Anda di halaman 1dari 22

1

STATUS PASIEN
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL
Nama Mahasiswa : Widi Angga Kusuma Dokter Pembimbing : dr.Hery S, Sp.A
NIM : 030.07.270 Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. R
Umur : 2,5 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Dukuh Maja, Songgom, Brebes.
Ruangan : Melati
Masuk RS : 04 Februari 2013

Nama Ayah : Tn. A (Alm.)
Umur : 32 tahun
Pekerjaan : -
Pendidikan : SMA

Nama Ibu : Ny. Y
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMP

2

DATA DASAR
ANAMNESIS (Alloanamnesis)
Anamnesis dengan ibu pasien dilakukan pada tanggal 5 Februari 2013 pukul
12.00 WIB di Ruang Melati.
Keluhan Utama : Panas
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang diantar oleh ibunya ke poliklinik anak RSUD Kardinah
Tegal dengan keluahan panas sejak 4 hari yang lalu. Panas dirasakan terus
menerus dan hanya turun bila diberi obat penurun panas, namun tidak lama
panasnya naik lagi. Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa akhir-akhir ini
anaknya sering sesak napas. Namun sesak napasnya tersebut hilang timbul
tidak tentu waktunya. Selain itu pasien juga ada batuk berdahak yang timbul
bersamaan dengan panasnya. Batuk berdahak yang timbul terus menerus
namun dahaknya tidak dapat dikeluarkan.
Sejak panas dan batuk, pasien jadi tambah sulit makan. Dimana
sebelum sakit pun pasien memang sudah sulit makan dan berat badannya pun
juga sulit naik. Ibu pasien menyangkal adanya keluhan mual, muntah,
mencret, dan kejang. BAB normal 2x sehari, lunak, warna kuning , tidak ada
darah dan lendir. BAK berwarna kuning jernih , tidak berpasir, tidak berdarah
dan tidak keruh.
Saat dibawa ke poliklinik pasien masih panas tinggi dan terlihat sesak
sehingga dianjurkan untuk di rawat inap.

Riwayat Penyakit Dahulu
Saat berusia 4 bulan pasien didiagnosis menderita penyakit jantung
bawaan. Dimana saat itu pasien napasnya terlihat cepat seperti sesak
serta sering terlihat kesulitan saat menyusu. Namun tidak ada biru dan
bengkak pada tubuh pasien. Sejak saat itu pasien menjadi sulit makan
dan berat badannya juga sulit naik.
Ibu pasien mengaku rutin berobat untuk penyakit jantung bawaannya
tersebut dan sudah dilakukan echocardiorgrafi 2x.
3

Anak belum pernah dirawat di Rumah Sakit sebelumnya
Riwayat Asma dan Alergi disangkal oleh ibu pasien

Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang
memiliki keluhan atau penyakit seperti pasien.
Riwayat asma dan alergi dalam keluarga disangkal

Riwayat Persalinan
Bayi perempuan lahir dengan umur kehamilan ibu 39 minggu, secara
spontan, ditolong oleh bidan. Bayi lahir langsung menangis keras dengan berat
badan lahir 4000 gram, panjang badan lahir 50 cm, lingkar kepala dan lingkar
dada lahir ibu lupa. Bayi dirawat bersama dengan ibu, setelah 1 hari dirawat,
bayi dan ibu diperbolehkan untuk pulang.
Kesan : Neonatus aterm, lahir spontan, bayi dalam keadaan sehat.

Riwayat Kehamilan dan Pemeriksaan Antenatal
Ibu memeriksakan kehamilan di Bidan secara teratur 1x tiap bulan
selama kehamilan. Saat usia 8 bulan, ibu memeriksakan kehamilan setiap 2
minggu. Mendapatkan suntikan TT 2x Tidak pernah menderita penyakit
selama kehamilan, riwayat perdarahan selama kehamilan disangkal, riwayat
trauma selama kehamilan disangkal, riwayat minum obat tanpa resep dokter
dan jamu disangkal. Ibu mengkonsumsi vitamin penambah darah dari
Puskesmas.
Kesan: riwayat pemeliharaan antenatal baik.

Riwayat Pemeliharaan Postnatal
Pemeliharaan postnatal dilakukan rutin di Posyandu dan anak dalam
keadaan sehat.

