Anda di halaman 1dari 28

1

Skenario 1

KEPUTIHAN

Pasien wanita, umur 26 tahun, ibu rumah tangga, baru 2 tahun menikah datang berobat ke
dokter dengan keluhan keputihan yang banyak, cair, berbau anyir yang kadang-kadang
disertai gatal sejak 3 minggu yang lalu. Penderita mempunyai siklus menstrulasi yang normal
dan tidak menggunakan kontrasepsi. Suami penderita bekerja sebagai supir dan riwayat
melakukan hubungan seksual dengan wanita lain disangkal. Pada pemeriksaan genitalia
eksterna : labium mayus dan minus tampak eritema dan sedikit erosi. Pada pemeriksaan
inspekulo didapatkan: discharge vagina homogen, keabu-abuan dan tampak melekat pada
dinding vagina. Pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan PAP smear.

2

Sasaran Belajar

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Vagina dan Genitalia Eksterna
1.1. Anatomi Makroskopis
1.2. Anatomi Mikroskopis

2. Memahami dan Menjelaskan Keputihan
2.1. Definisi
2.2. Etiologi
2.3. Klasifikasi
2.4. Patofisiologi
2.5. Manifestasi klinis
2.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding
2.7. Penatalaksanaan
2.8. Pencegahan
2.9. Komplikasi
2.10. Prognosis

3. Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan PAP Smear

4. Memahami dan Menjelaskan Keputihan dan Ibadah Dalam Islam

3

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Vagina dan Genitalia
Eksterna

1.1. Anatomi Makroskopis

Vagina
Bentuk tabung muskular, muali servix sampai genitalia externa.
Panjang antara 8-12 cm.
Bagian distal cervix menonjol ke dalam rongga vagina disebut portio vaginalis
Cervicis uteri. Bagian cervix proximalnya disebut portio supravaginalis
cervicis uteri.
Rongga vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis disebut fornix yang
dapat dibedakan fornix lateralis dextra dan sinistra, fornix anterior dan
posterior.
Tunika mukosa membentuk rugae yang transversal pada dinding vebtral dan
dorsal disebut columna rugarum.
Fascia endopelvis memadat menjadi ligamentum fasialis yang berfungsi
menunjang servix dan vagina.
Ligamentum-ligamentum yang ikut memfiksasi uterus diantaranya :
o Lig.Cardinale (Mackenrodts)/lig.cervicalis lateralis : melewati sebelah
lateral servix dan bagian atas vagina ke dinding pelvis.
o Lig.utero-sacrale/lig.recto uterina : melewati bagian belakang servix
dan fornix vagina ke fascia yang melapisi sendi sacro-iliaca. Mulai dari
isthmus ke jaringan pengikat disebelah lateral dari rectum setinggi
vertebrata sacralis III, mengandung otot polos.
o Lig,puboservicale : meluas ke anterior dari lig.cardinale ke pubis
(puboprostatica pada pria).
o Lig.pubovesicale : dari belakang symphisis pubis menuju collum
vesica urinaria.
Fiksasi yang utama pada uterus ke vagina adalah : lig.cardinale & utero-sacrale.
Fungsi : alat bersenggama, jalan lahir waktu partus, saluran keluar uterus yang
dapat mengalirkan darah pada waktu menstruasi dan sekret dari uterus.
Pada virgo intacta introitus vaginae sebagian ditutupi oleh suatu selaput yang
disebut hymen. Menurut bentuknya dapat dibedakan :
o Hymen anularis (cincin)
o Hymen semilunaris (bulan sabit)
o Hymen cribriformis (berlubang-lubang sebagai saringan)
o Hymen fimbriatus ( dengan tepi sebagai jari-jari)
o Hymen imperforatus (tidak berlubang)
4


Setelah diadakan coitus berulang-ulang hanya terdapat sisa-sisanya sebagai
tonjolan-tonjolan yang disebut carunculae hymenales yang hilang setelah
melahirkan.
A.uterina pergi ke ventrocaudal setinggi isthmus uteri, membeok ke medial
berjalan di pangkal lig.latum, cranial lig.cardinale uteri membentuk cabang
a.vaginalis ke dinding vagina, pangkalnya kearah fundus kemudian bercabang-
cabang menjadi :
o r. Ovaricus, melalui lig.ovarii proprium menuju ovarium.
o A.ligamenti teretis uteri, mengikuti lig.teres uteri.
o r.tubarius, mengikuti tuba uterina.
Saraf-saraf otonom system urogenitale wanita :
N.Pudendus, meninggalkan pelvis melalui foramen infrapiriformis, dorsal spina
ischiadica, masuk ke foramen ischiadicum minus sebagai n.clitoridis. Cabang
yang lain : n.hemorrhoidalis inferior untuk sphincter ani externus dan ke kulit
pada regio analis. N.perinealis berakhir sebagai n.labialis untuk labium majus, ia
memberi ke rr.cutanei ke kulit.
Vasa lymphatica dan nodi lymphatici (lymphonodi)
o Bagian proximal mengikuti kembali r.vaginalis a.uternae ke Inn.Iliaci
interni.
o Bagian medial mengikuti kembali r.vaginali a.vesicalis inferior ke Inn
sepanjang a.vesicalis inferior ke Inn.Iliaci interni.
o Bagian dari vagina distal, dinding vestibulum vagina, labium minora,
labium majora pergi ke Inn inguinale superficialis.

Genitalia Eksterna
5


Mons pubis (veneris)
Merupakan suatu bangunan yang terdiri atas kulit yang di bawahnya terdapat jaringan lemak
menutupi tulang kemaluan /simphisis. Mons veneris ditutupi rambut kemaluan. Fungsi Mons
veneris adalah sebagai pelindung terhadap benturan-benturan dari luar dan dapat menghindari
infeksi dari luar.

Labium majus pudendi
Suatu lipatan kulit, ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain membentuk
comissura posterior labiorum majorum, ventrocranial membentuk comissura anterior
labiorum majorum.
Dapat dibedakan facies lateralis :mempunyai rambut dan banyak pigmen. Facies
medialis, mempunyai gld.sebacea yang besar & tidak mempunyai rambut.
Celah yang dibatasi oleh kedua labia majora disebut rima pudendi.

6

Labia Minor pudendi
Suatu lipatan kulit. Kedorso caudal membentuk frenulum labiorum minorum.
Keventrocranial membentuk preputium clitoridis menutupi glands clitoridis dari
ventrocranial.
Banyak PD, gld sebacea, jaringan lemak, tidak terdapat folikel rambut.

Clitoris
Clitoris merupakan suatu bangunan yang terdiri dari:
Glans clitoris : ujung distal corpus clitoridis terdapat corpus cavernosum glandis
Corpus clitoris : kedua crura yang bersatu
Crura clitoris

Urethra Feminina
Panjangnya 3-4 cm, predisposisi ISK, berjalan dari leher kandung kemih menuju
ostium urethrae externum yang terletak diantara clitoris dengan vagina.

