Anda di halaman 1dari 21

1.

Sistem Konvensional
Sistem konvensional memiliki Karakteristik khusus yaitu :
Cakupan (coverage) sebuah sel sangat luas
Daya pancar antena Base Station (BS) besar
Antena BS ditempatkan cukup tinggi
Satu frekuensi digunakan oleh satu sel

Gambar 1. Sistem Konvensional
Kelemahannya adalah
Kapasitas kanal kecil
Interferensi adjacent channel
Daya pancar tidak efisien (boros)
Mobile station (MS) yang pindah sel harus memulai panggilan baru (reinitiating
call)
Serta Keuntungannya adalah
Desain sistem dan infrastruktur sederhana
Biaya awal cukup murah
2. Sistem Seluler
Sistem seluler dewasa ini berkembang cukup pesat. Sistem seluler yang dipakai
saat ini antara lain: AMPS (Advanced Mobile Phone Service) di amerika utara, MCS
(Mobile Communications system) di Jepang, TACS (Total Access Communications
System), GSM (Group Special Mobile), Spread-Spectrum CDMA (Code Division Multiple
Access). Namun bila dilihat dari metoda akses yang digunakan, pada dasarnya ada 3
sistem seluler , yaitu: sistem seluler yang menggunakan metoda akses FDMA (Frequency
Division Mulltiple Access), metoda akses TDMA (Time Division Multiple Access), dan
metoda akses CDMA (Code Division Multiple Access)
Reinitiating call
F1
F2
Pada sistem FDMA, tiap kanal pembicaraan dibedakan berdasarkan pembagian
frekuensi. Tiap-tiap kanal menempati satu frekuensi dengan lebar band 30 KHz. Jadi
hanya satu pemakai yang dapat memakai kanal frekuensi tersebut dalam setiap
waktunya. Teknik FDMA dipakai pada sistem seluler analog seperti AMPS dan TACS.
Sedangkan pada sistem TDMA menerapkan pembagian waktu untuk meningkatkan
kapasitas sistem. Satu kanal frekuensi dibagi lagi menjadi beberapa time slot sehingga
kapasitas sistem lebih meningkat. TDMA diterapkan antara lain pada seluler GSM
dimana satu band frekuensi dibagi menjadi delapan time slot. Lain halnya dengan
CDMA, semua pemakai seluler memakai frekuensi pancar yang sama dengan lebar band
1,25 MHz dimana masing-masing kanal dibedakan oleh kode unik tertentu.
Karakteristik utama sistem selular adalah:
a. Coverage sebuah sel kecil
b. Daya pancar antena BS kecil
c. Terjadi pengulangan frekuensi (frequency reuse)
Frekuensi atau grup frekuensi bisa dipergunakan pada sel yang
terpisahkan dengan jaraj pengulangan yang cukup.

Gambar 2
Frequency reuse bertujuan menambah kapasitas dalam jaringan seluler.
Frequency reuse yaitu penggunaan band frekuensi yang sama dalam jaringan.
Faktor frekuensi reuse (K) adalah jumlah sel yang tidak dapat menggunakan
frekuensi sama dalam transmisi. Faktor frekuensi reuse yang sudah diaplikasikan
: 1/3, , 1/7, 1/9, dan 1/12
Dalam membangun sistem komunikasi seluler, salah satu parameter harus
diperhatikan adalah pengulangan kanal frekuensi (frekuensi reuse). Dalam
perencanaaan pengulangan kanal frekuensi ini hal yang terpenting adalah
menghindari penggunaaan frekuensi yang sama pada BTS yang berurutan atau
bersebelahan. Hal ini dimaksud agar tidak terjadi interferensi.
Pada konsep frekuensi reuse, suatu kanal frekuensi dapat melayani
beberapa panggilan pada waktu yang sama. Semua frekuensi yang tersedia
dapat digunakan oleh tiap-tiap sel, sehingga dapat mencapai kapasitas jumlah
pelanggan yang besar menggunakan pita frekuensi yang efektif. Jarak minimum
frekuensi reuse dinyatakan dalam persamaan:

