Anda di halaman 1dari 96

1

PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI
SISWA KELAS XI IS 1 SMA NEGERI 1 SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2008/2009
(Penelitian Tindakan Kelas)

SKRIPSI

Oleh:

SWETY RETNA
NIM K7405113

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
2

PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI
SISWA KELAS XI IS 1 SMA NEGERI 1 SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2008/2009
(Penelitian Tindakan Kelas)

Oleh:

SWETY RETNA
NIM K7405113

Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan
gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
3

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji


Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

Persetujuan Pembimbing,

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Wahyu Adi, M.Pd Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd


NIP.131 841 881 NIP. 132 309 135
4

Skripsi ini telah direvisi oleh Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk
memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Tim Penguji Skripsi:


Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sudiyanto, M.Pd. .......................

Sekretaris : Jaryanto, S.Pd, M.Si. .......................

Anggota I : Drs. Wahyu Adi, M.Pd. .......................

Anggota II : Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd. .......................


5

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas


Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari : Selasa


Tanggal : 14 April 2009

Tim Penguji Skripsi:


Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sudiyanto, M.Pd. .......................

Sekretaris : Jaryanto, S.Pd, M.Si. .......................

Anggota I : Drs. Wahyu Adi, M.Pd. .......................

Anggota II : Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd. .......................

Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Dekan,

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd


NIP. 131 658 563
6

ABSTRAK

Swety Retna. K7405113. PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL


TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI IS 1 SMA NEGERI 1
SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009. Skripsi. Surakarta. Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2009.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan
pendekatan contextual teaching and learning dengan menekankan komponen
learning community dan questioning dalam upaya meningkatkan hasil belajar
akuntansi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas. Obyek
penelitian ini adalah siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta yang berjumlah
41 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan kolaborasi antara penulis, guru kelas
dan melibatkan partisipasi siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Prosedur penelitian meliputi tahap:
(1) identifikasi masalah, (2) persiapan, (3) penyusunan rencana tindakan, (4)
implementasi tindakan, (5) pengamatan, dan (6) penyusunan laporan. Proses
penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari
empat tahap, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3)
observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Setiap siklus dilaksanakan
dalam empat kali pertemuan, masing-masing pertemuan selama 1 x 45 menit.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
terdapat peningkatan hasil belajar akuntansi melalui penggunaan pendekatan
contextual teaching and learning dengan menekankan komponen learning
community dan questioning. Hal tersebut terefleksi dari beberapa indikator
sebagai berikut: (1) Siswa antusias dan bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran akuntansi, (2) Siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dengan
berdiskusi dengan teman yang lebih paham akan materinya dan belajar bertanya,
(3) siswa mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya ke depan kelas, (4)
guru mampu memberikan metode pembelajaran akuntansi dengan nuansa baru.
Hal ini antara lain diinformasikan oleh beberapa siswa melalui kegiatan
wawancara setelah semua siklus tercapai, (5) kemampuan siswa dalam memahami
akuntansi meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai akhir dan nilai rata-rata kelas
yang mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Peningkatan tersebut
terjadi setelah guru melakukan beberapa upaya, antara lain: (1) penggunaan
pendekatan contextual teaching and learning dengan menekankan komponen
learning community dan questioning, (2) guru membuat inovasi baru dalam
menyampaikan pelajaran akuntansi dengan membentuk kelompok-kelompok
belajar dan membuka kegiatan diskusi dan tanya jawab, (3) siswa diminta untuk
mengulang pelajaran yang diberikan guru melalui kegiatan presentasi pada waktu
pelajaran berikutnya.
7

MOTTO

....Aku belajar bahwa untuk menjadi sempurna adalah omong kosong. Kadang
kita sukses, kadang kita gagal. Yang penting kita harus tetap semangat hidup dan
melakukan hal yang kita yakini...
Dan satu hal yang pasti : sebaik apapun aku dalam satu hal, aku tidak akan pernah
menjadi master, akan ada hal baru yang harus aku pelajari!
(Kate Bosworth)

Hanya ada satu bukti dari kemampuan: ”Tindakan”.


(Marie)

Percayalah pada dirimu sendiri dan apa pun yang kamu impikan. Jangan pernah
katakan ”aku tak bisa” tetapi katakanlah ”aku pasti bisa!” dan kau akan
mendapatkan impianmu.
(Penulis)

Untuk mencapai suatu kemungkinan kau harus mau mencoba ketidakmungkinan


yang ada. Teruslah berusaha dan jangan menyerah. Dengan tetap berpegang pada
agama dan ridho Allah terjanglah semua rintangan di sepanjang jalanmu hingga
kau mendapatkannya. Itulah keberhasilan yang sebenarnya.
(Penulis)
8

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan sebagai wujud rasa sayang,


cinta kasih penulis dan terima kasih penulis kepada :
- Ibu dan Bapak yang aku sayangi dan aku
hormati, terima kasih atas doa restu dan kasih sayang
yang terus mengalir untukku sehingga aku dapat
menyelesaikan studiku dengan lancar.
- Sweta, Nunu, dan Aga yang aku sayangi, kalian
adalah sumber semangatku.
- Bude Lily dan keluarga, terima kasih sudah
banyak membantuku selama ini.
- Anjar Arief Sutrisno, terima kasih atas
dukungan dan semangatnya.
- Pak Wahyu, Pak Bayu dan Bu Sri, terima kasih
atas bimbingan, kesabaran dan motivasinya.
- Saudara seperjuanganku, Riska dan Zum terima
kasih atas kritik, saran, dukungan dan kasih sayang
kalian yang telah membangunku menjadi orang yang
lebih baik, you’re the best sisters I ever had.
- Sahabat-sahabatku Nurin, Amee, Shinta, Werdi,
Riana,Yosita, Nurla, Dewi, Harini, Gina, dan Sinonggo,
thanks atas dukungan dan doanya.
- Anak-anak SQ, I’m very lucky and happy to
have you as my second family, thanks for all.
- Teman-teman BKK Akuntansi 2005, thank u.
9

- Almamater UNS.
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan
hidayah-Nya, sehingga skipsi ini dapat diselesaikan dengan baik oleh penulis
untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan.
Hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan
penulisan skipsi ini dapat diatasi berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu,
atas segala bentuk bantuannya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. Saiful Bachri, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan ijin penulisan skripsi ini.
3. Drs. Wahyu Adi, M.Pd., selaku Ketua Bidang Keahlian Khusus
Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dengan
bijaksana.
4. Drs. Wahyu Adi, M.Pd., selaku Pembimbing I yang telah
memberikan arahan, bimbingan dan motivasi sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
5. Khresna Bayu Sangka, S.E, M.M selaku Pembimbing II
pertama, meskipun hanya setengah perjalanan tetapi banyak memberikan
semangat untuk penyelesaian skripsi ini.
6. Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd selaku Pembimbing II yang telah
memberikan dukungan, nasehat dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik .
7. Drs. H. M. Thoyibun, S.H, MM, selaku Kepala SMA Negeri 1
Surakarta yang telah memberikan izin pelaksanaan penelitian.
8. Drs. Wiyono selaku guru akuntansi SMA Negeri 1 Surakarta
dan siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta yang telah membantu dalam
pelaksanaan penelitian dalam skripsi ini.
10

9. Bapak Ibu tercinta, yang selalu memberikan dorongan baik


moril maupun spiritual, kasih sayang serta doa yang tak henti-hentinya
mengiringi penulis hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari
Allah SWT. Amin.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan,
namun penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya.

Surakarta, April 2009

Penulis
11

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


HALAMAN PENGAJUAN ........................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv
HALAMAN ABSTRAK ................................................................................ vi
HALAMAN MOTTO .................................................................................... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... viii
KATA PENGANTAR.................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................... 6
C. Pembatasan Masalah .................................................................... 7
D. Perumusan Masalah ..................................................................... 7
E. Tujuan Penelitian ......................................................................... 7
F. Manfaat Penelitian ....................................................................... 8
BAB II. LANDASAN TEORI ....................................................................... 9
A. Tinjauan Pustaka ......................................................................... 9
1. Pendididkan ........................................................................... 9
2. Proses Belajar Mengajar ......................................................... 10
3. Pendekatan dalam Pembelajaran ............................................ 11
4. Pendekatan Contextual Teaching and Learning ..................... 14
12

a. Makna Contextual Teaching and Learning....................... 14


b. Keunggulan pendekatan Contextual Teaching and
Learning ............................................................................... 16
c. Pentingnya penerapan pendekatan Contextual Teaching and
Learning dengan menekankan komponen learning community
dan questioning dalam pembelajaran akuntansi ................... 18
5. Hasil Belajar ........................................................................... 21
6. Hasil Belajar Akuntansi........................................................... 22
7. Rancangan Pembelajaran Akuntansi dengan Pendekatan
Contextual Teaching and Learning............................................. 24
B. Penelitian Yang Relevan .............................................................. 24
C. Kerangka Berpikir ........................................................................ 26
D. Hipotesis Tindakan ...................................................................... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 28
A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 28
B. Pendekatan Penelitian .................................................................. 29
C. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 34
D. Prosedur Penelitian....................................................................... 35
E. Proses Penelitian .......................................................................... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 40
A. Deskripsi Lokasi Penelitian.......................................................... 40
B. Identifikasi Masalah Pembelajaran Akuntansi Kelas XI
IS 1 di SMA Negeri 1 Surakarta ................................................... 42
C. Deskripsi Hasil Penelitian ............................................................ 44
1. Siklus I .................................................................................... 44
a. Perencanaan Tindakan Siklus I ......................................... 44
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I ......................................... 48
c. Observasi dan Interpretasi.................................................. 52
d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus I ........................... 54
2. Siklus II ................................................................................... 55
a. Perencanaan Tindakan Siklus II ........................................ 55
13

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II ........................................ 58


c. Observasi dan Interpretasi.................................................. 61
d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus II ......................... 63
D. Pembahasan.................................................................................. 64
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ....................................... 69
A. Simpulan....................................................................................... 69
B. Implikasi ....................................................................................... 71
1. Implikasi Teoretis..................................................................... 71
2. Implikasi Praktis....................................................................... 72
C. Saran ............................................................................................. 72
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 74
LAMPIRAN ................................................................................................... 77
14

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur Kerangka Berpikir 27


Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan 32
Gambar3. Grafik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus I 53
Gambar 4. Grafik Tingkat Kepasifan Siswa pada Siklus I 54
Gambar 5. Grafik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus II 63
Gambar 6. Grafik Tingkat Kepasifan Siswa pada Siklus II 63
Gambar 7. Grafik Hasil Penelitian 1 65
Gambar 8. Grafik Hasil Penelitian 2 68
15

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Keunggulan Pendekatan CTL dibanding pendekatan Tradisional 17


Tabel 2. Jadwal Penelitian, Bentuk dan Strategi Penelitian 29
Tabel 3. Indikator Ketercapaian Belajar Siswa 38
Tabel 4. Profil Hasil Penelitian 65
16

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Catatan Lapangan 1 79


Lampiran 2. Catatan Lapangan 2 82
Lampiran 3.Gambar Pelaksanaan Siklus I 87
Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1 89
Lampiran 5. Materi Pembelajaran Siklus I 93
Lampiran 6. Soal Latihan Kerja Kelompok Siklus I 97
Lampiran 7. Soal Evaluasi Akhir Siklus I 101
Lampiran 8. Catatan Lapangan 3 106
Lampiran 9. Gambar Pelaksanaan Siklus II 111
Lampiran 10. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2 113
Lampiran 11. Materi Pembelajaran Siklus II 117
Lampiran 12. Soal Latihan Kerja Kelompok Siklus II 119
Lampiran 13. Soal Evaluasi Akhir Siklus II 123
Lampiran 14. Daftar Nilai Siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta 127
Lampiran 15. Tabel Pengamatan Siklus I 128
Lampiran 16. Tabel Pengamatan Siklus II 130
Lampiran 17. Daftar Pertanyaan Wawancara 132
Lampiran 18. Ijin penelitian
Lampiran 19. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian
17

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis


dengan tujuan menggali dan mengembangkan potensi-potensi dalam diri manusia.
Melalui pendidikan diharapkan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia
dalam rangka menyikapi perubahan global yang melanda dunia. Perubahan global
akan mempengaruhi tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Perubahan yang terus menerus itu menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan
nasional. Perbaikan tersebut antara lain melalui peningkatan mutu atau kualitas
tenaga pendidik, penyempurnaan dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah,
perubahan strategi dan pendekatan pembelajaran ataupun melalui penyempurnaan
kurikulum.
Tuntutan untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia melalui
penyempurnaan kurikulum telah beberapa kali dilakukan. Pada tahun pelajaran
2008/2009 digunakanlah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP) sebagai
kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini diharapkan mampu menjawab
tantangan masa depan yaitu mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Penyempurnaan Kurikulum tersebut mengacu pada Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu berkenaan dengan
pasal-pasal sebagai berikut:
1. Pasal 3 tentang Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

1
18

berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab;
2. Pasal 35 ayat (1) tentang Standar Nasional pendidikan
terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan,
sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan
yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala;
3. Pasal 36 ayat (1) dan ayat (2) tentang pengembangan
kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional dan tujuan
pendidikan, serta memperhatikan prinsip diversifikasi sesuai dengan potensi
peserta didik;
4. Pasal 37 ayat (1) tentang muatan wajib pada kurikulum
pendidikan dasar dan menengah; dan
5. Pasal 38 ayat (1) tentang kerangka dasar dan struktur
kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah, dan
ayat (2) tentang peran koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor
departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk
pendidikan menengah sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau
satuan pendidikan dan komite sekolah.
Melalui perubahan kurikulum diharapkan mampu meningkatkan mutu
pendidikan yang secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia
Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku,
pengetahuan, kesehatan, keterampilan dan seni. Pengembangan aspek-aspek
tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang
diwujudkan melalui pencapaian kompetensi siswa untuk bertahan hidup,
menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang. Dengan demikian siswa memiliki
ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang dikembangkan melalui pembelajaran
dan atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
Mulyasa (2004: 58-59) menyatakan bahwa dalam pelaksanaan
pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) perlu memperhatikan hal-
hal sebagai berikut:
19

Pertama, pembelajaran harus lebih menekankan pada praktek, baik di


laboratorium maupun di masyarakat. Dalam hal ini guru harus mampu
memilih serta menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang
memungkinkan peserta didik mempraktekkan apa-apa yang dipelajarinya.
Kedua, pembelajaran harus dapat menjalin hubungan sekolah dengan
masyarakat. Dalam hal ini setiap guru harus mampu dan jeli melihat berbagai
potensi masyarakat yang bisa didayagunakan sebagai sumber belajar dan
menjadi penghubung antar sekolah dengan lingkungannya.
Ketiga, perlu dikembangkan iklim pembelajaran yang demokratis dan
terbuka, melalui pembelajaran terpadu.
Keempat, pembelajaran perlu ditekankan pada masalah-masalah aktual yang
secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada di masyarakat.

Kurikulum yang telah disempurnakan menuntut adanya perubahan pada


strategi dan pendekatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran diselenggarakan
untuk membentuk watak, peradaban, dan meningkatkan mutu kehidupan siswa.
Untuk itu pelaksanaan kegiatan pembelajaran harus menerapkan berbagai strategi
pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, sfisien, dan bermakna.
Dalam hal ini kegiatan pembelajaran harus mampu mengembangkan dan
meningkatkan kompetensi, kreatifitas, kemandirian, kerjasama, solidaritas,
kepemimpinan, empati, toleransi, dan kecakapan hidup siswa. Salah satu
pendekatan pembelajaran yang dewasa ini gencar disosialisasikan adalah
pendektan kontekstual.
Pendekatan kontekstual sering disebut Contextual Teaching and Learning
(CTL). Drs. Bandono (2008) mengungkapkan:
Contextual Teaching and Learning merupakan proses pembelajaran yang
holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar
dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari
(konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/
ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara
aktif pemahamannya.

Dalam artikel karya Drs. Bandono, menurut pendekatan kontekstual,


pembelajaran yang efektif meliputi :
1. Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun
dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada
pengetahuan tertentu.
2. Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang
dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru
20

digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir


secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan
pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan.
3. Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun
pengetahuan/konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya,
investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep.
4. Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang
berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan
gagasan.
5. Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu
kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu
sesuai dengan model yang diberikan.
6. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian,
kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal
yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat
dilakukan suatu tindakan penyempurnaan.
7. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan
kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata.