4

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Pertumbuhan:
Berat badan lahir 4000 gram. Panjang badan lahir 50 cm.
Berat badan sekarang 8,5 kg. Tinggi badan 84 cm.
Perkembangan:
senyum : ibu lupa
miring : ibu lupa
tengkurap : 4 bulan
duduk : 6 bulan
gigi keluar : ibu lupa
merangkak : 9 bulan
berdiri : 10 bulan
berjalan : 13 bulan
berbicara : 14 bulan
membaca : -
Gangguan perkembangan : -
Saat ini anak berusia 2,5 tahun. Tidak ada gangguan perkembangan dalam
mental dan emosi. Interaksi dengan orang sekitar baik.
Kesan: terdapat gangguan pertumbuhan pada anak namun
perkembangan anak masih sesuai umur

Riwayat Makan dan Minum Anak
Ibu mengaku memberikan ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 2 thn
Usia 7 bulan diberikan ASI dan bubur susu 2 x sehari.
Usia 8 bulan diberikan ASI dan bubur tim 2 x sehari.
Usia 11 bulan anak telah makan nasi, lauk pauk, dan sayur 2 x sehari.

5

Jenis Makanan Frekuensi
Nasi 2x/hari, 3-4 sendok makan
Tahu / tempe 5-6x seminggu
Ikan 1-2x seminggu
Sayur 3-4x seminggu
Telur 1-2x seminggu

Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan kurang baik
Riwayat Imunisasi
VAKSIN DASAR (umur) ULANGAN (umur)
BCG 0 bulan - - - - -
DPT/ DT 2 bulan 4 bulan 6 bulan - - -
POLIO 2 bulan 4 bulan 6 bulan - - -
CAMPAK - - 9 bulan - - -
HEPATITIS B 0 bulan 1 bulan 6 bulan - - -

Kesan : imunisasi dasar lengkap dan selalu mengikuti jadwal imunisasi
yang tertera pada KMS.
Riwayat Keluarga Berencana
Ibu pasien mengaku belum mengikuti program KB
Riwayat Sosial Ekonomi
Ayah pasien sudah meninggal dunia. Sedangkan ibu pasien hanya seorang ibu
rumah tangga. Pasien dan ibunya masih hidup bersama kakek dan nenek
pasien, dimana kakek pasien menghidupi 6 orang anggota keluarganya.
Kesan: riwayat sosial ekonomi cukup.

6

Silsilah/ Ikhtisar Keturunan





Data Perumahan
Kepemilikan : Rumah orangtua
Keadaan Rumah : Dinding rumah tembok, kamar tidur berjumlah 3, 1 kamar
mandi di dalam rumah. Jarak septic tank kurang lebih 10
meter dari rumah, limbah buangan ke selokan. Sumber air
minum dari air sumur. Pencahayaan dan ventilasi rumah
saling berdekatan.
Keadaan lingkungan : Jarak antar rumah saling berdekatan 2 meter tiap rumah

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 5 Februari 2013 pukul 13.00 WIB, di Ruang Melati.
Kesan Umum : kesadaran: compos mentis, tampak sesak, tampak kurus,
tampak rewel.
Tanda Vital
Nadi : 134 x/menit, reguler, isi cukup
Laju Nafas : 48 x/menit, reguler
Tekanan darah : tidak diperiksa
Suhu : 38 C (aksila)

= Laki-laki
= Perempuan
= Pasien
7

Data Antropometri
Berat badan sekarang : 8,5 kg.
Tinggi Badan: 84 cm
Status Internus
Kepala : Mesocephal, ubun-ubun datar, tidak tegang.
Rambut : Hitam, lebat, tampak terdistribusi merata, tidak mudah
dicabut.
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem
palpebra (-/-), mata cowong (-/-), air mata ada.
Hidung : Bentuk normal, simetris, sekret (-/-)
napas cuping hidung (-)
Telinga : Bentuk dan ukuran normal, discharge (-/-),
Mulut : Bibir kering (-), bibir sianosis (-), stomatitis (-)
Tenggorok : Faring hiperemis (-)
: Tonsil T1-T1 hiperemis (-), detritus (-), granulasi (-)
Leher : Simetris, pembesaran KGB (-)
Thorax : Dinding thorax normothorax dan simetris
o Pulmo:
Inspeksi : Pergerakan dinding thorax kiri-kanan
simetris, retraksi dinding dada(-)
Palpasi : Stem fremitus tidak dilakukan
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru kiri-
kanan
Auskultasi : Suara nafas vesikuler diseluruh lapang
paru kiri-kanan. Ronkhi (+/+) basah halus, wheezing
(-/-).
8