Dimana:
D = Jarak antara BS dan BS
R = Radius Sel
K = Jumlah Pola Frekuensi
Konsep frekuensi reuse dapat meningkatkan efisiensi pada penggunaan
spectrum frekuensi, tetapi harus diikuti dengan pola tertentu agar tidak terjadi
interferensi kanal. Dalam sistem selular CDMA, karena sistem ini tahan terhadap
interferensi maka tidak memerlukan perencanaan pengulangan frekuensi karena
seluruh BTS menggunakan frekuensi yang sama. Yang membedakan BTS satu
dengan yang lain adalah penggunaan kode PN (Pseudonoise) yang khusus ditiap
lokasi
d. Pemecahan sel (cell splitting)
Ketika jumlah pelanggan meningkat dan mencapai jumlah maksimum
yang dapat dilayani sel, maka sel-sel harus dibelah menjadi sel-sel yang lebih
kecil dan masing-masing mempunyai jumlah kanal yang sama serta dapat
melayani jumlah pelanggan yang sama seperti sel asalnya. Dengan proses
pembelahan sel, jumlah pelanggan potensial dapat ditingkatkan tanpa
kebutuhan tambahan bandwidth.
Pembelahan sel bisa dilakukan dengan cara melakukan sektorisasi pada
pusat sel, atau dengan membelah pusat grup sel menjadi sel-sel yang lebih kecil.

Gambar 3
e. Hand-off dan pengontrolan terpusat

Gambar 2
Konsep Selular yaitu:
Menggunakan beberapa transmitter (Base Station) daya dan ketinggian yang
rendah untuk memberikan coverage yang terbatas.
Sel Sistem
Konvensional
Sel Sistem
Selular

Gambar 3
Menggunakan sekelompok sel (Cluster) untuk membagi spektrum frekuensi ke
dalam kanal yang berbeda. Cluster adalah Seluruh daerah pelayanan dicakup oleh
beberapa kelompok sel. Satu cluster terdiri dari beberapa sel (n sel).

Gambar 4
Radio pada BTS merupakan node network yang langsung interface ke customer.

Gambar 5
3. Handoff pada seluler
Hand off adalah merupakan fasilitas di dalam sistem cellular untuk menjamin
adanya kontinyuitas komunikasi apabila pelanggan bergerak dari satu cell ke cell yang
lain. Handover diperlukan pada saat :
C/I dibawah nilai minimum yang dipersyaratkan,atau
RSS dibawah level minimum yang dipersyaratkan
Jenis jenis Hand off:
Internal Handover (BSC controlled) :
o Intra-cell handover
o Inter-cell handover
External Handover (MSC controlled)
o Intra-MSC handover
o Inter-MSC handover dalam satu operator
o Inter MSC melalui berbeda operator (roaming)
Dengan Handoff, Komunikasi terus berlangsung ketika terjadi perpindahan sel
akibat mobilitas Pada FWA hand-off tidak diperlukan.

Gambar 6
4. Kontrol Daya
a. Kontrol Daya pada Reverse Link
Kontrol daya pada reverse link dibutuhkan untuk menjamin sinyal yang
diterima oleh Base Station memiliki level daya yang sama. Ada dua jenis kontrol
daya yang digunakan pada arah reverse link , yaitu :
Open loop Power Control
Pada open loop power control Mobile Unit akan memperkirakan rugi
lintasan propagasi dengan mengukur besar daya yang diterima. Hubungan
antara besar daya yang diterima dengan daya sinyal yang dipancarkan oleh
Mobile Unit dapat dituliskan sebagai berikut:

()