Penerapan komponen-komponen pada pendekatan kontekstual ini mampu


menciptakan suatu pembelajaran yang efektif yang mampu meningkatkan minat
serta pemahaman siswa terhadap suatu pembelajaran.
Untuk mengetahui apakah kegiatan pembelajaran di sekolah telah seperti
yang diharapkan, peneliti melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Surakarta.
Sekolah ini peneliti pilih menjadi lokasi penelitian karena sekolah tersebut
merupakan SMA terbaik di Surakarta. Sekolah itu telah berstandar Internasional.
Dengan predikatnya yang demikian peneliti berasumsi bahwa tenaga pendidik
yang ada di dalamnya adalah guru-guru profesional. Peneliti yakin mereka telah
menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang
berlaku.
Kenyataan yang ada sungguh di luar dugaan. Pada awalnya peneliti
membayangkan akan menyaksikan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan
tuntutan kurikulum yang kini berlaku, namun yang peneliti saksikan adalah guru
yang tetap bertahan pada tradisi lama. Begitu masuk kelas, setelah memberikan
sedikit ceramah tentang materi pelajaran, guru memberi para siswanya beberapa
tugas yang harus diselesaikan. Tidak ada waktu untuk bertanya jawab. Setiap kali,
21

siswa hanya diminta untuk membuka buku teks dan mengerjakan buku Lembar
Kerja.
Peneliti melihat suasana pembelajaran yang jauh dari menyenangkan dan
menggairahkan. Siswa yang awalnya duduk tegak sebagai tanda siap mengikuti
kegiatan pembelajaran, sebagian besar langsung tertunduk lemas. Kegiatan
pembelajaran pun terasa pasif. Hanya beberapa siswa saja yang terlihat aktif
membuka-buka buku dan berdiskusi dengan teman sekitarnya.
Beberapa siswa yang terlihat rajin membaca dapat menyelesaikan tugas
tersebut dengan cepat. Namun sebagian besar yang lain, yang sejak awal kurang
antusias karena mungkin mengalami kesulitan dalam memahami konsep akuntansi
tak kunjung menyelesaikan tugasnya. Bahkan akhirnya mereka mengambil jalan
pintas: menyontek hasil pekerjaan teman.
Setelah melakukan beberapa kali pengamatan peneliti menyimpulkan
bahwa guru tersebut mempunyai gaya mengajar yang monoton dan kurang
menarik. Para siswa terlihat merasa jenuh. Dari suasana pembelajaran yang
demikian mustahil akan dicapai prestasi yang maksimal.
Dari survey awal yang dilakukan peneliti, nilai rata-rata kelas 69,22.
Angka ini belum memenuhi nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata
pelajaran akuntansi, yaitu 70. Siswa yang mendapat nilai 70 ke atas sebanyak 68%
dari keseluruhannya, 32% sisanya masih di bawah standar ketuntasan minimal. Di
antara siswa yang belum tuntas, bahkan ada yang mendapat nilai sangat rendah,
yaitu 17. Siswa yang mengumpulkan tugas rumah secara tepat waktu sebanyak
40%. Sebanyak 55% mengumpulkan tugasnya dengan terlambat 2 minggu dari
waktu yang ditentukan. Sisanya, sebesar 5% tidak mengumpulkan tugas rumah.
Ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan dan minat siswa dalam mengikuti
pelajaran sangat rendah.
Berangkat dari kondisi tersebut di atas, peneliti tergerak untuk
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual
Teaching and Learning. Komponen-komponen pembelajaran yang terdapat dalam
pendekatan Contextual Teaching and Learning sangat baik untuk menanamkan
22

pengetahuan pada siswa dalam pembelajaran akuntansi, termasuk di kelas XI IS 1


SMA Negeri 1 Surakarta.
Agar pelaksanaan pendekatan ini berjalan efektif dalam pembelajaran
akuntansi di SMA Negeri 1 Surakarta kelas XI IS 1, peneliti memilih dua
komponen pendekatan Contextual Teaching and Learning. Hal ini disesuaikan
dengan permasalahan yang dihadapi di kelas tersebut.
Peneliti mengambil komponen learning community (masyarakat belajar)
dan questioning (bertanya). Dengan menerapkan komponen learning community
diharapkan siswa yang termasuk kurang bisa akan berinteraksi dengan siswa
yang pandai untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam belajar
dengan diskusi. Komponen questioning memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya lebih lanjut kepada guru tentang materi yang belum mereka kuasai
dengan baik dengan demikian pemahaman mereka meningkat.
Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran
akuntansi diharapkan dapat meningkatkan minat belajar dan pemahaman mereka
mengenai pelajaran akuntansi. Metode-metode mengajar bisa dilakukan secara
bervariasi sehingga memacu semangat siswa dalam belajar dan kemudian
meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk
mengadakan penelitian dengan judul: “Penggunaan Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi
Siswa Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil pengamatan dan survey awal yang dilakukan, peneliti


mengidentifikasikan permasalahan yang terdapat pada pembelajaran akuntansi
keuangan kelas XI IS 1 SMA Negeri Surakarta sebagai berikut:
1. Siswa umumnya kurang antusias mengikuti pembelajaran akuntansi
karena kesulitan memahami konsep yang diberikan oleh guru yang hanya
23

menggunakan metode ceramah dan hanya sedikit diselingi dengan tanya


jawab.
2. Kebanyakan siswa tidak mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan
oleh guru dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka cenderung menyalin
hasil pekerjaan teman.
3. Guru belum menggunakan metode pembelajaran yang mampu
membangkitkan minat dan pemahaman siswa dalam pembelajaran akuntansi.
4. Keaktifan dan minat siswa terhadap mata pelajaran akuntansi masih sangat
rendah. Hal ini terlihat, antara lain pada cara siswa mengumpulkan tugas
rumah. Hanya sedikit siswa yang mengumpulkan tugas rumahnya secara tepat
waktu.

C. Pembatasan Masalah
Agar masalah yang teridentifikasi dapat dikaji secara mendalam, maka
perlu dilakukan pembatasan masalah. Pada penelitian ini masalah yang akan
penulis kaji lebih dalam adalah tentang penggunaan pendekatan dalam
pembelajaran yang tepat untuk membangun semangat dan meningkatkan
pemahaman mereka pada mata pelajaran akuntansi, yaitu dengan:
1. Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning.
2. Penilaian dilakukan dengan menilai proses dan hasil pembelajaran. Proses
pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di
dalam kelas. Sedangkan hasil belajar dilihat dari peningkatkan prestasi belajar
siswa setelah mengikuti pembelajaran dalam satu siklus.

D. Perumusan Masalah
Masalah penelitian ini adalah "Apakah Penggunaan Pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menekankan komponen
learning community dan questioning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran Akuntansi Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran
2008/2009?”
24

E. Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan
menekankan komponen learning community dan questioning dalam upaya
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi Kelas XI IS1
SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009.

F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan :
1. Bagi Guru
Sebagai alternatif pemecahan masalah pembelajaran dengan
menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran untuk meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa tidak hanya nilai tetapi juga keterampilan.
2. Bagi Siswa
Mendapatkan kemudahan dalam memahami materi pelajaran dan
memberi pengalaman belajar inovatif baru untuk meningkatkan hasil belajar
mereka.
3. Bagi Peneliti
a. Memberi pengalaman baru mengenai penerapan metode
pembelajaran inovatif.
b. Sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan pembelajaran
yang mungkin muncul saat mengajar kelak.
25

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka

1. Pendidikan

Pendidikan merupakan komponen penting dalam menciptakan sumber


daya manusia yang berkualitas. Makna pendidikan tercermin dari pengertian
pendidikan itu sendiri. Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra (2002: 9), ”Pendidikan
adalah suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya
untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif
dan efisien”. Menurutnya, pendidikan lebih dari sekedar pengajaran. Pendidikan
adalah suatu proses dimana suatu bangsa / negara membina dan mengembangkan
kesadaran diri di antara individu-individu.

Soedomo Hadi (2005: 18) dalam buku Pengantar Pendidikan mengatakan,


”Pendidikan itu adalah pengaruh, bantuan atau tuntunan yang diberikan oleh
orang yang bertanggungjawab kepada anak didik”. Sedangkan menurut
Darnelawati yang dikutip oleh Fitri (2008) berpendapat bahwa, ”Pendidikan
formal adalah pendidikan di sekolah yang berlangsung secara teratur dan
bertingkat mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat. Tujuan pendidik adalah
untuk memperkaya budi pekerti, pengetahuan dan untuk menyiapkan seseorang
agar mampu dan terampil dalam suatu bidang pekerjaan tertentu”.
26

Proses pendidikan itu sendiri melibatkan banyak hal yang dijabarkan


dalam unsur-unsur pendidikan. Menurut Tirtahardja, dkk (2005) unsur-unsur
pendidikan antara lain sebagai berikut:

a. Subjek yang dibimbing (peserta didik)


b. Orang yang membimbing (pendidik)
c. Interaksi antara peserta didik dengan
pendidik (interaksi edukatif)
d. Ke arah mana bimbingan ditujukan
(tujuan pendidikan)
e. Pengaruh yang diberikan dalam
bimbingan (materi pendidikan)
f. Cara yang digunakan dalam bimbingan
(alat dan metode)
g. Tempat dimana peristiwa bimbingan
berlangsung (lingkungan pendidikan).

Peserta didik adalah anak yang belum dewasa, yang memerlukan usaha,
bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan
9 umat manusia, sebagai warga negara,
tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai
sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu. Sedangkan
pendidik adalah orang yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pendidikan
dengan sasaran peserta didik. Interaksi edukatif adalah komunikasi timbal balik
antara peserta didik dengan pendidik ke arah tujuan pendidikan. Interaksi ini
dilakukan dengan sengaja melalui penyampaian materi berupa pengetahuan yang
dilaksanakan dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu.

Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah


suatu proses pembelajaran yang diberikan oleh seorang pendidik kepada anak
didik agar anak didik memiliki keterampilan untuk mencapai tujuan hidupnya.
Pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks yang melibatkan banyak
unsur didalamnya dimana masing-masing unsur saling berkaitan membentuk
27

suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan juga merupakan usaha suatu
bangsa dalam memajukan generasi mudanya, jadi pendidikan yang dimaksud
disini adalah pendidikan secara formal atau melalui lembaga pendidikan, yaitu
sekolah, perguruan tinggi, dan seterusnya.

2. Proses Belajar Mengajar

Salah satu unsur pendidikan adalah interaksi edukatif atau biasa disebut
Proses Belajar Mengajar. Drs. A Tabrani Rusyan (1989: 4) mengatakan:

Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik


antara peserta didik dengan pendidik yang terarah pada pencapaian tujuan
pendidikan. Untuk itu hendaknya dipahami benar bahwa terjadinya
perilaku belajar pada pihak peserta didik dan perilaku mengajar pada pihak
pendidik tidak berlangsung hanya dari satu arah, tetapi terjadi secara
timbal balik dimana kedua pihak berperan dan berbuat secara aktif di
dalam suatu kerangka dan dengan menggunakan cara dan kerangka
berpikir yang seyogyanya dipahami dan disepakati bersama.

Menurut Anwar Holil (2008), ”Proses belajar mengajar adalah kegiatan


yang integral (terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan
guru sebagai pengajar yang sedang mengajar”. Sedangkan Anis Matta (2008)
dalam tulisannya mengenai komunikasi efektif dalam proses belajar mengajar
mengungkapkan:

Proses belajar mengajar merupakan interaksi antar berbagai unsur, dengan


unsur utama adalah siswa, kebutuhan berbagai sumber, serta situasi belajar
yang memberikan kemungkinan kegiatan belajar. Guru juga merupakan
faktor yang menentukan seperti melakukan pengembangan bahan ajar
serta perangkat lainnya. Komunikasi menjadi unsur penentu didalam
proses tersebut. Semakin efektif komunikasi yang dilakukan, maka akan
semakin banyak tujuan dari proses belajar mengajar yang akan tercapai.
28

Dalam pengertian interaksi sudah barang tentu ada unsur memberi dan
menerima, baik bagi guru maupun bagi peserta didik. Drs. A. Tabrani Rusyan
(1989: 6) mengatakan:

Setiap proses interaksi belajar-mengajar selalu ditandai dengan adanya


sejumlah unsur, yakni:
a. Tujuan yang ingin dicapai,
b. Adanya guru dengan peserta didik
sebagai individu yang terlibat dalam proses interaksi tersebut,
c. Adanya bahan pelajaran, dan
d. Adanya metode sebagai alat (wasilah)
untuk menciptakan situasi belajar-mengajar.

Jadi dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar merupakan interaksi


atau hubungan timbal balik antara guru dengan peserta didik atau siswa dalam
suatu situasi pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan
pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui
proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat
pendidikan.

3. Pendekatan dalam Pembelajaran


Penerapan suatu metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar
memerlukan pendekatan tertentu. Membahas pendekatan pembelajaran tidak
terlepas dari pengertian pendekatan itu sendiri. Pendekatan yang menjadi pokok
bahasan adalah pendekatan dalam pembelajaran.
Akhmad Sudrajat (2008) dalam artikelnya mengenai pendekatan dalam
pembelajaran mengemukakan:
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum,
didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.
29

Pendekatan dalam belajar mengajar pada dasarnya adalah melakukan


proses belajar mengajar yang menekankan pentingnya belajar melalui proses
mengalami untuk memperoleh pemahaman. Pendekatan ini mempunyai peran
yang sangat penting dalam menentukan berhasil-tidaknya belajar yang diinginkan.
Peningkatan mutu belajar mengajar sebenarnya tidak terlepas dari
pendekatan dalam belajar-mengajar karena berhasil tidaknya hasil belajar-
mengajar dapat dilihat dari mutu lulusan, dari produknya, atau proses belajar-
mengajar dikatakan berhasil jika masukan rata, menghasilkan banyak lulusan dan
bermutu tinggi, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta yang memadai.
Juga jika prosesnya menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat kerja
yang besar, dan percaya pada diri sendiri. Untuk memperoleh hasil diatas, maka
salah satu jalan kita perlu meningkatkan kualitas belajar mengajar dengan
menciptakan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Banyak pendekatan pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli
pendidikan, salah satunya seperti yang dibahas oleh Suwarna, M.Pd (2006: 101)
dalam buku Pengajaran Mikro, menurutnya beberapa pendekatan utama dalam
pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a. Model Pendekatan Induktif, yaitu
pendekatan yang menggunakan data untuk membangun konsep atau
untuk memperoleh pengertian. Dalam strategi ini guru
mempresentasikan data dan berdasar data tersebut guru mengajak
siswa membangun konsep atau pengertian.
b. Model Pendekatan deduktif, ditandai
dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal
pembelajaran. Implementasi model ini meliputi langkah-langkah
presentation of the abstraction, clarification of term, presentation of
examples, dan student generate examples.Jadi, guru memberikan
penggambaran mengenai konsep, kemudian memberi contoh dan siswa
mengikutinya.
c. Model Pendekatan Proses, merupakan
pengembangan dari pendekatan induktif. Pendekatan ini dilakukan
dengan langkah-langkah: 1)membuat daftar gejala/fakta, 2)
mengelompokkan data, 3) memberi nama atau label pada data yang
telah dikelompokkan, 4) mengoleksi data, 5) membuat grafik
hubungan antar data, 6) menjelaskan dan membahas lebih lanjut
persoalan yang dipelajari, 7) memprediksikan berbagai kemungkinan
dari hasil pembahasan, dan 8) membuat kesimpulan berdasarkan data.
30

d. Pendekatan Kontekstual atau Contextual


Teaching and Learning,yaitu pendekatan yang memiliki tujuh
komponen pembelajaran aktif. Penerapan pendekatan ini cukup
mudah, yaitu:
1) Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna
dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi
sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua
topik.
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-
kelompok)
5) Hadirkan model dalam contoh pembelajaran.
6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Pemilihan pendekatan pembelajaran harus relevan dengan tujuan dan


harus tampak baik dalam perencanaan pembelajaran maupun situasi pembelajaran
di kelas, laboratorium maupun di lapangan. Apapun model pendekatan yang
digunakan dalam suatu proses pembelajaran, pada akhirnya siswa harus mampu
memperoleh pengertian tentang konsep keilmuan yang ia pelajari.
Penerapan pendekatan pembelajaran dalam proses belajar mengajar harus
memungkinkan para siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Seperti
yang dikatakan filsuf terkenal, Alfred North Whitehead dalam Elaine B Johnson
Ph.D (2007: 37), “Si anak harus menjadikannya (ide-ide) milik mereka, dan harus
mengerti penerapannya dalam situasi kehidupan nyata mereka pada saat yang
sama”. Salah satu pendekatan diatas, yaitu pendekatan kontekstual meminta para
siswa melakukan hal itu. Karena pendekatan Contextual Teaching and Learning
(CTL) mengajak para siswa membuat hubungan-hubungan yang mengungkapkan
makna, CTL memiliki potensi untuk membuat para siswa berminat belajar, dan,
seperti yang dikatakan Whitehead, “Tidak ada perkembangan mental tanpa
adanya minat. Minat adalah dasar dari perhatian dan pemahaman”.
Sesuai pernyataan Depdiknas yang dikutip oleh Suwarna M.Pd (2006:
120) mengungkapkan bahwa “Pendekatan kontekstual tidak sulit diterapkan pada
kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun
keadaannya”. Maka pendekatan ini sangat cocok diterapkan untuk mengatasi
31

masalah pembelajaran terutama dalam membangun minat belajar dan pemahaman


siswa seperti yang terjadi pada pembelajaran akuntansi di kelas XI IS 1 SMA
Negeri 1 Surakarta.