Perineum
Merupakan area bentuk belah ketupat, terbagi regio urogenitalis dan analis.
Terletak dibawah diaphragma pelvis, dibatasi oleh ramus inferior os pubis dan ramus
inferior os ischii kanan dan kiri dan kedua lig.sacrotuberale.

1.2. Anatomi Mikroskopis

Vagina
Vagina merupakan sarung fibromuskular berbatas membran
mukosa di permukaannya. Pada keadaan biasa ia kempis dengan
dinding depan dan belakangnya saling sentuh. Dinding vagina
terdiri atas 3 lapisan yaitu :
- lapisan mukosa
- lapisan otot
- lapisan adventisia

Lapisan dinding vagina:
Mukosa
7

Mukosa mempunyai lipatan mendatar, atau ruga dan diliputi epitelberlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk. Sel-selnya dipenuhi glikogen, jadi tampak bervakuol pada hampir semua
sajian histologi. Epitelnya, yang tak dilengkapi kelenjar dilumuri lendir yang berasal dari
serviks. Di bawah epitel terdapat lamina propia yang merupakan jaringan ikat padat dengan
banyak serat elastin, leukosit polimorfonuklir, limfosit dan kadang nodulus limfatikus.
Banyak leukosit polimorfinuklir dan limfosit menyebuk epitel terutama sekitar saat haid. Sel
epitel permukaan vagina terkelupas terus menerus dan dapat dipelajari dengan cara usapan.
Pada primata yang lebih rendah daripada manusia dan pada mamalia lainnya, epitel
vaginanya mengalami perubahan siklis sesuai dengan peristiwa siklis pada alat reproduksi
lainnya. Pada manusia epitel sedikit berubah selama siklus. Namun demikian kajian pada sel-
sel vagina yang terlepas, amat berguna pada diagnosis keadaan atrofi dan evaluasi kemajuan
terapi estrogen. Glikogen yang tercurahkan ke dalam vagina bersama sel epitel yang
terkelupas dicerna oleh bakteri penghuni sehingga menghasilkan cairan asam yang melumuri
vagina. Himen berupa lipatan mukosa mendatar, menutup sebagian pintu vagina ke dalam
vestibulum.

Lapisan otot
Lapisan otot vagina terdiri atas berkas-berkas otot polos yang tersusun berjalinan. Lapis
dalam tipis dan umumnya berjalan melingkar. Lapis luar yang tebal berisi serat memanjang
yang berlanjut di atas dengan lapisan otot rahim (miometrium). Pada introitus (pintu vagina)
terdapat sfingter dari otot rangka.

Adventisia
Adventisianya berupa lapis jaringan ikat padat yang berbaur dengan adventisia organ
disekitarnya.


Pembuluh darah, limfosit, dan serat saraf
Pembuluh darah dan limfosit banyak terdapat pada dinding vagina. Vena-vena istimewa
banyaknya, sehingga adventisianya tampak seperti jaringan erektil. Vagina dipersarafi baik
oleh serat saraf bermielin maupun tak bermielin. Yang terkhir ini, membentuk sebuah pleksus
berganglion di dalam adventisia dan mempersarafi lapis otot dan dinding pembuluh darahnya.
Serat saraf bermielin berakhir sebagai ujung sensoris khusus di dalam mukosa.


Genitalia Eksterna
Alat kelamin luar secara umum disebut vulva, meliputi klitoris, labium mayus dan minus
serta kelenjar tertentu yang bercurah ke dalam vestibulum.

Klitoris
Klitoris itu padan penis tetapi tidak sama benar. Ia terdiri atas dua bahan erektil yang berakhir
di dalam kepala klitoris atau glans klitoridis yang kecil. Di luarnya diliputi epitel berlapis
gepeng tipis yang dilengkapi dengan ujung saraf sensorik khusus.

Labium minus
Berupa lipatan mukosa yang membentuk dinding lateral vestibulum. Epitelnya berupa epitel
berlapis gepeng dan bagian tengahnya terdiri atas jaringan ikat yang berlimpah pembuluh
darah. Terdapat papila tinggi menjorok jauh ke dalam epitel. Kelenjar sebasea terdapat pada
kedua permukaannya dan tidak berlengkapan folikel rambut.
8



Labium mayus
Berwujud lipatan kulit yang menutupi labium minus. Permukaan dalamnya halus tidak
berambut. Permukaan luarnya diliputi epidermis dengan lapisan tanduk dan mempunyai
banyak rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea. Bagian tengah setiap bibir
mengandung cukup banyak jaringan lemak dan sedikit serat otot polos.

Vestibulum
Tempat bermuaranya vagina dan ureter, dilapisi epitel berlapis gepeng khusus yang banyak
mengandung banyak kelenjar kecil yaitu kelenjar vestibulum minor, yang terutama terletak
disekitar muara ureter dan di dekat klitoris. Mereka bersesuaian dengan kelenjar Littre.
Kelenjar vestibuler mayor (kelenjar Bartholin), beranalog dengan kelenjar bulbourenil pada
pria dan terletak di dalam dinding lateral vestibulum. Mereka berwujud kelenjar
tubuloalveolar yang menggetahkan lendir. Saluran keluarnya bermuara di dekat pangkal
himer.


2. Memahami dan Menjelaskan Keputihan

2.1. Definisi
Keputihan atau biasa juga disebut leukorrhea atau fluor albus adalah penyakit yang banyak
diderita kaum wanita yang ditandai dengan keluarnya cairan bukan darah dari vagina. Ada
dua jenis keputihan yang dikenal di dunia medis yaitu keputihan normal (fisiologik, yang
biasanya terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak
epitel dengan lekosit yang jarang) dan keputihan abnormal (patologik, yang terdapat banyak
lekosit).

2.2. Etiologi
Keputihan Fisiologis
1. Pada bayi baru lahir sampai kira-kira 10 hari. Disini sebabnya ialah pengaruh estrogen
diplasenta terhadap uterus dan vagina janin.
2. Waktu sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen, leukore disini
hilangsendiri.
3. Wanita dewasa apabila dirangsang sebelum dan pada waktu koitus disebabkan
olehpengeluaran transudasi dari dinding vagina.
4. Waktu disekitar ovulasi dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi
lebih encer.