() ()
dimana :
Rx = daya yang diterima oleh MU
Tx = daya yang dipancarkan oleh MU
Jika daya yang diterima oleh Mobile Unit meningkat maka daya yang
dipancarkan oleh Mobile Unit akan turun agar persamaan diatas terpenuhi.
Proses kontrol daya open loop tersebut ditunjukkan pada gambar 6.
Base Station memancarkan sinyal pilot kepada Mobile Unit . Mobile Unit akan
mengukur level sinyal pilot tersebut. Berdasarkan level sinyal pilot yang
diterima ini maka Mobile Unit mengatur daya pancarnya. Sesuai dengan rumus
(1) maka apabila Mobile Unit menerima sinyal pilot yang kuat maka daya
pancar Mobile Unit akan diturunkan. Sebaliknya apabila jarak Mobile Unit jauh
dari Base Station maka level sinyal yang diterima akan lebih lemah sehingga
Mobile Unit menaikkan daya pancarnya.

Gambar 6. Kontrol daya open loop
Sebagai contoh misalnya daya sinyal yang diterima oleh Mobile Unit
adalah 90 dBm maka daya yang dipancarkan oleh Mobile Unit adalah 17 dBm.
Daya pancar maksimal Mobile Unit adalah 23 dBm.
Close Loop Power Control
Dalam close loop power control yang digunakan sebagai acuan adalah
perbandingan nilai Eb/No user dengan nilai threshold Eb/No, g . Jika nilai
Eb/No yang dicapai oleh user diatas nilai g maka "down" akan dikirim oleh
Base Station dan sebaliknya perintah "up" dikirim jika nilai Eb/No berada
dibawah g .

Gambar 7. Kontrol daya close loop
Proses kontrol daya close loop ditunjukkan oleh gambar 7. Base Station
akan mengukur kuat sinyal pancar Mobile Unit dan menghitung Eb/No Mobile
Unit tersebut. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan metrik referensi serta
Mobile Unit yang lain. Apabila nilai ini dibawah standar referensi maka Base
Station mengirim perintah up untuk menaikkan daya pancar Mobile Unit.
Perintah ini diterima oleh Mobile Unit dan Mobile Unit mengatur kembali daya
pancarnya sesuai dengan perintah tersebut. Perintah ini dikirim oleh Base
Station setiap 1,25 ms.
b. Kontrol Daya pada Forward Link
Dalam sel tunggal CDMA kontrol daya pada forward link tidak dibutuhkan,
namun untuk seluler CDMA dengan multisel kontrol daya merupakan hal yang
sangat penting. Penggunaan kontrol daya pada foward link ini bertujuan untuk
mengurangi interferensi pada sel tetangga yang muncul pada perbatasan antar sel.
5. Interferensi Sistem selular
Interferensi adalah faktor pembatas utama kinerja sistem radio seluler. Pada kanal
voice, interferensi menyebabkan cross talk. Sedangkan pada kanal kontrol, interferensi
menyebabkan kesalahan, blocking dan error dalam digital signalling. Interferensi sering
dikenal sebagai major bottleneck dalam penambahan kapasitas dan menjadi penyebab
utama drop call.
a. Interferensi kanal yang sama (Co-channel interference)
Interferensi kanal yang sama terjadi ketika dua atau lebih kanal komunikasi
menggunakan frekuensi yang sama. Penggunaan frekuensi yang sama ini
awalnya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Interferens kanal
yang sama merupakan fungsi parameter q yang didefinisikan sebagai:


Dengan:
D = jarak antara sel-sel yang menggunakan frekuensi yang sama
R = radius sel
Nilai q disebut faktor pengurangan interferens kanal yang sama (co-channel
radiation faktor) yang dapat ditentukan untuk setiap level atas perbandingan
sinyal terhadap interferensi yang diinginkan.
Pada frequency reuse, ada beberapa sel yang menggunakan set frekuensi yang
sama. Interferensi ini dapat di minilalisir dengan rancangan freaquency reuse
yang tepat.
Sumber Interferensi co-channel Pada bentuk sel heksagonal sel penyebab
interferensi berasal dari 6 sel lapis pertama, 6 sel lapis kedua, dst. Tetapi
redaman sebanding dengan d
4
,

maka hanya 6 sel lapis pertama saja yang
dominan. Sebagai parameter kualitas sinyal digunakan C/I : carrier to noise ratio