4. Pendekatan Contextual Teaching and Learning

a. Makna Contextual Teaching and Learning


Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning
(CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning, siswa
harus menyadari makna dari belajar dan apa manfaatnya bagi dirinya dan
kehidupannya nanti. Dengan mengetahui ia akan mendapatkan sesuatu dari
apa yang dipelajarinya, diharapkan siswa akan berusaha sendiri untuk
mencapainya.
Peran seorang guru dalam pendekatan Contextual Teaching and
Learning adalah sebagai pendukung yang membantu siswa mencapai tujuan
yang mereka harapkan. Guru tidak menjadi pusat informasi siswa, tetapi
menjadi fasilitator bagi siswa untuk mendapatkan semua pengetahuan yang
mereka perlukan.
Elaine B Johnson, Ph.D (2007: 67) dalam bukunya “Contextual
Teaching and Learning” menyatakan bahwa,
Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong
para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari
dengan menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam
kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi,
sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini, sistem tersebut
meliputi delapan komponen berikut: membuat keterkaitan-keterkaitan
yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan
pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerjasama, berpikir kritis dan
kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai
standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian autentik.
32

Menurut Depdiknas (2008), dinyatakan bahwa penerapan pendekatan


kontekstual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme
(constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat-
belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan
penilaian yang sebenarnya (authentic assesment). Adapaun tujuh komponen
tersebut sebagai berikut:
1) Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang
menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat
pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana
siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang
dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.
2) Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Karena pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-
fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan
(inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi
(observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hipotesis),
pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).
3) Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari
bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis
kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : (a)menggali informasi,
(b) menggali pemahaman siswa, (c) membangkitkan respon kepada
siswa, (d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, (e)
mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (f) memfokuskan
perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, (g) membangkitkan
lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (h) untuk menyegarkan
kembali pengetahuan siswa.
4) Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran
diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah
dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke
yang belum tahu. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi
dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi
pembelajaran saling belajar.
5) Pemodelan (modeling)
Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan,
mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk
belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya
melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya
33

model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga


mendatangkan dari luar.

6) Refleksi (reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang
baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah
dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru
menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa
pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
7) Penilaian yang sebenarnya ( authentic assessment)
Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam
pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa
perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami
pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian
tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap
proses maupun hasil.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran


dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
konsep pembelajaran yang membantu guru untuk menciptakan proses
pembelajaran yang bermakna. Komponen-komponen pembelajaran yang
ditawarkan dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning sangat
membantu guru mengaktifkan siswa dalam belajar. Dengan keaktifan siswa
dalam setiap pembelajaran, siswa diharapkan mampu untuk memaknai apa
manfaat belajar bagi mereka, sehingga siswa menemukan minat mereka dalam
pembelajaran.

b. Keunggulan Pendekatan Contextual Teaching and Learning


Saat ini masih banyak pembelajaran yang mengandalkan guru sebagai
satu-satunya sumber informasi, sehingga metode ceramah menjadi pilihan
dalam melaksanakan penbelajaran. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi pasif
dan kurang kreatif. Paradigma lama ini pun mengubah siswa menjadi anak
yang berlaku seperti gelas kosong yang minta untuk diisi.
Kegiatan belajar yang kurang menyenangkan dan monoton membuat
siswa tidak menikmati belajar itu sendiri. Paradigma pembelajaran lama harus
34

segera ditinggalkan. Pendekatan tradisional yang selama ini menjadi andalan


bagi banyak guru dalam pembelajaran harus dialihkan ke pendekatan yang
modern yang menciptakan pembelajaran menyenangkan bagi siswa. Salah
satunya adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
pendekatan pembelajaran modern yang menempatkan siswa sebagai subjek
belajar yang aktif, menciptakan inovasi bagi guru menjadikan pembelajaran
sebuah kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Penerapan pendekatan
ini dalam pembelajaran diharapkan mampu mengatasi masalah yang sering
ditemui dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tradisional.
Zulfikri Kamin (2008) memaparkan keunggulan pendekatan CTL
dibandingkan dengan pendekatan tradisional sebagai berikut.
Tabel 1. Perbedaan Pandangan Kontekstual (CTL) dan Tradisional
PENDEKATAN CTL PENDEKATAN TRADISIONAL
1. Siswa secara aktif terlibat dalam 1. Siswa adalah penerima
proses pembelajaran informasi secara pasif.
2. Siswa belajar dari temen melalui 2. Siswa belajar secara
kerja kelompok, diskusi, saling individual.
mengoreksi.
3. Pembelajaran dikaitkan dengan 3. Pembelajaran sangat abstrak
kehidupan nyata dan atau masalah dan teoritis
yang disimulasikan
4. Keterampilan dikembangkan 4. Keterampilan dikembangkan
atas dasar pemahaman. atas dasar latihan.
5. Bahasa yang diajarkan dengan 5. Bahasa diajarkan dengan
pendekatan komunikatif, yakni siswa pendekatan struktural, rumus
diajak menggunakan bahasa dalam diterangkan sampai paham,
konteks nyata. kemudian dilatih (drill).
6. Siswa menggunakan 6. Siswa secara pasif menerima
kemampuan berfikir kritis, terlibat rumus tanpa memberikan
penuh dalam mengupayakan konstribusi ide dalam proses
terjadinya proses pembelajaran yang pembelajaran.
efektif 7. Pengetahuan adalah
7. Pengetahuan yang dimiliki penangkapan terhadap
manusia dikembangkan dengan cara serangkaian fakta, konsep, atau
memberi arti dan memahami hukum yang berada diluar diri
pengalamannya. manusia.
8. Siswa diminta bertanggung 8. Guru adalah penentu
jawab memonitor dan jalannya proses pembelajaran.
35

mengembangkan pembelajaran 9. Pembelajaran tidak


mereka masing-masing. memperhatikan pengalaman
9. Penghargaan terhadap pengalaman siswa.
siswa sangat diutamakan. 10. Hasil belajar diukur hanya
10. Hasil belajar diukur dengan berbagai dengan tes.
cara; proses kerja, hasil karya,
penampilan, rekaman, tes dll.
Dari tabel 1 dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan kontekstual
atau CTL memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
1) siswa aktif mencari sendiri informasi yang ia
perlukan dalam pembelajarannya, sehingga
menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas.

2) siswa tumbuh menjadi pribadi yang menyadari


pentingnya pembelajaran yang mereka lakukan.

3) pembelajaran tidak hanya memberikan ilmu tetapi


juga mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik.

4) penilaian terhadap pengalaman siswa diperhatikan.

c. Pentingnya Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning


dengan Menekankan Komponen learning community dan questioning dalam
Pembelajaran Akuntansi
Di era modern seperti sekarang ini, masalah dalam dunia pendidikan
terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran semakin kompleks.
Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, telah banyak dilakukan riset
pendidikan yang bertujuan menciptakan inovasi dalam pembelajaran untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri.
Pendekatan pendidikan dengan paradigma lama telah perlahan
ditinggalkan karena dianggap tidak andal lagi dalam menghasilkan sumber
daya manusia yang kompeten dengan era saat ini. Pendekatan tradisional yang
menganggap bahwa guru adalah pusat pengetahuan dan sumber ilmu, kini
telah diperbaharui dengan pendekatan pembelajaran baru yang menempatkan
36

siswa sebagai pusat dalam pembelajaran. Siswa yang tadinya pasif sebagai
pendengar saja, sekarang menjadi subjek belajar yang harus aktif mencari dan
menggali ilmu untuk mendapatkan pengetahuan, sedangkan guru hanya
memfasilitasi. Pendekatan baru ini diharapkan dapat menciptakan mental
siswa yang kuat dan terampil dalam memanfaatkan pengetahuan mereka di
masa yang akan datang.
Beberapa dekade belakangan ini dikembangkan suatu pendekatan yang
mempunyai komponen-komponen pembelajaran yang dapat meningkatkan
keaktifan siswa dalam pembelajaran. Pendekatan baru ini muncul pertama kali
di Amerika, yaitu pendekatan Contextual Teaching and Learning yang sering
disingkat menjadi CTL atau pendekatan kontekstual.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang membantu guru untuk mengaktifkan siswa
dalam membuat makna dari pembelajaran yang mereka laksanakan. Siswa
didorong untuk membuat pengaitan antara materi dan praktek, membuat
kelompok belajar, dan sebagainya.
Komponen-komponen dalam pendekatan Contextual Teaching and
Learning antara lain: (1) Konstruktivisme, (2) Menemukan (inquiry),(3)
bertanya (questioning), (4) Kelompok belajar (learning community), (5)
Permodelan (modeling), (6) Refleksi (reflection), dan (7) penilaian autentik
(authentic assessment). Ketujuh komponen ini sering disebut sebagai suatu
syarat belajar siswa aktif.
Dari ketujuh komponen diatas, komponen learning community adalah
ciri pendekatan Contextual Teaching and Learning. Learning community
berkaitan dengan komponen questioning atau bertanya, karena dalam suatu
diskusi kelompok terdapat interaksi dua arah antar anggota kelompok, yang
satu bertanya dan lainnya menjawab. Jadi kedua komponen ini mampu untuk
saling mendukung satu sama lain jika diterapkan dalam proses pembelajaran.
Baik learning community maupun questioning memiliki beberapa kelebihan
yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran,
terutama masalah keaktifan dan kurangnya pemahaman siswa.
37

Lianekke Gunawan (2006) dalam artikelnya mengatakan manfaat


menerapkan kelompok belajar (learning community) antara lain:
1) Belajar dengan membentuk kelompok belajar sendiri dapat
memotivasi semangat belajar antara teman satu dengan teman yang
lainnya.
2) Saling berbagi informasi dan pengetahuan antar teman. Teman
yang pandai dapat mengajari dan menularkan kepandaian kepada
teman lain.
3) Membangun komunikasi timbale balik dengan adanya diskusi.
4) Bekerjasama menyelesaikan tugas sekaligus bersosialisasi.

Dengan menerapkan kelompok belajar dalam proses belajar mengajar,


siswa diharapkan mampu membangun motivasi dan komunikasi antar siswa.
Komunikasi antar siswa akan menciptakan arus informasi timbal balik
sehingga mampu meningkatkan pemahaman siswa.
Pentingnya belajar secara kelompok membantu siswa menggali
informasi dari teman sebayanya. Dengan menerapkan komponen ini
memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan
yang relatif sama atau relatif sejajar. Siswa yang pandai akan membagi
pengetahuannya dengan yang kurang pandai, siswa yang kurang pandai pun
tidak akan minder atau merasa rendah diri ketika ia harus bertanya tentang hal
yang ia belum mengerti karena mereka dapat berdiskusi secara terbuka dalam
kelompok belajar.
Depdikbud (1985) mengungkapkan manfaat dari kemampuan bertanya
(questioning) dalam pembelajaran:
1) Mengembangkan kemampuan siswa dalam menemukan dan
menilai informasi yang didapat.
2) Meningkatkan kemampuan siswa dalam membentuk dan
mengungkapkan pertanyaan yang didasarkan atas informasi yang
lengkap dan relevan
3) Mendorong siswa untuk mengembangkan ide dan mengemukakan
ide-ide itu kepada anggota kelompoknya secara timbale balik.
38

4) Memberi kesempatan kepada semua anggota kelompok


mempunyai sukses melebihi yang bisa dicapai, missal menemukan ide-
ide baru atau lainnya yang lebih lengkap.

Usman (1995) mengungkapkan, dalam memberikan pertanyaan lisan


pada proses pembelajaran ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian,
yaitu:
1) Kehangatan dan keantusiasan. Untuk meningkatkan partisipasi
siswa dalam belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap baik
pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban
siswa. Sikap dan cara guru termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan
dan posisi badan menunjukkan ada tidaknya kehangatan dan
keantusiasan.
2) Kebiasaan yang perlu dihindari:

a) Tidak boleh mengulang-ulang pertanyaan bila siswa tidak


mampu menjawab,
b) Tidak boleh mengulang-ulang jawaban siswa,
c) Tidak boleh menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan
sebelum siswa memperoleh kesempatan menjawab,
d) Mengusahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan
secara serempak, dan
e) Mengusahakan agar pertanyaan yang diajukan tidak ganda.

Bertanya merupakan suatu ketrampilan yang sebaiknya ada dalam diri


setiap siswa. Kegiatan bertanya ini dapat dilakukan antara siswa dengan siswa
maupun atara guru dengan siswa. Dengan bertanya siswa dapat memperoleh
informasi baru, belajar melatih kepercayaan diri, dan membantu siswa
mengingat sesuatu yang telah ia pelajari.
Pentingnya penerapan komponen bertanya (questioning) dalam
pembelajaran adalah membantu siswa aktif dalam pembelajaran dan
membantu meningkatkan pemahaman siswa mengenai suatu materi. Kegiatan
bertanya dapat dilakukan oleh siswa kepada siswa lainnya, siswa kepada guru
maupun guru kepada siswanya.
39

Fungsi bertanya itu sendiri adalah untuk mengembangkan minat dan


keingintahuan, memusatkan perhatian pada pokok masalah, mendiagnosis
kesulitan belajar, menguatkan keaktifan siswa dalam belajar, meningkatkan
kemmapuan memahami informasi, kemampuan mengungkapkan pendapat,
dan mengukur hasil belajar. Jadi, komponen ini sangat penting untuk
menentukan keberhasilan dalam pemecahan masalah pembelajaran.

5. Hasil Belajar

Belajar dilakukan oleh setiap manusia dalam hidupnya. Belajar merupakan


proses yang dilaksanakan seumur hidup dari saat manusia lahir hingga ia mati.
Proses belajar banyak sekali melibatkan kegiatan yang kompleks. Makna belajar
itu sendiri sangat beragam tergantung sudut pandang masing-masing individu
yang memaknainya.

A.Suhaenah Suparno (2001) mengungkapkan dalam bukunya Membangun


Kompetensi Belajar, mengatakan:

Belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan perubahan yang


relatif permanen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya.
Perubahan-perubahan tersebut tidak disebabkan faktor kelelahan (fatigue),
kematangan, ataupun karena mengkonsumsi obat tertentu. Belajar juga
dihasilkan melalui kegiatan-kegiatan meniru hal-hal yang diamati di
lingkungan; misalnya seseorang yang belajar bagaimana cara makan
dengan menggunakan pisau dan garpu, maka cara yang paling efektif
untuk melakukannya adalah melalui peniruan perilaku orang-orang yang
sedang makan menggunakan sendok dan garpu. Meniru adalah pekerjaan
yang sangat efektif di dalam proses belajar.

Sedangkan menurut Dewi Salma Prawiradilaga (2008: 132), “belajar


merupakan proses berpikir, terjadi secara internal dalam diri seseorang untuk
memahami atau mendalami suatu kemampuan atau kompetensi atau keahlian
tertentu baik yang kasat mata maupun yang abstrak”.
40

Dari pendapat diatas, dapat dipahami bahwa belajar merupakan suatu


proses usaha yang dilakukan individu untuk mendapatkan suatu hasil belajar
berupa kemampuan yang akan terwujud dalam perubahan tingkah laku individu
tersebut secara permanen, dan kemampuan tersebut bisa diperoleh salah satunya
dengan meniru.

Hasil belajar merupakan tujuan yang ingin dicapai seseorang ketika ia


melakukan sebuah kegiatan pembelajaran. Dalam buku Penilaian Hasil Belajar
(1991: 2) disebutkan: “Perolehan perubahan diri yang ternyatakan sebagai
perubahan tindak tanduk itulah pada hakikatnya merupakan hasil belajar. Hasil
belajar itu mungkin saja berupa abilitas dalam ranah nalar (kognisi) dan atau
dalam ranah budi pekerti (afeksi) dan atau dalam ranah gerak-gerik
(psikomotor)”.

Dr. Nana Sudjana (2005: 3) mengungkapkan “Hasil belajar siswa pada


hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar
dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris.”

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2007), “prestasi adalah hasil dari suatu
kegiatan yang telah dikerjakan, atau diciptakan secara individu maupun secara
kelompok” Pendapat ini berarti prestasi tidak akan pernah dihasilkan apabila
seseorang tidak melakukan kegiatan. Hasil belajar atau prestasi belajar adalah
suatu hasil yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Oleh
karena itu prestasi belajar bukan ukuran, tetapi dapat diukur setelah melakukan
kegiatan belajar. Keberhasilan seseorang dalam mengikuti program pembelajaran
dapat dilihat dari prestasi belajar seseorang tersebut.

Jadi hasil belajar atau prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku
maupun abilitas yang kemudian menjadi milik individu yang belajar, baik dalam
bidang kognitif, afektif, maupun psikomotoris.

6. Hasil Belajar Akuntansi


41

Akuntansi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada siswa
SMA khususnya jurusan IPS. Fungsi mata pelajaran ini di SMA adalah
memberikan bekal pengetahuan dasar mengenai akuntansi keuangan.

Menurut Achmad Tjahjono dan Sulastiningsih (2003: 3), “secara umum


akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem informasi yang berfungsi
menyediakan informasi kuantitatif dari suatu unit organisasi atau kesatuan
ekonomi yang ditujukan kepada para pemakai sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan ekonomi.”

Sedangkan menurut Soemarso S.R. (2004: 7), “Akuntansi keuangan


adalah bidang akuntansi yang berhubungan dengan penyusunan laporan keuangan
secara berkala untuk suatu unit ekonomi secara keseluruhan kepada pihak-pihak
diluar perusahaan.”