9

Keputihan Patologis
1. Bakteri : Gardanerella vaginalis, Chlamidia trachomatis, Neisseria gonorhoae

Gardnerella vaginalis
Pada keadaan normal ditemukan pada saluran pernafasan- terdapat 30% flora
normal vagina wanita normal- bersifat gram (-).
Penularan dari hubungan sexual

Chlamidia trachomatis
Adalah salah 1 dari 4 spesies chlamydia yang merupakan bakteri khusus yang
hidup sebagai parasitintrasel
Infeksi bakteri menular sexual yang ditemukan diseluruh dunia
Bersifat dimorfik - memiliki afinitas pada epitel uretra, serviks, konjungtiva
mata
Dapat menginfeksi faring, rektum orang yang melakukan hubungan sex oral
atau anal respetif
Pada bayi terinfeksi waktu dilahirkan mengalami konjungtivitis dan
pneumonia

Neisseria Gonorhoae
gram (-)
diplococus
memiliki kapsul
teroksidasi positif
tidak mampu bergerak
tumbuh pada media diperkaya

2. Jamur :
Candida Albicans
adalah spesies kandida yang secara normal ada pada mulut, tenggorokan, usus,
kulit
spesies penyebab lebih dari 80% kasus infeksi kandida pada genitalia
pertumbuhan berlebihan; penyebab tersering vaginitis, vulvovaginitis
tidak ditularkan secara sexual
bersifat dimorfik

3. Protozoa:
Trichomonas vaginalis
10

organisme oval berflagela berukuran setara dengan sebuah leukosit
organisme terdorong oleh gerakan-gerakan acak berkedut dari sel flagelnya
faktor predisposisi : haid, kehamilan, pemakaian kontrasepsi oral, tindakan
sering mencuci vagina
penularan : ibu ke bayi karena pengaruh hormon ibu padd\a epitel vagina bayi
, penularan melaluihubungan sexual

4. Virus : virus herpes dan human pappiloma virus
Herpes Simplex (HSV)
terdapat 2 tipe: tipe 1,tipe 2
susunan genom tersebut dapat dibedakan melalui analisis pembatasan enzim
dari DNA virus
cara penularan:Hsv 1: kontakdgnliurygterinfeksi
Hsv-2 : sexual atau infeksi genitalia maternal kepada bayi baru lahir

Human papiloma virus
anggota grup papova virus
menyebabkan kondiloma akuminata
ditularkan secara sexual
penyebab kanker kongenital termasuk karsinoma serviks
menggambarkan konsep bahwa strain virus alamiah dapat berbeda dalam
potensi onkogenik

5. Adanya Benda Asing
Terdapatnya benda asing seperti kondom yang digunakan saat bersenggama, penggunaan
tampon saat menstruasi, penggunaan cincin pesarium oleh wanita atau benda asinglain yang
masuk dan tertinggal didalam vagina dapat merangsang hipersekresi cairan vagina.Jika
rangsangan ini menimbulkan inflamasi maka menimbuklan keputihan dan
dapatmempermudah infeksi bakteri dan menimbulkan masalah keputihan berbau.

6. Keganasan/Neoplasia
Kanker merupakan penyebab keputihan hal ini karena meningkatanya proliferasi sel-
selgenital yang cepat dan mudah rusak. Sehingga timbul nekrosis sel yang menyebabkan ikut
pecahnya pembulu darah. Pada kasus seperti ini maka akan keluar cairan bercampur darah
yang berbau busuk.

7. Menopouse
11

Pada wanita yang telah mengalami menopouse terjadi penurunan aktivitas hormonalseperti
estrogen yang berdampak pada penurunan aktivitas organ genital. Seperti vagina menjadi
lebih keras, menipisnya epitel dan kurangnya degenerasi sel epitel. Hal ini dapat
mempermudah terjadinya infeksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan keputihan.

8.Penggunaan obat-obatan
Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan antiseptik
genital secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas organ genital dan
jugamenyebabkan kematian flora normal organ genital. Hal ini menyebabkan mudahnya
terjadiinfeksi daerah vagina yang dapat menimbulkan keputihan.

2.3. Klasifikasi
Fluor albus fisiologis pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio
vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina.

Fluor albus fisiologis ditemukan pada:
a. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari: disini sebabnya ialah pengaruh
estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
b. Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Leukorea disini
hilang sendiri akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya.
c. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh
pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
d. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi
lebih encer.
e. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita
dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion
porsionis uteri.

Fluor albus patologis ditemukan pada:
1. Konstitusionil: pada keadaan astheni, anemia, nefritis kronis dan pada bendungan
umum. (decompensatio cordis, cirrhosis hepatis)
2. Kelainan endokrin seperti pada functional bleeding (kadar estrogen tinggi), pada
kehamilan (karena hydraemia dan pengaruh endokrin).
3. Infeksi:
a. Vulvitis vulvovaginitis
b. Vaginitis (Kolpitis)
c. Cervicitis
d. Endometritis
e. Salpingitis

2.4. Patofisiologi
Pada keadaan normal, cairan/sekret yang keluar dari vagina wanita dewasa sebelum
menopause terdiri dari sel epitel vagina (terutama yang paling luar/superfisial yang terkelupas
dan dilepaskan ke dalam rongga vagina), beberapa sel darah putih (leukosit), cairan
transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi darri saluran
12

yang lebih atas dalam jumlah yang bervariasi serta mengandung berbagai organisme terutama
Lactobasilus Doderlein (batang gram positif, flora vagina terbanyak); beberapa jenis bakteri
lain kokus seperti Streptokokus dan Stapilokokus, dan Eschericia coli.

Peranan basil doderlein dianggap menekan pertumbuhan mikroorganisme patologis karena
basil Doderlein mempunyai kemampuan mengubah glikogen dari epitel vagina yang terlepas
menjadi asam laktat, sehingga vagina tetap dalam keadaan asam dengan pH 3,0-4,5 pada
wanita dalam masa reproduksi. Suasana asam inilah yang mencegah tumbuhnya
mirkoorganisme patologis.














Gambar Estrogen
dan Biologi
Vagina





Bila terjadi suatu ketidakseimbangan suasana flora vagina yang disebabkan oleh
beberapa faktor maka terjadi penurunan fungsi basil Doderlein dengan berkurangnya
jumlahglikogen karena fungsi proteksi basil Doderlein berkurang maka terjadi aktivitas dari
mikroorganisme patologis yang selama ini ditekan oleh flora normal vagina. Progresifitas
mikroorganisme patologis secara klinis akan memberikan suatu reaksi inflamasi di daerah
vagina. Sistem imun tubuh akan bekerja membantu fungsi dari basil Doderlein sehingga
terjadi pengeluaran lekosit PMN maka terjadilah fluor albus.


