Anda di halaman 1dari 24

i

MAKALAH
SISTEM PENCERNAAN I
GASTROSCISIS
















DISUSUN OLEH :
ROUUFUN NISA HAQU
RAHAYU TRI NURITASARI
ARIS SEPTIANA
AJI PRAMUSTYO
ANDRIANUS ASA BELE ROY

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
2013



ii

KATA PENGANTAR


Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah, karena berkat rahmat-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan
Gastroskisis. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Pencernaan I. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang
ditentukan.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini memenuhi kriteria penilaian dan bermanfaat
bagi pembaca.


Blitar, November 2013


Penyusun








iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
1.3 Tujuan .................................................................................................................. 3
1.4 Manfaat ................................................................................................................ 3
BAB II KONSEP DASAR .................................................................................................. 4
2.1 Dfinisi .................................................................................................................. 4
2.2 Etiologi ................................................................................................................ 5
2.3 Patofisiologi......................................................................................................... 7
2.4 Pemeriksaan Penunjang ....................................................................................... 8
2.5 Penatalaksanaan................................................................................................... 9
2.6 Komplikasi .......................................................................................................... 13
2.7 Prognosis ..................................... ....................................................................... 13
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN .............................................................................. 15
3.1 Pengkajian ........................................................................................................... 15
3.2 Dianogsa Keperawatan........................................................................................ 15
3.3 Interverensi .......................................................................................................... 16
BAB IV PENUTUP ............................................................................................................. 20
4.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 20
4.2 Saran .................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 21

1


BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Dinding perut mengandung struktur muskulo aponeuresis yang
kompleks. Pada bagian belakang, struktur ini melekat pada tulang
belakang dan sebelah atas melekat pada iga, sedangkan di bagian bawah
melekat pada tulang panggul. Dinding perut sendiri terdiri dari berbagai
lapis, yaitu lapisan kulit yang terdiri dari kutis dan sub-kutis, lemak sub-
kutan dan fasia superfisialis. Struktur otot dinding perut terdiri dari
muskulus oblikus abdominis externus, muskulus oblikus abdominis
internus, muskulus tranfersus abdominis, dan lapisan preperitoneum.
Selanjutnya adalah lapisan peritoneum yang terdiri dari fasia tranversalis,
lemak peritoneal dan peritoneum (Hunter dan Soothill, 2002).
Perkembangan dinding perut dipengaruhi terutama pada masa
perkembangan embriologi, yaitu pada minggu kelima hingga minggu
kesepuluh. Pada minggu keenam akan terjadi pertumbuhan yang cepat dari
midgut yang akan menyebabkan hernia fisiologis dari usus kemudian pada
minggu kesepuluh bagian usus tersebut akan kembali ke kavum abdomen.
Pada bayi yang lahir dengan gastroshisis proses ini tidak terjadi. Cacat
kongenital dinding abdomen ini memberi ancaman yang mematikan bagi
neonatus sebagai akibat terpaparnya visera dan kemungkinan kontaminasi
bakteri(Hunter dan Soothill, 2002).
Gastroschisis adalah kelainan paraumbilikal kongenital dari
dinding anterior abdomen yang menyebabkan herniasi dari visera
abdominal ke luar cavum abdomen. Kelainan ini biasanya kecil, memiliki
pembukaan yang memiliki pinggir yang lembut yang selalu berada di
sebelah lateral umbilikus dan tidak memiliki pembungkus. Merupakan
kecacatan yang muncul kira-kira 0,5-1 dalam 10.000 kelahiran hidup.
Gastroshisis bukan merupakan penyakit genetik, namun lebih pada
kelainan kongenital yang jarang terjadi, di mana penelitian epidemiologi
2