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa akuntansi merupakan salah


satu bidang akuntansi yang berhubungan dengan penyediaan informasi kuantitatif
suatu kesatuan ekonomi yang ditujukan untuk pihak-pihak diluar perusahaan.
Bidang ini pun menjadi salah satu mata pelajaran dalam kurikulum Sekolah
Menengah Atas (SMA) khususnya jurusan IPS.

Setiap proses pendidikan dilakukan dengan tujuan mendapatkan suatu


hasil berupa kemampuan dari individu yang melakukan proses belajar, begitu pula
pendidikan mengenai akuntansi keuangan. Hasil belajar akuntansi keuangan pun
tidak terlepas dari pengertian hasil belajar secara umum, yaitu kemampuan yang
diperoleh berupa pengetahuan, pemahaman, serta keterampilan dalam mata
pelajaran akuntansi.

7. Rancangan Pembelajaran Akuntansi


42

dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning

Sebelum kegiatan belajar mengajar dilakukan, maka perlu disusun


rancangan pembelajaran akuntansi keuangan melalui pendekatan Contextual
Teaching and Learning sebagai berikut.

1) Guru menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan,


kemudian memberikan materi sambil melakukan refleksi dan pengaitan
dengan materi sebelumnya, sehingga siswa mampu mengingat kembali dan
membuat keterkaitan,

2) Siswa dikondisikan dalam suasana learning community dengan membagi


kelas menjadi kelompok-kelompok belajar kecil antara 2-4 anak untuk
berdiskusi mengenai materi yang hendak diberikan oleh guru,

3) Guru mendemonstrasikan tentang materi dan siswa diberi kesempatan


untuk mempelajari, memahami dan mengembangkan materi yang sudah
diterima siswa,

4) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan mendiskusikan materi yang


baru mereka pelajari dan memberikan pendapat tentang demonstrasi yang
dilakukan oleh guru kemudian membangun pemahaman mereka,

5) Setelah itu, siswa diberikan soal latihan yang pertama-tama dilaksanakan


secara kelompok dengan anggota kelompok belajar yang telah ditentukan di
awal pembelajaran,

6) Siswa diminta membuat laporan secara individu maupun kelompok


mengenai hasil kerjanya, kemudian menunjuk secara acak 2 kelompok untuk
mempresentasikannya.

B. Penelitian yang Relevan


Penelitian yang relevan merupakan hasil penelitian orang lain yang
relevan dijadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan
43

pengulangan, revisi, modifikasi, dan sebagainya. Penelitian yang relevan dan


selaras dengan judul penelitian yang diambil, yaitu “Penggunaan Pendekatan
Contextual Teaching and Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi
Siswa Kelas XI IS I SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009” adalah
sebagai berikut:
1. I Dewa Putu Nyeneng (2005) dalam penelitiannya yang berjudul
Model Pembelajaran Langsung (Direct Intructional) dengan Pendekatan
Kontekstual (Contectual Teaching And Laerning) untuk Meningkatkan
Aktivitas, Konsepsi dan Hasil Belajar Fisika Mahasiswa Pendidikan Fisika
FKIP Unila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian mahasiswa
dalam belajar Fisika Modern cukup baik, hal ini terbutkti dari respon positif
mahasiswa selama mengikuti kegiatan belajar. Aktivitas belajar mahasiswa
sangat baik. Setiap kegiatan belajar Fisika Modern hanya sebagian kecil
(kurang dari 10%) mahasiswa melakukan kegiatan menyimpang. Kosepsi-
konsepsi mahasiswa terhadap konsep fisika meningkat dari siklus ke siklus,
yaitu pada siklus 1 94%, siklus II meningkat menjadi 160% dan pada siklus III
meningkat menjadi 265%. Hasil belajar fisika Modern meningkat, dari siklus
ke siklus, rata-rata hasil belajar fisika mahasiswa pada siklus I adalah 74.73,
siklus II 79.13, dan siklus III 87. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal
meningkat dari siklus ke siklus.
2. Asep Sugiharto (2008) dalam penelitiannya yang berjudul
Pembuktian Hasil Belajar Siswa Dalam Penggunaan Pendekatan Kontekstual
pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Respon siswa terhadap pembelajaran
dengan pendekatan konstektual rata-rata 78,8 % setuju, 4,55 % tidak setuju,
16,65 % tidak tahu, sedangkan respon siswa terhadap soal-soal dalam
pembelajaran dengan pendekatan konstektual rata-rata 75 % setuju, 9,93 %
tidak setuju, dan 15,07 % tidak tahu.
Berdasarkan kajian teoretis dan hasil-hasil penelitian yang relevan di atas,
maka tahap berikutnya peneliti menyusun kerangka berpikir yang mengarahkan
perumusan hipotesis. Dengan adanya ulasan mengenai hasil penelitian yang
44

relevan tersebut, perumusan hipotesis dalam kerangka pemikiran penelitian ini


memiliki dasar yang kuat.

C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan alur penalaran yang sesuai dengan tema dan
masalah penelitian serta didasarkan pada kajian teoritis. Kerangka berpikir ini
digambarkan dengan skema secara holistik dan sistematik. Selaras dengan judul
penelitian yang diambil, yaitu “Penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IS
1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Diklat 2008/2009”.
Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yaitu peningkatan hasil belajar
yang optimal, diperlukan interaksi timbal balik yang positif antara guru dengan
siswa melalui metode pembelajaran yang tepat. Penggunaan metode pembelajaran
yang tepat adalah penggunaan metode yang sesuai dengan kebutuhan peserta
didik dan selaras dengan materi yang disampaikan. Jika tidak, maka akan
menyebabkan proses belajar mengajar menjadi tidak berdaya guna atau tidak
optimal sehingga menimbulkan permasalahan dalam pembelajaran.
Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran akuntansi
keuangan di SMA Negeri 1 Surakarta adalah guru belum menggunakan metode
pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap
mata pelajaran akuntansi keuangan. Perhatian dan antusiasme siswa dalam
mengikuti pembelajaran sangat kurang. Banyak siswa yang menghindari
mengerjakan tugas dan tidak fokus mengikuti pembelajaran sehingga pemahaman
mereka rendah dan hasil belajar mereka kurang optimal. Oleh karena itu, untuk
mengatasi permasalahan tersebut peneliti menawarkan pendekatan Contextual
Teaching and Learning terutama komponen learning community dan questioning
sehingga akan terbentuk suasana belajar yang lebih hidup dengan diskusi dan
tanya jawab sekaligus dapat memberikan semangat baru bagi siswa dalam
pembelajaran akuntansi keuangan. Dengan menerapkan pendekatan Contextual
Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning community dan
45

questioning diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat karena minat dan
pemahaman mereka terhadap pembelajaran akuntansi keuangan pun meningkat.
Dari alur penalaran diatas, maka dapat digambarkan kerangka berpikir
sebagai berikut:
Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran :
Guru belum menggunakan metode pembelajaran yang tepat untuk
meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran akuntansi.

Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran sehingga perhatian siswa


terhadap pembelajaran pun rendah

Hasil Belajar akuntansi kurang optimal

Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning

Komponen Learning Community Komponen Questioning

Siswa aktif berdiskusi dalam Siswa membangun pemahaman


kelompok belajar. dengan aktif bertanya kepada
guru dan teman.

Siswa lebih antusias dan aktif


dalam pembelajaran sehingga
pemahaman yang dimiliki siswa
meningkat

Hasil belajar akuntansi meningkat


(siswa lebih bersemangat dan prestasi belajar meningkat)
46

D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan keterangan diatas, dapat dirumuskan hipotesis bahwa
”Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan
hasil pembelajaran akuntansi pada siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta.”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Surakarta, yang


beralamat di Jl. Monginsidi No.40 Surakarta. Sekolah ini dipimpin oleh Bapak
Drs. H.M Thoyibun, S.H, M.M yang bertindak sebagai kepala sekolah. Sekolah
ini memiliki 34 kelas yang terdiri atas :

a. Kelas X sebanyak 13 kelas, terdiri dari 3 kelas RSBI (Rintisan Sekolah


Berstandar Interbasional), 2 kelas Akselerasi, dan 8 kelas Reguler.

b. Kelas XI sebanyak 11 kelas, terdiri dari 2 kelas RSBI, 8 kelas Jurusan IPA
(IA), dan 3 kelas Jurusan IPS (IS).

c. Kelas XII sebanyak 10 kelas, terdiri dari 7 kelas Jurusan IPA (IA), dan 3
kelas Jurusan IPS (IS).

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IS 1 dengan jumlah siswa 41


siswa. Alasan pemilihan sekolah ini sebagai tempat penelitian adalah:
a. Menurut pendapat beberapa siswa (khususnya kelas XI IPS 1) bahwa
dalam pembelajaran akuntansi yang dilakukan saat ini kurang menarik
sehingga banyak siswa kurang memahami materi dan hasil yang diperoleh
menjadi kurang maksimal;
b. Antara peneliti dengan pihak sekolah sudah ada hubungan yang baik;
c. Sekolah tersebut belum pernah dipergunakan sebagai objek penelitian
sejenis, sehingga terhindar dari kemungkinan penelitian ulang;
47

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan guru mata


pelajaran akuntansi yaitu Bapak Drs.Wiyono, yang membantu dalam pelaksanaan
observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung, sehingga secara tidak
langsung kegiatan penelitian bisa terkontrol sekaligus menjaga kevalidan hasil
penelitian.

2. Waktu Penelitian

28 penelitian dari bulan Agustus 2008


Penulis merencanakan pelaksanaan
sampai Maret 2009. Waktu ini meliputi kegiatan persiapan sampai penyusunan
laporan penelitian, dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Dalam Penelitian

Ag Ok
Waktu t t November Januari Februari Maret
Jenis Kegiatan
1.Persiapan Penelitian
a. Penyusunan Judul
b. Penyusunan Proposal
c. Perijinan
2. Perencanaan Tindakan
3. Implementasi
Tindakan
a. Siklus I
b. Siklus II
4. Review
5. Penyusunan Laporan

B. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas.
Menurut Rustam dan Mudilarto (2004),
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan
oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan
48

merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan


untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa
dapat meningkat.

Kegiatan penelitian ini diawali dari permasalahan yang dialami guru di


dalam kelas. Permasalahan ini muncul dalam proses pembelajaran yang sedang
berlangsung dan menimbulkan dampak negatif terhadap siswa maupun
pembelajaran itu sendiri. Adanya permasalahan dalam kelas ini oleh guru
direfleksikan dalam suatu tindakan perbaikan yang terencana dan terukur dengan
pengamatan maupun ukuran kuantitatif melalui peningkatan hasil belajar yang
dicapai siswa.
Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang terpola dan
dirancang khusus untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di dalam proses
pembelajaran. Penelitian ini harus dilaksanakan secara terencana dan menurut
pada prosedur yang telah ada. Pelaksanaan penelitian tindakan ini melalui
beberapa siklus, tiap pelaksanaan penelitian minimal dilakukan 2 siklus. Bila hasil
yang diharapkan sampai siklus 2 belum maksimal, maka akan dilanjutkan pada
siklus 3 dan seterusnya.
Untuk lebih memahami apa yang disebut Penelitian Tindakan Kelas
(PTK), perlu diketahui pengertian dan karakteristik PTK itu sendiri. Menurut
Suharsimi Arikunto (2007) ada tiga kata yang membentuk pengertian Penelitian
Tindakan Kelas, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan:
1. Penelitian –menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek
dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk
memperoleh data atau informasi yang brmanfaat dalam meningkatkan
mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan –menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja
dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk
rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
3. Kelas –dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas,
tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti sudah lama dikenal
dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan
istilah kelas adalah sekelompok siswa dalam waktu yang sama,
menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti, yaitu (1)
penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas, segera dapat disimpulkan bahwa
penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan
49

belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi


dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru
atau dengan arahan dari guru dilakukan oleh siswa.

Menurut Rustam dan Mundilarto (2004) PTK memiliki karakteristik


sebagai berikut.
1. Masalah berawal dari guru
2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran
3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-
kaidah penelitian
4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran
5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

Penelitian tindakan kelas dilihat dari karakteristiknya merupakan


penelitian yang berawal dari ketidaksesuaian harapan guru terhadap pembelajaran
dengan kenyataan yang ada. Ketidaksesuaian itu menimbulkan masalah
pembelajaran dan menuntut perbaikan guna mencapai tujuan pembelajaran.
Penelitian dilakukan oleh guru dengan prosedur yang ada dan dilaksanakan dalam
proses pembelajaran sehingga dapat langsung diamati hasilnya.
Menurut Hopkins (1993) yang dikutip oleh Baskoro Adi Prayitno (2008),
menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan
kelas.
1. Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah
menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu,
guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan
peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus.
2. Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari
pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode
pengumpulan data.
3. Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian
integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap
bersandar pada alur dan kaidah ilmiah.
4. Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-
masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab
profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran.
5. Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat
diperlukan.
6. Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan
tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas,
50

tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya:


tataran sistem atau lembaga.

Berdasar enam prinsip diatas dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan


kelas merupakan salah satu wujud komitmen seorang guru dalam menjalankan
keprofesionalannya mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Selain mengajar
guru juga dituntut memiliki suatu ketrampilan melaksanakan penelitian dengan
prosedur yang tepat dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan dalam
meningkatkan hasil pembelajaran.
Menurut DR. Sulipan, M.Pd, ada beberapa ahli yang mengemukakan
model penelitian tindakan kelas, secara garis besar terdapat empat tahapan yang
lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan
(4) refleksi. Namun perlu diketahui bahwa tahapan pelaksanaan dan pengamatan
sesungguhnya dilakukan secara bersamaan. Adapun model dan penjelasan untuk
masing-masing tahap adalah sebagai berikut.
Pelaksanaan

Perencanaan Pengamatan

Pelaksanaan
SIKLUS I
Refleksi
Perencanaan Pengamatan

Refleksi

SIKLUS
II
Gambar 2. Alur PTK
Keterangan:
Tahap 1: Perencanaan tindakan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh
siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal
sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang
SIKLUS melakukan tindakan
SELANJUTNYA
51

dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (apabaila dilaksanakan


secara kolaboratif). Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk
mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang
dilakukan. Bila dilaksanakan sendiri oleh guru sebagai peneliti maka instrumen
pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan lapangan. Yang perlu diingat
bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti
dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di
luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung
mengunggulkan dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan
dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP).
Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau
penerapan isi rencana tindakan di kelas yang diteliti. Hal yang perlu diingat
adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati
apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan, tetapi harus pula berlaku
wajar, tidak kaku dan tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara
pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan.
Tahap 3: Pengamatan Tindakan
Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh
orang lain maupun guru sendiri). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa
kegiatan pengamatan ini tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan karena
pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya
berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 dan 3 dimaksudkan untuk
memberikan peluang kepada guru pelaksana yang berstatus juga sebagai
pengamat, yang mana ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan tentu tidak
sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu kepada
guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat ini untuk melakukan
"pengamatan balik" terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung.
Sambil melakukan pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi
sedikit apa yang terjadi.
52

Tahap 4: Refleksi terhadap tindakan


Tahap ke-4 ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang
sudah dilakukan. Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini
sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan
tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan
implementasi rancangan tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika
guru pelaku tindakan mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-hal yang
dirasakan sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum. Apabila guru
pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri
sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan
"dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena
sudah sesuai dengan rancangan dan mengenali hal-hal yang masih perlu
diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation” yang
diharapkan dilakukan secara obyektif. Untuk menjaga obyektifitas tersebut
seringkali hasil refleksi ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh orang lain,
misalnya guru/teman sejawat yang diminta mengamati, ketua jurusan, kepala
sekolah atau nara sumber yang menguasai bidang tersebut. Jadi pada intinya
kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan, penjelasan,
penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya.
Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk
membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap
penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi.
Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam
uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut.
Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi
selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk
siklus. Hasil refleksi dan evaluasi di tiap siklus menjadi penentu apakah penelitian
perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya atau tidak.
53

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam kegiatan penelitian, cara memperoleh data diketahui dengan nama


teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah:

1. Wawancara

Wawancara dilakukan oleh peneliti terhadap guru dan siswa mengenai proses
pembelajaran yang selama ini dilakukan dan bagaimanakah respon atau hasil
yang timbul dari proses pembelajaran tersebut. Jenis wawancara yang
digunakan adalah wawancara bebas terpimpin dimana penginterviu
memberikan pertanyaan sesuai dengan rancangan yang telah dibuat, namun
cara menyampaikan pertanyaan tersebut tergantung pada kebijaksanaan
interviewer. Data yang dihasilkan dari kegiatan wawancara ini berupa catatan
lapangan yang medeskripsikan atau menggambarkan proses pembelajaran
yang selama ini dilakukan.