2.5. Manifestasi klinis
A. Keputihan Fisiologis
13

Sejumlah sekret mukoid dari kelenjar endoserviks selalu ada dalam vagina yang berfungsi
dalam mempertahankan kelembaban vagina. Sekret ini tampak bening jika baru keluar dari
serviks dan kemudian menjadi agak keruh karena mengandung sedikit lekosit dan flora
vagina yang sebagian besar terdiri dari basil doderline. Asam laktat menyebabkan pH vagina
rendah dan keasaman ini menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Proliferasi epitel, pH
vagina dan sekresi kelnjar endoserviks vagina bergantung pada kadar estrogen dalam darah.
Pada wanita yang baru lahir epitel vaginanya lebih tebal, pH rendah dan ada sekresi mukoid
dari kelenjar endoserviks karena estrogen berasal dari ibu. Setelah bayi berumur 1 bulan dan
selama masa kanak-kanak epitel vagina menjadi tipis. Menjelang menarche kadar estrogen
mengalami peningkatan, sehingga epitel vagina menjadi tebal lagi, pH rendah dan vagina
menjadi lebih basah. Selama masa reproduksi sekret vagina juga berubah-ubah menurut kadar
estrogen dan progestron. Perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pada fase pasca menstruasi sedikit
2. Pada fase proliferatif, makin lama makin banyak
3. Pada fase ovulasi paling banyak
4. Pada fase pasca ovulasi, makin lama makin sedikit
5. Pada fase premenstruasi dapat bertambah banyak lagi
6. Pada fase menopause epitel vagina menjadi tipis, pH meningkat dan vagina menjadi lebih
kering, terdapat variasi individual, yaitu ada yang mengeluarkan sekret lebih banyak atau
sedikit.
Stimulasi seksual baik fisik maupun emosional dapat menyebabkan sekresi bertambah.
Dalam kehamilan kadar hormon tinggi sehingga menyebabkan hipersekresi kelenjar
endoserviks.


B. Patologis

1. Bakteri
1.1 Chlamydia trachomatis
- sekret serviks mukopulen dan ektopi
- edema
- rapuhnya serviks
1.2 Gardnerella vaginalis
- banyak sekali discharge berwarna abu-abu
- berbau amis
- rasa gatal atau terbakar biasanya minimal
1.3 Neisseria gonorheae
- infeksi daerah serviks (pada dewasa)
- vaginitis (pada masa pubertas)

2. Jamur
Candida Albicans
- seperti keju lembut, tidak berbau
14

- pengumpulan eksudat seperti dadih berwarna keputihan dan sebagian agak melekat pada
serviks dan mukosa vagina
-eritema dan edema vulva dan vagina

3. Protozoa
Trichomonas vaginalis
- lendir tipis
- warna hijau kuning
- kadang berbusa dan berbau busuk
4. Virus
4.1 HPV (human papiloma virus)
- lesi papilomatosa yang meninggi
- mudah dilihat pada vulva
- lesi jauh lebih merah pada: diabetes, hamil, kontrasepsi oral, imunosupresi
4.2 herpes simplex virus
- leukore disertai dengan demam, malaise, anorexia
- nyeri pada genitalia
- disuria
- perdarahan pervaginaan

2.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding

1. Anamnesis
Apakah keputihan yang terjadi itu terus menerus atau kadang-kadang, apakah ada
hubungannya dengan fase-fase haid, bagaimana sifat Leukoreanya, apakah lendir, berwarna
keputihan atau atau kekuningan. Bagaimana sekret vagina apakah banyak, sedikit. Apakah
menimbulkan rasa gatal yang hebat. Ditanyakan mengenai usia, metode kontrasepsi yang
dipakai oleh akseptor KB kontak seksual, perilaku, jumlah, bau dan warna Leukorea, masa
inkubasi, penyakit yang diderita, penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid dan keluhan-
keluhan lain

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik secara umum harus dilakukan untuk mendeteksi adanya kemungkinan
penyakit kronis, gagal ginjal, infeksi saluran kemihdan infeksi lainnya yang mungkin
berkaitan dengan fluor albus. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan
genitalia, meliputi inspeksi dan palpasi genitalia eksterna, pemeriksaan speculum untuk
melihat bagian dalam vagina dan serviks, pemeriksaan pelvis bimanual. Untuk menilai cairan
dinding vagina hindari kontaminasi dengan lender serviks.

Pada infeksi gonokokus, kelainan yang dapat ditemui adalah orifisium uretra eksternum
merah, edema, dan secret mukopurulen, labia mayora dapat bengkak, merah dan nyeri tekan.
Kadang kadang kelenjar Bartholini ikut meradang dan terasa nyeri ketika waktu berjalan atau
duduk. Pada pemeriksaan dalam terlihat serviks merah dengan erosi dan secret mukopurulen..

15

Pada Trikomonas vaginalis, dinding vagina tampak merah dan sembab. Kadang terbentuk
abses kecil pada dinding vagina dan serviks yang tampak sebagai granulasi berwarna merah
dan dikenal sebagai strawberry appearance. Bila secret banyak dikeluarkan dapat
menimbulkan iritasi pada lipat paha atau sekitar genitalia eksterna.

Infeksi Gardnerella vaginalis memberikan gambaran vulva dan vagina yang hiperemis, secret
yang melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau berkilau.Pada
pemeriksaan serviks dapat ditemukan erosi yang disertai lendir bercampur darah yang keluar
dari orificium uteri internum.

Pada Candidiasis vagina dapat ditemukan peradangan pada vulva dan vagina, pada dinding
vagina sering terdapat membrane membrane kecil berwarna putih yang jika diangkat
meninggalkan bercak yang agak berdarah.

Pada kanker serviks awal akan terlihat bercak berwarna kemerahan dengan permukaan yang
tidak licin. Gambaran ini dapat berkembang jadi granuler, berbenjol benjol dan ulcerative
disertai adanya jaringan nekrotik. Disanping itu tampak secret yang kental berwarna coklat
dan berbau busuk. Pada kanker serviks lanjut, serviks menjadi nekrosis, berbenjol benjol,
ulseratif dan permukaannya bergranuler, memberikan gambaran seperti kembang kol.

Gambaran seperti kembang kol dapat juga ditemukan pada Kondiloma akuminata pada vulva
bahkan sampai keluar dari vagina maupun serviks.