b. Interferensi kanal bersebelahan (Adjacent channel interference)
Interferensi kanal bersebelahan terjadi akibat adanya dua buah sel yang saling
bersebelahan menggunakan dua spektrum frekuensi yang berdekatan sehingga
energi sinyal dari kanal yang satu memasuki kanal lainnya. Di dalam sistem
selular, interferens kanal bersebelahan lebih mudah dikontrol jika dibandingkan
dengan interferens kanal bersama, yaitu dengan filter yang curam (filter orde
tinggi, tetapi biasanya harganya mahal).
6. Teknik Spread Spektrum pada CDMA
Teknologi CDMA memfokuskan diri pada teknologi direct sequence spread
spectrum. Direct sequence adalah suatu teknik spread spectrum dimana bandwidth
ditambah dengan menambah kecepatan bit data. Hal ini dilakukan dengan mengalikan
tiap-tiap bit dengan sejumlah subbit yang dinamai chips. Jika diasumsikan ada 10 bit,
tiap bit dari sinyal asli dibagi dengan 10 bit terpisah (chips). Hasil dari proses ini akan
meningkatkan kecepatan 10 kali lipat, dengan meningkatnya kecepatan data ini maka
bandwidth akan meningkat 10 kali lipat juga.
Sinyal informasi dikalikan dengan Pseudo-Noise code (PN code). PN kode adalah
rangkaian bit dengan kecepatan tinggi yang bernilai polar dari 1 ke 1 atau non polar 1
ke 0. Pemakaian sejumlah chip kode ini dimaksudkan untuk mendapatkan sinyal-sinyal
dalam bit-bit kecil dalam kode PN dari sinyal asli. Hal ini dilakukan dengan mengalikan
sinyal asli termodulasi dengan kode PN berkecepatan tinggi yang akan membagi sinyal
menjadi bit-bit kecil, oleh karena itu lebar band menjadi bertambah. Proses tersebut
diatas ditunjukkan pada gambar 3. Jumlah kode chip yang dipakai untuk melebarkan
bandwidth berbanding lurus dengan jumlah chip yang digunakan

Gambar 3. Proses pengkodean bit data dengan kode PN
Diasumsikan ada dua pemancar (gambar 4) yang mentransmisikan dua pesan
berbeda, dianggap bahwa masing-masing pemancar merupakan handphone yang
terpisah. Pesan M1(t) dan M2(t) sebagai fungsi waktu dimodulasikan dengan sinyal
pembawa berfrekuensi tinggi. Pada sistem spread spectrum, sinyal pembawa yang
dipakai untuk memodulasi mempunyai frekuensi yang sama. Keluaran dari modulator ini
berupa sinyal S1 dan S2. Setelah modulator, sinyal tersebut dikalikan dengan kode PN-
nya masing-masing, C1 dan C2. Dalam contoh ini dipakai kode PN yang bernilai -1 dan 1.
Setelah disebarkan dalam bandwidth, masing-masing sinyal ditransmisikan. Karena
banyak sinyal ditransmisikan dari transmiter yang berbeda dalam waktu yang
bersamaan, proses transmisi ini diwujudkan dengan penjumlahan spektrum secara
sederhana.

Gambar 4. Sistem pemancar dan penerima CDMA
Pada bagian penerima, sinyal yang diterima akan berupa sinyal spread spectrum.
Untuk mendapatkan kembali masing-masing pesan dalam sinyal tersebut maka
dilakukan perkalian terhadap sinyal penerimaan tersebut dengan kode PN yang sesuai.
Karena telah dipilih kode PN dalam rentangan -1 dan 1, teknik perkalian kode PN ini
akan bekerja dengan sempurna. Karena sinyal asli pada pemancar telah dikalikan
dengan kode PN, dan kembali dikalikan dengan kode PN yang sama pada penerima,
maka kode PN yang lain dapat dihilangkan dari pesan yang diterima. Gambar 5
mengilustrasikan bagaimana kode PN dieliminasi.