2. Observasi

Observasi dilaksanakan oleh peneliti dengan mengamati proses pembelajaran


dikelas saat guru tengah memberikan materi pelajaran. Observasi hanya
dilakukan sebatas mengamati, mengidentifikasi, dan mencatat apa kekurangan
dan kelebihan dalam proses pembelajaran. Data yang dihasilkan dari kegiatan
observasi berupa catatan lapangan yang mendeskripsikan proses pembelajaran
saat observasi awal, siklus I dan siklus II dilakukan. Catatan lapangan ini juga
memuat refleksi yang dilakukan penulis terhadap pembelajaran.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan upaya untuk memberikan gambaran bagaimana


sebuah penelitian tindakan kelas dilakukan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan
mengambil gambar kegiatan para siswa dan guru dalam pelaksanaan
54

pembelajaran saat penelitian dilaksanakan. Data yang dihasilkan dari kegiatan


ini berupa gambar atau foto kegiatan pembelajaran.

4. Tes

Tes merupakan alat yang digunakan peneliti untuk mengetahui hasil dari
penelitian yang telah dilakukan. Tes dilakukan dengan dua cara, yaitu tes
tertulis dan praktek atau lisan dengan mempresentasikan pekerjaan mereka di
depan kelas. Data yang didapatkan dari kegiatan ini adalah tabel pengamatan
berupa hasil belajar atau nilai ujian siswa dan skor penilaian keaktifan yang
digunakan sebagai indikator ketercapaian hasil penelitian.

D. Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian merupakan tahapan-tahapan yang ditempuh dalam


penelitian dari awal sampai akhir secara urut. Prosedur penelitian ini terdiri dari
beberapa tahap kegiatan yaitu:

1. Tahap Pengenalan Masalah

Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada tahap ini adalah :

a. Mengidentifikasi masalah

b. Menganalisis masalah secara mendalam dengan mengacu pada


teori-teori yang relevan

c. Menyusun bentuk tindakan yang sesuai dengan siklus pertama

d. Menyusun alat monitoring dan evaluasi

2. Tahap Persiapan Tindakan

Pada tahap ini peneliti melakukan persiapan yang meliputi :

a. Penyusunan jadwal penelitian


55

b. Penyusunan rencana pembelajaran

c. Penyusunan soal evaluasi

3. Tahap Penyusunan Rencana Tindakan

Rencana tindakan disusun dalam dua siklus, yaitu : siklus I dan siklus II.
Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan tindakan,
pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta tahap analisis dan
refleksi.

4. Tahap Implementasi Tindakan

Dalam tahap ini peneliti melaksanakan hipotesis tindakan, yakni untuk


menumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran akuntansi sehingga
meningkatkan pemahaman yang akhirnya meningkatkan pula hasil belajar
akuntansi siswa. Hipotesis tindakan ini dimaksudkan untuk menguji
kebenarannya melalui tindakan yang telah direncanakan.

5. Tahap Pengamatan

Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa yang sedang
melakukan kegiatan belajar-mengajar dibawah bimbingan guru.

6. Tahap Penyusunan Laporan

Pada tahap ini peneliti menyusun laporan dari semua kegiatan yang telah
dilakukan selama penelitian.

E. Proses Penelitian

Indikator yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya


hasil belajar akuntansi siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta melalui
pengoptimalan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
56

menekankan komponen learning community dan questioning. Setiap tindakan


upaya peningkatan indikator tersebut dirancang dalam satu unit sebagai satu
siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) Perencanaan Tindakan, (2)
Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi dan Interpretasi, dan (4) Analisis dan
Refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya. Penelitian ini direncanakan dalam
dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan.

1. Rancangan Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti dan guru kelas menyusun:

1) Skenario pembelajaran sebagai berikut :


a) Guru menjelaskan materi pelajaran sebelumnya mengenai jurnal
umum, kemudian mengaitkan dengan materi yang akan dipelajari
selanjutnya, yaitu buku besar.
b) Guru membuka kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai
materi buku besar.
c) Guru membentuk siswa dalam kelompok kecil, kemudian
memberikan soal untuk mereka pecahkan bersama dalam
kelompok.
d) Soal tersebut nantinya akan dibacakan oleh guru dan diberi waktu
untuk mendiskusikan. Hal ini dilakukan untuk melatih berfikir
kritis.
e) Guru menunjuk 2 kelompok secara acak untuk mempresentasikan
hasil diskusi mengenai soal latihan yang sudah dikerjakan.
f) Guru memberikan waktu untuk siswa melakukan tanya jawab antar
kelompok dan berdiskusi atas presentasi yang telah dilakukan
2) Instrumen untuk evaluasi yang berupa soal tes tertulis.
3) Menetapkan indikator ketercapaian.
Indikator ketercapaian ini dinilai dari beberapa komponen, seperti
yang disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 3. Indikator Ketercapaian Belajar Siswa
57

Persentase
Aspek yang diukur Cara mengukur
Target Capaian
Keaktifan siswa 70% Diamati saat guru memberikan
selama apersepsi apersepsi kepada siswa pada
awal pembelajaran.
Keaktifan siswa 70% Diamati saat pembelajaran
dalam kelompok dengan menggunakan lembar
saat mengikuti observasi dan dihitung dari
pembelajaran jumlah siswa yang menunjukkan
perhatian dan kesungguhan
dalam kelompok selama KBM
Ketelitian dan 80% Diamati saat pembelajaran,
ketepatan siswa dihitung dari jumlah siswa yang
dalam diteliti dan benar (tepat) dalam
menyelesaikan soal menyelesaikan soal
Ketuntasan hasil 80% Dihitung dari jumlah siswa yang
belajar (standar mendapatkan nilai 70 ke atas.
nilai 70)
b. Tahap pelaksanaan,
dilakukan dengan melaksanakan skenario pembelajaran yang telah
direncanakan yang dilakukan bersamaan dengan observasi terhadap
dampak tindakan.
c. Tahap observasi dan
interpretasi, dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasikan
aktivitas penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning pada proses
pembelajaran akuntansi tentang kekurangan dan kemajuan aplikasi
tindakan pertama untuk mendapatkan data.
d. Tahap analisis dan
refleksi, dilakukan dengan menganalisis hasil observasi dan interpretasi
sehingga diperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu diperbaiki /
disempurnakan dan bagian mana yang telah memenuhi target.
58

2. Rancangan Siklus II
Pada siklus II perencanaan tindakan dikaitkan dengan hasil yang telah
dicapai pada tindakan siklus I sebagai upaya perbaikan dari siklus tersebut
dengan materi pembelajaran sesuai dengan silabus mata pelajaran akuntansi,
termasuk perwujudan tahap pelaksanaan, observasi dan interpretasi, serta
analisis dan refleksi yang juga mengacu pada siklus sebelumnya.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
59

A. Deskripsi Lokasi Penelitian


1. Riwayat Singkat
Sejarah SMA Negeri 1 Surakarta dibagi menjadi 4 (empat) periode,
sebagai berikut.
a. Periode cikal bakal (Agustus 1943 - Juli 1945)
Pada bulan Agustus 1943 Bapak Mr. Widodo (saat itu kepala bagian
pendidikan kesunanan) dan Bapak Soetopo Adi Saputro (waktu itu kepala
pendidikan karisidenan Surakarta), mengusulkan membuka sekolah yang
sederajat dengan A.M.S. (tingkat SMA) dan disetujui.
Tanggal 3 November 1943 dikeluarkan SK X/II/1943 sebagai peresmian
berdirinya Sekolah Lanjutan Atas di Surakarta dengan nama “Koto Chu
Gakko” di Manahan ( sekarang SMP Negeri 1 Surakarta).
Bulan Juli 1945 mendapat guru tetap sebanyak 5 orang dan 12 orang guru
lain yang disebut sebagai cikal bakal.
b. Periode “Pengungsi” (Agustus 1945 – April 1948)
Pada periode ini, yaitu bulan Agustus 1945 sekolah sempat ditutup karena
para siswa ikut berjuang melawan penjajah. Bulan April 1946 baru dibuka
kembali, dan bulan Juni 1946 dilaksanakan ujian penghabisan pertama kali.
Pada bulan April 1947 nama SMT diganti SMA. Periode ini disebut
periode pengungsi karena saat itu ada beberapa siswa Jakarta yang mengungsi
di SMA Negeri 1 Surakarta. Bulan Juli 1947 gedung sekolah dipakai sebagai
asrama KBRI, bulan April 1948 dengan diserahkannya kembali gedung
sekolah di Manahan, maka para siswa mulai mendapat pelajaran seperti biasa.
c. Periode Mahasiswa (Desember 1949)
Didirikan SMA Negeri A/B yang secara resmi dibuka pada tanggal 15
Desember 1949, bertempat di jalan Monginsidi 56 Solo (Sekarang SMA N
I/II) yang lebih dikenal “SMA Margoyudan“.

d. Periode Kemapanan (1949 – sekarang)


Di bawah pimpinan Drs. H. Djambari
40 Soetjipto (mulai tahun 1981)
bersama Bp. Widagdo kepala SMA N II Surakarta, dirintis sertifikasi tanah
60

gudah menjadi dengan luas tanah 7105 m2. Batas tanah dengan bangunan
SMA N 2 (sebelah barat) dan dengan Universitas Kristen Surakarta (di
sebelah Timur) menjadi jelas yang sebelumnya menjadi satu sertifikat milik
Yayasan Kristen Surakarta. Pada periode ini SMA N 1 Surakarta telah meraih
banyak prestasi baik di bidang akademis maupun non akademis.

2. Keadaan Lingkungan Belajar


Letak SMA Negeri 1 Surakarta di Jl. Monginsidi No.40 Surakarta cukup
strategis karena mudah dijangkau oleh sarana transportasi. Namun, karena dekat
dengan jalan besar, justru menyebabkan SMA Negeri 1 Surakarta menjadi sedikit
ramai dan bising. Meski begitu, ruang kelas telah diatur agak ke dalam agar
proses belajar mengajar tidak sampai terganggu bisingnya jalan raya.

3. Visi dan Misi


a. Visi Sekolah
Mewujudkan insan yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
disiplin, cerdas, berbudi luhur dan berwawasan luas.
b. Misi Sekolah
1) Memelihara dan meningkatkan
pengamalan terhadap ajaran
agama yang dianut dengan
mengembangkan sikap toleransi.

2) Menanamkan kesadaran
berdisiplin tinggi kepada seluruh
warga sekolah.

3) Melaksanakan pendidikan,
pembelajaran dan pelayanan
yang optimal sehingga
menghasilkan insan yang
berprestasi dalam semua bidang.
61

4) Membudayakan perilaku santun,


jujur dan menjunjung tinggi nilai-
nilai luhur budaya bangsa.

5) Meningkatkan fasilitas sekolah


sebagai sumber belajar.

6) Mendayagunakan dan
mengembangkan kegiatan yang
menambah wawasan.

7) Menjalin kerjasama dengan


berbagai institusi baik lokal
maupun internasional.

8) Meningkatkan kesadaran dan


kepedulian warga sekolah
terhadap kelestarian lingkungan
sekolah SMA Negeri 1 Surakarta.

4. Pelaksanaan Kurikulum
Kurikulum yang diterapkan SMA Negeri 1 Surakarta tahun ajaran
2008/2009 adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP). Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan sebuah kurikulum yang benar-
benar dibuat oleh sekolah yang meilibatkan unsur kepala sekolah, wakil kepala
sekolah, guru, konselor, komite sekolah dan nara sumber, sehingga dengan
sinerginya unsur-unsur tersebut akan menemukan kemudahan dalam proses
pembuatan kurikulum.

B. Identifikasi Masalah Pembelajaran Akuntansi


di Kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta
62

Sebelum melaksanakan penelitian, terlebih dahulu peneliti mengadakan


identifikasi masalah atau observasi awal untuk mengetahui bagaimana keadaan
sebenarnya pada saat pembelajaran akuntansi berlangsung. Observasi awal ini
dilakukan peneliti pada waktu melaksanakan PPL mulai dari tanggal 12 Agustus
2008 sampai awal November 2008. Hasil dari identifikasi masalah tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Ditinjau dari segi siswa
a. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran akuntansi.
Pembelajaran akuntansi di kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta
dapat dikatakan kurang hidup karena siswa kurang antusias dalam
mengikuti proses pembelajaran. Beberapa siswa mengeluhkan sulitnya
mempelajari akuntansi. Siswa mengatakan sering tertinggal materi dan
kurang mendapat penjelasan dari guru. Alasan yang selalu diungkapkan
siswa adalah terlalu banyak latihan soal dan kurangnya materi. Padahal,
latihan soal sebenarnya sangat diperlukan siswa agar dapat mempelajari
akuntansi dengan baik. Namun, karena para siswa jenuh dengan kegiatan
yang monoton, siswa menjadi kurang bersemangat dalam belajar. Tentu
hal ini sangat berpengaruh pada hasil belajar yang diperoleh.
b. Siswa kurang percaya diri dengan kemampuan diri sendiri
sehingga tidak mengerjakan soal-soal latihan berdasar kemampuannya.
Kebiasaan siswa yang satu ini sangatlah buruk. Soal-soal latihan
yang diberikan guru setiap minggunya hanya dikerjakan oleh 40% siswa.
Siswa-siswa lain baru akan mengerjakan bila guru telah memberi
peringatan dan kebanyakan dari siswa ini tidak mengerjakan tugas mereka
sendiri. Para siswa hanya mengandalkan teman yang telah mengerjakan.
Hal ini akan membentuk kebiasaan yang kurang baik bagi siswa dan tentu
saja akan sangat menghambat ketika siswa dituntut untuk mengerjakan
ujian seorang diri. Pada kenyataannya, ini sangat berpengaruh pada hasil
belajar yang diperoleh.
c. Siswa kurang aktif baik dalam proses pembelajaran maupun dalam
mengerjakan tugas rumah.
63

Masalah ini hampir sama dengan poin sebelumnya. Namun,


penekanannya adalah disini siswa sangat malas mengerjakan tugas yang
diberikan. Para siswa perlu peringatan lebih dari satu kali untuk
mengerjakan tugas rumah mereka. Strategi pemberian nilai tugas yang
setiap minggunya diumumkan pun tidak dapat membangkitkan semangat
dan keaktifan siswa. Di dalam proses pembelajaran pun, dari pengamatan
peneliti setiap kali pelajaran, rata-rata siswa yang aktif bertanya dan
memperhatikan hanya sekitar 30% saja. 36% dari siswa menunjukkan
perhatian namun kadang juga mencatat atau membaca buku pelajaran lain.
34% siswa lain benar-benar tidak fokus pada pembelajaran. Hal ini
menjadikan suasana belajar yang kurang optimal.
2. Ditinjau dari segi guru
Guru belum menggunakan metode pembelajaran yang mampu
membangkitkan semangat siswa dan meningkatkan pemahaman mereka pada
mata pelajaran akuntansi.
Pembelajaran akuntansi di SMA N 1 Surakarta dikatakan kurang
hidup, penggunaan metode pembelajaran yang monoton dan kurang menarik
menjadikan siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Meskipun
guru telah memberi dorongan dan pendekatan secara pribadi kepada siswa,
namun keaktifan dan antusias siswa terhadap pembelajaran akuntansi masih
belum dapat ditingkatkan.

C. Deskripsi Hasil Penelitian


Proses penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing
siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan
tindakan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi tindakan.
1. Siklus I
Penerapan pembelajaran akuntansi pada siklus I melalui pendekatan
Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning
community dan questioning adalah :
a. Perencanaan Tindakan Siklus I
64

Kegiatan perencanaan Tindakan I dilaksanakan pada hari Rabu 29


Oktober 2008 di ruang tamu SMA Negeri 1 Surakarta. Guru bersama
peneliti mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilakukan dalam
penelitian ini. Peneliti mengungkapkan permasalahan siswa dalam
membangun semangat belajar serta memahami materi akuntansi
Kemudian disepakati bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus I akan
dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, yakni pada hari Selasa 4
November, Rabu tanggal 5 November, Selasa tanggal 11 November 2008
dan Rabu 12 November 2008.
Tahap perencanaan tindakan I meliputi kegiatan sebagai berikut :
1) Peneliti bersama guru mendiskusikan skenario pembelajaran akuntansi
menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning, dengan
skenario pembelajaran sebagai berikut:

a) Pertemuan pertama
(1) Salam pembuka, guru mengabsen siswa.
(2) Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
(3) Mengulangi sedikit materi yang terdahulu yang masih ada
kaitannya dengan materi yang akan diajarkan dengan cara
memberikan pertanyaan kepada siswa (tanya jawab) agar guru
tahu seberapa jauh pemahaman siswa.
(4) Guru mendemonstrasikan cara memposting dari jurnal ke
kolom buku besar.
(5) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memahami materi yang telah disampaikan dan membuka
kesempatan untuk tanya jawab atau komponen questioning.
(6) Membentuk kelompok belajar (learning community) untuk
mengerjakan soal latihan bersama pada pertemuan selanjutnya.
Masing-masing kelompok beranggotakan 4 siswa. Siswa diberi
65

kebebasan memilih teman satu kelompoknya agar mereka lebih


nyaman dan bersemangat.
(7) Guru memberitahukan bahwa soal latihan tersebut
diharapkan dapat dipresentasikan siswa pada pertemuan
berikutnya sesuai dengan tugas masing-masing.
(8) Guru membuat kesimpulan dari materi yang sudah
diajarkan sebelum menutup pelajaran, dan menutup dengan
salam penutup.
b) Pertemuan kedua
(1) Salam pembuka, guru mengabsen siswa.
(2) Guru menyampaikan mengenai rencana kegiatan yang telah
dijelaskan pada pertemuan sebelumnya.
(3) Guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan kelompok
yang telah dibentuk dan dikondisikan untuk duduk saling
berhadapan dalam satu meja.
(4) Guru memonitor apakah semua siswa telah duduk dengan
kelompoknya masing-masing sambil memperingatkan bahwa
soal akan segera dibacakan.
(5) Siswa diharapkan untuk mendengarkan dengan seksama
karena tiap soal hanya akan dibaca sekali dengan toleransi
pengulangan satu kali. Setiap soal diberi waktu mengerjakan
jurnalnya dalam kolom yang telah disediakan selama 1 menit,
dan dibacakan sampai 10 soal. Setelah itu, siswa diminta
memposting ke buku besar, yang juga telah disediakan kolom
beserta nama akunnya, dan diberi waktu 15 menit.
(6) Guru memberi batas waktu pengerjaan dan meminta siswa
mengumpulkan tugas kelompoknya.
(7) Sebelum kegiatan pembelajaran diakhiri, guru
mengingatkan siswa untuk mempersiapkan kegiatan presentasi
pada pertemuan selanjutnya.
c) Pertemuan Ketiga
66

(1) Salam pembuka, guru mengabsen siswa.