menyatakan bahwa penyakit ini kemungkinan besar berhubungan dengan
ibu yang mengandung pada usia muda dengan status sosial-ekonomi
menengah ke bawah dan kondisi malnutrisi (Kumar dan Burton, 2008).
Gastroshisis merupakan kasus dengan tingkat kegawat-daruratan
dan resiko kematian yang tinggi, oleh karena itu penanganan yg tepat
dapat membantu meningkatkan prognosa hidupannya.
Penanganan pembedahan dilakukan segera setelah kondisi bayi
stabil pasca-persalinan, hal ini dilakukan untuk mencegah infeksi dan
kerusakan jaringan yang berherniasi. Penanganan cepat dapat dilakukan
apabila diagnosis dapat ditegakkan selama kehamilan atau sebelum
kelahiran. Diagnosis pre-natal dapat mendeteksi kira-kira 83% dari
kelainan dinding abdomen.
Oleh karena itu dibutuhkan screening pada ibu hamil trimester
pertama untuk bisa menentukan diagnosa pre-natal sehingga kita bisa
merencanakan persalinannya.
Di negara barat tingkat kematian pada gastroshisis terus berkurang
karena diagnosa dini yang bagus. Gastroshisis dapat dideteksi dini pada
kehamilan melalui ultrasound dan kenaikan level serum alpha-fetoprotein
ibu. Setelah diagnosis pre-natal dapat ditegakkan, persalinan dilakukan
lebih awal untuk membatasi kerusakan dari jaringan usus. Dari keakuratan
diagnosis pre-natal inilah dapat dilakukan persiapan penanganan secara
tepat dan cepat. Kombinasi dari diagnosis dan penatalaksaan ini dapat
meningkatkan prognosis gastroshisis menjadi lebih baik.
Dari data di atas, penulis akan mengangkat studi pustaka mengenai
gastroshisis, terutama mengenai diagnosis pre-natal karena memegang
peranan penting untuk menekan tingkat kematiannya dan meningkatkan
prognosa kehidupannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Gastroscisis?
2. Apa penyebab darigastroscisis?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari Gastroscisis?
4. Bagaimana patofisiologi dari Gastroscisis?
3

5. Apa pemeriksaan penunjang untuk Gastroscisis?
6. Bagaimana komplikasi Gastroscisis?
7. Bagaimana penatalaksanaan Gastroscisis?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Gastroscisis?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan tentang Gastroscisisdan Asuhan Keperawatan pada klien
dengan kasus Gastroscisis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan tentang Gastroscisis.
2. Menjelaskan tentang penyebab dari Gastroscisis.
3. Menjelaskan tentang manifestasi klinis dari Gastroscisis.
4. Menjelaskan tentang patofisiologi dari Gastroscisis.
5. Menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang untuk Gastroscisis.
6. Menjelaskan tentang komplikasi Gastroscisis.
7. Menjelaskan tentang penatalaksanaan Gastroscisis.
8. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Gastroscisis.

1.4 Manfaat
1. Untuk mengetahui tentang Gastroscisis.
2. Untuk mengetahui tentang penyebab dari Gastroscisis.
3. Untuk mengetahui tentang manifestasi klinis dari Gastroscisis.
4. Untuk mengetahui tentang patofisiologi dari Gastroscisis.
5. Untuk mengetahui tentang pemeriksaan penunjang untuk Gastroscisis.
6. Untuk mengetahui tentang komplikasi Gastroscisis.
7. Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan Gastroscisis.
8. Untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
Gastroscisis.



4


BAB II
KONSEP DASAR
2.1 Definisi
Gastroschisis adalah kelainan paraumbilikal kongenital dari
dinding anterior abdomen yang menyebabkan herniasi dari visera
abdominal ke luar cavum abdomen. Kelainan ini biasanya kecil, memiliki
pembukaan yang memiliki pinggir yang lembut yang selalu berada di
sebelah lateral umbilikus dan tidak memiliki pembungkus. Merupakan
kecacatan yang muncul kira-kira 0,5-1 dalam 10.000 kelahiran hidup.
Gastroshisis bukan merupakan penyakit genetik, namun lebih pada
kelainan kongenital yang jarang terjadi, di mana penelitian epidemiologi
menyatakan bahwa penyakit ini kemungkinan besar berhubungan dengan
ibu yang mengandung pada usia muda dengan status sosial-ekonomi
menengah ke bawah dan kondisi malnutrisi (Kumar dan Burton, 2008).
Gastroshisis merupakan kasus dengan tingkat kegawat-daruratan
dan resiko kematian yang tinggi, oleh karena itu penanganan yg tepat
dapat membantu meningkatkan prognosa hidupannya.