o Cor :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV
midclavicula sinistra
Perkusi : Sulit dinilai
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, gallop(-)
murmur (+) derajat 2 pada ICS III
parasternal kiri.
Abdomen :
o Inspeksi : datar dan simetris.
o Auskultasi : Bising usus 3x/menit.
o Palpasi : Supel, hepar & lien tidak teraba membesar,
turgor kulit baik.
o Perkusi : timpani di ke 4 kuadran abdomen.
Genitalia : OUE hiperemis (-).
Anorektal : Dalam batas normal, hiperemis perianal (-).
Ekstremitas :
Superior Inferior
Akral Dingin -/- -/-
CRT <2 <2
Oedem -/- -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
05/02/13 Nilai rujukan
Hematologi
Lekosit
12.6 6.0-17.0/ul
9

Eritrosit
4.2 3.9-5.9/ul
Hemoglobin
11.1 11.5-13.5 g/dL
Hematokrit
33.2 34-40 %
MCV
77.4 76-96 U
MCH
26.4 27-31 pcg
MCHC
32.3 33.0-37.0 g/dL
Trombosit
340 150-400/ul

Pemeriksaan Echocardigrafi

























November 2010
April 2012
VSD 0,78 cm - 2,8 cm
Kesan : VSD Sedang
VSD 0,35 cm
Kesan : VSD Kecil
10

PEMERIKSAAN KHUSUS
Data antropometri:
Anak perempuan usia : 2,5 tahun
Berat badan : 8,5 Kg
Panjang badan : 84 cm
Pemeriksaan Status Gizi :
Pertumbuhan fisik anak perempuan menurut persentil NCHS
BB/U= 8.5/13 x 100% = 65.38% (rendah)
PB/U= 84/92 x 100% = 91.30% (normal)
BB/PB= 8.5/11.4 x 100% = 74.56% (gizi kurang)
Kesan : Status gizi anak kurang dan perawakan tubuh anak normal.

DAFTAR MASALAH :
Aktif :
1. Panas
2. Sesak Napas
3. Batuk
4. Pemeriksaan Darah Rutin : Leukositosis
5. Pemeriksaan Echocardiografi : VSD kecil
Inaktif :
1. Gangguan Pertumbuhan
2. Gizi Kurang.


11

DIAGNOSA BANDING
Panas dan Batuk
Bronkopneumoni
TB Paru
Bronkitis
Sesak Napas dan Gangguan Pertumbuhan
Non Pulmonal
o Penyakit Jantung Bawaan Asianotik
VSD (Ventricular Septal Defect)
ASD (Atrial Septal Defect)
PDA (Patent Ductus Arteriousus)
Status Gizi Kurang
o Faktor penyakit
o Faktor asupan
o Faktor individu

DIAGNOSA SEMENTARA
I. Bronkopneumonia
II. VSD (Ventricular Septal Defect)
III. Status Gizi Kurang

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Oksigen 5L/menit
Infus RL 10 tpm
Nebulizer Combivent 3 x sehari
12

Injeksi :
o Ceftriakson 2 x 1/3g
o Dexamethasone 3 x 1/3g
Oral :
Parasetamol drop 4 x 0,9ml
Digoxin 2 x tab
Diet :
Kalori = 850 kkal/hari
Protein = 17 gr/ hari
Nasi 3 x 1 piring
Ayam/Daging sapi 1 potong
Tempe/tahu 1 ptong
Sayur bayam 1 mangkuk
Non Medikamentosa
Edukasi kepada orangtua untuk memberi asupan gizi yang baik sesuai
usia
Kontrol rutin setiap bulan untuk penyakit jantungnya

USULAN PEMERIKSAAN
Foto Rontgen Thorax AP/Lateral
Pemeriksaan Uji Tuberkulin (Mantoux Test)
Pemeriksaan AGD dan Elektrolit darah
Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan ASTO

PROGNOSA
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad sanam : Dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam


13

PERJALANAN PENYAKIT
05 Februari 2013
S: Panas (+), batuk (+) berdahak, sesak napas (+), BAB cair (-), muntah (-), nafsu
makan menurun
O: KU: sadar, tampak kurus, tampak lemas (+), tampak sesak (+)
- S : 38
0
C
- HR: 134 x/menit reguler
- RR : 48 x/ menit
Mata : cekung -/-, CA -/-, SI -/-
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Thoraks : Cor/ S1 S2 reguler, murmur (+) ICS III parasternal kiri, gallop (-)
Pulmo/ SN vesikuler +/+, Ronkhi +/+, Wh -/-, retraksi dinding dada (-)
Abdomen :datar, BU (+), supel, timpani, turgor kulit baik
Ekstremitas superior : akral hangat +/+, eodem -/-, CRT <2detik
Ekstremitas inferior : akral hangat +/+, eodem -/-, CRT <2detik
A: Bronkopneumonia, VSD, Gizi kurang

06 Februari 2013
S: Panas (+) turun, batuk (+) berdahak, sesak napas (+) berkurang, BAB cair (-),
muntah (-), masih sulit makan
O: KU: sadar, tampak kurus, tampak sesak (+)
- S : 37,7
0
C
- HR: 128 x/menit reguler
- RR : 42 x/ menit
Mata : cekung -/-, CA -/-, SI -/-
Hidung : nafas cuping hidung (-)
14

Thoraks : Cor/ S1 S2 reguler, murmur (+) ICS III parasternal kiri, gallop (-)
Pulmo/ SN vesikuler +/+, Ronkhi +/+, Wh -/-, retraksi dinding dada (-)
Abdomen :datar, BU (+), supel, timpani, turgor kulit baik
Ekstremitas superior : akral hangat +/+, eodem -/-, CRT <2detik
Ekstremitas inferior : akral hangat +/+, eodem -/-, CRT <2detik
A: Bronkopneumonia, VSD, Gizi kurang

07 Februari 2013
S: Panas (-), batuk (+) jarang, sesak napas (-), BAB cair (-), muntah (-), masih sulit
makan
O: KU: sadar, tampak kurus, tampak sesak (-)
- S : 36,8
0
C
- HR: 128 x/menit reguler
- RR : 32 x/ menit
Mata : cekung -/-, CA -/-, SI -/-
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Thoraks : Cor/ S1 S2 reguler, murmur (+) ICS III parasternal kiri, gallop (-)
Pulmo/ SN vesikuler +/+, Ronkhi +/+, Wh -/-, retraksi dinding dada (-)
Abdomen :datar, BU (+), supel, timpani, turgor kulit baik
Ekstremitas superior : akral hangat +/+, eodem -/-, CRT <2detik
Ekstremitas inferior : akral hangat +/+, eodem -/-, CRT <2detik
A: Bronkopneumonia, VSD, Gizi kurang




15

ANALISA KASUS

Bronkopneumonia
Ibu pasien mengeluhkan anaknya panas sejak 4 hari yang lalu. Panas dirasakan terus
menerus dan hanya turun bila diberi obat penurun panas, namun tidak lama panasnya naik
lagi. Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa akhir-akhir ini anaknya sering sesak napas. Namun
sesak napasnya tersebut hilang timbul tidak tentu waktunya. Selain itu pasien juga ada batuk
berdahak yang timbul bersamaan dengan panasnya. Batuk berdahak yang timbul terus
menerus namun dahaknya tidak dapat dikeluarkan.
Gambaran klinis tersebut mengarah pada pneumonia dimana ditemukan demam tinggi
dengan suhu 38
0
C, sesak napas, dan batuk. Disamping itu pada pemeriksaan fisik juga
ditemukan adanya ronki basah halus dikedua lapang paru. Dan dari pemerisaan penunjang
didapatkan leukositosis. Terdapat juga faktor resiko yang menyebabkan peningkatan
terjangkitnya pneumonia, yaitu imunitas yang lemah. Hal ini disebabkan karena asupan gizi
yang kurang, karena pasien sulit makan.
Bronkopneumonia adalah penyakit infeksi akut saluran nafas bagian bawah (ISPB )
dan jaringan paru oleh mikoorganisme yang biasanya terjadi pada bayi dan anak-anak.
Peradangan dapat tersebar pada semua bagian lobus paru, umumnya bagian yang terkena
dimulai dari bronkhiolus sampai alveolus. Pada anak-anak lokasi peradangan tidak bisa
dipastikan selalu atau pasti di lobus itu yang penting dilihat adalah apakah pada foto thorax
nya ada gambaran hilus yang menebal, apabila ada maka itu bukan BP melainkan proses
spesifik paru yang lain. Apabila alveolus terkena radang maka akan terisi oleh nanah dan
cairan sehingga kemampuan dari alveolus untuk menyerap oksigen akan terganggu. Hal ini
dapat menyebabkan gangguan dalam proses respirasi di paru-paru. Penyakit ini dapat
mengenai siapapun dan biasanya pada bayi dan anak-anak dengan daya tahan tubuh yang
terganggu, misalnya malnutrisi energi protein ( MEP ), penyakit menahun, trauma pada paru,
anesthesia, aspirasi, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.
Bronkopneumonia lebih sering ditimbulkan oleh infeksi bakteri. Bakteri-bakteri ini
menginvasi paru melalui 2 jalur, yaitu dengan :
1. Inhalasi melalui jalur trakeobronkial.
2. Sistemik melalui arteri-arteri pulmoner dan bronkial.
16