Gambar 5. Pengeliminasian kode PN
Dengan mengeliminasi kode PN maka akan didapatkan pesan yang diinginkan dari
sinyal spread spectrum tersebut. Rangkaian penerima yang melakukan hal ini disebut
correlator. Correlator akan menurunkan kembali sinyal spread spectrum menjadi sinyal
asli dengan band sempit yang berpusat pada frekuensi pembawa pemodulasi. Siyal hasil
proses ini kemudian dilewatkan pada band pass filter (BPF) pada frekuensi pembawa.
Operasi ini dimaksudkan untuk mendapat kembali sinyal yang diinginkan dan menolak
semua sinyal selain frekuensi sinyal yang diinginkan. Peristiwa penolakan ini dikenal
dengan processing gain dari proses despreading correlation. Akhirnya sinyal akan
didemodulasi untuk menghilangkan frekuensi carrier.
Processing gain adalah akibat langsung dari spreading dan despreading direct
sequence pada sinyal radio. Ini mengacu kepada peningkatan signal-to-noise ratio (SNR),
dan ini akan menentukan suksesnya komunikasi data. Processing gain meningkat
sebanding dengan meningkatnya jumlah chip tiap bit data, dan ini bisa dimanipulasi
dengan merancang sistem untuk mendapatkan efek yang diinginkan.
7. Kapasitas Sistem Seluler
Jika diasumsikan bahwa sebuah sel mempunyai N user yang konstan, maka
sinyal yang diterima oleh base station pada sel tersebut terdiri dari sinyal user yang
diinginkan ditambah (N-1) sinyal dari user penginterferensi. Dengan asumsi kontrol
daya bekerja sempurna, maka sinyal terima untuk semua kanal adalah sama, yaitu
sebesar S. Sehingga persamaan energy per bit (Eb) dan rapat spektrum daya
penginterferensi (Io) dapat dinyatakan sebagai berikut :

( )


Sedangkan persamaan energy bit to interference (Eb/Io) adalah :


( )




Dari persamaan di atas diperoleh bahwa kapasitas sel atau jumlah kanal yang dapat
diakomodasi oleh satu frekuensi pembawa dengan bandwidth (W) adalah :


Jika N diasumsikan sangat besar maka persamaan di atas dapat disederhanakan
menjadi :


Jika interferensi dari sel lain, gain aktivitas suara, dan gain sektorisasi antena juga
diperhitungkan, maka persamaannya menjadi :

( )

Dimana :
W = lebar pita frekuensi spektral tersebar (Hz) = 1,2288 MHz
R = data rate sinyal informasi (kbps) = 9,6 kbps
Eb/Io = rasio energi per bit terhadap rapat daya penginterfernsi (dB)
= gain aktivitas suara ( 0,4 untuk suara dan 1 untuk data)
= gain sektorisasi antena ( 2,55 untuk antena trisektoral)
f = faktor interferensi dari sel lain
8. Kapasitas Sistem Seluler CDMA
Kapasitas seluler CDMA sangat dipengaruhi oleh interferensi yang terjadi.
Interferensi ini disebabkan oleh daya pancar Mobile Unit pada sel tersebut dan
interferensi dari Mobile Unit pada sel sekitarnya. Interferensi ini akan menurunkan nilai
Eb/No sistem. Apabila nilai Eb/No turun dibawah nilai threshold maka hubungan
komunikasi akan terputus.
Pada daerah urban dimana jumlah pelanggan cukup besar maka tingkat
interferensi yang terjadi juga besar. Hal ini akan menurunkan tingkat kualitas layanan
komunikasi seluler. Untuk memecahkan masalah ini maka dilakukan pengaturan sinyal
pilot Base Station yang mengacu kepada Cell Breathing.
Cell Breathing adalah peristiwa mengembang dan menciutnya cakupan sel CDMA
sesuai dengan jumlah trafik yang terjadi. Apabila trafik tinggi maka sinyal pilot Base
Station diturunkan sehingga ukuran sel menyempit. Apabila trafik ada pada kondisi
normal maka sinyal pilot dinaikkan pada level normal sehingga ukuran sel kembali
seperti semula.
Pengaturan sinyal pilot Base Station juga akan menyebabkan lebih banyak
terjadinya handoff . Handoff yang terjadi akan menguntungkan sel yang sedang padat
user karena intererferensi yang terjadi akan berkurang. Hal ini akan secara langsung
menaikkan nilai Eb/No sel tersebut.
a. Kapasitas Sel Tunggal CDMA
Kapasitas sel tunggal CDMA dapat dianalisa dengan tanpa memperhatikan
interferensi dari sel-sel lain. Dengan mengansumsikan kontrol daya ideal, seluruh
sinyal yang diterima Mobile Unit berada pada level yang sama. Untuk n buah
Mobile Unit yang aktif, Base Station akan menerima sinyal yang diinginkan dengan
daya S dan sebanyak (n-1) sinyal noise dengan daya sebesar S pula. Jadi didapatkan
signal-to-noise ratio (S/N) sebesar :