5

Gambar: Bayi dengan Gastroshisis

Gambar: Bayi dengan Gastroshisis

2.2 Etiologi
Etiologi secara embriologi pada defek kongenital abdomen tidak
sepenuhnya diketahui dan masih merupakan subyek yang kontroversial.
Meskipun beberapa bukti mengatakan bahwa etiologi gastroschizis terletak
desebelah lateral dan hampir sama. Banyak kontroversi berhubungan
dengan penyebab gastroschizis. Defek abdominal pada gastroschizis
terletak disebelah lateral dan hampir selalu pada sebelah kanan dari
umbilicus.
Defek tersebut sebagai hasil dari rupturnya basis tali pusat dimana
merupakan area yang lemah dari tempat involusi vena umbilicus kanan.
Pada awalnya terdapat sepasang vena umbilikalis, yaitu vena umbilikalis
kanan dan kiri. Ruptur tersebut terjadi in-utero pada daerah lemah yang
sebelumya terjadi herniasi fisiologis akibat involusi dari vena umbilikalis
6

kanan. Keadaan ini menerangkan mengapa gastroschizis hampir selalu
terjadi lateral kanan dari umbilicus.
Teori ini didukung oleh pemeriksaan USG secara serial, dimana
pada usia 27 minggu terjadi hernia umbilikalis dan menjadi nyata
gastroschizis pada usia 34,5 minggu. Setelah dilahirkan pada usia 35
minggu, memang tampak gastroschizis yang nyata.
Penulis lain berpendapat bahwa gastroschizis diakibatkan pecahnya
suatu eksomphalos. Rupturnya omphalokel kecil dan transformasi menjadi
gastroschizis dapat terjadi didalam uterus. Tetapi banyak kejadian anomaly
yang berhubungan dengan omphalokel tidak mendukung teori ini. Pada
gastroschizis jarang terjadi anomaly, tetapi sering lahir premature (22%).
Factor resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalocel atau
gastroschizis adalah resiko tinggi kehamilan seperti:
1. Infeksi dan penyakit pada ibu
2. Penggunaan obat obatan berbahaya, merokok
3. Kelainan genetik
4. Defisiensi gizi seperti asam folat, protein dan vitamin B. Complex
5. Hipoksia
6. Salisilat dapat menyebabkan defek pada dinding abdomen
7. Unsur polutan logam berat dan radioaktif yang masuk kedalam tubuh
ibu hamil.











7


Gambar USG Gastroschisis
Dengan penggunaan USG (ultrasonografi) yang makin luas, maka
diagnosis dapat diketahui saat janian masih dalam kandungan atau saat
prenatal. Pada usia kehamilan 10 minggu, dinding dan kavitas abdomen
dari fetus sudah dapat terlihat. Pada usia 13 minggu, secara normal terjadi
kembalinya usus ke cavitas abdomen. Pada saat ini, baik gastroschizis dan
omfalokel dapat terdeteksi.

2.1 Patofisiologi
Menurut Suriadi & Yuliani.R patofisiologi dari gastroschizis atau
omphalocele yaitu selama perkembangan embrio ada suatu kelemahan
yang terjadi didalam dinding abdomen semasa embrio yang mana
menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah satu samping umbilicus
(yang biasanya pada samping kanan), ini menyebabkan organ visera
abdomen keluar dari kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh kantong.
Terjadi malrotasi dan menurunnya kapasitas abdomen yang dianggap
sebagai anomaly.
Gastroschizis terbentuk akibat kegagalan fusi somite dalam
pembentukan dinding abdomen sehingga dinding abdomen sebagian
terbuka. Letak defek umumnya disebelah kanan umbilicus yang berbentuk
normal. Usus sebagian besar berkembang diluar rongga abdomen janin,
akibatnya usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi
cairan amnion dalam kehidupan intra uterin, usus juga tampak pendek,
rongga abdomen janin sempit.
Usus usus, visera, dan seluruh rongga abdomen berhubungan
dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari tubuh
cepat berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermi, kontaminasi
usus dengan kuman juga dapat terjadi dan menyebabkan sepsis, aerologi
menyebabkan usus usus distensi sehingga mempersulit koreksi
pemasukan kerongga abdomen sewaktu pembedahan.
8

