic Concentration) merupakan
proses konsentrasi dengan memanfaatkan perbedaan sifat konduktor (mudah
menghantarkan arus listrik) dan non-konduktor (nir konduktor) dari mineral.
Kendala proses konsentrasi ini adalah karena hanya sesuai untuk proses
konsentrasi dengan jumlah umpan yang tidak terlalu besar dan karena
prosesnya harus kering, maka timbul masalah dengan debu yang
berterbangan.
Produk dari proses konsentrasi ini adalah mineral-mineral konduktor
sebagai konsentrat dan mineral-mineral non-konduktor sebagai ampas (tailing).
Peralatan yang biasa dipakai adalah Electrodynamic separator (high tension
separator) dan Electrostatic separator yang terdiri dari plate electrostatic
separator dan screen electrostatic separator.
5. Sikap permukaan senang tidaknya terhadap udara
Permukaan mineral ada yang bersifat senang dan tidak senang
terhadap gelembung udara. Mineral yang senang terhadap udara akan
menempel pada gelembung udara sedangkan mineral yang tidak sengang
terhadap air tidak akan memempel pada gelembung udara. Untuk mengubah
agar mineral yang senang terhadap air menjadi senang terhadap udara
dipergunakan suatu reagent kimia.
Biasanya ada tiga reagen kimia yang ditambahkan yaitu Collector,
modifier dan frother. Reagent ini hanya menyelimuti permukaan mineral iru saja
(tidak bereaksi dengan mineral). Dengan memberikan gelembung udara maka
mineral akan terpisah. Sehingga antara mineral yang dikehendaki dengan yang
tidak dikehendaki dapat dipisahkan. Proses pemisahan semacam ini disebut
flotasi.
Flotasi atau sering disebut flotasi buih adalah salah satu proses
pemilahan mineral untuk dapat menangapungkan/memisahkan mineral-mineral
berharga secara selektif dari bijihnya yang telah dibuat sluri. Proses flotasi buih
efektif memisahkan mineral-mineral berharga yang berkadar rendah dan
berukuran halus dari mineral-mineral pengotornya.
Konsentrasi Secara Flotasi (Flotation Concentration) merupakan proses
konsentrasi berdasarkan sifat senang terhadap udara atau takut terhadap air
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


(hydrophobic). Pada umumnya mineral-mineral oksida dan sulfida akan
tenggelam bila dicelupkan ke dalam air, karena permukaan mineral-mineral itu
bersifat suka akan air atau hydrophilic. Tetapi beberapa mineral sulfida, antara
lain kalkopirit (CuFeS
2
), galena (PbS), dan sfalerit (ZnS) mudah diubah sifat
permukaannya dari suka air menjadi suka udara dengan menambahkan reagen
yang terdiri dari senyawa hidrokarbon. Sejumlah reagen kimia yang sering
digunakan dalam proses flotasi adalah:
a. Pembuih (frother) yang berfungsi sebagai penstabil gelembung-gelembung
udara. Misalnya methyl isobuthyl carbinol (MIBC), minyak pinus, dan
terpentin.
b. Kolektor / pengumpul (collector) yang bisa mengubah sifat permukaan
mineral yang semula suka air menjadi suka udara. Contohnya xanthate,
thiocarbonilid, asam oleik, dll.
c. Penekan / pencegah (depresant) yang berguna untuk mencegah agar
mineral pengotor tidak ikut menempel pada udara dan ikut terapung.
Misalnya, ZnSO
4
untuk menekan ZnS.
d. Pengatur keasaman (pH regulator) yang berfungsi untuk mengatur tingkat
keasaman proses flotasi. Misalnya: HCl, HNO
3
, Ca(OH)
3
, NH
4
OH, dll.
Peralatan yang biasa dipakai adalah:
a. Mechanical flotation yang terdiri dari berbagai variasi antara lain:
1) Agitair cell
2) Denver cell
3) Krupp cell
4) Outokumpu cell
5) Wemco-Fagregren cell
b. Pneumatic flotation yang terdiri dari variasi:
1) Column cell
2) Cyclo cell
3) Davcra cell
4) Flotaire cell
6. Dewatering
Merupakan proses pemisahan antara cairan dengan padatan.
Pengurangan kadar air atau dewatering merupakan kegiatan yang bertujuan
untuk mengurangi kandungan air yang ada pada konsentrat yang diperoleh
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