)
()
Faktor yang lebih menunjukkan faktor keandalan sistem adalah


(energi per bit / noise density).

)
()
Sehingga kapasitas sel tunggal CDMA diberikan oleh persamaan:


(

)
( ) ()
dimana :
n = Kapasitas sel
X = Voice Activator
W = Bandwidth
R = Bit rate
Eb/No = Energi bit pernoise
S = level sinyal penerimaan
h = Background thermal noise
b. Kapasitas multisel CDMA
Untuk menghitung kapasitas multisel CDMA, interferensi dari sel lain (I) serta
interferensi dari sel sendiri harus diperhitungkan yang dapat dinyatakan dengan:

)
()


(

)
( ) ( ) ()
Dimana I adalah interferensi eksternal dari sel-sel sekitarnya.
Kapasitas multisel CDMA yang ditunjukkan oleh persamaan (6) akan
mencapai kapasitas maksimal jika harga dari Eb/No minimum.
c. Pemantulan Aktifitas Suara
Dengan pemantulan aktifitas suara, pemancar menjadi tidak aktif saat
pemakai dalam keadaan diam, dimana pemancar akan menghentikan pancaran
sinyal selama mendeteksi sinyal suara diam.

Gambar 6 Rata-rata siklus pembicaraan
Adanya pemantulan aktifitas suara akan enurunkan interferensi antara
pemakai saat diam pemancar tidak mengirimkan sinyal sehingga interferensi akan
turun. Pada gambar digunakan power ke kontrol yang digunakan untuk mengatur
daya pancar sehingga yang diterima penerima BS dari setiap pengguna sama yaitu:

maka persamaannya dapat ditulis:

( ) ( )
()
Dimana:
S = Daya yang diterima
N = Jumlah kanal
= White noise gaussian
d. Sektorisasi
Salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas sel ialah dengan cara
sektorisasi antenna. Sektorisasi adalah pembagian daerah cakupan dari satu sel
menjadi sel-sel kecil yang sama besar. Sektorisasi dengan 3 sektor memiliki antena
beamwidth 120 derajat. Penggunaan antena 3 sektor akan mereduksi interferensi
menjadi 1/3 dari antena omni (segala arah), sebab masing-masing antenna akan
menerima interferensi 1/3 bagian dari kapasitas total. Pada kondisi ini kapasitas
keseluruhan akan meningkat tiga kali. Tetap mengingat terdapat overlapping
cakupan antenna untuk menjamin tidak adanya daerah yang kosong (blank spot),
maka peningkatan kapasitas karena sektorisasi menjadi 2,5 kali.