Bakteri-bakteri yang sering menyebabkan ataupun didapatkan pada kasus bronkopneumonia
adalah :
Bakteri gram positif
1. Pneumococcus
2. Staphylococcus aureus
3. Streptococcus hemolyticus
Bakteri gram negatif
1. Haemophilus influenzae
2. Klebsiella pneumonia
Masing-masing bakteri tersebut menyebabkan bronkopneumonia melalui berbagai
mekanisme yang berbeda.

Patogenesis
Umumnya mikrorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran
respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi
dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami
konsolidasi, yaitu terjadi sebukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya
kuman di alveoli. Stadium ini disebut stadium hepatisasi merah. Selanjutnya, deposisi fibrin
semakin bertambah, terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveolidan terjadi proses fagositosis
yang cepat. Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Selanjutnya, jumlah makrofag
meningkat di alveoli, sel akan mengalami degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris
menghilang. Stadium ini disebut stadium resolusi. Sistem bronkopulmoner jaringan paru
yang tidak terkena akan tetap normal.

Berikut ini klasifikasi pneumonia berdasarkan :
Bayi dan anak usia 2 bulan 5 tahun
Pneumonia berat
- bila ada sesak nafas
- harus dirawat dan diberikan antibiotik
Pneumonia
- bila tidak ada sesak nafas
- ada nafas cepat dengan laju nafas :
17

o >50x/ menit untuk anak usia 2 bulan 1 tahun
o >40x/ menit untuk anak > 1-5 tahun
- tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral
Bukan pneumonia
- bila tidak ada nafas cepat dan sesak nafas
- tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya diberi pengobatan
simptomatis seperti penurun panas
Bayi berusia dibawah 2 bulan
Pada bayi berusia dibawah 2 bulan, perjalanan penyakitnya lebih bervariasi, mudah
terjadi komplikasi dan sering menyebabkan kematian.
Klasifikasinya adalah sebagai berikut
pneumonia
- bila ada takipneu (>60 x/ menit) atau sesak nafas
- harus dirawat dan diberikan antibiotik
bukan pneumonia
- tidak ada takipneu atau sesak nafas
- tidak perlu dirawat, cukup diberikan simptomatis

Tatalaksana
Beri oksigen
a. Atasi dehidrasi, koreksi cairan, kalori dan elektrolit serta asidosis metabolic.
b. Antobiotika
Penisilin 50.000 U/kgbb hari atau
Ampisilin 100-200 mg/kgbb/hari dengan kloramfenikol 50-100 mg/kgbb/hari
atau
gentamisin 5-7 mg/kgbb/hari selama 7-100 hari (4 hari bebas demam)
NB : Untuk usia kurang dari 3 bulan digunakan gentamisin.
Jika setelah 3 hari tidak ada respon yang baik maka diganti dengan
golongan sefalosporin.
c. Diit : puasa selama penderita sangat sesak, setelah sesak berkurang dapat
diberikan melalui NGT