dengan proses basah, misalnya proses konsentrasi gravitasi dan flotasi. Proses
ini tidak dapat dilakuan sekaligus tetapi harus secara bertahap, yaitu dengan:
a. Thickening
Merupakan proses pemisahan antara padatan dengan cairan yang
mendasarkan atas kecepatan mengendap partikel atau mineral tersebut
dalam suatu pulp. Alat yang digunakan adalah Thickener, yang mana alat ini
mempunyai % solid sebesar 50% (solid factor = 1).
Konsentrat yang berupa lumpur dimasukkan ke dalam bejana bulat.
Bagian yang pekat mengendap ke bawah disebut underflow, sedangkan
bagian yang encer atau airnya mengalir di bagian atas disebut overflow.
Kedua produk itu dikeluarkan secara terus menerus (continuous).
Peralatan yang biasa dipakai adalah rake thickener, deep cone
thickener, dan free flow thickener.
b. Filtrasi
Merupakan proses pemisahan antara padatan dengan cairan dengan
cara menyaring (filter) sehingga didapatkan solid factor sama dengan empat
(% solid = 80%).
Dengan cara pengentalan kadar airnya masih cukup tinggi, maka
bagian yang pekat dari pengentalan dimasukkan ke penapis yang disertai
dengan pengisapan, sehingga jumlah air yang terisap akan banyak. Dengan
demikian akan dapat dipisahkan padatan dari airnya.
Peralatan yang dipakai adalah:
1) Vacuum (suction) filters yang terdiri dari:
a) Intermitten, misalnya Moore leaf filter.
b) Continuous ada beberapa tipe, yaitu:
(1) Bentuk silindris / tromol (drum type), misalnya Oliver filter, Dorrco
filter.
(2) Bentuk cakram (disk type) berputar, contohnya American filter.
(3) Bentuk lembaran berputar (revolving leaf type), contohnya Oliver
filter.
(4) Bentuk meja (desk type), misalnya Caldecott sand table filter.
2) Pressure filter, misalnya:
a) Merrill plate and frame filter
b) Kelly pressure filter
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


c) Burt revolving filter
c. Drying
Adalah proses penghilangan air dari padatan dengan cara
pemanasan sehingga padatan benar-benar bebas dari cairan (% solid =
100). Merupakan proses untuk membuang seluruh kandung air dari padatan
yang berasal dari konsentrat dengan cara penguapan
(evaporization/evaporation).
Peralatan atau cara yang dipakai ada bermacam-macam, yaitu:
1) Hearth type drying/air dried/air baked, yaitu pengeringan yang dilakukan
di atas lantai oleh sinar matahari dan harus sering diaduk (dibolak-balik).
2) Shaft drier, ada dua macam, yaitu :
a) Tower drier, material (mineral) yang basah dijatuhkan di dalam saluran
silindris vertikal yang dialiri udara panas (80
o
100
o
).
b) Rotary drier, material yang basah dialirkan ke dalam silinder panjang
yang diputar pada posisi agak miring dan dialiri udara panas yang
berlawanan arah.
3) Film type drier (atmospheric drum drier) yaitu silinder baja yang di
dalamnya dialiri uap air (steam). Alat ini tergolong alat yang jarang
dipakai.
4) Spray drier, material halus yang basah dan disemburkan ke dalam
ruangan panas kemudian material yang kering akan terkumpul di bagian
bawah ruangan. Cara ini juga jarang dipakai.
Bahan galian (mineral/bijih) yang mengalami PBG harus ditangani
dengan cepat dan seksama, baik yang berupa konsentrat basah dan kering
maupun yang berbentuk ampas (tailing).
Bila masih berupa bahan galian hasil penambangan (ROM), maka
harus ditumpuk di tempat yang sudah ditentukan yang di sekelilingnya telah
dilengkapi dengan saluran penyaliran (drainage system). Tetapi jika sudah
berupa konsentrat, maka harus disimpan di dalam gudang yang tertutup
sebelum sempat diproses lebih lanjut.
Bila lumpur itu sudah mengandung mineral berharga yang kadarnya
tinggi, maka dapat segera dimasukkan ke pemekat (thickener) atau penapis
(filter). Jika masih agak kotor (middling), maka harus diproses dengan alat
khusus yang sesuai.
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Alleluia Victoria Aljonak
H1C110072


Penanganan atau pembuangan ampas adalah kegiatan yang paling
sulit penanganannya, karena:
1) Jumlahnya (volumenya) sangat banyak, antara 70% 90% dari material
yang ditambang.
2) Kadang-kadang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B-3).
3) Sulit mencarikan lahan yang cocok untuk menimbun ampas bila metode
penambangan timbun-balik (back fill mining method) tak dapat segera
dilakukan, sehingga kadang-kadang harus dibuatkan kolam pengendap.
Oleh sebab itu pembuangan ampas ini seringkali menjadi komponen
kegiatan penambangan yang meminta pemikiran khusus sepanjang umur
tambang.
7. Operasi tambahan ini juga sangat besar artinya dalam proses pengolahan atau
operasi yang sedang dijalankan, yang meliputi :
1) Feeding yaitu merupakan proses memasukkan feed ke dalam unit
konsentrasi secara tetap dan lancar baik beratnya feed maupun volumenya.
2) Sampling yaitu merupakan proses pengambilan contoh yang sesedikit
mungkin tetapi bisa mewakili bijih seluruhnya. Setiap proses konsentrasi
selalu dilakukan sampling, ini dengan tujuan untuk mengontrol apakah
operasi yang sedang berjalan ini sesuai dengan keinginan atau tidak. Dalam
sampling ini hasilnya akan lebih baik jika pengambilan sample dilakukan
berkali-kali dalam jumlah yang sedikit dari pada sekali tetapi jumlah yang
banyak.