(2) Guru mengkondisikan siswa untuk duduk sesuai dengan
kelompoknya seperti pada pertemuan sebelumnya.
(3) Siswa diminta mempersiapkan presentasi sementara guru
mengundi kelompok yang akan mendapat giliran presentasi.
Sebelumnya guru telah membagikan lembar kerja kelompok
yang telah dikumpulkan pada pertemuan sebelumnya secara
acak untuk dikoreksi oleh kelompok yang lain.
(4) Kelompok yang mendapat giliran pertama presentasi
diminta mengerjakan soal no.1 samapi no.5 baik jurnal maupun
buku besarnya. Kelompok yang mendapat giliran kedua
mempresentasikan soal no.6 sampai no.10.
(5) Selama presentasi berlangsung, siswa kelompok lain diberi
kesempatan untuk bertanya pada kelompok yang sedang
mempresentasikan di depan kelas dan berdiskusi.
(6) Guru mengawasi dengan baik agar suasana pembelajaran
tetap tertib dan tenang.
(7) Setelah dua kelompok mendapat giliran presentasi dan
lembar kerja juga telah selesai dikoreksi, mengumpulkan hasil
kerja mereka untuk penilaian.
(8) Guru membuat kesimpulan dari soal yang sudah berikan
sebelum jam pelajaran berakhir dan memberikan penjelasan
atas jawaban soal latihan agar siswa mengetahui letak
kesalahannya.
d) Pertemuan Keempat
(2) Salam pembuka, guru mengabsen siswa.
(3) Guru menyampaikan indikator tentang kegiatan yang akan
dilakukan.
(4) Siswa mempersiapkan diri untuk mengerjakan evaluasi
akhir atas materi yang telah dibahas.
67

(5) Guru membagikan soal untuk evaluasi akhir berupa soal


uraian dan meminta agar siswa dalam mengerjakan tidak
saling bekerja sama.
(6) Guru mengawasi dengan baik agar hasil dari evaluasi dapat
mencerminkan kemampuan mereka dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal dengan
tertib dan tenang.
(7) Guru meminta lembar jawab soal.
(8) Guru membuat kesimpulan dari soal yang sudah berikan
sebelum jam pelajaran berakhir agar siswa mengetahui letak
kesalahannya.
2) Guru dan peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Program (RPP)
untuk materi buku besar dengan pendekatan Contextual Teaching and
Learning yang menekankan pada komponen learning community dan
questioning.
3) Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian, yang berupa test dan
non-test. Instrumen test dari hasil pekerjaan siswa (evaluasi akhir
siklus). Sedangkan instrumen non-test dinilai berdasarkan pedoman
observasi yang dilakukan oleh penulis dengan mengamati keaktifan
dan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
b. Pelaksanaan Tindakan I
Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan,
seperti yang telah direncanakan, yaitu tanggal 4, 5, 11 dan 12 November
2008 di ruang kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Pertemuan
dilaksanakan selama 4 x 45 menit sesuai dengan skenario pembelajaran
dan RPP.
Materi pada pelaksanaan tindakan I ini adalah buku besar 2 kolom
dan 3 kolom. Pada pertemuan pertama, guru mendemonstrasikan materi
secara jelas dan membentuk kelompok belajar, kemudian pada pertemuan
kedua, siswa diminta untuk kerja kelompok mengerjakan soal latihan yang
telah dirancang secara khusus dengan pendekatan Contextual Teaching
68

and Learning. Pertemuan ketiga diisi dengan presentasi hasil kerja


kelompok pada pertemuan kedua dan pertemuan keempat diisi dengan
evaluasi belajar siswa dari siklus I.
Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Pertemuan Pertama (Selasa, 4 November 2008)
Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam,
kemudian mengabsen siswa, siswa yang tidak masuk adalah Dio Adhi
Atmaja. Seusai mengabsen, guru memotivasi siswa sebelum memulai
pelajaran dengan memberi pertanyaan tentang jurnal yang
berhubungan dengan harta, utang, modal, pendapatan dan beban. Guru
menunjuk beberapa siswa yang ramai sendiri untuk menjawab
transaksi mengenai investasi awal, pembelian peralatan, dan
penerimaan pendapatan. Beberapa siswa seperti Aldy, Avianty, Muh.
Nur, dan Drian menjawab pertanyaannya. Kemudian guru
mendemonstrasikan pencatatan jurnal tersebut dan mempostingnya ke
dalam kolom buku besar. Guru mengambarkan prosedur atau cara
memposting dari jurnal yang telah dicatat ke dalam kolom-kolom buku
besar 2 dan 3 kolom dan menunjuk beberapa siswa untuk mencoba
mendemonstrasikan di depan kelas.
Setelah memberikan demonstrasi pemostingan transaksi ke
kolom buku besar, guru memberi kesempatan pada siswa untuk
menanyakan hal-hal yang mereka rasa belum jelas. Beberapa siswa
meminta guru untuk memberikan contoh pada transaksi yang lain
seperti sewa dibayar dimuka, pembayaran utang, piutang dan
sebagainya. Ada sekitar 10 siswa yang bertanya.
Sebelum menutup pembelajaran, guru membuat kesimpulan
pembelajaran dan menjelaskan mengenai rencana pengerjaan soal
latihan dengan cara berkelompok untuk pertemuan selanjutnya.
Kemudian guru meminta siswa membentuk kelompok dengan anggota
4 siswa setiap kelompok. Guru menutup pelajaran dengan salam.
2) Pertemuan Kedua (Rabu, 5 November 2008)
69

Pada pertemuan kedua, seperti sebelumya guru mengabsen


siswa, Dio Adhi Atmaja tidak hadir.
Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar guru meminta
siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya dan duduk saling
berhadapan dalam satu meja. Guru membagikan lembar kerja yang
berisi kolom-kolom jurnal dan buku besar yang masih kosong pada
masing-masing kelompok. Setelah semua kelompok menerima lembar
kerja, siswa diminta memperhatikan guru.
Soal latihan berupa transaksi-transaksi akan dibacakan oleh
guru yang kemudian diminta langsung dijawab oleh siswa secara
berkelompok pada kolom jurnal yang telah disediakan di lembar kerja
dengan diberi batas waktu pengerjaan untuk tiap soalnya. Tiap
transaksi diberi waktu 1 menit untuk mengerjakannya.
Pada kegiatan ini semua siswa terlihat sangat antusias dan
tekun mengerjakan serta berdiskusi. Sebagian dari mereka meminta
guru untuk memberi mereka toleransi waktu yang lebih lama untuk
mengerjakan tiap soalnya. Dapat dilihat bahwa hampir semua siswa
(sekitar 32 siswa) tampak begitu bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran. Setiap kali guru membacakan soal dan mengatakan
”satu menit!” dan ”waktu habis! soal berikutnya!” para siswa
bergemuruh dan meminta tambahan waktu. Kelompok Jayanti, Ardian,
Herawan dan Rima tampak tenang-tenang saja, karena mereka
merupakan siswa-siswa yang pandai di kelas. Namun kelompok Mukti
Ali dan Aldy Fariz gaduh karena ketinggalan. Untuk itu, guru memberi
toleransi satu menit lagi pada saat mengerjakan jurnal.
Setelah 10 transaksi dibacakan, guru memberikan waktu 15
menit untuk berdiskusi mempostingkan transaksi dalam jurnal ke
kolom buku besar 2 dan 3 kolom sesuai perintah pengerjaan. Kegiatan
ini berjalan dengan tertib dan diberi toleransi waktu 5 menit dari yang
ditetapkan.
70

Setelah jam pelajaran berakhir dan waktu untuk mengerjakan


telah selesai, guru meminta siswa mengumpulkan lembar kerja
kelompok mereka dan mengingatkan mengenai kegiatan presentasi
yang akan diadakan pada pertemuan selanjutnya.
3) Pertemuan Ketiga (Selasa, 11 November 2008)
Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam,
kemudian mengabsen siswa, Dio Adhi Atmaja kembali tidak hadir.
Siswa mengatakan bahwa Dio sakit, jadi seringkali tidak mengikuti
pelajaran.
Guru meminta siswa untuk kembali duduk sesuai dengan
kelompoknya. Guru menyampaikan rencana pembelajaran hari ini,
yaitu presentasi. Kemudian, guru membagikan lembar kerja kelompok
yang telah dikerjakan pada pertemuan sebelumnya secara acak untuk
dikoreksi.
Guru mengundi dengan gulungan kertas untuk menentukan
kelompok yang akan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Kesempatan presentasi diberikan pada dua kelompok saja agar lebih
efektif dan tiap kelompok diminta mengerjakan 5 transaksi jurnal dan
buku besarnya dan diberi waktu 15 menit.
Setelah diundi, kelompok Rima mendapat giliran pertama.
Selama presentasi, keempat anggota kelompok aktif mempresentasikan
hasil kerja kelompoknya. Guru mengawasi jalannya presentasi sambil
berkeliling dan membuka kegiatan diskusi bagi siswa atau kelompok
lain yang ingin menyanggah kelompok presenter.
Seusai presentasi, kelompok pertama diberi kesempatan
mengambil undian untuk menentukan kelompok berikutnya yang akan
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kelompok Retno
mendapat kesempatan kedua presentasi, dan berjalan cukup baik.
Guru membahas bersama hasil kerja kelompok dan membuka
kesempatan tanya jawab. Kegiatan tanya jawab ini dimanfaatkan oleh
71

beberapa siswa yang masih belum mengerti tentang pengisian buku


besar terutama kolom ”Keterangan” dan ”Saldo”.
Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam sambil
mengingatkan mengenai evaluasi yang akan diadakan pada hari Rabu
besok.
4) Pertemuan Keempat (Rabu, 12 November 2008)
Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan
mengabsen siswa. Guru meminta siswa duduk dengan rapi dan
membagikan soal evaluasi yang harus dikerjakan sendiri, tidak boleh
bekerja sama, bahkan guru memberi peringatan bahwa mengerjakan
harus dengan bolpoin dan tak boleh ada coretan di pekerjaan. Waktu
yang diberikan untuk menyelesaikan soal adalah 45 menit.
Kegiatan evaluasi berjalan baik. Hasil evaluasi langsung
dikumpulkan begitu bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi.

c. Observasi dan Interpretasi


Peneliti mengamati proses pembelajaran akuntansi dengan
menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning di kelas XI
IS 1. Peneliti mengambil posisi di dalam kelas, yaitu di belakang para
siswa sambil sesekali berkeliling untuk mengamati dengan jelas jalannya
pembelajaran sehingga dapat menilai dengan baik. Pada pertemuan
pertama yaitu hari Selasa 4 November 2008, guru menyampaikan materi
buku besar dengan modelling dan questioning dengan jelas. Sedangkan
pada pertemuan kedua, siswa diminta untuk membuat kelompok dan
mengerjakan soal secara berkelompok yang hasilnya nanti harus
dipresentasikan oleh dua kelompok yang dipilih secara acak. Pertemuan
ketiga, guru melaksanakan kegiatan presentasi bagi tiap kelompok sesuai
dengan tugas masing-masing siswa dalam kelompoknya. Pertemuan yang
ketiga digunakan guru dan penulis untuk melakukan evaluasi akhir dari
72

siklus I agar hasil belajar dari siklus I dapat segera diketahui. Dari
kegiatan tersebut, deskripsi tentang jalannya proses pembelajaran
akuntansi dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning sudah
dijelaskan secara rinci dalam pelaksanaan tindakan I.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar
mengajar akuntansi, diperoleh gambaran tentang aktivitas siswa selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebagai berikut:
1) Siswa yang betul-betul aktif selama pemberian apersepsi
sebesar 67,5% sedangkan 32,5% lainnya belum dapat memusatkan
perhatian pada awal pembelajaran.
2) Siswa yang aktif dalam kelompok selama kegiatan kerja
kelompok berlangsung sebesar 80%, sedangkan 20% lainnya kurang
kompak dan tidak saling membantu dalam kelompok. Hal ini
disebabkan karena siswa yang merasa tidak bisa mengerjakan tidak
mau ikut berdiskusi karena kurangnya motivasi dalam diri mereka.
3) Kelompok yang dapat mengerjakan tugas dari guru dengan
tepat dan teliti sebesar 75%, sedangkan yang lainnya masih kurang
lengkap dalam mengisi kolom-kolom jurnal maupun buku besar dan
banyak melakukan kesalahan fatal.
4) Berdasarkan hasil pekerjaan siswa dapat diidentifikasi bahwa
siswa yang sudah mampu mengerjakan transaksi akuntansi ke dalam
jurnal dan mempostingnya ke buku besar dan mendapatkan nilai 70 ke
atas sebesar 84,5%, sedangkan 15,5% siswa lainnya belum sempurna
dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini disebabkan mereka
masih kesulitan memahami suatu transaksi dan kurang mampu
menganalisis transaksi dengan baik sehingga tidak dapat mencatat
jurnal dan buku besar dengan benar.
Hasil observasi dan interpretasi tersebut dapat dilihat pada grafik
dibawah ini:
73

Grafik Tingkat Keaktifan Siswa

Keaktifan Selama
35 Apersepsi
30
25 Keaktifan dalam
Jumlah Siswa 20 Kelompok
15
10 Ketelitian dalam
5 menyelesaikan soal
0
Ketuntasan Hasil
Belajar

Gambar 3. Garfik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus I

Grafik Tingkat Kepasifan Siswa

Siswa yang pasif saat


pemberian apersepsi
14
12
10 Siswa yang pasif dalam
kelompok belajar
8
Jumlah Siswa
6
Siswa yang kurang tepat
4 dan teliti dalam
2 menyelesaikan soal
0 Siswa yang belum tuntas
SIKLUS I dalam pembelajaran

Gambar 4. Grafik Tingkat Kepasifan Siswa pada Siklus I

d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus I


74

Berdasarkan hasil observasi saat pelaksanaan Siklus I, peneliti


dapat memberikan analisis sebagai berikut:
1) Beberapa kelemahan guru dalam Siklus I
a) Guru kurang jelas dalam membacakan soal saat kerja
kelompok sehingga siswa harus meminta guru mengulangi
kembali.
b) Guru dalam memberikan materi terlalu tegang, siswa
mengeluh karena menganggap pembelajaran seperti horor.
2) Dari segi siswa ditemukan beberapa kekurangan sebagai berikut:
a) Siswa masih banyak yang kurang konsentrasi dalam mengikuti
pembelajaran, saat pemberian apersepsi beberapa dari mereka
bermain sendiri.
b) Saat kerja kelompok beberapa siswa mengabaikan tugas dalam
kelompoknya, terutama Firdaus, Muhammad Nur, Aldy Fariz, dan
Putro.
c) Dari segi ketuntasan belajar, masih terdapat 6 siswa yang tidak
tuntas dalam mengerjakan ujian dan dengan kesalahan yang cukup
fatal. Rata-rata kelas sudah cukup baik, yaitu 84,5 dibanding
sebelum diterapkannya siklus I yaitu hanya 69,2.
Tindakan refleksi yang dapat diambil berdasarkan pengamatan dan
analisis yang telah dilakukan adalah :
1) Guru masih harus meluangkan waktu untuk melakukan
pendekatan terhadap anak, sehingga setiap anak mengalami kesulitan
akan mudah teratasi.
2) Guru lebih kreatif dalam menciptakan suasana pembelajaran
yang kondusif sehingga siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi.
2. Siklus II
Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning pada siklus II
adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan Tindakan Siklus II
75

