Anda di halaman 1dari 3

Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imun yang patologik, tidak normal, yang terjadi akibat

respon imun yang berlebihan terhadap suatu pajanan antigen yang sama untuk kedua kalinya,
sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Robert Coombs dan Philip HH Gell (1963)
membagi reaksi ini menjadi 4 tipe berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi,
yaitu tipe I, II, III dan IV. (Iris Rengganis, 2014)
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE I
Reaksi tipe I disebut juga reaksi cepat, atau reaksi alergi, yang timbul kurang dari 1 jam
sesudah tubuh terpajan oleh alergen yang sama untuk kedua kalinya. Pada reaksi tipe ini,
yang berperan adalah antibodi IgE, sel mast ataupun basofil, dan sifat genetik seseorang yang
cendrung terkena alergi (atopi). Prosesnya adalah sebagai berikut:
Ketika suatu alergen masuk ke dalam tubuh, pertama kali ia akan terpajan oleh
makrofag. Makrofag akan mempresentasikan epitop alergen tersebut ke
permukaannya, sehingga makrofag bertindak sebagai antigen presenting cells (APC).
APC akan mempresentasikan molekul MHC-II pada Sel limfosit Th2, dan sel Th2
mengeluarkan mediator IL-4 (interleukin-4) untuk menstimulasi sel B untuk
berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel Plasma. Sel Plasma akan menghasilkan
antibodi IgE dan IgE ini akan berikatan di reseptor FC-R di sel Mast/basofil di
jaringan. Ikatan ini mampu bertahan dalam beberapa minggu karena sifat khas IgE
yang memiliki afinitas yang tinggi terhadap sel mast dan basofil. Ini merupakan
mekanisme respon imun yang masih normal.
Namun, ketika alergen yang sama kembali muncul, ia akan berikatan dengan IgE
yang melekat di reseptor FC-R sel Mast/basofil tadi. Perlekatan ini tersusun
sedimikian rupa sehingga membuat semacam jembatan silang (crosslinking) antar dua
IgE di permukaan (yaitu antar dua IgE yang bivalen atau multivalen, tidak bekerja
jika igE ini univalen). Hal inilah yang akan menginduksi serangkaian mekanisme
biokimiawi intraseluler secara kaskade, sehingga terjadi granulasi sel Mast/basofil.
Degranulasi ini mengakibatkan pelepasan mediator-mediator alergik yang terkandung
di dalam granulnya seperti histamin, heparnin, faktor kemotaktik eosinofil, dan
platelet activating factor (PAF). Selain itu, peristiwa crosslinking tersebut ternyata
juga merangsang sel Mast untuk membentuk substansi baru lainnya, seperti LTB4,
LTC4, LTD4, prostaglandin dan tromboksan. Mediator utama yang dilepaskan oleh
sel Mast ini diperkirakan adalah histamin, yang menyebabkan kontraksi otot polos,
bronkokonstriksi, vasodilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas vaskular,
edema pada mukosa dan hipersekresi.
Gejala yang ditimbulkan: bisa berupa urtikaria, asma, reaksi anafilaksis, angioedema dan
alergi atopik.
REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE II
Reaksi hipersensitifitas tipe II disebut juga dengan reaksi sitotoksik, atau sitolisis. Reaksi ini
melibatkan antibodi IgG dan IgM yang bekerja pada antigen yang terdapat di permukaan sel
atau jaringan tertentu. Antigen yang berikatan di sel tertentu bisa berupa mikroba atau
molekul2 kecil lain (hapten). Ketika pertama kali datang, antigen tersebut akan
mensensitisasi sel B untuk menghasilkan antibodi IgG dan IgM. Ketika terjadi pemaparan
berikutnya oleh antigen yang sama di permukaan sel sasaran, IgG dan IgM ini akan berikatan
dengan antigen tersebut. Ketika sel efektor (seperti makrofag, netrofil, monosit, sel T
cytotoxic ataupun sel NK) mendekat, kompleks antigen-antibodi di permukaan sel sasaran
tersebut akan dihancurkan olehnya. Hal ini mungkin dapat menyebabkan kerusakan pada sel
sasaran itu sendiri, sehingga itulah kenapa reaksi ini disebut reaksi sitotoksik/sitolisis
(sito=sel, toksik=merusak, lisis=menghancurkan).
Prosesnya ada 3 jenis mekanisme yang mungkin, yaitu:
1. Proses sitolisis oleh sel efektor. Antibodi IgG/IgM yang melekat dengan antigen