Gambar 7. (a) Sektorisasi 3 sektor (120
0
) (b) Sektorisasi 6 sektor (60
0
)
9. Interferensi Eksternal pada Sel CDMA
Besarnya interferensi eksternal dapat dihitung sebagai berikut:
Diasumsikan pada sebuah sel dengan radius R terdapat sebanyak n buah user
yang terdistribusi secara uniform (gambar 8) maka kepadatan dari sel tersebut adalah :

()
Daya total dari suatu sel yang memiliki user sebanyak n yang diterima sebagai
interferensi pada Base Station sel yang berjarak adalah :
()

()
dimana integrasi dilakukan untuk seluruh daerah cakupan sel, dengan :

()

Gambar 8. Perhitungan interferensi dari sel lain
Sehingga akan diperoleh:

()

()

( ) *

)
+ ()
dimana :
D = jarak antara dua sel
R = radius sel
S = kuat sinyal Mobile Unit
Harga k pada persamaan (11) diatas dapat dicari dengan menggunakan
persamaan dibawah :

()

()
10. Konsep Cell Breathing
Kendala operasional yang dihadapi dalam penerapan seluler CDMA adalah tingkat
interferensi yang terjadi sesuai dengan jumlah user pada sel tersebut. Dengan
meningkatnya daya interferensi pada sel maka Mobile Unit yang terletak jauh dari Base
Station akan kehabisan daya pancar sehingga tidak dapat mempertahankan nilai Eb/No
yang diisyaratkan dan hubungan akan terputus.
Hal diatas dapat diatasi dengan cara memindahkan sejumlah user aktif yang
terletak pada daerah perbatasan sel menuju sel yang memiliki jumlah user aktif yang
lebih rendah sehingga kapasitas sistem yang dicapai dapat lebih optimum. Untuk
memindahkan user aktif tersebut diperlukan adanya pengaturan sinyal pilot Base
Station.
Peristiwa Cell Breathing pada sel CDMA ditunjukkan pada gambar 9. Apabila suatu
sel sedang padat user maka interferensi pada sel tersebut akan meningkat. Interferensi
yang terjadi akan menurunkan nilai Eb/No sistem. Menurunnya nilai Eb/No berarti
menurunnya kualitas komunikasi yang terjadi. Pada kondisi ini Base Station akan
menurunkan level sinyal pilotnya. Dengan turunnya sinyal pilot maka ukuran sel akan
mengecil. User yang berada pada pinggir sel akan menerima pilot yang lebih kecil
sehingga akan terjadi handoff ke sel tetangganya.

Gambar 9. Peristiwa Cell Breathing pada sel CDMA
Mekanisme handoff yang digunakan pada pengontrolan sinyal pilot adalah
sebagai berikut :
a. Ketika suatu sel CDMA sedang padat dan interferensi yang muncul cukup
untuk menurunkan Eb/No dibawah nilai threshold g , Base Station mulai
menurunkan daya sinyal pilot.
b. User yang terletak pada daerah overlapping antar sel akan melakukan handoff
menuju sel dengan sinyal pilot yang lebih tinggi.
c. Sinyal pilot tidak boleh turun hingga tak terbatas untuk tetap menjaga daerah
overlapping antar sel yang berguna saat terjadinya handoff.
d. Daya sinyal pilot akan naik secara perlahan-lahan kembali jika nilai Eb/No telah
berada diatas nilai threshold g .
Permintaan handoff tetap menjadi prioritas utama dibandingkan dengan
permintaan pembicaraan yang baru.
Keuntungan algoritma diatas adalah:
a. Meminimalkan biaya. Masing-masing mobile unit mengukur kuat sinyal pilot
tersebut untuk menetukan perlunya handoff. Ketika handoff diperlukan maka
MU mengkomunikasikannya dengan Base Station untuk menginisialisasikan
handoff. Jadi antar Base Station tidak perlu berkomunikasi untuk bertukar
informasi.
b. Diharapkan Mobile Unit telah dilengkapi dengan proses pengukuran sinyal
pilot sehingga tidak perlu lagi mengubah rangkaian pada Mobile Unit tersebut.
c. Prosedur Handoff yang terjadi tidak rumit.
d. Hanya diperlukan penambahan peralatan pada Base Station saja. Diperlukan
adanya sistem kontrol umpan balik untuk mengatur kuat sinyal pilot sesuai
dengan tingkat interferensi .
11. jb