Pada Herpes genitalis akan terlihat adanya vesikel vesikel pada vulva, labia mayora, labia
minora, vagina dan serviks. Pada keadaan lebih lanjut dapat dilihat adanya ulkus pada vagina
dan serviks.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan ginekologik
Inspeksi Kulit perut bawah, rambut pubis, terutama perineum, dan anus. Inspeksi dan palpasi
genitalia eksterna. Pemeriksaan ini harus dikerjakan secara sistematik, dilanjutkan dengan
inspeksi vulva (apakah ada tanda bekas garukan, apakah vulva basah), palpasi kelenjar
bartholini dan kelenjar skene, selanjutnya pemeriksaan yang menggunakan spekulum untuk
melihat serviks, pemeriksaan ini sangat penting karena sebagian besar dai lekore berasal dari
serviks. Pada akhirnya dilakukan pemeriksan bimanual untuk menetukan posisi dan besarnya
uterus dan keadaan parametrium, malposisi dapat menyebabkan bendungan vena sehingga
menyebabkan hipersekresi kelenjar endoserviks.
Pemeriksaan Inspekulo
Pemeriksaan spekulum untuk mencari penyebab keputihan:
a. Dari mana asalnya keputihan
- Mulut rahim
- Hanya bersifat lokal dalam vagina

b. Bagaimana dinding vagina
16

- Warnanya
- Apakah terdapat bintik merah, seperti digigit nyamuk
- Apakah keputihan bergumpal atau encer
- Apakah keputihan melekat pada dinding vagina

c. Bagaimana mulut rahim (portio)
- Apakah tertutup oleh keputihan
- Apakah terdapat perlukaan
- Apakah mudah berdarah

Pemeriksaan laboratorik
Hasil pengukuran pH cairan vagina dapat ditentukan dengan kertas pengukur pH dan pH
diatas 4,5 sering disebabkan oleh trichomoniasis tetapi tidak cukup spesifik. Cairan juga
dapat diperiksa dengan melarutkan sampel dengan 2 tetes larutan normal saline 0,9% diatas
objek glass dan sampel kedua di larutkan dalam KOH 10%. Penutup objek glass ditutup dan
diperiksa dibawah mikroskop. Sel ragi atau pseudohyphae dari candida lebih mudah
didapatkan pada preparat KOH. Namun kultur T. vaginalis lebih sensitive disbanding
pemeriksaan mikroskopik.
Secara klinik, untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial harus ada tiga dari empat
kriteria sebagai berikut, yaitu:
1. Adanya sel clue pada pemeriksaan mikroskopik sediaan basah,
2. Adanya bau amis setelah penetesan koh 10% pada cairan vagina,
3. Duh yang homogen, kental, tipis, dan berwarna seperti susu,
4. Ph vagina lebih dari 4.5 dengan menggunakan nitrazine paper.
Lakukan pemeriksaan sediaan basah untuk menentukan adanya Trichomoniasis Vaginalis dan
Candida Albicans. Lakukan pulasan gram atau pap smear pulasan ini untuk menentukan
gonoroe dan bakteri lain.

Pemeriksaan penunjang lain yang dilakukan :
1. Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan biokimia dan urinalisis.
2. Kultur urin untuk menyingkirkan infeksi bakteri pada traktus urinarius
3. Sitologi vagina
4. Kultur sekret vagina
5. Radiologi untuk memeriksa uterus dan pelvis
6. Ultrasonografi (USG) abdomen
7. Vaginoskopi
8. Sitologi dan biopsy jaringan abnormal
17

9. Tes serologis untuk Brucellosis dan herpes
10. Pemeriksaan PH vagina
11. Penilaian swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10 %
12. Pulasan dengan pewarnaan gram
13. Pap smear
14. Biopsi
15. Test biru metilen

Diagnosis penyebab infeksi:
1) Trikomoniasis
Anamnesis: sering tidak menunjukkan keluhan , kalau ada biasanya berupa duh tubuh
vagina yang banyakmdan baerbau maupun dispareunia, perdarahan pasca coitus dan
perdarahan intermestrual
Jumlah lekore banyak,berbau, menimbulkan iritasi dan gatal. Warna sekret putih,
kuning atau purulen. Konsistensi homogen, basah, frothy atau berbusa (foamy).
Terdapat eritem dan edema pada vulva disertai dengan ekskoriasi. Sekitar 2-5%
tampak strawberry servix yang sangat khas pada trichomonas.
Laboratorium: pH>4,5 dan Sniff test (+)
Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan larutan garam fisiologis terlihat
pergerakan trichomonas berbentuk ovoid, ukuran lebih besar dari PMN dan
mempunyai flagel, leukosit (+) dan clue cell dapat (+)
2) Kandidosis vulvovaginal
Anamnesis: keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau
.Rasa gatal/iritasi disertai keputihan tidak berbau atau berbau asam. Keputihan bisa
banyak, putih keju atau seperti kepala susu/krim, tetapi kebanyakan seperti susu
pecah. Pada dnding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses). Pada
vulva/dan vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi, psuedomembran,
fissura dan lesi satelit papulopustular
Laboratorium: pH vagina<4,5 dan Whiff test (-)
Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% atau dengan pewarnaan
gram ditemukan blastopora bentuk lonjong, sel tunas, pseudohifa dan kadang kadang
hifa asli bersepta
3) Vaginosis bacterial
Anamnesis: Mempunyai bau vagina yang khas yaitu bau amis terutama waktu
berhubungan seksual, namun sebagian besar dapat asimtomatik
Keputihan dengan bau amis seperti ikan. Sekret berlebihan, banyaknya sedang
sampai banyak, homogen, warna putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding
vagina. Tidak ada tanda-tanda inflamasi.
18

Laboratorium:pH >4,5 biasanya berkisar antara 5-5,5 dan Whiff test (+)
Mikroskopik: clue cell (+) jarang terdapat leukosit

4) Servisitis Gonore
Anamnesis: Gejala subjektif jarang ditemukan . Pada umumnya wanita datang berobat
kalau sudah ada komplikasi. Sebagian besar penderita ditemukan pada pemeriksaan
antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana
Duh tubuh serviks yang mukopurulen. Serviks tampak eritem, edema, ektopi dan
mudah berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan.
Laboratorium: kultur
Mikroskopik: Pemeriksaan sedian langsung dengan pengecatan gram ditemukan
diplokokus gram negatif, intraseluler maupun ekatraseluler
5) Klamidiasis
Anamnesis: gejala sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan
Eksudat seviks mukopurulen, erosi seviks, atau folikel-folikel kecil (microfollicles)
Laboratorium: pemeriksaan serologis untuk deteksi antigen melalui ELISA
Mikroskopik: dengann pengecatan giemsa akan ditemukan badan elementer dan
badan retikulat

Diagnosis Banding
a) Ketuban pecah
b) Vaginitis
c) Servisitis
d) Kandiloma akuminata
e) Herpes genitalia
f) IMS dan dysplasia/ neoplasia serviks
(obsetri&ginekologi, morgan)

2.7. Penatalaksanaan

Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus), sebaiknya
penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin.Penatalaksanan keputihan tergantung dari
penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk
mengatasi keluhan dan menghentikan prosesinfeksi sesuai dengan penyebabnya. Tujuan
pengobatan yaitu:
Menghilangkan gejala
19

Memberantas penyebabrnya
Mencegah terjadinya infeksi ulang
Pasangan diikutkan dalam pengobatan
Keputihan fisiologis : tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan untuk
menghilangkan kecemasannya.
Keputihan Patologis : Tergantung penyebabnya

Obat obatan untuk keputihan Patologis
1. Antiseptik : Povidone Iodin
Sediaan ini berbentuk larutan 10% povidon iodin dan ada yang diperlengkapi denganalat
douche-nya sebagai aplikator larutan ini. Selain sebagai antiinfeksi yang disebabkan jamur
Kandida, Trikomonas, bakteri atau infeksi campuran, juga sebagai pembersih.Tidak boleh
digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitif pemakaian harus
dihentikan.
2.Antibiotik
Clotrimazole
Memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri. Untuk infeksi kulit dan vulvovaginitisyang
disebabkan oleh Candida albicans.
Efek samping: pemakaian topikal dapat terjadi rasa terbakar,eritema, edema ,gataldan
urtikaria
Sediaan dan posologi : Tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1%dioleskan 2
kali sehari . Krim vagina 1% untuk tablet vagina 100 mg digunakan sekali sehari pada malam
hari selama 7 hari atau tablet vagina; 500 mg, dosistunggal.