Kegiatan perencanaan Tindakan II dilaksanakan pada hari Sabtu


tanggal 15 November 2008 di ruang tamu SMA Negeri 1 Surakarta. Guru
bersama peneliti mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilakukan
dalam penelitian ini. Peneliti mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil
analisis dan refleksi dari siklus I, kemudian disepakati bahwa pelaksanaan
tindakan pada siklus II akan dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, yakni
pada hari Selasa 18 November 2008, Rabu tanggal 19 November 2008,
Selasa 25 November dan hari Rabu tanggal 26 November 2008 dengan
rancangan sebagai berikut:
1) Peneliti bersama guru mendiskusikan skenario pembelajaran akuntansi
dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning
dengan menekankan pada komponen learning community dan
questioning, yaitu dengan skenario pembelajaran sebagai berikut:
a) Pertemuan Pertama
(1) Salam pembuka, mengabsen siswa.
(2) Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
(3) Mengulangi materi dengan membahas soal yang telah
diujikan pada pertemuan sebelumnya dan membuka
kesempatan tanya jawab.
(4) Guru memulai memberikan materi dengan
memperkenalkan bentuk buku besar 4 kolom dan
mendemonstrasikan cara memposting dari jurnal ke buku besar
4 kolom.
(5) Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya
mengenai materi yang belum mereka pahami. Ketika siswa
tidak ada yang bertanya, maka guru yang akan menanyakan
pada siswa terutama pada siswa-siswa yang masih belum
mendapat hasil maksimal pada saat ujian sebelumnya. Siswa
diberi keleluasaan waktu untuk bertanya dan guru akan
menjelaskan kembali.
76

(6) Guru memberikan soal latihan di LKS dan diberi kebebasan


untuk mengerjakan dengan teman sebangkunya agar
berdiskusi.
(7) Guru memberitahukan bahwa di pertemuan selanjutnya
guru akan memberikan latihan lagi yang akan dikerjakan secara
kelompok.
(8) Salam penutup.
b) Pertemuan Kedua
(1) Salam pembuka, mengabsen siswa.
(2) Guru menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilakukan
dalam pembelajaran.
(3) Guru membagi Lembar Kerja yang akan digunakan untuk
kerja kelompok seperti pada siklus I. Anggota kelompok
diperkecil menjadi 2 orang saja karena pada siklus I masih
terdapat siswa yang tidak aktif karena 4 anggota terlalu banyak
sehingga ada yang menganggur dan malas.
(4) Guru membacakan soal yang telah disiapkan dan meminta
siswa untuk mengerjakan jurnalnya sesuai waktu yang telah
ditetapkan, yaitu 1 soal 1 menit. Dibacakan 15 soal kemudian
siswa diberi waktu memposting ke buku besarnya.
(5) Guru berkeliling sambil mengamati kelompok siswa yang
kesulitan dan memberikan arahan dengan sabar pada setiap
kelompok.
(6) Guru mengumpulkan pekerjaan siswa dan memberitahukan
akan membahas hasil kerja kelompok ini di pertemuan
berikutnya.
(7) Salam penutup.
c) Pertemuan Ketiga
(1) Salam pembuka, mengabsen siswa.
(2) Guru kembali membagikan jawaban kepada setiap
kelompok secara acak untuk dikoreksi.
77

(3) Guru membuka kegiatan presentasi dengan mengundi


kelompok yang akan mendemonstrasikan hasil kerja
kelompoknya.
(4) Guru membahas pekerjaan siswa dengan terlebih dahulu
mengidentifikasi kesalahan apa yang sering dilakukan oleh
siswa saat membuat jurnal sampai saat memposting ke buku
besar.
(5) Guru membuka kesempatan untuk bertanya bagi siswa
yang masih menemui kesulitan pada saat mengerjakan buku
besar 4 kolom.
(6) Salam Penutup.
d) Pertemuan Keempat
(1) Salam Pembuka.
(2) Siswa mempersiapkan diri mengerjakan evaluasi akhir atas
materi yang telah dibahas.
(3) Guru membagikan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan
sendiri soalnya.
(4) Guru mengawasi jalannya kegiatan evaluasi dengan baik.
(5) Guru mengumpulkan lembar jawab soal.
(6) Salam penutup.
2) Guru dan peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) untuk materi akuntansi buku besar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen
learning community dan questioning.
3) Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian, yang berupa test dan
non-test. Instrumen test dari hasil pekerjaan siswa (evaluasi akhir
siklus). Sedangkan instrumen non-test dinilai berdasarkan pedoman
observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan mengamati keaktifan
dan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
b. Pelaksanaan Tindakan II
78

Kegiatan pelaksanaan Tindakan II dilaksanakan selama 4 kali


pertemuan seperti yang telah direncanakan, yakni pada hari Selasa 18
November 2008, Rabu tanggal 19 November 2008, Selasa 25 November
dan hari Rabu tanggal 26 November 2008. Pertemuan dilaksanakan selama
4 x 45 menit sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Pelaksanaan
tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan tindakan I, hanya pada
pelaksanaan tindakan II ini terdapat perbaikan yang masih diperlukan dari
tindakan I. Materi yang disampaikan pada pelaksanaan tindakan II masih
sama dengan pelaksanaan tindakan I, yaitu buku besar namun bentuk buku
besar yang diajarkan berbeda.
Pada pertemuan pertama Siklus II guru mendemonstrasikan cara
memposting jurnal ke Buku Besar 4 kolom dengan jelas dan dibuka
kesempatan tanya jawab, pertemuan kedua siswa mengerjakan soal secara
berkelompok masih dengan metode yang diterapkan di Siklus I, namun
anggota kelompoknya diperkecil menjadi 2 orang. Pada pertemuan ketiga,
dilaksanakan kegiatan diskusi dan presentasi, kegiatan ini ditambah
dengan tanya jawab yang lebih efektif untuk membangun pemahaman
siswa, pertemuan keempat merupakan evaluasi akhir Siklus II.
Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Pertemuan Pertama (Selasa, 18 November 2008)


Guru mengucapkan salam dan mengabsen siswa, ada 1 siswa
yang absen yaitu, Dio Adhi Atmaja, siswa ini sakit sehingga jarang
sekali mengikuti pelajaran.
Guru memulai memberikan materi dengan memperkenalkan
bentuk buku besar 4 kolom. Siswa memperhatikan dengan seksama,
pada kegiatan ini sebanyak 30 siswa sudah cukup aktif memperhatikan
guru. Kemudian guru mendemonstrasikan cara memposting transaksi
dari jurnal ke dalam buku besar 4 kolom dengan transaksi-transaksi
jurnal yang ada dalam LKS. Setelah mencontohkan sebanyak 5
79

transaksi siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Kegiatan ini banyak


dimanfaatkan oleh siswa untuk menanyakan kesulitan-kelsulitan yang
dihadapi dalam memposting. Kebanyakan mereka menanyakan
bagaimana mengisi kolom keterangan dan saldo serta urutan membuat
buku besar. Guru memberi catatan pada siswa mengenai hal-hal yang
ditanyakan tersebut dan meminta beberapa siswa mendemonstrasikan
ke depan kelas.
Sebelum menutup pelajaran, guru menyampaikan mengenai
kegiatan kerja kelompok yang akan dilaksanakan pada pertemuan
berikutnya dan mengumumkan kelompok belajar akan diperkecil
menjadi 2 anggota tiap kelompok. Untuk mempermudah, guru
meminta siswa berkelompok dengan teman sebangku saja, tetapi tidak
melarang apabila ingin berkelompok dengan siswa lain. Setelah
kelompok terbentuk, guru menutup pelajaran dengan salam.
2) Pertemuan Kedua (Rabu, 19 November 2008)
Guru membuka pelajaran hari ini dengan mengucap salam
kemudian mengabsen siswa, Dio Adhi Atmaja masih tidak hadir.
Guru meminta siswa untuk duduk tenang dan guru
membagikan lembar jawab kerja kelompoknya. Setiap bangku hanya
mendapat satu bendel lembar kerja yang nantinya akan dikerjakan
bersama teman sebangkunya.
Guru membacakan soal berupa transaksi yang harus langsung
diisikan ke kolom jurnal dalam waktu 1 menit tiap soalnya. Kali ini
siswa terlihat lebih tenang dibanding pada siklus I. Sebanyak 35 siswa
terlihat antusias dan serius berdiskusi.
Setelah 10 soal dibacakan, siswa diminta memposting jurnal
tersebut ke dalam buku besar 4 kolom dan diberi waktu 15 menit untuk
mengerjakan. Guru mengawasi kegiatan ini dengan berkeliling dan
memberikan pengarahan pada kelompok-kelompok yang mengajukan
pertanyaan.
80

Guru mengumpulkan kembali lembar jawab siswa dan


mengatakan akan membahasnya bersama pada pertemuan selanjutnya.
Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
3) Pertemuan Ketiga (Selasa, 25 November 2008)
Pertemuan ketiga dibuka dengan mengucapkan salam dan
mengabsen siswa, yang tidak masuk masih Dio Adhi Atmaja.
Sebelum memulai pelajaran guru mengingatkan siswa pada
kegiatan presentasi yang akan dilakukan dan membagikan lembar kerja
yang telah dikerjakan pada pertemuan sebelumnya. Kegiatan
presentasi dilaksanakan dengan mengundi kelompok yang akan
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kelompok Mukti Ali
mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan transaksi no.1
sampai no.5. Pada saat presentasi, kelompok ini banyak bercanda dan
terlihat kurang fokus. Meskipun begitu, kelompok ini mampu
menjawab pertanyaan yang diajukan guru maupun siswa.
Kelompok berikutnya adalah kelompok Gigih, kelompok ini
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dengan cukup baik, namun
kurang serius.
Guru membuka kesempatan tanya jawab mengenai soal yang
telah dipresentasikan, dari hasil koreksi sebanyak 18 kelompok sudah
mengerjakan soal dengan sempurna, maka guru memberikan
penguatan bagi 2 kelompok yang masih salah dan memberitahu letak
kesalahannya.
Guru meminta siswa mengerjakan soal-soal yang ada di LKS
dan kembali membuka kesempatan tanya jawab mengenai transaksi-
transaksi yang mereka masih kesulitan dalam mempostingnya.
Kesempatan ini banyak digunakan siswa untuk bertanya dan meminta
penjelasan, yang paling aktif adalah Rima, Febriana, Mukti Ali, Louis,
dan Ardian.
81

Setelah kegiatan belajar mengajar selesai guru memberi


kesimpulan atas kegaiatan presentasi yang telah dilaksanakan dan
menutup pelajaran dengan salam.
4) Pertemuan Keempat ( Rabu, 26 November 2008)
Guru membuka pelajaran dengan salam dan meminta siswa
mempersiapkan diri mengerjakan evaluasi akhir atas materi yang telah
dibahas.
Guru membagikan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan
sendiri soalnya. Guru mengawasi jalannya kegiatan evaluasi dengan
baik. Setelah waktu untuk mengerjakan soal habis, guru
mengumpulkan lembar jawab soal dan menutup pelajaran dengan
salam penutup.
c. Observasi dan Interpretasi
Peneliti mengamati proses pembelajaran akuntansi menggunakan
pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan
komponen learning community dan questioning di kelas XI IS 1. Peneliti
mengambil posisi di dalam kelas, sebab guru kelas menginginkan agar
peneliti dapat mengamati langsung proses belajar mengajar akuntansi
dengan seksama. Pada pertemuan pertama yaitu hari Selasa 18 November
2008, guru menyampaikan materi buku besar dengan demonstrasi
(modelling) secara jelas dengan membuka kesempatan tanya jawab
(questioning). Sedangkan pada pertemuan kedua, siswa diberi soal yang
harus dikerjakan secara berkelompok dengan teman sebangkunya
(learning community). Pertemuan yang ketiga diisi dengan presentasi dan
penguatan melalui kegiatan tanya jawab (questioning). Pertemuan keempat
merupakan kegiatan evaluasi dari pelaksanaan tindakan Siklus II. Dari
kegiatan tersebut, diperoleh deskripsi tentang jalannya proses
pembelajaran akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual
Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning
community dan questioning seperti yang telah diungkapkan dalam
pelaksanaan tindakan II.
82

Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan proses belajar


mengajar akuntansi, diperoleh informasi tentang motivasi dan aktivitas
siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebagai
berikut:
1) Siswa yang aktif selama pemberian apersepsi sebesar 75%,
sedangkan 25% lainnya belum secara optimal dalam persiapan
mengikuti pelajaran.
2) Siswa yang aktif dalam kelompok selama kegiatan belajar
mengajar berlangsung sebesar 87%, sedangkan 13% lainnya masih
kurang konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran dan tidak
mau bekerja sama dengan teman kelompoknya.
3) Siswa yang dapat mengerjakan tugas dari guru dengan tepat
dan teliti sebesar 87,5%, sedangkan yang lainnya hanya mengerjakan
sebisa mereka, hal ini dikarenakan siswa tersebut belum paham dan
tidak mau bertanya pada saat diberi kesempatan bertanya.
4) Berdasarkan hasil pekerjaan siswa dapat diidentifikasi bahwa
siswa yang sudah mampu mengerjakan ujian akhir dan mendapatkan
nilai 70 ke atas sebesar 87,5%, sedangkan 12,5% siswa lainnya belum
sempurna dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini banyak
disebabkan kekeliruan siswa dalam membuat jurnal dan ketidaktelitian
dalam mengidentifikasi bentuk buku besar yang diminta dalam soal
sehingga cara pengerjaan salah.
Hasil observasi dan interpretasi tersebut dapat dilihat dari grafik
berikut ini:
83

Grafik Tingkat Keaktifan Siswa

Keaktifan selama
40 apersepsi

30 Keaktifan siswa
dalam kelompok
Jumlah Siswa 20
Ketelitian dalam
10 mengerjakan soal

Ketuntasan hasil
0
belajar

Gambar 5. Grafik Tingkat Keaktifan Siswa pada Siklus II

Grafik Tingkat Kepasifan siswa

Siswa yang pasif saat


pemberian apersepsi
10
8 Siswa yang pasif
6 dalam kelompok
Jumlah Siswa belajar
4 Siswa yang kurang
2 tepat dan teliti dalam
mengerjakan soal
0
Siklus II Siswa yang belum
tuntas dalam
pembelajaran

Gambar 6. Grafik Tingkat Kepasifan siswa pada Siklus II

d. Analisis dan Refleksi Tindakan Siklus


II
Berdasarkan hasil observasi dan interpretasi tindakan pada siklus
II, peneliti melakukan analisis sebagai berikut:
1) Beberapa kelemahan guru dalam siklus II ini adalah:
a) Dalam membacakan soal dan menerangkan suara guru masih
dikeluhkan siswa kurang jelas.
84

b) Guru sudah lebih santai dalam memberikan materi namun siswa


masih merasa guru kurang friendly atau terlalu tegang sehingga
mereka kurang nyaman.
2) Sedangkan dari siswa kekurangan masih ditemukan antara lain:
a) Kurangnya perhatian dari beberapa siswa terhadap pembelajaran.
Justru siswa-siswa ini adalah siswa yang dirasa kurang begitu
memahami materi.
b) Masih ada beberapa siswa yang tidak mau bekerja dengan
kelompoknya, terutama Firdaus dan Aldy.
c) Dari segi hasil belajar sudah ada peningkatan dari siklus I yaitu 86.
Secara keseluruhan rata-rata naik, namun masih terdapat 5 siswa
yang tidak lulus atau mendapat nilai kurang dari 70.
Tindakan refleksi yang dapat diambil berdasarkan pengamatan dan
analisis yang telah dilakukan adalah :
1) Guru lebih memperbaiki gaya mengajar yang lebih dapat membuat
siswa merasa nyaman dan tidak tegang.
2) Guru agar lebih memperhatikan volume suara dan kejelasan
pengucapan kalimat agar siswa tidak mengalami kebingungan.