Embryogenesis, pada janin usia 5-6 minggu isi abdomen terletak
diluar embrio dirongga selom. Pada usia 10 minggu terjadi pengembangan
lumen abdomen sehingga usus dari ekstra peritonium akan masuk
kerongga perut.
Bila proses ini terhambat maka akan terjadi kantong dipangkal
umbilicus yang berisi usus, lambung kadang hati. Dindingnya tipis terdiri
dari lapisan peritonium dan lapisan amnion yang keduanya bening
sehingga isi kantong tengah tampak dari luar, keadaan ini disebut
omfhalocele, bila usus keluar dari titik terlemah dikanan umbilicus usus
akan berada diluar rongga perut tanpa dibungkus peritonium dan amnion
keadaan ini disebut gastroschizis (Retno Setiowati, 2008).














Gambar 2.2: Embriologi Midgut

2.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostiknya adalah:
1. Pemeriksaan fisik, pada gastroschizis usus berada diluar rongga perut
tanpa adanya kantong.
2. Pemeriksaan laboratorium
9

3. Prenatal ultrasound
4. Pemeriksaan radiologi, fetal sonography dapat menggambarkan
kelainan genetik dengan memperlihatkan marker struktural dari
kelainan kariotipik. Echocardiography fetal membantu mengidentifikasi
kelainan jantung (Retno Setiowati, 2008).














Gambar: USG Gastroschisis

2.5 Penatalaksanaan
Masalah-masalah setelah kelahiran yaitu usus-usus, visera dan
seluruh permukaan rongga abdomen berhubungan dengan dunia luar
menyebabkan:
1. Penguapan dan pancaran panas dari tubuh cepat berlangsung, sehingga
terjadi dehidrasi dan hipotermi
2. kontaminasi usus dengan kuman juga cepat berlangsung sehingga
terjadi sepsis.
3. Aerofagi menyebabkan usus-usus distensi sehingga mempersulit
koreksi pemasukan intestin ke rongga abdomen pada waktu
pembedahan.
10


Pertolongan pertama untuk penyulit yang timbul dengan:


1. Pemasangan sonde lambung dan pengisapan yang kontinue untuk
mencegah distensi usus-usus yang mempersulit pembedahan.
2. Pemberian cairan dan elektrolit atau kalori intravena
3. Antibiotika dengan spektrum luas secara intrabvena dan pada prabedah
4. Suhu tubuh dipertahankan dengan baik
5. Pencegahan kontaminasi dengan menutup menggunakan kasa steril
lembab dengan cairan NacL steril.
6. Pembedahan segera dilakukan sebelum penyulit sseperti distensi usus
dan hipotermi terjadi. Pembedahan segera dengan persiapan yang baik
maka gastroskisis memiliki prognosis yang baik. Operasi koreksi
untuk menempatkan usus kedalam rongga perut dan menutup lubang
harus dikerjakan secepat mungkin kerena tidak ada perlindungan
infeksi. Tambahan lagi makin ditunda opersi makin sukar karena usus
akan edem.
Operasi
Pada gastroskisis, tujuan utama adalah untuk mereduksi visera
yang mengalami hernia masuk kembali ke dalam abdomen dan untuk
menutup fasia dan kulit untuk menciptakan dinding abdomen yang solid
dengan umbilikus yang relatif normal untuk meminimalkan resiko bayi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, banyak teknik yang dapat digunakan.
Pengobatan sangat bervariasi tergantung pada ukuran dan jenis defek,
ukuran bayi dan masalah yang berhubungan. Karena terdapat sedikit bukti
untuk mengganggap suatu metode lebih bagus dari yang lain, terdapat
variasi dalam pendekatan operasi.
Pada gastroskisis, hilangnya panas dan cairan yang terus menerus
dan perubahan metabolik membuat penutupan menjadi prioritas tinggi.
Selama resusitasi awal pada saat lahir atau sesegera mungkin setelahnya, a
prefabricated, spring-loaded Silastic silo ditempatkan pada defek untuk
menutupi usus yang terpapar tadi. Praktek ini, akan meminimalisasikan
kehilangan melalui penguapan, mencegah trauma tambahan dan juga dapat
11