Tinidazole
Tinidazole adalah obat antiparasit yang digunakan untuk membrantas infeksiProtozoa,
Amuba.Efek samping obat ini sama seperti Metronidazole tetapi dengan kelebihan tidak
perlu minum dengan waktu yang panjang sehingga mengurangi efek sampingnya.
Tinidazole sebagai preparat vaginal digunakan untuk infeksi Trichomonas. Biasadikombinasi
dengan Nystatin sebagai anti jamurnya. Bentuk sediaan yang ada adalahvaginal tablet.

Metronidazole
Diberikan peroral ( 2 gram sebagai dosis tunggal , 1gr setiap 12 jam x 2 atau 250 mg3xsehari
selama 5-7 hari) untuk infeksiTrichomonas vaginalis Diberikan 500 mg 2xsehari selama
seminggu dan lebih baik secara mitraseksual.Untuk infeksi Gardnerella vaginalis
20

Efek samping : mual kadang kadang muntah, rasa seperti logam dan intoleransiterhadap
alkohol.Metronidazol tidak boleh diberikan pada trimester pertama kehamilan.

Nimorazole
Nimorazole merupakan antibiotika golongan Azol yang terbaru. Selain dalamsediaan tunggal
dalam bentuk tablet oral (diminum) juga ada kombinasinya(Chloramphenicol dan Nystatin)
dalam bentuk vaginal tablet.

Penisilin
1.Ampisilin pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknyamakanan
dalam saluran cerna
2.Amoksisilin lebih baik diberikan oral ketimbang ampisilin karena tidak terhambatmakanan
dalam absorbsinya.
Efek samping : Reaksi alergi , nefropati, syok anafilaksis, efek toksik penisilin terhadap
susunan saraf menimbulkan gejala epilepsi karena pemberian IV dosis besar Sediaan dan
posologi :
Ampisilin : - Tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul 125mg, 250mg, 500mg-Dalam
suntikan 0,1 ; 0,25 ; 0,5 dan 1 gram pervial
Amoksisilin : Dalam bentuk kapsul atau tablet ukuran 125, 250, 500 gram
dansirup125mg/5mL dosis diberikan 3 kali 250-500 mg sehari

3. Anti jamur : Nystatin
Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadapobat ini
termasuk Candida sp Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapidengan sifatnya
yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan sebagai obat pemakaian
luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harushati-hati jangan digunakan pada luka terbuka.
4.Anti Virus : Asiklovir
Hambat enzim DNA polimerase virus. Sediaan dalam bentuk oral, injeksi dan krimuntuk
mengobati herpes dilabia.Efek samping :Oral : pusing, mual, diare,sakit kepalaTopikal : Kulit
kering dan rasa terbakar dikulit.Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada ibu hamil

2.8. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti :
Alat Pelindung
Memakai alat pelindung terhadap kemungkinan tertularnya PHS dapat dilakukan dengan
menggunakan kondom. Kondom cukup efektif mencegah terhadap penularan PHS, termasuk
AIDS
Pemakaian Obat / Profilaksis
21

Pemakaian antiseptic cair untuk membersihkan vagina pada hubungan yang dicurigai
menularkan penyakit kelamin relative tidak ada manfaatnya jika tidak disertai dengan
pengobatan terhadap MO penyebab penyakitnya. Pemakaian antibiotic dengan dosis
profilaksis atau dosis yang tidak tepat juga akan merugikan karena selain kuman tidak
terbunuh juga terdapat kemungkinan kebal terhadap obat jenis tersebut. Pemakaian obat
mengandung estriol baik krim atau obat minum bermanfaat pada pasien menopause dengan
gejala yang berat.
Pemeriksaan dini
Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan melakukan pemeriksaan Pap smear secara
berkala. Dengan Pap smear dapat diamati adanya perubahan sel sel normal menjadi kanker
yang terjadi secara berangsur angsur.
2.9. Komplikasi
Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah menaiki panggul sehingga terjadi penyakit
yang dikenal dengan radang panggul.
Komplikasi jangka panjang yang lenih mengerikan, yaitu kemungkinan wanita tersebut akan
mandul akibat rusak dan lengketnya organ-organ dalam kemaluan terutama tuba falopi dan
juga dapat menyebabkan infertilitas.Komplikasi juga dapat terdapat pada pria yaitu
komplikasi non spesifikndapat menjalar ke prostat dan menimbulkan infeksi buah zakar dan
saluran kemih
Terinfeksinya kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut harus disedot
keluar karena tidak dapat disembukan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering
menimbulkan radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita sering tanpa keluhan
maupun gejala.

2.10. Prognosis

Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap
pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan
kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif.
Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata rata 70 80% dengan regimen
pengobatan
Kandidiasis mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %
Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata rata 95 %


3. Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan PAP Smear

Papanicolaou (Pap) sitologi smear yang merupakan standar untuk pemeriksaan dini kanker
serviks dan untuk diagnosis kondisi prekanker atau kondisi kanker dari vulva atau vagina.
Tes ini juga biasa digunakan untuk pemeriksaan penyakit infeksi maupun inflamasi.
22