sasaran, jika dihinggapi sel efektor, ia (antibodi) akan berinteraksi dengan reseptor Fc
yang terdapat di permukaan sel efektor itu. Akibatnya, sel efektor melepaskan
semacam zat toksik yang akan menginduksi kematian sel sasaran. Mekanisme ini
disebut ADCC (Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity).
2. Proses sitolisis oleh komplemen. Kompleks antigen-antibodi di permukaan sel sasaran
didatangi oleh komplemen C1qrs, berikatan dan merangsang terjadinya aktivasi
komplemen jalur klasik yang akan berujung kepada kehancuran sel.
3. proses sitolisis oleh sel efektor dengan bantuan komplemen. Komplemen C3b yang
berikatan dengan antibodi akan berikatan di reseptor C3 pada pemukaan sel efektor.
Hal ini akan meningkatkan proses sitolisis oleh sel efektor.
Keseluruhan reaksi di atas terjadi dalam waktu 5-8 jam setelah terpajan antigen yang sama
untuk kedua kalinya.
Contoh penyakit yang ditimbulkan: Reaksi transfusi, Rhesus Incompatibility, Mycoplasma
pneumoniae related cold agglutinins, Tiroiditis Hashimoto, Sindroma Goodpastures,
Delayed transplant graft rejection.
REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE III
Reaksi hipersensitifitas tipe III ini mirip dengan tipe II, yang melibatkan antibodi IgG dan
IgM, akan tetapi bekerja pada antigen yang terlarut dalam serum.
Prosesnya adalah sebagai berikut:
Seperti tipe yang lainnya, ketika antigen pertama kali masuk, ia akan mensensitisasi
pembentukan antibodi IgG dan IgM yang spesifik. Ketika pemaparan berikutnya oleh antigen
yang sama, IgG dan IgM spesifik ini akan berikatan dengan antigen tersebut di dalam serum
membentuk ikatan antigen-antibodi kompleks. Kompleks ini akan mengendap di salah satu
tempat dalam jaringan tubuh (misalnya di endotel pembuluh darah dan ekstraseluler)
sehingga menimbulkan reaksi inflamasi. Aktifitas komplemen pun akan aktif sehingga
dihasilkanlah mediator-mediator inflamasi seperti anafilatoksin, opsonin, kemotaksin,
adherens imun dan kinin yang memungkinkan makrofag/sel efektor datang dan melisisnya.
Akan tetapi, karena kompleks antigen antibodi ini mengendap di jaringan, aktifitas sel efektor
terhadapnya juga akan merusak jaringan di sekitarnya tersebut. Inilah yang akan membuat
kerusakan dan menimbulkan gejala klinis, dimana keseluruhannya terjadi dalam jangka
waktu 2-8 jam setelah pemaparan antigen yang sama untuk kedua kalinya. Contoh penyakit
yang ditimbulkan: Systemic Lupus Erythematosus, Erythema Nodosum, Polyarteritis nodosa,
Arthus Reaction, Rheumatoid Arthritis, Elephantiasis (Wuchereria bancrofti reaction), Serum
Sickness.
REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE IV
Reaksi hipersensitifitas tipe IV berbeda dengan reaksi sebelumnya, karena reaksi ini tidak
melibatkan antibodi akan tetapi melibatkan sel-sel limfosit. Umumnya reaksi ini timbul lebih
dari 12 jam stelah pemaparan pada antigen, sehingga reaksi tipe ini disebut reaksi
hipersensitifitas tipe lambat. Antigen untuk reaksi ini bisa berupa jaringan asing,
mikroorganisme intraseluler (virus, bakteri), protein, bahan kimia yang dapat menembus
kulit, dan lain-lain.
Prosesnya secara umum adalah sebagai berikut:
Ketika tubuh terpajan alergen pertama kali, ia akan dipresentasikan oleh sel dendritik ke
limfonodus regional. Disana ia akan mensensitasi sel Th untuk berproliferasi dan
berdiferensiasi menjadi sel DTH (Delayed Type Hypersensitivity). Bila sel DTH yang
disensitasi terpajan ulang dengan antigen yang sama, ia akan melepas sitokin (berupa IFN-,
TNF-, IL-2,IL-3) dan kemokin (berupa IL-8, MCAF, MIF) yang akan menarik dan
mengaktifkan makrofag yang berfungsi sebagai sel efektor dalam reaksi hipersensitifitas.



Daftar Pustaka
Rengganis, Iris. 2014. Immunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit FK UI
Darwin, Eryati. 2012. Bahan Ajar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
http://fk.unand.ac.id/in/akademik/lecture-note (diakses pada tanggal 28 April 2014 pukul 21.00)