menilai perfusi usus secara terus menerus. Alat ini dapat ditempatkan
dalam ruang bersalin atau disamping tempat tidur tanpa anestesi. Jika
defek dinding abdomen terlalu kecil untuk mengakomodasi alat, defek
dapat dbesarkan dengan anestesi lokal dan sedasi. Jika alat tidak dapat
ditempatkan di samping tempat tidur, sesegera mungkin setelah resusitasi
awal dan stabilisasi, bayi dilakukan operasi untuk penutupan primer atau
pemasangan silo. Penutupan di kamar bersalin merupakan konsep yang
menarik yang meminimalisasi waktu dan trauma perioperatif tetapi hanya
mungkin dengan kelahiran yang terencana dari defek yang diketahui
sebelumnya dan membutuhkan komitmen berbagai pihak. Perbaikan
primer segera tanpa anestesi pernah dilaporkan untuk kasus tertentu dan
mungkin menjadi contoh dramatik operasi dengan trauma dan invasif
minimal.
Setelah pemasangan spring-loaded silo, bayi dievaluasi lebih lanjut
dan dirawat di ICU. Dengan diuresis spontan, dekompresi traktus
gastrointestinal dari atas dan bawah dan resolusi edema dinding usus,
maka volume usus yang terpapar yang berada di dalam bag menjadi turun
dalam periode waktu yang singkat. Ketika bayi berada dalam kondisi stabil
dan reduksi spontan usus ke dalam abdomen telah mencapai keadaan
puncak, bayi dibawa ke kamar operasi untuk dilakukan percobaan
penutupan primer tunda. Reduksi serial alat pada tempat tidur pernah
disarankan, tetapi resiko salah pemasangan alat membuat rencana ini
kurang menarik. Di kamar operasi, jika usus dapat direduksi ke dalam
abdomen dan defek menutup primer (atau melalui perbaikan primer
tunda), maka operasi dilakukan. Keputusan apakah bayi dapat
mentoleransi reduksi dan perbaikan dapat menjadi susah dan dapat
ditambahkan dengan mengukur tekanan intragastik selama penutupan
berlangsung. Tekanan < 20 mm Hg dapat memprediksikan kesuksesan
penutupan tanpa komplikasi tekanan intra-abdomen yang berlebihan.
Metode lain dilaporkan untuk membantu dalam keputusan untuk menutup
atau tidak adalah mengukur perubahan tekana vena sentral, tekanan
ventilator dan karbondioaksida. Jika bayi dalam keadaan stabil ketika
12