Merupakan tes yang disarankan untuk wanita berumur 20 tahun ke atas, dengan rentang satu
tahun sekali dilakukan pemeriksaan. Tes HPV (Human Papilloma Virus) disarankan
dilakukan pada semua wanita dengan hasil diagnosis pap smear yang menunjukkan adanya
sel squamosa yang atipikal yang tidak dapat dikelompokkan dalam klasifikasi (ASCUS =
atypical squamous cells of undetermined significance).
Pemeriksaan sitologi mikrobiologi memang tidak terlalu seakurat kultur bakteri, namun dapat
menunjukkan informasi yang bermanfaat.
Bethesda Sistem untuk Diagnosis cervical-vaginal
o Kecukupan spesimen
a. Penilaian yang baik
Berdasarkan adanya andocervikal atau zona transformasi dan indikator
kualitas lainnya

b. Penilaian yang buruk
Spesimen ditolak namun tetap diproses
Spesimen diproses dan diperiksa tetapi dengan penilaian yang buruk
untuk epitel abnormal
o Kategori umum
a. Negatif untuk lesi intraepitel atau yang malignant
b. Abnormal epitel sel
c. Lainnya : lihat hasil interpretasi

o Interpretasi
a. Negatif untuk lesi intraepitel atau yang malignant
b. Organisme:
Trichomonas vaginalis
Spesies Candida
Bakteri vaginosis flora (Coccobacillus)
Spesies Actinomyces
Dikarenakan virus herpes

o Tipe sel squamosa abnormal sel epitel
a. ASCUS tidak terkecuali lesi intraepitel squamosa grade tinggi (HSIL: high-
grade squamous intraepithelial lesion) (ASC-H)
b. Lesi intraepitel squamosa grade rendah (LSIL: Low-grade squamous
intraepithelial lesion), mencangkup HPV, displasia yang ringan, neoplasia
intraepitel cerviks (CIN: cervical intraepthelial neoplasm) grade 1 (prekusor
grade rendah)
c. HSIL mencangkup yang tingakt lanjut, parah, CIS (carcinoma in situ)/ CIN 2
dan CIN 3 (grade 2 dan 3 merupakan grade tinggi)
d. Karsinoma sel squamosa
o Lesi glandular sel
a. Atipikal
Sel Endocervikal
Sel Endometrium
Sel Glandular
Sel Endoservikal mengarah ke neoplasma
Sel Glandular mengarah ke neoplasma
23

b. In situ adenokarsinoma endoservikal
c. Adenokarsinoma
Endoservikal
Endometrial
Extrauterina
Tidak spesifik (NOS: not otherwise specified)

Patokan Nilai
a. Pap Normal
b. Tidak abnormal atau sel atipikal
c. Tidak inflamasi, tidak infeksi, tidak ada bagian yang berdarah tidak jelas
asalnya
d. Mayoritas tipe sel masih dalam batas normal
e. Negatif untuk sel squamosa intraepitel yang malignant
f. Negatif untuk HPV

Prosedur Pap smears
a. Minta pasien untuk melepas pakaian dari pinggang ke bawah
b. Posisikan pasien dalam keadaan litothomy pada meja periksa
c. Dengan lembut masukkan dengan sopan spekulum yang sudah diberi pelumas,
dan telah dihangatkan dengan air panas, ke dalam vagina untuk meraih cervix
d. Perhatikan pencegahan-pencegahan standar universal
e. Bila melakukan Pap smear yang konvensional, berlawanan dengan yang
menggunakan berbasis cairan, dengan cara konvensional diambil, digores
bagian posterior fornixnya dengan spatula kayu/ cytobrush/ cytobroom.
Material yang sudah diambil, diletakkan di kaca preparat dan dengan cepat
beri 95% alkohol atau semprotan pemfiksasi sebelum material mengering
f. Bila melakukan Pap smear yang Thinprep, maka gunakan alat pengumpul
seperti sapu. Masukkan ke dalam kanal endoservikal, cukup dalam untuk
membuat alat pengumpulnya dapat mengenai dinding ectoservix secara
menyeluruh. Tekan dengan lembut dan putar alat pengumpul searah jarum jam
sebanyak 5x. Bilas alat pengumpul tersebut dengan vial solusi PreservCyt
dengan mendorong ala pengumpulnya ke bawah vial sebanyak 10x, untuk
memaksa bulu-bulunya berjatuhan. Langkah akhir, putar sapunya dengan
semangat agar material yang menempel berjatuhan. Lepaskan alat pengumpul
dari vial. Tutup dengan erat kontainernya.
g. Beri label dengan semestinya dengan nama pasien dan nomer identifikasi dan
beri tanda darimana spesimen yang telah diambil berasal, dan kirim ke
laboratorium dengan lembar informasi yang lengkap, termasuk tanggal kapan
dilakukan pengambilan spesimen, tanggal lahir pasien, tanggal terakhir
menstruasi, dan riwayat kesehatan pasien.
h. Pemeriksaan dilakukan sekitar 5 menit

Pretes untuk Pasien sebelum dilakukan tindakan
a. Jelaskan kepada pasien tentang tujuan tes sitologi ini dan prosedurnya. Pada
kasus pemerkosaan, vaginal swab ditujukkan untuk bukti forensik yang
dibutuhkan dalam protokol penahanan
b. Larang pasien agar tidak melakukan pencucianvagina selama 2-3 hari sebelum
tes berlangsung karena dapat memindahkan sel exofolial
24

c. Larang pasien untuk menggunakan pengobatan untuk vagina atau kontrasepsi
selama 48 jam sebelum pemeriksaan. Coitus tidak dianjurkan pada malam hari
sebelum pemeriksaan.
d. Kosongkan vu dan rektum pasien sebelum pemeriksaan
e. Tanyakan kepada pasien pertnayaan untuk informasi berikut:
Umur indikasikan apakasih masih remaja, hamil, atau
postmenopause
Sedang memakai terapi hormon, pil kb, atau alat kontrasepsi
Pernah melakukan operasi vaginal atau hysterectomy
Apakah sedang melakukan terapi radiasi
Riwayat medis ( hasil pap smear yang abnormal, tanda tanda
inflamasi atau perdarahan

Postest pasien setelah dilakukan tindakan
a. Berikan ke pasien perineal pad untuk menyerab perdarahan atau kelebihan
cairan
b. Hasil tes dan rujukan yang tepat berdasarkan hasil tes sitologi
c. Bila hasil tes sitologi menunjukkan sel squmosa abnormal harus dimonitor
dan diatur dengan menggunakan ASCCP. Pengulangan DNA tes untuk HPV
merupakan standar
d. Rujuk ke yang ahli untuk terapi intravaginal estrogen dan prosedur diagnosis
eksisional. Penatalaksaan tergantung dari umur pasien, sehingga dapat
bervariasi

Komplikasi Klinis
a. Hasil sitologi Pap yang abnormal termasuk ASCUS dan bisa di klasifikasikan
sebagai protektif, dekstrutif, regenaratif, atau neoplastik
b. Reaksi inflamasi dan mikroba (Trichomonas vaginalis dan Moilia,
Coccobacilla, Candida, Actinomyces, sel yang mengindikasikan HSV) dapat
diidentifikasikan untuk membantu diagnosis dari penyakit yang terdapat di
vagin, dan bukti adanya Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae
c. Sel yang reaktif yang dihubungkan dengan inflamasi, operasi pembetulan
atipikal, radiasi, pemakaian alat kontrasepesi intrauterina (IUDs), sel glandular
post-hysterectomy, atopi, dan sel endometrial pada wanita umur 40 tahun
keatas
d. DNA positif untuk tes HPV
e. Lesi prekanker atau kanker dari cervix dapat diidentifikasi