18

Ventricular Septal Defect (VSD)
Ibu pasien mengatakan saat pasien berusia 4 bulan, pasien napasnya terlihat cepat
seperti sesak serta sering terlihat kesulitan saat menyusu. Namun tidak ada biru dan bengkak
pada tubuh pasien. Sejak saat itu pasien menjadi sulit makan dan berat badannya juga sulit
naik. Dan saat ini pasien juga mengeluh sesak napas kembali. Namun saat itu pada tubuh
pasien tidak terdapat adanya kebiruan dan bengkak.
Gambaran klinis yang disebutkan oleh ibu pasien berupa sesak napas, kesulitan saat
menyusu, sulit makan, dan berat badan yang sulit bertambah mengarah pada kemungkinan
adanya penyakit jantung bawaan tipe asianotik pada pasien. Disamping itu pada pemeriksaan
fisik thorax juga ditemukan adanya murmur atau bising jantung derajat 1 pada ICS III
parasternal kiri. Dan dari pemeriksaan penunjang echocardiografi terakhir menunjukkan
gambaran VSD kecil. Sehingga pada pasien dapat ditegakkan diagnosis VSD (Ventricular
Septal Defect).
Defek septum ventrikel (ventricular septal defect/VSD) adalah adanya defek atau
lubang pada septum atau sekat yang memisahkan ventrikel kiri dan ventrikel kanan akibat
kegagalan fusi atau penyambungan pada septum.

Etiologi
Penyebab dari Ventricular Septal Defect belum diketahui secara pasti. Namun,
penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dan seringkali merupakan suatu kelainan
jantung bawaan.
19

Pada anak-anak, lubangnya sangat kecil, tidak menimbulkan gejala dan seringkali
menutup dengan sendirinya sebelum anak berusia 18 tahun. Pada kasus yang lebih berat, bisa
terjadi kelainan fungsi ventrikel dan gagal jantung.
VSD (Ventricular Septal Defect) bisa ditemukan bersamaan dengan kelainan jantung
lainnya.
Faktor prenatal yang mungkin berhubungan dengan VSD :
Rubella atau infeksi virus lainnya pada ibu hamil
Gizi ibu hamil yang buruk
Ibu yang alkoholik
Usia ibu hamil di atas 40 tahun
Ibu yang menderita diabetes

Patofisiologi
Darah arterial mengalir dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan melalui defek pada
sekat. Perbedaan tekanan antara ventrikel kiri dan kanan besar, sehingga darah mengalir
dengan deras dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan sehingga menimbulkan bising. Makin
besar defek, makin banyak darah masuk ke arteri pulmonalis. Tekanan yang terus menerus
meninggi pada arteri pulmonalis akan menaikkan tekanan pada kapiler paru. Mula-mula,
naiknya tekanan kapiler ini masih reversibel, artinya belum terjadi perubahan pada
endotelnya, dan juga belum ada perubahan pada tunika muskularis arteri-arteri kecil paru.
Akan tetapi, lama kelamaan pembuluh darah paru menjadi sklerosis dan ini akan
mengakibatkan naiknya tahanan yang permanen. Bila tahanan pada arteri pulmonalis sudah
tinggi dan permanen, tekanan pada ventrikel kanan juga menjadi tinggi dan permanen. Pada
suatu saat terjadi keseimbangan tekanan pada ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Pada saat ini
penderita secara subyektif merasa baik karena tidak ada shunt. Akan tetapi kemudian tekanan
pada ventrikel kanan melebihi tekanan pada ventrikel kiri dan shunt jadi berbalik dari kanan
ke kiri, penderita menjadi sianosis dan prognosis serta gejala klinisnya memburuk.

Gambaran Klinis
Pada penyakit VSD (Ventricular Septal Defect) ini, darah dari paru-paru yang masuk
ke jantung, kembali dialirkan ke paru-paru. Akibatnya jumlah darah di dalam pembuluh
darah paru-paru meningkat dan menyebabkan :
Sesak napas
20