fascia ditutup, umbilicus dapat direkontruksi pada tingkat krista iliaka
posterior selama penutupan kulit. Pembuatan umbilicus dapat selalu
ditunda untuk waktu berikutnya. Jika perbaikan tidak mungkin, formal
silastic silo dijahitkan ke fasia dan reduksi serial dilakukan post-operasi.
Bayi dengan gastroskisis dan atresia intestinal memiliki tantangan yang
cukup serius, jika usus berada dalam kondidi bagus dan abdomen dapat
ditutup dengan mudah, perbaikan primer kombinasi dari kedua defek
menjadi mungkin dilakukan. Oleh karena itu, jika atresia terjadi, prioritas
pertama adalah menutup abdomen dengan primer atau primer tunda atau
perbaikan silo bertahap. Bayi dijaga dengan dekompresi gaster dan nutrisi
parenteral selama beberapa minggu hingga laparotomy dan perbaikan
atresia intestinal. Tahap perbaikan ini akan menyebabkan inflamasi
menghilang dan isi hernia kembali ke abdomen sebelum pembukaan usus
dan pembuatan anastomosis.
Pada omfalokel, strategi yang digunakan berbeda. Pertama,
menutup kantong yang intak, kemudian tidak perlu terburu-buru untuk
melakukan operasi penutupan. Sepanjang visera tertutupi membrane,
evaluasi yang lengkap untuk defek yang berhubungan dapat dilakukan dan
masalah lain teratasi. Ketika bayi stabil dan jika defek relative kecil,
perbaikan primer dapat dilakukan dengan insisi membrane omfalokel,
mengurangi hernia visera dan menutup fasia dan kulit. Membrane yang
melapisi liver mungkin terluka saat insisi, karena itu dapat dibiarkan saja.
Ketika penutupan primer tidak mungkin dilakukan, ada banyak pilihan,
namun yang dapat dilakukan adalah mengobati kantong omfalokel dengan
sulfadiazine silver topical dan membiarkan agar terjadi epitelisasi hingga
beberapa minggu atau bulan. Makanan enteral biasanya dapat ditolerasi
setelah bayi sembuh dari berbagai masalah sistemtik. Setelah masalah lain
yang berhubungan sudah diatasi, keluarga dapat diajarkan untuk untuk
melakukan perawatan luka dan bayi diijikan untuk rawat jalan. Ketika
epitelisasi kantong sudah terjadi atau sudah cukup kuat untuk mendapatlan
tekanan luar, kompresi dilakukan dengan plester elastic dan secara serial
dilakukan hingga isi abdomen mereduksi. Ketika isi abdomen tereduksi,
13

membran mengalami epitelisasi dan bayi berada dalam keadaan baik,
perbaikan hernia ventral dilakukan. Proses ini dapat dicapai dalam waktu
6-12 bulan, namun terdapat sedikit resiko dalam menunggu dalam
menunggu selama masa tadi. Defek fasia menyisakan ukuran yang sama
ketika bayi tumbuh. Hal ini membuat penutupan relative sedikit terlambat
dari omfalokel yang berukuran besar. Strategi ini awalnya diadopsi hanya
untuk pasien yang memiliki omfalokel berukuran besar atau berhubungan
dengan masalah yang serius tetapi berjalan dengan baik pada kasus sulit
yang sebelumnya tidak dapat ditutup. Teknik ini juga dapat mencegah
kompromis paru, pecahnya luka, infeksi dan tertundanya pemberian
makanan enteral yang terganggu dengan sejumlah operasi besar pada bayi
yang baru lahir. Hal ini juga berguna khususnya untuk memperoleh
penutupan fasia pada regio epigastrium omfalokel besar. Banyak strategi
alternative untuk penutupan omfalokel, termasuk hanya penutupan kulit,
reduksi silastic silo dan perbaikan, reduksi di dalam membrane omfalokel,
inverse amnion dan penambalan fasia.

2.6 Komplikasi
Komplikasinya adalah:
1. Komplikasi dini adalah infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada
permukaan yang telanjang
2. Kekurangan nutrisi dapat terjadi sehingga perlu balance cairan dan
nutrisi yang adekuat misalnya: dengan nutrisi parenteral
3. Dapat terjadi sepsis terutama jika nutrisi kurang dan pemasangan
ventilator yang lama
4. Nekrosis
Kelainan congenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan
bawaan lain yang memperburuk prognosis (Retno Setiowati, 2008).

2.7 Prognosis
Meskipun pada awalnya managemen dari gastroschisis sulit, namun
efek jangka panjang memiliki problem yang lebih sedikit bila dibandingkan
dengan omfalokel. Mortalitas gastroschisis pada masa lampau cukup tinggi,
14