D. Pembahasan
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat
dinyatakan bahwa terjadi peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran akuntansi
melalui penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen leaning community dan questioning dari siklus satu ke
siklus berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel 4 berikut ini:

Tabel 4. Peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran


Aspek yand dinilai Siklus Jumlah (%) Peningkata
85

n
Keaktifan siswa Siklus I 27 siswa 67.5
selama apersepsi Siklus II 30 siswa 75 7.5%
Keaktifan dalam Siklus I 32 siswa 80
Kelompok Belajar Siklus II 35 siswa 87.5 7.5%
Ketepatan dan ketelitian Siklus I 30 siswa 75
dalam mengerjakan soal Siklus II 36 siswa 87.5 12.5%
Ketuntasan Hasil belajar Siklus I 34 siswa 84.5
Siklus II 35 siswa 87.5 3%

Peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran akuntansi tersebut juga dapat


dilihat pada grafik berikut ini :

Grafik Peningkatan Keaktifan Siswa

40 II
I II I II
35 II I
I
Keaktifan selama
30 apersepsi
25
Jumlah
20
Siswa Keaktifan dalam
15
kelompok
10
5
0 Ketepatan dan
ketelitian dalam
Siklus mengerjakan soal

Ketuntasan Hasil
Belajar

Gambar 7. Grafik Hasil Penelitian I


Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Research) ini dilaksanakan
dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu : (1)
perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interpretasi,
dan (4) analisis dan refleksi tindakan. Deskripsi hasil penelitian dari siklus I
sampai siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti melakukan survei awal untuk
mengetahui kondisi yang ada di SMA Negeri 1 Surakarta. Dari hasil survei ini,
peneliti menemukan bahwa pembelajaran akuntansi pada siswa kelas XI IS 1
masih kurang optimal dimana siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran dan
86

hasil evaluasi belajarnya kurang maksimal. Oleh karena itu, peneliti mengadakan
diskusi dengan guru kelas dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut,
yaitu dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan
menekankan komponen learning community dan questioning. Alasan utama
peneliti mengambil dua komponen ini adalah karena kondisi siswa yang merasa
lebih paham ketika temannya yang menjelaskan, maka pembelajaran kelompok
dan kegiatan bertanya diharapkan dapat membangun interaksi edukatif antara
siswa dengan guru serta meningkatkan pemahaman melalui diskusi.
Kemudian guru kelas dibantu peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) guna melaksanakan kegiatan siklus I. Materi pada
pelaksanaan tindakan siklus I ini adalah Buku Besar. Guru memberikan materi
dengan mendemonstrasikan (modelling) pemostingan transaksi jurnal ke buku
besar. Hari berikutnya siswa diminta mengerjakan soal dengan kelompok belajar
mengenai materi yang telah diajarkan. Namun, dari hasil pengamatan terhadap
proses belajar mengajar akuntansi pada siklus I masih terdapat kekurangan dan
kelemahan, yaitu siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat
dilihat dari kegiatan kerja kelompok, dimana dari 4 siswa anggota kelompok,
hanya 2 atau 3 orang saja yang mau aktif mengerjakan. Selain itu, kesempatan
presentasi untuk tanya jawab banyak diabaikan para siswa yang tidak maju.
Karena itu, penulis mencari solusi dan menyusun rencana pembelajaran siklus II
untuk mengatasi kekurangan dan kelemahan dalam pembelajaran akuntansi pada
siklus I.
Materi pembelajaran pada siklus II masih sama hanya saja bentuk buku
besar yang dipelajari berbeda, materi ini membahas tentang prosedur mencatat
dari jurnal ke dalam buku besar bentuk 4 kolom. Pada saat peneliti melakukan
wawancara dengan siswa, siswa merasa cukup antusias dengan komponen
learning community yang kemarin telah diterapkan, selain siswa menjadi aktif,
siswa juga merasa tidak segan bertanya dan berdiskusi dengan teman satu
kelompoknya.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar akuntansi
pada siklus II, kualitas pembelajaran baik hasil maupun proses sudah
87

menunjukkan peningkatan. Siswa yang sebelumnya kurang aktif saat


pembelajaran, sekarang menjadi lebih antusias dan lebih merespon apersepsi guru.
Dengan memperkecil anggota kelompok menjadi 2 orang saja ternyata membuat
siswa jauh lebih aktif dalam mengerjakan tugasnya. Kegiatan presentasi dengan
tanya jawab oleh guru juga lebih efektif. Meskipun begitu, masih diperlukan juga
motivasi dari guru dan pendekatan dari guru untuk mendukung berhasilnya proses
belajar mengajar akuntansi. Guru merasa kegiatan pemberian motivasi ini akan
dapat dilaksanakan tiap saat nanti. Oleh sebab itu masalah yang dihadapi pada
pembelajaran akuntansi sudah dapat teratasi dengan cara penerapan pendekatan
Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning
community dan questioning. Teratasinya masalah pembelajaran tersebut dapat
dilihat dari aspek-aspek pengamatan yang telah dilakukan yaitu menurunnya
tingkat kepasifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, antara lain:
1. Ketidakaktifan siswa dalam menanggapi apersepsi yang diberikan
guru saat pemberian materi menurun dari 13 siswa menjadi 10 siswa.
2. Siswa yang tidak aktif dalam kelompok belajar menurun dari 8
siswa menjadi 5 siswa dengan memperkecil jumlah anggota kelompok belajar.
3. Siswa yang belum mengerjakan soal dengan tepat dan teliti
menurun dari 10 siswa menjadi 4 siswa.
4. Siswa yang hasil belajarnya belum tuntas menurun dari 5 siswa
menjadi 4 siswa.
Penurunan tingkat kepasifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut
dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
88

Grafik Penurunan Tingkat Kepasifan Siswa Siswa yang pasif saat


pemberian apersepsi
14 I
12
II I Siswa yang pasif dalam
10 I
kelompok belajar

Jumlah 8
Siswa II I
6 II II
Siswa yang kurang tepat
4 dan teliti dalam
2 mengerjakan soal
0
SIKLUS Siswa yang belum
tuntas dalam
pembelajaran

Gambar 8. Grafik Hasil Penelitian II

Berdasarkan tindakan tersebut, guru berhasil melaksanakan pembelajaran


akuntansi yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil pembelajaran
akuntansi. Selain itu, peneliti juga dapat meningkatkan kinerja guru dalam
melaksanakan pembelajaran yang efektif dan menarik. Keberhasilan pembelajaran
akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning
dengan menekankan komponen learning community dan questioning dapat dilihat
dari indikator-indikator sebagai berikut:
1) Siswa terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran akuntansi.
2) Siswa sudah mampu mengatasi kesulitan belajar dengan
berdiskusi dengan teman yang lebih paham akan materinya dan belajar
bertanya.
3) Siswa sudah mampu memahami materi akuntansi.
4) Pada setiap penyampaian materi, guru selalu memberikan
motivasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantu keaktifan belajar
siswa.
5) Nilai dari hasil pekerjaan yang telah diberikan guru
menunjukkan peningkatan dari siklus I sampai siklus II.
89

BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN

A. Simpulan
Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelas XI IS 1 SMA
Negeri 1 Surakarta ini dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi empat
tahap, yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi
dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi tindakan.
Simpulan hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut, terdapat
peningkatan keaktifan, minat dan motivasi yang mengarah pada peningkatan hasil
belajar akuntansi dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and
Learning dengan menekankan komponen learning community dan questioning
pada siswa kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Peningkatan hasil belajar
akuntansi tersebut terjadi setelah guru melakukan beberapa upaya yang dikemas
dalam dua siklus tindakan diantaranya :
1. Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning
dengan menekankan komponen learning community dan questioning dalam
pembelajaran akuntansi.
2. Guru membuat inovasi baru dalam menyampaikan pelajaran
akuntansi dengan menciptakan kelompok belajar dan membuka kegiatan tanya
jawab dalam presentasi, tanya jawab ini dilakukan oleh guru pada siswa, siswa
pada guru, maupun siswa pada siswa lain.
3. Siswa dikondisikan dalam suatu kelompok diskusi yang akan
saling bertukar pikiran antar siswa, saling mengajari sehingga mampu
memahami materi dengan baik.
4. Guru lebih memberikan peran dalam menciptakan suasana
belajar dan membantu siswa mencapai pemahaman sehingga meningkatkan
hasil belajar mereka.
90

Upaya tersebut terbukti meningkatkan hasil belajar akuntansi pada siswa


kelas XI IS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Hal
69 tersebut dapat terlihat dari beberapa
temuan di kelas, yaitu (1) siswa terlihat antusias dan bersemangat dalam
mengikuti pembelajaran akuntansi, (2) siswa sudah mampu mengatasi kesulitan
belajar dengan berdiskusi dengan teman yang lebih paham akan materinya dan
belajar bertanya sehingga mampu memahami materi akuntansi dengan baik, (3)
guru telah mampu melaksanakan metode pembelajaran akuntansi dengan nuansa
baru. Hal ini antara lain diinformasikan oleh beberapa siswa melalui kegiatan
wawancara setelah semua siklus tercapai, (4) kemampuan siswa dalam memahami
akuntansi pun meningkat dilihat dari nilai akhir dan nilai rata-rata kelas yang
mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II.
Selain itu, terdapat beberapa manfaat dari penggunaan pendekatan
Contextual Teaching and Learning dengan menekankan komponen learning
community dan questioning dalam pembelajaran, antara lain (1) membantu siswa
dalam memahami materi, (2) melibatkan siswa dalam pembelajaran, sehingga
siswa menjadi lebih aktif, (3) siswa dapat menambah pengalaman dan
pengetahuan melalui kegiatan presentasi dan diskusi kelompok, dan (4)
menumbuhkan minat belajar dan antusiasme terhadap pembelajaran akuntansi
dengan metode pembelajaran yang menyenangkan.
Unsur penting dalam pembelajaran ini adalah penggunaan ragam metode
dan pendekatan pembelajaran yang dipilih. Pemilihan metode dan pendekatan
tertentu akan mempengaruhi berhasil tidaknya suatu pembelajaran. Pengetahuan
yang diterima siswa juga sangat dipengaruhi oleh metode dan pendekatan yang
diterapkan guru dalam pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
penerapan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat akan berpengaruh
terhadap proses dan hasil dari pembelajaran. Dalam pembelajaran akuntansi ini
digunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan
komponen learning community dan questioning. Dengan menekankan komponen
learning community dan questioning, hasil belajar akuntansi siswa dapat
91

meningkat. Hal ini dikarenakan dalam penggunaannya, siswa diberi kesempatan


untuk bertanya, berdiskusi dalam kelompok belajar, serta mempresentasikan hasil
kerja kelompoknya sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa tidak hanya
berasal dari pengalaman pada saat melihat guru mengajar, tetapi juga diperoleh
dari kegiatan yang dilakukan siswa itu sendiri. Pengetahuan dibangun atas dasar
konsep yang diterima siswa yang dikembangkan berdasarkan pengalaman yang
telah mereka dapat. Pengetahuan tersebut bersifat lebih kekal (bertahan lama)
dalam pikiran siswa.
Jadi, dapat dirumuskan bahwa fungsi pendekatan Contextual Teaching
and Learning dengan menekankan komponen learning community dan
questioning dalam pembelajaran adalah untuk membangkitkan motivasi belajar
siswa dalam rangka membangun pengetahuan melalui diskusi, tanya jawab, dan
praktek.

B. Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian beserta pembahasan dan simpulan yang
dikemukakan tersebut diatas maka implikasi dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Implikasi Teoretis
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yaitu berasal dari
pihak guru maupun siswa. Faktor dari pihak guru yaitu kemampuan guru dalam
mengembangkan materi, kemampuan guru dalam menyampaikan materi,
kemampuan guru dalam mengelola kelas, dan metode yang digunakan oleh guru
dalam proses pembelajaran. Sedangkan faktor dari siswa yaitu minat belajar atau
motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran akuntansi.
Faktor-faktor tersebut saling mendukung satu sama lain, sehingga harus
diupayakan secara maksimal agar semua faktor tersebut dapat dimiliki oleh guru
dan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Apabila guru
memiliki kemampuan baik, maka guru dapat menyampaikan materi dengan baik.
Materi tersebut akan diterima siswa dengan baik apabila siswa juga memiliki
minat dan motivasi yang tinggi untuk aktif dalam proses pembelajaran. Dengan
92

demikian, kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, kondusif,


efektif dan efisien.
Penggunaan pendekatan yang tepat dalam menerapkan suatu metode
pembelajaran sangat berpengaruh terhadap kualitas dan efektivitas penyampaian
materi yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini akan
berpengaruh pula pada motivasi dan keaktifan siswa pada saat mengikuti
pembelajaran sehingga tercipta kegiatan belajar mengajar yang berkualitas.

2. Implikasi Praktis
Penelitian ini memberikan gambaran secara jelas bahwa melalui
penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan menekankan
komponen learning community dan questioning dalam pembelajaran akuntansi
dapat meningkatkan hasil belajar akuntansi. Bagi guru bidang studi akuntansi,
hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pilihan dalam meningkatkan
kualitas proses dan hasil pembelajaran. Disamping itu dapat menjadikan siswa
lebih aktif dan menghapus pandangan siswa terhadap pembelajaran yang
membosankan menjadi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Apalagi
bagi guru yang memiliki kemampuan dalam mengajak siswa untuk dapat
berkomunikasi dengan baik, sehingga siswa menjadi tidak malu untuk bertanya
atau maju ke depan kelas menyampaikan pendapatnya dan hasil pekerjaannya.
Pemberian tindakan dari siklus I sampai siklus II memberikan deskripsi
bahwa terdapatnya kekurangan dan kelemahan yang terjadi selama proses
pembelajaran akuntansi berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut
dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan pada siklus II. Dari pelaksanaan tindakan
yang kemudian dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, dapat
dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas baik proses maupun hasil dari
pembelajaran akuntansi.

C. Saran
Berkaitan dengan simpulan di atas, maka peneliti dapat mengajukan saran-
saran sebagai berikut :
93

1. Guru harus selalu meningkatkan kemampuannya dalam


mengembangkan dan menyampaikan materi, serta dalam mengelola kelas,
sehingga kualitas pembelajaran yang dilakukan dapat terus meningkat seiring
dengan peningkatan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, guru hendaknya
mau membuka diri untuk menerima berbagai bentuk masukan, saran, dan
kritikan agar dapat lebih memperbaiki kualitas mengajarnya.
2. Guru hendaknya menerapkan metode pembelajaran yang
dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
3. Bagi guru yang belum menerapkan pendekatan Contextual
Teaching and Learning dapat menerapkan pendekatan tersebut dengan
berbagai komponennya dalam pembelajaran agar pemahaman siswa menjadi
lebih meningkat.
4. Penelitian ini dapat diterapkan di kelas lain maupun di
sekolah lain, namun dalam penerapannya harus diikuti penyesuaian dengan
konteks kelas maupun sekolah masing-masing. Hal ini perlu dilakukan karena
meskipun sekolah-sekolah di Indonesia memiliki pola pengajaran yang hampir
sama, tetapi setiap sekolah memiliki karakteristik tertentu yang berbeda
dengan sekolah lain. Maka dengan adanya penyesuaian tersebut diharapkan
dapat menciptakan pola pengajaran yang lebih baik.
94

DAFTAR PUSTAKA

A.Suhaenah Soeparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta:


Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
2001.

A.Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar, B.A., dan Drs. Zainal Arifin. 1989.
Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV Remadja
Karya.

Achmad Tjahjono dan Sulastiningsih. 2003. Akuntansi Pengantar: Pendekatan


Terpadu Buku I. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Akhmad Sudrajat. 2008. Pendekatan dalam Pembelajaran. http://akhmad-


sudrajat.wordpress.com/2008/01/21/Pendekatan-Pembelajaran/. Diakses
pada tanggal 15 Januari 2008.

Anis Matta. 2008. Komunikasi Efektif dalam Proses Belajar Mengajar.


http://www.google.com/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009.

Anwar Holil. 2008. Proses Belajar Mengajar. www.anwarholil.blogspot.com


Diakses pada tanggal 15 Januari 2009.

Azyumardi Azra. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan


Demokratisasi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Bandono, M.M. 2008. Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and


Learning. http://bandono.web.id/cv/. Diakses tanggal 29 Juni 2008

Baskoro Adi Prayitno. 2008. Konsep Dasar PTK(Penelitian Tindakan Kelas).


http://baskoro1.blogspot.com/2008/06/konsep-dasar-ptk-penelitian-
tindakan.html. Diakses tanggal 22 Agustus 2008

Depdikbud. 1985. Peningkatan Prestasi Belajar: Manfaat Bertanya.


http://www.google.co.id/gwt/n?
site=search&mrestrict=wml&q=Manfaat+ketrampilan+bertanya&output/w
ww.dunia belajar.com. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009.

Depdiknas. 2008. Pendekatan Contextual Teaching and Learning.


http://www.infogue.com/viewstory/2008/05/14/pendekatan_kontekstual_at
95

au_contextual_teaching_and_learning_ctl_/?
url=http://ipotes.wordpress.com/2008/05/13/ Diakses pada tanggal 10 Juli
2008.

Dewi Salma Prawiradilaga. 2008. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Penerbit


Kencana Prenada Media Group.

Fitri. 2008. Pendidikan. http://smacepiring.wordpress.com/. Diakses pada tanggal


15 Januari 2009.

Johnson, Elaine B., PH.D. 2007. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan
Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung:
Penerbit MLC.

Lianekke Gunawan. 2006. Dunia Belajar Anak: Manfaat Belajar Kelompok.


http://www.google.co.id/manfaat+belajar+kelompok/www.dunia
belajar.com/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2009

Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Dalam Konteks


Menyukseskan MBS dan KBK). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

--------------------.1991. Penilaian Hasil Belajar. Semarang:--------.

Dr.Nana Sudjana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Rustam dan Mudilarto. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat


Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan
Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.

Soedomo Hadi. 2005. Pendidikan Suatu Pengantar. Surakarta: LPP UNS.

Soemarso S.R. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Salemba Empat.

Prof. DR. Suharsimi Arikunto, Prof. Suhardjono, dan Prof. Supardi. 2007.
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Dr.Sulipan, M.Pd. ---------. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action


Research). www.profesiguru.com. Diakses tanggal 22 agustus 2008.

Suwarna, M.Pd, dkk. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Syaiful Bahri Djamarah. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Jakarta:
Rineka Cipta.

Tirtarahardja, Umar, dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta:


Rineka Cipta.
96

UU No.20 Tahun 2003 ( SISDIKNAS). www.google.co.id Diakses tanggal 10


Januari 2005.

Usman. 1995. Ketrampilan Bertanya. www.google.com Diakses pada tanggal 15


Januari 2009.

Zulfikri Kamin. 2008. Pendekatan Kontekstual.


http://pakguruonline.pendidikan.net. Diakses 10 Agustus 2008.