Anda di halaman 1dari 6

Sumber: www.dentistry.

com

Frenektomi
Frenulum adalah lipatan mukosa yang
menghubungkan pipi, bibir atau lidah ke alveolar
periosteum. Ketinggian dari frenulum ini dapat bervariasi
pada setiap orang. Gesekan antara gigi tiruan dan
frenulum atau jaringan lunak sekitarnya dapat
mengakibatkan ketidaknyamanan dan terjadinya ulserasi.
Untuk menghindarinya maka frenektomi dapat dilakukan
bila keadaan frenulum labialis terlalu tinggi atau frenulum
lingualis yang terlalu pendek.
Pada beberapa kasus perencanaan penggunaan gigi tiruan lengkap terutama rahang
atas serta prosedur perawatan ortodonti membutuhkan pembuangan frenulum labial,
terutama jika frenulum tersebut hipertrofi (Fig. 10.72). Begitu juga pada frenulum lingual
yang dapat menimbulkan masalah, seperti menyebabkan ankylogossia (Fig. 10.73).
Ankylogossia dapat menyebabkan pergerakan lidah yang terbatas, sehingga menyebabkan
kesulitan dalam berbicara.

Pada pemeriksaan bila frenulum dekat dengan puncak dari prosessus alveolaris
atau pada marginal gingiva menyebabkan tarikan yang kurang menguntungkan pada
mukosa, maka hal ini merupakan indikasi perawatan bedah.
Frenulum yang mengalami hipertrofi akan menimbulkan beberapa efek, yaitu:
a. gangguan estetika
b. membatasi pergerakan bibir maupun lidah
c. mengganggu susunan gigi
d. menarik gingiva menjauh dari gigi, sehingga terjadi resesi


Frenektomi Labial

Eksisi dari frenulum labial bisa dikatakan mudah, sehingga praktisi umum pun
bisa melakukannya (Fragiskos, 2007). Attachment dari frenulum labial terdiri atas
lapisan tipis jaringan fibrosa yang dilapisi mukosa yang memanjang dari bibir hingga
periosteum alveolar. Metode pembedahan secara umum cukup efektif dalam
mengeksisi perlekatan frenulum labial. Eksisi yang sederahana dan Z-plasty merupakan
metode yang efektif untuk perlekatan frenulum yang sempit (Figures 9-15 dan 9-16).


Anestesi lokal secara infiltrasi dapat dilakukan sebelum dilakukan pembedahan.
Setelah dilakukan anestesi, bibir bagian atas dibuka ke atas, sehingga dalam keadaan
tegang. Kemudian, frenulum dijepit dengan menggunakan dua jepitan hemostat yang
diletakkan pada margin inferior dan superior frenulum labial (Figs 10.75). Hemostat
pertama dijepitkan sejajar dengan permukaan labial alveolar ridge dan ujungnya
terdapat pada lipatan mukobukal. Sedangkan hemostat kedua dijepitkan pada ujung
frenulum dekat bibir yang ditarik sejajar terhadap permukaan mukosa bibir. Kedua
ujung hemostat saat ini saling bersentuhan satu sama lain dan jaringan frenulum
terkurung di tengahnya.
Kemudian dibuat 2 insisi yang paralel dari belakang hemostat inferior dan
superior menggunakan pisau scalpel (Figs. 10.7610.78). Insisi berada di sekeliling
permukaan luar kedua hemostat, sampai hemostat terlepas dengan jaringan frenulum
yang berada di tengahnya.





Tepi daerah operasi dilakukan undermine dengan gunting bedah. Kemudian
dilakukan penjahitan pada bagian yang bergerak dari tepi luka. Jahitan tersebut harus
menjepit/memegang periosteum untuk pengamanan kedalaman sulkus. Kompres dengan
kasa steril yang diletakkan antara gigi insisif, selama 2 jam. Periodontal pack biasanya
tidak perlu dilakukan karena tulang akan tertutup jaringan granulasi dengan cepat.

Langkah terpenting lain yang tidak boleh terlupakan adalah menginstruksikan
pasien tetap menjaga kebersihan dengan obat kumur, dan satu minggu kemudian jahitan
dapat dibuka.
Frenektomi Lingual
Frenulum lingual abnormal biasanya merupakan jaringan ikat fibrous, dan
kadang-kadang merupakan serat superior otot genioglosus. Perlekatan frenulum ini
dapat mengganggu kestabilan pemakaian protesa, karena setiap kali lidah bergerak akan
menyebabkan terjadinya penegangan perlekatan frenulum yang dapat melepaskan
protesa.
Lingual frenektomi juga merupakan pembedahan yang relatif mudah. Bahkan
juga dapat dilakukan tanpa menggunakan hemostat (Fragiskos, 2007). Letak frenulum
lingualis dekat dengan vena lingualis yang dalam, dan duktus submandibularis yang
mungkin dapat rusak oleh teknik operasi yang tidak hati-hati (H.Birn dan J.E. Winther,
1983).
Metode koreksi frenulum lingualis secara bedah, sebelumnya dilakukan anestesi
blok lingual bilateral dan infiltrasi lokal pada daerah anterior mandibula. Setelah
dilakukan anestesi lokal, lidah ditarik ke atas dan ke depan, yang dikendalikan dengan
benang. Kemudian, potong frenulum lingualis yang melekat erat pada dasar lidah
dengan melakukan insisi transversal pada dasar lidah menggunakan gunting. Hemostat
dijepitkan di bawah lidah sehingga terjadi efek vasokonstriksi, kemudian dilakukan
insisi. Insisi dilakukan dengan hati-hati karena terdapat pembuluh darah lingual pada
lidah dan daerah dasar mulut serta kelenjar submandibular. Sebagai hasilnya, luka akan
berbentuk rumboid, kemudian lidah diangkat ke atas dan tepi luka dibuat undermine,
kemudian ditutup dengan jahitan interrupted mulai dari dasar lidah. Karena lapisan
mukosa ini sangat tipis, maka penjahitan dianjurkan untuk menggunakan jarum
atraumatik (fig. 10.89-.10.93)






Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada bedah frenektomi, di antaranya adalah:
a. Infeksi post-operasi
b. Perdarahan, bengkak, dan adanya rasa nyeri
c. Diskolorisasi fasial
d. Munculnya sensitivitas gigi permanen terhadap rangsang dingin, panas, atau
makanan manis dan asam
e. Reaksi alergi
f. Kebas pada bibi atau jaringan sekitarnya
Materi asing tertelan secara tidak sengaja