yaitu sekitar 30%, namun akhir-akhir ini dapat ditekan hingga sekitar 5%.
Mortalitas berhubungan dengan sepsis dan vitalitas dan kelainan dari traktus
gastrointestinal pada saat pembedahan.
Pada pasien gastroshisis dapat timbul short bowel syndrome, yang
dapat disebabkan karena reseksi usus yang mengalami gangren, atau yang
memang secara anatomik sudah memendek maupun adanya dismotilitas.
Insidens dari obstruksi usus dan hernia abdominal juga meningkat pada
pasien dengan gastroschisis maupun omfalokel.
Gangguan fungsional baik nyeri abdominal dan konstipasi juga
meningkat.Kurang lebih 30% pasien dengan defek kongenital dinding
abdomen terjadi gangguan pertumbuhan dan gangguan intelektual. Namun
hal ini perlu dipikirkan pula keadaan yang dapat menyertai pada defek
dinding abdomen seperti premauritas, komplikasi-komplikasi yang terjadi dan
anomali lainnya (Imam Sudrajat& Haryo Sutoto).


















15


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Data fokus pengkajian menurut Doengoes,MF 1991:
1. Mengkaji kondisi abdomen
a. Kaji area sekitar dinding abdomen yang terbuka
b. Kaji letak defek, umumnya berada disebelah kanan umbilicus
c. Perhatikan adanya tanda tanda infeksi atau iritasi
d. Nyeri abdomen, mungkin terlokalisasi atau menyebar, akut atau
kronis sering disebabkan oleh inflamasi, obstruksi
e. Distensi abdomen, kontur menonjol dari abdomen yang mungkin
disebabkan oleh perlambatan pengosongan lambung, inflamasi,
obstruksi.
2. Mengukur temperatur tubuh
a. Demam, manifestasi umum dari penyakit pada anak anak dengan
gangguan GI biasanya berhubungan dengan dehidrasi, infeksi atau
inflamasi
b. Lakukan pengukuran suhu secara continue setiap 24 jam
c. Perhatikan apabila terjadi peningkatan suhu secara mendadak
3. Kaji sirkulasi, kaji adanya sianosis perifer
4. Kaji distress pernafasan
a. Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru
b. Kaji adanya suara nafas tambahan
c. Perhatikan bila tampak pucat, sianosis
d. Perhatikan irama nafas, frekuensi

3.2 Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan rongga
abdomen (paru-paru)
16

2. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan dehidrasi
3. Resiko infeksi berhubungan dengan isi abdomen yang keluar
4. Cemas pada orang tua b.d kurang pengetahuan penyakit yang diderita
anaknya.

Post Operasi
1. Nyeri Akut berhubungan dengan prosedur pembedahan menutup
abdomen.
2. Resiko Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan luka post
operasi
3.2 Intervensi
Pre Operasi
Dx 1: Pola nafas tidak efektif b.d penekanan rongga abdomen (paru
paru)
NOC: respiratory status: Airway
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan manajemen jalan nafas
selama 3 x 24 jam, diharapkan pola napas pasien kembali normal dan
efektif dengan status respirasi skala 4
Kriteria Hasil:
a. Pola nafas efektif, tidak ada sianosis dan dypsneu, mampu bernapas
dengan mudah.
b. Bunyi nafas normal atau bersih
c. TTV dalam batas normal
d. Ekspansi paru normal
NIC: Airway Management
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan napas buatan
3. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
4. Monitor respirasi dan status oksigen


17


Dx 2 : Resiko kurang volume cairan b.d. dehidrasi
NOC: Keseimbangan cairan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manajemen cairan
selama 3 x 24 jam, diharapkan keseimbangan cairan pada pasien adekuat
dengan status cairan skala 4.
Kriteria hasil:
1. Keseimbangan intake & output dalam batas normal
2. Elektrolit serum dalam batas normal
3. Tidak ada mata cekung
4. Tidak ada hipertensi ortostatik
5. Tekanan darah dalam batas normal
NIC: Manajemen Cairan
1. Pertahankan intake & output yang adekuat
2. Monitor status hidrasi (membran mukosa yang adekuat)
3. Monitor status hemodinamik
4. Monitor intake & output yang akurat
5. Monitor berat badan