Faktor Risiko
a. Pengobatan dengan tetrasiklin dan digitalis, yang dapat mempengaruhi epitel
squamosa, mempengaruhi hasil tes
b. Penggunaan pelumas, jelly pada vagina atau pencucian vagina dapat
mempengaruhi hasil tes dikarenakan sel yang terdistorasi sehingga tidak
didapatkan hasil tes yang akurat
c. Pancuran menstruasi yang banyak (darah) membuat hasil interpretasi sulit dan
dapat mengaburkan sel atipikal

Tes lanjutan setelah tes Pap dinyatakan abnormal
a. Remaja LSIL
Ulangi Pap smear pada bukan ke-6 dan ke-12
25

Colposcopy apabila hasil dari pengulangan Pap adalah ASC atau keatas,
atau ditemukan DNA HPV pada bulan ke-12
Jika positif untuk HPV resiko tinggi, rujuk untuk colposcopy
Jika positif, lakukan colposcopy lainnya

b. Wanita postmenopause ASCUS
Terapi estrogen intravaginal
Setelah pengobatan, ulangi Pap sitologi dalam waktu 1 minggu
Jika Pap negatif, ulangi pada bulan ke-4 dan ke-6
Jika pengulanagn Pap negatif, kembali lagi ke jadwal regular skreening.
Namun apabila hasilnya positif ASC ke atas maka rujuk untuk colposcopy

c. Wanita dengan HSIL
Colposcopy dengan penilaian endoservikal
Jika tidak ada CIN, tinjau ulang hasil sitologi, colposcopy, dan hasil
histologi, jika diperlukan perbaikan hasil interpretasi
Jika tidak ada perubahan yang berarti pada tinjauan ulang, lakukan biopsi
untuk menkonfirmasi CIN
Penatalaksanaan dengan ASCCP



4. Memahami dan Menjelaskan Keputihan dan Ibadah Dalam
Islam

Keputihan ini umum dialami oleh wanita. Dalam kitab shahih Bukhari disebutkan, suatu
ketika ada beberapa sahabat perempuan datang bertanya kepada Aisyah radhiallahu anha
tentang batasan berakhirnya haidh. Beliau menjawab :



26

Jangan kalian tergesa-gesa (menetapkan akhir haidh) hingga kalian melihat cairan putih
Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya fathul bari menjelaskan bahwa cairan putih
sebagaimana di sebut hadits di atas menjadi salah satu tanda akhir masa haidh.

Selain jenis keputihan di atas, ada pula keputihan yang terjadi dalam keadaan tidak normal,
yang umumnya dipicu kuman penyakit dan menyebabkan infeksi. Akibatnya, timbul gejala-
gejala yang sangat mengganggu, seperti berubahnya warna cairan menjadi kekuningan
hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental, lengket, berbau tidak sedap, terasa sangat gatal
atau panas. Dalam khazanah Islam, keputihan jenis ini biasa disebut dengan cairan putih
kekuningan (sufrah ) atau cairan putih kekeruhan (kudrah ).

Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Sahabat bernama
Ummu Athiyyah radhiallahuanha berkata :


Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan as-sufrah (cairan kekuningan) sama
dengan haidh
Berdasarkan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan :
1. Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang
mengalami menstruasi. Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban
melaksanakan shalat dan puasa, serta tidak wajib mandi.
2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing. Oleh
karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus istinjak
(cebok), dan membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan keputihan terlebih
dahulu.

Sedangkan apabila cairan keputihan keluar terus-menerus, maka orang yang mengalaminya
dihukumi dharurah/terpaksa, artinya orang tersebut tetap wajib melaksanakan shalat
walaupun salah satu syarat sahnya shalat tidak terpenuhi, yakni sucinya badan dan pakaian
dari najis. Menurut ulama Syafiiyah, ketentuan tersebut bisa dilaksanakan dengan syarat
diawali dengan proses membersihkan, istinjak, wudhu dan kemudian shalat dilakukan secara
simultan setelah waktu shalat masuk.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang masalah ini, lalu beliau
menjawab: Setelah aku teliti, yang nampak bagiku adalah bahwa cairan (keputihan) yang
keluar dari wanita, kalau keluarnya bukan dari saluran air seni akan tetapi keluar dari rahim,
maka dia adalah suci. Ini hukum yang berkaitan dengan masalah suci atau najis.
Bahwa keputihan itu bersih (suci) dan tidak membuat baju atau badan menjadi najis.

- Adapun dalam masalah wudhu, keluarnya cairan tersebut membatalkan wudhu.
Kecuali kalau ia keluar terus menerus, maka tidak membatalkan wudhu, namun sang wanita
tersebut jangan berwudhu kecuali telah masuk waktu shalat, lalu memakai pembalut.
- Namun kalau keluarnya cairan itu terputus-putus dan kebiasaannya terhenti pada waktu
shalat, maka hendaknya dia mengakhirkan shalatnya, apabila tidak takut waktu shalatnya
habis. Kalau khawatir waktu shalatnya habis, maka dia langsung saja berwudhu dan
memakai pembalut kemudian dia boleh melaksanakan shalat.
- Cairan yang keluar tidak ada bedanya antara sedikit maupun banyak. Karena semuanya
keluar dari kemaluan sehingga dikatakan membatalkan wudhu.

- Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin (11/284).
27

Kesimpulannya, si penanya tidak wajib mandi dan tidak berpengaruh terhadap puasanya.
Sementara berkaitan dengan shalatnya, maka dia wajib wudhu setiap akan shalat setelah
masuk waktunya kalau sekiranya keputihannya keluar terus menerus.

28

DAFTAR PUSTAKA


Fishbach, Frances Talaska dan Marshall Barnett Dunning (2004). A Manual of Laboratory
and Diagnostic Tests. Ed 7th. Page 781 788. Lippincott Williams & Wilkins
Jawetz, Melnick, &Adelbergs. 2004. Medical Microbiology Ed. 23rd. EGC: Jakarta
Juanda ed. Dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Ed. 5. UI Press: Jakarta
R. Putz, R. Pabst. 2006. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Edisi 21 Jilid 2. EGC: Jakarta
Sofwan, Achmad. Sistem Reproduksi. 2011. FK YARSI: Jakarta
Gartner & Hiatt. 2004. Textbook Histology. Saunders
Wiknjosastro dkk. 2009. Radang dan Beberapa Penyakit Lain Pada Alat-Alat Genital Wanita
di Ilmu Kandungan ed.2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo : Jakarta
Keputihan diunduh 31 Oktober 2012 dari: www.mui.or.id
http://www.balisruti.or.id