Bayi mengalami kesulitan ketika menyusu
Keringat berlebihan
Berat badan tidak bertambah
Murmur yang agak kasar disertai oleh getar kardiak yang jelas yang ditemukan pada
interkostae kedua sampai keempat pada dada kanan dekat sternum.
Kardiomegali
Menurut ukurannya VSD dapat dibagi menjadi :
a. VSD kecil
Diameternya yaitu 1-5 mm. Besarnya defek bukan satu-satunya faktor yang
menentukan besarnya aliran darah. Pertumbuhan badan normal walaupun terdapat
kecenderungan timbulnya infeksi saluran nafas. Pada latihan lama dan lebih intensif akan
cepat lelah dibandingkan dengan teman sebayanya. Biasanya asimptomatik. Tidak ada
gangguan tumbuh kembang. Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising perstaltik
yang menjalar ke seluruh tubuh perikardium dan berakhir pada waktu diastolik karena
terjadi penutupan VSD.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya bising holosistolik dengan atau tanpa thrill,
tepat sebelum bunyi jantung ke-2.
b. VSD sedang
Menunjukan gejala mirip dengan VSD besar, hanya lebih ringan. Penderita mengeluh
mudah lelah, sering mendapat infeksi pada paru sehingga menderita batuk dan sesak
nafas pada waktu aktivitas.
Pada pemeriksaan fisik terdapat bising pansistolik cukup keras (derajat3) nada tinggi,
kasar, pada ICS 3-4 linea parasternalis kiri.
c. VSD besar
Merupakan salah satu kelainan jantung kongenital yang sering menyebabkan gagal
jantung kongestif, kelainan biasanya tidak terdeteksi sampai umur 1 bulan. Karena
kelebihan sirkulasi pulmonal, penderita akan mengalami sesak nafas, sianosis (walaupun
VSD bukan PJB yang sianotik tetapi apabila aliran darah inefektif lebih tinggi daripada
aliran darah efektif, sianosis akan muncul), gangguan makan, infeksi dan radang paru
yang berulang dan gangguan pertumbuhan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan sesak nafas, dan prekordial yang hiperaktif, bising
pansistolik 3-4, nada tinggi kasar, bising diastolik pada ICS 4 linea midclavikularis
setelah bunyi jantung ke-2.
21

Penatalaksanaan
a. Menutup spontan
Sebagian besar penderita VSD kecil menutup spontan pada 2 tahun pertama
kehidupan. Penutupan lebih sering terjadi pada tipe muskular dibandingkan tipe
perimembran.
b. Jika terjadi gagal jantung maka gagal jantung tersebut harus diatasi terlebih dahulu.
Jika terapi gagal jantung dengan medikamentosa berhasil maka langkah selanjutnya
adalah dengan melakukan PAB (pulmonaru artery binding) dan dievaluasi selama 6
bulan. Bila keadaan memungkinkan dapat dilakukan operasi penutupan atau
penutupan dengan transkateter. Namun, jika pengobatan gagal jantung dengan
medikamentosa gagal, maka harus langsung dilakukan tindakan operasi atau
transkateter.
c. Bila tidak terjadi gagal jantung, maka ditunggu sampai usia 4-6 tahun. Jika katup
menutup spontan, maka tidak diperlukan terapi lebih lanjut. Jika pada usia ini defek
belum menutup, maka diperlukan tindakan operasi koreksi untuk menutup defek.











22

DAFTAR PUSTAKA
1. Nastiti N Rahajoe, dkk. RESPIROLOGI ANAK. 2010. Jakarta : UKK Pulmonologi IDAI
: 228-240
2. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, Prof. dr. Hood Alsagaff, Airlangga University Press,
2002
3. Hay WW, Levin JM, Sondheimer MJ, Deterding RR. Current Pediatric Diagnosis and
Treatment. 17th ed. New York : McGraw-Hill; 2005.
4. Green T, Tanz RR, Franklin W, Pediatrics just the facts.New York : McGraw-Hill;2005.
5. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga,Jilid kedua. Penerbit Media Aesculapius fakultas
kedokteran Universitas Indonesia,2001hal 472-479
6. Daphne T. Hsu, MD and . Heart Failure in Children. Part II: Diagnosis, Treatment, and
Future Directions.
Available at: http://circheartfailure.ahajournals.org/content/2/5/490.full
7. Pediatric Congestive Heart Failure.
Available at: misc.medscape.com/pi/android/medscapeapp/html/A901307-business.html
8. Congenital heart defects in children.
Available at: http://www.mayoclinic.com/health/congenital-heart-
defects/DS01117/DSECTION=complications
9. Pediatric Congestive Heart Failure Treatment & Management. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/2069746-treatment#showall
10. Pediatric Congestive Heart Failure Medication.
Available at: http://emedicine.medscape.com/article/2069746-medication#showall
11. Ebstein's Anomaly. Available at:
http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/CongenitalHeartDefects/AboutCongenita
lHeartDefects/Ebsteins-Anomaly_UCM_307025_Article.jsp