DX 3 : Resiko infeksi berhubungan dengan isi abdomen yang keluar
NOC: Knowledge: infection control
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan kontrol infeksi selama 3
x 24 jam, diharapakan infeksi tidak terjadi (terkontrol) dengan status
kontrol infeksi skala 4.
Kriteria hasil:
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
3. Jumlah leukosit dalam batas normal
4. Menunjukkan perilaku hidup sehat
18


NIC: Infection control
1. Pertahankan teknik isolasi
2. Batasi pengunjung bila perlu
3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
4. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
5. Tingkatkan intake nutrisi
Post Operasi
Dx 1: Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera biologis, prosedur
pembedahan menutup abdomen.
NOC I: Tingkat Nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manajemen nyeri selama
3 x 24 jam diharapkan pasien tidak mengalami nyeri, antara lain
penurunan nyeri pada tingkat yang dapat diterima anak dengan status
penerimaan nyeri skala 2
Kriteria hasil :
1. Anak tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri (rewel)
2. Nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak
NOC II: Level Nyeri
Kriteria hasil :
1. Memberikan isyarat rasa nyaman (tidak rewel)
2. Nyeri menurun
NIC : Menejemen Nyeri
1. Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, durasi, frekuensi, intensitas)
2. Observasi isyarat isyarat non verbal dari ketidaknyamanan.
3. Berikan pereda nyeri dengan manipulasi lingkungan (misal ruangan
tenang, batasi pengunjung).
4. Berikan analgesia sesuai ketentuan
19

5. Kontrol faktor faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan (lingkungan yang berisik).

Dx 2 : Resiko Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan luka post
operasi
NOC : Pengenalian Resiko
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pengendalian infeksi
selama 3 x 24 jam diharapkan pasien tidak mengalami infeksi dan tidak
terdapat tanda-tanda infeksi pada pasien dengan status pengendalian skala
4
Kriteria hasil :
1. Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
2. Temperatur badan
3. Imunisasi
NIC : Pengendalian Infeksi
1. Pantau tanda atau gejala infeksi
2. Informaiskan kepada orang tua tentang jadwal imunisasi
3. Rawat luka operasi dengan teknik steril
4. Memelihara teknik isolasi (batasi jumlah pengunjung)
5. Ganti peralatan perawatan pasien sesuai dengan protaps
(Imam Sudrajat& Haryo Sutoto).










20



BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Gastroschisis adalah kelainan paraumbilikal kongenital dari
dinding anterior abdomen yang menyebabkan herniasi dari visera
abdominal ke luar cavum abdomen. Kelainan ini biasanya kecil,
memiliki pembukaan yang memiliki pinggir yang lembut yang
selalu berada di sebelah lateral umbilikus dan tidak memiliki
pembungkus.Kondisis gastroshisis berkaitan erat dengan kegagalan
perkembangan pada masa embriologi, terutama pada minggu
kelima hingga minggu kesepeluh.
Etiologi masih belum dapat ditentukan secara pasti.
Namun, faktor resikonya terutama berhubungan dengan kondisi ibu
saat mengandung. Diagnosis dari gastroshisis merupakan elemen
yang penting dalam penanangan kasus ini. Diagnosis harus dapat
ditegakkan sebelum kelahiran bayi. Prognosis meningkat karena
pemeriksaan dan diagnosis pre-natal.

4.2 Saran
Sebagai seorang perawat, sedah menjadi kewajiban untuk
memberikan tindakan perawatan dalam asuhan keperawatan yang
diarahkan kepada pembentukan tingkat kenyamanan pasien,
manajemen rasa sakit dan keamanan. Perawat harus mampu
mamahami faktor psikologis dan emosional yang berhubungan
dengan diagnosa penyakit, dan perawat juga harus terus
mendukung pasien dan keluarga dalam menjalani proses
penyakitnya.

21


DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk
perencanaan keperawatan pasien. Edisi 3 . Jakarta : EGC.
Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses
Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Reksoprodjo S. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. 2002. Staf Pengajar Bagian Ilmu
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Binarupa Aksara.
Jakarta.
Sadler TW. 2000. Embriologi Kedokteran Langman edisi 7. EGC. Jakarta
Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol
III. Edisi 8. Jakarta : EGC.